Kanjeng Ratu Kencana - Keturunan (Inventaris)

Dari Rodovid ID
Orang:469942
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.

1

11/1 <?> < Kanjeng Ratu Kencana

2

P.B.IV.jpg
21/2 <1+1> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono IV / Raden Mas Subadya (Sunan Bagus)
lahir: 2 September 1768, Surakarta
perkawinan: <2> < Raden Ayu Pamogan
perkawinan: <3> < Kanjeng Raden Ayu Handoyo / Raden Ayu Adipati Anom (Ratu Kencana)
perkawinan: <4> < Ratu Kencanawungu / Raden Ayu Sukaptinah
perkawinan: <5> < Mas Ayu Rantansari Joyokartiko
perkawinan: <6> < Raden Retnodiningsih
gelar: 29 September 1788 - 2 Oktober 1820, Surakarta, Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ing Ngalogo Abdur Rahman Sayyidin Panotogomo IV
wafat: 2 Oktober 1820, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana IV (lahir: Surakarta, 1768 – wafat: Surakarta, 1820) adalah raja ketiga Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1788 – 1820. Ia dijuluki sebagai Sunan Bagus, karena naik takhta dalam usia muda dan berwajah tampan.

Awal Pemerintahan Nama aslinya adalah Raden Mas Subadya, putra Pakubuwana III yang lahir dari'' permaisuri keturunan sultan Demak''. Ia dilahirkan tanggal 2 September 1768 dan naik takhta tanggal 29 September 1788, dalam usia 20 tahun.

Pakubuwana IV adalah raja Surakarta yang penuh cita-cita dan keberanian, berbeda dengan ayahnya yang kurang cakap. Ia tertarik pada paham Kejawen dan mengangkat para tokoh golongan tersebut dalam pemerintahan. Hal ini tentu saja ditentang para pejabat Islam yang sudah mapan di istana.

Para tokoh Kejawen tersebut mendukung Pakubuwana IV untuk bebas dari VOC dan menjadikan Surakarta sebagai negeri paling utama di Jawa, mengalahkan Yogyakarta.

Peristiwa Pakepung Keadaan Surakarta semakin tegang. Para pejabat yang tersisih berusaha mengajak VOC untuk menghadapi raja. Pakubuwana IV sendiri membenci VOC terutama atas sikap residen Surakarta bernama W.A. Palm yang korup.

Residen Surakarta pengganti Palm yang bernama Andries Hartsinck terbukti mengadakan pertemuan rahasia dengan Pakubuwana IV. VOC mulai cemas dan menduga Hartsinck dimanfaatkan Pakubuwana IV sebagai alat perusak dari dalam.

VOC akhirnya bersekutu dengan Hamengkubuwana I dan Mangkunegara I untuk menghadapi Pakubuwana IV. Pada bulan November 1790 bersama mereka mengepung Keraton Surakarta. Dari dalam istana sendiri, para pejabat senior yang tersisih ikut menekan Pakubuwana IV agar menyingkirkan para penasihat rohaninya. Peristiwa ini disebut Pakepung.

Pakubuwana IV akhirnya mengaku kalah tanggal 26 November 1790 dengan menyerahkan para penasihatnya yang berpaham Kejawen untuk dibuang VOC.

Sikap terhadap Yogyakarta Atas prakarsa VOC, maka Pakubuwana IV, Hamengkubuwana I dan Mangkunegara I bersama menandatangani perjanjian yang menegaskan bahwa kedaulatan Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegaran adalah setara dan mereka dilarang untuk saling menaklukkan.

Meskipun demikian, Pakubuwana IV tetap saja menyimpan ambisi untuk mengembalikan Mataram-Yogyakarta ke dalam pangkuan Surakarta. Sejak tahun 1800 tidak ada lagi VOC karena dibubarkan pemerintah negeri Belanda. Sebagai gantinya, dibentuk pemerintahan Hindia Belanda yang juga dipimpin seorang gubernur jenderal.

Herman Daendels gubernur jenderal Hindia Belanda sejak 1808 menerapkan aturan yang semakin merendahkan kedaulatan istana. Dalam hal ini Pakubuwana IV seolah-olah menerima kebijakan itu karena ia berharap Belanda mau membantunya merebut Yogyakarta.

Pakubuwana IV juga pandai bersandiwara di hadapan Thomas Raffles, wakil pemerintah Inggris yang telah menggeser pemerintahan Hindia Belanda tahun 1811. Sementara itu Hamengkubuwana II (pengganti Hamengkubuwana I terkesan kurang ramah terhadap bangsa asing.

Pakubuwana IV memanfaatkan kesempatan itu. Ia saling berkirim surat dengan Hamengkubuwana II yang berisi hasutan supaya Yogyakarta segera memberontak terhadap penjajahan Inggris. Harapannya, Yogyakarta akan hancur di tangan Inggris.

Pihak Inggris lebih dulu mengambil tindakan. Pada bulan Juni 1812 istana Yogyakarta berhasil diduduki dengan bantuan Mangkunegara II. Hamengkubuwana II sendiri ditangkap dan dibuang ke Penang.

Persekutuan dengan Orang-Orang Sepoy Surat-menyurat antara Pakubuwana IV dan Hamengkubuwana II terbongkar. Pihak Inggris tidak menurunkan Pakubuwana IV dari takhta tapi merebut beberapa wilayah Surakarta.

Pakubuwana IV belum juga jera. Pada tahun 1814 ia bersekutu dengan kaum Sepoy dari India, yaitu tentara yang dibawa Inggris untuk bertugas di Jawa. Tentara Sepoy ini diajak Pakubuwana IV untuk memberontak terhadap Inggris, serta menaklukkan Yogyakarta yang saat itu dipimpin Hamengkubuwana III.

Persekutuan ini kandas tahun 1815. Sebanyak 70 orang Sepoy yang terlibat pemberontakan diadili pihak Inggris. Sejumlah 17 orang di antaranya dihukum mati, sedangkan sisanya dipulangkan ke India sebagai tawanan. Thomas Raffles juga membuang seorang pangeran Surakarta yang dianggap sebagai penghasut Pakubuwana IV.

Akhir Pemerintahan Pakubuwana IV masih menjadi raja Surakarta tanpa diturunkan Inggris. Sebaliknya, ia mengalami pergantian pemerintah penjajah, dari Inggris kembali kepada Belanda tahun 1816.

Pakubuwana IV meninggal dunia tanggal 2 Oktober 1820. Ia digantikan putranya yang bergelar Pakubuwana V.

Selain dikenal sebagai ahli politik yang cerdik, Pakubuwana IV juga terkenal dalam bidang sastra, khususnya yang bersifat rohani. Ia diyakini mengarang naskah Serat Wulangreh yang berisi ajaran-ajaran luhur untuk memperbaiki moral kaum bangsawan Jawa.

Pujangga besar Ranggawarsita mengaku semasa muda ia pernah belajar beberapa ilmu kesaktian kepada Pakubuwana IV. Ranggawarsita sendiri merupakan cucu angkat Pangeran Buminoto, adik Pakubuwana IV.
32/2 <1+1> < Gusti Raden Ajeng Supiyah

3

101/3 <2+6> < Bendoro Raden Mas Lamdani (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumoyudho)
penguburan: Purworejo
Pb-v2.jpg
42/3 <2+3> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono V / Sunan Sugih (Raden Mas Sugandi)
lahir: 1785, Surakarta
perkawinan: <8> < Raden Ayu Sosrokusumo / Ratu Kencana
perkawinan: <9> < Ratu Mas / Kanjeng Ratu Ageng
perkawinan: <10> < Raden Ayu Dewakusuma
perkawinan: <11> < R Ayu Malayasari
gelar: 10 Februari 1820 - 5 September 1823, Surakarta, Bergelar Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwono V
wafat: 5 September 1823, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana V (lahir: Surakarta, 1785 – wafat: Surakarta, 1823) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1820 – 1823.

Kisah Hidup Nama aslinya adalah Raden Mas Sugandi, putra Pakubuwana IV yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Handoyo putri Adipati Cakraningrat bupati Pamekasan. Ia naik takhta pada tanggal 10 Februari 1820, selang delapan hari setelah kematian ayahnya.

Pakubuwana V juga dikenal dengan sebutan Sunan Sugih, yang artinya “Baginda Kaya”, yaitu kaya harta dan kaya kesaktian. Konon, ia pernah membuat keris pusaka dengan tangannya sendiri, bernama Kyai Kaget, yang berasal dari pecahan meriam pusaka Kyai Guntur Geni saat terjadinya pemberontakan orang Cina tahun 1740.

Pakubuwana V juga memerintahkan ditulisnya Serat Centhini berdasarkan pengalaman pribadinya semasa menjabat Adipati Anom. Yang menjadi juru tulis naskah populer ini ialah Raden Rangga Sutrasna.

Pakubuwana V hanya memerintah selama tiga tahun. Ia meninggal dunia pada tanggal 5 September 1823. Raja Surakarta selanjutnya adalah putranya, yaitu Pakubuwana VI, yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional.

SRI SUSUHUNAN PAKUBUWANA V, BUKAN HANYA RAJA dari Karaton Surakarta Hadiningrat, melainkan beliau juga seorang maecenas besar yang pernah dimiliki Indonesia. Meski kekuasaannya berlangsung sangat pendek (1820-1823), namun jasa dan gagasannya terukir panjang. Dari gagasan, dan tentu donasi beliau (yang bahkan telah dimulai ketika masih sebagai putra mahkota bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara ing Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV), lahirlah pada awal abad 19 itu, Suluk Tambangraras yang kemudian lebih dikenal sebagai Serat Centhini. Serat Centhini, ditulis tahun 1815 oleh tiga pujangga Karaton Surakarta. Yakni, Ki Ngabei Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura. Sebagai sebuah karya sastra, memenuhi syarat sebagai sebuah mahakarya yang memiliki pengaruh luas. Sampai banyak orang bisa berkomentar dan menilai, sekali pun sama sekali belum pernah membacanya, sampai hari ini. Begitu hebatnya ia, sampai-sampai karya ini muncul dalam banyak versi. Setidaknya ditengarai ada 12 versi Serat Centhini, dan itu sudah cukup menunjukkan kelasnya. Daerah tebanya begitu luas. Ia mengenai apa saja. Bukan hanya mengenai sastra atau seni, melainkan juga tentang adat-istiadat, obat-obatan, makanan dan minuman (jaman sekarang disebut kuliner), pengetahuan tentang hewan, tanaman, agama, sejarah, dan bahkan tentang seks. Tentang yang terakhir itulah, Serat Centhini antara lain dikenal luas. Karena Serat Centhini-lah karya sastra Jawa pada waktu itu, yang berbicara berterus-terang perihal seks. Penjabarannya, bukan hanya verbal tetapi kadang liar. Dalam Serat Centhini, juga dikisahkan bagaimana terjadi anal seks atau pun praktik homo-seksualitas. Dan bahkan, seks massal,... Pada bagian-bagian yang berkait dengan seks itu, konon Pakubuwana V sendiri yang turun tangan, menulis langsung. Itu terjadi setelah tiga penulisnya dirasa tidak memuaskannya. Tidak nges, dan kurang lugas. Kurang mak nyus, kata almarhum Prof. Dr. Umar Kayam (yang kemudian ditirukan atau dipopulerkan oleh pakar kuliner Bondan Winarno). Maka, Serat Centhini jilid 5 s.d 10 yang ditulis sendiri oleh sang Raja, sebagaimana kemudian bisa dibaca dalam kitab Serat Centhini sekarang ini. Ia mendapat banyak sebutan, sebagai karya korpus, monumental, sastra kanon yang begitu lengkap dan mencengangkan, karena cakupan isinya yang ensiklopedis, gaya bertuturnya, serta ketebalannya. Bayangkanlah, pada abad 19 itu, lahir karya sastra yang secara liris dan intens, ditulis sebanyak 12 jilid, dengan 722 pupuh tembang (jenis puisi Jawa). Satu pupuh tembang, tak jarang terdiri dari ratusan kuplet (bait), bahkan ada beberapa yang mencapai lebih dari 300 kuplet. Dan masing-masing kuplet terdiri antara 6 hingga 12 baris. Bisa dibayangkan, kepiawaian bahasa para penulisnya. Karena masing-masing pupuh tembang diikat oleh guru wilangan (jumlah suku kata yang terukur dan terhitung pasti), dan guru lagu (akhir suku kata masing-masing baris yang baku, untuk mendapatkan pola pantunnya). Karena itu, kata-kata dalam bahasa Jawa yang dipakai para penulisnya begitu lentur karena mengejar rima dan bunyi. Karena itu ketika Serat Centhini itu dilisankan (ditembangkan) siapa pun sepanjang mengetahui cara menyanyikan pupuh tembang itu, Centhini menjadi komunikatif, mudah untuk diapresiasi, dan mudah untuk disosialisasikan. Bahkan terbuka ditafsirkan dan punya kecenderungan bias, karena faktor pendengaran, pengertian, atau ingatan. Hal ini menjadi mudah terjadi, karena tembang sebagai sastra lisan yang jamak dilakukan pada waktu itu, terjadi dalam berbagai bentuk pertemuan banyak orang, ketika berada dalam upacara sunatan, pengantin, atau berbagai pertemuan-pertemuan rutin, yang diselenggarakan oleh berbagai kelompok masyarakat, dalam berbagai waktu dan tempat. Karena itulah Centhini bisa muncul dalam banyak versi. Seperti Centhini Pegon. Centhini Jalalen. Centhini versi Madura. Dan lain sebagainya. Tidak dalam niat menyamakan, demikian pulalah ketika para sahabat Muhammad SAW hendak mengumpulkan hadist nabi, yang tentunya disampaikan secara lisan. Maka ketika hadist itu hendak dikumpulkan dan dituliskan, dibutuhkan para perawi hadis yang sahih, yang bisa menjamin tingkat kebenarannya. Apalagi, untuk kasus penulisan Alquran, yang dilakukan setelah nabi wafat. Demikian pula dengan kasus penulisan Injil, yang ditulis berdasar penuturan sahabat-sahabat Jesus seperti Lukas, Paul, Johannes dan lain sebagainya. Percontohan dalam karya sastra Indonesia, mungkin bisa ditemui pada novel “Para Priyayi” (1992) Umar Kayam, yang pembagian bab-nya ditulis menurut sudut pandang “aku” tokoh-tokohnya. Atau pada lahirnya novel kwarternarius “Bumi Manusia” (1980) Pramoedya Ananta Toer. Yang konon sebelum dituliskan, justeru dilisankan. Didongengkan terlebih dulu kepada sesama napi di Pulau Buru, untuk kemudian baru ditulis.

