Gusti Kanjeng Ratu Kedhaton [Gp.Hb.2] b. 1750 d. Juli 1820 - Keturunan (Inventaris)

Dari Rodovid ID
Orang:363374
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.

1

Princes.jpeg
11/1 <?> < Gusti Kanjeng Ratu Kedhaton [Gp.Hb.2]
lahir: 1750
perkawinan: <1> < 4. Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono II [Hb. 1.4] b. 7 Maret 1750 d. 3 Januari 1828
wafat: Juli 1820

2

HB III.jpg
21/2 <1+1> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III [Hb.2.]
lahir: 20 Februari 1769, Yogyakarta
perkawinan: <2> < Bendoro Raden Ayu Murtiningsih [Ga.Hb.3.21]
perkawinan: <3> < Bendoro Raden Ayu Hadiningdiah [Ga.Hb.3.22] / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti
perkawinan: <4> < Bendoro Mas Ayu Mindarsih
perkawinan: <5> < Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.1.?] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng [Gp.Hb.3.1]
perkawinan: <6> < Bendoro Raden Ayu Mangkorowati [Ga.Hb.3.1] b. 1770 d. 7 Oktober 1852
perkawinan: <7> < Bendoro Raden Ayu Dewaningrum
perkawinan: <8> < Bendoro Raden Ayu Lesmonowati ? (Ratu Kencono)
perkawinan: <9> < Bendoro Raden Ayu Kusumodiningrum
perkawinan: <10> < Bendoro Raden Ayu Mulyoningsih
perkawinan: <11> < Bendoro Raden Ayu Puspitosari
perkawinan: <12> < Bendoro Raden Ayu Mulyosari
perkawinan: <13> < Bendoro Mas Ayu Puspitoningsih
perkawinan: <14> < Bendoro Raden Ayu Puspitolangen
perkawinan: <15> < Bendoro Raden Ayu Kalpikowati
perkawinan: <16> < Bendoro Raden Ayu Surtikowati
perkawinan: <17> < Bendoro Raden Ayu Panukmowati
perkawinan: <18> < Bendoro Mas Ayu Madrasah
perkawinan: <19> < Bendoro Raden Ayu Padmowati
perkawinan: <20> < Bendoro Raden Ayu Wido
perkawinan: <21> < Bendoro Raden Ayu Doyopurnomo
perkawinan: <22> < Bendoro Raden Ayu Puspowati
perkawinan: <23> < Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Gp.Hb.3.1] ? (Prawirodirjo)
perkawinan: <24> < Gusti Kanjeng Ratu Wadhan [Gp.Hb.3.3]
perkawinan: <25> < Bendoro Mas Ayu Sasmitoningsih [Ga.Hb.3.19]
perkawinan: <26> < Bendoro Raden Ayu Renggoasmoro [Ga.Hb.3.20]
perkawinan: <27> < Bendoro Raden Ayu Hadiningsih [Ga.Hb.3.23]
gelar: 31 Desember 1808, Yogyakarta, Raja Putro Narendro Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro (Pangeran Wali)
gelar: 1810 - 28 Desember 1811, Yogyakarta
gelar: 12 Juni 1812 - 3 November 1814, Yogyakarta, Sultan of Yogyakarta, 3rd
wafat: 3 November 1814, Yogyakarta
Official Link Adm :Ir. H. Hilal Achmar

Nama aslinya adalah Raden Mas Surojo, putra Hamengkubuwana II yang lahir pada tanggal 20 Februari 1769. Pada bulan Desember 1810 terjadi serbuan tentara Belanda terhadap Keraton Yogyakarta sebagai kelanjutan dari permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Herman Daendels.

Hamengkubuwana II diturunkan secara paksa dari takhta. Herman Daendels kemudian mengangkat Raden Mas Surojo sebagai Hamengkubuwana III berpangkat regent, atau wakil raja. Ia juga menangkap dan menahan Pangeran Notokusumo saudara Hamengkubuwana II di Cirebon.

Pada tahun 1811 Inggris berhasil merebut jajahan Belanda terutama Jawa. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hamengkubuwana II untuk naik takhta kembali dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Desember 1811.

Kemudian terjadi permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Thomas Raffles, yaitu kepala pemerintahan Inggris di Jawa. Pertempuran terjadi di Keraton Yogyakarta, di mana Thomas Raffles membuang Hamengkubuwana II ke Pulau Penang, dan mengangkat kembali Hamengkubuwana III sebagai raja.

Akibat pertempuran tersebut, Kesultanan Yogyakarta harus menerima konsekuensi, antara lain:

Yogyakarta harus melepaskan daerah Kedu, separuh Pacitan, Japan, Jipang dan Grobogan kepada Inggris dan diganti kerugian sebesar 100.000 real setiap tahunnya. Angkatan perang Yogyakarta diperkecil dan hanya beberapa tentara keamanan keraton saja. Sebagian daerah kekuasaan keraton diserahkan kepada Pangeran Notokusumo yang berjasa mendukung Thomas Raffles, dan diangkat menjadi Paku Alam I.

Pemerintahan Hamengkubuwana III berakhir pada saat meninggalnya, yaitu tanggal 3 November 1814. Ia digantikan putranya yang masih anak-anak sebagai Hamengkubuwana IV. Sementara itu putra tertuanya yang lahir dari selir bernama Pangeran Diponegoro kelak melancarkan perang terhadap Belanda pada tahun 1825 – 1830.

Sri Sultan Hamengkubuwana III (lahir di Yogyakarta, 20 Februari 1769 – meninggal di Yogyakarta, 3 November 1814 pada umur 45 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah dalam dua periode, yaitu tahun 1810 – 1811 dan 1812 – 1814.

Kepustakaan

M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Pada 1814, Hamengku Buwono III meninggal. Pangeran Djarot, yang baru berusia 13 tahun, diangkat menjadi Hamengku Buwono IV. Praktis kendali kekuasaan dikuasai Patih Danurejo IV -seorang pro Belanda dan bahkan bergaya hidup Belanda. Perlahan kehidupan kraton makin menjauhi suasana yang diharapkan Diponegoro. Apalagi setelah adiknya, Hamengku Buwono IV meninggal pada 1822. Atas inisiatif Danurejo pula, Pangeran Menol yang baru berusia 3 tahun dinobatkan menjadi raja. Makin berkuasalah Danurejo. Saran-saran Diponegoro tak digubris. Danurejo dan Residen Yogya A.H. Smissaert malah berencana membuat jalan raya melewati tanah Diponegoro di Tegalrejo. Tanpa pemberitahuan, mereka mematok-matok tanah tersebut. Para pengikut Diponegoro mencabutinya. Diponegoro minta Belanda untuk mengubah rencananya tersebut. Juga untuk memecat Patih Danurejo. Namun, pada 20 Juli 1825, pasukan Belanda dan Danurejo IV mengepung Tegalrejo. Diponegoro telah mengungsikan warga setempat ke bukit-bukit Selarong. Di sana, ia juga mengorganisasikan pasukan. Pertempuran pun pecah. Upaya damai dicoba dirintis. Belanda dan Danurejo mengutus Pangeran Mangkubumi -keluarga kraton yang masih dihormati Diponegoro. Namun, setelah berdialog, Mangkubumi justru memutuskan bergabung dengan Diponegoro. Gubernur Jenderal van der Capellen memperkuat pasukannya di Yogya. Namun 200 orang tentara itu, termasuk komandannya Kapten Kumsius, tewas di Logorok, Utara Yogya, atas terjangan pasukan Diponegoro di bawah komando Mulyosentiko. Dalam pertikaian ini, dua kraton Surakarta -Paku Buwono dan Mangkunegoro- berpihak pada Belanda. Pasukan pimpinan Tumenggung Surorejo dapat menghancurkan pasukan bantuan Mangkunegoro. Di Magelang, pasukan Haji Usman, Haji Abdul Kadir mengalahkan tentara Belanda dan Tumenggung Danuningrat. Danuningrat tewas di pertempuran itu. Di Menoreh, Diponegoro sendiri memimpin pertempuran yang menewaskan banyak tentara Belanda dan Bupati Ario Sumodilogo. Markas Prambanan diduduki. Meriam-meriam Belanda berhasil dirampas. Di daerah Bojonegoro-Pati-Rembang, pihak Belanda ditaklukkan pasukan rakyat Sukowati pimpinan Kartodirjo. Pertahanan Belanda di Madiun dihancurkan pasukan Pangerang Serang dan Pangeran Syukur. Belanda kemudian mendatangkan pasukan Jenderal van Geen yang terkenal kejam di Sulawesi Selatan. Dalam pertempuran di Dekso, Sentot Alibasyah menewaskan hampir semua pasukan itu. Van Geen, Kolonel Cochius serta Pangeran Murdoningrat dan Pangeran Panular lolos. Murdoningrat dan Panular kembali menyerang Diponegoro. Kali ini bersama Letnan Habert. Di Lengkong, mereka bentrok. Habert tewas di tangan Diponegoro sendiri. Pasukan Surakarta yang sepakat melawan Diponegoro dihancurkan di Delanggu. Benteng Gowok yang dipimpin Kolonel Le Baron, jatuh dalam serbuan 15-16 Oktober 1826. Diponegoro tertembak di kaki dan dada dalam pertempuran itu. Pasukan Sentot Alibasyah yang tinggal selangkah merebut kraton Surakarta dimintanya mundur. Tujuan perang, kata Diponegoro, adalah melawan Belanda dan bukan bertempur sesama warga. Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, untuk sementara dibiarkan. Sekitar 200 benteng telah dibangun untuk mengurangi mobilitas pasukan Diponegoro. Perlahan langkah tersebut membawa hasil. Dua orang panglima penting Diponegoro tertangkap. Kyai Mojo tertangkap di Klaten pada 5 Nopember 1828. Sentot Alibasyah, dalam posisi terkepung, menyerah di Yogya Selatan pada 24 Oktober 1829. Diponegoro lalu menyetujui tawaran damai Belanda. Tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro disertai lima orang lainnya (Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock. Mereka disambut dengan upacara militer Belanda. Dalam perundingan itu, Diponegoro menuntut agar mendapat "kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan agama Islam."

De Kock melaksanakan tipu muslihatnya. Sesaat setelah perundingan itu, Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Semarang dan terus ke Betawi. Pada 3 Mei 1830, ia diasingkan ke Manado, dan kemudian dipindahkan lagi ke Ujungpandang (tahun 1834) sampai meninggal. Di tahanannya, di Benteng Ujungpandang, Diponegoro menulis "Babad Diponegoro" sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357 halaman.
32/2 <1+1> < 8. Gusti Kanjeng Ratu Bendara
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
43/2 <1+1> < 14. Gusti Kanjeng Ratu Hangger Krama
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
54/2 <1+1> < 18. Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi / Gusti Kanjeng Panembahan Mangkurat
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
65/2 <1+1> < 22. Gusti Bendoro Raden Ayu Maduretno ? (Gusti Kanjeng Ratu Prawirodirdja III)
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study

3

171/3 <2+8> < Bendoro Raden Ayu Mangkuwijoyo
Hilal Achmar Official Link
Dipo-Master2.jpeg
72/3 <2+6> < Pangeran Diponegoro [Hb.3.1] / Bendoro Raden Mas Mustahar
lahir: 11 November 1785, Yogyakarta
perkawinan: <32> < 3. Raden Ayu Retnodewati
perkawinan:
perkawinan: <33> < 5. Raden Ayu Retnaningsih b. 1810 d. 1885
perkawinan: <34> < 7. Raden Ayu Retnaningrum
perkawinan:
perkawinan:
perkawinan:
perkawinan: <35> < 1. Raden Ayu Retno Madubrongto
gelar: 3 September 1805, Yogyakarta, Bendoron Raden Mas Ontowiryo (Carey,Peter, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro, 2014, pp.17)
perkawinan: <36> < 2. Raden Ayu Retnakusuma / Raden Ayu Supadmi , Yogyakarta
perkawinan: <10!> < 3. Raden Ayu Maduretno / Raden Ayu Diponegoro (Bendoro Raden Ayu Ontowiryo) b. ~ 1798 d. 28 Februari 1827, Keraton Yogyakarta
perkawinan: <37> < 6. Raden Ayu Retnakumala
gelar: 15 Agustus 1825, Selarong, Yogyakarta, Sultan Eru Cakra, Sultan Ngah 'Abdu'l Hamid Eru Chakra Kabir ul-Mukminin Saiyid ud-din Panatagama Jawa Khalifat Rasu'llah
perkawinan: <37!> < 6. Raden Ayu Retnakumala , Kasongan
wafat: 8 Januari 1855, Makasar
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Lencana8.jpg


( KELUARGA KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT )


Sejarah Perjuangan Pangeran Diponegoro

Patung Pangeran Diponegoro Sumber : [1]

Latar Belakang

Sebagai putra sulung Sultan Hamengkubuwono (HB) III, raja kasultanan Jogyakarta Hadiningrat, Pangeran Diponegoro memiliki hubungan kekerabatan formal dengan kraton. Meskipun dia dibesarkan di luar tembok kraton, namun sebagai seorang pangeran dia tetap mendapat didikan ksatria Jawa, mengikuti tradisi kejawen, dan menghayati berbagai ritual kraton, tata cara, perilaku dan tutur bahasa yang sangat hierarkhis. Selain itu dia juga mendapat pendidikan perang seperti ulah kanuragan, olah senjata, menunggang kuda, dan juga ilmu pemerintahan.




Figur Diponegoro

Diponegoro adalah putra sulung Sultan Jogya, Sultan HB III atau Sultan Raja dari seorang selir. Dengan demikian dia adalah cucu Sultan HB II (Sultan Sepuh) dan cicit Sultan HB I (Sultan Swargi). Ibunya disebut-sebut bernama R.A. Mangkarawati yang menurut Peter Carey asal-usulnya masih kabur. Dikatakan putri itu berasal dari Majasta di daerah Pajang, dekat makam keramat Tembayat (Carey, 1991:2). Dalam naskah lain Carrey mengatakan dia adalah keturunan Ki Ageng Prampelan dari Pajang (Carey, 1974:74). Sagimun MD. memberitakan bahwa dia berasal dari Pacitan, putri seorang Bupati yang konon masih berdarah Madura (Sagimun, 1986:36). R. Tanojo dalam Sadjarah Pangeran Dipanagara Darah Madura mengatakan bahwa darah Madura yang mengalir pada Diponegoro bukan berasal dari pihak ibu tetapi justeru dari pihak ayah. Menurut silsilah, nenek Diponegoro, yakni Ratu Kedaton (permaisuri HB II) adalah generasi ke enam keturunan Pangeran Cakraningrat dari Tunjung Madura (Tanojo, t.t:4). Nama asli Diponegoro adalah Raden Mas Mustahar. Dia lahir di keraton Jogyakarta pada hari Jum'at Wage, tanggal 7 Muharram Tahun Be atau 11 Nopember 1785 Masehi sebagai putera sulung Sultan HB III (Carey, 1991:1). 1) Pada tahun 1805 Sultan HB II mengganti namanya menjadi Raden Mas Ontowiryo. Adapun nama Diponegoro dan gelar pangeran baru disandangnya sejak tahun 1812 ketika ayahnya naik takhta.

Sepanjang hidupnya, tercatat ada tujuh wanita yang pernah dinikahi oleh Pangeran Diponegoro. Pernikahan pertama, terjadi tahun 1803 dengan Raden Ayu (RA) Retna Madubrongto, putri Kyahi Gedhe Dadapan, dari desa Dadapan, sub distrik Tempel, dekat perbatasan Kedu dan Jogyakarta. Kedua, tanggal 27 Pebruari 1807 dengan Raden Ajeng Supadmi (R.A. Retnakusuma), putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang. Ketiga, tahun 1808 dengan R.A. Retnodewati. Baik Madubrongto maupun Retnodewati wafat sewaktu Diponegoro masih berada di Tegalrejo. Isteri Keempat, dinikahi pada tanggal 28 September 1814, yakni R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Ketika Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, dia diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton.l 18 Pebruari 1828. Keelima, bulan Januari 1828 Diponegoro menikahi R.A. Retnaningrum, putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II. Keenam, R.A. Retnaningsih, putri Raden Tumenggung Sumoprawiro, bupati Jipang Kepadhangan, dan ketujuh, R.A. Retnakumala, putri Kyahi Guru Kasongan (Babad, P. XIX, b. 21-26; Lihat juga Carey, 2007:767-769). 6)


Silsilah Keturunan Pangeran Diponegoro

klik Nama untuk membuka Silsilah
No. Nama Lahir Ibu Kandung
1. RM. ABDUL MADJID / DIPONEGORO ANOM 1803 RA. RETNA MADUBRONGTO
2. RM. DIPOATMAJA / DIPOKUSUMA/PANGERAN ABDUL AZIS 1805 RA. RETNA MADUBRONGTO
3. RM. SURYAATMAJA / DIPONINGRAT 1807 RA. SUPADMI / RA. RETNAKUSUMA
0. UNTUK SEMENTARA DI PUTUS ATAS NAMA "RM. SODEWO / SINGLON / PANGERAN ALIP:689908" 1810 RA. CITROWATI : 470488
4. RM. DJONET DIPOMENGGOLO 1815 RA. MADURETNO / RA. ONTOWIRYO
5. RM. ROUB/RM. RAAB 1816 RA. MADURETNO / RA. ONTOWIRYO
6. RA. IMPUN / RA. BASAH ---- RA. RETNODEWATI
7. RA. JOYOKUSUMO ---- RA. SUPADMI / RA. RETNA KUSUMA
8. RA. MUNTENG / RA. SITI FADILAH / RA. GUSTI ---- RA. RETNODEWATI
9. RA. HERJUMINTEN ---- RA. RETNAKUMALA
10. RA. HERJUMEROT ---- RA. RETNAKUMALA
11. RA. HANGRENI MANGUNJAYA ---- RA. RETNAKUMALA
12. RM. KINDAR 1832) RA. RETNANINGSIH
13. RM. SARKUMA 1834) RA. RETNANINGSIH
14. RM. MUNTAWARIDIN 1835 RA. RETNANINGSIH
15. RA. PUTRI MUNADIMA 1836 RA. RETNANINGSIH
16. RA. DULKABI 1836 RA. RETNANINGSIH
17. RM. RAJAB 1837 RA. RETNANINGSIH
18. RM. RAMAJI 1838 RA. RETNANINGSIH
19. RA. MANGKUKUSUMO ---- RA. RETNANINGRUM
20. RA. PADMODIPURO ---- RA. RETNANINGRUM
21. RA. PONCOKUSUMO ---- RA. RETNANINGRUM

Penangkapan dan Pengasingan

16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.

Lukisan karya Nicolaas Pieneman, "Penyerahan diri Pangeran Diponegero kepada Jenderal De Kock".28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.

Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock, 28 Maret 1830 akhir dari Perang Diponegoro (1825-1830). Lukisan Tahun 1835 Nicolaas_Pieneman (1809-1860), Sumber :[[2]]
Lukisan cat minyak Raden_Saleh tahun 1857 tentang Penangkapan Pangeran Diponegoro. Diceritakan bahwa Pangeran Diponegoro beserta pasukannya ditangkap dalam keadaan tidak bersenjata. Sumber : [[3]]
3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. Tidak kurang dari 19 orang yang terdiri dari keluarga dan stafnya ikut dalam pembuangan di Menado

11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch. 30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. 1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Jawa Makassar.

Benteng Rotterdam Makasar
Patung P. Diponegoro Berkuda Makasar
Makam P. Diponegoro & Anak-Cucunya

Lokasi makam Pangeran Diponegoro di Makassar, Sulawesi Selatan.Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen.

Bagus Singlon atau Ki Sodewo adalah Putera Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Citrowati Puteri Bupati Madiun Raden Ronggo. Raden Ayu Citrowati adalah saudara satu ayah lain ibu dengan Sentot Prawiro Dirjo. Nama Raden Mas Singlon atau Bagus Singlon atau Ki Sodewo sendiri telah masuk dalam daftar silsilah yang dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem Keraton Yogyakarta.

Perjuangan Ki Sodewo untuk mendampingi ayahnya dilandasi rasa dendam pada kematian eyangnya (Ronggo) dan ibundanya ketika Raden Ronggo dipaksa menyerah karena memberontak kepada Belanda. Melalui tangan-tangan pangeran Mataram yang sudah dikendalikan oleh Patih Danurejo, maka Raden Ronggo dapat ditaklukkan. Ki Sodewo kecil dan Sentot bersama keluarga bupati Madiun lalu diserahkan ke Keraton sebagai barang bukti suksesnya penyerbuan.

Ki Sodewo yang masih bayi lalu diambil oleh Pangeran Diponegoro lalu dititipkan pada sahabatnya bernama Ki Tembi. Ki Tembi lalu membawanya pergi dan selalu berpindah-pindah tempat agar keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Belanda sendiri pada saat itu sangat membenci anak turun Raden Ronggo yang sejak dulu terkenal sebagai penentang Belanda. Atas kehendak Pangeran Diponegoro, bayi tersebut diberi nama Singlon yang artinya penyamaran.

Keturunan Ki Sodewo saat ini banyak tinggal di bekas kantung-kantung perjuangan Ki Sodewo pada saat itu dengan bermacam macam profesi. Dengan restu para sesepuh dan dimotori oleh keturunan ke 7 Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Roni Muryanto, Keturunan Ki Sodewo membentuk sebuah paguyuban dengan nama Paguyuban Trah Sodewo.

Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Jawa, Sulawesi & Maluku.

Perang Jawa-3 ; 1825 – 1830 Perjuangan Islam Melawan Penjajah

Pangeran Diponegoro waktu muda (Lukisan H.M Lange tahun 1847), Sumber : [4]
Kyai Mojo (Lukisan Raden Saleh), Sumber : [5]

Langkah pertama yang ditempuh oleh Diponegoro adalah mengeluarkan seruan kepada seluruh rakyat Mataram untuk sama-sama berjuang menentang penguasa kolonial Belanda dan para tiran, yang senantiasa menindas rakyat. Seruan itu antara lain berbunyi: “Saudarasaudara di tanah dataran! Apabila saudura-¬saudara mencintai saya, datanglah dan bersama-sama saya dan paman saya ke Selarong. Siapa saja yang mencintai saya datangdah segera dan bersiap-siap untuk bertempur.” Seruan ini disebar-luaskan di seluruh tanah Mataram, khusuanya di Jawa Tengah dan mendapat sambutan hampir sebagian besar lapisan masyarakat. Dan daerah Selarong penuh sesak, dipenuhi oleh pasukan rakyat!

Seruan ini disambut baik oleh Kiai Mojo, seorang ulama besar dari daerah Mojo-Solo; yang datang bersama barisan santrinya menggabungkan diri dengan pasukan Diponegoro; ia menyerukan ‘perang sabil’ terhadap pihak penguasa kolonial Belanda. Jejak Kiai Mojo dengan santrinya, diikuti oleh para ulama dan santri-santri dari Kedu dibawah pimpinan Pangeran Abubakar; juga Muhamad Bahri, penghulu Tegalrejo. Perang sabil menentang penguasa kolonial Belanda-Kristen meledak membakar hampir seluruh tanah Mataram, bahkan sampai ke Jawa Timur dan Jawa Barat. Tampilnya Alibasah Abdul Mustafa Prawiradirja (Sentot) dan sebagian para bangsawan di kalangan penguasa kolonial Belanda dan kraton Yogyakarta. Akhimya diutuslah Pangeran Mangkubumi (paman Diponegoro) ke Tegakejo untuk memanggil Diponegoro ke kraton. Semula Diponegoro bersedia datang ke kraton, apabila ada jaminan dari Paugeran Mangkubumi bahwa ia tidak akan ditangkap. Tetapi karena Mangkubumi sendiri tidak berani menjamin dan bahkan ia sendiri tidak akan kembali lagi ke Yogyakarta, maka Diponegoro memperkuat diri dengan pasukan rakyat yang telah melakukan bai’ah (janji setia perjuangan). Melihat kegagalan Pangeran Mangkubumi ini untuk memanggil Diponegoro, Residen A.H. Smisaert mengutus kembali dua orang bupati yang dikawal dengan sepasukan militer. Sebelum utusan Belanda ini sampai, Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi yang sedang berunding menjadi terhenti, karena mendengar letusan senjata dan tembakan meriam yang ditujukan ke arah rumah Diponegoro. Serangan Belanda terhadap tempat kediaman Diponegoro, mengakibatkan Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi yang disertai kawalan pasukan rakyat mengungsi ke daerah selarong, guna selanjutnya melancarkan peperangan untuk mengusir penguasa kolonial Belanda dari daerah kekuasaan kesultanan yogyakarta, khususnya dan Jawa umumnya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 20 Juli 1825 dan disebut sebagai permulaan “Perang Jawa”.

Nyi Ageng Serang, selaku Penasehat Strategi Perang Jawa, Sumber : [6]
Sentot Alibasyah Prawiradirja, komandan pasukan Pangeran Diponegoro (lukisan G. Kepper Tahun 1900), Sumber : [7]

Yogyakarta seperti antara lain Pangeran Ngabehi Jayakusuma, putera Sultan Hamengku Buwono II dan pangeran Mangkubumi melengkapi “Perang Jawa” yang dahsyat. Strategi perang gerilya yang dipergunakan oleh Diponegoro dengan taktik “serang dengan tiba-tiba pasukan musuh kemudian menghilang-bersembunyi”, merupakan strategi dan taktik yang dapat melumpuhkan pasukan kolonial Belanda; setidak-tidaknya pada awal perang Jawa.

Berita pecahnya perang Jawa sangat mengejutkan pihak Gubernur Jenderal Van der Capellen di Batavia. Karenanya pada tanggal 26 Juli 1825, ia telah memutus¬kan untuk mengirimkan pasukan dari Batavia langsung di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hendrik Marcus De Kock, pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda. Pada tanggal 29 Juli 1825 Let. Jend. De Kock telah tiba di Semarang untuk memimpin langsung operasi militer terhadap pasukan Diponegoro. Pasukan kolonial Belanda yang dipimpin oleh Kapten Kumsius dengan kekuatan 200 prajurit, yang dikirim dari Semarang, di daerah pisangan dekat Magelang disergap oleh pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Mulya Sentika. Hampir seluruh pasukan Belanda berhasil dimusnahkan dan seluruh perlengkapan dan persenjataannya dirampas. Kekalahan pertama, menyebabkan Belanda me¬ngirimkan pasukan yang lebih besar dari Semarang dan dipimpin oleh Kolonel Von Jett untuk langsung me¬nyerang Selarong, markas besar pasukan Diponegoro. Tetapi serangan ini gagal, karena pasukan Diponegoro telah mengosongkan Selarong. Tatkala pasukan Belanda meninggalkan Selarong, di perjalanan, di tempat-tempat yang atrategis, pasukan Belanda diserang; sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar

Ilustrasi Perang, Sumber : [8]

Ibukota Yogyakarta di kepung oleh pasukan Diponegoro, sehingga pasukan kesultanan Yogyakarta dan Belanda terjepit, bahkan Sultan Hamengku Buwono V bersembunyi di benteng Beianda untuk menyelamatkan diri. Pada tanggal 28 Juli 1825, Belanda mengirimkan pasukan komando gabungan antara pasukan Belanda dan Mangkunegara dari Surakarta untuk menembus barikade pasukan Diponegoro di Yogyakarta, guna menyelamatkan pasukan Belanda dan Sultan Hamengku Buwono V yang terkurung. Tetapi pasukan komando gabungan Belanda Mangkunegara di bawah pimpinan Raden Mas Suwangsa di Randu Gunting dekat Kalasan disergap oleh pasukan Diponegoro dibawah pimpinan Tumenggung Surareja. Sergapan ini berhasil dengan baik dan Raden Mas Suwangsa, pimpinan komando gabungan itu sendiri tertangkap dan dibawa ke Selarong, markas besar pasukan Diponegoro.

Operasi militer Belanda yang senantiasa mengalami kekalahan, maka Let. Jend. De Kock menempuh jalan diplomasi, dengan jalan mengirim surat kepada Diponegoro; surat pertama tertanggal 7 Agustus 1825 dan surat kedua tertanggal 14 Agustus 1825. Isi surat-surat itu menyatakan keinginan Belanda untuk berunding dan bersedia memenuhi tuntutan-tuntutan Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi, dengan syarat: pertempuran dihentikan. Surat Let. Jend. De Kock diperkuat oleh surat Susuhunan Surakarta, tertanggal 14 Agustus 1825. Surat-surat baik dari De Kock maupun dari Susuhunan Surakarta, semuanya dijawab oleh Diponegoro, dengan menekankan bahwa Perang Jawa ini terjadi karena kesalahan Belanda yang bertindak otoriter dan zalim, yang dibantu oleh pasukan militer Susuhunan Surakarta. Perdamaian yang diajukan oleh Belanda dan Susuhunan Surakarta ditolak; kecuali pasukan kolonial Belanda angkat kaki dari bumi Mataram. Jalan diplomasi gagal. Karena tidak ada jalan lain, De Kock sebagai panglima tertinggi pasukan Hindia Belanda, mengerahkan pasukannya dari berbagai daerah Batavia: Bone, Madura, Bali, Ambon dan lain-lain untuk dipusatkan di sekitar Yogyakarta; guna menembus barikade pasukan Diponegoro. Baru pada tanggal 25 September 1825, De Kock dengan pasukan komando gabungan yang besar sekali berhasil memasuki Yogyakarta menyelamatkan pasukan Belanda yang terkepung dan Sultan Hamengku Buwono V. Pertempuran antara pasukan Belanda dengan pasukan Diponegoro tidak hanya terjadi di sekitar Yogyakarta, tetapi juga menjalar dan terjadi di Magelang, Semarang, Pekalongan, Banyumas, Bagelen dan daerah Kedu seluruhnya. Pertempuran makin hari makin meluas, menjalar ke daerah Jawa Timur seperti Madiun, Ngawi dan Pacitan. Pertempuran yang luas itu memang melumpuhkan dan melelahkan pasukan kolonial Belanda dan para kolaborator; bahkan serangan kedua ke markas besar Selarong; tidak berhasil menangkap dan me¬lumpuhkan pasukan Diponegoro.

Penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang (dilukis oleh G. Kepper pada tahun 1900), Sumber : [9]

Pada tahun-tahun pertama (1825 -1826) pasukan Diponegoro memperoleh banyak kemenangan. Dengan pasukan-pasukan berkuda, mereka dapat bergerak capat dan mobile dari satu daerah ke daerah lain, dari satu pertempuran ke pertempuran lain dan selalu lolos dari kepungan pasukan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya. Tetapi sejak tahun 1827 pasukan kolonial Belanda mulai unggul, selain karena besarnya bala-bantuan yang didatangkan dari daerah-daerah, tetapi juga merubah strategi pertempuran yang selama ini ditempuh. Let. Jend. De Kock, selaku panglima tertinggi Hindia melaksanakan “sistem benteng” dalam operasi militernya. Pasukan Belanda mendirikan benteng-benteng di wilayah yang telah dikuasai kembali. Antara benteng yang satu dengan benteng yang lain dibuat jalan se¬hingga pasukan dapat bergerak dengan cepat. Dengan sistem benteng itu, pasukan Diponegoro tidak lagi dapat bergerak dengan leluasa; hubungan antar pasukan menjadi sukar. Tiap pasukan terpaku pada daerah operasinya masing-masing. Gerakan mobile dan cepat yang selama ini menjadi ciri pasukan Diponegoro menjadi lumpuh. Daerah-daerah yang dikuasai kembali oleh Belanda didirikanlah benteng-benteng seperti di Minggir, Groyak, Bantul, Brosot; Puluwatu, Kejiwan, Telagapinian, Danalaya, Pasar Gede, Kemulaka, Trayema, Jatianom, Delanggu, Pijenan. Di daerah-daerah pertempuran sebelah timur, benteng-benteng itu terdapat di Rembang, Bancar, Jatiraga, Tuban, Rajegwesi, Blantunan, Blora, Pamotan, Babat, Kopas dan lain-lain.

Di daerah-daerah pertempuran sebelah barat, benteng-benteng didirikan di Pakeongan, Kemit, Panjer, Merden dan lain lain. Sistim benteng ini memang dapat melumpuhkan pasukan Diponegoro, apalagi setelah Sultan Sepuh yang telah berusia 70 tahun diangkat kembali menjadi Sultan Yogyakarta, yang secara psikologi sangat mempengaruhi pasukan Diponegoro. Oleh karena itu, berkat usaha Van Lawick von Pabst, Residen Yogyakarta, maka pada tanggal 21 Juni 1827, Pangeran Natapraja dan Pangeran Serang Sutawijaya beserta para pengikutnya lebih kurang 850 orang menyerah kepada Belanda dan diperlakukan dengan baik. Penyerahan Pangeran Natapraja dan Pangeran Serang adalah pukulan yang besar sekali bagi perang Jawa. Sebab dengan menyerahnya kedua orang pemimpin ini, maka daerah rawan dan daerah pertempuran di sebelah timur kehilangan pimpinan. Seperti telah dimaklumi bahwa kedua orang inilah yang memimpin pasukan Diponegoro di medan pertempuran sebelah timur, mengancam Semarang dan Demak.

Walau demikian, pukulan hebat ini tidak menyebabkan pasukan Diponegoro berputus asa. Di kota Gede Yogyakarta telah terjadi pertempuran yang seru antara pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Mas Tumenggung Reksasentana melawan pasukan kolonial Belanda. Pertempuran ini terjadi karena usaha Belanda untuk menggiring pasukan Diponegoro untuk berada di daerah antara Sungai Progo dan Sungai Begowonto. Pertempuran terus berlangsung, tetapi usaha diplomasi juga dijalankan oleh Belanda, apalagi setelah kedua Pangeran tersebut menyerah.Usaha diplomasi menunjukkan hasil yang menggembirakan, dengan diselenggarakannya perundingan antara pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Kiai Mojo dan Pangeran Ngabehi Abdul Rahman dengan pasukan Belanda di bawah pimpinan Stavers pada tanggal 29 Agustus 1827 di Cirian-Klaten. Perundingan ini tidak membuahkan suatu hasil apapun bagi kedua belah pihak. Tuntutan-tuntutan yang diajukan oleh Kiai Mojo dianggap terlalu berat oleh pihak Belanda, sebaliknya syarat-syarat yang diajukan oleh Belanda, termasuk janji-janji untuk memberikan kekuasaan yang luas kepada Diponegoro, tidak dapat diterima oleh Kiai Mojo. Perundingan yang gagal pada bulan Agustus 1827, mengakibatkan pada bulan September 1827 berkobar lagi pertempuran antara pasukan Diponegoro dengan pasukan kolonial Belanda di daerah-daerah Klaten, Puluwatu, Kemulaka dan Yogyakarta. Operasi militer Belanda yang besar ini langsung dipimpin oleh Jenderal Van Geen.

Pertempuran antara pasukan Kolonel Le Bron de Vexela dengan pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok (dilukis oleh G. Kepper pada tahun 1900), Sumber : [10]

Pada tanggal 10 Oktober 1827 diadakan kembali gencatan senjata untuk mengadakan perundingan perdamaian antara kedua belah pihak, bertempat di Gamping. Pihak Belanda di pimpin oleh Letnan Roeps, seorang opsir Belanda yang pandai berbahasa Jawa, sedangkan dipihak Diponegoro di pimpin oieh Tumeng¬gung Mangun Prawira. Tetapi perundingan inipun gagal, sebab tuntutan mengenai pelaksanaan syari’at Islam, seperti pernah diajukan pada perundingan pertama, sangat ditentang delegasi Belanda. Kegagalan perundingan kedua ini, diikuti oleh operasi militer Belanda secara besar-besaran di bawah pimpinan Kolonel Cochius dan Sollewijn menyerang daerah-daerah sebelah selatan Yogyakarta, Plered, Tegalsari, Semen dan-lain. Pada tanggal 25 Oktober 1827 pasukan Belanda di bawah Mayor Sollewijn menyerbu markas perjuangan Diponegoro di Banyumeneng, tetapi Diponegoro dengan pasukan-pasukannya berhasil menghindar. Tetapi dalam perjalanan pulang pasukan Sollewijn berhasil dijebak dan diserang oleh pasukan Diponegoro, sehingga memporak-porandakan pasukan Belanda; dan hanya dengan susah payah pasukan Sollewijn dapat menyeberangi sungai Progo, terus masuk ke kota Yogyakarta.

Pertempuran yang terjadi setelah kegagalan perundingan kedua ini, bukan hanya terjadi di sekitar Yogyakarta saja, tetapi juga terjadi dan berkecamuk di daerah-daerah Kedu, Banyumas, Bagelen, Bojonegoro, Rembang, Tuban. Hanya dengan susah payah, pasukan Belanda bisa bertahan dan menyelamatkan diri. Pertempuran yang timbul berkecamuk lagi ini, mendorong Jenderal De Kock untuk mengerahkan bala ¬bantuan, termasuk dari negeri Belanda sendiri. Dan memusatkan markas besarnya di kota Magelang pada tanggal 13 Maret 1828; dengan menempatkan markas besarnya di Magelang, maka pasukan Belanda dapat beroperasi lebih mobile, karena tempat itu sangat strategis untuk menjangkau daerah-daerah Semarang di utara, Surakarta di timur, Yogyakarta di selatan dan Banyumas di barat. Strategi ini cukup berhasil, karena daerah Kedu hampir seluruhnya dapat diamankan oleh pasukan Belanda.

Keunggulan Belanda di bidang militer, diikuti dengan kemenangan di bidang.diplomasi, di mana pada tanggal 28 April 1828, Pangeran Natadiningrat beserta isteri, ibu dan kira-kira 20 orang pasukannya menyerah kepada Letnan Kolonel Sollewijn. Penyerahan Natadiningrat ini sangat menggembirakan Belanda, karena sampai waktu itu; bolehlah dikatakan tidak ada keluarga terdekat Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi yang menyerah kepada Belanda. Pangeran Natadiningrat adalah putera kesayangan Pangeran Mangkubumi yang diharapkan oleh Belanda dapat membujuk ayahnya sendiri untuk menyerah kepada Belanda dan meninggalkan Diponegoro.

Selain itu, pasukan Diponegoro di daerah Rembang di bawah pimpinan Tumenggung Sasradilaga, yang semula berhasil memukul mundur pasukan Belanda, lambat-laun mulai terjepit dan akhirnya pada tanggal 3 oktober 1828 menyerah pula kepada Belanda. Kemudian operasi militer Belanda berhasil mempersempit daerah operasi pasukan Diponegoro dengan jalan menggiringnya ke daerah antara sungai Progo dan sungai Bogowonto. Usaha berhasil, setelah pertempuran sengit dengan pasukan Diponegoro di daerah Belige di bawah pimpinan Pangeran Bei pada tanggal 31 Maret 1828. Dengan daerah gerak yang makin sempit, sangat memungkinkan pasukan Belanda yang besar itu dapat mengurung pasukan Diponegoro. Apalagi banyak pasukan bekas anak buah Diponegoro yang menyerah kepada Belanda diikut-sertakan dalam operasi militer ini. Dalam posisi terus terdesak dan terjepit, pasukan Diponegoro bukan hanya kekurangan persenjataan, tetapi juga kekurangan suplai bahan makanan. Tambah ironis, dalam situasi semacam itu di kalangan pimpinan pasukan Diponegoro terjadi perpecahan; sehingga dengan tiba-tiba pada tanggal 25 Oktober 1828 Kiai Mojo dengan pasukannya menyatakan keinginannya untuk berunding dan mengadakan gencatan senjata dengan Belanda.

1886: Rakyat Jawa Tengah bertahan di Candi Parikesit (Dataran Tinggi Dieng) dalam Perang Jawa], Sumber : [11]

Pada tanggal 31 oktober 1828 perundingan berlangsung di Mlangi antara Kiai Mojo dengan delegasi Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Wiranegara, komandan pasukan kraton Yogyakarta. Perundingan dengan pengawalan yang ketat oleh pasukan Betanda, berakhir gagal. Perundingan kedua dilanjutkan lagi pada tanggal 5 Nopember 1828, dengan pengawalan ketat oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Le Bron de Vexela; juga berakhir dengan kegagalan. Ketika perundingan gagal, Kiai Mojo beserta pasukannya kembali ke tempat semula, tetapi senantissa diikuti oleh pasukan Letnan Kolonel Le Bron de Vexela. Dengan tiba-tiba pasukan Le Bron menyerang pasukan Kiai Mojo, tetapi gagal karena semua prajurit Kiai Mojo telah siap mati syahid. Letnan Kolonel Le Pron tak kehabisan akal untuk dapat menangkap Kiai Mojo. Tipu muslihat yang licik dan keji dipergunakan oleh Le Bron dengan mengajak berpura-pura untuk melanjutkan perundingan di Klaten. Kiai Mojo dengan pasukannya menyetujui tawaran ini. Kiai Mojo dengan pasukannya memasuki kota Klaten dengan nyanyian-nyanyian agama seolah-olah sebuah pasukan yang menang perang dari medan pertempuran.

Setelah sampai Klaten, Kiai Mojo diajak oleh Letnan Kolonel Le Bron de Vexela masuk ke sebuah gedung, sedangkan pssukannya beristirahat di luar. Dengan serta-merta Kiai Mojo ditangkap dan pasukannya yang sedang lengah disergap oleh pasukan Belanda yang lebih besar dan kuat persenjataannya. Dalam kondisi tak berdaya, Kiai Mojo beserta pasukannya tertangkap dan tertawan; tidak kurang dari 50 pucuk senapan dan 300 buah tombak yang dapat dilucuti dari pasukan Kiai Mojo. Bersamanya tertangkap pula para ulama yang turut menjadi pimpinan pasukan di medan per¬tempuran, seperti antara lain Kiai Tuku Mojo, Kiai Badren, Kiai Kasan Basari. Kiai Mojo beserta stafnya dibawa ke Surakarta; dari sana terus ke Salatiga tempat kediaman Jenderal De Kock. Dari Salatiga Kiai Mojo dengan teman-temannya dibawa ke Semarang untuk kemudian dikirim ke Batavia. Tertangkapnya Kiai Mojo dan stafnya diper¬gunakan sebaik-baiknya untuk bisa membujuk pasukan Diponegoro yang lainnya, yang masih melakukan perang gerilya. Pada awal Januari 1829, Komisaris Jenderal Du Bus telah mengirimkan Kapten Roeps dan seorang staf Kiai Mojo untuk mengadakan perundingan dengan Diponegoro di markas besarnya di Pengasih. Pada akhir Januari 1829 mereka dapat di terima di markas per¬juangan Diponegoro dan pembicaraan dimulai antara delegasi Belanda dengan delegasi Diponegoro. Tetapi di saat pembicaraan sedang berlangsung, tiba-tiba ter¬dengar suara dentuman meriam dari pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayor Bauer. Mendengar letusan meriam, serentak pasukan Diponegoro mau membunuh delegasi Belanda yang sedang berada di tengah-tengah meja perundingan. Berkat kebijaksanaan Alibasah (Sentot) delegasi Belanda itu dapat selamat dan me¬merintahkan agar pasukan Belanda mengundurkan diri, jika jiwa para delegasi Belanda ingin selamat.

Pada bulan Februari 1829 Belanda mengadakan gencatan senjata secara sepihak. Sebab Jenderal De Kock mencoba membujuk Alibasah, panglima muda remaja yang sangat ditakuti oleh Belanda. Jenderal De Kock mengirimkan surat kepada Alibasah, yang isinya antara lain menjamin kebebasan bepergian bagi Ali basah dengan pasukannya di daerah kekuasaan Belanda tanpa ada gangguan. Bahkan De Kock mengirimkan beberapa pucuk pistol kepada Alibasah sebagai tanda kenang-kenangan dan keinginan mau berdamai. Taktik licik Belanda ini mempengaruhi pimpinan pasukan Diponegoro, apalagi setelah beberapa tokoh pasukan Diponegoro seperti Tumenggung Padmanegara, Pangeran Pakuningrat diberikan kebebasan bepergian di daerah kekuasaan Belanda pada bulan Ramadhan. Dalam kesempatan gencatan senjata ini Jenderal De Kock menggunakan waktu untuk terus mengirim surat kepada beberapa tokoh pasukan Diponegoro seperti Alibasah dan Pangeran Pakuningrat, yang isinya tidak lain menyanjung-nyanjung tokoh-tokoh tersebut dan keinginan Belanda untuk bekerjasama dengan mereka. Setelah gencatan senjata berjalan tiga bulan tanpa mendapat hasil yang memuaskan bagi Belanda, maka pertempuran dan operasi militer dilanjutkan. Terjadilah pertempuran sengit di antara kedua belah pihak, sampai Komisaris Jenderal Du Bus diganti oleh Johannes Van Den Bosch sebagai penguasa tertinggi Hindia Belanda di Indonesia, dan Jenderal Mercus De Kock diganti oleh Jenderal Mayor Benyamin Bischop sebagai pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda, pada bulan Mei 1829. Tetapi karena Jenderal Benyamin Bischop sakit-sakitan pada tanggal 7 Juli 1829 meninggal dunia, maka praktis pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda masih tetap berada ditangan Jenderal De Kock.

Pada akhir bulan Mei 1829 pasukan kolonial Belanda mencari dengan seksama tempat pangeran Mangkubumi yang menjadi kepala urusan rumahtangga pasukan Diponegoro. Maksudnya tidak lain agar dapat menangkap para anggota keluarga tokoh-tokoh pasukan Diponegoro, untuk dapat memancing tokoh-tokoh itu supaya bisa menyerah. Pada tanggal 21 Mei 1829 tempat persembunyian Pangeran Mangkubumi dengan para keluarga tokoh-tokoh pasukan Diponegoro di desa Kulur diserbu oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Bauer dan Kapten Ten Have. Hasilnya nihil, karena rombongan Pangeran Mangkubumi telah pergi bersembunyi ke tempat lain. Usaha pengejaran akan dilakukan, tetapi dengan tiba-tiba pasukan Di ponegoro di bawah pimpinan Alibasah menyerang pasukan Belanda tersebut, sehingga terpaksa menghadapinya dan dengan demikian rombongan Pangeran Mangkubumi lepas dari kejaran Belanda. Operasi militer untuk menangkap Pangeran Mangkubumi tidak berhasil; diikuti dengan diplomasi untuk mengajak berunding. Belanda menggunakan putera Pangeran Mangkubumi yang telah menyerah yaitu Pangeran Natadiningrat untuk bisa membujuk Pangeran Mangkubumi agar menghentikan pertempuran dengan Belanda, dengan alasan usia telah lanjut dan Belanda berjanji untuk memberikan jabatan yang terhormat dengan tempat dan gaji yang besar. Usaha ini tampak akan berhasil, sebagaimana dilaporkan oleh Residen Van Nes pada tanggal 28 Juni 1829; tetapi hasilnya ternyata gagal.

Peta Mataram Baru setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830, Peta ini digambar oleh Meursault2004 alias Revo Arka Giri S. berdasarkan Robert Cribb, 2000, Historical Atlas of Indonesia halaman 114, Sumber : [12]

Kegagalan ini mendorong untuk melakukan operasi militer besar-besaran ke pusat pertahanan pasukan Diponegoro di desa Geger. Pada tanggal 17 Juli 1829 pasukan kolonial Belanda di bawah pimpinan Kolonel Cochius; Letnan Kolonel Sollewijn dan Mayor Cox van Spengler dibantu dengan pasukan Mangkunegara menyerang desa Geger. Dengan kekuatan yang tidak seimbang, markas Geger dapat direbut oleh pasukan Belanda dan beberapa pimpinan pasukan Diponegoro gugur sebagai syuhada, antara lain Sheikh Haji Ahmad dan Tunenggung Banuja. Operasi militer terus ditingkatkan oleh Belanda terhadap “kantong kantong” persembunyian pasukan Diponegoro, sehingga pada akhir Juli 1829 putera Diponegoro yakni Diponegoro Anom dan Raden Hasan Mahmud tertangkap oleh pasukan Letnan Kolonel Sollewijn. Tertangkapnya putera Diponegoro ini diper¬gunakan untuk melemahkan semangat perjuangan Diponegoro dengan cara mengancam akan membunuh Diponegoro Anom oleh Belanda. Jiwa puteranya akan selamat jika Diponegoro menghentikan pertempuran. Hal ini terlihat dari surat Jenderal De Kock tertanggal 6 Agustus 1829. Tetapi usaha ini tidak berhasil melemahkan semangat tempur Diponegoro. Dalam usaha konsolidasi, karena Alibasah dan Pangeran Bei sakit keras, maka Diponegoro telah mengangkat pimpinan pasukan infantri kepada Syeikh Muhammad dan Baisah Usman, sedangkan pasukan kavaleri dipimpin oleh Pangeran Sumanegara. Selesai konsolidasi, pasukan Diponegoro melakukan serangan terhadap pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Bauer dan Kapten Ten Have di Serma pada tanggal 3 Agustus 1829. Dalam pertempuran sengit ini, banyak korban yang jatuh di kedua belah pihak, antara lain Syekh Muhammad dan Hasan Usman.

Untuk meningkatkan efektifitas operasi militer, Jenderal De Kock telah memindahkan markas besarnya dari Magelang ke Sentolo. Dengan demikian pasukan Belanda akan lebih dekat dengan pusat-pusat pertempuran yang dilakukan oleh pasukan Diponegoro. Bersamaan dengan operasi militer Belanda yang ditingkatkan, Panglima Alibasah dan Pangeran Bei telah sembuh, sehingga dapat aktif kembali memimpin pasukan Diponegoro yang telah kehilangan dua orang panglimanya yaitu Syeikh Muhammad dan Basah Usman. Pertempuran sengit tidak dapat dihindarkan lagi, disaat pasukan Diponegoro melintasi sungai Brogo menuju Pajang diserang oleh pasukan Belanda. Kedua belah pihak yang bertempur mati-matian, mengakibatkan banyak jatuh korban, diantaranya seorang perwira Belanda mati terbunuh yaitu Letnan Arnold. Seiring dengan operasi militer yang ditingkatkan, usaha diplomasi licik juga dilakukan. Pada tanggal 7 Agustus 1829 Letnan Kolonel Sollewijn datang ke Kreteg untuk membujuk keluarga Pangeran Mangku¬bumi untuk menyerah dengan janji jaminan dari Belanda. Akhirnya Raden Ayu Anom (isteri kedua Pangeran Mangkubumi) beserta anak-anaknya dan pengawalnya sebanyak 50 orang menyerah kepada Belanda.

Dengan posisi pasukan Diponegoro yang makin terjepit karena daerah operasinya makin diperkecil oleh Belanda, kelelahan dan kekurangan bahan makanan dengan perang yang telah berjalan lima tahun, akhirnya satu demi satu pasukan Diponegoro menyerah kepada Belanda. Pada tanggal 5 September 1829 Tunenggung Wanareja dan Tumenggung Wanadirja bersama dengan 44 orang pasukannya menyerah. Pada tanggal 6 September 1829, atas bujukan Tumenggung Surianegara yang sengaja ditugaskan oleh Jenderal De Kock, menyerah pulalah Tumenggung Suradeksana dan Sumanegara kepada Belanda di Kalibawang. Pada tanggal 9 September 1829, Pangeran Pakuningrat bersama dengan pasukannya sebanyak 40 orang menyerah lagi kepada Belanda. Pada tanggal 21 September 1829 atas nama pemerintah Hindia Belanda, Jenderal De Kock mengeluarkan pengumuman tentang ‘hadiah besar’ bagi setiap orang yang dapat menangkap hidup atau mati Diponegoro. Pengumuman itu antara lain berisi: “Barangsiapa yang berani menyerahkan Diponegoro hidup atau mati kepada penguasa Hindia Belanda, akan dinilai oleh Gubernur Jenderal Htndia Belanda sebagai seorang yang sangat besar jasanya. Kepada orang itu akan diberikan hadiah berupa uang kontan sebesar £ 50.000,- (lima puluh ribu pounds) dan diberikan gelar kehormatan dengan gaji dan tanah yang cukup luas”. Pengumuman yang menyayat hati ini belum lagi kering, pada akhir September 1829 telah gugur Pangeran Bei bersama dua orang puteranya yaitu Pangeran Jayakusuma dan Raden Mas Atmakusuma.

Bulan September 1829 benar-benar bulan yang menyedihkan bagi Diponegoro, sebagai pemimpin tertinggi Perang Jawa. Pada tanggal 25 September 1829 Mayor Bauer bersama Raden Mas Atmadiwirja (putera Pangeran Mangkubumi), Tumenggung Reksapraja beserta rombongan mencari Pangeran Mangkubumi, tetapi hasilnya nihil. Tetapi Belanda tidak berputus asa. Jenderal De Kock mengutus Pangeran Natadiningrat, putera Pangeran Mangkubumi yang telah menyerah, untuk membujuk ayahnya. Maka pada tanggal 27 September 1829 Pangeran Natadiningrat berhasil membujuk ayahnya untuk menyerah kepada Belanda. Keesokan harinya, tanggal 28 September 1829 Pangeran Mangkubumi dibawa oleh puteranya ke Yogyakarta. Di pertengahan jalan (di Mangir) rombongan Pangeran Mangkubumi telah dijemput oleh Residen Van Nes dan pejabat-pejabat kesultanan Yogyakarta. Pengaruh dari menyerahnya Pangerang Mangkubumi sangat besar bagi pasukan Diponegoro, karena secara berturut-turut telah menyerah pula pangeran Adinegara, Kanjeng Pangeran Aria Suryabrangta, Pangeran Suryadipura, Pangeran Suryakusuma, Kanjeng Pangeran Dipasana, semuanya adalah mempunyai hubungan famiIi dengan Diponegoro sendiri. Menyerah¬nya secara berturut-turut orang-orang di sekitar Diponegoro, benar-benar dapat melumpuhkan pasukan Diponegoro. Apalagi usaha untuk menarik Alibasah, panglima pasukan Diponegoro yang disegani masih terus dilanjutkan. Melalui Pangeran Prawiradiningrat, yang menjadi bupati Madiun dan saudara Alibasah sendiri, Belanda telah berusaha untuk menaklukkannya. Sejak tanggal 23 Juli 1829 usaha ini telah dilakukan walaupun pada permulaannya gagal, karena syarat-syarat yang diajukan oleh Alibasah cukup berat; yaitu:

  • 1. Memberikan uang jaminan sebesar £ I0.000.-
  • 2. Menyetujui pembentukan sebuah pasukan di bawah Pimpinan Alibasah sendiri yang berkekuatan seribu orang dan dilengkapi dengan persenjataan dan pakai¬an seragam;
  • 3. Memberikan 400 – 500 pucuk senjata api;
  • 4. Pasukan Alibasah ini langsung dibawah komando pemerintah Hindia Belanda, dan bebas dari kekuasaan sultan atau pembesar bangsa Indonesia; ¬
  • 5. Mereka bebas menjalankan agamanya,
  • 6. Tidak ada paksaan minum Jenever atau arak;
  • 7. Diizinkan pasukannya memakai surban.

Tawar menawar syarat-syarat ini dilakukan pada tanggal 17 oktober 1829 di Imogiri, antara delegasi Ali basah dengan delegasi Belanda, yang hasilnya masih memerlukan waktu untuk diputuskan oleh penguasa tertinggi Hindia Belanda di Batavia. Dalam surat yang ditulis Jenderal De Kock kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, tertanggal 20 Oktober 1829, antara lain berisi: “…saya telah menulis surat kepada Residen dan Kolonel Cochius bahwa mereka harus sedapat mungkin berusaha menyenangkan hati Alibasah, karena adalah hal yang penting sekali apabila orang seperti Alibasah dapat kita tarik ke pihak kita dan turut membela kepentingan kita ….. seperti yang hendak saya nyatakan dengan hormat, bahwa karena sebab-sebab itulah saya berpendapat bahwa adalah sangat penting apabila Alibasah sudah berada di pihak kita, makin lama makin mengikat dia pada kepentingan kita. Sungguhpun hal ini harus disertai beberapa pengorbanan dari pada kita.” Surat Jenderal De Kock ini mendapat jawaban dari pemerintah Hindia Belanda di Batavia tertanggal 25 Oktbber 1829, antara lain berbunyi: “Pemerintah pada dasarnya setuju dengan keinginan Jenderal (Jenderal De Kock) bahwa dari pihak kita harus dipergunakan segala apa yang mungkin dapat dipakai, selama hal itu dapat sesuai dengan kebesaran pemerintah dan berusaha sedapat mungkin mencegah kembalinya Alibasah ke pihak pemberontak. Melihat isi surat-surat pemerintah Bindia Belanda ini dapat disimpulkan bahwa Belanda bersedia memenuhi syarat-syarat yang diajukan oleh Alibasah. Oleh karena itu kepada Residen Yogyakarta diperintahkan untuk segera menyerahkan uang sebanyak £ 5.000,- dan 200 pucuk senjata untuk dipergunakan pasukan Alibasah serta pasukannya itu langsung dibawah komando Jenderal De Kock, walau secara yuridis masih berada dibawah wewenang sultan. Syarat-syarat lain¬nya seluruhnya dipenuhi. Untuk pelaksanaan penyerahan Alibasah dengan pasukannya, pada tanggal 23 Oktober 1829 Jenderal De Kock datang ke kota Yogyakarta untuk menyambutnya; dan pada tanggal 24 Oktober 1829 Alibasah dengan pasukannya memasuki kota Yogyakarta dan diterima oleh Jenderal De Kock dengan upacara militer yang meriah.

Dengan menyerahnya Pangeran Mangkubumi, Ali basah dan puluhan Pangeran dan Tumenggung serta tertangkapnya Kiai Mojo dan gugurnya ratusan tokoh-tokoh Perang Jawa, maka secara praktis Diponegoro tinggal sendirian. Pengalaman pahit dan getir yang di alami oleh Diponegoro sebagai pimpinan tertinggi perang Jawa, karena banyaknya sababat-sahabat meninggalkannya atau meninggal dunia. Dalam kondisi yang demikian, ia harus menentukan pilihan: meneruskan pertempuran sampai mati syahid di medan laga atau menyerah kepada musuh sampai mati di dalam penjara. Kedua alternatif itu sama-sama tidak menyenangkan! Setelah menyerahnya Alibasah dengan pasukannya, operasi militer Belanda terus ditingkatkan guna memberikan pukulan terakhir terhadap pasukan Diponegoro yang tinggal sedikit lagi itu. Tekanan-tekanan pasukan Belanda kepada posisi pasukan Diponegoro yang terus-menerus ditingkatkan, banyak pula tokoh-tokoh Perang Jawa yang menyerah, antara lain pada bulan Desember 1829; salah seorang komandan pasukan Diponegoro yang masih ada yaitu Jayasendirga; Tumenggung Jayaprawira dan beberapa tumenggung lainnya beserta pasukannya bertekuk lutut kepada Belanda. Adapula yang karena kondisi kesehatan, akhirnya wafat di puncak gunung Sirnabaya Banyumas seperti Pangeran Abdul Rahim (saudara Diponegoro sendiri). Memasuki tahun 1830, musibah yang menimpa pasukan Diponegoro masih terus saja bertambah. Pada tanggal 8 Januari 1830, putera Diponegoro yaitu Pangeran Dipakusuma tertangkap oleh pasukan Belanda; pada tanggal 18 Januari 1830 berikutnya Patih Diponegoro menyerah kepada Belanda.

Usaha untak menghentikan Perang Jawa dengan damai yang licik terus dilakukan. Dengan menggunakan bekas tokoh-tokoh Perang Jawa seperti Alibasah dan Patih Danureja dalam usaha perdamaian licik membawa hasil yang menggembirakan bagi Belanda. Sebab pada tanggal 16 Februari 1830 telah terjadi pertemuan pertama antara Diponegoro dengan Kolonel Cleerens, wakil pemerintah Hindia Belanda dalam rangka perdamaian di Kamal, sebelah utara Rama Jatinegara daerah Bagelen. Pertemuan perdamaian tidak dapat dilangsungkan, karena Diponegoro menuntut perundingan itu harus dilakukan oleh seorang yang mempunyai posisi yang sama dengan dia; setidak-tidaknya seperti Jenderal De Kock. Padahal Jenderal De Kock pada saat itu sedang berada di Batavia. Untuk menunggu kedatangan Jenderal De Kock, maka Diponegoro dengan pasukannya terpaksa harus menginap di Kecawang sebelah utara desa Saka. Selama tenggang waktu perundingan, gencatan senjata dilakukan oleh kedua belah pihak. Desa Kecawang masih terlalu jauh, apabila perundingan akan dilangsungkan di sana. Oleh karena itu; untuk memudahkan jalan perundingan Diponegoro dengan pasukannya harus pindah ke Menoreh yang tidak begitu jauh dari Magelang, markas besar pasukan Belanda. Pada tanggal 21 Februari 1830 rombongan Diponegoro telah tiba di Menoreh. Tetapi sampai 5 Maret 1830 Jenderal De Kock belum juga datang ke Magelang padahal bulan Ramadhan telah tiba. Berkenaan dengan bulan suci ini; Diponegoro tidak mau mengadakan perundingan dengan Belanda karena ia akan memusatkan dirinya untuk melakukan ibadah puasa selama sebulan. Kontak pertama antara Diponegoro dengan Jenderal De Kock terjadi pada tanggai 8 Maret 1830, sebagai perkenalan dan selanjutnya jadwal perundingan akan dilangsungkan sesudah bulan Ramadhan. Menjelang hari raya Idul Fithri, Diponegoro telah menerima hadiah dalam bentuk seekor kuda tunggang yang sangat baik dan uang sebesar f 10.000.- Kemudian diikuti dengan pembebasan putera dan isteri Diponegoro yang ditahan di Semarang dan membolehkan mereka berkumpul dengan Diponegoro di tempat penginapan perundingan di Magelang. Pada tanggal 25 Maret 1830, Jenderal De Kock telah memberikan perintah rahasia kepada Letnan Kolonel Du Perron dan pasukannya untuk memperketat pengawalan dan penjagaan kota Magelang dengan mengerahkan pasukan Belanda dari beberapa daerah di Jawa Tengah. Instruksinya, apabila perundingan gagal, Diponegoro dan delegasinya harus ditangkap! Pada tanggal 28 Maret 1830 perundingan akan dilangsungkan di gedung Keresidenan Kedu di Magelang. Sebelum jam 07.00 pagi Tumenggung Mangunkusuma datang kepada Residen Kedu untuk memberitahukan bahwa sebentar lagi Diponegoro dengan staf nya akan tiba. Pemberitahuan ini menyebabkan Letnan Kolonel Du Perron menyiap-siagakan pasukannya, sesuai dengan perintah Jenderal De Kock. Jam 07.30. pagi Diponegoro dengan stafnya dikawal oleh seratus orang pasukannya memasuki gedung keresidenan. Delegasi Diponegoro diterima langsung oleh Jenderal De Kock dengan staf nya. Perundingan dilakukan di tempat kerja Jenderal De Kock. Pihak Diponegoro disertai dengan tiga orang puteranya yaitu Diponegoro Anom, Raden Mas Joned, Raden Mas Roub, ditambah dengan Basah Martanegara dan Kiai Badaruddin. Sedangkan di pihak Jenderal De Kock disertai oleh Residen Valk, Letnan Kolonel Roest, Mayor Ajudan De Stuers dan Kapten Roeps sebagai juru bicara. Letnan Kolonel De Kock van Leeuwen, Mayor Perie dan opsir-opsir Belanda lainnya ditugaskan untuk melayani dan mengawasi pemimpin-pemimpin pasukan Diponegoro yang berada di kamar yang lain. Sedangkan letnan Kolonel Du Peron tetap berada di luar gedung keresidenan untuk setiap saat dapat melakukan penyergapan, sebagaimana telah diperintahkan oleh Jenderal De Kock. Kolonel Cleerens yang mula-mula sekali berhasil melakukan kontak dengan Diponegoro dan berhasil merencanakan pertemuan perdamaian serta telah memberikan jaminan diplomasi penuh kepada Diponegoro dan stafnya tidak diikutsertakan bahkan tidak berada di kota Magelang tempat perundingan dilaksanakan. Dengan demikian jika terjadi pengkhianatan maka secara moral Cleerens tidak terlibat langsung, karena memang tidak hadir.

Baron H. Merkus de Kock (dilukis oleh F.V.A. Ridder de Stuers pada tahun 1849) Sumber:[13]

Babak pertama Jadwal perundingan, menurut Diponegoro sebagai pendahuluan untuk menjajagi materi perundingan pada babak selanjutnya; tetapi menurut Jenderal De Kock harus langsung memasuki materi Perundingan. Pembicaraan materi perundingan menjadi tegang, karena De Kock bersikeras untuk langsung membicarakan materi perundingan. Suasana tegang dan panas itu, sampai-sampai Diponegoro terlontar ucapan: “Jika tuan menghendaki persahabatan, maka seharusnya tidak perlu adanya ketegangan di dalam perundingan ini. Segalanya tentu dapat diselesaikan dengan baik. Jikalau kami tahu bahwa, tuan begitu jahat, maka pasti lebih baik kami tinggal terus saja berperang di daerah Bagelen dan apa perlunya kami datang kemari.” Ketika pihak Jenderal De Kock terus mendesak tentang tujuan penerangan yang telah dilakukan oleh Diponegoro selama lebih lima tahun ini, maka akhirnya ia memberi jawaban dengan tegas dan gamblang, yaitu antara lain: “Mendirikan negara merdeka di bawah pimpinan seorang pemimpin dan mengatur agama Islam di pulau Jawa”. Mendengar jawaban ini Jenderal De Kock terperanjat, karena ia tidak mengira bahwa Diponegoro akan mengajukan tuntutan semacam itu. Sewaktu De Kock memberi jawaban bahwa tuntutan semacam itu adalah terlalu berat dan tak mungkin dapat dipenuhi, Diponegoro tetap teguh pada tuntutannya. Tanda-tanda perundingan babak pertama akan menemui jalan buntu, dan Belanda khawatir jika pe¬rundingan ditunda sampai besok, berarti kesempatan buat Diponegoro dan pasukannya untuk mengadakan konsolidasi guna menghadapi segala kemungkinan. Sesuai dengan rencana Belanda bahwa perundingan adalah semata-mata methoda untuk menangkap Diponegoro dan stafnya, maka dengan angkuhnya Jenderal De Kock berkata: “Kalau begitu, tuan tidak boleh lagi kembali dengan bebas.” Mendengar ucapan ini, Diponegoro dengan marah menjawab : “Jika demikian, maka tuan penipu dan pengkhianat, karena kepada saya telah dijanjikan kebebasan dan boleh kembali ke tempat perjuangan saya semula, apabila perundingan ini gagal.” Jenderal De Kock berkata lagi: “Jika tuan kembali, maka peperangan akan berkobar lagi.” Diponegoro menjawab: “Apabila tuan perwira dan jantan, mengapa tuan takut berperang?” Tiba-tiba Jenderal De Kock menginstruksikan kepada Letnan Kolonel Du Perron dan pasukannya untuk menyergap Diponegoro dan stafnya serta seluruh pengawalnya dilucuti. Dalam posisi tidak siap tempur, Diponegoro dan pasukannya dengan mudah ditangkap dan dilucuti.

Dengan cepat Diponegoro dimasukkan ke dalam kendaraan residen yang telah disiapkan oleh Belanda dengan pengawalan ketat oleh Mayor Ajudan De Stuers dan Kapten Roeps berangkat menuju Ungaran. Dari sana kemudian Diponegoro dibawa ke Semarang untuk selanjutnya dibawa ke Batavia. Pada tanggal 3 Mei 1830 Diponegoro beserta stafnya dibawa ketempat pembuangannya di Menado. Tidak kurang dari 19 orang yang terdiri dari keluarga dan stafnya ikut dalam pembuangan di Menado. Pada tahun 1834 Diponegoro beserta keluarga dan stafnya dipindahkan ke kota Makasar. Dan pada tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dalam usia kira-kira 70 tahun, setelah menjalani masa tawanan selama duapuluh lima tahun. Perang Jawa yang dahsyat dan penuh patriotisme telah digerakkan dan dipimpin oleh tokoh-tokoh pejuang Islam, yang hampir sebagian terbesar berideologi Islam dan bertujuan berdirinya negara merdeka yang berdasarkan Islam. Fakta-fakta sejarah yang terungkap, baik latar belakang yang mewarnai para tokoh Perang Jawa, masa peperangan yang memakan waktu lima tahun lebih, yang diisi dengan menegakkan syari’at Islam di dalam kehidupan pasukan Diponegoro sampai pada saat perundingan dengan Belanda serta tujuan yang akan dicapai, semuanya adalah bukti yang kuat bahwa Diponegoro dan pasukannya telah melakukan perjuangan politik Islam untuk mendirikan negara Islam di tanah Jawa. Kegagalan yang diderita oleh Diponegoro dan pasukannya, bukan karena tujuan dan methodanya yang salah, tetapi karena kekuatan yang tak seimbang, baik manpower, persenjataan, perlengkapan dan pengkianatan bangsa sendiri yang sebagian besar membantu Belanda yang kafir; disamping tipu muslihat yang licik dan keji yang dilakukan oleh penguasa kolonial Belanda. Tipu muslihat yang licik dan keji, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bermoral rendah dan jahat, ternyata telah menjadi watak kepribadian penguasa kolonial di Indonesia, baik Portugis maupun Belanda.

Sumber : Perjuangan Islam Melawan Penjajah [[14]]


Gallery Aktivitas Keluarga Pangeran Diponegoro


I. LAUNCHING BUKU KUASA RAMALAN KE I (Yogyakarta, 2010)




II. DEKLARASI KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA (Yogya, 11-12 Desember 2011)---> Klik Video :Yogya Istimewa


Dalam sebuah pertemuan antara Keluarga Pangeran Diponegoro dengan Adik kandung Sultan HB-X yaitu GBPH. Joyokusumo yang juga dihadiri oleh bapak Hasyim Djoyohadikusumo, Gusti Joyokusumo berkata :"Saya mengharapkan Keturunan Pangeran Diponegoro harusnya berada di barisan depan mendukung Keistimewaan Yogyarta". Maka atas permintaan KBPH Joyokusumo itulah kami Keturunan Pangeran Diponegoro bersama-sama Laskar Diponegoro berjumlah lebih dari 1000 orang melakukan pernyataan sikap menentang kepada Pemerintah RI dengan cara berorasi sambil long-march dari Tegalrejo (Sasana Wiratama) menuju Keraton Yogyakarta. Di Keraton, Trah Diponegoro menyampaikan Deklarasi kepada Sultan HB-X atas nama Gubernur DIY dan Sultan. Trah Pangeran Diponegoro berdatangan dari berbagai daerah seperti : Kulon Progo, Purworejo, Banyumas, Bogor, Jakarta, Ambon, Sulawesi, Padang dll.


|}

Deklarasi Yogya-04
Deklarasi Yogya-05
Deklarasi Yogya-06
Deklarasi Yogya-07
Deklarasi Yogya-08
Deklarasi Yogya-09
Deklarasi Yogya-10
Deklarasi Yogya-11
Deklarasi Yogya-12
Deklarasi Yogya-13
Deklarasi Yogya-14
Deklarasi Yogya-15


III. KUNJUNGAN KE KERATON YOGYAKARTA (Yogya, 20 Oktober 2012)


Atas undangan Adik kandung Sultan HB-X yaitu GBPH. Joyokusumo, pada Oktober 2012 kami yang berjumlah kurang lebih 20 orang melakukan kunjungan ke Keraton Yogyakarta. Agenda utama kunjungan antara lain :

  • Silaturahmi Keluarga Pangeran Diponegoro dengan Pihak Keraton Yogyakarta;
  • Membahas Kekancingan Keluarga (Semacam Sertifikat / Surat Pengukuhan Hak) yg dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem;
  • Pembentukan Nama Organisasi Keturunan Pangeran Diponegoro;
  • Masalah-masalah lain keluarga.

Dalam acara kunjungan ini Gusti Joyokusumo didampingi BRAy. Hj. Nuraida/BRAy. Joyokusumo bercerita banyak tentang kondisi Keraton, kondisi kesehatan Gusti Joyo dan sekilas tentang tatakrama Keraton. Dalam kesempatan ini juga kami semua diajak berkeliling oleh BRAy. Joyokusumo mengenai isi Keraton serta sejarahnya, juga berkunjung ke Museum Kereta Kencana Keraton. Pada jamuan makan siang, kami diperkenankan mencicipi kue hidangan pembuka kesukaan dan tradisi Sultan-sultan Yogyakarta yang bernama "Kue Rondo Mendem" semacam "Pancake" juga dihidangkan minuman "Stuff Jambu Merah" khas Keraton Yogyakarta.

Keraton Yogya-1
Keraton Yogya-2
Keraton Yogya-3
Keraton Yogya-4
Keraton Yogya-5
Keraton Yogya-6
Keraton Yogya-7
Keraton Yogya-8
Keraton Yogya-9
Keraton Yogya-10
Keraton Yogya-11
Keraton Yogya-12
Keraton Yogya-13
Keraton Yogya-14
Keraton Yogya-15
Keraton Yogya-16
Keraton Yogya-17
Keraton Yogya-18
Keraton Yogya-19
Keraton Yogya-20
Keraton Yogya-21
Keraton Yogya-22
Keraton Yogya-23
Keraton Yogya-24
Keraton Yogya-25
Keraton Yogya-26
Keraton Yogya-27
Keraton Yogya-28
Keraton Yogya-29
Keraton Yogya-30
Keraton Yogya-31
Keraton Yogya-32


IV. PENTAS PENGASINGAN SANG PANGERAN Ke 1 (Magelang, 8 Januari 2014)


Magelang-1
Magelang-2
Magelang-3
Magelang-4
Magelang-5
Magelang-6
Magelang-7
Magelang-8
Magelang-9
Magelang-10
Magelang-11
Magelang-12
Magelang-13
Magelang-14
Magelang-15


V. UNDANGAN IKA UNDIP (Senayan City, 27 Januari 2014)


Ika-Undip-1
Ika-Undip-2
Ika-Undip-3
Ika-Undip-4
Ika-Undip-5
Ika-Undip-6
Ika-Undip-7
Ika-Undip-8
Ika-Undip-9
Ika-Undip-10
Ika-Undip-11
Ika-Undip-12


  • VI. PENTAS PENGASINGAN SANG PANGERAN KE 2 (Bentara Budaya Jakarta, 6 Maret 2014)

BBJ-1
BBJ-2
BBJ-3
BBJ-4
BBJ-5
BBJ-6
BBJ-7
BBJ-8
BBJ-9
BBJ-10
BBJ-11
BBJ-12
BBJ-13
BBJ-14
BBJ-15

123/3 <2+14> < Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro / Bendoro Pangeran Haryo Suryengalogo
Official Link
134/3 <2+15> < Bendoro Pangeran Haryo Purwodiningrat / Bendoro Pangeran Haryo Suryobrongto
lahir: 1790
perkawinan: <44> < Raden Ajeng Kapilah Raden Ayu Suryabrangta , Keraton Yogyakarta
105/3 <6+29> < 3. Raden Ayu Maduretno / Raden Ayu Diponegoro (Bendoro Raden Ayu Ontowiryo)
lahir: ~ 1798, Yogyakarta
perkawinan: <7!> < Pangeran Diponegoro [Hb.3.1] / Bendoro Raden Mas Mustahar b. 11 November 1785 d. 8 Januari 1855, Keraton Yogyakarta
gelar: 18 Februari 1825, Tegalrejo
wafat: 28 Februari 1827, Yogyakarta
== 4. RA. Maduretno / RA. Diponegoro / BRA. Ontowiryo ==

Setelah geger Madiun reda di tahun 1814 untuk yang ke lima kalinya Pangeran Diponegoro menikah dengan R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi R.A Maduretno saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Tahun 1826 ketika Pangeran Diponegoro diangkat menjadi Sultan di Dekso, R.A Maduretno diangkat menjadi permaisuri. Namun karena sakit beliau meninggal pada tahun 1828. Dari pernikahan ini lahirlah Raden Mas Joned pada tahun 1815 Dan Raden Mas Roub tahun 1816 . Raden Ayu Maduretno juga dikenal dengan Raden Ayu Ontowiryo atau Raden Ayu Diponegoro. Ketika menikah dengan R. A Maduretno, isteri pertama dan keempat sudah meninggal, sedangkan isteri kedua lebih senang tinggal diistana sehingga terjadilah hubungan yang tidak harmonis antara P. Diponegoro dengan RA. Retnokusumo. Hubungan Pangeran Diponegoro dengan keluarga besar Raden Ronggo semakin ditingkatkan untuk menambah kekuatan dan kedudukan kasultanan Jogja di mata penjajah.


Masa Perang Diponegoro di Madiun

Bupati Madiun Pangeran Raden Ronggo Prawirodiningrat adalah putra ke enam Ronggo Prawirodirjo III dengan ibu suri GKR Maduretno, saudaranya kandungnya ada sebelas, yakni RA Prawironegoro, RA Suryongalogo, RA Pangeran Diponegoro, RA Suryokusumo, Raden Adipati Yododiningrat (Bupati Ngawi), Raden Ronggo Prawirodiningrat sendiri ( Bupati Madiun), RA Suronoto, RA Somoprawiro, RA Notodipuro, dan RA Prawirodilogo. Sedangkan dari ibu selir putri asli Madiun, lahirlah Pahlawan Nasional Raden Bagus Sentot Prawirodirjo. Beliau sejak kecil hidup dilingkungan istana Yogyakarta. Pada masa pemerintahan Ronggo Prawirodiningrat ini, meletus perang Jawa, atau Perang Diponegoro, rakyat Madiun dan sekitarnya dari semua golongan mendukung perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap pemerintahan Belanda. Perang Besar ini disebabkan karena Bangsa Belanda selalu ikut campur urusan pemerintahan Kasultanan Yogyakarta dan selalu melakukan penindasan, pemerasan yang tidak berperi kemanusiaan, hingga rakyat semakin menderita. Pendukung Perang Diponegoro di Kabupaten Madiun, dan di seluruh wilayah Mataram, pada umumnya terdiri dari :

Rakyat Kebanyakan  : mereka sudah tidak tahan atas berbagai Pajak yang tinggi mencekik hidup mereka (usaha Belanda dalam menutup Kas akibat kekalahan Perang pada era Napoleon ) Golongan Bangsawan  : mereka tidak puas dengan peraturan sewa menyewa tanah yang hanya dihargai sebagai ganti rugi belaka (praktek Monopoli Belanda) Ulama dan Santri  :

mereka merasa tidak senang dengan tingkah laku kaki tangan Belanda minum-minuman, berjudi, dan madat yang akhirnya merajalela.
HB 04.JPG
86/3 <2+5> < Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono IV [Hb.III.18] / Gusti Raden Mas Ibnu Jarot (Sinuhun Jarot)
Sri Sultan Hamengkubuwono IV (lahir 3 April 1804 – meninggal 6 Desember 1822 pada umur 18 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1814 - 1822.

[sunting] Riwayat Pemerintahan

Nama aslinya adalah Raden Mas Ibnu Jarot, putra Hamengkubuwana III yang lahir dari permaisuri tanggal 3 April 1804. Ia naik takhta menggantikan ayahnya pada usia sepuluh tahun, yaitu tahun 1814. Karena usianya masih sangat muda, Paku Alam I ditunjuk sebagai wali pemerintahannya.

Pada pemerintahan Hamengkubuwono IV, kekuasaan'' Patih Danurejo IV semakin merajalela. Ia menempatkan saudara-saudaranya menduduki jabatan-jabatan penting di keraton. Keluarga Danurejan ini terkenal tunduk pada Belanda. Mereka juga mendukung pelaksanaan sistem Sewa Tanah untuk swasta, yang hasilnya justru merugikan rakyat kecil.

Pada tanggal 20 Januari 1820 Paku Alam I meletakkan jabatan sebagai wali raja. Pemerintahan mandiri Hamengkubuwono IV itu hanya berjalan dua tahun karena ia tiba-tiba meninggal dunia pada tanggal 6 Desember 1822 saat sedang bertamasya. Oleh karena itu, Hamengkubuwono IV pun mendapat gelar anumerta Sultan Seda ing Pesiyar.

Kematian Hamengkubuwono IV yang serba mendadak ini menimbulkan desas-desus bahwa ia tewas diracun ketika sedang bertamasya. Putra mahkota yang belum genap berusia tiga tahun diangkat sebagai Hamengkubuwono V.
97/3 <2+4> < Bendoro Raden Ayu Mangunnegoro
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
118/3 <2+7> < Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto
Hilal Achmar Official Link
149/3 <2+16> < Bendoro Raden Ayu Danukusumo 1510/3 <2+17> < Bendoro Raden Ayu Wiryokusumo
Hilal Achmar Official Link
1611/3 <2+9> < Bendoro Raden Ayu Kartonadi
Hilal Achmar Official Link
1812/3 <2+21> < Bendoro Pangeran Haryo Hadisuryo
Hilal Achmar Official Link
1913/3 <2+22> < Bendoro Raden Ayu Prawirohatmojo
Official From Hilal Achmar.
2014/3 <2+7> < Bendoro Raden Ayu Sosrodiningrat
Official From Hilal Achmar.
2115/3 <2+22> < Bendoro Pangeran Haryo Hadi Suryo / Bendoro Raden Mas Ambiyo
Official Link Adm: Hilal Achmar.
2216/3 <2+20> < Bendoro Pangeran Haryo Suryowijoyo [Hb.3.14]
2317/3 <2+19> < Bendoro Raden Ayu Sosronegoro
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
2418/3 <2+18> < Bendoro Raden Ayu Mangundrono
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
2519/3 <2+18> < Bendoro Pangeran Haryo Suryodipuro
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
2620/3 <2+18> < Bendoro Raden Ayu Bahusentono
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
2721/3 <2+13> < Bendoro Raden Ayu Mangundirjo
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
2822/3 <2+12> < Bendoro Raden Ayu Notodiningrat
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
2923/3 <2+12> < Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
3024/3 <2+11> < Bendoro Raden Ayu Sumodipuro
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
3125/3 <2+10> < Bendoro Raden Ayu Joyosundargo
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
3226/3 <2+10> < Bendoro Pangeran Haryo Teposono
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
3327/3 <2+25> < Bendoro Pangeran Haryo Suryodipuro II [Hb.3.26]
3428/3 <2+26> < Bendoro Pangeran Haryo Suryadi [Hb.3.27]
3529/3 <2+2> < Bendoro Raden Ayu Sosrodipuro [Hb.3.29] 3630/3 <2+25> < Bendoro Raden Ayu Dipowiyono [Hb.3.30] 3731/3 <2+3> < Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto II [Hb.3.31] 3832/3 <2+27> < Bendoro Raden Ayu Ronowinoto [Hb.3.32] 3933/3 <2> < Pangeran Ngabehi 4034/3 <6+29> < 4. Raden Ayu Suryokusumo
4135/3 <6+29> < 5. Raden Adipati Yododiningrat (Bupati Ngawi)
4236/3 <6+29> < 6. Raden Ronggo Prawirodiningrat ( Bupati Madiun)
4337/3 <6+29> < 7. Raden Ayu Suronoto
4438/3 <6+29> < 8. Raden Ayu Somoprawiro
4539/3 <6+29> < 9. Raden Ayu Notodipuro
4640/3 <6+29> < 10. Raden Ayu Prawirodilogo

4

IKPD-1.jpg
611/4 <7+37> < 11. Raden Ayu Hangreni Mangunjaya
lahir: Sementara menunggu persetujuan putranya diputus : 848551
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


R.A Hangreni Mangunjaya

Untuk menghindari lahirnya pemberontak-pemberontak baru keturunan Pangeran Diponegoro, pihak keraton menikahkan puteri-puteri Pangeran Diponegoro dengan pejabat-pejabat yang netral atau dengan pejabat yang pro Belanda. Untuk itu mereka dinikahkan dengan pejabat-pejabat di wilayah kekuasaan trah Danurejan yaitu di tanah kedu dan Bagelen. Trah Danurejan adalah trah yang terbukti setia kepada Belanda walaupun ada juga beberapa yang justru menjadi tulang punggung perjuangan Pangeran Diponegoro.

Radeng Ngabehi Mangunjaya suami R.A Hangreni adalah seorang wedono di wilayah Bagelen Barat yang dikuasai oleh Bupati Cokronegoro. Strategi Belanda dan kraton seolah berhasil dengan cara ini, tetapi kelak generasi-generasi penerus R.A Hangreni berjuang melawan penjajah melalui perjuangan agama setelah era perang Diponegoro berakhir.
IKPD-1.jpg
532/4 <7+36> < 3. Raden Suryaatmaja / Diponingrat ? (Kanjeng Pangeran Anom Diponegoro)
lahir: ~ 1807
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Raden Suryaatmaja / Diponingrat/ Pangeran Adipati Anom/Raden Mas Sudiro Kromo/Kanjeng Pangeran Adipati Diponegoro (1807).

Dilihat dari gelar yang digunakan yaitu Pangeran Adipati Anom bisa dipastikan bahwa dia adalah anak dari ibu Raden Ayu Retnokusumo yang sebelumnya bernama Raden Ajeng Supadmi (Diperkuat dengan adanya catatan dari Peter F Carey dam The Power Of Prophecy) . Pangeran Diponegoro menikah untuk yang kedua kalinya atas perintah dari ayahnya. Perintah ini secara langsung mempunyai arti bahwa Raden Ayu Retnokusumo adalah isteri utama atau isteri permaisuri yang direstui oleh kerajaan. Kemudian Raden Ayu Retnokusumolah yang mendampingi Pangeran Diponegoro dalam menghadiri acara-acara resmi di kerajaan. Ketika mengikuti jejak ayahnya di medan perang Suryaatmaja diangkat menjadi putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Anom. Namun karena Belanda tidak mengakui keabsahan gelar Sultan yang disandang Pangeran Diponegoro maka nama itu dirubah oleh penjajah dengan nama Diponingrat. Menjalani pembuangan ke Ambon 1840.

