Ratu Adi Kalsum - Keturunan (Inventaris)

Dari Rodovid ID
Orang:1302185
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.

1

11/1 <?> < Ratu Adi Kalsum

2

LAMBANG KESULTANAN BANTEN
21/2 <1+1> < 1. Sultan Haji / Syarif Abu Al Nashr 'Abdul Qahar
lahir: 1658c, (1631+27)
gelar: 1683 - 1687, Sultan Banten Ke VII
penguburan: Sedakingkin-Banten
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

berputra:

   Sultan Abdul Fadhl
   Sultan Abul Mahasin
   Pangeran Muhammad Thahir
   Pangeran Fadhludin
   Pangeran Ja’farrudin
   Ratu Muhammad Alim
   Ratu Rohimah
   Ratu Hamimah
   Pangeran Ksatrian
   Ratu Mumbay (Ratu Bombay)

Masa Raja / Sultan Banten ke 7

Sultan Haji dinobatkan menjadi Sultan Banten (1682-1687) Dengan gelar Sultan Abu Nashr Muhammad Abdul Kahar. Penobatan ini disertai beberapa persyaratan. Persyaratan tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah perjanjian yang ditandatangani pada 17 April 1684 yang meminimalkan kedaulatan Banten karena dengan perjanjian itu segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan dalam dan luar negeri harus atas persetujuan VOC. Dengan ditandatanganinya perjanjian itu, selangkah demi selangkah VOC mulai menguasai Kesultanan Banten dan sebagai simbol kekuasaannya, pada tahun 1684-1685 VOC mendirikan sebuah benteng pertahanan di bekas benteng kesultanan yang dihancurkan. Selain itu, didirikan pula benteng Speelwijk sebagai bentuk penghormatan kepada Speelman yang menjadi Gubernur Jenderal VOC dari tahun 1682 sampai dengan 1685. Demikian pula Banten sebagai pusat perniagaan antarbangsa menjadi tertutup karena tidak ada kebebasan melaksanakan politik perdagangan, kecuali atas izin VOC.

Penderitaan rakyat semakin menjadi karena monopoli perdagangan VOC. Dengan kondisi demikian, sangatlah wajar kalau masa pemerintahan Sultan Haji banyak terjadi kerusuhan, pemberontakan, dan kekacauan di segala bidang yang ditimbulkan oleh rakyat. Selain menghadapi penentangan dari rakyatnya sendiri, Sultan Haji pun menghadapi suatu kenyataan tekanan dari VOC yang tuntutannya sesuai perjanjian harus diturut. Karena tekanan-tekanan itu, akhirnya Sultan Haji jatuh sakit hingga meninggal dunia pada tahun 1687.

Sultan Haji

Sultan Haji merupakan salah seorang putera dari Sultan Abulfath Abdulfattah atau Sultan Ageng Tirtayasa pewaris Kesultanan Banten. Namanya Sultan Abunnashri Abdulkahar atau Abdulqohhar namun lebih dikenal dengan sebutan Sultan Haji. Ia mendapatkan tahtanya bekerja sama dengan Belanda setelah menggulingkan ayahnya. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi, mengingat jika ia pewaris syah dari Kesultanan Banten seharusnya tanpa melakukan kudeta terhadap ayahnya pun, ia dapat menerima tahta tersebut.

Masalah ini dimungkinkan ketidak sabaran Sultan Haji untuk segera menduduki jabatannya, karena ada putra Sultan Ageng lainnya yang bernama Pangeran Purbaya dianggap mampu menggantikan Sultan Ageng, atau Sultan merasa kurang sreg terhadap perilaku Sultan Haji. Namun dimungkinkan pula ada hasutan Belanda, mengingat hubungan Belanda dengan Sultan Ageng dan para pendahulunya kurang baik. Sedangkan jika mendukung Sultan Haji maka Belanda akan lebih mudah menguasai perdagangan di Banten.

Spekulasi terakhir ini yang mungkin paling mendekati, mengingat ada simbiosa mutualisma antara Belanda yang bertujuan melancarkan kepentingan dagangnya dan Sultan Haji yang mengincar jabatan kesultanan. Ketika terjadi peperangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji yang dibantu Belanda istana habis terbakar, tidak sedikit pula perkampungan menjadi musnah.

Sejak Sultan Haji bertahta banyak peristiwa-peristiwa yang sangat merugikan Kesultanan Banten, baik masalah perekonomian negara maupun perpolitikannya. Banyak sudah pemberontakan yang dilakukan rakyat termasuk para pendukung setia Sultan Ageng. Tabiat Sultan Haji dalam menghadapi Belanda pun sangat bertolak belakang dengan para pendahulunya. Sultan Haji sangat mengandalkan bantuan militer dan bantuan ekonomi Belanda, berakibat Banten tidak lagi memiliki kedaulatan penuh, bahkan Belanda sangat mempengaruhi struktur pemerintahan Banten.

Kata Untoro (2007) menyebutkan, sejak ditandatanganinya perjanjian pada tanggal 17 april 1684 praktis kukuasaan Kesultanan Banten dapat dianggap runtuh. Lebih lanjut menyebutkan : Perjanjian antara Kesultanan Banten dengan Belanda ditandatangani di Keraton Surasowan, dibuat dalam bahasa Belanda dan Jawa dan Melayu. Penanndatanganan dari pihak Kompeni dilakukan oleh komandan dan presiden komisi Franscois Tack, Kapten Herman Dirkse Wendepoel, Evenhart van der Schuere serta Kapten bangsa Melayu, Wan Abdul Kahar, sedangkan dari pihak Banten dilakukan oleh Sultan Abdul Kahar, pangeran Dipaningrat, Kiyai Suko Tadjudin, pangeran Natanegara, dan pangeran Natawijaya (Tjandrasasmita : 1967 : 54). Sejak perjanjian tersebut Kompeni secara langsung aktif menentukan monopoli perdagangan Banten.

Beberapa diantara peninggalannya yang monumental, ia membangun daerah-daerah yang rusak akibat perang, selain itu ia membangun kembali istana Surosowan. Untuk membangun istana Surasowan iapun meminta bantuan Cardeel, seorang arsitek Belanda. Iapun mengganti cara berpakaian dari berpakaian ala Banten menjadi cara berpakaian Arab, sekalipun pernah ditentang oleh Sultan Ageng ketika ia masih berkuasa.

Sultan Haji meninggal dan dimakamkan di Sedakingkin, sebelah utara mesjid Agung, sejajar dengan makam Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Haji dikarunia beberapa orang anak, antara lain Pengeran Ratu yang kemudian menggantikan tahtanya sebagai Sultan Banten yang dikenal dengan sebutan Sultan Abulfadhl Muhammad Yahya (1687-1690), Raja / Sultan kedelapan di Kesultanan Surasowan Banten.. Namun hanya sebentar dan tidak mempunyai keturunan.

http://gentong-pusaka.blogspot.co.id/2013/01/sultan-haji.html


3

61/3 <2> < 4. Pangeran Fadhludin
lahir: Keraton Surasowan, Banten Lama
wafat: Jawa Timur
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
42/3 <2> < 2. Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin / Pangeran Dipati
lahir: 1671, Keraton Surasowan
perkawinan: <2> < Ratu Rohimah
gelar: 1690 - 1733, Sultan Banten Ke IX
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

berputra 58 orang :

  1. Sultan Muhammad Syifa
  2. Sultan Muhammad Wasi’
  3. Pangeran Yusuf
  4. Pangeran Muhammad Shaleh
  5. Ratu Samiyah
  6. Ratu Komariyah
  7. Pangeran Tumenggung
  8. Pangeran Ardikusuma
  9. Pangeran Anom Mohammad Nuh
  10. Ratu Fatimah Putra
  11. Ratu Badriyah
  12. Pangeran Manduranagara
  13. Pangeran Jaya Sentika
  14. Ratu Jabariyah
  15. Pangeran Abu Hassan
  16. Pangeran Dipati Banten
  17. Pangeran Ariya
  18. Raden Nasut
  19. Raden Maksaruddin
  20. Pangeran Dipakusuma
  21. Ratu Afifah
  22. Ratu Siti Adirah
  23. Ratu Safiqoh
  24. Tubagus Wirakusuma
  25. Tubagus Abdurrahman
  26. Tubagus Mahaim
  27. Raden Rauf
  28. Tubagus Abdul Jalal
  29. Ratu Hayati
  30. Ratu Muhibbah
  31. Raden Putera
  32. Ratu Halimah
  33. Tubagus Sahib
  34. Ratu Sa’idah
  35. Ratu Satijah
  36. Ratu ‘Adawiyah
  37. Tubagus Syarifuddin
  38. Ratu ‘Afiyah Ratnaningrat
  39. Tubagus Jamil
  40. Tubagus Sa’jan
  41. Tubagus Haji
  42. Ratu Thoyibah
  43. Ratu Khairiyah Kumudaningrat
  44. Pangeran Rajaningrat
  45. Tubagus Jahidi
  46. Tubagus Abdul Aziz
  47. Pangeran Rajasantika
  48. Tubagus Kalamudin
  49. Ratu Siti Sa’ban Kusumaningrat
  50. Tubagus Abunasir
  51. Raden Darmakusuma
  52. Raden Hamid
  53. Ratu Sifah
  54. Ratu Minah
  55. Ratu ‘Azizah
  56. Ratu Sehah
  57. Ratu Suba/Ruba
  58. Tubagus Muhammad Said (Pangeran Natabaya)

Masa Raja / Sultan Banten ke 9

Oleh karena Sultan Abu’l Fadhl Muhammad Yahya tidak mempunyai anak, tahta kesultanan diserahkan kepada adiknya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abu’l Mahasin Muhammad Zainul Abidin juga biasa disebut Kang Sinuhun ing Nagari Banten yang menjadi gelar sultan-sultan Banten berikutnya. Beliau memerintah dari tahun 1690 sampai 1733. Pada masa beliaulah baru kakek beliau yang pahlawan Nasional Sultan Ageng Tirtayasa wafat di tahun 1692 dalam tahanan Kompeni
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
33/3 <2> < 1. Sultan Abu'l Fadhl Muhammad Yahya / Pangeran Ratu
gelar: 1687 - 1690, Sultan Banten Ke VIII
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Masa Raja / Sultan Banten ke 8

Sepeninggal Sultan Haji, putra beliau Pangeran Ratu menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Abu’l Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690). Beliau sangat perhatian terhadap bidang budaya dan sejarah. Pada tanggal 15 Juni 1690 beliau menemukan Batu Tulis Bogor.

Ternyata Sultan Abu’l Fadhl termasuk orang yang sangat membenci Belanda. Ditatanya kembali Banten yang sudah porak poranda itu. Akan tetapi baru berjalan tiga tahun, ia jatuh sakit dan kemudian wafat. Jenazahnya dimakamkan di samping kanan makam Sultan Hasanuddin di Pasarean Sabakingkin.
LAMBANG KABUPATEN SALATIGA
54/3 <2> < 3. Pangeran Sy. Muhammad Thahir / Kanjeng Raden Tumenggung Prawirokusumo
gelar: 1843 - 1850, Wedhono Salatiga, Sumber : Buku "Sajarah Bogor" oleh R. Memed Sunardi, November 1966
gelar: 1851 - 1860, Patih Kendal
gelar: 1860 - 1863, Regent/Boepati Salatiga, dengan gelar Raden Toemenggoeng
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Sumber : Buku "Sajarah Bogor" oleh R. Memed Sunardi, November 1966 (Mengacu kepada referensi Catatan-catatan lainnya seperti : RH. Misbach bin Nuch, R. Jususf Wiranata Negara, R. Atje Atmawidjaja (Djaksa) Menjadi menantu Hoofd Djaksa Salatiga (1846-163) Raden Mas Soemo Dipoero (Almanak 1846-1863)

Menurut Bupati Salatiga Dari Masa Ke Masa, KRT Prawiro Koesoemo terkenal dengan sebutan Bupati Sedo Amuk, yang meninggal karena adanya kemelut.

