Kanjeng Susuhunan Pakubuwono V / Sunan Sugih (Raden Mas Sugandi) b. 1785 d. 5 September 1823 - Keturunan (Inventaris)

Dari Rodovid ID
Orang:26155
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.

1

Pb-v2.jpg
11/1 <?+?> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono V / Sunan Sugih (Raden Mas Sugandi)
lahir: 1785, Surakarta
perkawinan: <1> < Raden Ayu Sosrokusumo / Ratu Kencana
perkawinan: <2> < Ratu Mas / Kanjeng Ratu Ageng
perkawinan: <3> < Raden Ayu Dewakusuma
perkawinan: <4> < R Ayu Malayasari
gelar: 10 Februari 1820 - 5 September 1823, Surakarta, Bergelar Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwono V
wafat: 5 September 1823, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana V (lahir: Surakarta, 1785 – wafat: Surakarta, 1823) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1820 – 1823.

Kisah Hidup Nama aslinya adalah Raden Mas Sugandi, putra Pakubuwana IV yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Handoyo putri Adipati Cakraningrat bupati Pamekasan. Ia naik takhta pada tanggal 10 Februari 1820, selang delapan hari setelah kematian ayahnya.

Pakubuwana V juga dikenal dengan sebutan Sunan Sugih, yang artinya “Baginda Kaya”, yaitu kaya harta dan kaya kesaktian. Konon, ia pernah membuat keris pusaka dengan tangannya sendiri, bernama Kyai Kaget, yang berasal dari pecahan meriam pusaka Kyai Guntur Geni saat terjadinya pemberontakan orang Cina tahun 1740.

Pakubuwana V juga memerintahkan ditulisnya Serat Centhini berdasarkan pengalaman pribadinya semasa menjabat Adipati Anom. Yang menjadi juru tulis naskah populer ini ialah Raden Rangga Sutrasna.

Pakubuwana V hanya memerintah selama tiga tahun. Ia meninggal dunia pada tanggal 5 September 1823. Raja Surakarta selanjutnya adalah putranya, yaitu Pakubuwana VI, yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional.

SRI SUSUHUNAN PAKUBUWANA V, BUKAN HANYA RAJA dari Karaton Surakarta Hadiningrat, melainkan beliau juga seorang maecenas besar yang pernah dimiliki Indonesia. Meski kekuasaannya berlangsung sangat pendek (1820-1823), namun jasa dan gagasannya terukir panjang. Dari gagasan, dan tentu donasi beliau (yang bahkan telah dimulai ketika masih sebagai putra mahkota bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara ing Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV), lahirlah pada awal abad 19 itu, Suluk Tambangraras yang kemudian lebih dikenal sebagai Serat Centhini. Serat Centhini, ditulis tahun 1815 oleh tiga pujangga Karaton Surakarta. Yakni, Ki Ngabei Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura. Sebagai sebuah karya sastra, memenuhi syarat sebagai sebuah mahakarya yang memiliki pengaruh luas. Sampai banyak orang bisa berkomentar dan menilai, sekali pun sama sekali belum pernah membacanya, sampai hari ini. Begitu hebatnya ia, sampai-sampai karya ini muncul dalam banyak versi. Setidaknya ditengarai ada 12 versi Serat Centhini, dan itu sudah cukup menunjukkan kelasnya. Daerah tebanya begitu luas. Ia mengenai apa saja. Bukan hanya mengenai sastra atau seni, melainkan juga tentang adat-istiadat, obat-obatan, makanan dan minuman (jaman sekarang disebut kuliner), pengetahuan tentang hewan, tanaman, agama, sejarah, dan bahkan tentang seks. Tentang yang terakhir itulah, Serat Centhini antara lain dikenal luas. Karena Serat Centhini-lah karya sastra Jawa pada waktu itu, yang berbicara berterus-terang perihal seks. Penjabarannya, bukan hanya verbal tetapi kadang liar. Dalam Serat Centhini, juga dikisahkan bagaimana terjadi anal seks atau pun praktik homo-seksualitas. Dan bahkan, seks massal,... Pada bagian-bagian yang berkait dengan seks itu, konon Pakubuwana V sendiri yang turun tangan, menulis langsung. Itu terjadi setelah tiga penulisnya dirasa tidak memuaskannya. Tidak nges, dan kurang lugas. Kurang mak nyus, kata almarhum Prof. Dr. Umar Kayam (yang kemudian ditirukan atau dipopulerkan oleh pakar kuliner Bondan Winarno). Maka, Serat Centhini jilid 5 s.d 10 yang ditulis sendiri oleh sang Raja, sebagaimana kemudian bisa dibaca dalam kitab Serat Centhini sekarang ini. Ia mendapat banyak sebutan, sebagai karya korpus, monumental, sastra kanon yang begitu lengkap dan mencengangkan, karena cakupan isinya yang ensiklopedis, gaya bertuturnya, serta ketebalannya. Bayangkanlah, pada abad 19 itu, lahir karya sastra yang secara liris dan intens, ditulis sebanyak 12 jilid, dengan 722 pupuh tembang (jenis puisi Jawa). Satu pupuh tembang, tak jarang terdiri dari ratusan kuplet (bait), bahkan ada beberapa yang mencapai lebih dari 300 kuplet. Dan masing-masing kuplet terdiri antara 6 hingga 12 baris. Bisa dibayangkan, kepiawaian bahasa para penulisnya. Karena masing-masing pupuh tembang diikat oleh guru wilangan (jumlah suku kata yang terukur dan terhitung pasti), dan guru lagu (akhir suku kata masing-masing baris yang baku, untuk mendapatkan pola pantunnya). Karena itu, kata-kata dalam bahasa Jawa yang dipakai para penulisnya begitu lentur karena mengejar rima dan bunyi. Karena itu ketika Serat Centhini itu dilisankan (ditembangkan) siapa pun sepanjang mengetahui cara menyanyikan pupuh tembang itu, Centhini menjadi komunikatif, mudah untuk diapresiasi, dan mudah untuk disosialisasikan. Bahkan terbuka ditafsirkan dan punya kecenderungan bias, karena faktor pendengaran, pengertian, atau ingatan. Hal ini menjadi mudah terjadi, karena tembang sebagai sastra lisan yang jamak dilakukan pada waktu itu, terjadi dalam berbagai bentuk pertemuan banyak orang, ketika berada dalam upacara sunatan, pengantin, atau berbagai pertemuan-pertemuan rutin, yang diselenggarakan oleh berbagai kelompok masyarakat, dalam berbagai waktu dan tempat. Karena itulah Centhini bisa muncul dalam banyak versi. Seperti Centhini Pegon. Centhini Jalalen. Centhini versi Madura. Dan lain sebagainya. Tidak dalam niat menyamakan, demikian pulalah ketika para sahabat Muhammad SAW hendak mengumpulkan hadist nabi, yang tentunya disampaikan secara lisan. Maka ketika hadist itu hendak dikumpulkan dan dituliskan, dibutuhkan para perawi hadis yang sahih, yang bisa menjamin tingkat kebenarannya. Apalagi, untuk kasus penulisan Alquran, yang dilakukan setelah nabi wafat. Demikian pula dengan kasus penulisan Injil, yang ditulis berdasar penuturan sahabat-sahabat Jesus seperti Lukas, Paul, Johannes dan lain sebagainya. Percontohan dalam karya sastra Indonesia, mungkin bisa ditemui pada novel “Para Priyayi” (1992) Umar Kayam, yang pembagian bab-nya ditulis menurut sudut pandang “aku” tokoh-tokohnya. Atau pada lahirnya novel kwarternarius “Bumi Manusia” (1980) Pramoedya Ananta Toer. Yang konon sebelum dituliskan, justeru dilisankan. Didongengkan terlebih dulu kepada sesama napi di Pulau Buru, untuk kemudian baru ditulis.

Serat Centhini (1815) berada dalam nasib berbeda, karena ia “hanya” sastra Jawa, yang tentu tidak segawat kasus penulisan kitab agama yang membutuhkan kesahihan dan kecanggihan. Demikian pula, ia bukan sastra teks Indonesia yang “mulia”, yang mempunyai para ahli kritiknya masing-masing. Sehingga perlu ada studi perbandingan atau studi kritis, sebagaimana dialami oleh Umar Kayam atau Pramoedya.

2

Surakarta-PBVI.jpg
21/2 <1+1> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono VI / Raden Mas Sapardan (Sinuhun Bangun Tapa)
lahir: 26 April 1807, Surakarta
perkawinan: <5> < Ratu Mas
perkawinan: <6> < Ratansari
gelar: 15 September 1823 - 1830, Susuhunan of Surakarta
wafat: 2 Juni 1849, Ambon, Pakubuwana VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849. Menurut laporan resmi Belanda, ia meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut. Pada tahun 1957 jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri, yaitu kompleks pemakaman keluarga raja keturunan Mataram. Pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi. Menurut analisis Jend. TNI Pangeran Haryo Jatikusumo (putra Pakubuwana X), lubang tersebut seukuran peluru senapan Baker Riffle. Ditinjau dari letak lubang, Pakubuwana VI jelas bukan mati karena bunuh diri, apalagi kecelakaan saat berpesiar. Raja Surakarta yang anti penjajahan ini diperkirakan mati dibunuh dengan cara ditembak pada bagian dahi.
Sri Susuhunan Pakubuwana VI (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 April 1807 – meninggal di Ambon, 2 Juni 1849 pada umur 42 tahun) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1823 – 1830. Ia dijuluki pula dengan nama Sinuhun Bangun Tapa, karena kegemarannya melakukan tapa brata.

Sunan Pakubuwana VI telah ditetapkan pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional berdasarkan S.K. Presiden RI No. 294 Tahun 1964, tanggal 17 November 1964.

Asal-Usul Nama aslinya adalah Raden Mas Sapardan, putra Pakubuwana V yang lahir dari istri Raden Ayu Sosrokusumo, keturunan Ki Juru Martani. Ia dilahirkan pada tanggal 26 April 1807.

Pakubuwana VI naik takhta tanggal 15 September 1823, selang sepuluh hari setelah kematian ayahnya.