Dalam catatan sejarah, Pangeran Adipati Anom Diponingrat pernah menikah dengan anak perempuan Raden Tumenggung Mertawijaya atau Raden Tumenggung Danukusumo II salah seorang senopati Pangeran Diponegoro di wilayah Remo Banyumas. Telah disebutkan sebelumnya bahwa Danukusumo II adalah dari trah Danurejan yang ikut bergabung dalam barisan perjuangan Pangeran Diponegoro
RM-DIPONEGORO ANOM.JPEG
513/4 <7+35> < 1. Raden Mas Muhammad Ngarip / Diponegoro Anom (Pangeran Abdul Majid)
lahir: 1809
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Raden Mas Muhammad Ngarip/Raden Antawirya II / Diponegoro Anom/Diponegoro II/Kanjeng Pangeran Haryo Diponegoro II /Pangeran Abdul Majid.

Lahir pada tahun 1803. Dilihat dari tahun kelahirannya maka dapat dipastikan sebagai anak dari ibu Raden Ayu Madubrongto. Ketika perang Diponegoro dimulai dia telah berusia 22 tahun dan selalu setia menjadi pembela ayahnya. Sebagai putera tertua dan memiliki kesamaan pandangan dengan ayahnya maka dia dengan ikhlas mengangkat senjata mendampingi ayahnya. Nama bayinya adalah Raden Mas Muhammad Ngarip, dan kelak nama itu dia gunakan lagi ketika berada di wilayah sumenep dengan sedikit perubahan yaitu Raden Mas Mantri Muhammad Ngarip. Nama ini dia gunakan selama dalam pembuangan di Sumenep Madura. Dialah yang menulis buku Babad Diponegoro Suryongalam. Ketika menginjak dewasa dan ayahnya telah menggunakan nama Diponegoro, dia mendapatkan gelar nama yang sama yaitu Ontowiryo II dan selanjutnya menggunakan nama Diponegoro II atau Diponegoro Anom ketika ayahnya diangkat oleh rakyat menjadi Sultan Abdul Hamid. Nama tersebut diberikan sendiri oleh Pangeran Diponegoro sebagai tanda bahwa putera kesangannya inilah kelak yang akan melanjutkan cita-citanya. Memang dia hanya dari isteri samping, tetapi keindahan budi pekerti ibunya membuat Pangeran Diponegoro sangat menyayangi anak sulungnya ini. Melihat usianya yang sudah mencapai 22 tahun pada saat perang Diponegoro dimulai, maka dapat dipastikan bahwa pada saat itu beliau sudah memiliki isteri dan memiliki beberapa anak. Kelak keturunan beliau yang lahir dan besar di tanah Jawa inilah yang akan menjadi generasi penerusnya sebagai pengganggu ketenteraman penjajah. Sejak awal peperangan, Diponegoro Anom diserahi untuk menjaga dan melawan penjajah di wilayah Bagelen ke Barat bersama beberapa orang pilihan Pangeran Diponegoro di antaranya Tumenggung Danupoyo. Taktik perang yang digunakan sama dengan ayahnya yaitu bergerilya dan berpindah-pindah. Area perjuangan Pangeran Diponegoro Anom ini mencapai wilayah Barat Banyumas, Temanggung dan Parakan. Di medan perang Diponegoro Anom ini sering bekerja sama dengan Pamannya Sentot Prawirodirjo dan adik tirinya Raden Mas Singlon atau Raden Mas Sodewo. Setelah menjalani pembuangan di Sumenep tahun 1834 lalu dibuang ke Ambon 1853. Sebenarnya Pangeran Diponegoro berharap agar ibu dan anak-anaknya bisa bergabung dengannya di pembuangan, tetapi hal itu secara halus ditolak oleh Belanda dan sebagai gantinya Van den Bosch menijinkan anak-anaknya kembali ke Tegalrejo. Bahkan anak Pangeran Dipokusumo dan Pangeran Diponingrat diijinkan tinggal di dalam kraton. Selanjutnya Belanda melalui Kapten Roeps juga memenuhi permintaan Pangeran Diponegoro untuk membagikan pusaka warisan pada anak-anaknya yang terdiri dari keris dan tombak.

Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)
0. KANJENG SUNAN PRABU AMANGKURAT AGUNG  
1. KANJENG SUSUHUNAN PAKUBUANA I    
2. KANJENG PRABU AMANGKURAT IV    
3. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING I ING NGAYOGYAKARTA   
4. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING II ING NGAYOGYAKARTA    
5. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA    
6. BPH. DIPANEGARA    
7. RM. MUHAMMAD NGARIP/PANGERAN ABDUL MADJID
  
 - Tercatat Di Tepas Darah Dalem -

SILSILAH KELUARGA BESAR KETURUNAN PANGERAN ABDUL MADJID

Putra-putri

No. Nama Tempat/Lahir
1. RM. ACHMAD DIPONEGORO Ambon, C-18??
2. RM. MUHAMMAD DIPONEORO Ambon, C-18??
3. RM. BDULLAH DIPONEGORO Ambon, C-18??
4. RM. ABDUL RACHMAN DIPONEGORO Ambon, C-18??

Cucu

  1. ) 1.1. RAy. KHALIDJAH (Ambon, C-18??)
  2. ) 1.2. RM. IBRAHIM
  3. ) 1.3. RAy. DJAHRO
  4. ) 1.4. RAy. SECHA
  5. ) 1.5. RM. ISMAEL
  6. ) 1.6. RM. DAUD
  7. ) 1.7. RM. MUHAMMAD
  8. ) 1.8. RM. SULAEMANJ
  9. ) 2.1. RM. IDRIS
  10. ) 2.2. RM. MACHMUD
  11. ) 2.3. RM. ABDUL GHANI
  12. ) 2.4. RAy. DJUNA
  13. ) 3.1. RM. YUSUF DIPONEGORO
  14. ) 3.2. RM. SYAWAL DIPONEGORO
  15. ) 3.3. RM. SUJA DIPONEGORO
  16. ) 3.4. RAy. MARJAM DIPONEGORO
  17. ) 3.5. RM. MUHAMMAD DIPONEGORO
  18. ) 3.6. RM. YUNUS DIPONEGORO
  19. ) 3.7. RM. ACHMAD DIPONEGORO (BANDUNG)
  20. ) 3.8. RM. MURTASA DIPONEGORO
  21. ) 3.9. RAy. MURTINAH DIPONEGORO
  22. ) 3.10. RAy. SUPINAH DIPONEGORO
  23. ) 3.11. RAy. MURJANI DIPONEGORO
  24. ) 3.12. RAy. SUPATNI DIPONEGORO
  25. ) 4.1. RM. DJAFAR DIPONEGORO

Buyut / Cicit

  1. 1.6.1. RAy. DJAMILAH
  2. 1.6.2. RAy. CHADIDJAH
  3. 1.6.3. RAy. DJAHRAH (SURABAYA)
  4. 1.6.4. RAy. AISJAH (AMBON)
  5. 1.6.5. RAy. RACHMAH (MEDAN)
  6. 1.6.6. dr.RM. ACHMAD (PONTIANAK)
  7. 1.6.7. RAy. KAJATIN (YOGYAKARTA)
  8. 1.6.8. RAy. MOENAH (tidak ada keturunan)
  9. 1.8.1. RM. SLAMET DIPONEGORO
  10. 1.8.2. RM. ISMAIL (JAKARTA)
  11. 1.8.3. RAy. SYAMSILAH (PPRAJA AMBON
  12. 1.8.4. RM. IBRAHIM (KTR GUB AMBON)
  13. 2.1.1. RM. ABD HAMID
  14. 2.1.2. RM. ABD RACHMAN (AMBON)
  15. 2.1.3. RM. ABD GAFUR (TASIKMAKAYA)
  16. 2.1.4. RM. ISMAIL
  17. 2.1.5. RAy. KALSUM
  18. 2.1.6. RAy. MUDJANI (AMBON)
  19. 2.1.7. RM. ABDULLAH (POLISI MAGELANG)
  20. 2.1.8. RM. ACHMAD (JAW PELAJARAN TJ PRIOK)
  21. 2.1.9. RM. ABD GHANI (AMBON)
  22. 2.2.1. RM. ABD RADJAK (MAKASSAR)
  23. 2.2.2. RM. ABD GAFUR (NISM TJ PRIOK)
  24. 2.2.3. RAy. RAMLAH (AMBON)
  25. 2.3.1. RM. ABD MUTALIB (AMBON)
  26. 2.3.2. RM. ABD MANAP (AMBON)
  27. 3.1.1. RM. NURSEWAN
  28. 3.1.2. RAy. HARTATI
  29. 3.2.1. RAy. SAMSIRIN
  30. 3.2.2. RM. SAID
  31. 3.2.3. RM. ABD RACHMAN
  32. 3.2.4. RM. ABDULLAH DIPONEGORO
  33. 3.2.5. RAy. FATMA (SURABAYA)
  34. 3.3.1. RAy/ NURANI (AMBON)
  35. 3.3.2. RM. SAMAUN
  36. 3.3.3. RM. SAID (TJ PRIOK)
  37. 3.3.4. RAy. DINAR
  38. 3.3.5. RM. ABDULLAH
  39. 3.3.6. RAy. DJASIAN (TJ PRIOK)
  40. 3.7.1. RM. ISKANDAR DJOHAN DIPONEGORO
  41. 3.7.2. RM. ACHMAD DJOHAN DIPONEGORO
  42. 3.7.3. RM. INDRA DJOHAN DIPONEGORO
  43. 3.8.1. RAy. SUPATMI DIPONEGORO (AMBON)
  44. 3.8.2. RM. MUHAMMAD DIPONEGORO
  45. 3.8.3. RAy. PAWON (BANDUNG)
  46. 3.8.4. RAy. DJAHRO (AMBON)
  47. 3.8.5. RAy. NENG
  48. 3.8.6. RAy. SAMSIRIN (AMBON)
  49. 4.1.1. RM. MUHAMMAD
  50. 4.1.2. RAy. SAKIAH
  51. 4.1.3. RAy. TIMUR (BANDUNG)

Canggah
  1. 1.6.2.1. RAy. NURLELA AMAR DIPONEGORO
  2. 1.6.2.2. RM. SALIM AMAR DIPONEGORO
  3. 1.6.2.3. RM. AHMAD AMAR DIPONEGORO
  4. 1.6.3.1. RM. ACHMAD INDRACAHYA KAMARULLAH
  5. 1.6.3.2. RM. OEMAR INDRACAHYA KAMARULLAH
  6. 1.6.3.3. RM. ABDULLAH INDRACAHYA KAMARULLAH
  7. 1.6.3.4. RAy. MIEN SUROYO
  8. 1.6.3.5. RAy. POPPY SUROYO
  9. 1.6.5.1. RM. OEMAR KAMARUDIN
  10. 1.6.5.2. RM. HAMID KAMARUDIN
  11. 1.6.5.3. RM. DEETJE KAMARUDIN
  12. 1.6.5.4. RM. DICKY KAMARUDIN
  13. 1.6.7.1. RM. MAYOR GAUTAMA SAHIR
  14. 1.6.7.2. RM. dr. ERLANGGA SAHIR
  15. 1.6.7.3. RAy. Dra. CICI SAHIR
  16. 1.6.7.4. RM. Kol dr. ABIMANYU SAHIR
  17. 1.6.7.5. RM. Kol AMILUHUR SAHIR
  18. 1.6.7.6. RM. dr ONTOWIRYO SAHIR
  19. 1.8.1.1. RM. PUDJOJONO (AURI MEDAN)
  20. 1.8.1.2. RAy. MUNAH (JAKARTA)
  21. 1.8.1.3. RAy. MARIATI
  22. 1.8.1.4. RM. DIPOKUSUMO (BANDUNG)
  23. 1.8.1.5. RM. SURASNO (BANDUNG)
  24. 1.8.1.6. RAy. RATNAWATI (SEMARANG)
  25. 1.8.1.7. RM. SUDJONO I
  26. 1.8.1.8. RM. SUDJONO II (SEMARANG)
  27. 1.8.1.9. RM. SETIABUDI (SEMARANG)
  28. 1.8.1.10. RA. BUDIATI (SEMARANG)
  29. 1.8.2.1. RAy. SAMSILAH (JAKARTA)
  30. 1.8.2.2. RAy. SUPATNI (JAKARTA)
  31. 1.8.2.3. RAy. KEATIN (JAKARTA)
  32. 1.8.2.4. RM. SULAEMAN I
  33. 1.8.2.5. RM. SUKARNO
  34. 1.8.2.6. RAy. SUHARTI
  35. 1.8.2.7. RM. SULAEMAN II (JAKARTA)
  36. 1.8.2.8. RM. MOH ISMAIL (JAKARTA)
  37. 1.8.2.9. RM. SUDIRMAN (JAKARTA
  38. 1.8.2.10. RM. SUKIRMAN (JAKARTA)
  39. 2.1.1.1. RAy. DJENAB (TERNATE)
  40. 2.1.2.1. RM. MUHAMMAD
  41. 2.1.2.2. RAy. KALSUM (MAKASAR)
  42. 2.1.3.1. RAy. HAMILIH (TASIKMALAYA)
  43. 2.1.8.1. RAy. MURN (TJ PRIOK)
  44. 2.1.8.2. RAy HAR 1
  45. 2.1.8.3. RAy MUL
  46. 2.1.8.4. RAy HAR 2
  47. 2.1.8.5. RAy. DINAR (TJ PRIOK)
  48. 2.1.8.6. RM. ABD MADJID
  49. 2.2.1.1. ...............
  50. 2.2.1.2. ...............
  51. 2.2.1.3. ...............
  52. 2.3.1.1. RM. AMIN (AMBON)
  53. 2.3.1.2. RAy. MIRJAM (AMBON)
  54. 2.3.2.1. RM. ABD GANI (AMBON)
  55. 3.1.1.1. RM. YUSUF (TNI JAKARTA
  56. 3.1.1.2. RAy. MIRJAN (JAKARTA)
  57. 3.1.1.3. .........................
  58. 3.1.1.4. .........................
  59. 3.2.4.1. RM. SENTOT DIPONEGORO
  60. 3.2.4.2. RAy. MARYAM DIPONEGORO
  61. 3.2.4.3. RM. SUTOMO DIPONEGORO
  62. 3.2.4.4. RAy. MARYATI DIPONEGORO
  63. 3.2.4.5. RAy. SUKATI DIPONEGORO
  64. 3.2.4.6. RM. SANTOSO DIPONEGORO
  65. 3.2.4.7. RM. ANTAWIRYA DIPONEGORO
  66. 3.2.4.8. RM. SUSILO DIPONEGORO
  67. 3.2.4.9. RM. GATOTO DIPONEGORO (JOHAN)
  68. 3.2.4.10.RM. INDRA DIPONEGORO
  69. 3.2.4.11.RAy. RATNANINGSIH DIPONEGORO
  70. 3.2.4.12.RM. SUDIRMAN DIPONEGORO (DEN)
  71. 3.3.2.1. RM. ACHMAD
  72. 3.3.2.2. RM. ....................
  73. 3.3.3.1. RAy. KUSIAH (AMBON)
  74. 3.3.3.2. RAy. KURSIN (AMBON)
  75. 3.3.3.3. RM. SUDJA (AMBON)
  76. 3.7.1.1. RAy. MIRANDA DIPONEGORO
  77. 3.7.1.2. ..............................
  78. 3.7.2.1. RM. ALEXANDER DIPONEGORO
  79. 3.7.2.2. RM. NURDJOHAN DIPONEGORO
  80. 3.7.2.3. RAy. MAGDALIN DIPONEGORO
  81. 3.7.2.4. RAy. FARIDA A DIPONEGORO
  82. 3.7.2.5. RAy. ARISWAPI DIPONEGORO
  83. 3.7.2.6. RAy. DJULISTANI DIPONEGORO
  84. 3.7.2.7. RAy. ANNEKE DIPONEGORO
  85. 3.7.2.8. RM. DANUR DIPONEGORO (KEMLU TOKYO)
  86. 4.1.1.1. RM. MUHAMMAD DIPONEGORO
  87. 4.1.1.2. RAy. SAKILAH DIPONEGORO
  88. 4.1.1.3. RAy. TIMUR DIPONEGORO (BANDUNG)

IKPD-1.jpg
524/4 <7+35> < 2. Raden Mas Dipoatmojo / Raden Mas Dipokusuma (Pangeran Abdul Azis)
lahir: 1815
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


R.M Dipoatmaja /R.M Dipokusumo /Pangeran Abdul Aziz (1805)

Adalah putera ke dua Pangeran Diponegoro yang lahir dari ibu Retno Madubrongto. Dia sudah cukup dewasa ketika perang dimulai, sehingga tidak menutup kemungkinan, dia meninggalkan anak dan isteri ketika menjalani pembuangan di Ambon. Semasa perang, RM. Dipoatmojo banyak bergerak di wilayah Pacitan dan Madiun. Peperangan dipimpin oleh Bupati Mas Tumenggung Joyokariyo, Mas Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris, akan tetapi akhir Agustus 1825 daerah Pacitan berhasil dikuasai Belanda. Bupati Joyokariyo di pecat, sedang Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris ditangkap yang nasibnya tidak diketahui. Sebagai bupati baru, diangkatlah oleh Belanda Mas Tumenggung Somodiwiryo, akan tetapi tidak lama bertahta sebab 9 Oktober 1825 diserbu oleh pasukan Madiun yang dipimpin oleh Raden Mas Dipoatmojo dan berhasil membunuh bupati baru tersebut. Namun akhirnya awal Desember 1825 seluruh pasukan Madiun di Pacitan berhasil dipecah belah oleh Belanda, hingga Pacitan sepenuhnya di kuasai Belanda.

Pada akhir perang Diponegoro, Raden Mas Dipoatmojo berada di Surakarta bersama keluarga kakek buyutnya dari garis ibu setelah pada tanggal 8 Januari 1830 tertangkap oleh pasukan Belanda lalu dibuang ke Ambon 1840.
RM. JONET DIPOMENGGOLO putra Pangeran Diponegoro, foto: Ilustrasi
545/4 <10+7!> < 4. Raden Mas Djonet Dipomenggolo
lahir: 1815, Solo
perkawinan: <71> < NYI MAS AYU Fatmah \ Bun Nioh b. 1817c
wafat: 1837, Yogyakarta, dimakamkan di Bogor (Versi 'Peter Carey')
wafat: 1885, Bogor, dimakamkan di Bogor (Versi Keluarga)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


RIWAYAT HIDUP

PANGERAN DJONET / RM. JUNAT / RM. JEMET

Pangeran Djonet Dipomenggolo

Ketika ayahnya menyatakan diri sebagai penentang penjajah dan terusir dari Puri Tegalrejo, Raden Mas Joned baru berumur sepuluh tahun. Dia ikut rombongan pengungsi bersama keluarga besarnya ke Goa Selarong setelah Puri Tegalrejo digempur oleh pasukan Belanda. Dia sudah bisa merasakan bagaimana susahnya hidup dalam pengungsian dan hanya tinggal di dalam Goa bersama ibu dan saudara-saudaranya. Usianya masih terhitung anak-anak ketika dia lari mengikuti rombongan para penghuni Puri Tegalrejo dan para penghuni kampung sekitar puri. Terkadang sebuah tangan kokoh menyambarnya dan meletakkannya dalam gendongan sambil berlari mendorong gerobak dimana ibu dan bibinya menumpang menyatu dengan perbekalan seadanya. Orang itu tak lain adalah Sentot Prawiro Dirjo pamannya sendiri. Umur Raden Mas Joned sekitar 15 tahun ketika melihat ayahnya ditangkap oleh Belanda. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya tetap tegar menghadapi semuanya. Raden Mas Joned tidak kuasa menitikkan air mata ketika melihat ayahnya digiring dimasukkan ke dalam kereta yang membawanya ke pengasingan. Marah dan dendam, itulah yang ada di dalam benak Raden Mas Joned. Jiwa mudanya sangat terguncang dan itulah yang membuat Raden Mas Joned selalu melakukan perlawanan dimanapun dia melihat orang Belanda. Raden Mas Joned berusaha membebaskan ayahnya dengan cara mengejar ke Ungaran, lalu ke Semarang. Dia berhasil menyusup ke dalam kapal pembawa Pangeran Diponegoro tetapi ketahuan dan Raden Mas Joned menceburkan diri ke laut. Dia tidak putus asa karenanya. Raden Mas joned lalu mengejar Pangeran Diponegoro melalui darat bersama beberapa orang pengikutnya menuju Batavia. Sesampainya di Batavia, Pangeran Joned berusaha mendekati tempat penyekapan Pangeran Diponegoro, tetapi sayang, mata-mata mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro telah dipindahkan menggunakan kapal ke arah Timur. Dengan perbekalan seadanya disertai dengan pengikut-pengikut setianya, Raden Mas Joned berangkat ke arah Timur melewati jalan darat sambil menebarkan petaka bagi siapapun yang mencoba menghalanginya. Raden Mas Djonet, mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak menguntungkan dalam perselisihan dengan seorang perwira di Djokjakarta. (J. Hageman, 1856, "Geschiedenis van den oorlog op Java, van 1825 tot 1830"). Atas kehendak keluarga, jenasah beliau disembunyikan dan dimakamkan di Bogor. Ibu Raden Mas Joned yaitu Raden Ayu Maduretno adalah kakak Sentot Prawirodirjo yang ikut bergabung dalam barisan Pangeran Diponegoro. Ketika Pangeran Diponegoro diangkat menjadi sultan di Dekso, Raden Ayu Maduretno diangkat menjadi permaisuri. Pada tahun 1828 beliau wafat karena sakit dan dimakamkan di Imogiri.


PANGERAN DJONET DIPOMENGGOLO / RM. JUNAT / RM. JEMET

Idang.jpeg
Oleh :R. Endang Suhendar Diponegoro
Pangeran Djonet Dipomenggolo

PANGERAN DJONET atau Raden Mas Djonet Dipomenggolo, adalah putera pertama Pangeran Diponegoro yang lahir pada tahun 1815 1) di Yogyakarta dari Ibu kandung yang bernama R.A. Maduretno alias R.A. Ontowiryo alias R.A. Diponegoro yakni isteri kelima Pangeran Diponegoro putri ketiga Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Kanjeng Ratu Kedaton Maduretno Krama (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Pangeran Djonet memiliki adik kandung bernama Pangeran Roub/Pangeran Raab/Pangeran Raib, yang pada tahun 1840 berhasil dibuang Belanda ke Ambon dan meninggal disana. Ketika Pangeran Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, RA. Maduretno diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton l pada 18 Pebruari 1828 (walaupun saat itu Belanda berikut Kerajaan yang lain tidak mengakuinya). Pada saat itu Raden Mas Djonet Dipomenggolo masih berumur 13 tahun.



Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)
0. KANJENG SUNAN PRABU AMANGKURAT AGUNG  
1. KANJENG SUSUHUNAN PAKUBUANA I    
2. KANJENG PRABU AMANGKURAT IV    
3. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING I ING NGAYOGYAKARTA   
4. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING II ING NGAYOGYAKARTA    
5. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA    
6. BPH. DIPANEGARA    
7. RM. DJONET DIPAMENGGALA
  
 - Tercatat Di Tepas Darah Dalem -
Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Ibu)
0. KANJENG SUNAN PRABU AMANGKURAT AGUNG  
1. KANJENG SUSUHUNAN PAKUBUANA I    
2. KANJENG PRABU AMANGKURAT IV    
3. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING I ING NGAYOGYAKARTA   
4. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING II ING NGAYOGYAKARTA
5. KRK. MADURETNO KRAMA (Putri ke 22 HB-II <menikah dengan> RADEN RANGGA PRAWIRADIRDJA III 
6. BRAy. MADURETNO/RA. Ontowiryo/RA. Diponegoro
7. RM. DJONET DIPAMENGGALA
 
 - Tercatat Di Tepas Darah Dalem -

PANGERAN DJONET PADA MASA PERJUANGAN PANGERAN DIPONEGORO (Tahun 1825-1830)

Sejak usia 10 tahun Pangeran Djonet bersama 2 saudaranya yaitu Pangeran Roub dan Pangeran Diponegoro Anom selalu mendampingi/selalu diajak ayahnya dalam setiap perundingan penting dengan Belanda. Mengingat usianya yang relatif muda tidak banyak yang dilakukan Pangeran Djonet muda, akan tetapi selama 5 tahun Pangeran Djonet berada, melihat dan menyaksikan langsung (veni, vedi veci) sejarah yang sedang terjadi di tanah air melalui perjuangan orang tuanya yaitu Pangeran Diponegoro beserta panglima Sentot Prawiradirja dan Pangeran-pangeran juga para Kyai. Di medan perang Pangeran Djoned menyaksikan bagaimana prajuritnya terbunuh...bagaimana mendapatkan kemenangan...bagaimana mengatur siasat perang, semua ini merupakan pengalaman dan pembelajaran yang berharga bagi pembentukan kepribadian Pangeran Djoned kemudian.

Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, untuk sementara dibiarkan. Sekitar 200 benteng telah dibangun untuk mengurangi mobilitas pasukan Diponegoro. Perlahan langkah tersebut membawa hasil. Dua orang panglima penting Diponegoro tertangkap. Kyai Mojo tertangkap di Klaten pada 5 Nopember 1828. Sentot Alibasyah, dalam posisi terkepung, menyerah di Yogya Selatan pada 24 Oktober 1829.

Diponegoro lalu menyetujui tawaran damai Belanda. Tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro disertai lima orang lainnya ( Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock. Mereka disambut dengan upacara militer Belanda. Dalam perundingan itu, Diponegoro menuntut agar mendapat "kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan agama Islam." De Kock melaksanakan tipu muslihatnya. Sesaat setelah perundingan itu, Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Semarang dan terus ke Betawi. Pada 3 Mei 1830, ia diasingkan ke Manado, dan kemudian dipindahkan lagi ke Ujungpandang (tahun 1834) sampai meninggal. Di tahanannya, di Benteng Ujungpandang, Diponegoro menulis "Babad Diponegoro" sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357 halaman.


PANGERAN DJONET PADA SAAT PENGASINGAN AYAHNYA KE SULAWESI (Tahun 1830)

Menurut cerita salah satu keturunan ke 6 Pangeran Djonet yang tinggal di sekitar makam yaitu R. Ustad ABDUL WAFA (keturunan dari Raden Mas SAHID ANKRIH, anak ke 5 Pangeran Djonet) adalah sebagai berikut : Sewaktu beliau dibuang ke Makassar, beliau ikut namun sewaktu Kapal/Perahu di lautan beliau menceburkan diri bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. Setelah beberapa lama menetap di Batavia, lalu beliau pindah ke Bogor, berjuang bersama pasukannya yang akhirnya menetap di Kebon Kelapa Cibeureum sampai akhir hayatnya.” (sesuai yang tertera dalam Papan Wisata Ziarah dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor).

SITUS MAKAM PANGERAN DJONET DIPOMENGGOLO

Situs Makam Pangeran Djonet Dipomenggolo, Alamat : Pesantren Dipamenggala Al-Khasanan, Jl. Raden Kosasih, Kp. Kebon Kelapa-Kelurahan Cikaret-Bogor Selatan

Cerita lain, versi keturunan yang tinggal di sekitar makam : “ Pangeran Djonet tinggal dan menetap pertama kali di pinggiran kota Bogor (± 4 s.d 7 km dari Istana Belanda) di kampung Jabaru (Jawa Baru), setelah mempunyai 5 orang putra dan 2 orang putri semakin banyaklah keturunan Pangeran Djonet di kampong Jabaru tersebut, akhirnya membuka kampong baru lagi dengan nama kampong Dukuh Jawa, sampai akhirnya wafat pada usia 70 tahunan dan dimakamkan di kampong Kebon Kelapa (sekarang Jalan Raden Kosasih), Cikaret, Bogor Selatan tidak jauh dari kampong tempat beliau menetap ”.


PANGERAN DJONET DI BATAVIA (Tahun 1830-1831)

Setelah lolos dari proses pengasingan ke Pulau Sulawesi sesuai cerita sebelumnya, Pangeran Djonet muda yang baru berusia 15 tahun (1815-1830) dibantu pengikutnya yang berjumlah lebih dari 1 orang untuk mencari tempat persembunyian sementara di daerah Batavia. Sebagai kelompok asing yang berkeliaran di Batavia yang notabene sebagai pusat kegiatan colonial pada masa itu tentunya baik Pangeran Djonet maupun pengikutnya yang asli Yogyakarta mencari sanak saudara, kerabat maupun tetangga yang sedaerah. Akhirnya dengan wawasan sejarah yang dimiliki sang Pangeran Muda diputuskan untuk mencari daerah Matraman (saat itu umur daerah Matraman sudah mencapai 208 tahun sejak penyerbuan Kerajaan Mataram ke Batavia).

Di Matraman, pengikut Pangeran Djonet terlebih dahulu mencari tokoh-tokoh setempat yang dianggap mengetahui asal-usul Matraman dan akhirnya memperkenalkan diri kepada mereka tentang keberadaan Pangeran Mataram (tidak menyebutkan nama/menggunakan nama alias) dan menceriterakan secara umum kondisi kejadian saat itu. Diluar perkiraan sang Pangeran, mereka menerima dengan amat terbuka sambil disertai perasaan haru, bangga dan rindu akan kampong halaman akhirnya berkat bantuan dan perlindungan masyarakat Matraman pada saat itu Pangeran Djonet beserta pengikutnya menetap di Batavia (Matraman) lebih kurang selama 2 tahun.

Selama menetap di Matraman dalam rangka mempertahankan diri dari kejaran tentara Belanda, Pangeran Djonet membentuk pasukan (semacam pengawal Raja) dengan merekrut pemuda-pemuda yang mayoritas keturunan prajurit Kerajaan Mataram walaupun ada juga dari etnis lain yang juga bergabung dengan suka rela (di komplek pemakaman Pangeran Djonet di Bogor dimakamkan juga komandan pasukan pengawal yang berasal dari Banten). Komunikasi keberadaan Pangeran Djonet di Batavia dengan pihak Keraton Yogyakarta (lebih kurang 19 orang Pangeran/turunan Sultan yang mendukung Pangeran Diponegoro) dilakukan melalui media kurir/mata-mata/telik sandi yang masing-masing bergerak menuju titik yang ditentukan (rendesvouz), dari Keratonlah Pangeran Djonet mendapatkan bantuan logistik yang diperlukan dalam membentuk pasukan pengawal.

Tahun 1832 Pangeran Djonet genap berusia 17 tahun, usia yang cukup dewasa bagi seorang keturunan Sultan untuk segera memulai hidup berumah tangga. Maka pada tahun 1832 Pangeran Djonet mempersunting Putri Kapitein keturunan Tionghoa dari Marga Tan yang bernama BUN NIOH kemudian berganti nama menjadi NYI MAS AYU FATMAH (tidak ada literature yang menyebutkan dimana proses pertemuannya). Kalau mengacu kepada usia Nabi Muhammad SAW menikah, usia tersebut masih terlalu muda, akan tetapi karena kondisi saat itu sedang dalam proses bersembunyi ataupun penyamaran (incognito) ditambah lagi kebiasan Raja-raja Kasultanan Yogyakarta anak lelaki tertua menikah pada saat usia menginjak dewasa. Setelah berumah tangga Pangeran Djonet pindah ke pinggiran Kota Bogor, akan tetapi komunikasi dengan masyarakat Matraman tetap terjalin dengan sangat baik, dan sering mengahdiri acara-acara keagamaan yang diadakan di Masjid Jami Mataram.

Berdirinya Masjid Jami Matraman memang tak lepas dari aktivitas bekas pasukan Sultan Agung Mataram yang menetap di Batavia. Nama wilayah Matraman pun disinyalir karena dahulunya merupakan tempat perkumpulan bekas pasukan Mataram. Untuk menjalankan aktivitas keagamaan bekas pasukan Mataram mendirikan sebuah Masjid di kawasan tersebut. Masjid yang didirikan pada tahun 1837 diberi nama Masjid Jami Mataram yang artinya Masjid yang digunakan para abdi dalem Keraton Mataram. Selain itu, pemberian nama tersebut dimaksudkan untuk menandakan bahwa masjid itu didirikan oleh para bekas pasukan Mataram. Keaslian Masjid Jami Matraman masih terlihat dari bagian depan gedung masjid yang belum pernah direnovasi. Pada jaman dahulu masjid itu merupakan masjid paling bagus di kawasan tersebut, dengan perpaduan gaya arsitektur masjid dari Timur Tengah dan India. Jika dilihat dari depan akan nampak bangunan seperti benteng dan pada dinding tembok mimbarnya dipenuhi dengan tulisan kaligrafi serta terlihat pula bentuk kubah bundar. Pada tahun 1837, masjid itu diresmikan oleh Pangeran Jonet (ahli waris Pangeran Diponegoro).


PANGERAN DJONET DI BOGOR (Tahun 1832 - 1885)

Tempat Tinggal Di Bogor

Pangeran Djonet pindah dari pelariannya di Batavia ke daerah pinggiran kota Bogor sekitar tahun 1832. Bersama pengikutnya keturunan bekas tentara kerajaan Mataram di Batavia (Daerah Matraman – Jakarta Timur), Pangeran Djonet membuka perkampungan baru yang akhirnya dikenal dengan nama Kampung JABARU, kependekan dari Jawa Baru.

Sarana transportasi darat yang umum pada masa itu kebanyakan menggunakan Kuda tunggang, kereta kuda, sepeda, sedikit kereta api dan mobil. Pangeran Djonet seperti halnya bangsawan di Keraton Yogyakarta tentunya sangat terlatih menggunakan kuda tunggang, oleh karenanya di sekitar kampong Jabaru, disuatu tempat yang bernama "Pasir Kuda" (Pasir, nama lain dari Bukit) Pangeran Djonet dan para pengikutnya biasa menambatkan kuda-kudanya (kemungkinan besar, dipasir inilah dibangun Istal).


Melihat cerita di atas, dan mempelajari Silsilah yang ada serta mencermati keberadaan RM. Djonet pada masa perjuangan Pangeran Diponegoro setelah saya lakukan analisis dengan seksama dengan mengacu kepada artikel dan buku-buku diperoleh berbagai macam kemungkinan sebagai berikut :

  • RM. Djonet adalah putra sulung dari pasangan Pangeran Diponegoro dengan RA. Maduretno yang lahir pada tahun 1815 M. Ketika Diponegoro berusia 42 tahun, beliau dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, RA. Maduretno diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton l pada tanggal 18 Pebruari 1828, pada saat itu RM. Djonet berumur 13 tahun.
  • Sejarah Pangeran Djonet menurut cerita kutipan dari buku karangan Peter Carey menyebutkan bahwa Pangeran Djonet dibunuh oleh Belanda dalam sebuah peperangan pada tahun 1837. Cerita tersebut dapat beralasan :

  • Dalam artikel : “Jejak Sultan Agung Mataram di Masjid Jami Matraman” disebutkan bahwa Masjid Jami Mataram dibangun dan diresmikan pada tahun 1837 oleh Pangeran Jonet (ahli waris Pangeran Diponegoro). Pada tahun 1837 Masjid Jami tersebut tergolong bangunan mewah arsitktur bangunannya menyerupai Taj Mahal, sehingga menjadi pusat perhatian Belanda. Informasi peresmian Masjid tersebut oleh keturunan langsung Pangeran Diponegoro sampai melalui mata-mata Belanda yang pada akhirnya Belanda melakukan penyergapan (kemungkinan dikediaman Pangeran Djonet di kampung Jabaru (Jawa Baru), di daerah Selatan Bogor. Dalam penyergapan tersebut akhirnya terjadi peperangan antara tentara Belanda dengan Pangeran Djonet dan pengikutnya. Di lain pihak, pada tahun yang sama 1837 Pangeran Djonet sudah berumah tangga dan mempunyai anak 7 ( 5 laki -laki dan 2 perempuan ).
  • Mungkin saja data yang diperoleh Peter Carey sumbernya berasal dari pihak Belanda atau referensi lain yang ada di Inggris, dimana baik Belanda maupun Inggris membukukan sejarah pemberontakan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya lebih mengutamakan keberhasilannya semata, sehingga Pangeran Diponegoro dan keluarganya berikut pengikutnya dianggap “BAD GUY” yang sudah dan harus dikalahkan (dibunuh) sedangkan pihak Belanda maupun Inggris sebagai “GOOD GUY” yang patut mendapatkan penghargaan.
  • Pangeran Djonet menetap di Batavia mulai tahun 1830, pada saat beliau berumur 15 tahun.Kalau mengacu kepada cerita versi “makam” (di Cikaret, Bogor), Pangeran Djonet termasuk dalam kelompok yang akan dibuang ke Makassar yang akhirnya dapat melarikan diri dan menetap di Batavia. Dimana pangeran Djonet tinggal di Batavia?, sampai tahun berapa tinggal di Batavia?, kapan pindah ke Bogor? Tahun berapa menikah?, Siapa isterinya? Berapa orang istrinya? Berapa orang putra-putrinya? dimana tinggalnya di Bogor? Jawabannya adalah :

  • Di Batavia pangeran Djonet tinggal di perkampungan mantan prajurit Mataram (Sultan Agung Mataram menyerang VOC ke Batavia pada April 1628 - Mei 1629). Pada tahun 1837 perkampungan tersebut sudah berubah nama menjadi kampung MATRAMAN karena sudah berusia 218 tahun. Di Matraman inilah Pangeran Djonet menetap dan mendapatkan perlindungan dari keterunan tentara Mataram, sampai usia beliau mencapai 17-22 tahun.
  • Pangeran Djonet pindah ke Bogor antara tahun 1832-1837, dimana pada usia tersebutlah menikah dengan puteri Kapitein keturunan Tionghoa dari Marga TAN yang bernama BOEN NIOH kemudin bermualaf dengan nama NYI MAS AYU FATMAH. Mengenai jumlah isterinya dapat diperkirakan sebagai berikut : apabila mengacu kepada buku Peter Carey pangeran Djonet terbunuh pada saat usia perkawinan 5 tahun (1837) dengan jumlah putra-putri 7 orang, berarti pangeran Djonet beristri minimal 2 orang, sedangkan kalau mengacu versi makam, Pangeran Djonet meninggal di usia 70 tahunan meninggalkan 2 orang isteri, 7 orang anak.
  • Di Bogor Pangeran Djonet tinggal di pinggiran Kota ± 5 km dari Istana Belanda. Disana beliau dibantu para pengikutnya keturunan Mataram yang ada di Batavia membuka perkampungan baru yang pada akhirnya dikenal dengan sebutan Kampung JABARU kepanjangan dari Kampung Jawa Baru. Di kampung Jabaru inilah pangeran Djonet membentuk pasukan dan beranak-pinak. Kuda-kuda pangeran Djonet dan pasukannya ditambatkan di Istal Kuda didaerah pasir (bukit) yang pada akhirnya daerah tersebut dikenal dengan nama Kampung Pasir Kuda (kampung diatas bukit yang banyak Kuda). Dari Kampung Jabaru keturunan Pangeran Djonet meluas dan membuka perkampungan baru di sebelah Timurnya yang juga dikenal dengan nama Kampung Dukuh Jawa.
  • Menurut kesaksian keturunan Pangeran Djonet generasi ke 5 Rd.Hj. SITI MARIAM (IIH) & Rd.Hj. SITI JUARIAH (UWE), pada saat ayahnya RM.H. RANA MENGGALA (generasi 4) meninggal sekitar tahun 1970an, ada prajurit utusan Kraton Yogyakarta membawa peti berukir yang berisi antara lain uang. Pada saat itu keturunan Pangeran Djonet sampai generasi ke 5 belum banyak yang mengetahui asal-usul yang mengarah kepada Pangeran Diponegoro. Hal ini dapat diartikan bahwa, pihak Kraton Yogyakarta mengetahui keberadaan Pangeran Djonet di Bogor dan ada kemungkinan sebetulnya pada saat Pangeran Djonet tinggal pertama di Bogor pun sudah ada komunikasi rahasia antara telik sandi kraton Yogyakarta dengan pasukan Pangeran Djonet di Bogor (mengapa masih rahasia, mengingat di kalangan kerabat Pangeran Diponegoro di Yogyakarta pada saat itu disinyalir masih banyak yang pro-kolonial). Sejauh ini diantara keturunan 7 anak Pangeran Djonet, sampai dengan generasi kelima (lahir 1930an-1950an) silsilah keluarga yang lebih rinci tentang keturunan Pangeran Djonet masih memerlukan verifikasi dan penyempurnaan,
  wallahu alam bi sawab.  

SILSILAH KELUARGA BESAR KETURUNAN RM. DJONET DIPAMENGGALA

Putra-putri

No. Nama Tempat/Lahir
1. RM. NGABEHI DIPAMENGGALA Jabaru, C-1833
2. RM. HARJO DIPOMENGGOLO Jabaru, C-1834
3. RM. HARJO DIPOTJOKRO / PANGERAN GRINGSING I Jabaru, C-1835
4. RM. HARJO ABDUL MANAP Jabaru, C-1836
5. RM. KH. SAHID ANGKRIH Jabaru, C-1835
6. NYI MAS RAy. UKIN Jabaru, C-1836
7. NYI MAS RAy. OKAH Jabaru, C-1837

Cucu

  1. 1.1. RM.KH. USMAN BAKHSAN (Lebak pasar, C-1854)
  2. 2.1. RM.H. BRODJOMENGGOLO
  3. 2.2. RAy.Hj. GONDOMIRAH
  4. 2.3. RM.H. ABAS
  5. 2.4. RM.H. ABDULRACHMAN ADIMENGGOLO
  6. 2.5. RM.H. MUHAMMAD HASAN
  7. 3.1. RM. HARJO DIPOTJOKRO HADIMENGGOLO / P.GRINGSING II
  8. 4.1. RM.H. EDOJ
  9. 4.2. RM.H. SAYYID YUDOMENGGOLO
  10. 4.3. NYI RAy.Hj. SARODJA
  11. 4.4. NYI RAy.Hj. AMANUNG
  12. 5.1. RM. ASMINI
  13. 5.2. RM. IDRIS
  14. 5.3. RM. ONDUNG

Buyut / Cicit

  1. 1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA (Lebakpasar, C-1877)
  2. 1.1.2. RM.H. ABDULGHANI MENGGALA (Lebakpasar, C-1878)
  3. 1.1.3. RM.H. MUHAMMAD HASYIR (C-1879)
  4. 1.1.4. RAy. Hj. Harisun (C-1880
  5. 1.1.5. RAy.Hj. ITI (Gg Wahir-Empang, C-1882
  6. 1.1.6. RM. Ahmad (Natsir), C-1884
  7. 2.1.1. RM.H. WONGSOMENGGOLO (Ciomas)
  8. 2.1.2. RM.H. SOEROMENGGOLO (Ciomas)
  9. 2.1.3. RM.H. ADIMENGGOLO (Ciomas)
  10. 2.1.4. RAy.Hj.UNAN (Loji)
  11. 2.2.1. RM.H. IBRAHIM\RM. ABD.ROCHMAN WIRADIMENGGOLO\RM. WIRADINEGARA
  12. 2.2.2. NYI RAy.Hj. ASMAYA
  13. 2.2.3. NYI RAy.Hj. ENTING AISYAH
  14. 2.2.4. NYI RAy.Hj. SITI FATIMAH
  15. 2.2.5. NYI RAy.Hj. ANTAMIRAH
  16. 2.2.6. RM. TJANDRANINGRAT\RM. ARIO MAD SURODHININGRAT (Zelfstandig Patih Buitenzorg 1916-1925)
  17. 2.2.7. RM. YAHYA GONDONINGRAT
  18. 2.2.8. RM. INDRIS TIRTODIRDJO/RM. IDRUS TIRTODIRDJO
  19. 2.2.9. NYI RAy.Hj. RAJAMIRAH/RAy.Hj. MIRAH
  20. 2.3.1. RM.H. ARDJA
  21. 2.3.2. RM.H. SUMINTA (MALIK)
  22. 2.3.3. RAy.Hj. PATIMAH <menikah dgn> DJUARSA (Ayahnya Mayjen. ISHAK DJUARSA)
  23. 2.3.4. RAy.Hj. FATMAH <menikah dgn> 1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA Cucu RM. NGABEHI DIPOMENGGOLO
  24. 2.3.5. RM.H. YACUB
  25. 2.3.6. RAy.Hj. SITI MARIJAM (Loji)
  26. 2.4.1. RAy.Hj. SUKIYAMAH
  27. 3.1.1. RM. HARJO DIPOHADIKUSUMO / P. GRINGSING III
  28. 4.1.1. RM.H. SINTOMENGGOLO
  29. 4.2.1. RM.H. SADIRI GONDOMENGGOLO
  30. 4.3.1. RM.H. SUMAWIDJAJA
  31. 4.3.2. NYI RAy.Hj. DANANG
  32. 4.3.3. NYI RAy.Hj. ANOK
  33. 4.3.4. NYI RAy.Hj. ENGKO
  34. 4.3.5. NYI RAy.Hj. TOJO (Ibu Bandung)
  35. 5.1.1. RM.H. ASMININ
  36. 5.1.2. RM.H. MALI
  37. 5.1.3. RM.H. MINAU
  38. 5.1.4. RM.H. IKING
  39. 5.1.5. RAy.Hj. UMI

Canggah
  1. 1.1.1.1. R.H. RAIS
  2. 1.1.1.2. R.Hj. ECIN
  3. 1.1.1.3. R.Hj. HALIMAH
  4. 1.1.1.4. R.Hj. SITI KHODIJAH
  5. 1.1.1.5. R.Hj. SITI MUKMINAH
  6. 1.1.1.6. R.Hj. SITI JUARIAH (Uwa UWE, Sempur)
  7. 1.1.1.7. R.H. MAHBUB
  8. 1.1.1.8. R.Hj. SITI MAEMUNAH
  9. 1.1.1.9. R.Hj. SITI MARIAM (Ibu KARIM/Uwa IIH, Gg. Menteng)
  10. 1.1.1.10. R.IYAN RIDWAN
  11. 1.1.2.1. R.H. YASIN (C-1910
  12. 1.1.2.2. R.H. ALI
  13. 1.1.2.3. R.H. ABDUL MANAN (Adung)
  14. 1.1.2.4. R.Hj. SUPIAH (Siti)
  15. 1.1.2.5. R.Hj. ENCUNG
  16. 1.1.2.6. R.MASDIR. JAYAKUSUMAH (Jaya, C-1911)
  17. 1.1.2.7. R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata)
  18. 1.1.2.8. R.MASDIR KURNAEN (Aeng)
  19. 1.1.2.9. R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF
  20. 1.1.2.10. R.MASDIR SUMANTRI (Ati)
  21. 1.1.2.11. R.MASDIR EMAN SULAEMAN
  22. 1.1.3.1. R. BUSTOMI
  23. 1.1.3.2. R. ISMAIL
  24. 1.1.3.3. R. MUDJITABA
  25. 1.1.3.4. NYI R. SUAEBAH
  26. 1.1.3.5. NYI R. MAEMUNAH
  27. 1.1.4.1. R. ILYAS DAJIR
  28. 1.1.5.1. R. ILYAS DAJIR
  29. 1.1.5.2. R. ILYAS DAJIR
  30. 1.1.6.1. .............
  31. 1.1.6.2. R. SOLEH
  32. 1.1.6.3. R. SOFYAN ATS SAURI / YUSUF
  33. 1.1.6.4. R. ARIFIN
  34. 2.1.1.1. R.H. SOLEH SURODIMENGGOLO (Ciomas)
  35. 2.1.1.2. R.H. UMAR SURIODIRDJO (Ciomas)
  36. 2.1.1.3. R.H. MUSA SUMODIRDJO Ciomas)
  37. 2.1.1.4. R.H. EMBIH SASTRODIRDJO
  38. 2.1.2.1. R.H. ICAN SUROMENGGOLO (Ciomas)
  39. 2.1.2.2. NYI. R. AMOE (Ciomas)
  40. 2.1.2.3. R.H. ARJOMENGGOLO (Ciomas)
  41. 2.1.3.1. R.H. MOH. SYAFEI (Ciomas)
  42. 2.1.3.2. R.H. JAMSARI ADIMENGGOLO (Ciomas)
  43. 2.1.4.1. NYI Rd.Hj. ENUNG (Loji)
  44. 2.2.1.1. R.H. KURAESIN
  45. 2.2.1.2. R.H. ADJID MANGKUWIJAYA
  46. 2.2.1.3. R.H. MUH. ISA (Ciomas)
  47. 2.2.6.1. R.H. PANJI
  48. 2.2.6.2. R.H. PANDU
  49. 2.2.6.3. R.H. HASAN
  50. 2.2.6.4. R.H. KURAESIN
  51. 2.2.7.1. NYI Rd. Hj. RATNA KANCANA (Ciomas) <menikah dengan> Ir. H. MARAH ROESLI (Pujangga Nasional
  52. 2.2.8.1. R.H. ACO UMAR
  53. 2.2.9.1. Rd.H. YASIN WINATADIREDJA (Enceng)
  54. 2.2.9.2. NYI Rd.Hj. SITI RAHMAT (Titi)
  55. 2.2.9.3. Rd.H. TATANG MUCHTAR (Ciluar)
  56. 2.2.9.4. NYI Rd. ICHA AISYAH (Di Belanda sejak 1935)
  57. 2.3.6.1. Drs.H.R. MANSYUR
  58. 2.3.6.2. H.R. SANUSI (Gunung Batu)
  59. 2.3.6.3. Drs.H.R. ENTJEP WAHAB (Jakarta)
  60. 3.1.1.1. R. DR. HARTO PURWOWASONO DIPONEGORO / P. GRINGSING IV (Magetan)
  61. 4.1.1.1. NYI Rd. HJ. S. AISYAH
  62. 4.1.1.2. NYI Rd. HJ. INA
  63. 4.1.1.3. NYI Rd. HJ. SITI
  64. 4.1.1.4. Rd. H. MARANA
  65. 4.1.1.5. NYI Rd. HJ. ARISAH
  66. 4.1.1.6. Rd. H. BARNAS SINTOMENGGOLO
  67. 4.1.1.7. NYI Rd. HJ. UTI
  68. 4.1.1.8. NYI Rd. HJ. UTA
  69. 4.1.1.9. NYI Rd. HJ. HATIMAH
  70. 4.1.1.10.Rd. H. SIDIQ SINTOMENGGOLO
  71. 4.2.1.1. Rd. H. KARTA
  72. 4.2.1.2. NYI Rd. HJ. JUHA
  73. 4.2.1.3. Rd. H. DARMA
  74. 4.2.1.4. Rd. H. DARNA
  75. 4.3.1.1. R.H. ENTUNA PARTAWIJAYA
  76. 4.3.2.1. R.H. PRAWIRA SOMANTRI
  77. 5.1.1.1. R. ABDUL LATIF
  78. 5.1.1.2. R. ARMANI
  79. 5.1.1.3. NYI Rd. JENAB
  80. 5.1.1.4. R. MURNAS
  81. 5.1.1.5. R. ABDURROHIM
  82. 5.1.1.6. R. ABDURROHMAN

JONET-35C.JPEG
556/4 <7+10!> < 5. Raden Mas Roub / Raden Mas Raab (Pangeran Hasan)
lahir: 1816, Solo
wafat: 1894, Wanagopa, Tegal
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Raden Mas Roub/Raib/Raab/Pangeran Hasan 1816

Adalah adik kandung Raden Mas Joned. Usianya sekitar sembilan tahun ketika mengikuti ayahnya dalam medan perang. Bersama kakaknya dia ikut merasakan bagaimana kehidupan dalam pengungsian. Raden Mas Roub selalu mengikuti perjalanan ayahnya dalam medan perang. Selain karena putera dari isteri permaisuri kedua, Pangeran Diponegoro menyiapkan Raden Mas Roub agar kelak sebagai seorang pemimpin agama. Sampai di sini dapat dijelaskan bahwa ada 4 (empat) putera Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Ambon. Pada buku The Power of Prophecy tulisan Peter F Carey halaman 746 dijelaskan bahwa pada akhir tahun 1848 Pangeran Diponegoro menanyakan kepada gubernur jenderal di Makassar perihal tiga anaknya yaitu Pangeran Dipokusumo, Raden Mas Raib serta Pangeran Diponingrat yang diberitakan mengalami sakit tekanan jiwa. Pangeran Diponegoro juga menanyakan anaknya yang tertua yang mengalami pembuangan di Sumenep pada tahun 1834 setelah memberontak di Kedu, dan belum pernah berkirim kabar.

Segudang Misteri dari Dukuh Wanagopa (27 Maret 2015)

Dukuh Wanagopa terletak di Desa Kreman, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal. Berjarak ± 4,5 KM di barat daya pusat Kecamatan Warureja. Dukuh Wanagopa juga berada di perbatasan antara Kecamatan Warureja dan Suradadi. Letak yang strategis dengan tiga sungai yang mengalir di dalamnya, antara lain : Sungai Kunci, Sungai Pedati, dan Sungai Jimat, membuat mayoritas penduduk Dukuh Wanagopa memilih bekerja sebagai petani.

Dukuh Wanagopa memiliki salah satu peninggalan sejarah yaitu Makam Kyai Hasan atau yang dikenal warga setempat dengan nama Mbah Wana. Menurut sejarah, Kyai Hasan merupakan anak kedua dari Pangeran Diponegoro dari istri keempatnya, yaitu Raden Ayu Manduretno. Kyai Hasan memiliki nama lain Raden Mas Raib atau Pangeran Hasan. Pada saat perang Diponegoro berlangsung Kyai Hasan berumur 9 tahun, beliau sering membantu ayah dan kakak kandungnya yang bernama Mas Joned. Akhirnya mereka ditangkap oleh pihak Belanda pada tanggal 18 Maret 1830 dan diasingkan ke Ambon. Namun pada tahun 1848, Kyai Hasan pun kembali ke tanah Jawa atas seizin Van den Bosch, kemudian beliau mengembara sembari menyebarkan agama Islam di sekitar lereng Gunung Slamet, dan sampailah di sebuah Desa yang ketika itu sudah dibangun oleh Mbah Ibrohim seorang pendatang dari Desa Bumiharja pada tahun 1870. Kemudian desa itu diberi nama Wanagopa. Menurut Bapak Abdul Salam, S.Ag sejarawan wanagopa mengatakan bahwa Wanagopa berasal dari dua kata yaitu Wana dan Gopak. Wana berarti hutan dan Gopak berarti petak, jadi disimpulkan bahwa Wanagopa dibuat dengan menebang hutan secara berpetak-petak. Selain itu nama Wanagopa merupakan bentuk penghargaan Mbah Ibrohim kepada Kyai Hasan/Mbah Wana. Disisa hidupnya Kyai Hasan menghabiskan waktunya dengan mendekatkan diri pada Allah. Pada tahun 1896-an beliau wafat dan dimakamkan di Dukuh Wanagopa, Desa Kreman, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal. Tetapi beberapa pihak mengatakan bahwa Kyai Hasan meninggal di Panggung Tegal. Namun kenyataannya, makam Kyai Hasan sendiri berada di Dukuh Wanagopa, Desa Kreman.
Hbv2.jpg
477/4 <8+45> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono V / Gusti Raden Mas Gathot Menol [Hb.4.6] (Sinuhun Menol)
lahir: 24 Januari 1820, Yogyakarta
perkawinan: <72> < Gusti Kanjeng Ratu Sultan [Gp.Hb.6.2] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng (Roromunting)
perkawinan: <73> < Kanjeng Mas Hemawati
perkawinan: <74> < Bendoro Raden Ayu Panukmowati [Ga.Hb.5.2]
perkawinan: <75> < Bendoro Raden Ayu Dewaningsih [Ga.Hb.5.1]
perkawinan: <76> < Bendoro Raden Ayu Retno Sriwulan [Ga.Hb.5.3]
gelar: 19 Desember 1823 - 17 Agustus 1826, Yogyakarta, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana V Senopati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid'din Panatagama Khalifatu'llah Ingkang Jumeneng Kaping V
gelar: 17 Januari 1828 - 5 Juni 1855, Yogyakarta, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana V Senopati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid'din Panatagama Khalifatu'llah Ingkang Jumeneng Kaping V
perkawinan: <294!> < Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradinah [Gp.Hb.5.1]
gelar: 1839, Yogyakarta, Letnan Kolonel
gelar: 1847, Yogyakarta, Kolonel
perceraian: <294!> < Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradinah [Gp.Hb.5.1]
perkawinan: <50!> < Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton [Hb.3.2.22] / Bendoro Raden Ayu Andaliya [Gp.Hb.5.2] b. 1834 d. 25 Mei 1919, Yogyakarta
wafat: 5 Juni 1855, Imogiri, Astana Besiyaran
Sri Sultan Hamengkubuwana V (Bahasa Jawa:Sri Sultan Hamengkubuwono V, lahir: 20 Agustus 1821 – wafat: 1855) adalah sultan kelima Kesultanan Yogyakarta, yang berkuasa tanggal 19 Desember 1823 - 17 Agustus 1826, dan kemudian dari 17 Januari 1828 - 5 Juni 1855 yang diselingi oleh pemerintahan Hamengkubuwana II karena ketidakstabilan politik dalam Kesultanan Yogyakarta saat itu.

Riwayat pemerintahan Nama asli Sri Sultan Hamengkubuwana V adalah Raden Mas Mustoyo, putra Hamengkubuwana IV yang lahir pada tanggal 20 Agustus 1821. Sewaktu dewasa ia bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia juga pernah mendapat pangkat Letnan Kolonel tahun 1839 dan Kolonel tahun 1847 dari pemerintah Hindia Belanda.Melihat tahun pemerintahannya dimulai tahun 1823 sedang lahirnya adalah tahun 1821 maka Sultan Hamengku Buwono V waktu permulaan bertahta berumur 2 (dua) tahun.

Hamengkubuwana V sendiri mendekatkan hubungan Keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Hindia-Belanda yang berada di bawah Kerajaan Belanda, untuk melakukan taktik perang pasif, dimana ia menginginkan perlawanan tanpa pertumpahan darah. Sri Sultan Hamengkubuwana V mengharapkan dengan dekatnya pihak keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Belanda akan ada kerjasama yang saling menguntungkan antara pihak keraton dan Belanda, sehingga kesejahteraan dan keamanan rakyat Yogyakarta dapat terpelihara.

Kebijakan Hamengkubuwana V tersebut ditanggapi dengan tentangan oleh beberapa kanjeng abdi dalem dan adik Sultan HB V sendiri, yaitu Raden Mas Ariojoyo (nantinya Hamengkubuwana VI). Mereka menganggap tindakan Sultan HB V adalah tindakan yang mempermalukan Keraton Yogyakarta sebagai pengecut, sehingga dukungan terhadap Sultan Hamengkubuwana V pun berkurang dan banyak yang memihak adik sultan untuk menggantikan Sultan dengan Raden mas Ariojoyo.

Keadaan semakin menguntungkan Raden Mas Ariojoyo setelah ia berhasil mempersunting putri Kesultanan Brunai dan menjalin ikatan persaudaraan dengan Kesultanan Brunai. Kekuasaan Sultan Hamengkubuwana V semakin terpojok setelah timbul konflik di dalam tubuh keraton yang melibatkan istri ke-5 Sultan sendiri, Kanjeng Mas Hemawati. Sri Sultan Hamengkubuwana V hanya mendapatkan dukungan dari rakyat yang merasakan pemerintahan yang aman dan tenteram selama masa pemerintahannya.

Sri Sultan Hamengkubuwana V wafat pada tahun 1855 dalam sebuah peristiwa yang hanya sedikit diketahui orang, peristiwa itu dikenal dengan wereng saketi tresno ("wafat oleh yang dicinta"), Sri Sultan meninggal setelah ditikam oleh istri ke-5-nya, yaitu Kanjeng Mas Hemawati, yang sampai sekarang tidak diketahui apa penyebab istrinya berani membunuh Sri Sultan suaminya.[2]

Ketika insiden pembunuhan itu terjadi, permaisuri Sultan HB V yakni Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, sedang hamil tua. 13 hari pasca sultan tewas, lahirlah anak yang dikandungnya itu dan seharusnya menjadi penerus tahta Yogyakarta. Putra mahkota Sultan HB V tersebut diberi nama Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad.

https://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_V

Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono V Salah satu mahakarya yang lahir di era beliau adalah Serat Makutha Raja. Di dalamnya memuat tentang prinsip-prinsip dasar menjadi raja yang baik. Dari karya ini dapat dilihat visi ke depan Sultan Hamengku Buwono V yang sangat memihak kepada rakyat.

Serat Makutho Raja ini pula yang nantinya menjadi pedoman bagi raja-raja selanjutnya, dan juga menjadi rujukan bagi pemimpin-pemimpin di luar keraton. Serat Makutho Raja ini kurang lebih mengandung nasehat-nasehat dari Kitab Tajussalatin.

Kitab Tajussalatin diterjemahkan di era Sri Sultan Hamengku Buwono V. Kemudian lahir pula karya lain seperti Suluk Sujinah, Serat Syeh Tekawardi dan Serat Syeh Hidayatullah.

Sri Sultan Hamengku Buwono V juga menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap kegiatan-kegiatan seni, terutama seni tari. Beliau memimpin sendiri komunitas tari di istana. Bahkan, beberapa sumber juga mengatakan ia turut menjadi penari.

Disamping tarian, Sri Sultan Hamengku Buwono V memprakarsai Gendhing Gati yang memadukan alat musik diatonis seperti terompet, trombon, suling dan jenis drum atau tambur dengan karawitan Jawa. Gendhing Gati ini lazimnya digunakan dalam gerak Kapang-Kapang pada tari Bedaya atau Serimpi, yaitu komposisi ketika masuk atau keluar dari ruang tari.

Pada era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V juga terdapat keunikan-keunikan lain dalam pelembagaan tari. Beliau membentuk kelompok penari Bedaya yang biasanya ditarikan oleh para penari wanita, digantikan oleh sekelompok penari laki-laki yang disebut kelompok Bedaya Kakung.

Karya seni tari lain yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono V adalah Tari Serimpi Renggawati yang ditarikan oleh lima orang penari, yang salah satunya berperan sebagai Dewi Renggawati. Jalan cerita tari ini menggambarkan kisah Prabu Anglingdarma.

Selain itu, Sri Sultan Hamengku Buwono V juga mengembangkan seni wayang orang. Pada masanya tak kurang dari lima judul lakon yang sering dipertunjukkan yakni Pragulamurti, Petruk Dadi Ratu, Angkawijaya Krama, Jaya Semedi dan Pregiwa-Pregiwati.

Media:https://www.kratonjogja.id/raja-raja/6/sri-sultan-hamengku-buwono-v
Face HB VI.JPG
488/4 <8+45> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VI / Gusti Raden Mas Mustojo [Hb.4.12] (Sinuhun Mangkubumi)
Sri Sultan Hamengkubuwana VI (Bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwono VI, lahir: 1821 – wafat: 20 Juli 1877) adalah sultan ke-enam Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1855 – 1877. Dia menggantikan kakaknya, Hamengkubuwana V yang meninggal di tengah ketidakstabilan politik dalam tubuh Keraton Yogyakarta.

Riwayat Pemerintahan Nama asli Sultan Hamengkubuwana VI adalah Raden Mas Mustojo, putra Hamengkubuwana IV yang lahir pada tahun 1821.

Hamengkubuwana VI naik takhta menggantikan kakaknya, yaitu Hamengkubuwana V pada tahun 1855, setelah Hamengkubuwana V meninggal secara misterius. Pada masa pemerintahannya terjadi gempa bumi yang besar yang meruntuhkan sebagian besar Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Tugu Golong Gilig, Masjid Gede (masjid keraton), Loji Kecil (sekarang Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta) serta beberapa bangunan lainnya di Kesultanan Yogyakarta.

Pada masa Hamengkubuwana V, Raden Mas Mustojo adalah seorang penentang keras kebijakan politik perang pasif kakaknya yang menjalankan hubungan dekat dengan pemerintahan Hindia-Belanda yang ada di bawah Kerajaan Belanda. Namun setelah kakaknya meninggal dan dia dinobatkan menjadi Hamengkubuwana VI, semasa pemerintahannya dia justru melanjutkan kebijakan dari kakaknya yang sebelumnya dia tentang keras.

Semasa pemerintahan Hamengkubuwana VI kemudian mulai timbul pemberontakan-pemberontakan yang tidak mengakui masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VI, namun pemberontakan-pemberontakan tersebut dapat diredam dan dibersihkan. Hal ini berkat kepemimpinan dan ketangguhan Danuredjo V, patih Keraton Yogyakarta saat itu. Hubungan dengan berbagai kerajaan pun terjalin kuat pada masa pemerintahan HB VI, apalagi setelah dia menikah dengan putri Kesultanan Brunai.

Walaupun sempat menimbulkan beberapa sengketa dengan kerajaan-kerajaan lain, tercatat bahwa Sultan HB VI dapat mengatasinya dengan arif bijaksana. Tapi lambat laun hubungan dengan pemerintahan Hindia-Belanda agak mulai menuai konflik tertama karena keraton Yogyakarta kala itu banyak menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang menjadi musuh pemerintah Hindia-Belanda dan Kerajaan Belanda.

Pemerintahan Hamengkubuwana VI berakhir ketika ia meninggal dunia pada tanggal 20 Juli 1877. Ia digantikan putranya sebagai sultan selanjutnya bergelar Hamengkubuwana VII.
IKPD-1.jpg
6311/4 <7+33> < 13. Raden Mas Sarkuma
lahir: 1834
wafat: 1849
4917/4 <9+54> < Raden Ayu Gondokusumo
Hilal Achmar Link
IKPD-1.jpg
5618/4 <7+32> < 6. Raden Ayu Impun / Raden Ayu Basah Mertonegoro
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


R.A Impun/R.A. Basah Mertonegoro

Raden Ayu Impun adalah puteri Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Retnodewati. Ketika perang Diponegoro mulai pecah, Raden Ayu Impun dinikahkan dengan kakak Sentot Prawiro Dirjo yang bernama Raden Abdul Kamil Alibasyah yang juga merupakan pejuang Pangeran Diponegoro yang bertugas bergerilya di wilayah Barat Sungai Progo. Raden Abdul Kamil Alibasyah kemudian diberikan gelar Notodirjo dan diberikan kedudukan setingkat tumenggung dan biasa dipanggil raden Basah.

Setelah Raden Abdul Kamil tewas dalam peperangan, kemudian dinikahi oleh Tumenggung Mertonegoro atau Jayapermadi anak laki-laki tertua Patih Danurejo II sehingga terkenal dengan nama Raden Ayu Basah Mertonegoro.
IKPD-1.jpg
5719/4 <7+36> < 7. Raden Ayu Joyokusumo
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


R.A. Joyokusumo

Nama sebenarnya tidak diketahui dan tidak pernah tersurat dalam Babad Diponegoro. R.M.Joyokusumo adalah anak Raden Ngabehi Joyokusumo, paman Pangeran Diponegoro. Raden Ngabehi Joyokusumo adalah salah satu pengatur strategi perang. Baik Raden Ngabehi Joyokusumo maupun Raden Mas Joyokusumo tewas di tangan Belanda pada pertempuran di tepi sungai Bogowonto di dusun Sengir.

Atas permintaan Pangeran Diponegoro melalui surat yang ditulis bulan Mei 1830 di Batavia, R.A Joyokusumo dinikahkan dengan Basah Gondokusumo, adik Basah Mertonegoro. Surat tersebut ditujukan kepada Diponegoro Anom. Dalam surat tersebut Pangeran Diponegoro menyarankan apabila ada masalah agar mengadu pada Kapten Johan Jacob Roeps. Dalam surat tersebut Pangeran Diponegoro menuliskan bahwa dia menaruh kepercayaan besar pada kapten Roeps berkaitan dengan nasib anak-anaknya.
IKPD-1.jpg
5820/4 <7+32> < 8. Raden Ayu Munteng / Raden Ayu Gusti (Raden Ayu Siti Fadilah)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


R.A Munteng/R.A Gusti/RA. Siti Fadilah/Nyai Musa

Dalam sebuah penyergapan Belanda di Kreteg daerah Kedu Utara Ibu Pangeran Diponegoro tertangkap bersama RA. Gusti. Mereka terpisah dari rombongan ketika perang di Bagelen. Kedunya lalu diserahkan ke Kasultanan Yogyakarta dan menjalani kehidupan di kraton. Dalam perjalanan terpisah dari rombongan itu mereka mendapat bantuan dari Kyai Setrodrono ayah Kyai Musa seorang ulama di wilayah Merden yang masih keturunan dari keluarga besar Danurejan.
7226/4 <22> < Kanjeng Raden Tumenggung Purwodiningrat [Hb.3.14.3] 7327/4 <39> < Kanjeng Pangeran Haryo Purwonegoro / Kanjeng Pangeran Haryo Purbokusumo 7428/4 <32> < Raden Mas Notodiksono
7529/4 <12> < Raden Ayu Glenter [Hb.3.2.1]
7630/4 <12> < Raden Mas Santog [Hb.3.2.2]
7731/4 <12> < Raden Mas Suryonegoro [Hb.3.2.3]
7832/4 <12> < Raden Ayu Bahusosro [Hb.3.2.4]
7933/4 <12> < Raden Ayu Basah Prawirokusumo [Hb.3.2.5]
8034/4 <12> < Raden Ayu Diponegoro [Hb.3.2.6]
8135/4 <12> < Kanjeng Pangeran Haryo Basah Abdul Fatah Kusumonegoro [Hb.3.2.7]
8236/4 <12> < Raden Ayu Pusponegoro [Hb.3.2.8]
8337/4 <12> < Raden Mas Rio Suryotaruno [Hb.3.2.9]
8438/4 <12> < Raden Mas Lurah [Hb.3.2.10]
8539/4 <12> < Raden Mas Rio Suryoatmojo [Hb.3.2.11]
8640/4 <12> < Raden Ayu Sentotprawirodirjo [Hb.3.2.12] 8741/4 <12> < Kanjeng Raden Tumenggung Kusumonegoro [Hb.3.2.13]
8842/4 <12> < Raden Ajeng Berek [Hb.3.2.14]
8943/4 <12> < Raden Mas Rio Kusumowijoyo [Hb.3.2.15]
9044/4 <12> < Raden Ayu Glentok [Hb.3.2.16]
9145/4 <12> < Raden Ayu Menik [Hb.3.2.17]
9246/4 <12> < Raden Ayu Jogoharjo [Hb.3.2.18]
9347/4 <12> < Raden Ayu Sabit [Hb.3.2.19]
9448/4 <12> < Raden Mas Danuwiryo [Hb.3.2.20]
9549/4 <12> < Raden Mas Tumenggung Kusumodiningrat [Hb.3.2.21]
9650/4 <12> < Raden Mas Puspoasmoro [Hb.3.2.23]
9751/4 <12> < Raden Ayu Projodirjo [Hb.3.2.24]
9852/4 <12> < Raden Ayu Kusumodipuro [Hb.3.2.25]
9953/4 <12> < Raden Mas Kusumodirejo [Hb.3.2.26]
10054/4 <12> < Raden Ayu Mangunatmojo [Hb.3.2.27]
10155/4 <12> < Raden Mas Joyosaputro [Hb.3.2.28]
10256/4 <12> < Raden Mas Kusumodipuro [Hb.3.2.29]
10357/4 <12> < Raden Mas Suro [Hb.3.2.30]
10458/4 <8+52> < Bendoro Pangeran Haryo Suryonegoro [Hb.4.17]
10559/4 <8+45> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hanom Hamengkunegoro [Hb.4.1]
10660/4 <8+46> < Bendoro Raden Mas Tritrustho [Hb.4.2]
10761/4 <8+46> < Bendoro Raden Mas (No Name) [Hb.4.3]
10862/4 <8+46> < Bendoro Raden Mas (No Name) [Hb.4.4]
10963/4 <8+48> < Bendoro Raden Ayu Danurejo [Hb.4.8] 11064/4 <13> < Kanjeng Pangeran Haryo Suryobronto [Hb.3.3.1]
11165/4 <13> < Raden Ayu Dipokusumo [Hb.3.3.2]
11266/4 <13> < Kanjeng Raden Tumenggung Poncokusumo [Hb.3.3.3]
11367/4 <13> < Raden Mas Darsono [Hb.3.3.4]
11468/4 <13> < Raden Ayu Danukusumo [Hb.3.3.5]
11569/4 <13> < Raden Rio Purwokusumo [Hb.3.3.6]
11670/4 <13> < Raden Ayu Notoatmojo [Hb.3.3.7]
11771/4 <14+56> < Raden Ayu Rio Danukusumo [Hb.3.4.1]
11872/4 <14+56> < Raden Ayu Resosentono [Hb.3.4.2]
11973/4 <14+56> < Raden Ayu Adipati Danurejo [Hb.3.4.3] 12074/4 <14+56> < Raden Ayu Reksonegoro [Hb.3.4.4]
12175/4 <14+56> < Raden Mas Mertowijoyo [Hb.3.4.5]
12276/4 <14+56> < Raden Mas Hakekat [Hb.3.4.6]
12377/4 <15+57> < Raden Lurah Ronowinoto [Hb.3.5.1]
12478/4 <15+57> < Raden Ayu Somonegoro [Hb.3.5.2]
12579/4 <15+57> < Raden Ayu Joyoprayitno [Hb.3.5.3]
12680/4 <15+57> < Raden Ayu Pekih Brahum [Hb.3.5.5]
12781/4 <15+57> < Raden Ayu Prawirodilogo [Hb.3.5.6]
12882/4 <18> < Raden Lurah Mangkudiprojo [Hb.3.8.1]
12983/4 <9+54> < Raden Ayu Cokrodiwiryo [Hb.3.10.1]
13084/4 <9+54> < Raden Ayu Atmokusumo [Hb.3.10.3]
13185/4 <9+54> < Raden Mas Mangunnegoro [Hb.3.10.4]
13286/4 <19+59> < Raden Ayu Riyokusumo [Hb.3.12.1]
13387/4 <19+59> < Raden Ayu Rio Prawiroatmojo [Hb.3.12.2]
13488/4 <21> < Raden Ayu Sosrokusumo [Hb.3.13.1]
13589/4 <21> < Raden Mas Puspohadisosro [Hb.3.13.2]
13690/4 <22> < Raden Ayu Sindunegoro [Hb.3.14.1]
13791/4 <22> < Raden Ayu Mangkuwinoto [Hb.3.14.2]
13892/4 <22> < Kanjeng Raden Tumenggung Sosromenduro [Hb.3.14.4]
13993/4 <22> < Raden Bagus Mangkurejo [Hb.3.14.5]
14094/4 <22> < Raden Ayu Danudimejo [Hb.3.14.6]
14195/4 <22> < Raden Lurah Kertoatmojo [Hb.3.14.7]
14296/4 <23+60> < Raden Ayu Sindudiprojo [Hb.3.15.1]
14397/4 <23+60> < Raden Mas Notowijoyo [Hb.3.15.2]
14498/4 <25> < Raden Ayu Gondowedoyo [Hb.3.17.1]
14599/4 <25> < Raden Rio Notoatmojo [Hb.3.17.2]
146100/4 <25> < Raden Ayu Manyar [Hb.3.17.3]
147101/4 <28+64> < Raden Ayu Suryonegoro [Hb.3.20.1]
148102/4 <28+64> < Raden Rio Joyowinoto [Hb.3.20.2]
149103/4 <28+64> < Raden Mas Atmowinoto [Hb.3.20.3]
150104/4 <28+64> < Raden Mas Yudowinoto [Hb.3.20.4]
151105/4 <30> < Raden Lurah Sumodipuro [Hb.3.22.1]
152106/4 <30+65> < Raden Bagus Sumoatmojo [Hb.3.22.2]
153107/4 <35+67> < Raden Mas Ambiyo [Hb.3.29.1]
154108/4 <35+67> < Raden Mas Koci [Hb.3.29.2]
155109/4 <36+68> < Raden Lurah Mangkupermadi [Hb.3.30.1]
156110/4 <37+69> < Raden Ayu Tirtoatmojo [Hb.3.31.1]
157111/4 <37+69> < Raden Ayu Somodimejo [Hb.3.31.2]
158112/4 <37+69> < Raden Ayu Joyowirono [Hb.3.31.3]
159113/4 <37+69> < Raden Mas Kadiran [Hb.3.31.4]
160114/4 <38+70> < Kanjeng Raden Tumenggung Wiryokusumo [Hb.3.32.1]
161115/4 <38+70> < Raden Ayu Brojoatmojo [Hb.3.32.2]
162116/4 <38+70> < Raden Ngabehi Dipowedono [Hb.3.32.3]
163117/4 <38+70> < Raden Panji Sutomenggolo [Hb.3.32.4]
164118/4 <38+70> < Raden Bagus Prawiroatmojo [Hb.3.32.5]
165119/4 <27+63> < Raden Ayu Sosrowinoto [Hb.3.19.1]
166120/4 <27+63> < Raden Bagus Mangunsuro Wibowo [Hb.3.19.2]
167121/4 <27+63> < Bendoro Raden Ayu Susilowaty [Hb.3.19.3]
168122/4 <8+46> < Bendoro Raden Mas Sunadi [Hb.4.7]
169123/4 <8+49> < Bendoro Raden Ayu Nitinegoro [Hb.4.9] 170124/4 <8+50> < Bendoro Pangeran Haryo Suryodinigrat [Hb.4.10] / Bendoro Pangeran Hangabehi
171125/4 <8+53> < Bendoro Raden Ayu Mutoinah [Hb.4.15]
172126/4 <8+48> < Bendoro Raden Mas Samadikun [Hb.4.18]
173127/4 <8+52> < Bendoro Pangeran Haryo Maloyokusumo [Hb.4.17]
174128/4 <8+52> < Bendoro Raden Mas Pringadi [Hb.4.16]
175129/4 <8+53> < Bendoro Raden Ayu Jayaningrat [Hb.4.11] 176130/4 <8+47> < Bendoro Raden Ayu Gusti Maduretno [Hb.4.5] 177131/4 <8+45> < Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton [Hb.4.14]
178132/4 <29> < Raden Ayu Mangun Broto [Hb.3.25.1]
179133/4 <29> < Raden Ayu Joyopertomo [Hb.3.25.2]
180134/4 <29> < Raden Rio Prawirodiningrat [Hb.3.25.3]
181135/4 <29> < Raden Mas Ngusman [Hb.3.25.4]
182136/4 <29> < Raden Ayu Brotoprawiro [Hb.3.25.5]
183137/4 <29> < Raden Ayu Brotoatmojo [Hb.3.25.6]
184138/4 <29> < Raden Ayu Riyokusumo [Hb.3.25.7]
185139/4 <29> < Raden Mas Salim [[Hb.3.25.8]
186140/4 <29> < Raden Ayu Suratinah [Hb.3.25.9]
187141/4 <29> < Raden Mas Surojo [Hb.3.25.10]
188142/4 <29> < Raden Ajeng Surati [Hb.3.25.11]
189143/4 <29> < Raden Ajeng Satinah [Hb.3.25.12]
190144/4 <29> < Raden Mas Salikin [Hb.3.25.13]
191145/4 <29> < Raden Ajeng Asiyah [Hb.3.25.14]
192146/4 <29> < Raden Ajeng Satijah [Hb.3.25.15]
193147/4 <33> < Raden Rio Purwodipuro [Hb.3.26.1]
194148/4 <33> < Raden Ayu Mangkudilogo [Hb.3.26.2]
195149/4 <33> < Raden Mas Setap [Hb.3.26.3]
196150/4 <33> < Raden Mas Karjan [Hb.3.26.4]
197151/4 <33> < Raden Ayu Murtejaningrum [Hb.3.26.5]
198152/4 <33> < Raden Mas Agung [Hb.3.26.6]
199153/4 <34> < Raden Rio Suryadi [Hb.3.27.1]
200154/4 <34> < Raden Ayu Prawiroatmojo [Hb.3.27.2]
201155/4 <34> < Raden Ayu Suronegoro [Hb.3.27.3]
202156/4 <34> < Raden Ayu Honggowongso [Hb.3.27.4]
203157/4 <34> < Raden Ayu Kusumowinoto [Hb.3.27.5]
204158/4 <34> < Raden Ayu Sastrowijoyo [Hb.3.27.6]
205159/4 <34> < Raden Ayu Notohamiprojo [Hb.3.27.7]
206160/4 <34> < Raden Ajeng Saparinah [Hb.3.27.8]
207161/4 <32> < Raden Ayu Danupernoto [Hb.3.28.1]
208162/4 <32> < Raden Ayu Puspodirojo [Hb.3.28.2]
209163/4 <32> < Raden Ayu Pusposenjoyo [Hb.3.28.3]
210164/4 <32> < Raden Ayu Tirtodimejo [Hb.3.28.4]
211165/4 <32> < Raden Ayu Joyowinoto [Hb.3.28.5]
212166/4 <32> < Raden Ayu Prawirowecono [Hb.3.28.6]
213167/4 <32> < Raden Mas Pusporejuno [Hb.3.28.7] / Raden Rio Notobroto
214168/4 <32> < Raden Ayu Mangunprawiro [Hb.3.28.8]
215169/4 <32> < Raden Mas Notodilogo [Hb.3.28.9]
216170/4 <32> < Raden Ayu Resowirono [Hb.3.28.10]
217171/4 <32> < Raden Mas Kusumodilogo [Hb.3.28.12]
218172/4 <32> < Raden Mas Sumarjo [Hb.3.28.13] / Raden Bagus Mangundigdo
219173/4 <32> < Raden Ajeng Saparinah [Hb.3.28.14]
220174/4 <32> < Raden Mas Murtijan [Hb.3.28.15] / Raden Mas Mukri
221175/4 <32> < Raden Ajeng Soblem [Hb.3.28.16]
222176/4 <32> < Raden Ajeng Katijah [Hb.3.28.17]
223177/4 <8+51> < Bendoron Raden Ayu Suryoatmojo [Hb.4.13] 224178/4 <30+65> < Raden Mas Riyo Surodiningrat
225179/4 <13> < Raden Ayu Djoyosantoso

5

IKPD2.jpeg
2991/5 <61> < Raden Mas Suparna Djajasoemarta
lahir: Diputus Ibunya : 848550 (Karena double dengan 689940
IKPD-1.jpg
2512/5 <54+71> < RM. Ngabehi Dipomenggolo / KH. Safawi
lahir: 1831c, Bogor (Jabaru)
perkawinan: <100> < Nyi Mas Ngabey b. 1836c
wafat: 1896, Banten
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

== ASAL-USUL ==

RADEN NGABEHI DIPOMENGGOLO alias KH. SAFAWI, lahir di Jabaru-Bogor sekitar tahun 1833 putra ke 1 dari 
7 bersaudara dari pasangan orang tua RADEN MAS DJONET DIPOMENGGOLO (Generasi ke 2 dari Sultan HB III) dengan 
NYIMAS AYU FATMAH / BUN NIOH (Putri Kapiten Tionghoa dari Marga TAN) dikaruniai 1 orang anak :
1. RM. KH. USMAN BAKHSAN Dipomenggolo
Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA
#1. BPH. Diponegoro
#2. RM. Djonet Dipamenggala
#3. RM. Ngabehi Dipamenggala
 

KETURUNAN

#1. RM. NGABEHI DIPAMENGGALA (C-1833)   
    1.1. RM.KH. USMAN BAKHSAN (Lebakpasar, C-1854)><Nyi Rd Kuraesin (Cucu RA. Mangkuwidjaja, Bupati Bogor tahun 1865-1870)
         1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA (Lebakpasar, C-1877)
                1.1.1.1.  RA.DJUHRO
                1.1.1.2.  RA.DJUHRIAH
                1.1.1.3.  RM.H. RAIS
                1.1.1.4.  RA.Hj. ECIN
                1.1.1.5.  RA.Hj. HALIMAH
                1.1.1.6.  RM. ACEP USMAN
                1.1.1.7.  RA. DJUBAEDAH
                1.1.1.8.  RM. HASBULLOH
                1.1.1.9.  RA.Hj. SITI KHODIJAH
                1.1.1.10. RA.Hj. SITI MUKMINAH
                1.1.1.11. RM.H. MAHBUB
                1.1.1.12. RA.Hj. NENENG MAEMUNAH
                1.1.1.13. RA.Hj. SITI MARIAM (Ibu KARIM/Uwa IIH, Gg. Menteng)
                1.1.1.14. RM.IYAN RIDWAN
                1.1.1.15. RM. IBRAHIM
         1.1.2. RM.H. ABDULGHANI MENGGALA (Lebakpasar, C-1878)
                1.1.2.1.  R.H. YASIN (C-1910
                          1.1.2.1.1. R. ENDUS
                          1.1.2.1.2. R. SALMAH (Encal)
                                     1.1.2.1.2.1.  R. HARUN AL-RASYID
                          1.1.2.1.3. R. SUHANDA (Kang AA)
                          1.1.2.1.4. R. ARSYAD (Kang OO)
                          1.1.2.1.5. R. SUKARNA (Kang UU)
                                     1.1.2.1.5.1.  R. ENEN
                                     1.1.2.1.5.2.  R. DIDING
                                     1.1.2.1.5.3.  R. ENTIN
                          1.1.2.1.6. R. SUKARNI (Kang Ani)
                                     1.1.2.1.6.1.  R. SUKANTA
                          1.1.2.1.7. R. MUTHOLIB (Toto)
                                     1.1.2.1.7.1.  R. DEDI NURTHOLIB (Nunuy)  
                                     1.1.2.1.7.1.  R. IIS  
                                     1.1.2.1.7.1.  R. DEDE
                1.1.2.2.  R.H. ALI
                          1.1.2.2.1.  R.H. JUMENA
                1.1.2.3.  R.H. ABDUL MANAN (Adung)
                          1.1.2.3.1.  R. SASTRA (Caca)
                          1.1.2.3.2.  R. ENOH
                          1.1.2.3.3.  R.H DIDIH
                          1.1.2.3.4.  R. CICIH
                          1.1.2.3.5.  R. SUPARTI
                                      1.1.2.3.5.1. Kang Eddy
                                      1.1.2.3.5.2. R.Pepen Supendi
                                      1.1.2.3.5.3. R.Neni
                                      1.1.2.3.5.4. R.Yeti 
                1.1.2.4.  R.Hj. SUPIAH (Siti)
                          1.1.2.4.1.  R. DJAKA
                                      1.1.2.4.1.1. R. Abdul Kadir (Oding)
                          1.1.2.4.2.  R. ANONG KRAMAATMAJA <menikah dengan> MA. SALMUN RAKYADIKARIA (Pujangga Sunda, asal Banten)
                                      1.1.2.4.2.1. R. Jatayu Wiyati Salmun (Uyu)
                                                   1.1.2.5.2.1.1. R. Riefa Sayyidina
                                                   1.1.2.5.2.1.2. R. Yutimma Dewiaty
                                      1.1.2.4.2.2. R. Yeti
                                      1.1.2.4.2.3. R. Parti
                                      1.1.2.4.2.4. R. Iwan
                                      1.1.2.4.2.5. R. Aas
                                      1.1.2.4.2.6. R. Neni
                                      1.1.2.4.2.7. R. Hedi
                                      1.1.2.4.2.8. R. Ented
                          1.1.2.4.3.  R.Hj. HALIMAH (Emah)
                          1.1.2.4.4.  R.Hj. EMPIN (Rapi'ah)
                          1.1.2.4.5.  R.H. DJAJUSMAN (Jayus)
                          1.1.2.4.6.  R. SOLEH
                1.1.2.5.  R.Hj. ENCUNG
                          1.1.2.5.1.  R. NANI (Eneng)
 