Prawiro-1.jpg
75/3 <2> < 5. Pangeran Ja’farrudin
86/3 <2> < 6. Ratu Muhammad Alim
97/3 <2> < 7. Ratu Rohimah
108/3 <2> < 8. Ratu Hamimah
119/3 <2> < 9. Pangeran Ksatrian
1210/3 <2> < 10. Ratu Mumbay (Ratu Bombay)

4

191/4 <4> < 51. Raden Darma Kusuma
lahir: Kroya Lama, Kasunyatan, Banten
wafat: Kroya Lama, Kasunyatan, Banten
212/4 <6> < Pangeran Soleman
wafat: Bogor
DPMY Logo.JPG
203/4 <4> < 13. Pangeran Jaya Sentika
lahir: 1710, Kasunyatan, Banten
perkawinan: <3> < 2. Nyi Hj. Ummu Salamah
penguburan: Kenari, Banten
SUMBER :


1. BABAD Banten (Primbon)

2. Catatan Keluarga Drs. Rd. H. Achmad Arslan Jayasentika, M. Sc (Juru Sejarah Bani Jayasentika).

3. Catatan Keluarga Tb. Safaruddin Jayasentika (Ketua Umum/Kasepuhan Dzurriyyat Panembahan Maulana Yusuf Pekalangan Gede, Banten 1570 - 1580).

4. Catatan Keluarga Abah H. Tb. A. Halim Syah Jayasentika (Dewan Penasehat/Kasepuhan Dzurriyyat Panembahan Maulana Yusuf Halim, Jakarta Timur 1570-1580).

5. Buku Nasab Induk : Keluarga Pangeran Jaya Sentika (Halim, Jakarta Timur)


Ahli Waris Tulisan dan segala yang dibagi disini: R (Tb). Dika Syah Bachri, S. ikom Bin R (Tb) H. Agus Halim Syah Jayasentika, SE, MH Bin R (Tb) H. Sa'aman


== PENINGGALAN PUSAKA ==

(Menyusul)



== SEJARAH SINGKAT ==


Kisahnya di Kesultanan Banten memang tidak banyak yang tahu karena data - data informasi yang sedikit dan hanya anak keturunannya saja yang mengetahui berdasarkan cerita (oral) turun temurun serta sedikit catatan keluarga yang ada.


Pangeran Jaya Sentika memiliki nama kecil Raden Abdul, lahir pada tahun 1710 Masehi di Kasunyatan (Banten) dari seorang ibu Garwa Padmi Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin yang bernama Ratu Rochimah binti Ratubagus Jaya Haji bin Patih Mangkubumi/Pangeran Arya Mandura Raja bin Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir (Sultan Banten ke – IV)


Menurut folklore, Pangeran Jaya Sentika berperawakan tinggi (lebih tinggi diantara lelaki seusianya), berbadan tegap, berdada bidang, berkulit kuning Langsat (bersih), berhidung mancung, berambut lurus seleher sedikit bergelombang dan berwajah seperti orang (keturunan) Arab dan bicaranya lugas penuh wibawa.


Pangeran Jaya Sentika kecil dibesarkan dilingkungan Keraton, seperti anak - anak Sultan yang lainnya, beliau dididik Ilmu Agama, Ilmu Tata Negara dan Ilmu Beladiri sejak belia. Hingga tumbuh menjadi remaja yang cakap dan tangguh. Keberanian dan ketegasan sudah nampak dari kecil, sehingga ia tak pernah takut menyuarakan kebenaran. Tutur katanya lugas , terarah dan tak pandai basa - basi, maka tidak seorang pun yang tidak memahami ucapannya. Wataknya pendiam tak banyak bicara namun tegas ketika menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Inilah bibit awal yang membuatnya tidak disukai oleh banyak pihak, VOC atau bangsawan Istana kala itu.


Semenjak kecil ia telah dibekali Ilmu Beladiri yang mumpuni, mulai dari teknik berpedang (golok sabet), memanah, berkuda, serta lelaku batin pun sudah menjadi makanan pokok sehari - hari. Beliau pun dikenal piawai memainkan beragam senjata perang. Meski demikian, pondasi agama yang baik membuat dirinya tetap menjunjung tinggi nilai – nilai adat dan norma – norma kemanusiaan. Dimata rakyatnya, ia dikenal sebagai seorang pangeran yang suka menolong. Kepribadiannya yang tak mau dikenal membuat dirinya seakan tak punya peran sehingga jasanya terasa sukar tuk dikenang.


Dimasa hidupnya, kondisi Istana kala itu memang sudah tidak sehat. Korupsi merajalela, Keselewengan terjadi didepan mata dan itu dilakukan bukan hanya oleh Belanda namun juga dari keluarga Istana. Rakyat dibebani aturan - aturan yang menyiksa dan tak ada yang bisa menghentikannya. Rakyat tak lagi percaya kepada pemerintah, Kesultanan Banten kehilangan marwah, rakyat memberontak, tingkat kejahatan menjulang tinggi, walaupun masih dapat dipadamkan namun situasi ini sangat memilukan. Seperti halnya api yang senantiasa siap berkobar hanya tinggal menunggu pemantiknya saja.


Kira - kira pada tahun 1730 H saat usia sang Pangeran menginjak (-+) 20 tahun, ia meminta izin kepada ayahandanya untuk pergi mendalami agama ke negeri Arab, namun tidak di izinkan karena usianya yang masih terbilang muda, singkat cerita dipertemukanlah ia dengan Syeikh Haji Mansyur, seorang ulama Thariqah di Banten kala itu, beliau seorang Mursyid Thariqah Syattariyah yang masyhur akan kewaliannya. Meski sikapnya terkadang Khawariqul ‘Adat (diluar kebiasaan). Konon ceritanya, ketika pertama kali ingin berguru, sang Pangeran diminta untuk berkhalwat serta berpuasa sebelumnya disebuah gua yang letaknya dipinggir pantai (masih wilayah banten). Selama 100 Hari, namun ketika perutnya terasa lapar tiba - tiba datang seekor harimau yang membawa persediaan makanan. Jika persediaan telah habis, ia akan kembali datang. Kemudian setelah selesai berkhalwat 100 Hari, bertemulah sang Pangeran dengan sesosok Kakek - kakek berjubah putih, bersurban Hijau dan bertongkat. Menurut cerita senyap, harimau yang selalu datang membawakan makanan adalah Santri Syeikh Haji Mansyur dari Bangsa Jin. Sementara kakek - kakek itu adalah Nabiyullah Khidir a.s.


Jika ada cerita turun temurun yang menyebutkan bahwa Pangeran Jaya Sentika merupakan pengamal Thariqah, itu tidak salah. Karena memang Syaikh Haji Mansyur adalah salah seorang gurunya. Kedekatannya bahkan bukan hanya sebagai murid dan guru, melainkan sudah seperti ayah dan anak. Hingga kemudian dinikahkan dengan salah seorang putrinya yang bernama Nyi Hj. Umi Salamah / Nyai Umi. Tidak banyak cerita mengenai istrinya, akan tetapi dari pernikahan ini ia memiliki keturunan.


Kiprahnya dalam keraton dimulai ketika usianya (-+) genap 24 tahun, ia memegang jabatan sebagai juru tengah, dan komandan pasukan khusus tugasnya antara lain sebagai pengawal pribadi sultan dan kepala keamanan Istana/Keraton Surosowan dan menjadi benteng paling depan tatkala berhadapan dengan musuh membawahi 60 Pasukan Elit Kerajaan yang siap bertaruh nyawa demi kejayaan Kesultanan Banten.


Pada saat Kesultanan Banten kisruh di zaman Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin yang disebabkan oleh kesewenang - wenangan yang dilakukan sang Permaisuri Syarifah Fathimah (Wanita Keturunan Arab) Janda seorang Letnan Melayu di Batavia. Beliau merupakan Pioneer dari kalangan Istana yang pertama melakukan pemberontakan terhadap kezaliman yang dilakukan sang Permaisuri yang bersekutu dengan VOC untuk merampas kekuasaan dengan cara menyingkirkan Sultan Muhammad Syifa’ Zainul Arifin dan Pangeran Gusti selaku putra mahkota. Kondisi semakin memburuk tatkala Kompeni mengangkat Pangeran Arya Adisentika bin Sultan Abul Mahasin menjadi Sultan sepihak dengan gelar Sultan Abul Ma’ali Muhammad Wase’ Zainul ‘Alimin pada tahun 1752


Puncaknya, Pangeran Jaya Sentika mengambil komando, diawali dengan membentuk pemerintahan darurat bersama saudara dari beda ibu yakni Pangeran Arya Adi Sentika, bersama para ponggawa kerajaan serta beberapa keluarga Istana memberi perlawanan demi menyelamatkan marwah sang Sultan dan negaranya dengan membuat kekacauan dari dalam Istana dan kekacauan didaerah Caringin dan Kota Surasowan. Namun pasukan VOC dan sekutu terlalu kuat sehingga membuat para ponggawa banyak meregang nyawa. Kemudian, dengan sisa pasukan serta keluarga yang ada dalam barisan, mencoba keluar dari kota pergi menuju pedalaman dan bergabung dengan Laskar Rakyat Banten yang dipimpin oleh Ratu Bagus Buang dan Ratu Bagus Mustofa (Ki Tapa) /Pangeran Temanggung yang sebelumnya telah memulai pertempuran diluar Keraton. Basis perjuangan awal didaerah Gunung Sari, Serang, Banten. Kemudian bergerak ke Batavia, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Jasinga, Anyer hingga Ujung Kulon. Pangeran Jaya Sentika pun seperti Ratubagus Buang dan Ki Tapa yang menjadi buruan musuh, pasukan Belanda dan sekutu dibuat geram dan kewalahan. Pasalnya, ketiganya begitu cerdik dan sulit dihentikan langkahnya. Strategi perang "Petjah Seribu" pun dilancarkan, satu nama sesungguhnya berbeda - beda orangnya. Ditambah, setiap kali berpindah - pindah tempat mereka mengganti nama dan nyamar menjadi rakyat jelata, hal itu tentu membuat jejak langkahnya tak mudah dibaca oleh pihak musuh.


Pertempuran terus menerus terjadi, korban pun semakin banyak berjatuhan, mulai dari kalangan Rakyat hingga Bangsawan keluarga Kesultanan pun tak luput menjadi sasaran. Sungguh Belanda dan sekutu biadab! Akhirnya, Pangeran Jaya Sentika tak mampu lagi melihat kerabat dan keluarganya menjadi korban. Istri pertamanya wafat dalam pelarian dikarenakan sakit dan dimakamkan di daerah Ciomas, dekat gunung sari. Beliau pun menitipkan anak dari istri pertamanya ini kepada Pangeran Darmakusuma, Adik dari lain ibu (Dikemudian hari anaknya saling dinikahkan) sementara ia melanjutkan perjuangan.


Pangeran Jaya Sentika kembali mengatur siasat agar sisa pasukan yang ada bisa selamat, dengan perbekalan yang terkuras dan tak ada jalan lain selain menerobos pasukan lawan yang telah mengepung dari segala arah, akhirnya beliau berpencar dengan barisan yang lain mencoba mengecoh musuh. Karna kecerdasannya dimedan perang beliau berhasil memecah pasukan lawan dan lolos dalam kejaran.


