2. Mas Roro Juwati / Raden Ayu Beruk / KRK Kadipaten / KRK Ageng / KRKTegalraya (Kanjeng Ratu Mas) b. ~ 1734 d. 17 Oktober 1803 - Keturunan (Inventaris)

Dari Rodovid ID
Orang:895241
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.

1

Lambang Kesultanan Bima
11/1 <?+?> < 2. Mas Roro Juwati / Raden Ayu Beruk / KRK Kadipaten / KRK Ageng / KRKTegalraya (Kanjeng Ratu Mas)
lahir: ~ 1734, Peter Carey (Kuasa Ramalan, 913)
perkawinan: <1> < Sri Sultan Hamengku Buwono I / Pangeran Haryo Mangkubumi (Raden Mas Sujono) b. 5 Agustus 1717 d. 24 Maret 1792
wafat: 17 Oktober 1803, Tegalrejo, Yogyakarta
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Ratu Ageng Tegalrejo : Wanita Perkasa yang Tercuri dari Sejarah

Lukisan koleksi Snouck Hurgronje, yang tersimpan di Universitas Leiden dengan codex 7398. Lukisan ini menggambarkan aktivitas spiritual Diponegoro saat mengajari putranya, Pangeran Ali Basah, teks mistik Islam. Banthengwareng berada di tengah, dekat Diponegoro

Ratu Ageng nama yang mirip dengan nama pahlawan Nyai Ageng Serang tapi dua wanita ini adalah beda orang. Ratu Ageng atau seringkali disebut juga Ratu Ageng Tegalrejo ini bukanlah wanita baen-baen (sembarangan). Wanita pendidik yang lahir pada tahun 1735 ini adalah seorang permaisuri dari Sultan Hamengku Buwoni I, dan juga wanita yang melahirkan Sultan Hamengku Buwono II dan ia juga merupakan nenek buyut Ontowiryo.

Belum cukup hanya itu saja, ia juga merupakan seorang Panglima Bregada Langen Kesuma. Bregada Langen Kesuma ini semacam kesatuan pasukan elit khusus perempuan pengawal raja, seperti hanya Trisat Kenya di zaman Amangkurat I yang fenomenal karena kejamnya itu.

Meski personilnya semua dari kaum Hawa, jangan berpikir mereka ini lebay meminjam istilah anak muda jama sekarang. Bregada Langen Kesuma merupakan kesatuan khusus pengawal raja yang sangat tangguh. Meskipun semua anggotanya perempuan, namun pasukan berkuda ini dilengkapi dengan senjata api laras panjang dan pendek, pedang, keris, tombak, trisula, dwisula, dan lain sebagainya. Keterampilan mereka dalam olah senjata dan olah kanuragan jangan diragukan lagi. Misal sampeyan suit-suit mereka ini, salah – salah kena gibeng saja masih untung!

Anggapan diatas bukan hanya mitos atau legenda semata, setidaknya kehebatan Bregada Langen Kesuma ini diakui oleh Daendels saat berkunjung ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada bulan Juli 1809. Ceritanya, dalam acara penyambutan Daendels Bregada Langen Kesuma ini memperagakan salvo senapan dan meriam yang dipergilirkan dengan sempurna. Markas dari kesatuan istimewa ini berada di Pesanggrahan Madyaketawang. Lapangan latihan menembak bagi pasukan ini berada di alun-alun Pungkuran, di selatan kraton. Untuk lebih lanjut tentang Bregada Langen Kesuma ini di lain kesempatan kita akan membahasnya lebih jauh.

Bobot – bibit - bebet, saya yakin kata tersebut tidak asing indera dengar kita. Tiga kata dalam satu kesatuan tersebut adalah filosofi Jawa yang berkait erat mecari jodoh atau pasangan hidup. Lazimnya ini dipakai untuk memperoleh gambaran tentang kriteria calon pasangan hidup menurut pandangan orang Jawa.

Bukan karena tipikal pemilih atau mengkotak-kotakkan manusia. Berkenaan dengan pasangan hidup, orang Jawa terkesan sangat berhati-hati , meski tidak terlalu selektif dalam mencari siapa yang akan bersanding sebagai garwo (sigare nyowo) ing geghayu bahteraning urep (dalam mengarungi bahtera kehidupan) dalam kesetiaan sampai kiki nini koyo’ mimi lan mintuna.

Dalam pengertian umum, ada tiga perkara yang tidak akan terjangkau untuk diketahui manusia yakni, mati, jodoh, dan rejeki. Namun bagi masyarakat Jawa, setidaknya ada lima perkara yang mana manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti akan nasib dalam perjalanan hidupnya ; siji pesthi (mati), loro jodho (jodoh), telu wahyu (anugerah), papat kodrat (nasib), dan lima bandha (rejeki).

Merujuk dari filosifi bobot – bibit – bebet di atas tak lain adalah, dalam hal memilih pasangan hidup yang ideal bagi masyarakat Jawa adalah salah satu bagian terpenting dalam perjalanan hidup ketika berumah tangga dan berketurunan. Sebab kesalahan memilih pasangan yang dinikahi dapat berdampak buruk pada kualitas hidup pribadi, anak, dan keluarga di masa depan. Bahkan ada pepatah mengatakan, “Malapetaka besar yang dialami oleh seseorang adalah ketika ia salah memilih siapa yang menjadi pasangan hidupnya”.

Dalam konteks Ratu Ageng ini, filosofi Jawa diatas semuanya komplit ada pada dirinya. Bagaimana tidak, selain yang sudah saya narasikan di atas jika ia adalah seorang permaisuri sekaligus dari rahimnya terlahir seorang Nata. Hal ini tidaklah mengherankan, karena Ratu Ageng ini adalah anak perempuan dari seorang kyai masyur pada jamannya, yakni Kyai Ageng Derpoyudho dari Majangjati, Sragen. Lumrah adanya selain karena kecerdasannyam Ratu Ageng ini terkenal karena alimnya.

Jika kita telisik lebih jauh lagi tentang silsilah Ratu Ageng ini, bisa jadi ada pengetahuan yang benar-benar baru dan baru kita ketahui. Kyai Ageng Depoyudho ini adalah putera dari Kyai Ageng Datuk Sulaiman atau sering disebut juga Kyai Sulaiman Bekel yang lahir sekitar tahun 1601, ia adalah anak tertua dari Sultan Abdul Kahir. Leluhur Ratu Ageng dapat dilacak dari sisi ibunya hingga ke Sultan Bima Pertama Abdul Kahir, Sumbawa, yang telah menghabiskan banyak waktu di Jawa untuk mendalami ilmu agama di pesantren-pesantren. Pada kesempatan lain kita akan membahasnya, biar lebih mudah untuk kita menguarainya.

Kasih sayang sang permaisuri yang tercurah terhadap cucu uyutnya ini bertolak belakang dengan anaknya sendiri, Raden Mas Sundoro. Bahkan bisa dikatakan hubungan ibu dan anak ini tidak akur. Lazimnya seorang ibu yang berharap anaknya berbudi pekerti yang baik, hal ini disalah pahami oleh Sundoro (kelak adalah HB II) yang dididik secara keras sesuai tuntunan agama. Tapi begitulan manusia, apapun latarbelakangnya, apakah dari trah bangsawan atau rakyat jelata selalu ada saja yang mbeling.

Karena hubungan ini pula yang mendasari keluarnya Ratu Ageng dari lingkungan keraton ketika suaminya, Hamengku Buwono I mangkat pada tahun 1792 yang kemudian tahtanya diwariskan pada anaknya Raden Mas Sujono ini. Ia lebih memilih tinggal di sebuah dusun kecil sejam perjalan kaki dari keraton, yakni Tegalrejo. Meskipun ia juga tahu jika Raden Mas Sujono pun sangat membenci Belanda. Tapi apa boleh buat, gaya hidup anak kesayangannya tersebut bahkan mengalahkan orang Belanda itu sendiri. Ontowiryo yang masih bocah pun diboyongnya dan hidup ditengah-tengah wong cilik, rakyatnya sendiri.

Bisa jadi, karena dibesarkan dalam lingkungan wong cilik atau rakyat kecil, maka dalam jiwa bocah Ontowiryo tumbuh rasa kepedulian yang sangat besar kepada orang-orang kecil. Apalagi dalam keseharian, Ontowiryo melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa seorang Ratu Ageng, permaisuri seorang raja, tidak merasa rendah ketika harus bergaul dengan kawulo alit.

Pun, ketika bocah Ontowiryo tanpa canggung membantu nenek uyutnya yang seorang ibu suri ini tangannya belepotan lumpur demi menghidupinya. Bahkan, keteguhan Ratu Ageng yang tidak mau menerima bantuan keuangan dari keraton sangat tertanam kuat dalam alam pikir Ontowiryo yang terbawa hingga akhir hayatnya.

Sebagai wanita ningrat yang terbilang cerdas, hal ini sangat beralasan karena Ratu Ageng sangat gandrung pada literatur-literatur keagamaan, sejarah, dan juga sastra, sehingga rumahnya yang sederhana di Tegalrejo bagaikan sebuah perpustakaan kecil. Sebaliknya, terhadap harta benda, Ratu Ageng tidak begitu terobsesi. Bahkan, dalam satu riwayat mengatakan Ratu Ageng ini hanya memiliki barang-barang primer yang memang dibutuhkan dalam rumah tangga seperti kebanyakan orang.

Dalam pembentukan watak spiritual Ontowiryo, pola pengasuhan Ratu Ageng terhadap cucu uyutnya ini sangatlah keras. Sejak kecil Ontowiryo telah diajarkan mengenai keislaman dan adat istiadat Jawa tradisional. Hal yang sangat ditanamkan pada diri pangeran kecil mengenai nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan.

Dari Ratu Ageng inilah menjadikan Ontowiryo tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan diskusi keagamaan. Selain itu wilayah Tegalrejo ketika itu pun sudah merupakan daerah yang kental dengan budaya pesantren. Hingga akhirnya pendidikan yang diterima oleh Diponegoro jauh lebih intensif dibandingkan anak-anak dari keluarga ningrat pada umumnya.

Tidak hanya itu banyak kitab-kitab yang dipelajari oleh Pangeran Diponegoro, diantaranya Kitab Tuhfah berisi ajaran sufisme, kitab-kitab ushul Fiqh, teks-teks Islam-Jawa yang berisi moral dan dasar-dasar sastra Jawa, beliau juga mempelajari syair-syair Jawa dan materi ketatatanegaraan serta kerajaan. Salah satu gurunya adalah Kyai Taptojani yang kelak dikemudian hari sebagai penasihat utama untuk urusan agama Diponegoro.

Berkat nenek buyutnya Diponegoro belajar banyak perihal disiplin diri, ketaatan beragama, dan kemampuan atau kepekaan untuk membaur dengan semua kelas masyarakat Jawa. Hidup di Tegalrejo juga mengajarkannya keuntungan yang diraih dari sikap menjaga diri dari lingkungan Keraton Yogyakarta, masuk ke dalam dunia batin sendiri secara intensif, menjadi seorang pecinta kesunyian dan nilai hidup bahwa kedamaian batin itu datang dari olah tapa dan refleksi diri dalam keheningan.

Nah, dipenghujung akhir tulisan ini, ada satu simpulan bahwa pengaruh Ratu Ageng inilah yang mempunyai andil besar dalam pembentukakan kepribadian Diponegoro. Pengalaman agama yang mendalam dan pengaruh yang kuat serta hubungan Ratu Ageng yang luas dengan komunitas-komunitas santri di Jawa Tengah secara tidak langsung memberikan satu kemudahan tersendiri bagi Diponegoro dalam usaha mewujudkan cita-citanya. Membebaskan orang Jawa dari intervensi dan kolonialisasi bangsa Belanda.

Meski dalam hal ini kita tidak mengesampingkan peran tidak langsung dari ibu kandung Diponegoro sendiri, Raden Ayu Mangkarawati yang merupakan selir Hamengku Buwono III yang tak lain adalah anak perempuan dari Kyai Prampelan yang kesohor tersebut. Pun halnya, sang nenek sendiri Ratu Kedhaton yang merupakan wanita sholehah.

Maka tidak berlebihan jika kita beranggapan di balik nama besar Diponegoro ada wanita hebat dibelakangnya, yakni Ratu Ageng atau dalam nama gadisnya Niken Ayu Yuwati ini. Wanita sholehah yang masih terbilang trah Ampel yang sekaligus cucu Sultan Bima di Sumbawa. Meski dalam lembaran sejarah tidak banyak disebutkan seolah tenggelam oleh cucu uyut kesayangannya tersebut. Maka, satu kesimpulan yang bisa jadi sangat provokatif, Ratu Ageng : Wanita Tangguh yang Tercuri dari Sejarah.

Perempuan Ini di Balik Nama Besar Pangeran Diponegoro

Nyai Ageng Tegalrejo adalah satu di antara beberapa tokoh pe rempuan di Jawa yang punya andil besar dalam sejarah negeri ini. Ia adalah pejuang sekaligus ulama dan nenek buyut dari pahla wan nasional Pangeran Dipone goro. Ia juga berada dibalik pembentukan karakter kepribadian Pangeran Diponegoro Nyai Ageng Tegalrejo yang lahir pada 1735 ini merupakan istri dari Sultan Hamengku Buwono I. Sosoknya dikisahkan sebagai perempuan pejuang. Ia mewarisi bakat militer dari tokoh ber kembangnya Islam di Bima, Sultan Abdul Qahir (Sultan Bima ke , (1621-1640). Dalam Pe rang Giyanti, Ia ikut mendam pingi suaminya bergerilya.

Nyai Ageng Tegalrejo merupakan anak dari Kiai Ageng Der poyudhi dari Majangjati, Sragen, kiai masyhur pada waktu itu. Kiai Ageng Derpoyudho sendiri ada lah putra dari Kiai Ageng Da tuk Sulaiman atau sering akrab disebut Kiai Sulaiman Bekel. Kealimannya juga tak lepas dari darah yang mengalir dari silsilah keturunannya.

Terkait kisah Nyai Ageng Te galrejo dalam kehidupan keluarga Keraton Ngayogyakarta, pada suatu waktu ia memilih keluar dari keraton setelah suaminya mangkat karena hubungan buruk dengan anaknya Sundoro (kelak HB II). Ia kemudian memilih ting gal di Tegalrejo, sebuah desa yang terletak di tenggara Keraton. Nyai Ageng Tegalrejo berani mening galkan Istana karena melihat anaknya yang dinilai mulai menyepelekan perintah agama. Di Tegalrejo, Nyai Ageng Tegalrejo giat bertani tanpa meninggalkankan ibadah.

Sebagai keturunan bangsawan Jawa, kehidupannya juga tidak bisa dilepaskan dari filosofi dan tradisi Jawa. Dalam sebuah artikel bertajuk "Ratu Ageng Tegalrejo: Wanita Perkasa yang Tercuri Sejarah" disebutkan bahwa Nyai Ageng Tegalrejo memegang filosofi Jawa dalam memilih pasangan hidup, yaitu mempertimbangan bebet, bibit, dan bobot.

Ia pernah menjadi komando Korp Prajurit Estri yang terdiri da ri para pendekar perempuan. Di bawah kepemimpinannya, Korp Prajurit Estri ini mengalami kemajuan. Bahkan beberapa ta hun menjelang Perang Jawa, korps ini membuat utusan negara dan Eropa terkagum-kagum dengan kemampuan para pendekar perempuan dalam menaiki kuda, melepaskan tembakan salvo dan ketepatan membidik.

Di samping itu, cucu dari Ki Ageng Sulaiman Bekel Jamus ini dikenal sebagai perempuan yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan ia tularkan kepada Pangeran Diponegoro sebagai orang yang diasuhnya. Karena itu, dalam beberapa sumber disebutkan Nyai Ageng Tegalrejo mempunyai peran besar dibalik nama besar Pangeran Diponegoro. Diponegoro kemudian menjadi sosok yang banyak mempelajari kitab-kitab fikih melalui para ulama yang sering diundang ber diskusi di Balairung, kediamannya di Tegalrejo.

Diponegoro mempelajari kitab Muharrar karya Imam ar- Fari'i dan Lubab al-Fiqh karya Al-Mahamili. Kitab Taqrib karya Abu Syuja al-Isfahani dan Fath al-Wahhab karya Imam Zakari yah al-Anshari merupakan favo rit bacaannya. Di tangan Nyai Ageng Tegalrejo, Pangeran Dipo negoro menjadi mahir membaca naskah berbahasa Jawa dan aksara pegon. Nyai Ageng Tegalrejo juga yang memperkenalkan Pangeran Diponegoro terhadap tradisi akademis Tarekat Syattari yah melalui kitab Tuhfat al-Mursalahila Ruhan-Nabi karya Syekh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri.

Peran besar Nyai Ageng Te gal rejo sangat terasa pada diri Diponegoro. Itu terlihat ketika sosok pembimbingnya wafat pa da 17 Oktober 1803. Ia merasa ke hilangan pembimbing utama sejak usia remaja hingga dewasa. Kendati demikian, rasa kehilangannya tersebut tak membuat Diponegoro lemah. Ia menjadi lebih dekat dengan rakyat.

2

Sri Sultan HB II.jpg
21/2 <1+1> < 4. Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono II [Hb. 1.4]
lahir: 7 Maret 1750, Yogyakarta
perkawinan: <2> < Bendoro Mas Ayu Doyorogo [Ga.Hb.2]
perkawinan: <3> < Bendoro Raden Ayu Nilaresmi ? (Bendoro Raden Ayu Wiryakrama)
perkawinan: <4> < Bendoro Mas Ayu Pujaningsih [Ga.Hb.2]
perkawinan: <5> < Gusti Kanjeng Ratu Kedhaton [Gp.Hb.2] b. 1750 d. Juli 1820
perkawinan: <6> < Bendoro Raden Ayu Herowati [Ga.Hb.2]
perkawinan: <7> < Bendoro Mas Ayu Sumarsonowati
perkawinan: <8> < Bendoro Mas Ayu Rantamsari [Ga.Hb.2]
perkawinan: <9> < Bendoro Mas Ayu Sukarso [Ga.Hb.2]
perkawinan: <10> < Bendoro Mas Ayu Mironosari [Ga.Hb.2]
perkawinan: <11> < Bendoro Raden Ayu Kulon [Ga.Hb.2]
perkawinan: <12> < Bendoro Mas Ayu Gondowati [Ga.Hb.2]
perkawinan: <13> < Bendoro Mas Ayu Citrosari [Ga.Hb.2] / Bendoro Mas Ayu Citrowati
perkawinan:
perkawinan: <14> < Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Gp.Hb.2] b. 1760 d. 1826, Yogyakarta
gelar: Maret 1792 - 1799, Yogyakarta, Ngarsodalem Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II
gelar: 1811 - 19 Juni 1812, Yogyakarta, Sultan Sepuh
gelar: 18 Agustus 1826 - 3 Januari 1828, Yogyakarta, Sultan Sepuh
wafat: 3 Januari 1828, Yogyakarta
Official Link Adm: Ir. H. Hilal Aachmar Lineage Study

Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II mempuyai 80 anak. Hamengkubuwono II (7 Maret 1750 – 2 Januari 1828) atau terkenal pula dengan nama lainnya Sultan Sepuh. Dikenal sebagai penentang kekuasaan Belanda, antara lain menentang gubernur jendral Daendels dan Raffles, sultan menentang aturan protokoler baru ciptaan Daendels mengenai alat kebesaran Residen Belanda, pada saat menghadap sultan misalnya hanya menggunakan payung dan tak perlu membuka topi, perselisihan antara Hamengkubuwana II dengan susuhunan surakarta tentang batas daerah kekuasaan juga mengakibatkan Daendels memaksa Hamengkubuwono II turun takhta pada tahun 1810 dan untuk selanjutnya bertahta secara terputus-putus hingga tahun 1828 yaitu akhir 1811 ketika Inggris menginjakkan kaki di jawa (Indonesia) sampai pertengahan 1812 ketika tentara Inggris menyerbu keraton Yogyakarta dan 1826 untuk meredam perlawanan Diponegoro sampai 1828. Hamengkubuwono III, Hamengkubuwono IV dan Hamengkubuwono V sempat bertahta saat masa hidupnya Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Saat menjdi putra mahota beliau mengusulkan untuk dibangun benteng ktraton untuk menahan seragan tentara inggris. Tahun 1812 Raffles menyerbu Yogyakarta dan menangkap Sultan Sepuh yang kemudian diasingkan di Pulau Pinang kemudian dipindah ke Ambon. (nug: dari berbagai sumber. Referensi: www.wikipedia.com).

Dari HB II ini, keturunannya sekarang banyak tersebar di kota-kota besar di Jawa, seperti Yogyakarta, sebagai tanah leluhur, Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Malang dan juga sampai di Banyuwangi yang dapat ditelusuri.

A. Pengantar Sultan Hamengku Buwono (HB) II adalah raja di Kesultanan Yogyakarta yang memerintah antara tahun 1792 dan 1828. Ada dua fenomena menarik dari pribadi sultan pada saat berkuasa. Pertama adalah masa pemerintahannya yang ditandai dengan pergolakan politik yang belum pernah terjadi di Jawa pada periode sebelumnya. Pada periode tersebut, Jawa menjadi bagian dari perubahan besar yang berlangsung sebagaikonsekuensi konstelasi politik di Eropa. Hal ini ditandai dengan terjadinya perubahan empat kali rezim kolonial dalam kurun waktu kurang dari setengah abad, yaitu dari VOC, Prancis, Inggris dan Belanda. Perubahan rezim yang juga menimbulkan pergantian kebijakan kolonial ini mengakibatkan terjadinya instabilitas politik dari penguasa kolonial khususnya tindakan pemerintah kolonial terhadap raja-raja pribumi. Kondisi ini meningkatkan eskalasi konflik yang cukup tajam antara penguasa kolonial dan penguasa Jawa. Fenomena kedua adalah pribadi Sultan Hamengku Buwono II yang cukup kontroversial. Sejauh ini berbagai sumber data yang ditinggalkan oleh para penguasa kolonial memuat laporan dan gambaran negatif terhadap raja Jawa ini. Sultan HB II digambarkan sebagai seorang raja yang keras kepala, tidak mengenal kompromi, kejam termasuk terhadap kerabatnya sendiri, dan tidak bisa dipercaya. Informasi yang terkandung di dalam data kolonial tersebut masih mendominasi historiografi baik yang ditulis oleh sejarawan asing maupun sejarawan lokal. Hal ini menimbulkan daya tarik tersendiri sebagai bahan kajian dalam penelitian sejarah khususnya yang menempatkan para tokoh atau penguasa pribumi sebagai fokusnya. Kredibilitas informasi yang dimuat dalam data kolonial tentang Sultan HB II perlu dikritisi terutama lewat studi komparasi dengan sumber-sumber yang diperoleh dari naskah lokal yang sezaman (Jawa). Dari hasil perbandingan tersebut dapat diketahui bagaimana pribadi Sultan HB II yang sebenarnya dan peristiwa penting apa yang terjadi selama masa pemerintahannya. Di samping itu juga bisa diungkapkan karya apa yang diwariskannya dan motivasi apa yang mendasarinya B. Sebelum Menjadi Raja Sultan HB II dilahirkan pada hari Sabtu Legi tanggal 7 Maret 1750 di lereng gunung Sindoro, daerah Kedu Utara. Ketika lahir, Sultan HB II diberi nama Raden Mas (RM) Sundoro. Nama ini diberikan sesuai dengan nama tempat kelahirannya yang berada di lereng gunung Sindoro. RM Sundoro adalah putra Pangeran Mangkubumi, yang kemudian menjadi raja pertama di Kesultanan yogyakarta pada tahun 1755 dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.1 Meskipun berstatus sebagai putra raja, masa kecil RM Sundoro tidak dialaminya dengan penuh fasilitas dan kebahagiaan layaknya seorang pangeran. Pada saat dilahirkan, ayahnya sedang bergerilya untuk melawan VOC dan Kerajaan Mataram, di bawah Sunan Paku Buwono III. Medan perang Mangkubumi yang terbentang dari Kedu di utara sampai pesisir selatan dan dari Banyumas di barat hingga Madiun di timur membuat RM Sundoro hampir tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Sejak lahir hingga usia lima tahun, RM Sundoro diasuh oleh ibunya, Kanjeng Ratu Kadipaten,permaisuri kedua Pangeran Mangkubumi. Ketika perjuangan Mangkubumi berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tanggal 13 Pebruari 1755, Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua (palihan nagari). Sebagian kerajaan ini tetap dikuasai oleh Sunan Paku Buwono III yang bertahta di Surakarta, dan sebagian lagi diperintah oleh Mangkubumi yang menjadi raja baru. Kerajaan yang baru diberi nama Kesultanan Yogyakarta dan Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai raja pertama yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I.2 Setelah peristiwa palihan nagari ini, Sultan HB I membangun kompleks kraton baru di Yogyakarta dan membawa seluruh keluarganya ke kraton, termasuk GKR Kadipaten bersama putranya RM Sundoro. Sejak saat itu, RM Sundoro mulai tinggal di kraton dengan status sebagai seorang putra raja. Kecintaan dan kepercayaan Sultan HB I terhadap RM Sundoro mulai tampak sejak mereka tinggal bersama. Ini terbukti dengan keinginan Sultan HB I menunjuk RM Sundoro sebagai putra mahkota pada saat ia dikhitan pada tahun 1758. Sultan HB I mengetahui sifat putranya yang memiliki kekerasan jiwa sebagai akibat dari pengalaman hidupnya di wilayah pengungsian. Pengalaman hidup inilah yang membentuk watak RM Sundoro yang kelak dianggap sebagai pribadi yang keras dan tegas dalam pengambilan keputusan. Meskipun ada beberapa orang calon lain, khususnya dari permaisuri pertama GKR Kencono yang berputra dua orang, Sultan HB I tetap memilih RM Sundoro sebagai putra mahkota. Keyakinan ini semakin kuat ketika dua putra dari GKR Kencono dianggap tidak memenuhi syarat sebagai putra mahkota.3 Setelah Sundoro mulai tumbuh dewasa, Sultan HB I mulai berpikir tentang calon pendamping hidup RM Sundoro khususnya yang akan memperoleh status sebagai permaisuri. Sebagai seorang putra raja, RM Sundoro hendaknya berdampingan dengan seorang wanita yang juga keturunan raja. Untuk itu Sultan HB I berniat menjodohkan putranya dengan putri Sunan PB III. Ketika RM Sundoro berkunjung ke kraton Surakarta, tahun 1763 dan 1765, Sundoro disambut langsung oleh Sunan PB III. Harapan yang ada dari kedua orang raja Jawa itu adalah bahwa dengan ikatan perkawinan ini, ketegangan politik yang selama ini terjadi antara Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta akan berkurang. Akan tetapi, usaha tersebut gagal akibat adanya campur tangan Pangeran Adipati Mangkunegoro I yang juga menginginkan putri yang sama. Akibatnya RM Sundoro tidak berhasil mempersunting putri PB III. Kejadian ini membuat hubungan kedua raja Jawa ini menjadi renggang. Faktor lain yang memicu ketegangan antara Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta adalah sengketa perbatasan daerah. Sesuai kesepakatan dalam Perjanjian Giyanti, pembagian daerah antarkedua kerajaan itu tidak didasarkan pada batas-batas alam melainkan didasarkan atas elit setempat yang berkuasa. Pembagian wilayah ditentukan oleh adanya ikatan kekerabatan dan hubungan darat antara setiap penguasa daerah dan masing-masing raja. Akibatnya, pembagian wilayah milik Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta tidak ditentukan oleh batas yang jelas tetapi letaknya tumpang tindih. Hal ini sering mengakibatkan terjadinya konflik horizontal di kalangan masyarakat bawah yang memicu konflik vertikal antarsesama penguasa daerah. Proses ini berlangsung hampir dua puluh tahun lamanya dan baru berakhir dengan perjanjian yang difasilitasi oleh Gubernur VOC van den Burgh tanggal 26 April 1774 di Semarang. Dalam perjanjian ini batas wilayah masing-masing raja Jawa dipertegas dan diatur kembali dengan tujuan agar konflik tersebut tidak terjadi lagi.4 RM Sundoro mulai menyadari bahwa baik dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755 maupun Perjanjian Semarang tahun 1774, kekuasaan dan wilayah raja-raja Jawa semakin sempit. Sebaliknya, wilayah VOC menjadi semakin luas. Perluasan wilayah dan kekuasaan VOC ini berlangsung seiring dengan meningkatnya intervensi VOC dalam kehidupan kraton raja-raja Jawa. Dengan adanya pembagian wilayah baru, VOC memperoleh kesempatan semakin besar untuk melakukan eksploitasi ekonomi yang berbentuk pemborongan sumber-sumber pendapatan raja-raja Jawa seperti tol, pasar, sarang burung, penambangan perahu, pelabuhan laut dan penjualan candu.5 Tekanan ekonomi dan politik VOC semakin intensif ketika kondisi fisik raja-raja Jawa baik Sultan HB I maupun Sunan PB III semakin merosot setelah tahun 1780. Hal tersebut menumbuhkan kebencian RM Sundoro kepada VOC khususnya dan orang asing pada umumnya. Sultan HB I menyadari hal ini dan mengetahui bahwa RM Sundoro adalah putra yang diharapkan mampu mempertahankan kewibawaan dan menjaga keutuhan wilayah Kesultanan Yogyakarta dari ancaman dan rongrongan pihak asing. Pandangan ini memperkuat tekad Sultan HB I untuk mengukuhkan status Sundoro

(4 John F. Snelleman, Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, vierde deel (‘s Gravenhage, 1905, Martinus Nijhoff), hal.584.)

(5 Yang dimaksudkan sebagai tol adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh orang yang akan melewati wilayah atau jembatan tertentu. Tol ini biasanya diborongkan kepada pihak ketiga.

sebagai putra mahkota. Meskipun ada penentangan dari para pejabat VOC yang sudah menyadari sikapnya, Sultan HB I tetap menjadikan RM Sundoro sebagai calon pewaris tahta pada tahun 1785. Dengan statusnya yang baru, RM Sundoro memiliki wewenang yang lebih besar. Hampir semua tindakan yang berhubungan dengan Kesultanan Yogyakarta disetujui oleh ayahnya. Setelah diangkat menjadi putra mahkota, langkah pertama yang diambilnya adalah melindungi kraton Yogyakarta terhadap ancaman VOC. Ia menyadari bahwa ancaman VOC semakin besar dengan pembangunan benteng Rustenburg oleh Komisaris Nicolaas Harstink pada tahun 1765, yang sebagian materialnya dibebankan kepada Sultan HB I. Ia berusaha mencegah agar benteng Rustenburg tidak terwujud. Dengan segala upaya ia berhasil menghambat pembangunan benteng itu. Akibatnya, hingga tahun 1785, bangunan benteng itu belum juga selesai.6 Ketika Johannes Siberg datang ke kraton Yogyakarta dalam acara pelantikan RM Sundoro sebagai putra mahkota, Siberg mengingatkan kepada Sultan HB I tentang kewajibannya membantu pembangunan benteng itu. Desakan Siberg membuat RM Sundoro menghentikan aktivitasnya. Meskipun setelah peristiwa itu pembangunan benteng dapat diselesaikan, RM Sundoro tidak menghentikan aktivitasnya melawan VOC. Ia meminta izin ayahnya untuk memperkuat pertahanan kraton Yogyakarta sebagai perimbangan kekuatan menghadapi benteng VOC yang berada di depan kraton. Setelah memperoleh izin dari ayahnya, RM Sundoro memerintahkan pembangunan tembok baluwarti yang mengelilingi alun-alun baik utara maupun selatan kraton Yogyakarta. Di bagian depan bangunan ini diperkuat dengan pemasangan 13 buah meriam. Senjata ini diarahkan ke depan menghadap benteng Rustenburg. Pembangunan yang dimulai pada tahun 1785 itu terus berlangsung hingga RM Sundoro naik tahta menjadi Sultan HB II. C. Kebijakan Politik dan Konflik Pada saat yang hampir bersamaan dengan memuncaknya ketegangan antara Kesultanan Yogyakarta dan VOC pada akhir tahun 1780-an, di Surakarta terjadi pergantian tahta. Sunan PB III wafat pada tanggal 26 September 1788. Tiga hari kemudian putra mahkota RM. Subadyo diangkat menjadi Sunan PB IV. Sifat-sifat Sunan PB IV yang juga diketahui anti-Belanda telah mengalihkan perhatian Jan Greeve sebagai Gubernur Pantai Timur Laut Jawa (Noord-ootkust) dan Andries Hartsink sebagai Komisaris Kraton Jawa dari Yogyakarta ke Surakarta. Hal ini dilakukan setelah terbongkarnya rencana konspirasi Sunan PB IV (6 ANRI, surat Siberg kepada Sultan HB I tanggal 10 Pebruari 1785, bundel Semarang )

dengan para penasehat santrinya untuk membunuh orang-orang Belanda di Kesunanan Surakarta pada bulan September 1790. Peristiwa tersebut tidak hanya mengakibatkan pengawasan yang semakin ketat terhadap Kesunanan Surakarta, tetapi juga memulihkan hubungan baik antara Kesultanan Yogyakarta dan Mangkunegaran. Membaiknya hubungan antara Kesultanan Yogyakarta dan Mangkunegaran ini disebabkan oleh permintaan bantuan VOC kepada mereka untuk menghadapi Sunan PB IV. Bersama-sama dengan VOC keduanya menemukan kesempatan untuk saling bekerja sama.7 Kondisi seperti ini tidak berlangsung lama. Sunan PB IV bersedia menghentikan rencananya dan menyerahkan tujuh orang santri penasehatnya kepada Hartsink bulan Oktober 1790. Ketenangan di kraton Jawa kembali terusik, ketika Sultan HB I wafat pada tanggal 24 Maret 1792. Perhatian para pejabat VOC kembali beralih ke Yogyakarta. Sesuai tradisi dan kesepakatan yang dibuat dengan VOC, Gubernur Pantai Timur Laut Jawa Pieter Gerard van Overstraten 8 mengukuhkan RM Sundoro dan melantiknya sebagai Sultan Hamengku Buwono II pada tanggal 2 April 1792. Sejak itu masa pemerintahan Sultan HB II dimulai. Selama masa pemerintahannya, sifatnya yang antikolonial semakin jelas. Sultan HB II menyadari bahwa orang-orang Belanda merupakan ancaman utama terhadap keutuhan wilayah dan kewibawaan raja-raja Jawa khususnya di Kesultanan Yogyakarta. Berbeda dengan Sunan PB IV yang berambisi untuk memulihkan kekuasaan ayahnya sebagai raja Mataram, Sultan HB II tidak berpikir untuk mengembalikan wilayah Kerajaan Mataram lama di bawah satu pemerintahan. Sebaliknya, tujuan utama Sultan HB II adalah menjadikan Kesultanan Yogyakarta sebagai suatu kerajaan Jawa yang besar, berwibawa dan disegani oleh para penguasa lain termasuk oleh orang-orang Eropa. Harapan Sultan HB II adalah Kesultanan Yogyakarta menjadi penegak dan pendukung utama tradisi budaya dan kekuasaan Jawa. Bertolak dari konsep ini, Sultan HB II bertekad untuk menolak semua intervensi Belanda yang mengakibatkan merosotnya kewibawaan raja Jawa dan berkurangnya wilayah kekuasaan raja-raja Jawa.9 Konflik terbuka pertama terjadi antara Sultan HB II dan VOC. Peristiwa ini berlangsung tidak lama setelah pelantikannya. Gubernur van Overstraten meminta kepada Sultan HB II agar dalam setiap acara pertemuan dengan sultan, kursinya disejajarkan dan diletakkan di sebelah kanan kursi sultan. HB II beranggapan bahwa ia harus menghormati orang yang duduk di samping kanannya pada forum resmi di depan semua kerabat dan rakyatnya. Sultan HB II dengan tegas menolak tuntutan Overstraten itu. Karena tidak berhasil memaksakan kehendaknya, Overstraten melaporkan hal itu ke Batavia. Sebaliknya pemerintah VOC di Batavia yang sedang berada dalam kondisi kesulitan keuangan dan menghadapi blokade Inggris bermaksud mencegah insiden yang bisa menimbulkan konflik dengan raja-raja Jawa. Gubernur Jenderal Arnold Alting melarang Van Overstraten bertindak lebih jauh. Sampai ia diganti oleh J.R. Baron van Reede tot de Parkeler pada tanggal 31 Oktober 1796, tuntutan itu tidak pernah dikabulkan oleh Sultan HB II. Utusan Belanda tetap diperlakukan seperti seorang utusan para penguasa taklukan di depan Sultan HB II.10 Parkeler yang mengetahui diri Sultan HB II dari van Overstraten bertindak hati-hati. Pertemuan politik pertama dengan sultan ini terjadi pada bulan Agustus 1799 ketika Parkeler menghadiri acara pemakaman Patih Danurejo I. Menurut perjanjian tahun 1743, raja Mataram wajib meminta pertimbangan VOC sebelum menunjuk seseorang menjadi patih. Sultan HB II berusaha menghindari hal itu dengan alasan bahwa Kesultanan Yogyakarta bukan Kerajaan Mataram dan (http://id.rodovid.org/skins/common/images/button_media.png)Sultan berhak mengangkat patihnya sendiri.11 Parkeler bertindak hati-hati dan lebih banyak menggunakan jalur diplomatik untuk mencegah ketegangan dengan Sultan. Melalui perundingan dan pembicaraan yang dilakukan, akhirnya Parkeler berhasil membujuk Sultan HB II untuk memperbaharui perjanjian itu. Pada bulan September 1799 Sultan HB II bersedia menandatangani perjanjian baru dengan Parkeler yang memuat pengangkatan patih baru. Setelah perjanjian ini disahkan, Sultan HB II mengangkat Tumenggung Mangkunegoro, cucu Patih Danurejo I, yang bergelar Patih Danurejo II. Pada saat yang bersamaan Sunan PB IV juga menandatangani perjanjian yang intinya menghindari konflik terbuka ketika terjadi ketegangan dengan Kesultanan Yogyakarta dan meminta VOC untuk menengahinya.

12 7 ANRI, surat Sultan HB I kepada Mangkunegoro tanggal 24 September 1790, bundel Solo. 8 Gubernur Pantai Timur Laut Jawa (Noord-Oost-Kust)diserahterimakan dari Jan Greeve kepada penggantinya P.Gerard van Overstraten pada tanggal 1 September 1791 (lihat GP. Rouffaer.”Vorstenlanden” dalam John F Snelleman. 1905. Encyclopaedie van Nederlandsch Indie,vierde deel, ’s Gravenhage, hal. 587—653. 9 ANRI, Memorie van Residen J.G. van den Berg in Jogjacarta 1799-1803, bundel Yogyakarta. 10 Anonim, “Overzicht van de voornaamste gebeurtenissen in het Djocjocartasche-Rijk, sedert deszelf stichting (1755) tot aan Het einde van het Engelsche tusschen-bestuur in 1815”, dalam TNI, III deel, 1844, hal. 129 11 Perjanjian tanggal 11-13 November 1743, pasal 3 dan 4, yang dibuat antara G.W. Baron van Imhoff dan Sunan Paku Buwono II di Mataram, dimuat dalam “Corpus Diplomaticum Neerlando Indicum’, BKI jilid 96, tahun 1938, hal. 361-362 12 ANRI, contract met Sultanaat Jogjakarta over het jaar 1799, dalam bundel Hooge Regeerings.

1. Sri Paduka Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II (Sultan Sepoeh)

Sultan Sepoeh adalah putra ke 3 dari Sultan Hamengku Buwono I (lahir tahun 1750), dalam sejarah perjuangan Bangsa memang terkenal sebagai salah seorang Sultan yang berani melawan Belanda. Beliau memerintah Kasultanan Yogyakarta mulai tahun 1792 dan kemudian ditangkap oleh Daendels pada tahun 1810. Pada 1811 dikembalikan ke tahta Ngayogyakarta, tetapi baru satu tahun, 1812 Sri Sultan Sepoeh ditangkap dan dibuang ke Pulau Pinang oleh Raffles, bahkan kemudian dipindahkan ke Ternate selama 14 tahun. Pada tahun 1826 dikembalikan ke Jawa dan diangkat lagi dengan suatu upacara besar – besaran di Istana Bogor, namun hal ini sebenarnya hanya siasat Belanda agar Sultan Sepoeh mau menghentikan pemberontakan Pangeran Diponegoro (kemenakannya = Putra SPKS HB III), namun beliau tidak bersedia. Sri paduka kanjeng Sultan Hamengku Buwono akhirnya wafat pada tahun 1828 dalam usia 78 tahun dan disemayamkan di Makam Agung Pasargede (Kota Gede)

2. Kanjeng Pangeran Ario Moerdaningrat

Beliau adalah putra ke 9 dari Eyang Sultan Sepoeh (SPKS HB II). Pada waktu SPKS HB IV seda tahun 1822, putra mahkota beliau Sultan menol masih berusia 3 tahun; oleh karena itu dibentuk DEWAN MANGKUBUMI, yang terdiri dari : Neneknya : Kanjeng Ratu Ageng Ibundanya : Kanjeng Ratu Kencana K.P.A Mangkubumi (putra ke 8 Sultan Sepoeh) K.P.A Diponegoro (putra dari SPKS HB III) Pada waktu itu Kumpeni Belanda kurang menghormati pada tata cara adat Kasultanan dan bertindak kejam kepada Rakyat, sehingga membuat marah Pangeran Diponegoro dan menyatakan perang melawan Belanda. Setelah Pangeran Diponegoro mengangkat senjata melawan Belanda KPA MAngkubumi juga ikut dan menjadi Penasehat Agung K.P.A Diponegoro, kemudian Dewan Mangkubumi (pada bulan Oktober 1825) diserahkan kepada : K.P.A Moerdaningrat (putra ke 9 Sultan Sepoeh), dan K.P.A Panular. Dalam sejarah diceritakan bahwa Belanda sangat kewalahan melawan Pasukan Pangeran Diponegoro yang didukung oleh Rakyat yang gagah berani dan melakukan perang gerilya secara cerdik. Beliau juga dibantu oleh Pangeran Ngabei Jayakusuma, Kiyai Mojo dan Alibasah Sentot Prawirodirjo. Suatu ketika Jendral Van Geen membawa Pasukan 1000 orang kemudian menyandera K.P.A Moerdaningrat dan K.P.A Panular digunakan sebagai tameng waktu menyerbu Markas Besar (MB) Pangeran Diponegoro. Namun hal ini sudah diketahui oleh Beliau sehingga usaha Kumpeni gagal. Naas bagi pasukan Belanda karena waktu kembali ke Yogyakarta disanggong oleh Pasukan Diponegoro di sebuah jurang dekat sungai Krasak (Lengkong) dan mengalami kekalahan yang sangat memalukan bagi pihak Belanda. Di pertempuran Lengkong ini K.P.A Moeredaningrat (dan K.P.A Panular) gugur di medan bhakti (Juli 1826), kemudian disarekan di Pesarean Lengkong.

3. R.M.A.A Djojodiningrat

Beliau adalah putra ke 4 dari Eyang K.P.A Moerdaningrat, dengan nama kecil : R.M Abdoel Djalil. Semasa kecilnya diajak menemani kakeknya Sultan Sepoeh (HB II) waktu dibuang ke Ternate selama 14 tahun. Pada jaman perang Diponegoro R.M Abdoel Djalil turut secara aktif berjuang, bahkan dijadikan ajudan pribadi Pangeran Diponegoro (Liaison Officer); sering diutus sebagai penghubung antara MB dan Para Komandan Operasional di Lapangan (menyampaikan perintah atau laporan). Pada waktu Pangeran Diponegoro kemudian ditipu dan ditangkap Belanda, R.M Abdoel Djalil langsung menghilang dan masuk ke Pesantren Brangkal (Gombong) mengaku sebagai Santri Ngabdoeldjalil. Namun akhirnya diketahui oleh mata – mata Belanda dan diambil kembalikan ke Kasultanan untuk diberi pendidikan indoktrinasi mengenai Loyalitas ala Barat. Selesai p[endidikan ditipkan kepada Raden Adipati Tjokronegoro (Bupati Poerworejo) agar tidak berhubungan langsung dengan rakyat. Selang beberapa waktu R.M Abdoel Djalil diberi pekerjaan mengikat, sebagai anggota Landraad di Poerworejo dan berganti nama : R.M Djojoprono. Setelah berapa lama diangkat menjadi Fiscaal (Jaksa), kemudian karena kecakapannya diangkat menjadi Bupati Ngroma Jatinegara pada tahun 1844, dengan gelar : Raden Mas Ario Adipati (R.M.A.A Djojodiningrat). Pada waktu diangkat beliau minta agar menguasai juga daerah Bagelen Selatan sehingga seperti berpangkat Residen; Belanda terpaksa mengabulkannya karena memang daerah Bagelen belum terkonsolidasi (Residen Belanda hanya sebagai penasehat saja). Dari Kraton Yogyakarta beliau mendapat anugerah tertinggi berupa Songsong Gilap (menurut hierarki Kraton seharusnya Songsong Gilap hanya dimiliki oleh seorang Pangeran dengan sebutan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati). Berhubung alam sekitar Ngroma tidak memenuhi selera estetika, maka beliau membangun ibukota Kabupaten baru yang ditanganinya sendiri selama 4 tahun dan diberi nama KarangAnyar, yang di-inaugurasi tahun 1848. Sewaktu pensiun tahun 1864 beliau ikut putra sulungnya R.M.T.A Tjokrohadisoeryo yang mengikuti jejak ayahnya sebagai Bupati Ledok dengan ibukota Wonosobo. R.M.A.A Djojodiningrat menetap di Sepoeran kurang lebih 10 km dari ibukota; setelah wafat beliau dimakamkan di makan keluarga “Candi Wulan” Wonosobo. (http://ikdonline.wordpress.com/history/) Foto Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II (Sumber: http://jogjakini.wordpress.com/2007/11/30/sri-sultan-hb-ii/)

BERSAMBUNG

3

71/3 <2+?> < 3. Bendoro Raden Ayu Pringgodiningrat
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
HB III.jpg
42/3 <2+5> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III [Hb.2.]
lahir: 20 Februari 1769, Yogyakarta
perkawinan: <16> < Bendoro Raden Ayu Murtiningsih [Ga.Hb.3.21]
perkawinan: <17> < Bendoro Raden Ayu Hadiningdiah [Ga.Hb.3.22] / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti
perkawinan: <18> < Bendoro Mas Ayu Mindarsih
perkawinan: <19> < Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.1.?] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng [Gp.Hb.3.1]
perkawinan: <20> < Bendoro Raden Ayu Mangkorowati [Ga.Hb.3.1] b. 1770 d. 7 Oktober 1852
perkawinan: <21> < Bendoro Raden Ayu Dewaningrum
perkawinan: <22> < Bendoro Raden Ayu Lesmonowati ? (Ratu Kencono)
perkawinan: <23> < Bendoro Raden Ayu Kusumodiningrum
perkawinan: <24> < Bendoro Raden Ayu Mulyoningsih
perkawinan: <25> < Bendoro Raden Ayu Puspitosari
perkawinan: <26> < Bendoro Raden Ayu Mulyosari
perkawinan: <27> < Bendoro Mas Ayu Puspitoningsih
perkawinan: <28> < Bendoro Raden Ayu Puspitolangen
perkawinan: <29> < Bendoro Raden Ayu Kalpikowati
perkawinan: <30> < Bendoro Raden Ayu Surtikowati
perkawinan: <31> < Bendoro Raden Ayu Panukmowati
perkawinan: <32> < Bendoro Mas Ayu Madrasah
perkawinan: <33> < Bendoro Raden Ayu Padmowati
perkawinan: <34> < Bendoro Raden Ayu Wido
perkawinan: <35> < Bendoro Raden Ayu Doyopurnomo
perkawinan: <36> < Bendoro Raden Ayu Puspowati
perkawinan: <37> < Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Gp.Hb.3.1] ? (Prawirodirjo)
perkawinan: <38> < Gusti Kanjeng Ratu Wadhan [Gp.Hb.3.3]
perkawinan: <39> < Bendoro Mas Ayu Sasmitoningsih [Ga.Hb.3.19]
perkawinan: <40> < Bendoro Raden Ayu Renggoasmoro [Ga.Hb.3.20]
perkawinan: <41> < Bendoro Raden Ayu Hadiningsih [Ga.Hb.3.23]
gelar: 31 Desember 1808, Yogyakarta, Raja Putro Narendro Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro (Pangeran Wali)
gelar: 1810 - 28 Desember 1811, Yogyakarta
gelar: 12 Juni 1812 - 3 November 1814, Yogyakarta, Sultan of Yogyakarta, 3rd
wafat: 3 November 1814, Yogyakarta
Official Link Adm :Ir. H. Hilal Achmar

Nama aslinya adalah Raden Mas Surojo, putra Hamengkubuwana II yang lahir pada tanggal 20 Februari 1769. Pada bulan Desember 1810 terjadi serbuan tentara Belanda terhadap Keraton Yogyakarta sebagai kelanjutan dari permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Herman Daendels.

Hamengkubuwana II diturunkan secara paksa dari takhta. Herman Daendels kemudian mengangkat Raden Mas Surojo sebagai Hamengkubuwana III berpangkat regent, atau wakil raja. Ia juga menangkap dan menahan Pangeran Notokusumo saudara Hamengkubuwana II di Cirebon.

Pada tahun 1811 Inggris berhasil merebut jajahan Belanda terutama Jawa. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hamengkubuwana II untuk naik takhta kembali dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Desember 1811.

Kemudian terjadi permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Thomas Raffles, yaitu kepala pemerintahan Inggris di Jawa. Pertempuran terjadi di Keraton Yogyakarta, di mana Thomas Raffles membuang Hamengkubuwana II ke Pulau Penang, dan mengangkat kembali Hamengkubuwana III sebagai raja.

Akibat pertempuran tersebut, Kesultanan Yogyakarta harus menerima konsekuensi, antara lain:

Yogyakarta harus melepaskan daerah Kedu, separuh Pacitan, Japan, Jipang dan Grobogan kepada Inggris dan diganti kerugian sebesar 100.000 real setiap tahunnya. Angkatan perang Yogyakarta diperkecil dan hanya beberapa tentara keamanan keraton saja. Sebagian daerah kekuasaan keraton diserahkan kepada Pangeran Notokusumo yang berjasa mendukung Thomas Raffles, dan diangkat menjadi Paku Alam I.

Pemerintahan Hamengkubuwana III berakhir pada saat meninggalnya, yaitu tanggal 3 November 1814. Ia digantikan putranya yang masih anak-anak sebagai Hamengkubuwana IV. Sementara itu putra tertuanya yang lahir dari selir bernama Pangeran Diponegoro kelak melancarkan perang terhadap Belanda pada tahun 1825 – 1830.

Sri Sultan Hamengkubuwana III (lahir di Yogyakarta, 20 Februari 1769 – meninggal di Yogyakarta, 3 November 1814 pada umur 45 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah dalam dua periode, yaitu tahun 1810 – 1811 dan 1812 – 1814.

Kepustakaan

M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Pada 1814, Hamengku Buwono III meninggal. Pangeran Djarot, yang baru berusia 13 tahun, diangkat menjadi Hamengku Buwono IV. Praktis kendali kekuasaan dikuasai Patih Danurejo IV -seorang pro Belanda dan bahkan bergaya hidup Belanda. Perlahan kehidupan kraton makin menjauhi suasana yang diharapkan Diponegoro. Apalagi setelah adiknya, Hamengku Buwono IV meninggal pada 1822. Atas inisiatif Danurejo pula, Pangeran Menol yang baru berusia 3 tahun dinobatkan menjadi raja. Makin berkuasalah Danurejo. Saran-saran Diponegoro tak digubris. Danurejo dan Residen Yogya A.H. Smissaert malah berencana membuat jalan raya melewati tanah Diponegoro di Tegalrejo. Tanpa pemberitahuan, mereka mematok-matok tanah tersebut. Para pengikut Diponegoro mencabutinya. Diponegoro minta Belanda untuk mengubah rencananya tersebut. Juga untuk memecat Patih Danurejo. Namun, pada 20 Juli 1825, pasukan Belanda dan Danurejo IV mengepung Tegalrejo. Diponegoro telah mengungsikan warga setempat ke bukit-bukit Selarong. Di sana, ia juga mengorganisasikan pasukan. Pertempuran pun pecah. Upaya damai dicoba dirintis. Belanda dan Danurejo mengutus Pangeran Mangkubumi -keluarga kraton yang masih dihormati Diponegoro. Namun, setelah berdialog, Mangkubumi justru memutuskan bergabung dengan Diponegoro. Gubernur Jenderal van der Capellen memperkuat pasukannya di Yogya. Namun 200 orang tentara itu, termasuk komandannya Kapten Kumsius, tewas di Logorok, Utara Yogya, atas terjangan pasukan Diponegoro di bawah komando Mulyosentiko. Dalam pertikaian ini, dua kraton Surakarta -Paku Buwono dan Mangkunegoro- berpihak pada Belanda. Pasukan pimpinan Tumenggung Surorejo dapat menghancurkan pasukan bantuan Mangkunegoro. Di Magelang, pasukan Haji Usman, Haji Abdul Kadir mengalahkan tentara Belanda dan Tumenggung Danuningrat. Danuningrat tewas di pertempuran itu. Di Menoreh, Diponegoro sendiri memimpin pertempuran yang menewaskan banyak tentara Belanda dan Bupati Ario Sumodilogo. Markas Prambanan diduduki. Meriam-meriam Belanda berhasil dirampas. Di daerah Bojonegoro-Pati-Rembang, pihak Belanda ditaklukkan pasukan rakyat Sukowati pimpinan Kartodirjo. Pertahanan Belanda di Madiun dihancurkan pasukan Pangerang Serang dan Pangeran Syukur. Belanda kemudian mendatangkan pasukan Jenderal van Geen yang terkenal kejam di Sulawesi Selatan. Dalam pertempuran di Dekso, Sentot Alibasyah menewaskan hampir semua pasukan itu. Van Geen, Kolonel Cochius serta Pangeran Murdoningrat dan Pangeran Panular lolos. Murdoningrat dan Panular kembali menyerang Diponegoro. Kali ini bersama Letnan Habert. Di Lengkong, mereka bentrok. Habert tewas di tangan Diponegoro sendiri. Pasukan Surakarta yang sepakat melawan Diponegoro dihancurkan di Delanggu. Benteng Gowok yang dipimpin Kolonel Le Baron, jatuh dalam serbuan 15-16 Oktober 1826. Diponegoro tertembak di kaki dan dada dalam pertempuran itu. Pasukan Sentot Alibasyah yang tinggal selangkah merebut kraton Surakarta dimintanya mundur. Tujuan perang, kata Diponegoro, adalah melawan Belanda dan bukan bertempur sesama warga. Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, untuk sementara dibiarkan. Sekitar 200 benteng telah dibangun untuk mengurangi mobilitas pasukan Diponegoro. Perlahan langkah tersebut membawa hasil. Dua orang panglima penting Diponegoro tertangkap. Kyai Mojo tertangkap di Klaten pada 5 Nopember 1828. Sentot Alibasyah, dalam posisi terkepung, menyerah di Yogya Selatan pada 24 Oktober 1829. Diponegoro lalu menyetujui tawaran damai Belanda. Tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro disertai lima orang lainnya (Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock. Mereka disambut dengan upacara militer Belanda. Dalam perundingan itu, Diponegoro menuntut agar mendapat "kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan agama Islam."

De Kock melaksanakan tipu muslihatnya. Sesaat setelah perundingan itu, Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Semarang dan terus ke Betawi. Pada 3 Mei 1830, ia diasingkan ke Manado, dan kemudian dipindahkan lagi ke Ujungpandang (tahun 1834) sampai meninggal. Di tahanannya, di Benteng Ujungpandang, Diponegoro menulis "Babad Diponegoro" sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357 halaman.
553/3 <2+13> < 53. Bendoro Raden Ayu Samparwadi /Bendoro Raden Ayu Kasan Al-Munadi
lahir: 1775
perkawinan: <42> < Kasan (Hasan) AL Munadi b. 1764 d. 1830
wafat: 1797
Perkwinan : Tahun 1789
124/3 <2+14> < 11. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkudiningrat ? (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati I)
lahir: 1778
perkawinan: <43> < Raden Ayu Mangkudiningrat ? (Raden Ayu Kustinah)
wafat: 13 Maret 1824?, Ambon
Edited by : RE. Suhendar Indonesia http://www.royalark.net/Indonesia/yogya5.htm

Bandara Pangeran Arya Mangkudiningrat/Kanjeng Gusti Pangeran Adipati I b. 1778 (s/o Ratu Mas). Exiled to Penang 1812-1815, Batavis 1815-1817 and Ambon 1817-1824. Became an ascetic and assumed the name of Panji Angon Asmara. m. (first) Radin Ayu Jaya Kusuma, daughter of Pangeran Serang, by his wife, Radin Ayu Serang. m. (second) a selir or junior wife. He d. at Ambon, 13th March 1824 (bur. Imagiri), having had issue:

  1. Colonel Radin Temenggong Mangku Vijaya/Pangeran Adipati Mangku di-ning Rat II, Prince of Kalibawang (s/o the second wife). Granted the principality of Kalibawang in fief 28th April 1831. Exiled to Ambon in December 1831. m. (div. 1817) Bandara Radin Ayu Mangku Vijaya (m. second, Colonel Gusti Pangeran Adipati Prabhu ning Rat), daughter of H.H. Sampeyan Dalam ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Amangku Buwana III Senapati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid ud-din Panatagama Khalifatu'llah ingkang Yumeneng Kaping, Sultan of Yogyakarta, by his wife, Ratu Kinchana/Ratu Ibu, daughter of Radin Temenggong Pangeran Sasra di-ning Rat I, Bupati of Jipang-Rajegwesi.
  2. Pangeran Arya Chakra ning Rat. b. 1801 (s/o a junior wife).
  3. Radem Mangku Wilaya/Radin Marta Atmaya/Pangeran Arya Suriya Mataram (cre. 1825). b. 1802 (s/o a junior wife).
  4. Radin Sasra Atmaya/Pangeran Arya Paku ning Rat. b. 1803 (s/o a junior wife). Cdr. of Ferryboats during the Java War 1825-1830.
  5. Colonel Radin Mas Papaki/Radin Temenggong Mangkundirja (cre. 1814)/Pangeran Adipati Natapraya (cre. 1825), Prince of Kalibawang. b. 1804 (s/o Radin Ayu Jaya Kusuma). Succeeded his brother as prince of Kalibawang 1831. He d. at Kalibawang, November 1853.
  6. Pangeran Arya Papak. b. 1804 (s/o a junior wife).
  7. Pangeran Arya Paku ning Prang. b. 1805 (s/o a junior wife).
  8. Major Radin Jaya di-ning Rat/Pangeran Arya Jaya di-ning Rat. b. 1806 (s/o a junior wife).
  9. Radin Arya Jayang Kusuma. He had issue:
    1. Radin Adipati Dhanu Praya.
  10. Pangeran Arya Malaya Kusuma. b. 1808 (s/o a junior wife).
  11. Gusti Kanjeng. m. Lieutenant-Colonel Pangeran Arya Nata ning Prang, third son of Colonel Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Raja Raja Paku Alam II, by his principal consort, Bandara Radin Ajeng Ratna Supira/Gusti Kanjeng Ratu Anum/Gusti Kanjeng Ratu Anum, twenty-fourth daughter of H.H. Sampeyan Dalam ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana II Senapati ing Alaga Ngah 'Abdu'l Rahman Saiyid ud-din Panatagama Khalifatu'llah ingkang Yumeneng Kaping, Sultan of Yogyakarta. She had issue - see Indonesia (Pakualaman).
  12. Radin Ajeng Sukina (d/o Jaya Kusuma).
  13. Radin Ayu Wirya di-Pura.
  14. Radin Ayu Padma di-Pura.
  • Atas permintaan Keluarga Diputus
1. KG.P.Ap Mangkudiningrat 
2. Putranya : 850052

BABAD MANGKUDININGRATAN

Teks diawali dengan cerita tentang Pangeran Mangkudiningrat yang mendampingi Hamengku Buwana II, ayahnya yang diasingkan ke Pulau Pinang. Pangeran Mangkudiningrat selalu memohon kepada Tuhan agar ibu,istri, dan anak-anaknya dalam keadaan selamat. Di bagian akhir diceritakan keberhasilan Pangeran Mangkudiningrat (= Panji Asmara) sebagai orang yang dipercaya penduduk Ambon karena kemanjurannya dalam mengobati orang-orang sakit. Bagian akhir teks terputus karena kertas sobek/ lembaran-lembarannya hilang. Di beberapa halaman (h. 142—145, 161—163) terdapat

banyak tulisan yang dicoret sehingga tidak dapat dibaca
465/3 <2+13> < 44. Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo / Bendoro Pangeran Haryo Abdul Arifin Hadiwijaya (Bendoro Raden Mas Nuryani)
lahir: 1794
perkawinan: <44> < 2. Bendoro Raden Ayu Nuryani / Bendoro Raden Ayu Abdu'l Arifin Hadiwijoyo
wafat: 30 Juli 1826, Nglengkong-Sleman, Termasuk dalam Daftar Panglima Perang Pangeran Diponegoro, (wafat pada 30 Juli 1826, dalam sebuah penyergapan Belanda didaerah Nglengkong-Sleman, Royal.Ark)
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
576/3 <2+9> < 55. Bendoro Raden Ayu Prawirokusumo
lahir: 1800, Keraton Yogyakarta
perkawinan: <45> < 1. Raden Panji Prawirokusumo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
117/3 <2+?> < 9. Bendoro Pangeran Haryo Kertosono / [Hb.2.9] (Bendoro Pangeran Haryo Murdaningrat)
wafat: September 1826
WWW.ROYALARK.NET

Bandara Pangeran Arya Martasana/Bandara Pangeran Arya MurdaningRat (cre. 17th November 1825). b. 1774 (s/o Sepu). Exiled to Penang 1812-1815, Batavis 1815-1817 and Ambon 1817-1824. Wakil Dalem to HBV from 17th November 1825. m. at Ambon, before 1824, a daughter of an exiled Surakarta prince. He was k. in an ambush at Nglengkong, near Sleman, 30th July 1826, having had issue: •a) Radin Mas Adipati Arya Jaya di-ning Rat. Served with Dipa Negara 1825-1829, Bupati of Kuta Arya 1830-1863. Copyright© Christopher Buyers

•b) Radin Temenggong Rana di-ning Rat. Mbr. Regency Cncl. 1814-1815. m. Bandara Radin Ayu Rana di-ning Rat, fourteenth daughter of H.H. Sampeyan Dalam ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Amangku Buwana I Senapati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid ud-din Panatagama Khalifatu'llah ingkang Yumeneng Kaping [Sunan Kabanaran or Sultan Suwarji], Sultan of Yogyakarta, by his junior wife Bandara Mas Ayu Chitra Kusuma.
328/3 <2+7> < 30. Bendoro Pangeran Haryo Joyokusumo I / Bendoro Pangeran Hangabehi
wafat: 30 September 1829, Imogiri, Yogyakarta
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
39/3 <2+6> < 6. Bendoro Pangeran Haryo Dipawiyana
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study

BPH Dipawiyana adalah anak dari Seri Sultan Hamengku Buwono. Sejarah Hamengku Buwono II: Sri Sultan Hamengkubuwana II (lahir 7 Maret 1750 – meninggal 3 Januari 1828 pada umur 77 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah selama tiga periode, yaitu 1792 - 1810, 1811 - 1812, dan 1826 - 1828.[1] Pada pemerintahan yang kedua dan ketiga ia dikenal dengan julukan Sultan Sepuh.

Riwayat Masa Muda

Nama aslinya adalah Raden Mas Sundoro, putra Hamengkubuwana I, Ia dilahirkan tanggal 7 Maret 1750 saat ayahnya masih menjadi Pangeran Mangkubumi dan melakukan pemberontakan terhadap Surakarta dan VOC. Ketika kedaulatan Hamengkubuwana I mendapat pengakuan dalam perjanjian Giyanti 1755, Mas Sundoro juga ikut diakui sebagai Adipati Anom.

Pada tahun 1774 (atau tahun Jawa 1700) terjadi kegelisahan di kalangan Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta akibat mitos akhir abad, bahwa akan ada sebuah kerajaan yang runtuh. Dalam kesempatan itu, Mas Sundoro menulis kitab Serat Suryaraja yang berisi ramalan bahwa mitos akhir abad akan gugur karena Surakarta dan Yogyakarta akan bersatu di bawah pemerintahannya. Naskah tersebut sampai saat ini dikeramatkan sebagai salah satu pusaka Keraton Yogyakarta.

Pemerintahan Periode Pertama

Mas Sundoro naik takhta Yogyakarta sebagai Hamengkubuwana II pada bulan Maret 1792. Ia merupakan raja yang penuh dengan cita-cita. Para pejabat senior yang tidak sesuai dengan kebijakan politiknya segera dipensiunkan dan diganti pejabat baru. Misalnya, Patih Danureja I diganti dengan cucunya, yang bergelar Danureja II. Keputusan ini kelak justru merugikannya, karena Danureja II setia kepada Belanda, berbeda dengan rajanya.

Hamengkubuwana II sendiri bersikap anti terhadap Belanda. Ia bahkan mengetahui kalau VOC sedang dalam keadaan bangkrut dan bobrok. Organisasi ini akhirnya dibubarkan oleh pemerintah negeri Belanda akhir tahun 1799.

Sejak tahun 1808 yang menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (pengganti gubernur jenderal VOC adalah Herman Daendels yang anti feodalisme. Ia menerapkan aturan baru tentang sikap yang seharusnya dilakukan raja-raja Jawa terhadap minister (istilah baru untuk residen). Hamengkubuwana II menolak mentah-mentah peraturan ini karena dianggap merendahkan derajatnya, sedangkan Pakubuwana IV menerima dengan taktik tersembunyi, yaitu harapan bahwa Belanda akan membantu Surakarta menaklukkan Yogyakarta.

Hamengkubuwana II juga bersitegang dengan Patih Danureja II yang dekat dengan Belanda. Ia memecat Danureja II dan menggantinya dengan Pangeran Natadiningrat putra Pangeran Natakusuma (saudara Hamengkubuwana II). Kemudian Hamengkubuwana II juga merestui pemberontakan besanya, yaitu Raden Rangga Prawiradirjo I bupati Madiun yang menentang penjajahan Belanda. Putera KPR Prawirodirjo I, Raden Ronggo Prawirosentiko Bupati Toenggoel menikah dengan puteri Hamengku Buwono II dari isteri ampeyannya BMA Yati.Raden Rangga Prawirodirjo I adalah juga paman Hamengku Buwono II. Ibu Hamengku Buwono II Kanjeng Ratu Tegalraya adalah adik KPR Prawirodirjo bapak mereka adalah Kyai Ageng Derpayuda.(Genealogy Keraton Yogya).

Belanda berhasil menumpas Raden Rangga dan melimpahkan beban tanggung jawab, misalnya biaya perang, kepada Hamengkubuwana II. Hal ini menyebabkan keributan antara kedua pihak. Pada bulan Desember 1810 Herman Daendels menyerbu Yogyakarta, menurunkan Hamengkubuwana II, dan menggantinya dengan Hamengkubuwana III, menangkap Natakusuma dan Natadiningrat, serta mengembalikan kedudukan Patih Danureja II. [sunting] Pemerintahan Periode Kedua

Pada tahun 1811 pemerintahan Belanda atas Jawa dan Nusantara direbut oleh Inggris. Hal ini dimanfaatkan Hamengkubuwana II untuk kembali menjadi raja, dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota kembali.

Sikap Hamengkubuwana II terhadap Inggris sama buruknya dengan terhadap Belanda. Bahkan, ia berani bertengkar dengan Thomas Raffles sewaktu letnan gubernur Inggris tersebut mengunjungi Yogyakarta bulan Desember 1811.

Pakubuwana IV di Surakarta pura-pura mendukung Hamengkubuwana II agar berani memerangi Inggris. Surat-menyurat antara kedua raja ini terbongkar oleh Inggris. Maka, pada bulan Juni 1812 pasukan Inggris yang dibantu Mangkunegaran menyerbu Yogyakarta. Hamengkubuwana II dibuang ke pulau Penang, sedangkan Pakubuwana IV dirampas sebagian wilayahnya.

Hamengkubuwana III kembali diangkat sebagai raja Yogyakarta. Pangeran Natakusuma yang mendukung Inggris, oleh Thomas Raffles diangkat sebagai Pakualam I dan mendapat wilayah berdaulat bernama Pakualaman. [sunting] Pemerintahan Periode Ketiga

Pada tahun 1825 terjadi pemberontakan Pangeran Diponegoro (putra Hamengkubuwana III) terhadap Belanda (yang kembali berkuasa sejak tahun 1816). Saat itu raja yang bertakhta di Yogyakarta adalah Hamengkubuwana V.

Pemberontakan Pangeran Diponegoro sangat mendapat dukungan dari rakyat. Pemerintah Hindia Belanda mencoba mengambil simpati rakyat dengan mendatangkan Hamengkubuwana II yang dulu dibuang Inggris. Hamengkubuwana II kembali bertakhta tahun 1826, sedangkan Hamengkubuwana V diturunkan oleh Belanda. Namun usaha ini tidak membuahkan hasil. Rakyat tetap saja menganggap Pangeran Diponegoro sebagai raja mereka.

Hamengkubuwana II yang sudah tua (dan dipanggil sebagai Sultan Sepuh) akhirnya meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 1828. Pemerintahan kembali dipegang oleh cicitnya, yaitu Hamengkubuwana V.
510/3 <2+?> < 1. Bendoro Raden Ayu Gusti Wiryonegoro
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
611/3 <2+?> < 2. Bendoro Raden Ayu Sindurejo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
812/3 <2+6> < 4. Bendoro Raden Ayu Jayaningrat
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
913/3 <2+?> < 7. Bendoro Raden Ayu Wiryowinoto
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
1014/3 <2+5> < 8. Gusti Kanjeng Ratu Bendara
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
1315/3 <2+?> < 12. Bendoro Raden Ayu Jayengrono
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
1416/3 <2+6> < 13. Bendoro Pangeran Haryo Wiromenggolo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
1517/3 <2+5> < 14. Gusti Kanjeng Ratu Hangger Krama
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
1618/3 <2+?> < 15. Bendoro Raden Ayu Kartodipuro
1719/3 <2+?> < 16. Bendoro Pangeran Haryo Singasari
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
1820/3 <2+?> < 17. Bendoro Raden Ayu Yudoprawiro
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
1921/3 <2+5> < 18. Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi / Gusti Kanjeng Panembahan Mangkurat
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
2022/3 <2+?> < 19. Bendoro Raden Ayu Ronggo Prawirosantiko
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
2123/3 <2+6> < 20. Bendoro Raden Ayu Prawirodiningrat I
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
2224/3 <2+5> < 22. Gusti Bendoro Raden Ayu Maduretno ? (Gusti Kanjeng Ratu Prawirodirdja III)
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
2325/3 <2+?> < 21. Gusti Raden Ayu Prawirodiningrat II
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
2426/3 <2+4> < 23. Bendoro Raden Ayu Sosrowijoyo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
2527/3 <2+?> < 24. Bendoro Raden Ayu Bahusentono
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
2628/3 <2+?> < 25. Bendoro Raden Ayu Prawiroyudo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
2729/3 <2+9> < 10. Bendoro Pangeran Haryo Pamot
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
2830/3 <2+2> < 26. Bendoro Pangeran Haryo Hadiwinoto
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
2931/3 <2+4> < 27. Bendoro Pangeran Haryo Silarong
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
3032/3 <2+2> < 28. Bendoro Pangeran Haryo Sutowijoyo / Bendoro Pangeran Haryo Hadiwinoto
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
3133/3 <2+4> < 29. Bendoro Raden Ayu Murtodiningrat I
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
3334/3 <2+10> < 31. Bendoro Raden Ayu Ngabdani Ing Bayat
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
3435/3 <2+10> < 32. Bendoro Raden Ayu Nitinegoro
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
3536/3 <2+?> < 33. Bendoro Raden Ayu Cokrodiwiryo / Bendoro Raden Ayu Condrodiwiryo (Bendoro Raden Ayu Kromodiwiryo)
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
3637/3 <2+4> < 34. Bendoro Pangeran Haryo Senokusumo / Bendoro Pangeran Haryo Notopuro
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
3738/3 <2+2> < 35. Bendoro Raden Ayu Sosronegoro I
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
3839/3 <2+?> < 36. Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto I / Bendoro Raden Ayu Sindunegoro
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
3940/3 <2+?> < 37. Gusti Kanjeng Ratu Ayu Krama [Gp.Pa.2.1]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
4041/3 <2+?> < 38. Gusti Raden Mas Sudaryo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
4142/3 <2+?> < 39. Bendoro Raden Ayu Prawiriwinoto / Bendoro Raden Ayu Yudodipuro (Bendoro Raden Ayu Kartodiwiryo)
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
4243/3 <2+?> < 40. Bendoro Raden Ayu Prawirodiningrat II / Bendoro Raden Ayu Yudipuro
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
4344/3 <2+2> < 41. Bendoro Raden Ayu Sosronegoro II
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
4445/3 <2+?> < 42. Bendoro Pangeran Haryo Dipowijoyo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
4546/3 <2+12> < 43. Bendoro Raden Ayu Mangkuyudo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
4747/3 <2+7> < 45. Bendoro Ayu Tomoprawiro
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
4848/3 <2+2> < 46. Bendoro Raden Ayu Notoyudo Bendoro Raden Ayu Notowijoyo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
4949/3 <2+2> < 47. Bendoro Pangeran Haryo Notoboyo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
5050/3 <2+?> < 48. Bendoro Raden Ayu Yudowijayo / Bendoro Raden Ayu Notoyudo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
5151/3 <2+?> < 49. Bendoro Pangeran Haryo Teposono / Bendoro Pangeran Haryo Juminah
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
5252/3 <2+?> < 50. Bendoro Pangeran Haryo Singosekar / Bendoro Pangeran Haryo Riyokusumo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
5353/3 <2+?> < 51. Gusti Kanjeng Ratu Anom
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
5454/3 <2+?> < 52. Gusti Raden Ayu Sumadi
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
5655/3 <2+?> < 54. Bendoro Raden Ayu Secadirja / Bendoro Raden Ayu Wirjawilaga (Bendoro Raden Ayu Jayadilaga)
5856/3 <2+2> < 56. Bendoro Pangeran Haryo Notodipuro / Bendoro Pangeran Haryo Purbowinoto
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
5957/3 <2+?> < 57. Gusti Kanjeng Ratu Timur
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6058/3 <2+?> < 58. Gusti Raden Ajeng Sudarminah
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6159/3 <2+13> < 59. Bendoro Raden Ayu Notorejo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6260/3 <2+?> < 60. Bendoro Pangeran Haryo Purwokusumo / Gusti Pangeran Haryo Sosroatmojo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6361/3 <2+?> < 61. Bendoro Raden Ayu Jayengsantro / Bendoro Raden Ayu Sosrohatmojo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6462/3 <2+?> < 62. Bendoro Raden Ayu Reksokusumo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study Menikah dengan Bupati Imogiri(?)
6563/3 <2+?> < 63. Bendoro Raden Ayu Prawiroloyo / Bendoro Raden Ayu Mangunprawoto
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6664/3 <2+?> < 64. Bendoro Raden Ayu Sosrodipuro I
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6765/3 <2+?> < 65. Bendoro Pangeran Haryo Martosono / Bendoro Pangeran Haryo Puger
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6866/3 <2+?> < 66. Bendoro Raden Ayu Sosrodipuro II
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6967/3 <2+?> < 67. Bendoro Raden Ayu Puspadiningrat / Bendoro Raden Ayu Mulyodiwiryo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7068/3 <2+?> < 68. Bendoro Raden Ayu Projodiningrat
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7169/3 <2+?> < 69. Bendoro Raden Ayu Notonegoro / Bendoro Raden Ayu Martodiningrat II
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7371/3 <2+?> < 71. Bendoro Pangeran Haryo Mangjudipuro / Bendoro Pangeran Haryo Purwodipuro (Bendoro Pangeran Haryo Joyokusumo II)
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7472/3 <2+?> < 72. Bendoro Pangeran Haryo Wijil / Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo II
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7573/3 <2+?> < 73. Bendoro Raden Ayu Notonegoro / Bendoro Raden Ayu Sawunggaling
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7674/3 <2+?> < 74. Gusti Kanjeng Ratu Sasi
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7775/3 <2+8> < 75/76. Bendoro Pangeran Haryo Tejokusumo [Hb.2.76] (Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro)
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7876/3 <2+?> < 76. Bendoro Raden Ayu Martokusumo / Bendoro Raden Ayu Poncodiryo (Bendoro Raden Ayu Padmowinoto)
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7977/3 <2+11> < 77. Bendoro Pangeran Haryo Timur / Bendoro Pangeran Haryo Pujokusumo
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8078/3 <2+11> < 78. Bendoro Raden Ayu Dewi / Bendoro Raden Ayu Martonegoro
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8179/3 <2+11> < 79. Bendoro Pangeran Haryo Timur
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study

4

951/4 <4+22> < Bendoro Raden Ayu Mangkuwijoyo
Hilal Achmar Official Link
1482/4 <7+15> < Raden Ayu Tumenggung Alap-alap
perkawinan: <55> < Kanjeng Raden Tumenggung Alap-alap
penguburan: Majan, Tulungagung
Dipo-Master2.jpeg
823/4 <4+20> < Pangeran Diponegoro [Hb.3.1] / Bendoro Raden Mas Mustahar
lahir: 11 November 1785, Yogyakarta
perkawinan: <56> < 3. Raden Ayu Retnodewati
perkawinan:
perkawinan: <57> < 5. Raden Ayu Retnaningsih b. 1810 d. 1885
perkawinan: <58> < 7. Raden Ayu Retnaningrum
perkawinan:
perkawinan:
perkawinan:
perkawinan: <59> < 1. Raden Ayu Retno Madubrongto
gelar: 3 September 1805, Yogyakarta, Bendoron Raden Mas Ontowiryo (Carey,Peter, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro, 2014, pp.17)
perkawinan: <60> < 2. Raden Ayu Retnakusuma / Raden Ayu Supadmi , Yogyakarta
perkawinan: <87!> < 3. Raden Ayu Maduretno / Raden Ayu Diponegoro (Bendoro Raden Ayu Ontowiryo) b. ~ 1798 d. 28 Februari 1827, Keraton Yogyakarta
perkawinan: <61> < 6. Raden Ayu Retnakumala
gelar: 15 Agustus 1825, Selarong, Yogyakarta, Sultan Eru Cakra, Sultan Ngah 'Abdu'l Hamid Eru Chakra Kabir ul-Mukminin Saiyid ud-din Panatagama Jawa Khalifat Rasu'llah
perkawinan: <61!> < 6. Raden Ayu Retnakumala , Kasongan
wafat: 8 Januari 1855, Makasar
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Lencana8.jpg


( KELUARGA KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT )


Sejarah Perjuangan Pangeran Diponegoro

Patung Pangeran Diponegoro Sumber : [1]

Latar Belakang

Sebagai putra sulung Sultan Hamengkubuwono (HB) III, raja kasultanan Jogyakarta Hadiningrat, Pangeran Diponegoro memiliki hubungan kekerabatan formal dengan kraton. Meskipun dia dibesarkan di luar tembok kraton, namun sebagai seorang pangeran dia tetap mendapat didikan ksatria Jawa, mengikuti tradisi kejawen, dan menghayati berbagai ritual kraton, tata cara, perilaku dan tutur bahasa yang sangat hierarkhis. Selain itu dia juga mendapat pendidikan perang seperti ulah kanuragan, olah senjata, menunggang kuda, dan juga ilmu pemerintahan.




Figur Diponegoro

Diponegoro adalah putra sulung Sultan Jogya, Sultan HB III atau Sultan Raja dari seorang selir. Dengan demikian dia adalah cucu Sultan HB II (Sultan Sepuh) dan cicit Sultan HB I (Sultan Swargi). Ibunya disebut-sebut bernama R.A. Mangkarawati yang menurut Peter Carey asal-usulnya masih kabur. Dikatakan putri itu berasal dari Majasta di daerah Pajang, dekat makam keramat Tembayat (Carey, 1991:2). Dalam naskah lain Carrey mengatakan dia adalah keturunan Ki Ageng Prampelan dari Pajang (Carey, 1974:74). Sagimun MD. memberitakan bahwa dia berasal dari Pacitan, putri seorang Bupati yang konon masih berdarah Madura (Sagimun, 1986:36). R. Tanojo dalam Sadjarah Pangeran Dipanagara Darah Madura mengatakan bahwa darah Madura yang mengalir pada Diponegoro bukan berasal dari pihak ibu tetapi justeru dari pihak ayah. Menurut silsilah, nenek Diponegoro, yakni Ratu Kedaton (permaisuri HB II) adalah generasi ke enam keturunan Pangeran Cakraningrat dari Tunjung Madura (Tanojo, t.t:4). Nama asli Diponegoro adalah Raden Mas Mustahar. Dia lahir di keraton Jogyakarta pada hari Jum'at Wage, tanggal 7 Muharram Tahun Be atau 11 Nopember 1785 Masehi sebagai putera sulung Sultan HB III (Carey, 1991:1). 1) Pada tahun 1805 Sultan HB II mengganti namanya menjadi Raden Mas Ontowiryo. Adapun nama Diponegoro dan gelar pangeran baru disandangnya sejak tahun 1812 ketika ayahnya naik takhta.

Sepanjang hidupnya, tercatat ada tujuh wanita yang pernah dinikahi oleh Pangeran Diponegoro. Pernikahan pertama, terjadi tahun 1803 dengan Raden Ayu (RA) Retna Madubrongto, putri Kyahi Gedhe Dadapan, dari desa Dadapan, sub distrik Tempel, dekat perbatasan Kedu dan Jogyakarta. Kedua, tanggal 27 Pebruari 1807 dengan Raden Ajeng Supadmi (R.A. Retnakusuma), putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang. Ketiga, tahun 1808 dengan R.A. Retnodewati. Baik Madubrongto maupun Retnodewati wafat sewaktu Diponegoro masih berada di Tegalrejo. Isteri Keempat, dinikahi pada tanggal 28 September 1814, yakni R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Ketika Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, dia diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton.l 18 Pebruari 1828. Keelima, bulan Januari 1828 Diponegoro menikahi R.A. Retnaningrum, putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II. Keenam, R.A. Retnaningsih, putri Raden Tumenggung Sumoprawiro, bupati Jipang Kepadhangan, dan ketujuh, R.A. Retnakumala, putri Kyahi Guru Kasongan (Babad, P. XIX, b. 21-26; Lihat juga Carey, 2007:767-769). 6)


Silsilah Keturunan Pangeran Diponegoro

klik Nama untuk membuka Silsilah
No. Nama Lahir Ibu Kandung
1. RM. ABDUL MADJID / DIPONEGORO ANOM 1803 RA. RETNA MADUBRONGTO
2. RM. DIPOATMAJA / DIPOKUSUMA/PANGERAN ABDUL AZIS 1805 RA. RETNA MADUBRONGTO
3. RM. SURYAATMAJA / DIPONINGRAT 1807 RA. SUPADMI / RA. RETNAKUSUMA
0. UNTUK SEMENTARA DI PUTUS ATAS NAMA "RM. SODEWO / SINGLON / PANGERAN ALIP:689908" 1810 RA. CITROWATI : 470488
4. RM. DJONET DIPOMENGGOLO 1815 RA. MADURETNO / RA. ONTOWIRYO
5. RM. ROUB/RM. RAAB 1816 RA. MADURETNO / RA. ONTOWIRYO
6. RA. IMPUN / RA. BASAH ---- RA. RETNODEWATI
7. RA. JOYOKUSUMO ---- RA. SUPADMI / RA. RETNA KUSUMA
8. RA. MUNTENG / RA. SITI FADILAH / RA. GUSTI ---- RA. RETNODEWATI
9. RA. HERJUMINTEN ---- RA. RETNAKUMALA
10. RA. HERJUMEROT ---- RA. RETNAKUMALA
11. RA. HANGRENI MANGUNJAYA ---- RA. RETNAKUMALA
12. RM. KINDAR 1832) RA. RETNANINGSIH
13. RM. SARKUMA 1834) RA. RETNANINGSIH
14. RM. MUNTAWARIDIN 1835 RA. RETNANINGSIH
15. RA. PUTRI MUNADIMA 1836 RA. RETNANINGSIH
16. RA. DULKABI 1836 RA. RETNANINGSIH
17. RM. RAJAB 1837 RA. RETNANINGSIH
18. RM. RAMAJI 1838 RA. RETNANINGSIH
19. RA. MANGKUKUSUMO ---- RA. RETNANINGRUM
20. RA. PADMODIPURO ---- RA. RETNANINGRUM
21. RA. PONCOKUSUMO ---- RA. RETNANINGRUM

Penangkapan dan Pengasingan

16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.