Serat Centhini (1815) berada dalam nasib berbeda, karena ia “hanya” sastra Jawa, yang tentu tidak segawat kasus penulisan kitab agama yang membutuhkan kesahihan dan kecanggihan. Demikian pula, ia bukan sastra teks Indonesia yang “mulia”, yang mempunyai para ahli kritiknya masing-masing. Sehingga perlu ada studi perbandingan atau studi kritis, sebagaimana dialami oleh Umar Kayam atau Pramoedya.
Surakarta-PBVIII.jpg
63/3 <2+5> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Vlll
lahir: 20 April 1789, Surakarta
perkawinan: <11!> < Bendoro Raden Ajeng Ngaisah
gelar: 17 Agustus 1858, Surakarta, Susuhunan Surakarta Ke-VII
wafat: 28 Desember 1861, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana VIII (lahir: Surakarta, 1789 – wafat: Surakarta, 1861) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1858 – 1861.

Pemerintahan Pakubuwana VIII Nama aslinya adalah Raden Mas Kusen, putra Pakubuwana IV yang lahir dari istri selir bernama Mas Ayu Rantansari putri Ngabehi Joyokartiko, seorang menteri Surakarta. Ia dilahirkan pada tanggal 20 April 1789.

Pakubuwana VIII naik takhta pada tanggal 17 Agustus 1858 menggantikan adiknya (lain ibu) yaitu Pakubuwana VII yang meninggal dunia sebulan sebelumnya.

Pakubuwana VIII naik takhta pada usia lanjut, yaitu 69 tahun karena Pakubuwana VII tidak memiliki putra mahkota. Ia sendiri adalah raja keturunan Mataram pertama yang tidak melakukan poligami. Pemerintahannya berjalan selama tiga tahun. Pakubuwana VIII akhirnya meninggal dunia tanggal 28 Desember 1861.

Pakubuwana VIII digantikan putra Pakubuwana VI sebagai raja Surakarta selanjutnya, yang bergelar Pakubuwana IX.
Surakarta-PBVII.jpg
54/3 <2+4> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono VII / Raden Mas Malikis Solikin (Pangaran Adipati Purbaya)
lahir: 28 Juli 1796, Surakarta
perkawinan: <12> < Ratu Kencana
perkawinan: <13> < Ratu Paku Buwono
perkawinan: <14> < Raden Ayu Retnodiluwih
gelar: 14 Juni 1830 - 28 Juli 1858, Surakarta, Susuhunan Surakarta Ke-VII [1830–1858]
wafat: 28 Juli 1858, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana VII (lahir di Surakarta, 28 Juli 1796 – meninggal di Surakarta, 28 Juli 1858 pada umur 62 tahun) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1830 – 1858.

Nama aslinya ialah Raden Mas Malikis Solikin, putra Pakubuwana IV yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Sukaptinah alias Ratu Kencanawungu. Ia dilahirkan tanggal 28 Juli 1796.

Pakubuwana VII naik takhta tanggal 14 Juni 1830 menggantikan keponakannya, yaitu Pakubuwana VI yang dibuang ke Ambon oleh Belanda. Saat itu Perang Diponegoro baru saja berakhir. Masa pemerintahan Pakubuwana VII relatif damai apabila dibandingkan masa raja-raja sebelumya. Tidak ada lagi bangsawan yang memberontak besar-besaran secara fisik setelah Pangeran Diponegoro. Jika pun ada hanyalah pemberontakan kecil yang tidak sampai mengganggu stabilitas keraton.

Keadaan yang damai itu mendorong tumbuhnya kegiatan sastra secara besar-besaran di lingkungan keraton. Masa pemerintahan Pakubuwana VII dianggap sebagai puncak kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta dengan pujangga besar Ranggawarsita sebagai pelopornya. Hampir sebagian besar karya Ranggawarsita lahir pada masa ini. Hubungan antara raja dan pujangga tersebut juga dikisahkan sangat harmonis.

Pakubuwana VII juga menetapkan undang-undang yang berlaku sampai ke pelosok negeri, bernama Anggèr-anggèr Nagari. Selain itu, pada masanya dirilis pula pranata mangsa versi Kasunanan yang dimaksudkan menjadi pedoman kerja bagi petani dan pihak-pihak terkait dengan produksi pertanian. Pranata mangsa versi Kasunanan ini banyak dianut petani di wilayah Mataraman hingga diperkenalkannya program intensifikasi pertanian di awal 1970-an.

Pemerintahannya berakhir saat kematiannya pada tanggal 28 Juli 1758. Karena tidak memiliki putra mahkota, Pakubuwana VII digantikan oleh kakaknya (lain ibu) bergelar Pakubuwana VIII yang naik takhta pada usia 69 tahun.
75/3 <3+7> < Raden Ayu Tumenggung Tirtokusumo
Raden Ayu Tumenggung Tirtokusumo adalah istri Bupati Blora
86/3 <2> < Gusti Bendoro Pangeran Ario Danupoyo ? (Pakubuwono IV)
97/3 <3+7> < Raden Mas Tumenggung Wironagoro
118/3 <3+7> < Bendoro Raden Ajeng Ngaisah
perkawinan: <6!> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Vlll b. 20 April 1789 d. 28 Desember 1861
129/3 <2> < Gusti Pangeran Hario Notopoero

4

181/4 <5+14> < Gusti Raden Ajeng Maknowiyah (Gusti Raden Ayu Suryaningrat)
perkawinan: <27!> < Gusti Pangeran Haryo Suryoningrat
penguburan: Imogiri, Bantul
Surakarta-PBVI.jpg
132/4 <4+8> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono VI / Raden Mas Sapardan (Sinuhun Bangun Tapa)
lahir: 26 April 1807, Surakarta
perkawinan: <15> < Ratu Mas
perkawinan: <16> < Ratansari
gelar: 15 September 1823 - 1830, Susuhunan of Surakarta
wafat: 2 Juni 1849, Ambon, Pakubuwana VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849. Menurut laporan resmi Belanda, ia meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut. Pada tahun 1957 jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri, yaitu kompleks pemakaman keluarga raja keturunan Mataram. Pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi. Menurut analisis Jend. TNI Pangeran Haryo Jatikusumo (putra Pakubuwana X), lubang tersebut seukuran peluru senapan Baker Riffle. Ditinjau dari letak lubang, Pakubuwana VI jelas bukan mati karena bunuh diri, apalagi kecelakaan saat berpesiar. Raja Surakarta yang anti penjajahan ini diperkirakan mati dibunuh dengan cara ditembak pada bagian dahi.
Sri Susuhunan Pakubuwana VI (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 April 1807 – meninggal di Ambon, 2 Juni 1849 pada umur 42 tahun) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1823 – 1830. Ia dijuluki pula dengan nama Sinuhun Bangun Tapa, karena kegemarannya melakukan tapa brata.

Sunan Pakubuwana VI telah ditetapkan pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional berdasarkan S.K. Presiden RI No. 294 Tahun 1964, tanggal 17 November 1964.

Asal-Usul Nama aslinya adalah Raden Mas Sapardan, putra Pakubuwana V yang lahir dari istri Raden Ayu Sosrokusumo, keturunan Ki Juru Martani. Ia dilahirkan pada tanggal 26 April 1807.

Pakubuwana VI naik takhta tanggal 15 September 1823, selang sepuluh hari setelah kematian ayahnya.

Hubungan dengan Pangeran Dipanegara Pakubuwana VI adalah pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, yang memberontak terhadap Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1825. Namun, sebagai seorang raja yang terikat perjanjian dengan Belanda, Pakubuwana VI berusaha menutupi persekutuannya itu.

Penulis naskah-naskah babad waktu itu sering menutupi pertemuan rahasia Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro menggunakan bahasa simbolis. Misalnya, Pakubuwana VI dikisahkan pergi bertapa ke Gunung Merbabu atau bertapa di Hutan Krendawahana. Padahal sebenarnya, ia pergi menemui Pangeran Diponegoro secara diam-diam.

Pangeran Diponegoro juga pernah menyusup ke dalam keraton Surakarta untuk berunding dengan Pakubuwana VI seputar sikap Mangkunegaran dan Madura. Ketika Belanda tiba, mereka pura-pura bertikai dan saling menyerang. Konon, kereta Pangeran Diponegoro tertinggal dan segera ditanam di dalam keraton oleh Pakubuwana VI.

Dalam perang melawan Pangeran Diponegoro, Pakubuwana VI menjalankan aksi ganda. Di samping memberikan bantuan dan dukungan, ia juga mengirim pasukan untuk pura-pura membantu Belanda. Pujangga besar Ranggawarsita mengaku semasa muda dirinya pernah ikut serta dalam pasukan sandiwara tersebut.

Penangkapan oleh Belanda Patung Pakubuwana VI di keraton SurakartaBelanda akhirnya berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830. Sasaran berikutnya ialah Pakubuwana VI. Kecurigaan Belanda dilatarbelakangi oleh penolakan Pakubuwana VI atas penyerahan beberapa wilayah Surakarta kepada Belanda.