Menurut riwayat Drs. R (Tb) H. Achmad Arslan, M. Sc (Mang Entus Mamay), "Pangeran Jayasentika itu licin dan lihai, ia cerdas dalam mengecoh lawan dan selalu berhasil meloloskan diri dari kepungan dan kejaran Belanda/Sekutu",


Didalam pelariannya sampailah ia di Pamijahan, Tasik, Jawa Barat. Disana ia berniat menemui sahabat gurunya yaitu Syeikh Abdul Muhyi bin Lebe Warta Kusuma (Syaikh Abdul Jalil), disana ia pun sempat berguru kepada sang Syeikh dan dinikahkan dengan putri gurunya yang bernama Nyi Rd. Ayu Chatisah, kemudian setelah itu dibawalah sang istri ke Gunung Sari, Ciomas, Banten. Menurut cerita Mang Entus Mamay, Dimasa tuanya, Pangeran Jaya Sentika menghabiskan sisa usianya sebagai guru Thoriqot Syattariyah dan dikenal dengan nama Syeikh Abdul Wakhid, beliau pun tinggal dan wafat (dimakamkan) di Gunung Kupak, Ciomas, Banten. Namun menurut riwayat keluarga penulis, menjelang akhir hayatnya beliau balik ke Banten kemudian wafat dimakamkan bersebelahan dengan pasaréan Sultan Muhammad Waseh Zainul Alimin, saudaranya, dikomplek pemakaman Sultan, Cikoplok, Kenari, Banten.


Wallahu A'lam bish-Shawab.


Riwayat keluarga Gunung Sari dan Keluarga Halim.

(Bersambung...)


Noted : Sumber Catatan dan Riwayat Keluarga Besar yang tidak disebarluaskan. Hanya untuk menambah pengetahuan saja, jika ada yang menyadurnya apalagi sampai merubah-rubah tanpa persetujuan keluarga, atau izin terlebih dahulu kepada 1. Tubagus Dika Aliffasyah, S.i.Kom (b. 24 Agustus) KAMI TIDAK MENGIZINKAN dan sungguh KURANG DALAM ADAB serta tidak menghargai kami sebagai salah satu Keturunannya.
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
134/4 <4> < 1. Sultan Muhammad Syifa’ Zainul Arifin (1733-1747)
gelar: 1733 - 1747, Sultan Banten Ke 10
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

SILSILAH,berputra 11 orang :

   Sultan Muhammad ‘Arif
   Ratu Ayu
   Tubagus Hasannudin
   Raden Raja Pangeran Rajasantika
   Pangeran Muhammad Rajasantika
   Ratu ‘Afiyah
   Ratu Sa’diyah
   Ratu Halimah
   Tubagus Abu Khaer
   Ratu Hayati
   Tubagus Muhammad Shaleh

Masa Raja / Sultan Banten ke 10

Pengganti tahta kesultanan Sultan Abu’l Mahasin pada tahun 1733 adalah putra beliau yang bergelar Sultan Abulfathi Muhammad Shifa Zainul Arifin yang memimpin hingga tahun 1747.

Pada masa pemerintahan Sultan Zainul Arifin ini sering terjadi pemberontakan rakyat yang tidak senang dengan perlakuan VOC yang sudah di luar batas kemanusiaan. Memang pada awal abad ke-18 terjadi perubahan politik VOC dalam pengelolaan daerah yang dikuasainya. Monopoli rempah-rempah dianggapnya sudah tidak menguntungkan lagi karena Inggris sudah berhasil menanam cengkeh di India sehingga harga cengkeh di Eropa pun turun. Oleh karena itu, VOC mengalihkan usahanya dengan menanam tebu dan kopi di samping rempah-rempah yang kemudian hasilnya harus dijual kepada VOC dengan harga yang telah ditetapkan secara sepihak oleh VOC yang merugikan masyarakat.

Sementara itu, di keraton pun terjadi keributan dan kekacauan pemerintahan. Sultan Zainul Arifin tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh Ratu Syarifah Fatimah, seorang janda seorang letnan Melayu di Batavia yang dinikahi dan dijadikan permaisurinya. Ketidakberdayaan itu terlihat dari keputusan Sultan Zainul Arifin yang membatalkan penunjukan Pangeran Gusti sebagai putra mahkota. Atas pengaruh Ratu Syarifah Fatimah dan persetujuan VOC, Sultan Zainul Arifin mengangkat Pangeran Syarif Abdullah, menantu Ratu Fatimah dari suaminya yang terdahulu, menjadi putra mahkota. Setelah dibatalkan sebagai putra mahkota, atas suruhan Ratu Syarifah Fatimah, Pangeran Gusti disuruh pergi ke Batavia dan di tengah perjalanan ditangkap tentara VOC dan diasingkan ke Sailan pada tahun 1747. Tidak lama setelah menantunya diangkat menjadi putra mahkota, Ratu Syarifah Fatimah memfitnah suaminya gila sehingga sultan ditangkap oleh VOC dan diasingkan ke Ambon sampai meninggal. Sebagai gantinya Pangeran Syarif Abdullah dinobatkan sebagai Sultan Banten pada tahun 1750 dengan gelar Sultan Syarifuddin Ratu Wakil. Meskipun demikian, Ratu Fatimah-lah yang memegang kuasa atas pemerintahan di Kesultanan Banten.

Dalam beberapa penulisan sejarah Kesultanan Banten Sultan Syarifuddin Ratu Wakil biasa ditulis sebagai Sultan Banten ke 11, sedangkan bagi Keluarga Besar Kesultanan Banten tidak mengakui beliau Sebagai Sultan Banten yang sah, sehingga hal ini menimbulkan perbedaan dalam penulisan pengurutan para Sultan Banten. Sehingga untuk membedakan antara Sultan Banten Penuh dan Sultan Wakil dalam tulisan ini digunakan pula tulisan Sultan Penuh.

Kecurangan yang dilakukan Ratu Fatimah ini bagi rakyat dan sebagian pembesar negeri merupakan suatu penghinaan besar dan penghianatan yang sudah tidak bisa diampuni lagi sehingga terjadi perlawanan bersenjata. Di bawah pimpinan Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang, mereka menyerbu Surosowan. Strategi yang diterapkan oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang adalah membagi pasukannya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang dipimpin oleh Ratu Bagus Buang diberi tugas untuk melakukan penyerangan ke Kota Surasowan. Sementara itu, Ki Tapa memimpin kelompok kedua dengan tugas mencegat bantuan pasukan VOC dari Batavia. Hanya dengan bantuan tambahan yang didatangkan langsung dari Negeri Belanda, VOC dapat memukul mundur pasukan pejuang. Untuk melanjutkan perjuangannya, Ki Tapa menyingkir ke daerah pedalaman Banten dan menjadikan Sajira yang terletak di Lebak sebagai salah satu pusat pertahanannya.

Untuk menenangkan rakyat Banten, Gubernur Jenderal VOC Jacob Mossel, memerintahkan wakilnya di Banten untuk menangkap Ratu Syarifah Fatimah dan Sultan Syarifuddin yang dianggapnya sebagai sumber kekacauan. Keduanya kemudian diasingkan ke daerah Maluku, Ratu Fatimah ke Saparua dan Sultan Syarifuddin ke Banda.
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
145/4 <4+2> < 2. Sultan Muhammad Wasi’ Zainul ‘alimin (1752-1753)
gelar: 1752 - 1753, Sultan Banten Ke XI
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 11

Pada tahun 1752, VOC mengangkat Pangeran Arya Adisantika, adik Sultan Zainul Arifin, menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Abulma’ali Muhammad Wasi’ Zainal ‘Alimin. Selain itu, Jacob Mossel pun segera mengembalikan Pangeran Gusti dari tempat pengasingannya dan ditetapkan sebagai putra mahkota. Akan tetapi dengan pengangkatan itu, Sultan Abulma’ali harus menandatangani perjanjian dengan VOC yang isinya semakin memperkuat dan mempertegas kekuasaan VOC atas Banten.

Perjanjian itu sangat merugikan Banten sehingga Pangeran Gusti, beberapa pangeran, dan pembesar keraton lainnya menjadi gusar. Rakyat kembali mengadakan hubungan dengan Ki Tapa di Sajira, Lebak. Di bawah kepemimpinan Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang kembali mengangkat senjata menentang VOC.

Sementara itu, para pangeran dan pembesar keraton melakukan pengacauan di dalam kota. Dengan susah payah VOC akhirnya dapat melumpuhkan serangan-serangan tersebut. Perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang, mengakibatkan Sultan Abulma’ali Muhammad Wasi’zainul ‘Alamin menyerahkan kekuasaannya kepada Pangeran Gusti.
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
156/4 <5> < 1. RA. Soeta Widjaja
perkawinan:
perkawinan:
perkawinan:
perkawinan:
gelar: 1840 - 1841, Hoofd Djaksa Buitenzorg (lihat Almanak 1840, hal 70)
gelar: 1847 - 1855, Hoofd Demang Paroeng (Almanak 1847-1855)
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


RIWAYAT KELUARGA

"Raden Aria Soetawidjaja putra dari Pangeran Muhammad Thahir alias Raden Tumenggoeng Prawiro Kusumo (Bupati Salatiga tahun 1862-1863) dengan Ibu (Putra Raden Mas Soemo Dipoero, Hoofd Djaksa Salatiga tahun 1846 sd 1860) Sumber : Almanak 1843 sd 1863

SILSILAH RINGKAS

RADEN ARIA DEMANG SUTAWIDJAJA bin Pangeran Muhammad Thahir bin Sultan Haji / Sultan Abu Nashr Muhammad Abdul Kahar (Sultan Ke 7 Kesultanan Banten), mempunyai adik kandung 3 orang, yaitu : 1. Raden Ronokusumo, 2. Nji Raden Sumirah, 3. Raden Surodiwirjo.

KARIER

Berdasarkan Almanak_van_Nederlandsch_Indië_voor_het tahun 1840 s/d tahun 1855, Karier Raden Aria Soetawidjaja adalah sebagai berikut :

  • 1840-1841 Hoofd Djaksa pada Afdelling Buitenzorg, dibawah Regent RADEAN ADIPATTIE WIERA NATTA (1829-1849), Penghoeloe : Radin Mochamad Hassan, Kapitein : TAN OEKO (Bapaknya Abun Nioh isteri Pangeran Djonet);
  • 1847-1855 Menjadi Demang Paroeng

SILSILAH KETURUNAN

Raden Aria Soetawidjaja menikah dengan 3 orang istri, isteri pertama NYI Rd. HABIBAH (Tjiandjoer) memiliki putra 3 orang :

  1. Raden Aria Mangkeowidjaja (Hoofd Djaksa merangkap Hoofd Demang Buitenzorg)
  2. Raden Kartawidjaja alias Ijas, Demang Djasinga
  3. Raden Bratawidjaja, Asisten Demang Parung

Isteri ke 2 bernama NYI MAS KALIBAH, dikarunia putra :

  1. Raden Demang Mangoenkoesoemah (Demang Tjibarusah, 4 Maret 1861 sd ?)
  2. Raden Kartawidjaja (tidak punya keturunan)
  3. Raden Hadji Daud, Panaragan, Bogor;

Isteri ke 3 bernama NYI Rd URI (Soekapoera)

  1. Raden Hadji Koesoemawidjaja menikah dengan NYI Rd Empok bt Aon berputra : R. Basah dan R. Ahmad
  2. R. Sintawidjaja (ejang Endeh Patimah)
  3. NYI Raden Tjenang, berputra R. Oesman
  4. NYI Raden Bahra menikah dengan R. Sama'oen (tidak berputra)
  5. NYI Raden Hadidjah menikah dengan R.H. Habib (Pulo Empang)
  6. NYI Raden Eulis menikah dengan R.H. Oemar (Tjamat Tjisaroea) berputra : R. Surjaningrat, berputra : R. Djali, R. Dodong, dll)
  7. ................................., Demang Mauk, berputra RH. Halir Tjisaat.