Lukisan karya Nicolaas Pieneman, "Penyerahan diri Pangeran Diponegero kepada Jenderal De Kock".28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.

Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock, 28 Maret 1830 akhir dari Perang Diponegoro (1825-1830). Lukisan Tahun 1835 Nicolaas_Pieneman (1809-1860), Sumber :[[2]]
Lukisan cat minyak Raden_Saleh tahun 1857 tentang Penangkapan Pangeran Diponegoro. Diceritakan bahwa Pangeran Diponegoro beserta pasukannya ditangkap dalam keadaan tidak bersenjata. Sumber : [[3]]
3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. Tidak kurang dari 19 orang yang terdiri dari keluarga dan stafnya ikut dalam pembuangan di Menado

11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch. 30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. 1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Jawa Makassar.

Benteng Rotterdam Makasar
Patung P. Diponegoro Berkuda Makasar
Makam P. Diponegoro & Anak-Cucunya

Lokasi makam Pangeran Diponegoro di Makassar, Sulawesi Selatan.Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen.

Bagus Singlon atau Ki Sodewo adalah Putera Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Citrowati Puteri Bupati Madiun Raden Ronggo. Raden Ayu Citrowati adalah saudara satu ayah lain ibu dengan Sentot Prawiro Dirjo. Nama Raden Mas Singlon atau Bagus Singlon atau Ki Sodewo sendiri telah masuk dalam daftar silsilah yang dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem Keraton Yogyakarta.

Perjuangan Ki Sodewo untuk mendampingi ayahnya dilandasi rasa dendam pada kematian eyangnya (Ronggo) dan ibundanya ketika Raden Ronggo dipaksa menyerah karena memberontak kepada Belanda. Melalui tangan-tangan pangeran Mataram yang sudah dikendalikan oleh Patih Danurejo, maka Raden Ronggo dapat ditaklukkan. Ki Sodewo kecil dan Sentot bersama keluarga bupati Madiun lalu diserahkan ke Keraton sebagai barang bukti suksesnya penyerbuan.

Ki Sodewo yang masih bayi lalu diambil oleh Pangeran Diponegoro lalu dititipkan pada sahabatnya bernama Ki Tembi. Ki Tembi lalu membawanya pergi dan selalu berpindah-pindah tempat agar keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Belanda sendiri pada saat itu sangat membenci anak turun Raden Ronggo yang sejak dulu terkenal sebagai penentang Belanda. Atas kehendak Pangeran Diponegoro, bayi tersebut diberi nama Singlon yang artinya penyamaran.

Keturunan Ki Sodewo saat ini banyak tinggal di bekas kantung-kantung perjuangan Ki Sodewo pada saat itu dengan bermacam macam profesi. Dengan restu para sesepuh dan dimotori oleh keturunan ke 7 Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Roni Muryanto, Keturunan Ki Sodewo membentuk sebuah paguyuban dengan nama Paguyuban Trah Sodewo.

Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Jawa, Sulawesi & Maluku.

Perang Jawa-3 ; 1825 – 1830 Perjuangan Islam Melawan Penjajah

Pangeran Diponegoro waktu muda (Lukisan H.M Lange tahun 1847), Sumber : [4]
Kyai Mojo (Lukisan Raden Saleh), Sumber : [5]

Langkah pertama yang ditempuh oleh Diponegoro adalah mengeluarkan seruan kepada seluruh rakyat Mataram untuk sama-sama berjuang menentang penguasa kolonial Belanda dan para tiran, yang senantiasa menindas rakyat. Seruan itu antara lain berbunyi: “Saudarasaudara di tanah dataran! Apabila saudura-¬saudara mencintai saya, datanglah dan bersama-sama saya dan paman saya ke Selarong. Siapa saja yang mencintai saya datangdah segera dan bersiap-siap untuk bertempur.” Seruan ini disebar-luaskan di seluruh tanah Mataram, khusuanya di Jawa Tengah dan mendapat sambutan hampir sebagian besar lapisan masyarakat. Dan daerah Selarong penuh sesak, dipenuhi oleh pasukan rakyat!

Seruan ini disambut baik oleh Kiai Mojo, seorang ulama besar dari daerah Mojo-Solo; yang datang bersama barisan santrinya menggabungkan diri dengan pasukan Diponegoro; ia menyerukan ‘perang sabil’ terhadap pihak penguasa kolonial Belanda. Jejak Kiai Mojo dengan santrinya, diikuti oleh para ulama dan santri-santri dari Kedu dibawah pimpinan Pangeran Abubakar; juga Muhamad Bahri, penghulu Tegalrejo. Perang sabil menentang penguasa kolonial Belanda-Kristen meledak membakar hampir seluruh tanah Mataram, bahkan sampai ke Jawa Timur dan Jawa Barat. Tampilnya Alibasah Abdul Mustafa Prawiradirja (Sentot) dan sebagian para bangsawan di kalangan penguasa kolonial Belanda dan kraton Yogyakarta. Akhimya diutuslah Pangeran Mangkubumi (paman Diponegoro) ke Tegakejo untuk memanggil Diponegoro ke kraton. Semula Diponegoro bersedia datang ke kraton, apabila ada jaminan dari Paugeran Mangkubumi bahwa ia tidak akan ditangkap. Tetapi karena Mangkubumi sendiri tidak berani menjamin dan bahkan ia sendiri tidak akan kembali lagi ke Yogyakarta, maka Diponegoro memperkuat diri dengan pasukan rakyat yang telah melakukan bai’ah (janji setia perjuangan). Melihat kegagalan Pangeran Mangkubumi ini untuk memanggil Diponegoro, Residen A.H. Smisaert mengutus kembali dua orang bupati yang dikawal dengan sepasukan militer. Sebelum utusan Belanda ini sampai, Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi yang sedang berunding menjadi terhenti, karena mendengar letusan senjata dan tembakan meriam yang ditujukan ke arah rumah Diponegoro. Serangan Belanda terhadap tempat kediaman Diponegoro, mengakibatkan Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi yang disertai kawalan pasukan rakyat mengungsi ke daerah selarong, guna selanjutnya melancarkan peperangan untuk mengusir penguasa kolonial Belanda dari daerah kekuasaan kesultanan yogyakarta, khususnya dan Jawa umumnya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 20 Juli 1825 dan disebut sebagai permulaan “Perang Jawa”.

Nyi Ageng Serang, selaku Penasehat Strategi Perang Jawa, Sumber : [6]
Sentot Alibasyah Prawiradirja, komandan pasukan Pangeran Diponegoro (lukisan G. Kepper Tahun 1900), Sumber : [7]

Yogyakarta seperti antara lain Pangeran Ngabehi Jayakusuma, putera Sultan Hamengku Buwono II dan pangeran Mangkubumi melengkapi “Perang Jawa” yang dahsyat. Strategi perang gerilya yang dipergunakan oleh Diponegoro dengan taktik “serang dengan tiba-tiba pasukan musuh kemudian menghilang-bersembunyi”, merupakan strategi dan taktik yang dapat melumpuhkan pasukan kolonial Belanda; setidak-tidaknya pada awal perang Jawa.

Berita pecahnya perang Jawa sangat mengejutkan pihak Gubernur Jenderal Van der Capellen di Batavia. Karenanya pada tanggal 26 Juli 1825, ia telah memutus¬kan untuk mengirimkan pasukan dari Batavia langsung di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hendrik Marcus De Kock, pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda. Pada tanggal 29 Juli 1825 Let. Jend. De Kock telah tiba di Semarang untuk memimpin langsung operasi militer terhadap pasukan Diponegoro. Pasukan kolonial Belanda yang dipimpin oleh Kapten Kumsius dengan kekuatan 200 prajurit, yang dikirim dari Semarang, di daerah pisangan dekat Magelang disergap oleh pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Mulya Sentika. Hampir seluruh pasukan Belanda berhasil dimusnahkan dan seluruh perlengkapan dan persenjataannya dirampas. Kekalahan pertama, menyebabkan Belanda me¬ngirimkan pasukan yang lebih besar dari Semarang dan dipimpin oleh Kolonel Von Jett untuk langsung me¬nyerang Selarong, markas besar pasukan Diponegoro. Tetapi serangan ini gagal, karena pasukan Diponegoro telah mengosongkan Selarong. Tatkala pasukan Belanda meninggalkan Selarong, di perjalanan, di tempat-tempat yang atrategis, pasukan Belanda diserang; sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar

Ilustrasi Perang, Sumber : [8]

Ibukota Yogyakarta di kepung oleh pasukan Diponegoro, sehingga pasukan kesultanan Yogyakarta dan Belanda terjepit, bahkan Sultan Hamengku Buwono V bersembunyi di benteng Beianda untuk menyelamatkan diri. Pada tanggal 28 Juli 1825, Belanda mengirimkan pasukan komando gabungan antara pasukan Belanda dan Mangkunegara dari Surakarta untuk menembus barikade pasukan Diponegoro di Yogyakarta, guna menyelamatkan pasukan Belanda dan Sultan Hamengku Buwono V yang terkurung. Tetapi pasukan komando gabungan Belanda Mangkunegara di bawah pimpinan Raden Mas Suwangsa di Randu Gunting dekat Kalasan disergap oleh pasukan Diponegoro dibawah pimpinan Tumenggung Surareja. Sergapan ini berhasil dengan baik dan Raden Mas Suwangsa, pimpinan komando gabungan itu sendiri tertangkap dan dibawa ke Selarong, markas besar pasukan Diponegoro.

Operasi militer Belanda yang senantiasa mengalami kekalahan, maka Let. Jend. De Kock menempuh jalan diplomasi, dengan jalan mengirim surat kepada Diponegoro; surat pertama tertanggal 7 Agustus 1825 dan surat kedua tertanggal 14 Agustus 1825. Isi surat-surat itu menyatakan keinginan Belanda untuk berunding dan bersedia memenuhi tuntutan-tuntutan Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi, dengan syarat: pertempuran dihentikan. Surat Let. Jend. De Kock diperkuat oleh surat Susuhunan Surakarta, tertanggal 14 Agustus 1825. Surat-surat baik dari De Kock maupun dari Susuhunan Surakarta, semuanya dijawab oleh Diponegoro, dengan menekankan bahwa Perang Jawa ini terjadi karena kesalahan Belanda yang bertindak otoriter dan zalim, yang dibantu oleh pasukan militer Susuhunan Surakarta. Perdamaian yang diajukan oleh Belanda dan Susuhunan Surakarta ditolak; kecuali pasukan kolonial Belanda angkat kaki dari bumi Mataram. Jalan diplomasi gagal. Karena tidak ada jalan lain, De Kock sebagai panglima tertinggi pasukan Hindia Belanda, mengerahkan pasukannya dari berbagai daerah Batavia: Bone, Madura, Bali, Ambon dan lain-lain untuk dipusatkan di sekitar Yogyakarta; guna menembus barikade pasukan Diponegoro. Baru pada tanggal 25 September 1825, De Kock dengan pasukan komando gabungan yang besar sekali berhasil memasuki Yogyakarta menyelamatkan pasukan Belanda yang terkepung dan Sultan Hamengku Buwono V. Pertempuran antara pasukan Belanda dengan pasukan Diponegoro tidak hanya terjadi di sekitar Yogyakarta, tetapi juga menjalar dan terjadi di Magelang, Semarang, Pekalongan, Banyumas, Bagelen dan daerah Kedu seluruhnya. Pertempuran makin hari makin meluas, menjalar ke daerah Jawa Timur seperti Madiun, Ngawi dan Pacitan. Pertempuran yang luas itu memang melumpuhkan dan melelahkan pasukan kolonial Belanda dan para kolaborator; bahkan serangan kedua ke markas besar Selarong; tidak berhasil menangkap dan me¬lumpuhkan pasukan Diponegoro.

Penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang (dilukis oleh G. Kepper pada tahun 1900), Sumber : [9]

Pada tahun-tahun pertama (1825 -1826) pasukan Diponegoro memperoleh banyak kemenangan. Dengan pasukan-pasukan berkuda, mereka dapat bergerak capat dan mobile dari satu daerah ke daerah lain, dari satu pertempuran ke pertempuran lain dan selalu lolos dari kepungan pasukan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya. Tetapi sejak tahun 1827 pasukan kolonial Belanda mulai unggul, selain karena besarnya bala-bantuan yang didatangkan dari daerah-daerah, tetapi juga merubah strategi pertempuran yang selama ini ditempuh. Let. Jend. De Kock, selaku panglima tertinggi Hindia melaksanakan “sistem benteng” dalam operasi militernya. Pasukan Belanda mendirikan benteng-benteng di wilayah yang telah dikuasai kembali. Antara benteng yang satu dengan benteng yang lain dibuat jalan se¬hingga pasukan dapat bergerak dengan cepat. Dengan sistem benteng itu, pasukan Diponegoro tidak lagi dapat bergerak dengan leluasa; hubungan antar pasukan menjadi sukar. Tiap pasukan terpaku pada daerah operasinya masing-masing. Gerakan mobile dan cepat yang selama ini menjadi ciri pasukan Diponegoro menjadi lumpuh. Daerah-daerah yang dikuasai kembali oleh Belanda didirikanlah benteng-benteng seperti di Minggir, Groyak, Bantul, Brosot; Puluwatu, Kejiwan, Telagapinian, Danalaya, Pasar Gede, Kemulaka, Trayema, Jatianom, Delanggu, Pijenan. Di daerah-daerah pertempuran sebelah timur, benteng-benteng itu terdapat di Rembang, Bancar, Jatiraga, Tuban, Rajegwesi, Blantunan, Blora, Pamotan, Babat, Kopas dan lain-lain.

Di daerah-daerah pertempuran sebelah barat, benteng-benteng didirikan di Pakeongan, Kemit, Panjer, Merden dan lain lain. Sistim benteng ini memang dapat melumpuhkan pasukan Diponegoro, apalagi setelah Sultan Sepuh yang telah berusia 70 tahun diangkat kembali menjadi Sultan Yogyakarta, yang secara psikologi sangat mempengaruhi pasukan Diponegoro. Oleh karena itu, berkat usaha Van Lawick von Pabst, Residen Yogyakarta, maka pada tanggal 21 Juni 1827, Pangeran Natapraja dan Pangeran Serang Sutawijaya beserta para pengikutnya lebih kurang 850 orang menyerah kepada Belanda dan diperlakukan dengan baik. Penyerahan Pangeran Natapraja dan Pangeran Serang adalah pukulan yang besar sekali bagi perang Jawa. Sebab dengan menyerahnya kedua orang pemimpin ini, maka daerah rawan dan daerah pertempuran di sebelah timur kehilangan pimpinan. Seperti telah dimaklumi bahwa kedua orang inilah yang memimpin pasukan Diponegoro di medan pertempuran sebelah timur, mengancam Semarang dan Demak.

Walau demikian, pukulan hebat ini tidak menyebabkan pasukan Diponegoro berputus asa. Di kota Gede Yogyakarta telah terjadi pertempuran yang seru antara pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Mas Tumenggung Reksasentana melawan pasukan kolonial Belanda. Pertempuran ini terjadi karena usaha Belanda untuk menggiring pasukan Diponegoro untuk berada di daerah antara Sungai Progo dan Sungai Begowonto. Pertempuran terus berlangsung, tetapi usaha diplomasi juga dijalankan oleh Belanda, apalagi setelah kedua Pangeran tersebut menyerah.Usaha diplomasi menunjukkan hasil yang menggembirakan, dengan diselenggarakannya perundingan antara pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Kiai Mojo dan Pangeran Ngabehi Abdul Rahman dengan pasukan Belanda di bawah pimpinan Stavers pada tanggal 29 Agustus 1827 di Cirian-Klaten. Perundingan ini tidak membuahkan suatu hasil apapun bagi kedua belah pihak. Tuntutan-tuntutan yang diajukan oleh Kiai Mojo dianggap terlalu berat oleh pihak Belanda, sebaliknya syarat-syarat yang diajukan oleh Belanda, termasuk janji-janji untuk memberikan kekuasaan yang luas kepada Diponegoro, tidak dapat diterima oleh Kiai Mojo. Perundingan yang gagal pada bulan Agustus 1827, mengakibatkan pada bulan September 1827 berkobar lagi pertempuran antara pasukan Diponegoro dengan pasukan kolonial Belanda di daerah-daerah Klaten, Puluwatu, Kemulaka dan Yogyakarta. Operasi militer Belanda yang besar ini langsung dipimpin oleh Jenderal Van Geen.

Pertempuran antara pasukan Kolonel Le Bron de Vexela dengan pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok (dilukis oleh G. Kepper pada tahun 1900), Sumber : [10]

Pada tanggal 10 Oktober 1827 diadakan kembali gencatan senjata untuk mengadakan perundingan perdamaian antara kedua belah pihak, bertempat di Gamping. Pihak Belanda di pimpin oleh Letnan Roeps, seorang opsir Belanda yang pandai berbahasa Jawa, sedangkan dipihak Diponegoro di pimpin oieh Tumeng¬gung Mangun Prawira. Tetapi perundingan inipun gagal, sebab tuntutan mengenai pelaksanaan syari’at Islam, seperti pernah diajukan pada perundingan pertama, sangat ditentang delegasi Belanda. Kegagalan perundingan kedua ini, diikuti oleh operasi militer Belanda secara besar-besaran di bawah pimpinan Kolonel Cochius dan Sollewijn menyerang daerah-daerah sebelah selatan Yogyakarta, Plered, Tegalsari, Semen dan-lain. Pada tanggal 25 Oktober 1827 pasukan Belanda di bawah Mayor Sollewijn menyerbu markas perjuangan Diponegoro di Banyumeneng, tetapi Diponegoro dengan pasukan-pasukannya berhasil menghindar. Tetapi dalam perjalanan pulang pasukan Sollewijn berhasil dijebak dan diserang oleh pasukan Diponegoro, sehingga memporak-porandakan pasukan Belanda; dan hanya dengan susah payah pasukan Sollewijn dapat menyeberangi sungai Progo, terus masuk ke kota Yogyakarta.

Pertempuran yang terjadi setelah kegagalan perundingan kedua ini, bukan hanya terjadi di sekitar Yogyakarta saja, tetapi juga terjadi dan berkecamuk di daerah-daerah Kedu, Banyumas, Bagelen, Bojonegoro, Rembang, Tuban. Hanya dengan susah payah, pasukan Belanda bisa bertahan dan menyelamatkan diri. Pertempuran yang timbul berkecamuk lagi ini, mendorong Jenderal De Kock untuk mengerahkan bala ¬bantuan, termasuk dari negeri Belanda sendiri. Dan memusatkan markas besarnya di kota Magelang pada tanggal 13 Maret 1828; dengan menempatkan markas besarnya di Magelang, maka pasukan Belanda dapat beroperasi lebih mobile, karena tempat itu sangat strategis untuk menjangkau daerah-daerah Semarang di utara, Surakarta di timur, Yogyakarta di selatan dan Banyumas di barat. Strategi ini cukup berhasil, karena daerah Kedu hampir seluruhnya dapat diamankan oleh pasukan Belanda.

Keunggulan Belanda di bidang militer, diikuti dengan kemenangan di bidang.diplomasi, di mana pada tanggal 28 April 1828, Pangeran Natadiningrat beserta isteri, ibu dan kira-kira 20 orang pasukannya menyerah kepada Letnan Kolonel Sollewijn. Penyerahan Natadiningrat ini sangat menggembirakan Belanda, karena sampai waktu itu; bolehlah dikatakan tidak ada keluarga terdekat Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi yang menyerah kepada Belanda. Pangeran Natadiningrat adalah putera kesayangan Pangeran Mangkubumi yang diharapkan oleh Belanda dapat membujuk ayahnya sendiri untuk menyerah kepada Belanda dan meninggalkan Diponegoro.

Selain itu, pasukan Diponegoro di daerah Rembang di bawah pimpinan Tumenggung Sasradilaga, yang semula berhasil memukul mundur pasukan Belanda, lambat-laun mulai terjepit dan akhirnya pada tanggal 3 oktober 1828 menyerah pula kepada Belanda. Kemudian operasi militer Belanda berhasil mempersempit daerah operasi pasukan Diponegoro dengan jalan menggiringnya ke daerah antara sungai Progo dan sungai Bogowonto. Usaha berhasil, setelah pertempuran sengit dengan pasukan Diponegoro di daerah Belige di bawah pimpinan Pangeran Bei pada tanggal 31 Maret 1828. Dengan daerah gerak yang makin sempit, sangat memungkinkan pasukan Belanda yang besar itu dapat mengurung pasukan Diponegoro. Apalagi banyak pasukan bekas anak buah Diponegoro yang menyerah kepada Belanda diikut-sertakan dalam operasi militer ini. Dalam posisi terus terdesak dan terjepit, pasukan Diponegoro bukan hanya kekurangan persenjataan, tetapi juga kekurangan suplai bahan makanan. Tambah ironis, dalam situasi semacam itu di kalangan pimpinan pasukan Diponegoro terjadi perpecahan; sehingga dengan tiba-tiba pada tanggal 25 Oktober 1828 Kiai Mojo dengan pasukannya menyatakan keinginannya untuk berunding dan mengadakan gencatan senjata dengan Belanda.

1886: Rakyat Jawa Tengah bertahan di Candi Parikesit (Dataran Tinggi Dieng) dalam Perang Jawa], Sumber : [11]

Pada tanggal 31 oktober 1828 perundingan berlangsung di Mlangi antara Kiai Mojo dengan delegasi Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Wiranegara, komandan pasukan kraton Yogyakarta. Perundingan dengan pengawalan yang ketat oleh pasukan Betanda, berakhir gagal. Perundingan kedua dilanjutkan lagi pada tanggal 5 Nopember 1828, dengan pengawalan ketat oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Le Bron de Vexela; juga berakhir dengan kegagalan. Ketika perundingan gagal, Kiai Mojo beserta pasukannya kembali ke tempat semula, tetapi senantissa diikuti oleh pasukan Letnan Kolonel Le Bron de Vexela. Dengan tiba-tiba pasukan Le Bron menyerang pasukan Kiai Mojo, tetapi gagal karena semua prajurit Kiai Mojo telah siap mati syahid. Letnan Kolonel Le Pron tak kehabisan akal untuk dapat menangkap Kiai Mojo. Tipu muslihat yang licik dan keji dipergunakan oleh Le Bron dengan mengajak berpura-pura untuk melanjutkan perundingan di Klaten. Kiai Mojo dengan pasukannya menyetujui tawaran ini. Kiai Mojo dengan pasukannya memasuki kota Klaten dengan nyanyian-nyanyian agama seolah-olah sebuah pasukan yang menang perang dari medan pertempuran.

Setelah sampai Klaten, Kiai Mojo diajak oleh Letnan Kolonel Le Bron de Vexela masuk ke sebuah gedung, sedangkan pssukannya beristirahat di luar. Dengan serta-merta Kiai Mojo ditangkap dan pasukannya yang sedang lengah disergap oleh pasukan Belanda yang lebih besar dan kuat persenjataannya. Dalam kondisi tak berdaya, Kiai Mojo beserta pasukannya tertangkap dan tertawan; tidak kurang dari 50 pucuk senapan dan 300 buah tombak yang dapat dilucuti dari pasukan Kiai Mojo. Bersamanya tertangkap pula para ulama yang turut menjadi pimpinan pasukan di medan per¬tempuran, seperti antara lain Kiai Tuku Mojo, Kiai Badren, Kiai Kasan Basari. Kiai Mojo beserta stafnya dibawa ke Surakarta; dari sana terus ke Salatiga tempat kediaman Jenderal De Kock. Dari Salatiga Kiai Mojo dengan teman-temannya dibawa ke Semarang untuk kemudian dikirim ke Batavia. Tertangkapnya Kiai Mojo dan stafnya diper¬gunakan sebaik-baiknya untuk bisa membujuk pasukan Diponegoro yang lainnya, yang masih melakukan perang gerilya. Pada awal Januari 1829, Komisaris Jenderal Du Bus telah mengirimkan Kapten Roeps dan seorang staf Kiai Mojo untuk mengadakan perundingan dengan Diponegoro di markas besarnya di Pengasih. Pada akhir Januari 1829 mereka dapat di terima di markas per¬juangan Diponegoro dan pembicaraan dimulai antara delegasi Belanda dengan delegasi Diponegoro. Tetapi di saat pembicaraan sedang berlangsung, tiba-tiba ter¬dengar suara dentuman meriam dari pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayor Bauer. Mendengar letusan meriam, serentak pasukan Diponegoro mau membunuh delegasi Belanda yang sedang berada di tengah-tengah meja perundingan. Berkat kebijaksanaan Alibasah (Sentot) delegasi Belanda itu dapat selamat dan me¬merintahkan agar pasukan Belanda mengundurkan diri, jika jiwa para delegasi Belanda ingin selamat.

Pada bulan Februari 1829 Belanda mengadakan gencatan senjata secara sepihak. Sebab Jenderal De Kock mencoba membujuk Alibasah, panglima muda remaja yang sangat ditakuti oleh Belanda. Jenderal De Kock mengirimkan surat kepada Alibasah, yang isinya antara lain menjamin kebebasan bepergian bagi Ali basah dengan pasukannya di daerah kekuasaan Belanda tanpa ada gangguan. Bahkan De Kock mengirimkan beberapa pucuk pistol kepada Alibasah sebagai tanda kenang-kenangan dan keinginan mau berdamai. Taktik licik Belanda ini mempengaruhi pimpinan pasukan Diponegoro, apalagi setelah beberapa tokoh pasukan Diponegoro seperti Tumenggung Padmanegara, Pangeran Pakuningrat diberikan kebebasan bepergian di daerah kekuasaan Belanda pada bulan Ramadhan. Dalam kesempatan gencatan senjata ini Jenderal De Kock menggunakan waktu untuk terus mengirim surat kepada beberapa tokoh pasukan Diponegoro seperti Alibasah dan Pangeran Pakuningrat, yang isinya tidak lain menyanjung-nyanjung tokoh-tokoh tersebut dan keinginan Belanda untuk bekerjasama dengan mereka. Setelah gencatan senjata berjalan tiga bulan tanpa mendapat hasil yang memuaskan bagi Belanda, maka pertempuran dan operasi militer dilanjutkan. Terjadilah pertempuran sengit di antara kedua belah pihak, sampai Komisaris Jenderal Du Bus diganti oleh Johannes Van Den Bosch sebagai penguasa tertinggi Hindia Belanda di Indonesia, dan Jenderal Mercus De Kock diganti oleh Jenderal Mayor Benyamin Bischop sebagai pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda, pada bulan Mei 1829. Tetapi karena Jenderal Benyamin Bischop sakit-sakitan pada tanggal 7 Juli 1829 meninggal dunia, maka praktis pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda masih tetap berada ditangan Jenderal De Kock.

Pada akhir bulan Mei 1829 pasukan kolonial Belanda mencari dengan seksama tempat pangeran Mangkubumi yang menjadi kepala urusan rumahtangga pasukan Diponegoro. Maksudnya tidak lain agar dapat menangkap para anggota keluarga tokoh-tokoh pasukan Diponegoro, untuk dapat memancing tokoh-tokoh itu supaya bisa menyerah. Pada tanggal 21 Mei 1829 tempat persembunyian Pangeran Mangkubumi dengan para keluarga tokoh-tokoh pasukan Diponegoro di desa Kulur diserbu oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Bauer dan Kapten Ten Have. Hasilnya nihil, karena rombongan Pangeran Mangkubumi telah pergi bersembunyi ke tempat lain. Usaha pengejaran akan dilakukan, tetapi dengan tiba-tiba pasukan Di ponegoro di bawah pimpinan Alibasah menyerang pasukan Belanda tersebut, sehingga terpaksa menghadapinya dan dengan demikian rombongan Pangeran Mangkubumi lepas dari kejaran Belanda. Operasi militer untuk menangkap Pangeran Mangkubumi tidak berhasil; diikuti dengan diplomasi untuk mengajak berunding. Belanda menggunakan putera Pangeran Mangkubumi yang telah menyerah yaitu Pangeran Natadiningrat untuk bisa membujuk Pangeran Mangkubumi agar menghentikan pertempuran dengan Belanda, dengan alasan usia telah lanjut dan Belanda berjanji untuk memberikan jabatan yang terhormat dengan tempat dan gaji yang besar. Usaha ini tampak akan berhasil, sebagaimana dilaporkan oleh Residen Van Nes pada tanggal 28 Juni 1829; tetapi hasilnya ternyata gagal.

Peta Mataram Baru setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830, Peta ini digambar oleh Meursault2004 alias Revo Arka Giri S. berdasarkan Robert Cribb, 2000, Historical Atlas of Indonesia halaman 114, Sumber : [12]

Kegagalan ini mendorong untuk melakukan operasi militer besar-besaran ke pusat pertahanan pasukan Diponegoro di desa Geger. Pada tanggal 17 Juli 1829 pasukan kolonial Belanda di bawah pimpinan Kolonel Cochius; Letnan Kolonel Sollewijn dan Mayor Cox van Spengler dibantu dengan pasukan Mangkunegara menyerang desa Geger. Dengan kekuatan yang tidak seimbang, markas Geger dapat direbut oleh pasukan Belanda dan beberapa pimpinan pasukan Diponegoro gugur sebagai syuhada, antara lain Sheikh Haji Ahmad dan Tunenggung Banuja. Operasi militer terus ditingkatkan oleh Belanda terhadap “kantong kantong” persembunyian pasukan Diponegoro, sehingga pada akhir Juli 1829 putera Diponegoro yakni Diponegoro Anom dan Raden Hasan Mahmud tertangkap oleh pasukan Letnan Kolonel Sollewijn. Tertangkapnya putera Diponegoro ini diper¬gunakan untuk melemahkan semangat perjuangan Diponegoro dengan cara mengancam akan membunuh Diponegoro Anom oleh Belanda. Jiwa puteranya akan selamat jika Diponegoro menghentikan pertempuran. Hal ini terlihat dari surat Jenderal De Kock tertanggal 6 Agustus 1829. Tetapi usaha ini tidak berhasil melemahkan semangat tempur Diponegoro. Dalam usaha konsolidasi, karena Alibasah dan Pangeran Bei sakit keras, maka Diponegoro telah mengangkat pimpinan pasukan infantri kepada Syeikh Muhammad dan Baisah Usman, sedangkan pasukan kavaleri dipimpin oleh Pangeran Sumanegara. Selesai konsolidasi, pasukan Diponegoro melakukan serangan terhadap pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Bauer dan Kapten Ten Have di Serma pada tanggal 3 Agustus 1829. Dalam pertempuran sengit ini, banyak korban yang jatuh di kedua belah pihak, antara lain Syekh Muhammad dan Hasan Usman.

Untuk meningkatkan efektifitas operasi militer, Jenderal De Kock telah memindahkan markas besarnya dari Magelang ke Sentolo. Dengan demikian pasukan Belanda akan lebih dekat dengan pusat-pusat pertempuran yang dilakukan oleh pasukan Diponegoro. Bersamaan dengan operasi militer Belanda yang ditingkatkan, Panglima Alibasah dan Pangeran Bei telah sembuh, sehingga dapat aktif kembali memimpin pasukan Diponegoro yang telah kehilangan dua orang panglimanya yaitu Syeikh Muhammad dan Basah Usman. Pertempuran sengit tidak dapat dihindarkan lagi, disaat pasukan Diponegoro melintasi sungai Brogo menuju Pajang diserang oleh pasukan Belanda. Kedua belah pihak yang bertempur mati-matian, mengakibatkan banyak jatuh korban, diantaranya seorang perwira Belanda mati terbunuh yaitu Letnan Arnold. Seiring dengan operasi militer yang ditingkatkan, usaha diplomasi licik juga dilakukan. Pada tanggal 7 Agustus 1829 Letnan Kolonel Sollewijn datang ke Kreteg untuk membujuk keluarga Pangeran Mangku¬bumi untuk menyerah dengan janji jaminan dari Belanda. Akhirnya Raden Ayu Anom (isteri kedua Pangeran Mangkubumi) beserta anak-anaknya dan pengawalnya sebanyak 50 orang menyerah kepada Belanda.

Dengan posisi pasukan Diponegoro yang makin terjepit karena daerah operasinya makin diperkecil oleh Belanda, kelelahan dan kekurangan bahan makanan dengan perang yang telah berjalan lima tahun, akhirnya satu demi satu pasukan Diponegoro menyerah kepada Belanda. Pada tanggal 5 September 1829 Tunenggung Wanareja dan Tumenggung Wanadirja bersama dengan 44 orang pasukannya menyerah. Pada tanggal 6 September 1829, atas bujukan Tumenggung Surianegara yang sengaja ditugaskan oleh Jenderal De Kock, menyerah pulalah Tumenggung Suradeksana dan Sumanegara kepada Belanda di Kalibawang. Pada tanggal 9 September 1829, Pangeran Pakuningrat bersama dengan pasukannya sebanyak 40 orang menyerah lagi kepada Belanda. Pada tanggal 21 September 1829 atas nama pemerintah Hindia Belanda, Jenderal De Kock mengeluarkan pengumuman tentang ‘hadiah besar’ bagi setiap orang yang dapat menangkap hidup atau mati Diponegoro. Pengumuman itu antara lain berisi: “Barangsiapa yang berani menyerahkan Diponegoro hidup atau mati kepada penguasa Hindia Belanda, akan dinilai oleh Gubernur Jenderal Htndia Belanda sebagai seorang yang sangat besar jasanya. Kepada orang itu akan diberikan hadiah berupa uang kontan sebesar £ 50.000,- (lima puluh ribu pounds) dan diberikan gelar kehormatan dengan gaji dan tanah yang cukup luas”. Pengumuman yang menyayat hati ini belum lagi kering, pada akhir September 1829 telah gugur Pangeran Bei bersama dua orang puteranya yaitu Pangeran Jayakusuma dan Raden Mas Atmakusuma.

Bulan September 1829 benar-benar bulan yang menyedihkan bagi Diponegoro, sebagai pemimpin tertinggi Perang Jawa. Pada tanggal 25 September 1829 Mayor Bauer bersama Raden Mas Atmadiwirja (putera Pangeran Mangkubumi), Tumenggung Reksapraja beserta rombongan mencari Pangeran Mangkubumi, tetapi hasilnya nihil. Tetapi Belanda tidak berputus asa. Jenderal De Kock mengutus Pangeran Natadiningrat, putera Pangeran Mangkubumi yang telah menyerah, untuk membujuk ayahnya. Maka pada tanggal 27 September 1829 Pangeran Natadiningrat berhasil membujuk ayahnya untuk menyerah kepada Belanda. Keesokan harinya, tanggal 28 September 1829 Pangeran Mangkubumi dibawa oleh puteranya ke Yogyakarta. Di pertengahan jalan (di Mangir) rombongan Pangeran Mangkubumi telah dijemput oleh Residen Van Nes dan pejabat-pejabat kesultanan Yogyakarta. Pengaruh dari menyerahnya Pangerang Mangkubumi sangat besar bagi pasukan Diponegoro, karena secara berturut-turut telah menyerah pula pangeran Adinegara, Kanjeng Pangeran Aria Suryabrangta, Pangeran Suryadipura, Pangeran Suryakusuma, Kanjeng Pangeran Dipasana, semuanya adalah mempunyai hubungan famiIi dengan Diponegoro sendiri. Menyerah¬nya secara berturut-turut orang-orang di sekitar Diponegoro, benar-benar dapat melumpuhkan pasukan Diponegoro. Apalagi usaha untuk menarik Alibasah, panglima pasukan Diponegoro yang disegani masih terus dilanjutkan. Melalui Pangeran Prawiradiningrat, yang menjadi bupati Madiun dan saudara Alibasah sendiri, Belanda telah berusaha untuk menaklukkannya. Sejak tanggal 23 Juli 1829 usaha ini telah dilakukan walaupun pada permulaannya gagal, karena syarat-syarat yang diajukan oleh Alibasah cukup berat; yaitu:

  • 1. Memberikan uang jaminan sebesar £ I0.000.-
  • 2. Menyetujui pembentukan sebuah pasukan di bawah Pimpinan Alibasah sendiri yang berkekuatan seribu orang dan dilengkapi dengan persenjataan dan pakai¬an seragam;
  • 3. Memberikan 400 – 500 pucuk senjata api;
  • 4. Pasukan Alibasah ini langsung dibawah komando pemerintah Hindia Belanda, dan bebas dari kekuasaan sultan atau pembesar bangsa Indonesia; ¬
  • 5. Mereka bebas menjalankan agamanya,
  • 6. Tidak ada paksaan minum Jenever atau arak;
  • 7. Diizinkan pasukannya memakai surban.

Tawar menawar syarat-syarat ini dilakukan pada tanggal 17 oktober 1829 di Imogiri, antara delegasi Ali basah dengan delegasi Belanda, yang hasilnya masih memerlukan waktu untuk diputuskan oleh penguasa tertinggi Hindia Belanda di Batavia. Dalam surat yang ditulis Jenderal De Kock kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, tertanggal 20 Oktober 1829, antara lain berisi: “…saya telah menulis surat kepada Residen dan Kolonel Cochius bahwa mereka harus sedapat mungkin berusaha menyenangkan hati Alibasah, karena adalah hal yang penting sekali apabila orang seperti Alibasah dapat kita tarik ke pihak kita dan turut membela kepentingan kita ….. seperti yang hendak saya nyatakan dengan hormat, bahwa karena sebab-sebab itulah saya berpendapat bahwa adalah sangat penting apabila Alibasah sudah berada di pihak kita, makin lama makin mengikat dia pada kepentingan kita. Sungguhpun hal ini harus disertai beberapa pengorbanan dari pada kita.” Surat Jenderal De Kock ini mendapat jawaban dari pemerintah Hindia Belanda di Batavia tertanggal 25 Oktbber 1829, antara lain berbunyi: “Pemerintah pada dasarnya setuju dengan keinginan Jenderal (Jenderal De Kock) bahwa dari pihak kita harus dipergunakan segala apa yang mungkin dapat dipakai, selama hal itu dapat sesuai dengan kebesaran pemerintah dan berusaha sedapat mungkin mencegah kembalinya Alibasah ke pihak pemberontak. Melihat isi surat-surat pemerintah Bindia Belanda ini dapat disimpulkan bahwa Belanda bersedia memenuhi syarat-syarat yang diajukan oleh Alibasah. Oleh karena itu kepada Residen Yogyakarta diperintahkan untuk segera menyerahkan uang sebanyak £ 5.000,- dan 200 pucuk senjata untuk dipergunakan pasukan Alibasah serta pasukannya itu langsung dibawah komando Jenderal De Kock, walau secara yuridis masih berada dibawah wewenang sultan. Syarat-syarat lain¬nya seluruhnya dipenuhi. Untuk pelaksanaan penyerahan Alibasah dengan pasukannya, pada tanggal 23 Oktober 1829 Jenderal De Kock datang ke kota Yogyakarta untuk menyambutnya; dan pada tanggal 24 Oktober 1829 Alibasah dengan pasukannya memasuki kota Yogyakarta dan diterima oleh Jenderal De Kock dengan upacara militer yang meriah.

Dengan menyerahnya Pangeran Mangkubumi, Ali basah dan puluhan Pangeran dan Tumenggung serta tertangkapnya Kiai Mojo dan gugurnya ratusan tokoh-tokoh Perang Jawa, maka secara praktis Diponegoro tinggal sendirian. Pengalaman pahit dan getir yang di alami oleh Diponegoro sebagai pimpinan tertinggi perang Jawa, karena banyaknya sababat-sahabat meninggalkannya atau meninggal dunia. Dalam kondisi yang demikian, ia harus menentukan pilihan: meneruskan pertempuran sampai mati syahid di medan laga atau menyerah kepada musuh sampai mati di dalam penjara. Kedua alternatif itu sama-sama tidak menyenangkan! Setelah menyerahnya Alibasah dengan pasukannya, operasi militer Belanda terus ditingkatkan guna memberikan pukulan terakhir terhadap pasukan Diponegoro yang tinggal sedikit lagi itu. Tekanan-tekanan pasukan Belanda kepada posisi pasukan Diponegoro yang terus-menerus ditingkatkan, banyak pula tokoh-tokoh Perang Jawa yang menyerah, antara lain pada bulan Desember 1829; salah seorang komandan pasukan Diponegoro yang masih ada yaitu Jayasendirga; Tumenggung Jayaprawira dan beberapa tumenggung lainnya beserta pasukannya bertekuk lutut kepada Belanda. Adapula yang karena kondisi kesehatan, akhirnya wafat di puncak gunung Sirnabaya Banyumas seperti Pangeran Abdul Rahim (saudara Diponegoro sendiri). Memasuki tahun 1830, musibah yang menimpa pasukan Diponegoro masih terus saja bertambah. Pada tanggal 8 Januari 1830, putera Diponegoro yaitu Pangeran Dipakusuma tertangkap oleh pasukan Belanda; pada tanggal 18 Januari 1830 berikutnya Patih Diponegoro menyerah kepada Belanda.

Usaha untak menghentikan Perang Jawa dengan damai yang licik terus dilakukan. Dengan menggunakan bekas tokoh-tokoh Perang Jawa seperti Alibasah dan Patih Danureja dalam usaha perdamaian licik membawa hasil yang menggembirakan bagi Belanda. Sebab pada tanggal 16 Februari 1830 telah terjadi pertemuan pertama antara Diponegoro dengan Kolonel Cleerens, wakil pemerintah Hindia Belanda dalam rangka perdamaian di Kamal, sebelah utara Rama Jatinegara daerah Bagelen. Pertemuan perdamaian tidak dapat dilangsungkan, karena Diponegoro menuntut perundingan itu harus dilakukan oleh seorang yang mempunyai posisi yang sama dengan dia; setidak-tidaknya seperti Jenderal De Kock. Padahal Jenderal De Kock pada saat itu sedang berada di Batavia. Untuk menunggu kedatangan Jenderal De Kock, maka Diponegoro dengan pasukannya terpaksa harus menginap di Kecawang sebelah utara desa Saka. Selama tenggang waktu perundingan, gencatan senjata dilakukan oleh kedua belah pihak. Desa Kecawang masih terlalu jauh, apabila perundingan akan dilangsungkan di sana. Oleh karena itu; untuk memudahkan jalan perundingan Diponegoro dengan pasukannya harus pindah ke Menoreh yang tidak begitu jauh dari Magelang, markas besar pasukan Belanda. Pada tanggal 21 Februari 1830 rombongan Diponegoro telah tiba di Menoreh. Tetapi sampai 5 Maret 1830 Jenderal De Kock belum juga datang ke Magelang padahal bulan Ramadhan telah tiba. Berkenaan dengan bulan suci ini; Diponegoro tidak mau mengadakan perundingan dengan Belanda karena ia akan memusatkan dirinya untuk melakukan ibadah puasa selama sebulan. Kontak pertama antara Diponegoro dengan Jenderal De Kock terjadi pada tanggai 8 Maret 1830, sebagai perkenalan dan selanjutnya jadwal perundingan akan dilangsungkan sesudah bulan Ramadhan. Menjelang hari raya Idul Fithri, Diponegoro telah menerima hadiah dalam bentuk seekor kuda tunggang yang sangat baik dan uang sebesar f 10.000.- Kemudian diikuti dengan pembebasan putera dan isteri Diponegoro yang ditahan di Semarang dan membolehkan mereka berkumpul dengan Diponegoro di tempat penginapan perundingan di Magelang. Pada tanggal 25 Maret 1830, Jenderal De Kock telah memberikan perintah rahasia kepada Letnan Kolonel Du Perron dan pasukannya untuk memperketat pengawalan dan penjagaan kota Magelang dengan mengerahkan pasukan Belanda dari beberapa daerah di Jawa Tengah. Instruksinya, apabila perundingan gagal, Diponegoro dan delegasinya harus ditangkap! Pada tanggal 28 Maret 1830 perundingan akan dilangsungkan di gedung Keresidenan Kedu di Magelang. Sebelum jam 07.00 pagi Tumenggung Mangunkusuma datang kepada Residen Kedu untuk memberitahukan bahwa sebentar lagi Diponegoro dengan staf nya akan tiba. Pemberitahuan ini menyebabkan Letnan Kolonel Du Perron menyiap-siagakan pasukannya, sesuai dengan perintah Jenderal De Kock. Jam 07.30. pagi Diponegoro dengan stafnya dikawal oleh seratus orang pasukannya memasuki gedung keresidenan. Delegasi Diponegoro diterima langsung oleh Jenderal De Kock dengan staf nya. Perundingan dilakukan di tempat kerja Jenderal De Kock. Pihak Diponegoro disertai dengan tiga orang puteranya yaitu Diponegoro Anom, Raden Mas Joned, Raden Mas Roub, ditambah dengan Basah Martanegara dan Kiai Badaruddin. Sedangkan di pihak Jenderal De Kock disertai oleh Residen Valk, Letnan Kolonel Roest, Mayor Ajudan De Stuers dan Kapten Roeps sebagai juru bicara. Letnan Kolonel De Kock van Leeuwen, Mayor Perie dan opsir-opsir Belanda lainnya ditugaskan untuk melayani dan mengawasi pemimpin-pemimpin pasukan Diponegoro yang berada di kamar yang lain. Sedangkan letnan Kolonel Du Peron tetap berada di luar gedung keresidenan untuk setiap saat dapat melakukan penyergapan, sebagaimana telah diperintahkan oleh Jenderal De Kock. Kolonel Cleerens yang mula-mula sekali berhasil melakukan kontak dengan Diponegoro dan berhasil merencanakan pertemuan perdamaian serta telah memberikan jaminan diplomasi penuh kepada Diponegoro dan stafnya tidak diikutsertakan bahkan tidak berada di kota Magelang tempat perundingan dilaksanakan. Dengan demikian jika terjadi pengkhianatan maka secara moral Cleerens tidak terlibat langsung, karena memang tidak hadir.

Baron H. Merkus de Kock (dilukis oleh F.V.A. Ridder de Stuers pada tahun 1849) Sumber:[13]

Babak pertama Jadwal perundingan, menurut Diponegoro sebagai pendahuluan untuk menjajagi materi perundingan pada babak selanjutnya; tetapi menurut Jenderal De Kock harus langsung memasuki materi Perundingan. Pembicaraan materi perundingan menjadi tegang, karena De Kock bersikeras untuk langsung membicarakan materi perundingan. Suasana tegang dan panas itu, sampai-sampai Diponegoro terlontar ucapan: “Jika tuan menghendaki persahabatan, maka seharusnya tidak perlu adanya ketegangan di dalam perundingan ini. Segalanya tentu dapat diselesaikan dengan baik. Jikalau kami tahu bahwa, tuan begitu jahat, maka pasti lebih baik kami tinggal terus saja berperang di daerah Bagelen dan apa perlunya kami datang kemari.” Ketika pihak Jenderal De Kock terus mendesak tentang tujuan penerangan yang telah dilakukan oleh Diponegoro selama lebih lima tahun ini, maka akhirnya ia memberi jawaban dengan tegas dan gamblang, yaitu antara lain: “Mendirikan negara merdeka di bawah pimpinan seorang pemimpin dan mengatur agama Islam di pulau Jawa”. Mendengar jawaban ini Jenderal De Kock terperanjat, karena ia tidak mengira bahwa Diponegoro akan mengajukan tuntutan semacam itu. Sewaktu De Kock memberi jawaban bahwa tuntutan semacam itu adalah terlalu berat dan tak mungkin dapat dipenuhi, Diponegoro tetap teguh pada tuntutannya. Tanda-tanda perundingan babak pertama akan menemui jalan buntu, dan Belanda khawatir jika pe¬rundingan ditunda sampai besok, berarti kesempatan buat Diponegoro dan pasukannya untuk mengadakan konsolidasi guna menghadapi segala kemungkinan. Sesuai dengan rencana Belanda bahwa perundingan adalah semata-mata methoda untuk menangkap Diponegoro dan stafnya, maka dengan angkuhnya Jenderal De Kock berkata: “Kalau begitu, tuan tidak boleh lagi kembali dengan bebas.” Mendengar ucapan ini, Diponegoro dengan marah menjawab : “Jika demikian, maka tuan penipu dan pengkhianat, karena kepada saya telah dijanjikan kebebasan dan boleh kembali ke tempat perjuangan saya semula, apabila perundingan ini gagal.” Jenderal De Kock berkata lagi: “Jika tuan kembali, maka peperangan akan berkobar lagi.” Diponegoro menjawab: “Apabila tuan perwira dan jantan, mengapa tuan takut berperang?” Tiba-tiba Jenderal De Kock menginstruksikan kepada Letnan Kolonel Du Perron dan pasukannya untuk menyergap Diponegoro dan stafnya serta seluruh pengawalnya dilucuti. Dalam posisi tidak siap tempur, Diponegoro dan pasukannya dengan mudah ditangkap dan dilucuti.

Dengan cepat Diponegoro dimasukkan ke dalam kendaraan residen yang telah disiapkan oleh Belanda dengan pengawalan ketat oleh Mayor Ajudan De Stuers dan Kapten Roeps berangkat menuju Ungaran. Dari sana kemudian Diponegoro dibawa ke Semarang untuk selanjutnya dibawa ke Batavia. Pada tanggal 3 Mei 1830 Diponegoro beserta stafnya dibawa ketempat pembuangannya di Menado. Tidak kurang dari 19 orang yang terdiri dari keluarga dan stafnya ikut dalam pembuangan di Menado. Pada tahun 1834 Diponegoro beserta keluarga dan stafnya dipindahkan ke kota Makasar. Dan pada tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dalam usia kira-kira 70 tahun, setelah menjalani masa tawanan selama duapuluh lima tahun. Perang Jawa yang dahsyat dan penuh patriotisme telah digerakkan dan dipimpin oleh tokoh-tokoh pejuang Islam, yang hampir sebagian terbesar berideologi Islam dan bertujuan berdirinya negara merdeka yang berdasarkan Islam. Fakta-fakta sejarah yang terungkap, baik latar belakang yang mewarnai para tokoh Perang Jawa, masa peperangan yang memakan waktu lima tahun lebih, yang diisi dengan menegakkan syari’at Islam di dalam kehidupan pasukan Diponegoro sampai pada saat perundingan dengan Belanda serta tujuan yang akan dicapai, semuanya adalah bukti yang kuat bahwa Diponegoro dan pasukannya telah melakukan perjuangan politik Islam untuk mendirikan negara Islam di tanah Jawa. Kegagalan yang diderita oleh Diponegoro dan pasukannya, bukan karena tujuan dan methodanya yang salah, tetapi karena kekuatan yang tak seimbang, baik manpower, persenjataan, perlengkapan dan pengkianatan bangsa sendiri yang sebagian besar membantu Belanda yang kafir; disamping tipu muslihat yang licik dan keji yang dilakukan oleh penguasa kolonial Belanda. Tipu muslihat yang licik dan keji, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bermoral rendah dan jahat, ternyata telah menjadi watak kepribadian penguasa kolonial di Indonesia, baik Portugis maupun Belanda.

Sumber : Perjuangan Islam Melawan Penjajah [[14]]


Gallery Aktivitas Keluarga Pangeran Diponegoro


I. LAUNCHING BUKU KUASA RAMALAN KE I (Yogyakarta, 2010)




II. DEKLARASI KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA (Yogya, 11-12 Desember 2011)---> Klik Video :Yogya Istimewa


Dalam sebuah pertemuan antara Keluarga Pangeran Diponegoro dengan Adik kandung Sultan HB-X yaitu GBPH. Joyokusumo yang juga dihadiri oleh bapak Hasyim Djoyohadikusumo, Gusti Joyokusumo berkata :"Saya mengharapkan Keturunan Pangeran Diponegoro harusnya berada di barisan depan mendukung Keistimewaan Yogyarta". Maka atas permintaan KBPH Joyokusumo itulah kami Keturunan Pangeran Diponegoro bersama-sama Laskar Diponegoro berjumlah lebih dari 1000 orang melakukan pernyataan sikap menentang kepada Pemerintah RI dengan cara berorasi sambil long-march dari Tegalrejo (Sasana Wiratama) menuju Keraton Yogyakarta. Di Keraton, Trah Diponegoro menyampaikan Deklarasi kepada Sultan HB-X atas nama Gubernur DIY dan Sultan. Trah Pangeran Diponegoro berdatangan dari berbagai daerah seperti : Kulon Progo, Purworejo, Banyumas, Bogor, Jakarta, Ambon, Sulawesi, Padang dll.


|}

Deklarasi Yogya-04
Deklarasi Yogya-05
Deklarasi Yogya-06
Deklarasi Yogya-07
Deklarasi Yogya-08
Deklarasi Yogya-09
Deklarasi Yogya-10
Deklarasi Yogya-11
Deklarasi Yogya-12
Deklarasi Yogya-13
Deklarasi Yogya-14
Deklarasi Yogya-15


III. KUNJUNGAN KE KERATON YOGYAKARTA (Yogya, 20 Oktober 2012)


Atas undangan Adik kandung Sultan HB-X yaitu GBPH. Joyokusumo, pada Oktober 2012 kami yang berjumlah kurang lebih 20 orang melakukan kunjungan ke Keraton Yogyakarta. Agenda utama kunjungan antara lain :

  • Silaturahmi Keluarga Pangeran Diponegoro dengan Pihak Keraton Yogyakarta;
  • Membahas Kekancingan Keluarga (Semacam Sertifikat / Surat Pengukuhan Hak) yg dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem;
  • Pembentukan Nama Organisasi Keturunan Pangeran Diponegoro;
  • Masalah-masalah lain keluarga.

Dalam acara kunjungan ini Gusti Joyokusumo didampingi BRAy. Hj. Nuraida/BRAy. Joyokusumo bercerita banyak tentang kondisi Keraton, kondisi kesehatan Gusti Joyo dan sekilas tentang tatakrama Keraton. Dalam kesempatan ini juga kami semua diajak berkeliling oleh BRAy. Joyokusumo mengenai isi Keraton serta sejarahnya, juga berkunjung ke Museum Kereta Kencana Keraton. Pada jamuan makan siang, kami diperkenankan mencicipi kue hidangan pembuka kesukaan dan tradisi Sultan-sultan Yogyakarta yang bernama "Kue Rondo Mendem" semacam "Pancake" juga dihidangkan minuman "Stuff Jambu Merah" khas Keraton Yogyakarta.

Keraton Yogya-1
Keraton Yogya-2
Keraton Yogya-3
Keraton Yogya-4
Keraton Yogya-5
Keraton Yogya-6
Keraton Yogya-7
Keraton Yogya-8
Keraton Yogya-9
Keraton Yogya-10
Keraton Yogya-11
Keraton Yogya-12
Keraton Yogya-13
Keraton Yogya-14
Keraton Yogya-15
Keraton Yogya-16
Keraton Yogya-17
Keraton Yogya-18
Keraton Yogya-19
Keraton Yogya-20
Keraton Yogya-21
Keraton Yogya-22
Keraton Yogya-23
Keraton Yogya-24
Keraton Yogya-25
Keraton Yogya-26
Keraton Yogya-27
Keraton Yogya-28
Keraton Yogya-29
Keraton Yogya-30
Keraton Yogya-31
Keraton Yogya-32


IV. PENTAS PENGASINGAN SANG PANGERAN Ke 1 (Magelang, 8 Januari 2014)


Magelang-1
Magelang-2
Magelang-3
Magelang-4
Magelang-5
Magelang-6
Magelang-7
Magelang-8
Magelang-9
Magelang-10
Magelang-11
Magelang-12
Magelang-13
Magelang-14
Magelang-15


V. UNDANGAN IKA UNDIP (Senayan City, 27 Januari 2014)


Ika-Undip-1
Ika-Undip-2
Ika-Undip-3
Ika-Undip-4
Ika-Undip-5
Ika-Undip-6
Ika-Undip-7
Ika-Undip-8
Ika-Undip-9
Ika-Undip-10
Ika-Undip-11
Ika-Undip-12


  • VI. PENTAS PENGASINGAN SANG PANGERAN KE 2 (Bentara Budaya Jakarta, 6 Maret 2014)

BBJ-1
BBJ-2
BBJ-3
BBJ-4
BBJ-5
BBJ-6
BBJ-7
BBJ-8
BBJ-9
BBJ-10
BBJ-11
BBJ-12
BBJ-13
BBJ-14
BBJ-15

904/4 <4+28> < Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro / Bendoro Pangeran Haryo Suryengalogo
Official Link
915/4 <4+29> < Bendoro Pangeran Haryo Purwodiningrat / Bendoro Pangeran Haryo Suryobrongto
lahir: 1790
perkawinan: <68> < Raden Ajeng Kapilah Raden Ayu Suryabrangta , Keraton Yogyakarta
876/4 <22+48> < 3. Raden Ayu Maduretno / Raden Ayu Diponegoro (Bendoro Raden Ayu Ontowiryo)
lahir: ~ 1798, Yogyakarta
perkawinan: <82!> < Pangeran Diponegoro [Hb.3.1] / Bendoro Raden Mas Mustahar b. 11 November 1785 d. 8 Januari 1855, Keraton Yogyakarta
gelar: 18 Februari 1825, Tegalrejo
wafat: 28 Februari 1827, Yogyakarta
== 4. RA. Maduretno / RA. Diponegoro / BRA. Ontowiryo ==

Setelah geger Madiun reda di tahun 1814 untuk yang ke lima kalinya Pangeran Diponegoro menikah dengan R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi R.A Maduretno saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Tahun 1826 ketika Pangeran Diponegoro diangkat menjadi Sultan di Dekso, R.A Maduretno diangkat menjadi permaisuri. Namun karena sakit beliau meninggal pada tahun 1828. Dari pernikahan ini lahirlah Raden Mas Joned pada tahun 1815 Dan Raden Mas Roub tahun 1816 . Raden Ayu Maduretno juga dikenal dengan Raden Ayu Ontowiryo atau Raden Ayu Diponegoro. Ketika menikah dengan R. A Maduretno, isteri pertama dan keempat sudah meninggal, sedangkan isteri kedua lebih senang tinggal diistana sehingga terjadilah hubungan yang tidak harmonis antara P. Diponegoro dengan RA. Retnokusumo. Hubungan Pangeran Diponegoro dengan keluarga besar Raden Ronggo semakin ditingkatkan untuk menambah kekuatan dan kedudukan kasultanan Jogja di mata penjajah.


Masa Perang Diponegoro di Madiun

Bupati Madiun Pangeran Raden Ronggo Prawirodiningrat adalah putra ke enam Ronggo Prawirodirjo III dengan ibu suri GKR Maduretno, saudaranya kandungnya ada sebelas, yakni RA Prawironegoro, RA Suryongalogo, RA Pangeran Diponegoro, RA Suryokusumo, Raden Adipati Yododiningrat (Bupati Ngawi), Raden Ronggo Prawirodiningrat sendiri ( Bupati Madiun), RA Suronoto, RA Somoprawiro, RA Notodipuro, dan RA Prawirodilogo. Sedangkan dari ibu selir putri asli Madiun, lahirlah Pahlawan Nasional Raden Bagus Sentot Prawirodirjo. Beliau sejak kecil hidup dilingkungan istana Yogyakarta. Pada masa pemerintahan Ronggo Prawirodiningrat ini, meletus perang Jawa, atau Perang Diponegoro, rakyat Madiun dan sekitarnya dari semua golongan mendukung perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap pemerintahan Belanda. Perang Besar ini disebabkan karena Bangsa Belanda selalu ikut campur urusan pemerintahan Kasultanan Yogyakarta dan selalu melakukan penindasan, pemerasan yang tidak berperi kemanusiaan, hingga rakyat semakin menderita. Pendukung Perang Diponegoro di Kabupaten Madiun, dan di seluruh wilayah Mataram, pada umumnya terdiri dari :

Rakyat Kebanyakan  : mereka sudah tidak tahan atas berbagai Pajak yang tinggi mencekik hidup mereka (usaha Belanda dalam menutup Kas akibat kekalahan Perang pada era Napoleon ) Golongan Bangsawan  : mereka tidak puas dengan peraturan sewa menyewa tanah yang hanya dihargai sebagai ganti rugi belaka (praktek Monopoli Belanda) Ulama dan Santri  :

mereka merasa tidak senang dengan tingkah laku kaki tangan Belanda minum-minuman, berjudi, dan madat yang akhirnya merajalela.
1147/4 <12+43> < 1. Kanjeng Raden Tumenggung Mangkuwijoyo / Pangeran Adipati Mangkudiningrat II
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Granted the principality of Kalibawang in fief 28th April 1831. Exiled to Ambon in December 1831. m. (div. 1817) Bandara Radin Ayu Mangku Vijaya (m. second, Colonel Gusti Pangeran Adipati Prabhu ning Rat), daughter of H.H. Sampeyan Dalam ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Amangku Buwana III Senapati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid ud-din Panatagama Khalifatu'llah ingkang Yumeneng Kaping, Sultan of Yogyakarta, by his wife, Ratu Kinchana/Ratu Ibu, daughter of Radin Temenggong Pangeran Sasra di-ning Rat I, Bupati of Jipang-Rajegwesi.
1168/4 <12> < 2. Pangeran Arya Tjakraningrat
lahir: 1801
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Lahir dari Ibu selir (Junior Wife), turut dibuang ke Ambon dan wafat di Ambon pada tanggal 13 Maret 1824 dimakamkan di Pemakaman Raja2 Imogiri, Bantul, Yogyakarta
1179/4 <12> < 3. Raden Mangku Wilaya / Radin Marta Atmaya / Pangeran Arya Suriya Mataram
lahir: 1802
wafat: 1825
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Lahir dari Ibu selir (Junior Wife), turut dibuang ke Ambon dan wafat di Ambon pada tanggal 13 Maret 1824 dimakamkan di Pemakaman Raja2 Imogiri, Bantul, Yogyakarta
11810/4 <12> < 4. Radin Sasra Atmaja / Pangeran Arya Pakuningrat
lahir: 1803
wafat: 1825 - 1830

Edited by : Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]

  • Lahir dari Ibu Selir (Junior Wife), meninggal di Kapal Laut pada saat Perang Jawa 1825-1830.
11911/4 <12+43> < 5. Kolonel Raden Mas Papak / Raden Tumenggung Mangkundirja
lahir: 1804
gelar: 1831 - 1853, Kalibawang, Pangeran Kalibawang
wafat: November 1853, Kalibawang
Edited by : Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Colonel Radin Mas Papak/Radin Temenggong Mangkundirja (cre. 1814)/Pangeran Adipati Natapraya (cre. 1825), Prince of Kalibawang. b. 1804 (s/o Radin Ayu Jaya Kusuma). Succeeded his brother as prince of Kalibawang 1831. He d. at Kalibawang, November 1853.
12012/4 <12+43> < 6. Pangeran Arya Papak
lahir: 1804
Edited by :


  • Lahir dari Ibu Selir (Junior Wife), (Bandara Pangeran Arya Mangku di-ning Rat/Kanjeng Gusti Pangeran Adipati I. b. 1778 (s/o Ratu Mas). Exiled to Penang 1812-1815, Batavis 1815-1817 and Ambon 1817-1824. Became an ascetic and assumed the name of Panji Angon Asmara. m. (first) Radin Ayu Jaya Kusuma, daughter of Pangeran Serang, by his wife, Radin Ayu Serang. m. (second) a selir or junior wife. He d. at Ambon, 13th March 1824 (bur. Imagiri)
HB 04.JPG
8313/4 <4+19> < Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono IV [Hb.III.18] / Gusti Raden Mas Ibnu Jarot (Sinuhun Jarot)
Sri Sultan Hamengkubuwono IV (lahir 3 April 1804 – meninggal 6 Desember 1822 pada umur 18 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1814 - 1822.

[sunting] Riwayat Pemerintahan

Nama aslinya adalah Raden Mas Ibnu Jarot, putra Hamengkubuwana III yang lahir dari permaisuri tanggal 3 April 1804. Ia naik takhta menggantikan ayahnya pada usia sepuluh tahun, yaitu tahun 1814. Karena usianya masih sangat muda, Paku Alam I ditunjuk sebagai wali pemerintahannya.

Pada pemerintahan Hamengkubuwono IV, kekuasaan'' Patih Danurejo IV semakin merajalela. Ia menempatkan saudara-saudaranya menduduki jabatan-jabatan penting di keraton. Keluarga Danurejan ini terkenal tunduk pada Belanda. Mereka juga mendukung pelaksanaan sistem Sewa Tanah untuk swasta, yang hasilnya justru merugikan rakyat kecil.

Pada tanggal 20 Januari 1820 Paku Alam I meletakkan jabatan sebagai wali raja. Pemerintahan mandiri Hamengkubuwono IV itu hanya berjalan dua tahun karena ia tiba-tiba meninggal dunia pada tanggal 6 Desember 1822 saat sedang bertamasya. Oleh karena itu, Hamengkubuwono IV pun mendapat gelar anumerta Sultan Seda ing Pesiyar.

Kematian Hamengkubuwono IV yang serba mendadak ini menimbulkan desas-desus bahwa ia tewas diracun ketika sedang bertamasya. Putra mahkota yang belum genap berusia tiga tahun diangkat sebagai Hamengkubuwono V.
12114/4 <12+43> < 7. Pangeran Arya Pakuningprang
Edited by :
  • Lahir dari Ibu Selir RA. Mangkudiningrat pada tahun 1805. (Bandara Pangeran Arya Mangku di-ning Rat/Kanjeng Gusti Pangeran Adipati I. b. 1778 (s/o Ratu Mas). Exiled to Penang 1812-1815, Batavis 1815-1817 and Ambon 1817-1824. Became an ascetic and assumed the name of Panji Angon Asmara. m. (first) Radin Ayu Jaya Kusuma, daughter of Pangeran Serang, by his wife, Radin Ayu Serang. m. (second) a selir or junior wife. He d. at Ambon, 13th March 1824 (bur. Imagiri).
PA-3.jpg
8415/4 <39+49> < Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Suryo Sastraningrat / Paku Alam III [Pa.2.12] Gusti Raden Mas Haryo Suryo Sastraningrat
lahir: 20 Desember 1827, Yogyakarta
perkawinan: <131!> < Bendoro Raden Ayu Suryo Sastraningrat
gelar: 19 Desember 1858 - 17 Oktober 1864, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Surya Sasraningrat
wafat: 17 Oktober 1864, Yogyakarta
GPH Sasraningrat dilahirkan pada 20 Desember 1827 oleh permaisuri Paku Alam II GK Ratu Ayu di Yogyakarta. Sebelum menjadi penguasa kadipaten ia pernah membantu ayahnya mulai 1857. Setelah ayahnya mangkat pada 23 Juli 1859, GPH Sasraningrat ditahtakan pada 19 Desember 1858 dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Surya Sasraningrat. Seperti mendiang Paku Alam II, Kepala Kadipaten Pakualaman ini juga gandrung akan kesusastraan. Ia sempat menulis beberapa karangan antara lain, Serat Darmo Wirayat, Serat Ambiyo Yusup (saduran ceritra Amir Hamzah) dan Serat Piwulang. Selain itu ia juga mengadakan kontak surat dengan para sastrawan Surakarta. KGPA Surya Sasraningrat [Paku Alam III] memiliki 10 putra-putri. Salah seorang putranya adalah KPH Suryaningrat. Pangeran ini merupakan ayah dari Ki Hajar Dewantoro (pendiri Taman Siswa dan menteri Pendidikan RI yang pertama). Pemerintahan KGPA Surya Sasraningrat [Paku Alam III] tidak berlangsung lama karena ia mangkat pada 17 Oktober 1864 ketika berusia 37 tahun. Saat ia mangkat putra-putrinya semua masih kecil sehingga belum ada yang dapat menggantikan sebagai Paku Alam IV. KGPA Surya Sasraningrat [Paku Alam III] dimakamkan di Kota Gede Yogyakarta. Sampai saat mangkat ia secara resmi tidak menggunakan gelar KGPA Paku Alam III karena belum berusia 40 tahun. Gelar Paku Alam hanya dapat digunakan secara resmi oleh penguasa Kadipaten mulai usia 40 tahun. Namun peraturan ini banyak mengalami perubahan nantinya.
13516/4 <32> < Raden Mas Joyokusumo [Hb.2.30.1]
perkawinan: <170!> < 7. Raden Ayu Joyokusumo
wafat: 30 September 1829, Senggir
8817/4 <11> < 1. Raden Mas Adipati Arya Djojodiningrat / [Hb.2.9.4]
perkawinan: <79> < Putri Dari K. P. A. Ng. Djojokoesoemo
gelar: 1830 - 1863, Bantul, Yogyakarta, Bupati Kuta Arya
14418/4 <77> < 1. Pangeran Arya Dhanu Ning Rat/Radin Adipati Dhanuraja V.
gelar: 1879 - 1899, Yogyakarta, Patih of Surakarta 1879-1899. He d. 21st July 1899.
RA Sriwoelan1885.jpg
11319/4 <77+?> < 2. Gusti Kanjeng Ratu Kencono II [Gp.Hb.7.3] (Bendoro Raden Ayu Ratna Sri Wulan)
perkawinan: <384!> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VII / Gusti Raden Mas Murtejo [Hb.6.1] (Sinuhun Behi) b. 4 Februari 1839 d. 30 Desember 1921
gelar: 1895, Diangkat menjadi Garwa Padmi dengan gelar Gusti Kanjeng Ratu Kencono
8520/4 <3> < Raden Ayu Pangulu Kamaludiningrat
Official Link. Adm: Hilal Achmar.

SILSILAH KETURUNAN (1&2) SISILAH PANCER KEDIRI (1) Sisilah uri-uri leluhur puniko kaserat/revisi dening :

1. R. Fatah Sultan Akbar I Bintoro Demak 2. R. Trenggono Sultan Akbar III Bintoro Demak 3. Sultan Mu'min (Sultan Prawoto) Demak 4. Panembahan Wirasmoro (Pangeran Sumende)Sumare ing Setono Gedong Kediri (Jl. Raya Dhoho Kediri kilen stasiun Kediri Kota) 5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I 6. Pangeran Demang Kediri II. Sumare ing Badal Nambangan / Ngrembang - Ngadiluwih - Kediri Peputro : 1. Kyai Ageng Abd. Djabar Tjorekan (Sumare ing Ngelam Suroboyo) 2. Kyai Ageng abd. Adim (Sumare ing Brodat/Kertosono) 3. Kyai Ageng Abd. Mursad (Sumare ing Tukun) 4. Kyai Ageng Abd. Rochim Ngliman 5. Kyai Ageng Abd. Salim / Adipati Kemten Sedo ing Pasuruan (Sumare ing Kundjonmanis)

Kyai Abd. Djabar Tjorekan dipun labuh dening Goverment walandi, wonten pelabuhan Kediri mentas ing dukuh Ngelam, dedukuh wonten ngriku kasebat Kyai Ageng Ngelam Suroboyo.Peputro : 1. Kyai Supanjeng Suroboyo 2. Kyai bagong Suroboyo

Kyai Ageng Abd. Brodat Kagungan putro ing Tapan Maduro : 1. R. Ayu Pangeran Tjokroningrat Madura 2. Kyai Tambak Agung Lemah Putro Suroboyo : Peputro : 1. Kanjeng Penghulu Kamaludiningrat (ing Godong Mataram) 2. Kyai Ag. Abd. Djabar (Kamludin) ing Kediri I 3. Kyai Im Sapingi ing Kediri II 4. Kyai Moh. Sapingi / Kamaludin ing Kediri III : Kagungan putro garwo Sepuh (RA. SEDAH MERAH) : (Sumare ing Kilen Pasar Paing Kediri / Ngajengipun Pondok Pesantren Assidiqiayh Jamsaren Kediri). Peputro : 1. R Ng. Bukori / kyai Bendungan Brebeg. 2. R. Ng. Abd. Basar Penghulu Sragen. 3. R. Rekso Ngulomo Penghulu Kediri. 4. R. Rekso Prodjo Djakso Kediri. 5. R. Rekso Seputro Naib Papar. 6. R. Nganten Kustiyah (Garwo Abd. Djalal) Naib Djambean. 7. R. Soemoredjo Mantri Negoro Kediri. 8. R. Ng. Burnadi Djuru Serat Srambi Kediri (masjid alun-alun / Kodya Kediri ). Kagungan putro saking garwo Keter  : 9. R. Kyai Mustaman Blitar. 10. R. Im. Sapingi Naib Papar. Kagungan putro saking garwo Enem : 11. R. Ng. Sumahun / Moh. Edris, Penghulu Kediri. 12. R. Ng. Djemblung / R. Ng. Djoko, Naib Kediri I. 13. R.Eoro Bonyok / R. Ng. Burnadi, Naib Kediri II. Kagungan putro saking garwo Klagenan : 14. R. Ismangil Ketib/Kotib Senoman Kediri 15. R. Ng. Adpar Ketib/Kotib Djojar Kediri

SISILAH PANCER KEDIRI (2) 1. R. Fatah Sulatan Akbar Bintoro Demak I 2. R. Trenggono Sultan Akbar Bintoro Demak III 3. Sultan Mu'min (sultan Prawoto) Demak 4. Panembahan Wirasmoro / Pangeran Sumense (sumare ing Setono Gedong Kediri) 5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I 6. Pangeran Demang Kediri II, ing Ngrembang sumare ing Badal Nambangan. 7. Kyai Ag. Abd. Adim Brodat

Silsilah Pancer 1 : Silsilah Pancer 2 : 1. Kyai Ag Kabul 1. Kyai Ag. Tambak Agung 2. Kyai Ag. Muslim 2. Kyai Ag. Kamaludiningrat ing Godong 3. Kyai Sarkum 3. Kyai Abd. Djabar Kamludin ing Kediri 4. Kyai Alwi 4. Kyai Imam Sapingi 5. Kyai Abd Rosid 5. Kyai Djojo Ngulomo 6. Kyai Abd. Djoned 6. Kyai Im Mustaram 7. Ag. Sribanun 7. Kyai Moh. Mansur 8. H. Abd. Fakih 8. H. Abd. Fakih Naib Kras

SISILAH PANCER Syech Maulono Magribi. 1. Syech Maulono Magribi 2. Kyai Ag. Tarub II 3. Sripah Asijah kagarwo >< R. Bondan Kejawan (putro Brawidjojo Darmarwulan Modjopahit) 4. Kyai Ag. Getas Pandowo (Kahuripan Purwodadi) 5. Kyai Ag. Selo, Purwodadi 6. Kyai Tani (sumare ing kilen Masdjid Nglawean Solo) 7. Kyai Ag. Penembahan 8. Panembahan Senopati Sutowidjojo Ratu Mataram I / Danang 9. Sultan Agung Tjakrakusumo(Prabu Mangkurat Agung Kertosuro, sumare ing Tegalarum) 10. R. Aj. Klenting Wungu kagarwo >< Ki. Djogosworo 11. R. Aj. Tumenggung Hodjowongso 12. R. Aj. Djosodipuro Koliwon Banyak 13. R. Aj. Tumenggung SEDAH MERAH kagarwo >< Penghulu Kediri 14. R. Aj. Djembluk (Kustijah kagarwo >< R P. Abd Djalal / Im. Subroto, Naib Ngadiluwih) 15. R. Ng. Abd Djoned Penghulu Kediri 16. R. Ng. Sribanun kagarwo >< Moh Mansur, Naib Kras 17. H. Abd. Fakih Naib Kras.

SILSILAH KETURUNAN (2) 1. R. Patah

2. R. Trenggono III

3. Sultan Muknin (Sunan Prawoto)

4. Penembahan Wirasmoro (Pangeran Sumende)

5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I

6. Pangeran Demang Kediri II (Sumare ing Badal Kediri)

7. Kyai Ageng Abd. Adim (Sumare ing Brodat Kertosono)

8. Kyai Tambak Agung Lemah Putro Suroboyo

9. Kanjeng Penghulu Kamaludiningrat (Penghulu Godong Mataram)

10.Kyai Ageng bd. Djabar (Kamaludin), Penghulu Kediri I

11.Kyai Imam Sapingi Penghulu Kediri II

12.Kyai Moh. Supingi (Kamludin), Penghulu Kediri III >< Nyai SEDAH MERAH (Sumare ing Kediri Ngajengipun Pondok Assidiqqiah Jamsaren Kediri, kilen pasar Paing Kediri)

13.R. Aj. Kustiah >< Abd. Jalal, Naib Jambean

14.R. Hadiwidjojo (Sumare ing Ngadiluwih)

15.R. Kodrat Samadikoen (Sumare ing Bendo Pare Kediri)

16.R. Tri Priyo Nugroho

17.R. Syehha Agem Manumayasya....

Sayyidah RA. Nyai Imanadi Kebumen ( Garwa II ), ibni

Sayyidah RA. Kamaludiningrat ( Pengulu Kraton Jogjakarta ), ibni

Sayyid BPA Dipowiyono, ibni

Sayyid RM. Sundoro / Hamengku Buwana II, ibni

Sayyid RM. Sujono / Pangeran Mangkubumi / Hamengku Buwana I...

Nyi jawahir peputra ; 1.Ali Mustafa peputra ; 1. Sastra 2. H. Muhson 3. Imam Pura 4. Sarbini 5. Dalail 6. Munirah 7. Nyai Madmarja

2.SanMunawar ( Lurah Pesucen ) 3.Nyi Basar Kahfi 4.Nyi Sanmustafa 5.Ali Muntaha peputra ; 1. Muhsin 2. Muhson 3. Muhsonah 4. Munsarip 5. Munisah 6. Mutnginah

6.Mustahal 7.Abdul Anwar ( Siwedi Kutowinangun ) 8.Marjuned ( Banjarnegara ) 9.Nyi Madmurja ( Kenteng Karangsari Kutowinangun ) 10.Nyi Badariyah ( Nyi H. Nawawi ) peputra ; 1. Nyai Carik jetis 2. Nyai Ahmad 3. Nyai Badriyah 4. Haji Masyhud 5. Nyai Trafas 6. Maklum

11.Nyi Ramadipura ( Buluspesantren ) 12.Nyi Satirah 13.Badarudin peputra ; 1. Nyi Ali Tsani Kauman ( Garwa I ) peputra ; 1. Siti Khalimah Kauman peputra ; 1. Mutoharoh

2. Chafsoh Pekalongan peputra ; 1. Arifin Pekalongan

2. Makmun Kauman peputra ; 1. Rokhimah Tasikmalaya peputra ;

2. Kharisoh Rantewringin peputra ; 1. Nurul Kauman 2. Retno Rantewringin 3. Beni 3. Khotmah Tasikmalaya peputra ;

4. Halimah Tasikmalaya peputra ;

5. Honimah Kebumen peputra ; 1. R. Muh. Rafi Ananda / Tuti Khusniati Al Maki 2. Aila Rezannia / Poedjo Raharjo 6. Soimah Kauman peputra ; 1. Arif Hidayat 2. Titin Rahayuningsih 3. Teguh Priyatno 4. Nur Fatmawati 5. Diyah Kurniasari

3. Nyi Maklum Kauman

H. Ahmad peputra ; 1.Ibunipun Nyi. H. Ali 2.Nyi Mangku 3.Madnur 4.Toyib

KH. Ali Awal bin Moh. Alwi kaliyan Garwa I peputra ;

1.Nyi Abdul Manan I ( Sepuh )Kemangguan Alian 2.Kyai Ismail Karanganyar Kebumen 3.Nyi Abdul manan II Kemangguan Alian 4.Nyi Zaenudin Pekeyongan 5.Nyi Hanan Plumbon peputra ; 1. Pengulu Ridwan/ Rilwan peputra ; 1. Rughoyah / Makmun Kauman 2. Rofqoniyah / Kyai Matori Jatisari peputra ; 1. KH. Sayyid R. Salim Al Mator peputra ; 1. Tobagus Muslihudin Aziz 2. Hikmatul Hasanah 3. Maksumah Kurniawati 4. Musyafa Firman Iswahyudi 5. Retno Auliyatussangadah 6. Eta Fatmawati Auliyatul Ummah

2. Songidah peputra ;

3. Sangadatun Diniyah peputra ;

4. Kyai Khumsosi Al Matori peputra ; 1. Siti Khulasoh 2. Siti Fatimah 3. Lukman Zein 4. Anis Siti Karimah 5. Siti Khomsiati 6. Anas Mufadhol

5. H. Makmuri peputra ;

6. Muslim peputra ;

3. Sanusi Prembun peputra ; 1. Sol 2. Salamah Balingasal Prembun

4. Sugeng peputra ;

5. Dulkodir peputra ;

6.Kyai Tohir Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

Kyai Kosim Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

KH. Ali Awal kaliyan Garwa II peputra ; 1.KH. Abdullah Ibrahim Kauman ( Pengulu Landrat terakhir ) peputra ; 1. Siti Khotijah / Zaenal Kauman 2. Siti hajatiyah / Mbah Jamaksari Somalangu 3. Ashariyah / Mustofa Banjarnegara 4. Umi Kulsum / Sumbono 5. Maimunah / Ali Siroj ( Purworejo ) 6. Mariyah / Sumbono 7. Hasim 8. Maryatini / Masngudin 9. Johariyah / kagarwa Sururudin, lajeng kagarwa dening Kyai Jamaksari Somalangu 10. Sri Kartini

2.Moh. Soleh peputra ; 1. Yusuf Soleh 2. Taslimah / Daqir Pekeyongan 3. Slamet Soleh 4. Musngidah / Masngud Prembun peputra ; 1. Dalail 5. Makmunah / Tahrir 6.Asyiah / Ngalimun Prembun

3.Siti Khalimah Wanasara / Abdullah sepuh peputra ; 1. Aminah Wanasara peputra ; 1. Muhtar

2. Mutiah Krakal peputra ; 1. Roh

4.H. Ali Tsani Kauman peputra ; Garwa I 1. Siti Khalimah Kauman peputra ; 1. Mutoharoh 2. Chafsoh Pekalongan peputra ; 1. Arifin Pekalongan

Garwa II ( Sayyidah Isti Sangadah binti Sayyid Muh. Fadil bin Sayyid Muh. Zein Solotiang bin Sayyid Muh. Alim Bulus Purworejo ) 1.Mahmud Ali Kauman peputra ; 1. Arif Mustofa

2.Isti Chamidah peputra ; 1. M. Sudjangi 2. Sugeng Assyamsi 3. Abdul Rozak 4. Lukman Hakim 5. Abdus Somad 6. M. Mahfud 7. M. Murtadlo

5.Abdul Wahab peputra ; 1. Moh Alwi Tejasari Kawedusan peputra ; 1. Ikhsan Alwi

2. Syamsi / Isti Chamidah

Khoul KH. Imanadi dipun wontenaken saben tanggal 14 Ruwah wonten ing serambi Masjid Pesucen Wonosari.