Hubungan dengan Pangeran Dipanegara Pakubuwana VI adalah pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, yang memberontak terhadap Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1825. Namun, sebagai seorang raja yang terikat perjanjian dengan Belanda, Pakubuwana VI berusaha menutupi persekutuannya itu.

Penulis naskah-naskah babad waktu itu sering menutupi pertemuan rahasia Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro menggunakan bahasa simbolis. Misalnya, Pakubuwana VI dikisahkan pergi bertapa ke Gunung Merbabu atau bertapa di Hutan Krendawahana. Padahal sebenarnya, ia pergi menemui Pangeran Diponegoro secara diam-diam.

Pangeran Diponegoro juga pernah menyusup ke dalam keraton Surakarta untuk berunding dengan Pakubuwana VI seputar sikap Mangkunegaran dan Madura. Ketika Belanda tiba, mereka pura-pura bertikai dan saling menyerang. Konon, kereta Pangeran Diponegoro tertinggal dan segera ditanam di dalam keraton oleh Pakubuwana VI.

Dalam perang melawan Pangeran Diponegoro, Pakubuwana VI menjalankan aksi ganda. Di samping memberikan bantuan dan dukungan, ia juga mengirim pasukan untuk pura-pura membantu Belanda. Pujangga besar Ranggawarsita mengaku semasa muda dirinya pernah ikut serta dalam pasukan sandiwara tersebut.

Penangkapan oleh Belanda Patung Pakubuwana VI di keraton SurakartaBelanda akhirnya berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830. Sasaran berikutnya ialah Pakubuwana VI. Kecurigaan Belanda dilatarbelakangi oleh penolakan Pakubuwana VI atas penyerahan beberapa wilayah Surakarta kepada Belanda.

Belanda berusaha mencari bukti untuk menangkap Pakubuwana VI. Juru tulis keraton yang bernama Mas Pajangswara (ayah Ranggawarsita) ditangkap untuk dimintai keterangan. Sebagai anggota keluarga Yasadipura yang anti Belanda, Pajangswara menolak membocorkan hubungan rahasia Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro. Ia akhirnya mati setelah disiksa secara kejam. Konon jenazahnya ditemukan penduduk di sekitar Luar Batang.

Belanda tetap saja menangkap Pakubuwana VI dan membuangnya ke Ambon pada tanggal 8 Juni 1830 dengan alasan bahwa Mas Pajangswara sudah membocorkan semuanya, dan kini ia hidup nyaman di Batavia.

Fitnah yang dilancarkan pihak Belanda ini kelak berakibat buruk pada hubungan antara putra Pakubuwana VI, yaitu Pakubuwana IX dengan putra Mas Pajangswara, yaitu Ranggawarsita.

Pakubuwana IX sendiri masih berada dalam kandungan ketika Pakubuwana VI berangkat ke Ambon. Takhta Surakarta kemudian jatuh kepada paman Pakubuwana VI, yang bergelar Pakubuwana VII.

Misteri Kematian Pakubuwana VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849. Menurut laporan resmi Belanda, ia meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut. Pada tahun 1957 jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri, yaitu kompleks pemakaman keluarga raja keturunan Mataram. Pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi. Menurut analisis Jend. TNI Pangeran Haryo Jatikusumo (putra Pakubuwana X), lubang tersebut seukuran peluru senapan Baker Riffle.

Ditinjau dari letak lubang, Pakubuwana VI jelas bukan mati karena bunuh diri, apalagi kecelakaan saat berpesiar. Raja Surakarta yang anti penjajahan ini diperkirakan mati dibunuh dengan cara ditembak pada bagian dahi.
32/2 <1+2> < Gusti Kanjeng Ratu Sekarkedhaton 43/2 <1> < Gusti Pangeran Haryo Suryoningrat 54/2 <1+4> < Gusti Pangeran Haryo Sinduseno 65/2 <1> < Gusti Pangeran Haryo Sontokusumo
76/2 <1> < Gusti Pangeran Haryo Kusumobroto
87/2 <1> < Gusti Pangeran Haryo Pringgokusumo
98/2 <1> < Gusti Pangeran Haryo Suryobroto
109/2 <1> < Gusti Pangeran Haryo Notobroto
1110/2 <1> < Gusti Pangeran Haryo Notodiningrat
1211/2 <1> < Gusti Pangeran Haryo Suryokusumo
1312/2 <1> < Gusti Pangeran Haryo Suryodipuro
1413/2 <1> < Gusti Raden Ayu Mangkupuro
1514/2 <1> < Gusti Raden Ayu Dipowinoto
1615/2 <1> < Gusti Raden Ayu Notoatmodjo 1716/2 <1> < Gusti Raden Ayu Hadiwinoto

3

201/3 <4+8> < Bendoro Raden Mas Sukirman (Bendoro Pangeran Haryo Cokronagoro)
perkawinan: <12> < Raden Ayu Rogasmoro
penguburan: Astana Gunungsari, Kartasura, Sukoharjo
212/3 <4+8> < Bendoro Raden Mas Okotdiyat (Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat)
PBIX Solo.jpg
183/3 <2+5> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono IX / Pangeran Prabuwijaya (Raden Mas Duksino)
lahir: 22 Desember 1830, Surakarta
perkawinan: <17> < Raden Ayu Kustiyah
perkawinan: <18> < Raden Ayu Pujokusumo
gelar: 30 Desember 1861 - 16 Maret 1893, Surakarta, Susuhunan Surakarta IX bergelar Pakubuwono IX
wafat: 16 Maret 1893, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana IX (lahir: Surakarta, 1830 – wafat: Surakarta, 1893) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1861 – 1893.

Kisah Pemerintahan Nama aslinya adalah Raden Mas Duksino, putra Pakubuwana VI. Ia masih berada di dalam kandungan ketika ayahnya dibuang ke Ambon oleh Belanda karena mendukung pemberontakan Pangeran Diponegoro. Ia sendiri kemudian lahir pada tanggal 22 Desember 1830.

Pakubuwana IX naik takhta menggantikan Pakubuwana VIII (paman ayahnya) pada tanggal 30 Desember 1861. Pemerintahannya ini banyak dilukiskan oleh Ronggowarsito dalam karya-karya sastranya, misalnya dalam Serat Kalatida.

''Hubungan antara Pakubuwana IX dengan Ronggowarsito'' sendiri kurang harmonis karena fitnah pihak Belanda bahwa Mas Pajangswara (ayah Ronggowarsito yang menjabat sebagai juru tulis keraton) telah membocorkan rahasia persekutuan antara Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro. Akibatnya, Pakubuwana VI pun dibuang ke Ambon. Hal ini membuat Pakubuwana IX membenci keluarga Mas Pajangswara, padahal juru tulis tersebut ditemukan tewas mengenaskan karena disiksa dalam penjara oleh Belanda.

Ronggowarsito sendiri berusaha memperbaiki hubungannya dengan raja melalui persembahan naskah Serat Cemporet. Saat itu karier Ronggowarsito sendiri sudah memasuki senja. Ia mengungkapkan kegelisahan hatinya melalui Serat Kalatida, karyanya yang sangat populer.

Dalam Serat Kalatida, Ronggowarsito memuji Pakubuwana IX sebagai raja bijaksana, namun dikelilingi para pejabat yang suka menjilat mencari keuntungan pribadi. Zaman itu disebutnya sebagai Zaman Edan.

Pemerintahan Pakubuwana IX berakhir saat kematiannya pada tanggal 16 Maret 1893. Ia digantikan putranya sebagai raja Surakarta selanjutnya, bergelar Pakubuwana X.
224/3 <2> < Gusti Raden Ajeng Sapariyem (Gusti Raden Ayu Cokrodiningrat) 195/3 <2> < Raden Ayu Chodidjah
236/3 <5+10> < Bendara Kanjeng Pangeran Tumenggung Brotokusumo
247/3 <5> < Bendara Raden Ayu Brotodirdjo 258/3 <5> < Bendara Raden Mas Kapitan Koesoemonadpodo
269/3 <5> < Bendara Raden Mas Mayor Haryo Ranoewinoto
2710/3 <5> < Bendara Raden Ayu Prawironagoro
2811/3 <5> < Bendara Raden Mas Pandji Ranoedipoero
2912/3 <5> < Bendara Raden Ayu Martonagoro
3013/3 <5> < Bendara Raden Ayu Hardjodipoero
3114/3 <5> < Bendara Raden Mas Pandji Ranoedirdjo
3215/3 <5> < Bendara Raden Ayu Kromodirdjo
3316/3 <5> < Bendara Raden Ayu Soerodiprodjo
3417/3 <5> < Bendara Raden Mas Pandji Sindowidjojo
3518/3 <5> < Bendara Raden Mas Haryo Sindoediningrat
3619/3 <5> < Bendara Raden Ayu Soemodimedjo
3720/3 <5> < Bendara Raden Ayu Sindoeprodjo
3821/3 <2> < Gusti Kanjeng Ratu Timur