Semasa berkarier sebagai Djaksa dan Demang Paroeng, Raden Aria Soetawidjaj menetap di Buitenzorg (kota Bogor sekarang), keturunannya banyak tersebar di daerah Bondongan, Layungsari, Lolongok, Empang dan Pantjasan, dimakamkan di Pemakaman Empang

(Sumber : Sajarah Bogor, Memed Sunardi, 1966, berdasarkan Catatan Raden Jusuf Wiranata Nagara)


167/4 <5> < 2. R. Rono Koesoemo
gelar: 13 Juli 1861 - 1865, Patih Afdeeling Grobogan
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Rono-1.jpg
178/4 <5> < 3. Roro Sumirah
189/4 <5> < 4. R. Soerodiwirjo
2210/4 <4> < 8. Pangeran Ardi Kusuma
2311/4 <5> < Sy. Rd. Parto Sentono
2412/4 <4> < 58. Tubagus Muhammad Said (Pangeran Natabaya)
2513/4 <11> < Pangeran Burhan (Tubagus Buang)
2614/4 <4+2> < 3. Pangeran Yusuf
2715/4 <4+2> < 4. Pangeran Muhammad Shaleh
2816/4 <4+2> < 5. Ratu Samiyah

5

451/5 <19> < 2. Pangeran Achmad Darmabrata
lahir: Kroya Lama, Kasunyatan, Banten
penguburan: Kroya Lama, Kasunyatan, Banten
472/5 <21> < Kiai Raden Abdurrahman (Ateng Abdurrakhman)
wafat: Kp. Nambo, Cileungsi, Bogor
443/5 <20+3> < 1. Pangeran Jaya (Tubagus Safiuddin Jaya)
lahir: 1752, Kasunyatan Banten
perkawinan: <4> < 1. Ratu Ayu
wafat: Cikoplok, Kenari, Banten
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
304/5 <13> < 1. Sultan Muhammad ‘arif Zainul Asyikin (1753-1773)
gelar: 1753 - 1773, Sultan Banten Ke XII
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang
   Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin
   Sultan Muhyiddin Zainusholiohin
   Pangeran Manggala
   Pangeran Suralaya
   Pangeran Suramanggala

Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 12

Pada tahun 1753 Pangeran Gusti putra Sultan Banten ke-10 keponakan Sultan Banten ke-11, dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Abu’l Nasr Muhammad ‘Arif Zainul ‘Asiqin (1753-1773). Beliau Wafat pada tahun 1773.
465/5 <20+?> < 2. Raden Sura Jaya
lahir: 1756, Barugbug, Ciomas, Banten
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
316/5 <15+?> < 1. RA. Mangkuwidjaja (Hoofd Djaksa & Hoofd Demang Bogor)
gelar: 23 Februari 1854 - 27 Maret 1866, Hoofd Djaksa Buitenzorg
gelar: 27 Juni 1865 - 27 Maret 1866, Hoofd Demang & Hoofd Djaksa Buitenzorg
gelar: 27 Maret 1866 - 30 Maret 1870, Hoofd Demang Buitenzorg (Bogor)
Admin : Endang Suhendar alias Idang

RIWAYAT KELUARGA

RA. MANGKOEWIDJAJA, HOOFD DEMANG BOGOR (1865-1870)

Raden Aria Mangkoewidjaja ialah putra pertama dari Raden Aria Soetawidjaja (Hoofd Djaksa Buitenzorg 1840-1841) dengan Ibu NYI Rd. HABIBAH (Putr1 ke 13 Raden Haji Muhammad Tohir, Aulia Kampung Baru, saudara kandung dengan R.Tmg. Kartananagara dan saudara sepupu RA. Wiranata (Bupati Kmpung Baru/Bogor). Menurut catatan keluarga, Kakeknya yang bernama Pangeran Muhammad Thahir adalah putra ke 3 dari Sultan Haji / Sultan Abu Nashr Muhammad Abdul Kahar, Sultan Banten ke 7 (1683-1687). RA. Mangkoewidjaja lahir dan dibesarkan dikeluarga ningrat Banten dan Cianjur (Cikundul) yang tinggal di kawasan Empang (Dalem Empang) bersama-sama dangan RA Wiranata.

SILSILAH RINGKAS

RADEN ARIA DEMANG MANGKOEWIDJAJA bin Raden Aria Soetawidjaja bin Pangeran Muhammad Thahir (R.T. PRAWIRO KOESOEMO) bin Sultan Haji / Sultan Abu Nashr Muhammad Abdul Kahar (Sultan Ke 7 Kesultanan Banten), mempunyai adik kandung 12 orang, yaitu : 1. R. Kartawidjaja/H. Iljas (Demang Jasinga/Wadana), 2. R. Bratawidjaja/Baing Brata (Ass. Demang Parung); 3. R. Dmg. Mangunkusumah (Demang Tjibarusah; 4. R. Kartawidjaja (Gabug); 5. RH. Daud (Eyang R. Muh. Idrus-Enis); 6. RH. Kusumahwidjaja; 7. R. Sintawidjaja (Eyang Endeh Patimah); 8. Nji R. Tjeneng; 9. Nji R. Bahra (Gabug); 10. Nji R. Hadidjah; 11. Nji R. Eulis; 12. R. Demang Mauk


KARIER

Berdasarkan Almanak_van_Nederlandsch_Indië_voor_het tahun 1854 s/d tahun 1876, Karier Raden Aria Mangkoewidjaja adalah sebagai berikut :

  • 1854-1866 Hoofd Djaksa pada Afdelling Buitenzorg, dibawah Regent RADEAN ADIPATTIE SOERIA WIENATTA (1849-1869);
  • 1865-1866 Menjadi Hoofd Demang & Hoofd Djaksa Buitenzorg
  • 1866-1870 Menjadi Hoofd Demang Buitenzorg

SILSILAH KETURUNAN

RA. MANGKOEWIDJAJA, HOOFD DEMANG BOGOR (1865-1870)

Raden Aria Mangkoewidjaja menikah dengan 4 orang istri, isteri pertama NYI MAS WARTA (Kaum Bogor) memiliki putra 3 orang :

  1. NYI Raden Kuraesin
  2. NYI Raden Suhaemi
  3. NYI Raden Hudaya

Isteri ke 2 bernama NYI Raden SARODJA, dikarunia putra :

  1. NYI Raden Titi Marijam
  2. NYI Raden Eno Patmah
  3. Raden Hadji Sjafi'i (Penghulu Bogor)
  4. NYI Raden Eulis Aminah
  5. NYI Raden Enon Hadjar
  6. Raden Hadji Iskandar/Enduk
  7. Raden Hadji Sulaeman

Isteri ke 3 bernama NYI Rd ENUR binti Raden Kartanagara memiliki putra 1 orang :

  1. Raden Hadji Ahmad/Emod

Isteri ke 4 bernama NYI Raden ANTAMIRAH binti Raden Tumenggung Tjandramanggala, berputra :

  1. Raden Hadji Muhammad Hasan
  2. Raden Sodiq
  3. Raden Atang

Semasa berkarier sebagai Djaksa dan Demang Boepati Buitenzorg, Raden Aria Mangkoewidjaja menetap di Buitenzorg (kota Bogor sekarang), keturunannya banyak tersebar di daerah Bondongan, Layungsari, Lolongok, Empang dan Pantjasan, dimakamkan di Pemakaman Empang

(Sumber : Sajarah Bogor, Memed Sunardi, 1966, berdasarkan Catatan Raden Jusuf Wiranata Nagara)


LAMBANG KABUPATEN BOGOR
347/5 <15+?> < 4. R. Dmg. Mangunkusumah (Demang Tjibarusah)
pekerjaan: 4 Maret 1861 - 6 Agustus 1875, Demang Tjibarusah
pekerjaan: 6 Agustus 1875 - 12 Agustus 1876, Demang Buitenzorg
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
298/5 <13+?> < Sultan Syarifuddin Artu Wakil (1750-1752 )
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
3310/5 <15+?> < 3. R. Bratawidjaja/Baing Brata (Ass. Demang Parung)
3511/5 <15+?> < 5. R. Kartawidjaja (Gabug)
3612/5 <15+?> < 6. RH. Daud (Eyang R. Muh. Idrus-Enis)
3713/5 <15+?> < 7. RH. Kusumahwidjaja / RH. Abdullah
3814/5 <15+?> < 8. Rd.Sintawidjaja (Eyang Endeh Patimah) 3915/5 <15+?> < 9. Nji R. Tjeneng
4016/5 <15+?> < 10. Nji R. Bahra (Gabug) 4117/5 <15+?> < 11. Nji R. Hadidjah 4218/5 <15+?> < 12. Nji R. Eulis 4319/5 <15+?> < 13. R. Demang Mauk
4820/5 <22> < Ratubagus Musthofa
4921/5 <23> < Sy. Rd. Wongso Sentono
5022/5 <24> < Tubagus Siyay
5123/5 <13> < Ratu Ayu
5224/5 <13> < Tubagus Hasannudin
5325/5 <13> < Raden Raja Pangeran Rajasantika
5426/5 <25> < Tubagus Abdul Rozaq

6

1121/6 <44+4> < 2. Ratu Afifah
lahir: Kamasan, Banten
wafat: Cikoplok, Kenari, Banten
1142/6 <47> < Raden Kiai Abu Sarbani
wafat: Kp. Nambo, Cileungsi, Klapanunggal, Bogor
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
553/6 <30> < 1. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyuddin I (1773-1799)
gelar: 1773 - 1799, Sultan Banten Ke XIII
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


   Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin
   Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II)
   Pangeran Darma
   Pangeran Muhammad Abbas
   Pangeran Musa
   Pangeran Yali
   Pangeran Ahmad

Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 13

Pada tahun 1773 Sultan Abu Nasr Muhammad Syifa’ Zainul Asyikin wafat dan digantikan oleh putra beliau bergelar Sultan Abul Mufakhir Muhammad Aliyuddin I yang memimpin dari tahun 1773-1799. Sultan Aliyuddin I beralias Sultan Gemuk merupakan pula ulama dan berkarya mengarang wawasan-wawasan tentang agama, perjuangan Islam dan menulis kisah para Ambia dan Aulia.
1094/6 <44+4> < 1. Pangeran H. Chusen
lahir: 1789, Kamasan, Banten
wafat: Cikoplok, Kenari, Banten
SUMBER :

1. Catatan Keluarga Kasunyatan - Banten.

2. Buku Nasab Induk : Keluarga P. Jaya Santika (Jakarta)


Milik Keluarga: Tb. Dika Syah Bachri
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
565/6 <30> < 2. Sultan Abdul Fath Muhammad Muhyiddin Zainusholihin
gelar: 1799 - 1801, Sultan Banten Ke XIV
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 14

Pada tahun 1799, Sulthan Aliyuddin I wafat dan digantikan dengan adik beliau Pangeran Muhyiddin yang bergelar Sultan Abdul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussolikhin. Perpindahan tahta kepada adik bukannya putra dikarenakan putra-putra Sultan Aliyuddin I, meskipun ada namun tidak ada yang berasal dari ibu permaisuri melainkan dari selir sehingga sesuai pakem pewarisan tahta kesultanan Banten yang mensyaratkan diutamakannya keturunan pewaris tahta dari ibu yang permaisuri, kepewarisan tahta lantas berpindah kepada adik Sultan Sebelumnya yang satu ayah dan satu ibu yang permaisuri.