Belanda berusaha mencari bukti untuk menangkap Pakubuwana VI. Juru tulis keraton yang bernama Mas Pajangswara (ayah Ranggawarsita) ditangkap untuk dimintai keterangan. Sebagai anggota keluarga Yasadipura yang anti Belanda, Pajangswara menolak membocorkan hubungan rahasia Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro. Ia akhirnya mati setelah disiksa secara kejam. Konon jenazahnya ditemukan penduduk di sekitar Luar Batang.

Belanda tetap saja menangkap Pakubuwana VI dan membuangnya ke Ambon pada tanggal 8 Juni 1830 dengan alasan bahwa Mas Pajangswara sudah membocorkan semuanya, dan kini ia hidup nyaman di Batavia.

Fitnah yang dilancarkan pihak Belanda ini kelak berakibat buruk pada hubungan antara putra Pakubuwana VI, yaitu Pakubuwana IX dengan putra Mas Pajangswara, yaitu Ranggawarsita.

Pakubuwana IX sendiri masih berada dalam kandungan ketika Pakubuwana VI berangkat ke Ambon. Takhta Surakarta kemudian jatuh kepada paman Pakubuwana VI, yang bergelar Pakubuwana VII.

Misteri Kematian Pakubuwana VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849. Menurut laporan resmi Belanda, ia meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut. Pada tahun 1957 jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri, yaitu kompleks pemakaman keluarga raja keturunan Mataram. Pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi. Menurut analisis Jend. TNI Pangeran Haryo Jatikusumo (putra Pakubuwana X), lubang tersebut seukuran peluru senapan Baker Riffle.

Ditinjau dari letak lubang, Pakubuwana VI jelas bukan mati karena bunuh diri, apalagi kecelakaan saat berpesiar. Raja Surakarta yang anti penjajahan ini diperkirakan mati dibunuh dengan cara ditembak pada bagian dahi.
143/4 <6+11!> < Gusti Kanjeng Ratu Bendoro 154/4 <7> < Raden Mas Panji Sumodiwiryo
176/4 <8> < Gusti Pangeran Ronggo Danupoyo
197/4 <4+9> < Gusti Kanjeng Ratu Sekarkedhaton 208/4 <9> < Kanjeng Raden Mas Tumenggung Sutanogoro 219/4 <10> < Bendoro Pangeran Haryo Sumodiningrat
2210/4 <10> < Bendoro Raden Ayu Cokronegoro 2311/4 <10> < Kanjeng Pangeran Haryo Kusumoyudho II
2412/4 <10> < Kanjeng Pangeran Haryo Purbonegoro 2513/4 <6> < Gusti Kanjeng Ratu Hangger 2614/4 <8> < Raden Mas Purbosediro
2715/4 <4> < Gusti Pangeran Haryo Suryoningrat 2816/4 <4+11> < Gusti Pangeran Haryo Sinduseno 2917/4 <4> < Gusti Pangeran Haryo Sontokusumo
3018/4 <4> < Gusti Pangeran Haryo Kusumobroto
3119/4 <4> < Gusti Pangeran Haryo Pringgokusumo
3220/4 <4> < Gusti Pangeran Haryo Suryobroto
3321/4 <4> < Gusti Pangeran Haryo Notobroto
3422/4 <4> < Gusti Pangeran Haryo Notodiningrat
3523/4 <4> < Gusti Pangeran Haryo Suryokusumo
3624/4 <4> < Gusti Pangeran Haryo Suryodipuro
3725/4 <4> < Gusti Raden Ayu Mangkupuro
3826/4 <4> < Gusti Raden Ayu Dipowinoto
3927/4 <4> < Gusti Raden Ayu Notoatmodjo 4028/4 <12> < Bendara Raden Mas Pandji Notoatmodjo 4129/4 <4> < Gusti Raden Ayu Hadiwinoto

5

531/5 <27+18!> < Bendoro Raden Mas Sukirman (Bendoro Pangeran Haryo Cokronagoro)
perkawinan: <24> < Raden Ayu Rogasmoro
penguburan: Astana Gunungsari, Kartasura, Sukoharjo
542/5 <18+27!> < Bendoro Raden Mas Okotdiyat (Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat)
PBIX Solo.jpg
423/5 <13+15> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono IX / Pangeran Prabuwijaya (Raden Mas Duksino)
lahir: 22 Desember 1830, Surakarta
perkawinan: <49!> < Raden Ayu Kustiyah
perkawinan: <29> < Raden Ayu Pujokusumo
gelar: 30 Desember 1861 - 16 Maret 1893, Surakarta, Susuhunan Surakarta IX bergelar Pakubuwono IX
wafat: 16 Maret 1893, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana IX (lahir: Surakarta, 1830 – wafat: Surakarta, 1893) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1861 – 1893.

Kisah Pemerintahan Nama aslinya adalah Raden Mas Duksino, putra Pakubuwana VI. Ia masih berada di dalam kandungan ketika ayahnya dibuang ke Ambon oleh Belanda karena mendukung pemberontakan Pangeran Diponegoro. Ia sendiri kemudian lahir pada tanggal 22 Desember 1830.

Pakubuwana IX naik takhta menggantikan Pakubuwana VIII (paman ayahnya) pada tanggal 30 Desember 1861. Pemerintahannya ini banyak dilukiskan oleh Ronggowarsito dalam karya-karya sastranya, misalnya dalam Serat Kalatida.

''Hubungan antara Pakubuwana IX dengan Ronggowarsito'' sendiri kurang harmonis karena fitnah pihak Belanda bahwa Mas Pajangswara (ayah Ronggowarsito yang menjabat sebagai juru tulis keraton) telah membocorkan rahasia persekutuan antara Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro. Akibatnya, Pakubuwana VI pun dibuang ke Ambon. Hal ini membuat Pakubuwana IX membenci keluarga Mas Pajangswara, padahal juru tulis tersebut ditemukan tewas mengenaskan karena disiksa dalam penjara oleh Belanda.

Ronggowarsito sendiri berusaha memperbaiki hubungannya dengan raja melalui persembahan naskah Serat Cemporet. Saat itu karier Ronggowarsito sendiri sudah memasuki senja. Ia mengungkapkan kegelisahan hatinya melalui Serat Kalatida, karyanya yang sangat populer.

Dalam Serat Kalatida, Ronggowarsito memuji Pakubuwana IX sebagai raja bijaksana, namun dikelilingi para pejabat yang suka menjilat mencari keuntungan pribadi. Zaman itu disebutnya sebagai Zaman Edan.

Pemerintahan Pakubuwana IX berakhir saat kematiannya pada tanggal 16 Maret 1893. Ia digantikan putranya sebagai raja Surakarta selanjutnya, bergelar Pakubuwana X.
Kartowadono.jpeg
504/5 <20+20> < 11. Raden Mas Tumenggung Kartowadono / Wiratmojo
lahir: 16 Juni 1860, Purworejo
pendidikan: 1874, Masuk sekolah Jawa dan lulu Ujian Pendadaran Calon Priyayi Alit
perkawinan: <30> < Burni Sudarmilah
pekerjaan: 1878, Ampel, Menjadi carik (juru tulis) di Kabupaten Ampel dengan nama Wiroatmojo
pekerjaan: 1879, Ampel, Diangkat menjadi ‘griffier’ (mantri) pada ‘Pradoto’ Kabupaten Ampel dan beliau berganti nama menjadi Raden Ronggo Joyosugito kemudian menjadi Panewu Distrik Kota Surakarta
perkawinan: <31> < Atmodiwati / Rubini
pekerjaan: 1896, Boyolali, Menjadi Kliwon Polisi Boyolali dengan nama Raden Ngabehi Kartowadono
perkawinan: <32> < Citrowati / Siti Kalsum
pekerjaan: 1916, Sukoharjo, Menjadi Kliwon Polisi Kepala di Kabupaten Sukoharjo
wafat: 23 Desember 1929, Surakarta, Solo, Dimakamkan di pemakaman Gedong Obat Kartosuro
555/5 <13> < Gusti Raden Ajeng Sapariyem (Gusti Raden Ayu Cokrodiningrat) 436/5 <13> < Raden Ayu Chodidjah
447/5 <15> < Raden Ayu Poncogerjito
458/5 <16+18> < Gusti Raden Ajeng Kusdilah [Hb.6.14]
4710/5 <17> < Raden Gembloh
4811/5 <17> < Raden Intu
5113/5 <22+21> < Raden Adipati Aryo Cokronegoro III
RAA Cokronagoro III menjabat Bupati Purworejo tahun 1896-1907. Cucu pendiri Kabupaten Purworejo ini tak lain juga cucu Pangeran Kusumoyudo, Senopati Perang Kraton Surakarta saat berperang melawan Pangeran Diponegoro. Pangeran Kusumoyudo adalah paman Susuhunan Paku Buwono VI. Pangeran Kusumoyudo merupakan sahabat karib RAA Cokronagoro I.

Persahabatan yang akrab antara Pangeran Kusumoyudo dengn RAA Cokronagoro I dipererat dengan menikahkan putra mereka. Yakni RAA Cokronagoro II dengan salah satu putri Pangeran Kusumoyudo. Dari hasil perkawinan tersebut dikarunia enam orang anak. Selain RAA Cokronagoro III yang menjabat Bupati di Kabupaten Purworejo, adik perempuannya juga dinikahi oleh Raden Adipati Suryo Adikusumo Bupati Wonosobo.

Masa pemerintahan RAA Cokronagoro III tidak begitu lama, berbeda dengan ayah atau kakeknya yang memerintah Kabupaten Purworeji sampai puluhan tahun. RAA Cokronagoro III hanya memerintah selama 11 tahun. Hal itu karena RAA Cokronagoro III sering sakit-sakitan. Akibat fisiknya sangat lemah kemudian RAA Cokronagoro III mengundurkan diri sebagai bupati. Kedudukannya digantikan oleh putra ketiganya, yakni Raden Mas Tumenggung Sugeng yang selanjutnya bergelar RAA Cokronagoro IV.

Ketika RAA Cokronagoro IV memerintah, Pasar Baledono yang direncanakan pada masa pemerintahan RAA Cokronagoro II sudah mulai tumbuh dan berkembang. Tetapi RAA Cokronagoro III tidak sempat membenahi pasar tersebut karena terlanjur sakit-sakitan. RAA Cokronagoro III mempunyai 14 putra. Sayangnya dari catatan yang ada tidak pernah disebutkan secara pasti berapa istrinya. Masyarakat hanya mengetahui dan mengenal istri RAA Cokronagoro III Raden sepuh Nganten Subur Danuasmoro.
5214/5 <26> < Raden Mas Suralodra
5615/5 <28+23> < Bendara Kanjeng Pangeran Tumenggung Brotokusumo
5716/5 <28> < Bendara Raden Ayu Brotodirdjo 5817/5 <28> < Bendara Raden Mas Kapitan Koesoemonadpodo
5918/5 <28> < Bendara Raden Mas Mayor Haryo Ranoewinoto
6019/5 <28> < Bendara Raden Ayu Prawironagoro
6120/5 <28> < Bendara Raden Mas Pandji Ranoedipoero
6221/5 <28> < Bendara Raden Ayu Martonagoro
6322/5 <28> < Bendara Raden Ayu Hardjodipoero
6423/5 <28> < Bendara Raden Mas Pandji Ranoedirdjo
6524/5 <28> < Bendara Raden Ayu Kromodirdjo
6625/5 <28> < Bendara Raden Ayu Soerodiprodjo
6726/5 <28> < Bendara Raden Mas Pandji Sindowidjojo
6827/5 <28> < Bendara Raden Mas Haryo Sindoediningrat
6928/5 <28> < Bendara Raden Ayu Soemodimedjo
7029/5 <28> < Bendara Raden Ayu Sindoeprodjo
7130/5 <13> < Gusti Kanjeng Ratu Timur
7231/5 <22+21> < Raden Ngabehi Singodjojo

