Inggit Garnasih b. 17 Februari 1888

Dari Rodovid ID
Orang:996012
Inggit.jpg
Marga (saat dilahirkan) ?
Jenis Kelamin Wanita
Nama lengkap (saat dilahirkan) Inggit Garnasih
Orang Tua

Arjipan

Amsi

Halaman-wiki wikipedia:Inggit_Garnasih

Momen penting

17 Februari 1888 lahir: Bandung

1923 perceraian: Sanoesi

24 Maret 1923 perkawinan: Bandung, Soekarno / Koesno Sosrodihardjo b. 6 Juni 1901 d. 21 Juni 1970

1943 perceraian: Soekarno / Koesno Sosrodihardjo b. 6 Juni 1901 d. 21 Juni 1970

Catatan-catatan

Inggit Garnasih (lahir di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 17 Februari 1888 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 13 April 1984 pada umur 96 tahun [1] adalah istri kedua Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Mereka menikah pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung. Pernikahan mereka dikukuhkan dengan Soerat Keterangan Kawin No. 1138 tertanggal 24 Maret 1923, bermaterai 15 sen, dan berbahasa Sunda. Sekalipun bercerai tahun 1942, Inggit tetap menyimpan perasaan terhadap Soekarno, termasuk melayat saat Soekarno meninggal. Kisah cinta Inggit-Soekarno ditulis menjadi sebuah roman yang disusun Ramadhan KH yang dicetak ulang beberapa kali sampai sekarang. [1]

Ia terlahir dengan nama Garnasih saja. Garnasih merupakan singkatan dari kesatuan kata Hegar Asih, dimana Hegar berarti segar menghidupkan dan Asih berarti kasih sayang. Kata Inggit yang kemudian menyertai di depan namanya berasal dari jumlah uang seringgit. Diceritakan bahwa Garnasih kecil menjadi sosok yang dikasihi teman-temannya. Begitu pula ketika ia menjadi seorang gadis, ia adalah gadis tercantik di antara teman-temannya. Di antaramereka beredar kata-kata, "Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit." Banyak pemuda yang menaruh kasih padanya. Rasa kasih tersebut diberikan dalam bentuk uang yang rata-rata jumlahnya seringgit. Itulah awal muda sebutan Inggit yang kemudian menjadi nama depannya.

Kerabat: Muntarsih (Kakak), Ratna Djuami (Anak Angkat), Kartika Uteh (Anak Angkat)


Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Hamengku Buwono II