Beliau Tidak lama menjabat dikarenakan wafat pada tahun 1801 dan meninggalkan putra yang masih bayi, yang kelak beberapa tahun kemudian akan naik tahta denga gelar Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin (Sultan Penuh Banten ke-17).

Salah satu saat bersejarah pada masa kekuasaan Sultan Banten Zainussolikhin adalah saat pembubaran VOC tahun 1799 sehingga mulai di masa ini hubungan politik dan ekonomi maupun perselisihan antara Kesultanan Banten tidak lagi dengan pihak VOC / Kompeni namun langsung dengan pemerintah Kerajaan Belanda.
746/6 <38> < R. Angkawidjaja
pekerjaan: 1 Februari 1872, Onderwijzer van Buitenzorg
Mulai 1 Februari 1872 diangkat menjadi "Onderwijzer" atau guru / Kepala Dinas Pendidikan pada Sekolah Pemerintah (Gouvernements School).


Angkawijaya.jpg
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
687/6 <31+?> < 10. RH. Sulaeman
pekerjaan: 8 Juni 1874 - 1882, Leden van Buitenzorg
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Sumber : REGERINGSALAMANAK Voor Nederlandsch-Indie 1873-1880

Contoh1.jpg
LAMBANG KABUPATEN BOGOR
658/6 <31+?> < 6. Rhm. Sjafi'ie (Penghulu Bogor)
pekerjaan: 24 Juni 1899 - 30 Januari 1911, Hoofd Panghoeloe Buitenzorg
579/6 <39> < 1. R. Usman
5810/6 <42> < 1. R. Surjaningrat
5911/6 <43> < 1. RH. Halir (Tjisaat)
6012/6 <31+?> < 1. Nji R. Kuraesin / Ibu Rangga
6113/6 <31+?> < 2. Nji R. Suhaemi
6214/6 <31+?> < 3. Nji R. Hudaja
6315/6 <31+?> < 4. Nji R. Titi Mariam 6416/6 <31+?> < 5. Nji R. Eno Patmah
6617/6 <31+?> < 7. Nji R. Eulis Aminah
6718/6 <31+?> < 9. RH. Iskandar/Enduk
6919/6 <31+?> < 11. RH. Ahmad/Emod
7020/6 <31+?> < 12. RH. Muh. Hasan/Endung (Penghulu Tangerang)
7121/6 <31+?> < 13. RH. Ipih Sodik Nataatmadja
7222/6 <31+?> < 14. R. Ateng
7323/6 <31+?> < 8. Nji R. Enon Hadjar
7524/6 <32+?> < 1. Nji R. Padinta
7625/6 <32+?> < 2. Nji R. Rokajah
7726/6 <32+?> < 3. R. Beki Subeki Alias Marga
7827/6 <32+?> < 4. R. Muhammad Nadir
7928/6 <32+?> < 5. Nji R. Ule Djulaeha
8029/6 <32+?> < 6. R. Hair Surja
8130/6 <33+?> < 1. R. Muh. Usman
8231/6 <33+?> < 2. R. Ahmad Padmawidjaja
8332/6 <33> < 3. Nji R. Siti Mariah
8433/6 <33> < 4. Nji R. Iti (Tjitjadas)
8534/6 <33> < 5. Nji R. Ijo (Tjilodong)
8635/6 <33> < 6. R. Djajaatmadja/Utjin (Penghulu Parung Panjang) 8736/6 <34+?> < 1. Nyi Rd. Enok Suhaya 8837/6 <34+?> < 2. R. Pura Diningrat 8938/6 <34+?> < 3. RH. Habib 9039/6 <34+?> < 4. R. Prawira Kusumah (Teluk Djambe-Karawang)
9140/6 <34+?> < 5. Nyi Rd. Enok Suhaemi
9241/6 <34+?> < 6. Nyi Rd. Siti Salamah
9342/6 <34+?> < 7. R. 'Ain Cholidurochman
9443/6 <34+?> < 8. Nji R. Odja Sarodja 9544/6 <34+?> < 9. Nji Rd. Neneng Bentang
9645/6 <34+?> < 10. R. Ote Mangunkusumah
9746/6 <34+?> < 11. R. Seno Reja/R. Utju (Bungsu)
9847/6 <34+?> < 12. R. Atje/Tjetje Tjakraningrat (Gabug)
9948/6 <34+?> < 13. R. Duyeh Abdul Rachman
10049/6 <34+?> < 14. Nyi Rd. Neneng Eli
10150/6 <34+?> < 15. Nji Rd. Dewi Handjar
10251/6 <34+?> < 16. R. Endus/Idrus (Mertua R. Daie)
10352/6 <34+?> < 17. R. Anjud Sumujud (Dahlan)
10453/6 <34+?> < 18. R. Kendran (Ijon)
10554/6 <34+?> < 19. R. Eno Surareja / Sena (Tjamat Tjiamis)
10655/6 <37+?> < 1. Nji R. Suaemi
10756/6 <34+?> < 20. R. Emun Moh. Musa (Kalipah Seuseupan)
10857/6 <34+?> < 21. R. Buah
11058/6 <44> < 4. Syaikh Tubagus Abdul Latief 11159/6 <44> < 3. Pangeran H. Mulafar
11360/6 <46> < Raden Irfan
11561/6 <49> < Sy. Rd. Wiro Sentono
11662/6 <50+?> < Raden Suta Arya Kusuma (Diparana)
11763/6 <44> < 5. Ratu Afiyah
11864/6 <54> < Tubagus Musrijal
11965/6 <41> < 1. Nyi Rd. Ibu Idjah

7

2071/7 <114> < Raden Kiai Anjasaman (Ateng Jasman)
wafat: Cileungsi, Klapanunggal, Bogor
2272/7 <110> < Tubagus Abdul Khaer
bermukim: ?, Di kasunyatan, banten
Pendiri TTKKDH
1243/7 <55> < 1. Sultan Abu Nashr Muhammad Ishaq Zainal Muttaqin (1801-1802)
gelar: 1801 - 1802, Sultan Banten ke XV
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 15

Pasca wafatnya Sultan Penuh Banten ke-14, tahta Kesultanan Banten kembali berpindah kepada keturunan Sultan Aliyuddin I (Sultan Penuh Banten ke-13) yakni kepada putranya yang bergelar Sultan Abu Nashr Muhammad Ishaq Zainal Muttaqin atau keponakan dari Sultan Penuh Banten ke 14.

Beliau menentang tindakan-tindakan Kompeni Belanda yang melukai hati jiwa Kebantenan. Beliau bertahta hanya satu tahun dari tahun 1801-1802, kemudian pada tahun 1802-1803 administrasi Kesultanan Banten dipegang oleh care taker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya.

Dalam sebagian tulisan menegenai sejarah Kesultanan Banten, yang menyerakan para care taker sultan wakil sebagai Sultan Banten. Care taker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya biasa disebut sebagai Sultan Banten ke-17. Sedangkan Sultan Penuh Banten ke 15 diurutkan sebagai Sultan Banten ke-16 dan Sultan Penuh Banten ke-16 diurutkan sebagai Sultan Banten ke-18.
1934/7 <55> < 2. Sultan Abul Mufakhir Muhammad Aqiluddin / Aliyuddin II Yang Memimpin Dari Tahun 1803 – 1808.
gelar: 1803 - 1808, Sultan Banten Ke XVI
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke 16

Tahun 1803 kesultanan kembali kepada dipegang oleh pewaris tahta Putra Sultan Penuh Banten ke 13, keponakan Sultan Penuh Banten ke 14, adik Sultan Penuh Banten ke 15; yakni Sultan Abul Mufakhir Muhammad Aqiluddin / Aliyuddin II yang memimpin dari tahun 1803 – 1808.

Mulai tahun 1807, Belanda dikuasai oleh Perancis. Louis Napoleon adik Kaisar Napoleon Bonaparte Perancis diberi kekuasaan atas Belanda dan mengangkat Herman Williams Daendels sebagai Gubernur di Kepulauan Nusantara atau Gubernur Hindia Belanda.

Daendels datang ke Batavia tahun 1808 dengan tugas utama mempertahankan pulau Jawa dari serangan tentara Inggris di India, untuk tugas tersebut Daendels berencana membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon dengan mempekerjakan masyarakat Banten dengan sistem Kerja Paksa atau Rodi.

Sultan Aqiluddin / Aliyuddin II sempat menentang tuntutan Belanda atas sistem kerja paksa. Lantas Daendels mengutus Komandeur Philip Pieter Du Puy dan pasukannya ke Istana Surasowan untuk mendorong Sultan menyetujui tuntutan Belanda, hal ini mendorong kemarahan rakyat Banten sehingga Du Puy dibunuh di depan pintu gerbang Surasowan.

Daendels membalas menyerang Surasowan pada hari itu juga yakni tanggal 22 November 1808 dengan serangan kejutan yang berhasil merebut Surasowan. Sultan dibuang ke Ambon, Patih Mangkubumi dihukum pancung dan jasadnya dibuang ke laut.
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
1945/7 <56+?> < Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin
gelar: 1808 - 1832, Sultan Banten Ke XVII
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Masa Raja / Sultan Penuh Banten ke-17

Dengan dibuangnya Sultan Banten Aliyuddin II, maka dari keluarga besar Trah Kesultanan Banten dilantiklah pewaris tahta putra Sultan Penuh Banten ke-14 sebagai Sultan Penuh Banten ke-17 dari garis ibu yang permaisuri (Ratu Aisiyah), kembali sesuai keutamaan pakem pewaris tahta kesultanan Banten, dengan gelar Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin. Beliau adalah saudara sepupu Sultan Penuh Banten ke-15 dan ke-16. Beliaulah yang merupakan Sultan Penuh Terakhir Banten Berdaulat dari garis keturunan pewaris tahta resmi Kesultanan Banten.

Dikarenakan dianggap belum dewasa dan masih dalam tahap pendidikan dan persiapan kepemimpinan sebagai Sultan maka secara administratif diangkatlah care take Sultan Wakil Pangeran Suramenggala yang menjabat tahun 1808-1809.

Dalam sebagian penulisan sejarah Kesultanan Banten yang menyertakan para care taker Sultan Wakil sebagai Sultan Banten; care taker Sultan Wakil Pangeran Suramenggala kerap ditulis sebagai Sultan Banten ke-19, sebelumnya Sultan Penuh Banten ke-16 diurutkan sebagai Sultan Banten ke-18 dan Sultan Penuh Banten ke-17 kerap ditulis sebagai Sultan Banten ke-20.

Ketika telah dewasa Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin menikah dengan Ratu Putri Fatimah binti Pangeran Ahmad bin Sultan Aliyuddin I (Sultan Penuh Banten ke-13) sebagai penanda pengakuan keluarga dari keturunan Sultan Aliyuddin I atas hak dan sahnya Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin sebagai pewaris tunggal Kesultanan Banten.