Wasana sinigeg semanten kemawon riwayat saha silsilahipun KH. Imanadi. Mugi – mugi handadosaken pepenget saha tuladhanipun khusus dhateng pra dharahipun, dhateng pra kathah umumipun. Amin

Kebumen, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda

Wasana sinigeg samanten kemawon riwayat saha silsilahipun KH. Imanadi. Mugi – mugi handadosaken pepenget saha tuladhanipun khusus dhateng pra dharahipun, dhateng pra kathah umumipun. Amin

Pustaka Perdhikan Buku alit punika kaparingan asma PUStaka perdhikan. Dipun anggit dinten Jumat Kliwon, 11 Safar 1430 H/ taun JE 1942 utawi 06 Februari 2009 dening Sayyid R. Muh. Rafi Ananda kanti ngempalaken riwayat saha silsilah saking pra turunipun Suwargi KH. Imanadi ugi kanti penyelidikan awujud sumber – sumber kawontenan ing sejarah. Riwayat kakempalaken saking panjenenganipun ; 1.KH. Sayyid R. Salim Al Mator Jatisari 2.R. Sudjangi Kauman

Buku kacetak kanti sederhana supados saged dipun waos dening pra putra wayahipun KH. Imanadi ingkang mbetahaken. Kagem Pra putra wayang ingkang dereng kaserat wonteng ing mriki kersaha nyerat piyambak – piyambak lan kahaturaken dhateng Sayyid R. Muh. Rafi Ananda wonten alamat Jalan Garuda 13 Kebumen Jawa – Tengah. Wasan buku pustaka Perdhikan punika sageda manfangati kagem kita sami. Amin. Kebumen, jumat kliwon, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda Basaiban

Kebumen, Jumat Kliwon, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda ,,,
8621/4 <4+18> < Bendoro Raden Ayu Mangunnegoro
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8922/4 <4+21> < Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto
Hilal Achmar Official Link
9223/4 <4+30> < Bendoro Raden Ayu Danukusumo 9324/4 <4+31> < Bendoro Raden Ayu Wiryokusumo
Hilal Achmar Official Link
9425/4 <4+23> < Bendoro Raden Ayu Kartonadi
Hilal Achmar Official Link
9626/4 <4+35> < Bendoro Pangeran Haryo Hadisuryo
Hilal Achmar Official Link
9727/4 <4+36> < Bendoro Raden Ayu Prawirohatmojo
Official From Hilal Achmar.
9828/4 <4+21> < Bendoro Raden Ayu Sosrodiningrat
Official From Hilal Achmar.
9929/4 <4+36> < Bendoro Pangeran Haryo Hadi Suryo / Bendoro Raden Mas Ambiyo
Official Link Adm: Hilal Achmar.
10030/4 <4+34> < Bendoro Pangeran Haryo Suryowijoyo [Hb.3.14]
10131/4 <4+33> < Bendoro Raden Ayu Sosronegoro
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
10232/4 <4+32> < Bendoro Raden Ayu Mangundrono
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
10333/4 <4+32> < Bendoro Pangeran Haryo Suryodipuro
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
10434/4 <4+32> < Bendoro Raden Ayu Bahusentono
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
10535/4 <4+27> < Bendoro Raden Ayu Mangundirjo
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
10636/4 <4+26> < Bendoro Raden Ayu Notodiningrat
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
10737/4 <4+26> < Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
10838/4 <4+25> < Bendoro Raden Ayu Sumodipuro
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
10939/4 <4+24> < Bendoro Raden Ayu Joyosundargo
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
11040/4 <4+24> < Bendoro Pangeran Haryo Teposono
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
11141/4 <39+49> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Suryoningrat I [Pa.2.1] Gusti Pangeran Haryo Suryoputro (Gusti Raden Mas Haryo Suryoputro)
11242/4 <39+49> < Gusti Pangeran Haryo Suryaningrat [Pa.2.5]
11543/4 <54+188!> < Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradinah [Gp.Hb.5.1] 12244/4 <55+42> < 1. Raden Mas Ibrahim Ba'abud Madiokusumo / Raden Mas Haryo Madiokusumo
12345/4 <55+42> < 3. Raden Mas Puspodipuro
12446/4 <11> < 2. Kanjeng Raden Tumenggung Ronodiningrat 12547/4 <4+39> < Bendoro Pangeran Haryo Suryodipuro II [Hb.3.26]
12648/4 <4+40> < Bendoro Pangeran Haryo Suryadi [Hb.3.27]
12749/4 <4+16> < Bendoro Raden Ayu Sosrodipuro [Hb.3.29] 12850/4 <4+39> < Bendoro Raden Ayu Dipowiyono [Hb.3.30] 12951/4 <4+17> < Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto II [Hb.3.31] 13052/4 <4+41> < Bendoro Raden Ayu Ronowinoto [Hb.3.32] 13153/4 <67> < Bendoro Raden Ayu Suryo Sastraningrat 13254/4 <39+49> < Gusti Raden Ayu Harjowinoto [Pa.2.9] 13355/4 <39+49> < Gusti Raden Ayu Ronggo Prawirodiningrat [Pa.2.2] 13456/4 <62> < Bendoro Raden Ayu Sastroningprang [Hb.2.61.1] 13657/4 <4> < Pangeran Ngabehi 13758/4 <22+48> < 4. Raden Ayu Suryokusumo
13859/4 <22+48> < 5. Raden Adipati Yododiningrat (Bupati Ngawi)
13960/4 <22+48> < 6. Raden Ronggo Prawirodiningrat ( Bupati Madiun)
14061/4 <22+48> < 7. Raden Ayu Suronoto
14162/4 <22+48> < 8. Raden Ayu Somoprawiro
14263/4 <22+48> < 9. Raden Ayu Notodipuro
14364/4 <22+48> < 10. Raden Ayu Prawirodilogo
14565/4 <11> < Raden Ayu Ambarkusumo / [Hb.2.9.5]
14666/4 <27> < Raden Tumenggung Padmodiningrat
14767/4 <29> < Raden Tumenggung Atmokusumo I
14968/4 <14> < Kanjeng Pangeran Haryo Ronomenggolo
15069/4 <17> < Raden Ayu Singasari
15170/4 <27> < Kanjeng Raden Tumenggung Purwonegoro
15271/4 <55> < 2. Raden Ayu Reksodiwiryo
15372/4 <55+42> < 4. Raden Ayu Kertopati
15473/4 <44+50> < Raden Tumenggung Dipowinoto
15574/4 <12> < Raden Mas Danuwikromo
15675/4 <11> < KRT Kertonegoro
Di makamkan di Lengkong

5

IKPD-1.jpg
1741/5 <82+61> < 11. Raden Ayu Hangreni Mangunjaya
lahir: Sementara menunggu persetujuan putranya diputus : 848551
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


R.A Hangreni Mangunjaya

Untuk menghindari lahirnya pemberontak-pemberontak baru keturunan Pangeran Diponegoro, pihak keraton menikahkan puteri-puteri Pangeran Diponegoro dengan pejabat-pejabat yang netral atau dengan pejabat yang pro Belanda. Untuk itu mereka dinikahkan dengan pejabat-pejabat di wilayah kekuasaan trah Danurejan yaitu di tanah kedu dan Bagelen. Trah Danurejan adalah trah yang terbukti setia kepada Belanda walaupun ada juga beberapa yang justru menjadi tulang punggung perjuangan Pangeran Diponegoro.

Radeng Ngabehi Mangunjaya suami R.A Hangreni adalah seorang wedono di wilayah Bagelen Barat yang dikuasai oleh Bupati Cokronegoro. Strategi Belanda dan kraton seolah berhasil dengan cara ini, tetapi kelak generasi-generasi penerus R.A Hangreni berjuang melawan penjajah melalui perjuangan agama setelah era perang Diponegoro berakhir.
1952/5 <122> < 5. Raden Ayu Said Husein
lahir: Anak Kembar Pertama
1963/5 <122> < 6. Raden Ayu Sosrokusumo
lahir: Anak Kembar Ke 2
3754/5 <148+55> < Raden Mas Gondowiloyo
perkawinan: <101> < Mas Ajeng Mintowati
penguburan: Majan, Tulungagung
Mantri di Tulungagung
3785/5 <151> < Raden Ajeng Surodiningrat
perkawinan: <102> < Raden Tumenggung Surodiningrat d. 1856
wafat: Yogyakarta, Disarekan Pasarean Kuncen Yogyakarta
IKPD-1.jpg
1646/5 <82+60> < 3. Raden Suryaatmaja / Diponingrat ? (Kanjeng Pangeran Anom Diponegoro)
lahir: ~ 1807
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Raden Suryaatmaja / Diponingrat/ Pangeran Adipati Anom/Raden Mas Sudiro Kromo/Kanjeng Pangeran Adipati Diponegoro (1807).

Dilihat dari gelar yang digunakan yaitu Pangeran Adipati Anom bisa dipastikan bahwa dia adalah anak dari ibu Raden Ayu Retnokusumo yang sebelumnya bernama Raden Ajeng Supadmi (Diperkuat dengan adanya catatan dari Peter F Carey dam The Power Of Prophecy) . Pangeran Diponegoro menikah untuk yang kedua kalinya atas perintah dari ayahnya. Perintah ini secara langsung mempunyai arti bahwa Raden Ayu Retnokusumo adalah isteri utama atau isteri permaisuri yang direstui oleh kerajaan. Kemudian Raden Ayu Retnokusumolah yang mendampingi Pangeran Diponegoro dalam menghadiri acara-acara resmi di kerajaan. Ketika mengikuti jejak ayahnya di medan perang Suryaatmaja diangkat menjadi putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Anom. Namun karena Belanda tidak mengakui keabsahan gelar Sultan yang disandang Pangeran Diponegoro maka nama itu dirubah oleh penjajah dengan nama Diponingrat. Menjalani pembuangan ke Ambon 1840.

Dalam catatan sejarah, Pangeran Adipati Anom Diponingrat pernah menikah dengan anak perempuan Raden Tumenggung Mertawijaya atau Raden Tumenggung Danukusumo II salah seorang senopati Pangeran Diponegoro di wilayah Remo Banyumas. Telah disebutkan sebelumnya bahwa Danukusumo II adalah dari trah Danurejan yang ikut bergabung dalam barisan perjuangan Pangeran Diponegoro
RM-DIPONEGORO ANOM.JPEG
1627/5 <82+59> < 1. Raden Mas Muhammad Ngarip / Diponegoro Anom (Pangeran Abdul Majid)
lahir: 1809
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Raden Mas Muhammad Ngarip/Raden Antawirya II / Diponegoro Anom/Diponegoro II/Kanjeng Pangeran Haryo Diponegoro II /Pangeran Abdul Majid.

Lahir pada tahun 1803. Dilihat dari tahun kelahirannya maka dapat dipastikan sebagai anak dari ibu Raden Ayu Madubrongto. Ketika perang Diponegoro dimulai dia telah berusia 22 tahun dan selalu setia menjadi pembela ayahnya. Sebagai putera tertua dan memiliki kesamaan pandangan dengan ayahnya maka dia dengan ikhlas mengangkat senjata mendampingi ayahnya. Nama bayinya adalah Raden Mas Muhammad Ngarip, dan kelak nama itu dia gunakan lagi ketika berada di wilayah sumenep dengan sedikit perubahan yaitu Raden Mas Mantri Muhammad Ngarip. Nama ini dia gunakan selama dalam pembuangan di Sumenep Madura. Dialah yang menulis buku Babad Diponegoro Suryongalam. Ketika menginjak dewasa dan ayahnya telah menggunakan nama Diponegoro, dia mendapatkan gelar nama yang sama yaitu Ontowiryo II dan selanjutnya menggunakan nama Diponegoro II atau Diponegoro Anom ketika ayahnya diangkat oleh rakyat menjadi Sultan Abdul Hamid. Nama tersebut diberikan sendiri oleh Pangeran Diponegoro sebagai tanda bahwa putera kesangannya inilah kelak yang akan melanjutkan cita-citanya. Memang dia hanya dari isteri samping, tetapi keindahan budi pekerti ibunya membuat Pangeran Diponegoro sangat menyayangi anak sulungnya ini. Melihat usianya yang sudah mencapai 22 tahun pada saat perang Diponegoro dimulai, maka dapat dipastikan bahwa pada saat itu beliau sudah memiliki isteri dan memiliki beberapa anak. Kelak keturunan beliau yang lahir dan besar di tanah Jawa inilah yang akan menjadi generasi penerusnya sebagai pengganggu ketenteraman penjajah. Sejak awal peperangan, Diponegoro Anom diserahi untuk menjaga dan melawan penjajah di wilayah Bagelen ke Barat bersama beberapa orang pilihan Pangeran Diponegoro di antaranya Tumenggung Danupoyo. Taktik perang yang digunakan sama dengan ayahnya yaitu bergerilya dan berpindah-pindah. Area perjuangan Pangeran Diponegoro Anom ini mencapai wilayah Barat Banyumas, Temanggung dan Parakan. Di medan perang Diponegoro Anom ini sering bekerja sama dengan Pamannya Sentot Prawirodirjo dan adik tirinya Raden Mas Singlon atau Raden Mas Sodewo. Setelah menjalani pembuangan di Sumenep tahun 1834 lalu dibuang ke Ambon 1853. Sebenarnya Pangeran Diponegoro berharap agar ibu dan anak-anaknya bisa bergabung dengannya di pembuangan, tetapi hal itu secara halus ditolak oleh Belanda dan sebagai gantinya Van den Bosch menijinkan anak-anaknya kembali ke Tegalrejo. Bahkan anak Pangeran Dipokusumo dan Pangeran Diponingrat diijinkan tinggal di dalam kraton. Selanjutnya Belanda melalui Kapten Roeps juga memenuhi permintaan Pangeran Diponegoro untuk membagikan pusaka warisan pada anak-anaknya yang terdiri dari keris dan tombak.

Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)
0. KANJENG SUNAN PRABU AMANGKURAT AGUNG  
1. KANJENG SUSUHUNAN PAKUBUANA I    
2. KANJENG PRABU AMANGKURAT IV    
3. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING I ING NGAYOGYAKARTA   
4. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING II ING NGAYOGYAKARTA    
5. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA    
6. BPH. DIPANEGARA    
7. RM. MUHAMMAD NGARIP/PANGERAN ABDUL MADJID
  
 - Tercatat Di Tepas Darah Dalem -

SILSILAH KELUARGA BESAR KETURUNAN PANGERAN ABDUL MADJID

Putra-putri

No. Nama Tempat/Lahir
1. RM. ACHMAD DIPONEGORO Ambon, C-18??
2. RM. MUHAMMAD DIPONEORO Ambon, C-18??
3. RM. BDULLAH DIPONEGORO Ambon, C-18??
4. RM. ABDUL RACHMAN DIPONEGORO Ambon, C-18??

Cucu

  1. ) 1.1. RAy. KHALIDJAH (Ambon, C-18??)
  2. ) 1.2. RM. IBRAHIM
  3. ) 1.3. RAy. DJAHRO
  4. ) 1.4. RAy. SECHA
  5. ) 1.5. RM. ISMAEL
  6. ) 1.6. RM. DAUD
  7. ) 1.7. RM. MUHAMMAD
  8. ) 1.8. RM. SULAEMANJ
  9. ) 2.1. RM. IDRIS
  10. ) 2.2. RM. MACHMUD
  11. ) 2.3. RM. ABDUL GHANI
  12. ) 2.4. RAy. DJUNA
  13. ) 3.1. RM. YUSUF DIPONEGORO
  14. ) 3.2. RM. SYAWAL DIPONEGORO
  15. ) 3.3. RM. SUJA DIPONEGORO
  16. ) 3.4. RAy. MARJAM DIPONEGORO
  17. ) 3.5. RM. MUHAMMAD DIPONEGORO
  18. ) 3.6. RM. YUNUS DIPONEGORO
  19. ) 3.7. RM. ACHMAD DIPONEGORO (BANDUNG)
  20. ) 3.8. RM. MURTASA DIPONEGORO
  21. ) 3.9. RAy. MURTINAH DIPONEGORO
  22. ) 3.10. RAy. SUPINAH DIPONEGORO
  23. ) 3.11. RAy. MURJANI DIPONEGORO
  24. ) 3.12. RAy. SUPATNI DIPONEGORO
  25. ) 4.1. RM. DJAFAR DIPONEGORO

Buyut / Cicit

  1. 1.6.1. RAy. DJAMILAH
  2. 1.6.2. RAy. CHADIDJAH
  3. 1.6.3. RAy. DJAHRAH (SURABAYA)
  4. 1.6.4. RAy. AISJAH (AMBON)
  5. 1.6.5. RAy. RACHMAH (MEDAN)
  6. 1.6.6. dr.RM. ACHMAD (PONTIANAK)
  7. 1.6.7. RAy. KAJATIN (YOGYAKARTA)
  8. 1.6.8. RAy. MOENAH (tidak ada keturunan)
  9. 1.8.1. RM. SLAMET DIPONEGORO
  10. 1.8.2. RM. ISMAIL (JAKARTA)
  11. 1.8.3. RAy. SYAMSILAH (PPRAJA AMBON
  12. 1.8.4. RM. IBRAHIM (KTR GUB AMBON)
  13. 2.1.1. RM. ABD HAMID
  14. 2.1.2. RM. ABD RACHMAN (AMBON)
  15. 2.1.3. RM. ABD GAFUR (TASIKMAKAYA)
  16. 2.1.4. RM. ISMAIL
  17. 2.1.5. RAy. KALSUM
  18. 2.1.6. RAy. MUDJANI (AMBON)
  19. 2.1.7. RM. ABDULLAH (POLISI MAGELANG)
  20. 2.1.8. RM. ACHMAD (JAW PELAJARAN TJ PRIOK)
  21. 2.1.9. RM. ABD GHANI (AMBON)
  22. 2.2.1. RM. ABD RADJAK (MAKASSAR)
  23. 2.2.2. RM. ABD GAFUR (NISM TJ PRIOK)
  24. 2.2.3. RAy. RAMLAH (AMBON)
  25. 2.3.1. RM. ABD MUTALIB (AMBON)
  26. 2.3.2. RM. ABD MANAP (AMBON)
  27. 3.1.1. RM. NURSEWAN
  28. 3.1.2. RAy. HARTATI
  29. 3.2.1. RAy. SAMSIRIN
  30. 3.2.2. RM. SAID
  31. 3.2.3. RM. ABD RACHMAN
  32. 3.2.4. RM. ABDULLAH DIPONEGORO
  33. 3.2.5. RAy. FATMA (SURABAYA)
  34. 3.3.1. RAy/ NURANI (AMBON)
  35. 3.3.2. RM. SAMAUN
  36. 3.3.3. RM. SAID (TJ PRIOK)
  37. 3.3.4. RAy. DINAR
  38. 3.3.5. RM. ABDULLAH
  39. 3.3.6. RAy. DJASIAN (TJ PRIOK)
  40. 3.7.1. RM. ISKANDAR DJOHAN DIPONEGORO
  41. 3.7.2. RM. ACHMAD DJOHAN DIPONEGORO
  42. 3.7.3. RM. INDRA DJOHAN DIPONEGORO
  43. 3.8.1. RAy. SUPATMI DIPONEGORO (AMBON)
  44. 3.8.2. RM. MUHAMMAD DIPONEGORO
  45. 3.8.3. RAy. PAWON (BANDUNG)
  46. 3.8.4. RAy. DJAHRO (AMBON)
  47. 3.8.5. RAy. NENG
  48. 3.8.6. RAy. SAMSIRIN (AMBON)
  49. 4.1.1. RM. MUHAMMAD
  50. 4.1.2. RAy. SAKIAH
  51. 4.1.3. RAy. TIMUR (BANDUNG)

Canggah
  1. 1.6.2.1. RAy. NURLELA AMAR DIPONEGORO
  2. 1.6.2.2. RM. SALIM AMAR DIPONEGORO
  3. 1.6.2.3. RM. AHMAD AMAR DIPONEGORO
  4. 1.6.3.1. RM. ACHMAD INDRACAHYA KAMARULLAH
  5. 1.6.3.2. RM. OEMAR INDRACAHYA KAMARULLAH
  6. 1.6.3.3. RM. ABDULLAH INDRACAHYA KAMARULLAH
  7. 1.6.3.4. RAy. MIEN SUROYO
  8. 1.6.3.5. RAy. POPPY SUROYO
  9. 1.6.5.1. RM. OEMAR KAMARUDIN
  10. 1.6.5.2. RM. HAMID KAMARUDIN
  11. 1.6.5.3. RM. DEETJE KAMARUDIN
  12. 1.6.5.4. RM. DICKY KAMARUDIN
  13. 1.6.7.1. RM. MAYOR GAUTAMA SAHIR
  14. 1.6.7.2. RM. dr. ERLANGGA SAHIR
  15. 1.6.7.3. RAy. Dra. CICI SAHIR
  16. 1.6.7.4. RM. Kol dr. ABIMANYU SAHIR
  17. 1.6.7.5. RM. Kol AMILUHUR SAHIR
  18. 1.6.7.6. RM. dr ONTOWIRYO SAHIR
  19. 1.8.1.1. RM. PUDJOJONO (AURI MEDAN)
  20. 1.8.1.2. RAy. MUNAH (JAKARTA)
  21. 1.8.1.3. RAy. MARIATI
  22. 1.8.1.4. RM. DIPOKUSUMO (BANDUNG)
  23. 1.8.1.5. RM. SURASNO (BANDUNG)
  24. 1.8.1.6. RAy. RATNAWATI (SEMARANG)
  25. 1.8.1.7. RM. SUDJONO I
  26. 1.8.1.8. RM. SUDJONO II (SEMARANG)
  27. 1.8.1.9. RM. SETIABUDI (SEMARANG)
  28. 1.8.1.10. RA. BUDIATI (SEMARANG)
  29. 1.8.2.1. RAy. SAMSILAH (JAKARTA)
  30. 1.8.2.2. RAy. SUPATNI (JAKARTA)
  31. 1.8.2.3. RAy. KEATIN (JAKARTA)
  32. 1.8.2.4. RM. SULAEMAN I
  33. 1.8.2.5. RM. SUKARNO
  34. 1.8.2.6. RAy. SUHARTI
  35. 1.8.2.7. RM. SULAEMAN II (JAKARTA)
  36. 1.8.2.8. RM. MOH ISMAIL (JAKARTA)
  37. 1.8.2.9. RM. SUDIRMAN (JAKARTA
  38. 1.8.2.10. RM. SUKIRMAN (JAKARTA)
  39. 2.1.1.1. RAy. DJENAB (TERNATE)
  40. 2.1.2.1. RM. MUHAMMAD
  41. 2.1.2.2. RAy. KALSUM (MAKASAR)
  42. 2.1.3.1. RAy. HAMILIH (TASIKMALAYA)
  43. 2.1.8.1. RAy. MURN (TJ PRIOK)
  44. 2.1.8.2. RAy HAR 1
  45. 2.1.8.3. RAy MUL
  46. 2.1.8.4. RAy HAR 2
  47. 2.1.8.5. RAy. DINAR (TJ PRIOK)
  48. 2.1.8.6. RM. ABD MADJID
  49. 2.2.1.1. ...............
  50. 2.2.1.2. ...............
  51. 2.2.1.3. ...............
  52. 2.3.1.1. RM. AMIN (AMBON)
  53. 2.3.1.2. RAy. MIRJAM (AMBON)
  54. 2.3.2.1. RM. ABD GANI (AMBON)
  55. 3.1.1.1. RM. YUSUF (TNI JAKARTA
  56. 3.1.1.2. RAy. MIRJAN (JAKARTA)
  57. 3.1.1.3. .........................
  58. 3.1.1.4. .........................
  59. 3.2.4.1. RM. SENTOT DIPONEGORO
  60. 3.2.4.2. RAy. MARYAM DIPONEGORO
  61. 3.2.4.3. RM. SUTOMO DIPONEGORO
  62. 3.2.4.4. RAy. MARYATI DIPONEGORO
  63. 3.2.4.5. RAy. SUKATI DIPONEGORO
  64. 3.2.4.6. RM. SANTOSO DIPONEGORO
  65. 3.2.4.7. RM. ANTAWIRYA DIPONEGORO
  66. 3.2.4.8. RM. SUSILO DIPONEGORO
  67. 3.2.4.9. RM. GATOTO DIPONEGORO (JOHAN)
  68. 3.2.4.10.RM. INDRA DIPONEGORO
  69. 3.2.4.11.RAy. RATNANINGSIH DIPONEGORO
  70. 3.2.4.12.RM. SUDIRMAN DIPONEGORO (DEN)
  71. 3.3.2.1. RM. ACHMAD
  72. 3.3.2.2. RM. ....................
  73. 3.3.3.1. RAy. KUSIAH (AMBON)
  74. 3.3.3.2. RAy. KURSIN (AMBON)
  75. 3.3.3.3. RM. SUDJA (AMBON)
  76. 3.7.1.1. RAy. MIRANDA DIPONEGORO
  77. 3.7.1.2. ..............................
  78. 3.7.2.1. RM. ALEXANDER DIPONEGORO
  79. 3.7.2.2. RM. NURDJOHAN DIPONEGORO
  80. 3.7.2.3. RAy. MAGDALIN DIPONEGORO
  81. 3.7.2.4. RAy. FARIDA A DIPONEGORO
  82. 3.7.2.5. RAy. ARISWAPI DIPONEGORO
  83. 3.7.2.6. RAy. DJULISTANI DIPONEGORO
  84. 3.7.2.7. RAy. ANNEKE DIPONEGORO
  85. 3.7.2.8. RM. DANUR DIPONEGORO (KEMLU TOKYO)
  86. 4.1.1.1. RM. MUHAMMAD DIPONEGORO
  87. 4.1.1.2. RAy. SAKILAH DIPONEGORO
  88. 4.1.1.3. RAy. TIMUR DIPONEGORO (BANDUNG)

IKPD-1.jpg
1638/5 <82+59> < 2. Raden Mas Dipoatmojo / Raden Mas Dipokusuma (Pangeran Abdul Azis)
lahir: 1815
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


R.M Dipoatmaja /R.M Dipokusumo /Pangeran Abdul Aziz (1805)

Adalah putera ke dua Pangeran Diponegoro yang lahir dari ibu Retno Madubrongto. Dia sudah cukup dewasa ketika perang dimulai, sehingga tidak menutup kemungkinan, dia meninggalkan anak dan isteri ketika menjalani pembuangan di Ambon. Semasa perang, RM. Dipoatmojo banyak bergerak di wilayah Pacitan dan Madiun. Peperangan dipimpin oleh Bupati Mas Tumenggung Joyokariyo, Mas Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris, akan tetapi akhir Agustus 1825 daerah Pacitan berhasil dikuasai Belanda. Bupati Joyokariyo di pecat, sedang Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris ditangkap yang nasibnya tidak diketahui. Sebagai bupati baru, diangkatlah oleh Belanda Mas Tumenggung Somodiwiryo, akan tetapi tidak lama bertahta sebab 9 Oktober 1825 diserbu oleh pasukan Madiun yang dipimpin oleh Raden Mas Dipoatmojo dan berhasil membunuh bupati baru tersebut. Namun akhirnya awal Desember 1825 seluruh pasukan Madiun di Pacitan berhasil dipecah belah oleh Belanda, hingga Pacitan sepenuhnya di kuasai Belanda.

Pada akhir perang Diponegoro, Raden Mas Dipoatmojo berada di Surakarta bersama keluarga kakek buyutnya dari garis ibu setelah pada tanggal 8 Januari 1830 tertangkap oleh pasukan Belanda lalu dibuang ke Ambon 1840.
RM. JONET DIPOMENGGOLO putra Pangeran Diponegoro, foto: Ilustrasi
1679/5 <87+82!> < 4. Raden Mas Djonet Dipomenggolo
lahir: 1815, Solo
perkawinan: <103> < NYI MAS AYU Fatmah \ Bun Nioh b. 1817c
wafat: 1837, Yogyakarta, dimakamkan di Bogor (Versi 'Peter Carey')
wafat: 1885, Bogor, dimakamkan di Bogor (Versi Keluarga)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


RIWAYAT HIDUP

PANGERAN DJONET / RM. JUNAT / RM. JEMET

Pangeran Djonet Dipomenggolo

Ketika ayahnya menyatakan diri sebagai penentang penjajah dan terusir dari Puri Tegalrejo, Raden Mas Joned baru berumur sepuluh tahun. Dia ikut rombongan pengungsi bersama keluarga besarnya ke Goa Selarong setelah Puri Tegalrejo digempur oleh pasukan Belanda. Dia sudah bisa merasakan bagaimana susahnya hidup dalam pengungsian dan hanya tinggal di dalam Goa bersama ibu dan saudara-saudaranya. Usianya masih terhitung anak-anak ketika dia lari mengikuti rombongan para penghuni Puri Tegalrejo dan para penghuni kampung sekitar puri. Terkadang sebuah tangan kokoh menyambarnya dan meletakkannya dalam gendongan sambil berlari mendorong gerobak dimana ibu dan bibinya menumpang menyatu dengan perbekalan seadanya. Orang itu tak lain adalah Sentot Prawiro Dirjo pamannya sendiri. Umur Raden Mas Joned sekitar 15 tahun ketika melihat ayahnya ditangkap oleh Belanda. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya tetap tegar menghadapi semuanya. Raden Mas Joned tidak kuasa menitikkan air mata ketika melihat ayahnya digiring dimasukkan ke dalam kereta yang membawanya ke pengasingan. Marah dan dendam, itulah yang ada di dalam benak Raden Mas Joned. Jiwa mudanya sangat terguncang dan itulah yang membuat Raden Mas Joned selalu melakukan perlawanan dimanapun dia melihat orang Belanda. Raden Mas Joned berusaha membebaskan ayahnya dengan cara mengejar ke Ungaran, lalu ke Semarang. Dia berhasil menyusup ke dalam kapal pembawa Pangeran Diponegoro tetapi ketahuan dan Raden Mas Joned menceburkan diri ke laut. Dia tidak putus asa karenanya. Raden Mas joned lalu mengejar Pangeran Diponegoro melalui darat bersama beberapa orang pengikutnya menuju Batavia. Sesampainya di Batavia, Pangeran Joned berusaha mendekati tempat penyekapan Pangeran Diponegoro, tetapi sayang, mata-mata mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro telah dipindahkan menggunakan kapal ke arah Timur. Dengan perbekalan seadanya disertai dengan pengikut-pengikut setianya, Raden Mas Joned berangkat ke arah Timur melewati jalan darat sambil menebarkan petaka bagi siapapun yang mencoba menghalanginya. Raden Mas Djonet, mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak menguntungkan dalam perselisihan dengan seorang perwira di Djokjakarta. (J. Hageman, 1856, "Geschiedenis van den oorlog op Java, van 1825 tot 1830"). Atas kehendak keluarga, jenasah beliau disembunyikan dan dimakamkan di Bogor. Ibu Raden Mas Joned yaitu Raden Ayu Maduretno adalah kakak Sentot Prawirodirjo yang ikut bergabung dalam barisan Pangeran Diponegoro. Ketika Pangeran Diponegoro diangkat menjadi sultan di Dekso, Raden Ayu Maduretno diangkat menjadi permaisuri. Pada tahun 1828 beliau wafat karena sakit dan dimakamkan di Imogiri.


PANGERAN DJONET DIPOMENGGOLO / RM. JUNAT / RM. JEMET

Idang.jpeg
Oleh :R. Endang Suhendar Diponegoro
Pangeran Djonet Dipomenggolo

PANGERAN DJONET atau Raden Mas Djonet Dipomenggolo, adalah putera pertama Pangeran Diponegoro yang lahir pada tahun 1815 1) di Yogyakarta dari Ibu kandung yang bernama R.A. Maduretno alias R.A. Ontowiryo alias R.A. Diponegoro yakni isteri kelima Pangeran Diponegoro putri ketiga Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Kanjeng Ratu Kedaton Maduretno Krama (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Pangeran Djonet memiliki adik kandung bernama Pangeran Roub/Pangeran Raab/Pangeran Raib, yang pada tahun 1840 berhasil dibuang Belanda ke Ambon dan meninggal disana. Ketika Pangeran Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, RA. Maduretno diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton l pada 18 Pebruari 1828 (walaupun saat itu Belanda berikut Kerajaan yang lain tidak mengakuinya). Pada saat itu Raden Mas Djonet Dipomenggolo masih berumur 13 tahun.



Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)
0. KANJENG SUNAN PRABU AMANGKURAT AGUNG  
1. KANJENG SUSUHUNAN PAKUBUANA I    
2. KANJENG PRABU AMANGKURAT IV    
3. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING I ING NGAYOGYAKARTA   
4. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING II ING NGAYOGYAKARTA    
5. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA    
6. BPH. DIPANEGARA    
7. RM. DJONET DIPAMENGGALA
  
 - Tercatat Di Tepas Darah Dalem -
Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Ibu)
0. KANJENG SUNAN PRABU AMANGKURAT AGUNG  
1. KANJENG SUSUHUNAN PAKUBUANA I    
2. KANJENG PRABU AMANGKURAT IV    
3. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING I ING NGAYOGYAKARTA   
4. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING II ING NGAYOGYAKARTA
5. KRK. MADURETNO KRAMA (Putri ke 22 HB-II <menikah dengan> RADEN RANGGA PRAWIRADIRDJA III 
6. BRAy. MADURETNO/RA. Ontowiryo/RA. Diponegoro
7. RM. DJONET DIPAMENGGALA
 
 - Tercatat Di Tepas Darah Dalem -

PANGERAN DJONET PADA MASA PERJUANGAN PANGERAN DIPONEGORO (Tahun 1825-1830)

Sejak usia 10 tahun Pangeran Djonet bersama 2 saudaranya yaitu Pangeran Roub dan Pangeran Diponegoro Anom selalu mendampingi/selalu diajak ayahnya dalam setiap perundingan penting dengan Belanda. Mengingat usianya yang relatif muda tidak banyak yang dilakukan Pangeran Djonet muda, akan tetapi selama 5 tahun Pangeran Djonet berada, melihat dan menyaksikan langsung (veni, vedi veci) sejarah yang sedang terjadi di tanah air melalui perjuangan orang tuanya yaitu Pangeran Diponegoro beserta panglima Sentot Prawiradirja dan Pangeran-pangeran juga para Kyai. Di medan perang Pangeran Djoned menyaksikan bagaimana prajuritnya terbunuh...bagaimana mendapatkan kemenangan...bagaimana mengatur siasat perang, semua ini merupakan pengalaman dan pembelajaran yang berharga bagi pembentukan kepribadian Pangeran Djoned kemudian.

Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, untuk sementara dibiarkan. Sekitar 200 benteng telah dibangun untuk mengurangi mobilitas pasukan Diponegoro. Perlahan langkah tersebut membawa hasil. Dua orang panglima penting Diponegoro tertangkap. Kyai Mojo tertangkap di Klaten pada 5 Nopember 1828. Sentot Alibasyah, dalam posisi terkepung, menyerah di Yogya Selatan pada 24 Oktober 1829.

Diponegoro lalu menyetujui tawaran damai Belanda. Tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro disertai lima orang lainnya ( Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock. Mereka disambut dengan upacara militer Belanda. Dalam perundingan itu, Diponegoro menuntut agar mendapat "kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan agama Islam." De Kock melaksanakan tipu muslihatnya. Sesaat setelah perundingan itu, Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Semarang dan terus ke Betawi. Pada 3 Mei 1830, ia diasingkan ke Manado, dan kemudian dipindahkan lagi ke Ujungpandang (tahun 1834) sampai meninggal. Di tahanannya, di Benteng Ujungpandang, Diponegoro menulis "Babad Diponegoro" sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357 halaman.


PANGERAN DJONET PADA SAAT PENGASINGAN AYAHNYA KE SULAWESI (Tahun 1830)

Menurut cerita salah satu keturunan ke 6 Pangeran Djonet yang tinggal di sekitar makam yaitu R. Ustad ABDUL WAFA (keturunan dari Raden Mas SAHID ANKRIH, anak ke 5 Pangeran Djonet) adalah sebagai berikut : Sewaktu beliau dibuang ke Makassar, beliau ikut namun sewaktu Kapal/Perahu di lautan beliau menceburkan diri bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. Setelah beberapa lama menetap di Batavia, lalu beliau pindah ke Bogor, berjuang bersama pasukannya yang akhirnya menetap di Kebon Kelapa Cibeureum sampai akhir hayatnya.” (sesuai yang tertera dalam Papan Wisata Ziarah dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor).

SITUS MAKAM PANGERAN DJONET DIPOMENGGOLO

Situs Makam Pangeran Djonet Dipomenggolo, Alamat : Pesantren Dipamenggala Al-Khasanan, Jl. Raden Kosasih, Kp. Kebon Kelapa-Kelurahan Cikaret-Bogor Selatan

Cerita lain, versi keturunan yang tinggal di sekitar makam : “ Pangeran Djonet tinggal dan menetap pertama kali di pinggiran kota Bogor (± 4 s.d 7 km dari Istana Belanda) di kampung Jabaru (Jawa Baru), setelah mempunyai 5 orang putra dan 2 orang putri semakin banyaklah keturunan Pangeran Djonet di kampong Jabaru tersebut, akhirnya membuka kampong baru lagi dengan nama kampong Dukuh Jawa, sampai akhirnya wafat pada usia 70 tahunan dan dimakamkan di kampong Kebon Kelapa (sekarang Jalan Raden Kosasih), Cikaret, Bogor Selatan tidak jauh dari kampong tempat beliau menetap ”.


PANGERAN DJONET DI BATAVIA (Tahun 1830-1831)

Setelah lolos dari proses pengasingan ke Pulau Sulawesi sesuai cerita sebelumnya, Pangeran Djonet muda yang baru berusia 15 tahun (1815-1830) dibantu pengikutnya yang berjumlah lebih dari 1 orang untuk mencari tempat persembunyian sementara di daerah Batavia. Sebagai kelompok asing yang berkeliaran di Batavia yang notabene sebagai pusat kegiatan colonial pada masa itu tentunya baik Pangeran Djonet maupun pengikutnya yang asli Yogyakarta mencari sanak saudara, kerabat maupun tetangga yang sedaerah. Akhirnya dengan wawasan sejarah yang dimiliki sang Pangeran Muda diputuskan untuk mencari daerah Matraman (saat itu umur daerah Matraman sudah mencapai 208 tahun sejak penyerbuan Kerajaan Mataram ke Batavia).

Di Matraman, pengikut Pangeran Djonet terlebih dahulu mencari tokoh-tokoh setempat yang dianggap mengetahui asal-usul Matraman dan akhirnya memperkenalkan diri kepada mereka tentang keberadaan Pangeran Mataram (tidak menyebutkan nama/menggunakan nama alias) dan menceriterakan secara umum kondisi kejadian saat itu. Diluar perkiraan sang Pangeran, mereka menerima dengan amat terbuka sambil disertai perasaan haru, bangga dan rindu akan kampong halaman akhirnya berkat bantuan dan perlindungan masyarakat Matraman pada saat itu Pangeran Djonet beserta pengikutnya menetap di Batavia (Matraman) lebih kurang selama 2 tahun.

Selama menetap di Matraman dalam rangka mempertahankan diri dari kejaran tentara Belanda, Pangeran Djonet membentuk pasukan (semacam pengawal Raja) dengan merekrut pemuda-pemuda yang mayoritas keturunan prajurit Kerajaan Mataram walaupun ada juga dari etnis lain yang juga bergabung dengan suka rela (di komplek pemakaman Pangeran Djonet di Bogor dimakamkan juga komandan pasukan pengawal yang berasal dari Banten). Komunikasi keberadaan Pangeran Djonet di Batavia dengan pihak Keraton Yogyakarta (lebih kurang 19 orang Pangeran/turunan Sultan yang mendukung Pangeran Diponegoro) dilakukan melalui media kurir/mata-mata/telik sandi yang masing-masing bergerak menuju titik yang ditentukan (rendesvouz), dari Keratonlah Pangeran Djonet mendapatkan bantuan logistik yang diperlukan dalam membentuk pasukan pengawal.

Tahun 1832 Pangeran Djonet genap berusia 17 tahun, usia yang cukup dewasa bagi seorang keturunan Sultan untuk segera memulai hidup berumah tangga. Maka pada tahun 1832 Pangeran Djonet mempersunting Putri Kapitein keturunan Tionghoa dari Marga Tan yang bernama BUN NIOH kemudian berganti nama menjadi NYI MAS AYU FATMAH (tidak ada literature yang menyebutkan dimana proses pertemuannya). Kalau mengacu kepada usia Nabi Muhammad SAW menikah, usia tersebut masih terlalu muda, akan tetapi karena kondisi saat itu sedang dalam proses bersembunyi ataupun penyamaran (incognito) ditambah lagi kebiasan Raja-raja Kasultanan Yogyakarta anak lelaki tertua menikah pada saat usia menginjak dewasa. Setelah berumah tangga Pangeran Djonet pindah ke pinggiran Kota Bogor, akan tetapi komunikasi dengan masyarakat Matraman tetap terjalin dengan sangat baik, dan sering mengahdiri acara-acara keagamaan yang diadakan di Masjid Jami Mataram.

Berdirinya Masjid Jami Matraman memang tak lepas dari aktivitas bekas pasukan Sultan Agung Mataram yang menetap di Batavia. Nama wilayah Matraman pun disinyalir karena dahulunya merupakan tempat perkumpulan bekas pasukan Mataram. Untuk menjalankan aktivitas keagamaan bekas pasukan Mataram mendirikan sebuah Masjid di kawasan tersebut. Masjid yang didirikan pada tahun 1837 diberi nama Masjid Jami Mataram yang artinya Masjid yang digunakan para abdi dalem Keraton Mataram. Selain itu, pemberian nama tersebut dimaksudkan untuk menandakan bahwa masjid itu didirikan oleh para bekas pasukan Mataram. Keaslian Masjid Jami Matraman masih terlihat dari bagian depan gedung masjid yang belum pernah direnovasi. Pada jaman dahulu masjid itu merupakan masjid paling bagus di kawasan tersebut, dengan perpaduan gaya arsitektur masjid dari Timur Tengah dan India. Jika dilihat dari depan akan nampak bangunan seperti benteng dan pada dinding tembok mimbarnya dipenuhi dengan tulisan kaligrafi serta terlihat pula bentuk kubah bundar. Pada tahun 1837, masjid itu diresmikan oleh Pangeran Jonet (ahli waris Pangeran Diponegoro).


PANGERAN DJONET DI BOGOR (Tahun 1832 - 1885)

Tempat Tinggal Di Bogor

Pangeran Djonet pindah dari pelariannya di Batavia ke daerah pinggiran kota Bogor sekitar tahun 1832. Bersama pengikutnya keturunan bekas tentara kerajaan Mataram di Batavia (Daerah Matraman – Jakarta Timur), Pangeran Djonet membuka perkampungan baru yang akhirnya dikenal dengan nama Kampung JABARU, kependekan dari Jawa Baru.

Sarana transportasi darat yang umum pada masa itu kebanyakan menggunakan Kuda tunggang, kereta kuda, sepeda, sedikit kereta api dan mobil. Pangeran Djonet seperti halnya bangsawan di Keraton Yogyakarta tentunya sangat terlatih menggunakan kuda tunggang, oleh karenanya di sekitar kampong Jabaru, disuatu tempat yang bernama "Pasir Kuda" (Pasir, nama lain dari Bukit) Pangeran Djonet dan para pengikutnya biasa menambatkan kuda-kudanya (kemungkinan besar, dipasir inilah dibangun Istal).


Melihat cerita di atas, dan mempelajari Silsilah yang ada serta mencermati keberadaan RM. Djonet pada masa perjuangan Pangeran Diponegoro setelah saya lakukan analisis dengan seksama dengan mengacu kepada artikel dan buku-buku diperoleh berbagai macam kemungkinan sebagai berikut :

  • RM. Djonet adalah putra sulung dari pasangan Pangeran Diponegoro dengan RA. Maduretno yang lahir pada tahun 1815 M. Ketika Diponegoro berusia 42 tahun, beliau dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, RA. Maduretno diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton l pada tanggal 18 Pebruari 1828, pada saat itu RM. Djonet berumur 13 tahun.
  • Sejarah Pangeran Djonet menurut cerita kutipan dari buku karangan Peter Carey menyebutkan bahwa Pangeran Djonet dibunuh oleh Belanda dalam sebuah peperangan pada tahun 1837. Cerita tersebut dapat beralasan :

  • Dalam artikel : “Jejak Sultan Agung Mataram di Masjid Jami Matraman” disebutkan bahwa Masjid Jami Mataram dibangun dan diresmikan pada tahun 1837 oleh Pangeran Jonet (ahli waris Pangeran Diponegoro). Pada tahun 1837 Masjid Jami tersebut tergolong bangunan mewah arsitktur bangunannya menyerupai Taj Mahal, sehingga menjadi pusat perhatian Belanda. Informasi peresmian Masjid tersebut oleh keturunan langsung Pangeran Diponegoro sampai melalui mata-mata Belanda yang pada akhirnya Belanda melakukan penyergapan (kemungkinan dikediaman Pangeran Djonet di kampung Jabaru (Jawa Baru), di daerah Selatan Bogor. Dalam penyergapan tersebut akhirnya terjadi peperangan antara tentara Belanda dengan Pangeran Djonet dan pengikutnya. Di lain pihak, pada tahun yang sama 1837 Pangeran Djonet sudah berumah tangga dan mempunyai anak 7 ( 5 laki -laki dan 2 perempuan ).
  • Mungkin saja data yang diperoleh Peter Carey sumbernya berasal dari pihak Belanda atau referensi lain yang ada di Inggris, dimana baik Belanda maupun Inggris membukukan sejarah pemberontakan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya lebih mengutamakan keberhasilannya semata, sehingga Pangeran Diponegoro dan keluarganya berikut pengikutnya dianggap “BAD GUY” yang sudah dan harus dikalahkan (dibunuh) sedangkan pihak Belanda maupun Inggris sebagai “GOOD GUY” yang patut mendapatkan penghargaan.
  • Pangeran Djonet menetap di Batavia mulai tahun 1830, pada saat beliau berumur 15 tahun.Kalau mengacu kepada cerita versi “makam” (di Cikaret, Bogor), Pangeran Djonet termasuk dalam kelompok yang akan dibuang ke Makassar yang akhirnya dapat melarikan diri dan menetap di Batavia. Dimana pangeran Djonet tinggal di Batavia?, sampai tahun berapa tinggal di Batavia?, kapan pindah ke Bogor? Tahun berapa menikah?, Siapa isterinya? Berapa orang istrinya? Berapa orang putra-putrinya? dimana tinggalnya di Bogor? Jawabannya adalah :

  • Di Batavia pangeran Djonet tinggal di perkampungan mantan prajurit Mataram (Sultan Agung Mataram menyerang VOC ke Batavia pada April 1628 - Mei 1629). Pada tahun 1837 perkampungan tersebut sudah berubah nama menjadi kampung MATRAMAN karena sudah berusia 218 tahun. Di Matraman inilah Pangeran Djonet menetap dan mendapatkan perlindungan dari keterunan tentara Mataram, sampai usia beliau mencapai 17-22 tahun.
  • Pangeran Djonet pindah ke Bogor antara tahun 1832-1837, dimana pada usia tersebutlah menikah dengan puteri Kapitein keturunan Tionghoa dari Marga TAN yang bernama BOEN NIOH kemudin bermualaf dengan nama NYI MAS AYU FATMAH. Mengenai jumlah isterinya dapat diperkirakan sebagai berikut : apabila mengacu kepada buku Peter Carey pangeran Djonet terbunuh pada saat usia perkawinan 5 tahun (1837) dengan jumlah putra-putri 7 orang, berarti pangeran Djonet beristri minimal 2 orang, sedangkan kalau mengacu versi makam, Pangeran Djonet meninggal di usia 70 tahunan meninggalkan 2 orang isteri, 7 orang anak.
  • Di Bogor Pangeran Djonet tinggal di pinggiran Kota ± 5 km dari Istana Belanda. Disana beliau dibantu para pengikutnya keturunan Mataram yang ada di Batavia membuka perkampungan baru yang pada akhirnya dikenal dengan sebutan Kampung JABARU kepanjangan dari Kampung Jawa Baru. Di kampung Jabaru inilah pangeran Djonet membentuk pasukan dan beranak-pinak. Kuda-kuda pangeran Djonet dan pasukannya ditambatkan di Istal Kuda didaerah pasir (bukit) yang pada akhirnya daerah tersebut dikenal dengan nama Kampung Pasir Kuda (kampung diatas bukit yang banyak Kuda). Dari Kampung Jabaru keturunan Pangeran Djonet meluas dan membuka perkampungan baru di sebelah Timurnya yang juga dikenal dengan nama Kampung Dukuh Jawa.
  • Menurut kesaksian keturunan Pangeran Djonet generasi ke 5 Rd.Hj. SITI MARIAM (IIH) & Rd.Hj. SITI JUARIAH (UWE), pada saat ayahnya RM.H. RANA MENGGALA (generasi 4) meninggal sekitar tahun 1970an, ada prajurit utusan Kraton Yogyakarta membawa peti berukir yang berisi antara lain uang. Pada saat itu keturunan Pangeran Djonet sampai generasi ke 5 belum banyak yang mengetahui asal-usul yang mengarah kepada Pangeran Diponegoro. Hal ini dapat diartikan bahwa, pihak Kraton Yogyakarta mengetahui keberadaan Pangeran Djonet di Bogor dan ada kemungkinan sebetulnya pada saat Pangeran Djonet tinggal pertama di Bogor pun sudah ada komunikasi rahasia antara telik sandi kraton Yogyakarta dengan pasukan Pangeran Djonet di Bogor (mengapa masih rahasia, mengingat di kalangan kerabat Pangeran Diponegoro di Yogyakarta pada saat itu disinyalir masih banyak yang pro-kolonial). Sejauh ini diantara keturunan 7 anak Pangeran Djonet, sampai dengan generasi kelima (lahir 1930an-1950an) silsilah keluarga yang lebih rinci tentang keturunan Pangeran Djonet masih memerlukan verifikasi dan penyempurnaan,
  wallahu alam bi sawab.  

SILSILAH KELUARGA BESAR KETURUNAN RM. DJONET DIPAMENGGALA

Putra-putri

No. Nama Tempat/Lahir
1. RM. NGABEHI DIPAMENGGALA Jabaru, C-1833
2. RM. HARJO DIPOMENGGOLO Jabaru, C-1834
3. RM. HARJO DIPOTJOKRO / PANGERAN GRINGSING I Jabaru, C-1835
4. RM. HARJO ABDUL MANAP Jabaru, C-1836
5. RM. KH. SAHID ANGKRIH Jabaru, C-1835
6. NYI MAS RAy. UKIN Jabaru, C-1836
7. NYI MAS RAy. OKAH Jabaru, C-1837

Cucu

  1. 1.1. RM.KH. USMAN BAKHSAN (Lebak pasar, C-1854)
  2. 2.1. RM.H. BRODJOMENGGOLO
  3. 2.2. RAy.Hj. GONDOMIRAH
  4. 2.3. RM.H. ABAS
  5. 2.4. RM.H. ABDULRACHMAN ADIMENGGOLO
  6. 2.5. RM.H. MUHAMMAD HASAN
  7. 3.1. RM. HARJO DIPOTJOKRO HADIMENGGOLO / P.GRINGSING II
  8. 4.1. RM.H. EDOJ
  9. 4.2. RM.H. SAYYID YUDOMENGGOLO
  10. 4.3. NYI RAy.Hj. SARODJA
  11. 4.4. NYI RAy.Hj. AMANUNG
  12. 5.1. RM. ASMINI
  13. 5.2. RM. IDRIS
  14. 5.3. RM. ONDUNG

Buyut / Cicit

  1. 1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA (Lebakpasar, C-1877)
  2. 1.1.2. RM.H. ABDULGHANI MENGGALA (Lebakpasar, C-1878)
  3. 1.1.3. RM.H. MUHAMMAD HASYIR (C-1879)
  4. 1.1.4. RAy. Hj. Harisun (C-1880
  5. 1.1.5. RAy.Hj. ITI (Gg Wahir-Empang, C-1882
  6. 1.1.6. RM. Ahmad (Natsir), C-1884
  7. 2.1.1. RM.H. WONGSOMENGGOLO (Ciomas)
  8. 2.1.2. RM.H. SOEROMENGGOLO (Ciomas)
  9. 2.1.3. RM.H. ADIMENGGOLO (Ciomas)
  10. 2.1.4. RAy.Hj.UNAN (Loji)
  11. 2.2.1. RM.H. IBRAHIM\RM. ABD.ROCHMAN WIRADIMENGGOLO\RM. WIRADINEGARA
  12. 2.2.2. NYI RAy.Hj. ASMAYA
  13. 2.2.3. NYI RAy.Hj. ENTING AISYAH
  14. 2.2.4. NYI RAy.Hj. SITI FATIMAH
  15. 2.2.5. NYI RAy.Hj. ANTAMIRAH
  16. 2.2.6. RM. TJANDRANINGRAT\RM. ARIO MAD SURODHININGRAT (Zelfstandig Patih Buitenzorg 1916-1925)
  17. 2.2.7. RM. YAHYA GONDONINGRAT
  18. 2.2.8. RM. INDRIS TIRTODIRDJO/RM. IDRUS TIRTODIRDJO
  19. 2.2.9. NYI RAy.Hj. RAJAMIRAH/RAy.Hj. MIRAH
  20. 2.3.1. RM.H. ARDJA
  21. 2.3.2. RM.H. SUMINTA (MALIK)
  22. 2.3.3. RAy.Hj. PATIMAH <menikah dgn> DJUARSA (Ayahnya Mayjen. ISHAK DJUARSA)
  23. 2.3.4. RAy.Hj. FATMAH <menikah dgn> 1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA Cucu RM. NGABEHI DIPOMENGGOLO
  24. 2.3.5. RM.H. YACUB
  25. 2.3.6. RAy.Hj. SITI MARIJAM (Loji)
  26. 2.4.1. RAy.Hj. SUKIYAMAH
  27. 3.1.1. RM. HARJO DIPOHADIKUSUMO / P. GRINGSING III
  28. 4.1.1. RM.H. SINTOMENGGOLO
  29. 4.2.1. RM.H. SADIRI GONDOMENGGOLO
  30. 4.3.1. RM.H. SUMAWIDJAJA
  31. 4.3.2. NYI RAy.Hj. DANANG
  32. 4.3.3. NYI RAy.Hj. ANOK
  33. 4.3.4. NYI RAy.Hj. ENGKO
  34. 4.3.5. NYI RAy.Hj. TOJO (Ibu Bandung)
  35. 5.1.1. RM.H. ASMININ
  36. 5.1.2. RM.H. MALI
  37. 5.1.3. RM.H. MINAU
  38. 5.1.4. RM.H. IKING
  39. 5.1.5. RAy.Hj. UMI

Canggah
  1. 1.1.1.1. R.H. RAIS
  2. 1.1.1.2. R.Hj. ECIN
  3. 1.1.1.3. R.Hj. HALIMAH
  4. 1.1.1.4. R.Hj. SITI KHODIJAH
  5. 1.1.1.5. R.Hj. SITI MUKMINAH
  6. 1.1.1.6. R.Hj. SITI JUARIAH (Uwa UWE, Sempur)
  7. 1.1.1.7. R.H. MAHBUB
  8. 1.1.1.8. R.Hj. SITI MAEMUNAH
  9. 1.1.1.9. R.Hj. SITI MARIAM (Ibu KARIM/Uwa IIH, Gg. Menteng)
  10. 1.1.1.10. R.IYAN RIDWAN
  11. 1.1.2.1. R.H. YASIN (C-1910
  12. 1.1.2.2. R.H. ALI
  13. 1.1.2.3. R.H. ABDUL MANAN (Adung)
  14. 1.1.2.4. R.Hj. SUPIAH (Siti)
  15. 1.1.2.5. R.Hj. ENCUNG
  16. 1.1.2.6. R.MASDIR. JAYAKUSUMAH (Jaya, C-1911)
  17. 1.1.2.7. R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata)
  18. 1.1.2.8. R.MASDIR KURNAEN (Aeng)
  19. 1.1.2.9. R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF
  20. 1.1.2.10. R.MASDIR SUMANTRI (Ati)
  21. 1.1.2.11. R.MASDIR EMAN SULAEMAN
  22. 1.1.3.1. R. BUSTOMI
  23. 1.1.3.2. R. ISMAIL
  24. 1.1.3.3. R. MUDJITABA
  25. 1.1.3.4. NYI R. SUAEBAH
  26. 1.1.3.5. NYI R. MAEMUNAH
  27. 1.1.4.1. R. ILYAS DAJIR
  28. 1.1.5.1. R. ILYAS DAJIR
  29. 1.1.5.2. R. ILYAS DAJIR
  30. 1.1.6.1. .............
  31. 1.1.6.2. R. SOLEH
  32. 1.1.6.3. R. SOFYAN ATS SAURI / YUSUF
  33. 1.1.6.4. R. ARIFIN
  34. 2.1.1.1. R.H. SOLEH SURODIMENGGOLO (Ciomas)
  35. 2.1.1.2. R.H. UMAR SURIODIRDJO (Ciomas)
  36. 2.1.1.3. R.H. MUSA SUMODIRDJO Ciomas)
  37. 2.1.1.4. R.H. EMBIH SASTRODIRDJO
  38. 2.1.2.1. R.H. ICAN SUROMENGGOLO (Ciomas)
  39. 2.1.2.2. NYI. R. AMOE (Ciomas)
  40. 2.1.2.3. R.H. ARJOMENGGOLO (Ciomas)
  41. 2.1.3.1. R.H. MOH. SYAFEI (Ciomas)
  42. 2.1.3.2. R.H. JAMSARI ADIMENGGOLO (Ciomas)
  43. 2.1.4.1. NYI Rd.Hj. ENUNG (Loji)
  44. 2.2.1.1. R.H. KURAESIN
  45. 2.2.1.2. R.H. ADJID MANGKUWIJAYA
  46. 2.2.1.3. R.H. MUH. ISA (Ciomas)
  47. 2.2.6.1. R.H. PANJI
  48. 2.2.6.2. R.H. PANDU
  49. 2.2.6.3. R.H. HASAN
  50. 2.2.6.4. R.H. KURAESIN
  51. 2.2.7.1. NYI Rd. Hj. RATNA KANCANA (Ciomas) <menikah dengan> Ir. H. MARAH ROESLI (Pujangga Nasional
  52. 2.2.8.1. R.H. ACO UMAR
  53. 2.2.9.1. Rd.H. YASIN WINATADIREDJA (Enceng)
  54. 2.2.9.2. NYI Rd.Hj. SITI RAHMAT (Titi)
  55. 2.2.9.3. Rd.H. TATANG MUCHTAR (Ciluar)
  56. 2.2.9.4. NYI Rd. ICHA AISYAH (Di Belanda sejak 1935)
  57. 2.3.6.1. Drs.H.R. MANSYUR
  58. 2.3.6.2. H.R. SANUSI (Gunung Batu)
  59. 2.3.6.3. Drs.H.R. ENTJEP WAHAB (Jakarta)
  60. 3.1.1.1. R. DR. HARTO PURWOWASONO DIPONEGORO / P. GRINGSING IV (Magetan)
  61. 4.1.1.1. NYI Rd. HJ. S. AISYAH
  62. 4.1.1.2. NYI Rd. HJ. INA
  63. 4.1.1.3. NYI Rd. HJ. SITI
  64. 4.1.1.4. Rd. H. MARANA
  65. 4.1.1.5. NYI Rd. HJ. ARISAH
  66. 4.1.1.6. Rd. H. BARNAS SINTOMENGGOLO
  67. 4.1.1.7. NYI Rd. HJ. UTI
  68. 4.1.1.8. NYI Rd. HJ. UTA
  69. 4.1.1.9. NYI Rd. HJ. HATIMAH
  70. 4.1.1.10.Rd. H. SIDIQ SINTOMENGGOLO
  71. 4.2.1.1. Rd. H. KARTA
  72. 4.2.1.2. NYI Rd. HJ. JUHA
  73. 4.2.1.3. Rd. H. DARMA
  74. 4.2.1.4. Rd. H. DARNA
  75. 4.3.1.1. R.H. ENTUNA PARTAWIJAYA
  76. 4.3.2.1. R.H. PRAWIRA SOMANTRI
  77. 5.1.1.1. R. ABDUL LATIF
  78. 5.1.1.2. R. ARMANI
  79. 5.1.1.3. NYI Rd. JENAB
  80. 5.1.1.4. R. MURNAS
  81. 5.1.1.5. R. ABDURROHIM
  82. 5.1.1.6. R. ABDURROHMAN

JONET-35C.JPEG
16810/5 <87+82!> < 5. Raden Mas Roub / Raden Mas Raab (Pangeran Hasan)
lahir: 1816, Solo
wafat: 1894, Wanagopa, Tegal
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Raden Mas Roub/Raib/Raab/Pangeran Hasan 1816

Adalah adik kandung Raden Mas Joned. Usianya sekitar sembilan tahun ketika mengikuti ayahnya dalam medan perang. Bersama kakaknya dia ikut merasakan bagaimana kehidupan dalam pengungsian. Raden Mas Roub selalu mengikuti perjalanan ayahnya dalam medan perang. Selain karena putera dari isteri permaisuri kedua, Pangeran Diponegoro menyiapkan Raden Mas Roub agar kelak sebagai seorang pemimpin agama. Sampai di sini dapat dijelaskan bahwa ada 4 (empat) putera Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Ambon. Pada buku The Power of Prophecy tulisan Peter F Carey halaman 746 dijelaskan bahwa pada akhir tahun 1848 Pangeran Diponegoro menanyakan kepada gubernur jenderal di Makassar perihal tiga anaknya yaitu Pangeran Dipokusumo, Raden Mas Raib serta Pangeran Diponingrat yang diberitakan mengalami sakit tekanan jiwa. Pangeran Diponegoro juga menanyakan anaknya yang tertua yang mengalami pembuangan di Sumenep pada tahun 1834 setelah memberontak di Kedu, dan belum pernah berkirim kabar.

Segudang Misteri dari Dukuh Wanagopa (27 Maret 2015)

Dukuh Wanagopa terletak di Desa Kreman, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal. Berjarak ± 4,5 KM di barat daya pusat Kecamatan Warureja. Dukuh Wanagopa juga berada di perbatasan antara Kecamatan Warureja dan Suradadi. Letak yang strategis dengan tiga sungai yang mengalir di dalamnya, antara lain : Sungai Kunci, Sungai Pedati, dan Sungai Jimat, membuat mayoritas penduduk Dukuh Wanagopa memilih bekerja sebagai petani.

Dukuh Wanagopa memiliki salah satu peninggalan sejarah yaitu Makam Kyai Hasan atau yang dikenal warga setempat dengan nama Mbah Wana. Menurut sejarah, Kyai Hasan merupakan anak kedua dari Pangeran Diponegoro dari istri keempatnya, yaitu Raden Ayu Manduretno. Kyai Hasan memiliki nama lain Raden Mas Raib atau Pangeran Hasan. Pada saat perang Diponegoro berlangsung Kyai Hasan berumur 9 tahun, beliau sering membantu ayah dan kakak kandungnya yang bernama Mas Joned. Akhirnya mereka ditangkap oleh pihak Belanda pada tanggal 18 Maret 1830 dan diasingkan ke Ambon. Namun pada tahun 1848, Kyai Hasan pun kembali ke tanah Jawa atas seizin Van den Bosch, kemudian beliau mengembara sembari menyebarkan agama Islam di sekitar lereng Gunung Slamet, dan sampailah di sebuah Desa yang ketika itu sudah dibangun oleh Mbah Ibrohim seorang pendatang dari Desa Bumiharja pada tahun 1870. Kemudian desa itu diberi nama Wanagopa. Menurut Bapak Abdul Salam, S.Ag sejarawan wanagopa mengatakan bahwa Wanagopa berasal dari dua kata yaitu Wana dan Gopak. Wana berarti hutan dan Gopak berarti petak, jadi disimpulkan bahwa Wanagopa dibuat dengan menebang hutan secara berpetak-petak. Selain itu nama Wanagopa merupakan bentuk penghargaan Mbah Ibrohim kepada Kyai Hasan/Mbah Wana. Disisa hidupnya Kyai Hasan menghabiskan waktunya dengan mendekatkan diri pada Allah. Pada tahun 1896-an beliau wafat dan dimakamkan di Dukuh Wanagopa, Desa Kreman, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal. Tetapi beberapa pihak mengatakan bahwa Kyai Hasan meninggal di Panggung Tegal. Namun kenyataannya, makam Kyai Hasan sendiri berada di Dukuh Wanagopa, Desa Kreman.
Hbv2.jpg
15711/5 <83+69> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono V / Gusti Raden Mas Gathot Menol [Hb.4.6] (Sinuhun Menol)
lahir: 24 Januari 1820, Yogyakarta
perkawinan: <104> < Gusti Kanjeng Ratu Sultan [Gp.Hb.6.2] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng (Roromunting)
perkawinan: <105> < Kanjeng Mas Hemawati
perkawinan: <106> < Bendoro Raden Ayu Panukmowati [Ga.Hb.5.2]
perkawinan: <107> < Bendoro Raden Ayu Dewaningsih [Ga.Hb.5.1]
perkawinan: <108> < Bendoro Raden Ayu Retno Sriwulan [Ga.Hb.5.3]
gelar: 19 Desember 1823 - 17 Agustus 1826, Yogyakarta, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana V Senopati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid'din Panatagama Khalifatu'llah Ingkang Jumeneng Kaping V
gelar: 17 Januari 1828 - 5 Juni 1855, Yogyakarta, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana V Senopati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid'din Panatagama Khalifatu'llah Ingkang Jumeneng Kaping V
perkawinan: <115!> < Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradinah [Gp.Hb.5.1]
gelar: 1839, Yogyakarta, Letnan Kolonel
gelar: 1847, Yogyakarta, Kolonel
perceraian: <115!> < Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradinah [Gp.Hb.5.1]
perkawinan: <161!> < Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton [Hb.3.2.22] / Bendoro Raden Ayu Andaliya [Gp.Hb.5.2] b. 1834 d. 25 Mei 1919, Yogyakarta
wafat: 5 Juni 1855, Imogiri, Astana Besiyaran
Sri Sultan Hamengkubuwana V (Bahasa Jawa:Sri Sultan Hamengkubuwono V, lahir: 20 Agustus 1821 – wafat: 1855) adalah sultan kelima Kesultanan Yogyakarta, yang berkuasa tanggal 19 Desember 1823 - 17 Agustus 1826, dan kemudian dari 17 Januari 1828 - 5 Juni 1855 yang diselingi oleh pemerintahan Hamengkubuwana II karena ketidakstabilan politik dalam Kesultanan Yogyakarta saat itu.

Riwayat pemerintahan Nama asli Sri Sultan Hamengkubuwana V adalah Raden Mas Mustoyo, putra Hamengkubuwana IV yang lahir pada tanggal 20 Agustus 1821. Sewaktu dewasa ia bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia juga pernah mendapat pangkat Letnan Kolonel tahun 1839 dan Kolonel tahun 1847 dari pemerintah Hindia Belanda.Melihat tahun pemerintahannya dimulai tahun 1823 sedang lahirnya adalah tahun 1821 maka Sultan Hamengku Buwono V waktu permulaan bertahta berumur 2 (dua) tahun.

Hamengkubuwana V sendiri mendekatkan hubungan Keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Hindia-Belanda yang berada di bawah Kerajaan Belanda, untuk melakukan taktik perang pasif, dimana ia menginginkan perlawanan tanpa pertumpahan darah. Sri Sultan Hamengkubuwana V mengharapkan dengan dekatnya pihak keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Belanda akan ada kerjasama yang saling menguntungkan antara pihak keraton dan Belanda, sehingga kesejahteraan dan keamanan rakyat Yogyakarta dapat terpelihara.

Kebijakan Hamengkubuwana V tersebut ditanggapi dengan tentangan oleh beberapa kanjeng abdi dalem dan adik Sultan HB V sendiri, yaitu Raden Mas Ariojoyo (nantinya Hamengkubuwana VI). Mereka menganggap tindakan Sultan HB V adalah tindakan yang mempermalukan Keraton Yogyakarta sebagai pengecut, sehingga dukungan terhadap Sultan Hamengkubuwana V pun berkurang dan banyak yang memihak adik sultan untuk menggantikan Sultan dengan Raden mas Ariojoyo.

Keadaan semakin menguntungkan Raden Mas Ariojoyo setelah ia berhasil mempersunting putri Kesultanan Brunai dan menjalin ikatan persaudaraan dengan Kesultanan Brunai. Kekuasaan Sultan Hamengkubuwana V semakin terpojok setelah timbul konflik di dalam tubuh keraton yang melibatkan istri ke-5 Sultan sendiri, Kanjeng Mas Hemawati. Sri Sultan Hamengkubuwana V hanya mendapatkan dukungan dari rakyat yang merasakan pemerintahan yang aman dan tenteram selama masa pemerintahannya.

Sri Sultan Hamengkubuwana V wafat pada tahun 1855 dalam sebuah peristiwa yang hanya sedikit diketahui orang, peristiwa itu dikenal dengan wereng saketi tresno ("wafat oleh yang dicinta"), Sri Sultan meninggal setelah ditikam oleh istri ke-5-nya, yaitu Kanjeng Mas Hemawati, yang sampai sekarang tidak diketahui apa penyebab istrinya berani membunuh Sri Sultan suaminya.[2]

Ketika insiden pembunuhan itu terjadi, permaisuri Sultan HB V yakni Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, sedang hamil tua. 13 hari pasca sultan tewas, lahirlah anak yang dikandungnya itu dan seharusnya menjadi penerus tahta Yogyakarta. Putra mahkota Sultan HB V tersebut diberi nama Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad.

https://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_V

Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono V Salah satu mahakarya yang lahir di era beliau adalah Serat Makutha Raja. Di dalamnya memuat tentang prinsip-prinsip dasar menjadi raja yang baik. Dari karya ini dapat dilihat visi ke depan Sultan Hamengku Buwono V yang sangat memihak kepada rakyat.

Serat Makutho Raja ini pula yang nantinya menjadi pedoman bagi raja-raja selanjutnya, dan juga menjadi rujukan bagi pemimpin-pemimpin di luar keraton. Serat Makutho Raja ini kurang lebih mengandung nasehat-nasehat dari Kitab Tajussalatin.

Kitab Tajussalatin diterjemahkan di era Sri Sultan Hamengku Buwono V. Kemudian lahir pula karya lain seperti Suluk Sujinah, Serat Syeh Tekawardi dan Serat Syeh Hidayatullah.

Sri Sultan Hamengku Buwono V juga menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap kegiatan-kegiatan seni, terutama seni tari. Beliau memimpin sendiri komunitas tari di istana. Bahkan, beberapa sumber juga mengatakan ia turut menjadi penari.

Disamping tarian, Sri Sultan Hamengku Buwono V memprakarsai Gendhing Gati yang memadukan alat musik diatonis seperti terompet, trombon, suling dan jenis drum atau tambur dengan karawitan Jawa. Gendhing Gati ini lazimnya digunakan dalam gerak Kapang-Kapang pada tari Bedaya atau Serimpi, yaitu komposisi ketika masuk atau keluar dari ruang tari.

Pada era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V juga terdapat keunikan-keunikan lain dalam pelembagaan tari. Beliau membentuk kelompok penari Bedaya yang biasanya ditarikan oleh para penari wanita, digantikan oleh sekelompok penari laki-laki yang disebut kelompok Bedaya Kakung.

Karya seni tari lain yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono V adalah Tari Serimpi Renggawati yang ditarikan oleh lima orang penari, yang salah satunya berperan sebagai Dewi Renggawati. Jalan cerita tari ini menggambarkan kisah Prabu Anglingdarma.

Selain itu, Sri Sultan Hamengku Buwono V juga mengembangkan seni wayang orang. Pada masanya tak kurang dari lima judul lakon yang sering dipertunjukkan yakni Pragulamurti, Petruk Dadi Ratu, Angkawijaya Krama, Jaya Semedi dan Pregiwa-Pregiwati.

Media:https://www.kratonjogja.id/raja-raja/6/sri-sultan-hamengku-buwono-v
Face HB VI.JPG
15812/5 <83+69> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VI / Gusti Raden Mas Mustojo [Hb.4.12] (Sinuhun Mangkubumi)
Sri Sultan Hamengkubuwana VI (Bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwono VI, lahir: 1821 – wafat: 20 Juli 1877) adalah sultan ke-enam Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1855 – 1877. Dia menggantikan kakaknya, Hamengkubuwana V yang meninggal di tengah ketidakstabilan politik dalam tubuh Keraton Yogyakarta.

Riwayat Pemerintahan Nama asli Sultan Hamengkubuwana VI adalah Raden Mas Mustojo, putra Hamengkubuwana IV yang lahir pada tahun 1821.

Hamengkubuwana VI naik takhta menggantikan kakaknya, yaitu Hamengkubuwana V pada tahun 1855, setelah Hamengkubuwana V meninggal secara misterius. Pada masa pemerintahannya terjadi gempa bumi yang besar yang meruntuhkan sebagian besar Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Tugu Golong Gilig, Masjid Gede (masjid keraton), Loji Kecil (sekarang Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta) serta beberapa bangunan lainnya di Kesultanan Yogyakarta.

Pada masa Hamengkubuwana V, Raden Mas Mustojo adalah seorang penentang keras kebijakan politik perang pasif kakaknya yang menjalankan hubungan dekat dengan pemerintahan Hindia-Belanda yang ada di bawah Kerajaan Belanda. Namun setelah kakaknya meninggal dan dia dinobatkan menjadi Hamengkubuwana VI, semasa pemerintahannya dia justru melanjutkan kebijakan dari kakaknya yang sebelumnya dia tentang keras.

Semasa pemerintahan Hamengkubuwana VI kemudian mulai timbul pemberontakan-pemberontakan yang tidak mengakui masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VI, namun pemberontakan-pemberontakan tersebut dapat diredam dan dibersihkan. Hal ini berkat kepemimpinan dan ketangguhan Danuredjo V, patih Keraton Yogyakarta saat itu. Hubungan dengan berbagai kerajaan pun terjalin kuat pada masa pemerintahan HB VI, apalagi setelah dia menikah dengan putri Kesultanan Brunai.

Walaupun sempat menimbulkan beberapa sengketa dengan kerajaan-kerajaan lain, tercatat bahwa Sultan HB VI dapat mengatasinya dengan arif bijaksana. Tapi lambat laun hubungan dengan pemerintahan Hindia-Belanda agak mulai menuai konflik tertama karena keraton Yogyakarta kala itu banyak menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang menjadi musuh pemerintah Hindia-Belanda dan Kerajaan Belanda.

Pemerintahan Hamengkubuwana VI berakhir ketika ia meninggal dunia pada tanggal 20 Juli 1877. Ia digantikan putranya sebagai sultan selanjutnya bergelar Hamengkubuwana VII.
19413/5 <122> < 4. Raden Mas Haryo Madyowijoyo / Muhammad Irfan Ba'abud Madyowijoyo
lahir: 1827
wafat: 1902
IKPD-1.jpg
17616/5 <82+57> < 13. Raden Mas Sarkuma
lahir: 1834
wafat: 1849
Gkr hemas1.jpg
18722/5 <113+384!> < Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Hb.7.61]
perkawinan: <119> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X / Sunan Panutup (Raden Mas Malikul Kusno) b. 29 November 1866 d. 1 Februari 1939, Yogyakarta
wafat: 28 Mei 1944
15923/5 <85> < R. Pangulu Kamaludiningrat
Official Link. Adm: Ir H Hilal Achmar.

Sebagai pecahan kerajaan Islam Mataram, Keraton Yogyakarta mempunyai abdi dalem (pegawai) yang khusus mengurusi soal keagamaan. Pegawai khusus keagamaan ini disebut pegawai kepenguluan. Oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, para pegawai kepenguluan diberi tempat khusus, yakni dekat Masjid Agung Kesultanan.

Kepenguluan berfungsi sebagai lembaga yang mengurusi keagamaan sekaligus berfungsi semacam Dewan Daerah. Kepenguluan dipimpin oleh seorang dengan jabatan penghulu. Semua petugas di bawah pimpinan penghulu ini sering disebut sebagai abdi dalem putihan, yakni orang-orang yang ahli dalam agama. Khusus masalah kemasjidan, tetap dibawah koordinasi penghulu dengan dibantu oleh ketib (khatib) yang terdiri dari sembilan. Semua khatib berfungsi sederajat, sebagai imam shalat dan pengajar agama kecuali khatib anom, jabatan wakil penghulu yang berfungsi menggantikan jabatan penghulu suatu saat bila penghulu wafat.

Oleh pihak Kraton, para abdi dalem Kepenguluan ini diberi tanah `gaduhan'. Semacam tanah tinggal dinas yang berlokasi di dekat Masjid Agung. Oleh Kraton, tanah perkampungan para abdi dalem putihan dan para pegawai keagamaan didekat masjid inilah yang kemudian dijuluki dengan sebutan pakauman, diambil dari kata Qoimuddin (orang yang menjalankan agama). Belakangan, nama pakauman lebih dikenal dengan sebutan Kauman.

Para khatib itu kemudian mendirikan pusat kegiatan pendidikan keagamaan bernama langgar (mushola). Setiap khatib memiliki satu langgar. Langgar para khatib inilah yang menyelenggarakan berbagai bentuk keagamaan seperti pengajian.
16024/5 <86+80> < Raden Ayu Gondokusumo
Hilal Achmar Link
16525/5 <88+79> < Raden Mas Tumenggung Adipati Tjokroadisoerjo
16626/5 <85> < R. Ay. Imanadi
Official Link. Adm: Ir H Hilal Achmar Suaminya bernama KH Imanadi
IKPD-1.jpg
16927/5 <82+56> < 6. Raden Ayu Impun / Raden Ayu Basah Mertonegoro
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


R.A Impun/R.A. Basah Mertonegoro

Raden Ayu Impun adalah puteri Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Retnodewati. Ketika perang Diponegoro mulai pecah, Raden Ayu Impun dinikahkan dengan kakak Sentot Prawiro Dirjo yang bernama Raden Abdul Kamil Alibasyah yang juga merupakan pejuang Pangeran Diponegoro yang bertugas bergerilya di wilayah Barat Sungai Progo. Raden Abdul Kamil Alibasyah kemudian diberikan gelar Notodirjo dan diberikan kedudukan setingkat tumenggung dan biasa dipanggil raden Basah.

Setelah Raden Abdul Kamil tewas dalam peperangan, kemudian dinikahi oleh Tumenggung Mertonegoro atau Jayapermadi anak laki-laki tertua Patih Danurejo II sehingga terkenal dengan nama Raden Ayu Basah Mertonegoro.
IKPD-1.jpg
17028/5 <82+60> < 7. Raden Ayu Joyokusumo
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


R.A. Joyokusumo

Nama sebenarnya tidak diketahui dan tidak pernah tersurat dalam Babad Diponegoro. R.M.Joyokusumo adalah anak Raden Ngabehi Joyokusumo, paman Pangeran Diponegoro. Raden Ngabehi Joyokusumo adalah salah satu pengatur strategi perang. Baik Raden Ngabehi Joyokusumo maupun Raden Mas Joyokusumo tewas di tangan Belanda pada pertempuran di tepi sungai Bogowonto di dusun Sengir.

