1. Sultan Ageng Tirtayasa / Syarif Abul Fath 'Abdul Fattah (Pangeran Ratu) b. 1631 d. 11 Desember 1692 - Keturunan (Inventaris)

Dari Rodovid ID
Orang:779480
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.

1

SAT.JPG
11/1 <?+?> < 1. Sultan Ageng Tirtayasa / Syarif Abul Fath 'Abdul Fattah (Pangeran Ratu)
lahir: 1631, Banten
perkawinan: <1> < Ratu Adi Kalsum
gelar: 10 Maret 1651 - 1683, Banten, Sultan Banten ke VI
wafat: 11 Desember 1692, Batavia
penguburan: 12 Desember 1692, Sedakingkin-Banten
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Asal-Usul Sultan Ageng Tirtayasa

Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya yang memiliki gelar Sultan Abu Al Fath Abdul Fattah atau lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1684) adalah putra pertama dari 15 bersaudara dari ayah yang bernama Sultan Abul Ma'ali Ahmad Rachmatullah, silsilah ke atasnya sampai ke Rasulullah Nabi Muhammad SAW, adalah sebagai berikut :

0. Sayyidina Muhammad Saw (Rasulallah SAW)
1. Sayyidina Ali bin Abu Thalib >< Fatima Binti Muhammad SAW Az Zahra 
2. Husayn Ibn Ali 
3. Ali Zainal Abidin (Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Hussein bin Ali bin Abi Thalib) / Ali bin Husain
4. Muhammad Al Baqir
5. Ja'afar As-Sodiq
6. Ali Al-’Uraidhi (Al Husaini) / Ali bin Ja'far
7. Muhammad An-Naqib
8. Isa Ar-Rumi
9. Ahmad Al Muhajir ( أحمد المهاجر‎) (Ahmad bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib )
10. Ubaidullah
11. Alwi Awwal (Sayidina Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa)
12. Muhammad Sohibus Saumi'ah
13. Alwi Ats-Tsani ( Imam Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah )
14. Ali Kholi' Qosam
15. Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholi Qosam
16. Alawi Ammil Al Fagih (Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath)
17. Sayyid Abdul Malik al-Muhajjir al-Azmatkhan Ba'alawi al-Husaini
18. Al-Amir Abdullah al-Azmatkhan
19. Asy Syaikh Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin al-Azmatkhan al-Husaini
20. Asy Syaikh Sayyid Husain Jamaluddin Akbar al-Azmatkhan al-Husaini
21. Sayyid Ali Nurul Alam / Ali Nuruddin (1) / Maulana Malik Israil al-Azmatkhan al-Husaini
22. Syarif Abdullah Mahmud Umdatuddin Sayyid Abdullah al-Azmatkhan al-Husaini 
23. Sunan Gunung Jati (Maulana Syarif Hidayatullah Al Azmatkhan Al Husaini)
24. Panembahan Maulana Hasanuddin (Sayyid Maulana Hasanuddin Al Azmatkhan Al Husaini)
25. Panembahan Maulana Yusuf (Sayyid Maulana Yusuf Al Azmatkhan Al Husaini)
26. Panembahan Maulana Muhammad Nashruddin (Sayyid Muhammad Nashruddin Al Azmatkhan Al Husaini)
27. Sultan Abu Al Mafakhir Mahmud 'Abdul Qadir (Sayyid Mahmud 'Abdul Qadir Al Azmatkhan Al Husaini) 
28. Sultan Abul Ma'ali Ahmad Rachmatullah (Sayyid Abul Ma'ali Ahmad Al Azmatkhan Al Husaini)
29. Sultan Ageng Tirtayasa (Sayyid Abul Fath 'Abdul Fattah Al Azmatkhan Al Husaini)

Keturunan Sultan Ageng Tirtayasa

 1. Sultan Haji
 2. Pangeran Arya ‘abdul ‘Alim
 3. Pangeran Arya Ingayudadipura
 4. Pangeran Arya Purbaya
 5. Pangeran Sugiri
 6. Tubagus Rajasuta
 7. Tubagus Rajaputra
 8. Tubagus Husaen
 9. Raden Mandaraka
 10.Raden Saleh
 11.Raden Rum
 12.Raden Mesir
 13.Raden Muhammad
 14.Raden Muhsin
 15.Tubagus Wetan
 16.Tubagus Muhammad ‘Athif
 17.Tubagus Abdul
 18.Ratu Raja Mirah
 19.Ratu Ayu
 20.Ratu Kidul
 21.Ratu Marta
 22.Ratu Adi
 23.Ratu Ummu
 24.Ratu Hadijah
 25.Ratu Habibah
 26.Ratu Fatimah
 27.Ratu Asyiqoh
 28.Ratu Nasibah
 29.Tubagus Kulon

Masa Raja / Sultan Banten ke-6

Pengadilan militer di Banten, 1596, anonim, 1646 [1]

Sepeninggal Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir pada 10 Maret 1651, dan kedudukannya sebagai Sultan Banten digantikan oleh Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya, putra Abu al-Ma’ali Ahmad, ketegangan dengan VOC terus berlanjut. Bahkan dapatlah dikatakan bahwa puncak konflik dengan VOC terjadi ketika Kesultanan Banten berada di bawah kekuasaan Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya yang memiliki gelar Sultan Abu Al Fath Abdul Fattah atau lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1684) yang diakui negara RI sebagai salah satu Pahlawan Nasional dari Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa selain seorang ahli strategi perang, ia pun menaruh perhatian besar terhadap perkembangan pendidikan agama Islam di Banten. Untuk membina mental para prajurit Banten, didatangkan guru-guru agama dari Arab, Aceh, dan daerah lainnya. Salah seorang guru agama tersebut adalah seorang ulama besar dari Makassar yang bernama Syekh Yusuf Taju’l Khalwati, yang kemudian dijadikan mufti agung, sekaligus guru dan menantu Sultan Ageng Tirtayasa.

Usaha Sultan Ageng Tirtayasa baik dalam bidang politik diplomasi maupun di bidang pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain semakin meningkat. Pelabuhan Banten makin ramai dikunjungi para pedagang asing dari Persi (Iran), India, Arab, Cina, Jepang, Pilipina, Malayu, Pegu, dan lainnya. Demikian pula dengan bangsa-bangsa dari Eropa yang bersahabat dengan Inggris, Perancis, Denmark, dan Turki. Sultan Ageng Tirtayasa telah membawa Banten ke puncak kemegahannya. Di samping berhasil memajukan pertanian dengan sistem irigasi ia pun berhasil menyusun kekuatan angkatan perangnya, memperluas hubungan diplomatik, dan meningkatkan volume perniagaan Banten sehingga Banten menempatkan diri secara aktif dalam dunia perdagangan internasional di Asia.

Banten menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif. Sekitar tahun 1677 Banten mengadakan kerjasama dengan Trunojoyo yang sedang memberontak terhadap Mataram. Dalam pada itu, dengan Makasar, Bangka, Cirebon, dan Indrapura dijalin hubungan baik. Demikian pula hubungannya dengan Cirebon, sejak awal telah terjadi hubungan erat dengan Cirebon melalui pertalian keluarga (kedua keluarga keraton adalah keturunan Syarif Hidayatullah). Banten membantu Cirebon dalam membebaskan dua orang putera Panembahan Girilaya, yaitu Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, yang ditahan di ibu kota Mataram dan pasukan Trunojoyo di Kediri tahun 1677, bahkan mengangkatnya menjadi Sultan di Cirebon, sejak 1676 kekuasaan Banten masuk ke dalam keraton Cirebon dan turut mencakupnya.

Selain membawa Banten ke puncak kejayaannya, sayangnya bersamaan dengan itu, Banten mengalami perpecahan dari dalam, putra mahkota Sultan Abu Nasr Abdul Kahar yang dikenal sebagai Sultan Haji diangkat jadi pembantu ayahnya mengurus urusan dalam negeri. Sedangkan urusan luar negeri dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa dibantu oleh putera lainnya, Pangeran Arya Purbaya. Pemisahan urusan pemerintahan ini tercium oleh wakil Belanda di Banten, W. Caeff yang kemudian dengan siasat devide et impera, mendekati dan menghasut Sultan Haji. Karena termakan hasutan VOC, Sultan Haji menuduh pembagian tugas ini sebagai upaya menyingkirkan dirinya dari pewaris tahta kesultanan. Agar tahta kesultanan tidak jatuh ke tangan Pangeran Arya Purbaya, Sultan Haji kemudian didukung VOC untuk mempertahankan hak tahta kekuasaan atas Banten yang sebenarnya belum saatnya untuk dipegang namun merupakan siasat adu domba Belanda.

Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa

Perang-1682.jpeg

Kala menjadi Raja Banten, Sultan Ageng Tirtayasa telah melakukan beberapa strategi untuk memulihkan kembali Banten sebagai bandar perdagangan internasional. Dalam Modul Sejarah Indonesia (2020:14), Anik Sulistiyowati menjabarkan beberapa strategi tersebut:

  1. Mengundang para pedagang dari Inggris, Perancis, Denmark, dan Portugis berdagang di Banten;
  2. Meluaskan interaksi dagang dengan bangsa Cina, India, dan Persia;
  3. Mengirim beberapa kapal dengan maksud mengganggu pasukan VOC;
  4. Membuat saluran irigasi sepanjang Sungai Ujung Jawa sampai Pontang yang ditujukan sebagai persiapan suplai perang dan pengairan sawah.

Rupanya, segala yang dilakukan Sultan Ageng Tirtayasa tersebut terjadi karena VOC sering menghadang kapal asal Cina yang tengah melakukan perjalanan ke Banten. Dengan semangat mempertahankan kehidupan Banten, Pangeran Surya tidak segan melakukan gangguan balik kepada pihak VOC. Di tengah situasi konflik, pada 1671, Sultan Ageng Tirtayasa menitahkan Sultan Haji menjadi orang yang mengurus masalah dalam negeri Banten.

Terkait masalah dengan luar negeri, merupakan urusan Sultan Ageng sendiri. Akan tetapi, pengangkatan Sultan Haji ini membawa keuntungan kepada VOC. Berkat dukungan VOC, Sultan Haji justru merebut kekuasaan Banten dan menjadi raja di Istana Surosowan pada 1681. Sebagai imbal balik dukungannya VOC, Sultan Haji harus menandatangani perjanjian, yang berisi:

  1. Kesultanan Banten musti memberikan daerah Cirebon kepada VOC;
  2. Monopoli lada di Banten diambil alih VOC;
  3. Pasukan Banten yang ada di pantai Priangan harus ditarik mundur, dan
  4. VOC meminta 600.000 ringgit jika Banten nantinya mengingkari perjanjian yang telah disebutkan.
Kelakuan Sultan Haji ini membuat rakyat Banten tidak mengakuinya sebagai pemimpin. Bahkan, rakyat Banten kala itu lebih ingin melakukan perlawanan terhadap Sultan Haji yang disertai VOC. Sultan Ageng Tirtayasa beserta rakyat yang mengikuti jalurnya berniat mengambil kembali Kesultanan Banten. Pada 1682, Sultan Haji mulai terdesak oleh serangan pasukan Sultan Ageng dan istana Surosowan pun dikepung. Akan tetapi, VOC datang memberikan bantuan kepada Sultan Haji. Pasukan Sultan Ageng pun dipukul mundur kala itu dan pemimpinnya ini dijadikan sebagai buronan. Ia bersama para pengikutnya melarikan diri ke Rangkasbitung dan melakukan perlawanan selama kurang lebih setahun lamanya. Pada 1683, Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap karena ditipu oleh VOC. Ia ditahan oleh Belanda di penjara daerah Batavia sampai 1692, tepat ketika dirinya menutup usia.

2

LAMBANG KESULTANAN BANTEN
21/2 <1+1> < 1. Sultan Haji / Syarif Abu Al Nashr 'Abdul Qahar
lahir: 1658c, (1631+27)
gelar: 1683 - 1687, Sultan Banten Ke VII
penguburan: Sedakingkin-Banten
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

berputra:

   Sultan Abdul Fadhl
   Sultan Abul Mahasin
   Pangeran Muhammad Thahir
   Pangeran Fadhludin
   Pangeran Ja’farrudin
   Ratu Muhammad Alim
   Ratu Rohimah
   Ratu Hamimah
   Pangeran Ksatrian
   Ratu Mumbay (Ratu Bombay)

Masa Raja / Sultan Banten ke 7

Sultan Haji dinobatkan menjadi Sultan Banten (1682-1687) Dengan gelar Sultan Abu Nashr Muhammad Abdul Kahar. Penobatan ini disertai beberapa persyaratan. Persyaratan tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah perjanjian yang ditandatangani pada 17 April 1684 yang meminimalkan kedaulatan Banten karena dengan perjanjian itu segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan dalam dan luar negeri harus atas persetujuan VOC. Dengan ditandatanganinya perjanjian itu, selangkah demi selangkah VOC mulai menguasai Kesultanan Banten dan sebagai simbol kekuasaannya, pada tahun 1684-1685 VOC mendirikan sebuah benteng pertahanan di bekas benteng kesultanan yang dihancurkan. Selain itu, didirikan pula benteng Speelwijk sebagai bentuk penghormatan kepada Speelman yang menjadi Gubernur Jenderal VOC dari tahun 1682 sampai dengan 1685. Demikian pula Banten sebagai pusat perniagaan antarbangsa menjadi tertutup karena tidak ada kebebasan melaksanakan politik perdagangan, kecuali atas izin VOC.

Penderitaan rakyat semakin menjadi karena monopoli perdagangan VOC. Dengan kondisi demikian, sangatlah wajar kalau masa pemerintahan Sultan Haji banyak terjadi kerusuhan, pemberontakan, dan kekacauan di segala bidang yang ditimbulkan oleh rakyat. Selain menghadapi penentangan dari rakyatnya sendiri, Sultan Haji pun menghadapi suatu kenyataan tekanan dari VOC yang tuntutannya sesuai perjanjian harus diturut. Karena tekanan-tekanan itu, akhirnya Sultan Haji jatuh sakit hingga meninggal dunia pada tahun 1687.

Sultan Haji

Sultan Haji merupakan salah seorang putera dari Sultan Abulfath Abdulfattah atau Sultan Ageng Tirtayasa pewaris Kesultanan Banten. Namanya Sultan Abunnashri Abdulkahar atau Abdulqohhar namun lebih dikenal dengan sebutan Sultan Haji. Ia mendapatkan tahtanya bekerja sama dengan Belanda setelah menggulingkan ayahnya. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi, mengingat jika ia pewaris syah dari Kesultanan Banten seharusnya tanpa melakukan kudeta terhadap ayahnya pun, ia dapat menerima tahta tersebut.

Masalah ini dimungkinkan ketidak sabaran Sultan Haji untuk segera menduduki jabatannya, karena ada putra Sultan Ageng lainnya yang bernama Pangeran Purbaya dianggap mampu menggantikan Sultan Ageng, atau Sultan merasa kurang sreg terhadap perilaku Sultan Haji. Namun dimungkinkan pula ada hasutan Belanda, mengingat hubungan Belanda dengan Sultan Ageng dan para pendahulunya kurang baik. Sedangkan jika mendukung Sultan Haji maka Belanda akan lebih mudah menguasai perdagangan di Banten.

Spekulasi terakhir ini yang mungkin paling mendekati, mengingat ada simbiosa mutualisma antara Belanda yang bertujuan melancarkan kepentingan dagangnya dan Sultan Haji yang mengincar jabatan kesultanan. Ketika terjadi peperangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji yang dibantu Belanda istana habis terbakar, tidak sedikit pula perkampungan menjadi musnah.

Sejak Sultan Haji bertahta banyak peristiwa-peristiwa yang sangat merugikan Kesultanan Banten, baik masalah perekonomian negara maupun perpolitikannya. Banyak sudah pemberontakan yang dilakukan rakyat termasuk para pendukung setia Sultan Ageng. Tabiat Sultan Haji dalam menghadapi Belanda pun sangat bertolak belakang dengan para pendahulunya. Sultan Haji sangat mengandalkan bantuan militer dan bantuan ekonomi Belanda, berakibat Banten tidak lagi memiliki kedaulatan penuh, bahkan Belanda sangat mempengaruhi struktur pemerintahan Banten.

Kata Untoro (2007) menyebutkan, sejak ditandatanganinya perjanjian pada tanggal 17 april 1684 praktis kukuasaan Kesultanan Banten dapat dianggap runtuh. Lebih lanjut menyebutkan : Perjanjian antara Kesultanan Banten dengan Belanda ditandatangani di Keraton Surasowan, dibuat dalam bahasa Belanda dan Jawa dan Melayu. Penanndatanganan dari pihak Kompeni dilakukan oleh komandan dan presiden komisi Franscois Tack, Kapten Herman Dirkse Wendepoel, Evenhart van der Schuere serta Kapten bangsa Melayu, Wan Abdul Kahar, sedangkan dari pihak Banten dilakukan oleh Sultan Abdul Kahar, pangeran Dipaningrat, Kiyai Suko Tadjudin, pangeran Natanegara, dan pangeran Natawijaya (Tjandrasasmita : 1967 : 54). Sejak perjanjian tersebut Kompeni secara langsung aktif menentukan monopoli perdagangan Banten.

Beberapa diantara peninggalannya yang monumental, ia membangun daerah-daerah yang rusak akibat perang, selain itu ia membangun kembali istana Surosowan. Untuk membangun istana Surasowan iapun meminta bantuan Cardeel, seorang arsitek Belanda. Iapun mengganti cara berpakaian dari berpakaian ala Banten menjadi cara berpakaian Arab, sekalipun pernah ditentang oleh Sultan Ageng ketika ia masih berkuasa.

Sultan Haji meninggal dan dimakamkan di Sedakingkin, sebelah utara mesjid Agung, sejajar dengan makam Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Haji dikarunia beberapa orang anak, antara lain Pengeran Ratu yang kemudian menggantikan tahtanya sebagai Sultan Banten yang dikenal dengan sebutan Sultan Abulfadhl Muhammad Yahya (1687-1690), Raja / Sultan kedelapan di Kesultanan Surasowan Banten.. Namun hanya sebentar dan tidak mempunyai keturunan.

http://gentong-pusaka.blogspot.co.id/2013/01/sultan-haji.html


32/2 <1+?> < 2. Pangeran Purbaya
lahir: 1661
perkawinan: <2> < Raden Ayu Gusik Kusuma
wafat: 18 Maret 1732, (F. De Haan)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


TIGA TOKOH NAMA PANGERAN "PURBAYA" DI JAWA

Pangeran Purubaya atau Pangeran Purbaya dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa merujuk kepada tiga tokoh:

  1. Pangeran Purbaya Kesultanan Mataram, putra ke 5 Panembahan Senopati Mataram, dikalkulasi lahir pada tahun 1597, hidup sampai zaman pemerintahan Amangkurat I putra Sultan Agung. Ia hampir saja menjadi korban ketika Amangkurat I menumpas tokoh-tokoh senior yang tidak sesuai dengan kebijakan politiknya. Untungnya, Purbaya saat itu mendapat perlindungan dari ibu suri (janda Sultan Agung).Purbaya meninggal dunia bulan Oktober 1676 saat ikut serta menghadapi pemberontakan Trunajaya. Amangkurat I mengirim pasukan besar yang dipimpin Adipati Anom, putranya, untuk menghancurkan desa Demung (dekat Besuki) yang merupakan markas orang-orang Makasar sekutu Trunajaya. Perang besar terjadi di desa Gogodog. Pangeran Purbaya yang sudah lanjut usia gugur akibat dikeroyok orang-orang Makasar dan Madura.
  2. Pangeran Purbaya Kasunanan Kartasura, alias Gusti Panembahan Purbaya (Raden Mas Sasangka), putera Susuhunan Pakubuwono I (Amangkurat I), dikalkulasi lahir sekitar tahun 1665, pernah menjadi Adipati Pajang. Sepeninggal sang ayah, Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar berselisih dengan kakak mereka, yaitu Amangkurat IV (raja baru). Amangkurat IV mencabut hak dan kekayaan kedua adiknya itu. Pangeran Purbaya masih bisa bersabar, namun Pangeran Blitar menyatakan pemberontakan. Perang saudara pun meletus tahun 1719. Perang ini terkenal dengan nama Perang Suksesi Jawa Kedua. Pangeran Purbaya akhirnya bergabung dengan kelompok Pangeran Blitar. Mereka membangun kembali istana lama Mataram di kota Karta, dengan nama Kartasekar. Pangeran Blitar mengangkat diri sebagai raja bergelar Sultan, sedangkan Pangeran Purbaya sebagai penasihat bergelar Panembahan. Setelah Pangeran Blitar meninggal di Malang tahun 1721 karena sakit, perjuangan pun dilanjutkan Panembahan Purbaya. Ia berhasil merebut Lamongan. Namun gabungan pasukan Kartasura dan VOC terlalu kuat. Purbaya akhirnya tertangkap bersama para pemberontak lainnya. Panembahan Purbaya dihukum buang ke Batavia. Ia memiliki putri yang menjadi istri Pakubuwana II putra Amangkurat IV. Dari perkawinan itu lahir Pakubuwana III raja Surakarta yang memerintah tahun 1732-1788.
  3. Pangeran Purbaya Kesultanan Banten, Pangeran Purbaya yang ini adalah putra Sultan Ageng Tirtayasa raja Banten (1651-1683). Ia mendukung perjuangan ayahnya dalam perang melawan VOC tahun 1682-1684. Pangeran Purbaya adalah putera kedua Sultan Ageng Tirtayasa, dikalkulasi lahir pada tahun 1661. Pangeran Purbaya juga diangkat menjadi putra mahkota baru karena Sultan Haji (putra mahkota sebelumnya) memihak VOC. Setelah berperang sekitar 3 tahun, Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya tertangkap bulan Maret 1683, dan Banten pun jatuh ke tangan VOC. Pangeran Purbaya dan istrinya yang anti VOC bernama Raden Ayu Gusik Kusuma lalu melarikan diri ke Gunung Gede. Penderitaan Purbaya membuat dirinya memutuskan untuk menyerah. Namun, ia hanya mau dijemput oleh perwira VOC yang berdarah pribumi. Saat itu VOC sedang sibuk menghadapi gerombolan Untung Suropati. Kapten Ruys pemimpin benteng Tanjungpura berhasil membujuk Untung Suropati agar bergabung dengan VOC daripada hidup sebagai buronan. Untung Suropati bersedia. Ia pun dilatih ketentaraan dan diberi pangkat Letnan. Untung Suropati kemudian ditugasi menjemput Pangeran Purbaya di tempat persembunyiannya. Namun datang pula pasukan VOC lain yang dipimpin Vaandrig Kuffeler, yang memperlakukan Purbaya dengan tidak sopan. Sebagai seorang pribumi, Untung Suropati tersinggung dan menyatakan diri keluar dari ketentaraan. Ia bahkan berbalik menghancurkan pasukan Kuffeler. Pangeran Purbaya yang semakin menderita memutuskan tetap menyerah kepada Kapten Ruys di benteng Tanjungpura. Sebelum menjalani pembuangan oleh Belanda pada April 1716, Pangeran Purbaya memberikan surat wasiat yang isinya menghibahkan beberapa rumah dan sejumlah kerbau di Condet kepada anak-anak dan istrinya yang ditinggalkan.[1] Sedangkan istrinya Gusik Kusuma konon pulang ke negeri asalnya di Kartasura dengan diantar Untung Suropati.


