Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III [Hb.2.] b. 20 Februari 1769 d. 3 November 1814

Dari Rodovid ID

Orang:355430
Langsung ke: panduan arah, cari
Marga (saat dilahirkan) Hamengku Buwono II
Jenis Kelamin Pria
Nama lengkap (saat dilahirkan) Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III [Hb.2.]
Nama lainnya Raden Mas Surojo
Orang Tua

4. Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono II [Hb. 1.4] [Hamengku Buwono I] b. 7 Maret 1750 d. 3 Januari 1828

Gusti Kanjeng Ratu Kedhaton [Gp.Hb.2] [?] b. 1750 d. Juli 1820

[1][2][3]

Momen penting

20 Februari 1769 lahir: Yogyakarta

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Sosrodipuro [Hb.3.29] [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Mangunnegoro [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Sumodipuro [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Notodiningrat [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Mangundirjo [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Pangeran Haryo Teposono [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Joyosundargo [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Pangeran Haryo Suryadi [Hb.3.27] [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Pangeran Haryo Suryodipuro II [Hb.3.26] [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Sosrodiningrat [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Pangeran Haryo Hadi Suryo / Bendoro Raden Mas Ambiyo [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Pangeran Haryo Suryowijoyo [Hb.3.14] [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Sosronegoro [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Prawirohatmojo [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Pangeran Haryo Hadisuryo [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Danukusumo [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Wiryokusumo [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Kartonadi [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Mangkuwijoyo [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Bahusentono [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Pangeran Haryo Suryodipuro [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Dipowiyono [Hb.3.30] [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto II [Hb.3.31] [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Ronowinoto [Hb.3.32] [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Pangeran Ngabehi [Hamengku Buwono III]

kelahiran anak: Bendoro Raden Ayu Mangundrono [Hamengku Buwono III]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Murtiningsih [Ga.Hb.3.21] [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Hadiningdiah [Ga.Hb.3.22] / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti [Hamengku Buwono I]

perkawinan: Bendoro Mas Ayu Mindarsih [?]

perkawinan: Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.1.?] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng [Gp.Hb.3.1] [Hamengku Buwono I]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Mangkorowati [Ga.Hb.3.1] [Hamengku Buwono] b. 1770 d. 7 Oktober 1852

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Dewaningrum [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Lesmonowati ? (Ratu Kencono) [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Kusumodiningrum [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Mulyoningsih [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Puspitosari [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Mulyosari [?]

perkawinan: Bendoro Mas Ayu Puspitoningsih [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Puspitolangen [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Kalpikowati [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Surtikowati [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Panukmowati [?]

perkawinan: Bendoro Mas Ayu Madrasah [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Padmowati [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Wido [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Doyopurnomo [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Puspowati [?]

perkawinan: Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Gp.Hb.3.1] ? (Prawirodirjo) [?]

perkawinan: Gusti Kanjeng Ratu Wadhan [Gp.Hb.3.3] [?]

perkawinan: Bendoro Mas Ayu Sasmitoningsih [Ga.Hb.3.19] [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Renggoasmoro [Ga.Hb.3.20] [?]

perkawinan: Bendoro Raden Ayu Hadiningsih [Ga.Hb.3.23] [?]

11 November 1785 kelahiran anak: Yogyakarta, Pangeran Diponegoro [Hb.3.1] / Bendoro Raden Mas Mustahar [Hamengku Buwono III] b. 11 November 1785 d. 8 Januari 1855

1786? kelahiran anak: Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro / Bendoro Pangeran Haryo Suryengalogo [Hamengku Buwono III] b. 1786?