4

531/4 <20> < Raden Mas Ngabehi Wirosoekirno
penguburan: Astana Gunungsari, Kartasura, Sukoharjo
542/4 <20> < Raden Ajeng Suharti (R. A. T. Boedjonagoro)
perkawinan: <20> < K. R. M. T. Boedjonagoro
penguburan: Astana Gentan
563/4 <21+13> < Raden Mas Honggosuroyo (K. R. M. H. Honggodiningrat)
perkawinan: <21> < Nyai Lurah Sastrowanodya
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
KRMH. Honggodiningrat meninggal tanpa memiliki keturunan.
574/4 <21+13> < Raden Mas Honggosurasto (R. M. P. Tjondrodiningrat)
penguburan: Astana Jambon, Surakarta
585/4 <21+14> < Raden Ajeng Suciyat (R. A. Joedoprodjo)
perkawinan: <22> < Raden Mas Ngabehi Joedoprodjo I
penguburan: Astana Sondakan, Surakarta
596/4 <21+15> < Raden Mas Sunu (R. M. P. Tjokroatmodjo)
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
RMP. Tjokroatmodjo tidak memiliki anak.
607/4 <21+14> < Raden Ajeng Sutami (R. A. Darpopranoto)
penguburan: Astana Mlaten, Semarang
RA. Darpopranoto menikah dan tidak memiliki keturunan.
618/4 <21+14> < Raden Mas Syarif Saparkun Ali Muntoho (Raden Mas Djojosapoetro)
perkawinan: <23> < R. A. Djojosapoetro
perkawinan: <24> < Raden Nganten Setijoningsih
penguburan: Astana Turiloyo, Surakarta
629/4 <21+16> < Raden Mas Sarju (R. M. P. Brodjosasono)
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
6310/4 <21+14> < Raden Ajeng Kusmirah (R. A. Mangkoedirdjo)
perkawinan: <25> < Raden Mas Ngabehi Mangkoedirdjo
penguburan: Astana Tejabang, Simo, Boyolali
6411/4 <21+14> < Raden Ajeng Sukamsiyah (R. A. Singoprono)
perkawinan: <26> < Raden Mas Ngabehi Singoprono
penguburan: Pajang, Laweyan, Surakarta
6512/4 <21+22!> < Bendoro Raden Ajeng Surtiyem (B. R. A. Praboeningrat) 6613/4 <22+21!> < Bendoro Raden Ajeng Sumartinah (B. R. A. Tjokrosapoetro)
penguburan: Astana Laweyan, Surakarta
BRA. Tjokrosapoetro menikah dan tidak memiliki anak.
6714/4 <21+22!> < Bendoro Raden Ajeng Sumartiyah (B. R. A. Wirowirjono)
perkawinan: <27> < Raden Mas Ngabehi Wirowirjono
penguburan: Astana Manang Kaonderan, Grogol, Sukoharjo
6815/4 <22+21!> < Bendoro Raden Mas Sutejo (R. M. H. Notoningrat)
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
RMH. Notoningrat menikah dan tidak memiliki anak.
7016/4 <22+21!> < Bendoro Raden Ajeng Suskandani (B. R. A. Brotodipoero)
perkawinan: <28> < Raden Ngabehi Brotodipoero
penguburan: Kadilangu, Demak
7117/4 <22+21!> < Bendoro Raden Mas Susmadi (R. M. H. Diponingrat)
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
RMH. Diponingrat meninggal saat muda dan belum menikah.
SunanPBX.jpg
3918/4 <18+17> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X / Sunan Panutup (Raden Mas Malikul Kusno)
lahir: 29 November 1866, Surakarta
perkawinan: <29> < Ratu Mandayaretna
perkawinan: <30> < B. R. A. Soemarti
perkawinan: <31> < R. A. Pandamroekmi
perkawinan: <32> < R. A. Tranggonoroekmi
perkawinan: <33> < B. R. A. Retno Poernomo
perkawinan: <34> < R. A. Sedah Mirah
gelar: 30 Maret 1893 - 1 Februari 1939, Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana X
perkawinan: <35> < Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Hb.7.61] d. 28 Mei 1944, Yogyakarta
wafat: 1 Februari 1939, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana X (lahir: Surakarta, 1866 – wafat: Surakarta, 1939) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1893 – 1939.

Kisah Kelahiran Nama aslinya adalah Raden Mas Malikul Kusno, putra Pakubuwana IX yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Kustiyah, pada tanggal 29 November 1866. Konon, kisah kelahirannya menjadi cermin ketidakharmonisan hubungan antara ayahnya dengan pujangga Ranggawarsita. Dikisahkan, pada saat Ayu Kustiyah baru mengandung, Pakubuwana IX bertanya apakah anaknya kelak lahir laki-laki atau perempuan. Ranggawarsita menjawab kelak akan lahir hayu. Pakubuwana IX kecewa mengira anaknya akan lahir cantik alias perempuan. Padahal ia berharap mendapat bisa putra mahkota dari Ayu Kustiyah.

Selama berbulan-bulan Pakubuwana IX menjalani puasa atau tapa brata berharap anaknya tidak lahir perempuan. Akhirnya, Ayu Kustiyah melahirkan Malikul Kusno. Pakubuwana IX dengan bangga menuduh ramalan Ranggawarsita meleset.

Ranggawarsita menjelaskan bahwa istilah hayu bukan berarti ayu atau "cantik", tetapi singkatan dari rahayu, yang berarti "selamat". Mendengar jawaban Ranggawarsita ini, Pakubuwana IX merasa dipermainkan, karena selama berbulan-bulan ia terpaksa menjalani puasa berat.

Ketidakharmonisan hubungan Pakubuwana IX dengan Ranggawarsita sebenarnya dipicu oleh fitnah pihak Belanda yang sengaja mengadu domba keturunan Pakubuwana VI dengan keluarga Yasadipuran.

Masa Pemerintahan

Kereta khusus untuk mengangkut jenazah Pakubuwana X ke Yogyakarta menuju pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri.Malikul Kusno naik takhta sebagai Pakubuwana X pada tanggal 30 Maret 1893 menggantikan ayahnya yang meninggal dua minggu sebelumnya. Masa pemerintahannya ditandai dengan kemegahan tradisi dan suasana politik kerajaan yang cenderung stabil, di samping itu juga merupakan penanda babak baru bagi Kasunanan Surakarta dari kerajaan tradisional menuju era modern.Pakubuwono X menikah dengan Ratu Hemas (putri Raja Hamengkubuwono VII) dan dikaruniai seorang putri yang bernama GKR Pembajoen

Meskipun berada dalam tekanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda, namun melalui simbol budayanya Pakubuwana X tetap mampu mempertahankan wibawa kerajaan. Pakubuwana X sendiri juga mendukung organisasi Sarekat Islam cabang Solo, yang saat itu merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional Indonesia.

Pakubuwana X meninggal dunia pada tanggal 1 Februari 1939. Ia disebut sebagai ''Sunan Panutup'' atau raja besar Surakarta yang terakhir oleh rakyatnya. Pemerintahannya kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Pakubuwana XI.
4019/4 <19+?> < Raden Ayu Supadmi Nitisatimin
4120/4 <18> < Gusti Bendoro Raden Ayu Moerjati
perkawinan: <36> < Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat b. 13 September 1904 d. 17 Maret 1962
4221/4 <18> < Gusti Pangeran Haryo Purbodiningrat
4322/4 <18+18> < G. P. H. Mlojokoesoemo 4423/4 <18> < G. P. H. Koesoemodiningrat 4524/4 <18> < G. P. H. Notokoesoemo
4625/4 <18> < Gusti Raden Mas Adamadi 4726/4 <18> < Gusti Raden Ajeng Samsikin
4827/4 <18> < Gusti Raden Mas Imam Dawut 4928/4 <18> < Gusti Raden Mas Sutindro (G. P. H. Praboeningrat) 5029/4 <18> < Gusti Raden Mas Kanapi (K. G. P. H. Mataram)
5130/4 <18> < Gusti Raden Mas Janoko (G. P. H. Notodiningrat)
5231/4 <18> < Gusti Raden Ajeng Samsinah (G. R. A. Adipati Sosrodiningrat) 5532/4 <20+12> < Raden Mas Suhardi (K. R. M. H. Tjokroatmodjo)
6933/4 <22+21!> < Bendoro Raden Mas Sayidiman
BRM. Sayidiman meninggal di usia muda dan belum menikah.
7234/4 <23> < Raden Mas Ngabehi Kartoprodjo
7335/4 <23> < Raden Mas Mayor Sindoewinoto
7436/4 <23> < Raden Ayu Mangunprodjo
7537/4 <23> < Kanjeng Raden Mas Haryo Wiryodiningrat
7638/4 <23> < Raden Mas Kapitan Brotopinilih
7739/4 <23> < Raden Mas Pandji Kartokusumo
7840/4 <18> < Gusti Raden Ayu Brotokoesoemo
7941/4 <18> < Gusti Raden Ayu Wirjodiningrat
8042/4 <18> < Gusti Raden Ayu Soemaningrat
8143/4 <18> < Gusti Raden Ayu Jayaningrat
8244/4 <18> < Gusti Raden Ayu Yudhonegoro
8345/4 <18> < Gusti Pangeran Hario Prabuningrat
8446/4 <18> < Gusti Pangeran Hario Nyokrokusumo

5

1171/5 <53> < Raden Ajeng Sukinah (R. A. Tirtoprodjo)
perkawinan: <45> < Raden Mas Ngabehi Tirtoprodjo
penguburan: Astana Ngendhen
RA. Tirtoprodjo meninggal tanpa memiliki keturunan.
1222/5 <54+20> < Raden Ajeng Menik (R. A. Prodjoprawiro)
perkawinan: <46> < Raden Mas Ngabehi Prodjoprawiro
penguburan: Astana Ngendhen
1233/5 <54+20> < Raden Mas Suharto (Raden Mas Ngabehi Atmokoemoro)
penguburan: Astana Gentan
1244/5 <54+20> < Raden Mas Hartono (Raden Mas Ngabehi Dwidjopranoto)
perkawinan: <47> < Kenjosarojo
penguburan: Astana Gentan
1255/5 <54+20> < Raden Ajeng Minah (R. A. Mangkoesapoetro)
perkawinan: <150!> < Raden Mas Besar (R. M. Lr. Tarpohartono)
penguburan: Astana Tejabang, Simo, Boyolali
1266/5 <54+20> < Raden Ajeng Menuk (R. A. Mangoenatmoko)
penguburan: Astana Gentan
1287/5 <54+20> < Raden Ajeng Menah (R. A. Worosoegondo)
perkawinan: <48> < R. M. P. Worosoegondo
penguburan: Astana Bibis Luhur, Surakarta
1318/5 <54+20> < Raden Ajeng Sulastri (R. A. Tarpohartono)
penguburan: Astana Tejabang, Simo, Boyolali
1339/5 <57> < Raden Mas Sumadi (Raden Mas Bekel Wignjopanembang)
penguburan: Astana Jambon, Surakarta
13410/5 <57> < Raden Mas Saban
penguburan: Astana Jambon, Surakarta
9211/5 <39+33> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumoyudo [Pb.10.5] (Bendoro Raden Mas Abimanyu)
lahir: 17 Januari 1884
perkawinan: <49> < Gusti Kanjeng Ratu Hangger II [Hb.7.33] , <50> < R. A. Setiopoespito b. 1894? d. 16 Mei 1985
wafat: 16 Januari 1956
penguburan: Imogiri, Bantul
SUltan PB XI.JPG
8512/5 <39+29> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XI
lahir: 1886, Surakarta
perkawinan: <51> < Raden Ayu Kuspariyah / Gusti Kanjeng Ratu Pakoe Boewono
perkawinan: <52> < G. K. R. Kentjono
perkawinan: <53> < R. A. Dojoresmi
perkawinan: <54> < R. A. Dojoningsih
perkawinan: <55> < R. A. Dojosoemo
perkawinan: <56> < R. A. Dojoasmoro
perkawinan: <57> < R. A. Dojoningrat
gelar: 26 April 1939 - 1945, Surakarta, Raja Kasunanan Surakarta Ke-10 [1939-1945]
wafat: 1945, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana XI (lahir: Surakarta, 1886 – wafat: Surakarta, 1945) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1939 – 1945.