PANGERAN PURBAYA BANTEN

Pangeran Arya Purbaya adalah salah satu putra dari istri-istri Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), yang menjadi penerus mahkota kesultanan yaitu Pangeran Gusti atau Sultan Abu Nasr Abdul Kahar (1672-1687) yang kelak disebut Sultan Haji.

Sultan Ageng Tirtayasa mempunyai beberapa istri diantaranya Ratu Adi Kasum sebagai permaisuri yang melahirkan Abdul Kahar (Sultan Abdul Nasr Abdul Kahar), dari Ratu Ayu Gede, Sultan Ageng dikaruniai 3 orang anak, yaitu P. Arya Abdul Alim, P. Ingayujapura (ingayudipura) dan Pangeran Arya Purbaya. Sedangkan dari istri-istri lainnya mempunyai beberapa anak yaitu P. Sugiri, TB. Raja Suta, TB. Husen, TB. Kulon, dan lain-lain.

Putera mahkota Sultan Abu Nasr Abdul Kahar yang dikenal dengan Sultan Haji diangkat menjadi pembantu ayahnya (Sultan Ageng) untuk mengurus urusan dalam negeri Kesultanan Banten.

Sedangkan Pangeran Arya Purbaya membantu ayahnya untuk mengurus urusan luar negeri dan berkedudukan di Keraton kecil di Tirtayasa.

Pemisahan pengurusan tata pemerintahan itu tercium oleh wakil VOC W. Chaeff yang menghasut Sultan Haji untuk mencurigai posisi adiknya yaitu P. Arya Purbaya, karena dapat mendominasi pemerintahan dan Sultan Haji tidak bisa naik tahta, atas hasutan Itulah terjadi persekongkolan antara Sultan Haji dan VOC.

Pada Bulan Mei 1680 Sultan Haji mengutus perwakilan untuk bertemu dengan Gubernur Jendral VOC di Batavia untuk mengukuhkan dirinya sebagai Sultan.

Pada tanggal 25 November 1680 Sultan Ageng Tirtayasa sangat marah kepada putra mahkota Sultan Haji karena ia memberi ucapan selamat kepada Gubernur baru Speelman yang menggantikan Rijkolf Van Goens padahal Kompeni baru saja menghancurkan gerilya Banten dan Cirebon.

Dengan bantuan VOC, Sultan Haji melakukan kudeta kepada ayahnya dan menguasai Keraton Surosowan pada tahun 1681. Pada tanggal 27 Februari 1682, pecah perang antara Ayah-Anak. Dalam waktu singkat, Sultan Ageng berhasil menguasai Keraton Surosowan. Pasukan Sultan Ageng berkoalisi dengan pasukan gabungan pelarian dari Makassar, Jawa Timur, Lampung, Bengkulu, Melayu. Karena daerah asal mereka dikuasai VOC dan menggabungkan diri dengan Banten, atas kekecewaan mereka terhadap raja-rajanya.

Sultan Haji berlindung di loji Belanda dan dilindungi oleh Jacob de Roy dan dipertahankan oleh Kapten Sloot dan W. Cheaff. Tanggal 7 April 1682 pauskan Kompeni dari Armada Laut mendesak Keraton Tirtayasa dan Keraton Surosowan, pasukan tersebut dipimpin Francois Tack, De Sain Martin dan Jongker.

Sultan Ageng gigih berjuang dibantu Syekh Yusuf dari Makassar dan Pangeran Purbaya, serta Pasukan Makassar, Bali dan Melayu yang bermarkas di Margasana.

Tanggal 8 Desember 1682 Kacarabuan, Angke dan Tangerang dikuasai VOC, Sultan Ageng bertahan di Kademangan, tetapi pertahanan akhirnya jatuh juga setelah terjadi pertempuran sengit, pasukan Kademangan yang dipimpin P. Arya Wangsadiraja akhirnya mengungsi ke Pedalaman Banten yaitu Ciapus, Pagutan dan Jasinga.

Pada tanggal 28 Desember 1682, Pasukan Jongker, Michele dan Tack mendesak Keraton Tirtayasa, Sultan Ageng berhasil menyelamatkan diri dengan terlebih dahulu Pangeran Purbaya membakar Keraton Tirtayasa untuk menyelamatkan Ayahnya, Sultan Ageng, Pangeran Kulon, Syekh Yusuf Makassar mengungsi ke Sajira dan Muncang.

Sementara Pangeran Arya Purbaya dan pasukannya bergerak ke Parijan pedalaman Banten hingga ke Jasinga karena Pasukan Arya Wangsadireja berlebih dahulu mengungsi ke Jasinga.

Sultan Haji mengirimkan utusan ke Sajira untuk berdamai dan akhirnya pada tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Arya Purbaya mendatangi Surosowan. Akibat akal licik VOC dan Sultan Haji, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dibawa ke Batavia untuk diadili. Pangeran Purbaya berhasil meloloskan diri.

Pangeran Perbaya, Pangeran Kulon dan Syekh Yusuf Makassar meneruskan perjuangan melawan Kompeni.

Syekh Yusuf bersama Pangeran Kidul dan pasukan yang berjumlah 5000 orang, 1000 diantaranya Melayu, Bugis, Makassar yang siap mati bersama gurunya bergerak menuju Muncang terus ke Lawang Taji (Jasinga) menyusuri Sungai Cidurian kemudian ke Cikaniki terus ke Ciaruteun melalui Cisarua dan Jampang kemudian meneruskan ke Sukapura dan Mandala dengan tujuan Cirebon.

Pangeran Purbaya kemudian menyusul bersama Pangeran Kulon dan Pangeran Sake beserta pasukannya hingga ke Galunggung dan Singaparna (Tasikmalaya).

Pada tanggal 25 September 1683 pasukan Pangeran Kidul dan Pasukan Banten dan Makassar gugur di Citanduy (Padalarang). Syekh Yusuf Makassar ditangkap oleh Van Happel yang menyamar sebagai orang muslim, dibuagn ke Cape Town (Afrika Selatan).

Pangeran Purbaya sempat mempertahankan pedalaman Banten dna membuat garis batas di Cikeas (antara Banten dan Batavia), Pangeran Purbaya mempertahankan Banten Selatan. Ia meneruskan perjuangan Syekh Yusuf Makassar dan akhirnya Pangeran Purbaya bersama Pangeran Kulon dan Pangeran Sake gugur dalam pemberontakan di Galunggung (Tasikmalaya).

Sekelumit tentang Pangeran Purbaya dalam sejarah autentik sangat berjasa dalam mempertahankan Banten dan dipercaya oleh Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf Makassar bahkan pasukan koalisi Makassar, Bugis dan Melayu.

SILSILAH PANGERAN POERBAJA

  1. Sultan Ageng Tirtayasa >< Nyai Gede Ayu, berputra
    1. Pangeran Poerbaja >< Ratu Ayoe Gesik Keosoemah, berputra

PROPERTI PANGERAN PURBAJA

Banyak asset-asset peninggalan Pangeran Purbaya di daerah Batavia dan sekitarnya, diantaranya adalah :

  1. Tanah didaerah Kebantenan, Cilincing;
  2. Tanah & Pabrik Gula di daerah Bekasi Selatan;
  3. Tanah & Rumah Tinggal di daerah Condet;
  4. Tanah & Rumah didaerah Kampung Karang Congok, Karang Satria, Tambun Utara, Bekasi;
  5. Tanah & Rumah di Jatingara Kaum;
  6. Tanah & Rumah di Citeureup, Bogor;
  7. Tanah & Rumah di Ciluar (Tanah Baru), Bogor;

Kemungkinan besar, aset sebanyak itu sebagian diwariskan ke Anak Isterinya, sebagian lagi dihibahkan untuk Saudaranya dan dijadikan Wakaf Masjid, Rumah Sakit dan Pesantren.

PETA TANAH MILIK PANGERAN POERBAJA

PERSIL.jpg

Persil Tanah Milik P. Poerbaja di Karangtjongok (Sekarang Karangsatria), Bekasi, seluas 35 Ha (5-12-1778).
53/2 <1> < 3. Pangeran Arya Ingayudadipuna
lahir: 1663c
64/2 <1> < 4. Pangeran Arya Abdul ‘Alim
lahir: 1666
45/2 <1+?> < 5. Pangeran Sugiri/Pangeran Sogiri/Pangeran Shogiry/Pangeran Sageri
lahir: 1668c, (1631+27+10)
perkawinan: <3> < 1.1.2.1.1.1 NR. Ratnakomala
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Beberapa Alasan Para Pangeran dan Cucu Buyutnya Hijrah Ke Batavia

Pasca perseteruan antara Sultan Haji dengan Ayahnya Sultan Ageng Tirtayasa, dimana pada akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa berikut Putera-puteranya (Pangeran) yang mendukungnya di bawah pengawasan Pemerintah Pusat VOC, dan mereka untuk sementara ditempatkan di Kastil Batavia.
116/2 <1> < 10. Pangeran Sake / Raden Syafruddin Shoheh
lahir: 1675c
77/2 <1> < 6. Tubagus Rajasuta
88/2 <1> < 7. Tubagus Rajaputera
99/2 <1> < 8. Tubagus Husen
1010/2 <1> < 9. Raden Mandaraka
1211/2 <1> < 11. Raden Rum
1312/2 <1> < 12. Raden Mesir
1413/2 <1> < 13. Reden Muhammad
1514/2 <1> < 14. Raden Muhsin
1615/2 <1> < 15. Tubagus Wetan
1716/2 <1> < 16. Tubagus Muhammad Athif
1817/2 <1> < 17. Tubagus Abdul
1918/2 <1> < 18. Ratu Baja Mirah
2019/2 <1> < 19. Tubagus Kulon
2120/2 <1> < 20. Ratu Kidul
2221/2 <1> < 21. Ratu Marta
2322/2 <1> < 22. Ratu Adi
2423/2 <1> < 23. Ratu Umuk
2524/2 <1> < 24. Ratu Hadija
2625/2 <1> < 25. Ratu Habibah
2726/2 <1> < 26. Ratu Fatimah
2827/2 <1> < 27. Ratu Asyiqoh
2928/2 <1> < 28. Ratu Nasibah
3029/2 <1> < 29. Ratu Ayu / Siti Khafifah (Karaeng Pane)

3

391/3 <2> < 4. Pangeran Fadhludin
lahir: Keraton Surasowan, Banten Lama
wafat: Jawa Timur
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
322/3 <2> < 2. Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin / Pangeran Dipati
lahir: 1671, Keraton Surasowan
perkawinan: <5> < Ratu Rohimah
gelar: 1690 - 1733, Sultan Banten Ke IX
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

berputra 58 orang :

  1. Sultan Muhammad Syifa
  2. Sultan Muhammad Wasi’
  3. Pangeran Yusuf
  4. Pangeran Muhammad Shaleh
  5. Ratu Samiyah
  6. Ratu Komariyah
  7. Pangeran Tumenggung
  8. Pangeran Ardikusuma
  9. Pangeran Anom Mohammad Nuh
  10. Ratu Fatimah Putra
  11. Ratu Badriyah
  12. Pangeran Manduranagara
  13. Pangeran Jaya Sentika
  14. Ratu Jabariyah
  15. Pangeran Abu Hassan
  16. Pangeran Dipati Banten
  17. Pangeran Ariya
  18. Raden Nasut
  19. Raden Maksaruddin
  20. Pangeran Dipakusuma
  21. Ratu Afifah
  22. Ratu Siti Adirah
  23. Ratu Safiqoh
  24. Tubagus Wirakusuma
  25. Tubagus Abdurrahman
  26. Tubagus Mahaim
  27. Raden Rauf
  28. Tubagus Abdul Jalal
  29. Ratu Hayati
  30. Ratu Muhibbah
  31. Raden Putera
  32. Ratu Halimah
  33. Tubagus Sahib
  34. Ratu Sa’idah
  35. Ratu Satijah
  36. Ratu ‘Adawiyah
  37. Tubagus Syarifuddin
  38. Ratu ‘Afiyah Ratnaningrat
  39. Tubagus Jamil
  40. Tubagus Sa’jan
  41. Tubagus Haji
  42. Ratu Thoyibah
  43. Ratu Khairiyah Kumudaningrat
  44. Pangeran Rajaningrat
  45. Tubagus Jahidi
  46. Tubagus Abdul Aziz
  47. Pangeran Rajasantika
  48. Tubagus Kalamudin
  49. Ratu Siti Sa’ban Kusumaningrat
  50. Tubagus Abunasir
  51. Raden Darmakusuma
  52. Raden Hamid
  53. Ratu Sifah
  54. Ratu Minah
  55. Ratu ‘Azizah
  56. Ratu Sehah
  57. Ratu Suba/Ruba
  58. Tubagus Muhammad Said (Pangeran Natabaya)

Masa Raja / Sultan Banten ke 9

Oleh karena Sultan Abu’l Fadhl Muhammad Yahya tidak mempunyai anak, tahta kesultanan diserahkan kepada adiknya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abu’l Mahasin Muhammad Zainul Abidin juga biasa disebut Kang Sinuhun ing Nagari Banten yang menjadi gelar sultan-sultan Banten berikutnya. Beliau memerintah dari tahun 1690 sampai 1733. Pada masa beliaulah baru kakek beliau yang pahlawan Nasional Sultan Ageng Tirtayasa wafat di tahun 1692 dalam tahanan Kompeni
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
313/3 <2> < 1. Sultan Abu'l Fadhl Muhammad Yahya / Pangeran Ratu
gelar: 1687 - 1690, Sultan Banten Ke VIII
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Masa Raja / Sultan Banten ke 8

Sepeninggal Sultan Haji, putra beliau Pangeran Ratu menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Abu’l Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690). Beliau sangat perhatian terhadap bidang budaya dan sejarah. Pada tanggal 15 Juni 1690 beliau menemukan Batu Tulis Bogor.

Ternyata Sultan Abu’l Fadhl termasuk orang yang sangat membenci Belanda. Ditatanya kembali Banten yang sudah porak poranda itu. Akan tetapi baru berjalan tiga tahun, ia jatuh sakit dan kemudian wafat. Jenazahnya dimakamkan di samping kanan makam Sultan Hasanuddin di Pasarean Sabakingkin.
544/3 <11+?> < 8. Tubagus Muhidin (Citeureup)
lahir: 1700c
335/3 <4+?> < 1. Raden Entong
lahir: 1703c
346/3 <4+?> < 2. Raden Tajul/Kanzul Arifin – Dimakamkan di Jatinegara Kaum
lahir: 1707c
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

berputra 5 orang:

       Raden Jidin
       Raden Koyong*
       Raden Mamak
       Ratu Siti
       Ratu Ada

Raden Koyong berputra 4 orang:

1. Raden Koman Demang Cibinong Tanah baru Bogor/Raden Kan’an – dimakamkan di Astana Gede Tanah Baru Bogor Utara. 2. Raden Habib Demang Cibarusah/Raden Muhyiddin/Raden Iyi – dimakamkan di Astana Gede Tanah Baru Bogor Utara. 3. Raden Panji Demang Cibarusah*

4. Raden Mas Jatinegara – Dimakamkan di Jatinegara Kaum
377/3 <4+?> < 5. Ratu Syarifah
lahir: ~ 1725, Cucu Sultan Ageng Tirtajasa Keponakan Sultan Hadji
perkawinan: <6> < 9. H Rd Muhammad Thohir (Auliya Thohir Al Bughuri) b. 1765c bur. 1849
LAMBANG KABUPATEN SALATIGA
388/3 <2> < 3. Pangeran Sy. Muhammad Thahir / Kanjeng Raden Tumenggung Prawirokusumo
gelar: 1843 - 1850, Wedhono Salatiga, Sumber : Buku "Sajarah Bogor" oleh R. Memed Sunardi, November 1966
gelar: 1851 - 1860, Patih Kendal
gelar: 1860 - 1863, Regent/Boepati Salatiga, dengan gelar Raden Toemenggoeng
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Sumber : Buku "Sajarah Bogor" oleh R. Memed Sunardi, November 1966 (Mengacu kepada referensi Catatan-catatan lainnya seperti : RH. Misbach bin Nuch, R. Jususf Wiranata Negara, R. Atje Atmawidjaja (Djaksa) Menjadi menantu Hoofd Djaksa Salatiga (1846-163) Raden Mas Soemo Dipoero (Almanak 1846-1863)

Menurut Bupati Salatiga Dari Masa Ke Masa, KRT Prawiro Koesoemo terkenal dengan sebutan Bupati Sedo Amuk, yang meninggal karena adanya kemelut.

Prawiro-1.jpg
359/3 <4+3> < 3. Ratu Talaga / NR. Ungkang
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang 1.1.2.1.1.1 NR. Ratnakomala . (wife Pangeran Sageri mother NR Ungkang/Ratu Talaga)
3610/3 <4+?> < 4. Ratu Siti Yajar M.d. Tb. Diyun
4011/3 <2> < 5. Pangeran Ja’farrudin
4112/3 <2> < 6. Ratu Muhammad Alim
4213/3 <2> < 7. Ratu Rohimah
4314/3 <2> < 8. Ratu Hamimah
4415/3 <2> < 9. Pangeran Ksatrian
4516/3 <2> < 10. Ratu Mumbay (Ratu Bombay)
4617/3 <11+?> < 1. Tubagus Yasin (Jatinegara Kaum)
4718/3 <11+?> < 2. Tubagus Bujangga (Citeueup)
4819/3 <11+?> < 3. Tubagus Abudin Citeureup
4920/3 <16> < Tubagus Muhammad
5021/3 <11> < 4. Tubagus Komarudin (Jatinegara)
5122/3 <11> < 5. Tubagus Ali (Citeureup)
5223/3 <11> < 6. Tubagus Bajagal (Citeureup)
5324/3 <11> < 7. Tubagus Bayu (Citeureup)
5525/3 <11> < 9. Tubagus Mustofa (Abdul Hay-Bogor)
5626/3 <3+2> < 2. Ratu Kawung
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
5727/3 <11+?> < 10. Ratubagus Badaruddin Suryapringga
Sumber : Catatan Keluarga Sukaraja, Bogor
5828/3 <3+2> < 1. Tubagus Muhammad
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
5929/3 <3+2> < 3. Ratu Karantenan
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
6030/3 <3+2> < 4. Ratu Pajajaran
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
6131/3 <3+2> < 5. Ratu Pakuwan
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
6232/3 <3+2> < 6. Ratu Fatimah
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
6333/3 <3> < Pangeran Ahmad Nasruddin

4

871/4 <32> < 51. Raden Darma Kusuma
lahir: Kroya Lama, Kasunyatan, Banten
wafat: Kroya Lama, Kasunyatan, Banten
902/4 <39> < Pangeran Soleman
wafat: Bogor
DPMY Logo.JPG
883/4 <32> < 13. Pangeran Jaya Sentika
lahir: 1710, Kasunyatan, Banten
perkawinan: <7> < 2. Nyi Hj. Ummu Salamah
penguburan: Kenari, Banten
SUMBER :


1. BABAD Banten (Primbon)

2. Catatan Keluarga Drs. Rd. H. Achmad Arslan Jayasentika, M. Sc (Juru Sejarah Bani Jayasentika).

3. Catatan Keluarga Tb. Safaruddin Jayasentika (Ketua Umum/Kasepuhan Dzurriyyat Panembahan Maulana Yusuf Pekalangan Gede, Banten 1570 - 1580).

4. Catatan Keluarga Abah H. Tb. A. Halim Syah Jayasentika (Dewan Penasehat/Kasepuhan Dzurriyyat Panembahan Maulana Yusuf Halim, Jakarta Timur 1570-1580).

5. Buku Nasab Induk : Keluarga Pangeran Jaya Sentika (Halim, Jakarta Timur)


Ahli Waris Tulisan dan segala yang dibagi disini: R (Tb). Dika Syah Bachri, S. ikom Bin R (Tb) H. Agus Halim Syah Jayasentika, SE, MH Bin R (Tb) H. Sa'aman


== PENINGGALAN PUSAKA ==

(Menyusul)



== SEJARAH SINGKAT ==


Kisahnya di Kesultanan Banten memang tidak banyak yang tahu karena data - data informasi yang sedikit dan hanya anak keturunannya saja yang mengetahui berdasarkan cerita (oral) turun temurun serta sedikit catatan keluarga yang ada.