                1.1.2.6.  R.MASDIR. JAYAKUSUMAH (Jaya, C-1911)
                          1.1.2.6.1.  R. JATNIKA JAYAKUSUMAH (Enjat)
                                      1.1.2.6.1.1. R. EDI WAHYUDI
                                                   1.1.2.6.1.1.1.  R. YUDHA
                                                   1.1.2.6.1.1.2.  R. ENENG
                                                   1.1.2.6.1.1.3.  R. TATI
                                                   1.1.2.6.1.1.4.  Rb. MOCH HAPI 
                          1.1.2.6.2.  R. LUKMAN JAYAKUSUMAH (Maman)
                          1.1.2.6.3.  R. NYIMAS TUTI TRISNAWATI JAYAKUSUMAH (Enis)
                                      1.1.2.6.3.1. R. PEPEN RUSPENDI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.1.1.  Rb. YANA RUBIYANA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.1.2.  Rb. AGUSTANJAYA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.1.3.  Rr. NURWINA SEPTI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.1.4.  Rr. RIZKI MELINA DIPONEGORO
                                      1.1.2.6.3.2. R. ENDANG SUHENDAR DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.2.1.  Rr. INESIA VIOLINA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.2.2.  Rb. M. HARPA RAMADHAN DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.2.3.  Rb. M. GITAR RAMADHAN DIPONEGORO
                                      1.1.2.6.3.3. R. SUPRIATINI DIPONEGORO (Tintin)
                                                   1.1.2.6.3.3.1.  R. EKA SANDRA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.3.2.  R. AIDA NANDARA DIPONEGORO
                                      1.1.2.6.3.4. R. LILIH SURYYA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.4.1.  Rb. RANDY ADITYANA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.4.2.  Rr. ALIN NURGIANTY DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.4.3.  Rr. DITA TRIJAYANTI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.4.4.  Rb. IVAN WIRANATA DIPONEGORO
                                      1.1.2.6.3.5. R. MARYATI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.5.1.  Rb. NIKI ADRIAN PURNAMA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.5.2.  Rr. RANTI DWILESTARI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.5.3.  Rb. JODI TRIADI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.5.4.  Rr. GITA SEPTIA PERMATA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.6.3.5.5.  Rr. VERDA FAUZIYAH RACHMAN DIPONEGORO
                                      1.1.2.6.3.6. R. DENI SUPRAMANA DIPONEGORO(Wafat 2012)
                          1.1.2.6.4.  R.H. SURYA KUSUMAH (Cecep)
                                      1.1.2.6.4.1. R. Hedi Hadiwinata 
                                                   1.1.2.6.4.1.1.  Rr. Anisa Nurditasari  
                                                   1.1.2.6.4.1.2.  Rb. Muhammad Arditya Hadiwinata
                                      1.1.2.6.4.2. R. Henny Handayani
                                                   1.1.2.6.4.1.1.  Rr. Afifah Rachmalia
                                                   1.1.2.6.4.1.2.  Rr. Nabila RAchmani
                                                   1.1.2.6.4.1.3.  Rb. M. Rizki Asidiq
                                      1.1.2.6.4.3. R. Adi Karyadi
                                                   1.1.2.6.4.1.1.  Rb. Moh. Raghit Putra Karyadi
                                                   1.1.2.6.4.1.2.  Rb. Moh. Rehan Putra Karyadi
                          1.1.2.6.5.  R. HARJA SUTISNA JAYAKUSUMAH (Entis)
                                      1.1.2.6.5.1. R. Toto
                                                   1.1.2.6.5.1.1.  Putra Toto ke 1
                                                   1.1.2.6.5.1.2.  Putra Toto ke 2
                                      1.1.2.6.5.2. R. Yayat
                                                   1.1.2.6.5.2.1.  Putra Yayat ke 1
                                                   1.1.2.6.5.2.2.  Putra Yayat ke 2
                                      1.1.2.6.5.3. R. Tina Herlina (Nina)
                                                   1.1.2.6.5.3.1.  Putra Nina ke 1
                                                   1.1.2.6.5.3.2.  Putra Nina ke 2
                                      1.1.2.6.5.4. R. Kurnia
                                                   1.1.2.6.5.4.1.  Putra Kurnia ke 1
                                                   1.1.2.6.5.4.2.  Putra kurnia ke 2
                                      1.1.2.6.5.5. R. Hira
                          1.1.2.6.6.  R. MUSLIHAT JAYAKUSUMAH (Emung)
                                      1.1.2.6.6.1. R. Bambang Meirano
                                                   1.1.2.6.6.1.1.  Rb. M. Arul 
                                                   1.1.2.6.6.1.2.  Rr. Luthfiah (Lulut)
                                      1.1.2.6.6.2. R. Irwan Junarsa
                                      1.1.2.6.6.3. R. Nur Endah Noviani (Nuri)
                                                   1.1.2.6.6.3.1.  Rb. Sihabuddin
                                                   1.1.2.6.6.3.2.  Rb. Fachri
                          1.1.2.6.7.  R. MULYADI JAYAKUSUMAH (Yadi)
                                      1.1.2.6.7.1. R. Dian Mardiana
                                                   1.1.2.6.7.1.1.  Rr. Sifa
                                                   1.1.2.6.7.1.2.  Rb. Defa
                                      1.1.2.6.7.2. R. Fitria Yulianti
                                                   1.1.2.6.7.2.1.  Rr. Dea
                                                   1.1.2.6.7.2.2.  Rb. Yofa
                                                   1.1.2.6.7.2.3.  Rr. Deean Coco
                                      1.1.2.6.7.3. R. Mulya Saputra
                                                   1.1.2.6.7.3.1.  Rb. Axel Alvito Meola
                          1.1.2.6.8.  R. DODY SUYATNA JAYAKUSUMAH (Dodot/Dody)
                                      1.1.2.6.8.1. R. Irene Anggraeni
                                                   1.1.2.6.8.1.1.  Rb. Daffa Adillah
                                                   1.1.2.6.8.1.2.  Rr. Syahla Dheandra Zahran
                                                   1.1.2.6.8.1.3.  Rr. Alma Hiraku Pramuditha
                                      1.1.2.6.8.2. R. Rangga Permana Kusumah (Angga)
                                                   1.1.2.6.8.2.1.  Putra Angga Ke 1
                          1.1.2.6.9.  R. RIDWAN JAYAKUSUMAH (Wawang)
                                      1.1.2.6.9.1. R. Bahraini Riza
                                                   1.1.2.6.9.1.1. Rr. Bahraini Putri
                                                   1.1.2.6.9.1.2. Rb. Bahraini putra
                                      1.1.2.6.9.2. R. Budhi Nusantara
                                                   1.1.2.6.9.2.1. Rb. Budhi Putra
                                                   1.1.2.6.9.2.2. Budhi Putra ke 2
                                      1.1.2.6.9.3. R. Bella Kusnandar
                                                   1.1.2.6.9.3.1. Rb. Nizar Maulana
                                                   1.1.2.6.9.3.2. Rb. Aqeela
                                                   1.1.2.6.9.3.3. Rr. Bella Putri
                                      1.1.2.6.9.4. R. Rina Kusmawati
                                                   1.1.2.6.9.4.1. Putra ke 1 Rina
                                                   1.1.2.6.9.4.2. Putra ke 2 Rina
                          1.1.2.6.10. R. RAFIUDIN JAYAKUSUMAH (Dingding, tidak berputra)
                          1.1.2.6.11. R. SUDRAJAT JAYAKUSUMAH (Jajat)
                                      1.1.2.6.11.1. Rr. Rina Oktaviani
                                      1.1.2.6.11.2. Rr. Debi Aprianti
                                      1.1.2.6.11.3. Rb. Heri (tidak berputra)
                                      1.1.2.6.11.4. R. Hari Sephandri (AO)    
                                                    1.1.2.6.11.3.1. Putra Ari ke 1
                1.1.2.7.  R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata)
                          1.1.2.7.1.  R.Hj. NUNUNG NURJUARIAH
                          1.1.2.7.2.  R.Hj. NINIH NURJANAH
                          1.1.2.7.3.  R. YAYAH
                          1.1.2.7.4.  R. ENDANG
                          1.1.2.7.5.  R. ODIN
                1.1.2.8.  R.MASDIR KURNAEN (Aeng)
                          1.1.2.8.1.  R.Hj. KURNIATI (Iis) <menikah dengan> DR.Ir.H. FACHRUDDIN (Rektor UNHAS)
                          1.1.2.8.2.  R. KASWATI (Kotih)
                                      1.1.2.8.2.1. Drs. R. Deddi Fardillah
                                      1.1.2.8.2.2. R. Finny Redjeki, SE, MM
                                      1.1.2.8.2.3. R. Arif Budiman
                1.1.2.9.  R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF
                          1.1.2.9.1.  R. MEMET SAPUTRA (Ahmad)
                          1.1.2.9.2.  R. YEYET RUSMIATI
                1.1.2.10. R.MASDIR SUMANTRI (Ati)
                          1.1.2.10.1. R. HEDI SUMARDI
                          1.1.2.10.2. R. EMBED SUHARLI
                          1.1.2.10.3. R. SOPIAH (Iyong)
                1.1.2.11. R.MASDIR EMAN SULAEMAN
                          1.1.2.11.1. R. HAYATI (Titi)
         1.1.3. RM.H. MUHAMMAD HASYIR (C-1879)
                1.1.3.1. R. Bustomi
                1.1.3.2. R. Ismail
                1.1.3.3. R. Mudjitaba
                1.1.3.4. Nyi R. Suaebah
                1.1.3.5. Nyi R. Maemunah
         
         1.1.4. RAy. Hj. Harisun (C-1880
                1.1.4.1. RH. Drs. Ilyas Dajir (Ciawi-Seuseupan)
         1.1.5. RAy.Hj. ITI (Gg Wahir-Empang, C-1882
         1.1.6. RM. Ahmad (Natsir), C-1884
                1.1.6.1. .........................
                1.1.6.2. R. Sholeh
                1.1.6.3. R. Sofyan Ats Sauri
                         1.1.6.3.1. R. Ahmad Qohar
                1.1.6.4. R. Arifin
== PEKERJAAN ==
IKPD-1.jpg
2523/5 <54> < RM. Harjo Dipomenggolo
lahir: 1832c, Bogor (Jabaru)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

ASAL-USUL

RADEN MAS HARJO DIPOMENGGOLO alias AYAH KULON, lahir di Jabaru-Bogor sekitar tahun 1834 putra ke 2 dari 
7 bersaudara dari pasangan orang tua RADEN MAS DJONET DIPOMENGGOLO (Generasi ke 2 dari Sultan HB III) dengan 
NYIMAS AYU FATMAH / BUN NIOH (Putri Kapiten Tionghoa dari Marga TAN) dikaruniai  orang anak :
1. RM. H. Brodjomenggolo
2. RAy. Hj. Gondomirah
3. RM. H. Abbas
4. RM. H. Abdurrahman Adi Menggolo
5. RM. H. Muhamad Hasan  
Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA
#1. BPH. Diponegoro
#2. RM. Djonet Dipomenggolo
#3. RM. Harjo Dipomenggolo
 

KETURUNAN

#2. RM. HARJO DIPOMENGGOLO (C-1834)   
    2.1. RM.H. BRODJOMENGGOLO
         2.1.1. RM.H. WONGSOMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.1.1. R.H. SOLEH SURODIMENGGOLO (Ciomas)
                         2.1.1.1.1. R.H. Djunaeni
                         2.1.1.1.2. R.H. Masca Suroatmojo
                                    2.1.1.1.2.1. R. Suratmi
                                    2.1.1.1.2.2. R. Sukendar
                                    2.1.1.1.2.3. R. Sulaeman
                                    2.1.1.1.2.4. R. Suhardi
                                    2.1.1.1.2.5. R. Sudarjat
                                    2.1.1.1.2.6. R. Suheni
                                    2.1.1.1.2.7. R. Supiati
                                    2.1.1.1.2.8. R. Surachman
                2.1.1.2. R.H. UNENG SURIODIRDJO (Ciomas)
                         2.1.1.2.1. R.H. Dadang Pandji
                                    2.1.1.2.1.1. R. Sudjatna
                                                 2.1.1.2.1.1.1. R. Enda Juanda
                                                                2.1.1.2.1.1.1.1. R. Najla Ramadhani
                                                 2.1.1.2.1.1.2. R. Irma Resmiati
                                                 2.1.1.2.1.1.3. R. Dudi Kurnia
                                                 2.1.1.2.1.1.4. R. Adi Purnama 
                                    2.1.1.2.1.2. R. Juwariyah
                                                 2.1.1.2.1.2.1. R. Denny Rusian Achmed
                                                                2.1.1.2.1.2.1.1. R. Firdha Sapta Erlina
                                                                2.1.1.2.1.2.1.2. R. Sukma Harining Cakraningrat
                                                 2.1.1.2.1.2.2. R. Ebbet Surya Subakti
                                                                2.1.1.2.1.2.2.1. R. Dewi Suryani Oktaviana
                                                                2.1.1.2.1.2.2.2. R. Endang Dewa Supana
                                                                2.1.1.2.1.2.2.3. R. Siti Zahra Subakti
                                                 2.1.1.2.1.2.3. R. Triana Jaka Lesmana
                                                                2.1.1.2.1.2.3.1. R. Syechnoor Faris Lesmana
                                                                2.1.1.2.1.2.3.2. R. Rivanny Bunga Lesmana
                                                 2.1.1.2.1.2.4. R. Tita Novita Skartika
                                                                2.1.1.2.1.2.4.1. R. Rizky Pradana
                                                                2.1.1.2.1.2.4.2. R. Reza Purnama
                                                                2.1.1.2.1.2.4.3. R. Rasyid Fadillah
                                                 2.1.1.2.1.2.5. R. Rikky Nandang Permana
                                                                2.1.1.2.1.2.5.1. R. Aidah Faizah Permana
                                                                2.1.1.2.1.2.5.2. R. Aisyah Raihanah Permana
                                                                2.1.1.2.1.2.5.3. R. Raihan Permana
                                                 2.1.1.2.1.2.6. R. Muchammad Ichwan Karunia
                                                                2.1.1.2.1.2.6.1. R. Zidane Nayadikara Karunia
                                                                2.1.1.2.1.2.6.2. R. Keysha Jasmine Karunia
                                    2.1.1.2.1.3. R. Muhammad Hidayat 
                                                 2.1.1.2.1.3.1. R. Fitri Yanti
                                                                2.1.1.2.1.3.1.1. R. Tommy Faisal
                                                 2.1.1.2.1.3.2. R. Fatmawati
                                                                2.1.1.2.1.3.2.1. R. Audry Velma Calysta
                                                                2.1.1.2.1.3.2.2. R. Zyhan Kameylia Calysta
                                                 2.1.1.2.1.3.3. R. Anah Yuliastanti
                                                                2.1.1.2.1.3.3.1. R. Lolita Wibiyono
                                                                2.1.1.2.1.3.3.2. R. Angreini Wibiyono
                                                                2.1.1.2.1.3.3.3. R. Andini Wibiyono
                                                                2.1.1.2.1.3.3.4. R. Kanaya Wibiyono
                                                 2.1.1.2.1.3.4. R. Sari Komalasari
                                                 2.1.1.2.1.3.5. R. Ratna Dewi
                                                 2.1.1.2.1.3.6. R. Meti Rahmawati
                                                 2.1.1.2.1.3.7. R. Meta Melisa
                                    2.1.1.2.1.4. R. Euis Sukaesih
                                                 2.1.1.2.1.4.1. R.  Endang Kosasih
                                                                2.1.1.2.1.4.1.1. RR. Vernna Nurjannah
                                                                2.1.1.2.1.4.1.2. RR. Verlasya Khayira
                                                 2.1.1.2.1.4.2. R.  Dede Komariah
                                                 2.1.1.2.1.4.3. R. Agus Supriatna 
                                    2.1.1.2.1.5. R. Siti Juleha
                                                 2.1.1.2.1.5.1. R. Muhammad Effendi (alm)
                                                 2.1.1.2.1.5.2. R. Dewi Puspa Sari (alm)
                                                 2.1.1.2.1.5.3. R. Abdul Azis
                                                                2.1.1.2.1.5.3.1. R. Muhammad Rassya Pratama
                                                                2.1.1.2.1.5.3.2. R. Muhammad Faza Adzima
                                                 2.1.1.2.1.5.4. R. Suprihatini (alm)
                                                 2.1.1.2.1.5.5. R. Rahmah Rahayu
                                                                2.1.1.2.1.5.4.1. R. Muhammad Azzam Fahrezi
                                                 2.1.1.2.1.5.6. R. Arif Bahtiar
                                    2.1.1.2.1.6. R. Muhammad Taufik
                                                 2.1.1.2.1.6.1. R. Dinda Nur Ayu Lestari
                                                                2.1.1.2.1.6.1.1. RR. Nayla Syakila
                                                 2.1.1.2.1.6.2. R. Adietya Dwi Cahyadi
                                                                2.1.1.2.1.6.2.1. RR. Audrey Izzatunnisa Cahyani
                                    2.1.1.2.1.7. R. Neneng Sukemi
                                                 2.1.1.2.1.7.1. R. Endang Fadillah
                                                 2.1.1.2.1.7.2. R. Lina Aprilia
                                    2.1.1.2.1.8. R. Muhammad Lukman
                                                 2.1.1.2.1.8.1. R. Leni Kurnia Sari
                                    2.1.1.2.1.9. R. Indah Ratnawati 
                                    2.1.1.2.1.10.R. Dedeh Juwita 
                                    2.1.1.2.1.11.R. Nur Aini Oktavia 
                                    2.1.1.2.1.12.R. Dedi Priatna
                                                 2.1.1.2.1.12.1.R. Muhammad Axelle
                2.1.1.3. R.H. MUSA SUMODIRDJO (Ciomas)
                         2.1.1.3.1. R. H. Ading
                         2.1.1.3.2. R. Djohariah
                         2.1.1.3.3. R. H. Djajasukarta
                         2.1.1.3.4. R. Djumirah
                         2.1.1.3.5. R. Djula
                         2.1.1.3.6. R. Nurbaja
                2.1.1.4. R.H. EMBIH SASTRODIRDJO
                         2.1.1.4.1. R. Eem Suhaimi <menikah dgn 2.1.1.2.1.1. R. Sudjatna
                         2.1.1.4.2. R. Endjuh
                         2.1.1.4.3. R. H. MUH Sanusi
                         2.1.1.4.4. R. H. Sukardi
                         2.1.1.4.5. R. Enah
                         2.1.1.4.6. R. Endah 
         2.1.2. RM.H. SOEROMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.2.1. R.H. ICAN SUROMENGGOLO (Ciomas)
                         2.1.2.1.1. R. Djamhari Djunaedi Mantarena
                                    2.1.2.1.1.1 R. Endjoh Danumihardja
                                                2.1.2.1.1.1.1. R. Lukman Danumihardja
                                                               2.1.2.1.1.1.1.1. R. Mohamad Aliyudin Danumihardja (Yudhi)
                                    2.1.2.1.1.2 R. Ahmad Sanusi
                                    2.1.2.1.1.3 R. Ningrum
                                    2.1.2.1.1.4 R. Rukminah
                2.1.2.2. NYI. R. AMOE (Ciomas) 
                2.1.2.3. R.H. ARJOMENGGOLO (Ciomas)
                         2.1.2.3.1. R. Narijah
                         2.1.2.3.2. R. Hawirodja
                         2.1.2.3.3. R. Ningrat
         2.1.3. RM.H. ADIMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.3.1. R.H. MOH. SYAFEI ADINATA (Ciomas)
                         2.1.3.1.1. R. Muhammad ALI
                         2.1.3.1.2. R. Muhammad Soleh
                         2.1.3.1.3. R. Muhammad Sidik
                         2.1.3.1.4. R. Muhammad As'ari
                                    2.1.3.1.4.1. R.Anwar Basari
                                                 2.1.3.1.4.1.1. R. Hamdhani Zul Faqor
                         2.1.3.1.5. R. Romlah
                         2.1.3.1.6. R. Djuhro
                         2.1.3.1.7. R. Aisyah 
                2.1.3.2. R.H. JAMSARI ADIMENGGOLO (Ciomas)
                         2.1.3.2.1. R. Muchtar
                         2.1.3.2.2. R. Syafaat
                         2.1.3.2.3. R. Munajat
                         2.1.3.2.4. R. Hasanah
                         2.1.3.2.5. R. Abdullah
                         2.1.3.2.6. R. Habibah
                         2.1.3.2.7. R. Jajaria
                         2.1.3.2.8. R. Jenab
                         2.1.3.2.9. R. Sidah
                         2.1.3.2.10.R. Sarah 
         2.1.4. RAy.Hj.UNAN (Loji)
                2.1.4.1. NYI Rd.Hj. ENUNG (Loji)
                         2.1.4.1.1. NYI Rd.UHA (loji)
                         2.1.4.1.2. NYI Rd.Anung
                         2.1.4.1.3. NYI Rd.Atjih
     2.2. RAy.Hj. GONDOMIRAH <menikah dgn> Rd. SURYADIMENGGALA (KRT. Buitenzorg, Trah Sumedang)
         2.2.1. RM.H. IBRAHIM\RM. ABD.ROCHMAN WIRADIMENGGOLO\RM. WIRADINEGARA 
                2.2.1.1. R.H. KURAESIN
                         2.2.1.1.1. R. Mama Jaya
                         2.2.1.1.2. R. Muhammad Tohir
                         2.2.1.1.3. NYI R. Ratnasari 
                2.2.1.2. R.H. ADJID MANGKUWIJAYA
                         2.2.1.2.1. R. Wiradikusumah
                         2.2.1.2.2. R. Moh. Toha
                                    2.2.1.2.2.1. NYI R. Soleha
                                    2.2.1.2.2.2. R. Musa
                         2.2.1.2.3. R. Achmad
                                    2.2.1.2.3.1. NYI R. Sukarsih
                                    2.2.1.2.3.2. R. Gunawan
                                    2.2.1.2.3.3. R. Harun
                                    2.2.1.2.3.4. NYI R. Supiah
                                    2.2.1.2.3.5. NYI R. Siti Entit
                                    2.2.1.2.3.6. R. Jamil
                                    2.2.1.2.3.7. NYI R. Sumini
                         2.2.1.2.4. R. Muh Agus
                                    2.2.1.2.4.1. NYI R. Juhro
                         2.2.1.2.5. R. Hasan
                                    2.2.1.2.5.1. R. Amirsyah
                                    2.2.1.2.5.2. NYI R. Harsinah
                                    2.2.1.2.5.3. NYI R. Jumiati
                                    2.2.1.2.5.4. R. Jaenalludin
                         2.2.1.2.6. NYI R. Julaeha
                         2.2.1.2.7. NYI R. Salmah
                         2.2.1.2.8. NYI R. Mari
                         2.2.1.2.9. NYI R. Juhro
                         2.2.1.2.10.NYI R. Hadijah 
                2.2.1.3. R.H. MUH. ISA (Ciomas) 
         2.2.2. NYI RAy.Hj. ASMAYA
         2.2.3. NYI RAy.Hj. ENTING AISYAH
         2.2.4. NYI RAy.Hj. SITI FATIMAH
         2.2.5. NYI RAy.Hj. ANTAMIRAH
         2.2.6. RM. TJANDRANINGRAT\RM. ARIO MAD SURODHININGRAT
                2.2.6.1. R.H. PANJI 
                2.2.6.2. R.H. PANDU 
                2.2.6.3. R.H. HASAN 
                2.2.6.4. R.H. KURAESIN 
         2.2.7. RM. YAHYA GONDONINGRAT
                2.2.7.1. NYI Rd. Hj. RATNA KANCANA (Ciomas) <menikah dengan> Dr. H. MARAH ROESLI (Pujangga Nasional
                         2.2.7.1.1. R. Mayjen (pur) Roeshan Roesli
                                    2.2.7.1.1.1. R. dr Ratwini Roesli, SpTHT
                                    2.2.7.1.1.2. R. dr Utami Roesli, SpA, Ibclc, Fabm
                                    2.2.7.1.1.3. R. Prof. Dr. dr Rully MA Roesli, SpPD.KGH
                                    2.2.7.1.1.4. R. Prof. Dr. Harry Roesli \ Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli  
         2.2.8. RM. INDRIS TIRTODIRDJO/RM. IDRUS TIRTODIRDJO
                2.2.8.1. R.H. ACO UMAR 
         2.2.9. NYI RAy.Hj. RAJAMIRAH/RAy.Hj. MIRAH
                2.2.9.1. Rd.H. YASIN WINATADIREDJA (Enceng)
                         2.2.9.1.1. Nyi Rd. Halimah 
                2.2.9.2. NYI Rd.Hj. SITI RAHMAT (Titi)
                         2.2.9.2.1. Rd.H.A.B. Yogapranatha (Alm)
                         2.2.9.2.2. Rd. Syafei (Alm)
                         2.2.9.2.3. Nyi Rd. Tuti Guritna
                                    2.2.9.2.3.1. Rd. H. Adang Yusuf Martadiredja <menikah dgn> 2.2.9.3.1.1. Nyi Rd. Mundiyah
                                                 2.2.9.2.3.1.1. Rd. Damon Yusuf Martadiredja
                                                                2.2.9.2.3.1.1.1. Rd. M.Yasin Vahreza Yusuf Martadiredja (Reza Wahyu Martadiredja)
                                                                2.2.9.2.3.1.1.2. Rd. M.Yasin Vahrezi Yusuf Martadiredja (Rezi Wahyu Martadiredja)
                                                                2.2.9.2.3.1.1.3. Rd. Nur Illahi Vahriva Mudaim (Riva Wahyu Martadiredja)
                                                                2.2.9.2.3.1.1.4. Rd. Nur Husna Dewinda Fatmah (Winda Fatmah Martadiredja)
                                                                2.2.9.2.3.1.1.5. Rd. Nazwa Mustika Negara (Ica Wahyu Martadiredja)
                                                 2.2.9.2.3.1.2. Rd. Gunawan Yusuf Martadiredja
                                                                2.2.9.2.3.1.2.1. Rd. Rahmania Purwagunifa
                                                                2.2.9.2.3.1.2.2. Rd. Fathan Adi Gunawan
                                                 2.2.9.2.3.1.3. Rd. Ade Nine Siti Mariam ( Wafat Saat Bayi )
                                                 2.2.9.2.3.1.4. Rd. Nanang Firman Safari Yusuf Martadiredja SP,M.Si
                                                                2.2.9.2.3.1.4.1. Rd. Nanang Junior
                                    2.2.9.2.3.2. Rd. Syarif Kusnadi Jamal Martadiredja
                                                 2.2.9.2.3.2.1. Rd. Tetet Dian Indria Rahayu (wafat th 2002)
                                                                2.2.9.2.3.2.1. Rd. Syamil Hilminiandra Budiman
                                                 2.2.9. .3.2.2. Rd. Rully Ramdhani Kusumah
                                                                2.2.9.2.3.2.2.1. Rd. Sekar Rahayu Kusumah
                                                 2.2.9.2.3.2.3. Rd. Kusnadi Wisnu Yogasuwara (Wisnu)
                                    2.2.9.2.3.3. Nyi.Rd. Yuliani Wahyu Martadiredja
                                                 2.2.9.2.3.3.1. Rd. Julkifli Rustita ( Wafat th 2012)
                                    2.2.9.2.3.4. Nyi Rd. Mimi Wahyu Martadiredja (Wafat Bayi)
                         2.2.9.2.4. Rd. Hanafi (Alm)
                         2.2.9.2.5. Rd. Ali M. Ali Widyapranatha
                         2.2.9.2.6. Nyi Rd. Neneng Kulsum
                         2.2.9.2.7. Nyi Rd. Hj. Iyoh Roswati
                         2.2.9.2.8. Rd. U. Effendi Madyaprana
                         2.2.9.2.9. Nyi Rd. Dewi Sarah
                                    2.2.9.2.9.1.  Rd. Teddy Sao Wirakusumah
                                    2.2.9.2.9.1.1. Rd. Devita Rizqi Yulianty
                                    2.2.9.2.9.1.2. Rd. Dwi Dorozatun Samaniaty Ramadhona, S.I.Kom
                         2.2.9.2.10.Rd. H. Usman Satiaprana (Alm) 
                         2.2.9.2.11.Rd. Enen Sutresna Yogaprana
                                    2.2.9.2.11.1. Rd. Narayana Yoga Pertama
                                                  2.2.9.2.11.1.1. NR. Laras (Almh)
                                                  2.2.9.2.11.1.2. NR. NR. Ermalia Nuryanti
                                                  2.2.9.2.11.1.3. Rd. Moch, Riyan Chandra (Alm)
                                                  2.2.9.2.11.1.4. NR. Elma Nathania Yalanda                                                  
                                    2.2.9.2.11.2. Rd. Yadi Indra Mulyadi Yogaprana
                                                  2.2.9.2.11.2.1. Rd. Zulqiar Ramdan
                                    2.2.9.2.11.3. NR. Rengganis Kurniawati Yogaprana
                                                  2.2.9.2.11.3.1. NR. Fadhilah Istiqomah Yogandena
                                                  2.2.9.2.11.3.2. Rd. Firza Finaldien Yogandena (Alm)
                                                  2.2.9.2.11.3.3. Rd. Farly Nugraha Yogandena
                                    2.2.9.2.11.4. NR. Popi Yuliawati Yogaprana
                                    2.2.9.2.11.5. Rd. Tedi Wibisana Yogaprana
                                    2.2.9.2.11.6. Rd. Ruhyat Apandi Yogaprana
                                                  2.2.9.2.11.6.1. NR. Keyla Azka Kireina
                                                  2.2.9.2.11.6.2. Rd. Fadlan Danish Ryogaprana
                                    2.2.9.2.11.7. Rd. Rimau Gumelar Yogaprana
                                                  2.2.9.2.11.7.1. Rd. Aldebaran Nabhan Pradipta
                                    2.2.9.2.11.8. Rd. Banyu Dewanata Yogaprana
                                    2.2.9.2.11.9. Rd. Surya Tirta Bayu Yogaprana
                                    2.2.9.2.11.10.Rd. Purnama Alam Yogaprana
                2.2.9.3. Rd. Tatang Muhtar (Ciluar)    
                         2.2.9.3.1. Nyi Rd. Siti Aminah 
                                    2.2.9.3.1.1. Nyi Rd. Mundiyah 
                                    2.2.9.3.1.2. R Hidayat 
                                    2.2.9.3.1.3. R Ruhiyat
                                                 2.2.9.3.1.3.1. R. Dadang Darmayadi
                                                                2.2.9.3.1.3.1.1. Nyi Rr. Sriastuty Handayani Kyla Khu'mairah
                                                                2.2.9.3.1.3.2.2. Nyi Rr. Rezky Pertiwi
                                                 2.2.9.3.1.3.2. Nyi Rd. Sriyat
                                                                2.2.9.3.1.3.2.1. Nyi Rr. Ika
                                                                2.2.9.3.1.3.2.2. R. Aldi
                                                                2.2.9.3.1.3.2.3. Nyi Rr. Fia
                                                                2.2.9.3.1.3.2.4. Nyi Rr. Linda
                                                 2.2.9.3.1.3.3. Nyi Rd. Rodiah
                                                                2.2.9.3.1.3.3.1. R. Yudi
                                                                2.2.9.3.1.3.3.2. Nyi Rr. Ririn
                                                                2.2.9.3.1.3.3.3. R. LILI
                                                 2.2.9.3.1.3.4. R. Darmawan
                                                                2.2.9.3.1.3.4.1. R. Ekal
                                                                2.2.9.3.1.3.4.2. R. Zirul
                         2.2.9.3.2. Nyi Rd. Umriyah 
                                    2.2.9.3.2.4. R. Iskandar 
                                                 2.2.9.3.2.4.1. R. Asep 
                                                 2.2.9.3.2.4.2. Nyi Rr. Rosi 
                                                 2.2.9.3.2.4.3. R. Irfan 
                                    2.2.9.3.2.5. Nyi R. ETI
                                                 2.2.9.3.2.5.1. R. Rizki
                                                 2.2.9.3.2.5.2. R. Agung          
                                    2.2.9.3.2.6. Nyi Rd. ENI Rohaeni
                                                 2.2.9.3.2.6.1. Nyi Rr. Gita
                                                 2.2.9.3.2.6.2. Nyi Rr. Gina
                                                 2.2.9.3.2.6.3. Nyi Rr. Garnia
                                                 2.2.9.3.2.6.4. Nyi Rr. Gian
                                    2.2.9.3.2.7. R Saleh Sudrajat
                                                 2.2.9.3.2.7.1. R. Fredi
                                                 2.2.9.3.2.7.2. ................
                                                 2.2.9.3.2.7.3. Nyi Rr. Annisa
                                    2.2.9.3.2.8. R. ADE
                                                 2.2.9.3.2.8.1. R. Agung
                                                 2.2.9.3.2.8.2. R. DEDE
                                                 2.2.9.3.2.8.3. Rr. Eneng
     2.3. RM. H. Abas (Penghulu Ciomas) <menikah dgn> [[Person:628329|Putri Pertama H. Daeng Jarbi (putra Raja Gowa ke 32)) 
          2.3.1. RM. H. Ardja
          2.3.2. RM. H. Suminta (Malik)
          2.3.3. RAy. Patimah Ibunya Mayjen Ishaq Djuarsa
          2.3.4. RAy. Fatmah <menikah dgn> 1.1.1. RM. H. Moch. Rana Menggala
          2.3.5. RM. Yacub
          2.3.6. RAy. Siti Mariyam (loji)
                 2.3.6.1. Drs. H. R. Mansyur (Mama)
                          2.3.6.1.1. HR. Syarif Arifin
                          2.3.6.1.2. R. Surachman
                          2.3.6.1.3. R. Suherman S
                                     2.3.6.1.3.1.  R. ADITYA TIRTA WIGUNA   
                                     2.3.6.1.3.2.  R. INDAH PRANASARI HERNANINGTIAS
                          2.3.6.1.4. R. Suratmi
                                     2.3.6.1.4.1.  R. AGUNG RAHMADI
                                     2.3.6.1.4.2.  R. MAHENDRA
                                     2.3.6.1.4.3.  R. KRESNA HADIWIJAYA 
                                     2.3.6.1.4.4.  R. RETNO A. WULANDARI
                          2.3.6.1.5. R. Suparman
                                     2.3.6.1.5.1.  R. AYU
                                     2.3.6.1.5.2.  R. PUSPA
                                     2.3.6.1.5.3.  R. ARIEF
                          2.3.6.1.6. R. Sudirman
                                     2.3.6.1.6.1.  R. RACHMAT C. WINATA
                                     2.3.6.1.6.2.  R. DODDY A. KUSUMAH
                                     2.3.6.1.6.3.  R. DICKY SAPUTRA
                                     2.3.6.1.6.4.  R. FANNY SARASWATI
                          2.3.6.1.7. R. Suhartini
                                     2.3.6.1.7.1.  R. ASTRI FITRIA ASTUTI S.
                                     2.3.6.1.7.2.  R. MARAHDOMU S.
                                     2.3.6.1.7.3.  R. MARAHDIKA S.
                                     2.3.6.1.7.4.  R. PUTRI SARASWATI
                                     2.3.6.1.7.5.  R. YUSUF IBRAHIM
                 2.3.6.2. H. R. Sanusi (Momo)
                          2.3.6.2.1. R. Juwita
                          2.3.6.2.2. R. Rosita
                          2.3.6.2.3. ...............
                 2.3.6.3. Drs. HR. Entjep Wahab
                          2.3.6.3.1. .................
     2.4. RM. H. Abdulrachman ADI Menggolo (Camat Ciomas)
          2.4.1. R.Ay. Sukiamah
     2.5. RM. H. Muhammad Hasan
     
== PEKERJAAN ==
IKPD-1.jpg
2534/5 <54> < RM. Harjo Dipotjokromenggolo
lahir: 1833c, Bogor (Jabaru)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

ASAL-USUL

RADEN MAS HARJO DIPOTJOKRO MENGGOLO alias PANGERAN GRINGSING I, lahir di Jabaru-Bogor sekitar tahun 1835 putra ke 3 dari 7 bersaudara dari pasangan orang tua RADEN MAS DJONET DIPOMENGGOLO (Generasi ke 2 dari Sultan HB III) dengan NYIMAS AYU FATMAH / BUN NIOH (Putri Kapiten Tionghoa dari Marga TAN) dikaruniai orang anak : 1. RM. Harjo Dipotjokro Hadimenggolo


Kraton3.jpg SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA
#1. BPH. Diponegoro
#2. RM. Djonet Dipomenggolo
#3. RM. Harjo Dipotjokro Menggolo
 

KETURUNAN

#3. RM. HARJO DIPOMENGGOLO (PANGERAN GRINGSING I)   
 3.1. RM. HARJO DIPOTJOKRO HADIMENGGOLO (PANGERAN GRINGSING II)
 3.1.1. RM.HARJODIPO HADIKUSUMA (PANGERAN GRINGSING III)
 3.1.1.1. R.DR. HARTO PURWOWASONO DIPONEGORO (Eyang Hertog)
 3.1.1.1.1. R.Ngt. SRI DEWI Diponegoro (Magetan)
 3.1.1.1.1.1. R.Wisnu Wibowo Diponegoro (Magetan)
 3.1.1.1.1.1.1. R.Ngt. Kartika Ishianan Wisnu Wardhani Diponegoro (Magetan)
 3.1.1.1.1.1.2. Rb.Nafi Wianditra Hafri Nugraha Diponegoro (Magetan)
 3.1.1.1.1.2. R.Krisna Putra Diponegoro (Cilegon)
 3.1.1.1.1.2.1. Rb.Satrio Bagus Eka Putra Diponegoro (Cilegon)
 3.1.1.1.1.2.2. Rb.Bimo Bagaskoro Diponegoro (Cilegon)
 3.1.1.1.1.2.3. Rr.Aisya Rahmania Putri Diponegoro (Cilegon)
 3.1.1.1.1.3. R.Ngt. Dewi Pancawati Diponegoro (Surabaya)
 3.1.1.1.1.3.1. Rb.Hade Pratama Diponegoro (Surabaya)
 3.1.1.1.1.3.2. Rr.Alya Nismara Cayadewi Diponegoro (Surabaya)
 3.1.1.1.1.3.3. Rb.Muhammad Ayman Arshq Ramadhan Diponegoro (Surabaya) 
 
 3.1.1.1.2. R.Heno Erlangga Diponegoro, SH (Karanganyar)
 3.1.1.1.2.1. R.Wibowo Kusumo Winoto Diponegoro, SH (Karanganyar)
 3.1.1.1.2.2. R.Ngt. Retno Wulandari Diponegoro, SH (Karanganyar)
 3.1.1.1.2.3. R.Ngt. Kustini Kusumo Wardhani Diponegoro, S.Sn (Karanganyar)
 3.1.1.1.2.4. R.Putra Wisnu Wardhana Diponegoro (Karanganyar)
 3.1.1.1.2.5. R.Bayu Giri Prakosa Diponegoro, SE. MSi (Karanganyar)
 3.1.1.1.3. R. Putra Wisnu Agung Diponegoro (Agung Dipo)
 3.1.1.1.3.1. R. Putra Wisnu Agung Diponegoro (Agung Dipo)
 3.1.1.1.3.2. R. Putra Wisnu Agung Diponegoro (Agung Dipo)
 3.1.1.1.3.3. R. Putra Wisnu Agung Diponegoro (Agung Dipo)
 
 3.1.1.1.4. R. Ngt. Gusti Laksmi Mahadewi Sri Diponegoro
 3.1.1.1.5. R. Ngt. Gusti Maya Brahma Diponegoro
 3.1.1.1.6. R. Nalendro Wibowo Diponegoro
 
 3.1.1.1.7. R. Ngt. Dwi Wahyuni Kusuma Wardhani Diponegoro
 3.1.1.1.7.1. Rb. Supratama Dwipa Diponegoro
 3.1.1.1.7.2. Rb. Gusti Atmojo Suryo Menggolo Diponegoro
 3.1.1.1.7.3. Rr. Ambar Rukmini Diponegoro
 3.1.1.1.8. R. Putra Kusuma Wardhana Diponegoro
 3.1.1.1.9. R. Kesuma Hendra Putra Diponegoro
3.1.1.1.10.R. Ngt. Putri Laksmini Murni Diponegoro
IKPD-1.jpg
2545/5 <54> < RM. H. Harjo Abdul Manap Dipomenggolo
lahir: 1834c, Bogor (Jabaru)
IKPD-1.jpg
2556/5 <54+?> < RM. Sahid Angkrih
lahir: 1835c, Bogor (Jabaru)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

ASAL-USUL

RADEN MAS SAHID ANKRIH lahir di Jabaru-Bogor sekitar tahun 1835 putra ke 4 dari 7 bersaudara dari pasangan orang tua RADEN MAS DJONET DIPOMENGGOLO (Generasi ke 2 dari Sultan HB III) dengan NYIMAS AYU FATIMAH (asli Bogor) dikaruniai 3 orang anak : 1. RM. ASMINI 2. RM. IDRIS 3. RM. ONDUNG


Kraton3.jpg SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA
#1. BPH. Diponegoro
#2. RM. Djonet Dipomenggolo
#3. RM. Sahid Ankrih
 

KETURUNAN

#4. RM. SAHID ANKRIH   
 4.1. RM. ASMINI
 4.1.1. RM. ASMININ
 4.1.1.1. R. Abdul Latif
 4.1.1.1.1. R. Komarudin
 4.1.1.1.1.1. R. Muhammad
 4.1.1.1.1.2. R. Aah Mafahir
 4.1.1.1.1.3. R.Ust. Abdul Wafa
 4.1.1.1.1.4. R. Ahmad Hujatullah
 4.1.1.1.1.5. R. Euis Nurhayati
 4.1.1.1.1.6. R. Bunyamin
 4.1.1.1.1.7. R. Nikmatullah
  
 4.1.1.2. R. Armani
 4.1.1.2.1. R. AL. KH. Darma
 4.1.1.2.1.1. R. KH. Maksum
 4.1.1.3. R. Jenab
 4.1.1.4. R. Murnas
 4.1.1.5. R. Abdurrohim
 4.1.2.6. R. Abdurrohman
 
 4.1.2.  R. Mali
 4.1.3. RM. MINAU
 4.1.4. RM. IKING
 4.1.5. NYIMAS RAy. UMMI
 4.2. RM. IDRIS
4.3. RM. ONDUNG
2507/5 <47+75> < Bendoro Raden Ayu Adipati Mangkubumi [Hb.5.8] / Bendoro Raden Ayu Sukinah [Gp.Hb.7.11.1]
IKPD-1.jpg
2568/5 <54+?> < NYI MAS RAy. Ukin
lahir: 1836c, Bogor (Jabaru)
IKPD-1.jpg
2579/5 <54+?> < NYI MAS RAy. Okah
lahir: 1837c, Bogor (Jabaru)
Face HB VII.JPG
22610/5 <48+72> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VII / Gusti Raden Mas Murtejo [Hb.6.1] (Sinuhun Behi)
lahir: 4 Februari 1839, Yogyakarta
perkawinan: <101> < Gusti Kanjeng Ratu Mas ? ([Gp.Hb.7.2], Joyodipuro) d. 1892
perkawinan: <102> < Bendoro Raden Ayu Retnojuwito ? (Ga.Hb.7.6)
perkawinan: <103> < 2. Gusti Kanjeng Ratu Kencono II [Gp.Hb.7.3] (Bendoro Raden Ayu Ratna Sri Wulan)
perkawinan: <104> < Bendoro Raden Ayu Ratnaningsih ? (Ga.Hb.7.1)
perkawinan: <105> < Bendoro Raden Ayu Ratnaningdia ? ([Ga.Hb.7.2])
perkawinan: <106> < Bendoro Raden Ayu Retnohadi ? (Ga.Hb.7.3)
perkawinan: <107> < Bendoro Raden Ayu Retnodewati [Ga.Hb.7.5]
perkawinan: <895!> < Bendoro Raden Ayu Rukmidiningdia [Ga.Hb.8.4] [Hb.6.9.3.1] (Bendoro Raden Ayu Rukhihadiningdyah)
perkawinan: <108> < Bendoro Raden Ayu Retnosangdiah ? ([Ga.Hb.7.4])
perkawinan: <109> < Bendoro Raden Ayu Retnomurcito [Ga.Hb.7.8]
perkawinan: <110> < Bendoro Raden Ayu Pujoretno [Ga.Hb.7.9]
perkawinan: <111> < Kanjeng Bendoro Raden Ayu Retnopurnomo [Ga.Hb.7.10]
perkawinan: <112> < Bendoro Mas Ayu Retnojumanten [Ga.Hb.7.11]
perkawinan: <113> < Bendoro Raden Ayu Retnodewati [Ga.Hb.7.5]
perkawinan: <114> < Bendoro Raden Ayu Retnomurcito [Ga.Hb.7.8]
perkawinan: <475!> < Bendoro Raden Ayu Retnomandoyo [Ga.Hb.7.13] d. 30 Desember 1931
perkawinan: <115> < Bendoro Raden Ayu Dewo Retno [Ga.Hb.7.7]
perkawinan: <116> < Raden Ajeng Centhung [Pl.Hb.7.1]
perkawinan: <117> < Raden Roro Sumodirejo [Pl.Hb.7.2]
perkawinan: <118> < Bendoro Raden Ayu Retnoliringhasmoro [Ga.Hb.7.16]
perkawinan: <119> < Bendoro Raden Ayu Retnosetyohasmoro [Ga.Hb.7.15]
perkawinan: <120> < Bendoro Raden Ayu Retnorenggohasmoro [Ga.Hb.7.14]
perkawinan: <121> < Bendoro Raden Ayu Retnowinardi [Ga.Hb.7.12]
perkawinan: <250!> < Bendoro Raden Ayu Adipati Mangkubumi [Hb.5.8] / Bendoro Raden Ayu Sukinah [Gp.Hb.7.11.1] b. 1836, Yogyakarta
perceraian: <250!> < Bendoro Raden Ayu Adipati Mangkubumi [Hb.5.8] / Bendoro Raden Ayu Sukinah [Gp.Hb.7.11.1] b. 1836
perkawinan: <122> < Gusti Kanjeng Ratu Kencana [Gp.Hb.7.1] (Bendara Raden Ayu Retno Sriwulan) , Yogyakarta
gelar: 13 Agustus 1877 - 29 Januari 1920, Yogyakarta, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana Senopati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid'din Panatagama Khalifatu'llah Ingkang Jumeneng Kaping VII
perceraian: <123> < Bendoro Raden Ayu Tejaningrum , Yogyakarta
wafat: 30 Desember 1921, Yogyakarta
Hb-vii.jpeg

Sri Sultan Hamengkubuwana VII (Bahasa Jawa:Sri Sultan Hamengkubuwono VII, lahir: 1839 – wafat: 1931 adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1877 – 1920. Ia dikenal juga dengan sebutan Sultan Ngabehi atau Sultan Sugih.(Bahasa Jawa:Sri Sultan Hamengkubuwono VII, lahir: 1839 – wafat: 1931 adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1877 – 1920. Ia dikenal juga dengan sebutan Sultan Ngabehi atau Sultan Sugih.

Riwayat Pemerintahan Nama aslinya adalah Raden Mas Murtejo, putra Hamengkubuwono VI yang lahir pada tanggal 4 Februari 1839. Ia naik takhta menggantikan ayahnya sejak tahun 1877.

Pada masa pemerintahan Hamengkubuwono VII, banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, yang seluruhnya berjumlah 17 buah. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang kepadanya untuk menerima dana sebesar Rp 200.000,00. Hal ini mengakibatkan Sultan sangat kaya sehingga sering dijuluki Sultan Sugih[rujukan?].

Masa pemerintahannya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan. Ia bahkan mengirim putra-putranya belajar hingga ke negeri Belanda.

Pada tanggal 29 Januari 1920 Hamengkubuwono VII yang saat itu berusia 81 tahun memutuskan untuk turun takhta dan mengangkat putra mahkota sebagai penggantinya. Konon peristiwa ini masih dipertanyakan keabsahannya karena putera mahkota(GRM. Akhadiyat, putra HB VII nomor 14) yang seharusnya menggantikan tiba-tiba meninggal dunia dan sampai saat ini belum jelas penyebab kematiannya.

Dugaan yang muncul ialah adanya keterlibatan pihak Belanda yang tidak setuju dengan putera Mahkota pengganti Hamengkubuwono VII yang terkenal selalu menentang aturan-aturan yang dibuat pemerintah Batavia.

Biasanya dalam pergantian takhta raja kepada putera mahkota ialah menunggu sampai sang raja yang berkuasa meninggal dunia. Namun kali ini berbeda karena pengangkatan Hamengkubuwono VIII dilakukan pada saat Hamengkubuwono VII masih hidup.<--, bahkan menurut cerita masa lalu sang ayah diasingkan oleh anaknya pengganti putera mahkota yang wafat ke Pesanggrahan Ngambarrukma di luar keraton Yogyakarta.-->

Hamengkubuwono VII dengan besar hati mengikuti kemauan sang anak (yang di dalam istilah Jawa disebut mikul dhuwur mendhem jero) yang secara politis telah menguasai kondisi di dalam pemerintahan kerajaan. Setelah turun takhta, Hamengkubuwono VII pernah mengatakan "Tidak pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya" yang artinya masih dipertanyakan. Sampai saat ini ada dua raja setelah dirinya yang meninggal di luar keraton, yaitu Hamengkubuwono VIII meninggal dunia di tengah perjalanan ke luar kota dan Hamengkubuwono IX meninggal di Amerika Serikat. Bagi masyarakat Jawa adalah suatu kebanggaan jika seseorang meninggal di rumahnya sendiri. Hamengkubuwono VII meninggal di Pesanggrahan Ngambarrukma pada tanggal 30 Desember 1931 dan dimakamkan di Imogiri. Silsilah Anak tertua dari Sultan Hamengkubuwana VI dan istri pertamanya RAy Sepuh/GKR Sultan/GKR Agung dan diangkat anak oleh Ratu Kencana. Memiliki delapan belas istri: 1.BRA Sukina/BRA Mangku Bumi (b. 1836), putri termuda Sultan Hamengkubuwana V dengan istri keduanya BRAy Dewaningsih. 2.GKR Mas, putri dari KRT Jayadipura atau dari Pangeran Suryadiningrat. 3.GKR Kencana/GKR Wandhani, putri dari Raden 'Ali Basa 'Abdu'l-Mustafa Senthot Prawiradirja. 4.GKR Kencana II/BRAy Ratna Sri Wulan, putri dari BPH Adi Negara. 5.BRAy Ratnaningsi. 6.BRAy Ratnaningdia. 7.BRAy Ratna Adi. 8.BRAy Ratnasangdia. 9.BRAy Ratnajiwata. 10.BRAy Puryaningdia. 11.BRAy Devaratna. 12.BRAy Puspitaningdiya. 13.BRAy Srengkara Adinindia. 14.BRAy Rukmidiningdia. 15.BRAy Ratna Adiningrum. 16.BRAy Ratna Puspita. 17.BRAy Tejaningrum. 18.BRAy Ratna Mandaya, putri dari Patih Dhanuraja VI.

Versi lain mengatakan bahwa Hamengkubuwono VII meminta pensiun kepada Belanda untuk madeg pandito (menjadi pertapa) di Pesanggrahan Ngambarrukma (sekarang Ambarrukma). Sampai saat ini bekas pesanggrahan itu masih ada dan di sebelah timurnya dulu pernah berdiri Hotel Ambarrukma yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Pangeran Hadikusumo.jpg
24711/5 <48+72> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi [Hb.6.11] (Gusti Pangeran Haryo Hadikusumo)
24912/5 <50+47!> < Kanjeng Gusti Timur Muhammad Suryengalogo [Hb.5.9] / Raden Mas Muhammad [Hb.3.2.22.1]
Pada saat Sultan Hamengku Buwono ke V wafat, beliau belum mempunyai anak laki-laki sebagai pewaris kesultanan, karena anaknya yang ada, semuanya wanita, sedang permaisuri yaitu Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Sekar Kedaton sedang hamil tua, yang kemudian 13 hari setelah Sultan Hamengku Buwono V wafat, melahirkan seorang anak laki-laki dan anak tersebut diberi nama Gusti Timur Muhammad, dimana setelah berumur 12 tahun mendapat gelar Gusti Pangeran Haryo (GPH) Suryengalogo.

Karena Gusti Muhammad masih bayi, dan untuk mengisi kekosongan tahta kesultanan maka diangkatlah Pangeran Mangkubumi (adik dari Sultan Hamengku Buwono V) menjadi Sultan Hamengku Buwono ke VI, dengan persyaratan bahwa apabila setelah dewasa Gusti Muhammad akan diangkat menjadi Sultan berikutnya. Namun ternyata Sultan lebih memilih menunjuk putranya menjadi pengganti (putra mahkota) yang nantinya akan menjadi Sultan Hamengku Buwono VII.

Hal tersebut menimbulkan kekecewaan pada keluarga Hamengku Buwono V, terutama GKR Sekar Kedaton dan GPH Suryengalogo yang kemudian memulai perlawanan kepada Sultan Hamengku Buwono VII. Kemudian GKR Sekar Kedaton dan GPH Suryengalogo diputuskan bersalah telah memberontak dan “DIPINDAHKAN DARI YOGYAKARTA KE MANADO SELEBES” dengan Surat Keputusan dari Kesultanan Yogyakarta Hamengku Buwono VII yang disampaikan melalui Dipati Danureja dan Residen Befembag berbunyi sebagai berikut: “Surat Peringatanku aku Kanjeng Narendra, yang menguasai negeri Kerajaan Ngayogya, sabdaku ini : Tuan Kanjeng Prameswari dan Kangmas Pangeran Suryengalogo berdua, aku pindahkan dari negeri Ngayogya ke negeri Menado, sebab uwa, kangmas berani membangkang (mbalelo) pada Raja. Pergi dari kota tanpa pamit, serta berbuat perang sabil; membunuh perajurit Usar, abdi Kanjeng Gupermen Belanda. Karena itu Kangmas serta Uwa Jeng Prameswari kesalahan membangkang pemerintahan Raja. Tanggal 11 April 1883.”

Dengan berdasarkan Surat Keputusan dari Kesultanan tersebut diatas GKR Sekar Kedaton dan GPH Suryengalogo beserta istri pertama berikut anaknya, dan juga semua pengikutnya, berangkat dengan diantar oleh Residen untuk naik kapal laut dari Semarang menuju Manado. Di Manado bertemu dengan saudara-saudaranya yang telah lebih dahulu dipindahkan dari Yogyakarta ke Manado, yaitu Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo (putra Sultan Hamengku Buwono VI dan saudara dari Sultan Hamengku Buwono VII) beserta istri dan anaknya, menjemput rombongan dari Jogyakarta di kapal dan mempersilahkan agar Prameswari dan GPH Suryengalogo menempati rumah mereka di kampung Pondol.

GPH Suryengalogo, 4 tahun kemudian memanggil istri keduanya yaitu Raden Ayu Dayaningsih yang ada di Yogyakarta untuk tinggal di Manado, dan setahun kemudian mempunyai 1 anak laki-laki yang elok rupanya. Tetapi Raden Ayu Dayaningsih cepat meninggalkan segala-galanya. GPH Suryengalogo akhirnya wafat di Manado pada tanggal 12 Januari 1901. Setelah beliau meninggal dunia, GKR Sekar Kedaton dibelikan rumah oleh Sultan Hamengku Buwono VII untuk ditempati oleh beliau bersama anak dan cucunya. Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Hadiwijoyo sudah dianggap sebagai anaknya sendiri oleh GKR Sekar Kedaton, apalagi setelah GPH Suryengalogo meninggal dunia.

BPH Hadiwijoyo pun akhirnya meninggal dunia pada tahun 1916, dan dimakamkan di Manado, tetapi kemudian oleh para keturunannya makamnya dipindahkan ke Hastorenggo Kotagede Yogyakarta.
29614/5 <47+75> < Gusti Bendoro Raden Ayu Angabehi [Hb.5.1] [Gp.Hb.6.3] (Bendoro Raden Ayu Gondokusumo) 23816/5 <48+72> < Gusti Kanjeng Ratu Bendoro [Hb.6.13]
BPH Hadiwidjojo 1889.jpg
22818/5 <48+78> < Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo [Hb.6.17]
perkawinan: <147> < Gusti Raden Ayu Hadiwijoyo / Raden Ajeng Jimah d. 10 Februari 1939
wafat: 9 Februari 1916, Mahakeret Manado, Disarekan kembali di Pasarean Hasta Renggo Kotagede Yogyakarta pada Hari Minggu Legi 22 Juli 1990
Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Hadiwijoyo adalah putra ke-17 dari Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Beliau mempunyai 6 orang putra/putri dari Garwo Padmi yang bernama R.Aj. Jimah (GRA. Hadiwijoyo). BPH. Hadiwijoyo difitnah dan dibuang oleh Belanda ke Manado pada tahun 1875 karena dianggap membenci tindakan baginda Sultan HB VII, Media:https://kanjengratusekarkedaton.blogspot.com/p/sejarah.html sampai wafatnya pada 9 Februari 1916 dan dimakamkan di Mahakeret Manado.

Pada tahun 1883, BPH. Hadiwijoyo bersama istri dan anaknya, menjemput rombongan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Sekar Kedaton (permaisuri Sultan Hamengku Buwono V) dan putranya Gusti Raden Mas (GRM) Timur Muhammad/Gusti Pangeran Haryo (GPH) Suryengalogo di pelabuhan kapal di Manado, dan mempersilahkan mereka menempati rumah beliau di kampung Pondol. Selama di pengasingan, BPH. Hadiwijoyo ditemani putranya yang bernama RM. Menot. Kemudian disana lahir putra no.6 yang diberi nama RM. Joko Sangkolo. Setelah GPH. Suryengalogo meninggal dunia (1901), GKR. Sekar Kedaton dibelikan rumah oleh Sultan Hamengku Buwono VII sebagai tempat tinggal beliau bersama anak dan cucunya. BPH. Hadiwijoyo sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh GKR. Sekar Kedaton.

Kemudian GRA. Hadiwijoyo kembali ke Yogyakarta sampai dengan wafatnya dan dimakamkan di Pasarean Hasta Renggo Kota Gede Yogyakarta (di luar cungkup). BPH. Hadiwijoyo bersumpah tidak akan kembali ke Yogyakarta sebelum saudara yang memfitnahnya wafat, namun ternyata beliau wafat terlebih dahulu. Setelah sekian lama, akhirnya para anggota Trah Hadiwijoyo (Hadiwijayan) bersepakat untuk memindahkan makam BPH. Hadiwijoyo dari Mahakeret Manado ke Pasarean Hasta Renggo Yogyakarta. Rencana ini terelisasi pada tanggal 21 Juli 1990 dimana sebelumnya makam GRA. Hadiwijoyo dibongkar terlebih dahulu dan disandingkan dengan peti BPH. Hadiwijoyo untuk kemudian secara bersama-sama dimakamkan kembali di dalam cungkup.

Keenam Putra/Putri BPH. Hadiwijoyo adalah: 1. RA. Kustiyah (w.VI.17.1) 2. RM. Sutijo / RM. L. Prawirodipuro / RMW. Hatmodijoyo (w.VI.17.2) 3. RM. Subroto / RM. Dutodiprojo / RM. Rio Projomardowo (w.VI.17.3) 4. RA. Sriyati (w.VI.17.4) 5. RM. Sujono / RM. Menot (w.VI.17.5)

6. RM. Joko Sangkolo (w.VI.17.6)
BPH Buminata.jpg
24319/5 <48+72> < Gusti Pangeran Haryo Buminoto [Hb.6.18]
22720/5 <49> < Sulaeman
Official From Hilal Achmar.
23123/5 <48+81> < Bendoro Raden Ayu Suryomurcito [Hb.6.21] 23426/5 <48+80> < Bendoro Raden Mas Suleman [Hb.6.4]
23527/5 <48+79> < Bendoro Raden Ayu Notoyudo [Hb.6.16] 23628/5 <48+79> < Raden Ajeng Karsinah / Sedo Timur
25835/5 <48+85> < Gusti Raden Ajeng Samilah [Hb.6.2]
25936/5 <48+86> < Gusti Raden Ajeng Kusdilah [Hb.6.14]
26239/5 <62> < Raden Mas Abdul Mutalib Diponegoro
26340/5 <62> < Raden Ayu Hafsyah
26441/5 <68> < 1. RM. Sumitra
26542/5 <68> < 2. RM. Pringadi
26643/5 <68> < 3. RA. Rualiyah
26744/5 <68> < 4. RA. Hashyah
26845/5 <68> < 5. Ramallah
26946/5 <68> < 6. Maryamah
27047/5 <67> < 1. RM. Muhammad
27148/5 <67> < 2. RM. Ismangun
27249/5 <67> < 3. RM. Sumantri
27350/5 <67> < 4. RA. Impung
27451/5 <67> < 5. RA. Sayang
27552/5 <67> < 6. RA. Mariamah
27653/5 <67> < 7. RA. Maryati
27754/5 <67> < 8. RA. Maryani
27855/5 <66> < 1. RM.Madi
27956/5 <66> < 2. RM. Panjikusumah
28057/5 <66> < 3. RM. Jaya Adisaputra
28158/5 <66> < 4. RM. Nursiwan
28259/5 <66> < 5. RM. Junata
28360/5 <66> < 6. RA. Patimah
28461/5 <66> < 7. RA. Supiah
28562/5 <66> < 8. RA. Rubiyah
28663/5 <66> < 9. RA. Munirah
28764/5 <66> < 10. RA. Juriah
28865/5 <66> < 11. RA. Halimah
28966/5 <66> < 12. RA. Halidah
29471/5 <73+92> < Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradinah [Gp.Hb.5.1] 29572/5 <47+75> < Bendoro Raden Mas Sepuh [Hb.5.2]
29773/5 <47+75> < Bendoro Raden Ayu Timur [Hb.5.3]
29874/5 <47+74> < Bendoro Raden Ayu Hadiwinoto [Hb.5.7] 30075/5 <74> < RM. Notodiprojo
30176/5 <58+91> < 1. RM. Kyai Muh.Kholifah
30277/5 <58+91> < 2. Nyi RAy. Hasan Tuba
30378/5 <58+91> < 3. Nyi RAy. Muhyiddin
30479/5 <81> < Raden Ayu Notosuro [Hb.3.2.7.1]
30580/5 <92> < Raden Ayu Kusumoharjo [Hb.3.2.18.1]
30681/5 <92> < Raden Mas Joyodigdo [Hb.3.2.18.2]
30782/5 <92> < Raden Mas Notoharjo [Hb.3.2.18.3]
30883/5 <92> < Raden Ayu Mertopangarso [Hb.3.2.18.4]
30984/5 <92> < Raden Ayu Harjodipuro [Hb.3.2.18.5]
31085/5 <92> < Raden Ayu Prawiroharjo [Hb.3.2.18.6]
31186/5 <92> < Raden Mas Kusumowilogo [Hb.3.2.18.7]
31287/5 <47+74> < Bendoro Raden Ayu Suwardi [Hb.5.4]
31388/5 <47+74> < Bendoro Raden Ayu Rabingu [Hb.5.5]
31489/5 <47+76> < Bendoro Raden Ayu Bumisalamah [Hb.5.6]
31590/5 <119+94> < Raden Ayu Suryoprawiro [Hb.3.4.3.1]
31691/5 <119+94> < Raden Mas Karmeni [Hb.3.4.3.2]
31792/5 <119+94> < Raden Mas Suleman [Hb.3.4.3.3]
31893/5 <119+94> < Raden Ajeng Parkis [Hb.3.4.3.4]
31994/5 <119+94> < Raden Ayu Mertonegoro [Hb.3.4.3.5]
32095/5 <119+94> < Raden Ayu Dipokusumo [Hb.3.4.3.6]
32196/5 <128> < Raden Rio Cokrodiprojo [Hb.3.8.1.1]
32297/5 <136> < Raden Ngabehi Kromodeksono [Hb.3.14.1.1]
32398/5 <72> < Raden Bagus Surobroto [Hb.3.14.3.1]
32499/5 <72+232!> < Raden Mas Atmosutejo [Hb.3.14.3.2] / [Hb.6.8.1]
325100/5 <72+232!> < Raden Ayu Klayunedeng [Hb.3.14.3.3] / [Hb.6.8.2] 326101/5 <166> < Raden Bagus Mangunsuro Wibowo II [Hb.3.19.2.1]
327102/5 <166> < Raden Bagus Mangunsuroto [Hb.3.19.2.2]
328103/5 <166> < Raden Mas Atmoyujono [Hb.3.19.2.3]
329104/5 <176> < Raden Lurah Atmodirjo [Hb.4.5.1]
330105/5 <176> < Raden Ayu Ronodiningrat [Hb.4.5.2]
331106/5 <176> < Raden Ayu Mangunjoyo [Hb.4.5.3]
332107/5 <176> < Raden Ayu Mertohadinegoro [Hb.4.5.4]
333108/5 <176> < Raden Ayu Prawirodiningrat [Hb.4.5.5]
334109/5 <176> < Raden Ayu Wiryodiningrat [Hb.4.5.6]
335110/5 <176> < Raden Lurah Atmoprawiro [Hb.4.5.7] / Raden Panji Joyoprawiro
336111/5 <176> < Raden Ayu Mangundikoro [Hb.4.5.8]
337112/5 <176> < Kanjeng Raden Tumenggung Prawirodirjo [Hb.4.5.9]
338113/5 <176> < Raden Ngabehi Ronopragoto [Hb.4.5.10]
339114/5 <176> < Raden Ayu Kertowerdoyo [Hb.4.5.11]
340115/5 <176> < Raden Ayu Dutopranoto [Hb.4.5.12]
341116/5 <176> < Raden Mas Atmodimulyo [Hb.4.5.13]
342117/5 <175+96> < Raden Ayu Sosroatmojo [Hb.4.11.1]
343118/5 <175+96> < Kanjeng Raden Tumenggung Jayaningrat [Hb.4.11.2]
344119/5 <175+96> < Raden Lurah Mangunsentono [Hb.4.11.3]
345120/5 <194> < Raden Ngabehi Pusporejoso [Hb.3.26.2.1] / Raden Mas Achmad Dahlan Mustahal
346121/5 <194> < Raden Ayu Sontorejo [Hb.3.26.2.2]
347122/5 <194> < Raden Ngabehi Bau Setiko [Hb.3.26.2.3]
348123/5 <194> < Raden Ayu Retno Pringgo Asmoro [Hb.3.26.2.4] / [Ga.Hb.4.14] 349124/5 <194> < Raden Ayu Sudiratmojo [Hb.3.26.2.5]
350125/5 <194> < Raden Mas Atmosentono [Hb.3.26.2.6]
351126/5 <200> < Raden Ayu Mangkusentono [Hb.3.27.2.1]
352127/5 <218> < Raden Mas Atmosedarmo [Hb.3.28.13.1]
353128/5 <218> < Raden Ayu Atmosetoto [Hb.3.28.13.2]
354129/5 <219> < Raden Mas Jumeno [Hb.3.28.14.1]
355130/5 <219> < Raden Mas Mangun [Hb.3.28.14.2]
356131/5 <219> < Raden Mas Jumali Abdul Safari [Hb.3.28.14.3]
357132/5 <219> < Raden Mas Mukri [Hb.3.28.14.4]
358133/5 <169+95> < Bendoro Pangeran Haryo Cakraningrat [Hb.4.9.1] / Kanjeng Raden Tumenggung Danurejo
359134/5 <169+95> < Raden Mas Panenggak [Hb.4.9.2]
360135/5 <169+95> < Raden Panji Ronowinoto [Hb.4.9.3]
361136/5 <169+95> < Raden Lurah Mangunpragolo [Hb.4.9.4]
362137/5 <169+95> < Raden Penewu Sindusentono [Hb.4.9.5]
363138/5 <169+95> < Raden Ajeng Rabingah [Hb.4.9.6]
364139/5 <169+95> < Raden Ayu Mangkusemedi [Hb.4.9.7]
365140/5 <169+95> < Raden Lurah Suryoprawiro [Hb.4.9.8]
366141/5 <169+95> < Raden Lurah Atmosuwarno [Hb.4.9.9] / Raden Lurah Dipodiprojo
367142/5 <170> < Kanjeng Raden Tumenggung Suryotaruno [Hb.4.10.1]
368143/5 <170> < Kanjeng Raden Tumenggung Danundiningrat [Hb.4.10.2]
369144/5 <170> < Raden Lurah Atmokusumo [Hb.4.10.3]
370145/5 <170> < Raden Ayu Pusposedarmo [Hb.4.10.4]
371146/5 <170> < Raden Ayu Puruboyo [Hb.4.10.5]
372147/5 <170> < Raden Ayu Sosrodirjo [Hb.4.10.6]
373148/5 <170> < Raden Ayu Mangkudilogo [Hb.4.10.7]
374149/5 <170> < Raden Ngabehi Puspoprawiro [Hb.4.10.8]
375150/5 <170> < Raden Ayu Danudipuro [Hb.4.10.9]
376151/5 <170> < Raden Ayu Sosroasmoro [Hb.4.10.10]
377152/5 <170> < Raden Ayu Sosrokusumo [Hb.4.10.11]
378153/5 <170> < Raden Ayu Mangunyudo [Hb.4.10.12]
379154/5 <170> < Raden Ayu Wongsodirjo [Hb.4.10.13]
380155/5 <223+99> < Raden Ayu Atmokusumo [Hb.4.13.4]
381156/5 <223+99> < Raden Lurah Mangkutaruno [Hb.4.13.3]
382157/5 <223+99> < Raden Lurah Mangunpramujo [Hb.4.13.2]
383158/5 <223+99> < Raden Ayu Bahudirjo [Hb.4.13.1] 384159/5 <104> < Kanjeng Raden Tumenggung Suryonegoro [Hb.4.17.1]
385160/5 <104> < Raden Panji Joyowiloyo [Hb.4.17.2]
386161/5 <104> < Raden Ajeng Siyami Atmopuspito [Hb.4.17.15]
387162/5 <104> < Raden Mas Pringadi [Hb.4.17.14]
388163/5 <104> < Raden Mas Sayidiman [Hb.4.17.13]
389164/5 <104> < Raden Ayu Jayengatmojo [Hb.4.17.12]
390165/5 <104> < Raden Mas Beskuwit [Hb.4.17.11]
391166/5 <104> < Raden Mas Bluder [Hb.4.17.10]
392167/5 <104> < Raden Ajeng Sumirah [Hb.4.17.9]
393168/5 <104> < Raden Ayu Pusposetoto [Hb.4.17.8]
394169/5 <104> < Raden Ayu Behi [Hb.4.17.7]
395170/5 <104> < Raden Ayu Manguntaruno [Hb.4.17.6]
396171/5 <104> < Raden Ayu Joyopuspito [Hb.4.17.5]
397172/5 <104> < Raden Ayu Mangkupertomo [Hb.4.17.4]
398173/5 <104> < Raden Panji Nitidiwiryo [Hb.4.17.3]
399174/5 <109+94> < Raden Ayu Suryoprawiro [Hb,4.8.1]
400175/5 <109+94> < Raden Mas Karmeni [Hb.4.8.2]
401176/5 <53> < 1. RM. Krama Dipa
KPA Diponegoro , tertangkap oleh pasukan Belanda pada tanggal 8 Januari 1830, dan dilepas menjelang perundingan dg Jenderal De Kock, (tetap tinggal di jawa). Salah satunya keturunan yang tercerai-berai karena dikejar-kejar Belanda adalah Keluarga RM Krama Dipa yg sebagian besar tinggal di Desa Ledug, kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas ( Purwokerto ).
402177/5 <53> < 2. RM Haji Ali Dipowongso
403178/5 <95> < Taruno Atmojo
404179/5 <56+88> < Kanjeng Raden Tumenggung Mertonegoro II
405180/5 <224> < Raden Ayu Bahutenoyo
406181/5 <95> < Raden Ayu Medarsih 407182/5 <210+?> < Raden Penewu Tirtodilogo
Raden Penewu Tirtodilogo dimakamkan di Demakijo
408183/5 <225> < Raden Ayu Tirtodilogo
dimakamkan di Demakijo

6

7651/6 <384> < Raden Ajeng Surodiningrat [Hb.4.17.1.1]
perkawinan: <180> < Raden Tumenggung Surodiningrat d. 1856
wafat: Yogyakarta, Disarekan Pasarean Kuncen Yogyakarta
7762/6 <354+?> < Raden Ayu Siti Djumanah [Hb.3.2.8.14.1.6]
lain-lain:
perkawinan: 1947, Magelang, Menikah dengan R Ikhwan Usman
Baksan.jpeg
4303/6 <251+100> < RM. KH. Usman Bakhsan Dipomenggolo
lahir: 1849c, Jabaru, Ciomas
perkawinan: <181> < 10. Nji R. Kuraesin b. 1864c
IKPD-1.jpg
4314/6 <252> < 1. RM. H. Brodjomenggolo
lahir: 1850c
IKPD-1.jpg
4325/6 <252> < 2. RAy. Gondomirah
lahir: 1852c
wafat: 5 Juli 1908
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

mengenai Kalkulasi usia perkawinan dan status perkawinan :

  • Perbedaan usia antara RTA. Suradimenggala dengan RAy. Gondomirah sebanyak (1852-1819) = 33 tahun, ini dapat diartikan bahwa RAy. Gondomirah adalah isteri ke 2 / ke 3.
  • Pernikahan berlangsung pada saat usia RAy Gondomirah mencapai 26 tahun atau pada tahun 1878, dimana RTA. Suradimenggala sudah berusia (1878-1819) = 59 tahun.
IKPD-1.jpg
4336/6 <252> < 3. RM. H. Abas (Penghulu Ciomas)
lahir: 1854c
pekerjaan: ?, 1893-1903 Penghoeloe Tjiomas
IKPD-1.jpg
4377/6 <252> < 4. RM. H. Abdulrachman ADI Menggolo (Camat Ciomas)
lahir: 1855c
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Gerakan Perlawanan Sosial di Tanah Partikelir Ciomas Bogor Tahun 1886

Gerakan perlawanan sosial dikenal juga dengan istilah “gerakan melawan pemerasan”, “gerakan melawan keadaan”, atau “gerakan melawan peraturan yang tidak adil”. Dalam istilah kolonial, peristiwa perlawanan semacam itu dikategorikan sebagai “ganguan ketentraman”, “huru-hara”, “kerusuhan”, atau “gerakan rohani”. Suatu ciri umum, bahwa hampir semua gerakan perlawanan sosial peristiwanya terjadi di tanah Partikelir (particultire landerijen). Sebab – sebab timbulnya gerakan tersebut, dipengaruhi oleh terbentuknya tanah partikelir dan situasi – situasi yang mempengaruhinya, antara lain:

Tanah partikelir muncul sejak awal jaman VOC sampai perempatan pertama abad ke-19, sebagai akibat adanya praktik penjualan tanah yang dilakukan oleh orang – orang Belanda. Tanah – tanah tersebut berlokasi disekitar Batavia, dan sebagaian besar berada di daerah pedalaman antara Batavia dan Bogor, daerah Banten, Karawang, Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Pada awal kekuasaan VOC tanah tadi dihadiahkan kepada penanggung jawab kententraman dan keamanan di sekitar daerah Batavia, sedangkan sebagian kecil ada yang diberikan kepada kepala – kepala pribumi. Khusus untuk tanah partikelir di daerah Bogor, status kepemilikannya berada ditangan pribadi para Gubernur Jendral yang berlangsung secara berturut – turut. Bagi orang yang menerima tanah tersebut secara leluasa mereka bertindak sebagai tuan tanah dan segera menguasai penggarap anah dengan dikenakan beban berupa pajak tanah (cuke) yang tinggi, serta penyerahan wajib kerja yang berat. Tindakan pemerasan tuan tanah di wilayah pemilikan tanahnya itu membangkitkan gerakan perlawanan sosial yang penampilannya lebih cenderung bermotifkan perasaan dendam yang bersifat milenaristis atau mesianistis. Untuk menghilangkan kegelisahan para petani di daerah tersebut pada masa pemerintahan Deandeles dan Raffles pernah dikeluarkan larangan kepada tuan – tuan tanah untuk memperoleh sepersepuluh dari hasil tanah atau menentukan penyerahan tenaga kerja yang berat. Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah tahun 1836, dinyatakan bahwa pemerintah mempunyai hak untuk melindungi para petani dan mengatur suatu peradilan di tanah partikelir. Tetapi dalam menghadapi kecurangan tuan – tuan tanah, termasuk para pembantunya, pihak pemerintah sangat sulit mengawasinya, sehingga kegelisahan dikalangan petani semakin cenderung untuk mencetuskan gagasan dengan jalan melakukan tindakan kekerasan dalam bentuk perlawanan yang berkesinambungan. Kasus perlawanan petani di tanah partikelir pada periode abad ke-19, banyak terjadi dan seolah – olah merupakan hal yang lumrah.

Menurut letak geografisnya, tanah partikelir Ciomas berada di lereng sebelah utara Gunung Salak. Tanah tersebut menjadi milik tuan tanah setelah dijual oleh Gubernur Jendral Deandels, dengan meliputi areal tanah seluas 9.00 bau (1 bau = 0,8 hektar). Tanah seluas itu dihuni oleh penduduk ± 15.000 jiwa. Seperti di tanah partikelir lainnya di daerah Ciomas pun para petani dihadapkan pada kondisi – kondisi sosial-ekonomi yang tidak menguntungkan, karena tenaganya dieksploitasi oleh tuan tanah, para pengawas, dan petugas tuan tanah lainnya yang menuntut pelayanan kerja yang berat, serta pemenuhan pajak (cuke) yang tinggi. Sebelum meletusnya gerakan petani tersebut, keadaan politik dan ekonomi yang berlaku di daerah Ciomas sendiri, antara lain :

1) Para pemungut pajak sering melakukan praktik, bahwa untuk menuai panen para petani diharuskan menunggu waktu yang ditentukan oleh tuan tanah. Untuk mengawasi panen, tuan tanah menunjuk petugas – petugas dan penjaga yang ditempatkan di sawah – sawah. Oleh karena petugas – petugas dan penjaga tersebut tidak diawasi secara langsung oleh tuan tanah, mereka cenderung untuk menggunakan kedudukannya dengan praktik yang curang terhadap petani. Berbeda dengan kebiasaan yang berlaku di tanah partikelir lainnya, bahwa pada saat panen tiba, penuaian hanya dilakukan oleh petani di daerah itu. Hal ini akan membawa akibat, bahwa sebagian dari hasil panen dapat diserap ke tempat lain, dan dengan sendirinya mengurangi pendapatan petani di Ciomas.

2) Kekurangan pendapatan petani di Ciomas, ditambah lagi dengan kewajiban untuk mengangkut hasil panen milik tuan tanah dari sawah – sawah ke lumbung – lumbung (gudang – gudang padi), yang jaraknya antara 10 sampai 12 paal (= 15 sampai 18 km).

3) Di kebun – kebun dan pabrik – pabrik kopi Ciomas, berlau juga sistem perbudakan yang lebih berat, sehingga berlaku juga kerja paksa, dan kepada buruh yang tidak hadir atau datang terlambat dikenakan peraturan yang keras.

4) Kepada para petani dikenakan juga kewajiban untuk menyerahkan jenis barang tertentu, antara lain penyerahan dua butir kelapa untuk setiap pohon, penyerahan sebatang bambu untuk setiap petak sawah, penyerahan seluruh hasil pohon enau dan kopi yang diwajibkan ditanam di kebun petani yang jumlahnya mencapai 250 batang.

5) Petani dilarang mengekspor padi, kerbau, dan hasil bumi lainnya.

6) Jika petani tidak dapat membayar huangnya, maka akan dikenakan penyitaan atas tanah, rumah, dan kerbaunya.

7) Perluasan kekuasan tuan tanah terhadap petani sampai juga pada pengawasan mengenai penjualan ternak, rumput, kayu, dan penebangan pohon – pohon.

8) Kaum wanita dan anak – anak pun diharuskan bekerja selama sembilan hari untuk setiap bulannya.

Adanya dominasi politik, ekonomi, dan sosial yang dilakukan oleh tuan tanah terhadap kaum petani, telah membawa iklim yang lebih buruk dan pada akhirnya sampai mencapai konflik yang tajam. Salah satu akibat dari pelaksanaan eksploitasi tenaga kerja yang berat dan pemungutan cuke yang tinggi menjelang pecahnya perlawanan petani ialah terjadinya migrasi penduduk dari daerah itu. Bagi mereka yang tidak tahan lagi dengan praktik pemerasan tuan tanah dan merasa terancam akan kehancuran ekonominya segeralah angkat kaki meninggalkan tanah partikelir di Ciomas. Perasaan tidak puas petani untuk bekerja di tanah partikelir lebih nampak nyata ketika menolak kerja paksa di perkebunan kopi, dan mulailah mencetuskan perlawanan secara terbuka yang ditandai dengan tindakan kekerasan.

Perlawanan secara langsung diawali dengan melancarkan pemberontakan tanggal 22 Februari 1886, ketika mereka membunuh Camat Ciomas, Haji Abdurrachim (RM. H. ABDURRACHMAN ADI MENGGOLO), dan masih pada bulan Februari itu juga Arpan bersama kawan – kawannya mengundurkan diri ke Pasir Paok, dan di sana mereka menolak untuk menyerah kepada tentara pemerintah kolonial.

Sebulan sebelum terjadinya kedua peristiwa tadi, Mohammad Idris telah mengundurkan diri ke Gunung Salak. Sekalipun ia lahir di Ciomas, namun dalam perjuangan hidupnya ia selalu berpindah – pindah tempat, seperti ke Sukabumi dan Ciampea. Ia termasuk salah seorang yang sangat membenci tuan tanah dan kaki tangannya. Karena sikapnya itu, maka semakin banyaklah petani pelarian dari tanah partikelir untuk menggabungkan diri. Setelah diadakan pertemuan besar di pondok kecilnya, Idris bersama pengikutnya bersepakat untuk melancarkan penyerangan ke Ciomas. Dan tepat pada hari Rabu malam, tanggal 19 Mei 1886 sesuai dengan rencana semula Idris bersama pengikutnya berhasil menduduki daerah Ciomas bagian selatan. Selama menduduki daerah tersebut mereka tidak melakukan perampokan terhadap gudang – gudang di Sukamantri, Gadong, dan Warungloa. Bahkan sebaliknya mereka menyatakan, bahwa serangan yang dilancarkannya itu tidak dimaksudkan untuk merampok kekayaan, tetapi serangan tersebut hanya ditujukan khusus bagi pribadi tuan tanah. Tanggal 20 Mei 1886 para pemberontak menyelenggarakan upacara sedekah bumi di Gadong, yang dihadiri juga oleh semua pegawai tuan tanah. Upacara tersebut sebenarnya merupakan perayaan tahunan yang dimeriahkan dengan permainan musik, tari – tarian, dan atraksi – atraksi lainnya. Sebagai penutup dari perayaan itu, seolah – olah seperti diberikan aba – aba, bahwa kaum pemberontak setelah melihat pegawai – pegawai tuan tanah yang sesungguhnya bertindak sebagai penindas dan memeras mereka, beberapa diantara pengikut Mohamad Idris segera melampiaskan kemarahannya menyerang agen – agen tuan tanah secra membabi buta. Perayaan sedekah bumi itu berakhir dengan pembunuhan besar – besaran yang ditujukan kepada pegawai – pegawai tuan tanah. Dari peristiwa pembunuhan tersebut, diketahui bahwa sejumlah 40 orang mati dibunuh, dan 70 orang lainnya luka – luka. Tuan tanah beserta keluarganya selamat, karena secara kebetulan mereka tidak hadir dalam upacara itu.

Dari panggung peristiwa perlawanan petani Ciomas itu, jelaslah bahwa yang menjadi sasaran utama dan sebgai musuhnya adalah tuan tanah, pegawai pemerintah kolonial baik asing maupun pribumi, para pedagang, dan lintah darat.