Riwayat Pemerintahan Nama aslinya adalah Raden Mas Antasena, putra Pakubuwana X yang lahir dari permaisuri Ratu Mandayaretna, pada tanggal 1 Februari 1886. Ia naik takhta sebagai Pakubuwana XI pada tanggal 26 April 1939.

Pemerintahan Pakubuwana XI terjadi pada masa sulit, yaitu bertepatan dengan meletusnya Perang Dunia Kedua. Ia juga mengalami pergantian pemerintah penjajahan dari tangan Belanda kepada Jepang sejak tahun 1942. Pihak Jepang menyebut Surakarta dengan nama Solo Koo.Ia digantikan Pakubuwana XII
Djatikusumo.jpg
8713/5 <39+35> < Kanjeng Pangeran Haryo Djatikusumo [Pb.10.23] (Bendoro Kanjeng Pangeran Haryo Purbonegoro)
lahir: 1 Juli 1917, Solo
perkawinan: <58> < Bendoro Raden Ayu Jatikusumo [Hb.7.78] (R. A. Soeharsi Widianti) , Yogyakarta
lahir: 1 Juni 1946 - 1 Maret 1948, Rembang, Panglima Divisi V Ronggolawe
pekerjaan: 1948 - 1949, Jakarta, Kepala Staf TNI Angkatan Darat I
pekerjaan: 1958 - 1960, Singapura, Duta Besar RI untuk Singapura
pekerjaan: 1959 - 1960, Jakarta, Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja I
pekerjaan: 1960 - 1962, Jakarta, Menteri Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja II
pekerjaan: 1962 - 1963, Jakarta, Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja III
wafat: 4 Juli 1992
10014/5 <39+35> < G. K. R. Pembajoen
lahir: 25 Maret 1919
perkawinan: <59> < R. A. A. M. Sis Tjakraningrat d. 24 September 1992
perkawinan: <60> < R. A. A. Muhammad Roeslan Tjakraningrat , <61> < R. A. Hatimah
wafat: 10 Juli 1988, Ciputat, Tangerang Selatan
penguburan: Imogiri, Bantul
9315/5 <39> < Kanjeng Pangeran Haryo Suryohamijoyo [Pb.10.32]
perkawinan: <62> < Raden Ajeng Suharti [Hb.7.19.1] (Bendoro Raden Ayu Suryohamijoyo)
perkawinan: <63> < R. A. Retno Pradopo
perkawinan: <64> < R. A. Koeroetien
perkawinan: <65> < R. A. Pradoponingsih
wafat: 1972, Rumah Sakit Panti Kosala, Surakarta
penguburan: Astana Imogiri, Bantul
8616/5 <39> < G.p.h.k. Suryo Suman 8817/5 <40> < Raden Ayu Suparmi M. Mulyadi
8918/5 <39+33> < Gusti Bendoro Raden Ayu Retno Puwoso 9019/5 <39+34> < Raden Ayu Suryomataram [Gp.Hb.6.9.1] ? (Bendoro Raden Ayu Kusniya) 9120/5 <39> < Bendoro Raden Ayu Suryodiningrat [Pb.10.?] (Bendoro Raden Ajeng Kusatima) 9421/5 <41+36> < Raden Ayu Srioerip
9522/5 <41+36> < Raden Ayu Sri Noerwati
9623/5 <42+?> < Ratu Kemalasari ? (G.p.h. Purbodiningrat) 9724/5 <39> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hadiwidjojo Maharsi Tama
KGPH. Hadiwidjojo merupakan pendiri Universitas Saraswati, Surakarta
9825/5 <43+37> < B. R. M. P. Mlojosoeripto 9926/5 <43+37> < Raden Mas Prijokoesoemo
Tinggal di Bekonang, Sukoharjo
10127/5 <44> < K. R. M. T. Harjo Soerjoningrat
10228/5 <45> < Raden Mas Ngabehi Padmoprodjo
10329/5 <39> < G. P. H. Poespokoesoemo
10430/5 <48+41> < Raden Mas Suleman
10531/5 <48+41> < Raden Mas Salaman 10632/5 <48+41> < Raden Mas Salamun 10733/5 <48+41> < Bendoro Raden Mas Sumarmo
10834/5 <39> < G. R. A. Koesprapti 10935/5 <39> < Gusti Raden Ajeng Kusniyah (G. K. R. Alit) 11036/5 <39+31> < G. R. A. Koesdinah (G. R. A. Brotodiningrat)
G. R. A. Brotodiningrat adalah seorang tokoh paranormal yang menjadi penasihat spiritual/Kejawen Keraton Surakarta.
11137/5 <44+39> < B. R. A. Soewarni 11238/5 <44+39> < B. R. A. Soewarsi 11339/5 <44+39> < K. P. H. Tjokrokoesoemo
K. P. H. Tjokrokoesoemo adalah menantu Pakubuwono X.
11440/5 <50> < B. P. H. Mataram 11541/5 <39+32> < G. R. A. Koes Salbijah (G. R. A. Poernomo Hadiningrat) 11642/5 <51> < K. R. M. T. H. Prawirodiningrat
11843/5 <53> < Raden Ajeng Suhinah (R. A. Wongsotjoendoko) 11944/5 <53> < R. A. Tjokrohardojo
12045/5 <53> < Raden Mas Suharjo
12146/5 <53> < Raden Ajeng Suhur (R. A. Wirjosoebroto) 12747/5 <54+20> < Raden Ajeng Sumi (R. A. Wirjohartono) 12948/5 <54+20> < Raden Ajeng Hardinah
Raden Ajeng Hardinah meninggal di usia muda dan belum menikah.
13049/5 <54+20> < Raden Ajeng Mublak (R. A. Hardjosoemarto) 13250/5 <55> < Raden Mas Bambang Sudarsono
13551/5 <57> < Raden Ajeng Sumasiyah (R. A. Djajengresmi) 13652/5 <57> < Raden Mas Suwandi
RM. Suwandi meninggal di usia muda dan belum menikah.
13753/5 <58+22> < Raden Mas Ngabehi Djojosoewarno
13854/5 <58+22> < R. M. M. Djohar Kamit (Raden Mas Ngabehi Doetosarsono)
13955/5 <58+22> < Raden Mas Setyoso (Raden Mas Ngabehi Joedoprodjo II)
14056/5 <58+22> < Raden Ajeng Sucinah (R. A. Mangoenwiradi) 14157/5 <58+22> < Raden Mas Sudarman
RM. Sudarman meninggal di usia muda dan belum menikah.
14258/5 <61+23> < Raden Mas Sumanto
14359/5 <61+23> < Raden Mas Sunarso
14460/5 <61+23> < Raden Ajeng Siti Mukjinah (R. A. Honggopradoto) 14561/5 <61+23> < Raden Ajeng Siti Aminah (R. A. Prodjodikromo) 14662/5 <61+24> < Raden Ajeng Siti Mukminah (R. A. Tjokrosoejitno) 14763/5 <61+24> < Raden Ajeng Siti Patimah (R. A. Djahartiman Djojosangodjo) 14864/5 <62> < Raden Ajeng Prekis (R. A. Gondohoetomo) 14965/5 <62> < Raden Ajeng Tantinah (R. A. Tjokrosoesastro) 15066/5 <63+25> < Raden Mas Besar (R. M. Lr. Tarpohartono) 15167/5 <63+25> < Raden Ajeng Sutinah (R. A. Sosrosoegondo) 15268/5 <63+25> < Raden Ajeng Sutiyah (R. A. Atmodjahnawi)
15369/5 <63+25> < Raden Mas Sudirham
15470/5 <65+49!> < Bendoro Raden Mas Mujadi (B. P. H. Tjokrodiningrat) 15571/5 <65+49!> < Bendoro Raden Mas Istijab (Raden Mas Ngabehi Hendrodiprodjo)
15672/5 <65+49!> < Bendoro Raden Mas Mujono
BRM. Mujono meninggal di usia muda dan belum memiliki anak.
15773/5 <65+49!> < Bendoro Raden Ajeng Hartati (R. A. Wiranto) 15874/5 <67+27> < Raden Ajeng Sudinah
RA. Sudinah meninggal dunia saat muda dan belum menikah.
15975/5 <67+27> < Raden Mas Okotdijat Prawirohoetomo
16076/5 <39> < G. R. A. Koesindinah (G. R. A. Tjokrodiningrat) 16177/5 <39+33> < G. R. A. Koesrahmani (G. R. A. Adipati Djojonegoro)
perkawinan: <95> < K. P. H. Adipati Djojonegoro , Keraton Surakarta Hadiningrat
16278/5 <39> < G. R. A. Koestantinah (G. R. A. Woerjaningrat) 16379/5 <52+44> < K. P. H. Woerjaningrat 16480/5 <43+37> < K. P. H Mloyomiluhur
16581/5 <72> < Raden Ayu Soetarti Sastrodiningrat 16682/5 <39> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumobroto 16783/5 <72> < Raden Ayu Soemarni Moertiningdiah 16884/5 <72> < Raden Ayu Soenarti Atmodiprodjo 16985/5 <72> < Raden Ayu Soemami Sindoesawarno 17086/5 <72> < Raden Ayu Soeminah Wongsodikoro 17187/5 <72> < Raden Ayu Soetati Siswodihardjo 17288/5 <72> < Raden Ayu Soejati Pranowosastro