6

1161/6 <53> < Raden Mas Ngabehi Wirosoekirno
penguburan: Astana Gunungsari, Kartasura, Sukoharjo
1172/6 <53> < Raden Ajeng Suharti (R. A. T. Boedjonagoro)
perkawinan: <37> < K. R. M. T. Boedjonagoro
penguburan: Astana Gentan
1193/6 <54+25> < Raden Mas Honggosuroyo (K. R. M. H. Honggodiningrat)
perkawinan: <38> < Nyai Lurah Sastrowanodya
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
KRMH. Honggodiningrat meninggal tanpa memiliki keturunan.
1204/6 <54+25> < Raden Mas Honggosurasto (R. M. P. Tjondrodiningrat)
penguburan: Astana Jambon, Surakarta
1215/6 <54+26> < Raden Ajeng Suciyat (R. A. Joedoprodjo)
perkawinan: <39> < Raden Mas Ngabehi Joedoprodjo I
penguburan: Astana Sondakan, Surakarta
1226/6 <54+27> < Raden Mas Sunu (R. M. P. Tjokroatmodjo)
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
RMP. Tjokroatmodjo tidak memiliki anak.
1237/6 <54+26> < Raden Ajeng Sutami (R. A. Darpopranoto)
penguburan: Astana Mlaten, Semarang
RA. Darpopranoto menikah dan tidak memiliki keturunan.
1248/6 <54+26> < Raden Mas Syarif Saparkun Ali Muntoho (Raden Mas Djojosapoetro)
perkawinan: <40> < R. A. Djojosapoetro
perkawinan: <41> < Raden Nganten Setijoningsih
penguburan: Astana Turiloyo, Surakarta
1259/6 <54+28> < Raden Mas Sarju (R. M. P. Brodjosasono)
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
12610/6 <54+26> < Raden Ajeng Kusmirah (R. A. Mangkoedirdjo)
perkawinan: <42> < Raden Mas Ngabehi Mangkoedirdjo
penguburan: Astana Tejabang, Simo, Boyolali
12711/6 <54+26> < Raden Ajeng Sukamsiyah (R. A. Singoprono)
perkawinan: <43> < Raden Mas Ngabehi Singoprono
penguburan: Pajang, Laweyan, Surakarta
12812/6 <54+55!> < Bendoro Raden Ajeng Surtiyem (B. R. A. Praboeningrat) 12913/6 <54+55!> < Bendoro Raden Ajeng Sumartinah (B. R. A. Tjokrosapoetro)
penguburan: Astana Laweyan, Surakarta
BRA. Tjokrosapoetro menikah dan tidak memiliki anak.
13014/6 <54+55!> < Bendoro Raden Ajeng Sumartiyah (B. R. A. Wirowirjono)
perkawinan: <44> < Raden Mas Ngabehi Wirowirjono
penguburan: Astana Manang Kaonderan, Grogol, Sukoharjo
13115/6 <55+54!> < Bendoro Raden Mas Sutejo (R. M. H. Notoningrat)
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
RMH. Notoningrat menikah dan tidak memiliki anak.
13316/6 <55+54!> < Bendoro Raden Ajeng Suskandani (B. R. A. Brotodipoero)
perkawinan: <45> < Raden Ngabehi Brotodipoero
penguburan: Kadilangu, Demak
13417/6 <55+54!> < Bendoro Raden Mas Susmadi (R. M. H. Diponingrat)
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
RMH. Diponingrat meninggal saat muda dan belum menikah.
SunanPBX.jpg
7318/6 <42+49!> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X / Sunan Panutup (Raden Mas Malikul Kusno)
lahir: 29 November 1866, Surakarta
perkawinan: <46> < Ratu Mandayaretna
perkawinan: <47> < B. R. A. Soemarti
perkawinan: <48> < R. A. Pandamroekmi
perkawinan: <49> < R. A. Tranggonoroekmi
perkawinan: <50> < B. R. A. Retno Poernomo
perkawinan: <51> < R. A. Sedah Mirah
gelar: 30 Maret 1893 - 1 Februari 1939, Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana X
perkawinan: <52> < Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Hb.7.61] d. 28 Mei 1944, Yogyakarta
wafat: 1 Februari 1939, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana X (lahir: Surakarta, 1866 – wafat: Surakarta, 1939) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1893 – 1939.

Kisah Kelahiran Nama aslinya adalah Raden Mas Malikul Kusno, putra Pakubuwana IX yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Kustiyah, pada tanggal 29 November 1866. Konon, kisah kelahirannya menjadi cermin ketidakharmonisan hubungan antara ayahnya dengan pujangga Ranggawarsita. Dikisahkan, pada saat Ayu Kustiyah baru mengandung, Pakubuwana IX bertanya apakah anaknya kelak lahir laki-laki atau perempuan. Ranggawarsita menjawab kelak akan lahir hayu. Pakubuwana IX kecewa mengira anaknya akan lahir cantik alias perempuan. Padahal ia berharap mendapat bisa putra mahkota dari Ayu Kustiyah.

Selama berbulan-bulan Pakubuwana IX menjalani puasa atau tapa brata berharap anaknya tidak lahir perempuan. Akhirnya, Ayu Kustiyah melahirkan Malikul Kusno. Pakubuwana IX dengan bangga menuduh ramalan Ranggawarsita meleset.

Ranggawarsita menjelaskan bahwa istilah hayu bukan berarti ayu atau "cantik", tetapi singkatan dari rahayu, yang berarti "selamat". Mendengar jawaban Ranggawarsita ini, Pakubuwana IX merasa dipermainkan, karena selama berbulan-bulan ia terpaksa menjalani puasa berat.

Ketidakharmonisan hubungan Pakubuwana IX dengan Ranggawarsita sebenarnya dipicu oleh fitnah pihak Belanda yang sengaja mengadu domba keturunan Pakubuwana VI dengan keluarga Yasadipuran.

Masa Pemerintahan

Kereta khusus untuk mengangkut jenazah Pakubuwana X ke Yogyakarta menuju pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri.Malikul Kusno naik takhta sebagai Pakubuwana X pada tanggal 30 Maret 1893 menggantikan ayahnya yang meninggal dua minggu sebelumnya. Masa pemerintahannya ditandai dengan kemegahan tradisi dan suasana politik kerajaan yang cenderung stabil, di samping itu juga merupakan penanda babak baru bagi Kasunanan Surakarta dari kerajaan tradisional menuju era modern.Pakubuwono X menikah dengan Ratu Hemas (putri Raja Hamengkubuwono VII) dan dikaruniai seorang putri yang bernama GKR Pembajoen

Meskipun berada dalam tekanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda, namun melalui simbol budayanya Pakubuwana X tetap mampu mempertahankan wibawa kerajaan. Pakubuwana X sendiri juga mendukung organisasi Sarekat Islam cabang Solo, yang saat itu merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional Indonesia.

Pakubuwana X meninggal dunia pada tanggal 1 Februari 1939. Ia disebut sebagai ''Sunan Panutup'' atau raja besar Surakarta yang terakhir oleh rakyatnya. Pemerintahannya kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Pakubuwana XI.
11019/6 <51> < Raden Mas Tumenggung Sugeng (Raa. Tjokronegoro IV)
perkawinan: <53> < Johanna Giezenberg
wafat: 29 Januari 1936, Yogyakarta
Raden Adipati Aryo Sugeng Cokronagoro IV adalah buyut RAA Cokronagoro I atau putra RAA Cokronagoro III dengan istri yang berasal dari keluarga Kraton Yogyakarta. RAA Sugeng Cokronagoro IV adalah putra ketiga dari RAA Cokronagoro III. Beliau diangkat sebagai Bupati Purworejo karena kedua kakaknya perempuan semua. RAA Cokronagoro IV memerintah Kabupaten Purworejo selama 12 tahun, dari 1907-1919.

Namun demikian RAA Cokronagoro IV sudah sejak muda terlibat dalam pemerintahaan. Dirinya sering mewakili ayahnya menghadiri acara resmi atau dalam hal mengatur pemerintahaan. Hal itu lantaran kondisi fisik ayahnya yang lemah dan sering sakit-sakitan. Sebelum menjabat sebagai bupati, RAA Cokronagoro IV banyak sekali mengadakan kegiatan. Sejumlah saluran irigasi dan bendung mulai dibangun.

Sejumlah bendung hasil karya RAA Cokronagoro IV adalah, Bendung Penungkulan dengan selokannya, Bendung Guntur dengan selokannya, Bendung Kalisemo, dan Bendung Kedung Pucang di Desa Trirejo. Dalam masa pemerintahaan RAA Cokronagoro IV sudah mulai bangkit kesadaran nasional dengan berdirinya Boedi Oetomo yang didirikan oleh dokter Sutomo. Berdirinya gerakan Boedi Oetomo sangat berpengaruh terhadap jiwa RAA Cokronagoro IV.

Beliau sadar betapa pentingnya pribumi menerima pendidikan sekolah. Sebelumnya belum pernah ada kesempatan para pribumi yang bukan golongan priyayi bisa menerima pendidikan di sekolah. Para pribumi di pedesaan dibiarkan buta huruf dan bodoh agar mau menjadi kuli. Melihat kenyataan itu RAA Cokronagoro berinisiatif mendirikan Sekolah Desa yang lama pendidikannya hanya tiga tahun.

Pada tahun 1911 di Kabupaten Purworejo didirikan sekolah “Ongko Loro” yang jenjang pendidikannya selama lima tahun. Sekolah tersebut didirikan di ibu kota Asisten Wedono (Kecamatan) yang padat penduduk. Bagi siswa sekolah Ongko Loro yang sudah tamat eksamen (ujian) bisa mengikuti kursus tambahan selama enam bulan. Mereka yang sudah tamat kursus selanjutnya bisa menjadi guru dan mengajar di sekolah Ongko Loro.

RAA Cokronagoro IV termasuk orang yang sangat peduli dan getol dalam hal meningkatkan pendidikan bagi rakyatnya. Memasuki tahun ke lima sekolah Ongko Loro didirikan, mulai banyak calon guru yang selesai mengikuti kursus. Sehingga pada tahun 1915 sejumlah sekolahaan mulai dibangun. Sekolah Ongko Loro yang didirikan antara lain :

1. Banyuasin untuk mendidik anak-anak di wilayah Asisten Wedono (Kecamatan ) Loano.

2. Pangen Gudang untuk anak-anak di wilayah Asisiten Wedono Purworejo.

3. Banyuurip, untuk anak-anak di wilayah Asisten Wedono Banyuurip.

4. Bayan, untuk anak-anak di wilayah Asisten Wedono Bayan.

5. Kemanukan, untuk anak-anak di wilayah Asisten Wedono Soko. Sebagai catatan, dulu di Kabupaten Purworejo ada Asisten Wedono Soko yang letaknya di sebelah timur Sunagi Bogowonto. Namun kemudian Kecamatan Soko dihapus dan kini masuk dalam wilayah Kecamatan Bagelen.

6. Kuwojo, untuk anak-anak di wilayah Asisten Wedono Bagelen.

Jiwa dan karakter RAA Cokronagoro IV bukan saja dipengaruhi oleh berdirinya Boedi Oetomo, namun juga oleh Dr. Wahidin Sudiro Husodo yang sangat giat sekali mendidik bangsanya agar dapat berpikiran maju. Selain itu juga dipengaruhi oleh semangat Raden Ajeng Kartini. Sehingga pada waktu itu anak-anak perempuan mulai diijinkan ikut sekolah. Maka dibangunlah sekolah khusus untuk perempuan yang bernama Meisjeskopschool yang terletak di Purwodadi dan Purworejo.