Dikarenakan ketidak puasan rakyat terhadap Belanda yang menindas, sering terjadi perlawanan kepada Belanda, untuk melemahkan perlawanan rakyat, Banten dibagi kedalam tiga daerah yang statusnya sama dengan kabupaten yakni : Banten Hulu, Banten Hilir, dan Anyer. Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin kala itu ditunjuk Belanda untuk memimpin Banten Hulu. Sedangkan untuk kepentingan politis, Belanda juga menunjuk suami dari bibi Sultan Shafiuddin, yakni Joyo Miharjo dari Rembang suami Ratu Arsiyah bibi Sultan Shafiuddin sebagai, sebagai Bupati Banten Hilir dengan gelar Sultan Tituler Bupati Muhammad Rafiuddin.

Hal ini membuat beberapa kesalahan dalam penulisan sejarah Kesultanan Banten bahwa Sultan Terakhir Kesultanan Banten adalah Sultan Rafiuddin yang disalah kira sebagai anak Sultan Shafiuddin. Padahal Rafiuddin bukan pewaris sah keturunan para Sultan Banten melainkan orang Rembang yang diberikan pangkat (Tituler) oleh Belanda sebagai Bupati dengan Gelar Sultan Bupati.

Adapun anak-anak dari Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin adalah :

a. Pangeran Surya Kumolo

b. Pangeran Surya Kusumo

c. Ratu Ayu Kunthi

d. Pangeran Timoer Soerjaatmadja

Anak-anak Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin sempat disalah kira dalam beberapa penulisan sebagai anak dari Sultan Tituler Bupati Rafiuddin. Hal ini dikarenakan masyhur dikenal bahwa merekalah anak-anak Sultan Terakhir Banten namun terjadi kesalah fahaman mengenai Sultan Terakhir Banten yang resmi dari trah Kesultanan Banten yang semestinya pada Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin, bukan pada nama Rafiuddin dari Rembang yang sekedar Sultan Tituler Bupati diangkat Belanda dan bukan dari keturunan para Sultan Banten.

Semenjak tahun 1809, Wilayah Banten sudah banyak diotak-atik penjajah Asing dengan pembagian-pembagian wilayah yang meminimalisir kekuatan pengaruh Kesultanan Banten dan untuk memperlemah perlawanan Rakyat Banten yang seringkali terus melawan. Pada saat terjadi peralihan kekuasaan di Nusantara dari Belanda kepada Inggris, diakibatkan kekalahan Napoleon Perancis kepada Inggris. Gubernur Thomas Stanford Rafles dari pemerintahan Inggris tahun 1813 membagi wilayah Banten menjadi 4 Kabupaten yakni Banten Lor (Banten Utara kelak menjadi Kabupaten Serang), Banten Kidul (Banten Selatan kelak menjadi Kabupaten Caringin yang pada tahun 1907 masuk kedalam Kabupaten Pandeglang), Banten Tengah (Kelak menjadi Kabupaten Pandeglang) dan Banten Kulon (Banten Barat kelak menjadi Kabupaten Lebak). Pada tahun 1816 kekuasaan dikembalikan dari Inggris kepada Belanda.

Pada tahun 1832 dikarenakan adanya perlawanan dari rakyat Banten yang terus menerus kepada pemerintah Hindia Belanda, terutama dengan adanya Bajak Laut Selat Sunda. Pemerintah Belanda menganggap adanya bantuan Kesultanan Banten dalam perlawanan tersebut, sehingga pada tahun tersebut Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin dan keluarga dibuang Belanda ke Surabaya hingga wafatnya di tahun 1899 dan dimakamkan di Pemakaman Boto Putih Surabaya di seberang pemakaman Sunan Ampel.

Masa awal Kevakuman Kesultanan Banten

Pada masa Kevakuman Kesultan Banten, rakyat Banten di bawah pimpinan para Ulama Banten secara seporadis kerap melakukan perlawanan kepada pemerintah Hindia Belanda. Banyak perjuangan yang menyuarakan spirit perjuangan kembali memperjuangkan spirit perjuangan kesultanan Banten dan keislaman, yang paling menonjol adalah peristiwa Geger Cilegon tahun 1888.

Sultan Penuh Terakhir Banten yang dibuang ke Surabaya, yakni Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin merasa kecewa terhadap perlakuan pihak penjaja asing dari Eropa serta melarang keturunannya untuk menikah dengan kalangan bule, hal ini dilanggar oleh Pangeran Surya Kumala sehingga hak pewarisan tahta Kesultanan Banten dialihkan kepada Pangeran Timur Soerjaatmadja.
2066/7 <109> < SyaikhTubagus Abdul Mu'in (Buya Mu'in Kamasan)
lahir: 1830, Kamasan; Banten
perkawinan: <8> < Nyi Gede Kamasan
wafat: Kenari, Kasunyatan, Banten
Sumber Foto : Foto Keluarga
1348/7 <68+?> < 1. Nji. R. Hj. Mariah-Asnawi
perkawinan: <10> < 1. R. H. Asnawi b. 27 Mei 1975 d. 27 Mei 1975
wafat: 21 Agustus 1985, Mekah
penguburan: 21 Agustus 1985, Mekah
1219/7 <106+?> < 1. R. Basjah Wiradikusumah
12210/7 <106+?> < 2. R. Moh. Toha
12311/7 <106+?> < 3. R. Achmad
12512/7 <58> < 1. R. Djali
12613/7 <58> < 2. R. Dodong sdt
12714/7 <60+?> < 1. Nji R. Djulaeha
12815/7 <82+127!> < 1. Nji R. Permasih/Emos
12916/7 <60+?> < 2. Nji R. Djuwita
13017/7 <61+?> < 1. Nji R. Ijoh
13118/7 <62+?> < 1. R. Sulaeman
13219/7 <73> < 1. Nji R. Endah
13320/7 <73+?> < 2. RM. Said
13521/7 <68+?> < 2. R. Thoyfur/Ipung
13622/7 <68+?> < 3. R. Saleh
13723/7 <68+?> < 4. Nji R. Aminah
13824/7 <68+?> < 5. R. Muh. Sapri
13925/7 <64+?> < 1. R. Dang Ali
14026/7 <65+?> < 1. R. Mangkuningrat 14127/7 <74+66!> < 1. R. Umar Sumintawidjaja
14228/7 <74+66!> < 2. Endeh Patimah
14329/7 <67+?> < 1. R. Sugandi
14430/7 <67> < 2. Nji R. Tuti
14531/7 <67> < 3. Nji R. Dedeh
14632/7 <69+?> < 1. Nji R. Ijong
14733/7 <69+?> < 2. R. Somawidjaja
14834/7 <70> < 1. Nji R. Mariah
14935/7 <70> < 2. R. Pandu
15036/7 <71+101!> < 1. Nji Rd. Emin-Cholik
15137/7 <101+71!> < 2. R. Jusuf
15238/7 <72+?> < 1. Nyi R. Kalsum
15339/7 <68+?> < 6. R. Djamhur
15440/7 <68+?> < 7. Nji R. Patimah/Mamah
15541/7 <68+?> < 8. Nji R. Endah Djubaedah
15642/7 <68+?> < 9. R. Memed
15743/7 <68+?> < 11. Nji R. Enung (Nikah Ke R. Asep Tamin bin Kusumahnagara)
15844/7 <68+?> < 12. R. Mansjur
15945/7 <79+?> < 1. R. Jusuf Wiranatanagara Alias Pak Winara
16046/7 <79+?> < 2. Nji R. Itjoh
16147/7 <79+?> < 4. RH. Ahmad
16248/7 <83> < 1. R. Usman
16349/7 <83> < 2. Nji R. Mimi
16450/7 <83+?> < 3. Nji R. Djudju
16551/7 <86+94!> < 1. R. Tojib
16652/7 <94+86!> < 2. Nji R. Uwo
16753/7 <86+94!> < 3. Nji R. Djenab
16854/7 <94+86!> < 4. Nji R. Mariah
16955/7 <94+86!> < 5. R. Jusuf
17056/7 <94+86!> < 6. R. Utjeh
17157/7 <92> < 1. RH. Hasan Sarbini
17258/7 <92> < 2. R. Gosasiah Mekah
17359/7 <92+?> < 3. R. Hamzah
17460/7 <91+?> < 1. RH. Dodong
17561/7 <93> < 1. R. Gozali
17662/7 <93> < 2. R. Kawi Masduki
17763/7 <93> < 3. Nyi Rd. Siti Salamah
17864/7 <95+?> < 1. R. Ibnu Umar
17965/7 <96> < 1. R. Abubakar
18066/7 <96> < 2. R. Soleh (Bodjonggede)
18167/7 <97> < 1. R. Hasan
18268/7 <97> < 2. R. Husen
18369/7 <97> < 3. R. Husin
18470/7 <97> < 4. R. Kurdi
18672/7 <100+?> < 1. Nji R. Marijah
18773/7 <100> < 2. Nji R. Neneng
18874/7 <102> < 1. Nji R. Mimi
18975/7 <105> < 1. Nji R. Djuwita
19076/7 <65+?> < 2. Nji R. Maemunah/Enah
Rd sumareja.png
19177/7 <65+?> < 3. R. Sirod Djajanegara 19278/7 <65+?> < 4. Nyi Rd. Aisah (Imong) 19579/7 <79+?> < 3. R. Hodir
19680/7 <79+?> < 5. Nji R. Aminah
19781/7 <79+?> < 6. R. Muhammad / Opah
19882/7 <101+71!> < 3. RH. Soleh Sodik Nataatmadja
19983/7 <107+?> < 1. R. Abdul Rachman (pm)
20084/7 <107+?> < 2. Nyi.R.Fatimah
20185/7 <108> < 1. NR. Mariah
20286/7 <107+?> < 3. R. Achmad Suhandi 20387/7 <107+?> < 4. RH. E. Muchtar
20488/7 <69+?> < 3. Nyi R. Tirta
20589/7 <69+?> < 4. R. Udi Djuhdi
20890/7 <93> < 4. Nyi Rd. Rahmat
20991/7 <93> < 5. Nyi Rd. Rubi'ah
21092/7 <107+?> < Nyi Rd.Hj. Titi Aisyah 21193/7 <107+?> < Nyi Rd.Iyah Sahriyah
21294/7 <107+?> < Nyi Rd Mariam
21395/7 <107+?> < Nyi Rd Mamah Rahmah
R SOEMANTRI.JPG
21496/7 <99> < R. Andi Soemantri
21597/7 <113> < Raden Chidir
21698/7 <112> <Ψ Dalam Pendataan
21799/7 <71> < 4. Nyi Rd. Jubaedah
219101/7 <116> < Tubagus Siriakancana Batang
220102/7 <118> < Tubagus Mu'in
221103/7 <119+?> < 1. RMH Sulaeman
222104/7 <119+?> < 2. RM Asik
223105/7 <119+?> < 3. NR. Endah
224106/7 <119+?> < 4. NR. Entjung
225107/7 <119+?> < 5. NR Enah
226108/7 <119+?> < 6. NR Homsiah

8

3501/8 <207> < Raden Maerun (Mamak Erun)
lahir: Bantarjati, Klapanunggal, Cileungsi.
perkawinan:
penguburan: Pemakaman di Masjid Al Mujahidin, Cibarusah, Jawa Barat
Juragan Rd. Maerun (MamaErun) Asal muasalnya (folklore) adalah dari Desa Bantarjati/ Babakan, Cileungsi - Bogor, beliau selain 'alim, juga juragan tanah yang gemar bersedekah, menurut cerita keluarga sesepuh di Cibarusah, Masjid Tua Al Mujahidin, konon dahulunya merupakan wakaf darinya. Menjelang masa tuanya beliau tinggal di Cibarusah hingga wafatnya meninggalkan banyak istri dan anak yang menyebar di Cibarusah, Cileungsi, Cibinong, dan sekitarnya. Jenazahnya dipusarakan disamping pangimbaran Masjid Al Mujahidin, persisnya berdekatan/arah lor dari makam Demang Panji Cibarusah

~ Kesaksian (Alm) Rd.KH. Abdul Haq Hamidi / Mama Eneng, Cibarusah.