6

2271/6 <97> < Bendoro Raden Mas Hapsoro Wresnowiro (K. P. H. Djojoningprang)
pekerjaan: Rektor Universitas Islam Sultan Agung, Semarang
perkawinan: <228!> < B. R. A. Koespinah
BRM. Hapsoro Wresnowiro adalah teman BRM. Dorodjatoen (Sri Sultan Hamengkubuwono IX) saat kuliah di Belanda.
1782/6 <90+68> < Kanjeng Raden Tumenggung Purboningrat [Hb.6.9.4]
lahir: 10 Maret 1865
1823/6 <90+68> < Kanjeng Adipati Prawiropurbo [Hb.6.9.10] (Ndoro Purbo / Raden Mas Kusrin)
lahir: 1869, Yogyakarta
perkawinan: <103> < Nyi Kasihan
perkawinan: <104> < Nyai Prawiro Purbo ? (Jiwaningsih) d. 1896?
wafat: 4 Maret 1933, Yogyakarta
penguburan: 5 Maret 1933, Yogyakarta
Pakualam VIII.jpg
1744/6 <89+67> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII / Bendoro Raden Mas Haryo Sularso Kunto Suratno (Kanjeng Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo)
lahir: 10 April 1910, Yogyakarta
perkawinan: <105> < Kanjeng Bendoro Raden Ayu Purnamaningrum
perkawinan: <106> < Kanjeng Raden Ayu Ratnaningrum
gelar: 13 April 1937, Yogyakarta, Kanjeng Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo
gelar: 1942 - 11 September 1998, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII
pekerjaan: 1 Oktober 1988 - 3 Oktober 1998, Yogyakarta, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
wafat: 11 September 1998, Yogyakarta
Pendidikan yang ditempuh adalah Europesche Lagere School Yogyakarta, Christelijk MULO Yogyakarta, AMS B Yogyakarta, Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta - sampai tingkat candidaat). Pada 13 April 1937 ia ditahtakan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo menggantikan mendiang ayahnya. Setelah kedatangan Bala Tentara Jepang pada tahun 1942 ia mulai menggunakan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII.

Pada 19 Agustus 1945 bersama Hamengkubuwono IX, Paku Alam VIII mengirimkan telegram kepada Sukarno dan Hatta atas berdirinya RI dan terpilihnya mereka sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pada 5 September 1945 secara resmi KGPAA Paku Alam VIII mengeluarkan Amanat/Maklumat (semacam dekrit kerajaan) bergabungnya Kadipaten Pakualaman dengan Negara Republik Indonesia. Sejak saat itulah kerajaan terkecil pecahan Mataram ini menjadi daerah Istimewa. Melalui Amanat Bersama antara Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII dan dengan persetujuan Badan Pekerja Komite Nasional Daerah Yogyakarta pada tanggal 30 Oktober tahun yang sama, ia berdua sepakat untuk menggabungkan Daerah Kasultanan dan Kadipaten dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jabatan yang dipangku selanjutnya adalah Wakil Kepala Daerah Istimewa, Wakil Ketua Dewan Pertahanan DIY (Oktober 1946), Gubernur Militer DIY dengan pangkat Kolonel (1949 setelah agresi militer II). Mulai tahun 1946-1978 Paku Alam VIII sering menggantikan tugas sehari-hari Hamengkubuwono IX sebagai kepala daerah istimewa karena kesibukan Hamengkubuwono IX sebagai menteri dalam berbagai kabinet RI. Selain itu ia juga menjadi Ketua Panitia Pemilihan Daerah DIY dalam pemilu tahun 1951, 1955, dan 1957; Anggota Konstituante (November 1956); Anggota MPRS (September 1960) dan terakhir adalah Anggota MPR RI masa bakti 1997-1999 Fraksi Utusan Daerah.

Setelah Hamengkubuwono IX mangkat pada tahun 1988, Paku Alam VIII menggantikan sang mendiang menjadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sampai akhir hayatnya pada tahun 1998. Perlu ditambahkan bahwa pada 20 Mei 1998 ia bersama Hamengkubuwono X mengeluarkan Maklumat untuk mendukung Reformasi Damai untuk Indonesia. Maklumat tersebut dibacakan di hadapan masyarakat dalam acara yang disebut Pisowanan Agung. Beberapa bulan setelahnya ia menderita sakit dan meninggal pada tahun yang sama. Sri Paduka Paku Alam VIII tercatat sebagai wakil Gubernur terlama (1945-1998) dan Pelaksana Tugas Gubernur terlama (1988-1998) serta Pangeran Paku Alaman terlama (1937-1998).
2255/6 <85+56> < G. R. M. Soerjosoeksoro (G. P. H. Notopoero)
lahir: 15 Juli 1922
Surakarta-PBXII.jpg
1736/6 <85+51> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII
lahir: 4 April 1925, Surakarta
perkawinan: <107> < Kanjeng Raden Ayu Pradapaningrum
perkawinan: <107!> < Kanjeng Raden Ayu Pradapaningrum
perkawinan: <108> < K. R. A. Retnodiningroem b. 1928? d. 13 Mei 2021
perkawinan: <109> < K. R. A. Poedjoningroem
gelar: 11 Juni 1945 - 11 Januari 2004, Surakarta, Raja Susuhunan Surakarta ke-11 [1945-2004]
wafat: 11 Juni 2004, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana XII (lahir: Surakarta, Jawa Tengah, 1925 – wafat: Surakarta, Jawa Tengah, 2004) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1945 – 2004.

Riwayat Pemerintahan Nama aslinya adalah Raden Mas Suryaguritna, putra Pakubuwana XI yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Kuspariyah pada tanggal 14 April 1925. Ia naik takhta sebagai Pakubuwana XII pada tanggal 11 Juni 1945.

Awal pemerintahan Pakubuwana XII hampir bersamaan dengan lahirnya Republik Indonesia. Negara baru ini menjadikan Yogyakarta dan Surakarta sebagai provinsi-provinsi berstatus Daerah Istimewa.

Belanda yang tidak merelakan kemerdekaan Indonesia berusaha merebut kembali negeri ini dengan kekerasan. Pada bulan Januari 1946 ibu kota Indonesia terpaksa pindah ke Yogyakarta karena Jakarta jatuh ke tangan Belanda.

Pemerintahan Indonesia saat itu dipegang oleh Sutan Syahrir sebagai perdana menteri, selain Presiden Sukarno selaku kepala negara. Sebagaimana umumnya pemerintahan suatu negara, muncul golongan oposisi yang tidak mendukung sistem pemerintahan Sutan Syahrir, misalnya kelompok Jenderal Sudirman.

Karena Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan, secara otomatis Surakarta yang merupakan saingan lama menjadi pusat oposisi. Kaum radikal bernama Barisan Banteng yang dipimpin Dr. Muwardi dengan berani menculik Pakubuwana XII sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Indonesia.

Barisan Banteng berhasil menguasai Surakarta sedangkan pemerintah Indonesia tidak menumpasnya karena pembelaan Jendral Sudirman. Bahkan, Jendral Sudirman juga berhasil mendesak pemerintah sehingga mencabut status daerah istimewa yang disandang Surakarta. Sejak tanggal 1 Juni 1946 Kasunanan Surakarta hanya berstatus karesidenan yang menjadi bagian wilayah provinsi Jawa Tengah. Pemerintahan dipegang oleh kaum sipil, sedangkan kedudukan Pakubuwana XII hanya sebagai simbol saja.

Pada awal pemerintahannya, Pakubuwana XII dinilai gagal mengambil peran penting dan memanfaatkan situasi politik Republik Indonesia, sehingga pamornya di mata rakyat kalah dibanding Hamengkubuwana IX di Yogyakarta.

Meskipun gagal secara politik, namun Pakubuwana XII tetap menjadi figur pelindung kebudayaan Jawa. Pada zaman reformasi, para tokoh nasional, misalnya Gus Dur, tetap menghormatinya sebagai salah satu sesepuh tanah Jawa.

Pakubuwana XII meninggal dunia pada tanggal 11 Juni 2004. Sepeninggalnya ''terjadi perebutan takhta'' antara Pangeran Hangabehi dangan Pangeran Tejowulan, yang masing-masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana XIII.
2307/6 <115+80> < B. R. A. Moerjati Soedibjo
lahir: 5 Januari 1928, Surakarta
perkawinan: <110> < K. R. M. H. Soedibjo Poerbo Hadiningrat
Hj. DR. BRA. Mooryati Soedibyo, S.S., M. Hum. adalah Wakil Ketua II Majelis Permusyawaratan Rakyat, Presiden Direktur Mustika Ratu, dan salah satu pencetus ide kontes pemilihan Puteri Indonesia yang digelar setiap tahun. Mooryati Soedibyo tercatat oleh MURI sebagai peraih gelar doktor tertua di Indonesia, dan sebagai "Empu Jamu". Ia juga masuk sebagai urutan nomor 7 dalam daftar 99 wanita paling berpengaruh di Indonesia 2007 versi majalah Globe Asia.

Biografi

Cucu Sri Susuhunan Pakoe Boewono X Keraton Surakarta ini terkenal dengan segala hal yang berkaitan dengan kecantikan, jamu tradisional, dan lingkungan keraton. Sejak usia 3 tahun ia tinggal di Keraton Surakarta yang dikenal sebagai sumber kebudayaan Jawa. Di keraton itu, ia mendapat pendidikan secara tradisional yang menekankan pada tata krama, seni tari klasik, kerawitan, membatik, ngadi saliro ngadi busono, mengenal tumbuh-tumbuhan berkhasiat, meramu jamu, dan kosmetika tradisional dari bahan alami, bahasa sastra Jawa, tembang dengan langgam mocopat, aksara Jawa Kuno, dan bidang seni lainnya.

Tahun 1973, hobi minum jamu Mooryati Soedibyo yang dilakukan sejak masih belia, akhirnya dikembangkannya sebagai usaha. Ramuan jamu resep Keraton Surakarta yang semula diberikan kepada teman-temannya, akhirnya berubah menjadi bisnis. Produknya mulai diekspor ke kurang lebih 20 negara, diantaranya Rusia, Belanda, Jepang, Afrika Selatan, Timur Tengah, Malaysia dan Brunei.[3] Produknya juga berkembang menjadi 800 buah produk, mulai dari balita, umum, super, dan premium. Diawali dengan produk untuk orang tua sampai dengan remaja puterinya.