1790 kelahiran anak: Bendoro Pangeran Haryo Purwodiningrat / Bendoro Pangeran Haryo Suryobrongto [Hamengku Buwono III] b. 1790

3 April 1804 kelahiran anak: Yogyakarta, Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono IV [Hb.III.18] / Gusti Raden Mas Ibnu Jarot (Sinuhun Jarot) [Hamengku Buwono III] b. 3 April 1804 d. 6 Desember 1822

31 Desember 1808 gelar: Yogyakarta, Raja Putro Narendro Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro (Pangeran Wali)

1810 - 28 Desember 1811 gelar: Yogyakarta

12 Juni 1812 - 3 November 1814 gelar: Yogyakarta, Sultan of Yogyakarta, 3rd

3 November 1814 wafat: Yogyakarta

Catatan-catatan

Official Link Adm :Ir. H. Hilal Achmar Nama aslinya adalah Raden Mas Surojo, putra Hamengkubuwana II yang lahir pada tanggal 20 Februari 1769. Pada bulan Desember 1810 terjadi serbuan tentara Belanda terhadap Keraton Yogyakarta sebagai kelanjutan dari permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Herman Daendels.

Hamengkubuwana II diturunkan secara paksa dari takhta. Herman Daendels kemudian mengangkat Raden Mas Surojo sebagai Hamengkubuwana III berpangkat regent, atau wakil raja. Ia juga menangkap dan menahan Pangeran Notokusumo saudara Hamengkubuwana II di Cirebon.

Pada tahun 1811 Inggris berhasil merebut jajahan Belanda terutama Jawa. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hamengkubuwana II untuk naik takhta kembali dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Desember 1811.

Kemudian terjadi permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Thomas Raffles, yaitu kepala pemerintahan Inggris di Jawa. Pertempuran terjadi di Keraton Yogyakarta, di mana Thomas Raffles membuang Hamengkubuwana II ke Pulau Penang, dan mengangkat kembali Hamengkubuwana III sebagai raja.

Akibat pertempuran tersebut, Kesultanan Yogyakarta harus menerima konsekuensi, antara lain:

Yogyakarta harus melepaskan daerah Kedu, separuh Pacitan, Japan, Jipang dan Grobogan kepada Inggris dan diganti kerugian sebesar 100.000 real setiap tahunnya. Angkatan perang Yogyakarta diperkecil dan hanya beberapa tentara keamanan keraton saja. Sebagian daerah kekuasaan keraton diserahkan kepada Pangeran Notokusumo yang berjasa mendukung Thomas Raffles, dan diangkat menjadi Paku Alam I.

Pemerintahan Hamengkubuwana III berakhir pada saat meninggalnya, yaitu tanggal 3 November 1814. Ia digantikan putranya yang masih anak-anak sebagai Hamengkubuwana IV. Sementara itu putra tertuanya yang lahir dari selir bernama Pangeran Diponegoro kelak melancarkan perang terhadap Belanda pada tahun 1825 – 1830.

Sri Sultan Hamengkubuwana III (lahir di Yogyakarta, 20 Februari 1769 – meninggal di Yogyakarta, 3 November 1814 pada umur 45 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah dalam dua periode, yaitu tahun 1810 – 1811 dan 1812 – 1814.