Atas permintaan Pangeran Diponegoro melalui surat yang ditulis bulan Mei 1830 di Batavia, R.A Joyokusumo dinikahkan dengan Basah Gondokusumo, adik Basah Mertonegoro. Surat tersebut ditujukan kepada Diponegoro Anom. Dalam surat tersebut Pangeran Diponegoro menyarankan apabila ada masalah agar mengadu pada Kapten Johan Jacob Roeps. Dalam surat tersebut Pangeran Diponegoro menuliskan bahwa dia menaruh kepercayaan besar pada kapten Roeps berkaitan dengan nasib anak-anaknya.
IKPD-1.jpg
17129/5 <82+56> < 8. Raden Ayu Munteng / Raden Ayu Gusti (Raden Ayu Siti Fadilah)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


R.A Munteng/R.A Gusti/RA. Siti Fadilah/Nyai Musa

Dalam sebuah penyergapan Belanda di Kreteg daerah Kedu Utara Ibu Pangeran Diponegoro tertangkap bersama RA. Gusti. Mereka terpisah dari rombongan ketika perang di Bagelen. Kedunya lalu diserahkan ke Kasultanan Yogyakarta dan menjalani kehidupan di kraton. Dalam perjalanan terpisah dari rombongan itu mereka mendapat bantuan dari Kyai Setrodrono ayah Kyai Musa seorang ulama di wilayah Merden yang masih keturunan dari keluarga besar Danurejan.
18535/5 <84> < Kanjeng Pangeran Haryo Suryaningrat
18636/5 <100> < Kanjeng Raden Tumenggung Purwodiningrat [Hb.3.14.3] 18837/5 <136> < Kanjeng Pangeran Haryo Purwonegoro / Kanjeng Pangeran Haryo Purbokusumo 18938/5 <113+384!> < Gusti Kanjeng Ratu Chondrokirono II [Hb.7.54] 19039/5 <110> < Raden Mas Notodiksono
19140/5 <122+?> < 1. Raden Mas Haryo Wongsodipuro
19241/5 <122> < 2. Raden Ayu Ali Alatas
19342/5 <122> < 3. Raden Mas Haryo Kusumoatmojo
19743/5 <123+?> < Mas Ayu Loano
19844/5 <88+79> < Raden Ayu Djojoatmojo
19945/5 <90> < Raden Ayu Glenter [Hb.3.2.1]
20046/5 <90> < Raden Mas Santog [Hb.3.2.2]
20147/5 <90> < Raden Mas Suryonegoro [Hb.3.2.3]
20248/5 <90> < Raden Ayu Bahusosro [Hb.3.2.4]
20349/5 <90> < Raden Ayu Basah Prawirokusumo [Hb.3.2.5]
20450/5 <90> < Raden Ayu Diponegoro [Hb.3.2.6]
20551/5 <90> < Kanjeng Pangeran Haryo Basah Abdul Fatah Kusumonegoro [Hb.3.2.7]
20652/5 <90> < Raden Ayu Pusponegoro [Hb.3.2.8]
20753/5 <90> < Raden Mas Rio Suryotaruno [Hb.3.2.9]
20854/5 <90> < Raden Mas Lurah [Hb.3.2.10]
20955/5 <90> < Raden Mas Rio Suryoatmojo [Hb.3.2.11]
21056/5 <90> < Raden Ayu Sentotprawirodirjo [Hb.3.2.12] 21157/5 <90> < Kanjeng Raden Tumenggung Kusumonegoro [Hb.3.2.13]
21258/5 <90> < Raden Ajeng Berek [Hb.3.2.14]
21359/5 <90> < Raden Mas Rio Kusumowijoyo [Hb.3.2.15]
21460/5 <90> < Raden Ayu Glentok [Hb.3.2.16]
21561/5 <90> < Raden Ayu Menik [Hb.3.2.17]
21662/5 <90> < Raden Ayu Jogoharjo [Hb.3.2.18]
21763/5 <90> < Raden Ayu Sabit [Hb.3.2.19]
21864/5 <90> < Raden Mas Danuwiryo [Hb.3.2.20]
21965/5 <90> < Raden Mas Tumenggung Kusumodiningrat [Hb.3.2.21]
22066/5 <90> < Raden Mas Puspoasmoro [Hb.3.2.23]
22167/5 <90> < Raden Ayu Projodirjo [Hb.3.2.24]
22268/5 <90> < Raden Ayu Kusumodipuro [Hb.3.2.25]
22369/5 <90> < Raden Mas Kusumodirejo [Hb.3.2.26]
22470/5 <90> < Raden Ayu Mangunatmojo [Hb.3.2.27]
22571/5 <90> < Raden Mas Joyosaputro [Hb.3.2.28]
22672/5 <90> < Raden Mas Kusumodipuro [Hb.3.2.29]
22773/5 <90> < Raden Mas Suro [Hb.3.2.30]
22874/5 <83+76> < Bendoro Pangeran Haryo Suryonegoro [Hb.4.17]
22975/5 <83+69> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hanom Hamengkunegoro [Hb.4.1]
23076/5 <83+70> < Bendoro Raden Mas Tritrustho [Hb.4.2]
23177/5 <83+70> < Bendoro Raden Mas (No Name) [Hb.4.3]
23278/5 <83+70> < Bendoro Raden Mas (No Name) [Hb.4.4]
23379/5 <83+72> < Bendoro Raden Ayu Danurejo [Hb.4.8] 23480/5 <91> < Kanjeng Pangeran Haryo Suryobronto [Hb.3.3.1]
23581/5 <91> < Raden Ayu Dipokusumo [Hb.3.3.2]
23682/5 <91> < Kanjeng Raden Tumenggung Poncokusumo [Hb.3.3.3]
23783/5 <91> < Raden Mas Darsono [Hb.3.3.4]
23884/5 <91> < Raden Ayu Danukusumo [Hb.3.3.5]
23985/5 <91> < Raden Rio Purwokusumo [Hb.3.3.6]
24086/5 <91> < Raden Ayu Notoatmojo [Hb.3.3.7]
24187/5 <92+82> < Raden Ayu Rio Danukusumo [Hb.3.4.1]
24288/5 <92+82> < Raden Ayu Resosentono [Hb.3.4.2]
24389/5 <92+82> < Raden Ayu Adipati Danurejo [Hb.3.4.3] 24490/5 <92+82> < Raden Ayu Reksonegoro [Hb.3.4.4]
24591/5 <92+82> < Raden Mas Mertowijoyo [Hb.3.4.5]
24692/5 <92+82> < Raden Mas Hakekat [Hb.3.4.6]
24793/5 <93+83> < Raden Lurah Ronowinoto [Hb.3.5.1]
24894/5 <93+83> < Raden Ayu Somonegoro [Hb.3.5.2]
24995/5 <93+83> < Raden Ayu Joyoprayitno [Hb.3.5.3]
25096/5 <93+83> < Raden Ayu Pekih Brahum [Hb.3.5.5]
25197/5 <93+83> < Raden Ayu Prawirodilogo [Hb.3.5.6]
25298/5 <96> < Raden Lurah Mangkudiprojo [Hb.3.8.1]
25399/5 <86+80> < Raden Ayu Cokrodiwiryo [Hb.3.10.1]
254100/5 <86+80> < Raden Ayu Atmokusumo [Hb.3.10.3]
255101/5 <86+80> < Raden Mas Mangunnegoro [Hb.3.10.4]
256102/5 <97+85> < Raden Ayu Riyokusumo [Hb.3.12.1]
257103/5 <97+85> < Raden Ayu Rio Prawiroatmojo [Hb.3.12.2]
258104/5 <99> < Raden Ayu Sosrokusumo [Hb.3.13.1]
259105/5 <99> < Raden Mas Puspohadisosro [Hb.3.13.2]
260106/5 <100> < Raden Ayu Sindunegoro [Hb.3.14.1]
261107/5 <100> < Raden Ayu Mangkuwinoto [Hb.3.14.2]
262108/5 <100> < Kanjeng Raden Tumenggung Sosromenduro [Hb.3.14.4]
263109/5 <100> < Raden Bagus Mangkurejo [Hb.3.14.5]
264110/5 <100> < Raden Ayu Danudimejo [Hb.3.14.6]
265111/5 <100> < Raden Lurah Kertoatmojo [Hb.3.14.7]
266112/5 <101+86> < Raden Ayu Sindudiprojo [Hb.3.15.1]
267113/5 <101+86> < Raden Mas Notowijoyo [Hb.3.15.2]
268114/5 <103> < Raden Ayu Gondowedoyo [Hb.3.17.1]
269115/5 <103> < Raden Rio Notoatmojo [Hb.3.17.2]
270116/5 <103> < Raden Ayu Manyar [Hb.3.17.3]
271117/5 <106+90> < Raden Ayu Suryonegoro [Hb.3.20.1]
272118/5 <106+90> < Raden Rio Joyowinoto [Hb.3.20.2]
273119/5 <106+90> < Raden Mas Atmowinoto [Hb.3.20.3]
274120/5 <106+90> < Raden Mas Yudowinoto [Hb.3.20.4]
275121/5 <108> < Raden Lurah Sumodipuro [Hb.3.22.1]
276122/5 <108+91> < Raden Bagus Sumoatmojo [Hb.3.22.2]
277123/5 <127+94> < Raden Mas Ambiyo [Hb.3.29.1]
278124/5 <127+94> < Raden Mas Koci [Hb.3.29.2]
279125/5 <128+95> < Raden Lurah Mangkupermadi [Hb.3.30.1]
280126/5 <129+96> < Raden Ayu Tirtoatmojo [Hb.3.31.1]
281127/5 <129+96> < Raden Ayu Somodimejo [Hb.3.31.2]
282128/5 <129+96> < Raden Ayu Joyowirono [Hb.3.31.3]
283129/5 <129+96> < Raden Mas Kadiran [Hb.3.31.4]
284130/5 <130+97> < Kanjeng Raden Tumenggung Wiryokusumo [Hb.3.32.1]
285131/5 <130+97> < Raden Ayu Brojoatmojo [Hb.3.32.2]
286132/5 <130+97> < Raden Ngabehi Dipowedono [Hb.3.32.3]
287133/5 <130+97> < Raden Panji Sutomenggolo [Hb.3.32.4]
288134/5 <130+97> < Raden Bagus Prawiroatmojo [Hb.3.32.5]
289135/5 <105+89> < Raden Ayu Sosrowinoto [Hb.3.19.1]
290136/5 <105+89> < Raden Bagus Mangunsuro Wibowo [Hb.3.19.2]
291137/5 <105+89> < Bendoro Raden Ayu Susilowaty [Hb.3.19.3]
292138/5 <83+70> < Bendoro Raden Mas Sunadi [Hb.4.7]
293139/5 <83+73> < Bendoro Raden Ayu Nitinegoro [Hb.4.9] 294140/5 <83+74> < Bendoro Pangeran Haryo Suryodinigrat [Hb.4.10] / Bendoro Pangeran Hangabehi
295141/5 <83+77> < Bendoro Raden Ayu Mutoinah [Hb.4.15]
296142/5 <83+72> < Bendoro Raden Mas Samadikun [Hb.4.18]
297143/5 <83+76> < Bendoro Pangeran Haryo Maloyokusumo [Hb.4.17]
298144/5 <83+76> < Bendoro Raden Mas Pringadi [Hb.4.16]
299145/5 <83+77> < Bendoro Raden Ayu Jayaningrat [Hb.4.11] 300146/5 <83+71> < Bendoro Raden Ayu Gusti Maduretno [Hb.4.5] 301147/5 <83+69> < Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton [Hb.4.14]
302148/5 <107> < Raden Ayu Mangun Broto [Hb.3.25.1]
303149/5 <107> < Raden Ayu Joyopertomo [Hb.3.25.2]
304150/5 <107> < Raden Rio Prawirodiningrat [Hb.3.25.3]
305151/5 <107> < Raden Mas Ngusman [Hb.3.25.4]
306152/5 <107> < Raden Ayu Brotoprawiro [Hb.3.25.5]
307153/5 <107> < Raden Ayu Brotoatmojo [Hb.3.25.6]
308154/5 <107> < Raden Ayu Riyokusumo [Hb.3.25.7]
309155/5 <107> < Raden Mas Salim [[Hb.3.25.8]
310156/5 <107> < Raden Ayu Suratinah [Hb.3.25.9]
311157/5 <107> < Raden Mas Surojo [Hb.3.25.10]
312158/5 <107> < Raden Ajeng Surati [Hb.3.25.11]
313159/5 <107> < Raden Ajeng Satinah [Hb.3.25.12]
314160/5 <107> < Raden Mas Salikin [Hb.3.25.13]
315161/5 <107> < Raden Ajeng Asiyah [Hb.3.25.14]
316162/5 <107> < Raden Ajeng Satijah [Hb.3.25.15]
317163/5 <125> < Raden Rio Purwodipuro [Hb.3.26.1]
318164/5 <125> < Raden Ayu Mangkudilogo [Hb.3.26.2]
319165/5 <125> < Raden Mas Setap [Hb.3.26.3]
320166/5 <125> < Raden Mas Karjan [Hb.3.26.4]
321167/5 <125> < Raden Ayu Murtejaningrum [Hb.3.26.5]
322168/5 <125> < Raden Mas Agung [Hb.3.26.6]
323169/5 <126> < Raden Rio Suryadi [Hb.3.27.1]
324170/5 <126> < Raden Ayu Prawiroatmojo [Hb.3.27.2]
325171/5 <126> < Raden Ayu Suronegoro [Hb.3.27.3]
326172/5 <126> < Raden Ayu Honggowongso [Hb.3.27.4]
327173/5 <126> < Raden Ayu Kusumowinoto [Hb.3.27.5]
328174/5 <126> < Raden Ayu Sastrowijoyo [Hb.3.27.6]
329175/5 <126> < Raden Ayu Notohamiprojo [Hb.3.27.7]
330176/5 <126> < Raden Ajeng Saparinah [Hb.3.27.8]
331177/5 <110> < Raden Ayu Danupernoto [Hb.3.28.1]
332178/5 <110> < Raden Ayu Puspodirojo [Hb.3.28.2]
333179/5 <110> < Raden Ayu Pusposenjoyo [Hb.3.28.3]
334180/5 <110> < Raden Ayu Tirtodimejo [Hb.3.28.4]
335181/5 <110> < Raden Ayu Joyowinoto [Hb.3.28.5]
336182/5 <110> < Raden Ayu Prawirowecono [Hb.3.28.6]
337183/5 <110> < Raden Mas Pusporejuno [Hb.3.28.7] / Raden Rio Notobroto
338184/5 <110> < Raden Ayu Mangunprawiro [Hb.3.28.8]
339185/5 <110> < Raden Mas Notodilogo [Hb.3.28.9]
340186/5 <110> < Raden Ayu Resowirono [Hb.3.28.10]
341187/5 <110> < Raden Mas Kusumodilogo [Hb.3.28.12]
342188/5 <110> < Raden Mas Sumarjo [Hb.3.28.13] / Raden Bagus Mangundigdo
343189/5 <110> < Raden Ajeng Saparinah [Hb.3.28.14]
344190/5 <110> < Raden Mas Murtijan [Hb.3.28.15] / Raden Mas Mukri
345191/5 <110> < Raden Ajeng Soblem [Hb.3.28.16]
346192/5 <110> < Raden Ajeng Katijah [Hb.3.28.17]
347193/5 <83+75> < Bendoron Raden Ayu Suryoatmojo [Hb.4.13] 350196/5 <111> < Raden Ayu Sosrodipuro [Pa.2.1.1]
351197/5 <132+98> < Raden Ayu Supartmirah [Pa.2.9.1]
352198/5 <132+98> < Raden Mas Suryo Jonokusumo [Pa.2.9.2]
353199/5 <132+98> < Raden Mas Harjowiloyo [Pa.2.9.3]
354200/5 <132+98> < Raden Mas Ario Harjokusumo [Pa.2.9.4] 355201/5 <113+384!+?> < Gusti Kanjeng Ratu Bendoro III [Hb.7.51] 356202/5 <113+384!> < Gusti Raden Ajeng Mursamsilah [Hb.7.44]
358204/5 <113+384!> < Gusti Raden Mas Suhardi [Hb.7.35]
359205/5 <113+384!> < Gusti Pangeran Haryo Notoprojo [Hb.7.31] 361207/5 <84+131!> < Gusti Kanjeng Ratu Timur 362208/5 <155> < Raden Mas Hardjodikromo
363209/5 <88> < Raden Ayu Pringgoloyo I 364210/5 <145> < Raden Mas Adipati Pringgoloyo 365211/5 <84> < Bendoro Raden Mas Suryohudoyo
366212/5 <84> < Kanjeng Pangeran Haryo Purwoseputro
367213/5 <84> < Bendoro Raden Ayu Sosropawiro
368214/5 <84> < Bendoro Raden Mas Haryo Suryokusumo
369215/5 <84> < B.r.m.a. Nototaruno
370216/5 <84> < B. R. A. Notoatmojo
371217/5 <131+84!> < Bendoro Pangeran Haryo Sosroningrat 372218/5 <84> < Bendoro Raden Ayu Notodirjo 373219/5 <146> < Raden Ayu Sariyah Joyodikromo
374220/5 <147> < Raden Tumenggung Atmokusumo II
376221/5 <149> < Raden Mas Ronoduriyo
377222/5 <150> < Raden Mas Tafsir Iman
379223/5 <108+91> < Raden Mas Riyo Surodiningrat
380224/5 <154> < Raden Ngabehi Medarsih 381225/5 <156> < KRT Kertonegoro II
382226/5 <91> < Raden Ayu Djoyosantoso

6

IKPD2.jpeg
4651/6 <174> < Raden Mas Suparna Djajasoemarta
lahir: Diputus Ibunya : 848550 (Karena double dengan 689940
6322/6 <375+101> < Raden Bendoro Prawirotjokro
penguburan: Ngudikan, Wilangan, Nganjuk
Wedana di Gemenggeng (kini Bagor), Nganjuk
IKPD-1.jpg
4153/6 <167+103> < RM. Ngabehi Dipomenggolo / KH. Safawi
lahir: 1831c, Bogor (Jabaru)
perkawinan: <141> < Nyi Mas Ngabey b. 1836c
wafat: 1896, Banten
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

== ASAL-USUL ==

RADEN NGABEHI DIPOMENGGOLO alias KH. SAFAWI, lahir di Jabaru-Bogor sekitar tahun 1833 putra ke 1 dari 
7 bersaudara dari pasangan orang tua RADEN MAS DJONET DIPOMENGGOLO (Generasi ke 2 dari Sultan HB III) dengan 
NYIMAS AYU FATMAH / BUN NIOH (Putri Kapiten Tionghoa dari Marga TAN) dikaruniai 1 orang anak :
1. RM. KH. USMAN BAKHSAN Dipomenggolo
Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA
#1. BPH. Diponegoro
#2. RM. Djonet Dipamenggala
#3. RM. Ngabehi Dipamenggala
 

KETURUNAN

#1. RM. NGABEHI DIPAMENGGALA (C-1833)   
    1.1. RM.KH. USMAN BAKHSAN (Lebakpasar, C-1854)><Nyi Rd Kuraesin (Cucu RA. Mangkuwidjaja, Bupati Bogor tahun 1865-1870)
         1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA (Lebakpasar, C-1877)
                1.1.1.1.  RA.DJUHRO
                1.1.1.2.  RA.DJUHRIAH
                1.1.1.3.  RM.H. RAIS
                1.1.1.4.  RA.Hj. ECIN
                1.1.1.5.  RA.Hj. HALIMAH
                1.1.1.6.  RM. ACEP USMAN
                1.1.1.7.  RA. DJUBAEDAH
                1.1.1.8.  RM. HASBULLOH
                1.1.1.9.  RA.Hj. SITI KHODIJAH
                1.1.1.10. RA.Hj. SITI MUKMINAH
                1.1.1.11. RM.H. MAHBUB
                1.1.1.12. RA.Hj. NENENG MAEMUNAH
                1.1.1.13. RA.Hj. SITI MARIAM (Ibu KARIM/Uwa IIH, Gg. Menteng)
                1.1.1.14. RM.IYAN RIDWAN
                1.1.1.15. RM. IBRAHIM
         1.1.2. RM.H. ABDULGHANI MENGGALA (Lebakpasar, C-1878)
                1.1.2.1.  R.H. YASIN (C-1910
                          1.1.2.1.1. R. ENDUS
                          1.1.2.1.2. R. SALMAH (Encal)
                                     1.1.2.1.2.1.  R. HARUN AL-RASYID
                          1.1.2.1.3. R. SUHANDA (Kang AA)
                          1.1.2.1.4. R. ARSYAD (Kang OO)
                          1.1.2.1.5. R. SUKARNA (Kang UU)
                                     1.1.2.1.5.1.  R. ENEN
                                     1.1.2.1.5.2.  R. DIDING
                                     1.1.2.1.5.3.  R. ENTIN
                          1.1.2.1.6. R. SUKARNI (Kang Ani)
                                     1.1.2.1.6.1.  R. SUKANTA
                          1.1.2.1.7. R. MUTHOLIB (Toto)
                                     1.1.2.1.7.1.  R. DEDI NURTHOLIB (Nunuy)  
                                     1.1.2.1.7.1.  R. IIS  
                                     1.1.2.1.7.1.  R. DEDE
                1.1.2.2.  R.H. ALI
                          1.1.2.2.1.  R.H. JUMENA
                1.1.2.3.  R.H. ABDUL MANAN (Adung)
                          1.1.2.3.1.  R. SASTRA (Caca)
                          1.1.2.3.2.  R. ENOH
                          1.1.2.3.3.  R.H DIDIH
                          1.1.2.3.4.  R. CICIH
                          1.1.2.3.5.  R. SUPARTI
                                      1.1.2.3.5.1. Kang Eddy
                                      1.1.2.3.5.2. R.Pepen Supendi
                                      1.1.2.3.5.3. R.Neni
                                      1.1.2.3.5.4. R.Yeti 
                1.1.2.4.  R.Hj. SUPIAH (Siti)
                          1.1.2.4.1.  R. DJAKA
                                      1.1.2.4.1.1. R. Abdul Kadir (Oding)
                          1.1.2.4.2.  R. ANONG KRAMAATMAJA <menikah dengan> MA. SALMUN RAKYADIKARIA (Pujangga Sunda, asal Banten)
                                      1.1.2.4.2.1. R. Jatayu Wiyati Salmun (Uyu)
                                                   1.1.2.5.2.1.1. R. Riefa Sayyidina
                                                   1.1.2.5.2.1.2. R. Yutimma Dewiaty
                                      1.1.2.4.2.2. R. Yeti
                                      1.1.2.4.2.3. R. Parti
                                      1.1.2.4.2.4. R. Iwan
                                      1.1.2.4.2.5. R. Aas
                                      1.1.2.4.2.6. R. Neni
                                      1.1.2.4.2.7. R. Hedi
                                      1.1.2.4.2.8. R. Ented
                          1.1.2.4.3.  R.Hj. HALIMAH (Emah)
                          1.1.2.4.4.  R.Hj. EMPIN (Rapi'ah)
                          1.1.2.4.5.  R.H. DJAJUSMAN (Jayus)
                          1.1.2.4.6.  R. SOLEH
                1.1.2.5.  R.Hj. ENCUNG
                          1.1.2.5.1.  R. NANI (Eneng)
 
                1.1.2.6.  R.MASDIR. JAYAKUSUMAH (Jaya, C-1911)
                          1.1.2.6.1.  R. JATNIKA JAYAKUSUMAH (Enjat)
                                      1.1.2.6.1.1. R. EDI WAHYUDI
                                                   1.1.2.6.1.1.1.  R. YUDHA
                                                   1.1.2.6.1.1.2.  R. ENENG
                                                   1.1.2.6.1.1.3.  R. TATI
                                                   1.1.2.6.1.1.4.  Rb. MOCH HAPI 
                          1.1.2.6.2.  R. LUKMAN JAYAKUSUMAH (Maman)
                          1.1.2.6.3.  R. NYIMAS TUTI TRISNAWATI JAYAKUSUMAH (Enis)
                                      1.1.2.6.3.1. R. PEPEN RUSPENDI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.1.1.  Rb. YANA RUBIYANA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.1.2.  Rb. AGUSTANJAYA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.1.3.  Rr. NURWINA SEPTI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.1.4.  Rr. RIZKI MELINA DIPONEGORO
                                      1.1.2.6.3.2. R. ENDANG SUHENDAR DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.2.1.  Rr. INESIA VIOLINA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.2.2.  Rb. M. HARPA RAMADHAN DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.2.3.  Rb. M. GITAR RAMADHAN DIPONEGORO
                                      1.1.2.6.3.3. R. SUPRIATINI DIPONEGORO (Tintin)
                                                   1.1.2.6.3.3.1.  R. EKA SANDRA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.3.2.  R. AIDA NANDARA DIPONEGORO
                                      1.1.2.6.3.4. R. LILIH SURYYA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.4.1.  Rb. RANDY ADITYANA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.4.2.  Rr. ALIN NURGIANTY DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.4.3.  Rr. DITA TRIJAYANTI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.4.4.  Rb. IVAN WIRANATA DIPONEGORO
                                      1.1.2.6.3.5. R. MARYATI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.5.1.  Rb. NIKI ADRIAN PURNAMA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.5.2.  Rr. RANTI DWILESTARI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.5.3.  Rb. JODI TRIADI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.5.4.  Rr. GITA SEPTIA PERMATA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.5.5.  Rr. VERDA FAUZIYAH RACHMAN DIPONEGORO
                                      1.1.2.6.3.6. R. DENI SUPRAMANA DIPONEGORO(Wafat 2012)
                          1.1.2.6.4.  R.H. SURYA KUSUMAH (Cecep)
                                      1.1.2.6.4.1. R. Hedi Hadiwinata 
                                                   1.1.2.6.4.1.1.  Rr. Anisa Nurditasari  
                                                   1.1.2.6.4.1.2.  Rb. Muhammad Arditya Hadiwinata
                                      1.1.2.6.4.2. R. Henny Handayani
                                                   1.1.2.6.4.1.1.  Rr. Afifah Rachmalia
                                                   1.1.2.6.4.1.2.  Rr. Nabila RAchmani
                                                   1.1.2.6.4.1.3.  Rb. M. Rizki Asidiq
                                      1.1.2.6.4.3. R. Adi Karyadi
                                                   1.1.2.6.4.1.1.  Rb. Moh. Raghit Putra Karyadi
                                                   1.1.2.6.4.1.2.  Rb. Moh. Rehan Putra Karyadi
                          1.1.2.6.5.  R. HARJA SUTISNA JAYAKUSUMAH (Entis)
                                      1.1.2.6.5.1. R. Toto
                                                   1.1.2.6.5.1.1.  Putra Toto ke 1
                                                   1.1.2.6.5.1.2.  Putra Toto ke 2
                                      1.1.2.6.5.2. R. Yayat
                                                   1.1.2.6.5.2.1.  Putra Yayat ke 1
                                                   1.1.2.6.5.2.2.  Putra Yayat ke 2
                                      1.1.2.6.5.3. R. Tina Herlina (Nina)
                                                   1.1.2.6.5.3.1.  Putra Nina ke 1
                                                   1.1.2.6.5.3.2.  Putra Nina ke 2
                                      1.1.2.6.5.4. R. Kurnia
                                                   1.1.2.6.5.4.1.  Putra Kurnia ke 1
                                                   1.1.2.6.5.4.2.  Putra kurnia ke 2
                                      1.1.2.6.5.5. R. Hira
                          1.1.2.6.6.  R. MUSLIHAT JAYAKUSUMAH (Emung)
                                      1.1.2.6.6.1. R. Bambang Meirano
                                                   1.1.2.6.6.1.1.  Rb. M. Arul 
                                                   1.1.2.6.6.1.2.  Rr. Luthfiah (Lulut)
                                      1.1.2.6.6.2. R. Irwan Junarsa
                                      1.1.2.6.6.3. R. Nur Endah Noviani (Nuri)
                                                   1.1.2.6.6.3.1.  Rb. Sihabuddin
                                                   1.1.2.6.6.3.2.  Rb. Fachri
                          1.1.2.6.7.  R. MULYADI JAYAKUSUMAH (Yadi)
                                      1.1.2.6.7.1. R. Dian Mardiana
                                                   1.1.2.6.7.1.1.  Rr. Sifa
                                                   1.1.2.6.7.1.2.  Rb. Defa
                                      1.1.2.6.7.2. R. Fitria Yulianti
                                                   1.1.2.6.7.2.1.  Rr. Dea
                                                   1.1.2.6.7.2.2.  Rb. Yofa
                                                   1.1.2.6.7.2.3.  Rr. Deean Coco
                                      1.1.2.6.7.3. R. Mulya Saputra
                                                   1.1.2.6.7.3.1.  Rb. Axel Alvito Meola
                          1.1.2.6.8.  R. DODY SUYATNA JAYAKUSUMAH (Dodot/Dody)
                                      1.1.2.6.8.1. R. Irene Anggraeni
                                                   1.1.2.6.8.1.1.  Rb. Daffa Adillah
                                                   1.1.2.6.8.1.2.  Rr. Syahla Dheandra Zahran
                                                   1.1.2.6.8.1.3.  Rr. Alma Hiraku Pramuditha
                                      1.1.2.6.8.2. R. Rangga Permana Kusumah (Angga)
                                                   1.1.2.6.8.2.1.  Putra Angga Ke 1
                          1.1.2.6.9.  R. RIDWAN JAYAKUSUMAH (Wawang)
                                      1.1.2.6.9.1. R. Bahraini Riza
                                                   1.1.2.6.9.1.1. Rr. Bahraini Putri
                                                   1.1.2.6.9.1.2. Rb. Bahraini putra
                                      1.1.2.6.9.2. R. Budhi Nusantara
                                                   1.1.2.6.9.2.1. Rb. Budhi Putra
                                                   1.1.2.6.9.2.2. Budhi Putra ke 2
                                      1.1.2.6.9.3. R. Bella Kusnandar
                                                   1.1.2.6.9.3.1. Rb. Nizar Maulana
                                                   1.1.2.6.9.3.2. Rb. Aqeela
                                                   1.1.2.6.9.3.3. Rr. Bella Putri
                                      1.1.2.6.9.4. R. Rina Kusmawati
                                                   1.1.2.6.9.4.1. Putra ke 1 Rina
                                                   1.1.2.6.9.4.2. Putra ke 2 Rina
                          1.1.2.6.10. R. RAFIUDIN JAYAKUSUMAH (Dingding, tidak berputra)
                          1.1.2.6.11. R. SUDRAJAT JAYAKUSUMAH (Jajat)
                                      1.1.2.6.11.1. Rr. Rina Oktaviani
                                      1.1.2.6.11.2. Rr. Debi Aprianti
                                      1.1.2.6.11.3. Rb. Heri (tidak berputra)
                                      1.1.2.6.11.4. R. Hari Sephandri (AO)    
                                                    1.1.2.6.11.3.1. Putra Ari ke 1
                1.1.2.7.  R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata)
                          1.1.2.7.1.  R.Hj. NUNUNG NURJUARIAH
                          1.1.2.7.2.  R.Hj. NINIH NURJANAH
                          1.1.2.7.3.  R. YAYAH
                          1.1.2.7.4.  R. ENDANG
                          1.1.2.7.5.  R. ODIN
                1.1.2.8.  R.MASDIR KURNAEN (Aeng)
                          1.1.2.8.1.  R.Hj. KURNIATI (Iis) <menikah dengan> DR.Ir.H. FACHRUDDIN (Rektor UNHAS)
                          1.1.2.8.2.  R. KASWATI (Kotih)
                                      1.1.2.8.2.1. Drs. R. Deddi Fardillah
                                      1.1.2.8.2.2. R. Finny Redjeki, SE, MM
                                      1.1.2.8.2.3. R. Arif Budiman
                1.1.2.9.  R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF
                          1.1.2.9.1.  R. MEMET SAPUTRA (Ahmad)
                          1.1.2.9.2.  R. YEYET RUSMIATI
                1.1.2.10. R.MASDIR SUMANTRI (Ati)
                          1.1.2.10.1. R. HEDI SUMARDI
                          1.1.2.10.2. R. EMBED SUHARLI
                          1.1.2.10.3. R. SOPIAH (Iyong)
                1.1.2.11. R.MASDIR EMAN SULAEMAN
                          1.1.2.11.1. R. HAYATI (Titi)
         1.1.3. RM.H. MUHAMMAD HASYIR (C-1879)
                1.1.3.1. R. Bustomi
                1.1.3.2. R. Ismail
                1.1.3.3. R. Mudjitaba
                1.1.3.4. Nyi R. Suaebah
                1.1.3.5. Nyi R. Maemunah
         
         1.1.4. RAy. Hj. Harisun (C-1880
                1.1.4.1. RH. Drs. Ilyas Dajir (Ciawi-Seuseupan)
         1.1.5. RAy.Hj. ITI (Gg Wahir-Empang, C-1882
         1.1.6. RM. Ahmad (Natsir), C-1884
                1.1.6.1. .........................
                1.1.6.2. R. Sholeh
                1.1.6.3. R. Sofyan Ats Sauri
                         1.1.6.3.1. R. Ahmad Qohar
                1.1.6.4. R. Arifin
== PEKERJAAN ==
IKPD-1.jpg
4164/6 <167> < RM. Harjo Dipomenggolo
lahir: 1832c, Bogor (Jabaru)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

ASAL-USUL

RADEN MAS HARJO DIPOMENGGOLO alias AYAH KULON, lahir di Jabaru-Bogor sekitar tahun 1834 putra ke 2 dari 
7 bersaudara dari pasangan orang tua RADEN MAS DJONET DIPOMENGGOLO (Generasi ke 2 dari Sultan HB III) dengan 
NYIMAS AYU FATMAH / BUN NIOH (Putri Kapiten Tionghoa dari Marga TAN) dikaruniai  orang anak :
1. RM. H. Brodjomenggolo
2. RAy. Hj. Gondomirah
3. RM. H. Abbas
4. RM. H. Abdurrahman Adi Menggolo
5. RM. H. Muhamad Hasan  
Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA
#1. BPH. Diponegoro
#2. RM. Djonet Dipomenggolo
#3. RM. Harjo Dipomenggolo
 

KETURUNAN

#2. RM. HARJO DIPOMENGGOLO (C-1834)   
    2.1. RM.H. BRODJOMENGGOLO
         2.1.1. RM.H. WONGSOMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.1.1. R.H. SOLEH SURODIMENGGOLO (Ciomas)
                         2.1.1.1.1. R.H. Djunaeni
                         2.1.1.1.2. R.H. Masca Suroatmojo
                                    2.1.1.1.2.1. R. Suratmi
                                    2.1.1.1.2.2. R. Sukendar
                                    2.1.1.1.2.3. R. Sulaeman
                                    2.1.1.1.2.4. R. Suhardi
                                    2.1.1.1.2.5. R. Sudarjat
                                    2.1.1.1.2.6. R. Suheni
                                    2.1.1.1.2.7. R. Supiati
                                    2.1.1.1.2.8. R. Surachman
                2.1.1.2. R.H. UNENG SURIODIRDJO (Ciomas)
                         2.1.1.2.1. R.H. Dadang Pandji
                                    2.1.1.2.1.1. R. Sudjatna
                                                 2.1.1.2.1.1.1. R. Enda Juanda
                                                                2.1.1.2.1.1.1.1. R. Najla Ramadhani
                                                 2.1.1.2.1.1.2. R. Irma Resmiati
                                                 2.1.1.2.1.1.3. R. Dudi Kurnia
                                                 2.1.1.2.1.1.4. R. Adi Purnama 
                                    2.1.1.2.1.2. R. Juwariyah
                                                 2.1.1.2.1.2.1. R. Denny Rusian Achmed
                                                                2.1.1.2.1.2.1.1. R. Firdha Sapta Erlina
                                                                2.1.1.2.1.2.1.2. R. Sukma Harining Cakraningrat
                                                 2.1.1.2.1.2.2. R. Ebbet Surya Subakti
                                                                2.1.1.2.1.2.2.1. R. Dewi Suryani Oktaviana
                                                                2.1.1.2.1.2.2.2. R. Endang Dewa Supana
                                                                2.1.1.2.1.2.2.3. R. Siti Zahra Subakti
                                                 2.1.1.2.1.2.3. R. Triana Jaka Lesmana
                                                                2.1.1.2.1.2.3.1. R. Syechnoor Faris Lesmana
                                                                2.1.1.2.1.2.3.2. R. Rivanny Bunga Lesmana
                                                 2.1.1.2.1.2.4. R. Tita Novita Skartika
                                                                2.1.1.2.1.2.4.1. R. Rizky Pradana
                                                                2.1.1.2.1.2.4.2. R. Reza Purnama
                                                                2.1.1.2.1.2.4.3. R. Rasyid Fadillah
                                                 2.1.1.2.1.2.5. R. Rikky Nandang Permana
                                                                2.1.1.2.1.2.5.1. R. Aidah Faizah Permana
                                                                2.1.1.2.1.2.5.2. R. Aisyah Raihanah Permana
                                                                2.1.1.2.1.2.5.3. R. Raihan Permana
                                                 2.1.1.2.1.2.6. R. Muchammad Ichwan Karunia
                                                                2.1.1.2.1.2.6.1. R. Zidane Nayadikara Karunia
                                                                2.1.1.2.1.2.6.2. R. Keysha Jasmine Karunia
                                    2.1.1.2.1.3. R. Muhammad Hidayat 
                                                 2.1.1.2.1.3.1. R. Fitri Yanti
                                                                2.1.1.2.1.3.1.1. R. Tommy Faisal
                                                 2.1.1.2.1.3.2. R. Fatmawati
                                                                2.1.1.2.1.3.2.1. R. Audry Velma Calysta
                                                                2.1.1.2.1.3.2.2. R. Zyhan Kameylia Calysta
                                                 2.1.1.2.1.3.3. R. Anah Yuliastanti
                                                                2.1.1.2.1.3.3.1. R. Lolita Wibiyono
                                                                2.1.1.2.1.3.3.2. R. Angreini Wibiyono
                                                                2.1.1.2.1.3.3.3. R. Andini Wibiyono
                                                                2.1.1.2.1.3.3.4. R. Kanaya Wibiyono
                                                 2.1.1.2.1.3.4. R. Sari Komalasari
                                                 2.1.1.2.1.3.5. R. Ratna Dewi
                                                 2.1.1.2.1.3.6. R. Meti Rahmawati
                                                 2.1.1.2.1.3.7. R. Meta Melisa
                                    2.1.1.2.1.4. R. Euis Sukaesih
                                                 2.1.1.2.1.4.1. R.  Endang Kosasih
                                                                2.1.1.2.1.4.1.1. RR. Vernna Nurjannah
                                                                2.1.1.2.1.4.1.2. RR. Verlasya Khayira
                                                 2.1.1.2.1.4.2. R.  Dede Komariah
                                                 2.1.1.2.1.4.3. R. Agus Supriatna 
                                    2.1.1.2.1.5. R. Siti Juleha
                                                 2.1.1.2.1.5.1. R. Muhammad Effendi (alm)
                                                 2.1.1.2.1.5.2. R. Dewi Puspa Sari (alm)
                                                 2.1.1.2.1.5.3. R. Abdul Azis
                                                                2.1.1.2.1.5.3.1. R. Muhammad Rassya Pratama
                                                                2.1.1.2.1.5.3.2. R. Muhammad Faza Adzima
                                                 2.1.1.2.1.5.4. R. Suprihatini (alm)
                                                 2.1.1.2.1.5.5. R. Rahmah Rahayu
                                                                2.1.1.2.1.5.4.1. R. Muhammad Azzam Fahrezi
                                                 2.1.1.2.1.5.6. R. Arif Bahtiar
                                    2.1.1.2.1.6. R. Muhammad Taufik
                                                 2.1.1.2.1.6.1. R. Dinda Nur Ayu Lestari
                                                                2.1.1.2.1.6.1.1. RR. Nayla Syakila
                                                 2.1.1.2.1.6.2. R. Adietya Dwi Cahyadi
                                                                2.1.1.2.1.6.2.1. RR. Audrey Izzatunnisa Cahyani
                                    2.1.1.2.1.7. R. Neneng Sukemi
                                                 2.1.1.2.1.7.1. R. Endang Fadillah
                                                 2.1.1.2.1.7.2. R. Lina Aprilia
                                    2.1.1.2.1.8. R. Muhammad Lukman
                                                 2.1.1.2.1.8.1. R. Leni Kurnia Sari
                                    2.1.1.2.1.9. R. Indah Ratnawati 
                                    2.1.1.2.1.10.R. Dedeh Juwita 
                                    2.1.1.2.1.11.R. Nur Aini Oktavia 
                                    2.1.1.2.1.12.R. Dedi Priatna
                                                 2.1.1.2.1.12.1.R. Muhammad Axelle
                2.1.1.3. R.H. MUSA SUMODIRDJO (Ciomas)
                         2.1.1.3.1. R. H. Ading
                         2.1.1.3.2. R. Djohariah
                         2.1.1.3.3. R. H. Djajasukarta
                         2.1.1.3.4. R. Djumirah
                         2.1.1.3.5. R. Djula
                         2.1.1.3.6. R. Nurbaja
                2.1.1.4. R.H. EMBIH SASTRODIRDJO
                         2.1.1.4.1. R. Eem Suhaimi <menikah dgn 2.1.1.2.1.1. R. Sudjatna
                         2.1.1.4.2. R. Endjuh
                         2.1.1.4.3. R. H. MUH Sanusi
                         2.1.1.4.4. R. H. Sukardi
                         2.1.1.4.5. R. Enah
                         2.1.1.4.6. R. Endah 
         2.1.2. RM.H. SOEROMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.2.1. R.H. ICAN SUROMENGGOLO (Ciomas)
                         2.1.2.1.1. R. Djamhari Djunaedi Mantarena
                                    2.1.2.1.1.1 R. Endjoh Danumihardja
                                                2.1.2.1.1.1.1. R. Lukman Danumihardja
                                                               2.1.2.1.1.1.1.1. R. Mohamad Aliyudin Danumihardja (Yudhi)
                                    2.1.2.1.1.2 R. Ahmad Sanusi
                                    2.1.2.1.1.3 R. Ningrum
                                    2.1.2.1.1.4 R. Rukminah
                2.1.2.2. NYI. R. AMOE (Ciomas) 
                2.1.2.3. R.H. ARJOMENGGOLO (Ciomas)
                         2.1.2.3.1. R. Narijah
                         2.1.2.3.2. R. Hawirodja
                         2.1.2.3.3. R. Ningrat
         2.1.3. RM.H. ADIMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.3.1. R.H. MOH. SYAFEI ADINATA (Ciomas)
                         2.1.3.1.1. R. Muhammad ALI
                         2.1.3.1.2. R. Muhammad Soleh
                         2.1.3.1.3. R. Muhammad Sidik
                         2.1.3.1.4. R. Muhammad As'ari
                                    2.1.3.1.4.1. R.Anwar Basari
                                                 2.1.3.1.4.1.1. R. Hamdhani Zul Faqor
                         2.1.3.1.5. R. Romlah
                         2.1.3.1.6. R. Djuhro
                         2.1.3.1.7. R. Aisyah 
                2.1.3.2. R.H. JAMSARI ADIMENGGOLO (Ciomas)
                         2.1.3.2.1. R. Muchtar
                         2.1.3.2.2. R. Syafaat
                         2.1.3.2.3. R. Munajat
                         2.1.3.2.4. R. Hasanah
                         2.1.3.2.5. R. Abdullah
                         2.1.3.2.6. R. Habibah
                         2.1.3.2.7. R. Jajaria
                         2.1.3.2.8. R. Jenab
                         2.1.3.2.9. R. Sidah
                         2.1.3.2.10.R. Sarah 
         2.1.4. RAy.Hj.UNAN (Loji)
                2.1.4.1. NYI Rd.Hj. ENUNG (Loji)
                         2.1.4.1.1. NYI Rd.UHA (loji)
                         2.1.4.1.2. NYI Rd.Anung
                         2.1.4.1.3. NYI Rd.Atjih
     2.2. RAy.Hj. GONDOMIRAH <menikah dgn> Rd. SURYADIMENGGALA (KRT. Buitenzorg, Trah Sumedang)
         2.2.1. RM.H. IBRAHIM\RM. ABD.ROCHMAN WIRADIMENGGOLO\RM. WIRADINEGARA 
                2.2.1.1. R.H. KURAESIN
                         2.2.1.1.1. R. Mama Jaya
                         2.2.1.1.2. R. Muhammad Tohir
                         2.2.1.1.3. NYI R. Ratnasari 
                2.2.1.2. R.H. ADJID MANGKUWIJAYA
                         2.2.1.2.1. R. Wiradikusumah
                         2.2.1.2.2. R. Moh. Toha
                                    2.2.1.2.2.1. NYI R. Soleha
                                    2.2.1.2.2.2. R. Musa
                         2.2.1.2.3. R. Achmad
                                    2.2.1.2.3.1. NYI R. Sukarsih
                                    2.2.1.2.3.2. R. Gunawan
                                    2.2.1.2.3.3. R. Harun
                                    2.2.1.2.3.4. NYI R. Supiah
                                    2.2.1.2.3.5. NYI R. Siti Entit
                                    2.2.1.2.3.6. R. Jamil
                                    2.2.1.2.3.7. NYI R. Sumini
                         2.2.1.2.4. R. Muh Agus
                                    2.2.1.2.4.1. NYI R. Juhro
                         2.2.1.2.5. R. Hasan
                                    2.2.1.2.5.1. R. Amirsyah
                                    2.2.1.2.5.2. NYI R. Harsinah
                                    2.2.1.2.5.3. NYI R. Jumiati
                                    2.2.1.2.5.4. R. Jaenalludin
                         2.2.1.2.6. NYI R. Julaeha
                         2.2.1.2.7. NYI R. Salmah
                         2.2.1.2.8. NYI R. Mari
                         2.2.1.2.9. NYI R. Juhro
                         2.2.1.2.10.NYI R. Hadijah 
                2.2.1.3. R.H. MUH. ISA (Ciomas) 
         2.2.2. NYI RAy.Hj. ASMAYA
         2.2.3. NYI RAy.Hj. ENTING AISYAH
         2.2.4. NYI RAy.Hj. SITI FATIMAH
         2.2.5. NYI RAy.Hj. ANTAMIRAH
         2.2.6. RM. TJANDRANINGRAT\RM. ARIO MAD SURODHININGRAT
                2.2.6.1. R.H. PANJI 
                2.2.6.2. R.H. PANDU 
                2.2.6.3. R.H. HASAN 
                2.2.6.4. R.H. KURAESIN 
         2.2.7. RM. YAHYA GONDONINGRAT
                2.2.7.1. NYI Rd. Hj. RATNA KANCANA (Ciomas) <menikah dengan> Dr. H. MARAH ROESLI (Pujangga Nasional
                         2.2.7.1.1. R. Mayjen (pur) Roeshan Roesli
                                    2.2.7.1.1.1. R. dr Ratwini Roesli, SpTHT
                                    2.2.7.1.1.2. R. dr Utami Roesli, SpA, Ibclc, Fabm
                                    2.2.7.1.1.3. R. Prof. Dr. dr Rully MA Roesli, SpPD.KGH
                                    2.2.7.1.1.4. R. Prof. Dr. Harry Roesli \ Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli  
         2.2.8. RM. INDRIS TIRTODIRDJO/RM. IDRUS TIRTODIRDJO
                2.2.8.1. R.H. ACO UMAR 
         2.2.9. NYI RAy.Hj. RAJAMIRAH/RAy.Hj. MIRAH
                2.2.9.1. Rd.H. YASIN WINATADIREDJA (Enceng)
                         2.2.9.1.1. Nyi Rd. Halimah 
                2.2.9.2. NYI Rd.Hj. SITI RAHMAT (Titi)
                         2.2.9.2.1. Rd.H.A.B. Yogapranatha (Alm)
                         2.2.9.2.2. Rd. Syafei (Alm)
                         2.2.9.2.3. Nyi Rd. Tuti Guritna
                                    2.2.9.2.3.1. Rd. H. Adang Yusuf Martadiredja <menikah dgn> 2.2.9.3.1.1. Nyi Rd. Mundiyah
                                                 2.2.9.2.3.1.1. Rd. Damon Yusuf Martadiredja
                                                                2.2.9.2.3.1.1.1. Rd. M.Yasin Vahreza Yusuf Martadiredja (Reza Wahyu Martadiredja)
                                                                2.2.9.2.3.1.1.2. Rd. M.Yasin Vahrezi Yusuf Martadiredja (Rezi Wahyu Martadiredja)
                                                                2.2.9.2.3.1.1.3. Rd. Nur Illahi Vahriva Mudaim (Riva Wahyu Martadiredja)
                                                                2.2.9.2.3.1.1.4. Rd. Nur Husna Dewinda Fatmah (Winda Fatmah Martadiredja)
                                                                2.2.9.2.3.1.1.5. Rd. Nazwa Mustika Negara (Ica Wahyu Martadiredja)
                                                 2.2.9.2.3.1.2. Rd. Gunawan Yusuf Martadiredja
                                                                2.2.9.2.3.1.2.1. Rd. Rahmania Purwagunifa
                                                                2.2.9.2.3.1.2.2. Rd. Fathan Adi Gunawan
                                                 2.2.9.2.3.1.3. Rd. Ade Nine Siti Mariam ( Wafat Saat Bayi )
                                                 2.2.9.2.3.1.4. Rd. Nanang Firman Safari Yusuf Martadiredja SP,M.Si
                                                                2.2.9.2.3.1.4.1. Rd. Nanang Junior
                                    2.2.9.2.3.2. Rd. Syarif Kusnadi Jamal Martadiredja
                                                 2.2.9.2.3.2.1. Rd. Tetet Dian Indria Rahayu (wafat th 2002)
                                                                2.2.9.2.3.2.1. Rd. Syamil Hilminiandra Budiman
                                                 2.2.9. .3.2.2. Rd. Rully Ramdhani Kusumah
                                                                2.2.9.2.3.2.2.1. Rd. Sekar Rahayu Kusumah
                                                 2.2.9.2.3.2.3. Rd. Kusnadi Wisnu Yogasuwara (Wisnu)
                                    2.2.9.2.3.3. Nyi.Rd. Yuliani Wahyu Martadiredja
                                                 2.2.9.2.3.3.1. Rd. Julkifli Rustita ( Wafat th 2012)
                                    2.2.9.2.3.4. Nyi Rd. Mimi Wahyu Martadiredja (Wafat Bayi)
                         2.2.9.2.4. Rd. Hanafi (Alm)
                         2.2.9.2.5. Rd. Ali M. Ali Widyapranatha
                         2.2.9.2.6. Nyi Rd. Neneng Kulsum
                         2.2.9.2.7. Nyi Rd. Hj. Iyoh Roswati
                         2.2.9.2.8. Rd. U. Effendi Madyaprana
                         2.2.9.2.9. Nyi Rd. Dewi Sarah
                                    2.2.9.2.9.1.  Rd. Teddy Sao Wirakusumah
                                    2.2.9.2.9.1.1. Rd. Devita Rizqi Yulianty
                                    2.2.9.2.9.1.2. Rd. Dwi Dorozatun Samaniaty Ramadhona, S.I.Kom
                         2.2.9.2.10.Rd. H. Usman Satiaprana (Alm) 
                         2.2.9.2.11.Rd. Enen Sutresna Yogaprana
                                    2.2.9.2.11.1. Rd. Narayana Yoga Pertama
                                                  2.2.9.2.11.1.1. NR. Laras (Almh)
                                                  2.2.9.2.11.1.2. NR. NR. Ermalia Nuryanti
                                                  2.2.9.2.11.1.3. Rd. Moch, Riyan Chandra (Alm)
                                                  2.2.9.2.11.1.4. NR. Elma Nathania Yalanda                                                  
                                    2.2.9.2.11.2. Rd. Yadi Indra Mulyadi Yogaprana
                                                  2.2.9.2.11.2.1. Rd. Zulqiar Ramdan
                                    2.2.9.2.11.3. NR. Rengganis Kurniawati Yogaprana
                                                  2.2.9.2.11.3.1. NR. Fadhilah Istiqomah Yogandena
                                                  2.2.9.2.11.3.2. Rd. Firza Finaldien Yogandena (Alm)
                                                  2.2.9.2.11.3.3. Rd. Farly Nugraha Yogandena
                                    2.2.9.2.11.4. NR. Popi Yuliawati Yogaprana
                                    2.2.9.2.11.5. Rd. Tedi Wibisana Yogaprana
                                    2.2.9.2.11.6. Rd. Ruhyat Apandi Yogaprana
                                                  2.2.9.2.11.6.1. NR. Keyla Azka Kireina
                                                  2.2.9.2.11.6.2. Rd. Fadlan Danish Ryogaprana
                                    2.2.9.2.11.7. Rd. Rimau Gumelar Yogaprana
                                                  2.2.9.2.11.7.1. Rd. Aldebaran Nabhan Pradipta
                                    2.2.9.2.11.8. Rd. Banyu Dewanata Yogaprana
                                    2.2.9.2.11.9. Rd. Surya Tirta Bayu Yogaprana
                                    2.2.9.2.11.10.Rd. Purnama Alam Yogaprana
                2.2.9.3. Rd. Tatang Muhtar (Ciluar)    
                         2.2.9.3.1. Nyi Rd. Siti Aminah 
                                    2.2.9.3.1.1. Nyi Rd. Mundiyah 
                                    2.2.9.3.1.2. R Hidayat 
                                    2.2.9.3.1.3. R Ruhiyat
                                                 2.2.9.3.1.3.1. R. Dadang Darmayadi
                                                                2.2.9.3.1.3.1.1. Nyi Rr. Sriastuty Handayani Kyla Khu'mairah
                                                                2.2.9.3.1.3.2.2. Nyi Rr. Rezky Pertiwi
                                                 2.2.9.3.1.3.2. Nyi Rd. Sriyat
                                                                2.2.9.3.1.3.2.1. Nyi Rr. Ika
                                                                2.2.9.3.1.3.2.2. R. Aldi
                                                                2.2.9.3.1.3.2.3. Nyi Rr. Fia
                                                                2.2.9.3.1.3.2.4. Nyi Rr. Linda
                                                 2.2.9.3.1.3.3. Nyi Rd. Rodiah
                                                                2.2.9.3.1.3.3.1. R. Yudi
                                                                2.2.9.3.1.3.3.2. Nyi Rr. Ririn
                                                                2.2.9.3.1.3.3.3. R. LILI
                                                 2.2.9.3.1.3.4. R. Darmawan
                                                                2.2.9.3.1.3.4.1. R. Ekal
                                                                2.2.9.3.1.3.4.2. R. Zirul
                         2.2.9.3.2. Nyi Rd. Umriyah 
                                    2.2.9.3.2.4. R. Iskandar 
                                                 2.2.9.3.2.4.1. R. Asep 
                                                 2.2.9.3.2.4.2. Nyi Rr. Rosi 
                                                 2.2.9.3.2.4.3. R. Irfan 
                                    2.2.9.3.2.5. Nyi R. ETI
                                                 2.2.9.3.2.5.1. R. Rizki
                                                 2.2.9.3.2.5.2. R. Agung          
                                    2.2.9.3.2.6. Nyi Rd. ENI Rohaeni
                                                 2.2.9.3.2.6.1. Nyi Rr. Gita
                                                 2.2.9.3.2.6.2. Nyi Rr. Gina
                                                 2.2.9.3.2.6.3. Nyi Rr. Garnia
                                                 2.2.9.3.2.6.4. Nyi Rr. Gian
                                    2.2.9.3.2.7. R Saleh Sudrajat
                                                 2.2.9.3.2.7.1. R. Fredi
                                                 2.2.9.3.2.7.2. ................
                                                 2.2.9.3.2.7.3. Nyi Rr. Annisa
                                    2.2.9.3.2.8. R. ADE
                                                 2.2.9.3.2.8.1. R. Agung
                                                 2.2.9.3.2.8.2. R. DEDE
                                                 2.2.9.3.2.8.3. Rr. Eneng
     2.3. RM. H. Abas (Penghulu Ciomas) <menikah dgn> [[Person:628329|Putri Pertama H. Daeng Jarbi (putra Raja Gowa ke 32)) 
          2.3.1. RM. H. Ardja
          2.3.2. RM. H. Suminta (Malik)
          2.3.3. RAy. Patimah Ibunya Mayjen Ishaq Djuarsa
          2.3.4. RAy. Fatmah <menikah dgn> 1.1.1. RM. H. Moch. Rana Menggala
          2.3.5. RM. Yacub
          2.3.6. RAy. Siti Mariyam (loji)
                 2.3.6.1. Drs. H. R. Mansyur (Mama)
                          2.3.6.1.1. HR. Syarif Arifin
                          2.3.6.1.2. R. Surachman
                          2.3.6.1.3. R. Suherman S
                                     2.3.6.1.3.1.  R. ADITYA TIRTA WIGUNA   
                                     2.3.6.1.3.2.  R. INDAH PRANASARI HERNANINGTIAS
                          2.3.6.1.4. R. Suratmi
                                     2.3.6.1.4.1.  R. AGUNG RAHMADI
                                     2.3.6.1.4.2.  R. MAHENDRA
                                     2.3.6.1.4.3.  R. KRESNA HADIWIJAYA 
                                     2.3.6.1.4.4.  R. RETNO A. WULANDARI
                          2.3.6.1.5. R. Suparman
                                     2.3.6.1.5.1.  R. AYU
                                     2.3.6.1.5.2.  R. PUSPA
                                     2.3.6.1.5.3.  R. ARIEF
                          2.3.6.1.6. R. Sudirman
                                     2.3.6.1.6.1.  R. RACHMAT C. WINATA
                                     2.3.6.1.6.2.  R. DODDY A. KUSUMAH
                                     2.3.6.1.6.3.  R. DICKY SAPUTRA
                                     2.3.6.1.6.4.  R. FANNY SARASWATI
                          2.3.6.1.7. R. Suhartini
                                     2.3.6.1.7.1.  R. ASTRI FITRIA ASTUTI S.
                                     2.3.6.1.7.2.  R. MARAHDOMU S.
                                     2.3.6.1.7.3.  R. MARAHDIKA S.
                                     2.3.6.1.7.4.  R. PUTRI SARASWATI
                                     2.3.6.1.7.5.  R. YUSUF IBRAHIM
                 2.3.6.2. H. R. Sanusi (Momo)
                          2.3.6.2.1. R. Juwita
                          2.3.6.2.2. R. Rosita
                          2.3.6.2.3. ...............
                 2.3.6.3. Drs. HR. Entjep Wahab
                          2.3.6.3.1. .................
     2.4. RM. H. Abdulrachman ADI Menggolo (Camat Ciomas)
          2.4.1. R.Ay. Sukiamah
     2.5. RM. H. Muhammad Hasan
     
== PEKERJAAN ==
IKPD-1.jpg
4175/6 <167> < RM. Harjo Dipotjokromenggolo
lahir: 1833c, Bogor (Jabaru)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

ASAL-USUL

RADEN MAS HARJO DIPOTJOKRO MENGGOLO alias PANGERAN GRINGSING I, lahir di Jabaru-Bogor sekitar tahun 1835 putra ke 3 dari 7 bersaudara dari pasangan orang tua RADEN MAS DJONET DIPOMENGGOLO (Generasi ke 2 dari Sultan HB III) dengan NYIMAS AYU FATMAH / BUN NIOH (Putri Kapiten Tionghoa dari Marga TAN) dikaruniai orang anak : 1. RM. Harjo Dipotjokro Hadimenggolo


Kraton3.jpg SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA
#1. BPH. Diponegoro
#2. RM. Djonet Dipomenggolo
#3. RM. Harjo Dipotjokro Menggolo
 

KETURUNAN

#3. RM. HARJO DIPOMENGGOLO (PANGERAN GRINGSING I)   
 3.1. RM. HARJO DIPOTJOKRO HADIMENGGOLO (PANGERAN GRINGSING II)
 3.1.1. RM.HARJODIPO HADIKUSUMA (PANGERAN GRINGSING III)
 3.1.1.1. R.DR. HARTO PURWOWASONO DIPONEGORO (Eyang Hertog)
 3.1.1.1.1. R.Ngt. SRI DEWI Diponegoro (Magetan)
 3.1.1.1.1.1. R.Wisnu Wibowo Diponegoro (Magetan)
 3.1.1.1.1.1.1. R.Ngt. Kartika Ishianan Wisnu Wardhani Diponegoro (Magetan)
 3.1.1.1.1.1.2. Rb.Nafi Wianditra Hafri Nugraha Diponegoro (Magetan)
 3.1.1.1.1.2. R.Krisna Putra Diponegoro (Cilegon)
 3.1.1.1.1.2.1. Rb.Satrio Bagus Eka Putra Diponegoro (Cilegon)
 3.1.1.1.1.2.2. Rb.Bimo Bagaskoro Diponegoro (Cilegon)
 3.1.1.1.1.2.3. Rr.Aisya Rahmania Putri Diponegoro (Cilegon)
 3.1.1.1.1.3. R.Ngt. Dewi Pancawati Diponegoro (Surabaya)
 3.1.1.1.1.3.1. Rb.Hade Pratama Diponegoro (Surabaya)
 3.1.1.1.1.3.2. Rr.Alya Nismara Cayadewi Diponegoro (Surabaya)
 3.1.1.1.1.3.3. Rb.Muhammad Ayman Arshq Ramadhan Diponegoro (Surabaya) 
 
 3.1.1.1.2. R.Heno Erlangga Diponegoro, SH (Karanganyar)
 3.1.1.1.2.1. R.Wibowo Kusumo Winoto Diponegoro, SH (Karanganyar)
 3.1.1.1.2.2. R.Ngt. Retno Wulandari Diponegoro, SH (Karanganyar)
 3.1.1.1.2.3. R.Ngt. Kustini Kusumo Wardhani Diponegoro, S.Sn (Karanganyar)
 3.1.1.1.2.4. R.Putra Wisnu Wardhana Diponegoro (Karanganyar)
 3.1.1.1.2.5. R.Bayu Giri Prakosa Diponegoro, SE. MSi (Karanganyar)
 3.1.1.1.3. R. Putra Wisnu Agung Diponegoro (Agung Dipo)
 3.1.1.1.3.1. R. Putra Wisnu Agung Diponegoro (Agung Dipo)
 3.1.1.1.3.2. R. Putra Wisnu Agung Diponegoro (Agung Dipo)
 3.1.1.1.3.3. R. Putra Wisnu Agung Diponegoro (Agung Dipo)
 
 3.1.1.1.4. R. Ngt. Gusti Laksmi Mahadewi Sri Diponegoro
 3.1.1.1.5. R. Ngt. Gusti Maya Brahma Diponegoro
 3.1.1.1.6. R. Nalendro Wibowo Diponegoro
 
 3.1.1.1.7. R. Ngt. Dwi Wahyuni Kusuma Wardhani Diponegoro
 3.1.1.1.7.1. Rb. Supratama Dwipa Diponegoro
 3.1.1.1.7.2. Rb. Gusti Atmojo Suryo Menggolo Diponegoro
 3.1.1.1.7.3. Rr. Ambar Rukmini Diponegoro
 3.1.1.1.8. R. Putra Kusuma Wardhana Diponegoro
 3.1.1.1.9. R. Kesuma Hendra Putra Diponegoro
3.1.1.1.10.R. Ngt. Putri Laksmini Murni Diponegoro
IKPD-1.jpg
4186/6 <167> < RM. H. Harjo Abdul Manap Dipomenggolo
lahir: 1834c, Bogor (Jabaru)
IKPD-1.jpg
4197/6 <167+?> < RM. Sahid Angkrih
lahir: 1835c, Bogor (Jabaru)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

ASAL-USUL

RADEN MAS SAHID ANKRIH lahir di Jabaru-Bogor sekitar tahun 1835 putra ke 4 dari 7 bersaudara dari pasangan orang tua RADEN MAS DJONET DIPOMENGGOLO (Generasi ke 2 dari Sultan HB III) dengan NYIMAS AYU FATIMAH (asli Bogor) dikaruniai 3 orang anak : 1. RM. ASMINI 2. RM. IDRIS 3. RM. ONDUNG


Kraton3.jpg SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA
#1. BPH. Diponegoro
#2. RM. Djonet Dipomenggolo
#3. RM. Sahid Ankrih
 

KETURUNAN

#4. RM. SAHID ANKRIH   
 4.1. RM. ASMINI
 4.1.1. RM. ASMININ
 4.1.1.1. R. Abdul Latif
 4.1.1.1.1. R. Komarudin
 4.1.1.1.1.1. R. Muhammad
 4.1.1.1.1.2. R. Aah Mafahir
 4.1.1.1.1.3. R.Ust. Abdul Wafa
 4.1.1.1.1.4. R. Ahmad Hujatullah
 4.1.1.1.1.5. R. Euis Nurhayati
 4.1.1.1.1.6. R. Bunyamin
 4.1.1.1.1.7. R. Nikmatullah
  
 4.1.1.2. R. Armani
 4.1.1.2.1. R. AL. KH. Darma
 4.1.1.2.1.1. R. KH. Maksum
 4.1.1.3. R. Jenab
 4.1.1.4. R. Murnas
 4.1.1.5. R. Abdurrohim
 4.1.2.6. R. Abdurrohman
 
 4.1.2.  R. Mali
 4.1.3. RM. MINAU
 4.1.4. RM. IKING
 4.1.5. NYIMAS RAy. UMMI
 4.2. RM. IDRIS
4.3. RM. ONDUNG
4148/6 <157+107> < Bendoro Raden Ayu Adipati Mangkubumi [Hb.5.8] / Bendoro Raden Ayu Sukinah [Gp.Hb.7.11.1]
IKPD-1.jpg
4209/6 <167+?> < NYI MAS RAy. Ukin
lahir: 1836c, Bogor (Jabaru)
IKPD-1.jpg
42110/6 <167+?> < NYI MAS RAy. Okah
lahir: 1837c, Bogor (Jabaru)
Face HB VII.JPG
38411/6 <158+104> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VII / Gusti Raden Mas Murtejo [Hb.6.1] (Sinuhun Behi)
lahir: 4 Februari 1839, Yogyakarta
perkawinan: <142> < Gusti Kanjeng Ratu Mas ? ([Gp.Hb.7.2], Joyodipuro) d. 1892
perkawinan: <143> < Bendoro Raden Ayu Retnojuwito ? (Ga.Hb.7.6)
perkawinan: <113!> < 2. Gusti Kanjeng Ratu Kencono II [Gp.Hb.7.3] (Bendoro Raden Ayu Ratna Sri Wulan)
perkawinan: <144> < Bendoro Raden Ayu Ratnaningsih ? (Ga.Hb.7.1)
perkawinan: <145> < Bendoro Raden Ayu Ratnaningdia ? ([Ga.Hb.7.2])
perkawinan: <146> < Bendoro Raden Ayu Retnohadi ? (Ga.Hb.7.3)
perkawinan: <147> < Bendoro Raden Ayu Retnodewati [Ga.Hb.7.5]
perkawinan: <1278!> < Bendoro Raden Ayu Rukmidiningdia [Ga.Hb.8.4] [Hb.6.9.3.1] (Bendoro Raden Ayu Rukhihadiningdyah)
perkawinan: <148> < Bendoro Raden Ayu Retnosangdiah ? ([Ga.Hb.7.4])
perkawinan: <149> < Bendoro Raden Ayu Retnomurcito [Ga.Hb.7.8]
perkawinan: <150> < Bendoro Raden Ayu Pujoretno [Ga.Hb.7.9]
perkawinan: <151> < Kanjeng Bendoro Raden Ayu Retnopurnomo [Ga.Hb.7.10]
perkawinan: <152> < Bendoro Mas Ayu Retnojumanten [Ga.Hb.7.11]
perkawinan: <153> < Bendoro Raden Ayu Retnodewati [Ga.Hb.7.5]
perkawinan: <154> < Bendoro Raden Ayu Retnomurcito [Ga.Hb.7.8]
perkawinan: <729!> < Bendoro Raden Ayu Retnomandoyo [Ga.Hb.7.13] d. 30 Desember 1931
perkawinan: <155> < Bendoro Raden Ayu Dewo Retno [Ga.Hb.7.7]
perkawinan: <156> < Raden Ajeng Centhung [Pl.Hb.7.1]
perkawinan: <157> < Raden Roro Sumodirejo [Pl.Hb.7.2]
perkawinan: <158> < Bendoro Raden Ayu Retnoliringhasmoro [Ga.Hb.7.16]
perkawinan: <159> < Bendoro Raden Ayu Retnosetyohasmoro [Ga.Hb.7.15]
perkawinan: <160> < Bendoro Raden Ayu Retnorenggohasmoro [Ga.Hb.7.14]
perkawinan: <161> < Bendoro Raden Ayu Retnowinardi [Ga.Hb.7.12]
perkawinan: <414!> < Bendoro Raden Ayu Adipati Mangkubumi [Hb.5.8] / Bendoro Raden Ayu Sukinah [Gp.Hb.7.11.1] b. 1836, Yogyakarta
perceraian: <414!> < Bendoro Raden Ayu Adipati Mangkubumi [Hb.5.8] / Bendoro Raden Ayu Sukinah [Gp.Hb.7.11.1] b. 1836
perkawinan: <162> < Gusti Kanjeng Ratu Kencana [Gp.Hb.7.1] (Bendara Raden Ayu Retno Sriwulan) , Yogyakarta
gelar: 13 Agustus 1877 - 29 Januari 1920, Yogyakarta, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana Senopati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid'din Panatagama Khalifatu'llah Ingkang Jumeneng Kaping VII
perceraian: <163> < Bendoro Raden Ayu Tejaningrum , Yogyakarta
wafat: 30 Desember 1921, Yogyakarta
Hb-vii.jpeg

Sri Sultan Hamengkubuwana VII (Bahasa Jawa:Sri Sultan Hamengkubuwono VII, lahir: 1839 – wafat: 1931 adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1877 – 1920. Ia dikenal juga dengan sebutan Sultan Ngabehi atau Sultan Sugih.(Bahasa Jawa:Sri Sultan Hamengkubuwono VII, lahir: 1839 – wafat: 1931 adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1877 – 1920. Ia dikenal juga dengan sebutan Sultan Ngabehi atau Sultan Sugih.

Riwayat Pemerintahan Nama aslinya adalah Raden Mas Murtejo, putra Hamengkubuwono VI yang lahir pada tanggal 4 Februari 1839. Ia naik takhta menggantikan ayahnya sejak tahun 1877.

Pada masa pemerintahan Hamengkubuwono VII, banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, yang seluruhnya berjumlah 17 buah. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang kepadanya untuk menerima dana sebesar Rp 200.000,00. Hal ini mengakibatkan Sultan sangat kaya sehingga sering dijuluki Sultan Sugih[rujukan?].

Masa pemerintahannya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan. Ia bahkan mengirim putra-putranya belajar hingga ke negeri Belanda.

Pada tanggal 29 Januari 1920 Hamengkubuwono VII yang saat itu berusia 81 tahun memutuskan untuk turun takhta dan mengangkat putra mahkota sebagai penggantinya. Konon peristiwa ini masih dipertanyakan keabsahannya karena putera mahkota(GRM. Akhadiyat, putra HB VII nomor 14) yang seharusnya menggantikan tiba-tiba meninggal dunia dan sampai saat ini belum jelas penyebab kematiannya.

Dugaan yang muncul ialah adanya keterlibatan pihak Belanda yang tidak setuju dengan putera Mahkota pengganti Hamengkubuwono VII yang terkenal selalu menentang aturan-aturan yang dibuat pemerintah Batavia.

Biasanya dalam pergantian takhta raja kepada putera mahkota ialah menunggu sampai sang raja yang berkuasa meninggal dunia. Namun kali ini berbeda karena pengangkatan Hamengkubuwono VIII dilakukan pada saat Hamengkubuwono VII masih hidup.<--, bahkan menurut cerita masa lalu sang ayah diasingkan oleh anaknya pengganti putera mahkota yang wafat ke Pesanggrahan Ngambarrukma di luar keraton Yogyakarta.-->

Hamengkubuwono VII dengan besar hati mengikuti kemauan sang anak (yang di dalam istilah Jawa disebut mikul dhuwur mendhem jero) yang secara politis telah menguasai kondisi di dalam pemerintahan kerajaan. Setelah turun takhta, Hamengkubuwono VII pernah mengatakan "Tidak pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya" yang artinya masih dipertanyakan. Sampai saat ini ada dua raja setelah dirinya yang meninggal di luar keraton, yaitu Hamengkubuwono VIII meninggal dunia di tengah perjalanan ke luar kota dan Hamengkubuwono IX meninggal di Amerika Serikat. Bagi masyarakat Jawa adalah suatu kebanggaan jika seseorang meninggal di rumahnya sendiri. Hamengkubuwono VII meninggal di Pesanggrahan Ngambarrukma pada tanggal 30 Desember 1931 dan dimakamkan di Imogiri. Silsilah Anak tertua dari Sultan Hamengkubuwana VI dan istri pertamanya RAy Sepuh/GKR Sultan/GKR Agung dan diangkat anak oleh Ratu Kencana. Memiliki delapan belas istri: 1.BRA Sukina/BRA Mangku Bumi (b. 1836), putri termuda Sultan Hamengkubuwana V dengan istri keduanya BRAy Dewaningsih. 2.GKR Mas, putri dari KRT Jayadipura atau dari Pangeran Suryadiningrat. 3.GKR Kencana/GKR Wandhani, putri dari Raden 'Ali Basa 'Abdu'l-Mustafa Senthot Prawiradirja. 4.GKR Kencana II/BRAy Ratna Sri Wulan, putri dari BPH Adi Negara. 5.BRAy Ratnaningsi. 6.BRAy Ratnaningdia. 7.BRAy Ratna Adi. 8.BRAy Ratnasangdia. 9.BRAy Ratnajiwata. 10.BRAy Puryaningdia. 11.BRAy Devaratna. 12.BRAy Puspitaningdiya. 13.BRAy Srengkara Adinindia. 14.BRAy Rukmidiningdia. 15.BRAy Ratna Adiningrum. 16.BRAy Ratna Puspita. 17.BRAy Tejaningrum. 18.BRAy Ratna Mandaya, putri dari Patih Dhanuraja VI.

Versi lain mengatakan bahwa Hamengkubuwono VII meminta pensiun kepada Belanda untuk madeg pandito (menjadi pertapa) di Pesanggrahan Ngambarrukma (sekarang Ambarrukma). Sampai saat ini bekas pesanggrahan itu masih ada dan di sebelah timurnya dulu pernah berdiri Hotel Ambarrukma yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Pangeran Hadikusumo.jpg
41012/6 <158+104> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi [Hb.6.11] (Gusti Pangeran Haryo Hadikusumo)
41313/6 <161+157!> < Kanjeng Gusti Timur Muhammad Suryengalogo [Hb.5.9] / Raden Mas Muhammad [Hb.3.2.22.1]
Pada saat Sultan Hamengku Buwono ke V wafat, beliau belum mempunyai anak laki-laki sebagai pewaris kesultanan, karena anaknya yang ada, semuanya wanita, sedang permaisuri yaitu Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Sekar Kedaton sedang hamil tua, yang kemudian 13 hari setelah Sultan Hamengku Buwono V wafat, melahirkan seorang anak laki-laki dan anak tersebut diberi nama Gusti Timur Muhammad, dimana setelah berumur 12 tahun mendapat gelar Gusti Pangeran Haryo (GPH) Suryengalogo.

Karena Gusti Muhammad masih bayi, dan untuk mengisi kekosongan tahta kesultanan maka diangkatlah Pangeran Mangkubumi (adik dari Sultan Hamengku Buwono V) menjadi Sultan Hamengku Buwono ke VI, dengan persyaratan bahwa apabila setelah dewasa Gusti Muhammad akan diangkat menjadi Sultan berikutnya. Namun ternyata Sultan lebih memilih menunjuk putranya menjadi pengganti (putra mahkota) yang nantinya akan menjadi Sultan Hamengku Buwono VII.

Hal tersebut menimbulkan kekecewaan pada keluarga Hamengku Buwono V, terutama GKR Sekar Kedaton dan GPH Suryengalogo yang kemudian memulai perlawanan kepada Sultan Hamengku Buwono VII. Kemudian GKR Sekar Kedaton dan GPH Suryengalogo diputuskan bersalah telah memberontak dan “DIPINDAHKAN DARI YOGYAKARTA KE MANADO SELEBES” dengan Surat Keputusan dari Kesultanan Yogyakarta Hamengku Buwono VII yang disampaikan melalui Dipati Danureja dan Residen Befembag berbunyi sebagai berikut: “Surat Peringatanku aku Kanjeng Narendra, yang menguasai negeri Kerajaan Ngayogya, sabdaku ini : Tuan Kanjeng Prameswari dan Kangmas Pangeran Suryengalogo berdua, aku pindahkan dari negeri Ngayogya ke negeri Menado, sebab uwa, kangmas berani membangkang (mbalelo) pada Raja. Pergi dari kota tanpa pamit, serta berbuat perang sabil; membunuh perajurit Usar, abdi Kanjeng Gupermen Belanda. Karena itu Kangmas serta Uwa Jeng Prameswari kesalahan membangkang pemerintahan Raja. Tanggal 11 April 1883.”

Dengan berdasarkan Surat Keputusan dari Kesultanan tersebut diatas GKR Sekar Kedaton dan GPH Suryengalogo beserta istri pertama berikut anaknya, dan juga semua pengikutnya, berangkat dengan diantar oleh Residen untuk naik kapal laut dari Semarang menuju Manado. Di Manado bertemu dengan saudara-saudaranya yang telah lebih dahulu dipindahkan dari Yogyakarta ke Manado, yaitu Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo (putra Sultan Hamengku Buwono VI dan saudara dari Sultan Hamengku Buwono VII) beserta istri dan anaknya, menjemput rombongan dari Jogyakarta di kapal dan mempersilahkan agar Prameswari dan GPH Suryengalogo menempati rumah mereka di kampung Pondol.

GPH Suryengalogo, 4 tahun kemudian memanggil istri keduanya yaitu Raden Ayu Dayaningsih yang ada di Yogyakarta untuk tinggal di Manado, dan setahun kemudian mempunyai 1 anak laki-laki yang elok rupanya. Tetapi Raden Ayu Dayaningsih cepat meninggalkan segala-galanya. GPH Suryengalogo akhirnya wafat di Manado pada tanggal 12 Januari 1901. Setelah beliau meninggal dunia, GKR Sekar Kedaton dibelikan rumah oleh Sultan Hamengku Buwono VII untuk ditempati oleh beliau bersama anak dan cucunya. Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Hadiwijoyo sudah dianggap sebagai anaknya sendiri oleh GKR Sekar Kedaton, apalagi setelah GPH Suryengalogo meninggal dunia.

BPH Hadiwijoyo pun akhirnya meninggal dunia pada tahun 1916, dan dimakamkan di Manado, tetapi kemudian oleh para keturunannya makamnya dipindahkan ke Hastorenggo Kotagede Yogyakarta.
46215/6 <157+107> < Gusti Bendoro Raden Ayu Angabehi [Hb.5.1] [Gp.Hb.6.3] (Bendoro Raden Ayu Gondokusumo) 60816/6 <185> < Raden Mas Soerjopranoto
lahir: 11 Januari 1871, Yogyakarta
perkawinan: <186> < Djauharin Insjiah d. 1951
wafat: 15 Oktober 1959, Cimahi
40118/6 <158+104> < Gusti Kanjeng Ratu Bendoro [Hb.6.13] 38519/6 <361+139> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VII / Bendoro Raden Mas Aryo Surarjo
lahir: 9 Desember 1882, Yogyakarta
gelar: 16 Oktober 1906, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo
gelar: 16 Oktober 1906 - 16 Februari 1937, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VII
perkawinan: <188> < Gusti Bendoro Raden Ayu Retno Puwoso , Yogyakarta
wafat: 16 Februari 1937, Kulon Progo
penguburan: 18 Februari 1937, Kulon Progo
BRMH Surarjo (lahir di Yogyakarta, 9 Desember 1882 – meninggal 16 Februari 1937 pada umur 54 tahun) adalah putra Paku Alam VI dari permaisuri. Ia ditinggal mangkat oleh ayahnya saat masih menyelesaikan studi di HBS Semarang. Sambil menunggu Surarjo menyelesaikan studi, Pemerintah Hindia Belanda mengangkat sebuah Raad van Beheer/Dewan Perwalian Pakualaman untuk menyelenggarakan pemerintahan Pakualaman sehari-hari. Akhirnya pada 16 Oktober 1906 ia diangkat oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai penguasa tahta Pakualaman dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo. Namun upacara resmi pentahtaan baru dilaksanakan pada 17 Desember tahun yang sama.

Setelah bertahta Prabu Suryodilogo, bekerjasama dengan Pemerintah Hindia Belanda, mengadakan beberapa pembaruan dibidang sosial dan agraria. Kemudian ia juga mereformasi bidang pemerintahan dengan mulai menerbitkan rijksblad (semacam lembaran Negara) untuk daerah Pakualaman. Pengertian yang konservatif secara berangsur digantikan dengan pikiran yang modern dan berpandangan luas. Pada 10 Oktober 1921 pengganti Paku Alam VI menggunakan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VII dan oleh Pemerintah Hindia Belanda diberi pangkat Kolonel tituler. Pembaruan tidak berhenti pada tahun itu tetapi terus berlanjut, terutama dalam penyempurnaan pengelolaan anggaran keuangan. Pemerintah desa pun tidak luput dari pembenahan dan reorganisasi. Status kewarganegaraan penduduk dipertegas dengan membedakan antara warga Negara (kawulo kerajaan/kadipaten) dan bukan warga Negara (kawulo gubermen).

Disamping pemerintahan perhatian Paku Alam VII juga tertuju pada kesenian. Pagelaran wayang orang berkembang dengan baik. Dalam kesempatan menerima tamu-tamu dari luar negeri ia acapkali menjamu mereka dengan wayang orang dan beksan (tari-tarian klasik). Dalam bidang pendidikan ia mengijinkan sekolah-sekolah berdiri di daerah Adikarto (bagian selatan Kabupaten Kulon Progo sekarang) serta mengadakan sebuah lembaga beasisiwa untuk menjamin kelanjutan studi bagi mampu melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.

Pada 5 Januari 1909 Paku Alam VII menikah dengan GBRA Retno Puwoso, Putri dari Pakubuwono X, Sunan Surakarta. Seluruh putra-putrinya ada 7 orang. Ketika putra mahkota berkunjung ke Nederland untuk menghadiri pesta perkawinan Putri Mahkota Belanda Juliana dan Pangeran Bernard, Paku Alam mangkat. Ia meninggal pada 16 Februari 1937 dan dimakamkan pada 18 Februari tahun yang sama di Girigondo Adikarto (sekarang bagian selatan Kabupaten Kulon Progo).
63620/6 <372+140> < w Raden Mas Noto Soeroto
lahir: 5 Juni 1888, Yogyakarta
perkawinan: <189> < Johanna Adriana Catharina Wilhelmina Meijer b. 15 September 1897
wafat: 25 November 1951, Surakarta
Ki hajar dewantara2.jpg
38321/6 <185> < Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara)
lahir: 2 Mei 1889, Yogyakarta, Indonesia
perkawinan: <616!> < R. A. Soetartinah b. 14 September 1890
wafat: 26 April 1959, Yogyakarta
SOETARTINAH-2.JPEG
61622/6 <371+1081!> < R. A. Soetartinah
lahir: 14 September 1890
perkawinan: <383!> < Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) b. 2 Mei 1889 d. 26 April 1959
62423/6 <371+1081!> < Raden Mas Johannes Soedarto Sosroningrat
lahir: 25 Desember 1895, Yogyakarta
perkawinan: <628!> < Raden Ajeng Siti Pailah b. 17 Juli 1902
62524/6 <371+1081!> < R. A. Maria Soelastri Sosroningrat
lahir: 22 April 1898, Yogyakarta
perkawinan: <190> < Raden Mas Jacobus Soejadi Darmosapoetro
wafat: 18 September 1975, Semarang
penguburan: Kompleks Gua Maria Kerep, Ambarawa, Semarang
Sedari kanak-kanak hingga remaja, Maria Soelastri begitu tertarik mempelajari budaya bangsa lain, termasuk diantaranya budaya barat, untuk menjawab rasa ingin tahu beliau kenapa tanah air Indonesia dikuasai bangsa barat. Sebaliknya, ayahanda beliau, Pangeran Sasraningrat, sangat menaruh minat pada Kesusasteraan Jawa Kuno dengan pergolakan-pergolakan dan perubahan jamannya. Kegiatan beliau dalam bidang jurnalistik membawa beliau berkenalan dengan tamu-tamu dari luar daerah, juga dari Batavia. Salah satunya adalah Dr. Hazeu, penasehat urusan pemerintahan jajahan, yang membawa serta seorang anggota Misi Gereja Katolik untuk Jawa Tengah yaitu Romo van Lith. Romo van Lith yang kemudian sering berkunjung untuk mempelajari Sastra Jawa, adat istiadat dan kebudayaan Jawa.

Th. 1906 dengan rekomendasi Romo van Lith dan disetujui ibunda B.R.A. Sasraningrat masuklah Ibu Maria Soelastri ke Europeese Meisjesschool dari Ordo Suster Fransiskanes Kidul Loji Mataram, Yogyakarta.

Dari sejarah keluarga Maria Soelastri ini, dan dari lingkungan dan komunitas keluarga yang banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh pendidikan pada masa itu, tentu menjadi mudahlah bagi kita untuk dapat memahami sifat dan sikap nasionalisme Maria Soelastri yang kental, amat peduli pada rakyat kecil dan berpikiran maju. Perasaannya yang halus dan mudah tersentuh pada penderitaan kaum lemah begitu kuat, yang kemudian mendorong untuk melakukan suatu tindakan nyata bagi orang-orang di sekitarnya. Secara khusus perhatiannya tercurah pada buruh perempuan di pabrik cerutu Negresco dan pabrik gula di Yogyakarta dan usaha untuk mencarikan jalan keluar bagi kesejahteraan dan masa depan mereka. Dari kaum buruh inilah usaha peningkatan derajat dan martabat wanita pada umumnya dan wanita katolik pada khususnya dimulai.

Saat awal didirikannya Poesara Wanita Katholiek – kelak menjadi Wanita Katolik RI – bersama teman-temannya pada tanggal 26 Juni 1924, yang terpilih sebagai ketua pertamanya adalah adik Maria Soelastri, yaitu R.A. Catharina Soekirin Sasraningrat karena R.A. Maria Soelastri bertempat tinggal di Magelang. Terlihat betapa Maria Soelastri ini amat ‘sepi ing pamrih’ (tak punya pamrih atau ambisi pribadi), namun sepak terjangnya dalam membela kaum buruh dan kegigihannya itu membuatnya mendapat julukan ‘singa betina’ yang amat disegani.

Th. 1914 Ibu R.Ay. Maria Soelastri Sasraningrat dipersunting oleh Dokter Hewan R.M. Jacobus Soejadi Darmosapoetro, yang meskipun seorang pegawai negeri dalam pemerintahan tetapi berideologi politik melawan Politik Kapitalis Kolonial.