Pangeran Jaya Sentika memiliki nama kecil Raden Abdul, lahir pada tahun 1710 Masehi di Kasunyatan (Banten) dari seorang ibu Garwa Padmi Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin yang bernama Ratu Rochimah binti Ratubagus Jaya Haji bin Patih Mangkubumi/Pangeran Arya Mandura Raja bin Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir (Sultan Banten ke – IV)


Menurut folklore, Pangeran Jaya Sentika berperawakan tinggi (lebih tinggi diantara lelaki seusianya), berbadan tegap, berdada bidang, berkulit kuning Langsat (bersih), berhidung mancung, berambut lurus seleher sedikit bergelombang dan berwajah seperti orang (keturunan) Arab dan bicaranya lugas penuh wibawa.


Pangeran Jaya Sentika kecil dibesarkan dilingkungan Keraton, seperti anak - anak Sultan yang lainnya, beliau dididik Ilmu Agama, Ilmu Tata Negara dan Ilmu Beladiri sejak belia. Hingga tumbuh menjadi remaja yang cakap dan tangguh. Keberanian dan ketegasan sudah nampak dari kecil, sehingga ia tak pernah takut menyuarakan kebenaran. Tutur katanya lugas , terarah dan tak pandai basa - basi, maka tidak seorang pun yang tidak memahami ucapannya. Wataknya pendiam tak banyak bicara namun tegas ketika menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Inilah bibit awal yang membuatnya tidak disukai oleh banyak pihak, VOC atau bangsawan Istana kala itu.


Semenjak kecil ia telah dibekali Ilmu Beladiri yang mumpuni, mulai dari teknik berpedang (golok sabet), memanah, berkuda, serta lelaku batin pun sudah menjadi makanan pokok sehari - hari. Beliau pun dikenal piawai memainkan beragam senjata perang. Meski demikian, pondasi agama yang baik membuat dirinya tetap menjunjung tinggi nilai – nilai adat dan norma – norma kemanusiaan. Dimata rakyatnya, ia dikenal sebagai seorang pangeran yang suka menolong. Kepribadiannya yang tak mau dikenal membuat dirinya seakan tak punya peran sehingga jasanya terasa sukar tuk dikenang.


Dimasa hidupnya, kondisi Istana kala itu memang sudah tidak sehat. Korupsi merajalela, Keselewengan terjadi didepan mata dan itu dilakukan bukan hanya oleh Belanda namun juga dari keluarga Istana. Rakyat dibebani aturan - aturan yang menyiksa dan tak ada yang bisa menghentikannya. Rakyat tak lagi percaya kepada pemerintah, Kesultanan Banten kehilangan marwah, rakyat memberontak, tingkat kejahatan menjulang tinggi, walaupun masih dapat dipadamkan namun situasi ini sangat memilukan. Seperti halnya api yang senantiasa siap berkobar hanya tinggal menunggu pemantiknya saja.


Kira - kira pada tahun 1730 H saat usia sang Pangeran menginjak (-+) 20 tahun, ia meminta izin kepada ayahandanya untuk pergi mendalami agama ke negeri Arab, namun tidak di izinkan karena usianya yang masih terbilang muda, singkat cerita dipertemukanlah ia dengan Syeikh Haji Mansyur, seorang ulama Thariqah di Banten kala itu, beliau seorang Mursyid Thariqah Syattariyah yang masyhur akan kewaliannya. Meski sikapnya terkadang Khawariqul ‘Adat (diluar kebiasaan). Konon ceritanya, ketika pertama kali ingin berguru, sang Pangeran diminta untuk berkhalwat serta berpuasa sebelumnya disebuah gua yang letaknya dipinggir pantai (masih wilayah banten). Selama 100 Hari, namun ketika perutnya terasa lapar tiba - tiba datang seekor harimau yang membawa persediaan makanan. Jika persediaan telah habis, ia akan kembali datang. Kemudian setelah selesai berkhalwat 100 Hari, bertemulah sang Pangeran dengan sesosok Kakek - kakek berjubah putih, bersurban Hijau dan bertongkat. Menurut cerita senyap, harimau yang selalu datang membawakan makanan adalah Santri Syeikh Haji Mansyur dari Bangsa Jin. Sementara kakek - kakek itu adalah Nabiyullah Khidir a.s.


Jika ada cerita turun temurun yang menyebutkan bahwa Pangeran Jaya Sentika merupakan pengamal Thariqah, itu tidak salah. Karena memang Syaikh Haji Mansyur adalah salah seorang gurunya. Kedekatannya bahkan bukan hanya sebagai murid dan guru, melainkan sudah seperti ayah dan anak. Hingga kemudian dinikahkan dengan salah seorang putrinya yang bernama Nyi Hj. Umi Salamah / Nyai Umi. Tidak banyak cerita mengenai istrinya, akan tetapi dari pernikahan ini ia memiliki keturunan.


Kiprahnya dalam keraton dimulai ketika usianya (-+) genap 24 tahun, ia memegang jabatan sebagai juru tengah, dan komandan pasukan khusus tugasnya antara lain sebagai pengawal pribadi sultan dan kepala keamanan Istana/Keraton Surosowan dan menjadi benteng paling depan tatkala berhadapan dengan musuh membawahi 60 Pasukan Elit Kerajaan yang siap bertaruh nyawa demi kejayaan Kesultanan Banten.


Pada saat Kesultanan Banten kisruh di zaman Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin yang disebabkan oleh kesewenang - wenangan yang dilakukan sang Permaisuri Syarifah Fathimah (Wanita Keturunan Arab) Janda seorang Letnan Melayu di Batavia. Beliau merupakan Pioneer dari kalangan Istana yang pertama melakukan pemberontakan terhadap kezaliman yang dilakukan sang Permaisuri yang bersekutu dengan VOC untuk merampas kekuasaan dengan cara menyingkirkan Sultan Muhammad Syifa’ Zainul Arifin dan Pangeran Gusti selaku putra mahkota. Kondisi semakin memburuk tatkala Kompeni mengangkat Pangeran Arya Adisentika bin Sultan Abul Mahasin menjadi Sultan sepihak dengan gelar Sultan Abul Ma’ali Muhammad Wase’ Zainul ‘Alimin pada tahun 1752


Puncaknya, Pangeran Jaya Sentika mengambil komando, diawali dengan membentuk pemerintahan darurat bersama saudara dari beda ibu yakni Pangeran Arya Adi Sentika, bersama para ponggawa kerajaan serta beberapa keluarga Istana memberi perlawanan demi menyelamatkan marwah sang Sultan dan negaranya dengan membuat kekacauan dari dalam Istana dan kekacauan didaerah Caringin dan Kota Surasowan. Namun pasukan VOC dan sekutu terlalu kuat sehingga membuat para ponggawa banyak meregang nyawa. Kemudian, dengan sisa pasukan serta keluarga yang ada dalam barisan, mencoba keluar dari kota pergi menuju pedalaman dan bergabung dengan Laskar Rakyat Banten yang dipimpin oleh Ratu Bagus Buang dan Ratu Bagus Mustofa (Ki Tapa) /Pangeran Temanggung yang sebelumnya telah memulai pertempuran diluar Keraton. Basis perjuangan awal didaerah Gunung Sari, Serang, Banten. Kemudian bergerak ke Batavia, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Jasinga, Anyer hingga Ujung Kulon. Pangeran Jaya Sentika pun seperti Ratubagus Buang dan Ki Tapa yang menjadi buruan musuh, pasukan Belanda dan sekutu dibuat geram dan kewalahan. Pasalnya, ketiganya begitu cerdik dan sulit dihentikan langkahnya. Strategi perang "Petjah Seribu" pun dilancarkan, satu nama sesungguhnya berbeda - beda orangnya. Ditambah, setiap kali berpindah - pindah tempat mereka mengganti nama dan nyamar menjadi rakyat jelata, hal itu tentu membuat jejak langkahnya tak mudah dibaca oleh pihak musuh.


Pertempuran terus menerus terjadi, korban pun semakin banyak berjatuhan, mulai dari kalangan Rakyat hingga Bangsawan keluarga Kesultanan pun tak luput menjadi sasaran. Sungguh Belanda dan sekutu biadab! Akhirnya, Pangeran Jaya Sentika tak mampu lagi melihat kerabat dan keluarganya menjadi korban. Istri pertamanya wafat dalam pelarian dikarenakan sakit dan dimakamkan di daerah Ciomas, dekat gunung sari. Beliau pun menitipkan anak dari istri pertamanya ini kepada Pangeran Darmakusuma, Adik dari lain ibu (Dikemudian hari anaknya saling dinikahkan) sementara ia melanjutkan perjuangan.


Pangeran Jaya Sentika kembali mengatur siasat agar sisa pasukan yang ada bisa selamat, dengan perbekalan yang terkuras dan tak ada jalan lain selain menerobos pasukan lawan yang telah mengepung dari segala arah, akhirnya beliau berpencar dengan barisan yang lain mencoba mengecoh musuh. Karna kecerdasannya dimedan perang beliau berhasil memecah pasukan lawan dan lolos dalam kejaran.


Menurut riwayat Drs. R (Tb) H. Achmad Arslan, M. Sc (Mang Entus Mamay), "Pangeran Jayasentika itu licin dan lihai, ia cerdas dalam mengecoh lawan dan selalu berhasil meloloskan diri dari kepungan dan kejaran Belanda/Sekutu",


Didalam pelariannya sampailah ia di Pamijahan, Tasik, Jawa Barat. Disana ia berniat menemui sahabat gurunya yaitu Syeikh Abdul Muhyi bin Lebe Warta Kusuma (Syaikh Abdul Jalil), disana ia pun sempat berguru kepada sang Syeikh dan dinikahkan dengan putri gurunya yang bernama Nyi Rd. Ayu Chatisah, kemudian setelah itu dibawalah sang istri ke Gunung Sari, Ciomas, Banten. Menurut cerita Mang Entus Mamay, Dimasa tuanya, Pangeran Jaya Sentika menghabiskan sisa usianya sebagai guru Thoriqot Syattariyah dan dikenal dengan nama Syeikh Abdul Wakhid, beliau pun tinggal dan wafat (dimakamkan) di Gunung Kupak, Ciomas, Banten. Namun menurut riwayat keluarga penulis, menjelang akhir hayatnya beliau balik ke Banten kemudian wafat dimakamkan bersebelahan dengan pasaréan Sultan Muhammad Waseh Zainul Alimin, saudaranya, dikomplek pemakaman Sultan, Cikoplok, Kenari, Banten.


Wallahu A'lam bish-Shawab.


Riwayat keluarga Gunung Sari dan Keluarga Halim.

(Bersambung...)


Noted : Sumber Catatan dan Riwayat Keluarga Besar yang tidak disebarluaskan. Hanya untuk menambah pengetahuan saja, jika ada yang menyadurnya apalagi sampai merubah-rubah tanpa persetujuan keluarga, atau izin terlebih dahulu kepada 1. Tubagus Dika Aliffasyah, S.i.Kom (b. 24 Agustus) KAMI TIDAK MENGIZINKAN dan sungguh KURANG DALAM ADAB serta tidak menghargai kami sebagai salah satu Keturunannya.
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
654/4 <32> < 1. Sultan Muhammad Syifa’ Zainul Arifin (1733-1747)
gelar: 1733 - 1747, Sultan Banten Ke 10
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

SILSILAH,berputra 11 orang :

   Sultan Muhammad ‘Arif
   Ratu Ayu
   Tubagus Hasannudin
   Raden Raja Pangeran Rajasantika
   Pangeran Muhammad Rajasantika
   Ratu ‘Afiyah
   Ratu Sa’diyah
   Ratu Halimah
   Tubagus Abu Khaer
   Ratu Hayati
   Tubagus Muhammad Shaleh

Masa Raja / Sultan Banten ke 10

Pengganti tahta kesultanan Sultan Abu’l Mahasin pada tahun 1733 adalah putra beliau yang bergelar Sultan Abulfathi Muhammad Shifa Zainul Arifin yang memimpin hingga tahun 1747.

Pada masa pemerintahan Sultan Zainul Arifin ini sering terjadi pemberontakan rakyat yang tidak senang dengan perlakuan VOC yang sudah di luar batas kemanusiaan. Memang pada awal abad ke-18 terjadi perubahan politik VOC dalam pengelolaan daerah yang dikuasainya. Monopoli rempah-rempah dianggapnya sudah tidak menguntungkan lagi karena Inggris sudah berhasil menanam cengkeh di India sehingga harga cengkeh di Eropa pun turun. Oleh karena itu, VOC mengalihkan usahanya dengan menanam tebu dan kopi di samping rempah-rempah yang kemudian hasilnya harus dijual kepada VOC dengan harga yang telah ditetapkan secara sepihak oleh VOC yang merugikan masyarakat.

Sementara itu, di keraton pun terjadi keributan dan kekacauan pemerintahan. Sultan Zainul Arifin tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh Ratu Syarifah Fatimah, seorang janda seorang letnan Melayu di Batavia yang dinikahi dan dijadikan permaisurinya. Ketidakberdayaan itu terlihat dari keputusan Sultan Zainul Arifin yang membatalkan penunjukan Pangeran Gusti sebagai putra mahkota. Atas pengaruh Ratu Syarifah Fatimah dan persetujuan VOC, Sultan Zainul Arifin mengangkat Pangeran Syarif Abdullah, menantu Ratu Fatimah dari suaminya yang terdahulu, menjadi putra mahkota. Setelah dibatalkan sebagai putra mahkota, atas suruhan Ratu Syarifah Fatimah, Pangeran Gusti disuruh pergi ke Batavia dan di tengah perjalanan ditangkap tentara VOC dan diasingkan ke Sailan pada tahun 1747. Tidak lama setelah menantunya diangkat menjadi putra mahkota, Ratu Syarifah Fatimah memfitnah suaminya gila sehingga sultan ditangkap oleh VOC dan diasingkan ke Ambon sampai meninggal. Sebagai gantinya Pangeran Syarif Abdullah dinobatkan sebagai Sultan Banten pada tahun 1750 dengan gelar Sultan Syarifuddin Ratu Wakil. Meskipun demikian, Ratu Fatimah-lah yang memegang kuasa atas pemerintahan di Kesultanan Banten.

Dalam beberapa penulisan sejarah Kesultanan Banten Sultan Syarifuddin Ratu Wakil biasa ditulis sebagai Sultan Banten ke 11, sedangkan bagi Keluarga Besar Kesultanan Banten tidak mengakui beliau Sebagai Sultan Banten yang sah, sehingga hal ini menimbulkan perbedaan dalam penulisan pengurutan para Sultan Banten. Sehingga untuk membedakan antara Sultan Banten Penuh dan Sultan Wakil dalam tulisan ini digunakan pula tulisan Sultan Penuh.

Kecurangan yang dilakukan Ratu Fatimah ini bagi rakyat dan sebagian pembesar negeri merupakan suatu penghinaan besar dan penghianatan yang sudah tidak bisa diampuni lagi sehingga terjadi perlawanan bersenjata. Di bawah pimpinan Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang, mereka menyerbu Surosowan. Strategi yang diterapkan oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang adalah membagi pasukannya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang dipimpin oleh Ratu Bagus Buang diberi tugas untuk melakukan penyerangan ke Kota Surasowan. Sementara itu, Ki Tapa memimpin kelompok kedua dengan tugas mencegat bantuan pasukan VOC dari Batavia. Hanya dengan bantuan tambahan yang didatangkan langsung dari Negeri Belanda, VOC dapat memukul mundur pasukan pejuang. Untuk melanjutkan perjuangannya, Ki Tapa menyingkir ke daerah pedalaman Banten dan menjadikan Sajira yang terletak di Lebak sebagai salah satu pusat pertahanannya.

Untuk menenangkan rakyat Banten, Gubernur Jenderal VOC Jacob Mossel, memerintahkan wakilnya di Banten untuk menangkap Ratu Syarifah Fatimah dan Sultan Syarifuddin yang dianggapnya sebagai sumber kekacauan. Keduanya kemudian diasingkan ke daerah Maluku, Ratu Fatimah ke Saparua dan Sultan Syarifuddin ke Banda.
675/4 <34> < 1. Raden Jidin
lahir: 1736c
Anak:
2.1.1. Raden Ayas
2.1.2. Raden Icis Abdul Idris
2.1.3. Raden Dayon
2.1.4. Ratu Apun
2.1.5. Raden Abdu
2.1.6. Raden Arsyad
2.1.7. Ratu Piyah
2.1.8. R. Emang
2.1.9. Rt. Sarah
2.1.10. Rt. Taerah
2.1.11. Rt. Tarim
686/4 <34> < 2. Raden Koyong
lahir: 1739c
Sumber : Radhent Ariev Sabranglor (Facebook : https://www.facebook.com/profile.php?id=100007015454290), susunan putra 1 sd 5

Putra-putri Raden Koyong:

  1. Raden Koman Demang Cibinong Tanah baru Bogor/Raden Kan’an – dimakamkan di Astana Gede Tanah Baru Bogor Utara.
  2. Raden Mas Jatinegara – Dimakamkan di Jatinegara Kaum
  3. Raden Muhidin / Raden Iyyi
  4. Raden Habib Demang Cibarusah – dimakamkan di Astana Gede Tanah Baru Bogor Utara.
  5. Raden Panji Demang Cibarusah*
  6. Ratu Tipah
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
667/4 <32+5> < 2. Sultan Muhammad Wasi’ Zainul ‘alimin (1752-1753)
gelar: 1752 - 1753, Sultan Banten Ke XI
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 11

Pada tahun 1752, VOC mengangkat Pangeran Arya Adisantika, adik Sultan Zainul Arifin, menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Abulma’ali Muhammad Wasi’ Zainal ‘Alimin. Selain itu, Jacob Mossel pun segera mengembalikan Pangeran Gusti dari tempat pengasingannya dan ditetapkan sebagai putra mahkota. Akan tetapi dengan pengangkatan itu, Sultan Abulma’ali harus menandatangani perjanjian dengan VOC yang isinya semakin memperkuat dan mempertegas kekuasaan VOC atas Banten.

Perjanjian itu sangat merugikan Banten sehingga Pangeran Gusti, beberapa pangeran, dan pembesar keraton lainnya menjadi gusar. Rakyat kembali mengadakan hubungan dengan Ki Tapa di Sajira, Lebak. Di bawah kepemimpinan Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang kembali mengangkat senjata menentang VOC.

Sementara itu, para pangeran dan pembesar keraton melakukan pengacauan di dalam kota. Dengan susah payah VOC akhirnya dapat melumpuhkan serangan-serangan tersebut. Perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang, mengakibatkan Sultan Abulma’ali Muhammad Wasi’zainul ‘Alamin menyerahkan kekuasaannya kepada Pangeran Gusti.
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
648/4 <37+6> < 2. RA. Wiranata / (Mbah Dalem Sepuh)
gelar: 17 April 1813, Raden Toemenggoeng
gelar: 1 September 1815, Adipati
pekerjaan: 1 November 1815 - 1849, Bupati Bogor ke 15 (1815-1849)
Catatan Admin : Den Agung

R Suria Agung.jpg


Haan, Frederik: "PRIANGAN", I. Overzicht. II. Personalia, 1910
LAMBANG KABUPATEN LEBAK
809/4 <37+6> < 6. RA. Karta Nata Negara (Aom Entjan)
perkawinan: <8> < 4. Nyi Rd. Mojanagara (Dalem Istri Lebak)
gelar: 1 November 1837 - 1865, Bupati Lebak (Rangkasbitung) ke 2
Catatan Admin : Endang Suhendar


SILSILAH RINGKAS dan PROFIL RA. KARTANAGARA

RA. KARTANEGARA, HOOFD REGENT LEBAK (1862-1870)

RADEN ADIPATI KARTANEGARA / KARTANATA NAGARA bin R.H. MUH TOHIR (Aulia Kampung Baru/Bogor)bin RA. Wiradiredja (Regent Bogor) bin RA. Wiradinata (Regent Bogor) bin Dalem Wiratanu II (Regent Tjiandjur ke II), Tarikolot Cianjur

RA. KARTANATANAGARA lahir dari pasangan Raden Haji Tohir, Penghulu Buitenzorg 1826-1849, buyut Raden Aria Wiramangala (Wiratanu II) dan Nyi Hj. Ratu Syarifah puteri bungsu Pangeran Sogiri bin Sultan Ageng Tirtayasa (Sultan Banten : 1651-1683). Ia lahir dan dibesarkan di Soekahati (Empang) Bogor bersama dengan 19 kakak beradik lainnya diantaranya adalah RA. Wiranata/Dalem Sepuh Bogor Bupati Buitenzorg 1815-1849, RH. Puradiredja, Demang Tjibinong (1841-1858), RTmg. Sastranegara, Bupati Purwakarta 1849-1854, RA. Prawiranata, Aria Patjet.

Ia dibesarkan keluarga dengan didikan agama Islam yang taat dan adat istiadat ningrat Sunda Pajajaran yang santun. Ia hidup bersama keluarga besar ningrat Cianjur (Wiratanu II) dan ningrat Banten (Pangeran Sogiri) yang menjadi pemimpin di wilayah bekas kerajaan Pajajaran yang bernama Kampung Baru alias Buitenzorg alias Bogor.