Pada masa pemerintahaan RAA Cokronagoro IV Karesidenan Bagelen sudah tidak ada lagi. Kabupaten yang ada di wilayah Karesidenan Bagelen masuk Karesidenan Kedu. Penghapusan Karesidenan Begelen terjadi pada 1 Agustus 1901. Untuk diketahui, sejak tanah Bagelen dan Banyumas diminta pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1830, oleh pemerintah Hindia Belanda tanah Bagelen dijadikan daerah kekuasaanya dengan status Gewest atau Residentie (Karesidenan).

Sehingga Purworejo sebagai kota administrative juga berakhir pada 1 Agustus 1901. Tahun 1928 saat Provincie Midden Java (Propinsi Jawa Tengah) dipimpin oleh Gubernur PJ. Van Gulik, daerah Gewest atau karesidenan diubah manjadi daerah yang lebih kecil namun jumlahnya banyak. Daerah yang lebih kecil dan jumlahnya banyak itu kemudian disebut Regenscap (Kabupaten). Istilah Karesidenan kembali jadi afdeling Bagelen.

Karena sejak lama sudah ada istilah afdeling di tanah Bagelen maka tanah Bagelen disebut Bestut afdeling Bagelen adan akhirnya berkembang menjadi Kabupaten Purworejo. Peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahaan RAA Cokronagoro IV adalah pemugaran benteng (tangsi) Kedung Kebo. Tangsi yang awalnya hanya dengan pagar kawat berduri dan bambu, oleh pemerintah Hindia Belanda diperkuat dengan dibangunnya pagar tembok.

Hal itu merupakan upaya Pemerintah Kolonial Belanda agar dapat mengawasi semua gerak gerik RAA Cokronagoro IV yang selama ini dikenal dekat dengan keluarga Taman Siswa dari Yogyakarta. Jiwa RAA Cokronagoro IV memang dikenal cukup keras. Dirinya merasa selama memerintah sering ditekan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Hak-haknya sebagai seorang bupati sering dibatasi. Karena itu tidak jarang RAA Cokronagoro IV menentang Pemerintah Hindia Belanda.

Rupanya sikap tersebut tidak disenangi oleh Belanda. Banyak laporan mengenai sikap keras dan menentang yang ditunjukkan oleh RAA Cokronagoro. Namun yang paling fatal dan dipandang sebagi satu kesempatan untuk menurunkan dari jabatan bupati ketika RAA Cokronagoro IV mengawini wanita Eropa bernama Johanna Giezenberg. Oleh Pemerintah Belanda perkawinan itu dianggap kesalahan besar.

Sebab dimasa penjajahan pribumi masuk golongan warganegara kelas dua. Warganegara kelas satu adalah orang-orang Belanda dan Eropa. Karena itu, meski RAA Cokronagoro menjabat sebagai bupati tetap saja tidak diperbolehkan mengawini wanita Eropa. Akibatnya pada tahun 1919 RAA Cokronagoro IV diturunkan dari jabatannya dengan tidak hormat. Menerima perlakuan tersebut hati RAA Cokronagoro IV sakit dan merasa terhina sehingga dirinya kemudian pindah ke Yogyakarta.

Karena kursi bupati kosong, Patih KRT Sastro Sudarjo kemudian diangkat sebagai pejabat sementara Bupati Purworejo sampai tahun 1921. Setelah dua tahun menetap di Yogyakarta, RAA Cokronagoro IV dipanggil oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dipanggilnya RAA Cokronagoro IV untuk dilantik kembali menjadi Bupati Purworejo, namun pada hari itu juga turun Surat Keputusan Pensiun.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 1921. Kejadian itu cukup menggoncangkan jiwa RAA Cokronagoro IV. RAA Cokronagoro IV merasa sudah dipermalukan di depan rakyatnya. Sehingga sesudah pensiun dirinya kembali lagi ke Yogyakarta. Pada tanggal 29 Januari 1936 RAA Cokronagoro IV meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan di Makam Lempuyangan yang menjadi makam khusus KRT Cokrojoyo.

Namun seiring perkembangan jaman dan dinilai makam tersebut sudah tidak kondusif, pada tanggal 18 Juli 2003 dipindahkan ke Makam Bulus Hadipurwo di Desa Bulus, Kecamatan Gebang Purworejo. Makam Bulus Hadipurwo adalah makam khusus trah Cokronagoro.

Pada masa pemerintahaan RAA Cokronagoro IV dibangun Zending (Rumah Sakit Umum) yang kini menjadi milik Pemda Purworejo dan berganti nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Saras Husada. Pembangunan Zending dilakukan pada tahun 1915. Selain itu juga didirikan rumah sakit militer yang kini sudah berganti nama menjadi Rumah Sakit Tentara.
7420/6 <43+?> < Raden Ayu Supadmi Nitisatimin
7521/6 <44> < Raden Ayu Poncopranowo I
7622/6 <46+35> < Raden Mas Soecipto Hadiwijoyo [Hb.5.9.1]
7723/6 <46+35> < Raden Mas Soengkowo Hadiwijoyo [Hb.5.9.2]
7824/6 <46+35> < Raden Mas Dracman Sahid Hadiwijoyo [Hb.5.9.3]
7925/6 <42> < Gusti Bendoro Raden Ayu Moerjati
perkawinan: <54> < Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat b. 13 September 1904 d. 17 Maret 1962
8026/6 <42> < Gusti Pangeran Haryo Purbodiningrat
8127/6 <50> < Raden Ayu Sadiyah
8228/6 <50> < Raden Ayu Robiatu Adawiyah
8329/6 <50> < Raden Ayu Mariati
8430/6 <50> < Raden Mas Ngabehi Mangunpandoyo
8531/6 <50> < Raden Mas Tumenggung Secodiningrat
8632/6 <50> < Raden Ayu Maharsi
8733/6 <50> < Raden Ayu Endang Nowawi
8834/6 <50> < Raden Ayu Harinah
8935/6 <50> < Raden Surasno
9036/6 <50> < Raden Ayu Suyanah
9137/6 <50> < Raden Mas Soediono
9238/6 <50> < Raden Mas Sutoyo Cokropranoto
9339/6 <50> < Kanjeng Raden Mas Tumenggung Sutanto Sutonagoro
9440/6 <50> < Raden Mas Sahitman Sosroatmojo
9541/6 <50> < Kanjeng Raden Mas Tumenggung Sulistiyo Wironagoro
9642/6 <50> < Raden Ayu Andira
9743/6 <50> < Raden Mas Sumeto
9844/6 <50> < Raden Ayu Suminah
9945/6 <50> < Kanjeng Raden Mas Tumenggung Sugoto Kartonagoro
10046/6 <50> < Raden Mas Sumiwo
10147/6 <50> < Raden Ayu Sumawi
10248/6 <50> < Raden Ayu Sukatin
10349/6 <50> < Raden Agoes Soeparwo
10450/6 <42+29> < G. P. H. Mlojokoesoemo 10551/6 <42> < G. P. H. Koesoemodiningrat 10652/6 <42> < G. P. H. Notokoesoemo
10753/6 <42> < Gusti Raden Mas Adamadi 10854/6 <42> < Gusti Raden Ajeng Samsikin
10955/6 <42> < Gusti Raden Mas Imam Dawut 11156/6 <42> < Gusti Raden Mas Sutindro (G. P. H. Praboeningrat) 11257/6 <42> < Gusti Raden Mas Kanapi (K. G. P. H. Mataram)
11358/6 <42> < Gusti Raden Mas Janoko (G. P. H. Notodiningrat)
11459/6 <42> < Gusti Raden Ajeng Samsinah (G. R. A. Adipati Sosrodiningrat) 11560/6 <52> < Raden Ayu Wirokartolo
11861/6 <53+24> < Raden Mas Suhardi (K. R. M. H. Tjokroatmodjo)
13262/6 <55+54!> < Bendoro Raden Mas Sayidiman
BRM. Sayidiman meninggal di usia muda dan belum menikah.
13563/6 <56> < Raden Mas Ngabehi Kartoprodjo
13664/6 <72> < Raden Istidjab Djojosewojo 13765/6 <56> < Raden Mas Mayor Sindoewinoto
13866/6 <56> < Raden Ayu Mangunprodjo
13967/6 <56> < Kanjeng Raden Mas Haryo Wiryodiningrat
14068/6 <56> < Raden Mas Kapitan Brotopinilih
14169/6 <56> < Raden Mas Pandji Kartokusumo
14270/6 <42> < Gusti Raden Ayu Brotokoesoemo
14371/6 <42> < Gusti Raden Ayu Wirjodiningrat
14472/6 <42> < Gusti Raden Ayu Soemaningrat
14573/6 <42> < Gusti Raden Ayu Jayaningrat
14674/6 <42> < Gusti Raden Ayu Yudhonegoro
14775/6 <42> < Gusti Pangeran Hario Prabuningrat
14876/6 <42> < Gusti Pangeran Hario Nyokrokusumo

7

1901/7 <116> < Raden Ajeng Sukinah (R. A. Tirtoprodjo)
perkawinan: <63> < Raden Mas Ngabehi Tirtoprodjo
penguburan: Astana Ngendhen
RA. Tirtoprodjo meninggal tanpa memiliki keturunan.
1952/7 <117+37> < Raden Ajeng Menik (R. A. Prodjoprawiro)
perkawinan: <64> < Raden Mas Ngabehi Prodjoprawiro
penguburan: Astana Ngendhen
1963/7 <117+37> < Raden Mas Suharto (Raden Mas Ngabehi Atmokoemoro)
penguburan: Astana Gentan
1974/7 <117+37> < Raden Mas Hartono (Raden Mas Ngabehi Dwidjopranoto)
perkawinan: <65> < Kenjosarojo
penguburan: Astana Gentan
1985/7 <117+37> < Raden Ajeng Minah (R. A. Mangkoesapoetro)
perkawinan: <223!> < Raden Mas Besar (R. M. Lr. Tarpohartono)
penguburan: Astana Tejabang, Simo, Boyolali
1996/7 <117+37> < Raden Ajeng Menuk (R. A. Mangoenatmoko)
penguburan: Astana Gentan
2017/7 <117+37> < Raden Ajeng Menah (R. A. Worosoegondo)
perkawinan: <66> < R. M. P. Worosoegondo
penguburan: Astana Bibis Luhur, Surakarta
2048/7 <117+37> < Raden Ajeng Sulastri (R. A. Tarpohartono)
penguburan: Astana Tejabang, Simo, Boyolali
2069/7 <120> < Raden Mas Sumadi (Raden Mas Bekel Wignjopanembang)
penguburan: Astana Jambon, Surakarta
20710/7 <120> < Raden Mas Saban
penguburan: Astana Jambon, Surakarta
16411/7 <73+50> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumoyudo [Pb.10.5] (Bendoro Raden Mas Abimanyu)
lahir: 17 Januari 1884
perkawinan: <67> < Gusti Kanjeng Ratu Hangger II [Hb.7.33] , <68> < R. A. Setiopoespito b. 1894? d. 16 Mei 1985
wafat: 16 Januari 1956
penguburan: Imogiri, Bantul
SUltan PB XI.JPG
14912/7 <73+46> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XI
lahir: 1886, Surakarta
perkawinan: <69> < Raden Ayu Kuspariyah / Gusti Kanjeng Ratu Pakoe Boewono
perkawinan: <70> < G. K. R. Kentjono
perkawinan: <71> < R. A. Dojoresmi
perkawinan: <72> < R. A. Dojoningsih
perkawinan: <73> < R. A. Dojosoemo
perkawinan: <74> < R. A. Dojoasmoro
perkawinan: <75> < R. A. Dojoningrat
gelar: 26 April 1939 - 1945, Surakarta, Raja Kasunanan Surakarta Ke-10 [1939-1945]
wafat: 1945, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana XI (lahir: Surakarta, 1886 – wafat: Surakarta, 1945) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1939 – 1945.

Riwayat Pemerintahan Nama aslinya adalah Raden Mas Antasena, putra Pakubuwana X yang lahir dari permaisuri Ratu Mandayaretna, pada tanggal 1 Februari 1886. Ia naik takhta sebagai Pakubuwana XI pada tanggal 26 April 1939.