Kepustakaan

M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Pada 1814, Hamengku Buwono III meninggal. Pangeran Djarot, yang baru berusia 13 tahun, diangkat menjadi Hamengku Buwono IV. Praktis kendali kekuasaan dikuasai Patih Danurejo IV -seorang pro Belanda dan bahkan bergaya hidup Belanda. Perlahan kehidupan kraton makin menjauhi suasana yang diharapkan Diponegoro. Apalagi setelah adiknya, Hamengku Buwono IV meninggal pada 1822. Atas inisiatif Danurejo pula, Pangeran Menol yang baru berusia 3 tahun dinobatkan menjadi raja. Makin berkuasalah Danurejo. Saran-saran Diponegoro tak digubris. Danurejo dan Residen Yogya A.H. Smissaert malah berencana membuat jalan raya melewati tanah Diponegoro di Tegalrejo. Tanpa pemberitahuan, mereka mematok-matok tanah tersebut. Para pengikut Diponegoro mencabutinya. Diponegoro minta Belanda untuk mengubah rencananya tersebut. Juga untuk memecat Patih Danurejo. Namun, pada 20 Juli 1825, pasukan Belanda dan Danurejo IV mengepung Tegalrejo. Diponegoro telah mengungsikan warga setempat ke bukit-bukit Selarong. Di sana, ia juga mengorganisasikan pasukan. Pertempuran pun pecah. Upaya damai dicoba dirintis. Belanda dan Danurejo mengutus Pangeran Mangkubumi -keluarga kraton yang masih dihormati Diponegoro. Namun, setelah berdialog, Mangkubumi justru memutuskan bergabung dengan Diponegoro. Gubernur Jenderal van der Capellen memperkuat pasukannya di Yogya. Namun 200 orang tentara itu, termasuk komandannya Kapten Kumsius, tewas di Logorok, Utara Yogya, atas terjangan pasukan Diponegoro di bawah komando Mulyosentiko. Dalam pertikaian ini, dua kraton Surakarta -Paku Buwono dan Mangkunegoro- berpihak pada Belanda. Pasukan pimpinan Tumenggung Surorejo dapat menghancurkan pasukan bantuan Mangkunegoro. Di Magelang, pasukan Haji Usman, Haji Abdul Kadir mengalahkan tentara Belanda dan Tumenggung Danuningrat. Danuningrat tewas di pertempuran itu. Di Menoreh, Diponegoro sendiri memimpin pertempuran yang menewaskan banyak tentara Belanda dan Bupati Ario Sumodilogo. Markas Prambanan diduduki. Meriam-meriam Belanda berhasil dirampas. Di daerah Bojonegoro-Pati-Rembang, pihak Belanda ditaklukkan pasukan rakyat Sukowati pimpinan Kartodirjo. Pertahanan Belanda di Madiun dihancurkan pasukan Pangerang Serang dan Pangeran Syukur. Belanda kemudian mendatangkan pasukan Jenderal van Geen yang terkenal kejam di Sulawesi Selatan. Dalam pertempuran di Dekso, Sentot Alibasyah menewaskan hampir semua pasukan itu. Van Geen, Kolonel Cochius serta Pangeran Murdoningrat dan Pangeran Panular lolos. Murdoningrat dan Panular kembali menyerang Diponegoro. Kali ini bersama Letnan Habert. Di Lengkong, mereka bentrok. Habert tewas di tangan Diponegoro sendiri. Pasukan Surakarta yang sepakat melawan Diponegoro dihancurkan di Delanggu. Benteng Gowok yang dipimpin Kolonel Le Baron, jatuh dalam serbuan 15-16 Oktober 1826. Diponegoro tertembak di kaki dan dada dalam pertempuran itu. Pasukan Sentot Alibasyah yang tinggal selangkah merebut kraton Surakarta dimintanya mundur. Tujuan perang, kata Diponegoro, adalah melawan Belanda dan bukan bertempur sesama warga. Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, untuk sementara dibiarkan. Sekitar 200 benteng telah dibangun untuk mengurangi mobilitas pasukan Diponegoro. Perlahan langkah tersebut membawa hasil. Dua orang panglima penting Diponegoro tertangkap. Kyai Mojo tertangkap di Klaten pada 5 Nopember 1828. Sentot Alibasyah, dalam posisi terkepung, menyerah di Yogya Selatan pada 24 Oktober 1829. Diponegoro lalu menyetujui tawaran damai Belanda. Tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro disertai lima orang lainnya (Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock. Mereka disambut dengan upacara militer Belanda. Dalam perundingan itu, Diponegoro menuntut agar mendapat "kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan agama Islam." De Kock melaksanakan tipu muslihatnya. Sesaat setelah perundingan itu, Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Semarang dan terus ke Betawi. Pada 3 Mei 1830, ia diasingkan ke Manado, dan kemudian dipindahkan lagi ke Ujungpandang (tahun 1834) sampai meninggal. Di tahanannya, di Benteng Ujungpandang, Diponegoro menulis "Babad Diponegoro" sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357 halaman.