KARIER & PRESTASI

Raden Tumenggung (RT) Adipati Kartanata Nagara adalah Bupati Lebak kedua. Kartanata Nagara menjabat tahun 1830 hingga 1865. Sebelum menjadi bupati, pada 1829 Kartanata Nagara menjabat Demang di Jasinga, Kabupaten Bogor. Saat menjadi Demang, Kartanata Nagara mengalahkan pasukan Nyimas Gamparan yang menurut versi Pemerintah Hindia Belanda merupakan pengacau keamanan. Saat itu, pasukan Nyimas Gamparan mau masuk Lebak melalui jalur Cikande, Serang. Usaha Nyimas Gamparan berhasil dihadang oleh Kartanata Nagara. Berawal dari keberhasilan mengalahkan Nyimas Gamparan akhirnya Pemerintah Hindia Belanda menganugerahi Kartanata untuk menjadi Bupati Lebak menggantikan Pangeran Senjaya di tahun 1830. Menurut cerita dari keturunan ke lima Kartanata Nagara, Raden Sari Wulan Kartanata Nagara, yang ditemui Radar Banten, Selasa (19/8), di kediamannya, Kartanata adalah bupati pertama yang membuka Rangkasbitung menjadi wilayah permukiman. Agar pusat pemerintahan Lebak dekat dengan karesidenan Banten di Serang, Kartanata membangun pendopo di daerah setempat. “Saat itu, Rangkasbitung adalah sebuah hutan belantara. Di tengah hutan belantara terdapat sekumpulan pohon bambu bitung liar dikelilingi rawa yang luas. Setelah daerah tersebut ditempati Kartanata Nagara, banyak warga yang turut bermukim di daerah tersebut,” ujar Sari Wulan yang menetap di Jalan Jalan Sunan Giri, Kampung Pasir Sukarayat, Kelurahaan Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung. Menurut Sari Wulan, Kartanata Nagara menaruh perhatian besar terhadap kehidupan rakyat. Saat melihat rakyat mengalami kesusahan, Kartanata Nagara segera membantu. “Yang saya tahu, buyut saya itu (Kartanata Nagara, red) sangat dekat dengan rakyat,” ujarnya. Memasuki 1856 saat Kartanata Nagara masih menjadi bupati, Gubernur Jenderal Duymaer Van Twist menunjuk Edward Douwes Deker (Multatuli) sebagai Asisten Residen di Lebak. Menurut sumber yang didapatkan Radar Banten dari Iman Solehudin (cucu tiri) Raden Sari Wulan Kartanata Nagara, serta Hikmat Syadeli Budayawan Lebak, saat itu sempat terjadi kesalahpahaman antara Kartanata Nagara dan Multatuli. Kesalahpahaman dipicu saat Bupati Kartanata Nagara kedatangan tamu Bupati Cianjur, Jawa Barat. Untuk menjamu tamu, Kartanata Nagara memerintahkan rakyat gotong royong membersihkan lingkungan pendopo dan jalan setapak yang akan dilalui rombongan Bupati Cianjur. “Perintah gotong royong diartikan oleh Multatuli sebagai kerja paksa. Akhirnya Kartanata Nagara dilaporkan ke Residen Brest Van Kempen. Namun tuduhan kerja paksa tidak terbukti sehingga Kartanata Nagara tidak disanksi,” kata Iman yang diamini Hikmat. Lebak di bawah kepemimpinan Kartanata Nagara mengalami kemajuan. Meski sudah berbuat banyak untuk Lebak, namun nama Kartanata Nagara seperti dilupakan. (day/dilengkapi dari berbagai sumber)

DEWAN KOTA BANTAM 1836 (Almanak 1836)

DEWAN KOTA BANTAM 1836




DEWAN KOTA BANTAM 1865 (Almanak 1865)

DEWAN KOTA BANTAM 1865




LAMBANG KABUPATEN BOGOR
7210/4 <38> < 1. RA. Soeta Widjaja
perkawinan:
perkawinan:
perkawinan:
perkawinan:
gelar: 1840 - 1841, Hoofd Djaksa Buitenzorg (lihat Almanak 1840, hal 70)
gelar: 1847 - 1855, Hoofd Demang Paroeng (Almanak 1847-1855)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


RIWAYAT KELUARGA

"Raden Aria Soetawidjaja putra dari Pangeran Muhammad Thahir alias Raden Tumenggoeng Prawiro Kusumo (Bupati Salatiga tahun 1862-1863) dengan Ibu (Putra Raden Mas Soemo Dipoero, Hoofd Djaksa Salatiga tahun 1846 sd 1860) Sumber : Almanak 1843 sd 1863

SILSILAH RINGKAS

RADEN ARIA DEMANG SUTAWIDJAJA bin Pangeran Muhammad Thahir bin Sultan Haji / Sultan Abu Nashr Muhammad Abdul Kahar (Sultan Ke 7 Kesultanan Banten), mempunyai adik kandung 3 orang, yaitu : 1. Raden Ronokusumo, 2. Nji Raden Sumirah, 3. Raden Surodiwirjo.

KARIER

Berdasarkan Almanak_van_Nederlandsch_Indië_voor_het tahun 1840 s/d tahun 1855, Karier Raden Aria Soetawidjaja adalah sebagai berikut :

  • 1840-1841 Hoofd Djaksa pada Afdelling Buitenzorg, dibawah Regent RADEAN ADIPATTIE WIERA NATTA (1829-1849), Penghoeloe : Radin Mochamad Hassan, Kapitein : TAN OEKO (Bapaknya Abun Nioh isteri Pangeran Djonet);
  • 1847-1855 Menjadi Demang Paroeng

SILSILAH KETURUNAN

Raden Aria Soetawidjaja menikah dengan 3 orang istri, isteri pertama NYI Rd. HABIBAH (Tjiandjoer) memiliki putra 3 orang :

  1. Raden Aria Mangkeowidjaja (Hoofd Djaksa merangkap Hoofd Demang Buitenzorg)
  2. Raden Kartawidjaja alias Ijas, Demang Djasinga
  3. Raden Bratawidjaja, Asisten Demang Parung

Isteri ke 2 bernama NYI MAS KALIBAH, dikarunia putra :

  1. Raden Demang Mangoenkoesoemah (Demang Tjibarusah, 4 Maret 1861 sd ?)
  2. Raden Kartawidjaja (tidak punya keturunan)
  3. Raden Hadji Daud, Panaragan, Bogor;

Isteri ke 3 bernama NYI Rd URI (Soekapoera)

  1. Raden Hadji Koesoemawidjaja menikah dengan NYI Rd Empok bt Aon berputra : R. Basah dan R. Ahmad
  2. R. Sintawidjaja (ejang Endeh Patimah)
  3. NYI Raden Tjenang, berputra R. Oesman
  4. NYI Raden Bahra menikah dengan R. Sama'oen (tidak berputra)
  5. NYI Raden Hadidjah menikah dengan R.H. Habib (Pulo Empang)
  6. NYI Raden Eulis menikah dengan R.H. Oemar (Tjamat Tjisaroea) berputra : R. Surjaningrat, berputra : R. Djali, R. Dodong, dll)
  7. ................................., Demang Mauk, berputra RH. Halir Tjisaat.

Semasa berkarier sebagai Djaksa dan Demang Paroeng, Raden Aria Soetawidjaj menetap di Buitenzorg (kota Bogor sekarang), keturunannya banyak tersebar di daerah Bondongan, Layungsari, Lolongok, Empang dan Pantjasan, dimakamkan di Pemakaman Empang

(Sumber : Sajarah Bogor, Memed Sunardi, 1966, berdasarkan Catatan Raden Jusuf Wiranata Nagara)


LAMBANG KABUPATEN BOGOR
7811/4 <37+6> < 4. RH. Puradiredja/Suradiredja
pekerjaan: 1841 - 1857, Demang Tjibinong
LAMBANG KABUPATEN PURWAKARTA
8212/4 <37+6> < 8. H Rd Tumenggung Sastranegara
gelar: 1849 - 1854, Bupati Purwakarta
7313/4 <38> < 2. R. Rono Koesoemo
gelar: 13 Juli 1861 - 1865, Patih Afdeeling Grobogan
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Rono-1.jpg
6914/4 <34> < 3. Raden Mamak
7015/4 <34> < 4. Ratu Siti
7116/4 <34> < 5. Ratu Ada
7417/4 <38> < 3. Roro Sumirah
7518/4 <38> < 4. R. Soerodiwirjo
7619/4 <37+6> < 1. R.Ay. Asmara/Amsyah
7720/4 <37+6> < 3. R. Muharram
7921/4 <37+6> < 5. R. Rafiki / R. Rafi'i
8122/4 <37+6> < 7. RA. Prawiranata (Aria Patjet)
8323/4 <37+6> < 9. R.Ay. Adjeng
8424/4 <49> < Ratu Rija
8525/4 <46> < 1. Tubagus Badaruddin Tanah Koja Bp
8626/4 <56> < Ratu Dewi
8927/4 <57+61!> < 4. Raden Entji
9128/4 <58> < 1. Raden Arief
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
9229/4 <58> < 2. Raden Syahid
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
9330/4 <58> < 3. Raden Kohir
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
9431/4 <58> < 4. Raden Jamil
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
9532/4 <58> < 5. Raden Wahyu
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
9633/4 <58> < 6. Ratu Beruk
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Sukaraja - Bogor.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Ahli Waris: Tb. Dika Syah Bachri
9734/4 <32> < 8. Pangeran Ardi Kusuma
9835/4 <38> < Sy. Rd. Parto Sentono
9936/4 <32> < 58. Tubagus Muhammad Said (Pangeran Natabaya)
10037/4 <61+57!> < 2. Rd. H. Muhammad Kamil
10138/4 <44> < Pangeran Burhan (Tubagus Buang)
10239/4 <57+61!> < 1. Raden Muhammad Soleh
10340/4 <61+57!> < 3. Raden Sulaeman
10441/4 <61+57!> < 5. Raden Sa'id
10542/4 <61+57!> < 6. Raden Bada
10643/4 <57+61!> < 7. Ratu Iyah
10744/4 <61+57!> < 8. Ratu Apyah
10845/4 <57+61!> < 9. Ratu Sopiah
10946/4 <61+57!> < 10. Ratu Majidah
11047/4 <61+57!> < 11. Raden Putra
11148/4 <54> < Ratu Desiah
11249/4 <32+5> < 3. Pangeran Yusuf
11350/4 <32+5> < 4. Pangeran Muhammad Shaleh
11451/4 <32+5> < 5. Ratu Samiyah
11552/4 <63> < Muhammad Jalaluddin

5

1261/5 <68> < 2. Raden Mas (Jatinegara)
wafat: Pemakaman Jatinegara Kaum
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Sumber : RH. Achmad Sukendar (Donden Sukendar, Jl Azimar Bogor) (Data dari Tb. Mughirah Nurfadhil Satya Tirtayasa, Ketua Rabithah BABAD Kesultanan Banten, anggota

badan pencatat Silsilah Walisongo Naqobah Aali Azmatkhan Al-Husaini)
1792/5 <87> < 2. Pangeran Achmad Darmabrata
lahir: Kroya Lama, Kasunyatan, Banten
penguburan: Kroya Lama, Kasunyatan, Banten
1823/5 <90> < Kiai Raden Abdurrahman (Ateng Abdurrakhman)
wafat: Kp. Nambo, Cileungsi, Bogor
1764/5 <88+7> < 1. Pangeran Jaya (Tubagus Safiuddin Jaya)
lahir: 1752, Kasunyatan Banten
perkawinan: <9> < 1. Ratu Ayu
wafat: Cikoplok, Kenari, Banten
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
1225/5 <65> < 1. Sultan Muhammad ‘arif Zainul Asyikin (1753-1773)
gelar: 1753 - 1773, Sultan Banten Ke XII
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang
   Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin
   Sultan Muhyiddin Zainusholiohin
   Pangeran Manggala
   Pangeran Suralaya
   Pangeran Suramanggala

Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 12

Pada tahun 1753 Pangeran Gusti putra Sultan Banten ke-10 keponakan Sultan Banten ke-11, dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Abu’l Nasr Muhammad ‘Arif Zainul ‘Asiqin (1753-1773). Beliau Wafat pada tahun 1773.
1806/5 <88+?> < 2. Raden Sura Jaya
lahir: 1756, Barugbug, Ciomas, Banten
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
1237/5 <68> < 1. Raden Koman / Raden Kan’an
lahir: 1767c
pekerjaan: 29 Agustus 1815 - 1835, Demang Cibinong Tanah Baru Bogor
wafat: ~ 1835
penguburan: Astana Gede Tanah Baru Bogor Utara
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


SILSILAH RADEN KAN'AN

Sultan Ageng Tirtayasa >< Nyai Gede Ayu, berputra
Pangeran Sogiri >< Ratu Rapiah (putri Pangeran Sangyang), berputra
Raden Kanzul Arifin, berputra
Raden Koyong, berputra
Raden Kan'an

KARIER

Raden Kan'an pada 29 Agustus 1815 diangkat menjadi Demang Tjibinong, sedangkan adiknya Raden Habib/Raden Muhyidin/Raden Iyi, di tanggal yang sama menjadi Demang Tjibaroesah bergantian dengan adiknya no 3 Raden Pandji. Pada saat itu yang menjadi Regent/Bupati Buitenzorg adalah Raden Aria Wiranata (Dalem Sepuh Bogor). Raden Kan'an di Kampong Baroe, tinggal di Soekaradja (sekarang Tanah Baru), menempati tanah luas yang membentang dari perbatasan Ciluar sampai perbatasan Cisarua (lihat peta De Haan, Map:C48 Het landje van Raden Kanan. Soekaradja (grenzen) Wehstenburg).

Pengangkatan Raden Kan'an dan Raden Muhyidin menjadi Demang (Kepala Distrik), adalah atas usulan RA Wiranata, mengingat Ibunya RA Wiranata Ratoe Sjarifah adalah putri bungsu Pangeran Sogiri, jadi RA Wiranata adalah Paman Sepupu Raden Kan'an bersaudara.

Disamping itu, putra RA Wiranata yang bernama RT. Sastranegara (Bupati Purwakarta) menikah dengan Cicit Pangeran Salih/Raden Sake yaitu Ratu Mantria.

Kanan.jpg
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
1248/5 <68> < 4. Raden Habib
lahir: 1769c
pekerjaan: 29 Agustus 1815 - 1832, Cibarusah, Demang
wafat: ~ 1832, Dimakamkan di Astana Gede Tanah Baru Bogor Utara
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

SILSILAH RADEN HABIB

Sultan Ageng Tirtayasa >< Nyai Gede Ayu, berputra
Pangeran Sogiri >< Ratu Rapiah (putri Pangeran Sangyang), berputra
Raden Kanzul Arifin, berputra
Raden Koyong, berputra
Raden Habib

KARIER

RADEN HABIB, bersamaan dengan Kakaknya Raden Kan'an, pada taggal 29 Agustus 1815 diangkat menjadi Demang Tjibaroesah. Ia menjabat sebagai Demang Tjibaroesah mulai umur 46 tahun, selama 26 tahun, dan meninggal dalam usian 72 tahun, pada tahun 1841. Kemudian Jabatan Demang Tjibaroesah diteruskan oleh Adiknya yang bernama Raden Pandji, anak ketiga dari empat bersaudara.
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
1259/5 <68> < 5. Raden Panji Demang Cibarusah (Pandji-I)
lahir: 1770c
pekerjaan: 1832 - 1841, Demang Tjibaroesah
wafat: ~ 1841
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


SILSILAH RADEN PANDJI

Sultan Ageng Tirtayasa >< Nyai Gede Ayu, berputra
Pangeran Sogiri >< Ratu Rapiah (putri Pangeran Sangyang), berputra
Raden Kanzul Arifin, berputra
Raden Koyong, berputra
Raden Pandji

KARIER

RADEN PANDJI pada tahun 1832 diangkat menjadi Demang Tjibaroesah menggantikan kakaknya Raden Muhyidin (Rd Iyi), yang meninggal pada tahun 1832. Raden Pandji menjadi Demang Tjibaroesah pada usia 62 tahun, dan menjabat selama 9 tahun, meninggal pada usia 71 tahun pada tahun 1841.
LAMBANG KABUPATEN KARAWANG
11910/5 <64+?> < 2. R. Adipati Wanajasa/Dlm. Rd. Adipati Surianata Wiranata, (Dalem Santri)
perkawinan: <10> < 1.1.1.1.1.11.2 NR. Fatimah Komalaningrat Sastradipura
perkawinan: <11> < Nyi Salamah
gelar: 1820 - 1827, Bupati Karawang Ke IX (1820 - 1827)
wafat: 1828, Nusa Situ Wanayasa, Purwakarta
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Raden Adipati Suryanata, putra Raden Adipati Wiranata Dalem Sepuh Bogor Keturunan Cikundul. Nama asalnya ialah "Raden Natarajah", kemudian mendapat gelar "Raden Aria Soerianatarajah". Raden Adipati Suryanata Menikah dengan Nyi Salamah, putrid Aria Sastradipura, (Bupati Karawang ke- 9). Pada masa Pemerintahan Raden Adipati Suryanata, kantor dipindahkan dari Karawang ke Wanayasa (Purwakarta). Raden Adipati Suryanata wafat pada tahun 1828 dimakamkan di Nusa Situ

Wanayasa, Purwakarta.
Kanjeng Raden Adipati Suriawinata (Dalem Sholawat Bogor)'
12011/5 <64+?> < 7. R A A Suriawinata (H Rd Muhammad Sirodz / Mbah Dalem Sholawat)
gelar: 1827 - 1849, Bupati Karawang Ke 10 (1827-1849)
gelar: 1849 - 21 Februari 1864, Bupati Bogor Ke 16 (1849-1864)
wafat: 13 Mei 1872, Mekah
Catatan Admin : Den Agung

R Suria Agung.jpg

H. Rd. Adipati Aria Suriawinata / H. Rd. Muhammad Sirodz / Mbah Dalem Sholawat, putra H. Rd. Adipati Aria Wiranata / Mbah Dalem Seupuh Bogor, (adik H. Rd. Adipati Surianata Bupati Karawang yang memerintah tahun 1821-1828). Pada awal masa pemerintahan beliau, pusat pemerintahan masih di Wanayasa, selama 2 tahun, dan pada tahun 1830, pusat Pemerintahan dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih serta menamakan daerah tersebut Purwakarta. Purwa artinya permulaan dan Karta, sama dengan Ramai atau hidup, dengan demikian nama Purwakarta baru dikenal pada masa pemerintahan H. Rd. Adipati Aria Suriawinata. Pada tahun 1849 H. Rd. Adipati Aria Suriawinata dialihtugaskan menjadi Bupati Bogor hingga wafat tahun

1872. H. Rd. Adipati Aria Suriawinata Dikenal pula dengan sebutan Mbah Dalem Sholawat.
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
12712/5 <72+?> < 1. RA. Mangkuwidjaja (Hoofd Djaksa & Hoofd Demang Bogor)
gelar: 23 Februari 1854 - 27 Maret 1866, Hoofd Djaksa Buitenzorg
gelar: 27 Juni 1865 - 27 Maret 1866, Hoofd Demang & Hoofd Djaksa Buitenzorg
gelar: 27 Maret 1866 - 30 Maret 1870, Hoofd Demang Buitenzorg (Bogor)
Admin : Endang Suhendar alias Idang

RIWAYAT KELUARGA

RA. MANGKOEWIDJAJA, HOOFD DEMANG BOGOR (1865-1870)

Raden Aria Mangkoewidjaja ialah putra pertama dari Raden Aria Soetawidjaja (Hoofd Djaksa Buitenzorg 1840-1841) dengan Ibu NYI Rd. HABIBAH (Putr1 ke 13 Raden Haji Muhammad Tohir, Aulia Kampung Baru, saudara kandung dengan R.Tmg. Kartananagara dan saudara sepupu RA. Wiranata (Bupati Kmpung Baru/Bogor). Menurut catatan keluarga, Kakeknya yang bernama Pangeran Muhammad Thahir adalah putra ke 3 dari Sultan Haji / Sultan Abu Nashr Muhammad Abdul Kahar, Sultan Banten ke 7 (1683-1687). RA. Mangkoewidjaja lahir dan dibesarkan dikeluarga ningrat Banten dan Cianjur (Cikundul) yang tinggal di kawasan Empang (Dalem Empang) bersama-sama dangan RA Wiranata.