Pemerintahan Pakubuwana XI terjadi pada masa sulit, yaitu bertepatan dengan meletusnya Perang Dunia Kedua. Ia juga mengalami pergantian pemerintah penjajahan dari tangan Belanda kepada Jepang sejak tahun 1942. Pihak Jepang menyebut Surakarta dengan nama Solo Koo.Ia digantikan Pakubuwana XII
Djatikusumo.jpg
15213/7 <73+52> < Kanjeng Pangeran Haryo Djatikusumo [Pb.10.23] (Bendoro Kanjeng Pangeran Haryo Purbonegoro)
lahir: 1 Juli 1917, Solo
perkawinan: <76> < Bendoro Raden Ayu Jatikusumo [Hb.7.78] (R. A. Soeharsi Widianti) , Yogyakarta
lahir: 1 Juni 1946 - 1 Maret 1948, Rembang, Panglima Divisi V Ronggolawe
pekerjaan: 1948 - 1949, Jakarta, Kepala Staf TNI Angkatan Darat I
pekerjaan: 1958 - 1960, Singapura, Duta Besar RI untuk Singapura
pekerjaan: 1959 - 1960, Jakarta, Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja I
pekerjaan: 1960 - 1962, Jakarta, Menteri Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja II
pekerjaan: 1962 - 1963, Jakarta, Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja III
wafat: 4 Juli 1992
17214/7 <73+52> < G. K. R. Pembajoen
lahir: 25 Maret 1919
perkawinan: <77> < R. A. A. M. Sis Tjakraningrat d. 24 September 1992
perkawinan: <78> < R. A. A. Muhammad Roeslan Tjakraningrat , <79> < R. A. Hatimah
wafat: 10 Juli 1988, Ciputat, Tangerang Selatan
penguburan: Imogiri, Bantul
23915/7 <136+425!> < Raden Soekarno
lahir: 22 Juni 1925, Boyolali
perkawinan: <80> < Soesi Tartiah Samirono b. 5 Oktober 1928
16516/7 <73> < Kanjeng Pangeran Haryo Suryohamijoyo [Pb.10.32]
perkawinan: <81> < Raden Ajeng Suharti [Hb.7.19.1] (Bendoro Raden Ayu Suryohamijoyo)
perkawinan: <82> < R. A. Retno Pradopo
perkawinan: <83> < R. A. Koeroetien
perkawinan: <84> < R. A. Pradoponingsih
wafat: 1972, Rumah Sakit Panti Kosala, Surakarta
penguburan: Astana Imogiri, Bantul
15017/7 <73> < G.p.h.k. Suryo Suman 15118/7 <115> < Raden Ayu Sarikanthi 15319/7 <74> < Raden Ayu Suparmi M. Mulyadi
15420/7 <75> < Raden Demang Poncosantoho II
15521/7 <73+50> < Gusti Bendoro Raden Ayu Retno Puwoso 15622/7 <73+51> < Raden Ayu Suryomataram [Gp.Hb.6.9.1] ? (Bendoro Raden Ayu Kusniya) 15723/7 <73> < Bendoro Raden Ayu Suryodiningrat [Pb.10.?] (Bendoro Raden Ajeng Kusatima) 15824/7 <78> < Raden Mas Agoes Budiarto [Hb.5.9.3.1]
15925/7 <78> < Raden Ayu Tuti Sulastri [Hb.5.9.3.2]
16026/7 <78> < Raden Ayu Agoes Anwari [Hb.5.9.3.3]
16127/7 <78> < Raden Mas Agoes Wiradat [Hb.5.9.3.4]
16228/7 <78> < Raden Ayu Ien Harsini [Hb.5.9.3.5]
16329/7 <78> < Raden Ayu Siti Waito Sahid Sudarjo Hadi Atmojo [Hb.5.9.3.6]
16630/7 <79+54> < Raden Ayu Srioerip
16731/7 <79+54> < Raden Ayu Sri Noerwati
16832/7 <80+?> < Ratu Kemalasari ? (G.p.h. Purbodiningrat) 16933/7 <73> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hadiwidjojo Maharsi Tama
KGPH. Hadiwidjojo merupakan pendiri Universitas Saraswati, Surakarta
17034/7 <104+55> < B. R. M. P. Mlojosoeripto 17135/7 <104+55> < Raden Mas Prijokoesoemo
Tinggal di Bekonang, Sukoharjo
17336/7 <105> < K. R. M. T. Harjo Soerjoningrat
17437/7 <106> < Raden Mas Ngabehi Padmoprodjo
17538/7 <73> < G. P. H. Poespokoesoemo
17639/7 <109+59> < Raden Mas Suleman
17740/7 <109+59> < Raden Mas Salaman 17841/7 <109+59> < Raden Mas Salamun 17942/7 <109+59> < Bendoro Raden Mas Sumarmo
18043/7 <73> < G. R. A. Koesprapti 18144/7 <73> < Gusti Raden Ajeng Kusniyah (G. K. R. Alit) 18245/7 <73+48> < G. R. A. Koesdinah (G. R. A. Brotodiningrat)
G. R. A. Brotodiningrat adalah seorang tokoh paranormal yang menjadi penasihat spiritual/Kejawen Keraton Surakarta.
18346/7 <105+57> < B. R. A. Soewarni 18447/7 <105+57> < B. R. A. Soewarsi 18548/7 <105+57> < K. P. H. Tjokrokoesoemo
K. P. H. Tjokrokoesoemo adalah menantu Pakubuwono X.
18649/7 <112> < B. P. H. Mataram 18750/7 <73+49> < G. R. A. Koes Salbijah (G. R. A. Poernomo Hadiningrat) 18851/7 <113> < K. R. M. T. H. Prawirodiningrat
18952/7 <78> < Raden Mas Teguh Pambudi
19153/7 <116> < Raden Ajeng Suhinah (R. A. Wongsotjoendoko) 19254/7 <116> < R. A. Tjokrohardojo
19355/7 <116> < Raden Mas Suharjo
19456/7 <116> < Raden Ajeng Suhur (R. A. Wirjosoebroto) 20057/7 <117+37> < Raden Ajeng Sumi (R. A. Wirjohartono) 20258/7 <117+37> < Raden Ajeng Hardinah
Raden Ajeng Hardinah meninggal di usia muda dan belum menikah.
20359/7 <117+37> < Raden Ajeng Mublak (R. A. Hardjosoemarto) 20560/7 <118> < Raden Mas Bambang Sudarsono
20861/7 <120> < Raden Ajeng Sumasiyah (R. A. Djajengresmi) 20962/7 <120> < Raden Mas Suwandi
RM. Suwandi meninggal di usia muda dan belum menikah.
21063/7 <121+39> < Raden Mas Ngabehi Djojosoewarno
21164/7 <121+39> < R. M. M. Djohar Kamit (Raden Mas Ngabehi Doetosarsono)
21265/7 <121+39> < Raden Mas Setyoso (Raden Mas Ngabehi Joedoprodjo II)
21366/7 <121+39> < Raden Ajeng Sucinah (R. A. Mangoenwiradi) 21467/7 <121+39> < Raden Mas Sudarman
RM. Sudarman meninggal di usia muda dan belum menikah.
21568/7 <124+40> < Raden Mas Sumanto
21669/7 <124+40> < Raden Mas Sunarso
21770/7 <124+40> < Raden Ajeng Siti Mukjinah (R. A. Honggopradoto) 21871/7 <124+40> < Raden Ajeng Siti Aminah (R. A. Prodjodikromo) 21972/7 <124+41> < Raden Ajeng Siti Mukminah (R. A. Tjokrosoejitno) 22073/7 <124+41> < Raden Ajeng Siti Patimah (R. A. Djahartiman Djojosangodjo) 22174/7 <125> < Raden Ajeng Prekis (R. A. Gondohoetomo) 22275/7 <125> < Raden Ajeng Tantinah (R. A. Tjokrosoesastro) 22376/7 <126+42> < Raden Mas Besar (R. M. Lr. Tarpohartono) 22477/7 <126+42> < Raden Ajeng Sutinah (R. A. Sosrosoegondo) 22578/7 <126+42> < Raden Ajeng Sutiyah (R. A. Atmodjahnawi)
22679/7 <126+42> < Raden Mas Sudirham
22780/7 <128+111!> < Bendoro Raden Mas Mujadi (B. P. H. Tjokrodiningrat) 22881/7 <128+111!> < Bendoro Raden Mas Istijab (Raden Mas Ngabehi Hendrodiprodjo)
22982/7 <128+111!> < Bendoro Raden Mas Mujono
BRM. Mujono meninggal di usia muda dan belum memiliki anak.
23083/7 <128+111!> < Bendoro Raden Ajeng Hartati (R. A. Wiranto) 23184/7 <130+44> < Raden Ajeng Sudinah
RA. Sudinah meninggal dunia saat muda dan belum menikah.
23285/7 <130+44> < Raden Mas Okotdijat Prawirohoetomo
23386/7 <73> < G. R. A. Koesindinah (G. R. A. Tjokrodiningrat) 23487/7 <73+50> < G. R. A. Koesrahmani (G. R. A. Adipati Djojonegoro)
perkawinan: <115> < K. P. H. Adipati Djojonegoro , Keraton Surakarta Hadiningrat
23588/7 <73> < G. R. A. Koestantinah (G. R. A. Woerjaningrat) 23689/7 <114+62> < K. P. H. Woerjaningrat 23790/7 <104+55> < K. P. H Mloyomiluhur
23891/7 <135> < Raden Ayu Soetarti Sastrodiningrat 24092/7 <73> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumobroto 24193/7 <135> < Raden Ayu Soemarni Moertiningdiah 24294/7 <135> < Raden Ayu Soenarti Atmodiprodjo 24395/7 <135> < Raden Ayu Soemami Sindoesawarno 24496/7 <135> < Raden Ayu Soeminah Wongsodikoro 24597/7 <135> < Raden Ayu Soetati Siswodihardjo 24698/7 <135> < Raden Ayu Soejati Pranowosastro

8

3071/8 <169> < Bendoro Raden Mas Hapsoro Wresnowiro (K. P. H. Djojoningprang)
pekerjaan: Rektor Universitas Islam Sultan Agung, Semarang
perkawinan: <308!> < B. R. A. Koespinah
BRM. Hapsoro Wresnowiro adalah teman BRM. Dorodjatoen (Sri Sultan Hamengkubuwono IX) saat kuliah di Belanda.
2542/8 <156+88> < Kanjeng Raden Tumenggung Purboningrat [Hb.6.9.4]
lahir: 10 Maret 1865
2583/8 <156+88> < Kanjeng Adipati Prawiropurbo [Hb.6.9.10] (Ndoro Purbo / Raden Mas Kusrin)
lahir: 1869, Yogyakarta
perkawinan: <123> < Nyi Kasihan
perkawinan: <124> < Nyai Prawiro Purbo ? (Jiwaningsih) d. 1896?
wafat: 4 Maret 1933, Yogyakarta
penguburan: 5 Maret 1933, Yogyakarta
Pakualam VIII.jpg
2484/8 <155+87> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII / Bendoro Raden Mas Haryo Sularso Kunto Suratno (Kanjeng Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo)
lahir: 10 April 1910, Yogyakarta
perkawinan: <125> < Kanjeng Bendoro Raden Ayu Purnamaningrum
perkawinan: <126> < Kanjeng Raden Ayu Ratnaningrum
gelar: 13 April 1937, Yogyakarta, Kanjeng Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo
gelar: 1942 - 11 September 1998, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII
pekerjaan: 1 Oktober 1988 - 3 Oktober 1998, Yogyakarta, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
wafat: 11 September 1998, Yogyakarta
Pendidikan yang ditempuh adalah Europesche Lagere School Yogyakarta, Christelijk MULO Yogyakarta, AMS B Yogyakarta, Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta - sampai tingkat candidaat). Pada 13 April 1937 ia ditahtakan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo menggantikan mendiang ayahnya. Setelah kedatangan Bala Tentara Jepang pada tahun 1942 ia mulai menggunakan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII.