Tahun 1990 ia meluncurkan ajang Puteri Indonesia, yang dikembangkannya setelah menyaksikan acara Miss Universe di Bangkok tahun 1990. Mooryati yang sering berkunjung ke luar negeri untuk mengadakan seminar, pameran mau pun sendiri mulai ingin membuat ajang Puteri Indonesia. Dari sini timbul keinginannya untuk membuat wanita Indonesia percaya diri tampil di dunia internasional.Hal ini sebelumnya telah dipelopori oleh Andi Nurhayati yang semenjak tahun 70-an menjadi pemegang franchise pengiriman Miss-miss-an kelas internasional, begitu pula nama majalah Femina yang sudah bertahun-tahun sebelumnya menyelenggarakan pemilihan Putri Remaja Indonesia, yang menghasilkan gadis-gadis paling enerjik, cerdas dan modern se Indonesia. Kini Mooryati Soedibyo, berupaya menggabungkan kesemua itu dalam ajang Pemilihan Puteri Indonesia.

Lalu ia mengeluarkan ide tersebut ke Badan Pengembangan Eksport Nasional, dan disetujui. Mooryati akhirnya membentuk Yayasan Puteri Indonesia dan menjadi Ketua Umum. Tapi ajang Pemilihan Puteri Indonesia tak sepenuhnya disetujui masyarakat. Bahkan menjadi polemik sampai sekarang. Mooryati sendiri telah berhasil mengadakan ajang Pemilihan Puteri Indonesia sampai yang ke-enam kalinya. Dan pernah vakum selama 3 tahun (1997,1998,1999) karena kondisi dan situasi negara yang tidak memungkinkan.
2138/6 <100+59> < B. R. A. Koes Sistijah Siti Mariana
wafat: 25 Oktober 2000
1809/6 <96+70> < Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah (Raja Kotawaringin XV)
pekerjaan: 16 Mei 2010
17510/6 <86+66> < Raden Ayu Suniati
17611/6 <86+66> < Raden Ayu Suniasri
17712/6 <86+66> < Bendoro Raden Mas Bambang Suryo Sunindyo
17913/6 <88> < Raden Ayu Sukesti Paring Wahyudi
18114/6 <96+70> < Pangeran Muasjidin Syah
18315/6 <90+68> < Kanjeng Raden Tumenggung Purbokusumo [Hb.6.9.3] 18416/6 <90+68> < Raden Lurah Sosrosebrongto [Hb.6.9.5]
18517/6 <90+68> < Raden Mas Samsidi [Hb.6.9.16]
18618/6 <90+68> < Raden Ayu Purboningrat [Hb.6.9.8]
18719/6 <90+68> < Raden Ayu Hadiningrat [Hb.6.9.9]
18820/6 <90+68> < Raden Ayu Purbohadiningrat [Hb.6.9.11]
18921/6 <90+68> < Raden Bekel Atmosudirjo [Hb.6.9.12]
19022/6 <90+68> < Raden Ayu Kartokusumo [Hb.6.9.15]
19123/6 <93+62> < Kanjeng Raden Mas Haryo Suryo Baswo S. [Hb.7.19.1.4]
19224/6 <93+62> < Bendoro Raden Mas Suryo Danindro S. [Hb.7.19.1.3]
19325/6 <93+62> < Bendoro Raden Ajeng Murhardining [Hb.7.19.1.2] (Bendoro Raden Ayu Cipto Yuwono) 19426/6 <93+62> < Bendoro Raden Ajeng Kusniati [Hb.7.19.1.1] (Bendoro Raden Ayu Suryo)
19527/6 <96+70> < Ratu Nur Ediningsih
19628/6 <96+70> < Pangeran Arsyadinsyah
19729/6 <96+70> < Pangeran Nuraruddinsyah
19830/6 <96+70> < Pangeran Abidinsyah
19931/6 <96+70> < Ratu Nur’aini Ratu Nur’aini
20032/6 <96+70> < Ratu Nur Maulidinsyah Ratu Nur Maulidinsyah
20133/6 <96+70> < Ratu Saptinah
20234/6 <97> < B. R. A. Nedima Koesmarkiah 20335/6 <98+71> < R. A. Francisca Heribertha Dewi Moerni 20436/6 <100+59> < Bendoro Raden Mas Munier Tjakraningrat (K. P. H. Pakuningrat) 20537/6 <102> < R. A. Soejati
20638/6 <103> < Bendoro Raden Mas Puspo Makmun Firmansjah
20739/6 <105+72> < R. A. Soesilastoeti
20840/6 <105+73> < Raden Mas Salam Dirdjokoesoemo
20941/6 <106+74> < R. A. Soetanti
21042/6 <85+51> < Gusti Raden Ajeng Sapariyam (G. K. R. Sekar Kedaton)
21143/6 <108+75> < R. A. Siti Handajoe Padmonagoro
21244/6 <100+59> < B. R. A. Koes Siti Marlia
21445/6 <100+60> < Bendoro Raden Mas Muhammad Malikul Adil Tjakraningrat
21546/6 <93> < K. P. H. Soerjo Windrojo Hamidjojo
21647/6 <90+114!> < Bendoro Raden Mas Prawironagoro
21748/6 <85+52> < K. G. P. H. Mangkoeboemi
21849/6 <85+52> < G. K. R. Hajoe
21950/6 <85+52> < G. K. R. Bendoro
22051/6 <85+52> < G. K. R. Tjondrokirono 22152/6 <85+54> < G. R. M. Danoerwendo (K. G. P. H. Hangabehi)
22253/6 <85+54> < G. R. M. Soerjolelono (K. G. P. H. Praboewidjojo)
22354/6 <85+54> < G. R. A. Koesoemodartojo
22455/6 <85+56> < G. R. M. Soerjodarmojo (G. P. H. Bintoro)
22656/6 <85+51> < G. K. R. Kedaton
22857/6 <89+67> < B. R. A. Koespinah 22958/6 <115+80> < B. R. A. Moertini
23159/6 <115+80> < B. R. A. Moertijah
23260/6 <116> < R. A. Sri Lasinah
23361/6 <118+81> < Raden Mas Soedadi
23462/6 <118+81> < Raden Mas Soekardiman
23563/6 <120> < R. A. Warsini
23664/6 <121+82> < R. A. Soeginah (R. A. Sastrodipoero)
23765/6 <121+82> < Raden Mas Soegito (R. M. Lr. Gitosawego)
23866/6 <121+82> < R. A. Soegiati (R. A. Soedjoet)
23967/6 <121+82> < R. A. Doglong (R. A. Soemarno)
24068/6 <121+82> < Raden Mas Slamet Soebagijo
24169/6 <121+82> < R. A. Soegiah
24270/6 <122+46> < Raden Mas Soehardiman
24371/6 <122+46> < Raden Mas Martono
24472/6 <122+46> < Raden Mas Soediman
24573/6 <122+46> < Raden Mas Sajid Rahiman (R. M. P. Troenowirogo)
24674/6 <122+46> < R. A. Soemarti (R. A. Hadisoemarno)
24775/6 <124+47> < Raden Mas Soejono (Raden Mas Ngabehi Djojopranoto)
24876/6 <124+47> < R. A. Sajekti (R. A. Sastromidjojo)
24977/6 <124> < R. A. Soeharni (R. A. Darjoko)
25078/6 <124> < Raden Mas Soenarno
25179/6 <127+83> < Raden Mas Sajid Soehardjo
25280/6 <127+83> < R. A. Noek
25381/6 <127+83> < R. A. Soedinah (R. A. Troenowirogo II)
25482/6 <127+83> < Raden Mas Sajid Soerardjo
25583/6 <127+83> < Raden Mas Hartojo
25684/6 <127+83> < R. A. Hasrinah (R. A. Sastrosoesilo)
25785/6 <128+48> < Raden Mas Soedarman
25886/6 <130+84> < R. A. Martinah (R. A. Abdoelah Afandi)
25987/6 <130+84> < Raden Mas Aboedjono
RM. Aboedjono gugur di masa Agresi Militer Belanda II.
26088/6 <130+84> < Raden Mas Aboesanto
26189/6 <130+84> < Raden Mas Aboetoro
26290/6 <130+84> < Raden Mas Soemasto
26391/6 <130+84> < R. A. Marlijah (R. A. Soemarjo)
26492/6 <133> < Raden Mas Tjokroprawoto
26593/6 <133> < Raden Mas Warsito
26694/6 <134> < Raden Mas Soeminto
26795/6 <134> < Raden Mas Soemitro
26896/6 <134> < Raden Mas Soediro
26997/6 <135+85> < Raden Mas Gondosoetanto
27098/6 <135+85> < Raden Mas Soeranto
27199/6 <137> < Raden Mas Soeprapto Hadisoerjo
272100/6 <137> < R. A. Koesrahmani (R. A. Danoenagoro)
273101/6 <137> < Raden Mas Toekoel Atmo Djojosoewarno
274102/6 <137> < R. M. Soedarmadi
275103/6 <138> < R. A. Srisajekti (R. A. Poerwosoegjanto)
276104/6 <138> < R. A. Retnosoejati (R. A. Soedono Tjokrosarsono)
277105/6 <138> < Raden Mas Soerjo Sandjojo
278106/6 <139> < R. A. Setijatinah (R. A. Soeminto)
279107/6 <140+86> < Raden Mas Widojo
280108/6 <140+86> < Raden Mas Wiratmoko
281109/6 <140+86> < R. A. Wirastoeti
282110/6 <140+86> < R. A. Wirasmani
283111/6 <144+87> < Raden Ajeng Sri Kamarin
284112/6 <144+87> < R. A. Sri Rahajoe (R. A. Darsono)
285113/6 <144+87> < Raden Mas Marjo
286114/6 <144+87> < Raden Mas Soemarno
RM. Soemarno gugur selama Agresi Militer Belanda II.
287115/6 <144+87> < Raden Mas Soemarso
288116/6 <144+87> < R. A. Menoek
289117/6 <144+87> < R. A. Srimartini
290118/6 <145+88> < R. A. Siti Roekmini (R. A. Soemasto)
291119/6 <145+88> < R. A. Siti Karlinah (R. A. Soedarmasto)
292120/6 <146+89> < Raden Mas Soejitno
293121/6 <146+89> < Raden Mas Soejatno
294122/6 <146+89> < Raden Mas Mochtarul Anam
295123/6 <146+89> < R. A. Sakdijah
296124/6 <146+89> < Raden Mas Moechtar Paridji
297125/6 <147+90> < R. A. Siti Hardjinah
298126/6 <147+90> < R. A. Siti Marinah
299127/6 <147+90> < R. A. Siti Pandinah
300128/6 <147+90> < R. A. Siti Mardikah
301129/6 <147+90> < Raden Mas Soebardjo
302130/6 <147+90> < Raden Mas Soenardjo
303131/6 <147+90> < R. A. Siti Hartati
304132/6 <148+91> < Raden Mas Amino Gondohoetomo
305133/6 <148+91> < R. A. Srijatoen (R. A. Goenari)
306134/6 <148+91> < R. A. Sardjoeni (R. A. Imam Soebarkah)
307135/6 <149+92> < R. A. Koestijam (R. A. Tjokrosoedarsono)
308136/6 <149+92> < R. A. Soewarti (R. A. Tjokrosoebroto)
309137/6 <149+92> < Raden Mas Soehartono
310138/6 <149+92> < Raden Mas Soedarjanto
311139/6 <125+150!> < Raden Mas Doeliman
312140/6 <150+125!> < R. A. Retno Djatmiko (R. A. Hadisapoetro)
313141/6 <150+125!> < Raden Mas Maktal Tedjosapoetro
314142/6 <125+150!> < Raden Mas Santjoko Mangkoeatmodjo
315143/6 <125+150!> < R. A. Kantinah
316144/6 <151+93> < R. A. Srijati (R. A. Hartosajono)
317145/6 <153> < Raden Mas Djokosasono Sosrosoediro
318146/6 <153> < R. A. Soeprapti (R. A. Mangkoewardojo)
319147/6 <153> < R. A. Srikasti Rindoean
320148/6 <154> < R. A. Indrogini (R. A. Hardjono)
321149/6 <160+154!> < Bendoro Raden Mas Indropoetro
322150/6 <154+160!> < Bendoro Raden Mas Indroatmodjo
323151/6 <160+154!> < Bendoro Raden Mas Indradi
324152/6 <155> < R. A. Soepihedi (R. A. Darmokoesoemo)
325153/6 <155> < Raden Mas Iskandar
326154/6 <155> < Raden Mas Ismail
327155/6 <155> < Raden Mas Iskak
328156/6 <155> < R. A. Iskandari
329157/6 <155> < R. A. Isbandinah
330158/6 <155> < R. A. Sri Ismijati
331159/6 <155> < Raden Ajeng Sri Istidjah
332160/6 <157+94> < R. A. Soerjantinah
333161/6 <157+94> < Raden Mas Soerjanto Parboe Harjanto
334162/6 <159> < R. A. Darmijati
335163/6 <159> < R. A. Moelatinah
336164/6 <89+67> < B. R. A. Soelastri (B. R. A. Soegirwo)
337165/6 <89+67> < B. R. A. Koesbandinah (B. R. A. Soetardjo Kartoningprang)
338166/6 <89+67> < B. R. A. Koesdarinah (B. R. A. Harjono Djoeroemartani)
339167/6 <89+67> < B. R. A. Koesbinah (B. R. A. Soegoto Kartonegoro)
340168/6 <92+50> < B. R. A. Tamasri 341169/6 <92+49> < G. R. A. Siti Djinzoelkari
GRA. Siti Djinzoelkari meninggal dalam usia muda.
342170/6 <92+50> < B. P. H. Soemodiningrat
343171/6 <164> < K. R. M. P. Mloyohadiwijoyo 344172/6 <165+97> < Raden Ayu Kajati Istidjab 345173/6 <90+68> < Bendara Raden Ayu Koeshartati 346174/6 <165+97> < Raden Ayu Soetari Marsopranoto
347175/6 <165+97> < Raden Mas Sinoeng Hardjopranoto 348176/6 <165+97> < Raden Mas Soetanto Padmopranoto
349177/6 <165+97> < Raden Ayu Sri Rachmani Lasmindar
350178/6 <165+97> < Raden Ayu Sri Rahayu Mantropranoto 351179/6 <165+97> < Raden Mas Slamet Rahardjo
352180/6 <165+97> < Raden Mas Soerachman
353181/6 <165+97> < Raden Mas Soebagio
354182/6 <111+78> < Raden Ayu Sunarsi Wongsonegoro