Ketika Wanita Katolik RI merayakan ulangtahunnya yang ke-50 di tahun 1974, Maria Soelastri menuliskan sebagian dari pengalaman perjuangannya, dengan antara lain menulis :

Sebagai langkah perjuangan yang pertama Ibu (Maria Soelastri – red) menemui pengusaha-pengusaha Belanda dari Pabrik Cerutu dan Pabrik Gula di Yogyakarta yang kedua-duanya juga beragama katolik. Buruh kedua pabrik ini sebagian besar terdiri dari buruh wanita. Pertemuan berlangsung dalam suasana damai. Pembicaraan diadakan dari hati ke hati dengan berpedoman pada Ensiklik-ensiklik Gereja Katolik, antara lain Rerum Novarum dari Bapak Leo ke XIII di Roma dan Quadragesimo Anno dari Paus Pius XI. Sebagai hasil pembicaraan, dengan segera dibentuklah peraturan-peraturan di kedua belah pabrik tersebut untuk perbaikan nasib para buruhnya pada umumnya dan buruh wanita pada khususnya. Langkah berikutnya dari Organisasi Wanita Katolik meliputi kerja sama dengan Usahawan-usahawan Katolik Belanda untuk mengadakan segala macam perbaikan nasib para buruh. … (Maria Soejadi Darmosaputro Sasraningrat, 24-6-1974) – oleh Iswanti, Kodrat yang Bergerak

Kini buah pikiran dan gagasan ibu R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat telah semakin dikembangkan dan diwujud-nyatakan secara meluas. Dari gagasan yang muncul dari seorang perempuan ningrat yang peduli pada kaumnya, dari sebuah tempat ikrar di Kidul Loji, Yogyakarta, kini telah meluas ke seluruh nusantara. Dan gagasan itu semakin dikembangkan oleh srikandi-srikandi masa kini yang mengambil tongkat estafet dari para pendahulunya, namun sampai sekarang gagasan inti tetap tak lekang oleh waktu, tertuang dalam visi misi organisasi Wanita Katolik RI : demi tercapainya kesejahteraan bersama serta tegaknya harkat dan martabat manusia, dengan dilandasi nilai-nilai Injil dan Ajaran Sosial Gereja.

R.A. Maria Soelastri wafat di Semarang tanggal 8 September 1975 dan dimakamkan di Kompleks Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA).
62826/6 <365> < Raden Ajeng Siti Pailah
lahir: 17 Juli 1902, Yogyakarta
perkawinan: <624!> < Raden Mas Johannes Soedarto Sosroningrat b. 25 Desember 1895
Cholil Kamaludiningrat Crop.jpg
38627/6 <159> < Kyai Penghulu R. M. Haji Muhammad Cholil Kamaludiningrat
wafat: 1914
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Ir. H. Hilal Achmar (Hamengku Buwono, b. 19 Mei). Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.



KAUMAN Islam~c Village bertengger di atas pintu gerbang utama masuk kampung Kauman dari sisi selatan. Di kampung sumpek berpenduduk 4.500 jiwa itulah, lahir Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Kampung Kauman di jantung Yog~yakarta hampir sarlla tuanya dengan keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Keraton Y~gyakarta secara resmi ditempati Sultan Hamengku Buwono I pada 7 Oktober 1756, dilengkapi beberapa bangunan penunjang. Masjid Agung, salah satu di antaranya, dibangun di bagian depan keraton, di barat Alun-Alun Utara. Fungsi masjid itu tidak hanya untuk tempat ibadah, melainkan juga untuk keperluan kemasyarakatan lainnya. Masjid itu berada di bawah pengawasan lembaga Kepengulon, sebuah lembaga yang mengurusi urusan keagamaan kerajaan Yogyakarta. Lembaga ini dipimpin oleh seorang penghulu, yang di dalam birokrasi keraton dipegang oleh seorang abdi Bupati Nayaka. Penghulu dan seluruh aparatnya ini disebut dengan Abdi Dalem Pamethakan, abdi dalem putih. Para abdi dalem yang mengurusi masjid ini mendapat fasilitas tanah gaduhan di sekitar masjid tersebut. Tanah seluas 1~2.000 m2 yang digunakan sebagai tempat tinggal para pengelola masjid itu disebut Tanah Pakauman, yang selanjut~ya ~disebut Kauman. Kata Kauman itu berasal dari kata Arab Qoimuddin (~Qoim dan Addin), artinya penegak agama. Dari pendekatan antropologi, masyarakat Kauman, termasuk masyarakat endogami. Sebuah masyarakat y~ang melaksanakan pernikahan dengan orang sekampung. Menurut Drs. Ahmad Adaby Darban, putra Kauman, dosen Sejarah Kauman UGM "Akibat ikatan kea~gamaan dan pertalian darah itu pergaulan sosial lebih intim." Di kampung Kauman itulah lahir Muhammad Darwisy, yan~g kelak dikenal dengan nama Kiai Haji Ahmad Dahlan. Putra Kiai Abu Bakar imam dan khatib Masjid Agung Keraton Yogyakarta, itu sejak 1~910 berusaha memurnikan Islam, m~engembalikan kehidupan agama kepada sumber aslinya, Quran dan Sunah. Secara terbuka, saat itu, Kiai Dahlan memberantas hal-hal yang menyimpang dari ajaran Islam. Misalnya perbuatan menyekutukan Tuhan (syirik), bidah khurafat, melakukan upacara peribadatan yang tidak diajarkan Quran. Salah satu tindakan nyata yang dilakukan Kiai Ahmad Dahlan, waktu itu, adalah memperbaiki arah kiblat yang semula lurus ke barat tapi kemudian dengan mengacu pada ilmu falak dibuat agak condong ke utara 22 derajat. Pembetulan arah kiblat ini dimulai dari Langgar Kidul, milik Kiai Ahmad Dahlan, dengan membuat garis saf. Anjuran pembetulan arah kiblat ini kemudian memberi semangat pada para santrinya untuk membuat garis-garis saf arah kiblat di Masjid Agung Yogyakarta. Akibatnya, sebagai abdi dalem Ketib, Kiai Ahmad Dahlan dinyatakan bersalah, melanggar kewenangannya dan birokrasi, karena Masjid Agung adalah wewenang kesultanan. Kanjeng Penghulu Cholil Kamaluddiningrat, penghulu Masjid Agung, bertambah marah ketika tahu bahwa Langgar Kidul baru saja diubah bangunannya, diluruskan dengan kiblat condong ke utara 22 derajat. Dia memerintah tukang-tukang dengan dikawal polisi Belanda merusak Langgar Kidul. Kiai Ahmad Dahlan sangat terpukul. Gerakan Pembaruan (Tajdid) yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan menjadi mulus setelah empat dari lima langgar yang ada di Kauman itu mengikuti jejaknya. Usaha reformasi lebih lancar lagi setelah Kiai Cholil meninggal 1914, dan diganti oleh Kanjeng Penghulu Muhammad Sa'idu Kamaludiningrat. Kiai Penghulu Sa'idu inilah memberi nama gerakan itu Muhammadiyah, artinya pengikut Nabi Muhammad, 1912. Dan, Kanjeng Penghulu Muhammad Sa'idu menjadi anggota Muhammadiyah dengan nomor stambuk 00001. Lalu, Kiai Penghulu mengizinkan pendopo Pengulon untuk aktivitas gerakan Muhammadiyah. Dalam bidang pendidikan, usaha Muhammadiyah sangat menonjol. Pada 1913 di Kauman lahir sekolah kiai, sekolah yang amat asing bagi masyarakat Kauman saat itu, yang lebih mengenal sistem pesantren. Karena meniru Belanda, Kiai Ahmad Dahlan dituduh kafir dan dicap sebagai Kiai Palus serta 'Kristen Alus'. Tapi, Ahmad Dahlan jalan terus. Pada 1918 juga di Kauman berdiri sekolah tingkat lanjut Al-Qismul Arqo. Sebuah sekolah dengan sistem modern. Sekolah inilah kemudian diubah menjadi Pondok Muhammadiyah, selanjutnya diubah lagi menjadi Kweekschool M~uhammadiyah dan Kweek~school Istri. Karena sekolah yang dise~lenggakan oleh bumiputra tidak dibolehkan memakai nama mirip sekolah Belanda, lalu berubah lagi menjadi Madrasah Mu~alimin Muhammadiyah dan Madrasah Mualimat Muhammadiyah. Da~ri Langgar Kidul itu berm~uculan organisasi kemuhammadiyah. Antara lain, 1917, berdiri organisasi wanita Muhammadiyah, yang diberi Aisiyah. Lalu, 191~7, berdiri organisasi kepanduan Hizbul Wathon, dan 1922, di Dalem Pengulon berdiri pendidikan kanak-kanak yang diberi nama Bus~~tanul A~tfal. Dan tumbuh pula organisasi pencak silat Ci Kauman (1915, yang kemudian bernama Tapak Suci. Kauman sekarang masih merupakan kampung santri dan kampung perjuangan. Di sana ada pengajian malam Selasa yang terkenal. Pengajian itu sudah ada sejak zaman Kiai Ahmad Dahlan, yang dahulu sering dihadiri oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Kauman telah melahirkan empat pahlawan nasional: Kiai H. Ahmad Dahlan, Nyai Ahmad Dahlan, Kiai H. Fachruddin, dan Kiai H. Bagus Hadikoesoemo. Syahril Chili dan M. Ajie Surya (http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1990/12/15/NAS/mbm.19901215.NAS20135.id.html)

KH Kholil & KH. Achmad Dachlan Tahun 1868 – 1910

1868 · Ahmad Dahlan lahir di Kampung Kauman Yogyakarta dengan nama Muhammad Darwis. Berayahkan K.H. Abu Bakar, seorang Ketib Masjid Besar Kauman Yogyakarta. Ibunya Siti Aminah adalah anak K.H. Ibrahim, penghulu besar di Yogyakarta. · Darwis kanak-kanak dikenal sebagai memiliki keahlian membuat barang kerajinan dan mainan. Sebagaimana anak laki-laki lain, ia juga memiliki kegemaran bermain layang-layang dan gasing · Saat remaja ia belajar agama Islam tingkat lanjut. Belajar fiqh dari K.H. Muhammad Saleh, belajar nahwu dari K.H. Muhsin, juga pelajaran lainnya didapatkan dari K.H. Abdul Hamid di Lempu­yangan dan K.H. Muhammad Nur. · Sebelum haji, jenis kitab yang dibaca Dahlan lebih banyak pada kitab-kitab Ahlussunnah wal jamaah dalam ilmu aqaid, dari madzhab Syafii dalam ilmu fiqh, dan dari Imam Ghazali dalam ilmu tasawuf.

1883-88 · Muhammad Darwis menunaikan ibadah haji yang pertama. Di tanah suci ia belajar kepada banyak ulama. Untuk ilmu hadits belajar kepada Kyai Mahfudh Termas dan Syekh Khayat, belajar qiraah kepada Syekh Amien dan Sayid Bakri Syatha, belajar ilmu falaq pada K.H. Dahlan Semarang, Ia juga belajar pada Syekh Hasan tentang mengatasi racun binatang. Selain dengan guru-guru di atas, selama delapan bulan di tanah suci, ia sempat bersosialisasi dengan Syekh Akhmad Khatib dan Syekh Jamil Jambek dari Minangkabau, Kyai Najrowi dari Banyumas, Kyai Nawawi dari Banten, para ulama dari Arab, serta pemikiran baru yang ia pelajari selama mukim di di Mekah.

1888 · Sepulang dari ibadah haji yang pertama, ia membelanjakan sebagian dari modal dagang sebesar f 500 (lima ratus gulden) yang diberi ayahnya, untuk membeli buku.

1889 · Ahmad Dahlan menikahi Siti Walidah yang kemudian dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, pendiri organisasi perempuan ‘Aisyiyah.

1896 · Ayahnya yang menjabat Ketib Amin meninggal. Sesuai dengan kebiasan yang berlaku di Kraton Yogyakarta sebagai anak laki-laki yang paling besar Ahmad Dahlan diangkat sebagai Ketib Amin menggantikan ayahnya.

1898 · Dahlan mengundang 17 ulama di sekitar kota Yogyakarta untuk melakukan musyawarah tentang arah kiblat di musholla milik keluarganya di Kauman. Masalah arah kiblat adalah masalah yang peka pada saat itu. Pembicaraan itu berlangsung hingga shubuh tanpa menghasilkan kesepakatan. Tetapi diam-diam dua orang yang mendengarkan pembicaraan itu beberapa hari kemudian membuat tiga garis putih setebal 5 cm di depan pengimaman masjid besar Kauman untuk mengubah arah kiblat sehingga mengejutkan jemaah salat dzuhur waktu itu. Kyai Penghulu H.M. Kholil Kamaludiningrat memerintahkan untuk menghapus tanda tersebut dan mencari orang yang melakukan itu.

1900-1910 · Panitia Zakat pertama. · Panitia kurban pertama. · Penggunaan metode hisab menggantikan metode aboge dan melihat hilal. · Peristiwa dirobohkannya surau Kyai A. Dahlan.

1903 · Ahmad Dahlan menunaikan haji yang kedua. Ia kembali memperdalam ilmu agamanya kepada guru-guru yang telah mengajarnya saat haji pertama. Ia belajar fiqh kepada Syekh Saleh Bafadal, Syekh Sa’id Yamani, dan Syekh Sa’id Babusyel. Belajar ilmu hadis kepada Mufti Syafi‘I, ilmu falaq pada Kyai Asy’ari Bawean, ilmu qiraat pada Syekh Ali Misri Makkah. Selain itu, selama bermukim di Mekah ini Dahlan juga mengadakan hubungan dan membicarakan berbagai masalah sosial-keagamaan, termasuk masalah yang terjadi di Indonesia dengan para ulama Indonesia yang telah lama bermukim di Arab Saudi, seperti: Syekh Ahmad Khatib, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang.


1909 · Ahmad Dahlan resmi menjadi Anggota Budi Utomo. Selanjutnya, ia menjadi pengurus kring Kauman dan salah seorang komisaris dalam kepengurusan Budi Utomo Cabang Yogyakarta

1910 · Ahmad Dahlan juga menjadi anggota Jamiat Khair, organisasi Islam yang banyak bergerak dalam bidang pendidikan dan mayoritas anggotanya adalah orang-orang Arab. · Melalui R. Budiharjo dan R Sosrosugondo (pengurus dan anggota Budi Utomo), yang tertarik pada masalah agama Islam, Ahmad Dahlan mendapat kesempatan mengajar agama Islam kepada para siswa Kweekschool Jetis. · Keinginan Ahmad Dahlan untuk mendirikan lembaga pendidikan yang menerapkan model sekolah yang mengajarkan ilmu agama Islam maupun ilmu pengetahuan umum terwujud. Sekolah pertama itu dimulai dengan 8 orang siswa, bertempat di ruang tamu rumah Ahmad Dahlan yang berukuran 2,5 m x 6 m, di ia sendiri bertindak sebagai guru. Pada tahap awal proses belajar mengajar belum berjalan lancar. Selain ada pemboikotan masyarakat sekitarnya, para siswa yang hanya 8 orang tersebut juga sering tidak masuk sekolah. Untuk mengatasinya, Ahmad Dahlan tidak segan-segan datang ke rumah para siswanya dan meminta mereka masuk kembali. (http://www.muhammadiyah.or.id/content-154-det-timeline-muhammadiyah.html).

Catatan Hilal Achmar: Masalah arah kiblat ini, sampai tahun 2000-2010 masih menjadi perdebatan, apakah masjid yang tidak tepat mengarah ke Ka'bah, harus dibenarkan atau tidak arah kiblatnya. Saya fikir, memang harus dibenarkan arah kiblatnya, tetapi dengan catatan: 1. Disosialisasikan dahulu kepada masyarakat sekitar Masjid. 2. Masyarakat diberitahu tentang arah kiblat yang benar dengan dasar ilmu yang dapat dimengertinya. 3. Berhati-hati, sehingga tidak menimbulkan konflik. Dibawah ini ada cara penentuan arah kiblat yang akurat dan sederhana, dimana masyarakat akan mengerti, dan menyadari arah kiblat mereka:

KIBLAT Kiblat adalah kata Arab yang merujuk arah yang dituju saat seorang Muslim mendirikan salat. Sejarah

Pada mulanya, kiblat mengarah ke Yerusalem. Menurut Ibnu Katsir,[1] Rasulullah SAW dan para sahabat salat dengan menghadap Baitul Maqdis. Namun, Rasulullah lebih suka salat menghadap kiblatnya Nabi Ibrahim, yaitu Ka'bah. Oleh karena itu beliau sering salat di antara dua sudut Ka'bah sehingga Ka'bah berada di antara diri beliau dan Baitul Maqdis. Dengan demikian beliau salat sekaligus menghadap Ka'bah dan Baitul Maqdis.

Setelah hijrah ke Madinah, hal tersebut tidak mungkin lagi. Ia salat dengan menghadap Baitul Maqdis. Ia sering menengadahkan kepalanya ke langit menanti wahyu turun agar Ka'bah dijadikan kiblat salat. Allah pun mengabulkan keinginan beliau dengan menurunkan ayat 144 dari Surat al-Baqarah: Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (Maksudnya ialah Nabi Muhammad SAW sering melihat ke langit mendoa dan menunggu-nunggu turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah).[2]

Juga diceritakan dalam suatu hadits riwayat Imam Bukhari:[3] Dari al-Bara bin Azib, bahwasanya Nabi SAW pertama tiba di Madinah beliau turun di rumah kakek-kakek atau paman-paman dari Anshar. Dan bahwasanya beliau salat menghadap Baitul Maqdis enam belas atau tujuh belas bulan. Dan beliau senang kiblatnya dijadikan menghadap Baitullah. Dan salat pertama beliau dengan menghadap Baitullah adalah salat Ashar dimana orang-orang turut salat (bermakmum) bersama beliau. Seusai salat, seorang lelaki yang ikut salat bersama beliau pergi kemudian melewati orang-orang di suatu masjid sedang ruku. Lantas dia berkata: "Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku telah salat bersama Rasulullah SAW dengan menghadap Makkah." Merekapun dalam keadaan demikian (ruku) mengubah kiblat menghadap Baitullah. Dan orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab senang beliau salat menghadap Baitul Maqdis. Setelah beliau memalingkan wajahnya ke Baitullah, mereka mengingkari hal itu. Sesungguhnya sementara orang meninggal dan terbunuh sebelum berpindahnya kiblat, sehingga kami tidak tahu apa yang akan kami katakan tentang mereka. Kemudian Allah yang Maha Tinggi menurunkan ayat "dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu" (al-Baqarah, 2:143).[2]

Hal itu terjadi pada tahun 624. Dengan turunnya ayat tersebut, kiblat diganti menjadi mengarah ke Ka'bah di Mekkah. Selain arah salat, kiblat juga merupakan arah kepala hewan yang disembelih, juga arah kepala jenazah yang dimakamkkan.

Penentuan arah kiblat

Dalam 1000 tahun terakhir, sejumlah matematikawan dan astronom Muslim seperti Biruni telah melakukan perhitungan yang tepat untuk menentukan arah kiblat dari berbagai tempat di dunia. Seluruhnya setuju bahwa setiap tahun ada dua hari dimana matahari berada tepat di atas Ka'bah, dan arah bayangan matahari dimanapun di dunia pasti mengarah ke Kiblat. Peristiwa tersebut terjadi setiap tanggal 28 Mei pukul 9.18 GMT (16.18 WIB) dan 16 Juli jam 9.27 GMT (16.27 WIB) untuk tahun biasa. Sedang kalau tahun kabisat, tanggal tersebut dimajukan satu hari, dengan jam yang sama.

Tentu saja pada waktu tersebut hanya separuh dari bumi yang mendapat sinar matahari. Selain itu terdapat 2 hari lain dimana matahari tepat di "balik" Ka'bah (antipoda), dimana bayangan matahari pada waktu tersebut juga mengarah ke Ka'bah. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 28 November 21.09 GMT (4.09 WIB) dan 16 Januari jam 21.29 GMT (4.29 WIB)

Pranala luar Indonesia) Sensitifnya Arah Kiblat Kiblat Kiblat Qiblah Qiblah in north america Al-Quds About.com Second Year of the Hijra di al-islam.org Menentukan arah kiblat pakai Google Earth di youtube

Catatan ^ (Arab)Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat al-Baqarah. ^ a b (Arab)Al-Qur'an Al-Karim. ^ (Arab)Al-Bukhari. Shahih al-Bukhari, hadits no. 41 dalam Fath al-Bari.

Kyai Penghulu R. M. Haji Muhammad Cholil Kamaludiningrat digantikan oleh Kiai Muhammad Sangidu/Kiai Penghulu Kanjeng Raden Haji Muhammad Kamaludiningrat, yaitu seorang penghulu keraton Yogyakarta sejak tahun 1914 sampai tahun 1940. Penghulu Kanjeng Raden Haji Muhammad Kamaludiningrat dikenal sebagai pemegang kartu anggota Muhammadiyah stanboek No. 1, dan juga pendukung gerakan KH. Ahmad Dahlan.

Kiai Penghulu Kanjeng Raden Haji Muhammad Kamaludiningrat mempunyai anak Muhammad Wardan dilahirkan pada tanggal 19 Mei 1911 di Kampung Kauman, Yogyakarta. Dia anak ketiga dari tujuh bersaudara seayah-seibu. Adapun enam saudaranya adalah Umniyah, Muhammad Darun, Muhammad Jannah, Muhammad Jundi, Burhanah dan Wari`iyah. Selain itu, dia juga mempunyai saudara yang berlainan ibu, yaitu Djalaluddin, Siti Salaman dan Siti Nafi`ah. Di lingkungan masyarakat Kauman, keluarga PKRH Muhammad Kamaluddiningrat dikenal sebagai Dani (keluarga) ketib Tengah yang tinggal di wilayah Kauman bagian barat. Sebagai keluarga abdi dalem santri mereka memiliki pusat kegiatan di Langgar Dhuwur. Dengan demikian, Muhammad Wardan secara sosio kultural berasal dari lingkungan keluarga abdi dalem santri.

Foto Insert: Keturunan Kyai Penghulu R. M. Haji Muhammad Cholil Kamaludiningrat, saat silaturahmi Idhul Fithri Tahun 2011
BPH Hadiwidjojo 1889.jpg
39128/6 <158+110> < Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo [Hb.6.17]
perkawinan: <191> < Gusti Raden Ayu Hadiwijoyo / Raden Ajeng Jimah d. 10 Februari 1939
wafat: 9 Februari 1916, Mahakeret Manado, Disarekan kembali di Pasarean Hasta Renggo Kotagede Yogyakarta pada Hari Minggu Legi 22 Juli 1990
Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Hadiwijoyo adalah putra ke-17 dari Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Beliau mempunyai 6 orang putra/putri dari Garwo Padmi yang bernama R.Aj. Jimah (GRA. Hadiwijoyo). BPH. Hadiwijoyo difitnah dan dibuang oleh Belanda ke Manado pada tahun 1875 karena dianggap membenci tindakan baginda Sultan HB VII, Media:https://kanjengratusekarkedaton.blogspot.com/p/sejarah.html sampai wafatnya pada 9 Februari 1916 dan dimakamkan di Mahakeret Manado.

Pada tahun 1883, BPH. Hadiwijoyo bersama istri dan anaknya, menjemput rombongan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Sekar Kedaton (permaisuri Sultan Hamengku Buwono V) dan putranya Gusti Raden Mas (GRM) Timur Muhammad/Gusti Pangeran Haryo (GPH) Suryengalogo di pelabuhan kapal di Manado, dan mempersilahkan mereka menempati rumah beliau di kampung Pondol. Selama di pengasingan, BPH. Hadiwijoyo ditemani putranya yang bernama RM. Menot. Kemudian disana lahir putra no.6 yang diberi nama RM. Joko Sangkolo. Setelah GPH. Suryengalogo meninggal dunia (1901), GKR. Sekar Kedaton dibelikan rumah oleh Sultan Hamengku Buwono VII sebagai tempat tinggal beliau bersama anak dan cucunya. BPH. Hadiwijoyo sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh GKR. Sekar Kedaton.

Kemudian GRA. Hadiwijoyo kembali ke Yogyakarta sampai dengan wafatnya dan dimakamkan di Pasarean Hasta Renggo Kota Gede Yogyakarta (di luar cungkup). BPH. Hadiwijoyo bersumpah tidak akan kembali ke Yogyakarta sebelum saudara yang memfitnahnya wafat, namun ternyata beliau wafat terlebih dahulu. Setelah sekian lama, akhirnya para anggota Trah Hadiwijoyo (Hadiwijayan) bersepakat untuk memindahkan makam BPH. Hadiwijoyo dari Mahakeret Manado ke Pasarean Hasta Renggo Yogyakarta. Rencana ini terelisasi pada tanggal 21 Juli 1990 dimana sebelumnya makam GRA. Hadiwijoyo dibongkar terlebih dahulu dan disandingkan dengan peti BPH. Hadiwijoyo untuk kemudian secara bersama-sama dimakamkan kembali di dalam cungkup.

Keenam Putra/Putri BPH. Hadiwijoyo adalah: 1. RA. Kustiyah (w.VI.17.1) 2. RM. Sutijo / RM. L. Prawirodipuro / RMW. Hatmodijoyo (w.VI.17.2) 3. RM. Subroto / RM. Dutodiprojo / RM. Rio Projomardowo (w.VI.17.3) 4. RA. Sriyati (w.VI.17.4) 5. RM. Sujono / RM. Menot (w.VI.17.5)

6. RM. Joko Sangkolo (w.VI.17.6)
Djatikusumo.jpg
41229/6 <187+119> < Kanjeng Pangeran Haryo Djatikusumo [Pb.10.23] (Bendoro Kanjeng Pangeran Haryo Purbonegoro)
lahir: 1 Juli 1917, Solo
perkawinan: <898!> < Bendoro Raden Ayu Jatikusumo [Hb.7.78] (R. A. Soeharsi Widianti) , Yogyakarta
lahir: 1 Juni 1946 - 1 Maret 1948, Rembang, Panglima Divisi V Ronggolawe
pekerjaan: 1948 - 1949, Jakarta, Kepala Staf TNI Angkatan Darat I
pekerjaan: 1958 - 1960, Singapura, Duta Besar RI untuk Singapura
pekerjaan: 1959 - 1960, Jakarta, Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja I
pekerjaan: 1960 - 1962, Jakarta, Menteri Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja II
pekerjaan: 1962 - 1963, Jakarta, Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja III
wafat: 4 Juli 1992
63030/6 <187+119> < G. K. R. Pembajoen
lahir: 25 Maret 1919
perkawinan: <192> < R. A. A. M. Sis Tjakraningrat d. 24 September 1992
perkawinan: <193> < R. A. A. Muhammad Roeslan Tjakraningrat , <194> < R. A. Hatimah
wafat: 10 Juli 1988, Ciputat, Tangerang Selatan
penguburan: Imogiri, Bantul
Gusti nurul.jpg
60531/6 <348+131> < Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani / Gusti Noeroel
lahir: 17 September 1921, Surakarta
perkawinan: <195> < Raden Mas Soerjosoejarso
wafat: 10 November 2015, Bandung
Gusti Noeroel terkenal memiliki paras yang cantik. Karena kecantikannya, pada saat itu Gusti Noeroel menjadi primadona di Kota Solo dan didambakan para tokoh negara. Mulai dari mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang biasa mengirimkan kado melalui sekretarisnya ke kediaman Gusti Noeroel di Pura Mangkunegaran ketika rapat kabinet digelar di Yogyakarta. Gusti Noeroel juga didambakan oleh Kolonel GPH Djatikusumo, salah seorang prajurit militer. Yang menarik adalah mantan Presiden Soekarno yang juga tertarik dengan Gusti Noeroel namun konon kalah bersaing dengan Sutan Sjahrir.[3] Tokoh negara lainnya yang mencoba meminang Gusti Noeroel adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memiliki 9 orang selir. Namun semua tokoh tersebut tidak ada satupun yang berhasil memikat hati Gusti Noeroel. Putri bangsawan ini memutuskan untuk menerima pinangan seorang militer berpangkat letnan kolonel yang bernama RM Soerjo Soejarso.

Kecantikan Gusti Noeroel yang termasyhur ini juga dibarengi dengan kepiawaiannya menari. Suatu kali, di usianya yang masih 15 tahun, Gusti Noeroel diminta datang secara khusus untuk menari di hadapan Ratu Wilhelmina di Belanda. Tarian tersebut dipersembahkan sebagai kado pernikahan Putri Juliana. Menariknya, saat itu rombongan dari Mangkunegaran tidak membawa gamelan untuk mengiringi tarian Gusti Nurul. Tarian itu diiringi alunan gamelan yang dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan melalui Solosche Radio Vereeniging, yang siarannya bisa ditangkap dengan jernih di Belanda[4].

Gusti Noeroel juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang membidani berdirinya Solosche Radio Vereeniging, stasiun radio pertama di Indonesia.
BPH Buminata.jpg
40632/6 <158+104> < Gusti Pangeran Haryo Buminoto [Hb.6.18]
60433/6 <362> < Raden Mas Soekemi Sosrodihardjo
perkawinan: <211> < Ida Ayu Nyoman Rai b. 1881 d. 12 September 1958
wafat: 18 Mei 1945, Jakarta
Raden Soekemi Sosrodihardjo adalah seorang guru di Surabaya dan ayah dari presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno. Ia diangkat sebagai guru pada bulan Agustus 1898 di Surabaya. Tanggal ini berdasarkan tulisan ia yang bersumber dari buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, karya Cindy Adam. R. Soekeni sebagai guru pemerintah Kolonial Belanda tinggal di kampung Pandean, dan sungai Kali Mas masih berfungsi sebagai jalur transportasi.

Pada tanggal 28 Desember 1901 R. Soekeni menerima besluit untuk di pindah tugas ke kecamatan Ploso di Jombang sebagai Mantri Guru. Lingkungan Ploso pada masa itu masih sangat desa sekali. Selanjutnya pada tanggal 23 November 1907 ia menerima besluit dari Kementrian Pendidikan Kolonial Belanda di Batavia untuk di pindah tugas ke Sidoarjo kota kecil pada waktu itu yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Surabaya.

Pada tanggal 22 Januari 1909 R. Soekeni menerima besluit lagi untuk di pindah tugas ke Mojokerto, selanjutnya di pindah tugas lagi ke Blitar sebagai guru di Normaalschool berdasarkan besluit tertanggal 2 Februari 1915 dari Batavia.

Pada saat ke Jakarta merupakan perjalanan yang terakhir dari R. Soekeni, pada saat itu ia diminta datang ke Jakarta oleh putranya Soekarno untuk melihat kelahiran Cucunya yang pertama Guntur, saat berjalan-jalan menghirup hangatnya udara Jakarta R. Soekeni terjatuh dan sakit keras sampai meninggal pada tanggal 18 Mei 1945.
38734/6 <159> < R.M.Haji Adam
38835/6 <159> < R.Ay.Hj. Sodik
38936/6 <159> < R.Ay.Jaed
39037/6 <160> < Sulaeman
Official From Hilal Achmar.
39440/6 <158+113> < Bendoro Raden Ayu Suryomurcito [Hb.6.21] 39743/6 <158+112> < Bendoro Raden Mas Suleman [Hb.6.4]
39844/6 <158+111> < Bendoro Raden Ayu Notoyudo [Hb.6.16] 39945/6 <158+111> < Raden Ajeng Karsinah / Sedo Timur
42252/6 <165> < Raden Mas Tumenggung Soerjodikoesoemo
42353/6 <166+?> < Nyi Jawahir
Official Link. Adm: Hilal Achmar Nyi jawahir peputra ; 1.Ali Mustafa peputra ; 1. Sastra 2. H. Muhson 3. Imam Pura 4. Sarbini 5. Dalail 6. Munirah 7. Nyai Madmarja
42454/6 <166+?> < H. Ahmad
Official Link. Adm: Hilal Achmar.

1.Ibunipun Nyi. H. Ali 2.Nyi Mangku 3.Madnur 4.Toyib

Buku alit punika kaparingan asma PUSTAKA PERDHIKAN. Dipun anggit dinten Jumat Kliwon, 11 Safar 1430 H/ taun JE 1942 utawi 06 Februari 2009 dening R. Muh. Rafi Ananda Basaiban kanti ngempalaken riwayat saha silsilah saking pra turunipun Suwargi KH. Imanadi ugi kanti penyelidikan awujud sumber – sumber kawontenan ing sejarah. Riwayat kakempalaken saking panjenenganipun ;

1.KH. Sayyid R. Salim Al Mator Jatisari 2.Sayyid R. Sugeng Assyamsi Kauman

Buku kacetak kanti sederhana supados saged dipun waos dening pra putra wayahipun KH. Imanadi ingkang mbetahaken. Kagem Pra putra wayah ingkang dereng kaserat wonten ing mriki kersaha nyerat piyambak – piyambak lan kahaturaken dhateng Sayyid R. Muh. Rafi Ananda wonten alamat Jalan Garuda 13 Kebumen Jawa – Tengah. Wasana Buku Pustaka Perdhikan punika sageda manfangati kagem kita sami. Amin.

Buku Pustaka Perdhikan nyariosaken riwayatipun KH. Imanadi saha silsilahipun dumugi putra wayah turunipun.

KH. Imanadi putranipun Pangeran Nurudin / Syekh Nurmadin bin Pangeran Marbut / Syekh Abdurrahman Rawareja. Dipun carioasaken bilih Pangeran Marbut punika salah satunggaling pangeran saking Mataram Kartasura. Pangeran Marbut rayinipun Pangeran Said / Syekh Mursyid Legok. Pangeran Marbut dipun tugasi supados madosi Pangeran Said ingkang langkung rumiyin kesah saking kraton amargi mboten remen kaliyan Walandi ingkang pengaruhipun sampun mlebet wonten keluarga kraton wekdal samanten. Pangeran Marbut lajeng tindak mangilen madosi keng Raka ngantos dumugi kepanggih wonten ing Rawareja. Siti Rawa dados dhusun ingkang reja sak sampunipun Pangeran Said lenggah wonten ing mriku. Sak sampunipun kepanggih kalian keng Raka, Pangeran Marbut lajeng nyuwun dhumateng Pangeran Said kondur dhateng Mataram, ananging Pangeran Marbut malah dipun suwun ndherek merangi Walandi. Pangeran Marbut kagungan satunggal pemanggih kaliyan Pangeran Said, lajeng mboten sios kondur dhateng Mataram lan ndherek keng Raka merangi Walandi. Pangeran Marbut kasuwun supados lenggah wonten Rawareja, dene Pangeran Said lajeng jengkar saking Rawareja supados mboten dipun curigani dening Walandi. Pageran Said tindak mangilen dumugi Legok, lajeng lenggah wonten ing mriku ngatos dumugi sedanipun ( pesarehanipun wonten sak wingkingipun masjid Legok ). Pangeran marbut peputra Pangeran Nurudin / Syekh Nurmadin. Syekh Nurmadin ugi kados dene ingkang rama, tansah nglampahaken syiar Islam kanti mucali ngaos piwulang agami Islam wonten Rawareja lan tansah merangi Walandi, asring kanti dhedhemitan ( gerilya ).

Pangeran Nurmadin Peputra KH. Imam Manadi / Imanadi ingkang sak sampunipun dhiwasa lajeng lenggah wonten ing siti Perdhikan / Keputihan inggih punika siti ingkang merdhika, bebas saking pajeg. Siti punika lajeng kawastan siti Pesucen, ingkang sak terusipun dados dhusun nami Pesucen.

Wonten ing Pesucen KH. Imanadi ugi tansah nerasaken perjuanganipun ingkang Rama lan Eyangipun. KH. Imanadi nglampahaken syiar Islam wonten ing dhusun Pesucen. Panjenenganipun ugi sampun nate tindak dhateng Mekah kagem nglampahi haji lan ngaos Agami Islam, mila ngantos lenggah wonten ing Mekah sawatawis dangu. Sak Konduripun saking Mekah KH. Imanadi dipun dadosaken panglima perang dening Pangeran Dhiponegara kagem wilayah Kebumen lan sak kiwa - tengenipun. Wondene panglima perang pusat dipun asta dening putranipun KH. Nur Iman Mlangi / KGPH. Sandeyo ( antawis taun 1825 – 1830 ).

Kh. Imanadi sanget misuwur dados setunggaling priyantung ingkang Linangkung, tangguh ugi ahli strategi perang, ingkang asring kanti dhedhemitan ( gerilya ), Mila Panjenenganipun mboten gampil dipun cepeng dening Walandi. Walandi ngantos kuwalahan ngadhepi KH. Imanadi. Wonten satunggaling wekdal, KH. Imanadi perang mengsah Walandi wonten sakpinggiring lepen LUKULA / Kali Gending. Panjenenganipun kepepek mboten saged mlajar malih. KH. Imanadi lajeng mlebet wonten ing lepen ( silem ) ngantos dangu mboten katingal. Walandi ingkang sumerep kalangkunganipun KH. Imanadi lajeng kanti sabar madosi turut lepen ngantos dumugi wekasanipun lepen LUKULA. Wonten ing mriku KH. Imanadi lajeng ngetingal lan lajeng dipun cepeng.

Kalangkunganipun KH. Imanadi sanesipun babagan agami, inggih babagan politik, hukum, sosial lan ketatanegaraan ( pemerintahan ), ndadosaken Walandi sanget hormatipun lan sae dhumateng panjenenganipun sanajan wonten ing tahanan.

Ngleresi jaman Adipati Arung Binang IV ( 1833 – 1861 ) ingkang wekdal samanten ngasta pemerintahan Kebumen, wonten satunggaling wekdal sang Adipati pikantuk sasmita “ menawi badhe kiyat pemerintahanipun kedah manggihi lan sesarengan kaliyan KH. Imanadi ingkang wekdal samanten taksih dados tahanan politik. Adipati Lajeng ngedalaken KH. Imanadi saking tahanan lan ndadosaken panjenenganipun Pengulu Landrat I Kebumen. KH. Imanadi kersa dipun dadosaken Pengulu Landrat kanti syarat ingkang dados wakilipun inggih punika KH. Zaenal Abidin Banjursari Buluspesatren ingkang wekdal samanten taksih wonten tahanan amargi dados badalipun KH. Imanadi wekdal merangi Walandi.

Kh Imanadi ngasta dados Pengulu Landrat I Kebumen lan lenggah wonten ing Kebumen. Panjenenganipun mundhut siti sak kilenipun alun – alun Kebumen ingkang sak lajengipun kawastanan kampung Kauman. Siti ingkang pernah Tengah lajeng dipun dadosaken Mesjid ingkang sak mangke dados nami Masjid Agung Kauman Kebumen ( antawis taun 1832 ). Masjid ingkang sepindah dipun damel kanti modhel Joglo inggih punika ngagem 4 saka guru. KH. Imanadi damel saka guru saking kajeng jati ingkang dipun dugikaken saking kabupaten Ambal. Dipun cariosaken bilih adegipun saka 4 punika namung satunggal dalu inggih amargi angsal bantuan saking jin Islam saking Timur Tengah ingkang kawon juritipun kaliyan KH. Imanadi nalika wonten ing Mekah. Jin punika asma Syekh Abdurrahman ingkang katelah ugi Mbah Wangsa. Jin punika nyuwun tumut KH. Imanadi kondur dhateng Kebumen. Panjenenganipun marengaken kanti syarat mboten hangganggu damel sedaya putra wayah lan turunipun.

Sekawan saka guru punika hingga sak punika taksih, ananging sampun dipun biantu cor. Wiwit taun 1832 M dumugi sak punika Masjid sampun dipun renovasi ambal kaping 5. Renovasi paling ageng wonten ing warsa 2005.

Dumugi sak punika Imam Masjid sampun gantos ambal kaping 10, ingkang sedaya taksih kalebet putra wayahipun KH. Imanadi.

KH. Imanadi lenggah wonten Kauman ngantos dumugi sedanipun, ananging lajeng dipun sarekaken wonten pesarean Pesucen Wonosari, mboten sesarengan kaliyan Pangeran Nurmadin ( Ramananipun ) ugi Pangeran Marbut ( Eyangipun ) ingkang sumare wonten ing dhusun Rawareja.




Sak surutipun KH. Imanadi, Pengulu Landrat II dipun asta dening KH. Moh. Alwi ( salah satunggaling putra KH. Imanadi ).

Pengulu Landrat III dipun asta dening KH. Ali Khusen ( Ingkang sak lajengipun dados marasepuhipun KH. Ali Awal ) amargi wekdal samanten pra putra KH. Alwi taksih sanget timur.

Penguli landrat IV dipun asta dening KH. Ali Awal ( salah satunggaling putra KH. Alwi ).

Pengulu Landrat V dipun asta dening Kh. Abdul Fatah ,( amargi pra putra KH. Ali Awal taksih sanget timur )

Pengulu landrat VI / Pungkasan dipun asta dening KH. Abdullah Ibrahim ( putra pembajeng KH. Ali Awal kaliyan garwa ingkang kaping kalih ).

Wiwit taun 1946 Pengulu landrat dipun gantos dados Kantor Urusan Agama ( KUA ). Ingkang ngasta sepindah wonten KUA kebumen inggih punika KH. Efendi.

SILSILAH KH. IMANADI KEBUMEN

Pangeran Marbut / Syekh Abdurrahman ( Pesarehanipun wonten ing Rawareja ) peputra ; Pangeran Nurudin / Syekh Nurmadin ( Pesarehanipun wonten ing Rawareja ) peputra ; KH. Imanadi ( Pesarehanipun wonten ing Pesucen ) peputra ; saking Garwa I ( Pringtutul Rawareja ) 1.Nyi. Warna 2.Kyai Basar Kahfi 3.Moh. Alwi 4.Ali Khusen 5.Zakariya 6.H. Chasan 7.Bafiroh 8.Nyi Yohana

Saking Garwa II ( Putrinipun RA. Kamaludin / Garwanipun Pengulu Kraton Jogja binti BPA. Dipowiyono bin Sinuwun Hamengku Buwana II kaliyan garwa kaping 4 / RA. Erawati ) peputra ;

1.Nyi Jawahir 2.H. Ahmad



Nyi Warna peputra ;


Kyai Basar Kahfi peputra ;

Moh. Alwi ( pesarehanipun wonten ing Pesucen ) peputra ; 1.Ali Awal Kauman 2.Alwi Pesucen 3.Hanawawi Kauman 4.Abdul Fatah

Ali Khusen peputra ; 1.Nyi Ali Awal Kauman ( turunipun mriksani turunipun Ali Awal Kebumen Garwa I ) 2.Munada Prembun peputra : 1.Madrejo / Muh. Ikhsan peputra : 1. Mad Idris 2. Sumowiyoto 3. Datun 4. Kasim peputra : 1. Sumiati 2. Suprapti 3. Ciptadi Prembun peputra : 1. Ayu Muzayyanah 2. Rosi Ruvaida 4. Isni peputra : 1. Nuryaningsih 2. Dewi Anjarsari 5. Chomsiatun peputra : 1. Intan Heri Purwoko 2. Setyo Nugroho 6. Sri Rochimah 7. Sri Rasmini peputra : 1. Sunikmah 2. M. Mudrik As. 3.Bagus Ulinuha 4. M. Habiburrohman 5. M. Ulil Azmi 6. M. Ali Wafa 7. S. U. Sa'adah 8. M. Huda 9. Ayu 10. Afriyani 11. M. Fikri 8. M. Marsudi 9. Siti Jumarni 10. Sarmini peputra : 1. Aji Mustofa 2. S.A. Tsani 3. Fuad 5. Madinah 6. Poniah 7. Sarikem 8. Siti Asiyah

2.Dalil 3.Ardjo Mutofa 4.Saminem Zakariya peputra ; 1.Nyi H. Ilyas Kutoarjo 2.H. Muh. Ilham Suraturunan 3.H. Muh. Aspan Suraturunan 4.H. Muh. Yusuf Kauman

H. Chasan peputra ;

Bafiroh peputra ;

Nyi Yohana peputra ;

Nyi jawahir peputra ; 1.Ali Mustafa peputra ; 1. Sastra 2. H. Muhson 3. Imam Pura 4. Sarbini 5. Dalail 6. Munirah 7. Nyai Madmarja

2.SanMunawar ( Lurah Pesucen ) 3.Nyi Basar Kahfi 4.Nyi Sanmustafa 5.Ali Muntaha peputra ; 1. Muhsin 2. Muhson 3. Muhsonah 4. Munsarip 5. Munisah 6. Mutnginah

6.Mustahal 7.Abdul Anwar ( Siwedi Kutowinangun ) 8.Marjuned ( Banjarnegara ) 9.Nyi Madmurja ( Kenteng Karangsari Kutowinangun ) 10.Nyi Badariyah ( Nyi H. Nawawi ) peputra ; 1. Nyai Carik jetis 2. Nyai Ahmad 3. Nyai Badriyah 4. Haji Masyhud 5. Nyai Trafas 6. Maklum

11.Nyi Ramadipura ( Buluspesantren ) 12.Nyi Satirah 13.Badarudin peputra ; 1. Nyi Ali Tsani Kauman ( Garwa I ) peputra ; 1. Siti Khalimah Kauman peputra ; 1. Mutoharoh

2. Chafsoh Pekalongan peputra ; 1. Arifin Pekalongan

2. Makmun Kauman peputra ; 1. Rokhimah Tasikmalaya peputra ;

2. Kharisoh Rantewringin peputra ; 1. Nurul Kauman 2. Retno Rantewringin 3. Beni 3. Khotmah Tasikmalaya peputra ;

4. Halimah Tasikmalaya peputra ;

5. Honimah Kebumen peputra ; 1. R. Muh. Rafi Ananda / Tuti Khusniati Al Maki 2. Aila Rezannia / Poedjo Raharjo 6. Soimah Kauman peputra ; 1. Arif Hidayat 2. Titin Rahayuningsih 3. Teguh Priyatno 4. Nur Fatmawati 5. Diyah Kurniasari

3. Nyi Maklum Kauman

H. Ahmad peputra ; 1.Ibunipun Nyi. H. Ali 2.Nyi Mangku 3.Madnur 4.Toyib

KH. Ali Awal bin Moh. Alwi kaliyan Garwa I peputra ;

1.Nyi Abdul Manan I ( Sepuh )Kemangguan Alian 2.Kyai Ismail Karanganyar Kebumen 3.Nyi Abdul manan II Kemangguan Alian 4.Nyi Zaenudin Pekeyongan 5.Nyi Hanan Plumbon peputra ; 1. Pengulu Ridwan/ Rilwan peputra ; 1. Rughoyah / Makmun Kauman 2. Rofqoniyah / Kyai Matori Jatisari peputra ; 1. KH. Sayyid R. Salim Al Mator peputra ; 1. Tobagus Muslihudin Aziz 2. Hikmatul Hasanah 3. Maksumah Kurniawati 4. Musyafa Firman Iswahyudi 5. Retno Auliyatussangadah 6. Eta Fatmawati Auliyatul Ummah

2. Songidah peputra ;

3. Sangadatun Diniyah peputra ;

4. Kyai Khumsosi Al Matori peputra ; 1. Siti Khulasoh 2. Siti Fatimah 3. Lukman Zein 4. Anis Siti Karimah 5. Siti Khomsiati 6. Anas Mufadhol

5. H. Makmuri peputra ;

6. Muslim peputra ;

3. Sanusi Prembun peputra ; 1. Sol 2. Salamah Balingasal Prembun

4. Sugeng peputra ;

5. Dulkodir peputra ;

6.Kyai Tohir Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

Kyai Kosim Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

KH. Ali Awal kaliyan Garwa II peputra ; 1.KH. Abdullah Ibrahim Kauman ( Pengulu Landrat terakhir ) peputra ; 1. Siti Khotijah / Zaenal Kauman 2. Siti hajatiyah / Mbah Jamaksari Somalangu 3. Ashariyah / Mustofa Banjarnegara 4. Umi Kulsum / Sumbono 5. Maimunah / Ali Siroj ( Purworejo ) 6. Mariyah / Sumbono 7. Hasim 8. Maryatini / Masngudin 9. Johariyah / kagarwa Sururudin, lajeng kagarwa dening Kyai Jamaksari Somalangu 10. Sri Kartini

2.Moh. Soleh peputra ; 1. Yusuf Soleh 2. Taslimah / Daqir Pekeyongan 3. Slamet Soleh 4. Musngidah / Masngud Prembun peputra ; 1. Dalail 5. Makmunah / Tahrir 6.Asyiah / Ngalimun Prembun

3.Siti Khalimah Wanasara / Abdullah sepuh peputra ; 1. Aminah Wanasara peputra ; 1. Muhtar

2. Mutiah Krakal peputra ; 1. Roh

4.H. Ali Tsani Kauman peputra ; Garwa I 1. Siti Khalimah Kauman peputra ; 1. Mutoharoh 2. Chafsoh Pekalongan peputra ; 1. Arifin Pekalongan

Garwa II ( Sayyidah Isti Sangadah binti Sayyid Muh. Fadil bin Sayyid Muh. Zein Solotiang bin Sayyid Muh. Alim Bulus Purworejo ) 1.Mahmud Ali Kauman peputra ; 1. Arif Mustofa

2.Isti Chamidah peputra ; 1. M. Sudjangi 2. Sugeng Assyamsi 3. Abdul Rozak 4. Lukman Hakim 5. Abdus Somad 6. M. Mahfud 7. M. Murtadlo

5.Abdul Wahab peputra ; 1. Moh Alwi Tejasari Kawedusan peputra ; 1. Ikhsan Alwi

2. Syamsi / Isti Chamidah

Khoul KH. Imanadi dipun wontenaken saben tanggal 14 Ruwah wonten ing serambi Masjid Pesucen Wonosari.

Wasana sinigeg semanten kemawon riwayat saha silsilahipun KH. Imanadi. Mugi – mugi handadosaken pepenget saha tuladhanipun khusus dhateng pra dharahipun, dhateng pra kathah umumipun. Amin

Kebumen, 06 Februari 2009 Sayyid R. Muh. Rafi Ananda

http://sayyidmuhammadraffie.blogspot.com/2009/12/pustaka-perdikan-riwayat-kh-imanadi.html
42555/6 <158+117> < Gusti Raden Ajeng Samilah [Hb.6.2]
42656/6 <158+118> < Gusti Raden Ajeng Kusdilah [Hb.6.14]
42959/6 <175> < Raden Mas Abdul Mutalib Diponegoro
43060/6 <175> < Raden Ayu Hafsyah
43161/6 <181> < 1. RM. Sumitra
43262/6 <181> < 2. RM. Pringadi
43363/6 <181> < 3. RA. Rualiyah
43464/6 <181> < 4. RA. Hashyah
43565/6 <181> < 5. Ramallah
43666/6 <181> < 6. Maryamah
43767/6 <180> < 1. RM. Muhammad
43868/6 <180> < 2. RM. Ismangun
43969/6 <180> < 3. RM. Sumantri
44070/6 <180> < 4. RA. Impung
44171/6 <180> < 5. RA. Sayang
44272/6 <180> < 6. RA. Mariamah
44373/6 <180> < 7. RA. Maryati
44474/6 <180> < 8. RA. Maryani
44575/6 <179> < 1. RM.Madi
44676/6 <179> < 2. RM. Panjikusumah
44777/6 <179> < 3. RM. Jaya Adisaputra
44878/6 <179> < 4. RM. Nursiwan
44979/6 <179> < 5. RM. Junata
45080/6 <179> < 6. RA. Patimah
45181/6 <179> < 7. RA. Supiah
45282/6 <179> < 8. RA. Rubiyah
45383/6 <179> < 9. RA. Munirah
45484/6 <179> < 10. RA. Juriah
45585/6 <179> < 11. RA. Halimah
45686/6 <179> < 12. RA. Halidah
46191/6 <157+107> < Bendoro Raden Mas Sepuh [Hb.5.2]
46392/6 <157+107> < Bendoro Raden Ayu Timur [Hb.5.3]
46493/6 <157+106> < Bendoro Raden Ayu Hadiwinoto [Hb.5.7] 46694/6 <190> < RM. Notodiprojo
46795/6 <197+191!> < 1. Raden Ayu Djojowinoto
46896/6 <194> < 1. Raden Mas Soendoro Djojowinoto / Ya'kub Ba'abud
46997/6 <194> < 2. Raden Mas Madiowinoto / Dja'far Ba'abud
47098/6 <194> < 3. Raden Ayu Suropranoto
47199/6 <194> <Ψ 4.
472100/6 <194> <Ψ 5.
473101/6 <194> <Ψ 6.
474102/6 <194> <Ψ 7.
475103/6 <194> <Ψ 8.
476104/6 <194> <Ψ 9.
477105/6 <194> <Ψ 10.
478106/6 <194> <Ψ 11.
479107/6 <171+123> < 1. RM. Kyai Muh.Kholifah
480108/6 <171+123> < 2. Nyi RAy. Hasan Tuba
481109/6 <171+123> < 3. Nyi RAy. Muhyiddin
482110/6 <198+?> < Raden Tumenggung Mangkuprodjo
483111/6 <205> < Raden Ayu Notosuro [Hb.3.2.7.1]
484112/6 <216> < Raden Ayu Kusumoharjo [Hb.3.2.18.1]
485113/6 <216> < Raden Mas Joyodigdo [Hb.3.2.18.2]
486114/6 <216> < Raden Mas Notoharjo [Hb.3.2.18.3]
487115/6 <216> < Raden Ayu Mertopangarso [Hb.3.2.18.4]
488116/6 <216> < Raden Ayu Harjodipuro [Hb.3.2.18.5]
489117/6 <216> < Raden Ayu Prawiroharjo [Hb.3.2.18.6]
490118/6 <216> < Raden Mas Kusumowilogo [Hb.3.2.18.7]
491119/6 <157+106> < Bendoro Raden Ayu Suwardi [Hb.5.4]
492120/6 <157+106> < Bendoro Raden Ayu Rabingu [Hb.5.5]
493121/6 <157+108> < Bendoro Raden Ayu Bumisalamah [Hb.5.6]
494122/6 <243+125> < Raden Ayu Suryoprawiro [Hb.3.4.3.1]
495123/6 <243+125> < Raden Mas Karmeni [Hb.3.4.3.2]
496124/6 <243+125> < Raden Mas Suleman [Hb.3.4.3.3]
497125/6 <243+125> < Raden Ajeng Parkis [Hb.3.4.3.4]
498126/6 <243+125> < Raden Ayu Mertonegoro [Hb.3.4.3.5]
499127/6 <243+125> < Raden Ayu Dipokusumo [Hb.3.4.3.6]
500128/6 <252> < Raden Rio Cokrodiprojo [Hb.3.8.1.1]
501129/6 <260> < Raden Ngabehi Kromodeksono [Hb.3.14.1.1]
502130/6 <186> < Raden Bagus Surobroto [Hb.3.14.3.1]
503131/6 <186+395!> < Raden Mas Atmosutejo [Hb.3.14.3.2] / [Hb.6.8.1]
504132/6 <186+395!> < Raden Ayu Klayunedeng [Hb.3.14.3.3] / [Hb.6.8.2] 505133/6 <290> < Raden Bagus Mangunsuro Wibowo II [Hb.3.19.2.1]
506134/6 <290> < Raden Bagus Mangunsuroto [Hb.3.19.2.2]
507135/6 <290> < Raden Mas Atmoyujono [Hb.3.19.2.3]
508136/6 <300> < Raden Lurah Atmodirjo [Hb.4.5.1]
509137/6 <300> < Raden Ayu Ronodiningrat [Hb.4.5.2]
510138/6 <300> < Raden Ayu Mangunjoyo [Hb.4.5.3]
511139/6 <300> < Raden Ayu Mertohadinegoro [Hb.4.5.4]
512140/6 <300> < Raden Ayu Prawirodiningrat [Hb.4.5.5]
513141/6 <300> < Raden Ayu Wiryodiningrat [Hb.4.5.6]
514142/6 <300> < Raden Lurah Atmoprawiro [Hb.4.5.7] / Raden Panji Joyoprawiro
515143/6 <300> < Raden Ayu Mangundikoro [Hb.4.5.8]
516144/6 <300> < Kanjeng Raden Tumenggung Prawirodirjo [Hb.4.5.9]
517145/6 <300> < Raden Ngabehi Ronopragoto [Hb.4.5.10]
518146/6 <300> < Raden Ayu Kertowerdoyo [Hb.4.5.11]
519147/6 <300> < Raden Ayu Dutopranoto [Hb.4.5.12]
520148/6 <300> < Raden Mas Atmodimulyo [Hb.4.5.13]
521149/6 <299+127> < Raden Ayu Sosroatmojo [Hb.4.11.1]
522150/6 <299+127> < Kanjeng Raden Tumenggung Jayaningrat [Hb.4.11.2]
523151/6 <299+127> < Raden Lurah Mangunsentono [Hb.4.11.3]
524152/6 <318> < Raden Ngabehi Pusporejoso [Hb.3.26.2.1] / Raden Mas Achmad Dahlan Mustahal
525153/6 <318> < Raden Ayu Sontorejo [Hb.3.26.2.2]
526154/6 <318> < Raden Ngabehi Bau Setiko [Hb.3.26.2.3]
527155/6 <318> < Raden Ayu Retno Pringgo Asmoro [Hb.3.26.2.4] / [Ga.Hb.4.14] 528156/6 <318> < Raden Ayu Sudiratmojo [Hb.3.26.2.5]
529157/6 <318> < Raden Mas Atmosentono [Hb.3.26.2.6]
530158/6 <324> < Raden Ayu Mangkusentono [Hb.3.27.2.1]
531159/6 <342> < Raden Mas Atmosedarmo [Hb.3.28.13.1]
532160/6 <342> < Raden Ayu Atmosetoto [Hb.3.28.13.2]
533161/6 <343> < Raden Mas Jumeno [Hb.3.28.14.1]
534162/6 <343> < Raden Mas Mangun [Hb.3.28.14.2]
535163/6 <343> < Raden Mas Jumali Abdul Safari [Hb.3.28.14.3]
536164/6 <343> < Raden Mas Mukri [Hb.3.28.14.4]
537165/6 <293+126> < Bendoro Pangeran Haryo Cakraningrat [Hb.4.9.1] / Kanjeng Raden Tumenggung Danurejo
538166/6 <293+126> < Raden Mas Panenggak [Hb.4.9.2]
539167/6 <293+126> < Raden Panji Ronowinoto [Hb.4.9.3]
540168/6 <293+126> < Raden Lurah Mangunpragolo [Hb.4.9.4]
541169/6 <293+126> < Raden Penewu Sindusentono [Hb.4.9.5]
542170/6 <293+126> < Raden Ajeng Rabingah [Hb.4.9.6]
543171/6 <293+126> < Raden Ayu Mangkusemedi [Hb.4.9.7]
544172/6 <293+126> < Raden Lurah Suryoprawiro [Hb.4.9.8]
545173/6 <293+126> < Raden Lurah Atmosuwarno [Hb.4.9.9] / Raden Lurah Dipodiprojo
546174/6 <294> < Kanjeng Raden Tumenggung Suryotaruno [Hb.4.10.1]
547175/6 <294> < Kanjeng Raden Tumenggung Danundiningrat [Hb.4.10.2]
548176/6 <294> < Raden Lurah Atmokusumo [Hb.4.10.3]
549177/6 <294> < Raden Ayu Pusposedarmo [Hb.4.10.4]
550178/6 <294> < Raden Ayu Puruboyo [Hb.4.10.5]
551179/6 <294> < Raden Ayu Sosrodirjo [Hb.4.10.6]
552180/6 <294> < Raden Ayu Mangkudilogo [Hb.4.10.7]
553181/6 <294> < Raden Ngabehi Puspoprawiro [Hb.4.10.8]
554182/6 <294> < Raden Ayu Danudipuro [Hb.4.10.9]
555183/6 <294> < Raden Ayu Sosroasmoro [Hb.4.10.10]
556184/6 <294> < Raden Ayu Sosrokusumo [Hb.4.10.11]
557185/6 <294> < Raden Ayu Mangunyudo [Hb.4.10.12]
558186/6 <294> < Raden Ayu Wongsodirjo [Hb.4.10.13]
559187/6 <347+130> < Raden Ayu Atmokusumo [Hb.4.13.4]
560188/6 <347+130> < Raden Lurah Mangkutaruno [Hb.4.13.3]
561189/6 <347+130> < Raden Lurah Mangunpramujo [Hb.4.13.2]
562190/6 <347+130> < Raden Ayu Bahudirjo [Hb.4.13.1] 563191/6 <228> < Kanjeng Raden Tumenggung Suryonegoro [Hb.4.17.1]
564192/6 <228> < Raden Panji Joyowiloyo [Hb.4.17.2]
565193/6 <228> < Raden Ajeng Siyami Atmopuspito [Hb.4.17.15]
566194/6 <228> < Raden Mas Pringadi [Hb.4.17.14]
567195/6 <228> < Raden Mas Sayidiman [Hb.4.17.13]
568196/6 <228> < Raden Ayu Jayengatmojo [Hb.4.17.12]
569197/6 <228> < Raden Mas Beskuwit [Hb.4.17.11]
570198/6 <228> < Raden Mas Bluder [Hb.4.17.10]
571199/6 <228> < Raden Ajeng Sumirah [Hb.4.17.9]
572200/6 <228> < Raden Ayu Pusposetoto [Hb.4.17.8]
573201/6 <228> < Raden Ayu Behi [Hb.4.17.7]
574202/6 <228> < Raden Ayu Manguntaruno [Hb.4.17.6]
575203/6 <228> < Raden Ayu Joyopuspito [Hb.4.17.5]
576204/6 <228> < Raden Ayu Mangkupertomo [Hb.4.17.4]
577205/6 <228> < Raden Panji Nitidiwiryo [Hb.4.17.3]
578206/6 <349+801!> < Raden Ayu Gunopranoto [Hb.7.22.8]
579207/6 <349+801!> < Raden Ayu Suryohalpito [Hb.7.22.7]
580208/6 <349+801!> < Raden Ayu Prawirodiningrat [Hb.7.22.6]
581209/6 <349+801!> < Raden Panji Partowiyono [Hb.7.22.2]
582210/6 <349+801!> < Raden Bekel Suryohalpito [Hb.7.22.3]
583211/6 <349+801!> < Raden Lurah Atmocondropuspito [Hb.7.22.4]
584212/6 <349+801!> < Raden Ajeng Kusmaryati [Hb.7.22.5]
585213/6 <349+801!> < Kanjeng Raden Tumenggung Sindurejo [Hb.7.22.1] 586214/6 <189+675!> < Raden Mas Samsurohini [Hb.7.54.1] 587215/6 <189+675!> < Raden Mas Mursanto [Hb.7.54.2]
588216/6 <189+675!> < Raden Mas Sakuntolo [Hb.7.54.3]
589217/6 <189+675!> < Raden Ajeng Suyadilah [Hb.7.54.4] 590218/6 <189+675!> < Raden Ayu Suyatilah [Hb.7.54.5]
591219/6 <233+125> < Raden Ayu Suryoprawiro [Hb,4.8.1]
592220/6 <233+125> < Raden Mas Karmeni [Hb.4.8.2]
593221/6 <350> < Raden Mas Nataningrat [Pa.2.1.1.1]
594222/6 <354+132> < Raden Ayu Sosroseputro [Pa.3.1.3] [Pa.2.9.4.1] 595223/6 <359+135> < Raden Mas Sinduseputro [Hb.7.31.1] (Raden Mas Jonkheer Marineer) 596224/6 <361+139> < Bendoro Raden Ajeng Amiratna [Pa.6.2] (Bendoro Raden Ayu Mangkudiningrat) 597225/6 <359+137> < Raden Mas Suteki [Hb.7.31.5]
598226/6 <359+135> < Raden Mas Jonkheer Infanterie [Hb.7.31.3]
599227/6 <359+135> < Raden Ajeng Siti Kadarinah [Hb.7.31.2] (Raden Ayu Projosemadi)
600228/6 <359+136> < Raden Ajeng Siti S. Kamarukmi [Hb.7.31.4] (Raden Ayu Irawan Atmojokusumo) 601229/6 <359+137> < Raden Ajeng Siti Sutyasning [Hb.7.31.6] (Raden Ayu Sugeng Suprobo) 602230/6 <164> < 1. RM. Krama Dipa
KPA Diponegoro , tertangkap oleh pasukan Belanda pada tanggal 8 Januari 1830, dan dilepas menjelang perundingan dg Jenderal De Kock, (tetap tinggal di jawa). Salah satunya keturunan yang tercerai-berai karena dikejar-kejar Belanda adalah Keluarga RM Krama Dipa yg sebagian besar tinggal di Desa Ledug, kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas ( Purwokerto ).
603231/6 <164> < 2. RM Haji Ali Dipowongso
606232/6 <219> < Taruno Atmojo
607233/6 <365> < Raden Mas Brotosudirjo
609234/6 <185> < Raden Mas Soerjosisworo
610235/6 <185> < R. A. Soewartijah Bintang
611236/6 <185> < R. A. Soewardinah Soerjopratiknjo
612237/6 <185> < Raden Mas Djoko Soewarto
613238/6 <185> < Raden Mas Soewarman Soerjaningrat
614239/6 <185> < Raden Mas Soertiman Soerjodipoetro
615240/6 <185> < Raden Mas Haroen Al Rasid
617241/6 <371+1081!> < Raden Mas Prawironingrat
618242/6 <371+1081!> < Raden Mas Notoningrat Soetjipto
619243/6 <371+1081!> < Raden Mas Soeprapto 620244/6 <371+1081!> < R. A. Martodirdjo
621245/6 <371+1081!> < Raden Mas Soerojo Sosroningrat
622246/6 <371+1081!> < R. A. Soekapsilah
623247/6 <371+1081!> < Raden Mas Soejatmo
626248/6 <371+1081!> < Raden Mas Santjojo Sosroningrat
627249/6 <371+1081!> < R. A. Catharina Soekirin Sosroningrat
629250/6 <169+121> < Kanjeng Raden Tumenggung Mertonegoro II
631251/6 <374> < Raden Ayu Joyowisastro
633252/6 <376> < Raden Mas Martowirono
634253/6 <376> < Raden Moeljono
635254/6 <377> < Raden Lurah Balad
637255/6 <378+102> < Raden Pandji Hardjowinoto
638256/6 <378+102> < Raden Ayu Kartokaskojo
639257/6 <378+102> < Raden Ayu Sinduwardojo
640258/6 <378+102> < Kanjeng Raden Tumenggung Notopradjarto
641259/6 <378+102> < Raden Ayu Umirah
642260/6 <378+102> < Raden Pandji Notowirodipuro
643261/6 <378+102> < Raden Pandji Mangunwihardjo
644262/6 <378+102> < Raden Purwowilojo
645263/6 <378+102> < Raden Mas Juwono
646264/6 <379> < Raden Ayu Bahutenoyo
647265/6 <380+648!> < Raden Ayu Mangunsukarjo 648266/6 <219> < Raden Ayu Medarsih 649267/6 <334+381!> < Raden Penewu Tirtodilogo
Raden Penewu Tirtodilogo dimakamkan di Demakijo
650268/6 <382> < Raden Ayu Tirtodilogo
dimakamkan di Demakijo

7

10901/7 <632> < Raden Tjokrowinoto
perkawinan: <233> < R. A. Tjokrowinoto d. 1954
penguburan: Ngudikan, Wilangan, Nganjuk
11092/7 <563> < Raden Ajeng Surodiningrat [Hb.4.17.1.1]
perkawinan: <102!> < Raden Tumenggung Surodiningrat d. 1856
wafat: Yogyakarta, Disarekan Pasarean Kuncen Yogyakarta
11343/7 <533+?> < Raden Ayu Siti Djumanah [Hb.3.2.8.14.1.6]
lain-lain:
perkawinan: 1947, Magelang, Menikah dengan R Ikhwan Usman
Baksan.jpeg
6844/7 <415+141> < RM. KH. Usman Bakhsan Dipomenggolo
lahir: 1849c, Jabaru, Ciomas
perkawinan: <234> < 10. Nji R. Kuraesin b. 1864c
IKPD-1.jpg
6855/7 <416> < 1. RM. H. Brodjomenggolo
lahir: 1850c
IKPD-1.jpg
6866/7 <416> < 2. RAy. Gondomirah
lahir: 1852c
wafat: 5 Juli 1908
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

mengenai Kalkulasi usia perkawinan dan status perkawinan :

  • Perbedaan usia antara RTA. Suradimenggala dengan RAy. Gondomirah sebanyak (1852-1819) = 33 tahun, ini dapat diartikan bahwa RAy. Gondomirah adalah isteri ke 2 / ke 3.
  • Pernikahan berlangsung pada saat usia RAy Gondomirah mencapai 26 tahun atau pada tahun 1878, dimana RTA. Suradimenggala sudah berusia (1878-1819) = 59 tahun.
IKPD-1.jpg
6877/7 <416> < 3. RM. H. Abas (Penghulu Ciomas)
lahir: 1854c
pekerjaan: ?, 1893-1903 Penghoeloe Tjiomas
IKPD-1.jpg
6918/7 <416> < 4. RM. H. Abdulrachman ADI Menggolo (Camat Ciomas)
lahir: 1855c
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Gerakan Perlawanan Sosial di Tanah Partikelir Ciomas Bogor Tahun 1886

Gerakan perlawanan sosial dikenal juga dengan istilah “gerakan melawan pemerasan”, “gerakan melawan keadaan”, atau “gerakan melawan peraturan yang tidak adil”. Dalam istilah kolonial, peristiwa perlawanan semacam itu dikategorikan sebagai “ganguan ketentraman”, “huru-hara”, “kerusuhan”, atau “gerakan rohani”. Suatu ciri umum, bahwa hampir semua gerakan perlawanan sosial peristiwanya terjadi di tanah Partikelir (particultire landerijen). Sebab – sebab timbulnya gerakan tersebut, dipengaruhi oleh terbentuknya tanah partikelir dan situasi – situasi yang mempengaruhinya, antara lain:

Tanah partikelir muncul sejak awal jaman VOC sampai perempatan pertama abad ke-19, sebagai akibat adanya praktik penjualan tanah yang dilakukan oleh orang – orang Belanda. Tanah – tanah tersebut berlokasi disekitar Batavia, dan sebagaian besar berada di daerah pedalaman antara Batavia dan Bogor, daerah Banten, Karawang, Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Pada awal kekuasaan VOC tanah tadi dihadiahkan kepada penanggung jawab kententraman dan keamanan di sekitar daerah Batavia, sedangkan sebagian kecil ada yang diberikan kepada kepala – kepala pribumi. Khusus untuk tanah partikelir di daerah Bogor, status kepemilikannya berada ditangan pribadi para Gubernur Jendral yang berlangsung secara berturut – turut. Bagi orang yang menerima tanah tersebut secara leluasa mereka bertindak sebagai tuan tanah dan segera menguasai penggarap anah dengan dikenakan beban berupa pajak tanah (cuke) yang tinggi, serta penyerahan wajib kerja yang berat. Tindakan pemerasan tuan tanah di wilayah pemilikan tanahnya itu membangkitkan gerakan perlawanan sosial yang penampilannya lebih cenderung bermotifkan perasaan dendam yang bersifat milenaristis atau mesianistis. Untuk menghilangkan kegelisahan para petani di daerah tersebut pada masa pemerintahan Deandeles dan Raffles pernah dikeluarkan larangan kepada tuan – tuan tanah untuk memperoleh sepersepuluh dari hasil tanah atau menentukan penyerahan tenaga kerja yang berat. Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah tahun 1836, dinyatakan bahwa pemerintah mempunyai hak untuk melindungi para petani dan mengatur suatu peradilan di tanah partikelir. Tetapi dalam menghadapi kecurangan tuan – tuan tanah, termasuk para pembantunya, pihak pemerintah sangat sulit mengawasinya, sehingga kegelisahan dikalangan petani semakin cenderung untuk mencetuskan gagasan dengan jalan melakukan tindakan kekerasan dalam bentuk perlawanan yang berkesinambungan. Kasus perlawanan petani di tanah partikelir pada periode abad ke-19, banyak terjadi dan seolah – olah merupakan hal yang lumrah.

Menurut letak geografisnya, tanah partikelir Ciomas berada di lereng sebelah utara Gunung Salak. Tanah tersebut menjadi milik tuan tanah setelah dijual oleh Gubernur Jendral Deandels, dengan meliputi areal tanah seluas 9.00 bau (1 bau = 0,8 hektar). Tanah seluas itu dihuni oleh penduduk ± 15.000 jiwa. Seperti di tanah partikelir lainnya di daerah Ciomas pun para petani dihadapkan pada kondisi – kondisi sosial-ekonomi yang tidak menguntungkan, karena tenaganya dieksploitasi oleh tuan tanah, para pengawas, dan petugas tuan tanah lainnya yang menuntut pelayanan kerja yang berat, serta pemenuhan pajak (cuke) yang tinggi. Sebelum meletusnya gerakan petani tersebut, keadaan politik dan ekonomi yang berlaku di daerah Ciomas sendiri, antara lain :

1) Para pemungut pajak sering melakukan praktik, bahwa untuk menuai panen para petani diharuskan menunggu waktu yang ditentukan oleh tuan tanah. Untuk mengawasi panen, tuan tanah menunjuk petugas – petugas dan penjaga yang ditempatkan di sawah – sawah. Oleh karena petugas – petugas dan penjaga tersebut tidak diawasi secara langsung oleh tuan tanah, mereka cenderung untuk menggunakan kedudukannya dengan praktik yang curang terhadap petani. Berbeda dengan kebiasaan yang berlaku di tanah partikelir lainnya, bahwa pada saat panen tiba, penuaian hanya dilakukan oleh petani di daerah itu. Hal ini akan membawa akibat, bahwa sebagian dari hasil panen dapat diserap ke tempat lain, dan dengan sendirinya mengurangi pendapatan petani di Ciomas.

2) Kekurangan pendapatan petani di Ciomas, ditambah lagi dengan kewajiban untuk mengangkut hasil panen milik tuan tanah dari sawah – sawah ke lumbung – lumbung (gudang – gudang padi), yang jaraknya antara 10 sampai 12 paal (= 15 sampai 18 km).

3) Di kebun – kebun dan pabrik – pabrik kopi Ciomas, berlau juga sistem perbudakan yang lebih berat, sehingga berlaku juga kerja paksa, dan kepada buruh yang tidak hadir atau datang terlambat dikenakan peraturan yang keras.

4) Kepada para petani dikenakan juga kewajiban untuk menyerahkan jenis barang tertentu, antara lain penyerahan dua butir kelapa untuk setiap pohon, penyerahan sebatang bambu untuk setiap petak sawah, penyerahan seluruh hasil pohon enau dan kopi yang diwajibkan ditanam di kebun petani yang jumlahnya mencapai 250 batang.

5) Petani dilarang mengekspor padi, kerbau, dan hasil bumi lainnya.

6) Jika petani tidak dapat membayar huangnya, maka akan dikenakan penyitaan atas tanah, rumah, dan kerbaunya.

7) Perluasan kekuasan tuan tanah terhadap petani sampai juga pada pengawasan mengenai penjualan ternak, rumput, kayu, dan penebangan pohon – pohon.

8) Kaum wanita dan anak – anak pun diharuskan bekerja selama sembilan hari untuk setiap bulannya.

Adanya dominasi politik, ekonomi, dan sosial yang dilakukan oleh tuan tanah terhadap kaum petani, telah membawa iklim yang lebih buruk dan pada akhirnya sampai mencapai konflik yang tajam. Salah satu akibat dari pelaksanaan eksploitasi tenaga kerja yang berat dan pemungutan cuke yang tinggi menjelang pecahnya perlawanan petani ialah terjadinya migrasi penduduk dari daerah itu. Bagi mereka yang tidak tahan lagi dengan praktik pemerasan tuan tanah dan merasa terancam akan kehancuran ekonominya segeralah angkat kaki meninggalkan tanah partikelir di Ciomas. Perasaan tidak puas petani untuk bekerja di tanah partikelir lebih nampak nyata ketika menolak kerja paksa di perkebunan kopi, dan mulailah mencetuskan perlawanan secara terbuka yang ditandai dengan tindakan kekerasan.

Perlawanan secara langsung diawali dengan melancarkan pemberontakan tanggal 22 Februari 1886, ketika mereka membunuh Camat Ciomas, Haji Abdurrachim (RM. H. ABDURRACHMAN ADI MENGGOLO), dan masih pada bulan Februari itu juga Arpan bersama kawan – kawannya mengundurkan diri ke Pasir Paok, dan di sana mereka menolak untuk menyerah kepada tentara pemerintah kolonial.

Sebulan sebelum terjadinya kedua peristiwa tadi, Mohammad Idris telah mengundurkan diri ke Gunung Salak. Sekalipun ia lahir di Ciomas, namun dalam perjuangan hidupnya ia selalu berpindah – pindah tempat, seperti ke Sukabumi dan Ciampea. Ia termasuk salah seorang yang sangat membenci tuan tanah dan kaki tangannya. Karena sikapnya itu, maka semakin banyaklah petani pelarian dari tanah partikelir untuk menggabungkan diri. Setelah diadakan pertemuan besar di pondok kecilnya, Idris bersama pengikutnya bersepakat untuk melancarkan penyerangan ke Ciomas. Dan tepat pada hari Rabu malam, tanggal 19 Mei 1886 sesuai dengan rencana semula Idris bersama pengikutnya berhasil menduduki daerah Ciomas bagian selatan. Selama menduduki daerah tersebut mereka tidak melakukan perampokan terhadap gudang – gudang di Sukamantri, Gadong, dan Warungloa. Bahkan sebaliknya mereka menyatakan, bahwa serangan yang dilancarkannya itu tidak dimaksudkan untuk merampok kekayaan, tetapi serangan tersebut hanya ditujukan khusus bagi pribadi tuan tanah. Tanggal 20 Mei 1886 para pemberontak menyelenggarakan upacara sedekah bumi di Gadong, yang dihadiri juga oleh semua pegawai tuan tanah. Upacara tersebut sebenarnya merupakan perayaan tahunan yang dimeriahkan dengan permainan musik, tari – tarian, dan atraksi – atraksi lainnya. Sebagai penutup dari perayaan itu, seolah – olah seperti diberikan aba – aba, bahwa kaum pemberontak setelah melihat pegawai – pegawai tuan tanah yang sesungguhnya bertindak sebagai penindas dan memeras mereka, beberapa diantara pengikut Mohamad Idris segera melampiaskan kemarahannya menyerang agen – agen tuan tanah secra membabi buta. Perayaan sedekah bumi itu berakhir dengan pembunuhan besar – besaran yang ditujukan kepada pegawai – pegawai tuan tanah. Dari peristiwa pembunuhan tersebut, diketahui bahwa sejumlah 40 orang mati dibunuh, dan 70 orang lainnya luka – luka. Tuan tanah beserta keluarganya selamat, karena secara kebetulan mereka tidak hadir dalam upacara itu.

Dari panggung peristiwa perlawanan petani Ciomas itu, jelaslah bahwa yang menjadi sasaran utama dan sebgai musuhnya adalah tuan tanah, pegawai pemerintah kolonial baik asing maupun pribumi, para pedagang, dan lintah darat.

Gerakan perlawanan petani Ciomas memperlihatkan adanya spontanitas baik waktu timbul maupun selama masa berkembangnya, yang ditunjang juga dengan iklim atau situasi politik yang benar – benar telah diperhitungkan akan timbulnya gerakan perlawanan. Peristiwa perlawanan petani Ciomas merupakan suatu corak atau model perjuangan yang berlatar belakang perbedaan kepentingan dan tujuan anara tuan tanah, pemerintah, dan pegawai – pegawai lainnya dengan kaum petani di lain pihak. Pertentangan kepentingan dan tujuan itu, pada akhirnya dapat dilakukan dalam bentuk perlawanan secara keras dari pihak petani sebagai protes akibat tekanan – tekanan yang berat.
IKPD-1.jpg
6929/7 <416> < 5. RM. H. Muhammad Hasan
lahir: 1856c
68110/7 <407+222> < Kanjeng Raden Tumenggung Purboningrat [Hb.6.9.4]
lahir: 10 Maret 1865
75211/7 <407+222> < Kanjeng Adipati Prawiropurbo [Hb.6.9.10] (Ndoro Purbo / Raden Mas Kusrin)
lahir: 1869, Yogyakarta
perkawinan: <235> < Nyi Kasihan
perkawinan: <236> < Nyai Prawiro Purbo ? (Jiwaningsih) d. 1896?
wafat: 4 Maret 1933, Yogyakarta
penguburan: 5 Maret 1933, Yogyakarta
GPA Hamengkunegoro.jpg
68212/7 <384+142> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegoro I [Hb.7.14] (Gusti Raden Mas Akhadiyat)
lahir: 1873, Yogyakarta
perkawinan: <237> < Raden Ayu Hamengkunegoro
perkawinan: <904!> < Raden Ayu Kusumodilogo / Raden Ajeng Siti Rokhiyah [Hb.6.11.30]
gelar: 5 Maret 1883, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegoro Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram
89613/7 <410+167> < Raden Mas Subarjo [Hb.6.11.8] (Raden Tumenggung Wiroguno)
lahir: 3 November 1876, Yogyakarta
perkawinan: <1968!> < Raden Ayu Wiroguno [Hb.7.4.1]
Kanjeng Raden Tumenggung Wiroguno. Putra dari KGPA Mangkubumi dan RAY. Tejomurti ini dilahirkan pada tanggal 3 Nopember 1876 di Yogyakarta. Beliau mempunyai kegemaran melukis dengan cat air dan cat minyak. Beberapa lukisannya terpancang di Kraton Yogyakarta.

K.R.T Wiroguno menjabat Bupati Patih Kadipaten Yogyakarta termasuk empu gendhing yang unggul. Disamping itu beliau masih melanjutkan membina corak pagelaran tari ciptaan ayahnya , Pangeran Mangkubumi, yaitu Langendriya. Beliau juga menciptakan dan mengembangkan tari golek putri, ikut serta membina Perkumpulan Tari Krida Beksa Wirama dan aktif membina penyiaran gendhing-gendhing atau seni suara melalui siaran radio pada masa itu.

Hasil Karya K.R.T Wiroguno antara lain : 1) menyusun teori dan pedoman seni gendhing dan suara gaya Mataraman, 2) menciptakan notasi gendhing gaya Mataraman dengan not balok, 3) menyusun suatu lokasi gendhing-gendhing Mataram dalam suatu buku tulisan tangan mulai tahun 1919,

4) mencipta dan menggubah tidak kurang dari 100 buah gendhing, baik gendhing Ageng maupun gendhing alit.
Gph mangkukusumo2.jpg
75914/7 <384+162> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkukusumo [Hb.7.17] (Gusti Raden Mas Puntoaji)
Hatmodidjojo.JPG
66915/7 <391+191> < Raden Mas Wedono Hatmodijoyo [Hb.7.17.2] (Raden Mas Lurah Puspoatmojo)
lahir: 1878, Yogyakarta
wafat: 27 April 1943, Yogyakarta
Kgpaa hamengkunegoro III.jpg
87516/7 <384+142> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegoro III [Hb.7.20] (Gusti Raden Mas Putro)
Face HB VIII.JPG
65118/7 <384+142> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Vlll [Hb.7.23] (Gusti Pangeran Haryo Puruboyo)
Sri Sultan Hamengkubuwana VIII (lahir di Kraton Yogyakarta Adiningrat, 3 Maret 1880 – meninggal di Kraton Yogyakarta Adiningrat, 22 Oktober 1939 pada umur 59 tahun) adalah salah seorang raja yang pernah memimpin di Kesultanan Yogyakarta tahun 1921-1939. Dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta pada tanngal 8 Februari 1921. Pada masa Hamengkubuwono VIII, Kesultanan Yogyakarta mempunyai banyak dana yang dipakai untuk berbagai kegiatan termasuk membiayai sekolah-sekolah kesultanan. Putra-putra Hamengkubuwono VIII banyak disekolahkan hingga perguruan tinggi, banyak diantaranya di Belanda. Salah satunya adalah GRM Dorojatun, yang kelak bertahta dengan gelar Hamengkubuwono IX, yang bersekolah di Universitas Groningen.