Gerakan perlawanan petani Ciomas memperlihatkan adanya spontanitas baik waktu timbul maupun selama masa berkembangnya, yang ditunjang juga dengan iklim atau situasi politik yang benar – benar telah diperhitungkan akan timbulnya gerakan perlawanan. Peristiwa perlawanan petani Ciomas merupakan suatu corak atau model perjuangan yang berlatar belakang perbedaan kepentingan dan tujuan anara tuan tanah, pemerintah, dan pegawai – pegawai lainnya dengan kaum petani di lain pihak. Pertentangan kepentingan dan tujuan itu, pada akhirnya dapat dilakukan dalam bentuk perlawanan secara keras dari pihak petani sebagai protes akibat tekanan – tekanan yang berat.
IKPD-1.jpg
4388/6 <252> < 5. RM. H. Muhammad Hasan
lahir: 1856c
4279/6 <244+173> < Kanjeng Raden Tumenggung Purboningrat [Hb.6.9.4]
lahir: 10 Maret 1865
49810/6 <244+173> < Kanjeng Adipati Prawiropurbo [Hb.6.9.10] (Ndoro Purbo / Raden Mas Kusrin)
lahir: 1869, Yogyakarta
perkawinan: <182> < Nyi Kasihan
perkawinan: <183> < Nyai Prawiro Purbo ? (Jiwaningsih) d. 1896?
wafat: 4 Maret 1933, Yogyakarta
penguburan: 5 Maret 1933, Yogyakarta
GPA Hamengkunegoro.jpg
42811/6 <226+101> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegoro I [Hb.7.14] (Gusti Raden Mas Akhadiyat)
lahir: 1873, Yogyakarta
perkawinan: <184> < Raden Ayu Hamengkunegoro
perkawinan: <647!> < Raden Ayu Kusumodilogo / Raden Ajeng Siti Rokhiyah [Hb.6.11.30]
gelar: 5 Maret 1883, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegoro Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram
63812/6 <247+127> < Raden Mas Subarjo [Hb.6.11.8] (Raden Tumenggung Wiroguno)
lahir: 3 November 1876, Yogyakarta
perkawinan: <1577!> < Raden Ayu Wiroguno [Hb.7.4.1]
Kanjeng Raden Tumenggung Wiroguno. Putra dari KGPA Mangkubumi dan RAY. Tejomurti ini dilahirkan pada tanggal 3 Nopember 1876 di Yogyakarta. Beliau mempunyai kegemaran melukis dengan cat air dan cat minyak. Beberapa lukisannya terpancang di Kraton Yogyakarta.

K.R.T Wiroguno menjabat Bupati Patih Kadipaten Yogyakarta termasuk empu gendhing yang unggul. Disamping itu beliau masih melanjutkan membina corak pagelaran tari ciptaan ayahnya , Pangeran Mangkubumi, yaitu Langendriya. Beliau juga menciptakan dan mengembangkan tari golek putri, ikut serta membina Perkumpulan Tari Krida Beksa Wirama dan aktif membina penyiaran gendhing-gendhing atau seni suara melalui siaran radio pada masa itu.

Hasil Karya K.R.T Wiroguno antara lain : 1) menyusun teori dan pedoman seni gendhing dan suara gaya Mataraman, 2) menciptakan notasi gendhing gaya Mataraman dengan not balok, 3) menyusun suatu lokasi gendhing-gendhing Mataram dalam suatu buku tulisan tangan mulai tahun 1919,

4) mencipta dan menggubah tidak kurang dari 100 buah gendhing, baik gendhing Ageng maupun gendhing alit.
Gph mangkukusumo2.jpg
50613/6 <226+122> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkukusumo [Hb.7.17] (Gusti Raden Mas Puntoaji)
Hatmodidjojo.JPG
41614/6 <228+147> < Raden Mas Wedono Hatmodijoyo [Hb.7.17.2] (Raden Mas Lurah Puspoatmojo)
lahir: 1878, Yogyakarta
wafat: 27 April 1943, Yogyakarta
Kgpaa hamengkunegoro III.jpg
61715/6 <226+101> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegoro III [Hb.7.20] (Gusti Raden Mas Putro)
Face HB VIII.JPG
40917/6 <226+101> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Vlll [Hb.7.23] (Gusti Pangeran Haryo Puruboyo)
Sri Sultan Hamengkubuwana VIII (lahir di Kraton Yogyakarta Adiningrat, 3 Maret 1880 – meninggal di Kraton Yogyakarta Adiningrat, 22 Oktober 1939 pada umur 59 tahun) adalah salah seorang raja yang pernah memimpin di Kesultanan Yogyakarta tahun 1921-1939. Dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta pada tanngal 8 Februari 1921. Pada masa Hamengkubuwono VIII, Kesultanan Yogyakarta mempunyai banyak dana yang dipakai untuk berbagai kegiatan termasuk membiayai sekolah-sekolah kesultanan. Putra-putra Hamengkubuwono VIII banyak disekolahkan hingga perguruan tinggi, banyak diantaranya di Belanda. Salah satunya adalah GRM Dorojatun, yang kelak bertahta dengan gelar Hamengkubuwono IX, yang bersekolah di Universitas Groningen.

Pada masa pemerintahannya, beliau banyak mengadakan rehabilitasi bangunan kompleks keraton Yogyakarta. Salah satunya adalah bangsal Pagelaran yang terletak di paling depan sendiri (berada tepat di selatan Alun-alun utara Yogyakarta). Bangunan lainnya yang rehabilitasi adalah tratag Siti Hinggil, Gerbang Donopratopo, dan Masjid Gedhe.

Beliau meninggal pada tanggal 22 Oktober 1939 di RS Panti Rapih Yogyakarta karena menderita sakit.

Silsilah Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Anak kesembilan dari Sultan Hamengkubuwana VII (Sultan Ngabehi) dan istri keduanya GKR Mas Memiliki delapan istri: 1.RA Siti Katina, putri Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi, tahun 1907 2.BRA Purya Aningdiya 3.BRA Puspitaningdiya 4.BRA Srengkara Aningdiya 5.RA Kustilah/KRA Adipati Anum Amangku Negara/Kanjeng Alit, putri Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi 6.BRA Rukmi Aningdiya 7.KBRAy Ratna Adiningrum 8.BRAy Ratna Puspita Memiliki dua puluh empat putra: 1.BRM ... dari BRA Purya Aningdiya, meninggal sebelum sempat diberi nama. 2.BRM Mustari dari BRA Puspitaningdiya 3.Mayor BRM Jartabitu/Kanjeng Mas Pangeran Angabehi/Gusti Pangeran Angabehi dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan BRA Siti Mustakirun 4.Kapten BRM Sungangusamsi/GBPH Purbaya dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan BRA Madusari/RAy Purbaya. 5.BRM Sumeru/GBPH Dhanupaya dari BRA Puspitaningdiya 6.BRM Sudiarsa dari BRA Purya Aningdiya 7.BRM Kartala/GBPH Mangkudiningrat dari BRA Purya Aningdiya, menikah dengan RA Sumani dan menikah dengan Amiratna/BRA Mangkudiningrat, putri kedua dari KGPAA Raja Paku Alam VI dan Kanjeng Gusti Timur putri dari KGPAA Raja Paku Alam III 8.BRM Tinggartala/GBPH Prabuningrat dari BRA Puspitaningdiya 9.GRM Dorojatun/GBPH Purbaya/Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Kanjeng Alit 10.BRM Duryatnanu dari BRA Purya Aningdia 11.BRM Mahikyaun/GBPH Surya Wijaya dari BRA Rukmi Aningdiya 12.BRM Rais ul-Ngah Askari/GBPH Bintara dari BRA Srengkara Aningdiya 13.BRM Alpasuatlamin/GBPH Surya Brangta dari BRA Purya Aningdiya 14.BRM Mupasalukatini dari BRA Puspitaningdiya 15.BRM Ila ul-Kirami/GBPH Murdaningrat dari BRA Srengkara Aningdiya 16.BRM Makan ul-Munayati/BGBPH Puya Kusuma dari BRA Purya Aningdiya 17.BRM Pel ul-Kuluki/GBPH Suryaputra dari KBRAy Ratna Adiningrum 18.BRM Sunwata/GBPH Adi Wijaya dari BRAy Ratna Puspita 19.BRM Sahadatsatir dari BRAy Ratna Puspita 20.BRM Hening /GBPH Yudha Negara dari KBRAy Ratna Adiningrum 21.BRM Dr Banakamsi/GBPH Dr Dipayana dari BRA Tejaningrum 22.BRM Satriya/GBPH Benawa dari KBRAy Ratna Adiningrum 23.BRM Danangjaya dari KBRAy Ratna Adiningrum 24.BRM Rabinharyani/GBPH Puger dari BRAy Ratna Puspita Memiliki tujuh belas putri: 1.BRA Gusti Siti Sundarumiya/GKR Pembayun dari BRA Purya Aningdiya, menikah dengan BPH Pakuningrat, putra tertua KGRM Putra/KGPAA Amangku Negara. 2.BRA Siti Sayadi/GBRAy Sinduraja dari BRA Purya Aningdiya, menikah dengan KRT Sinduraja. 3.BRA Siti Sadari/GBRAy Purbawinata dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Purbawinata/KPH Purbawinata. 4.BRA Siti Kadarmi/GBRAy Jaya ningrat dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Jayaningrat. 5.BRA Siti Kajananywa/GBRAy Jaya Winata dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan KRT Jayawinata. 6.BRA Siti Mutasangilun dari BRA Srengkara Aningdiya 7.BRA Siti Nuriwadina/GBRAy Chandradiningrat dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan KRT Chandradiningrat. 8.BRA Siti Kuswanayi/GBRAy Cakradiningrat dari BRA Rukmi Aningdiya, menikah dengan GBPH Cakradiningrat, putra dari KGRM Putra/KGPAA Amangku Negara. 9.BRA Siti Sriwayati/GBRAy Purbasaputra dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan KRT Purbaseputra. 10.BRA Siti Swandari/GBRAy Purwadiningrat dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Purwadiningrat. 11.BRA Siti Hilal ul-Ngasarati/GBRAy Kusuma Adiningrat dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Kusumadiningrat. 12.BRA Siti Sutyanti/GBRAy Jayaningrat dari KBRAy Ratna Adiningrum, menikah dengan Ir. Raden Puspaharsana Jayaningrat. 13.BRA Siti Padmasari/GBRAy Sumarman dari KBRAy Ratna Adiningrum, menikah dengan Raden Sumarman, S.H. 14.BRA Siti Wayarini dari BRAy Ratna Puspita 15.BRA Siti Prayuti dari BRAy Ratna Puspita 16.BRA Siti Widyastuti/GBRAy Andayaningrat dari KBRAy Ratna Adiningrum, menikah dengan Raden Suwarna Andayaningrat.

17.BRA Siti Sutarnin dari BRAy Ratna Puspita
42218/6 <243+150> < Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Danurejo VIII / [Hb.6.18.3] (Raden Mas Subari)
lahir: 3 September 1882, Yogyakarta
pekerjaan: 1909, Kalasan, Diangkat menjadi Panewu Palang Negari (Sekretaris) di Kabupaten Kalasan dan bergelar Raden Panewu Mangundimejo
pekerjaan: 1914, Gunung Kidul Regency, Menjadi Panji Kepala Distrik) di Semanu Kabupaten Gunung Kidul dan bergelar Raden Panji Harjodipuro yang kemudian diubah menjadi Harjokusumo
pekerjaan: 1919, Kalasan, Menjadi Bupati Pangreh Praja Kalasan dan bergelar Raden Tumenggung Harjokusumo
pekerjaan: 1927, Yogyakarta, Menjadi Bupati Kabupaten Kota Yogyakarta yang merupakan gabungan Kabupaten Sleman, Kalasan, dan Kota Yogyakarta
gelar: 3 November 1933, Yogyakarta, Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta bergelar Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Danurejo VIII
perkawinan: <501!> < Gusti Kanjeng Ratu Chondrokirono II [Hb.7.54] , Yogyakarta
pensiun: 14 Juli 1945, Yogyakarta
Patih of Yogyakarta 1933-1945
49919/6 <226+475!> < w Bendoro Pangeran Haryo Suryomataram [Hb.7.55] Bendoro Raden Mas Kudiarmadji (Notodongso)
lahir: 20 Mei 1892, Yogyakarta
perkawinan: <1219!> < Raden Ayu Surtiadiwati Suryomataram [Hb.6.9.14.1] d. 1921
perkawinan: <207> < Nyai Ageng Suryomataram , Salatiga
wafat: 18 Maret 1962, Yogyakarta
50320/6 <226+104> < Bendoro Pangeran Haryo Hadikusumo II [Hb.7.58] (Gusti Raden Mas Hario) 50721/6 <226+101> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Jumino / Gusti Raden Mas Pratistha (Gusti Djuminah)
perkawinan: <209> < Raden Ayu Murtiningrum
perkawinan: <210> < Raden Ayu Hadiningrum
perkawinan: <211> < Raden Ayu Sasmintaningrum
gelar: 9 November 1893, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunegara Sudibya Rajaputra Nalendra ing Mataram
wafat: 1942?, Pasarean Hastorenggo, Yogyakarta
46623/6 <248+141> < Raden Ayu Roostamtiyah [Hb.6.20.21] (Raden Ayu Sindudipuro)
lahir: 3 Desember 1898, Yogyakarta
perkawinan: <213> < Raden Wedana Sindudipuro b. 14 September 1901 d. 11 Mei 1951
wafat: 2 Oktober 1968, Yogyakarta
47524/6 <246> < Bendoro Raden Ayu Retnomandoyo [Ga.Hb.7.13]
perkawinan: <226!> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VII / Gusti Raden Mas Murtejo [Hb.6.1] (Sinuhun Behi) b. 4 Februari 1839 d. 30 Desember 1921
wafat: 30 Desember 1931, Yogyakarta
42925/6 <246> < Kanjeng Raden Adipati Danurejo VIII / Subari Wiro Haryodirgo Danurejo VI
perkawinan: <501!> < Gusti Kanjeng Ratu Chondrokirono II [Hb.7.54]
pekerjaan: 30 November 1933 - 14 Juli 1945, Yogyakarta, Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta bergelar Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Danurejo VIII
BRA Mariam Suryengalogo.jpg
70026/6 <249+708!> < Bendoro Raden Ayu Mariam Suryengalogo
perkawinan: <214> < Raden Mas Soeryodinegoro
wafat: 23 Juni 1934, Manado, Mahakeret, Manado
48328/6 <290> < 6. Raden Mas Daud
wafat: 1943, Ambon
Gkr hemas1.jpg
47429/6 <226+103> < Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Hb.7.61]
perkawinan: <217> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X / Sunan Panutup (Raden Mas Malikul Kusno) b. 29 November 1866 d. 1 Februari 1939, Yogyakarta
wafat: 28 Mei 1944
Sriyati.jpg
41330/6 <228+147> < Raden Ayu Sriyati [Hb.6.17.4]
perkawinan: <218> < Raden Mas Iljas Notodirdjo d. 8 Agustus 1945
wafat: 26 Februari 1955, Yogyakarta, Disarekan Pasarean Kuncen Yogyakarta
Menot.JPG
41131/6 <228+147> < Raden Mas Rudolf Maximillian Menot [Hb.6.17.5] (Raden Mas Suyono)
perkawinan: <219> < Erna Frederika Bolang b. 13 Agustus 1894 d. 4 November 1967
wafat: 25 Desember 1973, Jakarta
RM. Menot adalah putra ke-5 dari BPH. Hadiwijoyo. Pekerjaan terakhir beliau adalah sebagai pegawai Kantor Pos di Jakarta. Pekerjaan itulah yang membuat anak dan cucunya menyukai dan ikut mengoleksi perangko. RM. Menot meninggal tahun 1973 di Jakarta dan dimakamkan di TPU Menteng Pulo. Pada tahun 1975, kuburannya dipindah ke Manado sesuai keinginannya untuk dikuburkan bersama istri di makam keluarga di Manado.
41032/6 <227> < R. Martoatmojo
Official From Hilal Achmar.
41736/6 <247+127> < Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom Amangku Negara [Gp.Hb.8.1] [Hb.6.11.14] (Raden Ajeng Katinah / Kanjeng Alit) 41837/6 <247+124> < Raden Ayu Mangunjoyo II [Hb.6.11.15]
41938/6 <247+124> < Raden Bagus Suryokusumo [Hb.6.11.18]
42039/6 <247+126> < Kanjeng Raden Tumenggung Jogonegoro III / Kanjeng Raden Tumenggung Ronodiningrat [Hb.6.11.17] 42140/6 <247+124> < Raden Tumenggung Suryoatmojo / Raden Mas Murjono [Hb.6.11.12]
42341/6 <247+125> < Raden Mas Sutandar [Hb.6.11.1] (Kanjeng Pangeran Haryo Purwodiningrat)
42442/6 <247+124> < Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegoro [Gp.Hb.8.1] (Raden Ajeng Kustilah [Hb.6.11.21]) 42543/6 <248+137> < Raden Ayu Hatmodijoyo I [Hb.6.20.4] / Raden Ajeng Roostinah (Raden Ayu Puspohatmojo)
43444/6 <255> < RM. Asmini
43545/6 <255> < RM. Idris
43646/6 <255> < RM. Ondung
43947/6 <254> < 1. RM. H. Edoy
44048/6 <254> < 2. RM. H. Sayid Yudomenggolo
44149/6 <254> < 3. RAy. Saroja
44250/6 <254> < 4. RAy. Amanung
44351/6 <253> < RM. Harjo Dipotjokro Hadimenggolo / P. Gringsing II
44452/6 <237+167> < Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat 44553/6 <248+143> < Raden Mas Sudiro [Hb.6.20.30] (Kanjeng Raden Tumenggung Sastrokusumo) 44654/6 <248+137> < Raden Mas Saepur [Hb.6.20.1] (Raden Panji Joyopermadi)
44755/6 <248+137> < Raden Mas Rujali [Hb.6.20.2] (Raden Panji Joyopragolo)
44856/6 <248+137> < Raden Ayu Roostijah [Ga.Hb.7.20.3] [Hb.6.20.3] (Bendoro Raden Ayu Doyopurnamaningrum) 44957/6 <248+137> < Raden Mas Saeran [Hb.6.20.5] (Raden Bagus Gambiranom)
45058/6 <248+137> < Raden Mas Karamal [Hb.6.20.6]
45159/6 <248+137> < Raden Mas Sukapjo [Hb.6.20.7] (Raden Bagus Suryowinoto)
45260/6 <248+137> < Raden Mas Palis [Hb.6.20.10]
45361/6 <248+137> < Raden Mas Saerun [Hb.6.20.13]
45462/6 <248+137> < Raden Mas Sukapdiman [Hb.6.20.14]
45563/6 <248+138> < Raden Ajeng Roosdinah [Hb.6.20.9] (Raden Ayu Kertonadi) 45664/6 <248+139> < Raden Ayu Rooskiyati [Hb.6.20.12] (Raden Ayu Padmodiprojo)
45765/6 <248+139> < Raden Mas Supandi [Hb.6.20.15]
45866/6 <248+139> < Raden Mas Gurnosuwendo [Hb.6.20.17]
45967/6 <248+140> < Raden Ayu Roostijah [Hb.6.20.8]
46068/6 <248+140> < Raden Mas Dipomenggolo [Hb.6.20.11]
46169/6 <248+140> < Raden Mas Yusuf [Hb.6.20.23] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumaningrat) 46270/6 <248+144> < Raden Ayu Roosyayi [Hb.6.20.16] (Raden Ayu Darmowinoto) 46371/6 <248+141> < Raden Ayu Roostamtinah [Hb.6.20.18] (Raden Ayu Suryodiningrat) 46472/6 <248+141> < Raden Mas Ibrahim Ibnu Rustam [Hb.6.20.19]
46573/6 <248+141> < Raden Mas Sayid Imran / Kanjeng Raden Tumenggung Purwonegoro [Hb.6.20.20] (Kanjeng Raden Tumenggung Joyonegoro II) 46774/6 <248+142> < Raden Ayu Roosinah [Hb.6.20.22] (Raden Ayu Purbocaroko) 46875/6 <248+142> < Raden Mas Suwondo [Hb.6.20.24] (Raden Ngabehi Purwodiprojo)
46976/6 <248+142> < Raden Mas Suwandi [Hb.6.20.25] (Raden Wedana Suryowimono)
47077/6 <248+142> < Raden Ayu Roostirah [Hb.6.20.26] (Raden Ayu Suryodirjokusumo) 47178/6 <248+142> < Raden Ajeng Roosimah [Hb.6.20.27] (Raden Ayu Suryodirjokusumo)
47279/6 <248+142> < Raden Ayu Roosjiyah [Hb.6.20.28] (Raden Ayu Wigyokusumo) 47380/6 <248+142> < Raden Ayu Roossiyah/Roosijah [Hb.6.20.29] (Raden Ayu Suwandhi H.) 47681/6 <247+250!> < Raden Ayu Siti Katina [Ga.Hb.8.1] [Hb.6.11.1] 47782/6 <262> < RM. Muhammad Diponegoro
47883/6 <290> < 1. Raden Ayu Khalidjah
47984/6 <290> < 2. Raden Mas Ibrahim
48085/6 <290> < 3. Raden Ayu Djahro
48186/6 <290> < 4. Raden Ayu Secha
48287/6 <290> < 5. Raden Mas Ismael
48488/6 <290> < 7. Raden Mas Muhammad
48589/6 <290> < 8. Raden Mas Sulaeman
48690/6 <292> < 1. RM. Yusuf Diponegoro
48791/6 <292> < 2. RM. Syawal Diponegoro
48892/6 <292> < 3. RM. Suja Diponegoro
48993/6 <292> < 4. RA. Marjam Diponegoro
49094/6 <292> < 5. RM. Muhammad Diponegoro
49195/6 <292> < 6. RM. Yunus Diponegoro )
49296/6 <292> < 7. RM. Achmad Diponegoro (Bandung)
49397/6 <292> < 8. RM. Murtasa Diponegoro
49498/6 <292> < 9. RA. Murtinah Diponegoro
49599/6 <292> < 10. RA. Supinah Diponegoro
496100/6 <292> < 11. RA. Murjani Diponegoro
497101/6 <292> < 12. RA. Supatni Diponegoro
501103/6 <226+103> < Gusti Kanjeng Ratu Chondrokirono II [Hb.7.54] 509108/6 <226> < Gusti Bendoro Pangeran Haryo Pakuningrat [Hb.7.41]
511110/6 <226> < Bendoro Raden Mas Hirawan [Hb.7.48]
512111/6 <299> < Raden Mas Kumbulkatja Djajawasita
513112/6 <300> < RM. Setyaharjo, SH ( KRT Dirjonegoro )
514113/6 <301> < 1. Nyi RAy. Hasan Munthalib
515114/6 <301> < 2. Nyi RAy. Hasan Mukmin
516115/6 <301> < 3. Nyi RAy. Muryadi
Tapak.jpeg
517116/6 <301> < 4. RM. Kyai Syuhada
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


SEJARAH SINGKAT PERGURUAN SILAT TAPAK SUCI

Di Banjarnegara, Jawa Tengah, Kiyai Haji (K.H.) Syuhada pada tahun 1872 memiliki seorang putera yang diberi nama Ibrahim. Sejak kecil ia menerima ilmu pencak dari ayahnya. Ibrahim tumbuh menjadi Pendekar yang menguasai pencak ragawi dan batin / inti tetapi sekaligus Ulama yang menguasai banyak ilmu, kemudian berganti nama menjadi K.H. Busyro Syuhada.

Pada awalnya K.H.Busyro Syuhada mempunyai 3 murid, yaitu : •Achyat ( adik misan ), yang kemudian dikenal dengan K.H. Burhan •M.Yasin ( adik kandung ), yang dikenal dengan K.H. Abu Amar Syuhada •Soedirman, yang dikemudian hari mencapai pangkat Jenderal dan pendiri Tentara Nasional Indonesia, bahkan bergelar Panglima Besar Soedirman.

Pada tahun 1921 di Yogyakarta, bertemulah K.H. Busyro Syuhada dengan kakak beradik Ahmad Dimyati dan Muhammad Wahib. Dalam kesempatan itu mereka adu ilmu pencak antara M. Wahib dan M. Burhan. Kemudian A. Dirnyati dan M. Wahib dengan pengakuan yang tulus mengangkat K.H. Busyro Syuhada sebagai guru dan mewarisi ilmu pencak dari K.H. Busyro Syuhada yang kemudian menetap di Kauman. Menelusuri jejak gurunya, Ahmad Dimyati mengembara ke barat sedang M. Wahib mengembara ketimur sampai ke Madura untuk menjalani adu kaweruh ( uji ilmu ). Pewaris ilmu banjaran, mewarisi juga sifat-sifat gurunya M. Wahib sebagaimana K.H. Busyro Syuhada, bersifat keras, tidak kenal kompromi, suka adu kaweruh. Untuk itu sangat menonjol nama M. Wahib dari pada A. Dimyati. Sedang A. Dimyati yang banyak dikatakan ilmunya lebih tangguh dari pada adiknya M. Wahib tetapi karena pendiam dan tertutup maka tidak banyak kejadian-kejadian yang dialami. Sebagaimana M. Burhan yang mempunyai sifat dan pembawaan sama dengan A. Dimyati.

K. H. Busyro Syuhada pernah menjadi guru pencak untuk kalangan bangsawan dan keluarga Kraton Yogyakarta. Salah satu diantara muridnya adalah R.M. Harimurti, seorang pangeran kraton, yang dikemudian hari beberapa muridnya mendirikan perguruan–perguruan pencak silat yang beraliran Harimurti.

Kauman, Seranoman dan Kasegu

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada memberi wewenang kepada pendekar binaannya, A. Dimyati dan M. Wahib untuk membuka perguruan dan menerima murid. Perguruan baru yang didirikan pada tahun 1925 itu diberi nama Perguruan "Kauman", yang beraliranBanjaran.

Perguruan Kauman mempunyai peraturan bahwa murid yang telah selesai menjalani pendidkan dan mampu mengembangkan ilmu pencak silat diberikan kuasa untuk menerima murid.

M. Syamsuddin yang menjadi murid kepercayaan Pendekar Besar M..Wahib diangkat sebagai pembantu utama; dan dizinkan menerima murid. Kemudian mendirikan perguruan ”Seranoman". Perguruan Kauman menetapkan menerima siswa baru, setelah siswa tadi lulus menjadi murid di Seranoman. Perguruan Seranoman melahirkan pendekar muda Moh. Zahid, yang juga lulus menjalani pendidikan di perguruan Kauman. Moh. Zahid yang menjadi murid angkatan ketiga (3) bahkan berhasil pula mengembangkan pencak silat yang berintikan kecepatan; kegesitan, dan ketajaman gerak. Tetapi murid ketiga ini pada tahun 1948, wafat pada usia yang masih sangat muda. Tidak sempat mendirikan perguruan baru tetapi berhasil melahirkan murid, Moh. Barie lrsjad.

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada berpulang ke Rahmatullah pada bulan Ramadhan 1942. Pendekar Besar KH Busyro Syuhada bahkan tidak sempat menyaksikan datangnya perwira Jepang, Makino, pada tahun 1943 yang mengadu ilmu beladirinya dengan pencak silat andalannya. Makino mengakui kekurangannya dan menyatakan menjadi murid Perguruan Kauman sekaligus menyatakan masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Omar Makino. Pada tahun 1948 Pendekar Besar KH Burhan gugur bersama dengan 20 muridnya dalam pertempuran dengan tentara Belanda di barat kota Yogyakarta. Kehilangan besar pesilatnya menjadikan perguruan Kauman untuk beberapa sa’at berhenti kegiatannya dan tidak menampakkan akan muncul lagi Pendekar. Moh. Barie lrsjad sebagai murid angkatan keenam (6) yang dinyatakan lulus dari tempaan ujian Pendekar M. Zahid, M. Syamsuddin, M. Wahib dan A. Dimyati kemudian dalam perkembangan berikutnya mendirikan perguruan "Kasegu"

Kalau perguruan-perguruan sebelumnya diberi nama sesuai dengan tempatnya. Perguruan Kasegu diberikan nama sesuai dengan senjata yang diciptakan oleh Pendekar Moh. Barie Irsjad.

Lahirnya Tapak Suci

Moh. Barie lrsjad akhirnya mengeluarkan gagasan agar semua aliran Banjaran yang sudah berkembang dan terpecah-pecah dalam berbagai perguruan, disatukan kembali ke wadah tunggal.

Pendekar Besar M. Wahib merestui berdirinya satu Perguruan yang menyatukan seluruh perguruan di Kauman. Restu diberikan dengan pengertian Perguruan nanti adalah kelanjutan dari Perguruan Kauman yang didirikan pada tahun 1925 yang berkedudukan di Kauman.

Pendekar M. Wahib mengutus 3 orang muridnya. dan M. Syamsuddin mengirim 2 orang muridnya untuk bergabung. Maka Pendekar M. Barie Irsjad bersama sembilan anak murid menyiapkan segala sesuatunya untuk mendirikan Perguruan.

Dasar-dasar perguruan Kauman yang dirancang oleh Moh. Barie lrsjad, Moh. Rustam Djundab dan Moh. Djakfal Kusuma menentukan nama Tapak Suci. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dikonsep oleh Moh Rustam Djundab. Do’a dan lkrar disusun oleh H. Djarnawi Hadikusuma. Lambang Perguruan diciptakan oleh Moh. Fahmie Ishom, lambang Anggota diciptakan oleh Suharto Suja', lambang Regu Inti "Kosegu" diciptakan Adjib Hamzah. Sedang bentuk dan warna pakaian dibuat o!eh Moh. Zundar Wiesman dan Anis Susanto. Maka pada tanggal 31 Juli 1963 lahirlah Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci
518117/6 <301> < 5. RM. Kyai Suraji
519118/6 <301> < 6. Nyi RAy. Hasby
520119/6 <301> < 7. Nyi RAy. Ishaq
521120/6 <301> < 8. RM. Kyai Abdul Manan
522121/6 <304> < Raden Mas Yusuf [Hb.3.2.7.1.1]
523122/6 <311> < Raden Ayu Taruno [Hb.3.2.18.7.1] 524123/6 <309> < Raden Mas Cokrodipuro [Hb.3.2.18.5.1]
525124/6 <309> < Raden Mas Suryodipuro [Hb.3.2.18.5.2]
526125/6 <309> < Raden Mas Harjoseputro [Hb.3.2.18.5.3]
527126/6 <309> < Raden Ayu Cokrodirono [Hb.3.2.18.5.4]
528127/6 <309> < Raden Ayu Sumosastro [Hb.3.2.18.5.5]
529128/6 <309> < Raden Ayu Kartowisastro [Hb.3.2.18.5.6]
530129/6 <305> < Raden Ayu Jayengsari [Hb.3.2.18.1.1]
531130/6 <305> < Raden Ayu Jayaningsih [Hb.3.2.18.1.2]
532131/6 <305> < Raden Mas Seloharjo [Hb.3.2.18.1.3]
533132/6 <305> < Raden Ayu Jayengsari II [Hb.3.2.18.1.4]
534133/6 <305> < Raden Mas Sumoharjo [Hb.3.2.18.1.5]
535134/6 <305> < Raden Ayu Sumodigdoyo [Hb.3.2.18.1.6]
536135/6 <305> < Raden Mas Jumadi [Hb.3.2.18.1.7]
537136/6 <310> < Raden Ayu Sukinah Sabar Martowiyoto [Hb.3.2.18.6.1]
538137/6 <310> < Raden Ayu Abdullah [Hb.3.2.18.6.2]
539138/6 <310> < Kanjeng Raden Tumenggung Joyodiningrat [Hb.3.2.18.6.3]
540139/6 <310> < Raden Ayu Kusniyah Harjoseputro [Hb.3.2.18.6.4]
541140/6 <310> < Raden Ayu Tirtoharjo Kusdi [Hb.3.2.18.6.5]
542141/6 <310> < Raden Mas Harjosunoto [Hb.3.2.18.6.6]
543142/6 <247+250!> < Kanjeng Pangeran Haryo Suryadi [Hb.6.11.9] 544143/6 <247+124> < Raden Ayu Mangunjoyo I [Hb.5.8.2] [Hb.6.11.11] (Raden Ajeng Mustinah)
545144/6 <250+247!> < Raden Lurah Suryodiprojo I [Hb.5.8.3] [Hb.6.11.13] (Raden Mas Jiwanjono)
546145/6 <247+250!> < Kanjeng Raden Tumenggung Puspodiningrat [Hb.5.8.4] [Hb.6.11.20]
547146/6 <247+250!> < Raden Ayu Mangkukusumo [Hb.5.8.5] [Gp.Hb.7.17.1] [Hb.6.11.22] (Raden Ajeng Kusdilah / Raden Ayu Mangkukusumo Sepuh) 548147/6 <247+250!> < Raden Ayu Hatmosutejo [Hb.5.8.6] [Hb.6.11.23]
549148/6 <247+250!> < Raden Ayu Sujono Tirtokusumo [Hb.5.8.7] / Raden Ajeng Kadawarwati [Hb.6.11.24] 550149/6 <247+250!> < Raden Ayu Wironegoro [Hb.5.8.8] / Raden Ajeng Sumardiyah [Hb.6.11.25]
551150/6 <247+250!> < Raden Panji Joyowiloyo [Hb.5.8.9] / Raden Mas Dekok Van Lewen [Hb.6.11.26]
552151/6 <249+260!> < Raden Mas Soecipto Hadiwijoyo [Hb.5.9.1]
553152/6 <249+260!> < Raden Mas Soengkowo Hadiwijoyo [Hb.5.9.2]
554153/6 <260+249!> < Raden Mas Dracman Sahid Hadiwijoyo [Hb.5.9.3]
555154/6 <249> < Raden Ayu Jaenab [Hb.3.2.22.1.2]
556155/6 <249> < Raden Ayu Maemunah [Hb.3.2.22.1.3]
557156/6 <249> < Raden Ayu Khatijah [Hb.3.2.22.1.4]
558157/6 <249+708!> < Raden Ayu Salamah Soetomo [Hb.3.2.22.1.5]
560158/6 <321> < Raden Mas Sosrodarmo [Hb.3.8.1.1.1]
561159/6 <322> < Raden Ayu Cokrowinoto [Hb.3.14.1.1.1] 562160/6 <325+177> < Raden Ayu Siti [Hb.3.14.3.3.3] / [Hb.6.8.2.3]
563161/6 <325+177> < Raden Ayu Dirjo [Hb.3.14.3.3.1] / [Hb.6.8.2.1]
564162/6 <325+177> < Raden Ayu Plat [Hb.3.14.3.3.2] / [Hb.6.8.2.2]
565163/6 <324> < Raden Mas Sutejo [Hb.3.14.3.2.1] / [Hb.6.8.1.1]
566164/6 <324> < Raden Mas Sutikno [Hb.3.14.3.2.2] / [Hb.6.8.1.2]
567165/6 <324> < Raden Ayu Sastro Utomo [Hb.3.14.3.2.3] / [Hb.6.8.1.3]
568166/6 <324> < Raden Mas Mujamal [Hb.3.14.3.2.4] / [Hb.6.8.1.4]
569167/6 <324> < Raden Ayu Joyo Indro [Hb.3.14.3.2.5] / Raden Ayu Martania [Hb.6.8.1.5] 570168/6 <324> < Raden Mas Suryomursand I [Hb.3.14.3.2.6] / [Hb.6.8.1.6]
571169/6 <324> < Raden Mujalal [Hb.3.14.3.2.7] / [Hb.6.8.1.7]
572170/6 <326> < Bendoro Raden Ayu Pujokusumo [Hb.3.19.2.1.1]
573171/6 <326> < Raden Suberubiah
574172/6 <326> < Kanjeng Raden Tumenggung Sasmitodipuro [Hb.3.19.2.1.3]
575173/6 <326> < Raden Ayu Sukirahayu [Hb.3.19.2.1.4]
576174/6 <326> < Raden Ayu Sukimah [Hb.3.19.2.1.5]
577175/6 <326> < Raden Sukirno [Hb.3.19.2.1.6] 578176/6 <345> < Raden Ayu Mastari [Hb.3.26.2.1.1] 579177/6 <345> < Raden Mas Subronto [Hb.3.26.2.1.2]
580178/6 <345> < Raden Ayu Masdilah [Hb.3.26.2.1.3]
581179/6 <345> < Raden Ayu Masdinah [Hb.3.26.2.1.4] 582180/6 <345> < Raden Ayu Mastuti [Hb.3.26.2.1.5]
583181/6 <345> < Raden Ayu Siti Sulastri [Hb.3.26.2.1.16]
584182/6 <351> < Raden Ayu Puspopragoto [Hb.3.27.2.1.1]
585183/6 <353> < Raden Ayu Suparti [Hb.3.28.13.2.1] 586184/6 <352> < Raden Ayu Rubiyah [Hb.3.28.13.1.1] 587185/6 <354> < Raden Ayu Siti [Hb.3.28.14.1.1]
588186/6 <354> < Raden Mas Busro [Hb.3.28.14.1.2]
589187/6 <354> < Raden Mas Abdul Majid [Hb.3.28.14.1.3]
590188/6 <354> < Raden Ayu Robingah [Hb.3.28.14.1.12]
591189/6 <357> < Raden Mas Suwignyo [Hb.3.28.14.4.1]
592190/6 <357> < Raden Ayu Siti [Hb.3.28.14.4.2]
593191/6 <357> < Raden Mas Mangkudikoro [Hb.3.28.14.4.3]
594192/6 <356> < Raden Mas Kurdi [Hb.3.28.14.3.1]
595193/6 <356> < Raden Mas Muhyidin [Hb.3.28.14.3.2]
596194/6 <356> < Raden Mas Faizun [Hb.3.28.14.3.3]
597195/6 <356> < Raden Ayu Sujinah [Hb.3.28.14.3.4]
598196/6 <356> < Raden Mas Jamroni [Hb.3.28.14.3.5]
599197/6 <319> < Kanjeng Raden Tumenggung Gondokusumo [Hb.3.4.3.5.1] 600198/6 <358> < Raden Ayu Gondokusumo [Hb.4.9.1.1] 601199/6 <368> < Raden Ayu Ilham Dirjodiningrat [Hb.4.10.2.1]
602200/6 <383+178> < Raden Mas Harjotaruno [Hb.4.13.1.1] 603201/6 <383+178> < Raden Ayu Dwijoatmojo [Hb.4.13.1.1.4]
604202/6 <383+178> < Raden Mas Sumodiono [Hb.4.13.1.1.3]
605203/6 <383+178> < Raden Ayu Ranudimejo [Hb.4.13.1.1.2]
606204/6 <241+169> < Raden Mas Suryodirjo [Hb.6.5.8]
607205/6 <241+169> < Raden Ayu Projodipuro [Hb.6.5.7] 608206/6 <241+169> < Raden Ajeng Suyatinah [Hb.6.5.6]
609207/6 <241+169> < Raden Lurah Atmosuwarno [Hb.6.5.5]
610208/6 <241+169> < Kanjeng Raden Tumenggung Purbonegoro [Hb.6.5.4] 611209/6 <241+169> < Raden Ajeng Suyadiah [Hb.6.5.3]
612210/6 <226+104> < Bendoro Raden Ayu Purbonegoro [Hb.7.21] 613211/6 <241+169> < Raden Ayu Purbokusumo [Hb.6.5.2] 614212/6 <241+169> < Kanjeng Raden Tumenggung Danuhadiningrat [Hb.6.5.1] 615213/6 <244+173> < Kanjeng Raden Tumenggung Purbokusumo [Hb.6.9.3] 618215/6 <244+171> < Raden Wedono Atmowerdoyo [Hb.6.9.1]
619216/6 <244+172> < Raden Lurah Sosrowirono [Hb.6.9.2]
620217/6 <244+173> < Raden Lurah Sosrosebrongto [Hb.6.9.5]
621218/6 <244+173> < Raden Mas Samsidi [Hb.6.9.16]
622219/6 <244+172> < Raden Ayu Gondokusumo [Hb.6.9.6]
623220/6 <244> < Raden Ayu Mangunkusumo [Hb.6.9.7]
624221/6 <244+173> < Raden Ayu Purboningrat [Hb.6.9.8]
625222/6 <244+173> < Raden Ayu Hadiningrat [Hb.6.9.9]
626223/6 <244+173> < Raden Ayu Purbohadiningrat [Hb.6.9.11]
627224/6 <244+173> < Raden Bekel Atmosudirjo [Hb.6.9.12]
628225/6 <244> < Raden Ajeng Isdiyah [Hb.6.9.13]
629226/6 <244> < Raden Lurah Atmosutejo [Hb.6.9.14]
630227/6 <244+173> < Raden Ayu Kartokusumo [Hb.6.9.15]
631228/6 <226> < Bendoro Raden Mas Subono [Hb.7.70] 632229/6 <247+126> < Raden Ajeng Manyar [Hb.6.11.2]
633230/6 <247+126> < Raden Mas Dikwanis [Hb.6.11.3] (Raden Tumenggung Prawirodirejo)
634231/6 <247+126> < Raden Mas Kiswarin [Hb.6.11.4]
635232/6 <247+126> < Raden Mas Kodrat Samadikun [Hb.6.11.5] 636233/6 <247+126> < Raden Ajeng Karsinah [Hb.6.11.6]
637234/6 <247+126> < Raden Mas Mursidi [Hb.6.11.7] (Raden Tumenggung Jogonegoro)
640236/6 <226+118> < Bendoro Raden Ayu Jatikusumo [Hb.7.78] (R. A. Soeharsi Widianti) 642238/6 <247+124> < Raden Sayid Ashar [Hb.6.11.10]
644240/6 <247+124> < Raden Tumenggung Condroprojo / Raden Mas Mursahadah [Hb.6.11.19]
645241/6 <247+134> < Raden Mas Rebuahsasi [Hb.6.11.27] (Raden Bagus Kusumohalpito)
646242/6 <247+133> < Raden Ajeng Siti Mardinah / Raden Ayu Projosastrokusumo [Hb.6.11.29]
647243/6 <247+132> < Raden Ayu Kusumodilogo / Raden Ajeng Siti Rokhiyah [Hb.6.11.30] 648244/6 <247+133> < Raden Ajeng Napsiah [Hb.6.11.31]
649245/6 <247+130> < Raden Mas Mungsowarat / Raden Bekel Kawindrokusumo [Hb.6.11.32]
652248/6 <247+127> < Raden Ajeng Sudarmi [Hb.6.11.16]
653249/6 <247+132> < Raden Mas Arwah [Hb.6.11.28]
654250/6 <243+149> < Raden Ajeng Sapariyam [Hb.6.18.1]
655251/6 <243+158> < Raden Ajeng Saparinten [Hb.6.18.2]
656252/6 <243+158> < Raden Mas Suraji [Hb.6.18.6]
657253/6 <243+150> < Raden Ayu Sapariah [Hb.6.18.5]
658254/6 <243+158> < Raden Mas Sukarjo [Hb.6.18.7]
659255/6 <243+156> < Raden Mas Suharji [Hb.6.18.43]
660256/6 <243+160> < Raden Ajeng Atas Jinah [Hb.6.18.42]
661257/6 <243+160> < Raden Mas Sudibyo [Hb.6.18.41]
662258/6 <243+160> < Raden Ajeng Atas Diah [Hb.6.18.38]
663259/6 <243+157> < Raden Mas Suhaji [Hb.6.18.40]
664260/6 <243+160> < Raden Mas Sumintratmojo [Hb.6.18.37]
665261/6 <243+160> < Raden Mas Sudarmo [Hb.6.18.36]
666262/6 <243+159> < Raden Mas Sumadi [Hb.6.18.8] (Raden Mas Tirto Sudirjo)
667263/6 <243+159> < Raden Ajeng Supardinah [Hb.6.18.10]
668264/6 <243+157> < Raden Mas Sudibyo [Hb.6.18.39]
669265/6 <243+158> < Raden Ajeng Atas Tinah [Hb.6.18.11]
670266/6 <243+157> < Raden Ajeng Atas Tilah [Hb.6.18.18]
671267/6 <243+158> < Raden Mas Subarjo [Hb.6.18.12]
672268/6 <243+158> < Raden Mas Suparjo [Hb.6.18.30]
673269/6 <243+150> < Raden Ajeng Atasilah [Hb.6.18.9] 674270/6 <243+150> < Raden Ajeng Saparinah [Hb.6.18.26]
675271/6 <243+150> < Raden Mas Sumitro [Hb.6.18.27]
676272/6 <243+157> < Raden Mas Sudarsono [Hb.6.18.13]
677273/6 <243+154> < Raden Mas Sumarman [Hb.6.18.15] (Kanjeng Pangeran Haryo Tirtodiningrat) 678274/6 <243+154> < Raden Mas Sumantri [Hb.6.18.16]
679275/6 <243+157> < Raden Mas Sutoatmojo [Hb.6.18.14]
680276/6 <243+154> < Raden Ajeng Atas Tijah [Hb.6.18.17]
681277/6 <243+156> < Raden Mas Sudiyono [Hb.6.18.19]
682278/6 <243+155> < Raden Mas Suharjo [Hb.6.18.20] 683279/6 <243+156> < Raden Mas Suhardi [Hb.6.18.21]
684280/6 <243+156> < Raden Mas Sujoko [Hb.6.18.22]
685281/6 <243+152> < Raden Mas Sumarjo [Hb.6.18.23]
686282/6 <243+148> < Raden Mas Sumaryono [Hb.6.18.24]
687283/6 <243+151> < Raden Ajeng Marinah [Hb.6.18.28]
688284/6 <243+148> < Raden Mas Suprapto [Hb.6.18.25]
689285/6 <243+162> < Raden Mas Kasan (Twins/Kembar) [Hb.6.18.33]
690286/6 <243+151> < Raden Ajeng Suwarti [Hb.6.18.29]
691287/6 <243+162> < Raden Mas Kusen (Twins/Kembar) [Hb.6.18.34]
692288/6 <243+161> < Raden Ajeng Suparjiah [Hb.6.18.35]
693289/6 <243+151> < Raden Mas Sudiro [Hb.6.18.31]
694290/6 <243+162> < Raden Mas Jonobiraji [Hb.6.18.32]
695291/6 <243+154> < Raden Ajeng Atas Pinah [Hb.6.18.44]
696292/6 <243+153> < Raden Ajeng Atas Jinah [Hb.6.18.45]
697293/6 <243+148> < Raden Ajeng Atas Warin [Hb.6.18.4]
703297/6 <242+170> < Raden Ayu Yudodiningrat [Hb.6.23.1]
704298/6 <242+170> < Raden Ayu Salsiah Padmosudirjo [Hb.6.23.2] 705299/6 <242+170> < Raden Ayu Kusdinah Danuseputro [Hb.6.23.4]
706300/6 <242> < Raden Wedono Puspodirjo [Hb.6.23.3] (Kanjeng Raden Tumenggung Padmodiningrat)
707301/6 <226> < Bendoro Raden Ayu Mangunkusumo [Hb.7.71] 708302/6 <226+105> < Bendoro Raden Ajeng Kusjinah [Hb.7.2] / Raden Ayu Kanjeng Gusti 709303/6 <226+105> < Bendoro Raden Ayu Gusti Timur [Hb.7.3] (Gusti Raden Ayu Pembayun) 711305/6 <226+106> < Bendoro Raden Ajeng Partilah [Hb.7.6]
713307/6 <226+106> < Gusti Bendoro Raden Ayu Sosronegoro [Hb.7.11] 714308/6 <226+103+106> < Gusti Kanjeng Ratu Bendoro III [Hb.7.51] 715309/6 <226+111> < Bendoro Raden Ajeng Murlintangpajar [Hb.7.50]
716310/6 <226+110> < Gusti Bendoro Raden Ayu Brongtodiningrat I [Hb.7.47] 717311/6 <226+112> < Gusti Bendoro Raden Ayu Joyodipuro [Hb.7.46] 718312/6 <226+111> < Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryobrongto [Hb.7.45]
719313/6 <226+103> < Gusti Raden Ajeng Mursamsilah [Hb.7.44]
720314/6 <226+101> < Gusti Kanjeng Ratu Bendoro II [Hb.7.43] 722316/6 <226+101> < Gusti Kanjeng Ratu Hanom [Hb.7.40] 723317/6 <226+102> < Bendoro Raden Ayu Condroprojo [Hb.7.39] (Gusti Bendoro Raden Ayu Wiryokusumo) 724318/6 <226+117> < Bendoro Radem Mas Samsuyobali [Hb.7.77]
725319/6 <226+475!> < Bendoro Raden Mas Sumaulngirki [Hb.7.73]
726320/6 <226+111> < Bendoro Raden Mas Pujiarjo [Hb.7.57]
727321/6 <226+119> < Bendoro Raden Mas Prawoto [Hb.7.63]
729323/6 <226+120> < Bendoro Raden Ajeng Murharidah [Hb.7.67]
730324/6 <226+475!> < Gusti Bendoro Pangeran Haryo Joyokusumo II [Hb.7.59]
perkawinan: <277> < Raden Ajeng Suryadiya , Yogyakarta
731325/6 <226+103> < Gusti Raden Mas Suhardi [Hb.7.35]
732326/6 <226+103> < Gusti Pangeran Haryo Notoprojo [Hb.7.31] 733327/6 <226+109> < Bendoro Raden Mas Timur [Hb.7.25]
735329/6 <226+101> < Gusti Raden Ajeng Murhadiyah [Hb.7.28]
736330/6 <226+101> < Gusti Raden Mas Sukirno [Hb.7.29]
740334/6 <226+109> < Gusti Kanjeng Ratu Hangger II [Hb.7.33]
perkawinan: <285> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumoyudo [Pb.10.5] (Bendoro Raden Mas Abimanyu) b. 17 Januari 1884 d. 16 Januari 1956, <286> < R. A. Setiopoespito b. 1894? d. 16 Mei 1985
742336/6 <226+102> < Gusti Bendoro Raden Ayu Yudonegoro II [Hb.7.19] (Bendoro Raden Ayu Cokdrodiningrat) 745339/6 <226+120> < Gusti Bendoro Raden Ayu Suryonegoro [Hb.7.76] 746340/6 <245> < Kanjeng Raden Tumenggung Suryonegoro [Hb.6.22.2] 747341/6 <226> < Gusti Bendoro Raden Ayu Brongtodiningrat II [Hb.7.74] 755349/6 <246+239!> < Raden Ayu Hadinegoro [Gp.Hb.7.13.1] [Hb.6.13.7] 756350/6 <402> < Muhammad Ilyas
757351/6 <291> < 1. Raden Mas Idris
758352/6 <291> < 2. Raden Mas Machmud
759353/6 <291> < 3. Raden Mas Abdul Gani
760354/6 <291> < 4. Raden Ayu Djuna (Ambon)
761355/6 <293> < 1. RM. Djafar
762356/6 <404> < R. A. Mutmainah 763357/6 <343> < Raden Mas Somodimejo
764358/6 <230> < R. A. Drijopoero 766359/6 <406+179> < Raden Ayu Mangunsukarjo 767360/6 <407+408!> < Raden Ayu Djoyosedarso
768361/6 <408+407!> < Raden Mas Prawiro Kardeni
769362/6 <408+407!> < Raden Ayu Nitidimedjo
770363/6 <407+408!> < Raden Ayu Prawirokartohardjo
771364/6 <407+408!> < Raden Ayu Brodjodilogo
772365/6 <407+408!> < Raden Mas Sosrowidagdo
773366/6 <407+408!> < Raden Mas Mangunpawiro
dimakamkan di Tamansari
774367/6 <408+407!> < Raden Mas Pringgowidigdo
775368/6 <244+173> < Bendara Raden Ayu Koeshartati

7

7841/7 <410> < Tatik
lahir: Yogyakarta
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
Bobby menot.jpg
7882/7 <411+219> < Raden Mas Bobby Alexander Menot [Hb.6.17.5.2] (Bob)
lahir: Ranomuut, Manado
perkawinan: <300> < Etty Hansen
wafat: Brisbane, Australia
Tante wiez.png
7913/7 <411+219> < Raden Ayu Francina Louise Menot [Hb.6.17.5.5] (Wisa)
lahir: Ranomuut, Manado
perkawinan:
perkawinan: <301> < Eduard Kapel
wafat: Netherlands
Tente Zus.jpg
7924/7 <411+219> < Raden Ayu Marie Charlotte Menot [Hb.6.17.5.4] Menot (Zus)
lahir: Ronumuut, Manado
perkawinan: <302> < Olaf Nielsen
wafat: Denmark
8145/7 <433+?> < 5. RM. Yacub
lahir: Loji
8246/7 <431> < 3. RM. H. Ardimenggolo
gelar: Camat Tjiawi
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Sebagai Tjamat Tjiawi, pada saat kerusuhan Ciomas lihat : "Land Tjiomas", hal 61
Ismil-3.jpeg
17097/7 <485> < 2. Raden Mas Ismail
penguburan: Bergota, Semarang
RMH. Moch Rana Manggala
8088/7 <430+181> < 1. RM. H. Moch. Rana Menggala (Cucu RM. Ngabehi Dipomenggolo)
lahir: 1866c, Empang, Kota Bogor
pekerjaan: 1916 - 1938, PENGHULU TJIAWI - BUITENZORG
wafat: 1938
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Silsilah Keturunan RMH. Moch Rana Manggala (Sumber: WA. R. UKE SUKMAWATI KARIM)

RANA1.jpg |

RANA2.jpg
8269/7 <432+?> < 1. Raden Mas H. Ibrahim \ Abdul Rochman Wiradimenggolo \ Raden Mas Wiradinegara
lahir: 1868c, Pasirkuda
wafat: 1917
Capek.jpeg
80910/7 <430+181> < 2. RM. H Abdul Ghani / Rm.h. Sarhun / Lurah Ihun
lahir: 1869c, Empang, Kota Bogor
perkawinan:
pekerjaan: 1906 ? 1923, LURAH LEBAK PASAR-BUITENZORG
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

orng:

Orang:629893|R.H. YASIN Orang:629895|R.H. ALI Orang:629896|R.H. ABDUL MANAN (Adung) Orang:629897|R.Hj. SUPIAH (Siti) Orang:629898|R.Hj. ENCUNG] Orang:629916|R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata) Orang:629917|R.MASDIR KURNAEN (Aeng) Orang:629918|R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF Orang:629920|R.MASDIR SUMANTRI (Ati) Orang:629934|R.MASDIR EMAN SULAEMAN

Abdul GHANI-2 : 1179717
Capek.jpeg
81511/7 <430+181> < 3. RM. H. Muhammad Hasyir
lahir: 1872c, Empang-Bogor
Capek.jpeg
81612/7 <430+181> < 4. RM. H. Harisun
lahir: 1875c, Empang-Bogor
82713/7 <432+?> < 2. Nyi RAy. Asmaya (Maya)
lahir: 1879c, Pasirkuda
88814/7 <444+222> < Raden Ajeng Kartini ? (Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat)
lahir: 21 April 1879, Jepara
perkawinan: <303> < Kanjeng Raden Mas Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
NMR: 12 November 1903
wafat: 17 September 1904, Rembang Regency
82815/7 <432+?> < 3. Nyi RAy. Enting Aisyah
lahir: 1880c, Pasirkuda
174716/7 <430+?> < 5. RAy. Titi Wasiah
lahir: 1880, Gg. Wahir-Empang
82917/7 <432+?> < 4. Nyi RAy. Siti Patimah / NR. Empok Patimah
lahir: 1881c, Pasirkuda
83018/7 <432+?> < 5. Nyi RAy. Antamirah
lahir: 1882c, Pasirkuda
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
83119/7 <432+?> < 6. RA. M. Suradhiningrat (Tjandraningrat)
lahir: 1882c, Pasirkuda
pekerjaan: 6 Mei 1916 - 29 Agustus 1925, Zelfstandig Patih Buitenzorg
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

RA. M. Suradhiningrat (Tjandraningrat) adalah putra RTA Suradimanggala (Bupati Bogor Tahun 1876-1884). Beliau juga Generasi ke 4 dari Pangeran Diponegoro melalui Ibunya RAy Gondomirah binti RM. Haryo Dipomenggolo bin RM. Djonet Dipomenggolo bin Pangeran Diponegoro.

Afdeeling Buitenzorg

Assistent-resident: K. Kool (4 Nov. 1924)
Commies, tevens buitengewoon ambtenaaar van den burgerlijken stand: J. Loen (11 Maart 1919), eerste; P.O. Panhuyzen (24 Aug. 1923), eerste; H.C. Barkmeijer (29 April 1922), eerste
Ondercommissaris van politie: C.J. Martens
Politieopzieners der 1e klasse: J. Trilk; G.J. Peeters (Tjibaroesa)
Patih: Raden Aria Mohamad Soeradhiningrat (6 Mei 1916)
Wedana van het district:
Buitenzorg: Raden Koesoemadinata (6 Juni 1924)
Tjiawi: Mas Joedo Atmodjo (26 Aug. 1921)
Paroeng: Mas Aliredja (29 Jan. 1923)
Leuwiliang: Raden Adikoesoemah (23 Juni 1921)
Djasinga: Mas Martodimedjo (1 Nov. 1920)
Tjibinong: Mas Soeminta Atmadja (8 Oct. 1923)
Tjibaroesa: Raden Soeriakoesoemo (1 Maart 1921)
Kapitein der Chineezen: Tan Hong Yoe (13 Aug. 1919)
Luitenant der Chineezen: Tan Hong Tay (8 April 1913) (v.)
Luitenant der Arabieren: Sech Achmad bin Said Badjenet (13 Oct. 1921)
174820/7 <430+?> < 6. RM. Ahmad (Natsir)
lahir: 1882
83221/7 <432+?> < 7. RM. Yahya Gondoningrat
lahir: 1883c, Pasirkuda
DIPUTUS SEMENTARA : RATNA KENCANA 635110
83322/7 <432+?> < 8. RM. Indris Tirtodiredjo
lahir: 1884c, Pasirkuda
Capek2.jpeg
83423/7 <432+?> < 9. Nyi RAy. Rajamirah \ RAy Mirah
lahir: 1885c
wafat: Pasirkuda
SOETARTINAH-2.JPEG
175124/7 <762+296> < R. A. Soetartinah
lahir: 14 September 1890
perkawinan: <304> < Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) b. 2 Mei 1889 d. 26 April 1959
175925/7 <762+296> < Raden Mas Johannes Soedarto Sosroningrat
lahir: 25 Desember 1895, Yogyakarta
perkawinan: <305> < Raden Ajeng Siti Pailah b. 17 Juli 1902
176026/7 <762+296> < R. A. Maria Soelastri Sosroningrat
lahir: 22 April 1898, Yogyakarta
perkawinan: <306> < Raden Mas Jacobus Soejadi Darmosapoetro
wafat: 18 September 1975, Semarang
penguburan: Kompleks Gua Maria Kerep, Ambarawa, Semarang
Sedari kanak-kanak hingga remaja, Maria Soelastri begitu tertarik mempelajari budaya bangsa lain, termasuk diantaranya budaya barat, untuk menjawab rasa ingin tahu beliau kenapa tanah air Indonesia dikuasai bangsa barat. Sebaliknya, ayahanda beliau, Pangeran Sasraningrat, sangat menaruh minat pada Kesusasteraan Jawa Kuno dengan pergolakan-pergolakan dan perubahan jamannya. Kegiatan beliau dalam bidang jurnalistik membawa beliau berkenalan dengan tamu-tamu dari luar daerah, juga dari Batavia. Salah satunya adalah Dr. Hazeu, penasehat urusan pemerintahan jajahan, yang membawa serta seorang anggota Misi Gereja Katolik untuk Jawa Tengah yaitu Romo van Lith. Romo van Lith yang kemudian sering berkunjung untuk mempelajari Sastra Jawa, adat istiadat dan kebudayaan Jawa.

Th. 1906 dengan rekomendasi Romo van Lith dan disetujui ibunda B.R.A. Sasraningrat masuklah Ibu Maria Soelastri ke Europeese Meisjesschool dari Ordo Suster Fransiskanes Kidul Loji Mataram, Yogyakarta.

Dari sejarah keluarga Maria Soelastri ini, dan dari lingkungan dan komunitas keluarga yang banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh pendidikan pada masa itu, tentu menjadi mudahlah bagi kita untuk dapat memahami sifat dan sikap nasionalisme Maria Soelastri yang kental, amat peduli pada rakyat kecil dan berpikiran maju. Perasaannya yang halus dan mudah tersentuh pada penderitaan kaum lemah begitu kuat, yang kemudian mendorong untuk melakukan suatu tindakan nyata bagi orang-orang di sekitarnya. Secara khusus perhatiannya tercurah pada buruh perempuan di pabrik cerutu Negresco dan pabrik gula di Yogyakarta dan usaha untuk mencarikan jalan keluar bagi kesejahteraan dan masa depan mereka. Dari kaum buruh inilah usaha peningkatan derajat dan martabat wanita pada umumnya dan wanita katolik pada khususnya dimulai.

Saat awal didirikannya Poesara Wanita Katholiek – kelak menjadi Wanita Katolik RI – bersama teman-temannya pada tanggal 26 Juni 1924, yang terpilih sebagai ketua pertamanya adalah adik Maria Soelastri, yaitu R.A. Catharina Soekirin Sasraningrat karena R.A. Maria Soelastri bertempat tinggal di Magelang. Terlihat betapa Maria Soelastri ini amat ‘sepi ing pamrih’ (tak punya pamrih atau ambisi pribadi), namun sepak terjangnya dalam membela kaum buruh dan kegigihannya itu membuatnya mendapat julukan ‘singa betina’ yang amat disegani.

Th. 1914 Ibu R.Ay. Maria Soelastri Sasraningrat dipersunting oleh Dokter Hewan R.M. Jacobus Soejadi Darmosapoetro, yang meskipun seorang pegawai negeri dalam pemerintahan tetapi berideologi politik melawan Politik Kapitalis Kolonial.

Ketika Wanita Katolik RI merayakan ulangtahunnya yang ke-50 di tahun 1974, Maria Soelastri menuliskan sebagian dari pengalaman perjuangannya, dengan antara lain menulis :

Sebagai langkah perjuangan yang pertama Ibu (Maria Soelastri – red) menemui pengusaha-pengusaha Belanda dari Pabrik Cerutu dan Pabrik Gula di Yogyakarta yang kedua-duanya juga beragama katolik. Buruh kedua pabrik ini sebagian besar terdiri dari buruh wanita. Pertemuan berlangsung dalam suasana damai. Pembicaraan diadakan dari hati ke hati dengan berpedoman pada Ensiklik-ensiklik Gereja Katolik, antara lain Rerum Novarum dari Bapak Leo ke XIII di Roma dan Quadragesimo Anno dari Paus Pius XI. Sebagai hasil pembicaraan, dengan segera dibentuklah peraturan-peraturan di kedua belah pabrik tersebut untuk perbaikan nasib para buruhnya pada umumnya dan buruh wanita pada khususnya. Langkah berikutnya dari Organisasi Wanita Katolik meliputi kerja sama dengan Usahawan-usahawan Katolik Belanda untuk mengadakan segala macam perbaikan nasib para buruh. … (Maria Soejadi Darmosaputro Sasraningrat, 24-6-1974) – oleh Iswanti, Kodrat yang Bergerak

Kini buah pikiran dan gagasan ibu R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat telah semakin dikembangkan dan diwujud-nyatakan secara meluas. Dari gagasan yang muncul dari seorang perempuan ningrat yang peduli pada kaumnya, dari sebuah tempat ikrar di Kidul Loji, Yogyakarta, kini telah meluas ke seluruh nusantara. Dan gagasan itu semakin dikembangkan oleh srikandi-srikandi masa kini yang mengambil tongkat estafet dari para pendahulunya, namun sampai sekarang gagasan inti tetap tak lekang oleh waktu, tertuang dalam visi misi organisasi Wanita Katolik RI : demi tercapainya kesejahteraan bersama serta tegaknya harkat dan martabat manusia, dengan dilandasi nilai-nilai Injil dan Ajaran Sosial Gereja.

R.A. Maria Soelastri wafat di Semarang tanggal 8 September 1975 dan dimakamkan di Kompleks Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA).
88027/7 <444> < Pangeran Adipati Ario Sosro Boesono / Pangeran Adipati Ario Sosrobusono
pekerjaan: 1905 - 1943, Ngawi, Bupati Ngawi
Bupati Ngawi
89628/7 <419> < Bendoro Raden Ayu Pintokopurnomo [Ga.Hb.9.1] [Hb.6.11.18.1] (Kanjeng Ratu Ayu Pintokopurnomo)
lahir: 22 November 1910
perkawinan: <777!> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono IX [Hb.8.16] (Gusti Raden Mas Dorodjatun) b. 12 April 1912 d. 1 Oktober 1988, Yogyakarta
85229/7 <409+203> < w Bendoro Raden Mas Tinggartala/Tingharto [Hb.8.14] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabuningrat)
lahir: 8 Juni 1911, Yogyakarta
pekerjaan: Universitas Islam Indonesia, Rektor
wafat: 31 Agustus 1982, Yogyakarta
Hb-ix.jpg
77730/7 <409+424!> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono IX [Hb.8.16] (Gusti Raden Mas Dorodjatun)
lahir: 12 April 1912, Ngasem (Kediri), Indonesia
perkawinan: <307> < Kanjeng Ratu Ayu Ciptomurti [Ga.Hb.9.4] [Hb.7.74.2] d. 30 Maret 1980
gelar: 1915, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putera Narendra ing Mataram
perkawinan: <896!> < Bendoro Raden Ayu Pintokopurnomo [Ga.Hb.9.1] [Hb.6.11.18.1] (Kanjeng Ratu Ayu Pintokopurnomo) b. 22 November 1910, Yogyakarta
gelar: 18 Maret 1940 - 1 Oktober 1988, Yogyakarta, Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat
perkawinan: <308> < Bendoro Raden Ayu Widyaningrum [Ga.Hb.9.2] ? (Kanjeng Ratu Ayu Widyaningrum / Raden Ayu Siti Kustina, Purwowinoto) b. 1928
pekerjaan: 17 Agustus 1945 - 1 Oktober 1988, Yogyakarta, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
perkawinan: <2004!> < Kanjeng Ratu Ayu Hastungkoro [Ga.Hb.9.3] [Hb.7.13.18.2] (Bendoro Raden Ajeng Kusyadinah) , Yogyakarta
pekerjaan: 4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949, Jakarta, Menteri Pertahanan Indonesia ke-5
pekerjaan: 6 September 1950 - 27 April 1951, Jakarta, Wakil Perdana Menteri Indonesia ke-5
pekerjaan: 3 April 1952 - 30 Juli 1953, Jakarta, Menteri Pertahanan Indonesia ke-5
pekerjaan: 25 Juli 1966 - 24 Maret 1973, Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia ke-1
pekerjaan: 24 Maret 1973 - 23 Maret 1978, Jakarta, Wakil Presiden Indonesia ke-2
perkawinan: <309> < Kanjeng Ratu Ayu Nindyakirono [Ga.Hb.9.5] ? (Nurma Musa) b. 3 Desember 1930 d. 3 September 2015
wafat: 1 Oktober 1988, Washington, DC, USA
penguburan: 8 Oktober 1988, Imogiri
gelar: 8 Juni 2003, Jakarta, Mendapatkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia
Sri Sultan Hamengkubuwana IX (Bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwono IX), lahir di Sompilan Ngasem, Yogyakarta, Indonesia, 12 April 1912 – meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun. Ia adalah salah seorang Sultan yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta (1940-1988) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973-1978. Ia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Biografi Lahir di Yogyakarta dengan nama G.R.M. Dorojatun pada 12 April 1912, Hamengkubuwana IX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Di umur 4 tahun Hamengkubuwana IX tinggal pisah dari keluarganya. Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau berkuliah di Rijkuniversiteit (sekarang Universiteit Leiden), Belanda ("Sultan Henkie").

Hamengkubuwana IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar "Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga". Ia merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat "Istimewa".

[1] Sebelum dinobatkan, Sultan yang berusia 28 tahun bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adams mengenai otonomi Yogyakarta. Di masa Jepang, Sultan melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan bersama Pakualam adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I.

Peran dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 [2] Peranan Sultan Hamengkubuwana IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh TNI masih tidak singkron dengan versi Soeharto. Menurut Sultan, beliaulah yang melihat semangat juang rakyat melemah dan menganjurkan serangan umum. Sedangkan menurut Pak Harto, beliau baru bertemu Sultan malah setelah penyerahan kedaulatan. Sultan menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak mendapat gaji semenjak Agresi Militer ke-2.

Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.

Beliau ikut menghadiri perayaan 50 tahun kekuasaan Ratu Wilhelmina di Amsterdam, Belanda pada tahun 1938

Minggu malam 2 Oktober 1988, ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia.

Sultan Hamengku Buwana IX tercatat sebagai Gubernur terlama yang menjabat di Indonesia antara 1945-1988 dan Raja Kesultanan Yogyakarta terlama antara 1940-1988.

Silsilah

Mata uang Indonesia yang bergambar Hamengkubuwana IXAnak kesembilan dari Sultan Hamengkubuwono VIII dan istri kelimanya RA Kustilah/KRA Adipati Anum Amangku Negara/Kanjeng Alit. Memiliki lima istri: 1.BRA Pintakapurnama/KRA Pintakapurnama tahun 1940 2.RA Siti Kustina/BRA Windyaningrum/KRA Widyaningrum/RAy Adipati Anum, putri Pangeran Mangkubumi, tahun 1943 3.Raden Gledegan Ranasaputra/KRA Astungkara, putri Raden Lurah Ranasaputra dan Sujira Sutiyati Ymi Salatun, tahun 1948 4.KRA Ciptamurti 5.Norma Musa/KRA Nindakirana, putri Handaru Widarna tahun 1976

Memiliki lima belas putra: 1.BRM Arjuna Darpita/KGPH Mangkubumi/KGPAA Mangkubumi/Sri Sultan Hamengkubuwono X dari KRA Widyaningrum 2.BRM Murtyanta/GBPH Adi Kusuma/KGPH Adi Kusuma dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan Dr. Sri Hardani 3.BRM Ibnu Prastawa/GBPH Adi Winata dari KRA Widyaningrum, menikah dengan Aryuni Utari 4.BRM Kaswara/GBPH Adi Surya dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan Andinidevi 5.BRM Arumanta/GBPH Prabu Kusuma dari KRA Astungkara, menikah dengan Kuswarini 6.BRM Sumyandana/GBPH Jaya Kusuma dari KRA Windyaningrum 7.BRM Kuslardiyanta dari KRA Astungkara, menikah dengan Jeng Yeni 8.BRM Anindita/GBPH Paku Ningrat dari KRA Ciptamurti, menikah dengan Nurita Afridiani 9.BRM Sulaksamana/GBPH Yudha Ningrat dari KRA Astungkara, menikah dengan Raden Roro Endang Hermaningrum 10.BRM Abirama/GBPH Chandra Ningrat dari KRA Astungkara, menikah dengan Hery Iswanti 11.BRM Prasasta/GBPH Chakradiningrat dari KRA Ciptamurti, menikah dengan Lakhsmi Indra Suharjana 12.BRM Arianta dari KRA Ciptamurti, menikah dengan Farida Indah. 13.BRM Sarsana dari KRA Ciptamurti 14.BRM Harkamaya dari KRA Ciptamurti 15.BRM Svatindra dari KRA Ciptamurti

Memiliki tujuh putri: 1.BRA Gusti Sri Murhanjati/GKR Anum dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan Kolonel Budi Permana/KPH Adibrata yang menjadi Gubernur Sulawesi Selatan 2.BRA Sri Murdiyatun/GBRAy Murda Kusuma dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan KRT Murda Kusuma 3.BRA Dr Sri Kuswarjanti/GBRAy Dr. Riya Kusuma dari KRA Widyaningrum, menikah dengan KRT Riya Kusuma 4.BRA Dr Sri Muryati/GBRAy Dr. Dharma Kusuma dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan KRT Dharma Kusuma 5.BRA Kuslardiyanta dari KRA Ciptomurti 6.BRA Sri Kusandanari dari KRA Astungkara 7.BRA Sri Kusuladewi/BRAy Padma Kusuma dari KRA Astungkara, menikah dengan KRT Padma Kusuma

Pendidikan Taman kanak-kanak atau Frobel School asuhan Juffrouw Willer di Bintaran Kidul Eerste Europese Lagere School (1925) Hogere Burger School (HBS, setingkat SMP dan SMU) di Semarang dan Bandung (1931) Rijkuniversiteit Leiden, jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia) kemudian ekonomi

Jabatan

Sultan Hamengkubuwana IX dalam masa Revolusi Nasional Indonesia sekitar akhir 1940-an.Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945) Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947) Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947 - 11 November 1947 dan 11 November 1947 - 28 Januari 1948) Menteri Negara pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949) Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949) Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 - 6 September 1950) Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 - 27 April 1951) Ketua Dewan Kurator Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1951) Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (1956) Ketua Sidang ke 4 ECAFE (Economic Commision for Asia and the Far East) dan Ketua Pertemuan Regional ke 11 Panitia Konsultatif Colombo Plan (1957) Ketua Federasi ASEAN Games (1958) Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5 Juli 1959) Ketua Delegasi Indonesia dalam pertemuan PBB tentang Perjalanan dan Pariwisata (1963) Menteri Koordinator Pembangunan (21 Februari 1966) Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 (Maret 1966) Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1968) Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia/KONI (1968) Ketua Delegasi Indonesia di Konferensi Pasific Area Travel Association (PATA) di California, Amerika Serikat (1968) Wakil Presiden Indonesia (25 Maret 1973 - 23 Maret 1978)

Pahlawan Nasional

Hamengkubuwana IX diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia tanggal 8 Juni 2003 oleh presiden Megawati Soekarnoputri
79331/7 <409+202> < Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryobrongto [Hb.8.23] (Bendoro Raden Mas Alposuatlamin)
lahir: 11 November 1914, Yogyakarta
perkawinan: <789!> < Raden Ayu Anjaswati [Hb.6.17.3.3] (Raden Ayu Suryobrongto)
wafat: 13 Januari 1985
G.B.P.H. Suryobrongto. Putra Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, lahir tanggal 11 Nopember 1914 dan menamatkan pendidikan AMS jurusan Sastra Timur tahun 1936. Beliau belajar menari sejak kecil dan terus mendalami tari hingga dewasa. Dalam pagelaran-pagelaran wayang wong di Kraton beliau pernah berperan sebagai Pathut Guritno, Bathara Bromo, dan R. Gathotkoco, dalam Beksan Lawung bertindak sebagai lurah.

Secara khusus beliau berguru tari kepada G.P.H Tedjokusumo, K.R.T Condrodiningrat, RM. Dutodiprojo, K.R.T. Padmodiningrat, R.W. Hatmodijoyo dan KPH Brongtodiningrat. Beliau pernah menjabat sebagai sekretaris pribadi Sri Sultan Hamengku Buwana IX, aktif ikut serta mengembangkan tari klasik gaya Yogyakarta. Pada Tahun 1933-1944 menjadi guru tari klasik di Krida Beksa Wirama, menjadi guru tari di Kraton Yogyakarta ( 1944-1945) dan menjadi guru tari di Among Beksa Kraton Yogyakarta dan pernah mengajar Akademi Tari Indonesia Yogyakarta ( 1967-1969).

Suryobrongto secara khusus juga menekuni filsafat Joged Mataram. Karya-karya tulis di bidang tari antara lain : Tari Klasik Gaya Yogyakarta, Kaidah Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Selain memberi ceramah-ceramah mengenai tari klasik, ikut mengembangkan dan membuat ragam tari golek menak. Beliau ikut serta melawat ke luar negeri sebagai Art Director dari tim kesenian Siswo Among Bekso antara lain ke Eropa Barat ( 1971), Hongkong dan Jepang (1973) dan ikut serta menangani perlawatan rutin Siswo Among Bekso berpentas di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Dalam Pergelaran Langen Bekso Gagrag Ngayogyakarta tahun 1981, GBPH Suryobrongto bertindak selaku penasehat tari.
Djatikusumo.jpg
80032/7 <474+217> < Kanjeng Pangeran Haryo Djatikusumo [Pb.10.23] (Bendoro Kanjeng Pangeran Haryo Purbonegoro)
lahir: 1 Juli 1917, Solo
perkawinan: <640!> < Bendoro Raden Ayu Jatikusumo [Hb.7.78] (R. A. Soeharsi Widianti) , Yogyakarta
lahir: 1 Juni 1946 - 1 Maret 1948, Rembang, Panglima Divisi V Ronggolawe
pekerjaan: 1948 - 1949, Jakarta, Kepala Staf TNI Angkatan Darat I
pekerjaan: 1958 - 1960, Singapura, Duta Besar RI untuk Singapura
pekerjaan: 1959 - 1960, Jakarta, Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja I
pekerjaan: 1960 - 1962, Jakarta, Menteri Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja II
pekerjaan: 1962 - 1963, Jakarta, Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja III
wafat: 4 Juli 1992
Kustihadi.jpg
79633/7 <416+?> < Raden Ayu Kustihadi [Hb.6.17.2.3]
lahir: 19 Januari 1919, Yogyakarta
perkawinan: <310> < Ki Hadisukatno / Ki Sukatno b. 26 Mei 1915 d. 12 November 1983, Yogyakarta, Bertempat di Ndalem Tejokusuman
wafat: 1 Oktober 1974, Yogyakarta, Dimakamkan di Taman Widyabrata, Yogyakarta
176334/7 <474+217> < G. K. R. Pembajoen
lahir: 25 Maret 1919
perkawinan: <311> < R. A. A. M. Sis Tjakraningrat d. 24 September 1992
perkawinan: <312> < R. A. A. Muhammad Roeslan Tjakraningrat , <313> < R. A. Hatimah
wafat: 10 Juli 1988, Ciputat, Tangerang Selatan
penguburan: Imogiri, Bantul
121935/7 <629> < Raden Ayu Surtiadiwati Suryomataram [Hb.6.9.14.1]
Gusti nurul.jpg
174936/7 <641+262> < Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani / Gusti Noeroel
lahir: 17 September 1921, Surakarta
perkawinan: <314> < Raden Mas Soerjosoejarso
wafat: 10 November 2015, Bandung
Gusti Noeroel terkenal memiliki paras yang cantik. Karena kecantikannya, pada saat itu Gusti Noeroel menjadi primadona di Kota Solo dan didambakan para tokoh negara. Mulai dari mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang biasa mengirimkan kado melalui sekretarisnya ke kediaman Gusti Noeroel di Pura Mangkunegaran ketika rapat kabinet digelar di Yogyakarta. Gusti Noeroel juga didambakan oleh Kolonel GPH Djatikusumo, salah seorang prajurit militer. Yang menarik adalah mantan Presiden Soekarno yang juga tertarik dengan Gusti Noeroel namun konon kalah bersaing dengan Sutan Sjahrir.[3] Tokoh negara lainnya yang mencoba meminang Gusti Noeroel adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memiliki 9 orang selir. Namun semua tokoh tersebut tidak ada satupun yang berhasil memikat hati Gusti Noeroel. Putri bangsawan ini memutuskan untuk menerima pinangan seorang militer berpangkat letnan kolonel yang bernama RM Soerjo Soejarso.

Kecantikan Gusti Noeroel yang termasyhur ini juga dibarengi dengan kepiawaiannya menari. Suatu kali, di usianya yang masih 15 tahun, Gusti Noeroel diminta datang secara khusus untuk menari di hadapan Ratu Wilhelmina di Belanda. Tarian tersebut dipersembahkan sebagai kado pernikahan Putri Juliana. Menariknya, saat itu rombongan dari Mangkunegaran tidak membawa gamelan untuk mengiringi tarian Gusti Nurul. Tarian itu diiringi alunan gamelan yang dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan melalui Solosche Radio Vereeniging, yang siarannya bisa ditangkap dengan jernih di Belanda[4].

Gusti Noeroel juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang membidani berdirinya Solosche Radio Vereeniging, stasiun radio pertama di Indonesia.
Sientje Menot.jpg
89437/7 <411+219> < Raden Ayu Sientje Menot [Hb.6.17.5.3]
lahir: 1922, Ranomuut, Manado
wafat: 7 Juni 1945, Ranomuut, Manado
87438/7 <409+206> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sutyanti [Hb.8.29] (Gusti Bendoro Raden Ayu Puspoharsono Jayaningrat)
lahir: 3 Juni 1923
perkawinan: <315> < Raden Puspoharsono Jayaningrat
98939/7 <466+213> < Raden Mas Sudikno [Hb.6.20.21.1] (Raden Mas Mertokusumo)
lahir: 7 Desember 1924, Surabaya
78740/7 <411+219> < Raden Mas Robert Mauritz Menot [b.VI.17.5.6]
lahir: 23 Oktober 1927, Manado
perkawinan: <316> < Toeti Sjamsuddin b. 8 Agustus 1928 d. 16 Juli 2005, Jakarta, Immanuel Church
wafat: 20 Juni 2000, Jakarta
RM. Menot Junior, adalah putra bungsu dari RM. Menot (RM. Sujono). Pada masa penjajahan Jepang, keluarga RM. Menot (di Manado saat itu) meninggalkan rumah dan ikut bergerilya di hutan. RM. Menot Jr ini bertugas mencari makan dengan menyeberangi sungai guna menghindari tentara Jepang.

RM. Menot Jr, bekerja pada instansi pemerintah Duane (sekarang Bea dan Cukai). Beliau pernah ditugaskan di Biak, Papua pada tahun 1962-1963 saat penyerahakan Papua ke tangan Indonesia. Menurut rekan seangkatan yang hadir saat pemakaman beliau, penyerahan Papua dari Belanda kepada RI di Duane, diserahkan kepada RM. Menot. Bisa jadi beliau adalah Kepala Bea Cukai pertama di tanah Papua (Biak).

Tahun 1982 beliau pensiun dari Bea Cukai dengan kedudukan terakhir di kantor Pusat Bea Cukai Rawamangun. Setelah itu beliau masih diperbantukan di BKPM Jakarta selama 2 tahun berikutnya. Sampai dengan pensiun, mobil dinas yang dipakai tetap sama, Toyota Land Cruiser keluaran 1968. Jeep canvas istilahnya. Mobil ini tetap dipakainya sampai pensiun meski kepangkatan beliau cukup tinggi, tetapi mobilnya tidak mau diganti.

Jaman dulu, belum ada istilah gratifikasi. Setiap menjelang Natal dan Tahun Baru, parcel yang beliau terima (dikirim ke rumah), bisa memenuhi kamar seluar 3x2m. Semua disimpan di kamar itu dan tidak boleh dibuka sampai malam Natal. Setiap malam Natal dan malam Tahun Baru, banyak kolega dan saudara-saudara yang berkumpul di rumahnya di kawasan Tebet Timur. Namun, setelah beliau tidak lagi menjabat, boro-boro dateng, parcel saja tidak ada yang mampir.

Ada kisah yang disampaikan oleh supir beliau (pak Rahman), "Pernah suatu kali, Papi itu didatangi Cina di kantor. Kalau orang lain mah di kasih amplop, kalau Papi dikasih duit sekoper. Tapi tau gak, Cina itu diusir dan kopernya dibuang sama Papi ke luar kantor. Itu Papi kamu".

Ketika masih bekerja, anak-anaknya sering diajak berenang di kolam renang Bojanatirta, Rawamangun. Kolam renang yang berada di dalam lingkungan kompleks perumahan Karyawan BC (Bea dan Cukai) di Jakarta Timur. Memang hobby beliau itu olahraga. Main tennis rutin setiap minggu, tenis meja di rumah, dan terakhir yang tidak pernah lepas dari tangannya, solitaire. Ya, beliau adalah seorang pendiam, tidak banyak bicara. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk main kartu sendiri, sampai kemudian anak bungsunya rajin membelikan TTS (teka-teki silang) sepulang kuliah.

Meskipun terlahir dari bapak Jawa dan ibu Manado, sosialisasi kultural yang diterapkan pada keluarga lebih condong pada budaya Manado. Demikian pula dengan nama keluarga (fam) yang digunakan secara turun temurun, lebih mengikuti pola budaya Manado ketimbang Jawa. Oleh saudara-saudaranya dari Jogja, beliau biasa dipanggil Oom Robbi, sementara untuk ayahnya dipanggil Eyang Menot.