7

4421/7 <344+119> < Raden Soekarno
lahir: 22 Juni 1925, Boyolali
perkawinan: <122> < Soesi Tartiah Samirono b. 5 Oktober 1928
4072/7 <202+113> < w K. R. A. Trisoetji Djoeliati
lahir: 28 November 1936, Jakarta
perkawinan: <123> < Ahmad Badawi Kamal
perkawinan: <124> < Sartono Wondowisastro
3653/7 <174+105> < w Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam IX / Bendoro Raden Mas Haryo Ambarkusumo
lahir: 7 Mei 1938, Yogyakarta
perkawinan: <125> < Koesoemarini / Kanjeng Bendoro Raden Ayu Paku Alam IX d. 20 Desember 2011
gelar: 26 Mei 1999 - 21 November 2015, Yogyakarta
wafat: 21 November 2015, Yogyakarta
3924/7 <174+106> < w Kanjeng Pangeran Hario Anglingkusumo / Kanjeng Angling 3665/7 <173+107> < Sri Susuhunan Pakubuwono XIII / Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hangabehi (Gusti Raden Mas Suryo Partono)
lahir: 28 Juni 1948, Surakarta
perkawinan: <127> < Kanjeng Raden Ayu Adipati Pradapaningsih
perkawinan: <128> < Nuk Kusumaningdiah (Kanjeng Raden Ayu Endang Kusumaningdiah)
perkawinan: <129> < Winarti Sri Harjani (Kanjeng Raden Ayu Winarti)
gelar: 18 Juli 2009, Surakarta, Raja Kasunanan Surakarta ke-12 [2009-...]
SISKS Pakubuwana XIII (Bahasa Jawa: Sri Susuhunan Pakubuwono XIII) adalah gelar yang mewakili Sunan Kasunanan Surakarta yang ke-13; yang awalnya diklaim oleh 2 pihak. Setelah meninggalnya Pakubuwana XII tanpa putra mahkota yang jelas karena ia tidak memiliki Ratu yang formal (permaisuri), maka dua putra Pakubuwana XII dari ibu yang berbeda saling mengakui tahta ayahnya. Putra yang tertua, Hangabehi, oleh keluarga didaulat sebagai penguasa keraton (istana) dan keluarga juga secara sepihak mengusir Pangeran Tejowulan; dua-duanya mengklaim pemangku tahta yang sah, dan masing-masing menyelenggarakan acara pemakaman ayahnya secara terpisah. Akan tetapi, konsensus keluarga telah mengakui bahwa Hangabehi yang diberi gelar SISKS Pakubuwana XIII. Pada tanggal 18–19 Juli 2009 diselenggarakan upacara di keraton untuk merayakan pengangkatan tahta dengan iringan Tari Bedhaya Ketawang yang biasanya hanya ditampilkan khusus pada acara ini saja. Para tamu yang hadir terdiri dari tamu penting lokal dan asing dan juga Pangeran Tejowulan. Namun saat ini konflik dua Raja Kembar telah usai setelah Pangeran Tejowulan melemparkan tahta Pakubuwana kepada kakaknya yakni Pangeran Hangabehi dalam sebuah rekonsiliasi resmi yang di prakarsai oleh Pemerintah Kota Surakarta bersama DPR-RI, dan Pangeran Tejowulan sendiri menjadi mahapatih (pepatih dalem) dengan gelar KGPHPA (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung)
4386/7 <340+117> < R. A. Theodora Tamtrinah
lahir: 15 Agustus 1948
wafat: 9 November 1982
4197/7 <173+107> < G. R. A. Koes Handarijah (Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kencono)
lahir: 1951?
perkawinan: <130> < K. R. M. H. Himbokusumo
wafat: 5 November 2020, Surakarta
penguburan: Imogiri, Bantul
4378/7 <173+107> < Gusti Raden Ayu Kus Isbandijah (Gusti Kanjeng Ratu Retno Dumilah)
lahir: 24 Juli 1954
wafat: 26 Mei 2021
penguburan: Imogiri, Bantul
3679/7 <173+108> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung Tedjowulan / Gusti Raden Mas Suryo Sutejo
lahir: 3 Agustus 1954, Surakarta
perkawinan: <131> < Raden Ayu Nanik Indiastuti ? (Gusti Kanjeng Ratu Hemas)
gelar: Juni 2012, Surakarta, Mahapatih Kasunanan Surakarta
43410/7 <230+110> < Putri Kus Wisnu Wardani
lahir: 20 September 1959, Jakarta
Putri Kuswisnuwardhani, MBA adalah seorang pengusaha Indonesia.

Sejak 2011, ia menerima tongkat kepemimpinan dari ibunya Mooryati Soedibyo, pendiri sekaligus perintis PT Mustika Ratu, perusahaan kosmetika ternama. Selaku bos salah satu perusahaan dalam negeri yang cukup berpengaruh, ia berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam membantu melindungi pasar domestik dari serbuan kosmetik impor yang tidak aman.