[sunting] Sumber-sumber

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_III -
  2. http://kusumanugraha.blogspot.com/2011/02/pangeran-diponegoro-putra-sultan.html -
  3. http://bumicuekcommunity.wordpress.com/2011/07/24/silsilah-lengkap-raja-raja-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat/ -

Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Kakek-nenek
12. Gusti Pangeran Hario Hadiwijoyo
perkawinan: Raden Ayu Sentul
wafat: 1753, Kaliabu, Salaman, Magelang
Sri Sultan Hamengku Buwono I / Pangeran Haryo Mangkubumi (Raden Mas Sujono)
lahir: 6 Agustus 1717, Kartasura
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Asmorowati
perkawinan: Gusti Kanjeng Ratu Kencono
perkawinan: BR Tiarso
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Sawerdi
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Mindoko [G.Hb.1.6]
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Jumanten [G.Hb.1.8]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Wilopo [G.Hb.1.9]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Ratnawati [G.Hb.1.10]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Tandawati [G.Hb.1.12]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Tisnawati [G.Hb.1.13]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Turunsih
perkawinan: Bandara Mas Ayu Ratna Puryawati [G.Hb.1.15]
perkawinan: Bendoro Radin Ayu Doyo Asmoro [G.Hb.1.16]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Gandasari [G.Hb.1.17]
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Srenggara
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Karnokowati [G.Hb.1.18]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Setiowati [G.Hb.1.19]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Padmosari [G.Hb.1.20]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Sari [G.Hb.1.21]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Pakuwati [G.Hb.1.22]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Citrakusumo [G.Hb.1.23]
perkawinan:
perkawinan: 2. Mas Roro Juwati / Raden Ayu Beruk / KRK Kadipaten / KRK Ageng / KRKTegalraya (Kanjeng Ratu Mas)
perkawinan: 4. Bendoro Raden Ayu Handayahasmara / Mbak Mas Rara Ketul
perkawinan: Raden Ayu Wardiningsih
gelar: 29 November 1730 - 13 Februari 1755, Kartasura, Pangeran Mangkubumi
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Cindoko [G.Hb.1.11] , Yogyakarta
gelar: 13 Februari 1755 - 24 Maret 1792, Yogyakarta
wafat: 24 Maret 1792, Imogiri, Yogyakarta
gelar: 10 November 2006, Jakarta, Pahlawan Nasional RI
4. Raden Ronggo Prawirosentiko (1) / Raden Ronggo Prawirodirjo I
gelar: 1755 - 1784, Bupati Madiun Ke 14, di Kranggan
wafat: 1784, dimakamkan di Pemakaman Taman
Kakek-nenek
Orang Tua
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I [Hb.1.6] (Kanjeng Pangeran Haryo Notokusumo)
lahir: 21 Maret 1760, Pangeran Notokusumo / Pangeran Adipati Paku Alam I (1813-1829) Pendiri wangsa Pakualaman yang lahir pada tahun 1760 ini adalah peletak dasar kebudayaan Jawa dalam Kadipaten Pakualaman. Kepada para putra sentana, PA I memberi pelajaran sains dan tata negara. Beberapa karya sastranya adalah: Kitab Kyai Sujarah Darma Sujayeng Resmi (syair), Serat Jati Pustaka (sastra suci), Serat Rama (etika), dan Serat Piwulang (etika). Ia wafat pada tanggal 19 Desember 1829.
lahir: 21 Maret 1764, Yogyakarta
gelar: 28 Januari 1812 - 31 Desember 1829, Yogyakarta, Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I [1812-1829]
wafat: 31 Desember 1829, Yogyakarta
Kanjeng Pangeran Adipati Dipowijoyo I [Hb.1.8] (Pangeran Muhamad Abubakar)
lahir: 1765
gelar: ~ 1810, Yogyakarta, Pangeran Muhamad Abubakar
8. Bendoro Pangeran Haryo Diposanto
lahir: 1762
wafat: < 1820
14. Bendoro Raden Mas Hadiwijaya / Bendoro Pangeran Haryo Panular
lahir: 1771
wafat: 30 Juli 1826, Nglengkong, Sleman
1. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegoro Gusti Raden Mas Intu
gelar: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anum Amangku Negara ingkang Sudibya Atmarinaja Sudarma Mahanalendra
penguburan: Agustus 1758, Imogiri, Yogyakarta
16. Bendoro Pangeran Haryo Mangkukusumo (1)
lahir: 1772
pekerjaan: Januari 1828, Wakil Dalem
Orang Tua
 