Pada masa pemerintahannya, beliau banyak mengadakan rehabilitasi bangunan kompleks keraton Yogyakarta. Salah satunya adalah bangsal Pagelaran yang terletak di paling depan sendiri (berada tepat di selatan Alun-alun utara Yogyakarta). Bangunan lainnya yang rehabilitasi adalah tratag Siti Hinggil, Gerbang Donopratopo, dan Masjid Gedhe.

Beliau meninggal pada tanggal 22 Oktober 1939 di RS Panti Rapih Yogyakarta karena menderita sakit.

Silsilah Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Anak kesembilan dari Sultan Hamengkubuwana VII (Sultan Ngabehi) dan istri keduanya GKR Mas Memiliki delapan istri: 1.RA Siti Katina, putri Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi, tahun 1907 2.BRA Purya Aningdiya 3.BRA Puspitaningdiya 4.BRA Srengkara Aningdiya 5.RA Kustilah/KRA Adipati Anum Amangku Negara/Kanjeng Alit, putri Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi 6.BRA Rukmi Aningdiya 7.KBRAy Ratna Adiningrum 8.BRAy Ratna Puspita Memiliki dua puluh empat putra: 1.BRM ... dari BRA Purya Aningdiya, meninggal sebelum sempat diberi nama. 2.BRM Mustari dari BRA Puspitaningdiya 3.Mayor BRM Jartabitu/Kanjeng Mas Pangeran Angabehi/Gusti Pangeran Angabehi dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan BRA Siti Mustakirun 4.Kapten BRM Sungangusamsi/GBPH Purbaya dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan BRA Madusari/RAy Purbaya. 5.BRM Sumeru/GBPH Dhanupaya dari BRA Puspitaningdiya 6.BRM Sudiarsa dari BRA Purya Aningdiya 7.BRM Kartala/GBPH Mangkudiningrat dari BRA Purya Aningdiya, menikah dengan RA Sumani dan menikah dengan Amiratna/BRA Mangkudiningrat, putri kedua dari KGPAA Raja Paku Alam VI dan Kanjeng Gusti Timur putri dari KGPAA Raja Paku Alam III 8.BRM Tinggartala/GBPH Prabuningrat dari BRA Puspitaningdiya 9.GRM Dorojatun/GBPH Purbaya/Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Kanjeng Alit 10.BRM Duryatnanu dari BRA Purya Aningdia 11.BRM Mahikyaun/GBPH Surya Wijaya dari BRA Rukmi Aningdiya 12.BRM Rais ul-Ngah Askari/GBPH Bintara dari BRA Srengkara Aningdiya 13.BRM Alpasuatlamin/GBPH Surya Brangta dari BRA Purya Aningdiya 14.BRM Mupasalukatini dari BRA Puspitaningdiya 15.BRM Ila ul-Kirami/GBPH Murdaningrat dari BRA Srengkara Aningdiya 16.BRM Makan ul-Munayati/BGBPH Puya Kusuma dari BRA Purya Aningdiya 17.BRM Pel ul-Kuluki/GBPH Suryaputra dari KBRAy Ratna Adiningrum 18.BRM Sunwata/GBPH Adi Wijaya dari BRAy Ratna Puspita 19.BRM Sahadatsatir dari BRAy Ratna Puspita 20.BRM Hening /GBPH Yudha Negara dari KBRAy Ratna Adiningrum 21.BRM Dr Banakamsi/GBPH Dr Dipayana dari BRA Tejaningrum 22.BRM Satriya/GBPH Benawa dari KBRAy Ratna Adiningrum 23.BRM Danangjaya dari KBRAy Ratna Adiningrum 24.BRM Rabinharyani/GBPH Puger dari BRAy Ratna Puspita Memiliki tujuh belas putri: 1.BRA Gusti Siti Sundarumiya/GKR Pembayun dari BRA Purya Aningdiya, menikah dengan BPH Pakuningrat, putra tertua KGRM Putra/KGPAA Amangku Negara. 2.BRA Siti Sayadi/GBRAy Sinduraja dari BRA Purya Aningdiya, menikah dengan KRT Sinduraja. 3.BRA Siti Sadari/GBRAy Purbawinata dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Purbawinata/KPH Purbawinata. 4.BRA Siti Kadarmi/GBRAy Jaya ningrat dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Jayaningrat. 5.BRA Siti Kajananywa/GBRAy Jaya Winata dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan KRT Jayawinata. 6.BRA Siti Mutasangilun dari BRA Srengkara Aningdiya 7.BRA Siti Nuriwadina/GBRAy Chandradiningrat dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan KRT Chandradiningrat. 8.BRA Siti Kuswanayi/GBRAy Cakradiningrat dari BRA Rukmi Aningdiya, menikah dengan GBPH Cakradiningrat, putra dari KGRM Putra/KGPAA Amangku Negara. 9.BRA Siti Sriwayati/GBRAy Purbasaputra dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan KRT Purbaseputra. 10.BRA Siti Swandari/GBRAy Purwadiningrat dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Purwadiningrat. 11.BRA Siti Hilal ul-Ngasarati/GBRAy Kusuma Adiningrat dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Kusumadiningrat. 12.BRA Siti Sutyanti/GBRAy Jayaningrat dari KBRAy Ratna Adiningrum, menikah dengan Ir. Raden Puspaharsana Jayaningrat. 13.BRA Siti Padmasari/GBRAy Sumarman dari KBRAy Ratna Adiningrum, menikah dengan Raden Sumarman, S.H. 14.BRA Siti Wayarini dari BRAy Ratna Puspita 15.BRA Siti Prayuti dari BRAy Ratna Puspita 16.BRA Siti Widyastuti/GBRAy Andayaningrat dari KBRAy Ratna Adiningrum, menikah dengan Raden Suwarna Andayaningrat.

17.BRA Siti Sutarnin dari BRAy Ratna Puspita
67519/7 <406+198> < Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Danurejo VIII / [Hb.6.18.3] (Raden Mas Subari)
lahir: 3 September 1882, Yogyakarta
pekerjaan: 1909, Kalasan, Diangkat menjadi Panewu Palang Negari (Sekretaris) di Kabupaten Kalasan dan bergelar Raden Panewu Mangundimejo
pekerjaan: 1914, Gunung Kidul Regency, Menjadi Panji Kepala Distrik) di Semanu Kabupaten Gunung Kidul dan bergelar Raden Panji Harjodipuro yang kemudian diubah menjadi Harjokusumo
pekerjaan: 1919, Kalasan, Menjadi Bupati Pangreh Praja Kalasan dan bergelar Raden Tumenggung Harjokusumo
pekerjaan: 1927, Yogyakarta, Menjadi Bupati Kabupaten Kota Yogyakarta yang merupakan gabungan Kabupaten Sleman, Kalasan, dan Kota Yogyakarta
gelar: 3 November 1933, Yogyakarta, Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta bergelar Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Danurejo VIII
perkawinan: <189!> < Gusti Kanjeng Ratu Chondrokirono II [Hb.7.54] , Yogyakarta
pensiun: 14 Juli 1945, Yogyakarta
Patih of Yogyakarta 1933-1945
75320/7 <384+729!> < w Bendoro Pangeran Haryo Suryomataram [Hb.7.55] Bendoro Raden Mas Kudiarmadji (Notodongso)
lahir: 20 Mei 1892, Yogyakarta
perkawinan: <1605!> < Raden Ayu Surtiadiwati Suryomataram [Hb.6.9.14.1] d. 1921
perkawinan: <260> < Nyai Ageng Suryomataram , Salatiga
wafat: 18 Maret 1962, Yogyakarta
75621/7 <384+144> < Bendoro Pangeran Haryo Hadikusumo II [Hb.7.58] (Gusti Raden Mas Hario) 76022/7 <384+142> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Jumino / Gusti Raden Mas Pratistha (Gusti Djuminah)
perkawinan: <262> < Raden Ayu Murtiningrum
perkawinan: <263> < Raden Ayu Hadiningrum
perkawinan: <264> < Raden Ayu Sasmintaningrum
gelar: 9 November 1893, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunegara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram
wafat: 1942?, Pasarean Hastorenggo, Yogyakarta
Ir.R.M. Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo
69823/7 <422> < Raden Mas Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo
lahir: 30 Agustus 1894, Wonosobo
wafat: 1954
penguburan: Pemakaman Candiwulan
105525/7 <604+211> < Soekarmini
lahir: 29 Maret 1898, Bali
72126/7 <411+181> < Raden Ayu Roostamtiyah [Hb.6.20.21] (Raden Ayu Sindudipuro)
lahir: 3 Desember 1898, Yogyakarta
perkawinan: <266> < Raden Wedana Sindudipuro b. 14 September 1901 d. 11 Mei 1951
wafat: 2 Oktober 1968, Yogyakarta
Presiden Sukarno.jpg
105427/7 <604+211> < Soekarno / Koesno Sosrodihardjo
lahir: 6 Juni 1901, Surabaya
perkawinan: <267> < Siti Oetari Tjokroaminoto d. 1981, Surabaya
perkawinan: <268> < Inggit Garnasih b. 17 Februari 1888, Bandung
perceraian: <268!> < Inggit Garnasih b. 17 Februari 1888
perkawinan: <269> < Fatmawati b. 5 Februari 1923 d. 14 Mei 1980, Jakarta
pekerjaan: 18 Agustus 1945 - 20 Februari 1967, Jakarta, Presiden Republik Indonesia
perkawinan: <270> < Hartini b. 20 September 1924 d. 12 Maret 2002, Istana Cipanas
perkawinan: <271> < Kartini Manoppo b. 1939 d. 1990
perkawinan: <272> < Ratna Sari Dewi b. 6 Februari 1940
perkawinan: <273> < Haryati
perkawinan: <274> < Yurike Sanger , Jakarta
perceraian: <273!> < Haryati
perkawinan: <275> < Heldy Djafar b. 11 Juni 1947 d. 10 Oktober 2021
wafat: 21 Juni 1970, Jakarta
Dr.(H.C.) Ir. H. Soekarno1 (ER, EYD: Sukarno, nama lahir: Koesno Sosrodihardjo) (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun)[note 1][note 2] adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966.[5]:11, 81 Ia memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.[6]:26-32 Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya.[6]

Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya —berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan Darat— menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan.[6] Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen.[6] Setelah pertanggungjawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS pada tahun yang sama dan Soeharto menggantikannya sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.[6]

Ketika dilahirkan, Soekarno diberikan nama Kusno oleh orangtuanya.[5] Namun karena ia sering sakit maka ketika berumur sebelas tahun namanya diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya.[5][7]:35-36 Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna.[5][7] Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".[7]

Di kemudian hari ketika menjadi presiden, ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda)[7]:32. Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah, selain itu tidak mudah untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun[7]:32. Sebutan akrab untuk Soekarno adalah Bung Karno. Achmed Soekarno

Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis Achmed Soekarno. Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, "Siapa nama kecil Soekarno?"[butuh rujukan] karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia yang hanya menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki nama keluarga.

Sukarno menyebutkan bahwa nama Achmed didapatnya ketika menunaikan ibadah haji.[8] Dalam beberapa versi lain,[butuh rujukan] disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Sukarno, dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negara Arab.

Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (terjemahan Syamsu Hadi. Ed. Rev. 2011. Yogyakarta: Media Pressindo, dan Yayasan Bung Karno, ISBN 979-911-032-7-9) halaman 32 dijelaskan bahwa namanya hanya "Sukarno" saja, karena dalam masyarakat Indonesia bukan hal yang tidak biasa memiliki nama yang terdiri satu kata.
Pakualam VIII.jpg
65228/7 <385+188> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII / Bendoro Raden Mas Haryo Sularso Kunto Suratno (Kanjeng Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo)
lahir: 10 April 1910, Yogyakarta
perkawinan: <276> < Kanjeng Bendoro Raden Ayu Purnamaningrum
perkawinan: <277> < Kanjeng Raden Ayu Ratnaningrum
gelar: 13 April 1937, Yogyakarta, Kanjeng Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo
gelar: 1942 - 11 September 1998, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII
pekerjaan: 1 Oktober 1988 - 3 Oktober 1998, Yogyakarta, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
wafat: 11 September 1998, Yogyakarta
Pendidikan yang ditempuh adalah Europesche Lagere School Yogyakarta, Christelijk MULO Yogyakarta, AMS B Yogyakarta, Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta - sampai tingkat candidaat). Pada 13 April 1937 ia ditahtakan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo menggantikan mendiang ayahnya. Setelah kedatangan Bala Tentara Jepang pada tahun 1942 ia mulai menggunakan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII.

Pada 19 Agustus 1945 bersama Hamengkubuwono IX, Paku Alam VIII mengirimkan telegram kepada Sukarno dan Hatta atas berdirinya RI dan terpilihnya mereka sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pada 5 September 1945 secara resmi KGPAA Paku Alam VIII mengeluarkan Amanat/Maklumat (semacam dekrit kerajaan) bergabungnya Kadipaten Pakualaman dengan Negara Republik Indonesia. Sejak saat itulah kerajaan terkecil pecahan Mataram ini menjadi daerah Istimewa. Melalui Amanat Bersama antara Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII dan dengan persetujuan Badan Pekerja Komite Nasional Daerah Yogyakarta pada tanggal 30 Oktober tahun yang sama, ia berdua sepakat untuk menggabungkan Daerah Kasultanan dan Kadipaten dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jabatan yang dipangku selanjutnya adalah Wakil Kepala Daerah Istimewa, Wakil Ketua Dewan Pertahanan DIY (Oktober 1946), Gubernur Militer DIY dengan pangkat Kolonel (1949 setelah agresi militer II). Mulai tahun 1946-1978 Paku Alam VIII sering menggantikan tugas sehari-hari Hamengkubuwono IX sebagai kepala daerah istimewa karena kesibukan Hamengkubuwono IX sebagai menteri dalam berbagai kabinet RI. Selain itu ia juga menjadi Ketua Panitia Pemilihan Daerah DIY dalam pemilu tahun 1951, 1955, dan 1957; Anggota Konstituante (November 1956); Anggota MPRS (September 1960) dan terakhir adalah Anggota MPR RI masa bakti 1997-1999 Fraksi Utusan Daerah.

Setelah Hamengkubuwono IX mangkat pada tahun 1988, Paku Alam VIII menggantikan sang mendiang menjadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sampai akhir hayatnya pada tahun 1998. Perlu ditambahkan bahwa pada 20 Mei 1998 ia bersama Hamengkubuwono X mengeluarkan Maklumat untuk mendukung Reformasi Damai untuk Indonesia. Maklumat tersebut dibacakan di hadapan masyarakat dalam acara yang disebut Pisowanan Agung. Beberapa bulan setelahnya ia menderita sakit dan meninggal pada tahun yang sama. Sri Paduka Paku Alam VIII tercatat sebagai wakil Gubernur terlama (1945-1998) dan Pelaksana Tugas Gubernur terlama (1988-1998) serta Pangeran Paku Alaman terlama (1937-1998).
109929/7 <636+189> < Raden Mas Rawindro Noto Soeroto
lahir: 11 Oktober 1918, Den Haag
perkawinan: <278> < Theodora Eland b. 7 November 1919 d. 18 Maret 2011
wafat: 30 Oktober 1945, Laren
110030/7 <636+189> < R. A. Dewatia Noto Soeroto 108031/7 <616+383!> < Soediro Alimoerto
lahir: 9 Agustus 1925
108232/7 <624> < R. A. Maria Siti Soedarti Sosroningrat
lahir: 8 September 1925, Dobo, Kepulauan Aru
Bersekolah di Middelbare Handelsschool, Tempelstraat 4 (kini Jl. Kepanjen), Surabaya. Lalu bekerja sebagai pegawai Tata Usaha di Fak. Teknik Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta
110133/7 <636+189> < Raden Mas Harindro Dirodjo Noto Soeroto
lahir: 1928
108334/7 <624> < Raden Ajeng Elisabeth Soeparti Sosroningrat
lahir: 19 November 1928, Donggala
Bersekolah di Kweekschool (sekolah guru atas) Stella Duce, Jl. Sumbing no. 1, Yogyakarta. Selulus kweekschool, melanjutkan pendidikan ke Belanda. Lalu bekerja sebagai guru di SLB A, Bandung. RA. Elisabeth Soeparti Sosroningrat tidak menikah.
107735/7 <616+383!> < Bambang Sokawati Dewantara
lahir: 9 Maret 1930
108436/7 <624> < w Raden Mas Fransiskus Harsono Sosroningrat
lahir: 27 Juli 1931, Yogyakarta
perkawinan: <280> < R. A. Clara Siti Katijah Mangoenwinoto
72937/7 <409> < Bendoro Raden Ayu Retnomandoyo [Ga.Hb.7.13]
perkawinan: <384!> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VII / Gusti Raden Mas Murtejo [Hb.6.1] (Sinuhun Behi) b. 4 Februari 1839 d. 30 Desember 1921
wafat: 30 Desember 1931, Yogyakarta
107638/7 <383+616!> < Sjailendra Widjaja
lahir: 28 September 1932
108539/7 <624> < R. A. Theresia Hartini Goestin Sosroningrat
lahir: 1 Desember 1932, Semarang
Menempuh pendidikan keperawatan di RS St. Elizabeth, Candi Baru, Semarang
68340/7 <409> < Kanjeng Raden Adipati Danurejo VIII / Subari Wiro Haryodirgo Danurejo VI
perkawinan: <189!> < Gusti Kanjeng Ratu Chondrokirono II [Hb.7.54]
pekerjaan: 30 November 1933 - 14 Juli 1945, Yogyakarta, Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta bergelar Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Danurejo VIII
BRA Mariam Suryengalogo.jpg
97641/7 <413+984!> < Bendoro Raden Ayu Mariam Suryengalogo
perkawinan: <281> < Raden Mas Soeryodinegoro
wafat: 23 Juni 1934, Manado, Mahakeret, Manado
108642/7 <624> < Raden Mas Maria Benediktus Soeprapto Sosroningrat
lahir: 11 Juni 1936, Semarang
Mengecap pendidikan di IKIP Bandung.
108743/7 <624> < Raden Mas Maria Emanuel Jaktiawa Amir Katamsi Sosroningrat
lahir: 24 Desember 1938, Yogyakarta
Bersekolah di SMA De Brito, Yogyakarta
108845/7 <624> < Raden Mas Agustinus Maria Widodo Sosroningrat
lahir: 22 Januari 1941, Surabaya
73746/7 <457> < 6. Raden Mas Daud
wafat: 1943, Ambon
67947/7 <639> < Raden Mas Iljas Notodirdjo
perkawinan: <666!> < Raden Ayu Sriyati [Hb.6.17.4] d. 26 Februari 1955
wafat: 8 Agustus 1945, Yogyakarta, Disarekan Pasarean Kuncen Yogyakarta
Sriyati.jpg
66648/7 <391+191> < Raden Ayu Sriyati [Hb.6.17.4]
perkawinan: <679!> < Raden Mas Iljas Notodirdjo d. 8 Agustus 1945
wafat: 26 Februari 1955, Yogyakarta, Disarekan Pasarean Kuncen Yogyakarta
Menot.JPG
66449/7 <391+191> < Raden Mas Rudolf Maximillian Menot [Hb.6.17.5] (Raden Mas Suyono)
perkawinan: <284> < Erna Frederika Bolang b. 13 Agustus 1894 d. 4 November 1967
wafat: 25 Desember 1973, Jakarta
RM. Menot adalah putra ke-5 dari BPH. Hadiwijoyo. Pekerjaan terakhir beliau adalah sebagai pegawai Kantor Pos di Jakarta. Pekerjaan itulah yang membuat anak dan cucunya menyukai dan ikut mengoleksi perangko. RM. Menot meninggal tahun 1973 di Jakarta dan dimakamkan di TPU Menteng Pulo. Pada tahun 1975, kuburannya dipindah ke Manado sesuai keinginannya untuk dikuburkan bersama istri di makam keluarga di Manado.
109650/7 <630+192> < B. R. A. Koes Sistijah Siti Mariana
wafat: 25 Oktober 2000
65351/7 <386> < R.Ngt.Brahim
Hilal Achmar Link
65452/7 <386> < R. Acmad Wajidi
Official From Hilal Achmar.
65553/7 <386> < R. Acmad Jaeli
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
65654/7 <386> < R. Ngt. Achsanah
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Ir. H. Hilal Achmar (Hamengku Buwono, b. 19 Mei). Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
65755/7 <387> < R. Jayangulama
65856/7 <387> < R.Ngt.Mashuri
65957/7 <387> < R.Junaedah
66058/7 <388> < R. Haji Hasim
66159/7 <389> < R. Wahab
66260/7 <389> < R.Ngt.Daroyah
66361/7 <390> < R. Martoatmojo
Official From Hilal Achmar.
67065/7 <410+167> < Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom Amangku Negara [Gp.Hb.8.1] [Hb.6.11.14] (Raden Ajeng Katinah / Kanjeng Alit) 67166/7 <410+164> < Raden Ayu Mangunjoyo II [Hb.6.11.15]
67267/7 <410+164> < Raden Bagus Suryokusumo [Hb.6.11.18]
67368/7 <410+166> < Kanjeng Raden Tumenggung Jogonegoro III / Kanjeng Raden Tumenggung Ronodiningrat [Hb.6.11.17] 67469/7 <410+164> < Raden Tumenggung Suryoatmojo / Raden Mas Murjono [Hb.6.11.12]
67670/7 <410+165> < Raden Mas Sutandar [Hb.6.11.1] (Kanjeng Pangeran Haryo Purwodiningrat)
67771/7 <410+164> < Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegoro [Gp.Hb.8.1] (Raden Ajeng Kustilah [Hb.6.11.21]) 67872/7 <411+177> < Raden Ayu Hatmodijoyo I [Hb.6.20.4] / Raden Ajeng Roostinah (Raden Ayu Puspohatmojo)
68873/7 <419> < RM. Asmini
68974/7 <419> < RM. Idris
69075/7 <419> < RM. Ondung
69376/7 <418> < 1. RM. H. Edoy
69477/7 <418> < 2. RM. H. Sayid Yudomenggolo
69578/7 <418> < 3. RAy. Saroja
69679/7 <418> < 4. RAy. Amanung
69780/7 <417> < RM. Harjo Dipotjokro Hadimenggolo / P. Gringsing II
69981/7 <400+216> < Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat 70082/7 <411+183> < Raden Mas Sudiro [Hb.6.20.30] (Kanjeng Raden Tumenggung Sastrokusumo) 70183/7 <411+177> < Raden Mas Saepur [Hb.6.20.1] (Raden Panji Joyopermadi)
70284/7 <411+177> < Raden Mas Rujali [Hb.6.20.2] (Raden Panji Joyopragolo)
70385/7 <411+177> < Raden Ayu Roostijah [Ga.Hb.7.20.3] [Hb.6.20.3] (Bendoro Raden Ayu Doyopurnamaningrum) 70486/7 <411+177> < Raden Mas Saeran [Hb.6.20.5] (Raden Bagus Gambiranom)
70587/7 <411+177> < Raden Mas Karamal [Hb.6.20.6]
70688/7 <411+177> < Raden Mas Sukapjo [Hb.6.20.7] (Raden Bagus Suryowinoto)
70789/7 <411+177> < Raden Mas Palis [Hb.6.20.10]
70890/7 <411+177> < Raden Mas Saerun [Hb.6.20.13]
70991/7 <411+177> < Raden Mas Sukapdiman [Hb.6.20.14]
71092/7 <411+178> < Raden Ajeng Roosdinah [Hb.6.20.9] (Raden Ayu Kertonadi) 71193/7 <411+179> < Raden Ayu Rooskiyati [Hb.6.20.12] (Raden Ayu Padmodiprojo)
71294/7 <411+179> < Raden Mas Supandi [Hb.6.20.15]
71395/7 <411+179> < Raden Mas Gurnosuwendo [Hb.6.20.17]
71496/7 <411+180> < Raden Ayu Roostijah [Hb.6.20.8]
71597/7 <411+180> < Raden Mas Dipomenggolo [Hb.6.20.11]
71698/7 <411+180> < Raden Mas Yusuf [Hb.6.20.23] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumaningrat) 71799/7 <411+184> < Raden Ayu Roosyayi [Hb.6.20.16] (Raden Ayu Darmowinoto) 718100/7 <411+181> < Raden Ayu Roostamtinah [Hb.6.20.18] (Raden Ayu Suryodiningrat) 719101/7 <411+181> < Raden Mas Ibrahim Ibnu Rustam [Hb.6.20.19]
720102/7 <411+181> < Raden Mas Sayid Imran / Kanjeng Raden Tumenggung Purwonegoro [Hb.6.20.20] (Kanjeng Raden Tumenggung Joyonegoro II) 722103/7 <411+182> < Raden Ayu Roosinah [Hb.6.20.22] (Raden Ayu Purbocaroko) 723104/7 <411+182> < Raden Mas Suwondo [Hb.6.20.24] (Raden Ngabehi Purwodiprojo)
724105/7 <411+182> < Raden Mas Suwandi [Hb.6.20.25] (Raden Wedana Suryowimono)
725106/7 <411+182> < Raden Ayu Roostirah [Hb.6.20.26] (Raden Ayu Suryodirjokusumo) 726107/7 <411+182> < Raden Ajeng Roosimah [Hb.6.20.27] (Raden Ayu Suryodirjokusumo)
727108/7 <411+182> < Raden Ayu Roosjiyah [Hb.6.20.28] (Raden Ayu Wigyokusumo) 728109/7 <411+182> < Raden Ayu Roossiyah/Roosijah [Hb.6.20.29] (Raden Ayu Suwandhi H.) 730110/7 <414+410!> < Raden Ayu Siti Katina [Ga.Hb.8.1] [Hb.6.11.1] 731111/7 <429> < RM. Muhammad Diponegoro
732112/7 <457> < 1. Raden Ayu Khalidjah
733113/7 <457> < 2. Raden Mas Ibrahim
734114/7 <457> < 3. Raden Ayu Djahro
735115/7 <457> < 4. Raden Ayu Secha
736116/7 <457> < 5. Raden Mas Ismael
738117/7 <457> < 7. Raden Mas Muhammad
739118/7 <457> < 8. Raden Mas Sulaeman
740119/7 <459> < 1. RM. Yusuf Diponegoro
741120/7 <459> < 2. RM. Syawal Diponegoro
742121/7 <459> < 3. RM. Suja Diponegoro
743122/7 <459> < 4. RA. Marjam Diponegoro
744123/7 <459> < 5. RM. Muhammad Diponegoro
745124/7 <459> < 6. RM. Yunus Diponegoro )
746125/7 <459> < 7. RM. Achmad Diponegoro (Bandung)
747126/7 <459> < 8. RM. Murtasa Diponegoro
748127/7 <459> < 9. RA. Murtinah Diponegoro
749128/7 <459> < 10. RA. Supinah Diponegoro
750129/7 <459> < 11. RA. Murjani Diponegoro
751130/7 <459> < 12. RA. Supatni Diponegoro
762136/7 <384> < Gusti Bendoro Pangeran Haryo Pakuningrat [Hb.7.41]
764138/7 <384> < Bendoro Raden Mas Hirawan [Hb.7.48]
765139/7 <465> < Raden Mas Kumbulkatja Djajawasita
766140/7 <466> < RM. Setyaharjo, SH ( KRT Dirjonegoro )
767141/7 <467+468!> < 1. Raden Hasan Manadi Madiokusumo
768142/7 <469> < 1. R.Ngt. Siti Kaltum
769143/7 <470+?> < Raden Ngantin Ambiah Suropranoto
770144/7 <467+468!> < 2. Ba'abudiah
771145/7 <479> < 1. Nyi RAy. Hasan Munthalib
772146/7 <479> < 2. Nyi RAy. Hasan Mukmin
773147/7 <479> < 3. Nyi RAy. Muryadi
Tapak.jpeg
774148/7 <479> < 4. RM. Kyai Syuhada
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


SEJARAH SINGKAT PERGURUAN SILAT TAPAK SUCI

Di Banjarnegara, Jawa Tengah, Kiyai Haji (K.H.) Syuhada pada tahun 1872 memiliki seorang putera yang diberi nama Ibrahim. Sejak kecil ia menerima ilmu pencak dari ayahnya. Ibrahim tumbuh menjadi Pendekar yang menguasai pencak ragawi dan batin / inti tetapi sekaligus Ulama yang menguasai banyak ilmu, kemudian berganti nama menjadi K.H. Busyro Syuhada.

Pada awalnya K.H.Busyro Syuhada mempunyai 3 murid, yaitu : •Achyat ( adik misan ), yang kemudian dikenal dengan K.H. Burhan •M.Yasin ( adik kandung ), yang dikenal dengan K.H. Abu Amar Syuhada •Soedirman, yang dikemudian hari mencapai pangkat Jenderal dan pendiri Tentara Nasional Indonesia, bahkan bergelar Panglima Besar Soedirman.

Pada tahun 1921 di Yogyakarta, bertemulah K.H. Busyro Syuhada dengan kakak beradik Ahmad Dimyati dan Muhammad Wahib. Dalam kesempatan itu mereka adu ilmu pencak antara M. Wahib dan M. Burhan. Kemudian A. Dirnyati dan M. Wahib dengan pengakuan yang tulus mengangkat K.H. Busyro Syuhada sebagai guru dan mewarisi ilmu pencak dari K.H. Busyro Syuhada yang kemudian menetap di Kauman. Menelusuri jejak gurunya, Ahmad Dimyati mengembara ke barat sedang M. Wahib mengembara ketimur sampai ke Madura untuk menjalani adu kaweruh ( uji ilmu ). Pewaris ilmu banjaran, mewarisi juga sifat-sifat gurunya M. Wahib sebagaimana K.H. Busyro Syuhada, bersifat keras, tidak kenal kompromi, suka adu kaweruh. Untuk itu sangat menonjol nama M. Wahib dari pada A. Dimyati. Sedang A. Dimyati yang banyak dikatakan ilmunya lebih tangguh dari pada adiknya M. Wahib tetapi karena pendiam dan tertutup maka tidak banyak kejadian-kejadian yang dialami. Sebagaimana M. Burhan yang mempunyai sifat dan pembawaan sama dengan A. Dimyati.

K. H. Busyro Syuhada pernah menjadi guru pencak untuk kalangan bangsawan dan keluarga Kraton Yogyakarta. Salah satu diantara muridnya adalah R.M. Harimurti, seorang pangeran kraton, yang dikemudian hari beberapa muridnya mendirikan perguruan–perguruan pencak silat yang beraliran Harimurti.

Kauman, Seranoman dan Kasegu

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada memberi wewenang kepada pendekar binaannya, A. Dimyati dan M. Wahib untuk membuka perguruan dan menerima murid. Perguruan baru yang didirikan pada tahun 1925 itu diberi nama Perguruan "Kauman", yang beraliranBanjaran.

Perguruan Kauman mempunyai peraturan bahwa murid yang telah selesai menjalani pendidkan dan mampu mengembangkan ilmu pencak silat diberikan kuasa untuk menerima murid.

M. Syamsuddin yang menjadi murid kepercayaan Pendekar Besar M..Wahib diangkat sebagai pembantu utama; dan dizinkan menerima murid. Kemudian mendirikan perguruan ”Seranoman". Perguruan Kauman menetapkan menerima siswa baru, setelah siswa tadi lulus menjadi murid di Seranoman. Perguruan Seranoman melahirkan pendekar muda Moh. Zahid, yang juga lulus menjalani pendidikan di perguruan Kauman. Moh. Zahid yang menjadi murid angkatan ketiga (3) bahkan berhasil pula mengembangkan pencak silat yang berintikan kecepatan; kegesitan, dan ketajaman gerak. Tetapi murid ketiga ini pada tahun 1948, wafat pada usia yang masih sangat muda. Tidak sempat mendirikan perguruan baru tetapi berhasil melahirkan murid, Moh. Barie lrsjad.

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada berpulang ke Rahmatullah pada bulan Ramadhan 1942. Pendekar Besar KH Busyro Syuhada bahkan tidak sempat menyaksikan datangnya perwira Jepang, Makino, pada tahun 1943 yang mengadu ilmu beladirinya dengan pencak silat andalannya. Makino mengakui kekurangannya dan menyatakan menjadi murid Perguruan Kauman sekaligus menyatakan masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Omar Makino. Pada tahun 1948 Pendekar Besar KH Burhan gugur bersama dengan 20 muridnya dalam pertempuran dengan tentara Belanda di barat kota Yogyakarta. Kehilangan besar pesilatnya menjadikan perguruan Kauman untuk beberapa sa’at berhenti kegiatannya dan tidak menampakkan akan muncul lagi Pendekar. Moh. Barie lrsjad sebagai murid angkatan keenam (6) yang dinyatakan lulus dari tempaan ujian Pendekar M. Zahid, M. Syamsuddin, M. Wahib dan A. Dimyati kemudian dalam perkembangan berikutnya mendirikan perguruan "Kasegu"

Kalau perguruan-perguruan sebelumnya diberi nama sesuai dengan tempatnya. Perguruan Kasegu diberikan nama sesuai dengan senjata yang diciptakan oleh Pendekar Moh. Barie Irsjad.

Lahirnya Tapak Suci

Moh. Barie lrsjad akhirnya mengeluarkan gagasan agar semua aliran Banjaran yang sudah berkembang dan terpecah-pecah dalam berbagai perguruan, disatukan kembali ke wadah tunggal.

Pendekar Besar M. Wahib merestui berdirinya satu Perguruan yang menyatukan seluruh perguruan di Kauman. Restu diberikan dengan pengertian Perguruan nanti adalah kelanjutan dari Perguruan Kauman yang didirikan pada tahun 1925 yang berkedudukan di Kauman.

Pendekar M. Wahib mengutus 3 orang muridnya. dan M. Syamsuddin mengirim 2 orang muridnya untuk bergabung. Maka Pendekar M. Barie Irsjad bersama sembilan anak murid menyiapkan segala sesuatunya untuk mendirikan Perguruan.

Dasar-dasar perguruan Kauman yang dirancang oleh Moh. Barie lrsjad, Moh. Rustam Djundab dan Moh. Djakfal Kusuma menentukan nama Tapak Suci. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dikonsep oleh Moh Rustam Djundab. Do’a dan lkrar disusun oleh H. Djarnawi Hadikusuma. Lambang Perguruan diciptakan oleh Moh. Fahmie Ishom, lambang Anggota diciptakan oleh Suharto Suja', lambang Regu Inti "Kosegu" diciptakan Adjib Hamzah. Sedang bentuk dan warna pakaian dibuat o!eh Moh. Zundar Wiesman dan Anis Susanto. Maka pada tanggal 31 Juli 1963 lahirlah Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci
775149/7 <479> < 5. RM. Kyai Suraji
776150/7 <479> < 6. Nyi RAy. Hasby
777151/7 <479> < 7. Nyi RAy. Ishaq
778152/7 <479> < 8. RM. Kyai Abdul Manan
779153/7 <482> < Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo
780154/7 <483> < Raden Mas Yusuf [Hb.3.2.7.1.1]
781155/7 <490> < Raden Ayu Taruno [Hb.3.2.18.7.1] 782156/7 <488> < Raden Mas Cokrodipuro [Hb.3.2.18.5.1]
783157/7 <488> < Raden Mas Suryodipuro [Hb.3.2.18.5.2]
784158/7 <488> < Raden Mas Harjoseputro [Hb.3.2.18.5.3]
785159/7 <488> < Raden Ayu Cokrodirono [Hb.3.2.18.5.4]
786160/7 <488> < Raden Ayu Sumosastro [Hb.3.2.18.5.5]
787161/7 <488> < Raden Ayu Kartowisastro [Hb.3.2.18.5.6]
788162/7 <484> < Raden Ayu Jayengsari [Hb.3.2.18.1.1]
789163/7 <484> < Raden Ayu Jayaningsih [Hb.3.2.18.1.2]
790164/7 <484> < Raden Mas Seloharjo [Hb.3.2.18.1.3]
791165/7 <484> < Raden Ayu Jayengsari II [Hb.3.2.18.1.4]
792166/7 <484> < Raden Mas Sumoharjo [Hb.3.2.18.1.5]
793167/7 <484> < Raden Ayu Sumodigdoyo [Hb.3.2.18.1.6]
794168/7 <484> < Raden Mas Jumadi [Hb.3.2.18.1.7]
795169/7 <489> < Raden Ayu Sukinah Sabar Martowiyoto [Hb.3.2.18.6.1]
796170/7 <489> < Raden Ayu Abdullah [Hb.3.2.18.6.2]
797171/7 <489> < Kanjeng Raden Tumenggung Joyodiningrat [Hb.3.2.18.6.3]
798172/7 <489> < Raden Ayu Kusniyah Harjoseputro [Hb.3.2.18.6.4]
799173/7 <489> < Raden Ayu Tirtoharjo Kusdi [Hb.3.2.18.6.5]
800174/7 <489> < Raden Mas Harjosunoto [Hb.3.2.18.6.6]
801175/7 <410+414!> < Kanjeng Pangeran Haryo Suryadi [Hb.6.11.9] 802176/7 <410+164> < Raden Ayu Mangunjoyo I [Hb.5.8.2] [Hb.6.11.11] (Raden Ajeng Mustinah)
803177/7 <414+410!> < Raden Lurah Suryodiprojo I [Hb.5.8.3] [Hb.6.11.13] (Raden Mas Jiwanjono)
804178/7 <414+410!> < Kanjeng Raden Tumenggung Puspodiningrat [Hb.5.8.4] [Hb.6.11.20]
805179/7 <410+414!> < Raden Ayu Mangkukusumo [Hb.5.8.5] [Gp.Hb.7.17.1] [Hb.6.11.22] (Raden Ajeng Kusdilah / Raden Ayu Mangkukusumo Sepuh) 806180/7 <414+410!> < Raden Ayu Hatmosutejo [Hb.5.8.6] [Hb.6.11.23]
807181/7 <410+414!> < Raden Ayu Sujono Tirtokusumo [Hb.5.8.7] / Raden Ajeng Kadawarwati [Hb.6.11.24] 808182/7 <410+414!> < Raden Ayu Wironegoro [Hb.5.8.8] / Raden Ajeng Sumardiyah [Hb.6.11.25]
809183/7 <410+414!> < Raden Panji Joyowiloyo [Hb.5.8.9] / Raden Mas Dekok Van Lewen [Hb.6.11.26]
810184/7 <427+413!> < Raden Mas Soecipto Hadiwijoyo [Hb.5.9.1]
811185/7 <413+427!> < Raden Mas Soengkowo Hadiwijoyo [Hb.5.9.2]
812186/7 <427+413!> < Raden Mas Dracman Sahid Hadiwijoyo [Hb.5.9.3]
813187/7 <413> < Raden Ayu Jaenab [Hb.3.2.22.1.2]
814188/7 <413> < Raden Ayu Maemunah [Hb.3.2.22.1.3]
815189/7 <413> < Raden Ayu Khatijah [Hb.3.2.22.1.4]
816190/7 <413+984!> < Raden Ayu Salamah Soetomo [Hb.3.2.22.1.5]
818191/7 <500> < Raden Mas Sosrodarmo [Hb.3.8.1.1.1]
819192/7 <501> < Raden Ayu Cokrowinoto [Hb.3.14.1.1.1] 820193/7 <504+226> < Raden Ayu Siti [Hb.3.14.3.3.3] / [Hb.6.8.2.3]
821194/7 <504+226> < Raden Ayu Dirjo [Hb.3.14.3.3.1] / [Hb.6.8.2.1]
822195/7 <504+226> < Raden Ayu Plat [Hb.3.14.3.3.2] / [Hb.6.8.2.2]
823196/7 <503> < Raden Mas Sutejo [Hb.3.14.3.2.1] / [Hb.6.8.1.1]
824197/7 <503> < Raden Mas Sutikno [Hb.3.14.3.2.2] / [Hb.6.8.1.2]
825198/7 <503> < Raden Ayu Sastro Utomo [Hb.3.14.3.2.3] / [Hb.6.8.1.3]
826199/7 <503> < Raden Mas Mujamal [Hb.3.14.3.2.4] / [Hb.6.8.1.4]
827200/7 <503> < Raden Ayu Joyo Indro [Hb.3.14.3.2.5] / Raden Ayu Martania [Hb.6.8.1.5] 828201/7 <503> < Raden Mas Suryomursand I [Hb.3.14.3.2.6] / [Hb.6.8.1.6]
829202/7 <503> < Raden Mujalal [Hb.3.14.3.2.7] / [Hb.6.8.1.7]
830203/7 <505> < Bendoro Raden Ayu Pujokusumo [Hb.3.19.2.1.1]
831204/7 <505> < Raden Suberubiah
832205/7 <505> < Kanjeng Raden Tumenggung Sasmitodipuro [Hb.3.19.2.1.3]
833206/7 <505> < Raden Ayu Sukirahayu [Hb.3.19.2.1.4]
834207/7 <505> < Raden Ayu Sukimah [Hb.3.19.2.1.5]
835208/7 <505> < Raden Sukirno [Hb.3.19.2.1.6] 836209/7 <524> < Raden Ayu Mastari [Hb.3.26.2.1.1] 837210/7 <524> < Raden Mas Subronto [Hb.3.26.2.1.2]
838211/7 <524> < Raden Ayu Masdilah [Hb.3.26.2.1.3]
839212/7 <524> < Raden Ayu Masdinah [Hb.3.26.2.1.4] 840213/7 <524> < Raden Ayu Mastuti [Hb.3.26.2.1.5]
841214/7 <524> < Raden Ayu Siti Sulastri [Hb.3.26.2.1.16]
842215/7 <530> < Raden Ayu Puspopragoto [Hb.3.27.2.1.1]
843216/7 <532> < Raden Ayu Suparti [Hb.3.28.13.2.1] 844217/7 <531> < Raden Ayu Rubiyah [Hb.3.28.13.1.1] 845218/7 <533> < Raden Ayu Siti [Hb.3.28.14.1.1]
846219/7 <533> < Raden Mas Busro [Hb.3.28.14.1.2]
847220/7 <533> < Raden Mas Abdul Majid [Hb.3.28.14.1.3]
848221/7 <533> < Raden Ayu Robingah [Hb.3.28.14.1.12]
849222/7 <536> < Raden Mas Suwignyo [Hb.3.28.14.4.1]
850223/7 <536> < Raden Ayu Siti [Hb.3.28.14.4.2]
851224/7 <536> < Raden Mas Mangkudikoro [Hb.3.28.14.4.3]
852225/7 <535> < Raden Mas Kurdi [Hb.3.28.14.3.1]
853226/7 <535> < Raden Mas Muhyidin [Hb.3.28.14.3.2]
854227/7 <535> < Raden Mas Faizun [Hb.3.28.14.3.3]
855228/7 <535> < Raden Ayu Sujinah [Hb.3.28.14.3.4]
856229/7 <535> < Raden Mas Jamroni [Hb.3.28.14.3.5]
857230/7 <498> < Kanjeng Raden Tumenggung Gondokusumo [Hb.3.4.3.5.1] 858231/7 <537> < Raden Ayu Gondokusumo [Hb.4.9.1.1] 859232/7 <547> < Raden Ayu Ilham Dirjodiningrat [Hb.4.10.2.1]
860233/7 <562+227> < Raden Mas Harjotaruno [Hb.4.13.1.1] 861234/7 <562+227> < Raden Ayu Dwijoatmojo [Hb.4.13.1.1.4]
862235/7 <562+227> < Raden Mas Sumodiono [Hb.4.13.1.1.3]
863236/7 <562+227> < Raden Ayu Ranudimejo [Hb.4.13.1.1.2]
864237/7 <404+218> < Raden Mas Suryodirjo [Hb.6.5.8]
865238/7 <404+218> < Raden Ayu Projodipuro [Hb.6.5.7] 866239/7 <404+218> < Raden Ajeng Suyatinah [Hb.6.5.6]
867240/7 <404+218> < Raden Lurah Atmosuwarno [Hb.6.5.5]
868241/7 <404+218> < Kanjeng Raden Tumenggung Purbonegoro [Hb.6.5.4] 869242/7 <404+218> < Raden Ajeng Suyadiah [Hb.6.5.3]
870243/7 <384+144> < Bendoro Raden Ayu Purbonegoro [Hb.7.21] 871244/7 <404+218> < Raden Ayu Purbokusumo [Hb.6.5.2] 872245/7 <404+218> < Kanjeng Raden Tumenggung Danuhadiningrat [Hb.6.5.1] 873246/7 <407+222> < Kanjeng Raden Tumenggung Purbokusumo [Hb.6.9.3] 876248/7 <407+220> < Raden Wedono Atmowerdoyo [Hb.6.9.1]
877249/7 <407+221> < Raden Lurah Sosrowirono [Hb.6.9.2]
878250/7 <407+222> < Raden Lurah Sosrosebrongto [Hb.6.9.5]
879251/7 <407+222> < Raden Mas Samsidi [Hb.6.9.16]
880252/7 <407+221> < Raden Ayu Gondokusumo [Hb.6.9.6]
881253/7 <407> < Raden Ayu Mangunkusumo [Hb.6.9.7]
882254/7 <407+222> < Raden Ayu Purboningrat [Hb.6.9.8]
883255/7 <407+222> < Raden Ayu Hadiningrat [Hb.6.9.9]
884256/7 <407+222> < Raden Ayu Purbohadiningrat [Hb.6.9.11]
885257/7 <407+222> < Raden Bekel Atmosudirjo [Hb.6.9.12]
886258/7 <407> < Raden Ajeng Isdiyah [Hb.6.9.13]
887259/7 <407> < Raden Lurah Atmosutejo [Hb.6.9.14]
888260/7 <407+222> < Raden Ayu Kartokusumo [Hb.6.9.15]
889261/7 <384> < Bendoro Raden Mas Subono [Hb.7.70] 890262/7 <410+166> < Raden Ajeng Manyar [Hb.6.11.2]
891263/7 <410+166> < Raden Mas Dikwanis [Hb.6.11.3] (Raden Tumenggung Prawirodirejo)
892264/7 <410+166> < Raden Mas Kiswarin [Hb.6.11.4]
893265/7 <410+166> < Raden Mas Kodrat Samadikun [Hb.6.11.5] 894266/7 <410+166> < Raden Ajeng Karsinah [Hb.6.11.6]
895267/7 <410+166> < Raden Mas Mursidi [Hb.6.11.7] (Raden Tumenggung Jogonegoro)
898269/7 <384+158> < Bendoro Raden Ayu Jatikusumo [Hb.7.78] (R. A. Soeharsi Widianti) 899270/7 <410+164> < Raden Sayid Ashar [Hb.6.11.10]
901272/7 <410+164> < Raden Tumenggung Condroprojo / Raden Mas Mursahadah [Hb.6.11.19]
902273/7 <410+174> < Raden Mas Rebuahsasi [Hb.6.11.27] (Raden Bagus Kusumohalpito)
903274/7 <410+173> < Raden Ajeng Siti Mardinah / Raden Ayu Projosastrokusumo [Hb.6.11.29]
904275/7 <410+172> < Raden Ayu Kusumodilogo / Raden Ajeng Siti Rokhiyah [Hb.6.11.30] 905276/7 <410+173> < Raden Ajeng Napsiah [Hb.6.11.31]
906277/7 <410+170> < Raden Mas Mungsowarat / Raden Bekel Kawindrokusumo [Hb.6.11.32]
908279/7 <585+1247!> < Raden Mas Suandono [Hb.8.3.1]
909280/7 <584> < Raden Ajeng Kustamiyati [Hb.7.22.5.2] (Raden Ayu Bambang Dimulyo) 910281/7 <584> < Raden Mas Murdiyanto Dipudiporo [Hb.7.22.5.1]
911282/7 <410+167> < Raden Ajeng Sudarmi [Hb.6.11.16]
912283/7 <410+172> < Raden Mas Arwah [Hb.6.11.28]
913284/7 <406+197> < Raden Ajeng Sapariyam [Hb.6.18.1]
914285/7 <406+206> < Raden Ajeng Saparinten [Hb.6.18.2]
915286/7 <406+206> < Raden Mas Suraji [Hb.6.18.6]
916287/7 <406+198> < Raden Ayu Sapariah [Hb.6.18.5]
917288/7 <406+206> < Raden Mas Sukarjo [Hb.6.18.7]
918289/7 <406+204> < Raden Mas Suharji [Hb.6.18.43]
919290/7 <406+208> < Raden Ajeng Atas Jinah [Hb.6.18.42]
920291/7 <406+208> < Raden Mas Sudibyo [Hb.6.18.41]
921292/7 <406+208> < Raden Ajeng Atas Diah [Hb.6.18.38]
922293/7 <406+205> < Raden Mas Suhaji [Hb.6.18.40]
923294/7 <406+208> < Raden Mas Sumintratmojo [Hb.6.18.37]
924295/7 <406+208> < Raden Mas Sudarmo [Hb.6.18.36]
925296/7 <406+207> < Raden Mas Sumadi [Hb.6.18.8] (Raden Mas Tirto Sudirjo)
926297/7 <406+207> < Raden Ajeng Supardinah [Hb.6.18.10]
927298/7 <406+205> < Raden Mas Sudibyo [Hb.6.18.39]
928299/7 <406+206> < Raden Ajeng Atas Tinah [Hb.6.18.11]
929300/7 <406+205> < Raden Ajeng Atas Tilah [Hb.6.18.18]
930301/7 <406+206> < Raden Mas Subarjo [Hb.6.18.12]
931302/7 <406+206> < Raden Mas Suparjo [Hb.6.18.30]
932303/7 <406+198> < Raden Ajeng Atasilah [Hb.6.18.9] 933304/7 <406+198> < Raden Ajeng Saparinah [Hb.6.18.26]
934305/7 <406+198> < Raden Mas Sumitro [Hb.6.18.27]
935306/7 <406+205> < Raden Mas Sudarsono [Hb.6.18.13]
936307/7 <406+202> < Raden Mas Sumarman [Hb.6.18.15] (Kanjeng Pangeran Haryo Tirtodiningrat) 937308/7 <406+202> < Raden Mas Sumantri [Hb.6.18.16]
938309/7 <406+205> < Raden Mas Sutoatmojo [Hb.6.18.14]
939310/7 <406+202> < Raden Ajeng Atas Tijah [Hb.6.18.17]
940311/7 <406+204> < Raden Mas Sudiyono [Hb.6.18.19]
941312/7 <406+203> < Raden Mas Suharjo [Hb.6.18.20] 942313/7 <406+204> < Raden Mas Suhardi [Hb.6.18.21]
943314/7 <406+204> < Raden Mas Sujoko [Hb.6.18.22]
944315/7 <406+200> < Raden Mas Sumarjo [Hb.6.18.23]
945316/7 <406+196> < Raden Mas Sumaryono [Hb.6.18.24]
946317/7 <406+199> < Raden Ajeng Marinah [Hb.6.18.28]
947318/7 <406+196> < Raden Mas Suprapto [Hb.6.18.25]
948319/7 <406+210> < Raden Mas Kasan (Twins/Kembar) [Hb.6.18.33]
949320/7 <406+199> < Raden Ajeng Suwarti [Hb.6.18.29]
950321/7 <406+210> < Raden Mas Kusen (Twins/Kembar) [Hb.6.18.34]
951322/7 <406+209> < Raden Ajeng Suparjiah [Hb.6.18.35]
952323/7 <406+199> < Raden Mas Sudiro [Hb.6.18.31]
953324/7 <406+210> < Raden Mas Jonobiraji [Hb.6.18.32]
954325/7 <406+202> < Raden Ajeng Atas Pinah [Hb.6.18.44]
955326/7 <406+201> < Raden Ajeng Atas Jinah [Hb.6.18.45]
956327/7 <406+196> < Raden Ajeng Atas Warin [Hb.6.18.4]
958328/7 <590> < Raden Ajeng Erawati [Hb.7.54.5.5]
959329/7 <590> < Raden Mas Dewandono [Hb.7.54.5.4]
960330/7 <590> < Raden Mas Chaerul Andovianto [Hb.7.54.5.3]
961331/7 <590> < Raden Ajeng Budi Rusdwitanti [Hb.7.54.5.2]
962332/7 <590> < Raden Mas Ary Murwanto [Hb.7.54.5.1]
963333/7 <589+1829!> < Raden Ajeng Sri Widuri Saryuniyati Pulungasri [Hb.7.54.4.1]
964334/7 <589+1829!> < Raden Ajeng Krisna Widuri Saryuniyatni D. [Hb.7.54.4.2]
965335/7 <588> < Raden Ajeng Siti Noowijayanti [Hb.7.54.3.1]
966336/7 <587> < Raden Mas Muskadaraji [Hb.7.54.2.1]
967337/7 <587> < Raden Mas Bambang Trisulo [Hb.7.54.2.2]
968338/7 <587> < Raden Ajeng Moorstiasasih [Hb.7.54.2.3]
969339/7 <586+228> < Raden Mas Rohadi Sampurno [Hb.7.54.1.1]
970340/7 <586+228> < Raden Ajeng Siti Rochyati Kusmardirun [Hb.7.54.1.2]
971341/7 <586+228> < Raden Ajeng Siti Rochyati Ismardiyatun [Hb.7.54.1.3]
972342/7 <586+228> < Raden Mas Rochyadi Isrusamsi [Hb.7.54.1.6]
973343/7 <586+228> < Raden Mas Rochadi Samtoro Kusumo [Hb.7.54.1.5]
974344/7 <586+228> < Raden Ajeng Siti Rochyati Musamtirun [Hb.7.54.1.4]
979348/7 <405+219> < Raden Ayu Yudodiningrat [Hb.6.23.1]
980349/7 <405+219> < Raden Ayu Salsiah Padmosudirjo [Hb.6.23.2] 981350/7 <405+219> < Raden Ayu Kusdinah Danuseputro [Hb.6.23.4]
982351/7 <405> < Raden Wedono Puspodirjo [Hb.6.23.3] (Kanjeng Raden Tumenggung Padmodiningrat)
983352/7 <384> < Bendoro Raden Ayu Mangunkusumo [Hb.7.71] 984353/7 <384+145> < Bendoro Raden Ajeng Kusjinah [Hb.7.2] / Raden Ayu Kanjeng Gusti 985354/7 <384+145> < Bendoro Raden Ayu Gusti Timur [Hb.7.3] (Gusti Raden Ayu Pembayun) 987356/7 <384+146> < Bendoro Raden Ajeng Partilah [Hb.7.6]
989358/7 <384+146> < Gusti Bendoro Raden Ayu Sosronegoro [Hb.7.11] 990359/7 <384+151> < Bendoro Raden Ajeng Murlintangpajar [Hb.7.50]
991360/7 <384+150> < Gusti Bendoro Raden Ayu Brongtodiningrat I [Hb.7.47] 992361/7 <384+152> < Gusti Bendoro Raden Ayu Joyodipuro [Hb.7.46] 993362/7 <384+151> < Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryobrongto [Hb.7.45]
994363/7 <384+142> < Gusti Kanjeng Ratu Bendoro II [Hb.7.43] 996365/7 <384+142> < Gusti Kanjeng Ratu Hanom [Hb.7.40] 997366/7 <384+143> < Bendoro Raden Ayu Condroprojo [Hb.7.39] (Gusti Bendoro Raden Ayu Wiryokusumo) 998367/7 <384+157> < Bendoro Radem Mas Samsuyobali [Hb.7.77]
999368/7 <384+729!> < Bendoro Raden Mas Sumaulngirki [Hb.7.73]
1000369/7 <384+151> < Bendoro Raden Mas Pujiarjo [Hb.7.57]
1001370/7 <384+159> < Bendoro Raden Mas Prawoto [Hb.7.63]
1002371/7 <384+160> < Bendoro Raden Ajeng Murharidah [Hb.7.67]
1003372/7 <384+729!> < Gusti Bendoro Pangeran Haryo Joyokusumo II [Hb.7.59]
perkawinan: <341> < Raden Ajeng Suryadiya , Yogyakarta
1004373/7 <384+149> < Bendoro Raden Mas Timur [Hb.7.25]
1006375/7 <384+142> < Gusti Raden Ajeng Murhadiyah [Hb.7.28]
1007376/7 <384+142> < Gusti Raden Mas Sukirno [Hb.7.29]
1010379/7 <384+149> < Gusti Kanjeng Ratu Hangger II [Hb.7.33]
perkawinan: <344> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumoyudo [Pb.10.5] (Bendoro Raden Mas Abimanyu) b. 17 Januari 1884 d. 16 Januari 1956, <345> < R. A. Setiopoespito b. 1894? d. 16 Mei 1985
1012381/7 <384+143> < Gusti Bendoro Raden Ayu Yudonegoro II [Hb.7.19] (Bendoro Raden Ayu Cokdrodiningrat) 1015384/7 <384+160> < Gusti Bendoro Raden Ayu Suryonegoro [Hb.7.76] 1016385/7 <408> < Kanjeng Raden Tumenggung Suryonegoro [Hb.6.22.2] 1017386/7 <384> < Gusti Bendoro Raden Ayu Brongtodiningrat II [Hb.7.74] 1025394/7 <402+409!> < Raden Ayu Hadinegoro [Gp.Hb.7.13.1] [Hb.6.13.7] 1026395/7 <599> < Raden Mas Hernowo Hadiwongso [Hb.7.31.2.6]
1027396/7 <599> < Raden Mas Nadpodo [Hb.7.31.2.5]
1028397/7 <599> < Raden Mas Handogo [Hb.7.31.2.4]
1029398/7 <599> < Raden Mas Narantaka [Hb.7.31.2.3]
1030399/7 <599> < Raden Mas Kartolo [Hb.7.31.2.2]
1031400/7 <599> < Raden Mas Hinukartopati [Hb.7.31.2.1]
1032401/7 <600+230> < Raden Mas Y. Widoyoko [Hb.7.31.4.7]
1033402/7 <600+230> < Raden Mas Pujadi [Hb.7.31.4.6]
1034403/7 <600+230> < Raden Mas Samihaji [Hb.7.31.4.5]
1035404/7 <600+230> < Raden Mas Ign. Buntolo [Hb.7.31.4.4]
1036405/7 <600+230> < Raden Mas Suryoatmojo [Hb.7.31.4.3]
1037406/7 <600+230> < Raden Ajeng Surdiyati [Hb.7.31.4.2] (Raden Ayu Pujianto) 1038407/7 <600+230> < Raden Ajeng Suryati [Hb.7.31.4.1] (Raden Ayu Sutarjo)
1039408/7 <601+231> < Raden Mas Susilarjo Priyonirmolo [Hb.7.31.6.2]
1040409/7 <601+231> < Raden Mas Ranowo Marbudhingrat Rasbudi [Hb.7.31.6.3]
1041410/7 <601+231> < Raden Ajeng Yun Sri Purwanesti N. [Hb.7.31.6.1]
1042411/7 <601+231> < Raden Mas Istijab Prawendro Purwantoro [Hb.7.31.6.4]
1043412/7 <601+231> < Raden Ajeng Tyasning Ekartaji [Hb.7.31.6.9]
1044413/7 <601+231> < Raden Mas Sumirat Wisnu Pambudi [Hb.7.31.6.8]
1045414/7 <601+231> < Raden Ajeng Saroyini Wuryan Rahayu [Hb.7.31.6.7]
1046415/7 <601+231> < Raden Mas Ilham Reza Khan Pandugo [Hb.7.31.6.6]
1047416/7 <601+231> < Raden Ajeng Farida Sumiratun Qodri [Hb.7.31.6.5]
1048417/7 <601+231> < Raden Mas Susilo Heryanto Aji [Hb.7.31.6.14]
1049418/7 <601+231> < Raden Mas Firman Buntolo Aji [Hb.7.31.6.13]
1050419/7 <601+231> < Raden Mas Sedyo Aji [Hb.7.31.6.12]
1051420/7 <601+231> < Raden Ajeng Murjali Siti Antari Mintowati [Hb.7.31.6.11]
1052421/7 <601+231> < Raden Mas Sidik Pulunggonowati [Hb.7.31.6.10]
1053422/7 <603> < Muhammad Ilyas
1056423/7 <458> < 1. Raden Mas Idris
1057424/7 <458> < 2. Raden Mas Machmud
1058425/7 <458> < 3. Raden Mas Abdul Gani
1059426/7 <458> < 4. Raden Ayu Djuna (Ambon)
1060427/7 <460> < 1. RM. Djafar
1061428/7 <607> < Raden Mas Soetardi Soerjohoedojo
Jabatan terakhir:
  1. Kepala SMAN A1, Yogyakarta
  1. Kepala Sekolah Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama, Yogyakarta
1062429/7 <625+190> < Raden Mas Benedictus Soetarjono
1063430/7 <625+190> < R. A. Henriette Arbiati
1064431/7 <625+190> < R. A. Georgia Srikanali
1065432/7 <625+190> < Raden Mas Franciscus Xaverius Prahasto
1066433/7 <625+190> < Raden Ajeng Melani
Meninggal saat bayi
1067434/7 <625+190> < Raden Mas Augustinus Soejanadi
1068435/7 <625+190> < Raden Mas Constantinus Satrijo
1069436/7 <625+190> < R. A. Mardoesari
1070437/7 <625+190> < Raden Mas Aloysius Prijohoetomo
1071438/7 <625+190> < R. A. Catharina Soeharti
1072439/7 <625+190> < Raden Mas Ignatius Soesanto
1073440/7 <625+190> < Raden Mas Petrus Canisius Pulunggono
1074441/7 <625+190> < R. A. Margareta Widihastoeti
1075442/7 <616+383!> < Ratih Tarbijah
1078443/7 <383+616!> < Asti Wandansari
1079444/7 <616+383!> < Soebroto Aria Mataram
1081445/7 <629> < R. A. Mutmainah 1089446/7 <630+192> < Bendoro Raden Mas Munier Tjakraningrat (K. P. H. Pakuningrat) 1091447/7 <522> < Raden Mas Somodimejo
1092448/7 <633> < Raden Waloejo
1093449/7 <634> < Raden Mohammad Sahri
1094450/7 <393> < R. A. Drijopoero 1095451/7 <630+192> < B. R. A. Koes Siti Marlia
1097452/7 <630+193> < Bendoro Raden Mas Muhammad Malikul Adil Tjakraningrat
1098453/7 <635> < Raden Sastroatmojo
1102454/7 <385+188> < B. R. A. Koespinah 1103455/7 <605+195> < Raden Mas Sularso Basarah Soerjosoejarso
1104456/7 <605+195> < R. A. Parimita Wiarti Soerjosoejarso
1105457/7 <605+195> < Raden Mas Adji Pamoso Soerjosoejarso
1106458/7 <605+195> < R. A. Heruma Wiarti Soerjosoejarso
1107459/7 <605+195> < R. A. Rasika Wiarti Soerjosoejarso
1108460/7 <605+195> < R. A. Wimaja Wiarti Soerjosoejarso
1110461/7 <639> < Raden Mas Prodjowardojo
1111462/7 <639> < Raden Mas Umarjo
1112463/7 <385+188> < B. R. A. Soelastri (B. R. A. Soegirwo)
1113464/7 <385+188> < B. R. A. Koesbandinah (B. R. A. Soetardjo Kartoningprang)
1114465/7 <385+188> < B. R. A. Koesdarinah (B. R. A. Harjono Djoeroemartani)
1115466/7 <385+188> < B. R. A. Koesbinah (B. R. A. Soegoto Kartonegoro)
1116467/7 <647+232> < Raden Sigit Suwondo
1117468/7 <647+232> < Raden Arbiyati Suwarsono
1118469/7 <423> < R. Ali Musthofa
1119470/7 <423> < RA. Nyai San Munawar
1120471/7 <423> < RA. Nyai Musthofa
1121472/7 <423> < R. Ali Muntaha
1122473/7 <423> < RA. Nyai Mad Murja
1123474/7 <423> < RA. Nyai Nawawi
1124475/7 <423> < R. Mustahal
1125476/7 <650+649!> < Raden Ayu Djoyosedarso
1126477/7 <650+649!> < Raden Mas Prawiro Kardeni
1127478/7 <649+650!> < Raden Ayu Nitidimedjo
1128479/7 <650+649!> < Raden Ayu Prawirokartohardjo
1129480/7 <649+650!> < Raden Ayu Brodjodilogo
1130481/7 <649+650!> < Raden Mas Sosrowidagdo
1131482/7 <649+650!> < Raden Mas Mangunpawiro
dimakamkan di Tamansari
1132483/7 <650+649!> < Raden Mas Pringgowidigdo
1133484/7 <407+222> < Bendara Raden Ayu Koeshartati

8

11361/8 <653+?> < R. Samhudi
lahir: Yogyakarta
perkawinan: <361> < Rina Anggraina
perkawinan: <362> < Alm. Siti Aminah
wafat: Tegal
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study

Asal Usul Bani Jawi, Asal usul R Samhudi, ayahanda Hilal Achmar. Pada masa Dinasti ke-18 Fir'aun di Mesir (sekitar 1.567SM-1.339SM), di pesisir barat pulau sumatera telah ada pelabuhan yang ramai, dengan nama Barus. Pelabuhan ini berkembang dengan baik, dikarenakan ada bangsa yang mengatur, serta menjaganya dari serangan bajak laut atau negara lain.

Penguasa Pelabuhan Barus, dikenal dengan nama Bangsa Malai. Malai dalam bahasa Sanskrit atau Tamil, berarti bukit (gunung). Seperti namanya, Bangsa Malai bermukim di sekitar perbukitan (dataran tinggi).


Asal Muasal Bangsa Malai

Diperkirakan bangsa Malai, bermula dari 4 (empat) bangsa, yakni Arab-Cina-Eropa-Hindia, terkadang disingkat ACEH (sampai sekarang istilah ACEH masih dinisbatkan kepada keturunan Bangsa Malai yang tinggal di ujung utara pulau sumatera).

Bangsa yang pertama datang adalah Bangsa Hindia Malaya (Himalaya). Bangsa Himalaya merupakan interaksi antara Bangsa Hindia (keturunan Kusy keturunan Ham bin Nabi Nuh), dengan Bangsa Malaya (keturunan Bangsa Malaya Purba/Atlantis/Sundaland [Penduduk Asli Nusantara], yang selamat dari bencana banjir Nuh). Pada awalnya mereka tinggal di kaki gunung Himalaya, sekitar tahun 6.000SM mereka datang ke pulau sumatera. Mereka menyusul kerabatnya bangsa Polinesia (keturunan Heth keturunan Ham bin Nabi Nuh), yang telah terlebih dahulu datang, dan bertempat tinggal di bagian timur Nusantara.

Pada sekitar tahun 4.500SM, datang Bangsa Cina atau Bangsa Formosa (keturunan Shini keturunan Yafits bin Nabi Nuh). Bangsa ini membawa budaya Agraris dari tempat asalnya.

Setelah itu sekitar tahun 2.500SM, datang Bangsa Eropa atau Bangsa Troya/Romawi Purba (keturunan Rumi keturunan Yafits bin Nabi Nuh), mereka membawa Peradaban Harappa, yang dikenal sudah sangat maju.

Dan terakhir sekitar tahun 2.200SM datang Bangsa Arab Purba atau Bangsa Khabiru (keturunan 'Ad keturunan Sam bin Nabi Nuh). Bangsa Khabiru adalah pengikut setia Nabi Hud, mereka datang dengan membawa keyakinan Monotheisme, di dalam masyarakat pulau sumatera.

Penyatuan ke-empat bangsa ini di kenal dengan nama Bangsa Malai (Bangsa Aceh Purba/Melayu Proto), dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan dan petani.

Bangsa Malai sebagaimana leluhur pertamanya Bangsa Himalaya, mendiami daerah dataran tinggi, yaitu di sepanjang Bukit Barisan (dari Pegunungan Pusat Gayo di utara, sampai daerah sekitar Gunung Dempo di selatan).

Bermula dari Bukit Barisan inilah, Bangsa Malai menyebar ke pelosok Nusantara, seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Malaya, Siam, Kambujiya, Sunda, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.


Bangsa Malai Pelindung Nusantara

Menurut para sejarawan, Bangsa Mongoloid begitu mendominasi daerah di sebelah utara Nusantara.

Muncul pertanyaan, mengapa bangsa Mongoloid tidak sampai meluaskan kekuasaan sampai ke selatan, bukankah nusantara adalah daerah yang sangat layak untuk dikuasai? Daerahnya subur, serta tersimpan beraneka bahan tambang seperti emas, timah dan sebagainya.

Apa yang mereka takutkan?

Jawabnya hanya satu, karena Nusantara ketika itu, dilindungi Bangsa Malai. Bangsa Malai dikenal memiliki kekuatan maritim yang kuat, dan balatentaranya memiliki ilmu beladiri yang mumpuni.


Siti Qanturah Leluhur Bani Jawi

Pada sekitar tahun 1670SM, dikhabarkan Nabi Ibrahim (keturunan Syalikh keturunan Sam bin Nabi Nuh) telah sampai berdakwah di negeri Bangsa Malai. Beliau diceritakan memperistri puteri Bangsa Malai, yang bernama Siti Qanturah (Qatura/Keturah). Dari pernikahan itu Nabi Ibrahim di karuniai 6 anak, yang bernama : Zimran, Jokshan, Medan, Midian, Ishbak dan Shuah. Dari anak keturunan Siti Qanturah kelak akan memunculkan bangsa Media (Madyan), Khaldea dan Melayu Deutro (berdasarkan perkiraan, Nabi Ibrahim hidup di masa Dinasti Hyksos berkuasa di Mesir Kuno (1730SM-1580SM), sementara versi lain menyebutkan, Nabi Ibrahim menikah dengan Siti Qanturah, pada sekitar tahun 2025SM).

Bangsa Melayu Deutro (Malai Muda), yang saat ini mendiami kepulauan Nusantara, juga mendapat sebutan Bani Jawi. Bani Jawi yang berasal dari kata Bani (Kaum/Kelompok) JiWi (Ji = satu ; Wi = Widhi atau Tuhan). Jadi makna Bani Jawi (JiWi) adalah kaum yang meyakini adanya satu Tuhan.

Keterangan mengenai Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, ditulis oleh sejarawan terkemuka Ibnu Athir dalam bukunya yang terkenal 'al-Kamil fi al-Tarikh'.


Catatan : Melayu Deutro adalah istilah yang digunakan para sejarawan modern, untuk meng-indentifikasikan Bani Jawi, dimana Ibnu Athir menerangkan bahwa Bani Jawi adalah keturunan Nabi Ibrahim.

Keterangan Ibnu Athir ini semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).

Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.

Suku Jawa adalah suku terbesar dari Bani Jawi. Dan sejak dahulu, mereka menganut monotheisme, seperti keyakinan adanya Sang Hyang Widhi atau Sangkan Paraning Dumadi.

Selain suku Jawa, pemahaman monotheisme juga terdapat di dalam masyarakat Sunda Kuno. Hal ini bisa kita jumpai pada Keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka meyakini adanya 'Allah Yang Maha Kuasa', yang dilambangkan dengan ucapan bahasa 'Nu Ngersakeun' atau disebut juga 'Sang Hyang Keresa'.

Tulisan kami bukan sekedar cerita, legenda atau mitos, akan tetapi juga didukung oleh fakta-fakta ilmiah. Mengenai keberadaan Kota Barus, mari kita ikuti bacaan berikut...

SEJARAH KOTA BARUS

Sebagai pelabuhan niaga samudera, Barus (Lobu Tua) diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Bahkan ada juga yang memperkirakan lebih jauh dari itu, sekitar 5000 tahun sebelum Nabi Isa lahir.

Perkiraan terakhir itu didasarkan pada temuan bahan pengawet dari berbagai mummy Fir'aun Mesir kuno yang salah satu bahan pengawetnya menggunakan kamper atau kapur barus. Getah kayu itu yang paling baik kualitasnya kala itu hanya ditemukan di sekitar Barus.

Sejarawan di era kemerdekaan, Prof Muhammad Yamin memperkirakan perdagangan rempah-rempah diantara kamper sudah dilakukan pedagang Nusantara sejak 6000 tahun lalu ke berbagai penjuru dunia.

Seorang pengembara Yunani, Claudius Ptolomeus menyebutkan bahwa selain pedagang Yunani, pedagang Venesia, India, Arab, dan juga Tiongkok lalu lalang ke Barus untuk mendapatkan rempah-rempah.

Lalu pada arsip tua India, Kathasaritsagara, sekitar tahun 600 M, mencatat perjalanan seorang Brahmana mencari anaknya hingga ke Barus. Brahmana itu mengunjungi Keladvipa (pulau kelapa diduga Sumatera) dengan rute Ketaha (Kedah-Malaysia), menyusuri pantai Barat hingga ke Karpuradvipa (Barus).

ada lagi yang berpendapat:Melayu Deutero atau Melayu Muda adalah sebutan yang dulu dipakai untuk menunjuk populasi yang dikira datang pada "gelombang kedua" setelah "gelombang pertama" Melayu Proto. Populasi ini dikatakan datang pada Zaman Logam (kurang lebih 1500 SM). Suku bangsa di Indonesia yang dimasukkan dalam Melayu Muda adalah Aceh, Minangkabau, Jawa, Bali, Makassar, Bugis, Manado, dll.[rujukan?]

Wawasan ini tidak lagi dianggap. Para arkeolog sudah menyimpulkan bahwa tidak ada dasar arkeologis yang berarti yang menunjukkan adanya perbedaan antara Proto- dan Deutero-Melayu.[1]

Sumber : http://naulibasa-magz.com/index.php/web/news/index/5/1903532242

http://kanzunqalam.blogspot.com/2009_12_01_archive.html
11632/8 <663> < Tatik
lahir: Yogyakarta
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
Bobby menot.jpg
11673/8 <664+284> < Raden Mas Bobby Alexander Menot [Hb.6.17.5.2] (Bob)
lahir: Ranomuut, Manado
perkawinan: <363> < Etty Hansen
wafat: Brisbane, Australia
Tante wiez.png
11704/8 <664+284> < Raden Ayu Francina Louise Menot [Hb.6.17.5.5] (Wisa)
lahir: Ranomuut, Manado
perkawinan:
perkawinan: <364> < Eduard Kapel
wafat: Netherlands
Tente Zus.jpg
11715/8 <664+284> < Raden Ayu Marie Charlotte Menot [Hb.6.17.5.4] Menot (Zus)
lahir: Ronumuut, Manado
perkawinan: <365> < Olaf Nielsen
wafat: Denmark
11926/8 <687+?> < 5. RM. Yacub
lahir: Loji
12027/8 <685> < 3. RM. H. Ardimenggolo
gelar: Camat Tjiawi
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Sebagai Tjamat Tjiawi, pada saat kerusuhan Ciomas lihat : "Land Tjiomas", hal 61
13078/8 <767+768!> < 1. RNgt. Siti S.
lahir: 11 bersaudara
Ismil-3.jpeg
21869/8 <739> < 2. Raden Mas Ismail
penguburan: Bergota, Semarang
RMH. Moch Rana Manggala
118610/8 <684+234> < 1. RM. H. Moch. Rana Menggala (Cucu RM. Ngabehi Dipomenggolo)
lahir: 1866c, Empang, Kota Bogor
pekerjaan: 1916 - 1938, PENGHULU TJIAWI - BUITENZORG
wafat: 1938
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Silsilah Keturunan RMH. Moch Rana Manggala (Sumber: WA. R. UKE SUKMAWATI KARIM)

RANA1.jpg |

RANA2.jpg
120411/8 <686+?> < 1. Raden Mas H. Ibrahim \ Abdul Rochman Wiradimenggolo \ Raden Mas Wiradinegara
lahir: 1868c, Pasirkuda
wafat: 1917
Capek.jpeg
118712/8 <684+234> < 2. RM. H Abdul Ghani / Rm.h. Sarhun / Lurah Ihun
lahir: 1869c, Empang, Kota Bogor
perkawinan:
pekerjaan: 1906 ? 1923, LURAH LEBAK PASAR-BUITENZORG
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

orng:

Orang:629893|R.H. YASIN Orang:629895|R.H. ALI Orang:629896|R.H. ABDUL MANAN (Adung) Orang:629897|R.Hj. SUPIAH (Siti) Orang:629898|R.Hj. ENCUNG] Orang:629916|R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata) Orang:629917|R.MASDIR KURNAEN (Aeng) Orang:629918|R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF Orang:629920|R.MASDIR SUMANTRI (Ati) Orang:629934|R.MASDIR EMAN SULAEMAN

Abdul GHANI-2 : 1179717
Capek.jpeg
119313/8 <684+234> < 3. RM. H. Muhammad Hasyir
lahir: 1872c, Empang-Bogor
Capek.jpeg
119414/8 <684+234> < 4. RM. H. Harisun
lahir: 1875c, Empang-Bogor
120515/8 <686+?> < 2. Nyi RAy. Asmaya (Maya)
lahir: 1879c, Pasirkuda
127016/8 <699+287> < Raden Ajeng Kartini ? (Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat)
lahir: 21 April 1879, Jepara
perkawinan: <366> < Kanjeng Raden Mas Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
NMR: 12 November 1903
wafat: 17 September 1904, Rembang Regency
120617/8 <686+?> < 3. Nyi RAy. Enting Aisyah
lahir: 1880c, Pasirkuda
222418/8 <684+?> < 5. RAy. Titi Wasiah
lahir: 1880, Gg. Wahir-Empang
120719/8 <686+?> < 4. Nyi RAy. Siti Patimah / NR. Empok Patimah
lahir: 1881c, Pasirkuda
120820/8 <686+?> < 5. Nyi RAy. Antamirah
lahir: 1882c, Pasirkuda
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
120921/8 <686+?> < 6. RA. M. Suradhiningrat (Tjandraningrat)
lahir: 1882c, Pasirkuda
pekerjaan: 6 Mei 1916 - 29 Agustus 1925, Zelfstandig Patih Buitenzorg
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

RA. M. Suradhiningrat (Tjandraningrat) adalah putra RTA Suradimanggala (Bupati Bogor Tahun 1876-1884). Beliau juga Generasi ke 4 dari Pangeran Diponegoro melalui Ibunya RAy Gondomirah binti RM. Haryo Dipomenggolo bin RM. Djonet Dipomenggolo bin Pangeran Diponegoro.

Afdeeling Buitenzorg

Assistent-resident: K. Kool (4 Nov. 1924)
Commies, tevens buitengewoon ambtenaaar van den burgerlijken stand: J. Loen (11 Maart 1919), eerste; P.O. Panhuyzen (24 Aug. 1923), eerste; H.C. Barkmeijer (29 April 1922), eerste
Ondercommissaris van politie: C.J. Martens
Politieopzieners der 1e klasse: J. Trilk; G.J. Peeters (Tjibaroesa)
Patih: Raden Aria Mohamad Soeradhiningrat (6 Mei 1916)
Wedana van het district:
Buitenzorg: Raden Koesoemadinata (6 Juni 1924)
Tjiawi: Mas Joedo Atmodjo (26 Aug. 1921)
Paroeng: Mas Aliredja (29 Jan. 1923)
Leuwiliang: Raden Adikoesoemah (23 Juni 1921)
Djasinga: Mas Martodimedjo (1 Nov. 1920)
Tjibinong: Mas Soeminta Atmadja (8 Oct. 1923)
Tjibaroesa: Raden Soeriakoesoemo (1 Maart 1921)
Kapitein der Chineezen: Tan Hong Yoe (13 Aug. 1919)
Luitenant der Chineezen: Tan Hong Tay (8 April 1913) (v.)
Luitenant der Arabieren: Sech Achmad bin Said Badjenet (13 Oct. 1921)
222522/8 <684+?> < 6. RM. Ahmad (Natsir)
lahir: 1882
121023/8 <686+?> < 7. RM. Yahya Gondoningrat
lahir: 1883c, Pasirkuda
DIPUTUS SEMENTARA : RATNA KENCANA 635110
121124/8 <686+?> < 8. RM. Indris Tirtodiredjo
lahir: 1884c, Pasirkuda
Capek2.jpeg
121225/8 <686+?> < 9. Nyi RAy. Rajamirah \ RAy Mirah
lahir: 1885c
wafat: Pasirkuda
126226/8 <699> < Pangeran Adipati Ario Sosro Boesono / Pangeran Adipati Ario Sosrobusono
pekerjaan: 1905 - 1943, Ngawi, Bupati Ngawi
Bupati Ngawi
127927/8 <672> < Bendoro Raden Ayu Pintokopurnomo [Ga.Hb.9.1] [Hb.6.11.18.1] (Kanjeng Ratu Ayu Pintokopurnomo)
lahir: 22 November 1910
perkawinan: <1135!> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono IX [Hb.8.16] (Gusti Raden Mas Dorodjatun) b. 12 April 1912 d. 1 Oktober 1988, Yogyakarta
123428/8 <651+256> < w Bendoro Raden Mas Tinggartala/Tingharto [Hb.8.14] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabuningrat)
lahir: 8 Juni 1911, Yogyakarta
pekerjaan: Universitas Islam Indonesia, Rektor
wafat: 31 Agustus 1982, Yogyakarta
Hb-ix.jpg
113529/8 <651+677!> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono IX [Hb.8.16] (Gusti Raden Mas Dorodjatun)
lahir: 12 April 1912, Ngasem (Kediri), Indonesia
perkawinan: <367> < Kanjeng Ratu Ayu Ciptomurti [Ga.Hb.9.4] [Hb.7.74.2] d. 30 Maret 1980
gelar: 1915, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putera Narendra ing Mataram
perkawinan: <1279!> < Bendoro Raden Ayu Pintokopurnomo [Ga.Hb.9.1] [Hb.6.11.18.1] (Kanjeng Ratu Ayu Pintokopurnomo) b. 22 November 1910, Yogyakarta
gelar: 18 Maret 1940 - 1 Oktober 1988, Yogyakarta, Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat
perkawinan: <368> < Bendoro Raden Ayu Widyaningrum [Ga.Hb.9.2] ? (Kanjeng Ratu Ayu Widyaningrum / Raden Ayu Siti Kustina, Purwowinoto) b. 1928
pekerjaan: 17 Agustus 1945 - 1 Oktober 1988, Yogyakarta, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
perkawinan: <369> < Kanjeng Ratu Ayu Hastungkoro [Ga.Hb.9.3] [Hb.7.13.18.2] (Bendoro Raden Ajeng Kusyadinah) , Yogyakarta
pekerjaan: 4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949, Jakarta, Menteri Pertahanan Indonesia ke-5
pekerjaan: 6 September 1950 - 27 April 1951, Jakarta, Wakil Perdana Menteri Indonesia ke-5
pekerjaan: 3 April 1952 - 30 Juli 1953, Jakarta, Menteri Pertahanan Indonesia ke-5
pekerjaan: 25 Juli 1966 - 24 Maret 1973, Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia ke-1
pekerjaan: 24 Maret 1973 - 23 Maret 1978, Jakarta, Wakil Presiden Indonesia ke-2
perkawinan: <370> < Kanjeng Ratu Ayu Nindyakirono [Ga.Hb.9.5] ? (Nurma Musa) b. 3 Desember 1930 d. 3 September 2015
wafat: 1 Oktober 1988, Washington, DC, USA
penguburan: 8 Oktober 1988, Imogiri
gelar: 8 Juni 2003, Jakarta, Mendapatkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia
Sri Sultan Hamengkubuwana IX (Bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwono IX), lahir di Sompilan Ngasem, Yogyakarta, Indonesia, 12 April 1912 – meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun. Ia adalah salah seorang Sultan yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta (1940-1988) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973-1978. Ia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Biografi Lahir di Yogyakarta dengan nama G.R.M. Dorojatun pada 12 April 1912, Hamengkubuwana IX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Di umur 4 tahun Hamengkubuwana IX tinggal pisah dari keluarganya. Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau berkuliah di Rijkuniversiteit (sekarang Universiteit Leiden), Belanda ("Sultan Henkie").