RM. Menot Jr meninggal di rumah sakit Mitra Jatinegara (saat ini namanya RS. Premiere Jatinegara) pada tahun 2000 dalam usia 72 tahun. Beliau memang perokok berat, bukan rokok lagi tapi cerutu. Beliau paling senang bila adik-adiknya dari Holland datang ke Jakarta, bukan cuma kangen, tapi cerutu Westmeister-nya. Jika tidak ada, maka cerutu Adipati-lah yang selalu nangkring dibibirnya.
89941/7 <483+?> < 1. RA. Djamilah
perkawinan: <317> < S. Alaydrus
wafat: 1930, Geser-Seram-tdk punya keturunan
95342/7 <473+234> < Raden Mas Soerjodrijantoro/Suryodriyantoro [Hb.6.20.29.2] (Romo Suryo)
lahir: 1930
wafat: 1992, Kuncen
178243/7 <773+?> < R. Ngt. Dalinah Brotoatmodjo
lahir: 31 Desember 1931, Yogyakarta
wafat: 25 Maret 2016, Yogyakarta
Masa kecil tinggal di Ngadisuryan Yogyakarta, setelah menikah tinggal di Jl Pakuningratan Yk, kemudian pindah ke Jatimulyo Yk, dan ketika meninggal dimakamkan di makam Utaralaya, Tegalrejo, Yogyakarta
80144/7 <415> < Raden Ayu Hardiyah [Hb.6.17.3.6]
lahir: 5 Juni 1932, Yogyakarta
wafat: 3 Februari 2024, Yogyakarta
99145/7 <466+213> < Raden Mas Soekemi Mertokoesoemo [Hb.6.20.21.3]
lahir: 22 November 1932, Yogyakarta
lahir: 27 Februari 1993, Surabaya
Oetarti notodirdjo.jpg
119146/7 <413+218> < Raden Ayu Oetarti Notodirdjo [Hb.6.17.4.6]
lahir: 10 Juli 1933, Semarang
perkawinan: <318> < Edhi Soejitno b. 21 Desember 1929
wafat: 27 Agustus 2008, Semarang, Disarekan Pasarean Kuncen Yogyakarta
99247/7 <466+213> < Raden Ayu Sriwidayati [Hb.6.20.21.4]
lahir: 17 Oktober 1935, Yogyakarta
99348/7 <466+213> < Raden Mas Soeseto Mertokoesoemo [Hb.6.20.21.5]
lahir: 6 Juli 1939, Yogyakarta
119049/7 <413+218> < Raden Mas Oetomo Notodirdjo [Hb.6.17.4.7]
wafat: 19 Desember 1943, Yogyakarta, Disarekan Pasarean Kuncen Yogyakarta
90450/7 <483+?> < 6. dr. RM. Achmad (Pontianak)
wafat: 1944, Pontianak
96351/7 <473+234> < Raden Mas Roostamhadi [Hb.6.20.29.12] (Romo Chunk)
lahir: 1947, Yogyakarta
180452/7 <776> < Raden Adib Siswanto [Hb.3.2.8.14.1.6.1]
lahir: 1948
Raden Mas Utoyo Notodirjo.jpg
119553/7 <413+218> < Raden Mas Oetojo Notodirdjo [Hb.6.17.4.2]
wafat: 24 Februari 1949, Yogyakarta, Disarekan Di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Yogyakarta
RM Oetojo Notodirjo memilih hidupnya masuk dalam dunia militer pasca kemerdekaan Negara indonesia. Mendaftar melalui Taruna Militiare Academie Yogyakarta atau dikenal dengan Akademi Militer Yogyakarta sebagai Angkatan Pertama, Tempat akademi militer terletak di Kodya Yogyakarta tepatnya di kecamatan Gondokusuman kelurahan Kotabaru. Secara geografis Kotabaru berbatasan dengan Kali Code dan Jogoyudan bagian sebalah barat, sebelah selatan berbatasan dengan daerah Lempuyangan Kecamatan Danurejan. Sewaktu taruna sangat cerdas dan berbakat, dibuktikan menjadi Ketua senat taruna (senator Prases) dalam AM Yogyakarta angkatan I sebagai pimpinan dari korp taruna. Senat taruna tidak hanya mengurusi organisasi intern di akademi saja, tetapi juga melakukan hubungan dengan akademi militer, atau organisasi kelaskaran lain [1] - Makalah PEMBENTUKAN AKADEMI MILITER YOGYAKARTA 1945-1950 oleh Kuswono. RM Oetojo Notodirdjo juga menjadi lulusan terbaik angkatan pertama Akademi Militer Yogyakarta, yang nantinya pula menjadi pengasuh yang mendampingi para cadet

Saat Agresi Militer II, tepatnya pada tanggal 24 februari 1949 meletuslah pertempuran sengit di dekat desa plataran, yang mengakibatkan banyak cadet dan pejuang gugur, diantaranya yang gugur adalah Letda Thobias Pasuat Kandou, Vaandrig Cadet Anto Soegijarto, Vaandrig Cadet Abdoel Djalil, Vaandrig Cadet Sarsanto, Letda R.M. Oetojo Notodirdjo, dan Letda Koesnodanoedjo, Letda R. Sukoco, Vaandrig Cadet Husen, Vaandrig Cadet Sumartal, Vaandrig Cadet Susanto, Vaandrig Cadet Suharsono dan Vaandrig Cadet Subiyakto [2] [3].

RM Oetojo Notodirdjo selaku pimpinan, menunjukan ketauladanannya dengan mengambil alih sepucuk Bren dari seorang kadet yang luka parah, ia berusaha menahan gerak maju tentara Belanda dan melindungi para kadet yang sedang mundur, sampai akhirnya ia sendiri gugur. Nama almarhum diabadikan sebagai nama Lapangan Halang Rintang R.M. Oetojo Notodirdjo di AKMIL Magelang.
79054/7 <411+219> < Raden Ayu Adelheid Eva Sophia Menot [Hb.6.17.5.1]
lahir: Ranomuut, Manado
perkawinan: <319> < Willem Aurelius Lucas Mokalu
wafat: 3 Agustus 1951
181055/7 <776> < Raden Roro Amin Solihah [Hb.3.2.8.14.1.6.7]
lahir: 25 Desember 1955
153656/7 <698+1535!> < Raden Ajeng Andini Dewi [Hb.7.68.15] (Bendoro Raden Ayu Hadisuryo) 180357/7 <776+?> < Raden Roro Asri Budiati [Hb.3.2.8.14.1.6.9]
lahir: 23 Maret 1961, Magelang
90058/7 <483+?> < 2. RA. Chadidjah
wafat: 1962, Ambon
90659/7 <483+?> < 8. RA. Moenah
wafat: 1962, tidak punya keturunan
181260/7 <776> < Raden Roro Alfiah Nuraini [Hb.3.2.8.14.1.6.10]
lahir: 21 Agustus 1962, Magelang
90361/7 <483+?> < 5. RA. Rachmah (Medan)
wafat: 1973, Medan
90162/7 <483+?> < 3. RA. Djahrah (Surabaya)
wafat: 1976, Surabaya
90263/7 <483+?> < 4. RA. Aisjah (Ambon)
perkawinan: <320> < RM. Mochamad Diponegoro
wafat: 1981, Ambon
119464/7 <413+218> < Raden Mas Usodo Notodirdjo [Hb.6.17.4.3]
perkawinan: <1197!> < Raden Ayu Atasti [Hb.6.18.4.10]
pekerjaan: 13 April 1981, Norway, Ambassador of Indonesia to Norway
90565/7 <483+?> < 7. RA. Kajatin (Djogja)
pekerjaan: 1986, Yogya
119666/7 <413+218> < Raden Ayu Utari Notodirjo [Hb.6.17.4.1]
perkawinan: <321> < H.r. Suparto
wafat: 7 Oktober 2016, Jakarta, Burried in Pasarean Karangturi Yogyakarta
91267/7 <499+1219!> < Raden Ayu Japroet Saronto [Hb.7.55.3]
perkawinan: <322> < Saronto
wafat: 29 Juni 2019, Jakarta
penguburan: Yogyakarta
154268/7 <698+1535!> < Raden Mas Sutarsin [Hb.7.68.9]
wafat: 19 Desember 2019, Yogyakarta, Pemakaman Kuncen
77869/7 <410> < R. Sunardi
Hilal Achmar Link
R. Oetaryo.jpg
77970/7 <410> < R. Utaryo
Official From Hilal Achmar.
R. Kartono.jpg
78071/7 <410> < R. Kartono
Official From Hilal Achmar.
78172/7 <410> < R. Gushadi
Official From Hilal Achmar.
Hj. Kartini.jpg
78273/7 <410> < R. Kartini
Official From Hilal Achmar.
Ketty.jpg
78374/7 <410> < Ketty
Official From Hilal Achmar.
78575/7 <410> < R. Gustanto
Official From Hilal Achmar.
78676/7 <410> < R. Harsono
Official From Hilal Achmar.
78977/7 <415> < Raden Ayu Anjaswati [Hb.6.17.3.3] (Raden Ayu Suryobrongto) 79478/7 <416+425!> < Raden Mas Ristidjo [Hb.6.17.2.1]
79579/7 <416+425!> < Raden Ayu Sutihadinah [Hb.6.17.2.2] 79780/7 <416+?> < Raden Mas Koestidjo [Hb.6.17.2.4] 79982/7 <415> < Raden Mas Suparto [Hb.6.17.3.4] 80283/7 <415> < Raden Mas Sugeng Sudarto / Kanjeng Raden Tumenggung Dutodiprojo [Hb.6.17.3.7] (Raden Bagus Sugeng Sudarto)
perkawinan: <332> < S. Murkatri d. 16 Desember 2017
80384/7 <415> < Raden Mas Suharto Hendromardowo [Hb.6.17.3.2] 80485/7 <415> < Raden Mas Sutarto Hadiyuwono [Hb.6.17.3.1] 80586/7 <414+221> < Raden Ayu Kusri Sulastri Sunaryo [Hb.6.17.6.3] 80687/7 <414+221> < Raden Ayu Kustiati [Hb.6.17.6.2]
80788/7 <414+221> < Raden Ayu Kustinah [Hb.6.17.6.1] 81089/7 <433+?> < 1. RM. H. Ardja
81190/7 <433+?> < 2. RM. H. Suminta (Malik)
81291/7 <433+?> < 3. RAy. Patimah
Capek2.jpeg
81392/7 <433+?> < 4. RAy. Fatmah
81793/7 <434> < RM. Asminin
81894/7 <434> < RM. Mali
81995/7 <434> < RM. Minau
82096/7 <434> < RM. Iking
82197/7 <434> < NYI MAS RAy. UMI
82298/7 <431> < 1. RM. H. Wongsomenggolo
82399/7 <431> < 2. RM. H. Soeromenggolo
825100/7 <431> < 4. RAy. Unan
835101/7 <433+?> < 6. RAy. Siti Mariyam (loji)
836102/7 <439> < RM. H. Sintomenggolo
837103/7 <440> < RM. H. Sadiri Gondomenggolo
838104/7 <441> < RM. Sumawijaya
839105/7 <441> < NYI RAy. Danang
840106/7 <441> < RAy. Anok
841107/7 <441> < NYI RAy. Engko
842108/7 <441> < NYI RAy. Toyo (ibu Bandung)
843109/7 <443> < RM. Haryodipo Hadikusumo / P. Gringsing III
844110/7 <437> < R.Ay. Sukiamah
845111/7 <409+203> < Bendoro Raden Mas Rasisulngaskari [Hb.8.22] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Bintoro) 846112/7 <409+203> < Bendoro Raden Mas Mustari [Hb.8.5]
848114/7 <409+204> < Bendoro Raden Mas Sungangusamsi [Hb.8.8] (Bendoro Pangeran Haryo Puruboyo) 850116/7 <409+202> < Bendoro Raden Mas Sudiarso [Hb.8.10]
851117/7 <409+202> < Bendoro Raden Mas Kartolo [Hb.8.13] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Mangkudiningrat) 853118/7 <409+202> < Bendoro Raden Mas Duryatnanu [Hb.8.20]
854119/7 <409+895!> < Bendoro Raden Mas Mahikyaun [Hb.8.21] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryowijoyo)
855120/7 <409+424!> < Bendoro Raden Mas Makanulmunojati [Hb.8.27] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Pujokusumo)
856121/7 <409+206> < Bendoro Raden Mas Pelukuluki [Hb.8.28] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryoputro)
857122/7 <409> < Bendoro Raden Mas Muposolukatini [Hb.8.25]
858123/7 <409+1025!> < Bendoro Raden Mas Sahadatsatir [Hb.8.32]
859124/7 <409+206> < Bendoro Raden Mas Hening [Hb.8.33] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Yudonegoro)
860125/7 <409> < Bendoro Raden Mas Bonokamsi [Hb.8.34] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Dipoyono)
861126/7 <409+206> < Bendoro Raden Mas Satriyo [Hb.8.36] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Benowo [Hb.7.7.1.1]) 862127/7 <409+206> < Bendoro Raden Mas Danangjoyo [Hb.8.40]
863128/7 <409+1025!> < Bendoro Raden Mas Robin Haryani [Hb.8.41] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Puger) 864129/7 <409+202> < Bendoro Raden Ajeng Gusti Siti Sudarmiyah [Hb.8.1] (Gusti Kanjeng Ratu Pembayun) 865130/7 <409+202> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sayadi [Hb.8.3] (Gusti Bendoro Raden Ayu Sindurejo) 866131/7 <409+203> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sadari [Hb.8.4] (Gusti Bendoro Raden Ayu Purbowinoto) 867132/7 <409+202> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kadarmi [Hb.8.6] (Gusti Bendoro Raden Ayu Jayaningrat) 868133/7 <409+204> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kajananywo [Hb.8.11] (Gusti Bendoro Raden Ayu Joyowinoto) 869134/7 <409+204> < Bendoro Raden Ajeng Siti Nurywadinah [Hb.8.15] (Gusti Bendoro Raden Ayu Condrodiningrat) 870135/7 <409+202> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kuswanayi 871136/7 <409+204> < Bendor Raden Ajeng Siti Sriwayati [Hb.8.18] (Gusti Bendoro Raden Ayu Purboseputro) 872137/7 <409+203> < Bendoro Raden Ajeng Siti Swandari [Hb.8.19] (Bendoro Raden Ayu Purwodiningrat) 873138/7 <409+203> < Bendoro Raden Ajeng Siti Hilalulngasarati [Hb.8.24] (Gusti Bendoro Raden Ayu Kusumodiningrat) 875139/7 <409+206> < Bendoro Raden Ajeng Siti Pandansari [Hb.8.31] (Gusti Bendoro Raden Ayu Sumarman) 876140/7 <409+1025!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Mutosangilun [Hb.8.12]
877141/7 <409+1025!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Prayuti [Hb,8.37]
878142/7 <409+206> < Bendoro Raden Ajeng Siti Widyastuti [Hb.8.38] (Bendoro Raden Ayu Suwarno Handayaningrat) 879143/7 <409+1025!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sutarmin [Hb.8.39]
881144/7 <444+?> < Raden Ayu Sulastri
882145/7 <444+?> < Raden Ayu Rukmini
883146/7 <444+?> < Raden Ayu Kardinah
Ist RMAA Reksonegoro, Bupati Tegal
884147/7 <444+?> < Raden Ayu Kartinah
885148/7 <444+?> < Raden Mas Panji Muljono
886149/7 <444+?> < Raden Ayu Sumantri
887150/7 <444+?> < Raden Mas Panjiruwito
889151/7 <444+223> < Raden Mas Sosrokartono
890152/7 <446> < Raden Ayu Saelah [Hb.6.20.1.1] (Raden Ayu Prawirodiharjo)
891153/7 <446> < Raden Ayu Sayatijah [Hb.6.20.1.2] (Raden Ayu Kusumobroto)
892154/7 <446> < Raden Mas Untung [Hb.6.20.1.3] (Raden Lurah Yudowinoto)
893155/7 <446> < Raden Mas Sabar [Hb.6.20.1.4] (Raden Bagus Joyoprayitno)
895156/7 <613+615!> < Bendoro Raden Ayu Rukmidiningdia [Ga.Hb.8.4] [Hb.6.9.3.1] (Bendoro Raden Ayu Rukhihadiningdyah) 897157/7 <505+239> < Raden Lurah Ronoseputro [Hb.7.13.18] (Raden Gledegan Ronoseputro) 898158/7 <477> < RM. Kartotnadi Diponegoro
907159/7 <487> < 4. H. RM. Abdullah Diponegoro
908160/7 <487> < 1. RA. Samsirin
909161/7 <499+1219!> < Raden Mas Mesyas F. Pannie [Hb.6.9.14.1.1]
910162/7 <499+1219!> < Raden Mas Jegot [Hb.7.55.1]
911163/7 <499+1219!> < Raden Mas Grangsang S. [Hb.7.55.2]
913164/7 <499+1219!> < Raden Ayu Dloereg Poernomosidi Hadjisaroso [Hb.7.55.4] 914165/7 <499+1219!> < Raden Ayu Jcm. Gresah [Hb.7.55.5] (Raden Ayu Harjokusumo) 915166/7 <499+1219!> < Raden Ayu Semplah [Hb.7.55.6]
916167/7 <428+184> < Bendoro Pangeran Haryo Pakuningrat
917168/7 <428+184> < Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat ? (Hamengku Buwono VII)
918169/7 <428+184> < Bendoro Raden Ayu Atmo Condrokusumo / Bendoro Raden Ajeng Siti Putria
919170/7 <428+184> < Bendoro Raden Ayu Atmo Condroseputro / Bendoro Raden Ajeng Siti Surat Kabirun
920171/7 <512> < Raden Soekarna Djajahadisena
921172/7 <492> < 1. RM Iskandar Johan Diponegoro
922173/7 <492> < 2. RM. Achmad Djohan Diponegoro
923174/7 <485> < 1. Raden Mas Slamet Diponegoro
924175/7 <517+?> < 1. R. Kyai Rahmat
925176/7 <517+?> < 2. Nyi RNgt. Muh Mustofa
Tapak.jpeg
926177/7 <517+?> < 3. R. Kyai Busyro Syuhada / Ibrahim
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


SEJARAH SINGKAT PERGURUAN SILAT TAPAK SUCI

Di Banjarnegara, Jawa Tengah, Kiyai Haji (K.H.) Syuhada pada tahun 1872 memiliki seorang putera yang diberi nama Ibrahim. Sejak kecil ia menerima ilmu pencak dari ayahnya. Ibrahim tumbuh menjadi Pendekar yang menguasai pencak ragawi dan batin / inti tetapi sekaligus Ulama yang menguasai banyak ilmu, kemudian berganti nama menjadi K.H. Busyro Syuhada.

Pada awalnya K.H.Busyro Syuhada mempunyai 3 murid, yaitu : •Achyat ( adik misan ), yang kemudian dikenal dengan K.H. Burhan •M.Yasin ( adik kandung ), yang dikenal dengan K.H. Abu Amar Syuhada •Soedirman, yang dikemudian hari mencapai pangkat Jenderal dan pendiri Tentara Nasional Indonesia, bahkan bergelar Panglima Besar Soedirman.

Pada tahun 1921 di Yogyakarta, bertemulah K.H. Busyro Syuhada dengan kakak beradik Ahmad Dimyati dan Muhammad Wahib. Dalam kesempatan itu mereka adu ilmu pencak antara M. Wahib dan M. Burhan. Kemudian A. Dirnyati dan M. Wahib dengan pengakuan yang tulus mengangkat K.H. Busyro Syuhada sebagai guru dan mewarisi ilmu pencak dari K.H. Busyro Syuhada yang kemudian menetap di Kauman. Menelusuri jejak gurunya, Ahmad Dimyati mengembara ke barat sedang M. Wahib mengembara ketimur sampai ke Madura untuk menjalani adu kaweruh ( uji ilmu ). Pewaris ilmu banjaran, mewarisi juga sifat-sifat gurunya M. Wahib sebagaimana K.H. Busyro Syuhada, bersifat keras, tidak kenal kompromi, suka adu kaweruh. Untuk itu sangat menonjol nama M. Wahib dari pada A. Dimyati. Sedang A. Dimyati yang banyak dikatakan ilmunya lebih tangguh dari pada adiknya M. Wahib tetapi karena pendiam dan tertutup maka tidak banyak kejadian-kejadian yang dialami. Sebagaimana M. Burhan yang mempunyai sifat dan pembawaan sama dengan A. Dimyati.

K. H. Busyro Syuhada pernah menjadi guru pencak untuk kalangan bangsawan dan keluarga Kraton Yogyakarta. Salah satu diantara muridnya adalah R.M. Harimurti, seorang pangeran kraton, yang dikemudian hari beberapa muridnya mendirikan perguruan–perguruan pencak silat yang beraliran Harimurti.

Kauman, Seranoman dan Kasegu

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada memberi wewenang kepada pendekar binaannya, A. Dimyati dan M. Wahib untuk membuka perguruan dan menerima murid. Perguruan baru yang didirikan pada tahun 1925 itu diberi nama Perguruan "Kauman", yang beraliranBanjaran.

Perguruan Kauman mempunyai peraturan bahwa murid yang telah selesai menjalani pendidkan dan mampu mengembangkan ilmu pencak silat diberikan kuasa untuk menerima murid.

M. Syamsuddin yang menjadi murid kepercayaan Pendekar Besar M..Wahib diangkat sebagai pembantu utama; dan dizinkan menerima murid. Kemudian mendirikan perguruan ”Seranoman". Perguruan Kauman menetapkan menerima siswa baru, setelah siswa tadi lulus menjadi murid di Seranoman. Perguruan Seranoman melahirkan pendekar muda Moh. Zahid, yang juga lulus menjalani pendidikan di perguruan Kauman. Moh. Zahid yang menjadi murid angkatan ketiga (3) bahkan berhasil pula mengembangkan pencak silat yang berintikan kecepatan; kegesitan, dan ketajaman gerak. Tetapi murid ketiga ini pada tahun 1948, wafat pada usia yang masih sangat muda. Tidak sempat mendirikan perguruan baru tetapi berhasil melahirkan murid, Moh. Barie lrsjad.

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada berpulang ke Rahmatullah pada bulan Ramadhan 1942. Pendekar Besar KH Busyro Syuhada bahkan tidak sempat menyaksikan datangnya perwira Jepang, Makino, pada tahun 1943 yang mengadu ilmu beladirinya dengan pencak silat andalannya. Makino mengakui kekurangannya dan menyatakan menjadi murid Perguruan Kauman sekaligus menyatakan masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Omar Makino. Pada tahun 1948 Pendekar Besar KH Burhan gugur bersama dengan 20 muridnya dalam pertempuran dengan tentara Belanda di barat kota Yogyakarta. Kehilangan besar pesilatnya menjadikan perguruan Kauman untuk beberapa sa’at berhenti kegiatannya dan tidak menampakkan akan muncul lagi Pendekar. Moh. Barie lrsjad sebagai murid angkatan keenam (6) yang dinyatakan lulus dari tempaan ujian Pendekar M. Zahid, M. Syamsuddin, M. Wahib dan A. Dimyati kemudian dalam perkembangan berikutnya mendirikan perguruan "Kasegu"

Kalau perguruan-perguruan sebelumnya diberi nama sesuai dengan tempatnya. Perguruan Kasegu diberikan nama sesuai dengan senjata yang diciptakan oleh Pendekar Moh. Barie Irsjad.

Lahirnya Tapak Suci

Moh. Barie lrsjad akhirnya mengeluarkan gagasan agar semua aliran Banjaran yang sudah berkembang dan terpecah-pecah dalam berbagai perguruan, disatukan kembali ke wadah tunggal.

Pendekar Besar M. Wahib merestui berdirinya satu Perguruan yang menyatukan seluruh perguruan di Kauman. Restu diberikan dengan pengertian Perguruan nanti adalah kelanjutan dari Perguruan Kauman yang didirikan pada tahun 1925 yang berkedudukan di Kauman.

Pendekar M. Wahib mengutus 3 orang muridnya. dan M. Syamsuddin mengirim 2 orang muridnya untuk bergabung. Maka Pendekar M. Barie Irsjad bersama sembilan anak murid menyiapkan segala sesuatunya untuk mendirikan Perguruan.

Dasar-dasar perguruan Kauman yang dirancang oleh Moh. Barie lrsjad, Moh. Rustam Djundab dan Moh. Djakfal Kusuma menentukan nama Tapak Suci. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dikonsep oleh Moh Rustam Djundab. Do’a dan lkrar disusun oleh H. Djarnawi Hadikusuma. Lambang Perguruan diciptakan oleh Moh. Fahmie Ishom, lambang Anggota diciptakan oleh Suharto Suja', lambang Regu Inti "Kosegu" diciptakan Adjib Hamzah. Sedang bentuk dan warna pakaian dibuat o!eh Moh. Zundar Wiesman dan Anis Susanto. Maka pada tanggal 31 Juli 1963 lahirlah Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci
927178/7 <517+?> < 4. Nyi RNgt. Satibi
928179/7 <517+?> < 5. Nyi RNgt. Sangidah
929180/7 <517+?> < 6. Nyi RNgt. Hafsah
930181/7 <517+?> < 7. R. Kyai Muh. Nuh
931182/7 <517+?> < 8. Nyi RNgt. Siti Maryam
Tapak.jpeg
932183/7 <517+?> < 9. R. Kyai Abu Amar
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


SEJARAH SINGKAT PERGURUAN SILAT TAPAK SUCI

Di Banjarnegara, Jawa Tengah, Kiyai Haji (K.H.) Syuhada pada tahun 1872 memiliki seorang putera yang diberi nama Ibrahim. Sejak kecil ia menerima ilmu pencak dari ayahnya. Ibrahim tumbuh menjadi Pendekar yang menguasai pencak ragawi dan batin / inti tetapi sekaligus Ulama yang menguasai banyak ilmu, kemudian berganti nama menjadi K.H. Busyro Syuhada.

Pada awalnya K.H.Busyro Syuhada mempunyai 3 murid, yaitu : •Achyat ( adik misan ), yang kemudian dikenal dengan K.H. Burhan •M.Yasin ( adik kandung ), yang dikenal dengan K.H. Abu Amar Syuhada •Soedirman, yang dikemudian hari mencapai pangkat Jenderal dan pendiri Tentara Nasional Indonesia, bahkan bergelar Panglima Besar Soedirman.

Pada tahun 1921 di Yogyakarta, bertemulah K.H. Busyro Syuhada dengan kakak beradik Ahmad Dimyati dan Muhammad Wahib. Dalam kesempatan itu mereka adu ilmu pencak antara M. Wahib dan M. Burhan. Kemudian A. Dirnyati dan M. Wahib dengan pengakuan yang tulus mengangkat K.H. Busyro Syuhada sebagai guru dan mewarisi ilmu pencak dari K.H. Busyro Syuhada yang kemudian menetap di Kauman. Menelusuri jejak gurunya, Ahmad Dimyati mengembara ke barat sedang M. Wahib mengembara ketimur sampai ke Madura untuk menjalani adu kaweruh ( uji ilmu ). Pewaris ilmu banjaran, mewarisi juga sifat-sifat gurunya M. Wahib sebagaimana K.H. Busyro Syuhada, bersifat keras, tidak kenal kompromi, suka adu kaweruh. Untuk itu sangat menonjol nama M. Wahib dari pada A. Dimyati. Sedang A. Dimyati yang banyak dikatakan ilmunya lebih tangguh dari pada adiknya M. Wahib tetapi karena pendiam dan tertutup maka tidak banyak kejadian-kejadian yang dialami. Sebagaimana M. Burhan yang mempunyai sifat dan pembawaan sama dengan A. Dimyati.

K. H. Busyro Syuhada pernah menjadi guru pencak untuk kalangan bangsawan dan keluarga Kraton Yogyakarta. Salah satu diantara muridnya adalah R.M. Harimurti, seorang pangeran kraton, yang dikemudian hari beberapa muridnya mendirikan perguruan–perguruan pencak silat yang beraliran Harimurti.

Kauman, Seranoman dan Kasegu

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada memberi wewenang kepada pendekar binaannya, A. Dimyati dan M. Wahib untuk membuka perguruan dan menerima murid. Perguruan baru yang didirikan pada tahun 1925 itu diberi nama Perguruan "Kauman", yang beraliranBanjaran.

Perguruan Kauman mempunyai peraturan bahwa murid yang telah selesai menjalani pendidkan dan mampu mengembangkan ilmu pencak silat diberikan kuasa untuk menerima murid.

M. Syamsuddin yang menjadi murid kepercayaan Pendekar Besar M..Wahib diangkat sebagai pembantu utama; dan dizinkan menerima murid. Kemudian mendirikan perguruan ”Seranoman". Perguruan Kauman menetapkan menerima siswa baru, setelah siswa tadi lulus menjadi murid di Seranoman. Perguruan Seranoman melahirkan pendekar muda Moh. Zahid, yang juga lulus menjalani pendidikan di perguruan Kauman. Moh. Zahid yang menjadi murid angkatan ketiga (3) bahkan berhasil pula mengembangkan pencak silat yang berintikan kecepatan; kegesitan, dan ketajaman gerak. Tetapi murid ketiga ini pada tahun 1948, wafat pada usia yang masih sangat muda. Tidak sempat mendirikan perguruan baru tetapi berhasil melahirkan murid, Moh. Barie lrsjad.

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada berpulang ke Rahmatullah pada bulan Ramadhan 1942. Pendekar Besar KH Busyro Syuhada bahkan tidak sempat menyaksikan datangnya perwira Jepang, Makino, pada tahun 1943 yang mengadu ilmu beladirinya dengan pencak silat andalannya. Makino mengakui kekurangannya dan menyatakan menjadi murid Perguruan Kauman sekaligus menyatakan masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Omar Makino. Pada tahun 1948 Pendekar Besar KH Burhan gugur bersama dengan 20 muridnya dalam pertempuran dengan tentara Belanda di barat kota Yogyakarta. Kehilangan besar pesilatnya menjadikan perguruan Kauman untuk beberapa sa’at berhenti kegiatannya dan tidak menampakkan akan muncul lagi Pendekar. Moh. Barie lrsjad sebagai murid angkatan keenam (6) yang dinyatakan lulus dari tempaan ujian Pendekar M. Zahid, M. Syamsuddin, M. Wahib dan A. Dimyati kemudian dalam perkembangan berikutnya mendirikan perguruan "Kasegu"

Kalau perguruan-perguruan sebelumnya diberi nama sesuai dengan tempatnya. Perguruan Kasegu diberikan nama sesuai dengan senjata yang diciptakan oleh Pendekar Moh. Barie Irsjad.

Lahirnya Tapak Suci

Moh. Barie lrsjad akhirnya mengeluarkan gagasan agar semua aliran Banjaran yang sudah berkembang dan terpecah-pecah dalam berbagai perguruan, disatukan kembali ke wadah tunggal.

Pendekar Besar M. Wahib merestui berdirinya satu Perguruan yang menyatukan seluruh perguruan di Kauman. Restu diberikan dengan pengertian Perguruan nanti adalah kelanjutan dari Perguruan Kauman yang didirikan pada tahun 1925 yang berkedudukan di Kauman.

Pendekar M. Wahib mengutus 3 orang muridnya. dan M. Syamsuddin mengirim 2 orang muridnya untuk bergabung. Maka Pendekar M. Barie Irsjad bersama sembilan anak murid menyiapkan segala sesuatunya untuk mendirikan Perguruan.

Dasar-dasar perguruan Kauman yang dirancang oleh Moh. Barie lrsjad, Moh. Rustam Djundab dan Moh. Djakfal Kusuma menentukan nama Tapak Suci. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dikonsep oleh Moh Rustam Djundab. Do’a dan lkrar disusun oleh H. Djarnawi Hadikusuma. Lambang Perguruan diciptakan oleh Moh. Fahmie Ishom, lambang Anggota diciptakan oleh Suharto Suja', lambang Regu Inti "Kosegu" diciptakan Adjib Hamzah. Sedang bentuk dan warna pakaian dibuat o!eh Moh. Zundar Wiesman dan Anis Susanto. Maka pada tanggal 31 Juli 1963 lahirlah Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci
933184/7 <517+?> < 10. R. Kyai Muh Haq
934185/7 <517+?> < 11. Nyi RNgt. Koningah
935186/7 <517+?> < 12. R. Kyai Muh.Muqodas
936187/7 <517+?> < 13. R. Kyai Muh. Aqib
937188/7 <517+?> < 14. R. Kyai Mutaqo
938189/7 <517+?> < 15. Nyi RNgt. Siti Amroh
939190/7 <517+?> < 16. R. Kyai Muh Husni Muqofa
940191/7 <517+?> < 17. R. Kyai Kamilah
941192/7 <445+224> < Raden Ayu Sudiatinah [Hb.6.20.30.1]
942193/7 <445+224> < Raden Ayu Sri Luhur Sudarinah [Hb.6.20.30.2] (Raden Ayu Sutiarjo)
943194/7 <445+224> < Raden Ajeng Suryantinah [Hb.6.20.30.3] (Raden Ayu Juardi)
944195/7 <445+225> < Raden Mas Suryadi [Hb.6.20.30.4]
945196/7 <445+225> < Raden Mas Purwanto Sudiro [Hb.6.20.30.5] (Romo Poeng)
946197/7 <445+225> < Raden Ajeng Sri Suwarni / Minul [Hb.6.20.30.6] (Raden Ayu Raharjodiposubroto)
947198/7 <445+225> < Raden Mas Tri Suwarno [Hb.6.20.30.7]
948199/7 <445+225> < Raden Ayu Nani Sudaltinah [Hb.6.20.30.8] (Raden Ayu Wahyanto) 949200/7 <445+225> < Raden Mas Sudiharto [Hb.6.20.30.9]
950201/7 <445+225> < Raden Mas Sudiwarno [Hb.6.20.30.10]
951202/7 <445+225> < Raden Mas Budisantoso [Hb.6.20.30.11]
952203/7 <473+234> < Raden Ayu Roosretnodrijanti [Hb.6.20.29.1]
954204/7 <473+234> < Raden Mas Soerjodrijasmoro/Suryodriyasmoro [Hb.6.20.29.3] (Romo Dri)
955205/7 <473+234> < Raden Mas Soerjodrijardono/Suryodriyardono [Hb.6.20.29.4] (Romo Don)
956206/7 <473+234> < Raden Ayu Retnopugiarti [Hb.6.20.29.5]
957207/7 <473+234> < Raden Mas Soerjopugiarto [Hb.6.20.29.6] (Romo Genthong)
958208/7 <473+234> < Raden Ayu Retnopugiartati [Hb.6.20.29.7]
959209/7 <473+234> < Raden Ayu Retnopugiartinah / [Hb.6.20.29.8] (Sitiumyumkasihan)
960210/7 <473+234> < Raden Ajeng Rooswandari [Hb.6.20.29.9] (Raden Ayu Sunandar)
961211/7 <473+234> < Raden Mas Rooswindo/Rooswondo [Hb.6.20.29.10] (Romo Kenthut)
962212/7 <473+234> < Raden Mas Rooswindijatmo [Hb.6.20.29.11]
964213/7 <472+233> < Raden Ayu Kusumardiyah [Hb.6.20.28.4] (Raden Ayu Mugiarjo) 965214/7 <470+232> < Raden Mas Sutihartono Kiswarin [Hb.6.20.26.1]
966215/7 <470+232> < Raden Ayu Sutihartati [Hb.6.20.26.2] (Raden Ayu Kawindro Kusumo) 967216/7 <470+232> < Raden Ayu Sutihartinah [Hb.6.20.26.3] (Raden Ayu Suharjo)
968217/7 <469> < Raden Ajeng Kuswantinah [Hb.6.20.25.1] (Raden Ayu Ibnu Atas Pugiarto) 969218/7 <469> < Raden Ajeng Koeswandiyah [Hb.6.20.25.2] (Raden Ayu Siswopermadi)
970219/7 <469> < Raden Mas Kuswantoro [Hb.6.20.25.3]
971220/7 <469> < Raden Mas Kuswanadji [Hb.6.20.25.4]
972221/7 <469> < Raden Mas Kuswandiyono [Hb.6.20.25.5] (Romo Mentheg)
973222/7 <469> < Raden Ayu Kuslaswisuryantirah [Hb.6.20.25.6] (Raden Ayu Sugiantoro) 974223/7 <469> < Raden Ayu Kusharti [Hb.6.20.25.7]
975224/7 <469> < Raden Mas Kustamto [Hb.6.20.25.8]
976225/7 <468> < Raden Mas Ibnu Suwardo [Hb.6.20.24.1] (Romo Mamiek)
977226/7 <468> < Raden Mas Ibnu Suwardi [Hb.6.20.24.2] (Romo Kampiun)
978227/7 <468> < Raden Mas Ibnu Sudarmadji [Hb.6.20.24.3]
979228/7 <468> < Raden Ajeng Siti Rahmani [Hb.6.20.24.4] (Raden Ayu Kusen Notoprojo) 980229/7 <468> < Raden Ajeng Srikusdaryati/Sripantolo [Hb.6.20.24.5] (Raden Ayu Winarso Condrosangkoyo) 981230/7 <468> < Raden Mas Ibnu Atas Pugiarto [Hb.6.20.24.6] 982231/7 <468> < Raden Mas Ibnu Sukoraharjo [Hb.6.20.24.7]
983232/7 <468> < Raden Ajeng Sasiyah [Hb.6.20.24.8]
984233/7 <468> < Raden Ajeng Sasinah [Hb.6.20.24.9]
985234/7 <468> < Raden Mas Ibnu Pujiraharjo [Hb.6.20.24.10]
986235/7 <468> < Raden Ayu Sri Mulyani [Hb.6.20.24.11]
987236/7 <468> < Raden Mas Ibnu Suwarji [Hb.6.20.24.12] (Raden Mas Ibnu Mulyono)
988237/7 <467+231> < Raden Mas Sukropurnadi [Hb.6.20.22.2]
990238/7 <466+213> < Raden Mas Waluyo [Hb.6.20.21.2] (Raden Mas Abubakar)
994239/7 <465> < Raden Mas Danardono [Hb.6.20.20.1]
995240/7 <465> < Raden Mas Duksino [Hb.6.20.20.2]
996241/7 <465> < Raden Mas Sasongko [Hb.6.20.20.3]
997242/7 <465> < Raden Ajeng Intamiarinah [Hb.6.20.20.4] (Raden Ayu Supriyohartodo)
998243/7 <465> < Raden Ajeng Imtamhasriyah [Hb.6.20.20.5] (Bendoro Raden Ayu Imtamnurswidah / Raden Ayu Suwandhi)
999244/7 <465> < Bendoro Raden Ayu Imtamsaidjah [Hb.6.20.20.6] (Bendoro Raden Ayu Puger) 1000245/7 <465> < Raden Mas Purnomo [Hb.6.20.20.8]
1001246/7 <465> < Raden Mas Sutengsi [Hb.6.20.20.9] (Raden Bagus Dirjowijoyo)
1002247/7 <465> < Raden Mas Sasitoh [Hb.6.20.20.10]
1003248/7 <465> < Raden Mas Tjondrodi [Hb.6.20.20.11] (Raden Mas Condrodi)
1004249/7 <465> < Raden Ayu Imtamnurnindyah [Hb.6.20.20.12] 1005250/7 <465> < Raden Ajeng Imtamakindah [Hb.6.20.20.7]
1006251/7 <462+229> < Raden Mas Priyoatmojo [Hb.6.20.16.1]
1007252/7 <462+229> < Raden Mas Sukemi / Sukesi [Hb.6.20.16.2] (Raden Mas Cokrowandowo / Cokrowerdoyo)
1008253/7 <462+229> < Raden Ayu Sumaryati [Hb.6.20.16.3] (Raden Ayu Sukengsi Darmoatmojo) 1009254/7 <462+229> < Raden Mas Sukindar/Sukendar [Hb.6.20.16.4]
1010255/7 <461+227> < Raden Mas Yuwarno Slamet
1011256/7 <455+226> < Raden Mas Puspomadyo [Hb.6.20.9.1] (Raden Wedono Kismowijoyo)
1012257/7 <455+226> < Raden Ajeng Sudinah [Hb.6.20.9.2]
1013258/7 <455+226> < Raden Ayu Pustinah [Hb.6.20.9.3] (Bendoro Raden Ayu Retno Wilanten) 1014259/7 <455+226> < Raden Mas Madi [hb.6.20.9.4] (Raden Mas Puspomadwi)
1015260/7 <455+226> < Raden Mas Kadi [Hb.6.20.9.5] (Raden Mas Puspokane)
1016261/7 <455+226> < Raden Mas Ismangil [Hb.6.20.9.6]
1017262/7 <455+226> < Raden Mas Puspokirman [Hb.6.20.9.7]
1018263/7 <455+226> < Raden Ajeng Pustijah [Hb.6.20.9.8] (Raden Ayu Gondosumarto)
1019264/7 <455+226> < Raden Mas Pusdiyo [Hb.6.20.9.9]
1020265/7 <455+226> < Raden Ayu Pustirah [Hb.6.20.9.10]
1021266/7 <449> < Raden Mas Oranyenasau [Hb.6.20.5.1] (Raden Lurah Condrosari)
1022267/7 <449> < Raden Mas Saparjo [Hb.6.20.5.2]
1023268/7 <449> < Raden Mas Mardowo [Hb.6.20.5.3]
1024269/7 <449> < Raden Ayu Mardewi / Siti Umiramdilah [Hb.6.20.5.4]
1025270/7 <449> < Raden Ayu Siti Umiramtilah / Umiramsilah [Ga.Hb.8.6] [Hb.6.20.5.5] (Bendoro Raden Ayu Retnopuspito) 1026271/7 <449> < Raden Ayu Siti Umiramsinah [Hb.6.20.5.6] (Raden Ayu Dirjowardoyo)
1027272/7 <449> < Raden Mas Mariyunani / [Hb.6.20.5.7] (Raden Wedana Winduwinoto)
1028273/7 <449> < Raden Mas Insimulyono / [Hb.6.20.5.9] (Raden Bagus Seputropawoko)
1029274/7 <449> < Raden Mas Koharin [Hb.6.20.5.8] (Raden Mas Oemar Kunsamsi)
1030275/7 <448+617!> < Bendoro Raden Ayu Siti Kadariyah [Hb.7.20.3] (Bendoro Raden Ayu Jayengsastro)
1031276/7 <448+617!> < Bendoro Raden Ayu Siti Yukadiru [Hb.7.20.5] (Bendoro Raden Ayu Poncokusumo)
1032277/7 <448+617!> < Bendoro Raden Mas Sayidu [Hb.7.20.8] (Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat) 1033278/7 <448+617!> < Bendoro Raden Mas Ngaskarul Kadiri [Hb.7.20.12] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodipuro)
1034279/7 <448+617!> < Bendoro Raden Ayu Siti Yungamiru [Hb.7.20.16] (Bendoro Raden Ayu Padmonegoro)
1035280/7 <448+617!> < Bendoro Raden Ayu Siti Yukasanu [Hb.7.20.18] 1036281/7 <448+617!> < Bendoro Raden Mas Kasanusabi [Hb.7.20.28] (Kanjeng Raden Tumenggung Wiryonegoro)
1037282/7 <447> < Raden Ajeng Jaliyah [Hb.6.20.2.1] (Raden Ayu Pringgosumarjo)
1038283/7 <447> < Raden Mas Kuswardi [Hb.6.20.2.2]
1039284/7 <447> < Raden Mas Kusdiyo [Hb.6.20.2.3]
1040285/7 <447> < Raden Ajeng Kodamah [Hb.6.20.2.4]
1041286/7 <447> < Raden Ajeng Kustiyah [Hb.6.20.2.5]
1042287/7 <447> < Raden Ajeng Kustari [Hb.6.20.2.6]
1043288/7 <447> < Raden Mas Kusno / Raden Rio Condroseputro [Hb.6.20.2.7] (Raden Wedono Mudodikusno)
1044289/7 <447> < Raden Ajeng Jalinah [Hb.6.20.2.8] (Raden Ayu Projosudibyo)
1045290/7 <447> < Raden Mas Kusnadi [Hb.6.20.2.9] (Kanjeng Pangeran Tumenggung Padmonegoro)
1046291/7 <447> < Raden Mas Sudarsono [Hb.6.20.2.10]
1047292/7 <409+1025!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Wahyorini [Hb.8.35]
1048293/7 <409+1025!> < Bendoro Raden Ayu Siti Sutarsih
1049294/7 <409+1025!> < Bendoro Raden Mas Sunuwoto [Hb.8.30] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo) 1050295/7 <522> < Raden Jayeng Lengkoro [Hb.3.2.7.1.1.1]
1051296/7 <542> < Raden Roro Sunarsasi [Hb.3.2.18.6.6.1]
1052297/7 <542> < Raden Roro Susiwi [Hb.3.2.18.6.6.2]
1053298/7 <542> < Raden Roro Susanti [Hb.3.2.18.6.6.3]
1054299/7 <554> < Raden Mas Agoes Budiarto [Hb.5.9.3.1]
1055300/7 <554> < Raden Ayu Tuti Sulastri [Hb.5.9.3.2]
1056301/7 <554> < Raden Ayu Agoes Anwari [Hb.5.9.3.3]
1057302/7 <554> < Raden Mas Agoes Wiradat [Hb.5.9.3.4]
1058303/7 <554> < Raden Ayu Ien Harsini [Hb.5.9.3.5]
1059304/7 <554> < Raden Ayu Siti Waito Sahid Sudarjo Hadi Atmojo [Hb.5.9.3.6]
1060305/7 <539> < Raden Rusbani Notonegoro [Hb.3.2.18.6.3.1]
1061306/7 <539> < Raden Roro Marliah [Hb.3.2.18.6.3.2]
1062307/7 <539> < Raden Roro Kubariah [Hb.3.2.18.6.3.3]
1063308/7 <539> < Raden Mujono Projoprawiro [Hb.3.2.18.6.3.4]
1064309/7 <539> < Raden Sudono [Hb.3.2.18.6.3.5]
1065310/7 <539> < Raden Roro Rundiah [Hb.3.2.18.6.3.6]
1066311/7 <539> < Raden Mutrisno Murdodiningrat [Hb.3.2.18.6.3.7]
1067312/7 <539> < Kanjeng Raden Tumenggung Puspo Harsono [Hb.3.2.18.6.3.8]
1068313/7 <539> < Raden Nganten Muning Mariah Joyodiningrat [Hb.3.2.18.6.3.9]
1069314/7 <539> < Raden Nganten Surasmiah Joyodiningrat [Hb.3.2.18.6.3.10]
1070315/7 <540> < Kanjeng Raden Tumenggung Pringgokusumo [Hb.3.2.18.6.4.1] 1071316/7 <540> < Raden Nganten Sastrotanoyo [Hb.3.2.18.6.4.2]
1072317/7 <540> < Raden Oepomo [Hb.3.2.18.6.4.3] 1073318/7 <540> < Raden Roro Oemirati [Hb.3.2.18.6.4.4]
1074319/7 <540> < Raden Nganten Oemiyati Imam Duryat [Hb.3.2.18.6.4.5]
1075320/7 <540> < Raden Oesodo [Hb.3.2.18.6.4.6] 1076321/7 <540> < Raden Oetoyo [Hb.3.2.18.6.4.7] 1077322/7 <540> < Raden Nganten Oeminah Soemitro [Hb.3.2.18.6.4.8]
1078323/7 <540> < Raden Oetariyo [Hb.3.2.18.6.4.9] ? (Pamuji) 1079324/7 <540> < Raden Roro Oediyat [Hb.3.2.18.6.4.10]
1080325/7 <540> < Raden Oediyati [Hb.3.2.18.6.4.11]
1081326/7 <540> < Raden Oediyono [Hb.3.2.18.6.4.12]
1082327/7 <508+251> < Raden Ayu Brotojoyo [Hb.7.27.12] 1083328/7 <559> < Raden Ayu Santimah Ismangun [Hb.3.2.22.1.1.1] 1084329/7 <559> < Raden Ayu Soetimah/ [Hb.3.2.22.1.1.2] 1085330/7 <559+215> < Raden Mas Suryo Soeyadi [Hb.3.2.22.1.1.3] 1086331/7 <559+215> < Raden Ayu Soemiati / [Hb.3.2.22.1.1.4] 1087332/7 <559+215> < Raden Ayu Soekartini / [Hb.3.2.22.1.1.5] 1089334/7 <559+215> < Raden Ayu Soemarsinah Moestiono [Hb.3.2.22.1.1.7] 1090335/7 <559> < Raden Ayu Soewarni / [Hb.3.2.22.1.1.8] 1091336/7 <559> < Raden Mas Soewardi [Hb.3.2.22.1.1.9] 1092337/7 <559> < Raden Mas Soebronto [Hb.3.2.22.1.1.10] 1093338/7 <560> < Raden Nganten Surorejoso [Hb.3.8.1.1.1.1] 1094339/7 <561+254> < Raden Roro Suwarti [Hb.3.14.1.1.1.1]
1095340/7 <561+254> < Raden Roro Sajeki [Hb.3.14.1.1.1.2]
1096341/7 <561+254> < Raden Roro Marsuti [Hb.3.14.1.1.1.3]
1097342/7 <561+254> < Raden Sanyoto [Hb.3.14.1.1.1.4]
1098343/7 <561+254> < Raden Sugiarto [Hb.3.14.1.1.1.5]
1099344/7 <561+254> < Raden Sriharto [Hb.3.14.1.1.1.6]
1100345/7 <561+254> < Raden Mulyarto [Hb.3.14.1.1.1.7]
1101346/7 <561+254> < Raden Berbudi [Hb.3.14.1.1.1.8]
1102347/7 <561+254> < Raden Roro Sri Hartati [Hb.3.14.1.1.1.9]
1103348/7 <561+254> < Raden Roro Sunarti [Hb.3.14.1.1.1.10]
1104349/7 <569+255> < Raden Ajeng Indrati [Hb.3.14.3.2.5.1] / [Hb.6.8.5.1]
1105350/7 <569+255> < Raden Ajeng Astuti [Hb.3.14.3.2.5.2] / [Hb.6.8.5.2]
1106351/7 <569+255> < Raden Mas Purnawarman [Hb.3.14.3.2.5.3] / [Hb.6.8.5.3]
1107352/7 <569+255> < Raden Ajeng Sundari [Hb.3.14.3.2.5.4] / [Hb.6.8.5.4]
1108353/7 <569+255> < Raden Mas Maliawan [Hb.3.14.3.2.5.5] / [Hb.6.8.5.5]
1109354/7 <569+255> < Raden Mas Harymawan [Hb.3.14.3.2.5.6] / [Hb.6.8.5.6]
1110355/7 <577+256> < Roro Indah Resturianny [Hb.3.19.2.1.6.2]
1111356/7 <577+256> < Raden Rendra Setiaji [Hb.3.19.2.1.6.3]
1112357/7 <577+256> < Raden Nganten Renny Kiranawati [Hb.3.19.2.1.6.1]
1113358/7 <581+257> < Raden Dibyo Hardjoso [Hb.3.26.2.1.4.1]
1114359/7 <581+257> < Raden Nganten Pangarsi [Hb.3.26.2.1.4.2]
1115360/7 <581+257> < Raden Atmotaruno [Hb.3.26.2.1.4.3]
1116361/7 <581+257> < Raden Nganten Siti Jumani [Hb.3.26.2.1.4.4]
1117362/7 <581+257> < Raden Dharono [Hb.3.26.2.1.4.5]
1118363/7 <581+257> < Raden Rahardjo [Hb.3.26.2.1.4.6] 1119364/7 <584> < Raden Nganten Sriastuti Purnomo [Hb.3.27.2.1.1.1]
1120365/7 <585+258> < Raden Roro Yetti Budiantami [Hb.3.28.13.2.1.1]
1121366/7 <586+259> < Raden Agus Budianto [Hb.3.28.13.1.1.1]
1122367/7 <586+259> < Raden Arya Okto Budhy Hardoko [Hb.3.28.13.1.1.2]
1123368/7 <586+259> < Raden Nganten Enggar Tati Budhy Hendarti [Hb.3.28.13.1.1.3]
1124369/7 <588> < Raden Arwan Bauis [Hb.3.28.14.1.2.1]
1125370/7 <588> < Raden Durrozi [Hb.3.28.14.1.2.2]
1126371/7 <588> < Raden Hadinm [Hb.3.28.14.1.2.3]
1127372/7 <588> < Raden Mujib [Hb.3.28.14.1.2.4]
1128373/7 <588> < Raden Roro Junaroh [Hb.3.28.14.1.2.5]
1129374/7 <588> < Raden Iwik [Hb.3.28.14.1.2.6]
1130375/7 <598> < Raden Roro Suci Rahayu [Hb.3.28.14.3.5.1]
1131376/7 <598> < Raden Roro Tuti [Hb.3.28.14.3.5.2]
1132377/7 <598> < Raden Agus [Hb.3.28.14.3.5.5]
1133378/7 <598> < Raden Roro Endang Setiawan [Hb.3.28.14.3.5.6]
1134379/7 <598> < Raden Roro Marina [Hb.3.28.14.3.5.7]
1135380/7 <598> < Raden Rudi Setiawan [Hb.3.28.14.3.5.8]
1136381/7 <597> < Raden Joko [Hb.3.28.14.3.4.1]
1137382/7 <597> < Raden Baroto [Hb.3.28.14.3.4.2]
1138383/7 <597> < Raden Taufiq [Hb.3.28.14.3.4.3]
1139384/7 <596> < Raden Iskandar [Hb.3.28.14.3.3.1]
1140385/7 <596> < Raden Nganten Isfaiyah [Hb.3.28.14.3.3.2]
1141386/7 <596> < Raden Ishak [Hb.3.28.14.3.3.3] 1142387/7 <596> < Raden Roro Zunainah [Hb.3.28.14.3.3.4]
1143388/7 <596> < Raden Ikhlas [Hb.3.28.14.3.3.5]
1144389/7 <595> < Raden Jamzami [Hb.3.28.14.3.2.1]
1145390/7 <595> < Raden N. Hidayat S. [Hb.3.28.14.3.2.2]
1146391/7 <595> < Raden Nganten Nurhayati [Hb.3.28.14.3.2.3]
1147392/7 <595> < Raden Nganten Jumanah [Hb.3.28.14.3.2.4]
1148393/7 <595> < Raden Nganten Umayah [Hb.3.28.14.3.2.5]
1149394/7 <595> < Raden Baihaqi [Hb.3.28.14.3.2.6]
1150395/7 <595> < Raden Agus [Hb.3.28.14.3.2.7]
1151396/7 <594> < Raden Nganten Suhaniyah [Hb.3.28.14.3.1.1]
1152397/7 <594> < Raden Nganten Suwartini [Hb.3.28.14.3.1.2]
1153398/7 <594> < Raden Nganten Istiqomah [Hb.3.28.14.3.1.3]
1154399/7 <594> < Raden Nganten Barirohmah [Hb.3.28.14.3.1.4]
1155400/7 <594> < Raden Abdul Jalil [Hb.3.28.14.3.1.5]
1156401/7 <594> < Raden Abdul Hamid [Hb.3.28.14.3.1.6]
1157402/7 <599+600!> < Kanjeng Raden Tumenggung Mulyokusumo [Hb.4.9.1.1.1] / Kanjeng Raden Tumenggung Dodipuro [Hb.4.8.5.1.1]
1158403/7 <599+600!> < Kanjeng Raden Tumenggung Kromodeksono [Hb.4.9.1.1.2] / [Hb.4.8.5.1.2]
1159404/7 <601> < Raden Mas Abdul Kadir I [Hb.4.10.2.1.1]
1160405/7 <602+260> < Raden Ayu Sujinah Tablek Sastropertomo [Hb.4.13.1.1.1]
1161406/7 <639+261> < Kanjeng Raden Tumenggung Projodipuro [Hb.7.8.2] 1162407/7 <614+616!> < Raden Ayu Siti Jin Sunisai [Hb.6.5.1.1] / [Hb.7.10.1] 1163408/7 <614+616!> < Raden Mas Kewusnandar / Raden Panji Partodigdoyo [Hb.6.5.1.4] / [Hb.7.10.4]
1164409/7 <614+616!> < Raden Ayu Siti Sri Handinah S. [Hb.6.5.1.3] / [Hb.7.10.3] 1165410/7 <614+616!> < Raden Mas Yusupadi [Hb.6.5.1.2] / [Hb.7.10.2] 1166411/7 <409+895!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kuswanayi [Hb.8.17] (Gusti Bendoro Raden Ayu Cokrodiningrat) 1167412/7 <448+617!> < Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat [Hb.7.20.8] (Bendoro Raden Mas Sayidu) 1168413/7 <613+615!> < Raden Ayu Purbaningrum [Ga.Hb.7.20.5] [Hb.6.5.2.2] 1169414/7 <617+1168!> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sabikatun [Hb.7.20.26]
1170415/7 <617+194> < Bendoro Raden Mas Mausofi [Hb.7.20.30]
1171416/7 <617+194> < Bendoro Raden Mas Mashurun [Hb.7.20.19]
1172417/7 <617+194> < Bendoro Raden Mas Kolonel [Hb.7.20.7] (Bendoro Kanjeng Raden Tumenggung Riyokusumo)
1173418/7 <617+194> < Bendoro Raden Mas Sukadari [Hb.7.20.9] (Bendoro Kanjeng Raden Tumenggung Cokronegoro)
1174419/7 <617+194> < Bendoro Raden Mas Mukeyan [Hb.7.20.13]
1175420/7 <617+194> < Bendoro Raden Mas Kabinulngaskari [Hb.7.20.14]
1176421/7 <617+194> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sulatun [Hb.7.20.24] 1177422/7 <617+194> < Bendoro Raden Mas Hertog [Hb.7.20.20]
1178423/7 <617+194> < Bendoro Raden Ajeng Siti Mustokirun [Hb.7.20.17] (Bendoro Raden Ayu Hangabehi) 1179424/7 <617+194> < Bendoro Raden Mas Saluku [Hb.7.20.11] (Bendoro Kanjeng Raden Tumenggung Purbodiningrat)
1180425/7 <617+194> < Bendoro Raden Mas Wafirulkotrari [Hb.7.20.4] 1181426/7 <613+615!> < Raden Mas Sulalonkorn [Hb.6.5.2.3]
1182427/7 <613+615!> < Raden Ayu Hadikusumo Sepuh [Gp.Hb.7.58.1] [Hb.6.5.2.4] 1183428/7 <623> < Raden Ayu Hadikusumo Enem [Gp.Hb.7.58.2] [Hb.6.9.7.3] 1184429/7 <503+1182!> < Raden Mas Ngaskarun [Hb.7.58.1] (Kanjeng Raden Tumenggung Purbokusumo)
1185430/7 <503+1182!> < Raden Ajeng Suwasti [Hb.6.5.2.4.2] [Hb.7.58.5] (Raden Ayu Suryosumarno) 1186431/7 <610+612!> < Raden Ajeng Niken Raketan [Hb.6.5.4.3] / Raden Ayu Santosa Harsono
1187432/7 <607+1161!> < Raden Mas Bani [Hb.6.5.7.1]
1188433/7 <607+1161!> < Raden Mas Mitpangun [Hb.6.5.7.2]
1189434/7 <607+1161!> < Raden Ayu Parul Projodiningrat [Hb.6.5.7.3]
1192435/7 <413+218> < Raden Mas Oetarjo Notodirdjo [Hb.6.17.4.5] 1193436/7 <413+218> < Raden Ayu Utami Notodirjo [Hb.6.17.4.4]
1197437/7 <697> < Raden Ayu Atasti [Hb.6.18.4.10] 1198438/7 <618> < Raden Ayu Sosrowiryono [Hb.6.9.1.1]
1199439/7 <618> < Raden Ayu Jayengprakoso [Hb.6.9.1.2]
1200440/7 <618> < Raden Ayu Purwosudarmo [Hb.6.9.1.3]
1201441/7 <618> < Raden Ajeng Muskasiyah [Hb.6.9.1.4]
1202442/7 <624> < Raden Ayu Pringgosastrosutadikusno [Hb.6.9.8.1] 1203443/7 <625> < Raden Mas Murhadiningrat [Hb.6.9.9.1]
1204444/7 <498+183> < Raden Ajeng Sukilah [Hb.6.10.1] (Raden Ayu Sukiyi) 1205445/7 <626> < Raden Mas Atmowijoyo [Hb.6.9.11.1]
1206446/7 <626> < Kanjeng Raden Tumenggung Kuncorohadiningrat [Hb.6.9.11.2]
1207447/7 <627> < Raden Ayu Harjowisastro [Hb.6.9.12.1]
1208448/7 <627> < Raden Ayu Kusumowidagdo [Hb.6.9.12.2]
1209449/7 <627> < Raden Ayu Dirjosukarto [Hb.6.9.12.3]
1210450/7 <629> < Raden Mas Satrioraharjo [Hb.6.9.14.10]
1211451/7 <629> < Raden Ayu Sumarman [Hb.6.9.14.9]
1212452/7 <629> < Raden Ajeng Kussaptoruji [Hb.6.9.14.8]
1213453/7 <629> < Raden Ajeng Ismihari [Hb.6.9.14.7]
1214454/7 <629> < Raden Ajeng Sitiwidayati [Hb.6.9.14.6]
1215455/7 <629> < Raden Mas Nukadar [Hb.6.9.14.5]
1216456/7 <629> < Raden Mas Suprapto [Hb.6.9.14.4]
1217457/7 <629> < Raden Nganten Yudosebrongto [Hb.6.9.14.3] 1218458/7 <629> < Raden Ajeng Susilastuti [Hb.6.9.14.2]
1220459/7 <630> < Raden Mas Suryokusumo [Hb.6.9.15.1]
1221460/7 <630> < Raden Mas Ismanji [Hb.6.9.15.10]
1222461/7 <630> < Raden Ayu Abdul Ali [Hb.6.9.15.9]
1223462/7 <630> < Raden Ayu Darmokusumo [Hb.6.9.15.8]
1224463/7 <630> < Raden Ayu Tjongok [Hb.6.9.15.7]
1225464/7 <630> < Raden Mas Suwarnido [Hb.6.9.15.6]
1226465/7 <630> < Raden Mas Djody Gondokusumo [Hb.6.9.15.5]
1227466/7 <630> < Raden Mas Sukra [Hb.6.9.15.3]
1228467/7 <630> < Raden Mas Suwarnio [Hb.6.9.15.4]
1229468/7 <630> < Raden Ayu Subono [Hb.6.9.15.2] 1230469/7 <502> < Raden Ayu Purbowinoto [Hb.7.1.1] 1231470/7 <423> < Kanjeng Pangeran Haryo Cakraningrat [Hb.6.11.1.1]
1232471/7 <423> < Raden Ayu Mangkudilogo [Hb.6.11.1.2]
1234473/7 <423> < Raden Mas Joyodimurti [Hb.6.11.1.4]
1235474/7 <423> < Raden Ajeng Subiabtinah [Hb.6.11.1.5] (Raden Ayu Harsono)
1236475/7 <423> < Raden Mas Supomeleng [Hb.6.11.1.6]
1237476/7 <423> < Raden Mas Ngarjani [Hb.6.11.1.7]
1238477/7 <423> < Raden Ayu Ronggo Kusmen [Hb.6.11.1.8]
1239478/7 <423> < Raden Ajeng Siti Rahayu Widayatinah [Hb.6.11.1.9] (Raden Ayu Mashur Tejodiningrat) 1240479/7 <633> < Raden Panji Partowinoto [Hb.6.11.3.1]
1241480/7 <633> < Raden Ayu Brotosudirjo [Hb.6.11.3.2]
1242481/7 <633> < Raden Mas Henrich Van Roos [Hb.6.11.3.5]
1243482/7 <633> < Kanjeng Raden Tumenggung Prawirodiningrat [Hb.6.11.3.4]
1244483/7 <633> < Kanjeng Raden Tumenggung Prawirodirejo [Hb.6.11.3.3] 1245484/7 <742> < Raden Ayu Prawirodirjo [Hb.7.19.2] 1246485/7 <635+1230!> < Raden Ayu Yudoyono [Hb.6.11.5.1] [Hb.7.1.1.1]
1247486/7 <635+1230!> < Kanjeng Pangeran Haryo Purbowinoto II [Hb.6.11.5.2] [Hb.7.1.1.2] 1248487/7 <635+1230!> < Raden Bekel Sastroyuwono [Hb.7.1.1.8] (Raden Mas Teguh Bandarul Kabir)
1249488/7 <635+1230!> < Raden Bekel Atmowinarno [Hb.7.1.1.7]
1250489/7 <635+1230!> < Raden Ayu Subono [Hb.7.1.1.6]
1251490/7 <635+1230!> < Raden Bekel Purbodikoro [Hb.7.1.1.4]
1252491/7 <635+1230!> < Raden Ayu Siti Kumaryati [Hb.7.1.1.5] (Raden Ayu Mustejo)
1253492/7 <635+1230!> < Raden Panji Takyidunastri [Hb.7.1.1.3]
1254493/7 <637> < Raden Ayu Mangundipuro [Hb.6.11.7.1]
1255494/7 <638+1577!> < Kanjeng Pangeran Haryo Purwodiningrat [Hb.7.4.1.1] 1256495/7 <638+1577!> < Raden Ayu Labaningrat [Hb.6.11.8.2]
1257496/7 <638+1577!> < Raden Ayu Ronggo Kusnendar [Hb.6.11.8.3]
1258497/7 <638> < Raden Mas Suwarjono [Hb.6.11.8.4]
1259498/7 <638+1577!> < Raden Mas Atmosudibyo [Hb.6.11.8.5]
1260499/7 <638+1577!> < Raden Mas Lunggadung [Hb.6.11.8.6] (Raden Mas Mulasdi)
1261500/7 <638> < Raden Mas Sukirbeman [Hb.6.11.8.9]
1262501/7 <638> < Raden Ayu Salikun Dirjo Wiguno [Hb.6.11.8.8]
1263502/7 <638> < Raden Ajeng Siti Sutiyarti [Hb.6.11.8.7]
1264503/7 <543+651!> < Raden Ayu Gunopranoto [Hb.7.22.8]
1265504/7 <543+651!> < Raden Ayu Suryohalpito [Hb.7.22.7]
1266505/7 <543+651!> < Raden Ayu Prawirodiningrat [Hb.7.22.6]
1267506/7 <543+651!> < Raden Panji Partowiyono [Hb.7.22.2]
1268507/7 <543+651!> < Raden Bekel Suryohalpito [Hb.7.22.3]
1269508/7 <543+651!> < Raden Lurah Atmocondropuspito [Hb.7.22.4]
1270509/7 <543+651!> < Raden Ajeng Kusmaryati [Hb.7.22.5]
1271510/7 <543+651!> < Kanjeng Raden Tumenggung Sindurejo [Hb.7.22.1] 1272511/7 <642> < Raden Ajeng Kusretno Kasiyah [Hb.6.11.10.1]
1273512/7 <642> < Raden Mas Tamtanus [Hb.6.11.10.2]
1274513/7 <642> < Raden Mas Iskandar [Hb.6.11.10.3]
1275514/7 <642> < Raden Mas Sidarto [Hb.6.11.10.4]
1276515/7 <642> < Raden Ayu Sayidiyah Tanidipuro [Hb.6.11.10.5]
1277516/7 <544> < Raden Ajeng Kustinah [Hb.6.11.11.1]
1278517/7 <421> < Raden Mas Jamburutari [Hb.6.11.12.1]
1279518/7 <545> < Raden Ayu Kartodiprojo [Hb.6.11.13.1]
1280519/7 <545> < Raden Lurah Suryodiprojo II [Hb.6.11.13.2]
1281520/7 <545> < Raden Ayu Wirodiharjo [Hb.6.11.13.3]
1282521/7 <417> < Bendoro Raden Ajeng Ipji Dangunikri [Hb.6.11.14.1]
1283522/7 <417> < Bendoro Raden Mas Najatun Ngadiati [Hb.6.11.14.2]
1284523/7 <417> < Bendoro Raden Mas Solikut Takiyati [Hb.6.11.14.3]
1285524/7 <418> < Raden Bekel Atmonewoko [Hb.6.11.15.1]
1286525/7 <418> < Raden Ajeng Waskito [Hb.6.11.15.2]
1287526/7 <418> < Raden Mas Sumarsono [Hb.6.11.15.3]
1288527/7 <418> < Raden Ajeng Siti Mustinah [Hb.6.11.15.4] 1289528/7 <420+643!> < Raden Mas Maliki [Hb.6.11.17.1]
1290529/7 <420+643!> < Raden Ajeng Widyosastrodipuro [Hb.6.11.17.2]
1291530/7 <420+643!> < Raden Ajeng Atmosudibyo [Hb.6.11.17.3]
1292531/7 <420+643!> < Raden Nganten Noyoseputro [Hb.6.11.17.16]
1293532/7 <420+643!> < Raden Mas Ngantamil Manpirali Istihar [Hb.6.11.17.15]
1294533/7 <420+643!> < Raden Mas Joko [Hb.6.11.17.14]
1295534/7 <420+643!> < Raden Ajeng Siti Kurulwaswaskabil [Hb.6.11.17.13]
1296535/7 <420+643!> < Raden Ayu Suryoputro [Hb.6.11.17.12]
1297536/7 <420+643!> < Raden Bekel Suryohalpito [Hb.6.11.17.11]
1298537/7 <420+643!> < Raden Bekel Atmo Condrowiloyo [Hb.6.11.17.10]
1299538/7 <420+643!> < Raden Ajeng Siti Rohmani [Hb.6.11.17.9]
1300539/7 <420+643!> < Raden Lurah Atmo Condrodiprojo [Hb.6.11.17.8]
1301540/7 <420+643!> < Raden Wedana Joyoseputro [Hb.6.11.17.7]
1302541/7 <420+643!> < Raden Mas Raharjo [Hb.6.11.17.6]
1303542/7 <420+643!> < Raden Ajeng Siti Rupinah [Hb.6.11.17.5]
1304543/7 <420+643!> < Raden Mas Atmocondropuspito [Hb.6.11.17.4]
1305544/7 <420+643!> < Raden Ayu Suryosuparjo [Hb.6.11.17.17]
1306545/7 <546> < Raden Mas Rio Yosodipuro [Hb.6.11.20.1]
1307546/7 <546> < Raden Mas Kajakasari [Hb.6.11.20.2]
1308547/7 <546> < Raden Ajeng Siti Rukmi [Hb.6.11.20.3]
1309548/7 <546> < Raden Ayu Supardi [Hb.6.11.20.5]
1310549/7 <546> < Raden Mas Ibnu Umar [Hb.6.11.20.4]
1311550/7 <506+547!> < Raden Ajeng Siti Yubeyinu [Hb.7.17.25] (Raden Ayu Pusponegoro) 1312551/7 <506+547!> < Raden Mas Baninaslun [Hb.7.17.28] (Kanjeng Raden Tumenggung Danukusumo)
1313552/7 <506+547!> < Raden Mas Abimanyu [Hb.7.17.30] (Kanjeng Raden Tumenggung Reksokusumo)
1314553/7 <506+547!> < Raden Ajeng Kustamtinah [Hb.7.17.33] (Raden Ayu Sinduseputro) 1315554/7 <506+547!> < Raden Mas Darmadi [Hb.7.17.35]
1316555/7 <548> < Raden Mas Satryo Raharjo [Hb.6.11.23.4]
1317556/7 <548> < Raden Ajeng Sumarman [Hb.6.11.23.3]
1318557/7 <548> < Raden Ajeng Kussaptiriji [Hb.6.11.23..2]
1319558/7 <548> < Raden Ajeng Siti Widyowati [Hb.6.11.23.1]
1320559/7 <549> < Raden Ajeng Siti Sutyarti [Hb.6.11.24.1]
1321560/7 <549> < Raden Ajeng Siti Sujati [Hb.6.11.24.2]
1322561/7 <549> < Raden Mas Wiwoho [Hb.6.11.24.3]
1323562/7 <549> < Raden Ajeng Siti Suryati [Hb.6.11.24.7] 1324563/7 <549> < Raden Ajeng Siti Swati [Hb.6.11.24.5]
1325564/7 <549> < Raden Ajeng Siti Suhatining [Hb.6.11.24.6] 1326565/7 <549> < Raden Ajeng Siti Sudaryati [Hb.6.11.24.4] 1327566/7 <550> < Raden Mas Kuswarddhana [Hb.6.11.25.1] 1328567/7 <550> < Raden Ayu Yudonegoro [Hb.6.11.25.2]
1329568/7 <645> < Raden Mas Renessanu Isboi [Hb.6.11.27.8]
1330569/7 <645> < Raden Ajeng Siti Isbiyunu [Hb.6.11.27.6] (Raden Ayu Suharsono Hadikusumo) 1331570/7 <645> < Raden Mas Suroso Issuwandhono [Hb.6.11.27.7]
1332571/7 <645> < Raden Ajeng Siti Iswandari [Hb.6.11.27.5] 1333572/7 <645> < Raden Ayu Isbiyantirin [Hb.6.11.27.4]
1334573/7 <645> < Raden Ajeng Sosrokusumo [Hb.6.11.27.3]
1335574/7 <645> < Raden Mas Isbenu Katamsi [Hb.6.11.27.2]
1336575/7 <645> < Raden Mas Sidarta [Hb.6.11.27.1]
1337576/7 <653> < Raden Ajeng Darudewi Wahyuwidayati [Hb.6.11.28.2] 1338577/7 <653> < Raden Mas Puntodewo Cahyo Wahyudi [Hb.6.11.28.3]
1339578/7 <653> < Raden Ajeng Puntodewi Runtung Wahyuni [Hb.6.11.28.1]
1340579/7 <646> < Raden Ajeng Siti Kaharmiyah [Hb.6.11.29.1]
1341580/7 <646> < Raden Ajeng Siti Sumarti [Hb.6.11.29.2]
1342581/7 <646> < Raden Mas Jatiwirawan [Hb.6.11.29.3]
1343582/7 <646> < Raden Mas Irawan [Hb.6.11.29.4]
1344583/7 <646> < Raden Mas Joko Kusumo [Hb.6.11.29.5]
1345584/7 <646> < Raden Mas Basudewo [Hb.6.11.29.6]
1346585/7 <646> < Raden Ajeng Siti Kahariyah [Hb.6.11.29.7]
1347586/7 <646> < Raden Ajeng Siti Haryani [Hb.6.11.29.8] 1348587/7 <646> < Raden Mas Rupotolo [Hb.6.11.29.9]
1349588/7 <647+1641!> < Raden Ajeng Siti Roousmiyati [Hb.7.14.1] (Raden Ayu Jiteng Marsudi) 1350589/7 <647+1641!> < Raden Mas Roosmiyanto [Hb.7.14.2]
1351590/7 <647+1641!> < Raden Ajeng Siti Kisrunatini [Hb.7.14.3]
1352591/7 <647+1641!> < Raden Mas Ibnu Roosamsi [Hb.7.14.4]
1353592/7 <647+1641!> < Raden Mas Sumarooshaji [Hb.7.14.5]
1354593/7 <647+1641!> < Raden Mas Bonorassid [Hb.7.14.6]
1355594/7 <428+647!> < Raden Ajeng Siti Rokhyati Roosmiyatsih [Hb.7.14.7]
1356595/7 <696> < Raden Mas Suwahyohadi [Hb.6.18.45.1]
1357596/7 <696> < Raden Ajeng Atas Sriharjani [Hb.6.18.45.2]
1358597/7 <696> < Raden Mas Susetyohadi [Hb.6.18.45.3]
1359598/7 <659> < Raden Ajeng Suharmi [Hb.6.18.43.1]
1360599/7 <683> < Raden Ajeng Siti Kusumandari [Hb.6.18.21.1]
1361600/7 <683> < Raden Ajeng Siti Kusumastuti [Hb.6.18.21.2]
1362601/7 <682+264> < Raden Mas Atas Hariyono [Hb.6.18.20.1]
1363602/7 <682+264> < Raden Ajeng Atas Hariyani [Hb.6.18.20.5]
1364603/7 <682+264> < Raden Mas Atas Haripranowo [Hb.6.18.20.4]
1365604/7 <682+264> < Raden Mas Atas Haripranoto [Hb.6.18.20.3]
1366605/7 <682+264> < Raden Mas Atas Hariyanto [Hb.6.18.20.2]
1367606/7 <681> < Raden Ajeng Sri Rahayu [Hb.6.18.19.1]
1368607/7 <681> < Raden Ajeng Parlentien [Hb.6.18.19.2]
1369608/7 <677+1654!> < Raden Mas Sasongko Kumoro [Hb.7.20.15.1] 1370609/7 <677+1654!> < Raden Mas Suryo Kumoro [Hb.7.20.15.2]
1371610/7 <677+1654!> < Raden Ajeng Retno Kumoro [Hb.7.20.15.3]
1372611/7 <680> < Raden Mas Mustikojati [Hb.6.18.17.1]
1373612/7 <678> < Raden Mas Sudewo [Hb.6.18.16.2]
1374613/7 <678> < Raden Mas Dewobroto [Hb.6.18.16.3]
1375614/7 <678> < Raden Ajeng Utari [Hb.6.18.16.4]
1376615/7 <678> < Raden Mas Susanto [Hb.6.18.16.5]
1377616/7 <678> < Raden Ajeng Kusumaryarti [Hb.6.18.16.1]
1378617/7 <678> < Raden Ajeng Farida Muryati [Hb.6.18.16.7]
1379618/7 <678> < Raden Ajeng Wahyuwiyati [Hb.6.18.16.6]
1380619/7 <680> < Raden Ajeng Susiloretno [Hb.6.18.17.2]
1381620/7 <680> < Raden Ajeng Sukretiyowati [Hb.6.18.17.3]
1382621/7 <680> < Raden Ajeng Sridonoharti [Hb.6.18.17.4]
1383622/7 <680> < Raden Mas Jatmikohadi [Hb.6.18.17.5]
1384623/7 <680> < Raden Ajeng Kuswantiyotatmi [Hb.6.18.17.6]
1385624/7 <680> < Raden Ajeng Sudarsini [Hb.6.18.17.8]
1386625/7 <680> < Raden Ajeng Iswarastuti [Hb.6.18.17.7]
1387626/7 <680> < Raden Ajeng Kusumodewati [Hb.6.18.17.9]
1388627/7 <676> < Raden Mas Usaeni [Hb.6.18.13.2]
1389628/7 <676> < Raden Ajeng Ispahano [Hb.6.18.13.1]
1390629/7 <679> < Raden Mas Arban [Hb.6.18.14.2]
1391630/7 <679> < Raden Mas Armianto [Hb.6.18.14.1]
1392631/7 <679> < Raden Ajeng Armiatun [Hb.6.18.14.3]
1393632/7 <679> < Raden Ajeng Armiati [Hb.6.18.14.4]
1394633/7 <679> < Raden Ajeng Armiastuti [Hb.6.18.14.5]
1395634/7 <679> < Raden Ajeng Ardiatun [Hb.6.18.14.6]
1396635/7 <679> < Raden Ajeng Ardaninggar [Hb.6.18.14.11]
1397636/7 <679> < Raden Mas Arianto [Hb.6.18.14.10]
1398637/7 <679> < Raden Mas Ardianto [Hb.6.18.14.9]
1399638/7 <679> < Raden Ajeng Ardiati [Hb.6.18.14.8]
1400639/7 <679> < Raden Mas Ariseno [Hb.6.18.14.7]
1401640/7 <671> < Raden Mas Barlow Sidhanti [Hb.6.18.12.1]
1402641/7 <671> < Raden Ajeng Bariori Atas Riati [Hb.6.18.12.2]
1403642/7 <671> < Raden Ayu Barnisriati [Hb.6.18.12.3]
1404643/7 <671> < Raden Mas Barnorianto [Hb.6.18.12.4]
1405644/7 <671> < Raden Ajeng Sri Suryati [Hb.6.18.12.5] 1406645/7 <671> < Raden Mas Bardio [Hb.6.18.12.13]
1407646/7 <671> < Raden Mas Barmono [Hb.6.18.12.12]
1408647/7 <671> < Raden Mas Bardono [Hb.6.18.12.11]
1409648/7 <671> < Raden Ajeng Barsiam [Hb.6.18.12.10]
1410649/7 <671> < Raden Ajeng Barri Hastuti [Hb.6.18.12.9]
1411650/7 <671> < Raden Mas Raharjo [Hb.6.18.12.7]
1412651/7 <671> < Raden Mas Kusumo Suprapto [Hb.6.18.12.8]
1413652/7 <671> < Raden Ajeng Sri Indarti [Hb.6.18.12.6]
1414653/7 <669> < Raden Ajeng Atas Waruti [Hb.6.18.11.5]
1415654/7 <669> < Raden Ajeng Atas Sriyati [Hb.6.18.11.4]
1416655/7 <669> < Raden Mas Supratiknyo [Hb.6.18.11.1]
1417656/7 <669> < Raden Mas Suhardiman [Hb.6.18.11.2]
1418657/7 <669> < Raden Ajeng Atas Suwartinah [Hb.6.18.11.3]
1419658/7 <666> < Raden Mas Surodi [Hb.6.18.8.1]
1420659/7 <658> < Raden Ajeng Atas Kartini [Hb.6.18.7.1]
1421660/7 <654> < Raden Mas Sakirdanmerski [Hb.6.18.1.1]
1422661/7 <654> < Raden Mas Sudiyanto [Hb.6.18.1.5]
1423662/7 <654> < Raden Ajeng Emperatrice [Hb.6.18.1.4]
1424663/7 <654> < Raden Mas Alberdien [Hb.6.18.1.3]
1425664/7 <654> < Raden Mas Danurdono [Hb.6.18.1.2]
1426665/7 <655> < Raden Mas Ibnusapari [Hb.6.18.2.1]
1427666/7 <655> < Raden Ajeng Sri Ambarkustin [Hb.6.18.2.5]
1428667/7 <655> < Raden Mas Ibnu Saipur [Hb.6.18.2.4]
1429668/7 <655> < Raden Mas Alwimalebari [Hb.6.18.2.3]
1430669/7 <655> < Raden Ajeng S. Sajarahbanun [Hb.6.18.2.2]
1431670/7 <422> < Raden Mas Sudomo [Hb.6.18.3.3]
1432671/7 <422> < Raden Ajeng Niniek [Hb.6.18.3.1]
1433672/7 <422> < Raden Ajeng Kustanti [Hb.6.18.3.2]
1434673/7 <422> < Raden Ajeng Suwasti [Hb.6.18.3.4]
1435674/7 <422> < Raden Ajeng Sriana [Hb.6.18.3.5]
1436675/7 <422> < Raden Mas Harjosubroto [Hb.6.18.3.6] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodiningrat) 1437676/7 <422> < Raden Mas Harjowiono [Hb.6.18.3.7]
1438677/7 <422> < Raden Ajeng Constantien [Hb.6.18.3.8]
1439678/7 <422> < Raden Mas Mustolo [Hb.6.18.3.9]
1440679/7 <422> < Raden Mas Harjo Seputro [Hb.6.18.3.10]
1441680/7 <422+501!> < Raden Mas Samsurohini [Hb.7.54.1] 1442681/7 <422+501!> < Raden Mas Mursanto [Hb.7.54.2]
1443682/7 <422+501!> < Raden Mas Sakuntolo [Hb.7.54.3]
1444683/7 <422+501!> < Raden Ajeng Suyadilah [Hb.7.54.4] 1445684/7 <698+212> < Raden Mas Sardono [Hb.7.68.4] 1446685/7 <422+501!> < Raden Ayu Suyatilah [Hb.7.54.5]
1447686/7 <422> < Raden Mas Jatiprakoso [Hb.6.18.3.2.4]
1448687/7 <422> < Raden Mas Jatiprayitno [Hb.6.18.3.2.5]
1449688/7 <656> < Raden Ajeng S. Sutarin [Hb.6.18.6.1]
1450689/7 <697> < Raden Ajeng Utarin [Hb.6.18.4.1] (Raden Ayu Satochid Kartanegara) 1451690/7 <697> < Raden Mas Umarsono Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.2]
1452691/7 <697> < Raden Mas Ariono Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.4]
1453692/7 <697> < Raden Mas Hadiono Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.3]
1454693/7 <697> < Raden Ajeng Utariah [Hb.6.18.4.5] (Raden Ayu Sudirman Kartohadiprojo) 1455694/7 <697> < Raden Mas Sutodo Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.6]
1456695/7 <697> < Raden Mas Utopo Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.7]
1457696/7 <697> < Raden Ajeng Atashari [Hb.6.18.4.11] (Raden Ayu Martono)
1458697/7 <697> < Raden Mas Usadarto Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.12]
1459698/7 <697> < Raden Ajeng Subanjirah [Hb.6.18.4.8] (Raden Ayu Wignyosuparto)
1460699/7 <697> < Raden Mas Moorianto Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.9] 1461700/7 <657> < Raden Ajeng Sadariah [Hb.6.18.5.1] ? (Raden Ayu Sumitro) 1462701/7 <657> < Raden Mas Rustamaji
1463702/7 <657> < Raden Ajeng Ayu Sri Chayati [Hb.6.18.5.3] ? (Raden Ayu Darmasto H. Panular) 1464703/7 <657> < Raden Ajeng Sri Kustilah
1465704/7 <657> < Raden Mas Rachim [Hb.6.18.5.5] ? (Louis Van S)
1466705/7 <657> < Raden Mas Sutarto [Hb.6.18.5.6]
1467706/7 <657> < Raden Mas Samsudi [Hb.6.18.5.7]
1468707/7 <656> < Raden Ajeng Sutariyah [Hb.6.18.6.2] ? (Raden Ayu Projodiningrat) 1469708/7 <656> < Raden Mas Herusutamto [Hb.6.18.6.3]
1470709/7 <656> < Raden Ajeng Siti Suwasti [Hb.6.18.6.4]
1471710/7 <656> < Raden Ajeng Maryati [Hb.6.18.6.5] ? (Raden Ayu Budiman) 1472711/7 <673+263> < Raden Mas Sumarsono [Hb.6.18.9.1]
1473712/7 <673+263> < Raden Mas Sudiono [Hb.6.18.9.2]
1474713/7 <673+263> < Raden Ajeng Atasasri [Hb.6.18.9.3] ? (Raden Ayu Muksis) 1475714/7 <673+263> < Raden Ajeng Atasamien [Hb.6.18.9.4] ? (Raden Ayu Hadinoto) 1476715/7 <673+263> < Raden Mas Sumantri [Hb.6.18.9.5]
1477716/7 <673+263> < Raden Mas Sudibyo [Hb.6.18.9.6]
1478717/7 <673+263> < Raden Mas Subari [Hb.6.18.9.7]
1479718/7 <673+263> < Raden Mas Suharyono [Hb.6.18.9.8]
1480719/7 <673+263> < Raden Ajeng Atas Asih [Hb.6.18.9.9] ? (Raden Ayu Hadikusumo) 1481720/7 <673+263> < Raden Mas Suwahyu Aji [Hb.6.18.9.10]
1482721/7 <667> < Raden Ajeng Karmiasih [Hb.6.18.10.1] (Raden Ayu Munoto Notokusumo) 1483722/7 <667> < Raden Ajeng Mustinah [Hb.6.18.10.2] (Raden Ayu Supangkat)
1484723/7 <667> < Raden Ajeng Musrinah [Hb.6.18.10.3] (Raden Ayu Suparto)
1485724/7 <667> < Raden Ajeng Musdilah [Hb.6.18.10.4] (Raden Ayu S. Reksodarmojo)
1486725/7 <667> < Raden Ajeng Musriati [Hb.6.18.10.5]
1487726/7 <667> < Raden Mas Mustopo [Hb.6.18.10.6]
1488727/7 <667> < Raden Mas Mustejo [Hb.6.18.10.7]
1489728/7 <667> < Raden Ajeng Mustiyah [Hb.6.18.10.8] (Raden Ayu Guharsono) 1490729/7 <667> < Raden Mas Mustaji [Hb.6.18.10.9]
1491730/7 <667> < Raden Mas Musigit [Hb.6.18.10.10]
1492731/7 <505+241> < Kanjeng Raden Tumenggung Jayaningrat [Hb.7.13.8] 1493732/7 <508+246> < Kanjeng Raden Tumenggung Condrodiningrat [Hb.7.27.1] (Raden Mas Ongkowijoyo) 1494733/7 <472+233> < Raden Mas Alfonds [Hb.6.20.28.1]
1495734/7 <472+233> < Raden Ajeng Suul [Hb.6.20.28.2]
1496735/7 <472+233> < Raden Ajeng Augusta [Hb.6.20.28.3]
1497736/7 <704+265> < Raden Ayu Kusrento Kasiah [Hb.6.23.2.1]
1498737/7 <704+265> < Raden Mas Tamtanus [Hb.6.23.2.2]
1499738/7 <704+265> < Raden Mas Iskandar [Hb.6.23.2.3]
1500739/7 <704+265> < Raden Mas Sidarto [Hb.6.23.2.4]
1501740/7 <704+265> < Raden Ayu Sayidiyah Tanidipuro [Hb.6.23.2.5]
1502741/7 <705> < Raden Ayu Agustinah [Hb.6.23.4.1]
1503742/7 <705> < Raden Mas Suripto [Hb.6.23.4.2]
1504743/7 <705> < Raden Mas Danang [Hb.6.23.4.3]
1505744/7 <706> < Raden Ayu Umayi Prayitno [Hb.6.23.3.1]
1506745/7 <706> < Kanjeng Raden Mas Tumenggung Umoyo Padmodipuro [Hb.6.23.3.2]
1507746/7 <623> < Raden Ayu Harjoatmojo [Hb.6.9.7.1]
1508747/7 <623> < Raden Ayu Harjokusumo [Hb.6.9.7.2]
1509748/7 <623> < Raden Ayu Sumekto [Hb.6.9.7.4]
1510749/7 <623> < Raden Ayu Legosuhoto [Hb.6.9.7.5]
1511750/7 <623> < Kanjeng Pangeran Haryo Mangunkusumo [Hb.6.9.7.6] 1512751/7 <427> < Raden Mas Pringgo Sastrosutadikusno [Hb.6.9.4.5] 1513752/7 <502+236> < Raden Ayu Purboningrat [Hb.7.1.2]
1514753/7 <502+236> < Raden Ayu Suryo Subianto [Hb.7.1.3]
1515754/7 <502+236> < Raden Ayu Purbo Sudibyo [Hb.7.1.4]
1516755/7 <502+237> < Kanjeng Raden Tumenggung Brotodiprojo [Hb.7.1.6]
1517756/7 <502+236> < Raden Ayu Notoprajarto [Hb.7.1.5]
1518757/7 <502+237> < Kanjeng Raden Tumenggung Dipodiningrat [Hb.7.1.7]
1519758/7 <502+238> < Raden Ayu Dewi Marzuki [Hb.7.1.8]
1520759/7 <502+238> < Raden Ayu Sudiyat [Hb.7.1.9]
1521760/7 <502> < Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodiprojo [Hb.7.1.10]
1522761/7 <502> < Raden Ayu Suwahyo [Hb.7.1.11]
1523762/7 <745+746!> < Raden Mas Ngaskarul Sujangi [Hb.7.76.4]
1524763/7 <745+746!> < Raden Mas Lenggana [Hb.7.76.3]
1525764/7 <745+746!> < Raden Ajeng Sriwiyati [Hb.7.76.2]
1526765/7 <745+746!> < Raden Ajeng Nuning Warini [Hb.7.76.1]
1527766/7 <747+270> < Bendoro Raden Ayu Murdaningrat [Hb.7.74.3]
1528767/7 <747+270> < Raden Ajeng Siti Kismardewi [Hb.7.74.1]
1529768/7 <707+1511!> < Raden Ajeng Siti Onengan [Hb.7.71.6] (Raden Ayu Sutatwo Hadiwigeno) 1530769/7 <707+1511!> < Raden Mas Supono [Hb.7.71.5] (Kanjeng Raden Tumenggung Hastono Negoro)
1531770/7 <707+1511!> < Raden Mas Sucitro [Hb.7.71.4]
1532771/7 <707+1511!> < Raden Mas Widotomo [Hb.7.71.3]
perkawinan: <408> < Hartati Widotomo d. 7 Februari 2024
1533772/7 <707+1511!> < Raden Mas Swayitno [Hb.7.71.2]
1534773/7 <707+1511!> < Bendoro Raden Ayu Benowo [Hb.7.71.1] 1535774/7 <765+180> < Raden Ayu Hadinegoro Enem [Gp.Hb.7.68.2] Raden Ajeng Ismusiratun 1537775/7 <698+1535!> < Raden Mas Nirantoro [Hb.7.68.14]
1538776/7 <698+1535!> < Raden Mas Sinangjono [Hb.7.68.13]
1539777/7 <698+1535!> < Raden Ajeng Harjanti [Hb.7.68.12] (Raden Ayu Sumbogo) 1540778/7 <698+1535!> < Raden Ajeng Suparwati [Hb.7.68.11] (Raden Ayu Kuncoro) 1541779/7 <698+1535!> < Raden Ajeng Srimulat [Hb.7.68.10] (Raden Ayu Widarso) 1543780/7 <698+1535!> < Raden Mas Rimawan [Hb.7.68.8]
1544781/7 <698+1535!> < Raden Ajeng Siti Sunarti [Hb.7.68.7] (Raden Ayu Hambarjan) 1545782/7 <698+1535!> < Raden Ajeng Ismarpinjun Kastupi [Hb.7.68.6] (Raden Ayu Suwanto Singaranu) 1546783/7 <698+212> < Raden Ajeng Siti Sumarti [Hb.7.68.5]
1547784/7 <698+212> < Raden Mas Sutrisno [Hb.7.68.3]
1548785/7 <698+212> < Raden Mas Sutiyanto [Hb.7.68.2]
1549786/7 <698+212> < Raden Mas Asimkuwari [Hb.7.68.1]
1550787/7 <503+1183!> < Raden Mas Kesowo [Hb.7.58.4]
1551788/7 <503+1183!> < Raden Ajeng Widayat Sumalyo [Hb.7.58.2]
1552789/7 <503+1182!> < Raden Mas L. Sayoko [Hb.7.58.3]
1553790/7 <503+1183!> < Raden Ajeng Sri Sahuti [Hb.7.58.6]
1554791/7 <503+1183!> < Raden Mas Danisworo [Hb.7.58.7]
1555792/7 <503+1183!> < Raden Ajeng Srie Haryati [Hb.7.58.8] (Raden Ayu Gandhi Purno) 1556793/7 <503+1182!> < Raden Ajeng Suparmi [Hb.7.58.9] (Raden Ayu Kusumo Widayat) 1557794/7 <748+289> < Raden Mas Winoto Parartho [Hb.7.56.4]
1558795/7 <748+289> < Raden Ajeng Musjati [Hb.7.56.3] (Raden Ayu Suryowinoto) 1559796/7 <748+289> < Raden Ajeng Nuryati [Hb.7.56.2] (Raden Ayu Sutratmo Hadisusanto) 1560797/7 <748+289> < Raden Ajeng Nurini [Hb.7.56.1] (Raden Ayu Suryokusumo) 1561798/7 <716+270> < Raden Ayu Condrohalpito [Hb.7.47.1]
1562799/7 <716+270> < Raden Ayu Puspodiningrat [Hb.7.47.2]
1563800/7 <716+270> < Kanjeng Raden Tumenggung Brongtodiningrat [Hb.7.47.3]
1564801/7 <716+270> < Raden Mas Ruslanu Danurusamsi [Hb.7.47.4]
1565802/7 <716+270> < Raden Ajeng Sumiyarti [Hb.7.47.5]
1566803/7 <716+270> < Raden Mas Sutresno [Hb.7.47.6]
1567804/7 <716+270> < Raden Mas Rudhatin [Hb.7.47.7]
1568805/7 <718> < Raden Ajeng Palentinah [Hb.7.45.5]
1569806/7 <718> < Raden Ayu Karloon [Hb.7.45.3]
1570807/7 <718> < Raden Mas Suryo Sucipto [Hb.7.45.2]
1571808/7 <718> < Raden Ajeng Sumarsih [Hb.7.45.4] (Raden Ayu M. Sarlono) 1572809/7 <718> < Raden Mas Yordan [Hb.7.45.1] (Raden Lurah Condrolukito)
1573810/7 <742> < Raden Mas Basuki [Hb.7.19.4]
1574811/7 <742> < Raden Ayu Suryaningprang [Hb.7.19.3]
1575812/7 <742+284> < Raden Ajeng Suharti [Hb.7.19.1] (Bendoro Raden Ayu Suryohamijoyo) 1576813/7 <505+240> < Raden Lurah Hatmosuwarno [Hb.7.13.3]
1577814/7 <500+235> < Raden Ayu Wiroguno [Hb.7.4.1] 1578815/7 <500+235> < Kanjeng Raden Tumenggung Poncokusumo [Hb.7.4.2]
1579816/7 <500+235> < Raden Mas Atmo Tjondropawiro [Hb.7.4.4]
1580817/7 <500+235> < Raden Ayu Danuningrat [Hb.7.4.7]
1581818/7 <500+235> < Kanjeng Raden Tumenggung Joyowinoto [Hb.7.4.10]
1582819/7 <500+235> < Kanjeng Raden Tumenggung Pusponegoro [Hb.7.4.9] 1583820/7 <500+235> < Kanjeng Raden Tumenggung Nitinegoro [Hb.7.4.8]
1584821/7 <500+235> < Raden Ayu Ambar Kusumo [Hb.7.4.6] (Raden Ayu Danudirjo)
1585822/7 <500+235> < Raden Ayu Danusewoyo [Hb.7.4.5]
1586823/7 <500+235> < Raden Ayu Mangun Prawiro Wiguno [Hb.7.4.3]
1587824/7 <505+239> < Raden Lurah Atmocondrodipuro [Hb.7.13.1]
1588825/7 <505+241> < Raden Mas Sudarmojo [Hb.7.13.2]
1589826/7 <505+239> < Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodipuro [Hb.7.13.4]
1590827/7 <505+239> < Raden Rio Kusumoatmojo [Hb.7.13.5]
1591828/7 <505+240> < Raden Wedono Kawindrogupito [Hb.7.13.7]
1592829/7 <505+244> < Raden Ayu Kaharkusmen [Hb.7.13.6]
1593830/7 <505+245> < Raden Mas Suarli [Hb.7.13.14]
1594831/7 <505+243> < Raden Ngabehi Puspopertomo [Hb.7.13.9]
1595832/7 <505+241> < Raden Ayu Wiryoatmojo [Hb.7.13.13]
1596833/7 <505+241> < Raden Ayu Kartosudirjo [Hb.7.13.10]
1597834/7 <505+239> < Raden Lurah Atmocondrosebdo [Hb.7.13.11]
1598835/7 <505+243> < Raden Rio Mandoyoseputro [Hb.7.13.12]
1599836/7 <505+243> < Raden Ajeng Suhatijah [Hb.7.13.15] (Raden Ayu Dibyoharjono) 1600837/7 <505+242> < Raden Mas Suhadiyo [Hb.7.13.28]
1601838/7 <505+245> < Raden Rio Mandoyoseputro [Hb.7.13.27]
1602839/7 <505+243> < Raden Mas Sumaji [Hb.7.13.26]
1603840/7 <505+755!> < Raden Mas Rio Condrodiningrat [Hb.7.13.25]
1604841/7 <505+755!> < Raden Mas Menot [Hb.7.13.24]
1605842/7 <505+243> < Raden Ayu Achmad Dahlan [Hb.7.13.23]
1606843/7 <505+755!> < Raden Mas Yataskiru / Jonggrang [Hb.7.13.22]
1607844/7 <505+239> < Raden Panji Joyosetejo [Hb.7.13.21]
1608845/7 <505+755!> < Raden Ajeng Suhadijah [Hb.7.13.20]
1609846/7 <505+243> < Kanjeng Raden Tumenggung Yudaningrat [Hb.7.13.19]
1610847/7 <505+241> < Raden Ayu Daryono [Hb.7.13.17]
1611848/7 <505+245> < Raden Bagus Atmocondrokukilo [Hb.7.13.16]
1612849/7 <732+279> < Raden Mas Sinduseputro [Hb.7.31.1] (Raden Mas Jonkheer Marineer) 1613850/7 <506+186> < Raden Ajeng Siti Suharjinah [Hb.7.17.1] (Raden Ayu Pringgowiyono)
1614851/7 <506+186> < Raden Ajeng Siti Hardiyah [Hb.7.17.2] (Raden Ayu Kasto)
1615852/7 <506+186> < Raden Mas Sudarmadi [Hb.7.17.4] (Raden Lurah Atmokusumo)
1616853/7 <506+187> < Raden Mas Sumradono [Hb.7.17.6]
1617854/7 <506+187> < Raden Ajeng Siti Martiyah [Hb.7.17.7]
1618855/7 <506+189> < Raden Ajeng Siti Suminarjinah [Hb.7.17.12]
1619856/7 <506+187> < Raden Mas Wisnubroto [Hb.7.17.17]
1620857/7 <506+190> < Raden Mas Muryatmi [Hb.7.17.19]
1621858/7 <506+186> < Raden Mas Nayadi [Hb.7.17.20]
1622859/7 <506> < Raden Mas Wiyitmo [Hb.7.17.22]
1623860/7 <506+190> < Raden Mas Subardi [Hb.7.17.23] (Raden Wedono Atmocondroutomo)
1624861/7 <506+187> < Raden Mas Suyadi [Hb.7.17.26]
1625862/7 <506+186> < Raden Mas Sutiyardi [Hb.7.17.27] (Raden Bagus Atmosuryodiprojo)
1626863/7 <506+187> < Raden Ajeng Siti Partinah [Hb.7.17.29] (Raden Ayu Gondokusumo)
1627864/7 <506+192> < Raden Mas Sumardi [Hb.7.17.36] (Kanjeng Raden Tumenggung Hastonokusumo)
1628865/7 <506+185> < Raden Ajeng Siti Kadaretno [Hb.7.17.37]
1629866/7 <506+193> < Raden Ajeng Siti Isjarun [Hb.7.17.39] (Raden Ayu Notodiningrat)
1630867/7 <506+185> < Raden Ajeng Sri Kusumo [Hb.7.17.40] (Raden Ayu D. Susanto)
1631868/7 <506> < Raden Mas Alex Matram [Hb.7.17.41] (Raden Mas Sukoharjo)
1632869/7 <506> < Raden Ayu Constantia Sumekar [Hb.7.17.42]
1633870/7 <506+185> < Raden Ajeng Takiyatun [Hb.7.17.38] (Raden Ayu Warsonokusumo)
1634871/7 <506+185> < Raden Ajeng Puntorini [Hb.7.17.34] (Raden Ayu Sosrokusumo)
1635872/7 <506+190> < Raden Ajeng Siti Samtiyah [Hb.7.17.32] (Raden Ayu Jayengkusumo)
1636873/7 <506+186> < Raden Mas Daryadi [Hb.7.17.31] (Raden Bekel Atmocondrowardoyo)
1637874/7 <506+189> < Raden Ajeng Siti Kusumaningdyah [Hb.7.17.15] (Raden Ayu Cokrodipuro)
1638875/7 <506+187> < Raden Mas Gunardi [Hb.7.17.16] (Raden Lurah Projokusumo)
1639876/7 <506+187> < Raden Mas Kusnadi [Hb.7.17.21] (Raden Wedono Pringgosastrokusumo)
1640877/7 <506+191> < Raden Mas Jayadi [Hb.7.17.24] (Raden Mas Mangkuseputro)
1641878/7 <506+191> < Raden Mas Rusyadi [Hb.7.17.14] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodilogo) 1642879/7 <506+547!> < Raden Mas Gendroyono [Hb.7.17.13] (Raden Lurah Atmocondroatmojo)
1643880/7 <506+187> < Raden Ajeng Siti Samsinah [Hb.7.17.11] (Raden Ayu Sumaryokusumo)
1644881/7 <506+188> < Raden Ajeng Siti Samsiyah [Hb.7.17.10] (Raden Ayu Hendrobujono) 1645882/7 <506+187> < Raden Ajeng Siti Mukadar [Hb.7.17.9] (Raden Ayu Puspohasmoro)
1646883/7 <506+188> < Raden Ajeng Siti Samsirin [Hb.7.17.8] (Raden Ayu Suryosudirjo) 1647884/7 <506+188> < Raden Mas Sudayadi [Hb.7.17.5] (Kanjeng Pangeran Haryo Widyokusumo)
1648885/7 <506+187> < Raden Ajeng Siti Joharin [Hb.7.17.3] (Raden Ayu Puspodiprojo) 1649886/7 <506+187> < Raden Mas Sunardi [Hb.7.17.18] (Raden Lurah Atmocondrowinoto)
1650887/7 <617+195> < Bendoro Raden Ajeng Siti Putriyah [Hb.7.20.1] (Bendoro Raden Ayu Atmo Condrokusumo) 1651888/7 <617+195> < Bendoro Raden Ajeng Siti Suratkabirun [Hb.7.20.2] (Bendoro Raden Ayu Atmo Condroseputro) 1652889/7 <617+196> < Bendoro Raden Ayu Siti Kisari [Hb.7.20.6]
1653890/7 <617+196> < Bendoro Raden Ajeng Siti Suratun K. [Hb.7.20.10] (Bendoro Raden Ayu Mertonegoro)
1654891/7 <617+196> < Bendoro Raden Ajeng Siti Yukadiru [Hb.7.20.15] (Bendoro Raden Ayu Tirtodiningrat) 1655892/7 <617+196> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kasantani [Hb.7.20.21]
1656893/7 <617+197> < Bendoro Raden Mas Dulatussaripi [Hb.7.20.22]
1657894/7 <617+199> < Bendoro Raden Ajeng Ipji Dangunikri [Hb.7.20.23] (Bendoro Raden Ayu Nitidipuro)
1658895/7 <617+197> < Bendoro Raden Mas Rijalun [Hb.7.20.25]
1659896/7 <448+617!> < Bendoro Raden Mas Salikut Takijati [Hb.7.20.27]
1660897/7 <617+1168!> < Bendoro Raden Mas Nojatun [Hb.7.20.29]
1661898/7 <426> < Raden Mas Kusumo Malebari [Hb.7.24.2]
1662899/7 <426> < Raden Ajeng Soortiati [Hb.7.24.1]
1663900/7 <426> < Raden Mas Darudono Winoto K. [Hb.7.24.3]
1664901/7 <426+200> < Raden Ajeng Pratiwi [Hb.7.24.9] (Raden Ayu Kanuyoso Jatiwibowo) 1665902/7 <426+200> < Raden Ajeng Sri Sundari [Hb.7.24.8] (Raden Ayu Darmanto) 1666903/7 <426> < Raden Mas Ruslan [Hb.7.24.7] (Kanjeng Raden Tumenggung Purboseputro)
1667904/7 <426> < Raden Mas Rojeswenski [Hb.7.24.6] (Raden Mas Suryodiningrat)
1668905/7 <426> < Raden Ajeng Loorniati [Hb.7.24.5] (Raden Ayu Suharto Mangku Kawoco) 1669906/7 <426> < Raden Ajeng Roostiati [Hb.7.24.4] (Raden Ayu Gondokusumo)
1670907/7 <426+200> < Raden Ajeng Utari [Hb.7.24.10] (Raden Ayu Samudro)
1671908/7 <426+200> < Raden Ajeng Gendari [Hb.7.24.11] (Raden Ayu Apialul Jildi)
1672909/7 <426+200> < Raden Ajeng Kandihowo [Hb.7.24.16] (Raden Ayu Suharjo)
1673910/7 <426+200> < Raden Mas Fransiskus Josef Padyo [Hb.7.24.15]
1674911/7 <426+200> < Raden Mas Wisnu Wardhana [Hb.7.24.14]
1675912/7 <426+200> < Raden Mas Wasisto Suryodiningrat [Hb.7.24.13]
1676913/7 <426+200> < Raden Ajeng Trisnolo [Hb.7.24.12] (Raden Ayu Mustafa Rasyid) 1677914/7 <508+246> < Raden Ayu Sri Rahmani [Hb.7.27.4] (Raden Ayu Prawirodiningrat) 1678915/7 <508+246> < Raden Ayu Sarikirnen [Hb.7.27.2] (Raden Ayu Roestamdji Sorot) 1679916/7 <508+247> < Raden Ayu Widaninggar [Hb.7.27.3] (Raden Ayu Soedomo) 1680917/7 <409+203> < Bendoro Raden Mas Muposolukatini
1681918/7 <409+204> < Bendoro Raden Mas Ila ul-Kirami ? (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Murdaningrat)
1682919/7 <409+204> < Bendoro Raden Ajeng Siti Mutasangilun [Hb.8.12]
1683920/7 <409+204> < Bendoro Raden Mas Rasisulngaskari [Hb.8.22] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Bintoro)
1684921/7 <508+247> < Raden Ayu Sri Sutengsu [Hb.7.27.5] (Raden Ayu Notohadiprawiro) 1685922/7 <508+248> < Raden Mas Hino Rimawan [Hb.7.27.6] (Raden Rio Kusumobroto) 1686923/7 <508+246> < Raden Mas Hari Murti [Hb.7.27.7] (Raden Rio Tejonegoro)
1687924/7 <508+249> < Raden Ayu Mardusari [Hb.7.27.8] (Raden Ayu Puruboyo)
1688925/7 <508+250> < Raden Mas Nimpuno [Hb.7.27.9] (Raden Wedono Wilopokusumo)
1689926/7 <508+246> < Raden Ayu Sudyapti [Hb.7.27.10]
1690927/7 <508+249> < Raden Mas Sadono [Hb.7.27.11]
1691928/7 <508+250> < Raden Mas Sukesti [Hb.7.27.13] (Kanjeng Raden Tumenggung Tejohadiningrat) 1692929/7 <508+251> < Raden Mas Puntadewa [Hb.7.27.14] 1693930/7 <650> < Raden Ajeng Siti Rukiyah [Hb.7.30.1] (Raden Ayu Sastrosubandiyo)
1694931/7 <650> < Raden Ajeng Siti Maemunah [Hb.7.30.3] (Raden Ayu Resodiningrat)
1695932/7 <650> < Raden Mas Umar Katab [Hb.7.30.4] (Kanjeng Raden Tumenggung Suryoatmojo)
1696933/7 <650> < Raden Ajeng Siti Sutatdinah [Hb.7.30.8] (Raden Ayu Noorsasongko)
1697934/7 <650> < Raden Ajeng Siti Yatdaru [Hb.7.30.7] (Raden Ayu Suryaningrat)
1698935/7 <650> < Raden Ajeng Siti Sumardinah [Hb.7.30.6] (Raden Ayu Nayono Sumonegoro)
1699936/7 <650> < Raden Ajeng Siti Supilah [Hb.7.30.5] (Raden Ayu Pringgokusumo)
1700937/7 <732+281> < Raden Mas Suteki [Hb.7.31.5]
1701938/7 <732+279> < Raden Mas Jonkheer Infanterie [Hb.7.31.3]
1702939/7 <732+279> < Raden Ajeng Siti Kadarinah [Hb.7.31.2] (Raden Ayu Projosemadi)
1703940/7 <732+280> < Raden Ajeng Siti S. Kamarukmi [Hb.7.31.4] (Raden Ayu Irawan Atmojokusumo) 1704941/7 <732+281> < Raden Ajeng Siti Sutyasning [Hb.7.31.6] (Raden Ayu Sugeng Suprobo) 1705942/7 <409+202> < Bendoro Raden Mas [No Name] [Hb.8.2]
1706943/7 <738+283> < 1. Raden Mas Ratjulun
1707944/7 <738+283> < 2. Raden Ajeng Dadut
Abdulmalik.jpeg
1708945/7 <756> < Syeikh Abdul Malik
Tokoh