Wallahu A'lam Bish-showab.
Donden-1.jpeg
4082/8 <198+?> < 8. RH. Achmad Sukendar (Donden Sukendar)
bermukim: Jl Atzimar II No 1 Bogor Utara
== ASAL-USUL ==

RADEN HAJI ACHMAD SUKENDAR DIPONEGORO alias Donden Sukendar, lahir di Bogor pada ....., ..........19... putra ke 8 dari 9 bersaudara dari pasangan orang tua RH. Soleh Sodik Nataatmadja (Generasi ke 7 dari Sultan Hamengku Buwono III, Generasi ke 5 dari Sultan Haji/Sultan Abu Al Nashr 'Abdul Qahar Banten) dengan Ny. Rd. Hj. Siti Nurkoyah, menikah (tanggal), (bulan), (tahun) dengan Suherti putri Orang:............................. (asal/keturunan), dikaruniai 4 orang anak :

1. Ny.Rd. Indri Agustia
2. R. Idham Khaliq
3. RM. Shobur
4. R. Achmad Juarsa

Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)

0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA 
1. BPH. Dipanegara 
2. RM. Djonet Dipamenggala 
3. RM. Haryo Dipomenggolo 
4. RAy. Gondomirah
5. RAy. Rd. Antamirah 
6. RH. Ipih Sodik Nataatmadja 
7. RH. Soleh Sodik Nataatmadja 
8. RH. Achmad Sukendar Diponegoro (Donden Sukendar) 
 
 - Belum Ada Kekancingan -
 Banten.jpg  SILSILAH KELUARGA (JALUR SULTAN BANTEN)
0. Sultan Haji / Sayyid Abu Al Nashr 'Abdul Qahar Al Azmatkhan Al Husaini 
1. Pangeran Sayyid Muhammad Thahir al-Azmatkhan al-Husaini / Kanjeng Raden Tumenggung Prawirokusumo 
2. RA. Sutawidjaja 
3. RA. Mangkuwidjaja (Hoofd Djaksa & Hoofd Demang Bogor) 
4. Tb.H. Ipih Sodik Nataatmadja 
5. Tb.H. Soleh Sodik Nataatmadja 
6. Tb.H. Achmad Sukendar (Donden Sukendar) 
 
 - Belum Ada Kekancingan -
Cianjur.jpeg  SILSILAH KELUARGA (JALUR DALEM CIKUNDUL)

0. Pangeran Ngabehi Jayasasana/Jayalalana/Raja Gagang/H Rd Aria Wiratanu I/Mbah Dalem Cikundul Cianjur (Bupati Cianjur #I, 1681-1691)
1. Pangeran Wiramanggala / H Rd Aria Wiratanu II / Mbah Dalem Tarikolot Cianjur (Bupati Cianjur #II, 1691-1707)
2. H Rd Tumenggung Wiradinata (Bupati Bogor ke 6, 1749 - 1754
3. H Rd Tumenggung Wiradiredja (Bupati Bogor ke 8, 1758 - 1769
4. H Rd Muhammad Thohir (Auliya / Penghoeloe Bogor, 1826)
5. RAy. Habibah
6. RA. Mangkuwidjaja (Hoofd Djaksa & Hoofd Demang Bogor, 1866-1870) 
7. RH. Ipih Sodik Nataatmadja 
8. RH. Soleh Sodik Nataatmadja 
9. R.H. Achmad Sukendar (Donden Sukendar)

 - Belum Ada Kekancingan -
Logo-KSL1.jpeg  SILSILAH KELUARGA (JALUR SUMEDANG LARANG)

0. Prabu Geusan Ulun / Pangeran Kusumadinata II (Pangeran Angkawijaya) (Prabu Sumedanglarang ke 9, 1578-1610)
1. Pangeran Rangga Gede / Kusumadinata IV (Bupati Sumedang ke 2, 1625-1633)
2. Dlm. Rangga Gempol II / Kusumadinata V / Raden Bagus Weruh (Bupati Sumedang ke 3, 1633-1656)
3. Pangeran Panembahan/Rangga Gempol III (Bupati Sumedang ke 4, 1656-1706)
4. Tumenggung Tanoemadja (Bupati Sumedang ke 5, 1706-1709)
5. Pangeran Rangga Gempol IV / Raden Tumenggung Kusumahdinata VI / Pangeran Karuhun (Bupati Sumedang ke 6, 1709-1744)
6. Dalem Istri Rajaningrat (Bupati Sumedang ke 7, 1744-1749)
7. Dalem. Rd. Soerialaga / Soerialaga I / Adipati Kusumadinata (Bupati Sumedang ke 10, 1765 - 1773
8. Dalem Raden Soerialaga II / Raden Tumenggung Suryalaga II (Dalem Taloen) (Bupati Bogor ke 8, 1801 - 1811
9. Patih Rangga Candramenggala
10. Raden Tumenggung Adipati Suradimenggala (Bupati Bogor ke 8, 1758 - 1769)
11. RAy. Rd. Antamirah 
12. RH. Ipih Sodik Nataatmadja 
13. RH. Soleh Sodik Nataatmadja 
14. R.H. Achmad Sukendar (Donden Sukendar)

 - Belum Ada Kekancingan -


PENDIDIKAN

- SD  (Thn .....)
- SMP (Thn .....)
- SMA (Thn .....)
- Perguruan Tinggi (Thn ....) 

PEKERJAAN

Tahun ....- ....., ...............................;
Tahun ....- ....., ...............................;
Tahun ....- ....., ...............................;
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
3073/8 <194> < 1. Pangeran Surya Kumolo
gelar: 1832 - 1888, Sultan Banten Ke XVIII
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang Sultan Penuh Terakhir Banten yang dibuang ke Surabaya, yakni Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin merasa kecewa terhadap perlakuan pihak penjaja asing dari Eropa serta melarang keturunannya untuk menikah dengan kalangan bule, hal ini dilanggar oleh Pangeran Surya Kumala sehingga hak pewarisan tahta Kesultanan Banten dialihkan kepada Pangeran Timur Soerjaatmadja.
3494/8 <206+8> < 1. Kiyai Tubagus Achmad Muntari (Mbah Mun)
lahir: 1860, Kenari, Banten, Jawa Barat
perkawinan: <17> < Nyi Raden Siti Jama' b. 1878
wafat: 1940, Sukaraja - Cimahpar, Bogor, Jawa Barat
RMH. Moch Rana Manggala
2285/8 <120+9> < 1. RM. H. Moch. Rana Menggala (Cucu RM. Ngabehi Dipomenggolo)
lahir: 1866c, Empang, Kota Bogor
pekerjaan: 1916 - 1938, PENGHULU TJIAWI - BUITENZORG
wafat: 1938
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Silsilah Keturunan RMH. Moch Rana Manggala (Sumber: WA. R. UKE SUKMAWATI KARIM)

RANA1.jpg |

RANA2.jpg
Capek.jpeg
2296/8 <120+9> < 2. RM. H Abdul Ghani / Rm.h. Sarhun / Lurah Ihun
lahir: 1869c, Empang, Kota Bogor
perkawinan:
pekerjaan: 1906 ? 1923, LURAH LEBAK PASAR-BUITENZORG
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

orng:

Orang:629893|R.H. YASIN Orang:629895|R.H. ALI Orang:629896|R.H. ABDUL MANAN (Adung) Orang:629897|R.Hj. SUPIAH (Siti) Orang:629898|R.Hj. ENCUNG] Orang:629916|R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata) Orang:629917|R.MASDIR KURNAEN (Aeng) Orang:629918|R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF Orang:629920|R.MASDIR SUMANTRI (Ati) Orang:629934|R.MASDIR EMAN SULAEMAN

Abdul GHANI-2 : 1179717
Capek.jpeg
2307/8 <120+9> < 3. RM. H. Muhammad Hasyir
lahir: 1872c, Empang-Bogor
Capek.jpeg
2318/8 <120+9> < 4. RM. H. Harisun
lahir: 1875c, Empang-Bogor
LAMBANG KESULTANAN BANTEN
3109/8 <194> < 4. Pangeran Timoer Soerjaatmadja
gelar: 1888 - 1946, Sultan Banten Ke XIX
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Masa awal Kevakuman Kesultanan Banten

Pada masa Kevakuman Kesultan Banten, rakyat Banten di bawah pimpinan para Ulama Banten secara seporadis kerap melakukan perlawanan kepada pemerintah Hindia Belanda. Banyak perjuangan yang menyuarakan spirit perjuangan kembali memperjuangkan spirit perjuangan kesultanan Banten dan keislaman, yang paling menonjol adalah peristiwa Geger Cilegon tahun 1888.