Hamengkubuwana IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar "Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga". Ia merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat "Istimewa".

[1] Sebelum dinobatkan, Sultan yang berusia 28 tahun bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adams mengenai otonomi Yogyakarta. Di masa Jepang, Sultan melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan bersama Pakualam adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I.

Peran dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 [2] Peranan Sultan Hamengkubuwana IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh TNI masih tidak singkron dengan versi Soeharto. Menurut Sultan, beliaulah yang melihat semangat juang rakyat melemah dan menganjurkan serangan umum. Sedangkan menurut Pak Harto, beliau baru bertemu Sultan malah setelah penyerahan kedaulatan. Sultan menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak mendapat gaji semenjak Agresi Militer ke-2.

Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.

Beliau ikut menghadiri perayaan 50 tahun kekuasaan Ratu Wilhelmina di Amsterdam, Belanda pada tahun 1938

Minggu malam 2 Oktober 1988, ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia.

Sultan Hamengku Buwana IX tercatat sebagai Gubernur terlama yang menjabat di Indonesia antara 1945-1988 dan Raja Kesultanan Yogyakarta terlama antara 1940-1988.

Silsilah

Mata uang Indonesia yang bergambar Hamengkubuwana IXAnak kesembilan dari Sultan Hamengkubuwono VIII dan istri kelimanya RA Kustilah/KRA Adipati Anum Amangku Negara/Kanjeng Alit. Memiliki lima istri: 1.BRA Pintakapurnama/KRA Pintakapurnama tahun 1940 2.RA Siti Kustina/BRA Windyaningrum/KRA Widyaningrum/RAy Adipati Anum, putri Pangeran Mangkubumi, tahun 1943 3.Raden Gledegan Ranasaputra/KRA Astungkara, putri Raden Lurah Ranasaputra dan Sujira Sutiyati Ymi Salatun, tahun 1948 4.KRA Ciptamurti 5.Norma Musa/KRA Nindakirana, putri Handaru Widarna tahun 1976

Memiliki lima belas putra: 1.BRM Arjuna Darpita/KGPH Mangkubumi/KGPAA Mangkubumi/Sri Sultan Hamengkubuwono X dari KRA Widyaningrum 2.BRM Murtyanta/GBPH Adi Kusuma/KGPH Adi Kusuma dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan Dr. Sri Hardani 3.BRM Ibnu Prastawa/GBPH Adi Winata dari KRA Widyaningrum, menikah dengan Aryuni Utari 4.BRM Kaswara/GBPH Adi Surya dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan Andinidevi 5.BRM Arumanta/GBPH Prabu Kusuma dari KRA Astungkara, menikah dengan Kuswarini 6.BRM Sumyandana/GBPH Jaya Kusuma dari KRA Windyaningrum 7.BRM Kuslardiyanta dari KRA Astungkara, menikah dengan Jeng Yeni 8.BRM Anindita/GBPH Paku Ningrat dari KRA Ciptamurti, menikah dengan Nurita Afridiani 9.BRM Sulaksamana/GBPH Yudha Ningrat dari KRA Astungkara, menikah dengan Raden Roro Endang Hermaningrum 10.BRM Abirama/GBPH Chandra Ningrat dari KRA Astungkara, menikah dengan Hery Iswanti 11.BRM Prasasta/GBPH Chakradiningrat dari KRA Ciptamurti, menikah dengan Lakhsmi Indra Suharjana 12.BRM Arianta dari KRA Ciptamurti, menikah dengan Farida Indah. 13.BRM Sarsana dari KRA Ciptamurti 14.BRM Harkamaya dari KRA Ciptamurti 15.BRM Svatindra dari KRA Ciptamurti

Memiliki tujuh putri: 1.BRA Gusti Sri Murhanjati/GKR Anum dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan Kolonel Budi Permana/KPH Adibrata yang menjadi Gubernur Sulawesi Selatan 2.BRA Sri Murdiyatun/GBRAy Murda Kusuma dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan KRT Murda Kusuma 3.BRA Dr Sri Kuswarjanti/GBRAy Dr. Riya Kusuma dari KRA Widyaningrum, menikah dengan KRT Riya Kusuma 4.BRA Dr Sri Muryati/GBRAy Dr. Dharma Kusuma dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan KRT Dharma Kusuma 5.BRA Kuslardiyanta dari KRA Ciptomurti 6.BRA Sri Kusandanari dari KRA Astungkara 7.BRA Sri Kusuladewi/BRAy Padma Kusuma dari KRA Astungkara, menikah dengan KRT Padma Kusuma

Pendidikan Taman kanak-kanak atau Frobel School asuhan Juffrouw Willer di Bintaran Kidul Eerste Europese Lagere School (1925) Hogere Burger School (HBS, setingkat SMP dan SMU) di Semarang dan Bandung (1931) Rijkuniversiteit Leiden, jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia) kemudian ekonomi

Jabatan

Sultan Hamengkubuwana IX dalam masa Revolusi Nasional Indonesia sekitar akhir 1940-an.Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945) Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947) Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947 - 11 November 1947 dan 11 November 1947 - 28 Januari 1948) Menteri Negara pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949) Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949) Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 - 6 September 1950) Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 - 27 April 1951) Ketua Dewan Kurator Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1951) Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (1956) Ketua Sidang ke 4 ECAFE (Economic Commision for Asia and the Far East) dan Ketua Pertemuan Regional ke 11 Panitia Konsultatif Colombo Plan (1957) Ketua Federasi ASEAN Games (1958) Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5 Juli 1959) Ketua Delegasi Indonesia dalam pertemuan PBB tentang Perjalanan dan Pariwisata (1963) Menteri Koordinator Pembangunan (21 Februari 1966) Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 (Maret 1966) Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1968) Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia/KONI (1968) Ketua Delegasi Indonesia di Konferensi Pasific Area Travel Association (PATA) di California, Amerika Serikat (1968) Wakil Presiden Indonesia (25 Maret 1973 - 23 Maret 1978)

Pahlawan Nasional

Hamengkubuwana IX diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia tanggal 8 Juni 2003 oleh presiden Megawati Soekarnoputri
117230/8 <651+255> < Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryobrongto [Hb.8.23] (Bendoro Raden Mas Alposuatlamin)
lahir: 11 November 1914, Yogyakarta
perkawinan: <1168!> < Raden Ayu Anjaswati [Hb.6.17.3.3] (Raden Ayu Suryobrongto)
wafat: 13 Januari 1985
G.B.P.H. Suryobrongto. Putra Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, lahir tanggal 11 Nopember 1914 dan menamatkan pendidikan AMS jurusan Sastra Timur tahun 1936. Beliau belajar menari sejak kecil dan terus mendalami tari hingga dewasa. Dalam pagelaran-pagelaran wayang wong di Kraton beliau pernah berperan sebagai Pathut Guritno, Bathara Bromo, dan R. Gathotkoco, dalam Beksan Lawung bertindak sebagai lurah.

Secara khusus beliau berguru tari kepada G.P.H Tedjokusumo, K.R.T Condrodiningrat, RM. Dutodiprojo, K.R.T. Padmodiningrat, R.W. Hatmodijoyo dan KPH Brongtodiningrat. Beliau pernah menjabat sebagai sekretaris pribadi Sri Sultan Hamengku Buwana IX, aktif ikut serta mengembangkan tari klasik gaya Yogyakarta. Pada Tahun 1933-1944 menjadi guru tari klasik di Krida Beksa Wirama, menjadi guru tari di Kraton Yogyakarta ( 1944-1945) dan menjadi guru tari di Among Beksa Kraton Yogyakarta dan pernah mengajar Akademi Tari Indonesia Yogyakarta ( 1967-1969).

Suryobrongto secara khusus juga menekuni filsafat Joged Mataram. Karya-karya tulis di bidang tari antara lain : Tari Klasik Gaya Yogyakarta, Kaidah Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Selain memberi ceramah-ceramah mengenai tari klasik, ikut mengembangkan dan membuat ragam tari golek menak. Beliau ikut serta melawat ke luar negeri sebagai Art Director dari tim kesenian Siswo Among Bekso antara lain ke Eropa Barat ( 1971), Hongkong dan Jepang (1973) dan ikut serta menangani perlawatan rutin Siswo Among Bekso berpentas di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Dalam Pergelaran Langen Bekso Gagrag Ngayogyakarta tahun 1981, GBPH Suryobrongto bertindak selaku penasehat tari.
143531/8 <779> < R. Soemitro Djojohadikoesoemo
lahir: 29 Mei 1917, Kebumen
wafat: 9 Maret 2001, Jakarta
Kustihadi.jpg
117532/8 <669+?> < Raden Ayu Kustihadi [Hb.6.17.2.3]
lahir: 19 Januari 1919, Yogyakarta
perkawinan: <371> < Ki Hadisukatno / Ki Sukatno b. 26 Mei 1915 d. 12 November 1983, Yogyakarta, Bertempat di Ndalem Tejokusuman
wafat: 1 Oktober 1974, Yogyakarta, Dimakamkan di Taman Widyabrata, Yogyakarta
160533/8 <887> < Raden Ayu Surtiadiwati Suryomataram [Hb.6.9.14.1]
Sientje Menot.jpg
127734/8 <664+284> < Raden Ayu Sientje Menot [Hb.6.17.5.3]
lahir: 1922, Ranomuut, Manado
wafat: 7 Juni 1945, Ranomuut, Manado
222835/8 <779> < R. Soebianto Djojohadikoesoemo
lahir: 1923
wafat: 23 Januari 1946, Serpong, Tangerang Selatan
R.A. Soerachti Tjokroadisoerjo
122336/8 <698+?> < Raden Ayu Soerachti Tjokroadisoerjo
lahir: 1 Februari 1923, Solo, Jawa Tengah
perkawinan: <372> < Dr. Afloes
wafat: 4 November 2011, RS Abdi Waluyo, Jakarta
penguburan: 5 November 2011, Pemakaman Giritama, Tonjong
125637/8 <651+259> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sutyanti [Hb.8.29] (Gusti Bendoro Raden Ayu Puspoharsono Jayaningrat)
lahir: 3 Juni 1923
perkawinan: <373> < Raden Puspoharsono Jayaningrat
137438/8 <721+266> < Raden Mas Sudikno [Hb.6.20.21.1] (Raden Mas Mertokusumo)
lahir: 7 Desember 1924, Surabaya
R.A. Soenarni Tjokroadisoerjo
122439/8 <698+?> < Raden Ayu Soenarni Tjokroadisoerjo
lahir: 6 Januari 1925, Solo, Jawa Tengah
perkawinan: <374> < Soemardi Mangoenkoesoemo SH
116640/8 <664+284> < Raden Mas Robert Mauritz Menot [b.VI.17.5.6]
lahir: 23 Oktober 1927, Manado
perkawinan: <375> < Toeti Sjamsuddin b. 8 Agustus 1928 d. 16 Juli 2005, Jakarta, Immanuel Church
wafat: 20 Juni 2000, Jakarta
RM. Menot Junior, adalah putra bungsu dari RM. Menot (RM. Sujono). Pada masa penjajahan Jepang, keluarga RM. Menot (di Manado saat itu) meninggalkan rumah dan ikut bergerilya di hutan. RM. Menot Jr ini bertugas mencari makan dengan menyeberangi sungai guna menghindari tentara Jepang.

RM. Menot Jr, bekerja pada instansi pemerintah Duane (sekarang Bea dan Cukai). Beliau pernah ditugaskan di Biak, Papua pada tahun 1962-1963 saat penyerahakan Papua ke tangan Indonesia. Menurut rekan seangkatan yang hadir saat pemakaman beliau, penyerahan Papua dari Belanda kepada RI di Duane, diserahkan kepada RM. Menot. Bisa jadi beliau adalah Kepala Bea Cukai pertama di tanah Papua (Biak).

Tahun 1982 beliau pensiun dari Bea Cukai dengan kedudukan terakhir di kantor Pusat Bea Cukai Rawamangun. Setelah itu beliau masih diperbantukan di BKPM Jakarta selama 2 tahun berikutnya. Sampai dengan pensiun, mobil dinas yang dipakai tetap sama, Toyota Land Cruiser keluaran 1968. Jeep canvas istilahnya. Mobil ini tetap dipakainya sampai pensiun meski kepangkatan beliau cukup tinggi, tetapi mobilnya tidak mau diganti.

Jaman dulu, belum ada istilah gratifikasi. Setiap menjelang Natal dan Tahun Baru, parcel yang beliau terima (dikirim ke rumah), bisa memenuhi kamar seluar 3x2m. Semua disimpan di kamar itu dan tidak boleh dibuka sampai malam Natal. Setiap malam Natal dan malam Tahun Baru, banyak kolega dan saudara-saudara yang berkumpul di rumahnya di kawasan Tebet Timur. Namun, setelah beliau tidak lagi menjabat, boro-boro dateng, parcel saja tidak ada yang mampir.

Ada kisah yang disampaikan oleh supir beliau (pak Rahman), "Pernah suatu kali, Papi itu didatangi Cina di kantor. Kalau orang lain mah di kasih amplop, kalau Papi dikasih duit sekoper. Tapi tau gak, Cina itu diusir dan kopernya dibuang sama Papi ke luar kantor. Itu Papi kamu".

Ketika masih bekerja, anak-anaknya sering diajak berenang di kolam renang Bojanatirta, Rawamangun. Kolam renang yang berada di dalam lingkungan kompleks perumahan Karyawan BC (Bea dan Cukai) di Jakarta Timur. Memang hobby beliau itu olahraga. Main tennis rutin setiap minggu, tenis meja di rumah, dan terakhir yang tidak pernah lepas dari tangannya, solitaire. Ya, beliau adalah seorang pendiam, tidak banyak bicara. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk main kartu sendiri, sampai kemudian anak bungsunya rajin membelikan TTS (teka-teki silang) sepulang kuliah.

Meskipun terlahir dari bapak Jawa dan ibu Manado, sosialisasi kultural yang diterapkan pada keluarga lebih condong pada budaya Manado. Demikian pula dengan nama keluarga (fam) yang digunakan secara turun temurun, lebih mengikuti pola budaya Manado ketimbang Jawa. Oleh saudara-saudaranya dari Jogja, beliau biasa dipanggil Oom Robbi, sementara untuk ayahnya dipanggil Eyang Menot.

RM. Menot Jr meninggal di rumah sakit Mitra Jatinegara (saat ini namanya RS. Premiere Jatinegara) pada tahun 2000 dalam usia 72 tahun. Beliau memang perokok berat, bukan rokok lagi tapi cerutu. Beliau paling senang bila adik-adiknya dari Holland datang ke Jakarta, bukan cuma kangen, tapi cerutu Westmeister-nya. Jika tidak ada, maka cerutu Adipati-lah yang selalu nangkring dibibirnya.
R.A. Isbadi Tjokroadisoerjo
122241/8 <698+?> < Raden Ayu Isbadi Tjokroadisoerjo
lahir: 3 Desember 1927, Bogor, Jawa Barat
perkawinan: <376> < Letkol. H. Daan Jahja b. 5 Januari 1925 d. 20 Juni 1985
222942/8 <779> < R. Soejono Djojohadikoesoemo
lahir: 1928
wafat: 25 Januari 1946, Serpong, Tangerang Selatan
128243/8 <737+?> < 1. RA. Djamilah
perkawinan: <377> < S. Alaydrus
wafat: 1930, Geser-Seram-tdk punya keturunan
133844/8 <728+299> < Raden Mas Soerjodrijantoro/Suryodriyantoro [Hb.6.20.29.2] (Romo Suryo)
lahir: 1930
wafat: 1992, Kuncen
226645/8 <1131+?> < R. Ngt. Dalinah Brotoatmodjo
lahir: 31 Desember 1931, Yogyakarta
wafat: 25 Maret 2016, Yogyakarta
Masa kecil tinggal di Ngadisuryan Yogyakarta, setelah menikah tinggal di Jl Pakuningratan Yk, kemudian pindah ke Jatimulyo Yk, dan ketika meninggal dimakamkan di makam Utaralaya, Tegalrejo, Yogyakarta
117946/8 <668> < Raden Ayu Hardiyah [Hb.6.17.3.6]
lahir: 5 Juni 1932, Yogyakarta
wafat: 3 Februari 2024, Yogyakarta
137647/8 <721+266> < Raden Mas Soekemi Mertokoesoemo [Hb.6.20.21.3]
lahir: 22 November 1932, Yogyakarta
lahir: 27 Februari 1993, Surabaya
Mocham.jpg
114648/8 <655> < R. Riyo Murtiwandowo
lahir: Februari 1933, Yogyakarta
perkawinan: <378> < Ibu Murtiwandowo b. 1932
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
Oetarti notodirdjo.jpg
157749/8 <666+679!> < Raden Ayu Oetarti Notodirdjo [Hb.6.17.4.6]
lahir: 10 Juli 1933, Semarang
perkawinan: <379> < Edhi Soejitno b. 21 Desember 1929
wafat: 27 Agustus 2008, Semarang, Disarekan Pasarean Kuncen Yogyakarta
222750/8 <1061+356> < Poernomo Soerjohoedojo
lahir: 11 Desember 1933, Surakarta
perkawinan: <380> < Sri Oetari b. 4 Maret 1934
Anak sulung dari 7 bersaudara. Setelah lulus SMAN B1 Jogjakarta (1953), Poernomo Soerjohoedojo melanjutkan pendidikan ke Fak. Kedokteran Univ. Airlangga, lulus pada tahun 1962, dan mendapat brevet spesialia biokimia kedpkteran (SpBK) pada tahun 1970. Sebagai dosen Biokomia FK Unair, dr. Poernomo mendapat tugas belajar mengikuti pendidikan (non-gelar) bidang kimia klinik di Universitas Tennessee, Memphis, Amerika Serikat (1963-1964).

Karir PNS dr. Poernomo dimulai dengan pengangkatan sebagai asisten dosen golongan E2/1 di Bag. Anatomi tahun 1957, selulus sarjana kedokteran. Setelah pindah ke Bag. Biokimia, Prof. Poernomo akhirnya menjabat sebagai Kepala Departemen Biokimia pada tahun 1971. Dr. Poernomo pernah menduduki jabatan struktural sebagai Pembantu Dekan I (bidang akademik) FK Unair antara tahun 1976-1985 dan Pembantu Rektor I (bidang akademik) FK Unair tahun 1985-1989.

Pada tanggal 1 Oktober 1982, dr. Poernomo diangkat sebagai guru besar biokimia pada tanggal 1 Oktober 1982. Pada tanggal 1 Januari 2004, ia diberhentikan dengan hormat dengan hak pensiun. Meskipun demikian, ia masih mengajar di Prodi Magister (S2), Doktor (S3), dan spesialis (PPDS) yang diselenggarakan oleh FK Unair hingga sekarang.
137751/8 <721+266> < Raden Ayu Sriwidayati [Hb.6.20.21.4]
lahir: 17 Oktober 1935, Yogyakarta
Rustamhaji.jpg
114152/8 <654> < R. Rustamhaji
lahir: 1938, Yogyakarta
perkawinan: <381> < Indrajati b. Juni 1940
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
127253/8 <652+276> < w Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam IX / Bendoro Raden Mas Haryo Ambarkusumo
lahir: 7 Mei 1938, Yogyakarta
perkawinan: <382> < Koesoemarini / Kanjeng Bendoro Raden Ayu Paku Alam IX d. 20 Desember 2011
gelar: 26 Mei 1999 - 21 November 2015, Yogyakarta
wafat: 21 November 2015, Yogyakarta
114254/8 <654> < R. Ngt. Djunainah
lahir: Desember 1938
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
137855/8 <721+266> < Raden Mas Soeseto Mertokoesoemo [Hb.6.20.21.5]
lahir: 6 Juli 1939, Yogyakarta
114356/8 <654> < R. Jawadi
lahir: Desember 1940
perkawinan: Murtiningsih
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
Askandar.jpg
114757/8 <655> < R. Askandar
lahir: 1942, Yogyakarta
perkawinan: <383> < Alm. Sumiyati b. Desember 1945, <384> < Murtini b. April 1960
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham) Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
114458/8 <654> < R. Burhanudin
lahir: November 1942, Yogyakarta
perkawinan: <385> < Mardiyah b. Mei 1957
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
114859/8 <655> < R.Ngt.Isti Alfiah
lahir: Juli 1943, Yogyakarta
perkawinan: <386> < Alm. Nurhaji, Dhs
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
157660/8 <666+679!> < Raden Mas Oetomo Notodirdjo [Hb.6.17.4.7]
wafat: 19 Desember 1943, Yogyakarta, Disarekan Pasarean Kuncen Yogyakarta
128761/8 <737+?> < 6. dr. RM. Achmad (Pontianak)
wafat: 1944, Pontianak
217162/8 <652+277> < w Kanjeng Pangeran Hario Anglingkusumo / Kanjeng Angling 216363/8 <1054+269> < w Guntur Soekarnoputra
lahir: 3 November 1944
perkawinan: <388> < Henny Emilia Hendayani
134864/8 <728+299> < Raden Mas Roostamhadi [Hb.6.20.29.12] (Romo Chunk)
lahir: 1947, Yogyakarta
Megawati Sukarnoputri.jpg
216465/8 <1054+269> < Megawati Soekarnoputri
lahir: 23 Januari 1947, Yogyakarta
perkawinan: <389> < w Muhammad Taufiq Kiemas b. 31 Desember 1942 d. 8 Juni 2013
perkawinan: <390> < w Surindro Supjarso d. 22 Januari 1971
228866/8 <1134> < Raden Adib Siswanto [Hb.3.2.8.14.1.6.1]
lahir: 1948
Raden Mas Utoyo Notodirjo.jpg
158167/8 <666+679!> < Raden Mas Oetojo Notodirdjo [Hb.6.17.4.2]
wafat: 24 Februari 1949, Yogyakarta, Disarekan Di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Yogyakarta
RM Oetojo Notodirjo memilih hidupnya masuk dalam dunia militer pasca kemerdekaan Negara indonesia. Mendaftar melalui Taruna Militiare Academie Yogyakarta atau dikenal dengan Akademi Militer Yogyakarta sebagai Angkatan Pertama, Tempat akademi militer terletak di Kodya Yogyakarta tepatnya di kecamatan Gondokusuman kelurahan Kotabaru. Secara geografis Kotabaru berbatasan dengan Kali Code dan Jogoyudan bagian sebalah barat, sebelah selatan berbatasan dengan daerah Lempuyangan Kecamatan Danurejan. Sewaktu taruna sangat cerdas dan berbakat, dibuktikan menjadi Ketua senat taruna (senator Prases) dalam AM Yogyakarta angkatan I sebagai pimpinan dari korp taruna. Senat taruna tidak hanya mengurusi organisasi intern di akademi saja, tetapi juga melakukan hubungan dengan akademi militer, atau organisasi kelaskaran lain [1] - Makalah PEMBENTUKAN AKADEMI MILITER YOGYAKARTA 1945-1950 oleh Kuswono. RM Oetojo Notodirdjo juga menjadi lulusan terbaik angkatan pertama Akademi Militer Yogyakarta, yang nantinya pula menjadi pengasuh yang mendampingi para cadet

Saat Agresi Militer II, tepatnya pada tanggal 24 februari 1949 meletuslah pertempuran sengit di dekat desa plataran, yang mengakibatkan banyak cadet dan pejuang gugur, diantaranya yang gugur adalah Letda Thobias Pasuat Kandou, Vaandrig Cadet Anto Soegijarto, Vaandrig Cadet Abdoel Djalil, Vaandrig Cadet Sarsanto, Letda R.M. Oetojo Notodirdjo, dan Letda Koesnodanoedjo, Letda R. Sukoco, Vaandrig Cadet Husen, Vaandrig Cadet Sumartal, Vaandrig Cadet Susanto, Vaandrig Cadet Suharsono dan Vaandrig Cadet Subiyakto [2] [3].

RM Oetojo Notodirdjo selaku pimpinan, menunjukan ketauladanannya dengan mengambil alih sepucuk Bren dari seorang kadet yang luka parah, ia berusaha menahan gerak maju tentara Belanda dan melindungi para kadet yang sedang mundur, sampai akhirnya ia sendiri gugur. Nama almarhum diabadikan sebagai nama Lapangan Halang Rintang R.M. Oetojo Notodirdjo di AKMIL Magelang.
Rachmawati-Soekarnoputri.jpg
216568/8 <1054+269> < Rahmawati Soekarnoputri
lahir: 27 September 1950, Jakarta
perkawinan: <391> < Benny Sumarno
perkawinan: <392> < w Dicky Suprapto b. 27 September 1941 d. 3 April 2006
Diah Pramana Rachmawati Soekarno (lahir di Jakarta, 27 September 1950; umur 65 tahun) adalah politisi Partai Gerakan Indonesia Raya, Ketua Yayasan Pendidikan Bung Karno. Ia adalah putri dari presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno. Ia Pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno, dan merupakan salah satu ketua pembina Universitas Bung Karno.
114569/8 <654> < R. Muhammad Kirdiyat
lahir: Januari 1951, Yogyakarta
perkawinan: <393> < Rumiyati b. Oktober 1955
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
116970/8 <664+284> < Raden Ayu Adelheid Eva Sophia Menot [Hb.6.17.5.1]
lahir: Ranomuut, Manado
perkawinan: <394> < Willem Aurelius Lucas Mokalu
wafat: 3 Agustus 1951
Sukmawati.jpg
216271/8 <1054+269> < Raden Ayu Sukmawati Soekarnoputri
lahir: 26 Oktober 1951, Jakarta
perkawinan: <395> < Muhammad Hilmi d. 29 Oktober 2018
perkawinan: <396> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX / Gusti Pangeran Haryo Sujiwokusuma b. 18 Agustus 1951 d. 13 Agustus 2021
Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri (lahir di Jakarta, 26 Oktober 1951; umur 64 tahun) adalah Ketua Umum Partai PNI Marhaenisme. Ia merupakan adik dari Megawati Soekarnoputri dan merupakan bagian dari keluarga Soekarno.
216672/8 <1054+269> < Guruh Soekarnoputra
lahir: 13 Januari 1953, Jakarta
perkawinan: <397> < Gusyenova Sabina Padmavati
Guruh Soekarnoputra (lahir di Jakarta, 13 Januari 1953; umur 63 tahun) adalah anak bungsu dari pasangan presiden pertama RI, Soekarno dan Fatmawati serta adik kandung dari Megawati Soekarnoputri.[1]

Sejak kecil, Guruh telah terlatih sebagai penari yang terampil di samping mengasah bakatnya di dunia musik, Ia mendirikan grup kesenian Indonesia yang bernama GSP Production (Gencar Semarak Perkasa) dan juga sebelumnya Swara Mahardhika[2]. Selain itu ia juga pernah mendirikan grup musik Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye[3][4].

Guruh Soekarnoputra menikah dengan Gusyenova Sabina Padmavati yang berasal dari Uzbekistan[5]. Sebagai bagian dari keluarga besar Bung Karno, Guruh Soekarnoputra juga aktif dalam dunia politik Indonesia dan tercatat sebagai anggota DPR dari PDIP[6].
229473/8 <1134> < Raden Roro Amin Solihah [Hb.3.2.8.14.1.6.7]
lahir: 25 Desember 1955
192774/8 <957+1926!> < Raden Ajeng Andini Dewi [Hb.7.68.15] (Bendoro Raden Ayu Hadisuryo)
lahir: 28 Oktober 1956, Yogyakarta
perkawinan: <398> < Bendoro Raden Mas Kasworo [Hb.9.8] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Hadisuryo) b. 19 Februari 1951
228775/8 <1134+?> < Raden Roro Asri Budiati [Hb.3.2.8.14.1.6.9]
lahir: 23 Maret 1961, Magelang
128376/8 <737+?> < 2. RA. Chadidjah
wafat: 1962, Ambon
128977/8 <737+?> < 8. RA. Moenah
wafat: 1962, tidak punya keturunan
229678/8 <1134> < Raden Roro Alfiah Nuraini [Hb.3.2.8.14.1.6.10]
lahir: 21 Agustus 1962, Magelang
217079/8 <1054+271> < Totok Suryawan Soekarno
lahir: 1967
Kartika soekarno.jpg
216980/8 <1054+272> < Kartika Sari Dewi Soekarno
lahir: 11 Maret 1967, Tokyo
perkawinan: <399> < Frits Frederik Seegers
Karina Kartika Sari Dewi Soekarno (lahir di Tokyo, Jepang, 11 Maret 1967; umur 49 tahun) adalah putri dari pasangan mantan Presiden Indonesia pertama, Soekarno dan istrinya Ratna Sari Dewi Soekarno. Kartika dibesarkan di Paris, lalu bekerja sebagai wartawan televisi di Tokyo dan kemudian di biro periklanan di New York. Setelah itu, dia sempat bekerja di sebuah yayasan di Amerika Serikat sebelum mendirikan KSF (Kartika Soekarno Foundation) yang bertujuan untuk mengembankan pendidikan anak-anak di Indonesia. Ia menikah dengan Presiden Citibank Eropa, Frits Frederik Seegers yang berasal dari Belanda pada 2 Desember 2005[1].
128681/8 <737+?> < 5. RA. Rachmah (Medan)
wafat: 1973, Medan
128482/8 <737+?> < 3. RA. Djahrah (Surabaya)
wafat: 1976, Surabaya
128583/8 <737+?> < 4. RA. Aisjah (Ambon)
perkawinan: <400> < RM. Mochamad Diponegoro
wafat: 1981, Ambon
158084/8 <666+679!> < Raden Mas Usodo Notodirdjo [Hb.6.17.4.3]
perkawinan: <1583!> < Raden Ayu Atasti [Hb.6.18.4.10]
pekerjaan: 13 April 1981, Norway, Ambassador of Indonesia to Norway
128885/8 <737+?> < 7. RA. Kajatin (Djogja)
pekerjaan: 1986, Yogya
158286/8 <666+679!> < Raden Ayu Utari Notodirjo [Hb.6.17.4.1]
perkawinan: <401> < H.r. Suparto
wafat: 7 Oktober 2016, Jakarta, Burried in Pasarean Karangturi Yogyakarta
129587/8 <753+1605!> < Raden Ayu Japroet Saronto [Hb.7.55.3]
perkawinan: <402> < Saronto
wafat: 29 Juni 2019, Jakarta
penguburan: Yogyakarta
193388/8 <957+1926!> < Raden Mas Sutarsin [Hb.7.68.9]
wafat: 19 Desember 2019, Yogyakarta, Pemakaman Kuncen
218489/8 <652+276> < Bendoro Raden Ayu Retno Widanarni
perkawinan: <403> < Hersapandi
wafat: 18 Juni 2021, Yogyakarta
218390/8 <652+276> < Kanjeng Pangeran Haryo Tjondrokusumo
wafat: 9 Maret 2023, Kulonprogo, Hastana Giriganda
113791/8 <653> < R. Ngt. Janah
Official From Hilal Achmar.
113892/8 <653> < Rd. Ngt. Hidayah
Official From Hilal Achmar.
113993/8 <653> < Hj. R.Ngt.Muslimah
Official From Hilal Achmar.
114094/8 <653> < R.Sukamto
Official From Hilal Achmar. Semenjak usia muda, R Sukamto telah meninggalkan Yogyakarta. Sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Kabarnya beliau pergi merantau ke pulau Sumatra.
114995/8 <656> < R. Hardi Ruswanto
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Ir. H. Hilal Achmar (Hamengku Buwono, b. 19 Mei). Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
115096/8 <656> < R. Hani Sarsana
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Ir. H. Hilal Achmar (Hamengku Buwono, b. 19 Mei). Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
115197/8 <662> < R.Ngt.Latifah
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Ir. H. Hilal Achmar (Hamengku Buwono, b. 19 Mei). Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
115298/8 <661> < R. Asip
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Ir. H. Hilal Achmar (Hamengku Buwono, b. 19 Mei). Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
115399/8 <661> < R. Juwahir
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Ir. H. Hilal Achmar (Hamengku Buwono, b. 19 Mei). Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1154100/8 <661> < R. Bahid
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Ir. H. Hilal Achmar (Hamengku Buwono, b. 19 Mei). Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1155101/8 <657> < R.Ngt.Munisah
1156102/8 <657> < R.Ngt.Jazimah
1157103/8 <663> < R. Sunardi
Hilal Achmar Link
R. Oetaryo.jpg
1158104/8 <663> < R. Utaryo
Official From Hilal Achmar.
R. Kartono.jpg
1159105/8 <663> < R. Kartono
Official From Hilal Achmar.
1160106/8 <663> < R. Gushadi
Official From Hilal Achmar.
Hj. Kartini.jpg
1161107/8 <663> < R. Kartini
Official From Hilal Achmar.
Ketty.jpg
1162108/8 <663> < Ketty
Official From Hilal Achmar.
1164109/8 <663> < R. Gustanto
Official From Hilal Achmar.
1165110/8 <663> < R. Harsono
Official From Hilal Achmar.
1168111/8 <668> < Raden Ayu Anjaswati [Hb.6.17.3.3] (Raden Ayu Suryobrongto) 1173112/8 <669+678!> < Raden Mas Ristidjo [Hb.6.17.2.1]
1174113/8 <669+678!> < Raden Ayu Sutihadinah [Hb.6.17.2.2] 1176114/8 <669+?> < Raden Mas Koestidjo [Hb.6.17.2.4] 1178116/8 <668> < Raden Mas Suparto [Hb.6.17.3.4] 1180117/8 <668> < Raden Mas Sugeng Sudarto / Kanjeng Raden Tumenggung Dutodiprojo [Hb.6.17.3.7] (Raden Bagus Sugeng Sudarto)
perkawinan: <415> < S. Murkatri d. 16 Desember 2017
1181118/8 <668> < Raden Mas Suharto Hendromardowo [Hb.6.17.3.2] 1182119/8 <668> < Raden Mas Sutarto Hadiyuwono [Hb.6.17.3.1] 1183120/8 <667+286> < Raden Ayu Kusri Sulastri Sunaryo [Hb.6.17.6.3] 1184121/8 <667+286> < Raden Ayu Kustiati [Hb.6.17.6.2]
1185122/8 <667+286> < Raden Ayu Kustinah [Hb.6.17.6.1] 1188123/8 <687+?> < 1. RM. H. Ardja
1189124/8 <687+?> < 2. RM. H. Suminta (Malik)
1190125/8 <687+?> < 3. RAy. Patimah
Capek2.jpeg
1191126/8 <687+?> < 4. RAy. Fatmah
1195127/8 <688> < RM. Asminin
1196128/8 <688> < RM. Mali
1197129/8 <688> < RM. Minau
1198130/8 <688> < RM. Iking
1199131/8 <688> < NYI MAS RAy. UMI
1200132/8 <685> < 1. RM. H. Wongsomenggolo
1201133/8 <685> < 2. RM. H. Soeromenggolo
1203134/8 <685> < 4. RAy. Unan
1213135/8 <687+?> < 6. RAy. Siti Mariyam (loji)
1214136/8 <693> < RM. H. Sintomenggolo
1215137/8 <694> < RM. H. Sadiri Gondomenggolo
1216138/8 <695> < RM. Sumawijaya
1217139/8 <695> < NYI RAy. Danang
1218140/8 <695> < RAy. Anok
1219141/8 <695> < NYI RAy. Engko
1220142/8 <695> < NYI RAy. Toyo (ibu Bandung)
1221143/8 <697> < RM. Haryodipo Hadikusumo / P. Gringsing III
R.M. Soenarto (Loengki)
1225144/8 <698+?> < Raden Mas Soenarto Tjokroadisoerjo
1226145/8 <691> < R.Ay. Sukiamah
1227146/8 <651+256> < Bendoro Raden Mas Rasisulngaskari [Hb.8.22] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Bintoro) 1228147/8 <651+256> < Bendoro Raden Mas Mustari [Hb.8.5]
1230149/8 <651+257> < Bendoro Raden Mas Sungangusamsi [Hb.8.8] (Bendoro Pangeran Haryo Puruboyo) 1232151/8 <651+255> < Bendoro Raden Mas Sudiarso [Hb.8.10]
1233152/8 <651+255> < Bendoro Raden Mas Kartolo [Hb.8.13] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Mangkudiningrat) 1235153/8 <651+255> < Bendoro Raden Mas Duryatnanu [Hb.8.20]
1236154/8 <651+1278!> < Bendoro Raden Mas Mahikyaun [Hb.8.21] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryowijoyo)
1237155/8 <651+677!> < Bendoro Raden Mas Makanulmunojati [Hb.8.27] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Pujokusumo)
1238156/8 <651+259> < Bendoro Raden Mas Pelukuluki [Hb.8.28] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryoputro)
1239157/8 <651> < Bendoro Raden Mas Muposolukatini [Hb.8.25]
1240158/8 <651+1410!> < Bendoro Raden Mas Sahadatsatir [Hb.8.32]
1241159/8 <651+259> < Bendoro Raden Mas Hening [Hb.8.33] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Yudonegoro)
1242160/8 <651> < Bendoro Raden Mas Bonokamsi [Hb.8.34] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Dipoyono)
1243161/8 <651+259> < Bendoro Raden Mas Satriyo [Hb.8.36] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Benowo [Hb.7.7.1.1]) 1244162/8 <651+259> < Bendoro Raden Mas Danangjoyo [Hb.8.40]
1245163/8 <651+1410!> < Bendoro Raden Mas Robin Haryani [Hb.8.41] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Puger) 1246164/8 <651+255> < Bendoro Raden Ajeng Gusti Siti Sudarmiyah [Hb.8.1] (Gusti Kanjeng Ratu Pembayun) 1247165/8 <651+255> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sayadi [Hb.8.3] (Gusti Bendoro Raden Ayu Sindurejo) 1248166/8 <651+256> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sadari [Hb.8.4] (Gusti Bendoro Raden Ayu Purbowinoto) 1249167/8 <651+255> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kadarmi [Hb.8.6] (Gusti Bendoro Raden Ayu Jayaningrat) 1250168/8 <651+257> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kajananywo [Hb.8.11] (Gusti Bendoro Raden Ayu Joyowinoto) 1251169/8 <651+257> < Bendoro Raden Ajeng Siti Nurywadinah [Hb.8.15] (Gusti Bendoro Raden Ayu Condrodiningrat) 1252170/8 <651+255> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kuswanayi 1253171/8 <651+257> < Bendor Raden Ajeng Siti Sriwayati [Hb.8.18] (Gusti Bendoro Raden Ayu Purboseputro) 1254172/8 <651+256> < Bendoro Raden Ajeng Siti Swandari [Hb.8.19] (Bendoro Raden Ayu Purwodiningrat) 1255173/8 <651+256> < Bendoro Raden Ajeng Siti Hilalulngasarati [Hb.8.24] (Gusti Bendoro Raden Ayu Kusumodiningrat) 1257174/8 <651+259> < Bendoro Raden Ajeng Siti Pandansari [Hb.8.31] (Gusti Bendoro Raden Ayu Sumarman) 1258175/8 <651+1410!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Mutosangilun [Hb.8.12]
1259176/8 <651+1410!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Prayuti [Hb,8.37]
1260177/8 <651+259> < Bendoro Raden Ajeng Siti Widyastuti [Hb.8.38] (Bendoro Raden Ayu Suwarno Handayaningrat) 1261178/8 <651+1410!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sutarmin [Hb.8.39]
1263179/8 <699+?> < Raden Ayu Sulastri
1264180/8 <699+?> < Raden Ayu Rukmini
1265181/8 <699+?> < Raden Ayu Kardinah
Ist RMAA Reksonegoro, Bupati Tegal
1266182/8 <699+?> < Raden Ayu Kartinah
1267183/8 <699+?> < Raden Mas Panji Muljono
1268184/8 <699+?> < Raden Ayu Sumantri
1269185/8 <699+?> < Raden Mas Panjiruwito
1271186/8 <699+288> < Raden Mas Sosrokartono
1273187/8 <701> < Raden Ayu Saelah [Hb.6.20.1.1] (Raden Ayu Prawirodiharjo)
1274188/8 <701> < Raden Ayu Sayatijah [Hb.6.20.1.2] (Raden Ayu Kusumobroto)
1275189/8 <701> < Raden Mas Untung [Hb.6.20.1.3] (Raden Lurah Yudowinoto)
1276190/8 <701> < Raden Mas Sabar [Hb.6.20.1.4] (Raden Bagus Joyoprayitno)
1278191/8 <871+873!> < Bendoro Raden Ayu Rukmidiningdia [Ga.Hb.8.4] [Hb.6.9.3.1] (Bendoro Raden Ayu Rukhihadiningdyah) 1280192/8 <758+304> < Raden Lurah Ronoseputro [Hb.7.13.18] (Raden Gledegan Ronoseputro) 1281193/8 <731> < RM. Kartotnadi Diponegoro
1290194/8 <741> < 4. H. RM. Abdullah Diponegoro
1291195/8 <741> < 1. RA. Samsirin
1292196/8 <753+1605!> < Raden Mas Mesyas F. Pannie [Hb.6.9.14.1.1]
1293197/8 <753+1605!> < Raden Mas Jegot [Hb.7.55.1]
1294198/8 <753+1605!> < Raden Mas Grangsang S. [Hb.7.55.2]
1296199/8 <753+1605!> < Raden Ayu Dloereg Poernomosidi Hadjisaroso [Hb.7.55.4] 1297200/8 <753+1605!> < Raden Ayu Jcm. Gresah [Hb.7.55.5] (Raden Ayu Harjokusumo) 1298201/8 <753+1605!> < Raden Ayu Semplah [Hb.7.55.6]
1299202/8 <682+237> < Bendoro Pangeran Haryo Pakuningrat
1300203/8 <682+237> < Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat ? (Hamengku Buwono VII)
1301204/8 <682+237> < Bendoro Raden Ayu Atmo Condrokusumo / Bendoro Raden Ajeng Siti Putria
1302205/8 <682+237> < Bendoro Raden Ayu Atmo Condroseputro / Bendoro Raden Ajeng Siti Surat Kabirun
1303206/8 <765> < Raden Soekarna Djajahadisena
1304207/8 <746> < 1. RM Iskandar Johan Diponegoro
1305208/8 <746> < 2. RM. Achmad Djohan Diponegoro
1306209/8 <739> < 1. Raden Mas Slamet Diponegoro
1308210/8 <769+770!> < Raden Tommy
1309211/8 <774+?> < 1. R. Kyai Rahmat
1310212/8 <774+?> < 2. Nyi RNgt. Muh Mustofa
Tapak.jpeg
1311213/8 <774+?> < 3. R. Kyai Busyro Syuhada / Ibrahim
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


SEJARAH SINGKAT PERGURUAN SILAT TAPAK SUCI

Di Banjarnegara, Jawa Tengah, Kiyai Haji (K.H.) Syuhada pada tahun 1872 memiliki seorang putera yang diberi nama Ibrahim. Sejak kecil ia menerima ilmu pencak dari ayahnya. Ibrahim tumbuh menjadi Pendekar yang menguasai pencak ragawi dan batin / inti tetapi sekaligus Ulama yang menguasai banyak ilmu, kemudian berganti nama menjadi K.H. Busyro Syuhada.

Pada awalnya K.H.Busyro Syuhada mempunyai 3 murid, yaitu : •Achyat ( adik misan ), yang kemudian dikenal dengan K.H. Burhan •M.Yasin ( adik kandung ), yang dikenal dengan K.H. Abu Amar Syuhada •Soedirman, yang dikemudian hari mencapai pangkat Jenderal dan pendiri Tentara Nasional Indonesia, bahkan bergelar Panglima Besar Soedirman.

Pada tahun 1921 di Yogyakarta, bertemulah K.H. Busyro Syuhada dengan kakak beradik Ahmad Dimyati dan Muhammad Wahib. Dalam kesempatan itu mereka adu ilmu pencak antara M. Wahib dan M. Burhan. Kemudian A. Dirnyati dan M. Wahib dengan pengakuan yang tulus mengangkat K.H. Busyro Syuhada sebagai guru dan mewarisi ilmu pencak dari K.H. Busyro Syuhada yang kemudian menetap di Kauman. Menelusuri jejak gurunya, Ahmad Dimyati mengembara ke barat sedang M. Wahib mengembara ketimur sampai ke Madura untuk menjalani adu kaweruh ( uji ilmu ). Pewaris ilmu banjaran, mewarisi juga sifat-sifat gurunya M. Wahib sebagaimana K.H. Busyro Syuhada, bersifat keras, tidak kenal kompromi, suka adu kaweruh. Untuk itu sangat menonjol nama M. Wahib dari pada A. Dimyati. Sedang A. Dimyati yang banyak dikatakan ilmunya lebih tangguh dari pada adiknya M. Wahib tetapi karena pendiam dan tertutup maka tidak banyak kejadian-kejadian yang dialami. Sebagaimana M. Burhan yang mempunyai sifat dan pembawaan sama dengan A. Dimyati.

K. H. Busyro Syuhada pernah menjadi guru pencak untuk kalangan bangsawan dan keluarga Kraton Yogyakarta. Salah satu diantara muridnya adalah R.M. Harimurti, seorang pangeran kraton, yang dikemudian hari beberapa muridnya mendirikan perguruan–perguruan pencak silat yang beraliran Harimurti.

Kauman, Seranoman dan Kasegu

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada memberi wewenang kepada pendekar binaannya, A. Dimyati dan M. Wahib untuk membuka perguruan dan menerima murid. Perguruan baru yang didirikan pada tahun 1925 itu diberi nama Perguruan "Kauman", yang beraliranBanjaran.

Perguruan Kauman mempunyai peraturan bahwa murid yang telah selesai menjalani pendidkan dan mampu mengembangkan ilmu pencak silat diberikan kuasa untuk menerima murid.

M. Syamsuddin yang menjadi murid kepercayaan Pendekar Besar M..Wahib diangkat sebagai pembantu utama; dan dizinkan menerima murid. Kemudian mendirikan perguruan ”Seranoman". Perguruan Kauman menetapkan menerima siswa baru, setelah siswa tadi lulus menjadi murid di Seranoman. Perguruan Seranoman melahirkan pendekar muda Moh. Zahid, yang juga lulus menjalani pendidikan di perguruan Kauman. Moh. Zahid yang menjadi murid angkatan ketiga (3) bahkan berhasil pula mengembangkan pencak silat yang berintikan kecepatan; kegesitan, dan ketajaman gerak. Tetapi murid ketiga ini pada tahun 1948, wafat pada usia yang masih sangat muda. Tidak sempat mendirikan perguruan baru tetapi berhasil melahirkan murid, Moh. Barie lrsjad.

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada berpulang ke Rahmatullah pada bulan Ramadhan 1942. Pendekar Besar KH Busyro Syuhada bahkan tidak sempat menyaksikan datangnya perwira Jepang, Makino, pada tahun 1943 yang mengadu ilmu beladirinya dengan pencak silat andalannya. Makino mengakui kekurangannya dan menyatakan menjadi murid Perguruan Kauman sekaligus menyatakan masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Omar Makino. Pada tahun 1948 Pendekar Besar KH Burhan gugur bersama dengan 20 muridnya dalam pertempuran dengan tentara Belanda di barat kota Yogyakarta. Kehilangan besar pesilatnya menjadikan perguruan Kauman untuk beberapa sa’at berhenti kegiatannya dan tidak menampakkan akan muncul lagi Pendekar. Moh. Barie lrsjad sebagai murid angkatan keenam (6) yang dinyatakan lulus dari tempaan ujian Pendekar M. Zahid, M. Syamsuddin, M. Wahib dan A. Dimyati kemudian dalam perkembangan berikutnya mendirikan perguruan "Kasegu"

Kalau perguruan-perguruan sebelumnya diberi nama sesuai dengan tempatnya. Perguruan Kasegu diberikan nama sesuai dengan senjata yang diciptakan oleh Pendekar Moh. Barie Irsjad.

Lahirnya Tapak Suci

Moh. Barie lrsjad akhirnya mengeluarkan gagasan agar semua aliran Banjaran yang sudah berkembang dan terpecah-pecah dalam berbagai perguruan, disatukan kembali ke wadah tunggal.

Pendekar Besar M. Wahib merestui berdirinya satu Perguruan yang menyatukan seluruh perguruan di Kauman. Restu diberikan dengan pengertian Perguruan nanti adalah kelanjutan dari Perguruan Kauman yang didirikan pada tahun 1925 yang berkedudukan di Kauman.

Pendekar M. Wahib mengutus 3 orang muridnya. dan M. Syamsuddin mengirim 2 orang muridnya untuk bergabung. Maka Pendekar M. Barie Irsjad bersama sembilan anak murid menyiapkan segala sesuatunya untuk mendirikan Perguruan.

Dasar-dasar perguruan Kauman yang dirancang oleh Moh. Barie lrsjad, Moh. Rustam Djundab dan Moh. Djakfal Kusuma menentukan nama Tapak Suci. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dikonsep oleh Moh Rustam Djundab. Do’a dan lkrar disusun oleh H. Djarnawi Hadikusuma. Lambang Perguruan diciptakan oleh Moh. Fahmie Ishom, lambang Anggota diciptakan oleh Suharto Suja', lambang Regu Inti "Kosegu" diciptakan Adjib Hamzah. Sedang bentuk dan warna pakaian dibuat o!eh Moh. Zundar Wiesman dan Anis Susanto. Maka pada tanggal 31 Juli 1963 lahirlah Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci
1312214/8 <774+?> < 4. Nyi RNgt. Satibi
1313215/8 <774+?> < 5. Nyi RNgt. Sangidah
1314216/8 <774+?> < 6. Nyi RNgt. Hafsah
1315217/8 <774+?> < 7. R. Kyai Muh. Nuh
1316218/8 <774+?> < 8. Nyi RNgt. Siti Maryam
Tapak.jpeg
1317219/8 <774+?> < 9. R. Kyai Abu Amar
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


SEJARAH SINGKAT PERGURUAN SILAT TAPAK SUCI

Di Banjarnegara, Jawa Tengah, Kiyai Haji (K.H.) Syuhada pada tahun 1872 memiliki seorang putera yang diberi nama Ibrahim. Sejak kecil ia menerima ilmu pencak dari ayahnya. Ibrahim tumbuh menjadi Pendekar yang menguasai pencak ragawi dan batin / inti tetapi sekaligus Ulama yang menguasai banyak ilmu, kemudian berganti nama menjadi K.H. Busyro Syuhada.

Pada awalnya K.H.Busyro Syuhada mempunyai 3 murid, yaitu : •Achyat ( adik misan ), yang kemudian dikenal dengan K.H. Burhan •M.Yasin ( adik kandung ), yang dikenal dengan K.H. Abu Amar Syuhada •Soedirman, yang dikemudian hari mencapai pangkat Jenderal dan pendiri Tentara Nasional Indonesia, bahkan bergelar Panglima Besar Soedirman.

Pada tahun 1921 di Yogyakarta, bertemulah K.H. Busyro Syuhada dengan kakak beradik Ahmad Dimyati dan Muhammad Wahib. Dalam kesempatan itu mereka adu ilmu pencak antara M. Wahib dan M. Burhan. Kemudian A. Dirnyati dan M. Wahib dengan pengakuan yang tulus mengangkat K.H. Busyro Syuhada sebagai guru dan mewarisi ilmu pencak dari K.H. Busyro Syuhada yang kemudian menetap di Kauman. Menelusuri jejak gurunya, Ahmad Dimyati mengembara ke barat sedang M. Wahib mengembara ketimur sampai ke Madura untuk menjalani adu kaweruh ( uji ilmu ). Pewaris ilmu banjaran, mewarisi juga sifat-sifat gurunya M. Wahib sebagaimana K.H. Busyro Syuhada, bersifat keras, tidak kenal kompromi, suka adu kaweruh. Untuk itu sangat menonjol nama M. Wahib dari pada A. Dimyati. Sedang A. Dimyati yang banyak dikatakan ilmunya lebih tangguh dari pada adiknya M. Wahib tetapi karena pendiam dan tertutup maka tidak banyak kejadian-kejadian yang dialami. Sebagaimana M. Burhan yang mempunyai sifat dan pembawaan sama dengan A. Dimyati.

K. H. Busyro Syuhada pernah menjadi guru pencak untuk kalangan bangsawan dan keluarga Kraton Yogyakarta. Salah satu diantara muridnya adalah R.M. Harimurti, seorang pangeran kraton, yang dikemudian hari beberapa muridnya mendirikan perguruan–perguruan pencak silat yang beraliran Harimurti.

Kauman, Seranoman dan Kasegu

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada memberi wewenang kepada pendekar binaannya, A. Dimyati dan M. Wahib untuk membuka perguruan dan menerima murid. Perguruan baru yang didirikan pada tahun 1925 itu diberi nama Perguruan "Kauman", yang beraliranBanjaran.

Perguruan Kauman mempunyai peraturan bahwa murid yang telah selesai menjalani pendidkan dan mampu mengembangkan ilmu pencak silat diberikan kuasa untuk menerima murid.

M. Syamsuddin yang menjadi murid kepercayaan Pendekar Besar M..Wahib diangkat sebagai pembantu utama; dan dizinkan menerima murid. Kemudian mendirikan perguruan ”Seranoman". Perguruan Kauman menetapkan menerima siswa baru, setelah siswa tadi lulus menjadi murid di Seranoman. Perguruan Seranoman melahirkan pendekar muda Moh. Zahid, yang juga lulus menjalani pendidikan di perguruan Kauman. Moh. Zahid yang menjadi murid angkatan ketiga (3) bahkan berhasil pula mengembangkan pencak silat yang berintikan kecepatan; kegesitan, dan ketajaman gerak. Tetapi murid ketiga ini pada tahun 1948, wafat pada usia yang masih sangat muda. Tidak sempat mendirikan perguruan baru tetapi berhasil melahirkan murid, Moh. Barie lrsjad.

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada berpulang ke Rahmatullah pada bulan Ramadhan 1942. Pendekar Besar KH Busyro Syuhada bahkan tidak sempat menyaksikan datangnya perwira Jepang, Makino, pada tahun 1943 yang mengadu ilmu beladirinya dengan pencak silat andalannya. Makino mengakui kekurangannya dan menyatakan menjadi murid Perguruan Kauman sekaligus menyatakan masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Omar Makino. Pada tahun 1948 Pendekar Besar KH Burhan gugur bersama dengan 20 muridnya dalam pertempuran dengan tentara Belanda di barat kota Yogyakarta. Kehilangan besar pesilatnya menjadikan perguruan Kauman untuk beberapa sa’at berhenti kegiatannya dan tidak menampakkan akan muncul lagi Pendekar. Moh. Barie lrsjad sebagai murid angkatan keenam (6) yang dinyatakan lulus dari tempaan ujian Pendekar M. Zahid, M. Syamsuddin, M. Wahib dan A. Dimyati kemudian dalam perkembangan berikutnya mendirikan perguruan "Kasegu"

Kalau perguruan-perguruan sebelumnya diberi nama sesuai dengan tempatnya. Perguruan Kasegu diberikan nama sesuai dengan senjata yang diciptakan oleh Pendekar Moh. Barie Irsjad.

Lahirnya Tapak Suci

Moh. Barie lrsjad akhirnya mengeluarkan gagasan agar semua aliran Banjaran yang sudah berkembang dan terpecah-pecah dalam berbagai perguruan, disatukan kembali ke wadah tunggal.

Pendekar Besar M. Wahib merestui berdirinya satu Perguruan yang menyatukan seluruh perguruan di Kauman. Restu diberikan dengan pengertian Perguruan nanti adalah kelanjutan dari Perguruan Kauman yang didirikan pada tahun 1925 yang berkedudukan di Kauman.

Pendekar M. Wahib mengutus 3 orang muridnya. dan M. Syamsuddin mengirim 2 orang muridnya untuk bergabung. Maka Pendekar M. Barie Irsjad bersama sembilan anak murid menyiapkan segala sesuatunya untuk mendirikan Perguruan.