Pada 19 Agustus 1945 bersama Hamengkubuwono IX, Paku Alam VIII mengirimkan telegram kepada Sukarno dan Hatta atas berdirinya RI dan terpilihnya mereka sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pada 5 September 1945 secara resmi KGPAA Paku Alam VIII mengeluarkan Amanat/Maklumat (semacam dekrit kerajaan) bergabungnya Kadipaten Pakualaman dengan Negara Republik Indonesia. Sejak saat itulah kerajaan terkecil pecahan Mataram ini menjadi daerah Istimewa. Melalui Amanat Bersama antara Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII dan dengan persetujuan Badan Pekerja Komite Nasional Daerah Yogyakarta pada tanggal 30 Oktober tahun yang sama, ia berdua sepakat untuk menggabungkan Daerah Kasultanan dan Kadipaten dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jabatan yang dipangku selanjutnya adalah Wakil Kepala Daerah Istimewa, Wakil Ketua Dewan Pertahanan DIY (Oktober 1946), Gubernur Militer DIY dengan pangkat Kolonel (1949 setelah agresi militer II). Mulai tahun 1946-1978 Paku Alam VIII sering menggantikan tugas sehari-hari Hamengkubuwono IX sebagai kepala daerah istimewa karena kesibukan Hamengkubuwono IX sebagai menteri dalam berbagai kabinet RI. Selain itu ia juga menjadi Ketua Panitia Pemilihan Daerah DIY dalam pemilu tahun 1951, 1955, dan 1957; Anggota Konstituante (November 1956); Anggota MPRS (September 1960) dan terakhir adalah Anggota MPR RI masa bakti 1997-1999 Fraksi Utusan Daerah.

Setelah Hamengkubuwono IX mangkat pada tahun 1988, Paku Alam VIII menggantikan sang mendiang menjadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sampai akhir hayatnya pada tahun 1998. Perlu ditambahkan bahwa pada 20 Mei 1998 ia bersama Hamengkubuwono X mengeluarkan Maklumat untuk mendukung Reformasi Damai untuk Indonesia. Maklumat tersebut dibacakan di hadapan masyarakat dalam acara yang disebut Pisowanan Agung. Beberapa bulan setelahnya ia menderita sakit dan meninggal pada tahun yang sama. Sri Paduka Paku Alam VIII tercatat sebagai wakil Gubernur terlama (1945-1998) dan Pelaksana Tugas Gubernur terlama (1988-1998) serta Pangeran Paku Alaman terlama (1937-1998).
3055/8 <149+74> < G. R. M. Soerjosoeksoro (G. P. H. Notopoero)
lahir: 15 Juli 1922
Surakarta-PBXII.jpg
2476/8 <149+69> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII
lahir: 4 April 1925, Surakarta
perkawinan: <127> < Kanjeng Raden Ayu Pradapaningrum
perkawinan: <127!> < Kanjeng Raden Ayu Pradapaningrum
perkawinan: <128> < K. R. A. Retnodiningroem b. 1928? d. 13 Mei 2021
perkawinan: <129> < K. R. A. Poedjoningroem
gelar: 11 Juni 1945 - 11 Januari 2004, Surakarta, Raja Susuhunan Surakarta ke-11 [1945-2004]
wafat: 11 Juni 2004, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana XII (lahir: Surakarta, Jawa Tengah, 1925 – wafat: Surakarta, Jawa Tengah, 2004) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1945 – 2004.

Riwayat Pemerintahan Nama aslinya adalah Raden Mas Suryaguritna, putra Pakubuwana XI yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Kuspariyah pada tanggal 14 April 1925. Ia naik takhta sebagai Pakubuwana XII pada tanggal 11 Juni 1945.

Awal pemerintahan Pakubuwana XII hampir bersamaan dengan lahirnya Republik Indonesia. Negara baru ini menjadikan Yogyakarta dan Surakarta sebagai provinsi-provinsi berstatus Daerah Istimewa.

Belanda yang tidak merelakan kemerdekaan Indonesia berusaha merebut kembali negeri ini dengan kekerasan. Pada bulan Januari 1946 ibu kota Indonesia terpaksa pindah ke Yogyakarta karena Jakarta jatuh ke tangan Belanda.

Pemerintahan Indonesia saat itu dipegang oleh Sutan Syahrir sebagai perdana menteri, selain Presiden Sukarno selaku kepala negara. Sebagaimana umumnya pemerintahan suatu negara, muncul golongan oposisi yang tidak mendukung sistem pemerintahan Sutan Syahrir, misalnya kelompok Jenderal Sudirman.

Karena Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan, secara otomatis Surakarta yang merupakan saingan lama menjadi pusat oposisi. Kaum radikal bernama Barisan Banteng yang dipimpin Dr. Muwardi dengan berani menculik Pakubuwana XII sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Indonesia.

Barisan Banteng berhasil menguasai Surakarta sedangkan pemerintah Indonesia tidak menumpasnya karena pembelaan Jendral Sudirman. Bahkan, Jendral Sudirman juga berhasil mendesak pemerintah sehingga mencabut status daerah istimewa yang disandang Surakarta. Sejak tanggal 1 Juni 1946 Kasunanan Surakarta hanya berstatus karesidenan yang menjadi bagian wilayah provinsi Jawa Tengah. Pemerintahan dipegang oleh kaum sipil, sedangkan kedudukan Pakubuwana XII hanya sebagai simbol saja.

Pada awal pemerintahannya, Pakubuwana XII dinilai gagal mengambil peran penting dan memanfaatkan situasi politik Republik Indonesia, sehingga pamornya di mata rakyat kalah dibanding Hamengkubuwana IX di Yogyakarta.

Meskipun gagal secara politik, namun Pakubuwana XII tetap menjadi figur pelindung kebudayaan Jawa. Pada zaman reformasi, para tokoh nasional, misalnya Gus Dur, tetap menghormatinya sebagai salah satu sesepuh tanah Jawa.

Pakubuwana XII meninggal dunia pada tanggal 11 Juni 2004. Sepeninggalnya ''terjadi perebutan takhta'' antara Pangeran Hangabehi dangan Pangeran Tejowulan, yang masing-masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana XIII.
3107/8 <187+100> < B. R. A. Moerjati Soedibjo
lahir: 5 Januari 1928, Surakarta
perkawinan: <130> < K. R. M. H. Soedibjo Poerbo Hadiningrat
Hj. DR. BRA. Mooryati Soedibyo, S.S., M. Hum. adalah Wakil Ketua II Majelis Permusyawaratan Rakyat, Presiden Direktur Mustika Ratu, dan salah satu pencetus ide kontes pemilihan Puteri Indonesia yang digelar setiap tahun. Mooryati Soedibyo tercatat oleh MURI sebagai peraih gelar doktor tertua di Indonesia, dan sebagai "Empu Jamu". Ia juga masuk sebagai urutan nomor 7 dalam daftar 99 wanita paling berpengaruh di Indonesia 2007 versi majalah Globe Asia.

Biografi

Cucu Sri Susuhunan Pakoe Boewono X Keraton Surakarta ini terkenal dengan segala hal yang berkaitan dengan kecantikan, jamu tradisional, dan lingkungan keraton. Sejak usia 3 tahun ia tinggal di Keraton Surakarta yang dikenal sebagai sumber kebudayaan Jawa. Di keraton itu, ia mendapat pendidikan secara tradisional yang menekankan pada tata krama, seni tari klasik, kerawitan, membatik, ngadi saliro ngadi busono, mengenal tumbuh-tumbuhan berkhasiat, meramu jamu, dan kosmetika tradisional dari bahan alami, bahasa sastra Jawa, tembang dengan langgam mocopat, aksara Jawa Kuno, dan bidang seni lainnya.

Tahun 1973, hobi minum jamu Mooryati Soedibyo yang dilakukan sejak masih belia, akhirnya dikembangkannya sebagai usaha. Ramuan jamu resep Keraton Surakarta yang semula diberikan kepada teman-temannya, akhirnya berubah menjadi bisnis. Produknya mulai diekspor ke kurang lebih 20 negara, diantaranya Rusia, Belanda, Jepang, Afrika Selatan, Timur Tengah, Malaysia dan Brunei.[3] Produknya juga berkembang menjadi 800 buah produk, mulai dari balita, umum, super, dan premium. Diawali dengan produk untuk orang tua sampai dengan remaja puterinya.

Tahun 1990 ia meluncurkan ajang Puteri Indonesia, yang dikembangkannya setelah menyaksikan acara Miss Universe di Bangkok tahun 1990. Mooryati yang sering berkunjung ke luar negeri untuk mengadakan seminar, pameran mau pun sendiri mulai ingin membuat ajang Puteri Indonesia. Dari sini timbul keinginannya untuk membuat wanita Indonesia percaya diri tampil di dunia internasional.Hal ini sebelumnya telah dipelopori oleh Andi Nurhayati yang semenjak tahun 70-an menjadi pemegang franchise pengiriman Miss-miss-an kelas internasional, begitu pula nama majalah Femina yang sudah bertahun-tahun sebelumnya menyelenggarakan pemilihan Putri Remaja Indonesia, yang menghasilkan gadis-gadis paling enerjik, cerdas dan modern se Indonesia. Kini Mooryati Soedibyo, berupaya menggabungkan kesemua itu dalam ajang Pemilihan Puteri Indonesia.