Sultan Penuh Terakhir Banten yang dibuang ke Surabaya, yakni Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin merasa kecewa terhadap perlakuan pihak penjaja asing dari Eropa serta melarang keturunannya untuk menikah dengan kalangan bule, hal ini dilanggar oleh Pangeran Surya Kumala sehingga hak pewarisan tahta Kesultanan Banten dialihkan kepada Pangeran Timur Soerjaatmadja.
29610/8 <190+13> < 1. Rd. Muhtar Suma Kusyadi (Enggan) (uwa Gang Selot)
lahir: 6 Mei 1909, Bogor
RdMiftahSumaTuryandiAden.png
41111/8 <190+13> < 2. Rd. Miftah Suma Turyandi (Aden)
lahir: 21 Oktober 1910, Bogor
perkawinan: <18> < Ny. Rd. Lili Mersih
Rd sumareja.png Rdmiftah.png
29712/8 <190+13> < 3. Rd. Mislah Suma Husyadi (Djagan) (uwa Dawuan)
lahir: 18 Juli 1912
24113/8 <141> < 1. Rd. Usman Sumintawijaya
lahir: 1913
wafat: Jl Ciasem, Kebayoran Baru, Jaksel
wafat: 1955
penguburan: Pamoyanan-Bogor
Catatan : (dari R. Gunawan Dipomenggolo) Tanah aki Usman Sumintawijaya dari Bondongan sampe Empang, katanya Ibu beliau masih turunan Habib Empang, tapi silsilah beliau masih gelap Saya hanya tahu ayahnya bernama Umar Sumintawijaya bin Angkawijaya, beliau wafat tahun 1955 di usia 42 tahun, kayanya beliau masih famili dengan Nini Umriyah, semasa hidupnya beliau kepala Kantor Pos di beberapa kota pulau Jawa, pada saat bertugas di Magelang sekitar tahun 1930-an lahirlah Ibu Saya di Muntilan, makanya di beri nama Mundiyah, mungkin lahir di muntilan napak tilas Eyang Diponegoro, Aki Usman wafat di rumahnya jl Ciasem, Kebayoran Baru, Jaksel, kemudian dipindah ke makam keluarga Pamnoyanan
29814/8 <190+13> < 4. Ny. Rd. Diyoh Djueriah
lahir: 18 November 1914
29915/8 <190+13> < 5. Rd. Muhamad
lahir: 5 September 1916
Sumber Foto : Foto Keluarga
25016/8 <134+10> < 1. R. H. Ma'mun
lahir: 17 Maret 1917, Bogor
perkawinan: <19> < Nyi. R. Bidan d. 4 September 1969
penguburan: 21 Desember 2001, Pemakaman Keluarga, Kaum Seuseupan Ciawi-Bogor
wafat: 31 Desember 2001, Kaum Seuseupan Ciawi-Bogor
30017/8 <190+13> < 6. Rd. Mukmin Suma Permadi
lahir: 9 Februari 1918
30118/8 <190+13> < 7. Ny. Rd. Mulyani (Nani)
lahir: 25 Mei 1919
30219/8 <190+13> < 8. Ny. Rd. Mulyati (Yayat)
lahir: 6 Maret 1921
30320/8 <190+13> < 9. Rd. Affandi (Apit)
lahir: 30 Maret 1922
30421/8 <190+13> < 10. Ny. Rd. Mulyatin (Titih)
lahir: 29 Juni 1923
R Entjep.JPG
35222/8 <185+12> < R. Entjep Soehandi
lahir: 25 Desember 1923
perkawinan: <20> < Momon Marmoni
wafat: 7 Maret 1993
30523/8 <190+13> < 11. Rd. Adi
lahir: 25 Agustus 1924
35624/8 <205> < Rd H Ule Djulaeha
lahir: 1925?
perkawinan: <351!> < R. Aden Sukardi d. 5 Oktober 1976
39425/8 <190+13> < 12. Rd. Mulyandi (Deden)
lahir: 13 Desember 1926
39526/8 <190+13> < 13. Ny. Rd. Ucu Mulyawati (Cucu)
lahir: 13 Desember 1926
39627/8 <190+13> < 14. Ny. Rd. Ucu Mulyana (Nensih)
lahir: 25 Maret 1929
39728/8 <190+13> < 15. Rd. Muslihat (Mumu)
lahir: 4 Maret 1931
41429/8 <190+13> < 18. Ny. Rd. Mukminat (Poppy)
lahir: 26 Maret 1934, Bogor
35130/8 <185+12> < R. Aden Sukardi
perkawinan: <356!> < Rd H Ule Djulaeha b. 1925?
perkawinan: <21> < Tjitjoh
wafat: 5 Oktober 1976
23231/8 <122> < NYI R. Soleha
23332/8 <122> < R. Musa
23433/8 <123> < NYI R. Sukarsih
23534/8 <123> < R. Gunawan
23635/8 <123> < R. Harun
23736/8 <123> < NYI R. Supiah
23837/8 <123> < NYI R. Siti Entit
23938/8 <123> < R. Jamil
24039/8 <123> < NYI R. Sumini
24240/8 <129+?> < 1. R. Mundji
24341/8 <130> < 1. R. Tjetjeng
24442/8 <130> < 2. R. Jusuf
24543/8 <140+11> < 1. RM. Saleh Hadiningrat/Pupung
24644/8 <141> < 2. R. Ule
24745/8 <141> < 3. Nji R. Tjitjih
24846/8 <141> < 4. R. Diding
Sumber Foto : Foto Keluarga
24947/8 <134+10> < 2. R. Malik
Sumber Foto : Foto Keluarga
25148/8 <134+10> < 6. R. Adang Keson
25249/8 <134+10> < 3. Nji R. Siti Warikoh
25350/8 <134+10> < 5. Nji R. Habibah 25451/8 <134+10> < 4. Nji R. Siti Sa'diah 25552/8 <135+?> < 1. Nji R. Dadah
25653/8 <135> < 2. Nji R. Tintin
25754/8 <136> < 1. R. Subur
25855/8 <136+?> < 2. R. Sanusi
25956/8 <137+?> < 1. Nji R. Utit
26057/8 <137> < 2. R. Adang
26158/8 <137> < 3. R. Ujung
26259/8 <137> < 4. Nji R. Etet
26360/8 <137> < 5. Nji R. Itje
26461/8 <137> < 6. Nji R. Eli
26562/8 <137> < 7. Nji R. Hani
26663/8 <138> < 1. R. Djadja
26764/8 <138> < 2. R. Maman
26865/8 <138> < 3. Nji R. Jajang
26966/8 <138> < 4. Nji R. Ema
27067/8 <138> < 5. R. Said
27168/8 <138> < 6. Nji R. Nurdjanah
27269/8 <138> < 7. R. Emud
27370/8 <138> < 8. R. Adu
27471/8 <138+?> < 9. Nji R. Ida
27572/8 <153> < 1. Nji R. Emaj
27673/8 <153> < 2. R. Dundun
27774/8 <153> < 3. R. Didi
27875/8 <154+?> < 1. R. Fu'ad
27976/8 <158> < 1. Nji R. Enah
28077/8 <158> < 2. Nji R. Endah
28178/8 <158> < 3. R. Harun
28279/8 <140+11> < 2. Nji R. Djadjeng-Sjaaf Rusli
28380/8 <140+11> < 3. R. Muh. Hadiningrat
28481/8 <140+11> < 4. R. Husen Djajadiningrat/Diding
28582/8 <140+11> < 5. Nji R. Siti Aminah/Itje
28683/8 <140+11> < 6. Nji R. Siti Rahmah/Emi
28784/8 <140+11> < 7. R. Mochtar/Bob
28885/8 <140+11> < 8. Nji R. Nine (..............) 28986/8 <140+11> < 9. R. Hasan Mangkuningrat
29087/8 <140+11> < 10. Nji R. Siti Mariam/Meri
29188/8 <140+11> < 11. R. Isa Mangkuningrat
29289/8 <140+11> < 12. Nji R. Siti Djenab/Jutje
29390/8 <140+11> < 13. Nji R. Angrum/Angki 29491/8 <140+11> < 14. Nji R. Ratna Kantjana/Koni
29592/8 <140+11> < 15. Nji R. Komariah/Komi
30693/8 <191+14> < 1. R. Dadang Ismail
30894/8 <194> < 2. Pangeran Surya Kusumo
30995/8 <194> < 3. Ratu Ayu Kunthi
31196/8 <159> < 1. Nji R. Jojoh
31297/8 <159> < 2. Nji R. Apun
31398/8 <159> < 3. R. Soleh
31499/8 <159> < 4. Nji R. Mamah
315100/8 <159> < 5. Nji R. Eha
316101/8 <159> < 6. Nji R. Titin
317102/8 <159> < 7. Nji R. Enggang
318103/8 <160> < 1. R. Entang
319104/8 <160> < 2. R. Tjetjeng
320105/8 <160> < 3. Nji R. Entin
321106/8 <160> < 5. Nji R. Endjah
322107/8 <160> < 6. Nji R. Tjirji+Sanusi
323108/8 <160+?> < 7. Nji R. Uriah
324109/8 <195> < 1. R. Pepen
325110/8 <195> < 2. Nji R. Nena
326111/8 <195+?> < 3. Nji R. Iim
327112/8 <161> < 1. R. Dadeng/Muhammad
328113/8 <161> < 2. Nji R. Sofiah/Titin + Tohir
329114/8 <161> < 3. Nji R. Fatimah
330115/8 <161> < 4. Nji R. Maemunah + Aden
331116/8 <161> < 5. R. Abdullah
332117/8 <161+?> < 6. R. Abdul Hai
333118/8 <196> < 1. R. Muchtar
334119/8 <196+?> < 2. R. Jusuf/Empih
335120/8 <197> < 1. R. Miftah
336121/8 <197> < 2. Nji R. Endah
337122/8 <197> < 3. R. Mumuh
338123/8 <197> < 4. Nji R. Iim
339124/8 <197+?> < 5. Nji R. Jojoh
340125/8 <128> < 1. Nyi R. Widari
341126/8 <128> < 2. R. Memed
342127/8 <128> < 3. R. Rusadi
343128/8 <128> < 4. R. Hamid
344129/8 <128+?> < 5. Nyi R. Diah
345130/8 <146+?> < 1. Nyi R. Tjitjoh
346131/8 <146+?> < 2. Nyi R. Ijah
347132/8 <205> < R. Hj. Soleha 348133/8 <205> < 2. R. Deden
353134/8 <185+12> < R. Adang Soekarna
Padma.JPG
354135/8 <185+12> < R. Padma Saputra
355136/8 <185+12> < R. H. Djadja Pandumihardja 357137/8 <176> < 1. Nyi Rd. E. Hasanah
358138/8 <176> < 2. R.m. Pahruroji
359139/8 <176> < 3. Nyi Rd. E. Nuraeni
360140/8 <176> < 4. Nyi Rd. Uju Julaeha
361141/8 <176> < 5. R. E. Jarkasih
362142/8 <176> < 6. R. Ei Nurjaman
363143/8 <176> < 7. Nyi Rd. Hj. E. Julaeha
364144/8 <210+16> < Rd.Hj Heni Haeriah 365145/8 <210+16> < R Ali Rahmat
366146/8 <210+16> < Rd Yeyen Maryani
367147/8 <210+16> < Rd Tati Martati
368148/8 <210+16> < R Herman Sukarja
369149/8 <210+16> < R Moch Harris
370150/8 <210+16> < Rd Rida Afrida
371151/8 <134+10> < 7. Nyi. R. Siti Maemunah
372152/8 <134+10> < 8. Nyi. R. Umi Kulsum
373153/8 <134+10> < 9. Nyi. R. Siti Mariam
374154/8 <134+10> < 10. Nyi. Siti Fatimah
375155/8 <202+254!> < R. Yadi
376156/8 <202+254!> < R. Yanti
377157/8 <202+254!> < R. Rudi
378158/8 <202+254!> < R. Dadang
379159/8 <202+254!> < R. Heri
380160/8 <202+254!> < R. Asep
381161/8 <214> < R. Endeh Ratna Komariyah
382162/8 <215> < Rd. H. Moch. Adam
383163/8 <215> < Rd. H. Suta Asria
384164/8 <217> < 1. Nyi Rd. Rubiah
386166/8 <205> < R. Haji Sudjai Zuhdi
387167/8 <218> < 1. Sy. Ratu Sutiani Sastrowardoyo
388168/8 <218> < 2. Sy. Rd. Suprapto Sastrowardoyo
389169/8 <218> < 4. Sy. Rd. Sugiharto Sastrowardoyo
390170/8 <218> < 5. Sy. Rd. Sudibyo Sastrowardoyo
391171/8 <218> < 6. Sy. Rd. Sugiarso Sastrowardoyo
392172/8 <218> < 7. Sy. Ratu Suniati Sastrowardoyo
393173/8 <219> < Tubagus Pudian
398174/8 <206+8> < 2. KH. Tubagus Achmad Muntadhor
399175/8 <206> < 3. KH. Tubagus Achmad Muntaqo'
400176/8 <220> < Tubagus Abdul Majid
401177/8 <198+?> < 1. Ny. Rd. Siti Djuariah (Pupu Nuju Bayi)
402178/8 <198+?> < 2. RH. Achmad Sobari
403179/8 <198+?> < 3. Ny. Rd. Hj. Solihat
404180/8 <198+?> < 4. RH. Achmad Sudardjat
405181/8 <198+?> < 5. Ny.Rd.Hj. Siti Aisyah
406182/8 <198+?> < 6. R. Moch. Supriatna (Tatan Muchtar)
407183/8 <198+?> < 7. Ny.Rd. Hj. Siti Sofiati
409184/8 <198+?> < 9. RH. Dodi Firdaus
410185/8 <227> < Ratu Khadariyah
412186/8 <190+13> < 16. Rd. Muhamad Husen (meninggal Saat Masih Kecil)
413187/8 <190+13> < 17. Rd. Mutahir (meninggal Sekitar Umur 2 Tahun)