Dasar-dasar perguruan Kauman yang dirancang oleh Moh. Barie lrsjad, Moh. Rustam Djundab dan Moh. Djakfal Kusuma menentukan nama Tapak Suci. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dikonsep oleh Moh Rustam Djundab. Do’a dan lkrar disusun oleh H. Djarnawi Hadikusuma. Lambang Perguruan diciptakan oleh Moh. Fahmie Ishom, lambang Anggota diciptakan oleh Suharto Suja', lambang Regu Inti "Kosegu" diciptakan Adjib Hamzah. Sedang bentuk dan warna pakaian dibuat o!eh Moh. Zundar Wiesman dan Anis Susanto. Maka pada tanggal 31 Juli 1963 lahirlah Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci
1318220/8 <774+?> < 10. R. Kyai Muh Haq
1319221/8 <774+?> < 11. Nyi RNgt. Koningah
1320222/8 <774+?> < 12. R. Kyai Muh.Muqodas
1321223/8 <774+?> < 13. R. Kyai Muh. Aqib
1322224/8 <774+?> < 14. R. Kyai Mutaqo
1323225/8 <774+?> < 15. Nyi RNgt. Siti Amroh
1324226/8 <774+?> < 16. R. Kyai Muh Husni Muqofa
1325227/8 <774+?> < 17. R. Kyai Kamilah
1326228/8 <700+289> < Raden Ayu Sudiatinah [Hb.6.20.30.1]
1327229/8 <700+289> < Raden Ayu Sri Luhur Sudarinah [Hb.6.20.30.2] (Raden Ayu Sutiarjo)
1328230/8 <700+289> < Raden Ajeng Suryantinah [Hb.6.20.30.3] (Raden Ayu Juardi)
1329231/8 <700+290> < Raden Mas Suryadi [Hb.6.20.30.4]
1330232/8 <700+290> < Raden Mas Purwanto Sudiro [Hb.6.20.30.5] (Romo Poeng)
1331233/8 <700+290> < Raden Ajeng Sri Suwarni / Minul [Hb.6.20.30.6] (Raden Ayu Raharjodiposubroto)
1332234/8 <700+290> < Raden Mas Tri Suwarno [Hb.6.20.30.7]
1333235/8 <700+290> < Raden Ayu Nani Sudaltinah [Hb.6.20.30.8] (Raden Ayu Wahyanto) 1334236/8 <700+290> < Raden Mas Sudiharto [Hb.6.20.30.9]
1335237/8 <700+290> < Raden Mas Sudiwarno [Hb.6.20.30.10]
1336238/8 <700+290> < Raden Mas Budisantoso [Hb.6.20.30.11]
1337239/8 <728+299> < Raden Ayu Roosretnodrijanti [Hb.6.20.29.1]
1339240/8 <728+299> < Raden Mas Soerjodrijasmoro/Suryodriyasmoro [Hb.6.20.29.3] (Romo Dri)
1340241/8 <728+299> < Raden Mas Soerjodrijardono/Suryodriyardono [Hb.6.20.29.4] (Romo Don)
1341242/8 <728+299> < Raden Ayu Retnopugiarti [Hb.6.20.29.5]
1342243/8 <728+299> < Raden Mas Soerjopugiarto [Hb.6.20.29.6] (Romo Genthong)
1343244/8 <728+299> < Raden Ayu Retnopugiartati [Hb.6.20.29.7]
1344245/8 <728+299> < Raden Ayu Retnopugiartinah / [Hb.6.20.29.8] (Sitiumyumkasihan)
1345246/8 <728+299> < Raden Ajeng Rooswandari [Hb.6.20.29.9] (Raden Ayu Sunandar)
1346247/8 <728+299> < Raden Mas Rooswindo/Rooswondo [Hb.6.20.29.10] (Romo Kenthut)
1347248/8 <728+299> < Raden Mas Rooswindijatmo [Hb.6.20.29.11]
1349249/8 <727+298> < Raden Ayu Kusumardiyah [Hb.6.20.28.4] (Raden Ayu Mugiarjo) 1350250/8 <725+297> < Raden Mas Sutihartono Kiswarin [Hb.6.20.26.1]
1351251/8 <725+297> < Raden Ayu Sutihartati [Hb.6.20.26.2] (Raden Ayu Kawindro Kusumo) 1352252/8 <725+297> < Raden Ayu Sutihartinah [Hb.6.20.26.3] (Raden Ayu Suharjo)
1353253/8 <724> < Raden Ajeng Kuswantinah [Hb.6.20.25.1] (Raden Ayu Ibnu Atas Pugiarto) 1354254/8 <724> < Raden Ajeng Koeswandiyah [Hb.6.20.25.2] (Raden Ayu Siswopermadi)
1355255/8 <724> < Raden Mas Kuswantoro [Hb.6.20.25.3]
1356256/8 <724> < Raden Mas Kuswanadji [Hb.6.20.25.4]
1357257/8 <724> < Raden Mas Kuswandiyono [Hb.6.20.25.5] (Romo Mentheg)
1358258/8 <724> < Raden Ayu Kuslaswisuryantirah [Hb.6.20.25.6] (Raden Ayu Sugiantoro) 1359259/8 <724> < Raden Ayu Kusharti [Hb.6.20.25.7]
1360260/8 <724> < Raden Mas Kustamto [Hb.6.20.25.8]
1361261/8 <723> < Raden Mas Ibnu Suwardo [Hb.6.20.24.1] (Romo Mamiek)
1362262/8 <723> < Raden Mas Ibnu Suwardi [Hb.6.20.24.2] (Romo Kampiun)
1363263/8 <723> < Raden Mas Ibnu Sudarmadji [Hb.6.20.24.3]
1364264/8 <723> < Raden Ajeng Siti Rahmani [Hb.6.20.24.4] (Raden Ayu Kusen Notoprojo) 1365265/8 <723> < Raden Ajeng Srikusdaryati/Sripantolo [Hb.6.20.24.5] (Raden Ayu Winarso Condrosangkoyo) 1366266/8 <723> < Raden Mas Ibnu Atas Pugiarto [Hb.6.20.24.6] 1367267/8 <723> < Raden Mas Ibnu Sukoraharjo [Hb.6.20.24.7]
1368268/8 <723> < Raden Ajeng Sasiyah [Hb.6.20.24.8]
1369269/8 <723> < Raden Ajeng Sasinah [Hb.6.20.24.9]
1370270/8 <723> < Raden Mas Ibnu Pujiraharjo [Hb.6.20.24.10]
1371271/8 <723> < Raden Ayu Sri Mulyani [Hb.6.20.24.11]
1372272/8 <723> < Raden Mas Ibnu Suwarji [Hb.6.20.24.12] (Raden Mas Ibnu Mulyono)
1373273/8 <722+296> < Raden Mas Sukropurnadi [Hb.6.20.22.2]
1375274/8 <721+266> < Raden Mas Waluyo [Hb.6.20.21.2] (Raden Mas Abubakar)
1379275/8 <720> < Raden Mas Danardono [Hb.6.20.20.1]
1380276/8 <720> < Raden Mas Duksino [Hb.6.20.20.2]
1381277/8 <720> < Raden Mas Sasongko [Hb.6.20.20.3]
1382278/8 <720> < Raden Ajeng Intamiarinah [Hb.6.20.20.4] (Raden Ayu Supriyohartodo)
1383279/8 <720> < Raden Ajeng Imtamhasriyah [Hb.6.20.20.5] (Bendoro Raden Ayu Imtamnurswidah / Raden Ayu Suwandhi)
1384280/8 <720> < Bendoro Raden Ayu Imtamsaidjah [Hb.6.20.20.6] (Bendoro Raden Ayu Puger) 1385281/8 <720> < Raden Mas Purnomo [Hb.6.20.20.8]
1386282/8 <720> < Raden Mas Sutengsi [Hb.6.20.20.9] (Raden Bagus Dirjowijoyo)
1387283/8 <720> < Raden Mas Sasitoh [Hb.6.20.20.10]
1388284/8 <720> < Raden Mas Tjondrodi [Hb.6.20.20.11] (Raden Mas Condrodi)
1389285/8 <720> < Raden Ayu Imtamnurnindyah [Hb.6.20.20.12] 1390286/8 <720> < Raden Ajeng Imtamakindah [Hb.6.20.20.7]
1391287/8 <717+294> < Raden Mas Priyoatmojo [Hb.6.20.16.1]
1392288/8 <717+294> < Raden Mas Sukemi / Sukesi [Hb.6.20.16.2] (Raden Mas Cokrowandowo / Cokrowerdoyo)
1393289/8 <717+294> < Raden Ayu Sumaryati [Hb.6.20.16.3] (Raden Ayu Sukengsi Darmoatmojo) 1394290/8 <717+294> < Raden Mas Sukindar/Sukendar [Hb.6.20.16.4]
1395291/8 <716+292> < Raden Mas Yuwarno Slamet
1396292/8 <710+291> < Raden Mas Puspomadyo [Hb.6.20.9.1] (Raden Wedono Kismowijoyo)
1397293/8 <710+291> < Raden Ajeng Sudinah [Hb.6.20.9.2]
1398294/8 <710+291> < Raden Ayu Pustinah [Hb.6.20.9.3] (Bendoro Raden Ayu Retno Wilanten) 1399295/8 <710+291> < Raden Mas Madi [hb.6.20.9.4] (Raden Mas Puspomadwi)
1400296/8 <710+291> < Raden Mas Kadi [Hb.6.20.9.5] (Raden Mas Puspokane)
1401297/8 <710+291> < Raden Mas Ismangil [Hb.6.20.9.6]
1402298/8 <710+291> < Raden Mas Puspokirman [Hb.6.20.9.7]
1403299/8 <710+291> < Raden Ajeng Pustijah [Hb.6.20.9.8] (Raden Ayu Gondosumarto)
1404300/8 <710+291> < Raden Mas Pusdiyo [Hb.6.20.9.9]
1405301/8 <710+291> < Raden Ayu Pustirah [Hb.6.20.9.10]
1406302/8 <704> < Raden Mas Oranyenasau [Hb.6.20.5.1] (Raden Lurah Condrosari)
1407303/8 <704> < Raden Mas Saparjo [Hb.6.20.5.2]
1408304/8 <704> < Raden Mas Mardowo [Hb.6.20.5.3]
1409305/8 <704> < Raden Ayu Mardewi / Siti Umiramdilah [Hb.6.20.5.4]
1410306/8 <704> < Raden Ayu Siti Umiramtilah / Umiramsilah [Ga.Hb.8.6] [Hb.6.20.5.5] (Bendoro Raden Ayu Retnopuspito) 1411307/8 <704> < Raden Ayu Siti Umiramsinah [Hb.6.20.5.6] (Raden Ayu Dirjowardoyo)
1412308/8 <704> < Raden Mas Mariyunani / [Hb.6.20.5.7] (Raden Wedana Winduwinoto)
1413309/8 <704> < Raden Mas Insimulyono / [Hb.6.20.5.9] (Raden Bagus Seputropawoko)
1414310/8 <704> < Raden Mas Koharin [Hb.6.20.5.8] (Raden Mas Oemar Kunsamsi)
1415311/8 <703+875!> < Bendoro Raden Ayu Siti Kadariyah [Hb.7.20.3] (Bendoro Raden Ayu Jayengsastro)
1416312/8 <703+875!> < Bendoro Raden Ayu Siti Yukadiru [Hb.7.20.5] (Bendoro Raden Ayu Poncokusumo)
1417313/8 <703+875!> < Bendoro Raden Mas Sayidu [Hb.7.20.8] (Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat) 1418314/8 <703+875!> < Bendoro Raden Mas Ngaskarul Kadiri [Hb.7.20.12] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodipuro)
1419315/8 <703+875!> < Bendoro Raden Ayu Siti Yungamiru [Hb.7.20.16] (Bendoro Raden Ayu Padmonegoro)
1420316/8 <703+875!> < Bendoro Raden Ayu Siti Yukasanu [Hb.7.20.18] 1421317/8 <703+875!> < Bendoro Raden Mas Kasanusabi [Hb.7.20.28] (Kanjeng Raden Tumenggung Wiryonegoro)
1422318/8 <702> < Raden Ajeng Jaliyah [Hb.6.20.2.1] (Raden Ayu Pringgosumarjo)
1423319/8 <702> < Raden Mas Kuswardi [Hb.6.20.2.2]
1424320/8 <702> < Raden Mas Kusdiyo [Hb.6.20.2.3]
1425321/8 <702> < Raden Ajeng Kodamah [Hb.6.20.2.4]
1426322/8 <702> < Raden Ajeng Kustiyah [Hb.6.20.2.5]
1427323/8 <702> < Raden Ajeng Kustari [Hb.6.20.2.6]
1428324/8 <702> < Raden Mas Kusno / Raden Rio Condroseputro [Hb.6.20.2.7] (Raden Wedono Mudodikusno)
1429325/8 <702> < Raden Ajeng Jalinah [Hb.6.20.2.8] (Raden Ayu Projosudibyo)
1430326/8 <702> < Raden Mas Kusnadi [Hb.6.20.2.9] (Kanjeng Pangeran Tumenggung Padmonegoro)
1431327/8 <702> < Raden Mas Sudarsono [Hb.6.20.2.10]
1432328/8 <651+1410!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Wahyorini [Hb.8.35]
1433329/8 <651+1410!> < Bendoro Raden Ayu Siti Sutarsih
1434330/8 <651+1410!> < Bendoro Raden Mas Sunuwoto [Hb.8.30] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo) 1436331/8 <780> < Raden Jayeng Lengkoro [Hb.3.2.7.1.1.1]
1437332/8 <800> < Raden Roro Sunarsasi [Hb.3.2.18.6.6.1]
1438333/8 <800> < Raden Roro Susiwi [Hb.3.2.18.6.6.2]
1439334/8 <800> < Raden Roro Susanti [Hb.3.2.18.6.6.3]
1440335/8 <812> < Raden Mas Agoes Budiarto [Hb.5.9.3.1]
1441336/8 <812> < Raden Ayu Tuti Sulastri [Hb.5.9.3.2]
1442337/8 <812> < Raden Ayu Agoes Anwari [Hb.5.9.3.3]
1443338/8 <812> < Raden Mas Agoes Wiradat [Hb.5.9.3.4]
1444339/8 <812> < Raden Ayu Ien Harsini [Hb.5.9.3.5]
1445340/8 <812> < Raden Ayu Siti Waito Sahid Sudarjo Hadi Atmojo [Hb.5.9.3.6]
1446341/8 <797> < Raden Rusbani Notonegoro [Hb.3.2.18.6.3.1]
1447342/8 <797> < Raden Roro Marliah [Hb.3.2.18.6.3.2]
1448343/8 <797> < Raden Roro Kubariah [Hb.3.2.18.6.3.3]
1449344/8 <797> < Raden Mujono Projoprawiro [Hb.3.2.18.6.3.4]
1450345/8 <797> < Raden Sudono [Hb.3.2.18.6.3.5]
1451346/8 <797> < Raden Roro Rundiah [Hb.3.2.18.6.3.6]
1452347/8 <797> < Raden Mutrisno Murdodiningrat [Hb.3.2.18.6.3.7]
1453348/8 <797> < Kanjeng Raden Tumenggung Puspo Harsono [Hb.3.2.18.6.3.8]
1454349/8 <797> < Raden Nganten Muning Mariah Joyodiningrat [Hb.3.2.18.6.3.9]
1455350/8 <797> < Raden Nganten Surasmiah Joyodiningrat [Hb.3.2.18.6.3.10]
1456351/8 <798> < Kanjeng Raden Tumenggung Pringgokusumo [Hb.3.2.18.6.4.1] 1457352/8 <798> < Raden Nganten Sastrotanoyo [Hb.3.2.18.6.4.2]
1458353/8 <798> < Raden Oepomo [Hb.3.2.18.6.4.3] 1459354/8 <798> < Raden Roro Oemirati [Hb.3.2.18.6.4.4]
1460355/8 <798> < Raden Nganten Oemiyati Imam Duryat [Hb.3.2.18.6.4.5]
1461356/8 <798> < Raden Oesodo [Hb.3.2.18.6.4.6] 1462357/8 <798> < Raden Oetoyo [Hb.3.2.18.6.4.7] 1463358/8 <798> < Raden Nganten Oeminah Soemitro [Hb.3.2.18.6.4.8]
1464359/8 <798> < Raden Oetariyo [Hb.3.2.18.6.4.9] ? (Pamuji) 1465360/8 <798> < Raden Roro Oediyat [Hb.3.2.18.6.4.10]
1466361/8 <798> < Raden Oediyati [Hb.3.2.18.6.4.11]
1467362/8 <798> < Raden Oediyono [Hb.3.2.18.6.4.12]
1468363/8 <761+316> < Raden Ayu Brotojoyo [Hb.7.27.12] 1469364/8 <817> < Raden Ayu Santimah Ismangun [Hb.3.2.22.1.1.1] 1470365/8 <817> < Raden Ayu Soetimah/ [Hb.3.2.22.1.1.2] 1471366/8 <817+282> < Raden Mas Suryo Soeyadi [Hb.3.2.22.1.1.3] 1472367/8 <817+282> < Raden Ayu Soemiati / [Hb.3.2.22.1.1.4] 1473368/8 <817+282> < Raden Ayu Soekartini / [Hb.3.2.22.1.1.5] 1475370/8 <817+282> < Raden Ayu Soemarsinah Moestiono [Hb.3.2.22.1.1.7] 1476371/8 <817> < Raden Ayu Soewarni / [Hb.3.2.22.1.1.8] 1477372/8 <817> < Raden Mas Soewardi [Hb.3.2.22.1.1.9] 1478373/8 <817> < Raden Mas Soebronto [Hb.3.2.22.1.1.10] 1479374/8 <818> < Raden Nganten Surorejoso [Hb.3.8.1.1.1.1] 1480375/8 <819+319> < Raden Roro Suwarti [Hb.3.14.1.1.1.1]
1481376/8 <819+319> < Raden Roro Sajeki [Hb.3.14.1.1.1.2]
1482377/8 <819+319> < Raden Roro Marsuti [Hb.3.14.1.1.1.3]
1483378/8 <819+319> < Raden Sanyoto [Hb.3.14.1.1.1.4]
1484379/8 <819+319> < Raden Sugiarto [Hb.3.14.1.1.1.5]
1485380/8 <819+319> < Raden Sriharto [Hb.3.14.1.1.1.6]
1486381/8 <819+319> < Raden Mulyarto [Hb.3.14.1.1.1.7]
1487382/8 <819+319> < Raden Berbudi [Hb.3.14.1.1.1.8]
1488383/8 <819+319> < Raden Roro Sri Hartati [Hb.3.14.1.1.1.9]
1489384/8 <819+319> < Raden Roro Sunarti [Hb.3.14.1.1.1.10]
1490385/8 <827+320> < Raden Ajeng Indrati [Hb.3.14.3.2.5.1] / [Hb.6.8.5.1]
1491386/8 <827+320> < Raden Ajeng Astuti [Hb.3.14.3.2.5.2] / [Hb.6.8.5.2]
1492387/8 <827+320> < Raden Mas Purnawarman [Hb.3.14.3.2.5.3] / [Hb.6.8.5.3]
1493388/8 <827+320> < Raden Ajeng Sundari [Hb.3.14.3.2.5.4] / [Hb.6.8.5.4]
1494389/8 <827+320> < Raden Mas Maliawan [Hb.3.14.3.2.5.5] / [Hb.6.8.5.5]
1495390/8 <827+320> < Raden Mas Harymawan [Hb.3.14.3.2.5.6] / [Hb.6.8.5.6]
1496391/8 <835+321> < Roro Indah Resturianny [Hb.3.19.2.1.6.2]
1497392/8 <835+321> < Raden Rendra Setiaji [Hb.3.19.2.1.6.3]
1498393/8 <835+321> < Raden Nganten Renny Kiranawati [Hb.3.19.2.1.6.1]
1499394/8 <839+322> < Raden Dibyo Hardjoso [Hb.3.26.2.1.4.1]
1500395/8 <839+322> < Raden Nganten Pangarsi [Hb.3.26.2.1.4.2]
1501396/8 <839+322> < Raden Atmotaruno [Hb.3.26.2.1.4.3]
1502397/8 <839+322> < Raden Nganten Siti Jumani [Hb.3.26.2.1.4.4]
1503398/8 <839+322> < Raden Dharono [Hb.3.26.2.1.4.5]
1504399/8 <839+322> < Raden Rahardjo [Hb.3.26.2.1.4.6] 1505400/8 <842> < Raden Nganten Sriastuti Purnomo [Hb.3.27.2.1.1.1]
1506401/8 <843+323> < Raden Roro Yetti Budiantami [Hb.3.28.13.2.1.1]
1507402/8 <844+324> < Raden Agus Budianto [Hb.3.28.13.1.1.1]
1508403/8 <844+324> < Raden Arya Okto Budhy Hardoko [Hb.3.28.13.1.1.2]
1509404/8 <844+324> < Raden Nganten Enggar Tati Budhy Hendarti [Hb.3.28.13.1.1.3]
1510405/8 <846> < Raden Arwan Bauis [Hb.3.28.14.1.2.1]
1511406/8 <846> < Raden Durrozi [Hb.3.28.14.1.2.2]
1512407/8 <846> < Raden Hadinm [Hb.3.28.14.1.2.3]
1513408/8 <846> < Raden Mujib [Hb.3.28.14.1.2.4]
1514409/8 <846> < Raden Roro Junaroh [Hb.3.28.14.1.2.5]
1515410/8 <846> < Raden Iwik [Hb.3.28.14.1.2.6]
1516411/8 <856> < Raden Roro Suci Rahayu [Hb.3.28.14.3.5.1]
1517412/8 <856> < Raden Roro Tuti [Hb.3.28.14.3.5.2]
1518413/8 <856> < Raden Agus [Hb.3.28.14.3.5.5]
1519414/8 <856> < Raden Roro Endang Setiawan [Hb.3.28.14.3.5.6]
1520415/8 <856> < Raden Roro Marina [Hb.3.28.14.3.5.7]
1521416/8 <856> < Raden Rudi Setiawan [Hb.3.28.14.3.5.8]
1522417/8 <855> < Raden Joko [Hb.3.28.14.3.4.1]
1523418/8 <855> < Raden Baroto [Hb.3.28.14.3.4.2]
1524419/8 <855> < Raden Taufiq [Hb.3.28.14.3.4.3]
1525420/8 <854> < Raden Iskandar [Hb.3.28.14.3.3.1]
1526421/8 <854> < Raden Nganten Isfaiyah [Hb.3.28.14.3.3.2]
1527422/8 <854> < Raden Ishak [Hb.3.28.14.3.3.3] 1528423/8 <854> < Raden Roro Zunainah [Hb.3.28.14.3.3.4]
1529424/8 <854> < Raden Ikhlas [Hb.3.28.14.3.3.5]
1530425/8 <853> < Raden Jamzami [Hb.3.28.14.3.2.1]
1531426/8 <853> < Raden N. Hidayat S. [Hb.3.28.14.3.2.2]
1532427/8 <853> < Raden Nganten Nurhayati [Hb.3.28.14.3.2.3]
1533428/8 <853> < Raden Nganten Jumanah [Hb.3.28.14.3.2.4]
1534429/8 <853> < Raden Nganten Umayah [Hb.3.28.14.3.2.5]
1535430/8 <853> < Raden Baihaqi [Hb.3.28.14.3.2.6]
1536431/8 <853> < Raden Agus [Hb.3.28.14.3.2.7]
1537432/8 <852> < Raden Nganten Suhaniyah [Hb.3.28.14.3.1.1]
1538433/8 <852> < Raden Nganten Suwartini [Hb.3.28.14.3.1.2]
1539434/8 <852> < Raden Nganten Istiqomah [Hb.3.28.14.3.1.3]
1540435/8 <852> < Raden Nganten Barirohmah [Hb.3.28.14.3.1.4]
1541436/8 <852> < Raden Abdul Jalil [Hb.3.28.14.3.1.5]
1542437/8 <852> < Raden Abdul Hamid [Hb.3.28.14.3.1.6]
1543438/8 <857+858!> < Kanjeng Raden Tumenggung Mulyokusumo [Hb.4.9.1.1.1] / Kanjeng Raden Tumenggung Dodipuro [Hb.4.8.5.1.1]
1544439/8 <857+858!> < Kanjeng Raden Tumenggung Kromodeksono [Hb.4.9.1.1.2] / [Hb.4.8.5.1.2]
1545440/8 <859> < Raden Mas Abdul Kadir I [Hb.4.10.2.1.1]
1546441/8 <860+325> < Raden Ayu Sujinah Tablek Sastropertomo [Hb.4.13.1.1.1]
1547442/8 <897+326> < Kanjeng Raden Tumenggung Projodipuro [Hb.7.8.2] 1548443/8 <872+874!> < Raden Ayu Siti Jin Sunisai [Hb.6.5.1.1] / [Hb.7.10.1] 1549444/8 <872+874!> < Raden Mas Kewusnandar / Raden Panji Partodigdoyo [Hb.6.5.1.4] / [Hb.7.10.4]
1550445/8 <872+874!> < Raden Ayu Siti Sri Handinah S. [Hb.6.5.1.3] / [Hb.7.10.3] 1551446/8 <872+874!> < Raden Mas Yusupadi [Hb.6.5.1.2] / [Hb.7.10.2] 1552447/8 <651+1278!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kuswanayi [Hb.8.17] (Gusti Bendoro Raden Ayu Cokrodiningrat) 1553448/8 <703+875!> < Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat [Hb.7.20.8] (Bendoro Raden Mas Sayidu) 1554449/8 <871+873!> < Raden Ayu Purbaningrum [Ga.Hb.7.20.5] [Hb.6.5.2.2] 1555450/8 <875+1554!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sabikatun [Hb.7.20.26]
1556451/8 <875+247> < Bendoro Raden Mas Mausofi [Hb.7.20.30]
1557452/8 <875+247> < Bendoro Raden Mas Mashurun [Hb.7.20.19]
1558453/8 <875+247> < Bendoro Raden Mas Kolonel [Hb.7.20.7] (Bendoro Kanjeng Raden Tumenggung Riyokusumo)
1559454/8 <875+247> < Bendoro Raden Mas Sukadari [Hb.7.20.9] (Bendoro Kanjeng Raden Tumenggung Cokronegoro)
1560455/8 <875+247> < Bendoro Raden Mas Mukeyan [Hb.7.20.13]
1561456/8 <875+247> < Bendoro Raden Mas Kabinulngaskari [Hb.7.20.14]
1562457/8 <875+247> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sulatun [Hb.7.20.24] 1563458/8 <875+247> < Bendoro Raden Mas Hertog [Hb.7.20.20]
1564459/8 <875+247> < Bendoro Raden Ajeng Siti Mustokirun [Hb.7.20.17] (Bendoro Raden Ayu Hangabehi) 1565460/8 <875+247> < Bendoro Raden Mas Saluku [Hb.7.20.11] (Bendoro Kanjeng Raden Tumenggung Purbodiningrat)
1566461/8 <875+247> < Bendoro Raden Mas Wafirulkotrari [Hb.7.20.4] 1567462/8 <871+873!> < Raden Mas Sulalonkorn [Hb.6.5.2.3]
1568463/8 <871+873!> < Raden Ayu Hadikusumo Sepuh [Gp.Hb.7.58.1] [Hb.6.5.2.4] 1569464/8 <881> < Raden Ayu Hadikusumo Enem [Gp.Hb.7.58.2] [Hb.6.9.7.3] 1570465/8 <756+1568!> < Raden Mas Ngaskarun [Hb.7.58.1] (Kanjeng Raden Tumenggung Purbokusumo)
1571466/8 <756+1568!> < Raden Ajeng Suwasti [Hb.6.5.2.4.2] [Hb.7.58.5] (Raden Ayu Suryosumarno) 1572467/8 <868+870!> < Raden Ajeng Niken Raketan [Hb.6.5.4.3] / Raden Ayu Santosa Harsono
1573468/8 <865+1547!> < Raden Mas Bani [Hb.6.5.7.1]
1574469/8 <865+1547!> < Raden Mas Mitpangun [Hb.6.5.7.2]
1575470/8 <865+1547!> < Raden Ayu Parul Projodiningrat [Hb.6.5.7.3]
1578471/8 <666+679!> < Raden Mas Oetarjo Notodirdjo [Hb.6.17.4.5] 1579472/8 <666+679!> < Raden Ayu Utami Notodirjo [Hb.6.17.4.4]
1583473/8 <956> < Raden Ayu Atasti [Hb.6.18.4.10] 1584474/8 <876> < Raden Ayu Sosrowiryono [Hb.6.9.1.1]
1585475/8 <876> < Raden Ayu Jayengprakoso [Hb.6.9.1.2]
1586476/8 <876> < Raden Ayu Purwosudarmo [Hb.6.9.1.3]
1587477/8 <876> < Raden Ajeng Muskasiyah [Hb.6.9.1.4]
1588478/8 <882> < Raden Ayu Pringgosastrosutadikusno [Hb.6.9.8.1] 1589479/8 <883> < Raden Mas Murhadiningrat [Hb.6.9.9.1]
1590480/8 <752+236> < Raden Ajeng Sukilah [Hb.6.10.1] (Raden Ayu Sukiyi) 1591481/8 <884> < Raden Mas Atmowijoyo [Hb.6.9.11.1]
1592482/8 <884> < Kanjeng Raden Tumenggung Kuncorohadiningrat [Hb.6.9.11.2]
1593483/8 <885> < Raden Ayu Harjowisastro [Hb.6.9.12.1]
1594484/8 <885> < Raden Ayu Kusumowidagdo [Hb.6.9.12.2]
1595485/8 <885> < Raden Ayu Dirjosukarto [Hb.6.9.12.3]
1596486/8 <887> < Raden Mas Satrioraharjo [Hb.6.9.14.10]
1597487/8 <887> < Raden Ayu Sumarman [Hb.6.9.14.9]
1598488/8 <887> < Raden Ajeng Kussaptoruji [Hb.6.9.14.8]
1599489/8 <887> < Raden Ajeng Ismihari [Hb.6.9.14.7]
1600490/8 <887> < Raden Ajeng Sitiwidayati [Hb.6.9.14.6]
1601491/8 <887> < Raden Mas Nukadar [Hb.6.9.14.5]
1602492/8 <887> < Raden Mas Suprapto [Hb.6.9.14.4]
1603493/8 <887> < Raden Nganten Yudosebrongto [Hb.6.9.14.3] 1604494/8 <887> < Raden Ajeng Susilastuti [Hb.6.9.14.2]
1606495/8 <888> < Raden Mas Suryokusumo [Hb.6.9.15.1]
1607496/8 <888> < Raden Mas Ismanji [Hb.6.9.15.10]
1608497/8 <888> < Raden Ayu Abdul Ali [Hb.6.9.15.9]
1609498/8 <888> < Raden Ayu Darmokusumo [Hb.6.9.15.8]
1610499/8 <888> < Raden Ayu Tjongok [Hb.6.9.15.7]
1611500/8 <888> < Raden Mas Suwarnido [Hb.6.9.15.6]
1612501/8 <888> < Raden Mas Djody Gondokusumo [Hb.6.9.15.5]
1613502/8 <888> < Raden Mas Sukra [Hb.6.9.15.3]
1614503/8 <888> < Raden Mas Suwarnio [Hb.6.9.15.4]
1615504/8 <888> < Raden Ayu Subono [Hb.6.9.15.2] 1616505/8 <755> < Raden Ayu Purbowinoto [Hb.7.1.1] 1617506/8 <676> < Kanjeng Pangeran Haryo Cakraningrat [Hb.6.11.1.1]
1618507/8 <676> < Raden Ayu Mangkudilogo [Hb.6.11.1.2]
1620509/8 <676> < Raden Mas Joyodimurti [Hb.6.11.1.4]
1621510/8 <676> < Raden Ajeng Subiabtinah [Hb.6.11.1.5] (Raden Ayu Harsono)
1622511/8 <676> < Raden Mas Supomeleng [Hb.6.11.1.6]
1623512/8 <676> < Raden Mas Ngarjani [Hb.6.11.1.7]
1624513/8 <676> < Raden Ayu Ronggo Kusmen [Hb.6.11.1.8]
1625514/8 <676> < Raden Ajeng Siti Rahayu Widayatinah [Hb.6.11.1.9] (Raden Ayu Mashur Tejodiningrat) 1626515/8 <891> < Raden Panji Partowinoto [Hb.6.11.3.1]
1627516/8 <891> < Raden Ayu Brotosudirjo [Hb.6.11.3.2]
1628517/8 <891> < Raden Mas Henrich Van Roos [Hb.6.11.3.5]
1629518/8 <891> < Kanjeng Raden Tumenggung Prawirodiningrat [Hb.6.11.3.4]
1630519/8 <891> < Kanjeng Raden Tumenggung Prawirodirejo [Hb.6.11.3.3] 1631520/8 <1012> < Raden Ayu Prawirodirjo [Hb.7.19.2] 1632521/8 <893+1616!> < Raden Ayu Yudoyono [Hb.6.11.5.1] [Hb.7.1.1.1]
1633522/8 <893+1616!> < Kanjeng Pangeran Haryo Purbowinoto II [Hb.6.11.5.2] [Hb.7.1.1.2] 1634523/8 <893+1616!> < Raden Bekel Sastroyuwono [Hb.7.1.1.8] (Raden Mas Teguh Bandarul Kabir)
1635524/8 <893+1616!> < Raden Bekel Atmowinarno [Hb.7.1.1.7]
1636525/8 <893+1616!> < Raden Ayu Subono [Hb.7.1.1.6]
1637526/8 <893+1616!> < Raden Bekel Purbodikoro [Hb.7.1.1.4]
1638527/8 <893+1616!> < Raden Ayu Siti Kumaryati [Hb.7.1.1.5] (Raden Ayu Mustejo)
1639528/8 <893+1616!> < Raden Panji Takyidunastri [Hb.7.1.1.3]
1640529/8 <895> < Raden Ayu Mangundipuro [Hb.6.11.7.1]
1641530/8 <896+1968!> < Kanjeng Pangeran Haryo Purwodiningrat [Hb.7.4.1.1] 1642531/8 <896+1968!> < Raden Ayu Labaningrat [Hb.6.11.8.2]
1643532/8 <896+1968!> < Raden Ayu Ronggo Kusnendar [Hb.6.11.8.3]
1644533/8 <896> < Raden Mas Suwarjono [Hb.6.11.8.4]
1645534/8 <896+1968!> < Raden Mas Atmosudibyo [Hb.6.11.8.5]
1646535/8 <896+1968!> < Raden Mas Lunggadung [Hb.6.11.8.6] (Raden Mas Mulasdi)
1647536/8 <896> < Raden Mas Sukirbeman [Hb.6.11.8.9]
1648537/8 <896> < Raden Ayu Salikun Dirjo Wiguno [Hb.6.11.8.8]
1649538/8 <896> < Raden Ajeng Siti Sutiyarti [Hb.6.11.8.7]
1650539/8 <908> < Raden Mas Iswanto Nurdarajati [Hb.8.3.1.6]
1651540/8 <908> < Raden Mas Satria Wintarajati [Hb.8.3.1.5]
1652541/8 <908> < Raden Mas Kusumo Handarumurti [Hb.8.3.1.4]
1653542/8 <908> < Raden Mas Purnomo Hadiputranto [Hb.8.3.1.3]
1654543/8 <908> < Raden Mas Nurwidiyanto [Hb.8.3.1.2]
1655544/8 <908> < Raden Ajeng Siti Nuryati Wahyuni Swandiati [Hb.8.3.1.1]
1656545/8 <910> < Raden Roro RA. Hadian Dewantoro [Hb.7.22.5.1.1]
1657546/8 <910> < Raden Roro RA. Hajeng Dewantari [Hb.7.22.5.1.2]
1658547/8 <909+327> < Raden Roro Retina Diah Pratiwi [Hb.7.22.5.2.1]
1659548/8 <909+327> < Raden Roro Astuti Rahdiati [Hb.7.22.5.2.2]
1660549/8 <899> < Raden Ajeng Kusretno Kasiyah [Hb.6.11.10.1]
1661550/8 <899> < Raden Mas Tamtanus [Hb.6.11.10.2]
1662551/8 <899> < Raden Mas Iskandar [Hb.6.11.10.3]
1663552/8 <899> < Raden Mas Sidarto [Hb.6.11.10.4]
1664553/8 <899> < Raden Ayu Sayidiyah Tanidipuro [Hb.6.11.10.5]
1665554/8 <802> < Raden Ajeng Kustinah [Hb.6.11.11.1]
1666555/8 <674> < Raden Mas Jamburutari [Hb.6.11.12.1]
1667556/8 <803> < Raden Ayu Kartodiprojo [Hb.6.11.13.1]
1668557/8 <803> < Raden Lurah Suryodiprojo II [Hb.6.11.13.2]
1669558/8 <803> < Raden Ayu Wirodiharjo [Hb.6.11.13.3]
1670559/8 <670> < Bendoro Raden Ajeng Ipji Dangunikri [Hb.6.11.14.1]
1671560/8 <670> < Bendoro Raden Mas Najatun Ngadiati [Hb.6.11.14.2]
1672561/8 <670> < Bendoro Raden Mas Solikut Takiyati [Hb.6.11.14.3]
1673562/8 <671> < Raden Bekel Atmonewoko [Hb.6.11.15.1]
1674563/8 <671> < Raden Ajeng Waskito [Hb.6.11.15.2]
1675564/8 <671> < Raden Mas Sumarsono [Hb.6.11.15.3]
1676565/8 <671> < Raden Ajeng Siti Mustinah [Hb.6.11.15.4] 1677566/8 <673+900!> < Raden Mas Maliki [Hb.6.11.17.1]
1678567/8 <673+900!> < Raden Ajeng Widyosastrodipuro [Hb.6.11.17.2]
1679568/8 <673+900!> < Raden Ajeng Atmosudibyo [Hb.6.11.17.3]
1680569/8 <673+900!> < Raden Nganten Noyoseputro [Hb.6.11.17.16]
1681570/8 <673+900!> < Raden Mas Ngantamil Manpirali Istihar [Hb.6.11.17.15]
1682571/8 <673+900!> < Raden Mas Joko [Hb.6.11.17.14]
1683572/8 <673+900!> < Raden Ajeng Siti Kurulwaswaskabil [Hb.6.11.17.13]
1684573/8 <673+900!> < Raden Ayu Suryoputro [Hb.6.11.17.12]
1685574/8 <673+900!> < Raden Bekel Suryohalpito [Hb.6.11.17.11]
1686575/8 <673+900!> < Raden Bekel Atmo Condrowiloyo [Hb.6.11.17.10]
1687576/8 <673+900!> < Raden Ajeng Siti Rohmani [Hb.6.11.17.9]
1688577/8 <673+900!> < Raden Lurah Atmo Condrodiprojo [Hb.6.11.17.8]
1689578/8 <673+900!> < Raden Wedana Joyoseputro [Hb.6.11.17.7]
1690579/8 <673+900!> < Raden Mas Raharjo [Hb.6.11.17.6]
1691580/8 <673+900!> < Raden Ajeng Siti Rupinah [Hb.6.11.17.5]
1692581/8 <673+900!> < Raden Mas Atmocondropuspito [Hb.6.11.17.4]
1693582/8 <673+900!> < Raden Ayu Suryosuparjo [Hb.6.11.17.17]
1694583/8 <804> < Raden Mas Rio Yosodipuro [Hb.6.11.20.1]
1695584/8 <804> < Raden Mas Kajakasari [Hb.6.11.20.2]
1696585/8 <804> < Raden Ajeng Siti Rukmi [Hb.6.11.20.3]
1697586/8 <804> < Raden Ayu Supardi [Hb.6.11.20.5]
1698587/8 <804> < Raden Mas Ibnu Umar [Hb.6.11.20.4]
1699588/8 <759+805!> < Raden Ajeng Siti Yubeyinu [Hb.7.17.25] (Raden Ayu Pusponegoro) 1700589/8 <759+805!> < Raden Mas Baninaslun [Hb.7.17.28] (Kanjeng Raden Tumenggung Danukusumo)
1701590/8 <759+805!> < Raden Mas Abimanyu [Hb.7.17.30] (Kanjeng Raden Tumenggung Reksokusumo)
1702591/8 <759+805!> < Raden Ajeng Kustamtinah [Hb.7.17.33] (Raden Ayu Sinduseputro) 1703592/8 <759+805!> < Raden Mas Darmadi [Hb.7.17.35]
1704593/8 <806> < Raden Mas Satryo Raharjo [Hb.6.11.23.4]
1705594/8 <806> < Raden Ajeng Sumarman [Hb.6.11.23.3]
1706595/8 <806> < Raden Ajeng Kussaptiriji [Hb.6.11.23..2]
1707596/8 <806> < Raden Ajeng Siti Widyowati [Hb.6.11.23.1]
1708597/8 <807> < Raden Ajeng Siti Sutyarti [Hb.6.11.24.1]
1709598/8 <807> < Raden Ajeng Siti Sujati [Hb.6.11.24.2]
1710599/8 <807> < Raden Mas Wiwoho [Hb.6.11.24.3]
1711600/8 <807> < Raden Ajeng Siti Suryati [Hb.6.11.24.7] 1712601/8 <807> < Raden Ajeng Siti Swati [Hb.6.11.24.5]
1713602/8 <807> < Raden Ajeng Siti Suhatining [Hb.6.11.24.6] 1714603/8 <807> < Raden Ajeng Siti Sudaryati [Hb.6.11.24.4] 1715604/8 <808> < Raden Mas Kuswarddhana [Hb.6.11.25.1] 1716605/8 <808> < Raden Ayu Yudonegoro [Hb.6.11.25.2]
1717606/8 <902> < Raden Mas Renessanu Isboi [Hb.6.11.27.8]
1718607/8 <902> < Raden Ajeng Siti Isbiyunu [Hb.6.11.27.6] (Raden Ayu Suharsono Hadikusumo) 1719608/8 <902> < Raden Mas Suroso Issuwandhono [Hb.6.11.27.7]
1720609/8 <902> < Raden Ajeng Siti Iswandari [Hb.6.11.27.5] 1721610/8 <902> < Raden Ayu Isbiyantirin [Hb.6.11.27.4]
1722611/8 <902> < Raden Ajeng Sosrokusumo [Hb.6.11.27.3]
1723612/8 <902> < Raden Mas Isbenu Katamsi [Hb.6.11.27.2]
1724613/8 <902> < Raden Mas Sidarta [Hb.6.11.27.1]
1725614/8 <912> < Raden Ajeng Darudewi Wahyuwidayati [Hb.6.11.28.2] 1726615/8 <912> < Raden Mas Puntodewo Cahyo Wahyudi [Hb.6.11.28.3]
1727616/8 <912> < Raden Ajeng Puntodewi Runtung Wahyuni [Hb.6.11.28.1]
1728617/8 <903> < Raden Ajeng Siti Kaharmiyah [Hb.6.11.29.1]
1729618/8 <903> < Raden Ajeng Siti Sumarti [Hb.6.11.29.2]
1730619/8 <903> < Raden Mas Jatiwirawan [Hb.6.11.29.3]
1731620/8 <903> < Raden Mas Irawan [Hb.6.11.29.4]
1732621/8 <903> < Raden Mas Joko Kusumo [Hb.6.11.29.5]
1733622/8 <903> < Raden Mas Basudewo [Hb.6.11.29.6]
1734623/8 <903> < Raden Ajeng Siti Kahariyah [Hb.6.11.29.7]
1735624/8 <903> < Raden Ajeng Siti Haryani [Hb.6.11.29.8] 1736625/8 <903> < Raden Mas Rupotolo [Hb.6.11.29.9]
1737626/8 <904+2031!> < Raden Ajeng Siti Roousmiyati [Hb.7.14.1] (Raden Ayu Jiteng Marsudi) 1738627/8 <904+2031!> < Raden Mas Roosmiyanto [Hb.7.14.2]
1739628/8 <904+2031!> < Raden Ajeng Siti Kisrunatini [Hb.7.14.3]
1740629/8 <904+2031!> < Raden Mas Ibnu Roosamsi [Hb.7.14.4]
1741630/8 <904+2031!> < Raden Mas Sumarooshaji [Hb.7.14.5]
1742631/8 <904+2031!> < Raden Mas Bonorassid [Hb.7.14.6]
1743632/8 <682+904!> < Raden Ajeng Siti Rokhyati Roosmiyatsih [Hb.7.14.7]
1744633/8 <955> < Raden Mas Suwahyohadi [Hb.6.18.45.1]
1745634/8 <955> < Raden Ajeng Atas Sriharjani [Hb.6.18.45.2]
1746635/8 <955> < Raden Mas Susetyohadi [Hb.6.18.45.3]
1747636/8 <918> < Raden Ajeng Suharmi [Hb.6.18.43.1]
1748637/8 <942> < Raden Ajeng Siti Kusumandari [Hb.6.18.21.1]
1749638/8 <942> < Raden Ajeng Siti Kusumastuti [Hb.6.18.21.2]
1750639/8 <941+329> < Raden Mas Atas Hariyono [Hb.6.18.20.1]
1751640/8 <941+329> < Raden Ajeng Atas Hariyani [Hb.6.18.20.5]
1752641/8 <941+329> < Raden Mas Atas Haripranowo [Hb.6.18.20.4]
1753642/8 <941+329> < Raden Mas Atas Haripranoto [Hb.6.18.20.3]
1754643/8 <941+329> < Raden Mas Atas Hariyanto [Hb.6.18.20.2]
1755644/8 <940> < Raden Ajeng Sri Rahayu [Hb.6.18.19.1]
1756645/8 <940> < Raden Ajeng Parlentien [Hb.6.18.19.2]
1757646/8 <936+2044!> < Raden Mas Sasongko Kumoro [Hb.7.20.15.1] 1758647/8 <936+2044!> < Raden Mas Suryo Kumoro [Hb.7.20.15.2]
1759648/8 <936+2044!> < Raden Ajeng Retno Kumoro [Hb.7.20.15.3]
1760649/8 <939> < Raden Mas Mustikojati [Hb.6.18.17.1]
1761650/8 <937> < Raden Mas Sudewo [Hb.6.18.16.2]
1762651/8 <937> < Raden Mas Dewobroto [Hb.6.18.16.3]
1763652/8 <937> < Raden Ajeng Utari [Hb.6.18.16.4]
1764653/8 <937> < Raden Mas Susanto [Hb.6.18.16.5]
1765654/8 <937> < Raden Ajeng Kusumaryarti [Hb.6.18.16.1]
1766655/8 <937> < Raden Ajeng Farida Muryati [Hb.6.18.16.7]
1767656/8 <937> < Raden Ajeng Wahyuwiyati [Hb.6.18.16.6]
1768657/8 <939> < Raden Ajeng Susiloretno [Hb.6.18.17.2]
1769658/8 <939> < Raden Ajeng Sukretiyowati [Hb.6.18.17.3]
1770659/8 <939> < Raden Ajeng Sridonoharti [Hb.6.18.17.4]
1771660/8 <939> < Raden Mas Jatmikohadi [Hb.6.18.17.5]
1772661/8 <939> < Raden Ajeng Kuswantiyotatmi [Hb.6.18.17.6]
1773662/8 <939> < Raden Ajeng Sudarsini [Hb.6.18.17.8]
1774663/8 <939> < Raden Ajeng Iswarastuti [Hb.6.18.17.7]
1775664/8 <939> < Raden Ajeng Kusumodewati [Hb.6.18.17.9]
1776665/8 <935> < Raden Mas Usaeni [Hb.6.18.13.2]
1777666/8 <935> < Raden Ajeng Ispahano [Hb.6.18.13.1]
1778667/8 <938> < Raden Mas Arban [Hb.6.18.14.2]
1779668/8 <938> < Raden Mas Armianto [Hb.6.18.14.1]
1780669/8 <938> < Raden Ajeng Armiatun [Hb.6.18.14.3]
1781670/8 <938> < Raden Ajeng Armiati [Hb.6.18.14.4]
1782671/8 <938> < Raden Ajeng Armiastuti [Hb.6.18.14.5]
1783672/8 <938> < Raden Ajeng Ardiatun [Hb.6.18.14.6]
1784673/8 <938> < Raden Ajeng Ardaninggar [Hb.6.18.14.11]
1785674/8 <938> < Raden Mas Arianto [Hb.6.18.14.10]
1786675/8 <938> < Raden Mas Ardianto [Hb.6.18.14.9]
1787676/8 <938> < Raden Ajeng Ardiati [Hb.6.18.14.8]
1788677/8 <938> < Raden Mas Ariseno [Hb.6.18.14.7]
1789678/8 <930> < Raden Mas Barlow Sidhanti [Hb.6.18.12.1]
1790679/8 <930> < Raden Ajeng Bariori Atas Riati [Hb.6.18.12.2]
1791680/8 <930> < Raden Ayu Barnisriati [Hb.6.18.12.3]
1792681/8 <930> < Raden Mas Barnorianto [Hb.6.18.12.4]
1793682/8 <930> < Raden Ajeng Sri Suryati [Hb.6.18.12.5] 1794683/8 <930> < Raden Mas Bardio [Hb.6.18.12.13]
1795684/8 <930> < Raden Mas Barmono [Hb.6.18.12.12]
1796685/8 <930> < Raden Mas Bardono [Hb.6.18.12.11]
1797686/8 <930> < Raden Ajeng Barsiam [Hb.6.18.12.10]
1798687/8 <930> < Raden Ajeng Barri Hastuti [Hb.6.18.12.9]
1799688/8 <930> < Raden Mas Raharjo [Hb.6.18.12.7]
1800689/8 <930> < Raden Mas Kusumo Suprapto [Hb.6.18.12.8]
1801690/8 <930> < Raden Ajeng Sri Indarti [Hb.6.18.12.6]
1802691/8 <928> < Raden Ajeng Atas Waruti [Hb.6.18.11.5]
1803692/8 <928> < Raden Ajeng Atas Sriyati [Hb.6.18.11.4]
1804693/8 <928> < Raden Mas Supratiknyo [Hb.6.18.11.1]
1805694/8 <928> < Raden Mas Suhardiman [Hb.6.18.11.2]
1806695/8 <928> < Raden Ajeng Atas Suwartinah [Hb.6.18.11.3]
1807696/8 <925> < Raden Mas Surodi [Hb.6.18.8.1]
1808697/8 <917> < Raden Ajeng Atas Kartini [Hb.6.18.7.1]
1809698/8 <913> < Raden Mas Sakirdanmerski [Hb.6.18.1.1]
1810699/8 <913> < Raden Mas Sudiyanto [Hb.6.18.1.5]
1811700/8 <913> < Raden Ajeng Emperatrice [Hb.6.18.1.4]
1812701/8 <913> < Raden Mas Alberdien [Hb.6.18.1.3]
1813702/8 <913> < Raden Mas Danurdono [Hb.6.18.1.2]
1814703/8 <914> < Raden Mas Ibnusapari [Hb.6.18.2.1]
1815704/8 <914> < Raden Ajeng Sri Ambarkustin [Hb.6.18.2.5]
1816705/8 <914> < Raden Mas Ibnu Saipur [Hb.6.18.2.4]
1817706/8 <914> < Raden Mas Alwimalebari [Hb.6.18.2.3]
1818707/8 <914> < Raden Ajeng S. Sajarahbanun [Hb.6.18.2.2]
1819708/8 <675> < Raden Mas Sudomo [Hb.6.18.3.3]
1820709/8 <675> < Raden Ajeng Niniek [Hb.6.18.3.1]
1821710/8 <675> < Raden Ajeng Kustanti [Hb.6.18.3.2]
1822711/8 <675> < Raden Ajeng Suwasti [Hb.6.18.3.4]
1823712/8 <675> < Raden Ajeng Sriana [Hb.6.18.3.5]
1824713/8 <675> < Raden Mas Harjosubroto [Hb.6.18.3.6] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodiningrat) 1825714/8 <675> < Raden Mas Harjowiono [Hb.6.18.3.7]
1826715/8 <675> < Raden Ajeng Constantien [Hb.6.18.3.8]
1827716/8 <675> < Raden Mas Mustolo [Hb.6.18.3.9]
1828717/8 <675> < Raden Mas Harjo Seputro [Hb.6.18.3.10]
1829718/8 <957+265> < Raden Mas Sardono [Hb.7.68.4] 1830719/8 <964> < Raden Ajeng Kirana Yudantifani [Hb.7.54.4.2.1]
1831720/8 <964> < Raden Ajeng Kirana Yudamarinta Februari [Hb.7.54.4.2.2]
1832721/8 <968> < Anisa Adi Herawati Murningtyas [Hb.7.54.2.3.1]
1833722/8 <967> < Raden Mas Bambang Kirana Hermajati [Hb.7.54.2.2.1]
1834723/8 <967> < Raden Mas Herbagas Kiranamurti [Hb.7.54.2.2.2]
1835724/8 <675> < Raden Mas Jatiprakoso [Hb.6.18.3.2.4]
1836725/8 <675> < Raden Mas Jatiprayitno [Hb.6.18.3.2.5]
1837726/8 <970> < Raden Mas Dony Donasari [Hb.7.54.1.2.1]
1838727/8 <970> < Raden Ajeng Rany Rahadiantika [Hb.7.54.1.2.2]
1839728/8 <970> < Raden Ajeng Waryud Kemasari [Hb.7.54.1.2.3]
1840729/8 <915> < Raden Ajeng S. Sutarin [Hb.6.18.6.1]
1841730/8 <956> < Raden Ajeng Utarin [Hb.6.18.4.1] (Raden Ayu Satochid Kartanegara) 1842731/8 <956> < Raden Mas Umarsono Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.2]
1843732/8 <956> < Raden Mas Ariono Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.4]
1844733/8 <956> < Raden Mas Hadiono Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.3]
1845734/8 <956> < Raden Ajeng Utariah [Hb.6.18.4.5] (Raden Ayu Sudirman Kartohadiprojo) 1846735/8 <956> < Raden Mas Sutodo Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.6]
1847736/8 <956> < Raden Mas Utopo Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.7]
1848737/8 <956> < Raden Ajeng Atashari [Hb.6.18.4.11] (Raden Ayu Martono)
1849738/8 <956> < Raden Mas Usadarto Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.12]
1850739/8 <956> < Raden Ajeng Subanjirah [Hb.6.18.4.8] (Raden Ayu Wignyosuparto)
1851740/8 <956> < Raden Mas Moorianto Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.9] 1852741/8 <916> < Raden Ajeng Sadariah [Hb.6.18.5.1] ? (Raden Ayu Sumitro) 1853742/8 <916> < Raden Mas Rustamaji
1854743/8 <916> < Raden Ajeng Ayu Sri Chayati [Hb.6.18.5.3] ? (Raden Ayu Darmasto H. Panular) 1855744/8 <916> < Raden Ajeng Sri Kustilah
1856745/8 <916> < Raden Mas Rachim [Hb.6.18.5.5] ? (Louis Van S)
1857746/8 <916> < Raden Mas Sutarto [Hb.6.18.5.6]
1858747/8 <916> < Raden Mas Samsudi [Hb.6.18.5.7]
1859748/8 <915> < Raden Ajeng Sutariyah [Hb.6.18.6.2] ? (Raden Ayu Projodiningrat) 1860749/8 <915> < Raden Mas Herusutamto [Hb.6.18.6.3]
1861750/8 <915> < Raden Ajeng Siti Suwasti [Hb.6.18.6.4]
1862751/8 <915> < Raden Ajeng Maryati [Hb.6.18.6.5] ? (Raden Ayu Budiman) 1863752/8 <932+328> < Raden Mas Sumarsono [Hb.6.18.9.1]
1864753/8 <932+328> < Raden Mas Sudiono [Hb.6.18.9.2]
1865754/8 <932+328> < Raden Ajeng Atasasri [Hb.6.18.9.3] ? (Raden Ayu Muksis) 1866755/8 <932+328> < Raden Ajeng Atasamien [Hb.6.18.9.4] ? (Raden Ayu Hadinoto) 1867756/8 <932+328> < Raden Mas Sumantri [Hb.6.18.9.5]
1868757/8 <932+328> < Raden Mas Sudibyo [Hb.6.18.9.6]
1869758/8 <932+328> < Raden Mas Subari [Hb.6.18.9.7]
1870759/8 <932+328> < Raden Mas Suharyono [Hb.6.18.9.8]
1871760/8 <932+328> < Raden Ajeng Atas Asih [Hb.6.18.9.9] ? (Raden Ayu Hadikusumo) 1872761/8 <932+328> < Raden Mas Suwahyu Aji [Hb.6.18.9.10]
1873762/8 <926> < Raden Ajeng Karmiasih [Hb.6.18.10.1] (Raden Ayu Munoto Notokusumo) 1874763/8 <926> < Raden Ajeng Mustinah [Hb.6.18.10.2] (Raden Ayu Supangkat)
1875764/8 <926> < Raden Ajeng Musrinah [Hb.6.18.10.3] (Raden Ayu Suparto)
1876765/8 <926> < Raden Ajeng Musdilah [Hb.6.18.10.4] (Raden Ayu S. Reksodarmojo)
1877766/8 <926> < Raden Ajeng Musriati [Hb.6.18.10.5]
1878767/8 <926> < Raden Mas Mustopo [Hb.6.18.10.6]
1879768/8 <926> < Raden Mas Mustejo [Hb.6.18.10.7]
1880769/8 <926> < Raden Ajeng Mustiyah [Hb.6.18.10.8] (Raden Ayu Guharsono) 1881770/8 <926> < Raden Mas Mustaji [Hb.6.18.10.9]
1882771/8 <926> < Raden Mas Musigit [Hb.6.18.10.10]
1883772/8 <758+306> < Kanjeng Raden Tumenggung Jayaningrat [Hb.7.13.8] 1884773/8 <761+311> < Kanjeng Raden Tumenggung Condrodiningrat [Hb.7.27.1] (Raden Mas Ongkowijoyo) 1885774/8 <727+298> < Raden Mas Alfonds [Hb.6.20.28.1]
1886775/8 <727+298> < Raden Ajeng Suul [Hb.6.20.28.2]
1887776/8 <727+298> < Raden Ajeng Augusta [Hb.6.20.28.3]
1888777/8 <980+330> < Raden Ayu Kusrento Kasiah [Hb.6.23.2.1]
1889778/8 <980+330> < Raden Mas Tamtanus [Hb.6.23.2.2]
1890779/8 <980+330> < Raden Mas Iskandar [Hb.6.23.2.3]
1891780/8 <980+330> < Raden Mas Sidarto [Hb.6.23.2.4]
1892781/8 <980+330> < Raden Ayu Sayidiyah Tanidipuro [Hb.6.23.2.5]
1893782/8 <981> < Raden Ayu Agustinah [Hb.6.23.4.1]
1894783/8 <981> < Raden Mas Suripto [Hb.6.23.4.2]
1895784/8 <981> < Raden Mas Danang [Hb.6.23.4.3]
1896785/8 <982> < Raden Ayu Umayi Prayitno [Hb.6.23.3.1]
1897786/8 <982> < Kanjeng Raden Mas Tumenggung Umoyo Padmodipuro [Hb.6.23.3.2]
1898787/8 <881> < Raden Ayu Harjoatmojo [Hb.6.9.7.1]
1899788/8 <881> < Raden Ayu Harjokusumo [Hb.6.9.7.2]
1900789/8 <881> < Raden Ayu Sumekto [Hb.6.9.7.4]
1901790/8 <881> < Raden Ayu Legosuhoto [Hb.6.9.7.5]
1902791/8 <881> < Kanjeng Pangeran Haryo Mangunkusumo [Hb.6.9.7.6] 1903792/8 <681> < Raden Mas Pringgo Sastrosutadikusno [Hb.6.9.4.5] 1904793/8 <755+301> < Raden Ayu Purboningrat [Hb.7.1.2]
1905794/8 <755+301> < Raden Ayu Suryo Subianto [Hb.7.1.3]
1906795/8 <755+301> < Raden Ayu Purbo Sudibyo [Hb.7.1.4]
1907796/8 <755+302> < Kanjeng Raden Tumenggung Brotodiprojo [Hb.7.1.6]
1908797/8 <755+301> < Raden Ayu Notoprajarto [Hb.7.1.5]
1909798/8 <755+302> < Kanjeng Raden Tumenggung Dipodiningrat [Hb.7.1.7]
1910799/8 <755+303> < Raden Ayu Dewi Marzuki [Hb.7.1.8]
1911800/8 <755+303> < Raden Ayu Sudiyat [Hb.7.1.9]
1912801/8 <755> < Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodiprojo [Hb.7.1.10]
1913802/8 <755> < Raden Ayu Suwahyo [Hb.7.1.11]
1914803/8 <1015+1016!> < Raden Mas Ngaskarul Sujangi [Hb.7.76.4]
1915804/8 <1015+1016!> < Raden Mas Lenggana [Hb.7.76.3]
1916805/8 <1015+1016!> < Raden Ajeng Sriwiyati [Hb.7.76.2]
1917806/8 <1015+1016!> < Raden Ajeng Nuning Warini [Hb.7.76.1]
1918807/8 <1017+334> < Bendoro Raden Ayu Murdaningrat [Hb.7.74.3]
1919808/8 <1017+334> < Raden Ajeng Siti Kismardewi [Hb.7.74.1]
1920809/8 <983+1902!> < Raden Ajeng Siti Onengan [Hb.7.71.6] (Raden Ayu Sutatwo Hadiwigeno) 1921810/8 <983+1902!> < Raden Mas Supono [Hb.7.71.5] (Kanjeng Raden Tumenggung Hastono Negoro)
1922811/8 <983+1902!> < Raden Mas Sucitro [Hb.7.71.4]
1923812/8 <983+1902!> < Raden Mas Widotomo [Hb.7.71.3]
perkawinan: <491> < Hartati Widotomo d. 7 Februari 2024
1924813/8 <983+1902!> < Raden Mas Swayitno [Hb.7.71.2]
1925814/8 <983+1902!> < Bendoro Raden Ayu Benowo [Hb.7.71.1] 1926815/8 <1109+102> < Raden Ayu Hadinegoro Enem [Gp.Hb.7.68.2] Raden Ajeng Ismusiratun 1928816/8 <957+1926!> < Raden Mas Nirantoro [Hb.7.68.14]
1929817/8 <957+1926!> < Raden Mas Sinangjono [Hb.7.68.13]
1930818/8 <957+1926!> < Raden Ajeng Harjanti [Hb.7.68.12] (Raden Ayu Sumbogo) 1931819/8 <957+1926!> < Raden Ajeng Suparwati [Hb.7.68.11] (Raden Ayu Kuncoro) 1932820/8 <957+1926!> < Raden Ajeng Srimulat [Hb.7.68.10] (Raden Ayu Widarso) 1934821/8 <957+1926!> < Raden Mas Rimawan [Hb.7.68.8]
1935822/8 <957+1926!> < Raden Ajeng Siti Sunarti [Hb.7.68.7] (Raden Ayu Hambarjan) 1936823/8 <957+1926!> < Raden Ajeng Ismarpinjun Kastupi [Hb.7.68.6] (Raden Ayu Suwanto Singaranu) 1937824/8 <957+265> < Raden Ajeng Siti Sumarti [Hb.7.68.5]
1938825/8 <957+265> < Raden Mas Sutrisno [Hb.7.68.3]
1939826/8 <957+265> < Raden Mas Sutiyanto [Hb.7.68.2]
1940827/8 <957+265> < Raden Mas Asimkuwari [Hb.7.68.1]
1941828/8 <756+1569!> < Raden Mas Kesowo [Hb.7.58.4]
1942829/8 <756+1569!> < Raden Ajeng Widayat Sumalyo [Hb.7.58.2]
1943830/8 <756+1568!> < Raden Mas L. Sayoko [Hb.7.58.3]
1944831/8 <756+1569!> < Raden Ajeng Sri Sahuti [Hb.7.58.6]
1945832/8 <756+1569!> < Raden Mas Danisworo [Hb.7.58.7]
1946833/8 <756+1569!> < Raden Ajeng Srie Haryati [Hb.7.58.8] (Raden Ayu Gandhi Purno) 1947834/8 <756+1568!> < Raden Ajeng Suparmi [Hb.7.58.9] (Raden Ayu Kusumo Widayat) 1948835/8 <1018+348> < Raden Mas Winoto Parartho [Hb.7.56.4]
1949836/8 <1018+348> < Raden Ajeng Musjati [Hb.7.56.3] (Raden Ayu Suryowinoto) 1950837/8 <1018+348> < Raden Ajeng Nuryati [Hb.7.56.2] (Raden Ayu Sutratmo Hadisusanto) 1951838/8 <1018+348> < Raden Ajeng Nurini [Hb.7.56.1] (Raden Ayu Suryokusumo) 1952839/8 <991+334> < Raden Ayu Condrohalpito [Hb.7.47.1]
1953840/8 <991+334> < Raden Ayu Puspodiningrat [Hb.7.47.2]
1954841/8 <991+334> < Kanjeng Raden Tumenggung Brongtodiningrat [Hb.7.47.3]
1955842/8 <991+334> < Raden Mas Ruslanu Danurusamsi [Hb.7.47.4]
1956843/8 <991+334> < Raden Ajeng Sumiyarti [Hb.7.47.5]
1957844/8 <991+334> < Raden Mas Sutresno [Hb.7.47.6]
1958845/8 <991+334> < Raden Mas Rudhatin [Hb.7.47.7]
1959846/8 <993> < Raden Ajeng Palentinah [Hb.7.45.5]
1960847/8 <993> < Raden Ayu Karloon [Hb.7.45.3]
1961848/8 <993> < Raden Mas Suryo Sucipto [Hb.7.45.2]
1962849/8 <993> < Raden Ajeng Sumarsih [Hb.7.45.4] (Raden Ayu M. Sarlono) 1963850/8 <993> < Raden Mas Yordan [Hb.7.45.1] (Raden Lurah Condrolukito)
1964851/8 <1012> < Raden Mas Basuki [Hb.7.19.4]
1965852/8 <1012> < Raden Ayu Suryaningprang [Hb.7.19.3]
1966853/8 <1012+343> < Raden Ajeng Suharti [Hb.7.19.1] (Bendoro Raden Ayu Suryohamijoyo) 1967854/8 <758+305> < Raden Lurah Hatmosuwarno [Hb.7.13.3]
1968855/8 <754+300> < Raden Ayu Wiroguno [Hb.7.4.1] 1969856/8 <754+300> < Kanjeng Raden Tumenggung Poncokusumo [Hb.7.4.2]
1970857/8 <754+300> < Raden Mas Atmo Tjondropawiro [Hb.7.4.4]
1971858/8 <754+300> < Raden Ayu Danuningrat [Hb.7.4.7]
1972859/8 <754+300> < Kanjeng Raden Tumenggung Joyowinoto [Hb.7.4.10]
1973860/8 <754+300> < Kanjeng Raden Tumenggung Pusponegoro [Hb.7.4.9] 1974861/8 <754+300> < Kanjeng Raden Tumenggung Nitinegoro [Hb.7.4.8]
1975862/8 <754+300> < Raden Ayu Ambar Kusumo [Hb.7.4.6] (Raden Ayu Danudirjo)
1976863/8 <754+300> < Raden Ayu Danusewoyo [Hb.7.4.5]
1977864/8 <754+300> < Raden Ayu Mangun Prawiro Wiguno [Hb.7.4.3]
1978865/8 <758+304> < Raden Lurah Atmocondrodipuro [Hb.7.13.1]
1979866/8 <758+306> < Raden Mas Sudarmojo [Hb.7.13.2]
1980867/8 <758+304> < Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodipuro [Hb.7.13.4]
1981868/8 <758+304> < Raden Rio Kusumoatmojo [Hb.7.13.5]
1982869/8 <758+305> < Raden Wedono Kawindrogupito [Hb.7.13.7]
1983870/8 <758+309> < Raden Ayu Kaharkusmen [Hb.7.13.6]
1984871/8 <758+310> < Raden Mas Suarli [Hb.7.13.14]
1985872/8 <758+308> < Raden Ngabehi Puspopertomo [Hb.7.13.9]
1986873/8 <758+306> < Raden Ayu Wiryoatmojo [Hb.7.13.13]
1987874/8 <758+306> < Raden Ayu Kartosudirjo [Hb.7.13.10]
1988875/8 <758+304> < Raden Lurah Atmocondrosebdo [Hb.7.13.11]
1989876/8 <758+308> < Raden Rio Mandoyoseputro [Hb.7.13.12]
1990877/8 <758+308> < Raden Ajeng Suhatijah [Hb.7.13.15] (Raden Ayu Dibyoharjono) 1991878/8 <758+307> < Raden Mas Suhadiyo [Hb.7.13.28]
1992879/8 <758+310> < Raden Rio Mandoyoseputro [Hb.7.13.27]
1993880/8 <758+308> < Raden Mas Sumaji [Hb.7.13.26]
1994881/8 <758+1025!> < Raden Mas Rio Condrodiningrat [Hb.7.13.25]
1995882/8 <758+1025!> < Raden Mas Menot [Hb.7.13.24]
1996883/8 <758+308> < Raden Ayu Achmad Dahlan [Hb.7.13.23]
1997884/8 <758+1025!> < Raden Mas Yataskiru / Jonggrang [Hb.7.13.22]
1998885/8 <758+304> < Raden Panji Joyosetejo [Hb.7.13.21]
1999886/8 <758+1025!> < Raden Ajeng Suhadijah [Hb.7.13.20]
2000887/8 <758+308> < Kanjeng Raden Tumenggung Yudaningrat [Hb.7.13.19]
2001888/8 <758+306> < Raden Ayu Daryono [Hb.7.13.17]
2002889/8 <758+310> < Raden Bagus Atmocondrokukilo [Hb.7.13.16]
2003890/8 <759+239> < Raden Ajeng Siti Suharjinah [Hb.7.17.1] (Raden Ayu Pringgowiyono)
2004891/8 <759+239> < Raden Ajeng Siti Hardiyah [Hb.7.17.2] (Raden Ayu Kasto)
2005892/8 <759+239> < Raden Mas Sudarmadi [Hb.7.17.4] (Raden Lurah Atmokusumo)
2006893/8 <759+240> < Raden Mas Sumradono [Hb.7.17.6]
2007894/8 <759+240> < Raden Ajeng Siti Martiyah [Hb.7.17.7]
2008895/8 <759+242> < Raden Ajeng Siti Suminarjinah [Hb.7.17.12]
2009896/8 <759+240> < Raden Mas Wisnubroto [Hb.7.17.17]
2010897/8 <759+243> < Raden Mas Muryatmi [Hb.7.17.19]
2011898/8 <759+239> < Raden Mas Nayadi [Hb.7.17.20]
2012899/8 <759> < Raden Mas Wiyitmo [Hb.7.17.22]
2013900/8 <759+243> < Raden Mas Subardi [Hb.7.17.23] (Raden Wedono Atmocondroutomo)
2014901/8 <759+240> < Raden Mas Suyadi [Hb.7.17.26]
2015902/8 <759+239> < Raden Mas Sutiyardi [Hb.7.17.27] (Raden Bagus Atmosuryodiprojo)
2016903/8 <759+240> < Raden Ajeng Siti Partinah [Hb.7.17.29] (Raden Ayu Gondokusumo)
2017904/8 <759+245> < Raden Mas Sumardi [Hb.7.17.36] (Kanjeng Raden Tumenggung Hastonokusumo)
2018905/8 <759+238> < Raden Ajeng Siti Kadaretno [Hb.7.17.37]
2019906/8 <759+246> < Raden Ajeng Siti Isjarun [Hb.7.17.39] (Raden Ayu Notodiningrat)
2020907/8 <759+238> < Raden Ajeng Sri Kusumo [Hb.7.17.40] (Raden Ayu D. Susanto)
2021908/8 <759> < Raden Mas Alex Matram [Hb.7.17.41] (Raden Mas Sukoharjo)
2022909/8 <759> < Raden Ayu Constantia Sumekar [Hb.7.17.42]
2023910/8 <759+238> < Raden Ajeng Takiyatun [Hb.7.17.38] (Raden Ayu Warsonokusumo)
2024911/8 <759+238> < Raden Ajeng Puntorini [Hb.7.17.34] (Raden Ayu Sosrokusumo)
2025912/8 <759+243> < Raden Ajeng Siti Samtiyah [Hb.7.17.32] (Raden Ayu Jayengkusumo)
2026913/8 <759+239> < Raden Mas Daryadi [Hb.7.17.31] (Raden Bekel Atmocondrowardoyo)
2027914/8 <759+242> < Raden Ajeng Siti Kusumaningdyah [Hb.7.17.15] (Raden Ayu Cokrodipuro)
2028915/8 <759+240> < Raden Mas Gunardi [Hb.7.17.16] (Raden Lurah Projokusumo)
2029916/8 <759+240> < Raden Mas Kusnadi [Hb.7.17.21] (Raden Wedono Pringgosastrokusumo)
2030917/8 <759+244> < Raden Mas Jayadi [Hb.7.17.24] (Raden Mas Mangkuseputro)
2031918/8 <759+244> < Raden Mas Rusyadi [Hb.7.17.14] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodilogo) 2032919/8 <759+805!> < Raden Mas Gendroyono [Hb.7.17.13] (Raden Lurah Atmocondroatmojo)
2033920/8 <759+240> < Raden Ajeng Siti Samsinah [Hb.7.17.11] (Raden Ayu Sumaryokusumo)
2034921/8 <759+241> < Raden Ajeng Siti Samsiyah [Hb.7.17.10] (Raden Ayu Hendrobujono) 2035922/8 <759+240> < Raden Ajeng Siti Mukadar [Hb.7.17.9] (Raden Ayu Puspohasmoro)
2036923/8 <759+241> < Raden Ajeng Siti Samsirin [Hb.7.17.8] (Raden Ayu Suryosudirjo) 2037924/8 <759+241> < Raden Mas Sudayadi [Hb.7.17.5] (Kanjeng Pangeran Haryo Widyokusumo)
2038925/8 <759+240> < Raden Ajeng Siti Joharin [Hb.7.17.3] (Raden Ayu Puspodiprojo) 2039926/8 <759+240> < Raden Mas Sunardi [Hb.7.17.18] (Raden Lurah Atmocondrowinoto)
2040927/8 <875+248> < Bendoro Raden Ajeng Siti Putriyah [Hb.7.20.1] (Bendoro Raden Ayu Atmo Condrokusumo) 2041928/8 <875+248> < Bendoro Raden Ajeng Siti Suratkabirun [Hb.7.20.2] (Bendoro Raden Ayu Atmo Condroseputro) 2042929/8 <875+249> < Bendoro Raden Ayu Siti Kisari [Hb.7.20.6]
2043930/8 <875+249> < Bendoro Raden Ajeng Siti Suratun K. [Hb.7.20.10] (Bendoro Raden Ayu Mertonegoro)
2044931/8 <875+249> < Bendoro Raden Ajeng Siti Yukadiru [Hb.7.20.15] (Bendoro Raden Ayu Tirtodiningrat) 2045932/8 <875+249> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kasantani [Hb.7.20.21]
2046933/8 <875+250> < Bendoro Raden Mas Dulatussaripi [Hb.7.20.22]
2047934/8 <875+252> < Bendoro Raden Ajeng Ipji Dangunikri [Hb.7.20.23] (Bendoro Raden Ayu Nitidipuro)
2048935/8 <875+250> < Bendoro Raden Mas Rijalun [Hb.7.20.25]
2049936/8 <703+875!> < Bendoro Raden Mas Salikut Takijati [Hb.7.20.27]
2050937/8 <875+1554!> < Bendoro Raden Mas Nojatun [Hb.7.20.29]
2051938/8 <680> < Raden Mas Kusumo Malebari [Hb.7.24.2]
2052939/8 <680> < Raden Ajeng Soortiati [Hb.7.24.1]
2053940/8 <680> < Raden Mas Darudono Winoto K. [Hb.7.24.3]
2054941/8 <680+253> < Raden Ajeng Pratiwi [Hb.7.24.9] (Raden Ayu Kanuyoso Jatiwibowo) 2055942/8 <680+253> < Raden Ajeng Sri Sundari [Hb.7.24.8] (Raden Ayu Darmanto) 2056943/8 <680> < Raden Mas Ruslan [Hb.7.24.7] (Kanjeng Raden Tumenggung Purboseputro)
2057944/8 <680> < Raden Mas Rojeswenski [Hb.7.24.6] (Raden Mas Suryodiningrat)
2058945/8 <680> < Raden Ajeng Loorniati [Hb.7.24.5] (Raden Ayu Suharto Mangku Kawoco) 2059946/8 <680> < Raden Ajeng Roostiati [Hb.7.24.4] (Raden Ayu Gondokusumo)
2060947/8 <680+253> < Raden Ajeng Utari [Hb.7.24.10] (Raden Ayu Samudro)
2061948/8 <680+253> < Raden Ajeng Gendari [Hb.7.24.11] (Raden Ayu Apialul Jildi)
2062949/8 <680+253> < Raden Ajeng Kandihowo [Hb.7.24.16] (Raden Ayu Suharjo)
2063950/8 <680+253> < Raden Mas Fransiskus Josef Padyo [Hb.7.24.15]
2064951/8 <680+253> < Raden Mas Wisnu Wardhana [Hb.7.24.14]
2065952/8 <680+253> < Raden Mas Wasisto Suryodiningrat [Hb.7.24.13]
2066953/8 <680+253> < Raden Ajeng Trisnolo [Hb.7.24.12] (Raden Ayu Mustafa Rasyid) 2067954/8 <761+311> < Raden Ayu Sri Rahmani [Hb.7.27.4] (Raden Ayu Prawirodiningrat) 2068955/8 <761+311> < Raden Ayu Sarikirnen [Hb.7.27.2] (Raden Ayu Roestamdji Sorot) 2069956/8 <761+312> < Raden Ayu Widaninggar [Hb.7.27.3] (Raden Ayu Soedomo) 2070957/8 <651+256> < Bendoro Raden Mas Muposolukatini
2071958/8 <651+257> < Bendoro Raden Mas Ila ul-Kirami ? (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Murdaningrat)
2072959/8 <651+257> < Bendoro Raden Ajeng Siti Mutasangilun [Hb.8.12]
2073960/8 <651+257> < Bendoro Raden Mas Rasisulngaskari [Hb.8.22] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Bintoro)
2074961/8 <761+312> < Raden Ayu Sri Sutengsu [Hb.7.27.5] (Raden Ayu Notohadiprawiro) 2075962/8 <761+313> < Raden Mas Hino Rimawan [Hb.7.27.6] (Raden Rio Kusumobroto) 2076963/8 <761+311> < Raden Mas Hari Murti [Hb.7.27.7] (Raden Rio Tejonegoro)
2077964/8 <761+314> < Raden Ayu Mardusari [Hb.7.27.8] (Raden Ayu Puruboyo)
2078965/8 <761+315> < Raden Mas Nimpuno [Hb.7.27.9] (Raden Wedono Wilopokusumo)
2079966/8 <761+311> < Raden Ayu Sudyapti [Hb.7.27.10]
2080967/8 <761+314> < Raden Mas Sadono [Hb.7.27.11]
2081968/8 <761+315> < Raden Mas Sukesti [Hb.7.27.13] (Kanjeng Raden Tumenggung Tejohadiningrat) 2082969/8 <761+316> < Raden Mas Puntadewa [Hb.7.27.14] 2083970/8 <907> < Raden Ajeng Siti Rukiyah [Hb.7.30.1] (Raden Ayu Sastrosubandiyo)
2084971/8 <907> < Raden Ajeng Siti Maemunah [Hb.7.30.3] (Raden Ayu Resodiningrat)
2085972/8 <907> < Raden Mas Umar Katab [Hb.7.30.4] (Kanjeng Raden Tumenggung Suryoatmojo)
2086973/8 <907> < Raden Ajeng Siti Sutatdinah [Hb.7.30.8] (Raden Ayu Noorsasongko)
2087974/8 <907> < Raden Ajeng Siti Yatdaru [Hb.7.30.7] (Raden Ayu Suryaningrat)
2088975/8 <907> < Raden Ajeng Siti Sumardinah [Hb.7.30.6] (Raden Ayu Nayono Sumonegoro)
2089976/8 <907> < Raden Ajeng Siti Supilah [Hb.7.30.5] (Raden Ayu Pringgokusumo)
2090977/8 <1026> < Raden Ajeng Irma Vijanzi [Hb.7.31.2.6.1]
2091978/8 <1026> < Raden Mas Augy Reza [Hb.7.31.2.6.2]
2092979/8 <1027> < Raden Mas Nandi Dirgantoro [Hb.7.31.2.5.1]
2093980/8 <1027> < Raden Ajeng Nia Otviana [Hb.7.31.2.5.2]
2094981/8 <1027> < Raden Ajeng Rury Nilashanti [Hb.7.31.2.5.3]
2095982/8 <1031> < Raden Mas Punto Wibowo [Hb.7.31.2.1.8]
2096983/8 <1031> < Raden Ajeng Ursamsi [Hb.7.31.2.1.7]
2097984/8 <1031> < Raden Mas Punto Ismoro [Hb.7.31.2.1.5]
2098985/8 <1031> < Raden Mas Punto Aji [Hb.7.31.2.1.1]
2099986/8 <1031> < Raden Mas Punto Dewo [Hb.7.31.2.1.2]
2100987/8 <1031> < Raden Ajeng Urwaçi [Hb.7.31.2.1.3]
2101988/8 <1031> < Raden Mas Punto Kumoro [Hb.7.31.2.1.4]
2102989/8 <1031> < Raden Mas Punto Argari Sidarto [Hb.7.31.2.1.6]
2103990/8 <1029> < Raden Mas Senoaji Narantaka [Hb.7.31.2.3.3]
2104991/8 <1029> < Raden Ajeng Ekorini Widyaninggar [Hb.7.31.2.3.1] (Raden Ayu Widiyanto)
2105992/8 <1029> < Raden Mas Iwan Wirawan Wijayahadi [Hb.7.31.2.3.2]
2106993/8 <1030> < Raden Mas Jokotilarso [Hb.7.31.2.2.1]
2107994/8 <1030> < Raden Ajeng Estiningsih [Hb.7.31.2.2.2] (Raden Ayu Mawardi)
2108995/8 <1030> < Raden Ajeng Widyaningsih [Hb.7.31.2.2.3]
2109996/8 <1028> < Raden Ajeng Baby Admiratwati [Hb.7.31.2.4.1]
2110997/8 <1028> < Raden Mas Julhandiarso [Hb.7.31.2.4.2]
2111998/8 <1028> < Raden Mas (nn) [Hb.7.31.2.4.3]
2112999/8 <1028> < Raden Ajeng Dinda Yulhantri Wahyuni [Hb.7.31.2.4.4] (Raden Ayu Zahry Anwar)
21131000/8 <1038> < Raden Ajeng Esti Widyanti [Hb.7.31.4.1.1]
21141001/8 <1038> < Raden Ajeng Yudiarti [Hb.7.31.4.1.2] (Raden Ayu Margo Santoso) 21151002/8 <1037+355> < Raden Mas Prasetyo Jatiraharjo [Hb.7.31.4.2.4]
21161003/8 <1037+355> < Raden Mas Mustiko Prahadimulyo [Hb.7.31.4.2.3]
21171004/8 <1037+355> < Raden Ajeng Niken Hastutiningtyas [Hb.7.31.4.2.2] (Raden Ayu Nugroho Edi Sasongko) 21181005/8 <1037+355> < Raden Mas Purwoko Edhi Nugroho [Hb.7.31.4.2.1]
21191006/8 <1036> < Raden Ajeng Dian Ansari [Hb.7.31.4.3.1]
21201007/8 <1036> < Raden Mas Baroto [Hb.7.31.4.3.2]
21211008/8 <1036> < Raden Ajeng Santi Pudiati [Hb.7.31.4.3.3]
21221009/8 <1035> < Raden Ajeng V. Laksmitosari [Hb.7.31.4.4.1]
21231010/8 <1035> < Raden Mas Y. Wisnu Dewanto [Hb.7.31.4.4.2]
21241011/8 <1034> < Raden Mas Kartiko [Hb.7.31.4.5.1]
21251012/8 <1034> < Raden Ajeng Adriani [Hb.7.31.4.5.2]
21261013/8 <1033> < Raden Mas Agus Purwanto [Hb.7.31.4.6.1]
21271014/8 <1033> < Raden Ajeng Purwaningsih Kusumomardani [Hb.7.31.4.6.2]
21281015/8 <1032> < Raden Mas Y. Kurniawan [Hb.7.31.4.7.1]
21291016/8 <1052> < Raden Ajeng Sulistyawati [Hb.7.31.6.10.1]
21301017/8 <1052> < Raden Mas Adi Suryabintara [Hb.7.31.6.10.2]
21311018/8 <1041> < Raden Mas Oktareza Jamin [Hb.7.31.6.1.4]
21321019/8 <1041> < Raden Mas Rafendi Jamin [Hb.7.31.6.1.2]
21331020/8 <1041> < Raden Ajeng Sylviani [Hb.7.31.6.1.3]
21341021/8 <1041> < Raden Ajeng Diana Andayani [Hb.7.31.6.1.1]
21351022/8 <1044> < Raden Ajeng Dian Rosalina [Hb.7.31.6.8.4]
21361023/8 <1044> < Raden Mas Agus Triatmaji [Hb.7.31.6.8.3]
21371024/8 <1044> < Raden Ajeng Maria Alberti Budi Suryandari [Hb.7.31.6.8.2]
21381025/8 <1044> < Raden Ajeng Maria Theresia Asti Wulandari [Hb.7.31.6.8.1]
21391026/8 <1045> < Raden Ajeng Andiani [Hb.7.31.6.7.1]
21401027/8 <1045> < Raden Mas Hamengku B. Salib [Hb.7.31.6.7.2]
21411028/8 <1045> < Raden Mas Sarjono Trengginas T. Salib [Hb.7.31.6.7.3]
21421029/8 <1046> < Raden Ajeng Astri Nugrahino [Hb.7.31.6.6.3]
21431030/8 <1046> < Raden Ajeng Riris Nareswati [Hb.7.31.6.6.2]
21441031/8 <1046> < Raden Mas Punki Panungka [Hb.7.31.6.6.1]
21451032/8 <1048> < Raden Mas Kesuma Mathew Aji [Hb.7.31.6.14.4]
21461033/8 <1048> < Raden Mas Satria Andrew Aji [Hb.7.31.6.14.3]
21471034/8 <1048> < Raden Mas Perwira Yoshua Aji [Hb.7.31.6.14.2]
21481035/8 <1048> < Raden Mas Mahesa Benjamin Aji [Hb.7.31.6.14.1]
21491036/8 <1049> < Raden Ajeng Pangesti Marginingsih Rahayu [Hb.7.31.6.13.1]
21501037/8 <1049> < Raden Mas Fadilah Rahmaning Widyas [Hb.7.31.6.13.5]
21511038/8 <1049> < Raden Mas Fatah Adiriswari Ibnu Aji [Hb.7.31.6.13.4]
21521039/8 <1049> < Raden Ajeng Salamah Rizki Prasanti P.n. [Hb.7.31.6.13.3]
21531040/8 <1049> < Raden Ajeng Wuri Handayani [Hb.7.31.6.13.2]
21541041/8 <1050> < Raden Ajeng Vernasia Kusumaningrum [Hb.7.31.6.12.1]
21551042/8 <1050> < Raden Mas Fernando Kusumaningrat Aji [Hb.7.31.6.12.2]
21561043/8 <1051> < Raden Mas Riyanto Wahyudi [Hb.7.31.6.11.1]
21571044/8 <1051> < Raden Mas Antono Wahyudi [Hb.7.31.6.11.2]
21581045/8 <651+255> < Bendoro Raden Mas [No Name] [Hb.8.2]
21591046/8 <1008+342> < 1. Raden Mas Ratjulun
21601047/8 <1008+342> < 2. Raden Ajeng Dadut
Abdulmalik.jpeg
21611048/8 <1053> < Syeikh Abdul Malik
Tokoh

SYEIKH MUHAMMAD ABDUL MALIK (Mursyid Sederhana dan Penyayang Santri Miskin)


Purwokerto adalah ibukota kabupaten Banyumas, Jawa Tengah yang terletak di selatan Gunung Slamet, salah satu gunung berapi yang masih aktif di pulau Jawa. Purwokerto merupakan salah satu pusat perdagangan dan pendidikan di kawasan selatan Jawa Tengah.

Sementara kabupaten Banyumas sendiri merupakan sebuah kawasan kebudayaan yang memiliki ciri khas tertentu di antara keanekaragaman budaya Jawa yang disebut sebagai budaya Banyumasan. Ciri khas ini ditandai dengan kekhasan dialek bahasa, citra seni dan tipologi masyarakatnya.

Bentang alam wilayah banyumasan berupa dataran tinggi dan pegunungan serta lembah-lembah dengan bentangan sungai-sungai yang menjamin kelangsungan pertanian dengan irigasi tradisional. kondisi yang demikian membenarkan kenyataan kesuburan wilayah ini (gemah ripah loh jinawi).

Dulunya, kawasan ini adalah tempat penyingkiran para pengikut Pangeran Diponegoro setelah perlawanan mereka dipatahkan oleh Kompeni Belanda. Maka tidak aneh, bila hingga masa kini masih terdapat banyak sekali keluarga-keluarga yang memiliki silsilah hingga Pangeran Diponegoro dan para tokoh pengikutnya.

Keluarga-keluarga keturunan Pangeran Diponegoro dan tokoh-tokohnya yang telah menyingkir dari pusat kerajaan Matararam waktu itu, kemudian menurunkan para pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh ulama hingga saat ini.

Salah satu dari sekian banyak tokoh ulama keturunan Pangeran Diponegoro di kawasan Banyumas ini adalah Syekh Abdul Malik bin Muhammad Ilyas, Mursyid Thariqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah dan Thariqoh Syadzaliyah di Jawa Tengah.

Silsilah dan Pendidikan Sudah menjadi tradisi di kawasan Banyumasan kala itu, apabila ada seorang ibu hendak melahirkan, maka dihamparkanlah tikar di atas lantai sebagai tempat bersalin. Suatu saat ada seorang ibu yang telah mempersiapkan persalinannya sesuai tradisi tersebut, namun rupanya sang bayi tidak juga kunjung terlahir. Melihat hal ini, maka sang suami segera memerintahkan istrinya untuk pindah ke tempat tidur dan menjalani persalinan di atas ranjang saja. Tak berapa lama terlahirlah seorang bayi mungil yang kemudian dinamakan Muhammad Ash'ad, artinya Muhammad yang naik (dari tikar ke tempat tidur). Peristiwa ini terjadi di Kedung Paruk Purwokerto, pada hari Jum'at, tanggal 3 Rajab tahun 1294 H. (1881 M.) Nama lengkapnya adalah Muhammad Ash'ad bin Muhammad Ilyas. Kelak bayi mungil ini lebih dikenal sebagai Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk Purwokerto.

Beliau merupakan keturunan Pangeran Diponegoro berdasarkan ”Surat Kekancingan” (semacam surat pernyataan kelahiran) dari pustaka Kraton Yogyakarta dengan rincian Muhammad Ash’ad, Abdul Malik bin Muhammad Ilyas bin Raden Mas Haji Ali Dipowongso bin HPA. Diponegoro II bin HPA. Diponegoro I (Abdul Hamid) bin Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III Yogyakarta. Nama Abdul Malik diperoleh dari sang ayah ketika mengajaknya menunaikan ibadah haji bersama.

Sejak kecil, Abdul Malik memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya. Setelah belajar al-Qur'an kepada ayahnya, Abdul Malik diperintahkan untuk melanjutkan pendidikannya kepada Kyai Abu bakar bin Haji Yahya Ngasinan, Kebasen, Banyumas.

Selain itu, ia juga memperoleh pendidikan dan pengasuhan dari saudara-saudaranya yang berada di Sokaraja,sebuah kecamatan di sebelah timur Purwokerto. Di Sokaraja ini terdapat saudara Abdul Malik yang bernama Kyai Muhammad Affandi, seorang ulama sekaligus saudagar kaya raya. Memiliki beberapa kapal haji yang dipergunakan untuk perjalanan menuju Tanah Suci.

Ketika menginjak usia 18 tahun, Abdul Malik dikirim ke Tanah Suci untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai didiplin ilmu agama, seperti Tafsir, Ulumul Qur'an, Hadits, Fiqih, Tasawuf dan lain-lain. Pada tahun 1327 H. Abdul Malik pulang ke kampung halaman setelah kurang lebih 15 tahun belajar di Tanah Haram. Selanjutnya ia berkhidmat kepada kedua orang tuanya yang sudah sepuh (lanjut usia). Lima tahun kemudian (1333 H.) ayahandanya (Muhammad Ilyas) meninggal dalam usia 170 tahun dan dimakamkan di Sokaraja.

Sepeninggal ayahnya, Abdul Malik muda berkeinginan melakukan perjalanan ke daerah-daerah sekitar Banyumas, seperti Semarang, Pekalongan, Yogyakarta dengan berjalan kaki. Perjalanan ini diakhiri tepat pada seratus hari wafatnya sang ayah. Abdul Malik kemudian tinggal dan menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Sejak saat ini, ia kemudian lebih dikenal sebagai Syeikh Abdul Malik Kedung Paruk.

Guru-Guru Syeikh Abdul Malik mempunyai banyak guru, baik selama belajar di Tanah Air maupun di Tanah Suci. Di antara guru-gurunya adalah Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tirmisi al-Jawi, Sayyid Umar as-Syatha' dan Sayyid Muhammad Syatha', keduanya merupakan ulama besar Makkah dan Imam Masjidil Haram dan Sayyid Alwi Syihab bin Shalih bin Aqil bin Yahya.

Sebelum berangkat ke tanah Suci, Syeikh Abdul Malik sempat berguru kepada Kyai Muhammad Sholeh bin Umar Darat Semarang, Sayyid Habib Ahmad Fad'aq (seorang ulama besar yang berusia cukup panjang, wafat dalam usia 141 tahun), Habib 'Aththas Abu Bakar al-Atthas; Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Surabaya; Sayyid Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas Bogor.

Sanad Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah diperolehnya secara langsung dari sang ayah, Syaikh Muhammad Ilyas; sedangkan sanad Thoriqah Sadzaliyah didapatkannya dari Sayyid Ahmad Nahrawi Al-Makki (Mekkah).

Selama bermukim di Makkah, Syeikh Abdul Malik diangkat oleh pemerintah Arab Saudi sebagai Wakil Mufti Madzhab Syafi'i, diberi kesempatan untuk mengajar berbagai ilmu agama termasuk, tafsir dan qira'ah sab'ah. Sempat menerima kehormatan berupa rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes.

Menurut beberapa santrinya, Syekh Abdul Malik sebenarnya tinggal di Makkah selama kurang lebih 35 tahun, tetapi tidak dalam suatu waktu. Di samping belajar di tanah Suci selama 15 tahun, ia juga seringkali membimbing jamaah haji Indonesia asal Banyumas, bekerjasama dengan Syeikh Mathar Makkah. Aktivitas ini dilakukan dalam waktu yang relatif lama, jadi sebenarnya, masa 35 tahun itu tidaklah mutlak.

Perjuangan Fisik Adalah tidak benar, jika para ulama ahli tasawuf disebut sebagai para pemalas, bodoh, kumal dan mengabaikan urusan-urusan duniawi. Meski tidak berpakaian Necis, namun mereka senantiasa tanggap terhadap berbagai kejadian yang ada di sekitarnya. Ketika zaman bergolak dalam revolusi fisik untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa asing, para ulama ahli Thoriqoh senyatanya juga turut berjuang dalam satu tarikan nafas demi memerdekakan bangsanya.

Pada masa-masa sulit zaman penjajahan Belanda dan Jepang, Syeikh Abdul Malik senantiasa gigih berdakwah. Karena aktivitasnya ini, maka ia pun menjadi salah satu target penangkapan tentara-tentara kolonial. Mereka sangat khawatir pada pengaruh dakwahnya yang mempengaruhi rakyat Indonesia untuk memberontak terhadap penjajah. Menghadapi situasi seperti ini, ia justru meleburkan diri dalam laskar-laskar rakyat. Sebagaimana Pangeran Diponegoro, leluhurnya yang berbaur bersama rakyat untuk menentang penjajahan Belanda, maka ia pun senantiasa menyuntikkan semangat perjuangan terhadap para gerilyawan di perbukitan Gunung Slamet.

Pada masa Gestapu, Syeikh Abdul Malik juga sempat ditahan oleh PKI. Bersamanya, ditangkap pula Habib Hasyim al-Quthban Yogyakarta, ketika sedang bepergian menuju daerah Bumiayu Brebes untuk memberikan ilmu kekebalan atau kesaktian kepada para laskar pemuda Islam. Dalam tahanan ini, Habib Hasyim al-Quthban mengalami shock dan akhirnya meninggal, sedangkan Syekh Abdul Malik masih hidup dan akhirnya dibebaskan.

Kepribadian Dalam hidupnya, Syeikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca al-Qur’an dan Shalawat. Dikenal sebagai ulama yang mempunyai berkepribadian sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian akhlakul karimah. Maka amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.

Syeikh Abdul Malik adalah pribadi yang sangat sederhana, santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahim kepada murid-muridnya, terutama kepada mereka yang miskin atau sedang mengalami kesulitan hidup. Santri-santri yang biasa dikunjunginya ini, selain mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, dukuh waluh, Bojong, juga sanri-santri lain yang tinggal di tempat jauh.

Setiap hari Selasa pagi, dengan bersepeda, naik becak atau dokar, Syeikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian, sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan. Acara ini merupakan forum silaturrahim bagi para pengikut Thoriqah Naqsyabandiyah Kholidiyah Kedung paruk yang diisi dengan pengajian dan tawajjuhan.

Syeikh Abdul Malik juga dikenal memiliki hubungan baik dengan para ulama dan habaib, Bahkan dianggap sebagai guru bagi mereka, seperti KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Soleh bin Muhsin al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bafaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi (Brani, Probolinggo), dan lain-lain.

Termasuk di antara para ulama yang sering berkunjung ke kediaman Syeikh Abdul Malik ini adalah Syeikh Ma’shum (Lasem, Rembang) yang sering mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik sebagai tabarruk (meminta barakah) kepadanya. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Kholil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas). Para ulama ini merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, namun tetap belajar ilmu al-Qur’an kepada Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk.

Sementara itu, murid-murid langsung dari Syeikh Abdul Malik di antaranya adalah KH Abdul Qadir, Kiai Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah), KH Sahlan (Pekalongan), Drs. Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma’shum (Purwokerto) dan lain-lain.

Selain, menularkan ilmunya kepada santri-santi yang kemudian menjadi ulama dan pemimpin umat, Syeikh Abdul Malik juga memiliki santri-santri dari berbagai kalangan, seperti Haji Hambali Kudus, seorang pedagang yang dermawan dan tidak pernah rugi dalam aktivitas dagangnya dan Kyai Abdul Hadi Klaten, seorang penjudi yang kemudian bertaubat dan menjadi hamba Allah yang shaleh dan gemar beribadah.

Keluarga Syeikh Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas menikahi tiga orang istri, dua di antaranya dikaruniai keturunan. Istri pertamanya adalah Nyai Hajjah Warsiti binti Abu Bakar yang lebih dikenal dengan nama Mbah Johar. Seorang wanita terpandang, puteri gurunya, K Abu Bakar bin H Yahya Kelewedi Ngasinan, Kebasen. Istri pertama ini kemudian dicerai setelah dikaruniai seorang anak lelaki bernama Ahmad Busyairi (wafat tahun 1953, pada usia sekitar 30 tahun).

Ada sebuah cerita unik tentang putera pertamanya ini. Ahmad Busyairi adalah seorang pemuda yang meninggal dunia sebelum sempat menikah. Suatu hari Syeikh Abdul Malik berkata padanya, ”Nak, besok kamu menikah di surga saja ya?” Mendengar ayahnya bertutur demikian, muka Busyairi terlihat ceria dan hatinya merasa sangat gembira. Beberapa waktu kemudian, ia meninggal sebelum berkesempatan menikah.

Istri kedua Syeikh Abdul Malik adalah Mbah Mrenek, seorang janda kaya raya dari desa Mrenek, Maos Cilacap. Pernikahan ini tidak dikaruniai anak. Istimewanya, suatu hari Syeikh Abdul Malik hendak menceraikannya, namun Mbah Mrenek berkata, ”Pak Kyai, meskipun Panjenengan (Anda) tidak lagi menyukai saya, tapi tolong jangan ceraikan saya. Yang penting saya diakui menjadi istri Anda, dunia dan akhirat.” Mendengar permintaan ini, Syeikh Abdul Malik pun tidak jadi menceraikannya.

Sedangkan istri ketiga-nya adalah Nyai Hj. Siti Khasanah, seorang wanita cantik dan shalihah, tetangganya sendiri. Pernikahan ini, dikaruniai seorang anak perempuan bernama Hj. Siti Khairiyyah yang wafat empat tahun sepeninggal Syekh Abdul Malik. Dari puterinya inilah nasab Syeikh Abdul Malik diteruskan.

Pesan dan Berpulang Salah seorang cucu Syeikh Abdul Malik mengatakan, ada tiga pesan dan wasiat yang disampaikan Beliau kepada cucu-cucunya. Pertama, jangan meninggalkan shalat. Tegakkan shalat sebagaimana telah dicontohkan Rasululah SAW. Lakukan shalat fardhu pada waktunya secara berjama'ah. Perbanyak shalat sunnah serta ajarkan kepada para generasi penerus sedini mungkin.

Kedua, jangan tinggalkan membaca al-Qur'an. Baca dan pelajari setiap hari serta ajarkan sendiri sedini mungkin kepada anak-anak. Sebarkan al-Qur'an di mana pun berada. Jadikan sebagai pedoman hidup dan lantunkan dengan suara merdu. Hormati orang-orang yang hafal al-Qur'an dan qari'-qari'ah serta muliakan tempat-tempat pelestariannya.

Ketiga, jangan tinggalkan membaca shalawat, baca dan amalkan setiap hari. Contoh dan teladani kehidupan Rasulullah SAW serta tegakkanlah sunnah-sunnahnya. Sebarkan bacaan shalawat Rasulullah, selamatkan dan sebarluaskan ajarannya.

Pada hari Kamis, 21 Jumadil Akhir 1400 H. yang bertepatan dengan 17 April 1980 M. sekitar pukul 18.30 WIB (malam Jum’at), Syekh Abdul Malik meminta izin kepada istrinya untuk melakukan shalat Isya' dan masuk ke dalam kamar khalwat-nya. Tiga puluh menit kemudian, salah seorang cucunya mengetuk kamar tersebut, namun tidak ada jawaban. Setelah pintu dibuka, rupanya sang mursyid telah berbaring dengan posisi kepala di utara dan kaki di selatan, tanpa sehela nafas pun berhembus. Syeikh Abdul Malik kemudian dimakamkan pada hari Jum’at, selepas shalat Ashar di belakang Masjid Bahaul Haq wa Dhiyauddin Kedung Paruk, Purwokerto. (Zakki Amali/syf)
21671049/8 <1054+270> < Taufan Soekarnoputra
21681050/8 <1054+270> < Bayu Soekarnoputra
21721051/8 <652+277> < Kanjeng Pangeran Haryo Probokusumo
21731052/8 <652+277> < Bendoro Raden Ayu Retno Sundari
21741053/8 <652+277> < Bendoro Raden Ayu Retno Sewayani
21751054/8 <652+277> < Kanjeng Pangeran Haryo Songkokusumo
21761055/8 <652+277> < Bendoro Raden Ajeng Retno Pudjawati
21771056/8 <652+277> < Kanjeng Pangeran Haryo Ndoyokusumo
21781057/8 <652+277> < Kanjeng Pangeran Haryo Wijoyokusumo
21791058/8 <652+276> < Bendoro Raden Ayu Retno Martani
21801059/8 <652+276> < Kanjeng Pangeran Haryo Gondhokusumo
21811060/8 <652+276> < Bendoro Raden Ayu Retno Suskamdani
21821061/8 <652+276> < Bendoro Raden Ayu Retno Rukmini
21851062/8 <652+276> < Kanjeng Pangeran Haryo Indrokusumo
21871063/8 <739> < 3. Raden Ayu Samsilah (P.Praja Ambon)
21881064/8 <739> < 4. Ibrahim (Ktr Gub. Ambon)
21891065/8 <1056> < 1. RM. Abd Hamid
21901066/8 <1056> < 2. RM. Abd. Rachman (Ambon)
21911067/8 <1056> < 3. RM. Abd. Gafur (Tasikmalaya)
21921068/8 <1056> < 4. RM. Ismail
21931069/8 <1056> < 5. RA. Kalsum
21941070/8 <1056> < 6. RA. Mudjani (Ambon)
21951071/8 <1056> < 7. RM. Abdullah (Polisi Magelang)
21961072/8 <1056> < 8. RM. Achmad (Djaw Peladjaran Tj Priok)
21971073/8 <1056> < 9. RM. Abd. Gani (Ambon)
21981074/8 <1057> < 1. Raden Mas Abdul Radjak (Makassar)
21991075/8 <1057> < 2. Raden Mas Abdul Gafur (Tj Priok)
22001076/8 <1057> < 3. Raden Ayu Ramlah (Ambon)
22011077/8 <1058> < 1. Raden Mas Abdul Mutalib (Ambon)
22021078/8 <1058> < 2. RM. Abdul Manap (Ambon)
22031079/8 <1060> < 1. RM. Muhammad
22041080/8 <1060> < 2. RA. Sakilah
22051081/8 <1060> < 3. RA. Timur (Bandung)
22061082/8 <740> < 1. RM. Nursewan
22071083/8 <740> < 2. RA. Hartati
22081084/8 <741> < 2. RM. Said
22091085/8 <741> < 3. RM. Abd. Rachman
22101086/8 <741> < 5. RA. Fatma (Surabaya)
22111087/8 <742> < 1. RA. Nurani (Ambon)
22121088/8 <742> < 2. RM. Samaun
22131089/8 <742> < 3. RM. Said (Tj Priok)
22141090/8 <742> < 4. RA. Dinar
22151091/8 <742> < 5. RM. Abdullah
22161092/8 <742> < 6. RA. Djasian (Tj. Priok)
22171093/8 <746> < 3. RM. Indra Djohan Diponegoro (Jakarta)
22181094/8 <747> < 1. RA. Supatmi Diponegoro (Ambon)
22191095/8 <747> < 2. RM. Muhammad Diponegoro
22201096/8 <747> < 3. RA. Pawon (Bandung)
22211097/8 <747> < 4. RA. Djahro (Ambon)
22221098/8 <747> < 5. RA. Neng
22231099/8 <747> < 6. RA. Samsirin (Ambon)
22261100/8 <760+262> < Raden Bekel Condrosentono 22301101/8 <1091> < Raden Mas Warso Sunardi
22311102/8 <1092> < Raden Nganten Fifit Indriastuti
22321103/8 <1092> < Raden Herry Widigdo
22331104/8 <1093> < Raden Surjono
22341105/8 <1093> < Raden Nganten Sri Purwanti
22351106/8 <1093> < Raden Agus Surjanto
22361107/8 <1094+358> < Raden Ajeng Sumaryatin (Raden Ajoe Hardjomenggolo) 22371108/8 <1098> < Raden Jogolaksito
22381109/8 <1089+357> < R. A. Kus Sismulistiawati
22391110/8 <1089+357> < M. Andree Tjakraningrat
22401111/8 <1089+357> < Kus Mikailla
22411112/8 <1089+357> < M. Endrawan
22421113/8 <1109+102> < Raden Mas Ismali
22431114/8 <1109+102> < Raden Mas Ismono
22441115/8 <1109+102> < Raden Mas Ismadji
22451116/8 <1109+102> < Raden Ajeng Ismodirah
22461117/8 <1109+102> < Raden Ajeng Iswarkamsi
22471118/8 <1109+102> < Raden Mas Ispudiardjo
22481119/8 <812> < Raden Mas Teguh Pambudi
22491120/8 <1116> < Raden Imam Sutrisno
22501121/8 <1117> < Raden Roro Hisni Sriwidayati
22511122/8 <1118> < R. Sastra Werdaya
22521123/8 <1118> < R. Muhson
22531124/8 <1118> < R. Imam Pura
22541125/8 <1118> < R. Sarbini
22551126/8 <1118> < R. Dalail
22561127/8 <1118> < RA. Nyai Muhamad Raja
22571128/8 <1118> < RA. Nyai Habibah
22581129/8 <1118> < RA. Nyai Danadi
22591130/8 <817> < Raden Ajeng Poedjiastoeti
22601131/8 <817> < Raden Mas Soebandi
22611132/8 <1010+344> < G. R. A. Siti Djinzoelkari
GRA. Siti Djinzoelkari meninggal dalam usia muda.
22621133/8 <1131+?> < R. Ngt. Wargosumilah
dimakamkan di Pangukan
22631134/8 <1131+?> < Raden Supardjo
22641135/8 <1131+?> < R Agus Soekardjono
22651136/8 <1131+?> < Rr. Mursiyam
dimakamkan di taji
22671137/8 <1131+?> < R. Sukarso Yahman
22681138/8 <1125> < Surachman
22691139/8 <1126> < R. Ngt. Prawiroduto
22701140/8 <1126> < R. Ngt. Prawirolin
22711141/8 <1127> < KRT Dirdjonegoro
22721142/8 <1128> < R. Atmosudihardjo
22731143/8 <1128> < R. Sutopo
22741144/8 <1128> < R. Dalpanggih
22751145/8 <1129> < R. Ngt. Tjokrosendjoyo
22761146/8 <1130> < R. Ngt. Imoparindjono
22771147/8 <1130> < R. Ngt. Dulrachman
22781148/8 <1130> < R. Ngt. Sugiyah
22791149/8 <1132> < R. Harsono
22801150/8 <1132> < Rr. Harsinah
22811151/8 <1132> < R. Ngt. Sukoasih
22821152/8 <1132> < R. Sutiardjo
22831153/8 <1132> < R. Ngt. Sutiarti
22841154/8 <1133+360> < Soeharmi
22851155/8 <1133+360> < Siti Naidini Partini
22861156/8 <876> < Raden Mas Hatma Sadeli 22891157/8 <1134> < Raden Roro Asfiyah [Hb.3.2.8.14.1.6.3]
22901158/8 <1134> < Raden Anis Musthofa [Hb.3.2.8.14.1.6.2]
22911159/8 <1134> < Raden Haji Anwaruddin [Hb.3.2.8.14.1.6.4]
22921160/8 <1134> < Raden Haji Achyari [Hb.3.2.8.14.1.6.5]
22931161/8 <1134> < Raden Haji Ammarudin [Hb.3.2.8.14.1.6.6]
22951162/8 <1134> < Raden Agus Muhammad [Hb.3.2.8.14.1.6.8]
22971163/8 <1134> < Raden Haji Ansorulloh [Hb.3.2.8.14.1.6.11]
22981164/8 <1134> < Raden Roro Anisah [Hb.3.2.8.14.1.6.12]
22991165/8 <1134> < Raden Roro Arina Chayati [Hb.3.2.8.14.1.6.13]
23001166/8 <1134> < Raden Amrulloh [Hb.3.2.8.14.1.6.14]