== 3 ==
44. Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo / Bendoro Pangeran Haryo Abdul Arifin Hadiwijaya (Bendoro Raden Mas Nuryani)
lahir: 1794
perkawinan: 2. Bendoro Raden Ayu Nuryani / Bendoro Raden Ayu Abdu'l Arifin Hadiwijoyo
wafat: 30 Juli 1826, Nglengkong-Sleman, Termasuk dalam Daftar Panglima Perang Pangeran Diponegoro, (wafat pada 30 Juli 1826, dalam sebuah penyergapan Belanda didaerah Nglengkong-Sleman, Royal.Ark)
Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III [Hb.2.]
lahir: 20 Februari 1769, Yogyakarta
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Murtiningsih [Ga.Hb.3.21]
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Hadiningdiah [Ga.Hb.3.22] / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Mindarsih
perkawinan: Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.1.?] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng [Gp.Hb.3.1]
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Mangkorowati [Ga.Hb.3.1]
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Dewaningrum
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Lesmonowati ? (Ratu Kencono)
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Kusumodiningrum
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Mulyoningsih
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Puspitosari
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Mulyosari
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Puspitoningsih
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Puspitolangen
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Kalpikowati
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Surtikowati
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Panukmowati
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Madrasah
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Padmowati
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Wido
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Doyopurnomo
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Puspowati
perkawinan: Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Gp.Hb.3.1] ? (Prawirodirjo)
perkawinan: Gusti Kanjeng Ratu Wadhan [Gp.Hb.3.3]
perkawinan: Bendoro Mas Ayu Sasmitoningsih [Ga.Hb.3.19]
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Renggoasmoro [Ga.Hb.3.20]
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Hadiningsih [Ga.Hb.3.23]
gelar: 31 Desember 1808, Yogyakarta, Raja Putro Narendro Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro (Pangeran Wali)
gelar: 1810 - 28 Desember 1811, Yogyakarta
gelar: 12 Juni 1812 - 3 November 1814, Yogyakarta, Sultan of Yogyakarta, 3rd
wafat: 3 November 1814, Yogyakarta
== 3 ==
Anak-anak
3. Raden Ayu Maduretno / Raden Ayu Diponegoro (Bendoro Raden Ayu Ontowiryo)
lahir: ~ 1798, Yogyakarta
perkawinan: Pangeran Diponegoro [Hb.3.1] / Bendoro Raden Mas Mustahar , Keraton Yogyakarta
gelar: 18 Februari 1825, Tegalrejo
wafat: 28 Februari 1827, Yogyakarta
Pangeran Diponegoro [Hb.3.1] / Bendoro Raden Mas Mustahar
lahir: 11 November 1785, Yogyakarta
perkawinan: 3. Raden Ayu Retnodewati
perkawinan: 4. Raden Ayu Citrowati
perkawinan: 6. Raden Ayu Retnaningsih
perkawinan: 8. Raden Ayu Retnaningrum