SYEIKH MUHAMMAD ABDUL MALIK (Mursyid Sederhana dan Penyayang Santri Miskin)


Purwokerto adalah ibukota kabupaten Banyumas, Jawa Tengah yang terletak di selatan Gunung Slamet, salah satu gunung berapi yang masih aktif di pulau Jawa. Purwokerto merupakan salah satu pusat perdagangan dan pendidikan di kawasan selatan Jawa Tengah.

Sementara kabupaten Banyumas sendiri merupakan sebuah kawasan kebudayaan yang memiliki ciri khas tertentu di antara keanekaragaman budaya Jawa yang disebut sebagai budaya Banyumasan. Ciri khas ini ditandai dengan kekhasan dialek bahasa, citra seni dan tipologi masyarakatnya.

Bentang alam wilayah banyumasan berupa dataran tinggi dan pegunungan serta lembah-lembah dengan bentangan sungai-sungai yang menjamin kelangsungan pertanian dengan irigasi tradisional. kondisi yang demikian membenarkan kenyataan kesuburan wilayah ini (gemah ripah loh jinawi).

Dulunya, kawasan ini adalah tempat penyingkiran para pengikut Pangeran Diponegoro setelah perlawanan mereka dipatahkan oleh Kompeni Belanda. Maka tidak aneh, bila hingga masa kini masih terdapat banyak sekali keluarga-keluarga yang memiliki silsilah hingga Pangeran Diponegoro dan para tokoh pengikutnya.

Keluarga-keluarga keturunan Pangeran Diponegoro dan tokoh-tokohnya yang telah menyingkir dari pusat kerajaan Matararam waktu itu, kemudian menurunkan para pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh ulama hingga saat ini.

Salah satu dari sekian banyak tokoh ulama keturunan Pangeran Diponegoro di kawasan Banyumas ini adalah Syekh Abdul Malik bin Muhammad Ilyas, Mursyid Thariqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah dan Thariqoh Syadzaliyah di Jawa Tengah.

Silsilah dan Pendidikan Sudah menjadi tradisi di kawasan Banyumasan kala itu, apabila ada seorang ibu hendak melahirkan, maka dihamparkanlah tikar di atas lantai sebagai tempat bersalin. Suatu saat ada seorang ibu yang telah mempersiapkan persalinannya sesuai tradisi tersebut, namun rupanya sang bayi tidak juga kunjung terlahir. Melihat hal ini, maka sang suami segera memerintahkan istrinya untuk pindah ke tempat tidur dan menjalani persalinan di atas ranjang saja. Tak berapa lama terlahirlah seorang bayi mungil yang kemudian dinamakan Muhammad Ash'ad, artinya Muhammad yang naik (dari tikar ke tempat tidur). Peristiwa ini terjadi di Kedung Paruk Purwokerto, pada hari Jum'at, tanggal 3 Rajab tahun 1294 H. (1881 M.) Nama lengkapnya adalah Muhammad Ash'ad bin Muhammad Ilyas. Kelak bayi mungil ini lebih dikenal sebagai Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk Purwokerto.

Beliau merupakan keturunan Pangeran Diponegoro berdasarkan ”Surat Kekancingan” (semacam surat pernyataan kelahiran) dari pustaka Kraton Yogyakarta dengan rincian Muhammad Ash’ad, Abdul Malik bin Muhammad Ilyas bin Raden Mas Haji Ali Dipowongso bin HPA. Diponegoro II bin HPA. Diponegoro I (Abdul Hamid) bin Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III Yogyakarta. Nama Abdul Malik diperoleh dari sang ayah ketika mengajaknya menunaikan ibadah haji bersama.

Sejak kecil, Abdul Malik memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya. Setelah belajar al-Qur'an kepada ayahnya, Abdul Malik diperintahkan untuk melanjutkan pendidikannya kepada Kyai Abu bakar bin Haji Yahya Ngasinan, Kebasen, Banyumas.

Selain itu, ia juga memperoleh pendidikan dan pengasuhan dari saudara-saudaranya yang berada di Sokaraja,sebuah kecamatan di sebelah timur Purwokerto. Di Sokaraja ini terdapat saudara Abdul Malik yang bernama Kyai Muhammad Affandi, seorang ulama sekaligus saudagar kaya raya. Memiliki beberapa kapal haji yang dipergunakan untuk perjalanan menuju Tanah Suci.

Ketika menginjak usia 18 tahun, Abdul Malik dikirim ke Tanah Suci untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai didiplin ilmu agama, seperti Tafsir, Ulumul Qur'an, Hadits, Fiqih, Tasawuf dan lain-lain. Pada tahun 1327 H. Abdul Malik pulang ke kampung halaman setelah kurang lebih 15 tahun belajar di Tanah Haram. Selanjutnya ia berkhidmat kepada kedua orang tuanya yang sudah sepuh (lanjut usia). Lima tahun kemudian (1333 H.) ayahandanya (Muhammad Ilyas) meninggal dalam usia 170 tahun dan dimakamkan di Sokaraja.

Sepeninggal ayahnya, Abdul Malik muda berkeinginan melakukan perjalanan ke daerah-daerah sekitar Banyumas, seperti Semarang, Pekalongan, Yogyakarta dengan berjalan kaki. Perjalanan ini diakhiri tepat pada seratus hari wafatnya sang ayah. Abdul Malik kemudian tinggal dan menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Sejak saat ini, ia kemudian lebih dikenal sebagai Syeikh Abdul Malik Kedung Paruk.

Guru-Guru Syeikh Abdul Malik mempunyai banyak guru, baik selama belajar di Tanah Air maupun di Tanah Suci. Di antara guru-gurunya adalah Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tirmisi al-Jawi, Sayyid Umar as-Syatha' dan Sayyid Muhammad Syatha', keduanya merupakan ulama besar Makkah dan Imam Masjidil Haram dan Sayyid Alwi Syihab bin Shalih bin Aqil bin Yahya.

Sebelum berangkat ke tanah Suci, Syeikh Abdul Malik sempat berguru kepada Kyai Muhammad Sholeh bin Umar Darat Semarang, Sayyid Habib Ahmad Fad'aq (seorang ulama besar yang berusia cukup panjang, wafat dalam usia 141 tahun), Habib 'Aththas Abu Bakar al-Atthas; Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Surabaya; Sayyid Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas Bogor.

Sanad Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah diperolehnya secara langsung dari sang ayah, Syaikh Muhammad Ilyas; sedangkan sanad Thoriqah Sadzaliyah didapatkannya dari Sayyid Ahmad Nahrawi Al-Makki (Mekkah).

Selama bermukim di Makkah, Syeikh Abdul Malik diangkat oleh pemerintah Arab Saudi sebagai Wakil Mufti Madzhab Syafi'i, diberi kesempatan untuk mengajar berbagai ilmu agama termasuk, tafsir dan qira'ah sab'ah. Sempat menerima kehormatan berupa rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes.

Menurut beberapa santrinya, Syekh Abdul Malik sebenarnya tinggal di Makkah selama kurang lebih 35 tahun, tetapi tidak dalam suatu waktu. Di samping belajar di tanah Suci selama 15 tahun, ia juga seringkali membimbing jamaah haji Indonesia asal Banyumas, bekerjasama dengan Syeikh Mathar Makkah. Aktivitas ini dilakukan dalam waktu yang relatif lama, jadi sebenarnya, masa 35 tahun itu tidaklah mutlak.

Perjuangan Fisik Adalah tidak benar, jika para ulama ahli tasawuf disebut sebagai para pemalas, bodoh, kumal dan mengabaikan urusan-urusan duniawi. Meski tidak berpakaian Necis, namun mereka senantiasa tanggap terhadap berbagai kejadian yang ada di sekitarnya. Ketika zaman bergolak dalam revolusi fisik untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa asing, para ulama ahli Thoriqoh senyatanya juga turut berjuang dalam satu tarikan nafas demi memerdekakan bangsanya.

Pada masa-masa sulit zaman penjajahan Belanda dan Jepang, Syeikh Abdul Malik senantiasa gigih berdakwah. Karena aktivitasnya ini, maka ia pun menjadi salah satu target penangkapan tentara-tentara kolonial. Mereka sangat khawatir pada pengaruh dakwahnya yang mempengaruhi rakyat Indonesia untuk memberontak terhadap penjajah. Menghadapi situasi seperti ini, ia justru meleburkan diri dalam laskar-laskar rakyat. Sebagaimana Pangeran Diponegoro, leluhurnya yang berbaur bersama rakyat untuk menentang penjajahan Belanda, maka ia pun senantiasa menyuntikkan semangat perjuangan terhadap para gerilyawan di perbukitan Gunung Slamet.

Pada masa Gestapu, Syeikh Abdul Malik juga sempat ditahan oleh PKI. Bersamanya, ditangkap pula Habib Hasyim al-Quthban Yogyakarta, ketika sedang bepergian menuju daerah Bumiayu Brebes untuk memberikan ilmu kekebalan atau kesaktian kepada para laskar pemuda Islam. Dalam tahanan ini, Habib Hasyim al-Quthban mengalami shock dan akhirnya meninggal, sedangkan Syekh Abdul Malik masih hidup dan akhirnya dibebaskan.

Kepribadian Dalam hidupnya, Syeikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca al-Qur’an dan Shalawat. Dikenal sebagai ulama yang mempunyai berkepribadian sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian akhlakul karimah. Maka amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.

Syeikh Abdul Malik adalah pribadi yang sangat sederhana, santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahim kepada murid-muridnya, terutama kepada mereka yang miskin atau sedang mengalami kesulitan hidup. Santri-santri yang biasa dikunjunginya ini, selain mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, dukuh waluh, Bojong, juga sanri-santri lain yang tinggal di tempat jauh.

Setiap hari Selasa pagi, dengan bersepeda, naik becak atau dokar, Syeikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian, sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan. Acara ini merupakan forum silaturrahim bagi para pengikut Thoriqah Naqsyabandiyah Kholidiyah Kedung paruk yang diisi dengan pengajian dan tawajjuhan.

Syeikh Abdul Malik juga dikenal memiliki hubungan baik dengan para ulama dan habaib, Bahkan dianggap sebagai guru bagi mereka, seperti KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Soleh bin Muhsin al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bafaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi (Brani, Probolinggo), dan lain-lain.

Termasuk di antara para ulama yang sering berkunjung ke kediaman Syeikh Abdul Malik ini adalah Syeikh Ma’shum (Lasem, Rembang) yang sering mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik sebagai tabarruk (meminta barakah) kepadanya. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Kholil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas). Para ulama ini merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, namun tetap belajar ilmu al-Qur’an kepada Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk.

Sementara itu, murid-murid langsung dari Syeikh Abdul Malik di antaranya adalah KH Abdul Qadir, Kiai Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah), KH Sahlan (Pekalongan), Drs. Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma’shum (Purwokerto) dan lain-lain.

Selain, menularkan ilmunya kepada santri-santi yang kemudian menjadi ulama dan pemimpin umat, Syeikh Abdul Malik juga memiliki santri-santri dari berbagai kalangan, seperti Haji Hambali Kudus, seorang pedagang yang dermawan dan tidak pernah rugi dalam aktivitas dagangnya dan Kyai Abdul Hadi Klaten, seorang penjudi yang kemudian bertaubat dan menjadi hamba Allah yang shaleh dan gemar beribadah.

Keluarga Syeikh Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas menikahi tiga orang istri, dua di antaranya dikaruniai keturunan. Istri pertamanya adalah Nyai Hajjah Warsiti binti Abu Bakar yang lebih dikenal dengan nama Mbah Johar. Seorang wanita terpandang, puteri gurunya, K Abu Bakar bin H Yahya Kelewedi Ngasinan, Kebasen. Istri pertama ini kemudian dicerai setelah dikaruniai seorang anak lelaki bernama Ahmad Busyairi (wafat tahun 1953, pada usia sekitar 30 tahun).

Ada sebuah cerita unik tentang putera pertamanya ini. Ahmad Busyairi adalah seorang pemuda yang meninggal dunia sebelum sempat menikah. Suatu hari Syeikh Abdul Malik berkata padanya, ”Nak, besok kamu menikah di surga saja ya?” Mendengar ayahnya bertutur demikian, muka Busyairi terlihat ceria dan hatinya merasa sangat gembira. Beberapa waktu kemudian, ia meninggal sebelum berkesempatan menikah.

Istri kedua Syeikh Abdul Malik adalah Mbah Mrenek, seorang janda kaya raya dari desa Mrenek, Maos Cilacap. Pernikahan ini tidak dikaruniai anak. Istimewanya, suatu hari Syeikh Abdul Malik hendak menceraikannya, namun Mbah Mrenek berkata, ”Pak Kyai, meskipun Panjenengan (Anda) tidak lagi menyukai saya, tapi tolong jangan ceraikan saya. Yang penting saya diakui menjadi istri Anda, dunia dan akhirat.” Mendengar permintaan ini, Syeikh Abdul Malik pun tidak jadi menceraikannya.

Sedangkan istri ketiga-nya adalah Nyai Hj. Siti Khasanah, seorang wanita cantik dan shalihah, tetangganya sendiri. Pernikahan ini, dikaruniai seorang anak perempuan bernama Hj. Siti Khairiyyah yang wafat empat tahun sepeninggal Syekh Abdul Malik. Dari puterinya inilah nasab Syeikh Abdul Malik diteruskan.

Pesan dan Berpulang Salah seorang cucu Syeikh Abdul Malik mengatakan, ada tiga pesan dan wasiat yang disampaikan Beliau kepada cucu-cucunya. Pertama, jangan meninggalkan shalat. Tegakkan shalat sebagaimana telah dicontohkan Rasululah SAW. Lakukan shalat fardhu pada waktunya secara berjama'ah. Perbanyak shalat sunnah serta ajarkan kepada para generasi penerus sedini mungkin.

Kedua, jangan tinggalkan membaca al-Qur'an. Baca dan pelajari setiap hari serta ajarkan sendiri sedini mungkin kepada anak-anak. Sebarkan al-Qur'an di mana pun berada. Jadikan sebagai pedoman hidup dan lantunkan dengan suara merdu. Hormati orang-orang yang hafal al-Qur'an dan qari'-qari'ah serta muliakan tempat-tempat pelestariannya.

Ketiga, jangan tinggalkan membaca shalawat, baca dan amalkan setiap hari. Contoh dan teladani kehidupan Rasulullah SAW serta tegakkanlah sunnah-sunnahnya. Sebarkan bacaan shalawat Rasulullah, selamatkan dan sebarluaskan ajarannya.

Pada hari Kamis, 21 Jumadil Akhir 1400 H. yang bertepatan dengan 17 April 1980 M. sekitar pukul 18.30 WIB (malam Jum’at), Syekh Abdul Malik meminta izin kepada istrinya untuk melakukan shalat Isya' dan masuk ke dalam kamar khalwat-nya. Tiga puluh menit kemudian, salah seorang cucunya mengetuk kamar tersebut, namun tidak ada jawaban. Setelah pintu dibuka, rupanya sang mursyid telah berbaring dengan posisi kepala di utara dan kaki di selatan, tanpa sehela nafas pun berhembus. Syeikh Abdul Malik kemudian dimakamkan pada hari Jum’at, selepas shalat Ashar di belakang Masjid Bahaul Haq wa Dhiyauddin Kedung Paruk, Purwokerto. (Zakki Amali/syf)
1710946/7 <485> < 3. Raden Ayu Samsilah (P.Praja Ambon)
1711947/7 <485> < 4. Ibrahim (Ktr Gub. Ambon)
1712948/7 <757> < 1. RM. Abd Hamid
1713949/7 <757> < 2. RM. Abd. Rachman (Ambon)
1714950/7 <757> < 3. RM. Abd. Gafur (Tasikmalaya)
1715951/7 <757> < 4. RM. Ismail
1716952/7 <757> < 5. RA. Kalsum
1717953/7 <757> < 6. RA. Mudjani (Ambon)
1718954/7 <757> < 7. RM. Abdullah (Polisi Magelang)
1719955/7 <757> < 8. RM. Achmad (Djaw Peladjaran Tj Priok)
1720956/7 <757> < 9. RM. Abd. Gani (Ambon)
1721957/7 <758> < 1. Raden Mas Abdul Radjak (Makassar)
1722958/7 <758> < 2. Raden Mas Abdul Gafur (Tj Priok)
1723959/7 <758> < 3. Raden Ayu Ramlah (Ambon)
1724960/7 <759> < 1. Raden Mas Abdul Mutalib (Ambon)
1725961/7 <759> < 2. RM. Abdul Manap (Ambon)
1726962/7 <761> < 1. RM. Muhammad
1727963/7 <761> < 2. RA. Sakilah
1728964/7 <761> < 3. RA. Timur (Bandung)
1729965/7 <486> < 1. RM. Nursewan
1730966/7 <486> < 2. RA. Hartati
1731967/7 <487> < 2. RM. Said
1732968/7 <487> < 3. RM. Abd. Rachman
1733969/7 <487> < 5. RA. Fatma (Surabaya)
1734970/7 <488> < 1. RA. Nurani (Ambon)
1735971/7 <488> < 2. RM. Samaun
1736972/7 <488> < 3. RM. Said (Tj Priok)
1737973/7 <488> < 4. RA. Dinar
1738974/7 <488> < 5. RM. Abdullah
1739975/7 <488> < 6. RA. Djasian (Tj. Priok)
1740976/7 <492> < 3. RM. Indra Djohan Diponegoro (Jakarta)
1741977/7 <493> < 1. RA. Supatmi Diponegoro (Ambon)
1742978/7 <493> < 2. RM. Muhammad Diponegoro
1743979/7 <493> < 3. RA. Pawon (Bandung)
1744980/7 <493> < 4. RA. Djahro (Ambon)
1745981/7 <493> < 5. RA. Neng
1746982/7 <493> < 6. RA. Samsirin (Ambon)
1750983/7 <507+209> < Raden Bekel Condrosentono 1752984/7 <762+296> < Raden Mas Prawironingrat
1753985/7 <762+296> < Raden Mas Notoningrat Soetjipto
1754986/7 <762+296> < Raden Mas Soeprapto 1755987/7 <762+296> < R. A. Martodirdjo
1756988/7 <762+296> < Raden Mas Soerojo Sosroningrat
1757989/7 <762+296> < R. A. Soekapsilah
1758990/7 <762+296> < Raden Mas Soejatmo
1761991/7 <762+296> < Raden Mas Santjojo Sosroningrat
1762992/7 <762+296> < R. A. Catharina Soekirin Sosroningrat
1764993/7 <763> < Raden Mas Warso Sunardi
1765994/7 <764+297> < Raden Ajeng Sumaryatin (Raden Ajoe Hardjomenggolo) 1766995/7 <765+180> < Raden Mas Ismali
1767996/7 <765+180> < Raden Mas Ismono
1768997/7 <765+180> < Raden Mas Ismadji
1769998/7 <765+180> < Raden Ajeng Ismodirah
1770999/7 <765+180> < Raden Ajeng Iswarkamsi
17711000/7 <765+180> < Raden Mas Ispudiardjo
17721001/7 <554> < Raden Mas Teguh Pambudi
17731002/7 <766+298> < Raden Sigit Suwondo
17741003/7 <766+298> < Raden Arbiyati Suwarsono
17751004/7 <559> < Raden Ajeng Poedjiastoeti
17761005/7 <559> < Raden Mas Soebandi
17771006/7 <740+285> < G. R. A. Siti Djinzoelkari
GRA. Siti Djinzoelkari meninggal dalam usia muda.
17781007/7 <773+?> < R. Ngt. Wargosumilah
dimakamkan di Pangukan
17791008/7 <773+?> < Raden Supardjo
17801009/7 <773+?> < R Agus Soekardjono
17811010/7 <773+?> < Rr. Mursiyam
dimakamkan di taji
17831011/7 <773+?> < R. Sukarso Yahman
17841012/7 <767> < Surachman
17851013/7 <768> < R. Ngt. Prawiroduto
17861014/7 <768> < R. Ngt. Prawirolin
17871015/7 <769> < KRT Dirdjonegoro
17881016/7 <770> < R. Atmosudihardjo
17891017/7 <770> < R. Sutopo
17901018/7 <770> < R. Dalpanggih
17911019/7 <771> < R. Ngt. Tjokrosendjoyo
17921020/7 <772> < R. Ngt. Imoparindjono
17931021/7 <772> < R. Ngt. Dulrachman
17941022/7 <772> < R. Ngt. Sugiyah
17951023/7 <774> < R. Harsono
17961024/7 <774> < Rr. Harsinah
17971025/7 <774> < R. Ngt. Sukoasih
17981026/7 <774> < R. Sutiardjo
17991027/7 <774> < R. Ngt. Sutiarti
18001028/7 <775+299> < Soeharmi
18011029/7 <775+299> < Siti Naidini Partini
18021030/7 <618> < Raden Mas Hatma Sadeli 18051031/7 <776> < Raden Roro Asfiyah [Hb.3.2.8.14.1.6.3]
18061032/7 <776> < Raden Anis Musthofa [Hb.3.2.8.14.1.6.2]
18071033/7 <776> < Raden Haji Anwaruddin [Hb.3.2.8.14.1.6.4]
18081034/7 <776> < Raden Haji Achyari [Hb.3.2.8.14.1.6.5]
18091035/7 <776> < Raden Haji Ammarudin [Hb.3.2.8.14.1.6.6]
18111036/7 <776> < Raden Agus Muhammad [Hb.3.2.8.14.1.6.8]
18131037/7 <776> < Raden Haji Ansorulloh [Hb.3.2.8.14.1.6.11]
18141038/7 <776> < Raden Roro Anisah [Hb.3.2.8.14.1.6.12]
18151039/7 <776> < Raden Roro Arina Chayati [Hb.3.2.8.14.1.6.13]
18161040/7 <776> < Raden Amrulloh [Hb.3.2.8.14.1.6.14]

8

18821/8 <835+?> < 2. H. R. Sanusi (Momo)
lahir: Gunung Batu
perkawinan:
18832/8 <835+?> < 3. Drs. HR. Entjep Wahab
lahir: Jakarta
18863/8 <813+808!> < 5. RA. Hj. Siti Halimah
lahir: Ciawi
Mukminah3.jpeg
18884/8 <808+?> < 10. RA. Siti Mu'minah
penguburan: Pemakaman Kaum Seuseupan-Ciawi-Bogor
19075/8 <822> < 2. R. H. Uneng Suriadirdja
lahir: Berputra 6 orang (belum terlacak)
Miranda3.jpeg
20566/8 <921> < RA. Miranda Diponegoro (aim)
lahir: Jakarta (150650)
== ASAL-USUL ==

Kraton3.jpg SILSILAH KELUARGA (Pancer Bapak)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA 
#1. BPH. Dipanegara 
#2. Pangeran Abdul Madjid Diponegoro
#3. Pangeran Abdullah Diponegoro
#4. RM Ahmad Diponegoro
#5. RM Iskandar Johan Diponegoro
#6. RA Miranda Diponegoro

- Terlampir Kekancingan -


PENDIDIKAN

- 
-
-
-


PEKERJAAN/PROFESI

-
-
-
-

FOTO KELUARGA

I. KUNJUNGAN KE KERATON YOGYAKARTA (Yogya, 20 Oktober 2012)


Atas undangan Adik kandung Sultan HB-X yaitu GBPH. Joyokusumo, pada Oktober 2012 kami yang berjumlah kurang lebih 20 orang melakukan kunjungan ke Keraton Yogyakarta. Agenda utama kunjungan antara lain :

  • Silaturahmi Keluarga Pangeran Diponegoro dengan Pihak Keraton Yogyakarta;
  • Membahas Kekancingan Keluarga (Semacam Sertifikat / Surat Pengukuhan Hak) yg dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem;
  • Pembentukan Nama Organisasi Keturunan Pangeran Diponegoro;
  • Masalah-masalah lain keluarga.

Dalam acara kunjungan ini Gusti Joyokusumo didampingi BRAy. Hj. Nuraida/BRAy. Joyokusumo bercerita banyak tentang kondisi Keraton, kondisi kesehatan Gusti Joyo dan sekilas tentang tatakrama Keraton. Dalam kesempatan ini juga kami semua diajak berkeliling oleh BRAy. Joyokusumo mengenai isi Keraton serta sejarahnya, juga berkunjung ke Museum Kereta Kencana Keraton. Pada jamuan makan siang, kami diperkenankan mencicipi kue hidangan pembuka kesukaan dan tradisi Sultan-sultan Yogyakarta yang bernama "Kue Rondo Mendem" semacam "Pancake" juga dihidangkan minuman "Stuff Jambu Merah" khas Keraton Yogyakarta.

Keraton Yogya-1
Keraton Yogya-2
Keraton Yogya-3
Keraton Yogya-6
Keraton Yogya-9
Keraton Yogya-10

II. PENTAS PENGASINGAN SANG PANGERAN Ke 1 (Magelang, 8 Januari 2014)


Magelang-13
Magelang-14
Magelang-15
Magelang-16


III. UNDANGAN IKA UNDIP (Senayan City, 27 Januari 2014)


Ika-Undip-1
Ika-Undip-2
Ika-Undip-3
Ika-Undip-4
Ika-Undip-5
Ika-Undip-6
Ika-Undip-7
Ika-Undip-8
Ika-Undip-9
Ika-Undip-10
Ika-Undip-11
Ika-Undip-12


  • IV. PENTAS PENGASINGAN SANG PANGERAN KE 2 (Bentara Budaya Jakarta, 6 Maret 2014)

BBJ-1
BBJ-2
BBJ-3
BBJ-4
BBJ-5
BBJ-6
BBJ-7
BBJ-8
BBJ-9
BBJ-10
BBJ-11
BBJ-12
BBJ-13
BBJ-14
BBJ-15
BBJ-16
34887/8 <1191+318> < Raden Ajeng Eva Dwi Santi [Hb.6.17.4.6.2]
wafat: Pesarean Kuncen Yogyakarta
34968/8 <1191> < Raden Mas Yudhi Hermawan
wafat: Surabaya
HARTOG.JPEG
19419/8 <843> < R. DR. Harto Purwowasono Diponegoro / Romo Dipo
lahir: 1878, Makasar (Sumber : Majalah Femina)
lahir: ~ 1901
wafat: 8 Januari 1985, Plumbon-Tawangmangu-Karanganyar, Solo
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


ASAL-USUL

RADEN DOKTOR HARTO PURWOWASONO DIPONEGORO alias Hertog, lahir di ....... pada tahun ........ 
putra ke 1 dari 1 bersaudara dari pasangan orang tua RADEN HARYODIPO HADIKUSUMO (PANGERAN GRINGSING III)
(Generasi ke 5 dari Sultan HB-III) dengan ............................... (asal........................)
menikah pada .................19.. dengan POENISRI dan ............... dikaruniai 10 orang putra/putri :
1. R. Ngt Sri Dewi 
2. R. Heno Erlangga, SH. 

3. R. Putra Wisnu Agung Diponegoro
4. R. Ngt. Gusti Laksmi Maha Dewi Sri Diponegoro 
5. R. Ngt. Gusti Maya Brahma Diponegoro
6. R. Nalendro Wibowo Diponegoro
7. R. Ngt. Dwi Wahyuni Kusuma Wardhani Diponegoro
8. R. Putra Kusuma Wardhana Diponegoro
9. R. Kesuma Hendra Putra Diponegoro
10. R. Ngt. Putri Laksmini Murni Diponegoro 
Kraton2.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA
#1. BPH. Diponegoro
#2. RM. Djonet Dipomenggolo
#3. RM. Harjo Dipotjokromenggolo
#4. RM. Harjo Dipotjokro Hadimenggolo
#5. RM. Harjo Dipo Hadikusumo
#6. R. DR. Harto Purwowasono Diponegoro
   
 - Terlampir Kekancingan -

PENDIDIKAN

- SD
- SMP
- SMA
- S3

PEKERJAAN

DOKUMENTASI

Harto-0.jpg               Harto-2.jpg              Harto-3.jpg    
 R. DR. HARTO PURWOWASONO DIPONEGORO    NY. POENISRI    
Harto-4.jpgHarto-5.jpg        
LOKASI PEMAKAMAN EYANG R. DR. HARTO PURWOWASONO : DESA PLUMBON - TAWANGMANGU-KARANGANYAR,SOLO
189510/8 <809+?> < 1. R. H. Yasin
lahir: 1895c
LAMBANG KABUPATEN KARAWANG
191911/8 <831+?> < 1. RTmg. Panji Suradhiningrat (Wadana Krawang)
lahir: 1896c
pekerjaan: 26 Agustus 1921 - 26 Februari 1925, Wedana Karawang
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Raden Toemengoeng Pandji Soeradhiningrat adalah putra RA. M. Suradhiningrat (Tjandraningrat) bin RTA Suradimanggala (Bupati Bogor Tahun 1876-1884). Beliau juga Generasi ke 5 dari Pangeran Diponegoro melalui neneknya RAy Gondomirah binti RM. Haryo Dipomenggolo bin RM. Djonet Dipomenggolo bin Pangeran Diponegoro.

Sumber Data : Regeerings_almanak_voor_Nederlandsch_Indie, 1922 (part-2,p256)
Pandji-2.jpeg
192412/8 <834+?> < 1. Rd. Yasin Winatadiredja (Enceng)
lahir: 1897c
Siti rahmat.jpeg
192513/8 <834+?> < 2. Nyi Rd. Hj. Siti Rahmat (Titi)
lahir: ~ 1898
wafat: 1976, Pamoyanan-Bogor
202914/8 <834+?> < 3. Rd. Tatang Muchtar (Ciluar)
lahir: 1899c
wafat: Ciluar
Mami+Jaya.jpeg
190015/8 <809+?> < 1. R. Masdir Jayakusumah
lahir: 1900c, Lebak Pasar - Bogor
perkawinan: <443> < 1. Nyi Rd. Neneng Sutari b. 11 April 1914 bur. 25 Oktober 1983
wafat: 26 Oktober 1948, Pemakaman Keluarga Muara-Kota Bogor
197017/8 <888+303> < Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat
lahir: 13 September 1904, Rembang
perkawinan: <444> < Raden Ayu Siti Loewijah
perkawinan: <445> < Gusti Bendoro Raden Ayu Moerjati
pekerjaan: 1 Oktober 1946 - 1 Juni 1948, Yogyakarta dan Magelang, Panglima Divisi III/ Diponegoro
wafat: 17 Maret 1962, Jakarta
190218/8 <809> < 3. R. Masdir Kurnaen (aeng)
lahir: 17 Agustus 1912, Lebak Pasar - Bogor
perkawinan: <446> < 3. Rd. Nyimas Soekajanti b. 1918c
wafat: 28 Agustus 2004, Muara-Bogor
346119/8 <815+?> < 3. R. Mudjitaba
pekerjaan: 1916, Adjunct Hoofd Djaksa, Buitenzorg
351520/8 <1751+304> < Soediro Alimoerto
lahir: 9 Agustus 1925
351621/8 <1759> < R. A. Maria Siti Soedarti Sosroningrat
lahir: 8 September 1925, Dobo, Kepulauan Aru
Bersekolah di Middelbare Handelsschool, Tempelstraat 4 (kini Jl. Kepanjen), Surabaya. Lalu bekerja sebagai pegawai Tata Usaha di Fak. Teknik Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta
347222/8 <1750+441> < Bagong Kussudiardjo
lahir: 9 Oktober 1928, Yogyakarta
perkawinan: <447> < Soefiana d. 1997
perkawinan: <448> < Yuli Sri Hastuti
wafat: 15 Juni 2004, Yogykarta
Bagong Kussudiardja (lahir di Yogyakarta, 9 Oktober 1928 – meninggal di Yogyakarta, 15 Juni 2004 pada umur 75 tahun) adalah seorang Koreografer dan Pelukis Indonesia. Bagong memulai kariernya sebagai penari Jawa klasik di Yogyakarta pada 1954. Ia berkenalan dengan seni tersebut melalui Sekolah Tari Kredo Bekso Wiromo, yang dipimpin oleh Pangeran Tedjokusumo, seniman tari ternama.

Bagong Kusudiardjo merupakan sosok kontroversial dunia kesenian Indonesia, khususnya seni tari, dan seni rupa, seperti Kakeknya yang tidak lain putra HB VII, ia membelot pada lingkungannya. Ia selalu meciptakan inovasi (pembaharuan). Nalurinya tegelitik jika menyaksikan kemapanan. Dalam dunia seni tari menjebol benteng tradisi, untuk kemudian melahirkan tari - tari kreasi baru.

Belajar tari dari kakaknya, Kuswadji Kawindrosusanto dan GPH Tedjokusumo di nDalem Tedjokusuman pada Tahun 1946. Pada tahun ini juga Bagong mulai belajar seni lukis pada Hendra Gunawan dan Sudiardja. Tercatat Bagong bergabung dalam pelukis rakyat. 4 tahun kemudian begitu ketahuan Pelukis Rakyat bernaung di bawah Lekra, bersama kawan - kawannya, Bagong keluar dan mendirikan Pelukis Indonesia. Di organisasi terakhir ini Bagong mengembangkan diri.

Pada tahun 1953 untuk pertamakalinya Bagong pergi ke luar negeri berkat tari, dan seni lukisnya. Di sana ia menari dan berpameran. 1954, setelah mendobrak tradisi tari dengan karyanya ""Layang - Layang"", Bagong mendirikan Pusat Latihan Tari Bagong Kussudihardjo. Banyak cibiran atas upaya ini karena dianggap merusak tari klasik Jawa yang sudah mengakar di masyarakat. Dari padepokan ini lahir ratusan tari, puluhan fragmen/sedratari. Sendratari Kelahiran dan Kebangkitan Yesus adalah fragmen karyamasterpiece-nya yang mengguncang kesenian kita.

Dalam dunia seni lukis, ia memanfaatkan materi apa saja sebagai pengucapan artistiknya. Tahun 1960, berkarya kolage, menempelkan benda rongsokan ke canvasnya. 1971, ikut mempelopori kelahiran seni lukis batik. Bersama pelukis Jogja, MUdjita, Nasjah Djamin, Suwaji, Nyoman Gunarso, Salim, Abas Alibasyah, dll mendirikan Sanggar Barong serta memanfaatkan media tutup celup (batik) sebagai pengganti canvas.

Dua torso adalah salah satu karyanya yang dinobatkan sebagai karya terabik seAsia Pasifik, dalam sebuah pameran lukisan Asia di Dacca, Bangladesh. Ia mengantongi medali emas setahun kemudian. Lainnya menjadi koleksi Istana Negara Republik Indonesia, Istana Kerajaan Negeri Belanda, Adam Malik, Sri Paus Paulus VI, HB IX, Budihardjo, Kedutaan Besar RI di Roma, Praha, BUenos Aries, London, Canbera, Bonn, Manila, dsb.
351723/8 <1759> < Raden Ajeng Elisabeth Soeparti Sosroningrat
lahir: 19 November 1928, Donggala
Bersekolah di Kweekschool (sekolah guru atas) Stella Duce, Jl. Sumbing no. 1, Yogyakarta. Selulus kweekschool, melanjutkan pendidikan ke Belanda. Lalu bekerja sebagai guru di SLB A, Bandung. RA. Elisabeth Soeparti Sosroningrat tidak menikah.
351224/8 <1751+304> < Bambang Sokawati Dewantara
lahir: 9 Maret 1930
233825/8 <1244+1245!> < Raden Ayu Siti Darinah [Hb.7.19.2.3] (Raden Ayu Wahyu Widodo)
lahir: 20 September 1930, Yogyakarta
perkawinan: <449> < Drs. Wahyu Widodo ? (Mas Mui, Eyang Wahyu) d. 11 Juli 1988
wafat: 23 Agustus 2016, Yogyakarta, Dipun sareaken wonten makam keluarga: Pasarean Warga Hastana KPAA DANOEREDJO VII WANDAWA Jalan Masjid Patok Negoro - Mlangi Sleman, DIY. Kontak info keluarga: R.M. Priyogi Widodo : 0812 1594 8055 Email: mearicleus@yahoo.com
351826/8 <1759> < w Raden Mas Fransiskus Harsono Sosroningrat
lahir: 27 Juli 1931, Yogyakarta
perkawinan: <450> < R. A. Clara Siti Katijah Mangoenwinoto
351127/8 <1751+304> < Sjailendra Widjaja
lahir: 28 September 1932
351928/8 <1759> < R. A. Theresia Hartini Goestin Sosroningrat
lahir: 1 Desember 1932, Semarang
Menempuh pendidikan keperawatan di RS St. Elizabeth, Candi Baru, Semarang
347129/8 <1750+441> < Handung Kussudyarsono
lahir: 22 Desember 1933, Yogyakarta
wafat: 18 Maret 1991, Yogyakarta
Handung atau lebih populer disebut "Pak Ndung" lebih dikenal di masyarakat Yogya sebagai Pakar kesenian Ketoprak. Sejak tahun 1971, ia mengelola Grup Ketoprak Sapta Mandala yang merupakan salah satu kegiatan kesenian yang dibina Kodam VII Diponegoro.

Handung telah mengashilkan ratusan karya yang meliputi tidak kurang dari 161 naskah sandiwara dan ketoprak, 35 diantaranya naskah panjang dan 40 naskah ringkas yang diterbitkan sebagai buku seperti Perintah Diponegoro, Nyi Ageng Serang, Setyawati Obong, Putri Arum Dalu, Penguasa Sejati, Joko Suruh dan sebagainya. Beberapa naskah ketoprak tulisannya digunakan sebagai bahan pelajaran telaah seni tradisional di Universitas Leiden Belanda.

Handung juga telah menghasilkan 70 cerpen berbahasa Jawa yang dimuat diberbagai majalah seperti Penyebar Semangat, Jayabaya, Kekasih, Cendrawasih, dan Mekarsari. Selain itu ia juga menulis 3 novel yakni Merah Delima, Anggraini dan Timbalan Suci (Panggilan Suci). Dari sekian banyak karya-karyanya, salah satu pernah difilmkan dengan judul asli Den Ayu Mantri di bawah arahan sutradawa Azwar AN.

Handung berkarier di dunia jurnalistik sebagai wartawan pada Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, hingga menjadi Pemimpin Redaksi Mekarsari sampai pensiun tahun 1989. Setelah pensiun, Handung masih bekerja di grup media yang sama dengan menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Anak-anak Gatotkaca. Ia juga aktif di Pusat Latihan Tari Bagong Kusudiardjo sebagai pimpinan produksi, Yayasan Kebudayaan Tegalrejo, dan Yayasan Budaya Nusantara.

Orangtua Bagong, RB Tjondro Sentono menikah dengan Siti Aminah, Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah Kus Sumarbirah, Bagong Kussudiardja, Handung Kussudyarsana, dan Lilut Kussudyarto
347630/8 <880> < Kanjeng Raden Mas Tumenggung John Tondowidjojo Tondodiningrat
lahir: 27 September 1934, Ngawi
wafat: 5 September 2018, Surabaya
352031/8 <1759> < Raden Mas Maria Benediktus Soeprapto Sosroningrat
lahir: 11 Juni 1936, Semarang
Mengecap pendidikan di IKIP Bandung.
352132/8 <1759> < Raden Mas Maria Emanuel Jaktiawa Amir Katamsi Sosroningrat
lahir: 24 Desember 1938, Yogyakarta
Bersekolah di SMA De Brito, Yogyakarta
347833/8 <880> < w Sri Edi Swasono
lahir: 16 September 1940, Ngawi
perkawinan: <451> < w Meutia Farida Hatta b. 21 Maret 1947
352234/8 <1759> < Raden Mas Agustinus Maria Widodo Sosroningrat
lahir: 22 Januari 1941, Surabaya
317335/8 <1607> < Raden Mas Ipong Suhadi Putranto (alm.) [Hb.7.13.21.3]
lahir: 1 Desember 1942, Yogyakarta
perkawinan:
wafat: 17 September 2018, Malang
Nama Istri : R.Rr. Murwani Yuniati (alm.)

Lahir : Malang, 16 Juni 1950

Meninggal : Malang, 06 Oktober 2019
192036/8 <831> < 2. R. Pandu Suradhiningrat
pekerjaan: 1943 ? 1944, Tangerang, Bupati Tangerang
198237/8 <796+310> < Raden Mas Priyo Dwiarso [Hb.6.17.2.3.2]
lahir: 22 April 1943, Yogyakarta
perkawinan: <452> < Tiesye Suryati b. 10 Oktober 1946 d. 15 Agustus 2025
196438/8 <777+896!> < Bendoro Raden Ayu Sri Murdiyatun / Gusti Bendoro Raden Ayu Murda Kusuma
lahir: 19 Mei 1943, Yogyakarta
perkawinan: <453> < Kanjeng Raden Tumenggung Murdokusumo ? (Djoko Suprapto) d. 1986, Yogyakarta
wafat: 22 Agustus 2020
penguburan: 22 Agustus 2020, Yogyakarta, Pasarean Hastorenggo Kota Gede, Yogyakarta
196539/8 <777+308> < Bendoro Raden Ayu Sri Kuswarjanti Gusti Bendoro Raden Ayu Riya Kusuma
lahir: 27 April 1944, Yogyakarta
perkawinan: <454> < Kanjeng Raden Tumenggung Riyokusumo ? (Subono) , Yogyakarta
196640/8 <896+777!> < Bendoro Raden Ayu Sri Muryati / Gusti Bendoro Raden Ayu Dharma Kusuma
lahir: 26 Januari 1945, Yogyakarta
perkawinan: <455> < Kanjeng Raden Tumenggung Dharmokusumo ? (Suyono Sumantri) b. 1945, Yogyakarta
wafat: 1 Juli 2021, Jakarta
penguburan: 2 Juli 2021, Yogyakarta, Pasarean Hastorenggo, Kotagede
212341/8 <1086> < Raden Mas Mochammad Ahmad Soetardjo [Hb.3.2.22.1.1.4.1]
lahir: 19 Agustus 1945
perkawinan: <456> < Audiana Rochaya Setiawati b. 30 November 1959
Oeke mokalu.jpg
200342/8 <790+319> < Raden Mas Reynold G. Mokalu [Hb.6.17.5.1.3]
lahir: 6 Desember 1945
perkawinan: <457> < Setyawati Soemarja d. 28 Mei 2023
HB 10.JPG
181743/8 <777+308> < Kanjeng Sultan Hamengku Buwono X [Hb.9.5] (Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito)
lahir: 2 April 1946
gelar: Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram
perkawinan: <458> < Kanjeng Gusti Ratu Hemas ? (Bendoro Raden Ayu Mangkubumi) , Yogyakarta
gelar: 7 Maret 1989, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Amangku Buwana X Senapati ing Alaga ‘Abdu’l-Rahman Saiyid ud-din Panatagama Khalifatu’llah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa
pekerjaan: 3 Oktober 1998, Yogyakarta, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
Hamengkubuwana X

Bendara Raden Mas Herjuno Darpito atau Sri Sultan Hamengkubuwana X (Bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengku Buwono X, lahir di Yogyakarta, 2 April 1946; umur 64 tahun) adalah raja Kasultanan Yogyakarta sejak tahun 1989 dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1998.

Silsilah Anak tertua dari Sultan Hamengkubuwana IX dan istri keduanya, RA Siti Kustina/BRA Widyaningrum/KRA Widyaningrum/RAy Adipati AnumMenikah dengan Tatiek Drajad Suprihastuti/BRA Mangkubumi/GKR Hemas, putri dari Kolonel Radin Subanadigda Sastrapranata, pada tahun 1968. Memiliki saudara antara lain GBPH Joyokusumo, GBPH Prabukusumo, GBPH Yudaningrat

Memiliki lima orang putri: 1.GRA Nurmalita Sari/GKR Pembayun 2.GRA Nurmagupita/GKR Condrokirono 3.GRA Nurkamnari Dewi /GKR Maduretno 4.GRA Nurabra Juwita 5.GRA Nurastuti Vijareni

Masa kecil dan pendidikan Hamengkubuwono X lahir dengan nama BRM Herjuno Darpito. Setelah dewasa bergelar KGPH Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram. Hamengkubuwono X adalah seorang lulusan Fakultas Hukum UGM.

Penobatan Penobatan Hamengkubuwono X sebagai raja dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921) dengan gelar resmi Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa.

Kegiatan organisasi Hamengkubuwono X aktif dalam berbagai organisasi dan pernah memegang berbagai jabatan diantaranya adalah ketua umum Kadinda DIY, ketua DPD Golkar DIY, ketua KONI DIY, Dirut PT Punokawan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, Presiden Komisaris PG Madukismo, dan pada bulan Juli 1996 diangkat sebagai Ketua Tim Ahli Gubernur DIY. Pada 2010, bersama dengan Surya Paloh, Sri Sultan Hamengkubuwono X mencetuskan pendirian Nasional Demokrat.

Menjadi Gubernur DIY Setelah Paku Alam VIII wafat, dan melalui beberapa perdebatan, pada 1998 beliau ditetapkan sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dengan masa jabatan 1998-2003. Dalam masa jabatan ini Hamengkubuwono X tidak didampingi Wakil Gubernur. Pada tahun 2003 beliau ditetapkan lagi, setelah terjadi beberapa pro-kontra, sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta untuk masa jabatan 2003-2008. Kali ini beliau didampingi Wakil Gubernur yaitu Paku Alam IX.

Gempa Jogja Pada masa kepemimpinannya, Yogyakarta mengalami gempa bumi yang terjadi pada bulan Mei 2006 dengan skala 5,9 sampai dengan 6,2 Skala Richter yang menewaskan lebih dari 6000 orang dan melukai puluhan ribu orang lainnya.

Mengundurkan diri sebagai gubernur

"Kota kita tidak memerlukan kata pujian yang berlebihan. Dia hanya perlu sentuhan kasih dari hati nurani kita" - Kutipan dari Monumen Tapak Prestasi Hamengku Buwono X di Monumen Tapak Prestasi, Yogyakarta.Pada peringatan hari ulang tahunnya yang ke-61 di Pagelaran Keraton 7 April 2007, ia menegaskan tekadnya untuk tidak lagi menjabat setelah periode jabatannya 2003-2008 berakhir. Dalam pisowanan agung yang dihadiri sekitar 40.000 warga, ia mengaku akan mulai berkiprah di kancah nasional. Ia akan menyumbangkan pemikiran dan tenaganya untuk kepentingan bangsa dan negara.
194944/8 <896+777!> < Bendoro Raden Mas Murtyanta ? (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Adi Kusuma)
lahir: 29 September 1947, Yogyakarta
perkawinan: <459> < Sri Hardani ? (Raden Ayu Hadikusumo) b. 14 Agustus 1952 d. 11 Agustus 2018, Yogyakarta
wafat: 27 Februari 1994
263645/8 <1460> < Raden Ajeng Mooriati [Hb.6.18.4.9.1]
lahir: 4 Desember 1947, Madiun
perkawinan: <460> < Raden Soediharto Soedirman b. 29 Juni 1939, Jakarta
340247/8 <1706> < 3. Raden Mas Muljanto Condronegoro / Raden Mas Ndandung
lahir: 2 Februari 1949, Yogyakarta
perkawinan: <463> < Raden Nganten Hartini Brotosuwondo
wafat: 6 Oktober 2012, Yogyakarta
359248/8 <852> < w Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat
lahir: 7 Maret 1950, Yogyakarta
perkawinan: <464> < w Raden Willibrordus Soerendra b. 7 November 1935 d. 6 Agustus 2009
perceraian: <464!> < w Raden Willibrordus Soerendra b. 7 November 1935 d. 6 Agustus 2009
perkawinan: <465> < Anton Suprapto
perkawinan: <466> < w Sjukri Fadholi b. 23 September 1951
perkawinan: <467> < Debby Nasution b. 1956? d. 15 September 2018
Prijomustiko.jpg
198449/8 <796+310> < Raden Mas Prijo Mustiko [Hb.6.17.2.3.4]
lahir: 30 September 1950, Yogyakarta
perkawinan: <468> < Dian Siswantari b. 3 Februari 1957
195150/8 <777+896!> < Bendoro Raden Mas Kasworo [Hb.9.8] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Hadisuryo)
lahir: 19 Februari 1951, Yogyakarta
perkawinan: <1536!> < Raden Ajeng Andini Dewi [Hb.7.68.15] (Bendoro Raden Ayu Hadisuryo) b. 28 Oktober 1956
Patsy.jpeg
200251/8 <790+319> < Raden Ayu Patricia Elizabeth Frederika Mokalu [Hb.6.17.5.1.4]
lahir: 31 Juli 1951, Manado
perkawinan: <469> < Awie M. Narang b. 5 Maret 1947
wafat: 14 Juli 2020, Jakarta
229053/8 <1196+321> < Raden Mas Arioto [Hb.6.17.4.1.5]
lahir: 23 Juni 1953, Yogyakarta
perkawinan: <471> < Anita
188054/8 <799+331> < Raden Mas Djodi Suprapto [Hb.6.17.3.4.2]
lahir: 25 Desember 1953, Bogor
perkawinan: <472> < Widiana Nirmala
Lestari.jpg
186455/8 <798+330> < Raden Ayu Siti Wahyu Lestari [Hb.6.17.3.5.1]
lahir: 16 Januari 1954, Yogyakarta
perkawinan: <473> < R. Hermandi b. 8 Juni 1952
187956/8 <799+331> < Raden Mas Abimanyu [Hb.6.17.3.4.3]
lahir: 7 April 1955, Yogyakarta
perkawinan: <474> < Linda Marsini Rasad
198557/8 <796+310> < Raden Mas Harsanta [Hb.6.VI.17.2.3.5]
wafat: 14 Agustus 1955
Joyo.jpeg
195358/8 <777+308> < Bendoro Raden Mas Sumihandana [Hb.9.10] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Joyokusumo)
lahir: 27 Oktober 1955, Yogyakarta
perkawinan: <475> < Bendoro Raden Ayu Nuraida ? (Bendoro Raden Ayu Joyokusumo)
wafat: 31 Desember 2013, Jakarta
penguburan: 1 Januari 2014, Yogyakarta, Hastorenggo Royal Cemetery
== Riwayat Pendidikan ==
  • SD Keputran I, Yogyakarta (1968)
  • SMP Negeri III, Yogyakarta (1971)
  • SMA Negeri I, Yogyakarta (1974)
  • Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM)

Riwayat Jabatan

  • Anggota DPRD Provinsi dari Partai Golkar (1982 - 1987)
  • Anggota DPRD Provinsi dari Partai Golkar (1987 - 1992)
  • Anggota DPR dari Partai Golkar (1992 - 1997)
  • Anggota DPR dari Partai Golkar (1997 - 1999)
  • Anggota DPR dari Partai Golkar (1999 - 2004)
  • Anggota DPR dari Partai Golkar (2004 - 2009)

Organisasi

  • Anggota DPD Golkar (1978)
  • Anggota Sepidar Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Soksi) (1981)
  • Aktivis Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) (1982 - 1991)
  • Ketua DPD KNPI DI Yogyakarta (1982 - 1985)
  • Wakil Ketua BPD HIPMI DI Yogyakarta (1984 - 1987)
  • Wakil Ketua Depidar XI Soksi DI Yogyakarta (1985 - 1990)
  • Ketua Umum BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) DI Yogyakarta (1988 - 1991)
  • Ketua Biro Pemuda DPD Golkar DI Yogyakarta (1988 - 1993)
  • Ketua Depidar XI Soksi DI Yogyakarta (1990 - 1995)
  • Ketua Koordinator Bidang Seni, Budaya & Pariwisata dan Korwil VIII DPP Partai Golkar DI Yogyakarta (1998)

Pemakaman

Jenazah Joyokusumo diperkirakan akan tiba di Yogyakarta sekitar pukul 09.00 WIB Rabu, 1 Januari 2014. Rencananya, jenazah akan dimakamkan di Pasarean Hasto renggo Kota Gede sesuai dengan permintaan almarhum.[1]

Sementara itu, KPH Purbodiningrat menuturkan dipilihnya pesarean Hasto Renggo Kota Gede karena sesuai dengan permintaan alm. Joyokusumo sebelum meninggal dunia. "Pesan itu disampaikan Joyokusumo ke istrinya (BRAy Hj Joyokusumo),'" kata Purbodiningrat.

meninggal dunia sekitar pukul 17.00 WIB di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Joyokusumo dirawat di RS Medistra Jakarta sekitar satu bulan lalu akibat komplikasi penyakit.
195459/8 <777+2004!> < Bendoro Raden Mas Kuslardiyanta
lahir: 6 Februari 1956, Yogyakarta
perkawinan: <476> < Jeng Yeni
wafat: 1978, Yogyakarta
339960/8 <789+793!> < Raden Ajeng Elisabeth Siti Nurul Maliki [Hb.8.23.9]/[Hb.6.17.3.3] (Raden Ayu Henry Pristyanto)
lahir: 1 Agustus 1956
perkawinan: <477> < Raden Mas Mikael Henry Pristyanto d. 27 Januari 2023
Bule.jpg
185261/8 <787+316> < Raden Mas Reynold Martin Menot [c.VI.17.5.6.1]
lahir: 11 Desember 1956, Jakarta
perkawinan: <478> < Yenny Ambarwati b. 1 Juni 1955
195562/8 <777+307> < Bendoro Raden Mas Anindita ? (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Pakuningrat)
lahir: 27 November 1957, Yogyakarta
perkawinan: <479> < Nurita Afridiani ? (Bendoro Raden Ayu Pakuningrat) b. 1962, Yogyakarta
195663/8 <777+2004!> < Bendoro Raden Mas Sulaksamana ? (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Yudhoningrat)
lahir: 17 Januari 1958, Yogyakarta
perkawinan: <480> < Raden Roro Endang Hermaningrum ? (Raden Ayu Yudaningrat) b. 1963, Yogyakarta
187864/8 <799+331> < Raden Ayu Sri Wahyu Partiwiyati [Hb.6.17.3.4.4]
lahir: 2 Februari 1958, Bogor
perkawinan: <481> < James Roy Lapian
Mbak kuntas.jpg
339865/8 <789+793!> < Raden Ajeng Kuntaswari [Hb.8.23.10] (Raden Ayu Haryanto)
lahir: 31 Desember 1958, Yogyakarta
perkawinan: <482> < Haryanto b. 14 Januari 1954
FotoEdKapel.JPG
203866/8 <791+301> < Raden Mas Eddy Kapel [Hb.6.17.5.5.2]
lahir: 4 Januari 1959, Netherlands
wafat: 6 September 2015, Netherlands
195767/8 <777+2004!> < Bendoro Raden Mas Abirama ? (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Chandra Ningrat)
lahir: 15 Juni 1959, Yogyakarta
perkawinan: <483> < Hery Iswanti ? (Bendoro Raden Ayu Condrodiningrat) , Yogyakarta
195868/8 <777+307> < Bendoro Raden Mas Prasasto [Hb.7.74.2.2] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Cokroningrat)
lahir: 17 Oktober 1959, Yogyakarta
perkawinan: <484> < Lakhsmi Indra Suharjana ? (Bendoro Raden Ayu Chakraningrat)
wafat: 21 Juli 2019, Jakarta, Dimakamkan di Pasarean Hasto Renggo, Kotagede Yogyakarta, tanggal 22 Juli 2019
Ita.jpg
185369/8 <787+316> < Raden Ayu Rustini Anita Menot [c.VI.17.5.6.2]
lahir: 13 Desember 1959, Jakarta
perkawinan: <485> < Ign. Tommy Tedja d. 2012
Priambodo.jpg
183070/8 <782+?> < Ir. Priambodo, MM
lahir: 1960, Yogyakarta
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
Mbak unik.jpg
198671/8 <796+310> < Raden Ayu Wintang Esti Mumpuni [Hb.6.17.2.3.6]
lahir: 21 Desember 1960, Yogyakarta
perkawinan: <486> < Wahjudi Pantja Sunjata b. 16 Desember 1956, Yogyakarta
196872/8 <777+2004!> < Bendoro Raden Ajeng Sri Kusandanari
lahir: 19 Januari 1961, Yogyakarta
wafat: 1965
195973/8 <777+307> < Bendoro Raden Mas Arianto ? (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryodiningrat)
lahir: 26 Juni 1961, Yogyakarta
perkawinan: <487> < Farida Indah
196774/8 <777+2004!> < Bendoro Raden Ayu Kuslardiyanta
lahir: 26 Juni 1961, Yogyakarta
187775/8 <799+331> < Raden Ayu Retno Sulistiyanti [Hb.6.17.3.4.5]
lahir: 18 Oktober 1961, Bogor
perkawinan: <488> < Syarif Hadi Didi Djamirin Manoppo b. 15 Juni 1961
196976/8 <777+2004!> < Bendoro Raden Ayu Sri Kusuladewi
lahir: 27 Februari 1963, Yogyakarta
perkawinan: <489> < Kanjeng Raden Tumenggung Padmokusumo ? (Budi Santoso)
196077/8 <777+307> < Bendoro Raden Mas Sarsono ? (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryomataram)
lahir: 26 Maret 1963, Jakarta
196178/8 <777+307> < Bendoro Raden Mas Harkomoyo ? (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro)
lahir: 29 April 1965
perkawinan: <490> < Ice Cahyani ? (Raden Ayu Hadinegoro) , Yogyakarta
187679/8 <799+331> < Raden Ayu Heribu Ernawati [Hb.6.17.3.4.6]
lahir: 22 Desember 1965, Bogor
Ndut.jpg
185480/8 <787+316> < Raden Ayu Yvonne Agustina Menot [c.VI.17.5.6.3]
lahir: 2 Agustus 1967, Jakarta
perkawinan: <491> < Purnomo Hadi
196282/8 <777+307> < Bendoro Raden Mas Swatindro ? (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryonegoro)
lahir: 27 September 1968
perkawinan: <493> < Raden Roro Endang Retno Werid Soelasmi Lima , Yogyakarta
Rmx.jpg
185183/8 <787+316> < Raden Mas Raymond Michael Menot [Hb.6.17.5.6.5]
lahir: 5 Agustus 1970, Jakarta
GRAD: 10 November 1996, Depok, Universitas Indonesia
perkawinan: <494> < Lina Marlina b. 29 Agustus 1976, Depok
187084/8 <802+332> < Raden Ayu Agustina Retno Tri Prabandari [Hb.6.17.3.7.3]
lahir: 20 Agustus 1981, Yogyakarta
360285/8 <1803+?> < Zakia Ulfah [Hb.3.2.8.14.1.6.9.1]
lahir: 24 Desember 1981, Magelang
perkawinan:
perkawinan: <495> < Mubayin Aslam b. 2 Januari 1976
perkawinan: <495!> < Mubayin Aslam b. 2 Januari 1976, Magelang
198186/8 <796+310> < Raden Mas Priyopratomo [Hb.6.17.2.3.1]
wafat: 26 Maret 1996
352887/8 <1763+311> < B. R. A. Koes Sistijah Siti Mariana
wafat: 25 Oktober 2000
196388/8 <777+896!> < Bendoro Raden Ayu Gusti Sri Murhanjati ? (Gusti Kanjeng Ratu Anum)
perkawinan: <496> < Kanjeng Pangeran Haryo Adibroto ? (Budi Permana) b. 1923, Yogyakarta
wafat: 3 Juli 2006
Jeng Dani.jpg
228589/8 <1196+321> < Raden Ayu Ambar Ichtiardani [Hb.6.17.4.1.10]
perkawinan: <497> < Toto Wiweko Damaya
wafat: 31 Maret 2020, Jakarta
Winnie kapel.jpg
203790/8 <791+301> < Raden Ayu Winnie Kapel [Hb.6.17.5.5.3]
perkawinan: <498> < Polis ? (Polis)
wafat: 19 Mei 2020, Netherlands
187291/8 <803+333> < Raden Ayu Sri Hartati [Hb.6.17.3.2.3]
perkawinan: <499> < Fauzi Amin
wafat: 17 Maret 2021, Aceh
353792/8 <1255+872!> < Raden Ayu Sri Kadarjati / Raden Ayu Kusumaningrat 220693/8 <804+336> < Raden Mas Sukomartoyo [Hb.6.17.3.1.4]
wafat: 29 Agustus 2022, Jakarta
199195/8 <807+338> < Raden Mas Salihin Syahbudin [Hb.6.17.6.1.3]
perkawinan: <501> < Raden Roro Suwitaningsih
wafat: 6 Desember 2022, Jakarta
359396/8 <852> < Raden Ayu Laksmidhati
wafat: 5 Juli 2023, Kotagede, Pasarean Hastorenggo
187397/8 <803+333> < Raden Ayu Sunarti [Hb.6.17.3.2.2]
perkawinan: <502> < Yusanto
wafat: 20 Februari 2024
299398/8 <1534+861!> < Raden Mas Trikuntarahadi [Hb.8.36.6]
wafat: 29 Februari 2024
181899/8 <778> < Bambang
Official From Hilal Achmar.
Drs. Agung Wibisono I.jpg
1819100/8 <778> < Drs. R. Agung Wibisono
perkawinan: <503> < Vanda , Balikpapan
perkawinan: <504> < Lucy , Surabaya
Official From Hilal Achmar.
1820101/8 <778> < Denny
Official From Hilal Achmar.
R. Condro.jpg
1821102/8 <778+323> < Drs. R. Condro Negoro
perkawinan: <505> < Ira
Official From Hilal Achmar.
1822103/8 <778+323> < Erna
Official From Hilal Achmar.
Rr. Dewi.jpg
1823104/8 <778> < Rr. Dewi
1824105/8 <778> < Drs. Bobby Cahyono
Official From Hilal Achmar.
Nita, SE.jpg
1825106/8 <778> < Dra. Yunita
Official From Hilal Achmar.
R. Adi.jpg
1826107/8 <778> < Drs. R. Adi
Official From Hilal Achmar.
1827108/8 <778> < Iwan
Official From Hilal Achmar.
Sofie.jpg
1828109/8 <778> < Sofie
Official From Hilal Achmar.
Tri.jpg
1829110/8 <778> < Tri
Official From Hilal Achmar.
1831111/8 <782+?> < Ir. Irawati
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dian Damayanti.jpg
1832112/8 <782+?> < Hj. Ir. Raden Roro Dian Damayanti
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605.

Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ir. Dian Damayanti, pernah belajar di Universitas Gajah Mada, lulusan Fakultas Kehutanan, adik kelas Presiden Joko Widodo. Juga pernah belajar dan lulus dari SMA 3B yogyakarta. Berkarir di Yogyakarta dan Jakarta.

Ir. Raden Roro Dian Damayanti mempunyai jalur trah atau keturunan yang bersambung sampai Sri Sultan Hamengkubuwono III.

Silsilah dari Hamengkubuwono III keatas, dapat dilihat pada hirarki lengkap Ir. Raden Roro Dian Damayanti, yang tombol hirarkinya berada dibawah foto profil.
Demikianlah sekilas tentang profil Ir. Rr. Dian Damayanti.
1833113/8 <782+?> < Ir. Wijokongko
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1834114/8 <783> < Uti
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dina.jpg
1835115/8 <783> < Dina
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1836116/8 <779> < Hendra
Official From Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605
1837117/8 <779+326> < Evan
Official From Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605
1838118/8 <779+326> < Vina
Official From Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605
1839119/8 <780+?> < Henny
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1840120/8 <780+?> < Cahyo
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1841121/8 <780+?> < Ery
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
Vera Gushadi.jpg
1842122/8 <781+327> < Vera
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1843123/8 <781+327> < Anton
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1844124/8 <781+327> < Lina
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1845125/8 <781> < Lia
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
Ir. H. Rr. Komarwati.jpg
1846126/8 <778+323> < Ir. Hj. RR. Komarwati (R)
Ir. Hj. RR. Komarwati Lineage Study

Warning: From Muhammad SAW The Prophet No.25 to Nabi Ibrahim AS (Amenmose Ibarim) have two citated lineage:

1. My Study : Yasyjub to Nabi Ibrahim AS (Amenmose Ibarim) through Nafish Lineage No. 25 From Nabi Adam AS.

2. Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study : Yasyjub to Nabi Ibrahim AS (Amenmose Ibarim) through Nabit Lineage No. 22 from Adam.

MY LINEAGE NOT YET COMPLETED. THERE IS STILL CHANGE FOR RELATION, INFORMATION, REFERENCES ETC. PLS BE CAREFULL.
1847127/8 <786+?> < Ella
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1848128/8 <786+?> < Lisa
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1849129/8 <784+?> < Ani
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1850130/8 <784+?> < Yoyok
Official From Ir H Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Note From R.Riyo Murtiwandowo (R.Mocham), Tepas Dalem Karaton. Ngayogyakarta Hadiningrat.
1856131/8 <788+300> < Raden Mas Robert Thomas Menot [Hb.6.17.5.2.2]
perkawinan: <517> < Leanne b. 11 Juli 1962
1857132/8 <788+300> < Raden Ayu Sandra Menot [Hb.6.17.5.2.1]
1858133/8 <788+300> < Raden Ayu Sonya Menot [Hb.6.17.5.2.3]
1859134/8 <797+329> < RA. Puji Ediyati
perkawinan: <518> < H. Suyamto d. 15 April 2021
1863138/8 <797+329> < RM. Hari Triarso 1866140/8 <798+330> < Raden Mas Joko Santosa [Hb.6.17.3.5.5] 1869143/8 <802+332> < Raden Ayu Wahyu Tri Yuliandari [Hb.6.17.3.7.1] 1871144/8 <802+332> < Raden Mas Irawan [Hb.6.17.3.7.2]
perkawinan: <528> < Rini Widiastuti d. 28 Mei 2023
1874145/8 <803+333> < Raden Mas Sunarto HM. [Hb.6.17.3.2.1] 1881147/8 <835+?> < 1. Drs. H. R. Mansyur (Mama)
1884148/8 <813+808!> < 3. RM. H. Muh. Rais 1885149/8 <813+808!> < 4. RA. Hj. Siti Quraesin (Ecin)
1887150/8 <808+?> < 9. R. Hj. Siti Khodijah
1890152/8 <808+?> < 11. RM. Mahbub
1891153/8 <808+?> < 12. RA. Neneng Maemunah
1893155/8 <808+?> < 14. RM. Muhamad Ridwan 1894156/8 <817> < R. Abdul Latif
1896157/8 <809+?> < 2, R. ALI
1897158/8 <809> < 3. R. Abdul Manan (adung)
1898159/8 <809> < 4. R. Supiah (Siti)
1899160/8 <809> < 5. R. Encung
1901161/8 <809> < 2. R. Masdir Kartaningrat (tata)
1903162/8 <809> < 5. R. Mochammad Arief
1904163/8 <809> < 4. R. Sumantri (ati)
1905164/8 <809> < 6. R. Eman Sulaeman
1906165/8 <822> < 1. R. H. Soleh Surodimenggolo
1908166/8 <822> < 3. R. H. Musa Sumodirdjo
1909167/8 <822> < 4. R. H. Embih Sastrodirdjo
1910168/8 <823> < 1. R. Ican Suromenggolo
1911169/8 <823> < 2. R. Amoe
1912170/8 <823> < 3. R. H. Ardjomenggolo
Syafei.jpeg
1913171/8 <824> < R. H. MOH Syafei Adinata
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


RIWAYAT HIDUP

RADEN HAJI MUHAMMAD SYAFEI ADINATA DIPONEGORO, adalah putera pertama dari RM.H. ARDIMENGGOLO (Tjamat Tjiawi tahun ?), generasi ke 4 dari Pangeran Diponegoro yang lahir pada tahun ...... di Ciomas, Bogor.



Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)
    
   
0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING II ING NGAYOGYAKARTA    
1. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA    
2. BPH. DIPANEGARA    
3. RM. DJONET DIPAMENGGALA
4. RM. HARJO DIPOMENGGOLO
5. RM.H. BROJOMENGGOLO    
6. RM.H. ARDIMENGGALA
7. RH.M.SYAFEI ADINATA DIPANEGARA  
- Tercatat Di Tepas Darah Dalem -
1914172/8 <824> < R. H. Jamsari Adimenggolo
1915173/8 <825> < R. HJ. Enung
1916174/8 <826> < 1. Nyi R. Kuraesin
1917175/8 <826> < 2. R. Ajid Mangkuwijaya / R. Aon Magkuwijaya
1918176/8 <826> < 3. Nyi Rd. Rohaja (Mati Muda)
1921177/8 <831> < 3. R. Hasan
1922178/8 <831> < 4. R. Kuraesin
1923179/8 <833> < R. ACO Umar
1926180/8 <836> < 1. NYI Rd. HJ. S. Aisyah
1927181/8 <836> < 2. NYI Rd. Hj. INA
1928182/8 <836> < 3. NYI Rd. Hj. Siti
1929183/8 <836> < 4. R.h. Marana
1930184/8 <836> < 5. NYI Rd. Hj. Arisah
1931185/8 <836> < 6. R.h. Barnas Sintomenggolo
1932186/8 <836> < 7. NYI Rd. Hj. UTI
1933187/8 <836> < 8. R. H. UTA
1934188/8 <836> < 9. NYI Rd. Hj. Hatimah
1935189/8 <836> < 10. R.h. Sidik Sintomenggolo
1936190/8 <837> < R. H. Karta
1937191/8 <837> < R. Juha
1938192/8 <837> < R. H. Darma
1939193/8 <837> < R. H. Darna
1940194/8 <838> < R. Entuna Partawijaya
1942195/8 <839> < R. Prawirasumantri
1943196/8 <779+326> < Vanta
Official From Hilal Achmar. http://id.rodovid.org/wk/Orang:354605. Vanta telah almarhumah.
1944197/8 <817> < R. Armani
1945198/8 <817> < R. Jenab
1946199/8 <817> < R. Murnas
1947200/8 <817> < R. Abdurrohim
1948201/8 <817> < R. Abdurrohman
1971202/8 <795+328> < Raden Ayu Sukartinah [Hb.6.17.2.2.1] 1972203/8 <795+328> < Raden Mas Suhadi [Hb.6.17.2.2.2]
1973204/8 <795+328> < Raden Ajeng Sukartijah [Hb.6.17.2.2.3]
1974205/8 <795+328> < Raden Mas Suharto [Hb.6.17.2.2.4]
1975206/8 <795+328> < Raden Mas Sukartono [Hb.6.17.2.2.5]
1976207/8 <795+328> < Raden Mas Suharsono [Hb.6.17.2.2.6] 1977208/8 <795+328> < Raden Ajeng Sukartini [Hb.6.17.2.2.7]
1978209/8 <795+328> < Raden Mas Suhandi [Hb.6.17.2.2.8]
1979210/8 <795+328> < Raden Ajeng Suhartinah [Hb.6.17.2.2.9]
1980211/8 <795+328> < Raden Mas Sumedi [Hb.6.17.2.2.10]
1983212/8 <796+310> < Raden Mas Prijatmodjo [Hb.6.17.2.3.3] 1987213/8 <805+337> < Raden Ayu Titik Kusnariati Didik Wahyudi [Hb.6.17.6.3.1] 1988214/8 <805+337> < Raden Roro Ninin Kusnariani [Hb.6.17.6.3.2]
1989215/8 <807+338> < Raden Mas Abdul Murni [Hb.6.17.6.1.1] 1990216/8 <807+338> < Raden Ayu Murtinah Salam Effendi [Hb.6.17.6.1.2] 1992217/8 <807+338> < Raden Mas Zulkarnaini [Hb.6.17.6.1.4]
1993218/8 <807+338> < Raden Ayu Murtini [Hb.6.17.6.1.5]
1994219/8 <807+338> < Raden Mas Amir [Hb.6.17.6.1.6]
1995220/8 <807+338> < Raden Mas Sofyan Syahbudin [Hb.6.17.6.1.7] 1996221/8 <807+338> < Raden Mas Sofwan Syahbudin [Hb.6.17.6.1.8] 1997222/8 <807+338> < Raden Mas Mohammad Syarif Agung Perkasa [Hb.6.17.6.1.9] 1998223/8 <807+338> < Raden Ayu Murtiati [Hb.6.17.6.1.10] 1999224/8 <807+338> < Raden Mas Murdianto [Hb.6.17.6.1.11] 2000225/8 <790+319> < Raden Mas Rudy M. A. Mokalu [Hb.6.17.5.1.1]
2001226/8 <790+319> < Raden Ayu Maudy Ch. Mokalu [Hb.6.17.5.1.2] 2004227/8 <897+346> < Kanjeng Ratu Ayu Hastungkoro [Ga.Hb.9.3] [Hb.7.13.18.2] (Bendoro Raden Ajeng Kusyadinah) 2005228/8 <898> < 1. R. Sumiati Diponegoro
2006229/8 <898> < 2. R. Juwita Diponegoro
2007230/8 <898> < 3. R. Soebroto Diponegoro
2008231/8 <898> < 4. R. Muh. Ishak Diponegoro
2009232/8 <898> < 5. R. Sukarno Diponegoro
2010233/8 <898> < 6. R. Rahmawati Diponegoro (yuni Wati)
2011234/8 <898> < 7. R. Wisnu Diponegoro
2012235/8 <898> < 8. R. Jono Diponegoro
2013236/8 <898> < 9. R. Mulyati Diponegoro ( Ajeng Yati )
2014237/8 <901+?> < 1. R. Achmad Indrachya Kamarullah
2015238/8 <901+?> < 2. R. Oemar Indracahya Kamarullah
2016239/8 <901+?> < 3. R. Abdullah Indracahya Kamarullah
2017240/8 <907+?> < 1. RM. Sentot Diponegoro
Alamat : Kompleks DDN Pondok Labu Jakarta
2018241/8 <907+?> < 2. RA. Maryam Diponegoro (Mirjam)
2019242/8 <907+?> < 1. RM. Sutomo Diponegoro
2020243/8 <907+?> < 2. RA. Maryati Diponegoro /Ayu Din
2021244/8 <907+?> < 3. RA. Sukati Diponegoro /Ayu Tati
2022245/8 <907+?> < 4. RM. Santoso Diponegoro /Eno
2023246/8 <907+?> < 5. RM. Antawirya Diponegoro
2024247/8 <907+?> < 6. RM. Susilo Diponegoro
2025248/8 <907+?> < 7. RM. Gatot Diponegoro /Johan
Alamat : Jati Kecil Ternate
2026249/8 <907+?> < 8. RM. Indra Diponegoro
Den sudirman2.jpeg
2028251/8 <907+?> < 10. RM. Sudirman Diponegoro /Den
Alamat : Perum Villa Mula Sakti Indah Bekasi
2031252/8 <801> < Raden Ayu Siti Adiati [Hb.6.17.3.6.1] 2032253/8 <801> < Raden Ayu Siti Kuswandari [Hb.6.17.3.6.5] 2033254/8 <801> < Raden Ayu Siti Widayati [Hb.6.17.3.6.3] 2034255/8 <801> < Raden Ajeng Siti Herminati Woro Wahyuni [Hb.6.17.3.6.4]
2035256/8 <801> < Raden Mas Djoko Sembodo [Hb.6.17.3.6.2] 2039258/8 <900+?> < 1. R. Nurlela Amar Diponegoro
2040259/8 <900+?> < 2. R. Salim Amar Diponegoro
2041260/8 <900+?> < 3. R. Ahmad Amar Diponegoro
2042261/8 <901+?> < 4. R. Mien Soeroyo
2043262/8 <901+?> < 5. R. Poppy Soeroyo
2044263/8 <903+?> < 1. R. Oemar Kamarudin
2045264/8 <903+?> < 2. Hamid Kamarudin
2046265/8 <903+?> < 3. R. Deetje Kamarudin
2047266/8 <903+?> < 4. R. Dicky Kamarudin
2048267/8 <904+?> < 1. RM. Ali Ali Akbar Diponegoro (Yogya)
2049268/8 <905+?> < 1. R. Mayor Gautama Sahir
2050269/8 <905+?> < 2. R. dr. Erlangga Sahir
2051270/8 <905+?> < 3. R. Dra. Cici Sahir
2052271/8 <905+?> < 4. R. Kol. dr. Abimanyu Sahir
2053272/8 <905+?> < 5. R. Kol. Amiluhur Sahir
2054273/8 <905+?> < 6. R. dr. Ontowiryo Sahir
2055274/8 <920> < Raden Dwi Handaja
2058276/8 <923> < 1. Raden Mas Pudjojono (Medan)
2059277/8 <923> < 2. Raden Ayu Muinah
2060278/8 <923> < 3. Raden Ayu Mariati
2061279/8 <923> < 4. Raden Mas Dipokusumo
2062280/8 <923> < 5. RM. Surasno (Bandung)
2063281/8 <923> < 6. RA. Ratnawati (Semarang)
2064282/8 <923> < 7. RM. Sudjono I
2065283/8 <923> < 8. RM. Sudjono II (Semarang)
2066284/8 <923> < 9. RM. Setiabudi (Semarang)
2067285/8 <923> < 10. RA. Budiati (Semarang)
2068286/8 <924> < 1. R. Kyai A. Nadhir
2069287/8 <924> < 2. R. Kyai A. Haris
2070288/8 <924> < 3. Nyi RNgt. Musringah
2071289/8 <924> < 4. R. Kyai Muthohar
2072290/8 <924> < 5. R. Kohar Mudatsir
2073291/8 <924> < 6. Nyi RNgt. Ruqoyah
2074292/8 <924> < 7. Nyi RNgt. Marfu'ah
2075293/8 <924> < 8. Nyi RNgt. Siti Maemunah
2076294/8 <1050> < Raden Nganten Jayeng Supiarjo [Hb.3.2.7.1.1.1.1]
2077295/8 <1050> < Raden Nganten Danujo [Hb.3.2.7.1.1.1.2]
2078296/8 <1059> < Raden Mas Eddy Sarwono [Hb.5.9.3.6.1]
2079297/8 <1059> < Raden Ayu Erny Soedaryati [Hb.5.9.3.6.2]
2080298/8 <1059> < Raden Ayu Etri Wahyuhidayati [Hb.5.9.3.6.3]
2081299/8 <1059> < Raden Ayu Esti Iwardani [Hb.5.9.3.6.4]
2082300/8 <1069> < Raden Roro Indriastuti [Hb.3.2.18.6.3.10.1]
2083301/8 <1069> < Raden Priyo Gunanto Albertus [Hb.3.2.18.6.3.10.2] 2084302/8 <1069> < Raden Roro Srihandayanti [Hb.3.2.18.6.3.10.3]
2085303/8 <1069> < Raden Imam Sudiantono [Hb.3.2.18.6.3.10.4]
2086304/8 <1069> < Raden Nganten Nurfifi Arliani [Hb.3.2.18.6.3.10.5] 2087305/8 <1069> < Raden Roro Murdewi Siswandari [Hb.3.2.18.6.3.10.6]
2088306/8 <1069> < Raden Agus Ambaryanto [Hb.3.2.18.6.3.10.7]
2089307/8 <1069> < Raden Roro Retno Isti Indrayani [Hb.3.2.18.6.3.10.8]
2090308/8 <1069> < Raden Bambang Wirawan [Hb.3.2.18.6.3.10.9]
2091309/8 <1068> < Raden Joko Pribadi Sakti [Hb.3.2.18.6.3.9.1]
2092310/8 <1068> < Raden Nganten Kirono Laksmi [Hb.3.2.18.6.3.9.2]
2093311/8 <1068> < Raden Nganten Kirono Arundati [Hb.3.2.18.6.3.9.3]
2094312/8 <1068> < Raden Nganten Kirono Krisnayani [Hb.3.2.18.6.3.9.4]
2095313/8 <1071> < Raden Nganten Kusworosumadi [Hb.3.2.18.6.4.2.1]
2096314/8 <1071> < Raden Kustaryo [Hb.3.2.18.6.4.2.2] 2097315/8 <1071> < Raden Nganten Kustarmini [Hb.3.2.18.6.4.2.3] 2098316/8 <1071> < Raden Kustarmono [Hb.3.2.18.6.4.2.4] 2099317/8 <1092+371> < Raden Mas Indranto [Hb.3.2.22.1.1.10.1]
2100318/8 <1092+371> < Raden Mas Indrawan [Hb.3.2.22.1.1.10.2]
2101319/8 <1092+371> < Raden Mas Indrabekti [Hb.3.2.22.1.1.10.3]
2102320/8 <1092+371> < Raden Mas Indradri [Hb.3.2.22.1.1.10.4]
2103321/8 <1092+371> < Raden Mas Indra Prasta [Hb.3.2.22.1.1.10.5]
2104322/8 <1092+371> < Raden Ayu Indrawati [Hb.3.2.22.1.1.10.6]
2105323/8 <1083> < Raden Mas Sulaiman [Hb.3.2.22.1.1.1.1] 2106324/8 <1083> < Raden Mas Suyudono [Hb.3.2.22.1.1.1.2] 2107325/8 <1083> < Raden Ayu Samsilah Burhan [Hb.3.2.22.1.1.1.3]
2108326/8 <1083> < Raden Ayu Samsinah Soeroso [Hb.3.2.22.1.1.1.4]
2109327/8 <1083> < Raden Mas Suyudi [Hb.3.2.22.1.1.1.5]
2110328/8 <1083> < Raden Ayu Saidah Daryadi Hoedayat [Hb.3.2.22.1.1.1.6]
2111329/8 <1083> < Raden Ayu Sri Hartati Ibnu Raharjo [Hb.3.2.22.1.1.1.7]
2112330/8 <1083> < Raden Ayu Sumaryati [Hb.3.2.22.1.1.1.8]
2113331/8 <1083> < Raden Mas Permadi [Hb.3.2.22.1.1.1.9] 2114332/8 <1083> < Raden Ayu Kartini Usman Masran [Hb.3.2.22.1.1.1.10]
2115333/8 <1083> < Raden Mas Mulyomojo [Hb.3.2.22.1.1.1.11] 2116334/8 <1084> < Raden Mas Fauzi [Hb.3.2.22.1.1.2.1]
2117335/8 <1084> < Raden Ayu Farida [Hb.3.2.22.1.1.2.2]
2118336/8 <1084> < Raden Mas Fahmi Suyono [Hb.3.2.22.1.1.2.3]
2119337/8 <1084> < Raden Ayu Femmy [Hb.3.2.22.1.1.2.4]
2120338/8 <1084> < Raden Ayu Fauzia Ernie [Hb.3.2.22.1.1.2.5]
2121339/8 <1084> < Raden Mas Sudirman Bol [Hb.3.2.22.1.1.2.6]
2122340/8 <1084> < Raden Mas Suharto [Hb.3.2.22.1.1.2.7]
2124341/8 <1086> < Raden Mas Hassan Syahrier [Hb.3.2.22.1.1.4.2] 2125342/8 <1086> < Raden Mas Husien Sarief [Hb.3.2.22.1.1.4.3] 2126343/8 <1086> < Raden Ayu Soeryani Ahmad Noor [Hb.3.2.22.1.1.4.3]
2127344/8 <1086> < Raden Ayu Soetari Bambang Nuryanto [Hb.3.2.22.1.1.4.5]
2128345/8 <1086> < Raden Ayu Kartina [Hb.3.2.22.1.1.4.6]
2129346/8 <1085+365> < Raden Mas Gatot Menol [Hb.3.2.22.1.1.3.1] 2130347/8 <1085+365> < Raden Ayu Hesty Andrini Bambang Istiadi [Hb.3.2.22.1.1.3.2]
2131348/8 <1085+365> < Raden Ayu Ida Ratna [Hb.3.2.22.1.1.3.3]
2132349/8 <1085+365> < Raden Ayu Vonny Yongky [Hb.3.2.22.1.1.3.4]
2133350/8 <1085+365> < Raden Ayu Poppy Ginda Sari [Hb.3.2.22.1.1.3.5]
2134351/8 <1087> < Raden Mas Iman Santoso [Hb.3.2.22.1.1.5.1] 2135352/8 <1087> < Raden Mas Luhur S. [Hb.3.2.22.1.1.5.2] 2136353/8 <1087> < Raden Ayu Sri Amanati Zainudin Zikado [Hb.3.2.22.1.1.5.3]
2137354/8 <1087> < Raden Ayu Tetty Mada Zikado [Hb.3.2.22.1.1.5.4]
2138355/8 <1087> < Raden Ayu Ratnaningsih Soeyadi Soerachmad [Hb.3.2.22.1.1.5.5] 2139356/8 <1089+368> < Raden Mas Achmad Soediono [Hb.3.2.22.1.1.7.1] 2140357/8 <1089+368> < Raden Ayu Mochamad Soemarno [Hb.3.2.22.1.1.7.2]
2141358/8 <1089+368> < Raden Mas Raharjo [Hb.3.2.22.1.1.7.3] 2142359/8 <1089+368> < Raden Ayu Puji Lestari Suharyo Hadi Dharma [Hb.3.2.22.1.1.7.4]
2143360/8 <1090> < Raden Ayu Elve Purwani Heru Purnawarman [Hb.3.2.22.1.1.8.1]
2144361/8 <1091+370> < Raden Mas Yudhistira Sudiarto [Hb.3.2.22.1.1.9.1] 2145362/8 <1091+370> < Raden Ayu Irmayani Pujiastuti Drajat Usdianto [Hb.3.2.22.1.1.9.2] 2146363/8 <1093+372> < Raden Nganten Surodimejo [Hb.3.8.1.1.1.1.2] 2147364/8 <1093+372> < Raden Nganten Sosrobahu [Hb.3.8.1.1.1.1.1] 2148365/8 <1103> < Nungki Lusida [Hb.3.14.1.1.1.10.1]
2149366/8 <1101> < Roro Windyani [Hb.3.14.1.1.1.8.1]
2150367/8 <1101> < Roro Elaina Larasati [Hb.3.14.1.1.1.8.2]
2151368/8 <1098> < Raden Heru Nugroho [Hb.3.14.1.1.1.5.1]
2152369/8 <1098> < Roro Diah Likita Sari [Hb.3.14.1.1.1.5.2]
2153370/8 <1099> < Raden Bambang Purwiyantoro [Hb.3.14.1.1.1.6.1]
2154371/8 <1099> < Roro Diah Kusumo Wikandari [Hb.3.14.1.1.1.6.2]
2155372/8 <1099> < Raden Handoko Tri Wijayanto [Hb.3.14.1.1.1.6.3]
2156373/8 <1099> < Raden Agung Prasetyo Wibowo [Hb.3.14.1.1.1.6.4]
2157374/8 <1100> < Raden Priya Osta Nanda [Hb.3.14.1.1.1.7.1]
2158375/8 <1100> < Raden Vidhyandika [Hb.3.14.1.1.1.7.2]
2159376/8 <1112> < Raden Roro Verenesha Ardisa [Hb.3.19.2.1.6.1.1]
2160377/8 <1118+373> < Raden Nganten Purwanti Setyaningsih [Hb.3.26.2.1.4.6.1]
2161378/8 <1118+373> < Raden Pracoyo Nuharto [Hb.3.26.2.1.4.6.2] 2162379/8 <1118+373> < Raden Putut Setiyo Utomo [Hb.3.26.2.1.4.6.3] 2163380/8 <1118+373> < Raden Nganten Pujiastuti Rahayu [Hb.3.26.2.1.4.6.4]
2164381/8 <1118+373> < Raden Prihartanto Bambang Susetyo [Hb.3.26.2.1.4.6.5]
2165382/8 <1118+373> < Raden Roro Pretti Tri Wahyuni [Hb.3.26.2.1.4.6.6]
2166383/8 <1119> < Raden Hendy Harimawan [Hb.3.27.2.1.1.1.1]
2167384/8 <1119> < Raden Nganten Lilik Ruliyati Barry Wasia Basri [Hb.3.27.2.1.1.1.2] 2168385/8 <1123> < Raden Mochammad Irfan Adha [Hb.3.28.13.1.1.3.1]
2169386/8 <1122> < Raden Roro Siti Khatimah [Hb.3.28.13.1.1.2.1]
2170387/8 <1121> < Raden Rafi Budi Satrio [Hb.3.28.13.1.1.1.1]
2171388/8 <1121> < Raden Roro Cantika Rhamadanti [Hb.3.28.13.1.1.1.2]
2172389/8 <1141+374> < Raden Roro Fajriyah Nurul Sufi [Hb.3.28.14.3.3.3.1]
2173390/8 <1140> < Raden Roro Dian Nurul Utami [Hb.3.28.14.3.3.2.1]
2174391/8 <1148> < Raden Ima [Hb.3.28.14.3.2.5.1]
2175392/8 <1148> < Raden Hadzi [Hb.3.28.14.3.2.5.2]
2176393/8 <1147> < Raden Rizal [Hb.3.28.14.3.2.4.1]
2177394/8 <1147> < Raden Roro Upie [Hb.3.28.14.3.2.4.2]
2178395/8 <1147> < Raden Roro Ria [Hb.3.28.14.3.2.4.3]
2179396/8 <1146> < Raden Roro Ika [Hb.3.28.14.3.2.3.1]
2180397/8 <1146> < Raden Roro Dina [Hb.3.28.14.3.2.3.2]
2181398/8 <1146> < Raden Roro Maya [Hb.3.28.14.3.2.3.3]
2182399/8 <1146> < Raden Iqbal [Hb.3.28.14.3.2.3.4]
2183400/8 <1145> < Raden Yudha [Hb.3.28.14.3.2.2.1]
2184401/8 <1145> < Raden Dimas [Hb.3.28.14.3.2.2.2]
2185402/8 <1145> < Raden Roro Fajar [Hb.3.28.14.3.2.2.3]
2186403/8 <1145> < Raden Agil [Hb.3.28.14.3.2.2.4]
2187404/8 <1145> < Raden Roro Umi [Hb.3.28.14.3.2.2.5]
2188405/8 <1156> < Raden Aris [Hb.3.28.14.3.1.6.1]
2189406/8 <1156> < Raden Sabiq [Hb.3.28.14.3.1.6.2]
2190407/8 <1154> < Raden Roro Andri [Hb.3.28.14.3.1.4.1]
2191408/8 <1154> < Raden Fiki [Hb.3.28.14.3.1.4.2]
2192409/8 <1153> < Raden Anto [Hb.3.28.14.3.1.3.1]
2193410/8 <1153> < Raden Firman [Hb.3.28.14.3.1.3.2]
2194411/8 <1152> < Raden Eko [Hb.3.28.14.3.1.2.1]
2195412/8 <1152> < Raden Dwi [Hb.3.28.14.3.1.2.2]
2196413/8 <1152> < Raden Roro Wijayanti [Hb.3.28.14.3.1.2.3]
2197414/8 <1152> < Raden Roro Iin [Hb.3.28.14.3.1.2.4]
2198415/8 <1152> < Raden Roro Dani [Hb.3.28.14.3.1.2.5]
2199416/8 <1151> < Raden Johan [Hb.3.28.14.3.1.1.1]
2200417/8 <1151> < Raden Onang [Hb.3.28.14.3.1.1.2]
2201418/8 <1151> < Raden Wawan [Hb.3.28.14.3.1.1.3]
2202419/8 <1151> < Raden Roro Fida [Hb.3.28.14.3.1.1.4]
2203420/8 <804> < Raden Ayu Sri Sutarsilah [Hb.6.17.3.1.1] 2204421/8 <804> < Raden Ayu Sri Sutarsinah [Hb.6.17.3.1.2] 2205422/8 <804> < Raden Mas Sumarsono [Hb.6.17.3.1.3] 2207423/8 <804> < Raden Mas Sukomudanto [Hb.6.17.3.1.5] 2208424/8 <804> < Raden Mas Sukodanarto [Hb.6.17.3.1.6] 2209425/8 <804> < Raden Ayu Sri Bangun Setyaningsih [Hb.6.17.3.1.7] 2210426/8 <804> < Raden Ayu Sri Nurwidayatun [Hb.6.17.3.1.8] 2211427/8 <804> < Raden Mas Sukowidayanto [Hb.6.17.3.1.9] 2212428/8 <804> < Raden Ajeng Sri Indah Triastuti [Hb.6.17.3.1.10] 2213429/8 <804> < Raden Ajeng Sri Wahyu Dramastuti [Hb.6.17.3.1.11] 2214430/8 <1158> < Raden Ayu Kudotaruno [Hb.4.8.5.1.2.1] [Hb.4.9.1.1.2.1]
2215431/8 <1158> < Raden Ayu Atmowinoto [Hb.4.8.5.1.2.2] [Hb.4.9.1.1.2.2]
2216432/8 <1158> < Raden Ayu Sudarminah Cokrowinoto [Hb.4.8.5.1.2.3] [Hb.4.9.1.1.2.3]
2217433/8 <1159> < Raden Sulaiman [Hb.4.10.2.1.1.1]
2218434/8 <1160> < Raden Nganten Soewari Soeyitno Joyowinoto [Hb.4.13.1.1.1.1]
2219435/8 <1160> < Raden Moejito [Hb.4.13.1.1.1.10]
2220436/8 <1160> < Raden Nganten Moejirah [Hb.4.13.1.1.1.9]
2221437/8 <1160> < Raden Moejiono [Hb.4.13.1.1.1.8]
2222438/8 <1160> < Raden Nganten Moejilah Widodo [Hb.4.13.1.1.1.7]
2223439/8 <1160> < Raden Roro Moehani [Hb.4.13.1.1.1.6]
2224440/8 <1160> < Raden Nganten Soemarni Soehendro [Hb.4.13.1.1.1.5]
2225441/8 <1160> < Raden Soekarjo [Hb.4.13.1.1.1.4]
2226442/8 <1160> < Raden Soedarjo [Hb.4.13.1.1.1.3]
2227443/8 <1160> < Raden Soeratman [Hb.4.13.1.1.1.2]
2228444/8 <1163> < Raden Mas Ambyah [Hb.6.5.1.4.1] / [Hb.7.10.4.1]
2229445/8 <1164+376> < Raden Mas Boddhisattwa [Hb.6.5.1.3.4] / [Hb.7.10.3.4]
2230446/8 <1164+376> < Raden Mas Krishnaji [Hb.6.5.1.3.3] / [Hb.7.10.3.3]
2231447/8 <1164+376> < Raden Ajeng Manjusri [Hb.6.5.1.3.2] / [Hb.7.10.3.2]
2232448/8 <1164+376> < Raden Ajeng Ardhanari [Hb.6.5.1.3.1] / [Hb.7.10.3.1]
2233449/8 <1165> < Raden Mas Bintal Jemur [Hb.6.5.1.2.1] / [Hb.7.10.2.1] 2234450/8 <1162+375> < Raden Ayu Siti Jin Sukandinah [Hb.7.10.1.1]
2235451/8 <1162+375> < Raden Mas Bonokamdi [Hb.7.10.1.2]
2236452/8 <1162+375> < Raden Mas Banuarli [Hb.7.10.1.3] 2237453/8 <1162+375> < Raden Ayu Siti Jin Sukamdilah [Hb.7.10.1.4] 2238454/8 <1162+375> < Raden Mas Bintarti Kusnyomalibarni [Hb.7.10.1.5] 2239455/8 <1162+375> < Raden Ajeng Siti Jin Suwasti [Hb.7.10.1.6]
2240456/8 <1166+1167!> < Raden Mas Jidtokusaeri [Hb.7.20.8.1]
2241457/8 <1166+1167!> < Raden Mas Istamto [Hb.7.20.8.2]
2242458/8 <1166+1167!> < Raden Ajeng Maharkesti [Hb.7.20.8.4]
2243459/8 <1166+1167!> < Raden Ajeng Siti Partiwi [Hb.7.20.8.3] 2244460/8 <1176+379> < Raden Ajeng Siti Farida [Hb.7.20.24.1]
2245461/8 <1176+379> < Raden Ajeng Siti Syarifah [Hb.7.20.24.5]
2246462/8 <1176+379> < Raden Ajeng Siti Suraeni [Hb.7.20.24.4]
2247463/8 <1176+379> < Raden Mas Ridzalsyah Thayeb [Hb.7.20.24.3]
2248464/8 <1176+379> < Raden Mas Harris Thayeb [Hb.7.20.24.2]
2249465/8 <1179> < Raden Mas Lumiaji [Hb.7.20.11.1]
2250466/8 <1179> < Raden Mas Amiputro [Hb.7.20.11.7]
2251467/8 <1179> < Raden Ajeng Kusmiyarti [Hb.7.20.11.5]
2252468/8 <1179> < Raden Ajeng Ismusilah [Hb.7.20.11.4]
2253469/8 <1179> < Raden Ajeng Siti Salmiyatinah [Hb.7.20.11.3]
2254470/8 <1179> < Raden Mas Junaedi [Hb.7.20.11.2]
2255471/8 <1179> < Raden Ajeng Noorsamsi [Hb.7.20.11.6]
2256472/8 <1177> < Raden Ajeng Herning Susmayanti [Hb.7.20.20.7]
2257473/8 <1177> < Raden Mas Dhiyak Widoyoko [Hb.7.20.20.6]
2258474/8 <1177> < Raden Mas Numartamtoro [Hb.7.20.20.5]
2259475/8 <1177> < Raden Mas Chayatul Hujono [Hb.7.20.20.3]
2260476/8 <1177> < Raden Mas Johar Munajat [Hb.7.20.20.10]
2261477/8 <1177> < Raden Ajeng Herning Najati [Hb.7.20.20.9]
2262478/8 <1177> < Raden Ajeng Herning Danastri [Hb.7.20.20.8]
2263479/8 <1177> < Raden Ajeng Herning Wijayanti [Hb.7.20.20.4]
2264480/8 <1177> < Raden Mas Tochrul Binowo [Hb.7.20.20.2]
2265481/8 <1177> < Raden Mas Herumarwoto [Hb.7.20.20.1]
2266482/8 <1177> < Raden Ajeng Herning Achadiati [Hb.7.20.20.11]
2267483/8 <1180+864!> < Raden Mas Kutdarrul Haryani [Hb.7.20.4.6]
2268484/8 <1180+864!> < Raden Mas Bannudoyo [Hb.7.20.4.5]
2269485/8 <1180+864!> < Raden Mas Kusnohardali [Hb.7.20.4.4]
2270486/8 <1180+864!> < Raden Ajeng Siti Kironolesmi [Hb.7.20.4.3] 2271487/8 <1180+864!> < Raden Mas Ebenu Chaeri [Hb.8.1.2]
2272488/8 <1180+864!> < Raden Mas Noordiyattiroe [Hb.7.20.4.1]
2273489/8 <1184> < Raden Ajeng Kusumokamardi [Hb.7.58.1.1] (Raden Ayu Noorkusadi) 2274490/8 <1184> < Raden Mas Hadiprawtoto [Hb.7.58.1.2]
2275491/8 <1184> < Raden Ajeng Kusumo Ngasrini [Hb.7.58.1.3] (Raden Ayu Diro Supangkat) 2276492/8 <1184> < Raden Ajeng Kusumo Ngastuti [Hb.7.58.1.4] (Raden Ayu Kamal Hidayat) 2277493/8 <1184> < Raden Ajeng Kusumo Mahayati [Hb.7.58.1.5] (Raden Ayu Dadang) 2278494/8 <1184> < Raden Mas Hadi Prasetio [Hb.7.58.1.6]
2279495/8 <1186> < Raden Mas Jahwoto Harsono [Hb.6.5.4.3.4]
2280496/8 <1186> < Raden Mas Brontoharsono [Hb.6.5.4.3.3]
2281497/8 <1186> < Raden Mas Purboharsono [Hb.6.5.4.3.2]
2282498/8 <1186> < Raden Ayu Wakisworo Achmad Azis [Hb.6.5.4.3.1] 2283499/8 <1197+1194!> < Raden Mas Iman Sarwono Notodirdjo [Hb.6.17.4.3.1]
2284500/8 <1196+321> < Raden Ayu Ambarwati 2286501/8 <1196+321> < Raden Ayu Isye Prabawati [Hb.6.17.4.1.9] 2287502/8 <1196+321> < Raden Mas Doddy Prihapsoro [Hb.6.17.4.1.8] 2288503/8 <1196+321> < Raden Ayu Isye Anggraeni [Hb.6.17.4.1.7] 2289504/8 <1196+321> < Raden Ayu Etty Prihapsari [Hb.6.17.4.1.6] 2291505/8 <1196+321> < Raden Ayu Enny Sri Wahyati [Hb.6.17.4.1.4]
perkawinan: <600> < Emil Rasjidi d. 20 Februari 2026
2292506/8 <1196+321> < Raden Ayu Herawati [Hb.6.17.4.1.3]
2293507/8 <1196+321> < Raden Ayu Adiati [Hb.6.17.4.1.2]
2294508/8 <1198> < Raden Mas Musdanardi [Hb.6.9.1.1.1]
2295509/8 <1198> < Raden Mas Sunaryo / Raden Wedono Suryowerdoyo [Hb.6.9.1.1.2]
2296510/8 <1198> < Raden Mas Musnandar [Hb.6.9.1.1.3]
2297511/8 <1198> < Raden Ayu Mustiyati Suwarno [Hb.6.9.1.1.4]
2298512/8 <1198> < Raden Ayu Suryadilah Projosastroprawiro [Hb.6.9.1.1.5]
2299513/8 <1198> < Raden Ayu Siti Sujilah Projopuspito [Hb.6.9.1.1.6] 2300514/8 <913+347> < Raden Mas Wiryantono Setyolaksono [Hb.7.55.4.2]
2301515/8 <913+347> < Raden Ajeng Setianiwati [Hb.7.55.4.1] 2302516/8 <912> < Raden Ajeng Sasanti Amisani [Hb.7.55.3.1]
2303517/8 <912> < Raden Ajeng Mahatmi Parwitasari [Hb.7.55.3.2]
2304518/8 <911> < Raden Mas Mahatma [Hb.7.55.2.1]
2305519/8 <911> < Raden Ajeng Maharesmi Suhartati [Hb.7.55.2.2]
2306520/8 <909> < Raden Mas Supandi [Hb.6.9.14.1.1.7]
2307521/8 <909> < Raden Mas Tegas [Hb.6.9.14.1.1.6]
2308522/8 <909> < Raden Mas Restu [Hb.6.9.14.1.1.4]
2309523/8 <909> < Raden Ajeng Nurdayati [Hb.6.9.14.1.1.1]
2310524/8 <909> < Raden Ajeng Sri Badarun Maryani [Hb.6.9.14.1.1.2]
2311525/8 <909> < Raden Ayu Sabaryanti Mulyono [Hb.6.9.14.1.1.3]
2312526/8 <909> < Raden Mas Waspada [Hb.6.9.14.1.1.5]
2313527/8 <1228> < Raden Ajeng Suwartinah [Hb.6.9.15.4.1]
2314528/8 <1228> < Raden Mas Untung Subagyo [Hb.6.9.15.4.2]
2315529/8 <1228> < Raden Mas Nur Gunawan [Hb.6.9.15.4.11]
2316530/8 <1228> < Raden Ajeng Mumpuni Sudarsini [Hb.6.9.15.4.10]
2317531/8 <1228> < Raden Mas Nur Waskita Hadi [Hb.6.9.15.4.9]
2318532/8 <1228> < Raden Mas Nur Mulyo Hadi [Hb.6.9.15.4.8]
2319533/8 <1228> < Raden Mas Nurhadi [Hb.6.9.15.4.7]
2320534/8 <1228> < Raden Ajeng Riniadi [Hb.6.9.15.4.6]
2321535/8 <1228> < Raden Mas Dhip Damayanto [Hb.6.9.15.4.5]
2322536/8 <1228> < Raden Mas Seto Bambang Nayoto [Hb.6.9.15.4.4]
2323537/8 <1228> < Raden Ajeng Endang Uniati [Hb.6.9.15.4.3]
2324538/8 <1226> < Raden Mas Bismo Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.1]
2325539/8 <1226> < Raden Ajeng Madrim Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.2]
2326540/8 <1226> < Raden Mas Wisnu Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.3]
2327541/8 <1226> < Raden Ajeng Ratih Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.4]
2328542/8 <1226> < Raden Ajeng Sinta Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.6]
2329543/8 <1226> < Raden Ajeng Laksmi Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.5]
2330544/8 <1239+383> < Raden Ajeng Maduretno [Hb.6.11.1.9.3]
2331545/8 <1239+383> < Raden Mas Harkomoyo [Hb.6.11.1.9.2]
2332546/8 <1239+383> < Raden Mas Pamuji Raharjo [Hb.6.11.1.9.1]
2333547/8 <1232> < Raden Mas Kirmani Purwodiprojo [Hb.6.11.1.2.1]
2334548/8 <1232> < Raden Mas Mangkudimuka [Hb.6.11.1.2.2]
2335549/8 <1235> < Raden Mas Sudiro / Raden Mas Sri Sukiat [Hb.6.11.1.5.1] (Raden Mas Frans Harsono)
2336550/8 <1244+1245!> < Raden Ajeng Daruni [Hb.7.19.2.1]
2337551/8 <1244+1245!> < Raden Mas Daruno [Hb.7.19.2.2]
2339552/8 <1243> < Raden Ajeng Sasantining Sri Supantari [Hb.6.11.3.4.1]
2340553/8 <1247+866!> < Raden Ajeng Sri Hapsari Sidhimarji [Hb.8.4.8]
2341554/8 <866+1247!> < Raden Ayu Kuswardinah [Hb.8.4.7]
2342555/8 <866+1247!> < Raden Mas Sewoyo [Hb.8.4.6]
2343556/8 <1247+866!> < Raden Ajeng Siti Rencini [Hb.8.4.5]
2344557/8 <1247+866!> < Raden Mas Murning Tipeno [Hb.8.4.3]
2345558/8 <1247+866!> < Raden Ajeng Siti Milani [Hb.8.4.2]
2346559/8 <1247+866!> < Raden Mas Newoso [Hb.8.4.4]
2347560/8 <1247+866!> < Raden Ajeng Siti Marhatin Nukandar [Hb.8.4.1] (Raden Ayu Prastowo Kertopati) 2348561/8 <1252> < Raden Ajeng Musdiyati [Hb.7.1.1.5.1] (Raden Ayu Haryono)
2349562/8 <1252> < Raden Mas Musmiardi [Hb.7.1.1.5.2]
2350563/8 <1252> < Raden Ajeng Nuniek Muspartiyah [Hb.7.1.1.5.3 (Raden Ayu Suratno)
2351564/8 <1263> < Raden Mas Kusmutidar Ibnu Widanarto [Hb.6.11.8.7.3]
2352565/8 <1263> < Raden Ajeng Kus Ediningrum [Hb.6.11.8.7.4] 2353566/8 <1263> < Raden Mas Bambang Kustono [Hb.6.11.8.7.2]
2354567/8 <1263> < Raden Ajeng Nur Kus Sutiyatinah Antorowati [Hb.6.11.8.7.1]
2355568/8 <1256> < Raden Mas Palen Sudarmoyo [Hb.7.4.1.2.3]
2356569/8 <1255+872!> < Raden Ajeng Sri Miati [Hb.8.19.1] 2357570/8 <1271+865!> < Raden Mas Suandono [Hb.8.3.1]
2358571/8 <1270> < Raden Ajeng Kustamiyati [Hb.7.22.5.2] (Raden Ayu Bambang Dimulyo) 2359572/8 <1270> < Raden Mas Murdiyanto Dipudiporo [Hb.7.22.5.1]
2360573/8 <1276> < Raden Mas Patmonodewo [Hb.6.11.10.5.1]
2361574/8 <1276> < Raden Ajeng Tri Martini [Hb.6.11.10.5.2]
2362575/8 <1276> < Raden Ajeng Nikentari [Hb.6.11.10.5.3]
2363576/8 <1276> < Raden Mas Dwi Saptono [Hb.6.11.10.5.4]
2364577/8 <1276> < Raden Ayu Apirul Jurokapti [Hb.6.11.10.5.5]
2365578/8 <1276> < Raden Mas Sarbiyakto [Hb.6.11.10.5.6]
2366579/8 <1277> < Raden Ajeng Siti Partinah [Hb.6.11.11.1.1]
2367580/8 <1277> < Raden Ajeng Siti Kusparti [Hb.6.11.11.1.2] 2368581/8 <1277> < Raden Mas Kuswantoro [Hb.6.11.11.1.10]
2369582/8 <1277> < Raden Ajeng Siti Purwanti [Hb.6.11.11.1.9] 2371584/8 <1277> < Raden Mas Susapto [Hb.6.11.11.1.7]
2372585/8 <1277> < Raden Mas Hadi Purwanto [Hb.6.11.11.1.6]
2373586/8 <1277> < Raden Ajeng Siti Parwati [Hb.6.11.11.1.5]
2374587/8 <1277> < Raden Mas Purwito H. Parwoto [Hb.6.11.11.1.4]
2375588/8 <1277> < Raden Mas Subroto Parwoto [Hb.6.11.11.1.3]
2376589/8 <1288+384> < Raden Mas Yoyok Setiohardijoyo [Hb.6.11.15.4.1]
2377590/8 <1288+384> < Raden Mas Hito Sacipto Lelono [Hb.6.11.15.4.2]
2378591/8 <1288+384> < Raden Mas Bambang Sudrajat [Hb.6.11.15.4.4]
2379592/8 <1288+384> < Raden Mas Harry Krisman Sutanto [Hb.6.11.15.4.3]
2380593/8 <1288+384> < Raden Mas Setio Hadiyanto [Hb.6.11.15.4.5]
2381594/8 <1288+384> < Raden Ajeng Ayi Sriningdiah Sutarniati [Hb.6.11.15.4.6]
2382595/8 <1304> < Raden Mas Ibnukasiro [Hb.6.11.17.4.1]
2383596/8 <1304> < Raden Mas Ibnu Katamsi [Hb.6.11.17.4.2]
2384597/8 <1304> < Raden Mas Ibnu Kaharsi [Hb.6.11.17.4.3]
2385598/8 <1305> < Raden Ajeng Sunaryati [Hb.6.11.17.17.1] 2386599/8 <1305> < Raden Ajeng Sunar Ratnawati [Hb.6.11.17.17.2] 2387600/8 <1305> < Raden Mas Sunar Haryono [Hb.6.11.17.17.3]
2388601/8 <1305> < Raden Ajeng Sunar Pratiwi [Hb.6.11.17.17.4] 2389602/8 <1536+1951!> < Raden Mas Baskoro Aji [Hb.9.8.1]
2390603/8 <1536+1951!> < Raden Ajeng Rustinarus Diah Suryandini [Hb.9.8.4]
2391604/8 <1536+1951!> < Raden Mas Radipto Hadinugroho [Hb.9.8.3]
2392605/8 <1310> < Raden Ajeng Taufika Iswandari [Hb.6.11.20.4.2]
2393606/8 <1310> < Raden Ajeng Umara Sri Windyaswari [Hb.6.11.20.4.1]
2394607/8 <1582+1311!> < Raden Ajeng Kusyutrilah [Hb.7.4.9.1]
2395608/8 <1582+1311!> < Raden Ajeng Kuswidiyanti [Hb.7.4.9.2]
2396609/8 <1582+1311!> < Raden Ajeng Kuswirati [Hb.7.4.9.4]
2397610/8 <1311+1582!> < Raden Mas Ibnu Saeful [Hb.7.4.9.3]
2398611/8 <1311+1582!> < Raden Ajeng Kuswidayati [Hb.7.4.9.5] (Raden Ayu Suhardo) 2399612/8 <1323+385> < Raden Ajeng Suwetty Brataningsih [Hb.6.11.24.7.1]
2400613/8 <1325+386> < Raden Ajeng Mulyan Retno Daru Dkw. [Hb.6.11.24.6.1] 2401614/8 <1325+386> < Raden Ajeng Mulyati Retno Setyowati [Hb.6.11.24.6.2] 2402615/8 <1325+386> < Raden Mas Sapto Dewo Nugroho [Hb.6.11.24.6.3]
2403616/8 <1325+386> < Raden Ajeng Mulyati Retno Widowati DM. [Hb.6.11.24.6.4] (Raden Ayu Suhaemi) 2404617/8 <1325+386> < Raden Mas Dewo Broto Joko Putranto [Hb.6.11.24.6.5]
2405618/8 <1325+386> < Raden Mas Wisnu Broto Adiwidaryanto P. [Hb.6.11.24.6.6]
2406619/8 <1325+386> < Raden Mas Romi Hastobroto Susetyo W. [Hb.6.11.24.6.7]
2407620/8 <1326+387> < Raden Mas Kuntadi Sudarsono [Hb.6.11.24.4.1]
2408621/8 <1323+385> < Raden Ajeng Setyo Handiyastuti [Hb.6.11.24.7.7] 2409622/8 <1323+385> < Raden Mas Aji Satyo Wiratmo [Hb.6.11.24.7.6]
2410623/8 <1323+385> < Raden Ajeng Dyah Hestibrata Candrasastrawati [Hb.6.11.24.7.4]
2411624/8 <1323+385> < Raden Mas Tunggul Brotopriyono [Hb.6.11.24.7.2]
2412625/8 <1323+385> < Raden Mas Herbroto Suryo Sutandyo [Hb.6.11.24.7.5]
2413626/8 <1323+385> < Raden Mas Wasisto Brotosasongko [Hb.6.11.24.7.3]
2414627/8 <1327+2604!> < Raden Mas Sentot Wisynu Warddhana [Hb.6.11.25.1.1]
2415628/8 <1327+2604!> < Raden Mas Putut Adhitya Warddhana [Hb.6.11.25.1.2]
2416629/8 <1327+2604!> < Raden Mas Menot Tryanta Warddhana [Hb.6.11.25.1.3]
2417630/8 <1331> < Raden Ajeng Sekarputri Pudji Hasyyati [Hb.6.11.27.7.4]
2418631/8 <1331> < Raden Mas Ismail Daru Hajitomo [Hb.6.11.27.7.3]
2419632/8 <1331> < Raden Ajeng Fauzia Dewi Murtiningrum [Hb.6.11.27.7.2]
2420633/8 <1331> < Raden Mas Danisworo Nandono Pujokusumo [Hb.6.11.27.7.1]
2421634/8 <1330+388> < Raden Ajeng Lilik Indah Purnamawati [Hb.6.11.27.6.1] 2422635/8 <1330+388> < Raden Mas Cuk Wahyu Wijayadi [Hb.6.11.27.6.2]
2423636/8 <1330+388> < Raden Ajeng Retno Ambarsari [Hb.6.11.27.6.3] 2424637/8 <1332+389> < Raden Ajeng Idawanti Pramudaryati [Hb.6.11.27.5.1]
2425638/8 <1332+389> < Raden Mas Isdarwanto Dwi Leksono [Hb.6.11.27.5.2]
2426639/8 <1332+389> < Raden Ajeng Suryorini Trihapsari [Hb.6.11.27.5.3]
2427640/8 <1332+389> < Raden Ajeng Iswari Desy Daruyati [Hb.6.11.27.5.4]
2428641/8 <1339> < Raden Mas Hariadi Wahyuwardono [Hb.6.11.28.1.1]
2429642/8 <1339> < Raden Ajeng Harwiandari Wahyuwardani [Hb.6.11.28.1.2] 2430643/8 <1339> < Raden Ajeng Haryanti Wahyuwaluyaningsih [Hb.6.11.28.1.3] 2431644/8 <1337+390> < Raden Mas Ibnu Wiwoho Wahyutomo [Hb.6.11.28.2.1]
2432645/8 <1338> < Raden Ajeng Retno Muninggar [Hb.6.11.28.3.1] 2433646/8 <1338> < Raden Mas Mohammad Wibisono [Hb.6.11.28.3.2]
2434647/8 <1343> < Raden Ajeng ST. Kusretno Hadimurti [Hb.6.11.29.4.1]
2435648/8 <1343> < Raden Ajeng Sri Mardiningsih Widyawati [Hb.6.11.29.4.2]
2436649/8 <1345> < Raden Sulistyo Marwoto [Hb.6.11.29.6.1]
2437650/8 <1345> < Raden Rakyan Harimurti [Hb.6.11.29.6.2]
2438651/8 <1347+391> < Raden Ajeng Dewi Mardiana Agustina [Hb.6.11.29.8.1]
2439652/8 <1354> < Raden Ajeng Dewi Handi Rustinawati [Hb.7.14.6.1]
2440653/8 <1352> < Raden Ajeng Lenny Indah Husnita [Hb.7.14.4.1]
2441654/8 <1352> < Raden Mas Cahyo Russeto [Hb.7.14.4.2]
2442655/8 <1352> < Raden Mas Erik Rustripa [Hb.7.14.4..3]
2443656/8 <1352> < Raden Mas Teddy Rusanggra Putra [Hb.7.14.4.4]
2444657/8 <1349+392> < Raden Ajeng Retno Sundari [Hb.7.14.1.1]
2445658/8 <1349+392> < Raden Ajeng Retno Kusumorini [Hb.7.14.1.2]
2446659/8 <1360> < Raden Ajeng Rini Kus Endang [Hb.6.18.21.1.13]
2447660/8 <1360> < Raden Mas Bambang Kusagung Kristanto [Hb.6.18.21.1.11]
2448661/8 <1360> < Raden Mas Bambang Kusaji Sasongko [Hb.6.18.21.1.10]
2449662/8 <1360> < Raden Mas Bambang Kusbayuhoro [Hb.6.18.21.1.9]
2450663/8 <1360> < Raden Mas Bambang Kusnugroho [Hb.6.18.21.1.8]
2451664/8 <1360> < Raden Ajeng Endang Kusumo Wardani [Hb.6.18.21.1.1]
2452665/8 <1360> < Raden Mas Bambang Heru Kusumo [Hb.6.18.21.1.2]
2453666/8 <1360> < Raden Ajeng Herkusumaningsih [Hb.6.18.21.1.3]
2454667/8 <1360> < Raden Mas Bambang Kusbiantoro [Hb.6.18.21.1.5]
2455668/8 <1360> < Raden Ajeng Herkusumaningrum [Hb.6.18.21.1.4]
2456669/8 <1360> < Raden Mas Bambang Kuspriyanto [Hb.6.18.21.1.6]
2457670/8 <1360> < Raden Mas Bambang Kusharyanto [Hb.6.18.21.1.7]
2458671/8 <1361> < Raden Mas Sri Handoyo Kusumo [Hb.6.18.21.2.1]
2459672/8 <1361> < Raden Ajeng Candra Dewi [Hb.6.18.21.2.2]
2460673/8 <1361> < Raden Mas Fajar Kusumo [Hb.6.18.21.2.11]
2461674/8 <1361> < Raden Ajeng Yun Pritiana Dewi [Hb.6.18.21.2.9]
2462675/8 <1361> < Raden Mas Yopi Asih Kusumo [Hb.6.18.21.2.12]
2463676/8 <1361> < Raden Ajeng Desi Prahmana Dewi [Hb.6.18.21.2.3]
2464677/8 <1361> < Raden Mas Kuncahyono Kusumo [Hb.6.18.21.2.4]
2465678/8 <1361> < Raden Mas Wicaksono Kusumo [Hb.6.18.21.2.5]
2466679/8 <1361> < Raden Ajeng Sasanti Perwito Dewi [Hb.6.18.21.2.6]
2467680/8 <1361> < Raden Ajeng Retno Dewi [Hb.6.18.21.2.7]
2468681/8 <1361> < Raden Mas Sri Laksono Kusumo [Hb.6.18.21.2.8]
2469682/8 <1361> < Raden Ajeng Anjar Sasmita Kusumo [Hb.6.18.21.2.10]
2470683/8 <1368> < Raden Ajeng Yuningdiyah Widya Rahayu [Hb.6.18.19.2.6]
2471684/8 <1368> < Raden Ajeng Ratnawati Pintaka Dewi [Hb.6.18.19.2.5]
2472685/8 <1368> < Raden Ajeng Hapsari Riana Susmawati [Hb.6.18.19.2.4]
2473686/8 <1368> < Raden Mas Arie Kunto Guretno [Hb.6.18.19.2.3]
2474687/8 <1368> < Raden Ajeng Susi Priyanti Budi Astuti [Hb.6.18.19.2.1]
2475688/8 <1368> < Raden Ajeng Dewi Yulia Natareni [Hb.6.18.19.2.2] 2476689/8 <1367> < Raden Ajeng Endang Palupi [Hb.6.18.19.1.7]
2477690/8 <1367> < Raden Ajeng Retno Punto Dewi [Hb.6.18.19.1.6]
2478691/8 <1367> < Raden Ajeng Retno Utami [Hb.6.18.19.1.5]
2479692/8 <1367> < Raden Mas Suryanto Wahyu Satrio [Hb.6.18.19.1.4]
2480693/8 <1367> < Raden Mas Siswanto Wahyu Raharjo [Hb.6.18.19.1.3]
2481694/8 <1367> < Raden Mas Sunarto Wahyu Widodo [Hb.6.18.19.1.2]
2482695/8 <1367> < Raden Ajeng Sri Sinarti Wahyuningsih [Hb.6.18.19.1.1]
2483696/8 <1369+393> < Raden Ayu Astrid Retno Yuradaru [Hb.6.18.15.1.1] 2484697/8 <1369+393> < Raden Ayu Astarini Retno Yukasanu [Hb.6.18.15.1.2] 2485698/8 <1370> < Raden Ayu Nurulmalita Yukapraditya [Hb.6.18.15.1.2.1]
2486699/8 <1372> < Raden Mas Caca [Hb.6.18.17.1.1]
2487700/8 <1380> < Raden Ajeng Retno Sulistiawati [Hb.6.18.17.2.1]
2488701/8 <1380> < Raden Mas Sony [Hb.6.18.17.2.2]
2489702/8 <1372> < Raden Mas Herry [Hb.6.18.17.1.5]
2490703/8 <1372> < Raden Mas Toto [Hb.6.18.17.1.2]
2491704/8 <1372> < Raden Ajeng Maya [Hb.6.18.17.1.3]
2492705/8 <1372> < Raden Ajeng Ida [Hb.6.18.17.4]
2493706/8 <1380> < Raden Ajeng Ida [Hb.6.18.17.2.5]
2494707/8 <1380> < Raden Ajeng Yanti [Hb.6.18.17.2.4]
2495708/8 <1380> < Raden Mas Yanto [Hb.6.18.17.2.3]
2496709/8 <1387> < Raden Mas Agung [Hb.6.18.17.9.2]
2497710/8 <1387> < Raden Ajeng Ana [Hb.6.18.17.9.1]
2498711/8 <1385> < Raden Mas Ary [Hb.6.18.17.8.1]
2499712/8 <1385> < Raden Ajeng Lina [Hb.6.18.17.8.2]
2500713/8 <1384> < Raden Ajeng Meilani [Hb.6.18.17.6.1]
2501714/8 <1384> < Raden Ajeng Sita [Hb.6.18.17.6.2]
2502715/8 <1381> < Raden Mas Kutiko [Hb.6.18.17.3.1]
2503716/8 <1381> < Raden Ajeng Errika [Hb.6.18.17.3.4]
2504717/8 <1382> < Raden Ajeng Pustika [Hb.6.18.17.4.1]
2505718/8 <1383> < Raden Ajeng Dian Liela Primasari [Hb.6.18.17.5.1]
2506719/8 <1383> < Raden Ajeng Dita Dwikasanti [Hb.6.18.17.5.2]
2507720/8 <1381> < Raden Ajeng Altieka [Hb.6.18.17.3.2]
2508721/8 <1381> < Raden Ajeng Sartika [Hb.6.18.17.3.3]
2509722/8 <1389> < Raden Mas Gata Wresnijati [Hb.6.18.13.1.3]
2510723/8 <1389> < Raden Ajeng Bindranani [Hb.6.18.13.1.2]
2511724/8 <1389> < Raden Ajeng Gata Apudana [Hb.6.18.13.1.1]
2512725/8 <1401> < Raden Mas Barry Leonardo [Hb.6.18.12.1.1]
2513726/8 <1401> < Raden Mas Barley Fernando [Hb.6.18.12.1.2]
2514727/8 <1401> < Raden Ajeng Sonya Barbara [Hb.6.18.12.1.3]
2515728/8 <1404> < Raden Mas Ari Pernadi [Hb.6.18.12.4.1]
2516729/8 <1405+394> < Raden Mas Andika Wishnu [Hb.6.18.12.5.1]
2517730/8 <1405+394> < Raden Mas Baron Pandoro [Hb.6.18.12.5.2]
2518731/8 <1414> < Raden Ajeng Diyan Saraswati [Hb.6.18.11.5.4]
2519732/8 <1414> < Raden Mas Tharyoko Teguh Prasojo [Hb.6.18.11.5.3]
2520733/8 <1415> < Raden Mas Sakti Aji Budiman [Hb.6.18.11.4.3]
2521734/8 <1416> < Raden Ajeng Ekowati Sundari [Hb.6.18.11.1.1]
2522735/8 <1416> < Raden Mas Agung Pribadi [Hb.6.18.11.1.2]
2523736/8 <1416> < Raden Mas Wahyu Prasetiyo [Hb.6.18.11.1.3]
2524737/8 <1418> < Raden Mas Hari Aryoseno [Hb.6.18.11.3.5]
2525738/8 <1416> < Raden Ajeng Prahesti S. Utami [Hb.6.18.11.1.4]
2526739/8 <1414> < Raden Ajeng Dwi Aryani Sari [Hb.6.18.11.5.2]
2527740/8 <1418> < Raden Mas Hari Nugroho [Hb.6.18.11.3.1]
2528741/8 <1415> < Raden Ajeng Cahyowati Utami [Hb.6.18.11.4.2]
2529742/8 <1415> < Raden Ajeng Semiwati Carolina [Hb.6.18.11.4.1]
2530743/8 <1416> < Raden Mas Prahesto S. Utomo [Hb.6.18.11.1.5]
2531744/8 <1414> < Raden Mas Mahendro Satrio [Hb.6.18.11.5.1]
2532745/8 <1418> < Raden Mas Hari Sujatmoko [Hb.6.18.11.3.2]
2533746/8 <1418> < Raden Mas Hari Triyono [Hb.6.18.11.3.3]
2534747/8 <1418> < Raden Mas Hari Wasgito [Hb.6.18.11.3.4]
2535748/8 <1421> < Raden Ajeng Mancuk [Hb.6.18.1.1.1]
2536749/8 <1421> < Raden Mas Dusyanto [Hb.6.18.1.1.2]
2537750/8 <1421> < Raden Ajeng Wishnu Wardhani [Hb.6.18.1.1.3]
2538751/8 <1421> < Raden Ajeng Dewi Sakuntolo [Hb.6.18.1.1.4]
2539752/8 <1421> < Raden Ajeng Girin Prawardhani [Hb.6.18.1.1.7]
2540753/8 <1421> < Raden Mas Girin Prawardhono [Hb.6.18.1.1.6]
2541754/8 <1421> < Raden Ajeng Dewi Indreswari [Hb.6.18.1.1.5]
2542755/8 <1423> < Raden Ajeng Memy [Hb.6.18.1.4.2]
2543756/8 <1423> < Raden Ajeng Neny [Hb.6.18.1.4.3]
2544757/8 <1423> < Raden Mas Dusyanto [Hb.6.18.1.4.1]
2545758/8 <1232> < Raden Mas Polly Sulistyo [Hb.6.11.1.2.3]
2546759/8 <1426> < Raden Ajeng Astuti [Hb.6.18.2.1.5]
2547760/8 <1426> < Raden Ajeng Sri Sapardiah [Hb.6.18.2.1.4] 2548761/8 <1435> < Raden Mas Santoso Subono [Hb.6.18.3.5.1] 2549762/8 <1426> < Raden Mas Banuwarli [Hb.6.18.2.1.3]
2550763/8 <1426> < Raden Ajeng Sri Kusumowardhani [Hb.6.18.2.1.2]
2551764/8 <1426> < Raden Ajeng Sri Kusworini [Hb.6.18.2.1.1] 2552765/8 <1428> < Raden Mas Slamet Hartono [Hb.6.18.2.4.1]
2553766/8 <1428> < Raden Ajeng Rukmini [Hb.6.18.2.4.2]
2554767/8 <1428> < Raden Mas Harianto [Hb.6.18.2.4.3]
2555768/8 <1427> < Raden Ajeng Nursupriati [Hb.6.18.2.5.1]
2556769/8 <1427> < Raden Mas Supiyo Hartono [Hb.6.18.2.5.2]
2557770/8 <1427> < Raden Ajeng Supriastini [Hb.6.18.2.5.3]
2558771/8 <1427> < Raden Mas B. Supriyanto [Hb.6.18.2.5.4]
2559772/8 <1427> < Raden Ajeng Supriastuti [Hb.6.18.2.5.5]
2560773/8 <1427> < Raden Ajeng Supriati [Hb.6.18.2.5.6]
2561774/8 <1427> < Raden Mas Suprihasto [Hb.6.18.2.5.8]
2562775/8 <1427> < Raden Mas Supriarto [Hb.6.18.2.5.7]
2563776/8 <1427> < Raden Mas Supriarso [Hb.6.18.2.5.9]
2564777/8 <1446> < Raden Ajeng Erawati [Hb.7.54.5.5]
2565778/8 <1446> < Raden Mas Dewandono [Hb.7.54.5.4]
2566779/8 <1446> < Raden Mas Chaerul Andovianto [Hb.7.54.5.3]
2567780/8 <1446> < Raden Ajeng Budi Rusdwitanti [Hb.7.54.5.2]
2568781/8 <1446> < Raden Mas Ary Murwanto [Hb.7.54.5.1]
2569782/8 <1444+1445!> < Raden Ajeng Sri Widuri Saryuniyati Pulungasri [Hb.7.54.4.1]
2570783/8 <1444+1445!> < Raden Ajeng Krisna Widuri Saryuniyatni D. [Hb.7.54.4.2]
2571784/8 <1443> < Raden Ajeng Siti Noowijayanti [Hb.7.54.3.1]
2572785/8 <1442> < Raden Mas Muskadaraji [Hb.7.54.2.1]
2573786/8 <1442> < Raden Mas Bambang Trisulo [Hb.7.54.2.2]
2574787/8 <1442> < Raden Ajeng Moorstiasasih [Hb.7.54.2.3]
2575788/8 <1433> < Raden Ajeng Sumarti [Hb.6.18.3.2.1]
2576789/8 <1433> < Raden Mas Jatiprasoyo [Hb.6.18.3.2.2]
2577790/8 <1433> < Raden Ajeng Astuti [Hb.6.18.3.2.3]
2578791/8 <1433> < Raden Ajeng Titi Saraswati [Hb.6.18.3.2.10]
2579792/8 <1433> < Raden Ajeng Sri Utami [Hb.6.18.3.2.6]
2580793/8 <1433> < Raden Ajeng Atas Srie Hatining [Hb.6.18.3.2.8]
2581794/8 <1433> < Raden Ajeng Srie Pranowoyati [Hb.6.18.3.2.7]
2582795/8 <1433> < Raden Ajeng Etty Srie Setiahati [Hb.6.18.3.2.9]
2583796/8 <1447> < Raden Roro Astuti Dewi [Hb.6.18.3.2.4.1]
2584797/8 <1447> < Raden Mas Bimo Bayuputro [Hb.6.18.3.2.4.2]
2585798/8 <1448> < Raden Roro Atas Aji Pratiwi [Hb.6.18.3.2.5.1]
2586799/8 <1435> < Raden Ajeng Sri Astuti [Hb.6.18.3.5.1.2]
2587800/8 <1435> < Raden Ajeng Sri Wahyu [Hb.6.18.3.5.3]
2588801/8 <1435> < Raden Mas Sanjoyo [Hb.6.18.3.5.4]
2589802/8 <1435> < Raden Ajeng Sri Murtini [Hb.6.18.3.5.5]
2590803/8 <1435> < Raden Mas Adi Subagyo [Hb.6.18.3.5.6]
2591804/8 <873+1436!> < Raden Mas Kusumowardono [Hb.6.18.6.1]
2592805/8 <873+1436!> < Raden Mas Kusumosamdono [Hb.6.18.6.2]
2593806/8 <873+1436!> < Raden Ajeng Kusumohastri [Hb.6.18.6.3]
2594807/8 <873+1436!> < Raden Ajeng Kusumohesti [Hb.6.18.6.4]
2595808/8 <873+1436!> < Raden Mas Kusumo Suprolo [Hb.6.18.6.5]
2596809/8 <873+1436!> < Raden Ajeng Kusumo Uwati [Hb.6.18.6.6]
2597810/8 <1441+3090!> < Raden Mas Rohadi Sampurno [Hb.7.54.1.1]
2598811/8 <1441+3090!> < Raden Ajeng Siti Rochyati Kusmardirun [Hb.7.54.1.2]
2599812/8 <1441+3090!> < Raden Ajeng Siti Rochyati Ismardiyatun [Hb.7.54.1.3]
2600813/8 <1441+3090!> < Raden Mas Rochyadi Isrusamsi [Hb.7.54.1.6]
2601814/8 <1441+3090!> < Raden Mas Rochadi Samtoro Kusumo [Hb.7.54.1.5]
2602815/8 <1441+3090!> < Raden Ajeng Siti Rochyati Musamtirun [Hb.7.54.1.4]
2603816/8 <1449> < Raden Ajeng Martini [Hb.6.18.6.1.1]
2604817/8 <1449> < Raden Ajeng Marini [Hb.6.18.6.1.2] 2605818/8 <1449> < Raden Ajeng Martani [Hb.6.18.6.1.9]
2606819/8 <1449> < Raden Ajeng Marsiti [Hb.6.18.6.1.7]
2607820/8 <1449> < Raden Ajeng Martati [Hb.6.18.6.1.3]
2608821/8 <1449> < Raden Ajeng Maryani [Hb.6.18.6.1.4] (Raden Ayu Subagyo)
2609822/8 <1449> < Raden Mas Marsono [Hb.6.18.6.1.5]
2610823/8 <1449> < Raden Mas Marsito [Hb.6.18.6.1.6]
2611824/8 <1449> < Raden Mas Marsidi [Hb.6.18.6.1.8]
2612825/8 <1450+395> < Raden Mas Sutomo Kartanegara [Hb.6.18.4.1.1]
2613826/8 <1450+395> < Raden Mas Sugondo Kartanegara [Hb.6.18.4.1.3]
2614827/8 <1450+395> < Raden Ajeng Sri Utari [Hb.6.18.4.1.4] (Raden Ayu Wahyudi)
2615828/8 <1450+395> < Raden Mas Utoyo S. Kartanegara [Hb.6.18.4.1.5]
2616829/8 <1451> < Raden Mas Utomo Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.2.1]
2617830/8 <1451> < Raden Ajeng Atas Utami [Hb.6.18.4.2.3] (Raden Ayu Yuwono Darmobroto)
2618831/8 <1451> < Raden Mas Ade Sutrisno Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.2.2]
2619832/8 <1451> < Raden Ajeng Atas Trisnawati [Hb.6.18.4.2.4] (Raden Ayu Tan Sin Bie) 2620833/8 <1451> < Raden Ajeng Atas Farida [Hb.6.18.4.2.5] (Raden Ayu Suparto)
2621834/8 <1453> < Raden Mas B.f. Marhadi Prayitno Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.3.4]
2622835/8 <1453> < Raden Ajeng E.m. Marliati Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.3.3]
2623836/8 <1453> < Raden Mas Johnny Mardiono Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.3.1]
2624837/8 <1453> < Raden Ajeng Dewiati M. Panggabean [Hb.6.18.4.3.2]
2625838/8 <1454+396> < Raden Mas Indrarto Kartohadiprojo [Hb.6.18.4.5.4]
2626839/8 <1454+396> < Raden Mas Bambang Utoyo Kartohadiprojo [Hb.6.18.4.5.3]
2627840/8 <1454+396> < Raden Mas Achmat Suhardi Kartohadiprojo [Hb.6.18.4.5.1]
2628841/8 <1454+396> < Raden Mas Haryono Kartohadiprojo [Hb.6.18.4.5.2]
2629842/8 <1454+396> < Raden Mas Pamuji Raharjo Kartohadiprojo [Hb.6.18.4.5.9]
2630843/8 <1454+396> < Raden Ajeng Indun Lestari [Hb.6.18.4.5.8] (Raden Ayu Sutiono Kusno) 2631844/8 <1454+396> < Raden Mas Pramono Kartohadiprojo [Hb.6.18.4.5.7]
2632845/8 <1454+396> < Raden Mas Budiono Kartohadiprojo [Hb.6.18.4.5.6]
2633846/8 <1454+396> < Raden Ajeng Indrarti [Hb.6.18.4.5.5] (Raden Ayu Achdun Sachri) 2634847/8 <1456> < Raden Ajeng Atas Herani [Hb.6.18.4.7.1] (Raden Ayu Edi Ruslan) 2635848/8 <1456> < Raden Ajeng Atas Warin [Hb.6.18.4.7.2] (Raden Ayu Shamady Nura) 2637849/8 <1460> < Raden Ajeng Atas Hendartini [Hb.6.18.4.9.2] (Raden Ayu Irwan Mahyudin Habsyah) 2638850/8 <1457> < Raden Ajeng Marwati [Hb.6.18.4.11.1]
2639851/8 <1460> < Raden Ajeng Sri Utati Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.9.3]
2640852/8 <1460> < Raden Ajeng Sri Murwati [Hb.6.18.4.9.4] 2641853/8 <1467> < Raden Mas Bambang [Hb.6.18.5.7.1]
2642854/8 <1465> < Raden Ajeng Siti Pudartini [Hb.6.18.5.5.1] ? (Raden Ayu Hary Sutomo) 2643855/8 <1463+399> < Raden Ajeng Sri Chatijah [Hb.6.18.5.3.1] ? (Raden Ayu RG. Sudiono) 2644856/8 <1463+399> < Raden Ajeng Sri Nursanti Sukasdilah [Hb.6.18.5.3.2] ? (Raden Ayu Hersidi Sidikuncoro) 2645857/8 <1463+399> < Raden Mas Hapsoro [Hb.6.18.5.3.3]
2646858/8 <1463+399> < Raden Mas Sulindyokusumaji [Hb.6.18.5.3.4]
2647859/8 <1462> < Raden Mas Sunardi [Hb.6.18.5.2.1]
2648860/8 <1462> < Raden Mas Sunartopo [Hb.6.18.5.2.2]
2649861/8 <1461+398> < Raden Ajeng Sunarsih [Hb.6.18.5.1.7]
2650862/8 <1461+398> < Raden Ajeng Daru Pangestuti [Hb.6.18.5.1.6] ? (Raden Ayu Sarjo Joyodiharjo) 2651863/8 <1461+398> < Raden Ajeng Sundari [Hb.6.18.5.1.1] ? (Raden Ajeng D. Sagalah) 2652864/8 <1461+398> < Raden Mas Joko Rio Sukoco [Hb.6.18.5.1.3]
2653865/8 <1461+398> < Raden Mas Bambang Sumantri [Hb.6.18.5.1.4]
2654866/8 <1461+398> < Raden Ajeng Sumirah [Hb.6.18.5.1.2] ? (Raden Ayu Himron Saherman) 2655867/8 <1461+398> < Raden Ajeng Rahayu [Hb.6.18.5.1.5] ? (Raden Ayu FX. Sukardi) 2656868/8 <1468+400> < Raden Mas Sutariyo [Hb.6.18.6.2.1]
2657869/8 <1468+400> < Raden Mas Sutarjo [Hb.6.18.6.2.2]
2658870/8 <1468+400> < Raden Mas Hadi Suparto [Hb.6.18.6.2.4]
2659871/8 <1471+401> < Raden Mas Budimartono [Hb.6.18.6.5.1]
2660872/8 <1471+401> < Raden Mas Budimarsudsantyo [Hb.6.18.6.5.2]
2661873/8 <1471+401> < Raden Mas Budimaryono [Hb.6.18.6.5.3]
2662874/8 <1471+401> < Raden Mas Budimaryoto [Hb.6.18.6.5.4]
2663875/8 <1471+401> < Raden Mas Budimaryanto [Hb.6.18.6.5.5]
2664876/8 <1469> < Raden Ajeng Hermawati A. [Hb.6.18.6.3.1]
2665877/8 <1469> < Raden Mas Heru Purwanto [Hb.6.18.6.3.2]
2666878/8 <1470> < Raden Mas Jarot Istiarso [Hb.6.18.6.4.1]
2667879/8 <1470> < Raden Ajeng Kurmastuti [Hb.6.18.6.4.2]
2668880/8 <1481> < Raden Ajeng Farina [Hb.6.18.9.10.1]
2669881/8 <1481> < Raden Mas George Effendi [Hb.6.18.9.10.2]
2670882/8 <1479> < Raden Mas Arimurti [Hb.6.18.9.8.1]
2671883/8 <1479> < Raden Mas Sulistiono [Hb.6.18.9.8.2]
2672884/8 <1479> < Raden Ajeng Cicik Suharmani [Hb.6.18.9.8.3]
2673885/8 <1479> < Raden Ajeng Ninik Susilowati [Hb.6.18.9.8.4]
2674886/8 <1479> < Raden Mas Iman Pomo Sumorediyo [Hb.6.18.9.8.5]
2675887/8 <1479> < Raden Ajeng Dewi Kusumojati [Hb.6.18.9.8.6]
2676888/8 <1480+404> < Raden Mas Nur Cahyono [Hb.6.18.9.9.4]
2677889/8 <1480+404> < Raden Ajeng Nurmi [Hb.6.18.9.9.2] ? (Raden Ayu Pujianto) 2678890/8 <1480+404> < Raden Ajeng Nur Mulyani [Hb.6.18.9.9.3] ? (Raden Ayu Suwandi) 2679891/8 <1480+404> < Raden Ajeng Yos Nurti [Hb.6.18.9.9.1] ? (Raden Ayu Sunarso) 2680892/8 <1472> < Raden Mas Sumedi [Hb.6.18.8.1]
2681893/8 <1473> < Raden Ajeng Ateny Kartika Dewi [Hb.6.18.9.2.6]
2682894/8 <1473> < Raden Ajeng Maya [Hb.6.18.9.2.7]
2683895/8 <1473> < Raden Mas Bambang [Hb.6.18.9.2.5]
2684896/8 <1473> < Raden Mas Pujopurnomo [Hb.6.18.9.2.1]
2685897/8 <1473> < Raden Mas Pujoprayitno [Hb.6.18.9.2.2]
2686898/8 <1473> < Raden Ajeng Ninik [Hb.6.18.9.2.3] ? (Raden Ayu Markus Maryadi) 2687899/8 <1473> < Raden Mas Pujoprabowo [Hb.6.18.9.2.4]
2688900/8 <1474+402> < Raden Ajeng Sriwulan [Hb.6.18.9.3.1] ? (Raden Ayu Bambang Suhadi) 2689901/8 <1474+402> < Raden Mas Tonny Sudarto [Hb.6.18.9.3.2]
2690902/8 <1474+402> < Raden Ajeng Rika Siti Sundari [Hb.6.18.9.3.4] ? (Raden Ayu J. Pakpohan) 2691903/8 <1474+402> < Raden Ajeng Rikiadi [Hb.6.18.9.3.3] ? (Raden Ayu Purnomo) 2692904/8 <1477> < Raden Mas Murdianto [Hb.6.18.9.6.1]
2693905/8 <1478> < Raden Mas Indra Sasmita [Hb.6.18.9.7.1]
2694906/8 <1476> < Raden Mas Kusmonadi [Hb.6.18.9.5.1]
2695907/8 <1478> < Raden Ajeng Affian [Hb.6.18.9.7.2]
2696908/8 <1478> < Raden Mas Eddy [Hb.6.18.9.7.8]
2697909/8 <1478> < Raden Mas Ari [Hb.6.18.9.7.11]
2698910/8 <1478> < Raden Mas Indra Hariadi [Hb.6.18.9.7.4]
2699911/8 <1478> < Raden Ajeng Atie [Hb.6.18.9.7.7]
2700912/8 <1478> < Raden Mas Toto [Hb.6.18.9.7.9]
2701913/8 <1478> < Raden Mas Nono [Hb.6.18.9.7.10]
2702914/8 <1478> < Raden Mas Indra Sutrisno [Hb.6.18.9.7.3]
2703915/8 <1478> < Raden Mas Indra Herry [Hb.6.18.9.7.5]
2704916/8 <1478> < Raden Ajeng Syafril [Hb.6.18.9.7.6]
2705917/8 <1475+403> < Raden Mas Pujo Suminto [Hb.6.18.9.4.1]
2706918/8 <1475+403> < Raden Mas Pujo Antoyoadi [Hb.6.18.9.4.2]
2707919/8 <1475+403> < Raden Ajeng Puji Astuti Atasandarisasi [Hb.6.18.9.4.3] (Raden Ayu Ontowiryo)
2708920/8 <1475+403> < Raden Ajeng Puji Rahayu Atas Asrining Wulan [Hb.6.18.9.4.4] (Raden Ayu Darwito) 2709921/8 <1475+403> < Raden Ajeng Puji Lestari Atas Arumningsih [Hb.6.18.9.4.5] (Raden Ayu Suroyo) 2710922/8 <1475+403> < Raden Mas Pujo Baroto Satriowibowo [Hb.6.18.9.4.6]
2711923/8 <1475+403> < Raden Ajeng Puji Parwati Atas Ratih [Hb.6.18.9.4.9] (Raden Ayu Purnomo B. Pramono) 2712924/8 <1475+403> < Raden Ajeng Puji Sayekti Atas Utamaningkarti [Hb.6.18.9.4.8] (Raden Ayu Gatot Kartiko) 2713925/8 <1475+403> < Raden Mas Pujo Astowo Sadorojati [Hb.6.18.9.4.7]
2714926/8 <1491> < Raden Mas Nanan [Hb.6.18.10.10.1]
2715927/8 <1491> < Raden Ajeng Eny [Hb.6.18.10.10.2]
2716928/8 <1490> < Raden Mas Tomo [Hb.6.18.10.9.4]
2717929/8 <1490> < Raden Ajeng Puji [Hb.6.18.10.9.3]
2718930/8 <1490> < Raden Mas Ady [Hb.6.18.10.9.2]
2719931/8 <1490> < Raden Mas Dody [Hb.6.18.10.9.1]
2720932/8 <1489+406> < Raden Mas Mustiko Haryadi [Hb.6.18.10.8.2]
2721933/8 <1489+406> < Raden Mas Wisnu Hidayat [Hb.6.18.10.8.1]
2722934/8 <1488> < Raden Mas Teguh Suharjo [Hb.6.18.10.7.1]
2723935/8 <1487> < Raden Ajeng Y. Atas Setiowati [Hb.6.18.10.6.5]
2724936/8 <1487> < Raden Ajeng V. Atas Baktiastuti [Hb.6.18.10.6.4]
2725937/8 <1487> < Raden Ajeng E. Atas Kusuma Wardani [Hb.6.18.10.6.3]
2726938/8 <1487> < Raden Mas J. Kresno Utomo [Hb.6.18.10.6.2]
2727939/8 <1487> < Raden Ajeng Maria I. Atas Maspartiningsih [Hb.6.18.10.6.1]
2728940/8 <1485> < Raden Mas Wisnubroto [Hb.6.18.10.4.5]
2729941/8 <1485> < Raden Mas Indro Prakoso [Hb.6.18.10.4.8]
2730942/8 <1485> < Raden Mas Sulistiyo [Hb.6.18.10.4.3]
2731943/8 <1485> < Raden Mas Respatiharjo [Hb.6.18.10.4.4]
2732944/8 <1485> < Raden Mas Wigianto [Hb.6.18.10.4.1]
2733945/8 <1485> < Raden Ajeng Endang Saptorini [Hb.6.18.10.4.7] (Raden Ayu Juliar Murod Nasution) 2734946/8 <1485> < Raden Ajeng Retno Anggorowati [Hb.6.18.10.4.6] (Raden Ayu Bies Soesandi) 2735947/8 <1485> < Raden Ajeng Kusdariyantinah [Hb.6.18.10.4.2] (Raden Ayu Cokorde Alit Parto Sukawati) 2736948/8 <1483> < Raden Mas Junarto [Hb.6.18.10.2.10]
2737949/8 <1483> < Raden Ajeng Ninik [Hb.6.18.10.2.1] (Raden Ayu Juardi)
2738950/8 <1483> < Raden Mas Sanusono [Hb.6.18.10.2.2]
2739951/8 <1483> < Raden Mas Yoky [Hb.6.18.10.2.3]
2740952/8 <1483> < Raden Mas Tonny [Hb.6.18.10.2.4]
2741953/8 <1483> < Raden Ajeng Sumardini [Hb.6.18.10.2.5] (Raden Ayu Budiman)
2742954/8 <1483> < Raden Mas Benny [Hb.6.18.10.2.6]
2743955/8 <1483> < Raden Ajeng Wati [Hb.6.18.10.2.7]
2744956/8 <1483> < Raden Ajeng Ut [Hb.6.18.10.2.8]
2745957/8 <1483> < Raden Ajeng Diyah [Hb.6.18.10.2.9]
2746958/8 <1482+405> < Raden Ajeng Wiji Lestari [Hb.6.18.10.1.3]
2747959/8 <1482+405> < Raden Mas Indra [Hb.6.18.10.1.2]
2748960/8 <1482+405> < Raden Mas Lilik Mufajat [Hb.6.18.10.1.1]
2749961/8 <890> < Raden Mas Sakir Tatuko Prawirokusumo [Hb.6.20.1.1.1]
2750962/8 <890> < Raden Ayu Siti Andresyanti [Hb.6.20.1.1.2]
2751963/8 <890> < Raden Mas Sigit Sidarto Janggan Swindu [Hb.6.20.1.1.3]
2752964/8 <890> < Raden Mas Wiwiek Wibadewo [Hb.6.20.1.1.4]
2753965/8 <891> < Raden Ayu Murmujiatijah [Hb.6.20.1.2.1] (Raden Ayu Muhariadi) 2754966/8 <891> < Raden Ayu Murmujiatmitri [Hb.6.20.1.2.2] 2755967/8 <993> < Raden Mas Rahmadian Mahendra [Hb.6.20.21.5.1]
2756968/8 <992> < Raden Mas Kumoro [Hb.6.20.21.4.1]
2757969/8 <992> < Raden Mas Wirodiato [Hb.6.20.21.4.2]
2758970/8 <992> < Raden Mas Anton Widiarsono [Hb.6.20.21.4.3]
2759971/8 <991> < Raden Mas Bambang Purwanto [Hb.6.20.21.3.1]
2760972/8 <991> < Raden Ayu Dyah Wawang Palupi K. [Hb.6.20.21.3.2]
2761973/8 <991> < Raden Ayu Dyah Tri Listyorini K. [Hb.6.20.21.3.3]
2762974/8 <989> < Raden Mas Antariksa [Hb.6.20.21.1.1]
2763975/8 <989> < Raden Mas Aditya [Hb.6.20.21.1.2]
2764976/8 <989> < Raden Mas Astingkara [Hb.6.20.21.1.3]
2765977/8 <989> < Raden Ayu Antari Inaka Turingsih [Hb.6.20.21.1.4]
2766978/8 <1028> < Raden Mas Sukendar [Hb.6.20.5.9.1]
2767979/8 <1028> < Raden Mas Ja'in [Hb.6.20.5.9.2]
2768980/8 <1027> < Raden Mas Oemar Kusmen [Hb.6.20.5.7.1]
2769981/8 <1027> < Raden Mas Oemar Kunsamsi [Hb.6.20.5.7.3]
2770982/8 <1027> < Raden Ajeng Oemi Thamtirin [Hb.6.20.5.7.2] 2771983/8 <988> < Raden Ayu Nus Purnadiyah [Hb.6.20.22.2.1]
2772984/8 <988> < Raden Mas Purna Widyadi [Hb.6.20.22.2.2]
2773985/8 <988> < Raden Mas Purnawidyanadi [Hb.6.20.22.2.3]
2774986/8 <988> < Raden Mas Purnawidhi [Hb.6.20.22.2.4]
2775987/8 <988> < Raden Mas Purnawidhi Wardhana [Hb.6.20.22.2.5]
2776988/8 <988> < Raden Ayu Ninik Rooswiyanti Purna Widhi W. [Hb.6.20.22.2.6]
2777989/8 <997> < Raden Mas Eko Sulistyo Hartono [Hb.6.20.20.4.1]
2778990/8 <997> < Raden Ayu Indiah Dwi Paskah Ardi R. [Hb.6.20.20.4.2]
2779991/8 <997> < Raden Mas Sapta Priwasana Luhur Budiyanto [Hb.6.20.20.4.7]
2780992/8 <997> < Raden Mas Satriyo Hery Priyanto [Hb.6.20.20.4.6]
2781993/8 <997> < Raden Mas Panca Pratamto Budi Hartono [Hb.6.20.20.4.5]
2782994/8 <997> < Raden Ayu Indiah Dwi Dasanti Padningrum [Hb.6.20.20.4.4]
2783995/8 <997> < Raden Ayu Tri Indiah Priyani Nakawati [Hb.6.20.20.4.3]
2784996/8 <998> < Raden Mas Nur Suwandi Sunu [Hb.6.20.20.5.1]
2785997/8 <998> < Raden Ayu Reni Kusumowardani [Hb.6.20.20.5.2]
2786998/8 <998> < Raden Mas Satriyo Heru Cahyono [Hb.6.20.20.5.3]
2787999/8 <998> < Raden Mas Nur Jayanto Kusumowardono [Hb.6.20.20.5.4]
27881000/8 <998> < Raden Ayu Hapsari Kusumodewi [Hb.6.20.20.5.5]
27891001/8 <863+999!> < Bendoro Raden Ayu Retno Isniwayanti [Hb.8.41.1]
27901002/8 <863+999!> < Bendoro Raden Ayu Retno Ispudiyastuti [Hb.8.41.2]
27911003/8 <863+999!> < Bendoro Raden Ayu Retno Ismarariyani [Hb.8.41.3]
27921004/8 <863+999!> < Bendoro Raden Ayu Isnurwidyawari [Hb.8.41.4]
27931005/8 <891> < Raden Ayu Murmujiatini [Hb.6.20.1.2.3] (Raden Ayu Mujosemedi) 27941006/8 <891> < Raden Mas Purnomo Suyadi [Hb.6.20.1.2.4]
27951007/8 <891> < Raden Mas Suyato Kusumosubroto [Hb.6.20.1.2.5]
27961008/8 <891> < Raden Ayu Murmujiatuti [Hb.6.20.1.2.6] (Raden Ayu Edi Sudarsono) 27971009/8 <891> < Raden Ayu Murmujiatilah [Hb.6.20.1.2.7] (Raden Ayu Sumardiyanto) 27981010/8 <891> < Raden Mas Purnomo Susilarjo [Hb.6.20.1.2.8]
27991011/8 <891> < Raden Ayu Murmujiatirien [Hb.6.20.1.2.9] (Raden Ayu Musadi) 28001012/8 <891> < Raden Mas Purnomo Kadiri [Hb.6.20.1.2.10]
28011013/8 <891> < Raden Ayu Murmujiatimur [Hb.6.20.1.2.11] (Raden Ayu Gatot Subeno) 28021014/8 <891> < Raden Ayu Murmujiatarti [Hb.6.20.1.2.12] (Raden Ayu Sugiyono)
28031015/8 <892> < Raden Ayu Roosugeng [Hb.6.20.1.3.9]
28041016/8 <892> < Raden Mas Kusyuwono [Hb.6.20.1.3.8]
28051017/8 <892> < Raden Ayu Siti Rahayu [Hb.6.20.1.3.7]
28061018/8 <892> < Raden Mas Jarun [Hb.6.20.1.3.5]
28071019/8 <892> < Raden Mas Sariyoto [Hb.6.20.1.3.4]
28081020/8 <892> < Raden Ayu Sri Siti Rahadi [Hb.6.20.1.3.3]
28091021/8 <892> < Raden Ayu Kusmarlupi [Hb.6.20.1.3.6]
28101022/8 <892> < Raden Mas Jatun [Hb.6.20.1.3.2]
28111023/8 <892> < Raden Mas Jadi [Hb.6.20.1.3.1]
28121024/8 <893> < Raden Ayu Hartinah [Hb.6.20.1.4.1]
28131025/8 <893> < Raden Mas Amiranzilin [Hb.6.20.1.4.2]
28141026/8 <893> < Raden Ayu Sri Sayati Haris Husni [Hb.6.20.1.4.3] 28151027/8 <893> < Raden Ayu Sri Nuryati [Hb.6.20.1.4.4]
28161028/8 <893> < Raden Mas Suwardi [Hb.6.20.1.4.5]
28171029/8 <1031> < Raden Mas Wirutomo [Hb.7.20.5.1]
28181030/8 <1031> < Raden Ayu Siti Pramujasari [Hb.7.20.5.2] 28191031/8 <1030> < Raden Bagus Murdosutejo [Hb.7.20.3.2]
28201032/8 <1030> < Raden Mas Margono [Hb.7.20.3.3]
28211033/8 <1030> < Raden Ajeng Sudaryati [Hb.7.20.3.1] 28221034/8 <1030> < Raden Mas Sutijab [Hb.7.20.3.4]
28231035/8 <1031> < Raden Ayu Siti Sutamtini [Hb.7.20.5.3]
28241036/8 <1033> < Raden Ajeng Ismartinah [Hb.7.20.12.2]
28251037/8 <1033> < Raden Mas Isdarmaji [Hb.7.20.12.3]
28261038/8 <1033> < Raden Ajeng Ismartilah [Hb.7.20.12.1] (Raden Ayu A. Saleh) 28271039/8 <1035+357> < Raden Mas Sudirman [Hb.7.20.18.1]
28281040/8 <1035+357> < Raden Mas Sentanumurti [Hb.7.20.18.2]
28291041/8 <1035+357> < Raden Ajeng Siti Sutiyanti [Hb.7.20.18.3] 28301042/8 <1035+357> < Raden Ajeng Siti Radiyanti Istimawan Dipohusodo [Hb.7.20.18.4]
28311043/8 <1035+357> < Raden Ajeng Siti Widayatsari [Hb.7.20.18.5] 28321044/8 <1036> < Raden Mas Yusuf [Hb.7.20.28.4]
28331045/8 <1036> < Raden Mas Ngudardam [Hb.7.20.28.6]
28341046/8 <1036> < Raden Ajeng Yusalinu [Hb.7.20.28.5] (Raden Ayu Sutoyo) 28351047/8 <1036> < Raden Ayu Siti Yukaku [Hb.7.20.28.3] (Raden Ayu Mundung) 28361048/8 <1036> < Raden Mas Yunus Wiryonegoro [Hb.7.20.28.2]
28371049/8 <1036> < Raden Ajeng Siti Yukasanu [Hb.7.20.28.1] (Raden Ayu Yunus) 28381050/8 <1036> < Raden Ajeng Siti Yuliana Kammi Minan [Hb.7.20.28.7]
28391051/8 <1036> < Raden Mas Yujana [Hb.7.20.28.8]
28401052/8 <1049+358> < Bendoro Raden Mas Sunyatmo [Hb.8.30.5]
28411053/8 <1049+358> < Bendoro Raden Mas Setyawan [Hb.8.30.4]
28421054/8 <1049+358> < Bendoro Raden Ayu Sitangsu Hadiwijoyo [Hb.8.30.3]
28431055/8 <1049+358> < Bendoro Raden Mas Dwi Swah Binu Samsi [Hb.8.30.2]
28441056/8 <1049+358> < Bendoro Raden Ayu Siti Surdiyati [Hb.8.30.1] (Raden Ayu Iman Santoso) 28451057/8 <1026> < Raden Mas Suharinsmasi [Hb.6.20.5.6.1]
28461058/8 <1026> < Raden Mas Suhardineni [Hb.6.20.5.6.2]
28471059/8 <1018> < Raden Ayu Marpusdiyantini [Hb.6.20.9.8.3]
28481060/8 <1018> < Raden Mas Marpusdiyantoro [Hb.6.20.9.8.2]
28491061/8 <1018> < Raden Ayu Marpusdiyanti [Hb.6.20.9.8.1] 28501062/8 <976> < Raden Ayu Widiyanti [Hb.6.20.24.1.1]
28511063/8 <976> < Raden Mas Widiyanto [Hb.6.20.24.1.2]
28521064/8 <976> < Raden Ayu Widyahandariyani [Hb.6.20.24.1.7]
28531065/8 <976> < Raden Ayu Widyastari [Hb.6.20.24.1.6]
28541066/8 <976> < Raden Ayu Widoretno [Hb.6.20.24.1.5]
28551067/8 <976> < Raden Ayu Widowati [Hb.6.20.24.1.4]
28561068/8 <976> < Raden Ayu Widyastuti [Hb.6.20.24.1.3]
28571069/8 <977> < Raden Mas Suwardiyono [Hb.6.20.24.2.1]
28581070/8 <977> < Raden Ayu Dini Kuswardini [Hb.6.20.24.2.3]
28591071/8 <977> < Raden Mas Donni Kuswardono [Hb.6.20.24.2.2]
28601072/8 <977> < Raden Ayu Rina Kuswandari [Hb.6.20.24.2.6]
28611073/8 <977> < Raden Mas Didi Kusyanto [Hb.6.20.24.2.5]
28621074/8 <977> < Raden Mas Dodi Kusjunadi [Hb.6.20.24.2.4]
28631075/8 <987> < Raden Ayu Linayuliati [Hb.6.20.24.12.1]
28641076/8 <987> < Raden Ayu Listayuliana [Hb.6.20.24.12.2]
28651077/8 <987> < Raden Mas Andisulistiyono [Hb.6.20.24.12.3]
28661078/8 <987> < Raden Mas Antonsujarwo [Hb.6.20.24.12.4]
28671079/8 <987> < Raden Mas Andrisetiawan [Hb.6.20.24.12.5]
28681080/8 <985> < Raden Mas Novianto [Hb.6.20.24.10.1]
28691081/8 <985> < Raden Ayu Wulandari [Hb.6.20.24.10.2]
28701082/8 <985> < Raden Mas Awan Suharyo [Hb.6.20.24.10.3]
28711083/8 <982> < Raden Ayu Yunita Mahaeran [Hb.6.20.24.7.1]
28721084/8 <982> < Raden Ayu Septyawati [Hb.6.20.24.7.2]
28731085/8 <982> < Raden Ayu Evitasari Widiyani [Hb.6.20.24.7.3]
28741086/8 <968+981!> < Raden Ayu Ekowati Agustin [Hb.6.20.24.6.1]
28751087/8 <968+981!> < Raden Mas Budisatriyo [Hb.6.20.24.6.2]
28761088/8 <980+354> < Raden Ajeng Nike Wibawati [Hb.6.20.24.5.1]
28771089/8 <980+354> < Raden Ajeng Hayuningsih [Hb.6.20.24.5.2]
28781090/8 <979+353> < Raden Ajeng Roosrachmandi [Hb.6.20.24.4.1] (Raden Ayu Giardi)
28791091/8 <979+353> < Raden Mas Roosdiono [Hb.6.20.24.4.2]
28801092/8 <978> < Raden Ayu Klastriya Sujarwanto [Hb.6.20.24.3.2]
28811093/8 <978> < Raden Ayu Karunia [Hb.6.20.24.3.1] 28821094/8 <969> < Raden Mas Herry Santosa [Hb.6.20.25.2.8]
28831095/8 <969> < Raden Ajeng Sri Ernawatiningsih [Hb.6.20.25.2.7]
28841096/8 <969> < Raden Ajeng Sri Mastuti Berliantiningsih [Hb.6.20.25.2.6] (Raden Bagus Oktavia) 28851097/8 <969> < Raden Mas David Sulaksmono [Hb.6.20.25.2.5]
28861098/8 <969> < Raden Ajeng Sri Yuliatiningsih Kusumawardhani [Hb.6.20.25.2.4]
28871099/8 <969> < Raden Ajeng Sri Padmi Suaraningsih Kusumawardani [Hb.6.20.25.2.3]
28881100/8 <969> < Raden Ajeng Sri Lestariningsih [Hb.6.20.25.2.2] (Raden Ayu Rahman) 28891101/8 <969> < Raden Ajeng Sri Ratnaningsih Kusumawardani [Hb.6.20.25.2.1]
28901102/8 <971> < Raden Ajeng Putri Dewi Wulandari [Hb.6.20.25.4.8]
28911103/8 <971> < Raden Ajeng Ragil Ayu Noor Windiyati [Hb.6.20.25.4.7]
28921104/8 <971> < Raden Mas Noor Asmoro Banu Aji [Hb.6.20.25.4.6]
28931105/8 <971> < Raden Mas Noor Sugianto Asmoro [Hb.6.20.25.4.5]
28941106/8 <971> < Raden Mas Noorcahyo Hasmoro Aji [Hb.6.20.25.4.4]
28951107/8 <971> < Raden Mas Norrcahyadi [Hb.6.20.25.4.3]
28961108/8 <971> < Raden Mas Noorjayanto [Hb.6.20.25.4.2]
28971109/8 <971> < Raden Ajeng Neny Noorhayati [Hb.6.20.25.4.1]
28981110/8 <974> < Raden Ajeng Nita [Hb.6.20.25.7.1]
28991111/8 <974> < Raden Ajeng Sari [Hb.6.20.25.7.2]
29001112/8 <974> < Raden Ajeng Anggi [Hb.6.20.25.7.3]
29011113/8 <965> < Raden Mas Endhar Prijo Utomo [Hb.6.20.26.1.9]
29021114/8 <965> < Raden Mas Praptono Putro Dwi Kurniawan [Hb.6.20.26.1.8]
29031115/8 <965> < Raden Mas Adhi Prawoto [Hb.6.20.26.1.7]
29041116/8 <965> < Raden Ayu Roostinah [Hb.6.20.26.1.6]
29051117/8 <965> < Raden Ayu Suryantinah [Hb.6.20.26.1.5]
29061118/8 <965> < Raden Mas Kistamtono [Hb.6.20.26.1.4]
29071119/8 <965> < Raden Ayu Roostiyanti Dyah Mawardani [Hb.6.20.26.1.3]
29081120/8 <965> < Raden Mas Subiyanto [Hb.6.20.26.1.2]
29091121/8 <965> < Raden Ayu Haryanti Mardiastuti [Hb.6.20.26.1.1] 29101122/8 <966+351> < Raden Ayu Murti Yastuti Triwulan [Hb.6.20.26.2.14]
29111123/8 <966+351> < Raden Ayu Murti Haryanti [Hb.6.20.26.2.13]
29121124/8 <966+351> < Raden Mas Aryo Widoyono [Hb.6.20.26.2.12]
29131125/8 <966+351> < Raden Mas Tamtri Pudi Yasnowo [Hb.6.20.26.2.11]
29141126/8 <966+351> < Raden Ayu Dyah Kusumo Winahyu [Hb.6.20.26.2.10]
29151127/8 <966+351> < Raden Ayu Erning Dyah Himawati [Hb.6.20.26.2.9]
29161128/8 <966+351> < Raden Ayu Suti Arti Listiyatun [Hb.6.20.26.2.8]
29171129/8 <966+351> < Raden Mas Aryo Marwoto Hadiyanto [Hb.6.20.26.2.7]
29181130/8 <966+351> < Raden Mas Aryo Daryoko [Hb.6.20.26.2.6]
29191131/8 <966+351> < Raden Mas Aryo Pratioto [Hb.6.20.26.2.5]
29201132/8 <966+351> < Raden Mas Aryo Swandono [Hb.6.20.26.2.3]
29211133/8 <966+351> < Raden Mas Isyani Susantoro [Hb.6.20.26.2.2]
29221134/8 <966+351> < Raden Ayu Sriyani Indrawanti [Hb.6.20.26.2.1]
29231135/8 <966+351> < Raden Ayu Unyung Suwandaryatun Mulyo Kuncoro [Hb.6.20.26.2.4] 29241136/8 <967> < Raden Ayu Ida Murtiwati [Hb.6.20.26.3.1]
29251137/8 <967> < Raden Mas Budi Laksananta [Hb.6.20.26.3.2]
29261138/8 <967> < Raden Ayu Eni Setyawati [Hb.6.20.26.3.3]
29271139/8 <967> < Raden Ayu Dewi [Hb.6.20.26.3.4]
29281140/8 <964+350> < Raden Mas Karyadi Susanto [Hb.6.20.28.4.4]
29291141/8 <964+350> < Raden Mas Priyo Sejati [Hb.6.20.28.4.3]
29301142/8 <964+350> < Raden Ayu Enny Kusumartinjung Sanggangwulani [Hb.6.20.28.4.2] (Raden Ayu Priyo Susilo) 29311143/8 <964+350> < Raden Ayu Yul Kusumo Pawestiwulan [Hb.6.20.28.4.1] (Raden Ayu Ramedi Ritonga) 29321144/8 <953> < Raden Ayu Sunusuryatmi [Hb.6.20.29.2.1]
29331145/8 <953> < Raden Mas Yuldamiharto [Hb.6.20.29.2.5]
29341146/8 <953> < Raden Ayu Rawimiharti [Hb.6.20.29.2.4]
29351147/8 <953> < Raden Mas Romisiaga [Hb.6.20.29.2.3]
29361148/8 <953> < Raden Mas Rinangpramito [Hb.6.20.29.2.2]
29371149/8 <954> < Raden Ayu Retno Sapti Indriyatmi [Hb.6.20.29.3.7]
29381150/8 <954> < Raden Ayu Retno Indriyastuti [Hb.6.20.29.3.6]
29391151/8 <954> < Raden Ayu Retno Indriyastini [Hb.6.20.29.3.5]
29401152/8 <954> < Raden Mas Suryo Argo Priyantono [Hb.6.20.29.3.4]
29411153/8 <954> < Raden Ayu Retno Argi Priyantini [Hb.6.20.29.3.3]
29421154/8 <954> < Raden Mas Suryo Joko Purwandono [Hb.6.20.29.3.2]
29431155/8 <954> < Raden Ayu Retno Ken Andarini [Hb.6.20.29.3.1]
29441156/8 <955> < Raden Mas Wisnu Prasasto [Hb.6.20.29.4.1]
29451157/8 <960> < Raden Mas Arief [Hb.6.20.29.9.1]
29461158/8 <957> < Raden Mas Suryo Pudyo Mandiko [Hb.6.20.29.6.1]
29471159/8 <957> < Raden Mas Suryo Adityo Wardono [Hb.6.20.29.6.2]
29481160/8 <957> < Raden Ayu Anindito Oktariatno [Hb.6.20.29.6.3]
29491161/8 <961> < Raden Mas Agung Pranindya [Hb.6.20.29.10.4]
29501162/8 <961> < Raden Ayu Iwuk Rahmawardani [Hb.6.20.29.10.3]
29511163/8 <961> < Raden Ayu Yupi Rahwindiasti [Hb.6.20.29.10.2]
29521164/8 <961> < Raden Ayu Dewi Windyastari [Hb.6.20.29.10.1]
29531165/8 <942> < Raden Ayu Prastuti Kusumowardani [Hb.6.20.30.2.1]
29541166/8 <942> < Raden Mas Achmad Tunggul Birowo [Hb.6.20.30.2.2]
29551167/8 <942> < Raden Mas Achmad Tunggul Wibowo [Hb.6.20.30.2.3]
29561168/8 <946> < Raden Mas Wahyu Hidayat Indro Purnomo [Hb.6.20.30.6.1]
29571169/8 <946> < Raden Ayu Dewi Sundari Wisnu Wardani [Hb.6.20.30.6.2]
29581170/8 <944> < Raden Mas Rama Dhana Rendra [Hb.6.20.30.4.1]
29591171/8 <947> < Raden Mas Nadiri Wirawan [Hb.6.20.30.7.1]
29601172/8 <943> < Raden Ayu Retno Prihandini [Hb.6.20.30.3.4]
29611173/8 <943> < Raden Mas Barata Wisnu Pambudi [Hb.6.20.30.3.3]
29621174/8 <943> < Raden Mas Agung Nugroho Wahyu Basuki [Hb.6.20.30.3.2]
29631175/8 <943> < Raden Ayu Arum Kusumoastuti [Hb.6.20.30.3.1]
29641176/8 <944> < Raden Ajeng Syahbani Dhanie Rendri [Hb.6.20.30.4.2]
29651177/8 <1498> < Raden Ayu Sumartilah [Hb.6.23.2.2.1]
29661178/8 <1505> < Raden Ayu Rukmawati [Hb.6.23.3.1.3]
29671179/8 <1505> < Raden Ayu Retno Indrawati Grahito [Hb.6.23.3.1.2]
29681180/8 <1505> < Raden Ayu Retno Damarwati [Hb.6.23.3.1.1] (Raden Ayu Agus Anggoro) 29691181/8 <1247+866!> < Raden Ajeng Sri Harjanti Sutarto [Hb.8.4.9]
29701182/8 <1525> < Raden Mas Seta [Hb.7.76.3.1]
29711183/8 <1525> < Raden Ajeng Ning [Hb.7.76.3.2]
29721184/8 <1525> < Raden Ajeng Hasti [Hb.7.76.3.3]
29731185/8 <1526> < Raden Mas Suryasantosa [Hb.7.76.1.1]
29741186/8 <1526> < Raden Ajeng Kisjamiatun [Hb.7.76.1.2]
29751187/8 <1529+407> < Raden Mas Suryo Wikantomo [Hb.7.71.6.2]
29761188/8 <1529+407> < Raden Ajeng Daruwiyanti Ratnaningtyas [Hb.7.71.6.1]
29771189/8 <1530> < Raden Ajeng Amiruyuti [Hb.7.71.5.1]
29781190/8 <1530> < Raden Mas Ismanto Nisworo [Hb.7.71.5.2]
29791191/8 <1530> < Raden Ajeng Dhaniti Kamari [Hb.7.71.5.3]
29801192/8 <1531> < Raden Mas Adikaryanto [Hb.7.71.4.1]
29811193/8 <1531> < Raden Ajeng Ismurdiatina [Hb.7.71.4.2]
29821194/8 <1531> < Raden Ajeng Ismurdiantini [Hb.7.71.4.3]
29831195/8 <1532+408> < Raden Ajeng Beti Suryani [Hb.7.71.3.2] 29841196/8 <1532+408> < Raden Ajeng Emi Wulandari [Hb.7.71.3.3] 29851197/8 <1532> < Raden Ajeng Isnawangsih Anggraeni [Hb.7.71.3.1] 29861198/8 <1532+408> < Raden Mas Enggar Pikantoyo [Hb.7.71.3.4] 29871199/8 <1533> < Raden Ajeng Galuh Astuti Dewi [Hb.7.71.2.4] (Kembar Dengan Raden Ajeng Galuh Astuti Dewati [915791])
29881200/8 <1533> < Raden Ajeng Galuh Astuti Dewati [Hb.7.71.2.3] (Kembar Dengan Raden Ajeng Galuh Astuti Dewi [915789])
29891201/8 <1533> < Raden Mas Harimurti [Hb.7.71.2.2]
29901202/8 <1533> < Raden Mas Winang Budoyo [Hb.7.71.2.1]
29911203/8 <1534+861!> < Raden Ajeng Triretno Nurdewati [Hb.8.36.8]
29921204/8 <1534+861!> < Raden Ajeng Istriastuti [Hb.8.36.7]
29941205/8 <1534+861!> < Raden Mas Triheru Murtanto [Hb.8.36.5]
29951206/8 <861+1534!> < Raden Ajeng Triwinarni [Hb.8.36.4]
29961207/8 <861+1534!> < Raden Ajeng Ismardewi [Hb.8.36.3] (Raden Ayu Mangara T.Simatupang) 29971208/8 <861+1534!> < Raden Ajeng Iswidayanti Sukmarawedi [Hb.8.36.2]
29981209/8 <1534+861!> < Raden Mas Isnoorharyanto [Hb.8.36.1]
29991210/8 <1536+1951!> < Raden Ajeng Galuh Retno Hadiworo [Hb.9.8.2]
30001211/8 <1538> < Raden Ajeng Siska Widuri Hadisari [Hb.7.68.13.1]
30011212/8 <1538> < Raden Ajeng Sindi Probo Hadiriyani [Hb.7.68.13.2]
30021213/8 <1539+409> < Raden Ajeng Mia Nella Sari [Hb.7.68.12.1]
30031214/8 <1539+409> < Raden Ajeng Ike [Hb.7.68.12.2]
30041215/8 <1540+410> < Raden Mas Bawantoro Eko Kusumo [Hb.7.68.11.1]
30051216/8 <1540+410> < Raden Ajeng Kusumo Wardani [Hb.7.68.11.2]
30061217/8 <1540+410> < Raden Ajeng Puspito Sari Dewi [Hb.7.68.11.3]
30071218/8 <1541+411> < Raden Mas Wisnu Wijanarko Haris Aji [Hb.7.68.10.1]
30081219/8 <1541+411> < Raden Ajeng Sita Dewayani Asri [Hb.7.68.10.2]
30091220/8 <1542> < Raden Ajeng Leni Andriyani Putri [Hb.7.68.9.1]
30101221/8 <1542> < Raden Mas Dwi Asmoro Handriyanto [Hb.7.68.9.2]
30111222/8 <1542> < Raden Mas Yulianto Hadipranggono [Hb.7.68.9.3]
30121223/8 <1542> < Raden Ajeng Erlita Yuliani Putri [Hb.7.68.9.4]
30131224/8 <1542> < Raden Mas Ariyadi Wijayanto [Hb.7.68.9.5]
30141225/8 <1544+412> < Raden Mas Muhammad Anrizar [Hb.7.68.7.1]
30151226/8 <1544+412> < Raden Mas Muhammad Daniswan [Hb.7.68.7.2]
30161227/8 <1545+413> < Raden Mas Ibnupriyo Haribudi Kasjati [Hb.7.68.6.1]
30171228/8 <1545+413> < Raden Mas Ibnutomo Hadimurti Baskoro [Hb.7.68.6.2]
30181229/8 <1545+413> < Raden Mas Ibnutaji Hariharti Nurwendo [Hb.7.68.6.3]
30191230/8 <1545+413> < Raden Mas Ibnusakti Hariaji Sidarto [Hb.7.68.6.5]
30201231/8 <1545+413> < Raden Ajeng Nikendari Hadilaksmi Gandini [Hb.7.68.6.6]
30211232/8 <1545+413> < Raden Ajeng Nikendari Hadipadmi Mandrini [Hb.7.68.6.4]
30221233/8 <1547> < Raden Ajeng Susilawati [Hb.7.68.3.1]
30231234/8 <1547> < Raden Mas Bambang Sujatmiko [Hb.7.68.3.2]
30241235/8 <1547> < Raden Ajeng Tri Sulistyowati [Hb.7.68.3.3]
30251236/8 <1549> < Raden Ajeng Wahyurini Putri [Hb.7.68.1.1]
30261237/8 <1185+380> < Raden Mas Winang Kuntoro [Hb.7.58.5.1]
30271238/8 <1550> < Raden Mas Hadiprasongko [Hb.7.58.4.1]
30281239/8 <1550> < Raden Ajeng Kirono [Hb.7.58.4.2] (Raden Ayu Yuwono Wiryokusumo) 30291240/8 <1550> < Raden Ajeng Kusumo Mujiyati [Hb.7.58.4.3] (Raden Ayu Bambang Sunan) 30301241/8 <1550> < Raden Ajeng Ismurini Kusumo Indriani [Hb.7.58.4.4] (Raden Ayu Harry Isnandar) 30311242/8 <1550> < Raden Ajeng Warsiki Kusumo Pratiwi [Hb.7.58.4.5] (Raden Ayu Topan Mochtar) 30321243/8 <1550> < Raden Ajeng Wisnuwardani [Hb.7.58.4.6] (Raden Ayu Sih Hanggoro Adi)
30331244/8 <1550> < Raden Ajeng Kiritin Hastorini Indraswati [Hb.7.58.4.7] (Raden Ayu Teguh Pambudi Utomo) 30341245/8 <1551> < Raden Mas Eribowo [Hb.7.58.2.1]
30351246/8 <1551> < Raden Mas Udoyono [Hb.7.58.2.2]
30361247/8 <1551> < Raden Mas Wisnu Murti [Hb.7.58.2.9]
30371248/8 <1551> < Raden Mas Aswindarto [Hb.7.58.2.7]
30381249/8 <1551> < Raden Mas Pramudito [Hb.7.58.2.6]
30391250/8 <1551> < Raden Mas Wiyono [Hb.7.58.2.3]
30401251/8 <1551> < Raden Mas Yulianto [Hb.7.58.2.4]
30411252/8 <1551> < Raden Ajeng Sri Kusumo Amdani [Hb.7.58.2.5] (Raden Ayu Hendarman Supanji) 30421253/8 <1551> < Raden Ajeng Nari Bronto [Hb.7.58.2.8] (Raden Ayu Erri Supriyadi) 30431254/8 <1552> < Raden Mas Eko Kusumo Kun Riyadi [Hb.7.58.3.2]
30441255/8 <1552> < Raden Ajeng Lies [Hb.7.58.3.1] (Raden Ayu Herukustarto) 30451256/8 <1554> < Raden Ayu Retnaningdiah Kusumohastuti [Hb.7.58.7.7]
30461257/8 <1554> < Raden Mas Partondo Hadi Putratnto [Hb.7.58.7.6]
30471258/8 <1554> < Raden Ajeng Indira Kusuma Laksmi Devi [Hb.7.58.7.5] (Raden Ayu Iman Nugroho Suko) 30481259/8 <1554> < Raden Ajeng Anggraini Kusuma Wardani [Hb.7.58.7.4] (Raden Ayu Muhammad Bari Edward Person) 30491260/8 <1554> < Raden Ajeng Adria Kusuma Damayanti [Hb.7.58.7.3] (Raden Ayu Muhammad Danton Harahap) 30501261/8 <1554> < Raden Ajeng Fessy Kusumawati Prajualita [Hb.7.58.7.2] (Raden Ayu Fetrus Heru Agus Prasetio)
30511262/8 <1554> < Raden Mas Cahyono Hadipurwanto [Hb.7.58.7.1]
30521263/8 <1556+415> < Raden Ajeng Diah Santika Rukmi [Hb.7.58.9.5]
30531264/8 <1556+415> < Raden Ajeng Nonita Purnamaningdiah [Hb.7.58.9.4]
30541265/8 <1556+415> < Raden Mas Aryo Hidayat Adiseno [Hb.7.58.9.3]
30551266/8 <1556+415> < Raden Ajeng Dyah Indrasari [Hb.7.58.9.2]
30561267/8 <1556+415> < Raden Ajeng Dyah Kirana [Hb.7.58.9.1] (Raden Ayu Hari Waluyo K.) 30571268/8 <1555+414> < Raden Mas Indrasworo Hadi Pratolo [Hb.7.58.8.5]
30581269/8 <1555+414> < Raden Mas Purwono Haryo Sasongko [Hb.7.58.8.4]
30591270/8 <1555+414> < Raden Mas Purnomo Hadi Wijoyo [Hb.7.58.8.3]
30601271/8 <1555+414> < Raden Mas Legowo Hadi Murdono [Hb.7.58.8.2]
30611272/8 <1555+414> < Raden Ajeng Gandhini Kusumo Widiatsi [Hb.7.58.8.1]
30621273/8 <1559+417> < Raden Mas Dewiatmo Wijarnoto [Hb.7.56.2.2]
30631274/8 <1559+417> < Raden Ajeng Murtiningsih Wahyuwidayati [Hb.7.56.2.1] (Raden Ayu Basuki Yudantoro) 30641275/8 <1560+418> < Raden Mas Ibnunaryo [Hb.7.56.1.1]
30651276/8 <1558+416> < Bendoro Raden Mas Ngaskarul Kadiri [Hb.7.56.3.1]
30661277/8 <1558+416> < Raden Ajeng Surastuti [Hb.7.56.3.2]
30671278/8 <1558+416> < Raden Mas Darundio [Hb.7.56.3.3]
30681279/8 <1567> < Raden Ajeng Wulandari [Hb.7.47.7.1]
30691280/8 <1567> < Raden Ajeng Wulannurdiyanti [Hb.7.47.7.2]
30701281/8 <1566> < Raden Ajeng Tresnaningsih [Hb.7.47.6.1]
30711282/8 <1572> < Raden Mas Dewo Broto [Hb.7.45.1.1]
30721283/8 <1572> < Raden Ajeng Sri Retno Kumaryati [Hb.7.45.1.3]
30731284/8 <1572> < Raden Mas Dewo Tamtomo [Hb.7.45.1.5]
30741285/8 <1572> < Raden Ajeng Sri Retno Raheni [Hb.7.45.1.7]
30751286/8 <1572> < Raden Ajeng Sri Retno Udani [Hb.7.45.1.8]
30761287/8 <1572> < Raden Ajeng Sri Retno Handayani [Hb.7.45.1.9]
30771288/8 <1572> < Raden Ayu Sri Retno Herwanti [Hb.7.45.1.10]
30781289/8 <1572> < Raden Ajeng Sri Retno Kilatsih [Hb.7.45.1.11] (Raden Ayu Agus Saepudin) 30791290/8 <1572> < Raden Ajeng Sri Retno Dewati [Hb.7.45.1.2]
30801291/8 <1572> < Raden Ajeng Sri Retno Sediati [Hb.7.45.1.4] (Raden Ayu Waladi Sanusi) 30811292/8 <1572> < Raden Ajeng Sri Retno Supini [Hb.7.45.1.6] (Raden Ayu Harjono Imam S.) 30821293/8 <1571+420> < Raden Mas Sarlono [Hb.7.45.4.1]
30831294/8 <1571+420> < Raden Mas Subronto Sarlono [Hb.7.45.4.3]
30841295/8 <1571+420> < Raden Ajeng Suyanti Sarlono [Hb.7.45.4.4]
30851296/8 <1571+420> < Raden Ajeng Ayanti Sarlono [Hb.7.45.4.2] (Raden Ayu Pramadio Prawoto) 30861297/8 <1575+421> < Kanjeng Raden Mas Haryo Suryo Baswo S. [Hb.7.19.1.4]
30871298/8 <1575+421> < Bendoro Raden Mas Suryo Danindro S. [Hb.7.19.1.3]
30881299/8 <1575+421> < Bendoro Raden Ajeng Murhardining [Hb.7.19.1.2] (Bendoro Raden Ayu Cipto Yuwono) 30891300/8 <1575+421> < Bendoro Raden Ajeng Kusniati [Hb.7.19.1.1] (Bendoro Raden Ayu Suryo)
30901301/8 <1576> < Raden Ajeng Siti Isjarun [Hb.7.13.3.5] (Raden Ayu Harjokusumo) 30911302/8 <1257> < Raden Ayu Soedjito [Hb.7.4.1.3.1]
30921303/8 <1257> < Raden Mas Teguh Koeswahyono [Hb.7.4.1.3.2]
30931304/8 <1257> < Raden Ayu Koeswahyuning Soejadi [Hb.7.4.1.3.3]
30941305/8 <1259> < Raden Mas Angkoro Murti [Hb.7.4.1.4.1]
30951306/8 <1259> < Raden Ayu Soejono [Hb.7.4.1.4.2]
30961307/8 <1260> < Raden Mas Kisworo [Hb.7.4.1.5.3]
30971308/8 <1260> < Raden Mas Kistono [Hb.7.4.1.5.2]
30981309/8 <1260> < Raden Ayu Siti Kisbandi Mulyono [Hb.7.4.1.5.1]
30991310/8 <1256> < Raden Mas Palen Sudarminto [Hb.7.4.1.2.4]
31001311/8 <1256> < Raden Ayu Tritroesto [Hb.7.4.1.2.2]
31011312/8 <1256> < Raden Mas Palen Suwondo [Hb.7.4.1.2.1]
31021313/8 <1578> < Raden Ayu Puspaningrat [Hb.7.4.2.1]
31031314/8 <1581> < Raden Mas Mudjanatistomo [Hb.7.4.10.1]
31041315/8 <1583> < Raden Mas Wresni Wiro [Hb.7.4.8.3]
31051316/8 <1583> < Raden Ajeng Siti Gumilar [Hb.7.4.8.4] (Raden Ayu Soejoed)
31061317/8 <1583> < Raden Ajeng Djendrorini [Hb.7.4.8.2] (Raden Ayu Among Prajarto) 31071318/8 <1583> < Raden Mas Pandhu Dewanata [Hb.7.4.8.1]
31081319/8 <1584> < Raden Mas Surandil D. [Hb.7.4.6.1]
31091320/8 <1584> < Raden Mas Slamet Danusudirjo [Hb.7.4.6.2]
31101321/8 <1584> < Raden Ajeng Siti Kusumohadi [Hb.7.4.6.3] (Raden Ayu Harsoyo) 31111322/8 <1584> < Raden Mas Karsono [Hb.7.4.6.4]
31121323/8 <1585> < Raden Mas Sutanto Sewoyo [Hb.7.4.5.4]
31131324/8 <1585> < Raden Ajeng Umijatmi Sewoyo [Hb.7.4.5.3]
31141325/8 <1585> < Raden Mas Sutatmo Sewoyo [Hb.7.4.5.2]
31151326/8 <1585> < Raden Mas Mahatma Sewoyo [Hb.7.4.5.1]
31161327/8 <1586> < Raden Mas Jabadun Dirjowinoto [Hb.7.4.3.1]
31171328/8 <1586> < Raden Mas Salikun Dirjowiguno [Hb.7.4.3.2]
31181329/8 <1576> < Raden Mas Arbuarbangin [Hb.7.13.3.1]
31191330/8 <1576> < Raden Mas Amiriyun [Hb.7.13.3.4] 31201331/8 <1576> < Raden Ajeng Siti Adgarun [Hb.7.13.3.3] (Raden Ayu Pringgosuwarno) 31211332/8 <1576> < Raden Ajeng Siti Aningsun [Hb.7.13.3.2] (Raden Ayu Dirjosuwarno) 31221333/8 <1587> < Raden Mas Sujiman [Hb.7.13.1.9]
31231334/8 <1587> < Raden Mas Lintang Kemu [Hb.7.13.1.8]
31241335/8 <1587> < Raden Mas Sumarjo [Hb.7.13.1.7]
31251336/8 <1587> < Raden Mas Suharjo [Hb.7.13.1.11]
31261337/8 <1587> < Raden Mas Atmodirodo [Hb.7.13.1.10]
31271338/8 <1587> < Raden Wedono Murdodiprojo [Hb.7.13.1.1]
31281339/8 <1587> < Raden Wedono Projodanarto [Hb.7.13.1.2]
31291340/8 <1587> < Raden Wedono Dipurohalpito [Hb.7.13.1.3]
31301341/8 <1587> < Raden Mas Pilun [Hb.7.13.1.4]
31311342/8 <1587> < Raden Mas Terul [Hb.7.13.1.5] (Raden Mas Poncodiselo)
31321343/8 <1587> < Raden Ajeng Serusseri [Hb.7.13.1.6] (Raden Ayu Yudowidigdo) 31331344/8 <1589> < Raden Mas Wilson [Hb.7.13.4.6]
31341345/8 <1589> < Raden Mas Sumarmo [Hb.7.13.4.5] (Raden Mas Idenborg)
31351346/8 <1589> < Raden Ajeng Widomurti [Hb.7.13.4.3]
31361347/8 <1589> < Raden Mas Sumarman [Hb.7.13.4.1]
31371348/8 <1589> < Raden Mas Komeet [Hb.7.13.4.2] (Raden Mas Mangkuwinoto)
31381349/8 <1589> < Raden Mas Umarmadi [Hb.7.13.4.4]
31391350/8 <1589> < Raden Mas Amir Ambyah [Hb.7.13.4.7]
31401351/8 <1589> < Raden Ajeng Kenul Kusmaryati [Hb.7.13.4.8]
31411352/8 <1590> < Raden Ajeng Sleduk [Hb.7.13.5.1] (Raden Ayu Gondodiprojo) 31421353/8 <1590> < Raden Ajeng Jabrut [Hb.7.13.5.2]
31431354/8 <1590> < Raden Mas Sunaryo [Hb.7.13.5.3]
31441355/8 <1592> < Raden Mas Haryoso [Hb.7.13.6.5]
31451356/8 <1592> < Raden Mas Harry Mulyono [Hb.7.13.6.2]
31461357/8 <1592> < Raden Ajeng Kusharyanti [Hb.7.13.6.4] (Raden Ayu Amiriyun) 31471358/8 <1592> < Raden Mas Subiyanto [Hb.7.13.6.3]
31481359/8 <1592> < Raden Ajeng Nukadar [Hb.7.13.6.1] (Raden Ayu Sidharto)
31491360/8 <1492+867!> < Raden Mas Parikesit [Hb.8.6.5]
31501361/8 <1492+867!> < Raden Ajeng Siti Sumarti [Hb.8.6.4]
31511362/8 <1492+867!> < Raden Mas Sutorodharmo [Hb.8.6.1]
31521363/8 <1492+867!> < Raden Mas Danisworo [Hb.8.6.2]
31531364/8 <1492+867!> < Raden Ajeng Siti Mudayin [Hb.8.6.3]
31541365/8 <1492+867!> < Raden Mas Kusnowandowo [Hb.8.6.6]
31551366/8 <1599+422> < Raden Ajeng Tarikussalalati [Hb.7.13.15.1] (Raden Ayu Sinduprojo)
31561367/8 <1599+422> < Raden Mas Mukassanukuluki [Hb.7.13.15.2]
31571368/8 <1596> < Raden Ajeng Miratul [Hb.7.13.10.2]
31581369/8 <1596> < Raden Mas Badarulsamsi [Hb.7.13.10.1]
31591370/8 <1597> < Raden Ajeng Siti Mujinah [Hb.7.13.11.5]
31601371/8 <1597> < Raden Mas Dipomiharjo [Hb.7.13.11.4]
31611372/8 <1597> < Raden Mas Atmowisudo [Hb.7.13.11.3]
31621373/8 <1597> < Raden Ajeng Samsiah [Hb.7.13.11.2]
31631374/8 <1597> < Raden Ajeng Siti Sudartinah [Hb.7.13.11.1]
31641375/8 <1598> < Raden Ajeng Kusmari Hastuti [Hb.7.13.12.5]
31651376/8 <1598> < Raden Mas Binulkadiri [Hb.7.13.12.4]
31661377/8 <1598> < Raden Mas Taidun [Hb.7.13.12.3]
31671378/8 <1598> < Raden Ajeng Siti Yakiru [Hb.7.13.12.1] (Raden Ayu Sarono Cokrosutejo) 31681379/8 <1598> < Raden Mas Amanun [Hb.7.13.12.2]
31691380/8 <1601> < Raden Mas Pratiwo [Hb.7.13.27.1]
31701381/8 <897+346> < Raden Ajeng Muryani [Hb.7.13.18.1] (Raden Ayu Winotodipuro)
31711382/8 <1607> < Raden Mas Sunantyo [Hb.7.13.21.1]
31721383/8 <1607> < Raden Mas Cuk Sudiyanto [Hb.7.13.21.2]
31741384/8 <1607> < Raden Ajeng Ninik [Hb.7.13.21.4]
31751385/8 <1607> < Raden Mas Sudarto [Hb.7.13.21.5]
31761386/8 <1602> < Raden Mas Hary Roosmaliki [Hb.7.13.26.1]
31771387/8 <1602> < Raden Mas Roosharwanto [Hb.7.13.26.8]
31781388/8 <1602> < Raden Ajeng Rooswisti Aji [Hb.7.13.26.7]
31791389/8 <1602> < Raden Mas Rooswanaji [Hb.7.13.26.4]
31801390/8 <1602> < Raden Ajeng Rooswahyuti Aji [Hb.7.13.26.5]
31811391/8 <1602> < Raden Ajeng Rooswariatun Aji [Hb.7.13.26.6]
31821392/8 <1602> < Raden Ajeng Sutaji [Hb.7.13.26.3]
31831393/8 <1602> < Raden Mas Wisnusamsuhadi [Hb.7.13.26.2]
31841394/8 <1613> < Raden Mas Mahendro [Hb.7.17.1.1]
31851395/8 <1648+425> < Raden Ajeng Takasiya [Hb.7.17.3.4]
31861396/8 <1648+425> < Raden Mas Hernadi [Hb.7.17.3.2]
31871397/8 <1648+425> < Raden Ajeng Batulkamari [Hb.7.17.3.1] (Raden Ayu Sujono)
31881398/8 <1648+425> < Raden Ajeng Sitikadari [Hb.7.17.3.3] (Raden Ayu Hanggoro)
31891399/8 <1645> < Raden Mas Wresniwiro [Hb.7.17.9.1]
31901400/8 <1645> < Raden Mas Kastomo [Hb.7.17.9.2]
31911401/8 <1645> < Raden Ajeng Sudaryati [Hb.7.17.9.3]
31921402/8 <1645> < Raden Ajeng Suprito [Hb.7.17.9.4] (Raden Ayu Supriyokusumo)
31931403/8 <1645> < Raden Mas Darmawan [Hb.7.17.9.5]
31941404/8 <1645> < Raden Mas Gudokeso [Hb.7.17.9.6]
31951405/8 <1645> < Raden Mas Guwindho [Hb.7.17.9.7] (Raden Lurah Wijoyo Wandowo)
31961406/8 <1647> < Raden Ajeng Siti Suparni Kusumo [Hb.7.17.5.9]
31971407/8 <1647> < Raden Ajeng Siti Sawarun Kusumo [Hb.7.17.5.8]
31981408/8 <1647> < Raden Ajeng D. Siti Mur Ambarsih [Hb.7.17.5.6]
31991409/8 <1647> < Raden Mas T. Supriyo [Hb.7.17.5.5]
32001410/8 <1647> < Raden Ajeng Siti Lumiyati [Hb.7.17.5.4]
32011411/8 <1647> < Raden Ajeng MM. Duryatun [Hb.7.17.5.3]
32021412/8 <1647> < Raden Mas MJ. Sujoko [Hb.7.17.5.2]
32031413/8 <1647> < Raden Mas LJ. Raisul Ngaskari [Hb.7.17.5.1]
32041414/8 <1647> < Raden Ajeng Siti Astuti Kusumo [Hb.7.17.5.7] (Raden Ayu Aming Prayitno)
32051415/8 <1646+424> < Raden Mas Haryosuseno [Hb.7.17.8.3]
32061416/8 <1646+424> < Raden Mas Samtanus [Hb.7.17.8.5]
32071417/8 <1646+424> < Raden Mas Samsuhadi [Hb.7.17.8.6]
32081418/8 <1646+424> < Raden Ajeng Sri Kabul Wahyuni [Hb.7.17.8.8]
32091419/8 <1646+424> < Raden Mas Kusdarwanto [Hb.7.17.8.9]
32101420/8 <1646+424> < Raden Ajeng Siti Surtiwi [Hb.7.17.8.1] (Raden Ayu Surodiharjo)
32111421/8 <1646+424> < Raden Ajeng Siti Surdiyati [Hb.7.17.8.2] (Raden Ayu Subadri)
32121422/8 <1646+424> < Raden Ajeng Siti Samyati [Hb.7.17.8.4] (Raden Ayu Hardiyanto)
32131423/8 <1646+424> < Raden Ajeng Siti Samtari [Hb.7.17.8.7] (Raden Ayu Margono)
32141424/8 <1646+424> < Raden Ajeng Widiyastuti [Hb.7.17.8.10]
32151425/8 <1643> < Raden Ayu Sucipto [Hb.7.17.11.1]
32161426/8 <1643> < Raden Ajeng Siti Mustari [Hb.7.17.11.2]
32171427/8 <1643> < Raden Mas Najatun [Hb.7.17.11.6]
32181428/8 <1643> < Raden Ayu Suwondo [Hb.7.17.11.3]
32191429/8 <1643> < Raden Ayu Sutabul [Hb.7.17.11.5]
32201430/8 <1643> < Raden Mas Subiakto [Hb.7.17.11.4]
32211431/8 <1644+423> < Raden Ajeng Umaryatunsamsi [Hb.7.17.10.1]
32221432/8 <1642> < Raden Ayu Rabingu [Hb.7.17.13.1]
32231433/8 <1639> < Raden Ajeng Kusmartinah [Hb.7.17.21.1]
32241434/8 <1639> < Raden Mas Kusbandono [Hb.7.17.21.2]
32251435/8 <1638> < Raden Mas Hasyim [Hb.7.17.16.1]
32261436/8 <1636> < Raden Ajeng Umiyatun [Hb.7.17.31.1]
32271437/8 <1635> < Raden Ajeng Kusumaryatunsamsi [Hb.7.17.32.1]
32281438/8 <1634> < Raden Ajeng Kirono Rini [Hb.7.17.34.1]
32291439/8 <1634> < Raden Mas Rachmad [Hb.7.17.34.2]
32301440/8 <1634> < Raden Ajeng Rahayu [Hb.7.17.34.3]
32311441/8 <1649> < Raden Mas Sunoko [Hb.7.17.18.1]
32321442/8 <1637> < Raden Mas Karsusamsi [Hb.7.17.15.1]
32331443/8 <1637> < Raden Mas Karsutolo [Hb.7.17.15.2]
32341444/8 <1637> < Raden Ajeng Kumaryati [Hb.7.17.15.3]
32351445/8 <1637> < Raden Ajeng Kubiyati [Hb.7.17.15.4]
32361446/8 <1637> < Raden Mas Kuswanto [Hb.7.17.15.5]
32371447/8 <1630> < Raden Mas Kandiawan [Hb.7.17.40.1]
32381448/8 <1630> < Raden Mas Indra [Hb.7.17.40.2]
32391449/8 <1630> < Raden Mas Suryawan [Hb.7.17.40.3]
32401450/8 <1630> < Raden Ajeng Murtisekar [Hb.7.17.40.4]
32411451/8 <1630> < Raden Ajeng Danik [Hb.7.17.40.5]
32421452/8 <1631> < Raden Ajeng Sukati [Hb.7.17.41.1] (Raden Ayu Mardikusno)
32431453/8 <1633> < Raden Ajeng Nurwidayat [Hb.7.17.38.1]
32441454/8 <1633> < Raden Mas Nurwidadi [Hb.7.17.38.2]
32451455/8 <1633> < Raden Mas Nuryuwono [Hb.7.17.38.3]
32461456/8 <1640> < Raden Mas Kristiadi [Hb.7.17.24.1]
32471457/8 <1640> < Raden Mas Kristimaharesi [Hb.7.17.24.9]
32481458/8 <1640> < Raden Ajeng Kristiatun [Hb.7.17.24.8]
32491459/8 <1640> < Raden Mas Kristidewanto [Hb.7.17.24.7]
32501460/8 <1640> < Raden Ajeng Kristijayanti [Hb.7.17.24.6]
32511461/8 <1640> < Raden Ajeng Kristiastuti [Hb.7.17.24.2]
32521462/8 <1640> < Raden Ajeng Kristidewanti [Hb.7.17.24.5]
32531463/8 <1640> < Raden Ajeng Kristihapsari [Hb.7.17.24.4] (Raden Ayu Suroso)
32541464/8 <1640> < Raden Mas Kristihapsoro [Hb.7.17.24.3]
32551465/8 <1632> < Raden Ajeng Larasati [Hb.7.17.42.1]
32561466/8 <1632> < Raden Ajeng Claudia Sri Nurtini [Hb.7.17.42.3] (Raden Ayu Brower)
32571467/8 <1632> < Raden Ayu Bona Ventura Sri Wardani [Hb.7.17.42.2]
32581468/8 <1632> < Raden Ajeng Ignatia Endang [Hb.7.17.42.4] (Raden Ayu Suteki)
32591469/8 <1632> < Raden Mas Antonius Bambang Sunarwan [Hb.7.17.42.5]
32601470/8 <1032> < Raden Mas Jidtokusaeri [Hb.7.20.8.1]
32611471/8 <1032> < Raden Mas Istamto [Hb.7.20.8.2]
32621472/8 <1032> < Raden Ajeng Siti Partiwi [Hb.7.20.8.3]
32631473/8 <1032> < Raden Ajeng Maharkesti [Hb.7.20.8.4]
32641474/8 <1650> < Raden Mas Tribiyun [Hb.7.20.1.1]
32651475/8 <1650> < Raden Mas Triharju [Hb.7.20.1.2]
32661476/8 <1650> < Raden Ajeng Siti Sulestriyah [Hb.7.20.1.3]
32671477/8 <1650> < Raden Ajeng Siti Rukmowati [Hb.7.20.1.4]
32681478/8 <1650> < Raden Ajeng Siti Rukmiyatun [Hb.7.20.1.5]
32691479/8 <1650> < Raden Mas Umarjono [Hb.7.20.1.6]
32701480/8 <1651> < Raden Ajeng Siti Ganim [Hb.7.20.2.1]
32711481/8 <1651> < Raden Mas Prasetyo [Hb.7.20.2.2]
32721482/8 <1651> < Raden Mas Prasojo [Hb.7.20.2.3]
32731483/8 <1653> < Raden Ajeng Siti Kustinah [Hb.7.20.10.1]
32741484/8 <1653> < Raden Ajeng Sri Suwasti [Hb.7.20.10.2]
32751485/8 <1653> < Raden Mas Sriwijoyo [Hb.7.20.10.3]
32761486/8 <1653> < Raden Ajeng Retno Dewati [Hb.7.20.10.4]
32771487/8 <1669> < Raden Mas Kusumo Wardono [Hb.7.24.4.1]
32781488/8 <1669> < Raden Mas Kusumo Praboto [Hb.7.24.4.2]
32791489/8 <1669> < Raden Mas Petrus Kusumo Sarojo [Hb.7.24.4.3]
32801490/8 <1669> < Raden Ajeng Kusumo Winahyu [Hb.7.24.4.4]
32811491/8 <1664+428> < Raden Ajeng Retno Wikantyasning [Hb.7.24.9.1] (Raden Ayu Muhammad Adnan) 32821492/8 <1664+428> < Raden Mas Wibowo Wikantyoso [Hb.7.24.9.2]
32831493/8 <1665+429> < Raden Mas Ahmed Himayana [Hb.7.24.8.1]
32841494/8 <1665+429> < Raden Mas Suryo Guritno [Hb.7.24.8.2]
32851495/8 <1665+429> < Raden Mas Darma Kusuma [Hb.7.24.8.3]
32861496/8 <1665+429> < Raden Ajeng Kusumo Widari [Hb.7.24.8.4] (Raden Ayu Edwin Laoda) 32871497/8 <1667> < Raden Mas Anto ? ([Hb.7.24.6.1])
32881498/8 <1668+430> < Raden Mas Bar Suharto [Hb.7.24.5.1]
32891499/8 <1668+430> < Raden Mas Bar Suharto II [Hb.7.24.5.2]
32901500/8 <1663> < Raden Mas Sudarsono [Hb.7.24.3.1]
32911501/8 <1661> < Raden Ajeng Siti Kustini [Hb.7.24.2.8] (Raden Ayu Jagranata)
32921502/8 <1661> < Raden Mas Kustarjo [Hb.7.24.2.7]
32931503/8 <1661> < Raden Mas Kustarno [Hb.7.24.2.6]
32941504/8 <1661> < Raden Ajeng Siti Kustarmi [Hb.7.24.2.5] (Raden Ayu Suprapto Haryo)
32951505/8 <1661> < Raden Ajeng Yosephin Siti Kustarni [Hb.7.24.2.4] (Raden Ayu Sukardi) 32961506/8 <1661> < Raden Mas Kustaryo [Hb.7.24.2.3]
32971507/8 <1661> < Raden Mas Kustarto [Hb.7.24.2.2]
32981508/8 <1661> < Raden Ajeng Kustari [Hb.7.24.2.1]
32991509/8 <1672> < Raden Ajeng Laksmidewi Harkandi Putri [Hb.7.24.16.1]
33001510/8 <1672> < Raden Mas Handi Dewanto [Hb.7.24.16.2]
33011511/8 <1672> < Raden Ajeng Harkandi Dewayani [Hb.7.24.16.3]
33021512/8 <1673> < Raden Mas Adrianus Punto Wibisono [Hb.7.24.15.3]
33031513/8 <1673> < Raden Mas Padmaril Kumidanenggar [Hb.7.24.15.2]
33041514/8 <1673> < Raden Ajeng Anggrita Sallestyani [Hb.7.24.15.1]
33051515/8 <1674> < Raden Ajeng Sekar Jatiningrum [Hb.7.24.1] (Raden Ayu Herminto)
33061516/8 <1675> < Raden Ajeng Gayatri Marweni [Hb.7.24.13.1] (Raden Ayu Dwinda Ruslan)
33071517/8 <1676+431> < Raden Ajeng Andriza Hanum Fanali [Hb.7.24.12.3]
33081518/8 <1676+431> < Raden Mas Adiyaksa Wisanggeni [Hb.7.24.12.2]
33091519/8 <1676+431> < Raden Ajeng Angkus Pranita Dian Fardanti [Hb.7.24.12.1]
33101520/8 <1671> < Raden Ajeng Hasamarul Wariki [Hb.7.24.11.1] (Raden Ayu Martono) 33111521/8 <1671> < Raden Ajeng Kabirul Kuwati [Hb.7.24.11.2] (Raden Ayu Sedianto Suryosukoco) 33121522/8 <1671> < Raden Mas Bonodikun [Hb.7.24.11.3]
33131523/8 <1671> < Raden Mas Herkamkoyo [Hb.7.24.11.4]
33141524/8 <1678+433> < Raden Mas Tejobroto [Hb.7.27.2.1]
33151525/8 <1678+433> < Raden Ayu Roekmini [Hb.7.27.2.2] (Raden Ayu Soedibyo Prodjo Poeswoko)
33161526/8 <1678+433> < Raden Mas Tejoroekmoro [Hb.7.27.2.3]
33171527/8 <1678+433> < Raden Ayu Roeseline Palupi [Hb.7.27.2.4]
33181528/8 <1679+434> < Raden Mas Tejodomo [Hb.7.27.3.1]
33191529/8 <1679+434> < Raden Ayu Srihadiyati [Hb.7.27.3.9] 33201530/8 <1679+434> < Raden Mas Tejo Baskoro [Hb.7.27.3.2] (Kanjeng Raden Mas Tumenggung Kusumotaruno) 33211531/8 <1679+434> < Raden Mas Tejo Tranggono [Hb.7.27.3.3]
33221532/8 <1679+434> < Raden Mas Tejo Kartiko [Hb.7.27.3.4]
33231533/8 <1679+434> < Raden Mas Tejo Purnomo [Hb.7.27.3.6] 33241534/8 <1679+434> < Raden Mas Tejo Mardiko [Hb.7.27.3.7] 33251535/8 <1679+434> < Raden Mas Tejo Widjoyo [Hb.7.27.3.8] 33261536/8 <1679+434> < Raden Ayu Sri Winanda [Hb.7.27.3.5] (Raden Ayu Notohadiningrat) 33271537/8 <1684+435> < Raden Mas Tejo Yuwono [Hb.7.27.5.1] 33281538/8 <1684+435> < Raden Ayu Sri Tengsi [Hb.7.27.5.2] (Raden Ayu Martono Dirjaningrat) 33291539/8 <1692+438> < Raden Ayu Srie Wararetno [Hb.7.27.14.1] 33301540/8 <1692+438> < Raden Ayu Srie Warashinta [Hb.7.27.14.2] 33311541/8 <1692+438> < Raden Ayu Srie Warawulan [Hb.7.27.14.3] 33321542/8 <1692+438> < Raden Mas Tejo Shindura [Hb.7.27.14.4] 33331543/8 <1692+438> < Raden Ajeng Srie Rasawulan [Hb.7.27.14.5]
33341544/8 <1692+438> < Raden Mas Tejo Bomantoro [Hb.7.27.14.6]
33351545/8 <1685+436> < Raden Mas Tejo Widuro [Hb.7.27.6.1] 33361546/8 <1685+436> < Raden Mas Garboruci [Hb.7.27.6.2]
33371547/8 <1072+1082!> < Raden Mas Tejo Santanu Oepomo [Hb.7.27.12.1] 33381548/8 <1072+1082!> < Raden Mas Tejo Danujo Oepomo [Hb.7.27.12.2] 33391549/8 <1072+1082!> < Raden Mas Tejo Oedono Oepomo [Hb.7.27.12.3] 33401550/8 <1072+1082!> < Raden Mas Tejo Minulyo Oepomo [Hb.7.27.12.4] 33411551/8 <1072+1082!> < Raden Ayu Sri Utami [Hb.7.27.12.5] 33421552/8 <1072+1082!> < Raden Ayu Sri Widagdi [Hb.7.27.12.6] 33431553/8 <1691+437> < Raden Mas Tejo Manuhoro [Hb.7.27.13.4]
33441554/8 <1691+437> < Raden Mas Tejo Darmokusumo [Hb.7.27.13.3]
33451555/8 <1691+437> < Raden Ayu Lintang Johar [Hb.7.27.13.2]
33461556/8 <1691+437> < Raden Ayu Noworetno [Hb.7.27.13.1] 33471557/8 <1699> < Raden Mas Paripurno [Hb.7.30.5.6]
33481558/8 <1699> < Raden Mas Suryanto [Hb.7.30.5.4]
33491559/8 <1699> < Raden Mas Murdanto Samiaji [Hb.7.30.5.1]
33501560/8 <1699> < Raden Ajeng Siti Hanartani [Hb.7.30.5.2]
33511561/8 <1699> < Raden Mas Agung Wijoyo [Hb.7.30.5.3]
33521562/8 <1699> < Raden Ajeng Tatmini [Hb.7.30.5.5] (Raden Ayu Ismu Harmanto)
33531563/8 <1697> < Raden Mas Noor Wijoyo Wadono [Hb.7.30.7.1]
33541564/8 <1697> < Raden Mas Noor Wijoyo Legowo [Hb.7.30.7.2]
33551565/8 <1697> < Raden Ajeng Siti Noorwening [Hb.7.30.7.3]
33561566/8 <1697> < Raden Ajeng Siti Noorsetiyajinah [Hb.7.30.7.4] (Raden Ayu Fujiatmoko)
33571567/8 <1697> < Raden Ajeng Siti Nooryudayatun [Hb.7.30.7.5] (Raden Ayu B. Setiyono)
33581568/8 <1697> < Raden Mas Noor Wijoyo Santoso [Hb.7.30.7.6]
33591569/8 <1698> < Raden Mas Pujosandhono [Hb.7.30.6.6]
33601570/8 <1698> < Raden Ajeng Suwarni [Hb.7.30.6.5] (Raden Ayu Sudiro)
33611571/8 <1698> < Raden Mas Sayono [Hb.7.30.6.4]
33621572/8 <1698> < Raden Ajeng Sumarni Astuti [Hb.7.30.6.3] (Raden Ayu Ibnu Darmawan)
33631573/8 <1698> < Raden Mas Sabono [Hb.7.30.6.2] (Kanjeng Raden Tumenggung Sabono Kusumo)
33641574/8 <1698> < Raden Mas Sadono [Hb.7.30.6.1] (Kanjeng Raden Tumenggung Sadono Kusumo)
33651575/8 <1702> < Raden Mas Hernowo Hadiwongso [Hb.7.31.2.6]
33661576/8 <1702> < Raden Mas Nadpodo [Hb.7.31.2.5]
33671577/8 <1702> < Raden Mas Handogo [Hb.7.31.2.4]
33681578/8 <1702> < Raden Mas Narantaka [Hb.7.31.2.3]
33691579/8 <1702> < Raden Mas Kartolo [Hb.7.31.2.2]
33701580/8 <1702> < Raden Mas Hinukartopati [Hb.7.31.2.1]
33711581/8 <1703+439> < Raden Mas Y. Widoyoko [Hb.7.31.4.7]
33721582/8 <1703+439> < Raden Mas Pujadi [Hb.7.31.4.6]
33731583/8 <1703+439> < Raden Mas Samihaji [Hb.7.31.4.5]
33741584/8 <1703+439> < Raden Mas Ign. Buntolo [Hb.7.31.4.4]
33751585/8 <1703+439> < Raden Mas Suryoatmojo [Hb.7.31.4.3]
33761586/8 <1703+439> < Raden Ajeng Surdiyati [Hb.7.31.4.2] (Raden Ayu Pujianto) 33771587/8 <1703+439> < Raden Ajeng Suryati [Hb.7.31.4.1] (Raden Ayu Sutarjo)
33781588/8 <1704+440> < Raden Mas Susilarjo Priyonirmolo [Hb.7.31.6.2]
33791589/8 <1704+440> < Raden Mas Ranowo Marbudhingrat Rasbudi [Hb.7.31.6.3]
33801590/8 <1704+440> < Raden Ajeng Yun Sri Purwanesti N. [Hb.7.31.6.1]
33811591/8 <1704+440> < Raden Mas Istijab Prawendro Purwantoro [Hb.7.31.6.4]
33821592/8 <1704+440> < Raden Ajeng Tyasning Ekartaji [Hb.7.31.6.9]
33831593/8 <1704+440> < Raden Mas Sumirat Wisnu Pambudi [Hb.7.31.6.8]
33841594/8 <1704+440> < Raden Ajeng Saroyini Wuryan Rahayu [Hb.7.31.6.7]
33851595/8 <1704+440> < Raden Mas Ilham Reza Khan Pandugo [Hb.7.31.6.6]
33861596/8 <1704+440> < Raden Ajeng Farida Sumiratun Qodri [Hb.7.31.6.5]
33871597/8 <1704+440> < Raden Mas Susilo Heryanto Aji [Hb.7.31.6.14]
33881598/8 <1704+440> < Raden Mas Firman Buntolo Aji [Hb.7.31.6.13]
33891599/8 <1704+440> < Raden Mas Sedyo Aji [Hb.7.31.6.12]
33901600/8 <1704+440> < Raden Ajeng Murjali Siti Antari Mintowati [Hb.7.31.6.11]
33911601/8 <1704+440> < Raden Mas Sidik Pulunggonowati [Hb.7.31.6.10]
33921602/8 <789+793!> < Raden Mas Danis Albikun [Hb.8.23.1]
33931603/8 <789+793!> < Raden Ajeng Siti Musjati [Hb.8.23.2] (Raden Ayu Dinusatomo)
perkawinan: <739> < Raden Mas Dinusatomo d. 15 November 2022
33941604/8 <793+789!> < Raden Mas Aningsunindyo [Hb.8.23.3] / Kanjeng Pangeran Haryo Suryohadiningrat (Kanjeng Raden Tumenggung Suryohadiningrat)
33961605/8 <789+793!> < Raden Ajeng Siti Rialun [Hb.8.23.5] (Raden Ayu Dody Karyadi) 33971606/8 <789+793!> < Raden Mas Ywandjono ]Hb.8.23.6] / Kanjeng Raden Tumenggung Kusumaningrat 34001607/8 <789+793!> < Raden Ayu Siti Nuryati [Hb.8.23.8] (Raden Ayu A. Zunaim) 34011608/8 <789+793!> < Raden Ajeng Siti Wahyuti [Hb.8.23.7] (Raden Ayu Aminullah Nurdin) 34031609/8 <1706> < 5. Raden Ayu Suratinah / Mbakjeng Nuning
34041610/8 <1706> < 1. Raden Ayu Sri Suratidjah / Mbakjeng Gowok
34051611/8 <1706> < 2. Raden Mas Subekti Samsir
34061612/8 <1706> < 4. Raden Ayu Surat
34071613/8 <1706> < 6. Raden Ayu Siti Kus Mariyalun Natmi
34081614/8 <1708> < Muhammad Ash’ad
34091615/8 <1748> < 1...................
34101616/8 <1748> < 2. R. Sholeh
34111617/8 <1748> < 3. R. Sofyan Ats Sauri (Yusuf)
34121618/8 <1748> < 4. R. Arifin
34131619/8 <904+?> < 2. RM. Abd. Hamid
34141620/8 <1712> < 1. RA. Djaenab (Ternate)
34151621/8 <1728+1714!> < 1. RA. Hamilih (Tasikmalaya)
34161622/8 <1709> < 1. RA. Samsilah (Jakarta)
34171623/8 <1709> < 2. RA. Supatni (Jakarta)
34181624/8 <1709+?> < 3. Raden Ayu Enny Keatin Diponegoro
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Sumber :