SILSILAH RINGKAS

RADEN ARIA DEMANG MANGKOEWIDJAJA bin Raden Aria Soetawidjaja bin Pangeran Muhammad Thahir (R.T. PRAWIRO KOESOEMO) bin Sultan Haji / Sultan Abu Nashr Muhammad Abdul Kahar (Sultan Ke 7 Kesultanan Banten), mempunyai adik kandung 12 orang, yaitu : 1. R. Kartawidjaja/H. Iljas (Demang Jasinga/Wadana), 2. R. Bratawidjaja/Baing Brata (Ass. Demang Parung); 3. R. Dmg. Mangunkusumah (Demang Tjibarusah; 4. R. Kartawidjaja (Gabug); 5. RH. Daud (Eyang R. Muh. Idrus-Enis); 6. RH. Kusumahwidjaja; 7. R. Sintawidjaja (Eyang Endeh Patimah); 8. Nji R. Tjeneng; 9. Nji R. Bahra (Gabug); 10. Nji R. Hadidjah; 11. Nji R. Eulis; 12. R. Demang Mauk


KARIER

Berdasarkan Almanak_van_Nederlandsch_Indië_voor_het tahun 1854 s/d tahun 1876, Karier Raden Aria Mangkoewidjaja adalah sebagai berikut :

  • 1854-1866 Hoofd Djaksa pada Afdelling Buitenzorg, dibawah Regent RADEAN ADIPATTIE SOERIA WIENATTA (1849-1869);
  • 1865-1866 Menjadi Hoofd Demang & Hoofd Djaksa Buitenzorg
  • 1866-1870 Menjadi Hoofd Demang Buitenzorg

SILSILAH KETURUNAN

RA. MANGKOEWIDJAJA, HOOFD DEMANG BOGOR (1865-1870)

Raden Aria Mangkoewidjaja menikah dengan 4 orang istri, isteri pertama NYI MAS WARTA (Kaum Bogor) memiliki putra 3 orang :

  1. NYI Raden Kuraesin
  2. NYI Raden Suhaemi
  3. NYI Raden Hudaya

Isteri ke 2 bernama NYI Raden SARODJA, dikarunia putra :

  1. NYI Raden Titi Marijam
  2. NYI Raden Eno Patmah
  3. Raden Hadji Sjafi'i (Penghulu Bogor)
  4. NYI Raden Eulis Aminah
  5. NYI Raden Enon Hadjar
  6. Raden Hadji Iskandar/Enduk
  7. Raden Hadji Sulaeman

Isteri ke 3 bernama NYI Rd ENUR binti Raden Kartanagara memiliki putra 1 orang :

  1. Raden Hadji Ahmad/Emod

Isteri ke 4 bernama NYI Raden ANTAMIRAH binti Raden Tumenggung Tjandramanggala, berputra :

  1. Raden Hadji Muhammad Hasan
  2. Raden Sodiq
  3. Raden Atang

Semasa berkarier sebagai Djaksa dan Demang Boepati Buitenzorg, Raden Aria Mangkoewidjaja menetap di Buitenzorg (kota Bogor sekarang), keturunannya banyak tersebar di daerah Bondongan, Layungsari, Lolongok, Empang dan Pantjasan, dimakamkan di Pemakaman Empang

(Sumber : Sajarah Bogor, Memed Sunardi, 1966, berdasarkan Catatan Raden Jusuf Wiranata Nagara)


LAMBANG KABUPATEN BOGOR
13013/5 <72+?> < 4. R. Dmg. Mangunkusumah (Demang Tjibarusah)
pekerjaan: 4 Maret 1861 - 6 Agustus 1875, Demang Tjibarusah
pekerjaan: 6 Agustus 1875 - 12 Agustus 1876, Demang Buitenzorg
11614/5 <64+?> < 1. R. Aju Hadji Radja
11715/5 <64+?> < 12. Nyi R. Aju Lenggangnagara 11816/5 <78> < 1. Rd. Suradikusumah
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
12117/5 <65+?> < Sultan Syarifuddin Artu Wakil (1750-1752 )
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
12919/5 <72+?> < 3. R. Bratawidjaja/Baing Brata (Ass. Demang Parung)
13120/5 <72+?> < 5. R. Kartawidjaja (Gabug)
13221/5 <72+?> < 6. RH. Daud (Eyang R. Muh. Idrus-Enis)
13322/5 <72+?> < 7. RH. Kusumahwidjaja / RH. Abdullah
13423/5 <72+?> < 8. Rd.Sintawidjaja (Eyang Endeh Patimah) 13524/5 <72+?> < 9. Nji R. Tjeneng
13625/5 <72+?> < 10. Nji R. Bahra (Gabug) 13726/5 <72+?> < 11. Nji R. Hadidjah 13827/5 <72+?> < 12. Nji R. Eulis 13928/5 <72+?> < 13. R. Demang Mauk
14029/5 <77> < Nyi Rd. Siti Munarah
14130/5 <82+155!> < 1. Nji Rd Radjapermas / Ibu Djero
14231/5 <64+?> < 3. R. Aju Bentang
14332/5 <64+?> < 4. R.Aju Domas
14433/5 <64+?> < 5. R. Aju Surjanagara
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Sir-1.jpg


Dalam sebuah buku karya Bastian John (Sastrawan Inggris) yang berjudul "Sir Stamford Raffles And Some Of His Friends And Contemporaries", halaman 188 disebutkan bahwa : pada 15 November 1815 dilangsungkan prosesi pernikahan antara putra RA. Wiradireja/Prawiradirja, Bupati Cianjur yang bernama Rd. Rangga Surjanagara dengan Raden Ayu Surjanagara putri RA. Wiranata, Bupati Bogor (yang dilantik tanggal 1 September 1815). Kemungkinan besar acara prosesi tersebut dilaksanakan di Istana Bogor dihadiri Raffles dan pejabat Inggris lainnya
14534/5 <64+?> < 6. R. Aju Esin (Kuraesin)
14635/5 <64+?> < 8. R. Aju Hapsah
14736/5 <64+?> < 9. R. Dmg. Surjajaga
14837/5 <64+?> < 10. RH. Umar
14938/5 <64+?> < 11. Rd Kusumahdilaga
15039/5 <64+?> < 13. R. Tarjaniba
15140/5 <80+268!> < 1. H Rd Bujeh
15241/5 <84> < Raden Ketib
15342/5 <84> < Raden Sulaiman
15443/5 <84> < Ratu Buniyat
15544/5 <100+111!> < 10. Nyi Raden Siti Fatimah/Ratu Mantria/Ratu Mutiara
15645/5 <85> < 1. Tb. Hayudin Jng. Kaum Bp.
15746/5 <85> < 2. Tb. Sayudin Jng Kaum
15847/5 <85> < 3. Tb. Haruman Jtn Kaum
15948/5 <67> < 1. R. Ayas
16049/5 <67> < 2. Raden Icis Abdul Idris
16150/5 <67> < 3. Raden Dayon
16251/5 <67> < 4. Ratu Apun
16352/5 <67> < 5. Raden Abdu
16453/5 <67> < 6. Raden Arsyad
16554/5 <67> < 7. Ratu Piyah
16655/5 <67> < 8. R. Emang
16756/5 <67> < 9. Rt. Sarah
16857/5 <67> < 10. Rt. Taerah
16958/5 <67> < 11. Rt. Tarim
17059/5 <69> < 1. Raden Joan
17160/5 <69> < 2. Raden Jiung
17261/5 <69> < 3. Raden Utik
17362/5 <69> < 4. Ratu Sadikah
17463/5 <69> < 5. Raden Muhammad Mufakhir
17564/5 <80> < 2. Nyi Rd Enur
17765/5 <86> < Ratu Naqibah
17866/5 <68> < 6. Ratu Tipah 18167/5 <89> < Raden Safaruddin
18368/5 <97> < Ratubagus Musthofa
18469/5 <98> < Sy. Rd. Wongso Sentono
18570/5 <99> < Tubagus Siyay
18671/5 <65> < Ratu Ayu
18772/5 <65> < Tubagus Hasannudin
18873/5 <65> < Raden Raja Pangeran Rajasantika
18974/5 <101> < Tubagus Abdul Rozaq
19075/5 <100> < 1. Raden H. Adam
19176/5 <68> < 3. Raden Muhidin / Raden Iyyi
19277/5 <115> < Muhammad Amiruddin

6

2731/6 <177+272!> < Raden Haji Abdul Halim
penguburan: Makam Sukaraja Bogor
2882/6 <176+9> < 2. Ratu Afifah
lahir: Kamasan, Banten
wafat: Cikoplok, Kenari, Banten
2913/6 <182> < Raden Kiai Abu Sarbani
wafat: Kp. Nambo, Cileungsi, Klapanunggal, Bogor
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
1984/6 <122> < 1. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyuddin I (1773-1799)
gelar: 1773 - 1799, Sultan Banten Ke XIII
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


   Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin
   Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II)
   Pangeran Darma
   Pangeran Muhammad Abbas
   Pangeran Musa
   Pangeran Yali
   Pangeran Ahmad

Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 13

Pada tahun 1773 Sultan Abu Nasr Muhammad Syifa’ Zainul Asyikin wafat dan digantikan oleh putra beliau bergelar Sultan Abul Mufakhir Muhammad Aliyuddin I yang memimpin dari tahun 1773-1799. Sultan Aliyuddin I beralias Sultan Gemuk merupakan pula ulama dan berkarya mengarang wawasan-wawasan tentang agama, perjuangan Islam dan menulis kisah para Ambia dan Aulia.
2845/6 <176+9> < 1. Pangeran H. Chusen
lahir: 1789, Kamasan, Banten
wafat: Cikoplok, Kenari, Banten
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Kasunyatan - Banten.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Milik Keluarga: Tb. Dika Syah Bachri
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
2836/6 <124> < 1. Raden Kodri ( Raden Pandji-II )
lahir: 1795c, Tjibaroesah
pekerjaan: 1841 - 1856, Demang Tjibaroesah
wafat: 1856, Tjibaroesah
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


SILSILAH RADEN PANDJI

Sultan Ageng Tirtayasa >< Nyai Gede Ayu, berputra
Pangeran Sogiri >< Ratu Rapiah (putri Pangeran Sangyang), berputra
Raden Kanzul Arifin, berputra
Raden Koyong, berputra
Raden Pandji-1, berputra
Raden Kodri alias Raden Pandji-2

KARIER

RADEN KODRI alias RADEN PANDJI-II adalah putra Raden Pandji I, pada tahun 1841 diangkat menjadi Demang Tjibaroesah menggantikan ayahnya Raden Pandji-I , yang meninggal pada tahun 1841. Raden Kodri atau Raden Pandji-II menjadi Demang Tjibaroesah pada usia 46 tahun, dan menjabat selama 15 tahun, meninggal pada usia 61 tahun pada tahun 1856.

Pandji1.jpg

Pandji3.jpg
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
1997/6 <122> < 2. Sultan Abdul Fath Muhammad Muhyiddin Zainusholihin
gelar: 1799 - 1801, Sultan Banten Ke XIV
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 14

Pada tahun 1799, Sulthan Aliyuddin I wafat dan digantikan dengan adik beliau Pangeran Muhyiddin yang bergelar Sultan Abdul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussolikhin. Perpindahan tahta kepada adik bukannya putra dikarenakan putra-putra Sultan Aliyuddin I, meskipun ada namun tidak ada yang berasal dari ibu permaisuri melainkan dari selir sehingga sesuai pakem pewarisan tahta kesultanan Banten yang mensyaratkan diutamakannya keturunan pewaris tahta dari ibu yang permaisuri, kepewarisan tahta lantas berpindah kepada adik Sultan Sebelumnya yang satu ayah dan satu ibu yang permaisuri.

Beliau Tidak lama menjabat dikarenakan wafat pada tahun 1801 dan meninggalkan putra yang masih bayi, yang kelak beberapa tahun kemudian akan naik tahta denga gelar Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin (Sultan Penuh Banten ke-17).

Salah satu saat bersejarah pada masa kekuasaan Sultan Banten Zainussolikhin adalah saat pembubaran VOC tahun 1799 sehingga mulai di masa ini hubungan politik dan ekonomi maupun perselisihan antara Kesultanan Banten tidak lagi dengan pihak VOC / Kompeni namun langsung dengan pemerintah Kerajaan Belanda.
2178/6 <134> < R. Angkawidjaja
pekerjaan: 1 Februari 1872, Onderwijzer van Buitenzorg
Mulai 1 Februari 1872 diangkat menjadi "Onderwijzer" atau guru / Kepala Dinas Pendidikan pada Sekolah Pemerintah (Gouvernements School).


Angkawijaya.jpg
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
2119/6 <127+?> < 10. RH. Sulaeman
pekerjaan: 8 Juni 1874 - 1882, Leden van Buitenzorg
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Sumber : REGERINGSALAMANAK Voor Nederlandsch-Indie 1873-1880

Contoh1.jpg
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
20810/6 <127+?> < 6. Rhm. Sjafi'ie (Penghulu Bogor)
pekerjaan: 24 Juni 1899 - 30 Januari 1911, Hoofd Panghoeloe Buitenzorg
19311/6 <118> < 1. Ny. Rd. Junah (Isteri #5) 19412/6 <119+10> < 1.1.1.1.1.11.2.1 NR. Kendran Surianata
19513/6 <141+120!> < 16. Nji Rd Komala
19614/6 <120+141!> < 9. H Rd Enggang Sulaeman
19715/6 <119+10> < 1.1.1.1.1.11.2.4 Rd. Barnas Jayanagara Suriawinata
20016/6 <135> < 1. R. Usman
20117/6 <138> < 1. R. Surjaningrat
20218/6 <139> < 1. RH. Halir (Tjisaat)
20319/6 <127+?> < 1. Nji R. Kuraesin / Ibu Rangga
20420/6 <127+?> < 2. Nji R. Suhaemi
20521/6 <127+?> < 3. Nji R. Hudaja
20622/6 <127+?> < 4. Nji R. Titi Mariam 20723/6 <127+?> < 5. Nji R. Eno Patmah
20924/6 <127+?> < 7. Nji R. Eulis Aminah
21025/6 <127+?> < 9. RH. Iskandar/Enduk
21226/6 <127+175!> < 11. RH. Ahmad/Emod
21327/6 <127+?> < 12. RH. Muh. Hasan/Endung (Penghulu Tangerang)
21428/6 <127+?> < 13. RH. Ipih Sodik Nataatmadja
21529/6 <127+?> < 14. R. Ateng
21630/6 <127+?> < 8. Nji R. Enon Hadjar
21831/6 <128+?> < 1. Nji R. Padinta
21932/6 <128+?> < 2. Nji R. Rokajah
22033/6 <128+?> < 3. R. Beki Subeki Alias Marga
22134/6 <128+?> < 4. R. Muhammad Nadir
22235/6 <128+252!> < 5. Nji R. Ule Djulaeha
22336/6 <128+252!> < 6. R. Hair Surja
22437/6 <129+?> < 1. R. Muh. Usman
22538/6 <129+?> < 2. R. Ahmad Padmawidjaja
22639/6 <129> < 3. Nji R. Siti Mariah
22740/6 <129> < 4. Nji R. Iti (Tjitjadas)
22841/6 <129> < 5. Nji R. Ijo (Tjilodong)
22942/6 <129> < 6. R. Djajaatmadja/Utjin (Penghulu Parung Panjang) 23043/6 <130+140!> < 1. Nyi Rd. Enok Suhaya 23144/6 <130+140!> < 2. R. Pura Diningrat 23245/6 <140+130!> < 3. RH. Habib 23346/6 <140+130!> < 4. R. Prawira Kusumah (Teluk Djambe-Karawang)
23447/6 <130+140!> < 5. Nyi Rd. Enok Suhaemi
23548/6 <130+140!> < 6. Nyi Rd. Siti Salamah
23649/6 <140+130!> < 7. R. 'Ain Cholidurochman
23750/6 <140+130!> < 8. Nji R. Odja Sarodja 23851/6 <130+140!> < 9. Nji Rd. Neneng Bentang
23952/6 <140+130!> < 10. R. Ote Mangunkusumah
24053/6 <130+140!> < 11. R. Seno Reja/R. Utju (Bungsu)
24154/6 <130+?> < 12. R. Atje/Tjetje Tjakraningrat (Gabug)
24255/6 <130+?> < 13. R. Duyeh Abdul Rachman
24356/6 <130+?> < 14. Nyi Rd. Neneng Eli
24457/6 <130+?> < 15. Nji Rd. Dewi Handjar
24558/6 <130+?> < 16. R. Endus/Idrus (Mertua R. Daie)
24659/6 <130+?> < 17. R. Anjud Sumujud (Dahlan)
24760/6 <130+?> < 18. R. Kendran (Ijon)
24861/6 <130+?> < 19. R. Eno Surareja / Sena (Tjamat Tjiamis)
24962/6 <133+?> < 1. Nji R. Suaemi
25063/6 <141+?> < 1. Nji R. Aisah/itjah
25164/6 <141+?> < 2. Nji R. Maemunah/Eming Citeureup)
25265/6 <141+?> < 3. Nji R. Patimah / Iing
25366/6 <141+149!> < 4. Rd Kusumahnagara (Habib Kusumah)
25467/6 <120+141!> < 18. Nji Rd Entu Baninadjar
25568/6 <120+141!> < 2. Nji Rd Siti Rahmah (Andung)
25669/6 <120+141!> < 1. Rd Surianingrat
25770/6 <120+141!> < 3. H Rd Musa
25871/6 <141+120!> < 4. Nji Rd Ratu
25972/6 <120+141!> < 5. Nji Rd Mariam
26073/6 <141+120!> < 6. Nji Rd Bisi (Gabug)
26174/6 <141+120!> < 7. Nji Rd Lenggang
26275/6 <120+141!> < 8. H Rd Ali
26376/6 <141+120!> < 10. Rd Surianagara
26477/6 <120+141!> < 11. H Rd Abdul Rahim
26578/6 <120+141!> < 12. H Rd Muhammad Soleh (Natadilaga)
26679/6 <120+141!> < 13. Rd Entjang
26780/6 <141+120!> < 14. H Rd Sadikin
26881/6 <120+141!> < 15. Nji Rd Maemunah
26982/6 <120+141!> < 17. Rd Tobri
27083/6 <120+141!> < 19. Rd Jusuf
27184/6 <152> < Raden Layman
27285/6 <152> < Raden Lindu
27486/6 <152> < Ratu Dunga
27587/6 <130+?> < 20. R. Emun Moh. Musa (Kalipah Seuseupan)
27688/6 <130+?> < 21. R. Buah
27789/6 <156> < 1. Rd. H. Irsyad
27890/6 <159> < 1. Raden Husein
27991/6 <159> < 2. Raden Samsuddin
28092/6 <159> < 3. Raden Mikrod
28193/6 <124> < 2. Ratu Sarimah
28294/6 <124> < 3. Ratu Taifah
28595/6 <178+15> < R. Zaenal Asra
28696/6 <176> < 4. Syaikh Tubagus Abdul Latief 28797/6 <176> < 3. Pangeran H. Mulafar
28998/6 <180> < Raden Irfan
29099/6 <181> < Raden Djaya
292100/6 <125> < R. Pandji
293101/6 <184> < Sy. Rd. Wiro Sentono
294102/6 <119+10> < 1.1.1.1.1.11.2.2 NR. Komala Suriawinata
295103/6 <119+10> < 1.1.1.1.1.11.2.3 Rd. H. Enggang Sulaeman Suriawinata
296104/6 <185+?> < Raden Suta Arya Kusuma (Diparana)
297105/6 <176> < 5. Ratu Afiyah
298106/6 <189> < Tubagus Musrijal
299107/6 <190+?> < 1. Rd. H. Muhammad Arsyad Kusumadiredja (Juragan Sukaraja)
300108/6 <190+?> < 2. R. Mukarob Ilyas Puradireja
301109/6 <190+?> < 3. Nyi. R. Armidah (Embah Enok Kadumanggu)
302110/6 <190+?> < 4. RH. Muhammad Ihsan/Aksan (Baing Tjitjadas)
303111/6 <190+?> < 5. R. Udjang Natakusumah (Baing Klapanunggal)
304112/6 <190+?> < 6. R. Ishak Adikusumah (Baing Kadumanggu)
305113/6 <190+?> < 7. R. Ibrohim
306114/6 <190+?> < 8. Nyi R. Astina
307115/6 <137> < 1. Nyi Rd. Ibu Idjah
308116/6 <126> < 1. Rd. Kamsi
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Sumber : RH. Achmad Sukendar (Donden Sukendar, Jl Azimar Bogor) (Data dari Tb. Mughirah Nurfadhil Satya Tirtayasa, Ketua Rabithah BABAD Kesultanan Banten, anggota

badan pencatat Silsilah Walisongo Naqobah Aali Azmatkhan Al-Husaini)
309117/6 <123> < Rd.Ustam
310118/6 <192> < Muhammad Najmuddin Zakaria

7

4531/7 <291> < Raden Kiai Anjasaman (Ateng Jasman)
wafat: Cileungsi, Klapanunggal, Bogor
4652/7 <290> < Ratu Aeni
lahir: Sukaraja, Bogor, Jawa Barat
wafat: Cibarusah, Bogor, Jawa Barat
4853/7 <286> < Tubagus Abdul Khaer
bermukim: ?, Di kasunyatan, banten
Pendiri TTKKDH
3424/7 <198> < 1. Sultan Abu Nashr Muhammad Ishaq Zainal Muttaqin (1801-1802)
gelar: 1801 - 1802, Sultan Banten ke XV
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 15

Pasca wafatnya Sultan Penuh Banten ke-14, tahta Kesultanan Banten kembali berpindah kepada keturunan Sultan Aliyuddin I (Sultan Penuh Banten ke-13) yakni kepada putranya yang bergelar Sultan Abu Nashr Muhammad Ishaq Zainal Muttaqin atau keponakan dari Sultan Penuh Banten ke 14.

Beliau menentang tindakan-tindakan Kompeni Belanda yang melukai hati jiwa Kebantenan. Beliau bertahta hanya satu tahun dari tahun 1801-1802, kemudian pada tahun 1802-1803 administrasi Kesultanan Banten dipegang oleh care taker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya.

Dalam sebagian tulisan menegenai sejarah Kesultanan Banten, yang menyerakan para care taker sultan wakil sebagai Sultan Banten. Care taker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya biasa disebut sebagai Sultan Banten ke-17. Sedangkan Sultan Penuh Banten ke 15 diurutkan sebagai Sultan Banten ke-16 dan Sultan Penuh Banten ke-16 diurutkan sebagai Sultan Banten ke-18.
4115/7 <198> < 2. Sultan Abul Mufakhir Muhammad Aqiluddin / Aliyuddin II Yang Memimpin Dari Tahun 1803 – 1808.
gelar: 1803 - 1808, Sultan Banten Ke XVI
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 16

Tahun 1803 kesultanan kembali kepada dipegang oleh pewaris tahta Putra Sultan Penuh Banten ke 13, keponakan Sultan Penuh Banten ke 14, adik Sultan Penuh Banten ke 15; yakni Sultan Abul Mufakhir Muhammad Aqiluddin / Aliyuddin II yang memimpin dari tahun 1803 – 1808.

Mulai tahun 1807, Belanda dikuasai oleh Perancis. Louis Napoleon adik Kaisar Napoleon Bonaparte Perancis diberi kekuasaan atas Belanda dan mengangkat Herman Williams Daendels sebagai Gubernur di Kepulauan Nusantara atau Gubernur Hindia Belanda.