perkawinan: 1. Raden Ayu Retno Madubrongto
gelar: 3 September 1805, Yogyakarta, Bendoron Raden Mas Ontowiryo (Carey,Peter, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro, 2014, pp.17)
perkawinan: 2. Raden Ayu Retnakusuma / Raden Ayu Supadmi , Yogyakarta
perkawinan: 3. Raden Ayu Maduretno / Raden Ayu Diponegoro (Bendoro Raden Ayu Ontowiryo) , Keraton Yogyakarta
perkawinan: 7. Raden Ayu Retnakumala
gelar: 15 Agustus 1825, Selarong, Yogyakarta, Sultan Eru Cakra, Sultan Ngah 'Abdu'l Hamid Eru Chakra Kabir ul-Mukminin Saiyid ud-din Panatagama Jawa Khalifat Rasu'llah
perkawinan: 7. Raden Ayu Retnakumala , Kasongan
wafat: 8 Januari 1855, Makasar
Anak-anak
Cucu-cucu
Kanjeng Sultan Hamengku Buwono V / Gusti Raden Mas Gathot Menol [Hb.4.6] (Sinuhun Menol)
lahir: 24 Januari 1820
perkawinan: Gusti Kanjeng Ratu Sultan [Gp.Hb.6.2] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng (Roromunting)
perkawinan: Kanjeng Mas Hemawati
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Panukmowati [Ga.Hb.5.2]
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Dewaningsih [Ga.Hb.5.1]
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Retno Sriwulan [Ga.Hb.5.3]
gelar: 19 Desember 1823 - 17 Agustus 1826, Yogyakarta, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana V Senopati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid'din Panatagama Khalifatu'llah Ingkang Jumeneng Kaping V
gelar: 17 Januari 1828 - 5 Juni 1855, Yogyakarta, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana V Senopati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid'din Panatagama Khalifatu'llah Ingkang Jumeneng Kaping V
perkawinan: Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradinah [Gp.Hb.5.1]
gelar: 1839, Yogyakarta, Letnan Kolonel
gelar: 1847, Yogyakarta, Kolonel
perceraian: Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradinah [Gp.Hb.5.1]
perkawinan: Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton [Hb.3.2.22] / Bendoro Raden Ayu Andaliya [Gp.Hb.5.2] , Yogyakarta
wafat: 5 Juni 1855, Yogyakarta
Kanjeng Pangeran Adipati Diponingrat [Hb.3.1.1]
lahir: 1808, Yogyakarta
wafat: 1856
4. Raden Mas Sodewo/Raden Mas Singlon Pangeran Alip (Demang Notodirjo)
lahir: 1810
gelar: 1825, Yogyakarta, Pangeran Diponegoro II
gelar: 1830, Raden Mas Mantri Muhammad Ngarip
5. Raden Mas Djonet Dipomenggolo
lahir: 1815, Solo
perkawinan: NYI MAS AYU Fatmah \ Bun Nioh
wafat: 1837, Yogyakarta, dimakamkan di Bogor (Versi 'Peter Carey')
wafat: 1885, Bogor, dimakamkan di Bogor (Versi Keluarga)
6. Raden Mas Roub / Raden Mas Raab (Pangeran Hasan)
lahir: 1816, Solo
wafat: 1894, Wanagopa, Tegal
12. Raden Ayu Hangreni Mangunjaya
lahir: Sementara menunggu persetujuan putranya diputus : 848551
14. Raden Mas Sarkuma
lahir: 1834
wafat: 1849
Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo V / Kanjeng Raden Tumenggung Gondokusumo (Kanjeng Pangeran Haryo Juru)
perkawinan: Bendoro Raden Ayu Danurejo [Hb.4.8]
perkawinan: Raden Ayu Adipati Danurejo [Hb.3.4.3]
wafat: 1844, Yogyakarta, Dimakamkan di Mlangi, sebelah utara Demakijo
pekerjaan: 11 Februari 1847 - 17 November 1879, Yogyakarta, Patih Dalem Kerajaan Mataram Yogyakarta bergelar Danurejo V
Cucu-cucu

Peralatan pribadi
Bahasa lain