Lalu ia mengeluarkan ide tersebut ke Badan Pengembangan Eksport Nasional, dan disetujui. Mooryati akhirnya membentuk Yayasan Puteri Indonesia dan menjadi Ketua Umum. Tapi ajang Pemilihan Puteri Indonesia tak sepenuhnya disetujui masyarakat. Bahkan menjadi polemik sampai sekarang. Mooryati sendiri telah berhasil mengadakan ajang Pemilihan Puteri Indonesia sampai yang ke-enam kalinya. Dan pernah vakum selama 3 tahun (1997,1998,1999) karena kondisi dan situasi negara yang tidak memungkinkan.
2938/8 <172+77> < B. R. A. Koes Sistijah Siti Mariana
wafat: 25 Oktober 2000
2569/8 <168+90> < Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah (Raja Kotawaringin XV)
pekerjaan: 16 Mei 2010
24910/8 <150+85> < Raden Ayu Suniati
25011/8 <150+85> < Raden Ayu Suniasri
25112/8 <150+85> < Bendoro Raden Mas Bambang Suryo Sunindyo
25213/8 <151+86+?> < Raden Nganten Surip Salami 25314/8 <151+86> < Raden Nganten Sri Maryati
25515/8 <153> < Raden Ayu Sukesti Paring Wahyudi
25716/8 <168+90> < Pangeran Muasjidin Syah
25917/8 <163> < Raden Mas Eddy Sarwono [Hb.5.9.3.6.1]
26018/8 <163> < Raden Ayu Erny Soedaryati [Hb.5.9.3.6.2]
26119/8 <163> < Raden Ayu Etri Wahyuhidayati [Hb.5.9.3.6.3]
26220/8 <163> < Raden Ayu Esti Iwardani [Hb.5.9.3.6.4]
26321/8 <156+88> < Kanjeng Raden Tumenggung Purbokusumo [Hb.6.9.3] 26422/8 <156+88> < Raden Lurah Sosrosebrongto [Hb.6.9.5]
26523/8 <156+88> < Raden Mas Samsidi [Hb.6.9.16]
26624/8 <156+88> < Raden Ayu Purboningrat [Hb.6.9.8]
26725/8 <156+88> < Raden Ayu Hadiningrat [Hb.6.9.9]
26826/8 <156+88> < Raden Ayu Purbohadiningrat [Hb.6.9.11]
26927/8 <156+88> < Raden Bekel Atmosudirjo [Hb.6.9.12]
27028/8 <156+88> < Raden Ayu Kartokusumo [Hb.6.9.15]
27129/8 <165+81> < Kanjeng Raden Mas Haryo Suryo Baswo S. [Hb.7.19.1.4]
27230/8 <165+81> < Bendoro Raden Mas Suryo Danindro S. [Hb.7.19.1.3]
27331/8 <165+81> < Bendoro Raden Ajeng Murhardining [Hb.7.19.1.2] (Bendoro Raden Ayu Cipto Yuwono) 27432/8 <165+81> < Bendoro Raden Ajeng Kusniati [Hb.7.19.1.1] (Bendoro Raden Ayu Suryo)
27533/8 <168+90> < Ratu Nur Ediningsih
27634/8 <168+90> < Pangeran Arsyadinsyah
27735/8 <168+90> < Pangeran Nuraruddinsyah
27836/8 <168+90> < Pangeran Abidinsyah
27937/8 <168+90> < Ratu Nur’aini Ratu Nur’aini
28038/8 <168+90> < Ratu Nur Maulidinsyah Ratu Nur Maulidinsyah
28139/8 <168+90> < Ratu Saptinah
28240/8 <169> < B. R. A. Nedima Koesmarkiah 28341/8 <170+91> < R. A. Francisca Heribertha Dewi Moerni 28442/8 <172+77> < Bendoro Raden Mas Munier Tjakraningrat (K. P. H. Pakuningrat) 28543/8 <174> < R. A. Soejati
28644/8 <175> < Bendoro Raden Mas Puspo Makmun Firmansjah
28745/8 <177+92> < R. A. Soesilastoeti
28846/8 <177+93> < Raden Mas Salam Dirdjokoesoemo
28947/8 <178+94> < R. A. Soetanti
29048/8 <149+69> < Gusti Raden Ajeng Sapariyam (G. K. R. Sekar Kedaton)
29149/8 <180+95> < R. A. Siti Handajoe Padmonagoro
29250/8 <172+77> < B. R. A. Koes Siti Marlia
29451/8 <172+78> < Bendoro Raden Mas Muhammad Malikul Adil Tjakraningrat
29552/8 <165> < K. P. H. Soerjo Windrojo Hamidjojo
29653/8 <186+156!> < Bendoro Raden Mas Prawironagoro
29754/8 <149+70> < K. G. P. H. Mangkoeboemi
29855/8 <149+70> < G. K. R. Hajoe
29956/8 <149+70> < G. K. R. Bendoro
30057/8 <149+70> < G. K. R. Tjondrokirono 30158/8 <149+72> < G. R. M. Danoerwendo (K. G. P. H. Hangabehi)
30259/8 <149+72> < G. R. M. Soerjolelono (K. G. P. H. Praboewidjojo)
30360/8 <149+72> < G. R. A. Koesoemodartojo
30461/8 <149+74> < G. R. M. Soerjodarmojo (G. P. H. Bintoro)
30662/8 <149+69> < G. K. R. Kedaton
30863/8 <155+87> < B. R. A. Koespinah 30964/8 <187+100> < B. R. A. Moertini
31165/8 <187+100> < B. R. A. Moertijah
31266/8 <188> < R. A. Sri Lasinah
31367/8 <189> < Raden Mas Bagas Satria Nugraha
31468/8 <191+101> < Raden Mas Soedadi
31569/8 <191+101> < Raden Mas Soekardiman
31670/8 <193> < R. A. Warsini
31771/8 <194+102> < R. A. Soeginah (R. A. Sastrodipoero)
31872/8 <194+102> < Raden Mas Soegito (R. M. Lr. Gitosawego)
31973/8 <194+102> < R. A. Soegiati (R. A. Soedjoet)
32074/8 <194+102> < R. A. Doglong (R. A. Soemarno)
32175/8 <194+102> < Raden Mas Slamet Soebagijo
32276/8 <194+102> < R. A. Soegiah
32377/8 <195+64> < Raden Mas Soehardiman
32478/8 <195+64> < Raden Mas Martono
32579/8 <195+64> < Raden Mas Soediman
32680/8 <195+64> < Raden Mas Sajid Rahiman (R. M. P. Troenowirogo)
32781/8 <195+64> < R. A. Soemarti (R. A. Hadisoemarno)
32882/8 <197+65> < Raden Mas Soejono (Raden Mas Ngabehi Djojopranoto)
32983/8 <197+65> < R. A. Sajekti (R. A. Sastromidjojo)
33084/8 <197> < R. A. Soeharni (R. A. Darjoko)
33185/8 <197> < Raden Mas Soenarno
33286/8 <200+103> < Raden Mas Sajid Soehardjo
33387/8 <200+103> < R. A. Noek
33488/8 <200+103> < R. A. Soedinah (R. A. Troenowirogo II)
33589/8 <200+103> < Raden Mas Sajid Soerardjo
33690/8 <200+103> < Raden Mas Hartojo
33791/8 <200+103> < R. A. Hasrinah (R. A. Sastrosoesilo)
33892/8 <201+66> < Raden Mas Soedarman
33993/8 <203+104> < R. A. Martinah (R. A. Abdoelah Afandi)
34094/8 <203+104> < Raden Mas Aboedjono
RM. Aboedjono gugur di masa Agresi Militer Belanda II.
34195/8 <203+104> < Raden Mas Aboesanto
34296/8 <203+104> < Raden Mas Aboetoro
34397/8 <203+104> < Raden Mas Soemasto
34498/8 <203+104> < R. A. Marlijah (R. A. Soemarjo)
34599/8 <206> < Raden Mas Tjokroprawoto
346100/8 <206> < Raden Mas Warsito
347101/8 <207> < Raden Mas Soeminto
348102/8 <207> < Raden Mas Soemitro
349103/8 <207> < Raden Mas Soediro
350104/8 <208+105> < Raden Mas Gondosoetanto
351105/8 <208+105> < Raden Mas Soeranto
352106/8 <210> < Raden Mas Soeprapto Hadisoerjo
353107/8 <210> < R. A. Koesrahmani (R. A. Danoenagoro)
354108/8 <210> < Raden Mas Toekoel Atmo Djojosoewarno
355109/8 <210> < R. M. Soedarmadi
356110/8 <211> < R. A. Srisajekti (R. A. Poerwosoegjanto)
357111/8 <211> < R. A. Retnosoejati (R. A. Soedono Tjokrosarsono)
358112/8 <211> < Raden Mas Soerjo Sandjojo
359113/8 <212> < R. A. Setijatinah (R. A. Soeminto)
360114/8 <213+106> < Raden Mas Widojo
361115/8 <213+106> < Raden Mas Wiratmoko
362116/8 <213+106> < R. A. Wirastoeti
363117/8 <213+106> < R. A. Wirasmani
364118/8 <217+107> < Raden Ajeng Sri Kamarin
365119/8 <217+107> < R. A. Sri Rahajoe (R. A. Darsono)
366120/8 <217+107> < Raden Mas Marjo
367121/8 <217+107> < Raden Mas Soemarno
RM. Soemarno gugur selama Agresi Militer Belanda II.
368122/8 <217+107> < Raden Mas Soemarso
369123/8 <217+107> < R. A. Menoek
370124/8 <217+107> < R. A. Srimartini
371125/8 <218+108> < R. A. Siti Roekmini (R. A. Soemasto)
372126/8 <218+108> < R. A. Siti Karlinah (R. A. Soedarmasto)
373127/8 <219+109> < Raden Mas Soejitno
374128/8 <219+109> < Raden Mas Soejatno
375129/8 <219+109> < Raden Mas Mochtarul Anam
376130/8 <219+109> < R. A. Sakdijah
377131/8 <219+109> < Raden Mas Moechtar Paridji
378132/8 <220+110> < R. A. Siti Hardjinah
379133/8 <220+110> < R. A. Siti Marinah
380134/8 <220+110> < R. A. Siti Pandinah
381135/8 <220+110> < R. A. Siti Mardikah
382136/8 <220+110> < Raden Mas Soebardjo
383137/8 <220+110> < Raden Mas Soenardjo
384138/8 <220+110> < R. A. Siti Hartati
385139/8 <221+111> < Raden Mas Amino Gondohoetomo
386140/8 <221+111> < R. A. Srijatoen (R. A. Goenari)
387141/8 <221+111> < R. A. Sardjoeni (R. A. Imam Soebarkah)
388142/8 <222+112> < R. A. Koestijam (R. A. Tjokrosoedarsono)
389143/8 <222+112> < R. A. Soewarti (R. A. Tjokrosoebroto)
390144/8 <222+112> < Raden Mas Soehartono
391145/8 <222+112> < Raden Mas Soedarjanto
392146/8 <223+198!> < Raden Mas Doeliman
393147/8 <223+198!> < R. A. Retno Djatmiko (R. A. Hadisapoetro)
394148/8 <223+198!> < Raden Mas Maktal Tedjosapoetro
395149/8 <223+198!> < Raden Mas Santjoko Mangkoeatmodjo
396150/8 <223+198!> < R. A. Kantinah
397151/8 <224+113> < R. A. Srijati (R. A. Hartosajono)
398152/8 <226> < Raden Mas Djokosasono Sosrosoediro
399153/8 <226> < R. A. Soeprapti (R. A. Mangkoewardojo)
400154/8 <226> < R. A. Srikasti Rindoean
401155/8 <227> < R. A. Indrogini (R. A. Hardjono)
402156/8 <233+227!> < Bendoro Raden Mas Indropoetro
403157/8 <227+233!> < Bendoro Raden Mas Indroatmodjo
404158/8 <227+233!> < Bendoro Raden Mas Indradi
405159/8 <228> < R. A. Soepihedi (R. A. Darmokoesoemo)
406160/8 <228> < Raden Mas Iskandar
407161/8 <228> < Raden Mas Ismail
408162/8 <228> < Raden Mas Iskak
409163/8 <228> < R. A. Iskandari
410164/8 <228> < R. A. Isbandinah
411165/8 <228> < R. A. Sri Ismijati
412166/8 <228> < Raden Ajeng Sri Istidjah
413167/8 <230+114> < R. A. Soerjantinah
414168/8 <230+114> < Raden Mas Soerjanto Parboe Harjanto
415169/8 <232> < R. A. Darmijati
416170/8 <232> < R. A. Moelatinah
417171/8 <155+87> < B. R. A. Soelastri (B. R. A. Soegirwo)
418172/8 <155+87> < B. R. A. Koesbandinah (B. R. A. Soetardjo Kartoningprang)
419173/8 <155+87> < B. R. A. Koesdarinah (B. R. A. Harjono Djoeroemartani)
420174/8 <155+87> < B. R. A. Koesbinah (B. R. A. Soegoto Kartonegoro)
421175/8 <164+68> < B. R. A. Tamasri 422176/8 <164+67> < G. R. A. Siti Djinzoelkari
GRA. Siti Djinzoelkari meninggal dalam usia muda.
423177/8 <164+68> < B. P. H. Soemodiningrat
424178/8 <237> < K. R. M. P. Mloyohadiwijoyo 425179/8 <238+117> < Raden Ayu Kajati Istidjab 426180/8 <156+88> < Bendara Raden Ayu Koeshartati 427181/8 <238+117> < Raden Ayu Soetari Marsopranoto
428182/8 <238+117> < Raden Mas Sinoeng Hardjopranoto 429183/8 <238+117> < Raden Mas Soetanto Padmopranoto
430184/8 <238+117> < Raden Ayu Sri Rachmani Lasmindar
431185/8 <238+117> < Raden Ayu Sri Rahayu Mantropranoto 432186/8 <238+117> < Raden Mas Slamet Rahardjo
433187/8 <238+117> < Raden Mas Soerachman
434188/8 <238+117> < Raden Mas Soebagio
435189/8 <183+98> < Raden Ayu Sunarsi Wongsonegoro