Daendels datang ke Batavia tahun 1808 dengan tugas utama mempertahankan pulau Jawa dari serangan tentara Inggris di India, untuk tugas tersebut Daendels berencana membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon dengan mempekerjakan masyarakat Banten dengan sistem Kerja Paksa atau Rodi.

Sultan Aqiluddin / Aliyuddin II sempat menentang tuntutan Belanda atas sistem kerja paksa. Lantas Daendels mengutus Komandeur Philip Pieter Du Puy dan pasukannya ke Istana Surasowan untuk mendorong Sultan menyetujui tuntutan Belanda, hal ini mendorong kemarahan rakyat Banten sehingga Du Puy dibunuh di depan pintu gerbang Surasowan.

Daendels membalas menyerang Surasowan pada hari itu juga yakni tanggal 22 November 1808 dengan serangan kejutan yang berhasil merebut Surasowan. Sultan dibuang ke Ambon, Patih Mangkubumi dihukum pancung dan jasadnya dibuang ke laut.
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
4126/7 <199+?> < Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin
gelar: 1808 - 1832, Sultan Banten Ke XVII
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke-17

Dengan dibuangnya Sultan Banten Aliyuddin II, maka dari keluarga besar Trah Kesultanan Banten dilantiklah pewaris tahta putra Sultan Penuh Banten ke-14 sebagai Sultan Penuh Banten ke-17 dari garis ibu yang permaisuri (Ratu Aisiyah), kembali sesuai keutamaan pakem pewaris tahta kesultanan Banten, dengan gelar Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin. Beliau adalah saudara sepupu Sultan Penuh Banten ke-15 dan ke-16. Beliaulah yang merupakan Sultan Penuh Terakhir Banten Berdaulat dari garis keturunan pewaris tahta resmi Kesultanan Banten.

Dikarenakan dianggap belum dewasa dan masih dalam tahap pendidikan dan persiapan kepemimpinan sebagai Sultan maka secara administratif diangkatlah care take Sultan Wakil Pangeran Suramenggala yang menjabat tahun 1808-1809.

Dalam sebagian penulisan sejarah Kesultanan Banten yang menyertakan para care taker Sultan Wakil sebagai Sultan Banten; care taker Sultan Wakil Pangeran Suramenggala kerap ditulis sebagai Sultan Banten ke-19, sebelumnya Sultan Penuh Banten ke-16 diurutkan sebagai Sultan Banten ke-18 dan Sultan Penuh Banten ke-17 kerap ditulis sebagai Sultan Banten ke-20.

Ketika telah dewasa Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin menikah dengan Ratu Putri Fatimah binti Pangeran Ahmad bin Sultan Aliyuddin I (Sultan Penuh Banten ke-13) sebagai penanda pengakuan keluarga dari keturunan Sultan Aliyuddin I atas hak dan sahnya Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin sebagai pewaris tunggal Kesultanan Banten.

Dikarenakan ketidak puasan rakyat terhadap Belanda yang menindas, sering terjadi perlawanan kepada Belanda, untuk melemahkan perlawanan rakyat, Banten dibagi kedalam tiga daerah yang statusnya sama dengan kabupaten yakni : Banten Hulu, Banten Hilir, dan Anyer. Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin kala itu ditunjuk Belanda untuk memimpin Banten Hulu. Sedangkan untuk kepentingan politis, Belanda juga menunjuk suami dari bibi Sultan Shafiuddin, yakni Joyo Miharjo dari Rembang suami Ratu Arsiyah bibi Sultan Shafiuddin sebagai, sebagai Bupati Banten Hilir dengan gelar Sultan Tituler Bupati Muhammad Rafiuddin.

Hal ini membuat beberapa kesalahan dalam penulisan sejarah Kesultanan Banten bahwa Sultan Terakhir Kesultanan Banten adalah Sultan Rafiuddin yang disalah kira sebagai anak Sultan Shafiuddin. Padahal Rafiuddin bukan pewaris sah keturunan para Sultan Banten melainkan orang Rembang yang diberikan pangkat (Tituler) oleh Belanda sebagai Bupati dengan Gelar Sultan Bupati.

Adapun anak-anak dari Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin adalah :

a. Pangeran Surya Kumolo

b. Pangeran Surya Kusumo

c. Ratu Ayu Kunthi

d. Pangeran Timoer Soerjaatmadja

Anak-anak Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin sempat disalah kira dalam beberapa penulisan sebagai anak dari Sultan Tituler Bupati Rafiuddin. Hal ini dikarenakan masyhur dikenal bahwa merekalah anak-anak Sultan Terakhir Banten namun terjadi kesalah fahaman mengenai Sultan Terakhir Banten yang resmi dari trah Kesultanan Banten yang semestinya pada Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin, bukan pada nama Rafiuddin dari Rembang yang sekedar Sultan Tituler Bupati diangkat Belanda dan bukan dari keturunan para Sultan Banten.

Semenjak tahun 1809, Wilayah Banten sudah banyak diotak-atik penjajah Asing dengan pembagian-pembagian wilayah yang meminimalisir kekuatan pengaruh Kesultanan Banten dan untuk memperlemah perlawanan Rakyat Banten yang seringkali terus melawan. Pada saat terjadi peralihan kekuasaan di Nusantara dari Belanda kepada Inggris, diakibatkan kekalahan Napoleon Perancis kepada Inggris. Gubernur Thomas Stanford Rafles dari pemerintahan Inggris tahun 1813 membagi wilayah Banten menjadi 4 Kabupaten yakni Banten Lor (Banten Utara kelak menjadi Kabupaten Serang), Banten Kidul (Banten Selatan kelak menjadi Kabupaten Caringin yang pada tahun 1907 masuk kedalam Kabupaten Pandeglang), Banten Tengah (Kelak menjadi Kabupaten Pandeglang) dan Banten Kulon (Banten Barat kelak menjadi Kabupaten Lebak). Pada tahun 1816 kekuasaan dikembalikan dari Inggris kepada Belanda.

Pada tahun 1832 dikarenakan adanya perlawanan dari rakyat Banten yang terus menerus kepada pemerintah Hindia Belanda, terutama dengan adanya Bajak Laut Selat Sunda. Pemerintah Belanda menganggap adanya bantuan Kesultanan Banten dalam perlawanan tersebut, sehingga pada tahun tersebut Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin dan keluarga dibuang Belanda ke Surabaya hingga wafatnya di tahun 1899 dan dimakamkan di Pemakaman Boto Putih Surabaya di seberang pemakaman Sunan Ampel.

Masa awal Kevakuman Kesultanan Banten

Pada masa Kevakuman Kesultan Banten, rakyat Banten di bawah pimpinan para Ulama Banten secara seporadis kerap melakukan perlawanan kepada pemerintah Hindia Belanda. Banyak perjuangan yang menyuarakan spirit perjuangan kembali memperjuangkan spirit perjuangan kesultanan Banten dan keislaman, yang paling menonjol adalah peristiwa Geger Cilegon tahun 1888.

Sultan Penuh Terakhir Banten yang dibuang ke Surabaya, yakni Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin merasa kecewa terhadap perlakuan pihak penjaja asing dari Eropa serta melarang keturunannya untuk menikah dengan kalangan bule, hal ini dilanggar oleh Pangeran Surya Kumala sehingga hak pewarisan tahta Kesultanan Banten dialihkan kepada Pangeran Timur Soerjaatmadja.
4527/7 <284> < SyaikhTubagus Abdul Mu'in (Buya Mu'in Kamasan)
lahir: 1830, Kamasan; Banten
perkawinan: <19> < Nyi Gede Kamasan
wafat: Kenari, Kasunyatan, Banten
Sumber Foto : Foto Keluarga
3529/7 <211+?> < 1. Nji. R. Hj. Mariah-Asnawi
perkawinan: <21> < 1. R. H. Asnawi b. 27 Mei 1975 d. 27 Mei 1975
wafat: 21 Agustus 1985, Mekah
penguburan: 21 Agustus 1985, Mekah
31210/7 <249+?> < 1. R. Basjah Wiradikusumah
31311/7 <249+?> < 2. R. Moh. Toha
31412/7 <249+?> < 3. R. Achmad
31513/7 <193+16> < 1. Rd. H. Abubakar
31614/7 <194+?> < 1.1.1.1.1.11.2.1.1 Rd. Enoh Adikusumah Natanagara
31715/7 <194+?> < 1.1.1.1.1.11.2.1.2 Rd. Gatot Jayalogawa Natanagara
31816/7 <194+?> < 1.1.1.1.1.11.2.1.3 NRA Bintang Rajaningrat Natanagara
31917/7 <194+?> < 1.1.1.1.1.11.2.1.4 NR Ratu Natanagara
32018/7 <194+?> < 1.1.1.1.1.11.2.1.5 NR Rasmi Natanagara
32119/7 <194+?> < 1.1.1.1.1.11.2.1.6 NR Patimah Natanagara
32220/7 <194+?> < 1.1.1.1.1.11.2.1.7 NR E. Rahmat Natanagara
32321/7 <194+?> < 1.1.1.1.1.11.2.1.8 Rd. H. Dace Natanagara
32422/7 <196+195!> < 1.1.1.1.1.11.2.2.1 Rd. Akung Kartawiraja Sulaeman
32523/7 <195+196!> < 1.1.1.1.1.11.2.2.2 Rd. Enggang Isa Kartawiraja Sulaeman
32624/7 <196+195!> < 1.1.1.1.1.11.2.2.3 Rd. Enggang Dodong Kartawiraja Sulaeman
32725/7 <195+196!> < 1.1.1.1.1.11.2.2.4 Rd. Enggang Endek Kartawiraja Sulaeman
32826/7 <196+?> < 1.1.1.1.1.11.2.3.1 NR Aisyah Habsah Padmanagara
32927/7 <196+?> < 1.1.1.1.1.11.2.3.2 NR Siti Rahmat Padmanagara
33028/7 <196+?> < 1.1.1.1.1.11.2.3.3 NR T. Humaerah Padmanagara
33129/7 <196+?> < 1.1.1.1.1.11.2.3.4 NR Julaeha Padmanagara
33230/7 <196+?> < 1.1.1.1.1.11.2.3.5 Rd. Banteng Natanagara Padmanagara
33331/7 <196+?> < 1.1.1.1.1.11.2.3.6 Rd. Ace Padmanagara
33432/7 <196+?> < 1.1.1.1.1.11.2.3.7 NR Kuraesin Padmanagara
33533/7 <196+?> < 1.1.1.1.1.11.2.3.8 NR Kulsum P. Padmanagara
33634/7 <197+?> < 1.1.1.1.1.11.2.4.1 Rd. Abubakar Jayanagara
33735/7 <197+?> < 1.1.1.1.1.11.2.4.2 Rd. Dalai Sastrawikarta Jayanagara
33836/7 <197+?> < 1.1.1.1.1.11.2.4.3 Rd. Encing Kartakusumah Jayanagara
33937/7 <197+?> < 1.1.1.1.1.11.2.4.4 Rd. Enoch Jayanagara
34038/7 <197+?> < 1.1.1.1.1.11.2.4.5 NR Widianingsih Jayanagara
34139/7 <197+?> < 1.1.1.1.1.11.2.4.6 NR Kendran Jayadiningrat Jayanagara
34340/7 <201> < 1. R. Djali
34441/7 <201> < 2. R. Dodong sdt
34542/7 <203+?> < 1. Nji R. Djulaeha
34643/7 <225+345!> < 1. Nji R. Permasih/Emos
34744/7 <203+?> < 2. Nji R. Djuwita
34845/7 <204+?> < 1. Nji R. Ijoh
34946/7 <205+?> < 1. R. Sulaeman
35047/7 <216> < 1. Nji R. Endah
35148/7 <216+?> < 2. RM. Said
35349/7 <211+?> < 2. R. Thoyfur/Ipung
35450/7 <211+?> < 3. R. Saleh
35551/7 <211+?> < 4. Nji R. Aminah
35652/7 <211+?> < 5. R. Muh. Sapri
35753/7 <207+?> < 1. R. Dang Ali
35854/7 <208+?> < 1. R. Mangkuningrat 35955/7 <209+217!> < 1. R. Umar Sumintawidjaja
36056/7 <217+209!> < 2. Endeh Patimah
36157/7 <210+?> < 1. R. Sugandi
36258/7 <210> < 2. Nji R. Tuti
36359/7 <210> < 3. Nji R. Dedeh
36460/7 <212+?> < 1. Nji R. Ijong
36561/7 <212+?> < 2. R. Somawidjaja
36662/7 <213> < 1. Nji R. Mariah
36763/7 <213> < 2. R. Pandu
36864/7 <214+244!> < 1. Nji Rd. Emin-Cholik
36965/7 <244+214!> < 2. R. Jusuf
37066/7 <215+?> < 1. Nyi R. Kalsum
37167/7 <211+?> < 6. R. Djamhur
37268/7 <211+?> < 7. Nji R. Patimah/Mamah
37369/7 <211+?> < 8. Nji R. Endah Djubaedah
37470/7 <211+?> < 9. R. Memed
37571/7 <211+?> < 11. Nji R. Enung (Nikah Ke R. Asep Tamin bin Kusumahnagara)
37672/7 <211+?> < 12. R. Mansjur
37773/7 <222+?> < 1. R. Jusuf Wiranatanagara Alias Pak Winara
37874/7 <222+?> < 2. Nji R. Itjoh
37975/7 <222+?> < 4. RH. Ahmad
38076/7 <226> < 1. R. Usman
38177/7 <226> < 2. Nji R. Mimi
38278/7 <226+?> < 3. Nji R. Djudju
38379/7 <237+229!> < 1. R. Tojib
38480/7 <237+229!> < 2. Nji R. Uwo
38581/7 <237+229!> < 3. Nji R. Djenab
38682/7 <237+229!> < 4. Nji R. Mariah
38783/7 <229+237!> < 5. R. Jusuf
38884/7 <237+229!> < 6. R. Utjeh
38985/7 <235> < 1. RH. Hasan Sarbini
39086/7 <235> < 2. R. Gosasiah Mekah
39187/7 <235+?> < 3. R. Hamzah
39288/7 <234+?> < 1. RH. Dodong
39389/7 <236> < 1. R. Gozali
39490/7 <236> < 2. R. Kawi Masduki
39591/7 <236> < 3. Nyi Rd. Siti Salamah
39692/7 <238+?> < 1. R. Ibnu Umar
39793/7 <239> < 1. R. Abubakar
39894/7 <239> < 2. R. Soleh (Bodjonggede)
39995/7 <240> < 1. R. Hasan
40096/7 <240> < 2. R. Husen
40197/7 <240> < 3. R. Husin
40298/7 <240> < 4. R. Kurdi
404100/7 <243+?> < 1. Nji R. Marijah
405101/7 <243> < 2. Nji R. Neneng
406102/7 <245> < 1. Nji R. Mimi
407103/7 <248> < 1. Nji R. Djuwita
408104/7 <208+?> < 2. Nji R. Maemunah/Enah
Rd sumareja.png
409105/7 <208+?> < 3. R. Sirod Djajanegara 410106/7 <208+?> < 4. Nyi Rd. Aisah (Imong) 413107/7 <253> < 1. R. Emad
414108/7 <253> < 2. R. Abu
415109/7 <253> < 3. R. Padma
416110/7 <253> < 4. R. Ibrahim
417111/7 <253> < 5. R. Ismail
418112/7 <253> < 6. Rd Ba'i
Silsilah Nasab (Keturunan keatas) Bapak Rd. Ba'i :


- Rd. Ba'i,,

Bin

- Rd. Kusumahnagara (Habib Kusumah),,

Bin

- Rd. Kusumahdilaga,,

Bin

- H. Rd. Adipati Aria Wiranata / Mbah Dalem Seupuh / Bupati Bogor X jaman Hindia Belanda, Kantor Pemerintahan di Sukaraja Bogor (1815-1849 M),,

Bin

- H. Rd. Muhammad Thohir / Auliya Thohir Al Bughuri (1826-1849 M) >(+)< Ratu Syarifah binti Pangeran Ash Shoghiri bin Sulthon Ageng Tirtayasa Kasulthonan Banten,,

Bin

- H. Rd. Tumenggung Wiradiredja / Bupati Bogor II jaman Hindia Belanda, Kantor Pemerintahan di Sukaraja Bogor (1758-1769 M),,

Bin

- H. Rd. Tumenggung Wiradinata / Bupati Bogor I jaman Hindia Belanda, Kantor Pemerintahan di Sukaraja Bogor (1749-1754 M),,

Bin

- Pangeran Wiramanggala / H. Rd. Aria Wira Tanu Datar II / Mbah Dalem Tarikolot Cianjur / Bupati Cianjur II (1691-1707 M),,

Bin

- Pangeran Ngabehi Jayasasana / Jayalalana / Raja Gagang / H. Rd. Aria Wira Tanu Datar I / Mbah Dalem Cikundul Cianjur / Bupati Cianjur I (1677-1691 M),,

Bin

- Pangeran Aria Wangsa Goparana / Sunan Sagalaherang,,

Bin

- Pangeran Aria Kikis / Sunan Wanaperih / Sunan Ciburang,,

Bin

- H. Rd. Rangga Mantri / Prabu Pucuk Umum Talaga / Raja Maja (1529 M) <+> Hj. Ratu Dewi Sunyalarang / Ratu Parung binti Sunan Parung / Batara Sukawayana bin Rd Kusumalaya Ajar Kutamangu / Rd Palinggih bin Rakryan Ningratkancana / Prabu Dewa Niskala / Raja Sunda Galuh,,

Bin

- Munding Laya Dikusumah / Munding Sari Ageung / Munding II / Prabu Munding Suria Ageung / Prabu Munding Wangi,,

Bin

- H. Rd. Pamanah Rasa / Prabu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja / Ratu Jayadewata / Hyang Prabu Silih Wangi / Raja Pakuan Pajajaran (1482–1521 M) <+> Ratu Ratnasih / Nyi Rajamatri / Ratu Istri Rajamantri binti Sunan Pagulingan / Prabu Wirajaya bin Prabu Gajah Agung / Atmabrata / Bagawan Batara Wirayuda bin Pangeran Cinde Kancana Wulung / Hyang Prabu Tajimalela / Prabu Agung Resi Cakrabuana / Batara Tungtang Buana / Batara Kusuma,,


- Rakryan Ningratkancana / Prabu Dewa Niskala / Raja Galuh XXXI (1475-1482 M),,


- Prabu Anggalarang / Prabu Niskala Wastu Kancana / Prabu Wangisutah / Prabu Linggawastu / Raja Sunda Galuh XXX (1371-1475 M),,


- Prabu Lingga Buana / Prabu Ragamulya Luhurprabawa / Prabu Maharaja / Prabu Wangi / Sang Mokteng Ing Bubat / Raja Sunda Galuh Kawali XXVIII (1350-1357 M),,


- Prabu Ajiguna Linggawisesa / Sanglumahing Kiding / Raja Sunda Galuh Kawali XXVI (1333-1340 M) <+> Dewi Uma Lestari / Ratu Santika binti Prabu Lingga Dewata / Raja Sunda Galuh Kawali,,


- Guruminda / Sang Manisri Raja Galuh VIII (783-799 M) <+> Sri Ratu Dewi Purbasari binti Prabu Ciung Wanara,,


- Prabu Ciung Wanara / Sang Manarah / Prabu Jaya Prakosa Mandaleswara Salakabuana / Rd. Suratama Kusumah / Raja Galuh VII (739-783 M),,


- Prabu Permanadikusumah / Maha Raja Adi Mulya / Bagawat Sajalajala / Raja Galuh VI (724-725 M),,


- Rd. Wijaya Kusuma / Mahapatih Saunggalah,,


- Rahyang Purbasora / Raja Galuh IV (716-723 M),,


- Rahyang Sempakwaja / Batara Danghyang Guru Sempakwaja / Pendiri Kerajaan Galunggung (Galuh Hyang Agung),,


- Raja Wretikandayun / Maharaja Suradarma Jayaprakosa / Raja Kendan IV / Raja Galuh I (612-702 M),,


- Raja Kandiawan / Rajaresi Dewaraja Sang Layuwatang / Raja Kendan III (597-612 M),,


- Raja Putra Suraliman / Rajaresi Dewaraja Sang Luyu Tawang Rahyang Tari Medang Jati / Raja Kendan II (568-597 M),,


- Raja Maha Guru Manikmaya / Sanghyang Resiguru Manikmaya / Raja Kendan I (526 - 568 M) <+> Dewi Tirtakancana binti Raja Suryawarman / Raja Tarumanagara VII,,


- Raja Suryawarman / Prabu Tarumanagara VII (535-561 M),,


- Raja Candrawarman / Prabu Tarumanagara VI (515-535 M),,


- Raja Indrawarman / Prabu Tarumanagara V (455-525 M),,


- Raja Wisnuwarman / Prabu Tarumanagara IV (434-455 M),,


- Raja Purnawarman / Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya / Wyagraha Ning Tarumanagara / Harimau Tarumanagara Sang Purandara Saktipurusa Bhimaparakrama Suryamahapurusa Jagatpati / Prabu Tarumanagara III (395-434 M),,


- Raja Dharmayawarman / Sang Lumahing Candrabaga / Prabu Tarumanagara II (382-395 M),,


- Raja Jayasinghawarman / Rajadirajaguru / Jayasinghawarman Gurudarmapurusa / Prabu Tarumanagara I (358-382 M) >(+)< Dewi Minawati / Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi binti Raja Dewawarman VIII / Prabu Darmawirya Dewawarman / Prabu Salakanagara XI,,


- Raja Dewawarman VIII / Prabu Darmawirya Dewawarman / Prabu Salakanagara XI (356-363 M),,


- Mahapatih Pallawa (Menteri Angkatan Laut Kerajaan Pallawa) <+> Sri Gandari Lengkaradewi binti Raja Dewawarman VI / Prabu Ganayanadewa Linggabumi / Prabu Salakanagara VII,,


- Raja Dewawarman VI / Prabu Ganayanadewa Linggabumi / Prabu Salakanagara VII (289-308 M),,


- Raja Dewawarman V / Prabu Darmasatyajaya / Sang Mokteng Samudera / Senapati Sarwajala / Prabu Salakanagara V (252-289 M) <+> Ratu Mahisa Suramardini Warmandewi / Ratu Salakanagara VI (276-289 M) binti Raja Dewawarman IV / Prabu Darma Satyanagara / Raja Ujung Kulon / Prabu Salakanagara IV,,


- Raja Dewawarman IV / Prabu Darma Satyanagara / Raja Ujung Kulon / Prabu Salakanagara IV (238-252 M) <+> Dewi Tirta Lengkara binti Raja Dewawarman III / Prabu Singasagara Bimayasawirya / Prabu Salakanagara III,,


- Raja Dewawarman III / Prabu Singasagara Bimayasawirya / Prabu Salakanagara III (195-238 M),,


- Raja Dewawarman II / Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra / Prabu Salakanagara II (168-195 M),,


- Raja Dewawarman I / Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara / Prabu Salakanagara I (130-168 M) <+> Dewi Pohaci Larasati / Dwi Dwani Rahayu binti Sanghyang Aki Tirem / Sanghyang Kiluhung Mulya Purwasalakanagara,,


- Sanghyang Aki Tirem / Sanghyang Kiluhung Mulya Purwasalakanagara,,


- Sanghyang Aki Srengga / Sanghyang Swarnabhumi Kidul,,


- Sanghyang Nyai Sariti Warawiri / Sanghyang Swarnabhumi Kidul,,


- Sanghyang Aki Bajulpakel / Sanghyang Swarnabhumi Kidul,,


- Sanghyang Aki Dungkul / Sanghyang Swarnabhumi Kulon,,


- Sanghyang Aki Pawang Sawer / Sanghyang Swarnabhumi Kulon,,


- Sanghyang Datuk Pawang Marga / Sanghyang Swarnabhumi Kaler,,


- Sanghyang Aki Bagang / Sanghyang Pulo Hujung Mendini,,


- Sanghyang Datuk Waling / Sanghyang Dukuh Bangawan,,


- Sanghyang Datuk Banda / Sanghyang Langkha Sukkha,,


- Sanghyang Nesan / Mas / Mesekh / Misikh / Jo C Tah / Sanghyang Yawana Syangka,,


- Arom (Aram),,


- Sam,,


- Nabi Nuh AS,,


- Mihlil,,


- Mattu Syalakh,,


- Qinan,,


- Sayyid Anwas (Anwar),,


- Nabi Syits AS / Sanghyang Sita <+> Sayyidah 'Azuro RA / Sanghyang Dewi Mulat,,


- Nabi Adam AS / Sanghyang Janmawalijaya / Sanghyang Adhama <+> Siti Hawa RA / Sanghyang Dewi Janmawanujawa / Sanghyang Dewi Kawahnya,,


- Alam,,


>> NUR ALAM >> NUR MUHAMMAD >> NUR ALLAH...!!!