BASIC INFORMATION IKPD

Ass...Wr..Wb...Basic Informasi ini Bertujuan untuk Menjalin Hubungan Silahturahmi yg Lebih Luas lagi antara sesama Garis Keturunan Pangeran Diponegoro secara Langsung Maupun Tidak Langsung Melalui " Jaringan Informasi " Ikatan Keluarga Pangeran Diponegoro " ( IKPD )..yg Selama ini sdh Berjalan di Jakarta semenjak Tahun +/- 1970,sebagai Pencetus Awal ...Para Almarhum " ROMO /, EYANG " KAMI DIBAWAH INI " Yaitu :

1.Kol.RM. Yusuf Diponegoro ( Ciliman Jakarta Pusat )
2.RM.Iskandar Johan Diponegoro / Romo Odot Diponegoro ( Jl.Beliton 15 Menteng Jakarta Pusat)
3.RM.Ismail Diponegoro ( Admodirono I / 8 Semarang )
4.Prof Dr.Heider Bin Heider ( Srondol Semarang )
5.RA.Kayatin Diponegoro / Istri DR.Syahir Nitiharjo ( Kota Baru Yogyakarta )..

Saat ini Sekertariat IKPD Tetap dari dulu di JL.Beliton no.15 Menteng Jakarta-Pusat, Rumah Almarhum Romo / Eyang Odot Diponegoro ( Salah satu Pencetus IKPD ).

Wassalam.


SILSILSAH RM.ISMAIL DIPONEGORO

FYI, kami putra/cucu alm. RM. Ismail Diponegoro namun sekarang keluarga alm RM Ismail Diponegoro sudah tidak berkediaman di Admodirono I/8 Semarang. Dari alm RM Ismail Diponegoro ada 11 putra/i :

1. Ely Diponegoro
2. Emy Diponegoro
3. Enny Keatin Diponegoro (Jl. Singosari III No. 10 Semarang)
4. Soekarno Diponegoro
5. Alm. Soedirman Diponegoro
6. Alm. Soelaiman Diponegoro
7. Moh Ismail Diponegoro
8. Soekirman Diponegoro
9. Yetty Diponegoro
10. Alm. Jupri Diponegoro
11. Mutmainah Diponegoro

dari 11 putra/i tsb semua berdomisili di semarang.

Sedangkan sy putra dari ibu Enny Keatin Diponegoro dan memiliki 7 saudara :

1. Iwan Kridasantausa, 2 putri : Almira Kridarahmanda & Elita Kridavirmata
2. Andi Kridasusila, 3 putra : Reksa Kridawasesa, Andre Kridaprawira, dan Alvin
3. Alm. Herry Kridaprakosa, 1 putri : Alvita Kridaprakosa
4. Doddy Kridasaksana, 1 putri : Adinda Kridasaksana
5. Boma Kridautama, 1 putra : Aldiva Rizky Kridautama
6. Rinta Kridalukmana (penulis), 1 putri : Anastasya Arinta Kridamaranatha Alamat : Jl. Sidoluhur 17/16, Tlogosari, Semarang
7. Ronny Kridakristianto, 1 putra : Raja Kridarukmana
8. Suluh Kridalelana, 1 putra : Kenzi Kridabalakosa

Untuk menghubungi keluarga besar dari alm RM Ismail Diponegoro dapat melakukan kontak dg kami, Rinta Kridalukmana

Demikian informasi yg dpt kami sampaikan. Terima kasih.
34191625/8 <1709> < 4. RM. Sulaiman I
34201626/8 <1709> < 5. RM. Sukarno
34211627/8 <1709> < 6. RA. Suharti
34221628/8 <1709> < 7. RM. Sulaiman II (Jakarta)
34231629/8 <1709> < 8. RM. Moh. Ismail (Jakarta)
34241630/8 <1709> < 9. RM. Sudirman (Jakarta)
34251631/8 <1709> < 10. RM. Sukirman (Jakarta)
34261632/8 <1721> <Ψ 1.
34271633/8 <1721> <Ψ 2.
34281634/8 <1721> <Ψ 3.
34291635/8 <1713> < 1. RM. Muhammad
34301636/8 <1713> < 2. RA. Kalsum (Makassar)
34311637/8 <1719> < 1. RA. Mur (Tj. Priok)
34321638/8 <1719> < 2. RA. Har
34331639/8 <1719> < 3. RA. Mul
34341640/8 <1719> < 4. RA. Har
34351641/8 <1719> < 5. RA. Dinar (Tj Priok)
34361642/8 <1719> < 6. RM. Abd. Madjid
34371643/8 <1719> < 7. RA. Supiah
34381644/8 <1724> < 1. Raden Mas Amin (Ambon)
34391645/8 <1724> < 2. Raden Ayu Mirjam (Ambon)
34401646/8 <1725> < 1. RM. Abd. Gani (Ambon)
34411647/8 <1729> < 1. RM. Yusuf (tni Jakarta)
34421648/8 <1729> < 2. RA. Mirjan (Jakarta)
34431649/8 <1729> <Ψ 3.
34441650/8 <1729> <Ψ 4.
34451651/8 <1735> < 1. RM. Achmad
34461652/8 <1735> < 2. RM. .............................(Makassar)
34471653/8 <1736> < 1. RA. Kusiah (Ambon)
34481654/8 <1736> < 2. RA. Kursin (Ambon)
34491655/8 <1736> < 3. RM. Sudja (Ambon)
34501656/8 <922> < 2. RM. Noor Djohan Diponegoro
34511657/8 <922> < 3. RA. Magdalin
34521658/8 <922> < 4. RA. Farida A.
34531659/8 <922> < 5. RA. Ariswapi Diponegoro
34541660/8 <922> < 6. RA. Julistiani Diponegoro
34551661/8 <922> < 7. RA. Anneke Diponegoro
34561662/8 <922> < 8. RM. Danur (Kemlu RI Tokyo)
34571663/8 <921> < Orang:1006643
34581664/8 <816> < 1. RH. Drs. Ilyas Dajir
34591665/8 <815+?> < 1. R. Bustomi
34601666/8 <815+?> < 2. R. Ismail
34621667/8 <815+?> < 4. Nyi R. Suaebah
34631668/8 <815+?> < 5. Nyi R. Maemunah
34641669/8 <830+?> < 12. RH. Muh. Hasan/Endung (Penghulu Tangerang)
34651670/8 <830+?> < 13. RH. Ipih Sodik Nataatmadja
34661671/8 <830+?> < 14. R. Ateng
34671672/8 <827> < 1. Nji R. Halir
34681673/8 <827> < 2. Nji R. Mariah
34691674/8 <827> < 3. R. Hamdjah
34701675/8 <829+?> < 1. Nji R. Suaemi
34731676/8 <1750+441> < Kus Sumarbirah ? (Kuswadji Kawindrosusanto)
34741677/8 <1750+441> < Lilut Kussudyarto
34751678/8 <1455> < Raden Ajeng Attas Hari
34771679/8 <880> < Sri Bintang Pamungkas
34791680/8 <826> < 4. R. Muh. ISA
34801681/8 <808> < 1. RA. Djuhro 34811682/8 <808> < 2. RA. Djuhria 34821683/8 <808> < 6. RM. Acep Usman 34831684/8 <808> < 7. RA. Djubaedah
34841685/8 <808> < 8. RM. Hasbulloh
34851686/8 <808+?> < 15. RM. Ibrahim
34861687/8 <1709+?> < 11. RA. Mutmainah Ismail Diponegoro
34871688/8 <1191+318> < Raden Ayu Eva Ikasari [Hb.6.17.4.6.1] 34891689/8 <1191+318> < Raden Ayu Eva Mia Tridaryanti [Hb.6.17.4.6.3]
perkawinan: <747> < Teguh Harjanto d. 26 Agustus 2008
34901690/8 <1191+318> < Raden Ayu Diah Caturisa Shinta [Hb.6.17.4.6.4]
perkawinan: <748> < Gigih Tjahjono d. 25 Agustus 2012
34911691/8 <1191+318> < Raden Ayu Gema Pancawati [Hb.6.17.4.6.5]
34921692/8 <1191+318> < Raden Ayu Yala Sadya Cakra Rini 34931693/8 <1191+318> < Raden Ayu Diana Sapta Nita 34941694/8 <1191+318> < Raden Ayu Susi Hastayanti 34951695/8 <1191+318> < Raden Mas Bintang Aria Panatayudha 34971696/8 <1760+306> < Raden Mas Benedictus Soetarjono
34981697/8 <1760+306> < R. A. Henriette Arbiati
34991698/8 <1760+306> < R. A. Georgia Srikanali
35001699/8 <1760+306> < Raden Mas Franciscus Xaverius Prahasto
35011700/8 <1760+306> < Raden Ajeng Melani
Meninggal saat bayi
35021701/8 <1760+306> < Raden Mas Augustinus Soejanadi
35031702/8 <1760+306> < Raden Mas Constantinus Satrijo
35041703/8 <1760+306> < R. A. Mardoesari
35051704/8 <1760+306> < Raden Mas Aloysius Prijohoetomo
35061705/8 <1760+306> < R. A. Catharina Soeharti
35071706/8 <1760+306> < Raden Mas Ignatius Soesanto
35081707/8 <1760+306> < Raden Mas Petrus Canisius Pulunggono
35091708/8 <1760+306> < R. A. Margareta Widihastoeti
35101709/8 <1751+304> < Ratih Tarbijah
35131710/8 <1751+304> < Asti Wandansari
35141711/8 <1751+304> < Soebroto Aria Mataram
35231712/8 <1763+311> < Bendoro Raden Mas Munier Tjakraningrat (K. P. H. Pakuningrat) 35241713/8 <1764> < Raden Nganten Sulasmi
35251714/8 <1765+442> < R. A. Soedarjatin
perkawinan: <754> < w Soeprapto b. 27 Agustus 1929 d. 7 Oktober 2003
35261715/8 <1764> < Raden Hadi Sutrisno
35271716/8 <1763+311> < B. R. A. Koes Siti Marlia
35291717/8 <1763+312> < Bendoro Raden Mas Muhammad Malikul Adil Tjakraningrat
35301718/8 <1749+314> < Raden Mas Sularso Basarah Soerjosoejarso
35311719/8 <1749+314> < R. A. Parimita Wiarti Soerjosoejarso
35321720/8 <1749+314> < Raden Mas Adji Pamoso Soerjosoejarso
35331721/8 <1749+314> < R. A. Heruma Wiarti Soerjosoejarso
35341722/8 <1749+314> < R. A. Rasika Wiarti Soerjosoejarso
35351723/8 <1749+314> < R. A. Wimaja Wiarti Soerjosoejarso
35361724/8 <1772> < Raden Mas Bagas Satria Nugraha
35381725/8 <1773> < Raden Imam Sutrisno
35391726/8 <1774> < Raden Roro Hisni Sriwidayati
35401727/8 <1782+?> < Imam Subagyo
dimakamkan di Balikpapan Kaltim
35411728/8 <1782+?> < Umie Astuti
35421729/8 <1782+?> < Tri Haryono
35431730/8 <1782+?> < ILD Tjatur Nugroho
35441731/8 <1782+?> < Nastiti P Dewi
35451732/8 <1782+?> < Yun Satmoko BP
35461733/8 <1789> < Adi (Godean)
35471734/8 <1791> < Sri
Rumah Babarsari
35481735/8 <1791> < Hany
Pogung
35491736/8 <1791> < Priambodo
Gowongan
35501737/8 <1791> < Wiwil
Gowongan
35511738/8 <1791> < Yayuk
Jakarta
35521739/8 <1780> < Bambang Mujiharto
35531740/8 <1780> < Sri Riandini Purna
35541741/8 <1780> < Dian Anggraeni
35551742/8 <1780> < Dwikora Sulaksono
35561743/8 <1780> < Astiana Viani Rahayu
35571744/8 <1780> < Ida Asiatun
35581745/8 <1780> < Nur Widiyanti
35591746/8 <1780> < Pranowo Harko Tri Dasa Warsa
35601747/8 <1780> < Aprilia Agustin
35611748/8 <1783> < Galih Listyowardhani
35621749/8 <1783> < Gala Dwiharjanti
35631750/8 <1783> < Galuh Damayanti
35641751/8 <1783> < Julianto Ardi
35651752/8 <1783> < Wishnu Agung Baroto
35661753/8 <1783> < Gita Novianti Parwatirini
35671754/8 <1783> < Vidiartomo Santoso
35681755/8 <1783> < Ghea Ambar Prativi
35691756/8 <1783> < Rahadian Oktariono
35701757/8 <1783> < Raihan Rifki Annasif
35711758/8 <1795> < Widodo
35721759/8 <1795> < Wiwoho
35731760/8 <1795> < Widiatmoko
35741761/8 <1795> < Wiwis
35751762/8 <1795> < Widani
35761763/8 <1795> < Wiseno
35771764/8 <1795> < Ana
35781765/8 <1795> < Antok
35791766/8 <1795> < Arga
35801767/8 <1798> < Vira
35811768/8 <1798> < Andes
35821769/8 <1798> < Dindin
35831770/8 <1798> < Yustine
35841771/8 <1799> < dr. Agung
35851772/8 <1799> < Wiwin
35861773/8 <1799> < Nugroho
35871774/8 <1799> < Kuncoro
35881775/8 <1799> < Harjono
35891776/8 <1779> < Istidjab
35901777/8 <1779> < Ispriyatmi
35911778/8 <852> < Raden Mas Tirun Marwito (Kanjeng Raden Tumenggung Djatiningrat)
35941779/8 <1388> < Raden Mas Danisworo [Hb.6.18.13.2.2] 35951780/8 <1388> < Raden Mas Hindarto [Hb.6.18.13.2.1]
35961781/8 <852> < Raden Ayu Siti Nurani (Prabuningrat)
35971782/8 <852> < Kanjeng Raden Tumenggung Hastononingrat ?
35981783/8 <1192+381> < Raden Mas Heru Herqutanto [Hb.6.17.4.5.1] 35991784/8 <1192+381> < Raden Ayu Era Herawati [Hb.6.17.4.5.2] 36001785/8 <1192+381> < Raden Mas Heri Herkuntoro [Hb.6.17.4.5.3] 36011786/8 <1204+1802!> < Raden Mas Soerjadi Wirjokoesoemo
Menikah dengan puteri Bupati Pamekasan