Catatan :


H. Rd. Tumenggung Wiradinata adalah salah satu Cucu dari Pangeran Ngabehi Jayasasana / Jayalalana / Raja Gagang / H. Rd. Aria Wira Tanu Datar I / Mbah Dalem Cikundul Cianjur, Keturunan (Nasab) Asli dari Hyang Prabu Silih Wangi (Raja Pakuan Pajajaran) hasil dari pernikahan dengan salah seorang Istri yang bernama Ratu Ratnasih,,

Ratu Ratnasih adalah Putu (keturunan ke 3) dari Hyang Prabu Tajimalela (Raja Sumedang Larang), jadi Hyang Prabu Tajimalela adalah Uyut Mertua dari Hyang Prabu Silih Wangi,,

Artinya H. Rd. Tumenggung Wiradinata nasabnya dari Raja Pakuan Pajajaran dan keturunan dari Raja Sumedang Larang,,


- H. Rd. Tumenggung Wiradinata seorang Umaro Pejabat Pemerintah, Bupati Bogor Pertama jaman Hindia Belanda pada tahun 1749-1754 M, Kantor Pemerintahan di Sukaraja Bogor,,

Bupati pada jaman itu setingkat dengan Gubernur pada saat ini NKRI, namun bedanya Bupati pada jaman sebelum NKRI memiliki kekuasaan dan kewenangan penuh yang tidak bisa di ikut campuri (ditekan) oleh siapapun sebab masih menganut sistem Monarki (Kerajaan) yang tidak dijajah oleh pihak manapun, dan yang dimaksud jaman Hindia Belanda disini ialah hubungan Perniagaan antara Kepulauan Laut Hindia dengan VOC (Ikatan para Pedagang dari Negara Belanda),,

Beliau memiliki salah satu Cucu yang bernama H. Rd. Muhammad Thohir / Auliya Thohir Al Bughuri,,


- H. Rd. Muhammad Thohir / Auliya Thohir Al Bughuri adalah seorang Waliullah dan Pemuka Agama Islam dan Pendiri Masjid Agung Ath Thohiriyah Empang, Masjid Pertama Tertua di Bogor Raya,,

Beliau menikah dengan salah seorang Istri yang bernama Ratu Syarifah binti Pangeran Ash Shoghiri bin Sulthon Ageng Tirtayasa (Kasulthonan Banten), hasil dari pernikahannya itu memiliki salah satu Putra yang bernama H. Rd. Adipati Aria Wiranata / Mbah Dalem Seupuh,,


- H. Rd. Adipati Aria Wiranata / Mbah Dalem Seupuh seorang Umaro Pejabat Pemerintah, Bupati Bogor X jaman Hindia Belanda, Kantor Pemerintahan di Sukaraja Bogor (1815-1849 M),,


Wallahu a'lam bishowab...!!!


Rahayu,, 🙏
419113/7 <253> < 7. R. Iting
420114/7 <250> < 1. R. Alibasjah
421115/7 <250> < 2. R. Abubakar
422116/7 <250> < 3. Nji R. Titi Pi'ot
423117/7 <222+?> < 3. R. Hodir
424118/7 <222+?> < 5. Nji R. Aminah
425119/7 <222+?> < 6. R. Muhammad / Opah
426120/7 <214+244!> < 3. RH. Soleh Sodik Nataatmadja
427121/7 <271> < Raden Kumlih
428122/7 <273+?> < Nyi Raden Samroh
429123/7 <274> < Raden Empat
430124/7 <274> < Raden Umar
431125/7 <274> < Raden Masriya
432126/7 <274> < Raden Rojangun
433127/7 <274> < Raden Rukmi
434128/7 <275+?> < 1. R. Abdul Rachman (pm)
435129/7 <275+?> < 2. Nyi.R.Fatimah
436130/7 <276> < 1. NR. Mariah
437131/7 <275+?> < 3. R. Achmad Suhandi 438132/7 <275+?> < 4. RH. E. Muchtar
439133/7 <259> < 1. Rd Suria Ageung
440134/7 <261> < 1. H Rd Partadiredja Abd Manan
441135/7 <267> < 1. H Rd Mansyur
442136/7 <283> < 1. Raden Badar
443137/7 <279> < 1. Rt. Aeriah M.d. Rd. Panji b. Rd. Adam
444138/7 <279> < 2. Rt. Khaeriah M.d. Rd. Alehudin b. Tb. Hayudin
445139/7 <279> < 3. Rt. Marham
446140/7 <279> < 4. Rd. Markum M.d. Rt. Hastina bt. Mohd. Alinurja
447141/7 <279> < 5. Rd. Sajian Makasar
448142/7 <279> < 6. Rt. Sabariah M.d. Ratiyan Banten
449143/7 <256> < 1. Rd Natadiningrat
450144/7 <212+?> < 3. Nyi R. Tirta
451145/7 <212+?> < 4. R. Udi Djuhdi
454146/7 <236> < 4. Nyi Rd. Rahmat
455147/7 <236> < 5. Nyi Rd. Rubi'ah
456148/7 <275+?> < Nyi Rd.Hj. Titi Aisyah 457149/7 <275+?> < Nyi Rd.Iyah Sahriyah
458150/7 <275+?> < Nyi Rd Mariam
459151/7 <275+?> < Nyi Rd Mamah Rahmah
R SOEMANTRI.JPG
460152/7 <242> < R. Andi Soemantri
461153/7 <262> < H Rd Saimbang
462154/7 <285> < R. Haji Hasanudin
463155/7 <265> < H Rd Abdul Qodir Padmanagara (Mama Ace) 464156/7 <289> < Raden Chidir
466157/7 <288> <Ψ Dalam Pendataan
467158/7 <214> < 4. Nyi Rd. Jubaedah
469160/7 <296> < Tubagus Siriakancana Batang
470161/7 <251+?> < 4. Nyi Rd Tati (Istri #4) 471162/7 <251+?> < 1. Nyi Rd Aisyah / Ating
472163/7 <251+?> < 2. Rd Suria
473164/7 <251+?> < 3. Nyi Rd. Tata
474165/7 <298> < Tubagus Mu'in
475166/7 <307+?> < 1. RMH Sulaeman
476167/7 <307+?> < 2. RM Asik
477168/7 <307+?> < 3. NR. Endah
478169/7 <307+?> < 4. NR. Entjung
479170/7 <307+?> < 5. NR Enah
480171/7 <307+?> < 6. NR Homsiah
481172/7 <308> < 1. RH. Kurnaen
482173/7 <309> < Rd.Jipang
483174/7 <257> < R. H Djuhdi
Catatan Admin : Den Agung
484175/7 <299> < Nyi Rd. Domas
486176/7 <310> < Muhammad Qasim / Qisam

8

6451/8 <453> < Raden Maerun (Mamak Erun)
lahir: Bantarjati, Klapanunggal, Cileungsi.
perkawinan:
penguburan: Pemakaman di Masjid Al Mujahidin, Cibarusah, Jawa Barat
Juragan Rd. Maerun (MamaErun) Asal muasalnya (folklore) adalah dari Desa Bantarjati/ Babakan, Cileungsi - Bogor, beliau selain 'alim, juga juragan tanah yang gemar bersedekah, menurut cerita keluarga sesepuh di Cibarusah, Masjid Tua Al Mujahidin, konon dahulunya merupakan wakaf darinya. Menjelang masa tuanya beliau tinggal di Cibarusah hingga wafatnya meninggalkan banyak istri dan anak yang menyebar di Cibarusah, Cileungsi, Cibinong, dan sekitarnya. Jenazahnya dipusarakan disamping pangimbaran Masjid Al Mujahidin, persisnya berdekatan/arah lor dari makam Demang Panji Cibarusah

~ Kesaksian (Alm) Rd.KH. Abdul Haq Hamidi / Mama Eneng, Cibarusah.

Wallahu A'lam Bish-showab.
Donden-1.jpeg
7272/8 <426+?> < 8. RH. Achmad Sukendar (Donden Sukendar)
bermukim: Jl Atzimar II No 1 Bogor Utara
== ASAL-USUL ==

RADEN HAJI ACHMAD SUKENDAR DIPONEGORO alias Donden Sukendar, lahir di Bogor pada ....., ..........19... putra ke 8 dari 9 bersaudara dari pasangan orang tua RH. Soleh Sodik Nataatmadja (Generasi ke 7 dari Sultan Hamengku Buwono III, Generasi ke 5 dari Sultan Haji/Sultan Abu Al Nashr 'Abdul Qahar Banten) dengan Ny. Rd. Hj. Siti Nurkoyah, menikah (tanggal), (bulan), (tahun) dengan Suherti putri Orang:............................. (asal/keturunan), dikaruniai 4 orang anak :

1. Ny.Rd. Indri Agustia
2. R. Idham Khaliq
3. RM. Shobur
4. R. Achmad Juarsa

Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)

0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA 
1. BPH. Dipanegara 
2. RM. Djonet Dipamenggala 
3. RM. Haryo Dipomenggolo 
4. RAy. Gondomirah
5. RAy. Rd. Antamirah 
6. RH. Ipih Sodik Nataatmadja 
7. RH. Soleh Sodik Nataatmadja 
8. RH. Achmad Sukendar Diponegoro (Donden Sukendar) 
 
 - Belum Ada Kekancingan -
 Banten.jpg  SILSILAH KELUARGA (JALUR SULTAN BANTEN)
0. Sultan Haji / Sayyid Abu Al Nashr 'Abdul Qahar Al Azmatkhan Al Husaini 
1. Pangeran Sayyid Muhammad Thahir al-Azmatkhan al-Husaini / Kanjeng Raden Tumenggung Prawirokusumo 
2. RA. Sutawidjaja 
3. RA. Mangkuwidjaja (Hoofd Djaksa & Hoofd Demang Bogor) 
4. Tb.H. Ipih Sodik Nataatmadja 
5. Tb.H. Soleh Sodik Nataatmadja 
6. Tb.H. Achmad Sukendar (Donden Sukendar) 
 
 - Belum Ada Kekancingan -
Cianjur.jpeg  SILSILAH KELUARGA (JALUR DALEM CIKUNDUL)

0. Pangeran Ngabehi Jayasasana/Jayalalana/Raja Gagang/H Rd Aria Wiratanu I/Mbah Dalem Cikundul Cianjur (Bupati Cianjur #I, 1681-1691)
1. Pangeran Wiramanggala / H Rd Aria Wiratanu II / Mbah Dalem Tarikolot Cianjur (Bupati Cianjur #II, 1691-1707)
2. H Rd Tumenggung Wiradinata (Bupati Bogor ke 6, 1749 - 1754
3. H Rd Tumenggung Wiradiredja (Bupati Bogor ke 8, 1758 - 1769
4. H Rd Muhammad Thohir (Auliya / Penghoeloe Bogor, 1826)
5. RAy. Habibah
6. RA. Mangkuwidjaja (Hoofd Djaksa & Hoofd Demang Bogor, 1866-1870) 
7. RH. Ipih Sodik Nataatmadja 
8. RH. Soleh Sodik Nataatmadja 
9. R.H. Achmad Sukendar (Donden Sukendar)

 - Belum Ada Kekancingan -
Logo-KSL1.jpeg  SILSILAH KELUARGA (JALUR SUMEDANG LARANG)

0. Prabu Geusan Ulun / Pangeran Kusumadinata II (Pangeran Angkawijaya) (Prabu Sumedanglarang ke 9, 1578-1610)
1. Pangeran Rangga Gede / Kusumadinata IV (Bupati Sumedang ke 2, 1625-1633)
2. Dlm. Rangga Gempol II / Kusumadinata V / Raden Bagus Weruh (Bupati Sumedang ke 3, 1633-1656)
3. Pangeran Panembahan/Rangga Gempol III (Bupati Sumedang ke 4, 1656-1706)
4. Tumenggung Tanoemadja (Bupati Sumedang ke 5, 1706-1709)
5. Pangeran Rangga Gempol IV / Raden Tumenggung Kusumahdinata VI / Pangeran Karuhun (Bupati Sumedang ke 6, 1709-1744)
6. Dalem Istri Rajaningrat (Bupati Sumedang ke 7, 1744-1749)
7. Dalem. Rd. Soerialaga / Soerialaga I / Adipati Kusumadinata (Bupati Sumedang ke 10, 1765 - 1773
8. Dalem Raden Soerialaga II / Raden Tumenggung Suryalaga II (Dalem Taloen) (Bupati Bogor ke 8, 1801 - 1811
9. Patih Rangga Candramenggala
10. Raden Tumenggung Adipati Suradimenggala (Bupati Bogor ke 8, 1758 - 1769)
11. RAy. Rd. Antamirah 
12. RH. Ipih Sodik Nataatmadja 
13. RH. Soleh Sodik Nataatmadja 
14. R.H. Achmad Sukendar (Donden Sukendar)

 - Belum Ada Kekancingan -


PENDIDIKAN

- SD  (Thn .....)
- SMP (Thn .....)
- SMA (Thn .....)
- Perguruan Tinggi (Thn ....) 

PEKERJAAN

Tahun ....- ....., ...............................;
Tahun ....- ....., ...............................;
Tahun ....- ....., ...............................;
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
5894/8 <412> < 1. Pangeran Surya Kumolo
gelar: 1832 - 1888, Sultan Banten Ke XVIII
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang Sultan Penuh Terakhir Banten yang dibuang ke Surabaya, yakni Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin merasa kecewa terhadap perlakuan pihak penjaja asing dari Eropa serta melarang keturunannya untuk menikah dengan kalangan bule, hal ini dilanggar oleh Pangeran Surya Kumala sehingga hak pewarisan tahta Kesultanan Banten dialihkan kepada Pangeran Timur Soerjaatmadja.
6445/8 <452+19> < 1. Kiyai Tubagus Achmad Muntari (Mbah Mun)
lahir: 1860, Kenari, Banten, Jawa Barat
perkawinan: <685!> < Nyi Raden Siti Jama' b. 1878
wafat: 1940, Sukaraja - Cimahpar, Bogor, Jawa Barat
RMH. Moch Rana Manggala
4876/8 <311+20> < 1. RM. H. Moch. Rana Menggala (Cucu RM. Ngabehi Dipomenggolo)
lahir: 1866c, Empang, Kota Bogor
pekerjaan: 1916 - 1938, PENGHULU TJIAWI - BUITENZORG
wafat: 1938
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Silsilah Keturunan RMH. Moch Rana Manggala (Sumber: WA. R. UKE SUKMAWATI KARIM)

RANA1.jpg |

RANA2.jpg
Capek.jpeg
4887/8 <311+20> < 2. RM. H Abdul Ghani / Rm.h. Sarhun / Lurah Ihun
lahir: 1869c, Empang, Kota Bogor
perkawinan:
pekerjaan: 1906 ? 1923, LURAH LEBAK PASAR-BUITENZORG
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

orng:

Orang:629893|R.H. YASIN Orang:629895|R.H. ALI Orang:629896|R.H. ABDUL MANAN (Adung) Orang:629897|R.Hj. SUPIAH (Siti) Orang:629898|R.Hj. ENCUNG] Orang:629916|R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata) Orang:629917|R.MASDIR KURNAEN (Aeng) Orang:629918|R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF Orang:629920|R.MASDIR SUMANTRI (Ati) Orang:629934|R.MASDIR EMAN SULAEMAN

Abdul GHANI-2 : 1179717
Capek.jpeg
4898/8 <311+20> < 3. RM. H. Muhammad Hasyir
lahir: 1872c, Empang-Bogor
Capek.jpeg
4909/8 <311+20> < 4. RM. H. Harisun
lahir: 1875c, Empang-Bogor
68510/8 <465+?> < Nyi Raden Siti Jama'
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
59211/8 <412> < 4. Pangeran Timoer Soerjaatmadja
gelar: 1888 - 1946, Sultan Banten Ke XIX
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Masa awal Kevakuman Kesultanan Banten

Pada masa Kevakuman Kesultan Banten, rakyat Banten di bawah pimpinan para Ulama Banten secara seporadis kerap melakukan perlawanan kepada pemerintah Hindia Belanda. Banyak perjuangan yang menyuarakan spirit perjuangan kembali memperjuangkan spirit perjuangan kesultanan Banten dan keislaman, yang paling menonjol adalah peristiwa Geger Cilegon tahun 1888.

Sultan Penuh Terakhir Banten yang dibuang ke Surabaya, yakni Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin merasa kecewa terhadap perlakuan pihak penjaja asing dari Eropa serta melarang keturunannya untuk menikah dengan kalangan bule, hal ini dilanggar oleh Pangeran Surya Kumala sehingga hak pewarisan tahta Kesultanan Banten dialihkan kepada Pangeran Timur Soerjaatmadja.
68812/8 <470+16> < 19. Rd. Tjetje Tirta Winata
Orang:1307805
57813/8 <408+24> < 1. Rd. Muhtar Suma Kusyadi (Enggan) (uwa Gang Selot)
lahir: 6 Mei 1909, Bogor
RdMiftahSumaTuryandiAden.png
73614/8 <408+24> < 2. Rd. Miftah Suma Turyandi (Aden)
lahir: 21 Oktober 1910, Bogor
perkawinan: <32> < Ny. Rd. Lili Mersih
Rd sumareja.png Rdmiftah.png
57915/8 <408+24> < 3. Rd. Mislah Suma Husyadi (Djagan) (uwa Dawuan)
lahir: 18 Juli 1912
50016/8 <359> < 1. Rd. Usman Sumintawijaya
lahir: 1913
wafat: Jl Ciasem, Kebayoran Baru, Jaksel
wafat: 1955
penguburan: Pamoyanan-Bogor
Catatan : (dari R. Gunawan Dipomenggolo) Tanah aki Usman Sumintawijaya dari Bondongan sampe Empang, katanya Ibu beliau masih turunan Habib Empang, tapi silsilah beliau masih gelap Saya hanya tahu ayahnya bernama Umar Sumintawijaya bin Angkawijaya, beliau wafat tahun 1955 di usia 42 tahun, kayanya beliau masih famili dengan Nini Umriyah, semasa hidupnya beliau kepala Kantor Pos di beberapa kota pulau Jawa, pada saat bertugas di Magelang sekitar tahun 1930-an lahirlah Ibu Saya di Muntilan, makanya di beri nama Mundiyah, mungkin lahir di muntilan napak tilas Eyang Diponegoro, Aki Usman wafat di rumahnya jl Ciasem, Kebayoran Baru, Jaksel, kemudian dipindah ke makam keluarga Pamnoyanan
Ciamis-2.png
50817/8 <318+?> < 1.1.1.1.1.11.4.2.13 RTA Sulaeman Sastrawinata
gelar: 1914 - 1935, Bupat Ciamisi
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Aria Sastrawinata Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Raden Tumenggung Aria Sastrawinata Bupati Ciamis ke-1/21 Masa jabatan 1914 – 1935 Presiden Ratu Wilhelmina Didahului oleh Raden Adipati Aria Kusumasubrata Digantikan oleh R. T. Aria Sunarya Informasi pribadi Lahir Bendera Hindia Belanda Jawa Barat Kebangsaan Indonesia Agama Islam

Raden Tumenggung Aria Sulaeman Sastrawinata adalah Bupati Ciamis periode 1914 - 1935. [1]

Daftar isi

   1 Biografi
   2 Galuh jadi Ciamis
   3 Alasan Perubahan Nama
   4 Referensi

Biografi

Namanya RTA Sulaeman Sastrawinata putra RTA Hasan Sastradiningrat II putra RTA Sastradiningrat I putra Rd. Aria Sastradipura I putra Rd Adipati Aria Panatayuda IV (Adpati Karawang V) putra Rd. Arya Panatayuda III (Adipati Karawang IV) putra Rd. Jayanagara (Adipati Karawang III) putra Rd Anom Wirasuta/ Panatayuda I (Adipati Karawang II) Putra Rd. Adipati Singaperbangsa (Bupati Karawang I) putra Adipati Kertabumi II putra Pangeran Rangga Patra Kelana/ Raja Galuh Kertabumi ke-1 (1585 – 1602) M putra Prabu Geusan Ulun/ Pangeran Angkawijaya (1578-1610) M.[2]


Galuh jadi Ciamis

Kabupaten Galuh berganti nama menjadi Kabupaten Ciamis pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Aria Sastrawinata pada tahun 1914, yang bukan berasal dari keturunan Prabu Haur Kuning atau bukan berasal dari keturunan silsilah Raja/ Bupati Galuh, yang ditunjuk Pemerintahan Belanda dalam upaya politik pecah belah Pemerintahan Belanda.

Mungkin itu karena ia tidak memiliki darah Galuh sehingga tidak merasa sungkan untuk merubah nama Galuh atau mempunyai alasan lain padahal nama itu sudah ada 13 abad lalu sejak didirikan Kerajaan Galuh 23 Maret tahun 612 M oleh Sang Prabu Wretikandayun di Situs Karangkamulyan, Cijeungjing, Ciamis sekarang. Alasan Perubahan Nama

Prof. A. Sobana Hardjasaputra M.A, (lahir di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, 4 September 1944) adalah intelektual Sunda, sejarawan senior, pemerhati masalah sejarah daerah dan sosial budaya yang merupakan salah satu guru besar Fakultas Sastra dan pengelola Pusat Penelitian Kesejarahan & Kebudayaan, Universitas Pajajaran, serta Universitas Galuh yang berasal dari Galuh, Ciamis, Tatar Pasundan, berpendapat: Perubahan nama Galuh menjadi Ciamis itu dilakukan pada tahun 1915, namun diresmikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1 Januari 1916. Saat itu, Pemerintah Hindia Belanda hanya meresmikan, sementara gagasannya dari Bupati Sastrawinata. Motivasinya itu karena tidak ingin disangkutpautkan dengan keluarga Bupati Galuh, karena Bupati Kerawang (Karawang). Padahal, Bupati Kerawang yang dimaksud adalah kakeknya, itu tidak ada tekanan dari pihak Belanda, karena penamaan daerah bagi mereka masa bodoh, yang penting meresmikan. Kalau ada ikut campur maka akan terjadi antipati terhadap kolonial. Padahal itu yang dijaga. Jadi, perubahan Galuh menjadi Ciamis tanpa dasar," jelasnya.[3] Pergantian nama Galuh menjadi Ciamis hanya didasarkan pada alasan pribadi Bupati Sastrawinata. Ia tidak mau dianggap keturunan bupati Galuh, karena ia adalah keturunan langsung bupati Karawang.[4] Padahal Bupati Sastrawinata masih keturunan Adipati Galuh Kertabumi ke-1. Referensi

   ^ http://sparmanhero.blogspot.co.id/2013/04/silsilah-para-bupati-kabupaten-ciamis.html
   ^ http://sr.rodovid.org/wk/%D0%9E%D1%81%D0%BE%D0%B1%D0%B0:908166
   ^ http://daerah.sindonews.com/read/1075926/21/nama-kabupaten-ciamis-berubah-menjadi-kabupaten-galuh-1452477570
^ http://sobhar.blogspot.co.id/2013/06/ciamis-kembalikan-lagi-ke-galuh.html
58018/8 <408+24> < 4. Ny. Rd. Diyoh Djueriah
lahir: 18 November 1914
58119/8 <408+24> < 5. Rd. Muhamad
lahir: 5 September 1916
Sumber Foto : Foto Keluarga
53220/8 <352+21> < 1. R. H. Ma'mun
lahir: 17 Maret 1917, Bogor
perkawinan: <33> < Nyi. R. Bidan d. 4 September 1969
penguburan: 21 Desember 2001, Pemakaman Keluarga, Kaum Seuseupan Ciawi-Bogor
wafat: 31 Desember 2001, Kaum Seuseupan Ciawi-Bogor
58221/8 <408+24> < 6. Rd. Mukmin Suma Permadi
lahir: 9 Februari 1918
58322/8 <408+24> < 7. Ny. Rd. Mulyani (Nani)
lahir: 25 Mei 1919
58423/8 <408+24> < 8. Ny. Rd. Mulyati (Yayat)
lahir: 6 Maret 1921
58524/8 <408+24> < 9. Rd. Affandi (Apit)
lahir: 30 Maret 1922
58625/8 <408+24> < 10. Ny. Rd. Mulyatin (Titih)
lahir: 29 Juni 1923
R Entjep.JPG
64726/8 <403+23> < R. Entjep Soehandi
lahir: 25 Desember 1923
perkawinan: <34> < Momon Marmoni
wafat: 7 Maret 1993
58727/8 <408+24> < 11. Rd. Adi
lahir: 25 Agustus 1924
65128/8 <451> < Rd H Ule Djulaeha
lahir: 1925?
perkawinan: <646!> < R. Aden Sukardi d. 5 Oktober 1976
69929/8 <408+24> < 12. Rd. Mulyandi (Deden)
lahir: 13 Desember 1926
70030/8 <408+24> < 13. Ny. Rd. Ucu Mulyawati (Cucu)
lahir: 13 Desember 1926
70131/8 <408+24> < 14. Ny. Rd. Ucu Mulyana (Nensih)
lahir: 25 Maret 1929
70232/8 <408+24> < 15. Rd. Muslihat (Mumu)
lahir: 4 Maret 1931
73933/8 <408+24> < 18. Ny. Rd. Mukminat (Poppy)
lahir: 26 Maret 1934, Bogor
64634/8 <403+23> < R. Aden Sukardi
perkawinan: <651!> < Rd H Ule Djulaeha b. 1925?
perkawinan: <35> < Tjitjoh
wafat: 5 Oktober 1976
49135/8 <313> < NYI R. Soleha
49236/8 <313> < R. Musa
49337/8 <314> < NYI R. Sukarsih
49438/8 <314> < R. Gunawan
49539/8 <314> < R. Harun
49640/8 <314> < NYI R. Supiah
49741/8 <314> < NYI R. Siti Entit
49842/8 <314> < R. Jamil
49943/8 <314> < NYI R. Sumini
50144/8 <315> < 1. Rd. Muhammad Toha (Rd. Puradinata)
50245/8 <315> < 2. Rd. Ratnaningsih
50346/8 <315> < 3. Ny. Rd. Resmi
50447/8 <315> < 4. Rd. Ma`mun...........Lain Ibu
50548/8 <315> < 5. Rd. Mu`man...........
50649/8 <315> < 6. Rd. Abdul Rifa`i.....
50750/8 <318+?> < 1.1.1.1.1.11.4.2.12 Rd. Kahpi Sastranagara
50951/8 <318+?> < 1.1.1.1.1.11.4.2.14 NR Dinar Sastradiningrat.
51052/8 <318+?> < 1.1.1.1.1.11.4.2.15 NR Suhaeran Sastradiningrat
51153/8 <318+?> < 1.1.1.1.1.11.4.2.16 NR Jenab Sastradiningrat
51254/8 <318+?> < 1.1.1.1.1.11.4.2.17 Rd. Bintang Sastradipura
51355/8 <328+?> < 1.1.1.1.1.11.4.6.1 Rd. Gajali Kusumahnagara Sumadipura
51456/8 <328+?> < 1.1.1.1.1.11.4.6.2 Rd. Ali Sumanagara Sumadipura
51557/8 <328+?> < 1.1.1.1.1.11.4.6.3 Rd. Usup Sumawinata Sumadipura
51658/8 <328+?> < 1.1.1.1.1.11.4.6.4 Rd. Ayub Sumadipura
51759/8 <328+?> < 1.1.1.1.1.11.4.6.5 Rd. Karnaen Suma Atmaja Sumadipura
51860/8 <328+?> < 1.1.1.1.1.11.4.6.6 NR Ellis Rasade Sumadipura
51961/8 <328+?> < 1.1.1.1.1.11.4.6.7 Rd. Hamjah Sumadipura
52062/8 <328+?> < 1.1.1.1.1.11.4.6.8 Rd. Benum Sumadipura
52163/8 <328+?> < 1.1.1.1.1.11.4.6.9 NR Mukti Sumadipura
52264/8 <328+?> < 1.1.1.1.1.11.4.6.10 NR Julaeha Sumadipura
52365/8 <328+?> < 1.1.1.1.1.11.4.6.11 NR Awang Sumadipura
52466/8 <347+?> < 1. R. Mundji
52567/8 <348> < 1. R. Tjetjeng
52668/8 <348> < 2. R. Jusuf
52769/8 <358+22> < 1. RM. Saleh Hadiningrat/Pupung
52870/8 <359> < 2. R. Ule
52971/8 <359> < 3. Nji R. Tjitjih
53072/8 <359> < 4. R. Diding
Sumber Foto : Foto Keluarga
53173/8 <352+21> < 2. R. Malik
Sumber Foto : Foto Keluarga
53374/8 <352+21> < 6. R. Adang Keson
53475/8 <352+21> < 3. Nji R. Siti Warikoh
53576/8 <352+21> < 5. Nji R. Habibah 53677/8 <352+21> < 4. Nji R. Siti Sa'diah 53778/8 <353+?> < 1. Nji R. Dadah
53879/8 <353> < 2. Nji R. Tintin
53980/8 <354> < 1. R. Subur
54081/8 <354+?> < 2. R. Sanusi
54182/8 <355+?> < 1. Nji R. Utit
54283/8 <355> < 2. R. Adang
54384/8 <355> < 3. R. Ujung
54485/8 <355> < 4. Nji R. Etet
54586/8 <355> < 5. Nji R. Itje
54687/8 <355> < 6. Nji R. Eli
54788/8 <355> < 7. Nji R. Hani
54889/8 <356> < 1. R. Djadja
54990/8 <356> < 2. R. Maman
55091/8 <356> < 3. Nji R. Jajang
55192/8 <356> < 4. Nji R. Ema
55293/8 <356> < 5. R. Said
55394/8 <356> < 6. Nji R. Nurdjanah
55495/8 <356> < 7. R. Emud
55596/8 <356> < 8. R. Adu
55697/8 <356+?> < 9. Nji R. Ida
55798/8 <371> < 1. Nji R. Emaj
55899/8 <371> < 2. R. Dundun
559100/8 <371> < 3. R. Didi
560101/8 <372+?> < 1. R. Fu'ad
561102/8 <376> < 1. Nji R. Enah
562103/8 <376> < 2. Nji R. Endah
563104/8 <376> < 3. R. Harun
564105/8 <358+22> < 2. Nji R. Djadjeng-Sjaaf Rusli
565106/8 <358+22> < 3. R. Muh. Hadiningrat
566107/8 <358+22> < 4. R. Husen Djajadiningrat/Diding
567108/8 <358+22> < 5. Nji R. Siti Aminah/Itje
568109/8 <358+22> < 6. Nji R. Siti Rahmah/Emi
569110/8 <358+22> < 7. R. Mochtar/Bob
570111/8 <358+22> < 8. Nji R. Nine (..............) 571112/8 <358+22> < 9. R. Hasan Mangkuningrat
572113/8 <358+22> < 10. Nji R. Siti Mariam/Meri
573114/8 <358+22> < 11. R. Isa Mangkuningrat
574115/8 <358+22> < 12. Nji R. Siti Djenab/Jutje
575116/8 <358+22> < 13. Nji R. Angrum/Angki 576117/8 <358+22> < 14. Nji R. Ratna Kantjana/Koni
577118/8 <358+22> < 15. Nji R. Komariah/Komi
588119/8 <409+25> < 1. R. Dadang Ismail
590120/8 <412> < 2. Pangeran Surya Kusumo
591121/8 <412> < 3. Ratu Ayu Kunthi
593122/8 <377> < 1. Nji R. Jojoh
594123/8 <377> < 2. Nji R. Apun
595124/8 <377> < 3. R. Soleh
596125/8 <377> < 4. Nji R. Mamah
597126/8 <377> < 5. Nji R. Eha
598127/8 <377> < 6. Nji R. Titin
599128/8 <377> < 7. Nji R. Enggang
600129/8 <378> < 1. R. Entang
601130/8 <378> < 2. R. Tjetjeng
602131/8 <378> < 3. Nji R. Entin
603132/8 <378> < 5. Nji R. Endjah
604133/8 <378> < 6. Nji R. Tjirji+Sanusi
605134/8 <378+?> < 7. Nji R. Uriah
606135/8 <423> < 1. R. Pepen
607136/8 <423> < 2. Nji R. Nena
608137/8 <423+?> < 3. Nji R. Iim
609138/8 <379> < 1. R. Dadeng/Muhammad
610139/8 <379> < 2. Nji R. Sofiah/Titin + Tohir
611140/8 <379> < 3. Nji R. Fatimah
612141/8 <379> < 4. Nji R. Maemunah + Aden
613142/8 <379> < 5. R. Abdullah
614143/8 <379+?> < 6. R. Abdul Hai
615144/8 <424> < 1. R. Muchtar
616145/8 <424+?> < 2. R. Jusuf/Empih
617146/8 <425> < 1. R. Miftah
618147/8 <425> < 2. Nji R. Endah
619148/8 <425> < 3. R. Mumuh
620149/8 <425> < 4. Nji R. Iim
621150/8 <425+?> < 5. Nji R. Jojoh
622151/8 <427> < Raden Hamid
623152/8 <428+?> < RH Idris
624153/8 <429> < Raden Syarifudin
625154/8 <430> < R Asik
626155/8 <431> <Ψ R Permas
627156/8 <432> < R Arsad
628157/8 <440> < 1. Nyi R. Ijoh
629158/8 <441> < 1. R. Djuhdi
630159/8 <441> < 2. R. Musa
631160/8 <441> <Ψ 3. R. .....................
632161/8 <442> < 1. Ajengan R.h. Zainal Abidin Parung Banteng Cibarusah

5.2.2.2.1.1.1. Ajengan R.H. Zainal Abidin Parung Banteng Cibarusah, berputra :

5.2.2.2.1.1.1.1. R. Abbas H. Sirod
5.2.2.2.1.1.1.2. Ratu Suhana Cibarusah
5.2.2.2.1.1.1.3. Ratu Asiyah Cibarusah
5.2.2.2.1.1.1.4. Ratu Chodijah Cibarusah
5.2.2.2.1.1.1.5. Ratu Mariyah
5.2.2.2.1.1.1.6. Ratu Mirah
5.2.2.2.1.1.1.7. Ratu Darma
633162/8 <446> < 1. Rt. Hatijah M.d. R. Misdar b. Abdullah
634163/8 <446> < 2. Rd. Sana M.d. Ny.Rd. Juhaemi b. Rd. Bondan
635164/8 <346> < 1. Nyi R. Widari
636165/8 <346> < 2. R. Memed
637166/8 <346> < 3. R. Rusadi
638167/8 <346> < 4. R. Hamid
639168/8 <346+?> < 5. Nyi R. Diah
640169/8 <364+?> < 1. Nyi R. Tjitjoh
641170/8 <364+?> < 2. Nyi R. Ijah
642171/8 <451> < R. Hj. Soleha 643172/8 <451> < 2. R. Deden
648173/8 <403+23> < R. Adang Soekarna
Padma.JPG
649174/8 <403+23> < R. Padma Saputra
650175/8 <403+23> < R. H. Djadja Pandumihardja 652176/8 <394> < 1. Nyi Rd. E. Hasanah
653177/8 <394> < 2. R.m. Pahruroji
654178/8 <394> < 3. Nyi Rd. E. Nuraeni
655179/8 <394> < 4. Nyi Rd. Uju Julaeha
656180/8 <394> < 5. R. E. Jarkasih
657181/8 <394> < 6. R. Ei Nurjaman
658182/8 <394> < 7. Nyi Rd. Hj. E. Julaeha
659183/8 <456+27> < Rd.Hj Heni Haeriah 660184/8 <456+27> < R Ali Rahmat
661185/8 <456+27> < Rd Yeyen Maryani
662186/8 <456+27> < Rd Tati Martati
663187/8 <456+27> < R Herman Sukarja
664188/8 <456+27> < R Moch Harris
665189/8 <456+27> < Rd Rida Afrida
666190/8 <352+21> < 7. Nyi. R. Siti Maemunah
667191/8 <352+21> < 8. Nyi. R. Umi Kulsum
668192/8 <352+21> < 9. Nyi. R. Siti Mariam
669193/8 <352+21> < 10. Nyi. Siti Fatimah
670194/8 <437+536!> < R. Yadi
671195/8 <437+536!> < R. Yanti
672196/8 <437+536!> < R. Rudi
673197/8 <437+536!> < R. Dadang
674198/8 <437+536!> < R. Heri
675199/8 <437+536!> < R. Asep
676200/8 <460> < R. Endeh Ratna Komariyah
677201/8 <461> < H Rd Muhammad Adam
678202/8 <462> < R. Ateng Lahad
679203/8 <463+28> < 1. H Rd Yusuf Wira Natanagara (Pa Winara)
680204/8 <463+28> < 2. Nyi Rd Siti Aisah
681205/8 <463+28> < 3. H Rd Hodir Padmanagara
682206/8 <463+28> < 4. H Rd Ahmad Abdul Qodir
683207/8 <463+28> < 5. Nyi Rd Siti Aminah
684208/8 <463+28> < 6. H Rd Muhammad Padmanagara (Opah)
686209/8 <464> < Rd. H. Moch. Adam
687210/8 <464> < Rd. H. Suta Asria
689211/8 <467> < 1. Nyi Rd. Rubiah
691213/8 <451> < R. Haji Sudjai Zuhdi
692214/8 <468> < 1. Sy. Ratu Sutiani Sastrowardoyo
693215/8 <468> < 2. Sy. Rd. Suprapto Sastrowardoyo
694216/8 <468> < 4. Sy. Rd. Sugiharto Sastrowardoyo
695217/8 <468> < 5. Sy. Rd. Sudibyo Sastrowardoyo
696218/8 <468> < 6. Sy. Rd. Sugiarso Sastrowardoyo
697219/8 <468> < 7. Sy. Ratu Suniati Sastrowardoyo
698220/8 <469> < Tubagus Pudian
703221/8 <470+16+?> < 18. Nyi Rd Enor Hanah
704222/8 <452+19> < 2. KH. Tubagus Achmad Muntadhor
705223/8 <452> < 3. KH. Tubagus Achmad Muntaqo'
706224/8 <474> < Tubagus Abdul Majid
707225/8 <471+?> < 1. Ny. Rd. Kuraesin (Ecin)
708226/8 <471+?> < 2. Ny. Rd. Titi
709227/8 <471+?> < 3. Ny. Rd. Omi
710228/8 <471+?> < 4. RH. Uwes (Dadeng)
711229/8 <471+?> < 5. RH. Abdul Salam (Duyong)
712230/8 <471+?> < 6. Ny. Rd. Huriah (Tjioh)
713231/8 <471+?> < 7. Ny. Rd. Uti Ratnaningsih
714232/8 <471+?> < 8. Rd. Hidayat
715233/8 <471+?> < 9. Ny. Rd. Habibah
716234/8 <473> < 1. RH. Sirodj (Penghulu Purwakarta)
717235/8 <473> < 2. Rd. Emed (Penghulu Lemah Abang)
718236/8 <473> < 3. Rd. Dudung
719237/8 <473> < 4. Rd. Timi
720238/8 <426+?> < 1. Ny. Rd. Siti Djuariah (Pupu Nuju Bayi)
721239/8 <426+?> < 2. RH. Achmad Sobari
722240/8 <426+?> < 3. Ny. Rd. Hj. Solihat
723241/8 <426+?> < 4. RH. Achmad Sudardjat
724242/8 <426+?> < 5. Ny.Rd.Hj. Siti Aisyah
725243/8 <426+?> < 6. R. Moch. Supriatna (Tatan Muchtar)
726244/8 <426+?> < 7. Ny.Rd. Hj. Siti Sofiati
728245/8 <426+?> < 9. RH. Dodi Firdaus
729246/8 <481> < 1. RH. Soleh
730247/8 <323> < Rd. H. Abubakar Natanagara
731248/8 <482> < Rd.Karsunan
733249/8 <484> < Raden H. Bondan
734250/8 <485> < Ratu Khadariyah
735251/8 <486> < Maulana Nasrullah
737252/8 <408+24> < 16. Rd. Muhamad Husen (meninggal Saat Masih Kecil)
738253/8 <408+24> < 17. Rd. Mutahir (meninggal Sekitar Umur 2 Tahun)