Riwayat pendidikan

  • Master of Business Administration, National University, Inglewood, California, USA (1988 s.d. 1990)

Riwayat karir

  • Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2019 s.d. sekarang)
  • Sekretaris Komite Ekonomi dan Industri Nasional/KEIN (2016-2020)
  • Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Tradisional Berbasis Budaya (2013-sekarang)
  • Ketua Umum AMIN (Asosiasi Merek Indonesia) (2011-sekarang)
  • Ketua Umum PPA Kosmetika Indonesia (Perhimpunan Perusahaan & Asosiasi Kosmetika Indonesia) (2010-sekarang)
  • Dewan Pembina Yayasan Pedagang Nusantara (2009-sekarang)
  • Ketua Dewan Pembina Yayasan Puteri Indonesia (YPI) (2005-sekarang)
41711/7 <173+107> < G. R. A. Kus Indriah (Gusti Kanjeng Ratu Hayu)
lahir: 19 Oktober 1961
41812/7 <173+107> < G. R. A. Kus Murtiah (Gusti Kanjeng Ratu Wandansari) 42213/7 <173+109> < Gusti Raden Mas Nur Muchammad (Gusti Pangeran Haryo Cahyoningrat)
lahir: 1962?
wafat: 9 Oktober 2020
penguburan: Astana Pajimatan Ki Ageng Ngenis, Laweyan, Surakarta
40514/7 <174+105> < Bendoro Raden Ayu Retno Widanarni
perkawinan: <133> < Hersapandi
wafat: 18 Juni 2021, Yogyakarta
40415/7 <174+105> < Kanjeng Pangeran Haryo Tjondrokusumo
wafat: 9 Maret 2023, Kulonprogo, Hastana Giriganda
35516/7 <175> < Wim
35617/7 <176> < Tori
35718/7 <176> < Nino
35819/7 <176> < Devi
35920/7 <176> < Sony
36021/7 <176> < Dendi
36122/7 <177> < Doni
36223/7 <177> < Putri
36324/7 <179> < Raden Mas Satriya Yudianto
36425/7 <179> < Raden Ajeng Priska Manda Apsari
36826/7 <183+111> < Bendoro Raden Ayu Rukmidiningdia [Ga.Hb.8.4] [Hb.6.9.3.1] (Bendoro Raden Ayu Rukhihadiningdyah) 36927/7 <183+111> < Raden Ayu Purbaningrum [Ga.Hb.7.20.5] [Hb.6.5.2.2] 37028/7 <183+111> < Raden Mas Sulalonkorn [Hb.6.5.2.3]
37129/7 <183+111> < Raden Ayu Hadikusumo Sepuh [Gp.Hb.7.58.1] [Hb.6.5.2.4] 37230/7 <186> < Raden Ayu Pringgosastrosutadikusno [Hb.6.9.8.1] 37331/7 <187> < Raden Mas Murhadiningrat [Hb.6.9.9.1]
37432/7 <182+104> < Raden Ajeng Sukilah [Hb.6.10.1] (Raden Ayu Sukiyi) 37533/7 <188> < Raden Mas Atmowijoyo [Hb.6.9.11.1]
37634/7 <188> < Kanjeng Raden Tumenggung Kuncorohadiningrat [Hb.6.9.11.2]
37735/7 <189> < Raden Ayu Harjowisastro [Hb.6.9.12.1]
37836/7 <189> < Raden Ayu Kusumowidagdo [Hb.6.9.12.2]
37937/7 <189> < Raden Ayu Dirjosukarto [Hb.6.9.12.3]
38038/7 <190> < Raden Mas Suryokusumo [Hb.6.9.15.1]
38139/7 <190> < Raden Mas Ismanji [Hb.6.9.15.10]
38240/7 <190> < Raden Ayu Abdul Ali [Hb.6.9.15.9]
38341/7 <190> < Raden Ayu Darmokusumo [Hb.6.9.15.8]
38442/7 <190> < Raden Ayu Tjongok [Hb.6.9.15.7]
38543/7 <190> < Raden Mas Suwarnido [Hb.6.9.15.6]
38644/7 <190> < Raden Mas Djody Gondokusumo [Hb.6.9.15.5]
38745/7 <190> < Raden Mas Sukra [Hb.6.9.15.3]
38846/7 <190> < Raden Mas Suwarnio [Hb.6.9.15.4]
38947/7 <190> < Raden Ayu Subono [Hb.6.9.15.2] 39048/7 <178> < Raden Mas Pringgo Sastrosutadikusno [Hb.6.9.4.5] 39149/7 <194> < Raden Mas Suryo Kusnanto [Hb.7.19.1.1.1]
39350/7 <174+106> < Kanjeng Pangeran Haryo Probokusumo
39451/7 <174+106> < Bendoro Raden Ayu Retno Sundari
39552/7 <174+106> < Bendoro Raden Ayu Retno Sewayani
39653/7 <174+106> < Kanjeng Pangeran Haryo Songkokusumo
39754/7 <174+106> < Bendoro Raden Ajeng Retno Pudjawati
39855/7 <174+106> < Kanjeng Pangeran Haryo Ndoyokusumo
39956/7 <174+106> < Kanjeng Pangeran Haryo Wijoyokusumo
40057/7 <174+105> < Bendoro Raden Ayu Retno Martani
40158/7 <174+105> < Kanjeng Pangeran Haryo Gondhokusumo
40259/7 <174+105> < Bendoro Raden Ayu Retno Suskamdani
40360/7 <174+105> < Bendoro Raden Ayu Retno Rukmini
40661/7 <174+105> < Kanjeng Pangeran Haryo Indrokusumo
40862/7 <203+114> < Raden Mas Vincentius Rudy Surjo Herdianto 40963/7 <203+114> < Raden Mas Ferdinandus Body Tjahjo Guritno 41064/7 <203+114> < R. A. Josephine Wahju Judha Iriani 41165/7 <203+114> < Raden Ayu Robertha Ganevia Intan Marhaeni 41266/7 <203+114> < Raden Mas Paulus Putut Hendro Wahono 41367/7 <203+114> < Raden Ayu Victoria Warih Purnama Dewi 41468/7 <203+114> < Raden Mas Andreas Baju Seno Hartantio 41569/7 <203+114> < Raden Mas Octavianus Kartiko Prijo Prabowo 41670/7 <203+114> < R. A. Selvia Ratih Retno Dewanti 42071/7 <173+107> < G. R. M. Surjosuseno
42172/7 <173+107> < G. R. A. Kus Supijah (Gusti Kanjeng Ratu Galuh Kencono)
42373/7 <215> < K. R. M. H. Tommy Wibowo Hamidjojo
42474/7 <225> < B. R. A. Gini Notopoero
42575/7 <225> < Bendoro Raden Mas Nugroho Iman
42676/7 <225> < Bendoro Raden Mas Dino Notopoero
42777/7 <225> < Bendoro Raden Mas Bowil Notopoero
42878/7 <225> < Bendoro Raden Mas Surjo Sugiharto
42979/7 <221> < K. P. H. Danursunu
43080/7 <204+115> < R. A. Kus Sismulistiawati
43181/7 <204+115> < M. Andree Tjakraningrat
43282/7 <204+115> < Kus Mikailla
43383/7 <204+115> < M. Endrawan
43584/7 <230+110> < Djoko Ramiadji
43685/7 <230+110> < Harjo Tedjo Baskoro
43986/7 <173+109> < G. R. A. Kus Ismanijah 44087/7 <343+118> < RAy Puti Attika Rinenggo Kusumo Dewi 44188/7 <343+118> < RAy Annissa Dewi Rinenggo Kusumo Utami 44389/7 <350+121> < Sri Redjeki Sumarjoto
44490/7 <345+120> < Soeharmi
44591/7 <345+120> < Siti Naidini Partini

8

4801/8 <407+124> < Raden Mas Mahindra Wahju Paramatjipta
lahir: 20 November 1958
4792/8 <407+124> < K. R. A. Mahindrani Kooswidianthi Paramasari
lahir: 1961, Roma, Italia
4473/8 <365+125> < w Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam X [Pa.9.1] / Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo (Raden Mas Wijoseno Hariyo Bimo)
lahir: 15 Desember 1962, Yogyakarta
perkawinan: <153> < Atika Purnomowati / Bendoro Raden Ayu Atika Suryodilogo
gelar: 2012, Yogyakarta, Kanjeng Bendara Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo
gelar: 7 Januari 2016, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X
4484/8 <365+125> < Bendoro Raden Mas Haryo Hariyo Seno
lahir: 1972
4495/8 <365+125> < Bendoro Raden Mas Haryo Hariyo Danardono Wijoyo
lahir: 1974
4826/8 <418+132> < Bendoro Raden Ajeng Tulungayu
lahir: 1996
4837/8 <418+132> < Bendoro Raden Ajeng Sedah Mirah
lahir: 1999
4908/8 <366+127> < Gusti Raden Mas Suryo Haryo Mustiko (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Purboyo)
perkawinan:
gelar: 27 Februari 2022, Surakarta, Gusti Pangeran Adipati Anom Sudibyo Raja Putro Nalendra Ing Mataram
4469/8 <368+135> < Bendoro Raden Mas Mahikyaun [Hb.8.21] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryowijoyo)
45010/8 <368+135> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kuswanayi [Hb.8.17] (Gusti Bendoro Raden Ayu Cokrodiningrat) 45111/8 <369+136> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sabikatun [Hb.7.20.26]
45212/8 <371+138> < Raden Mas Ngaskarun [Hb.7.58.1] (Kanjeng Raden Tumenggung Purbokusumo)
45313/8 <371+138> < Raden Ajeng Suwasti [Hb.6.5.2.4.2] [Hb.7.58.5] (Raden Ayu Suryosumarno) 45414/8 <388> < Raden Ajeng Suwartinah [Hb.6.9.15.4.1]
45515/8 <388> < Raden Mas Untung Subagyo [Hb.6.9.15.4.2]
45616/8 <388> < Raden Mas Nur Gunawan [Hb.6.9.15.4.11]
45717/8 <388> < Raden Ajeng Mumpuni Sudarsini [Hb.6.9.15.4.10]
45818/8 <388> < Raden Mas Nur Waskita Hadi [Hb.6.9.15.4.9]
45919/8 <388> < Raden Mas Nur Mulyo Hadi [Hb.6.9.15.4.8]
46020/8 <388> < Raden Mas Nurhadi [Hb.6.9.15.4.7]
46121/8 <388> < Raden Ajeng Riniadi [Hb.6.9.15.4.6]
46222/8 <388> < Raden Mas Dhip Damayanto [Hb.6.9.15.4.5]
46323/8 <388> < Raden Mas Seto Bambang Nayoto [Hb.6.9.15.4.4]
46424/8 <388> < Raden Ajeng Endang Uniati [Hb.6.9.15.4.3]
46525/8 <386> < Raden Mas Bismo Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.1]
46626/8 <386> < Raden Ajeng Madrim Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.2]
46727/8 <386> < Raden Mas Wisnu Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.3]
46828/8 <386> < Raden Ajeng Ratih Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.4]
46929/8 <386> < Raden Ajeng Sinta Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.6]
47030/8 <386> < Raden Ajeng Laksmi Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.5]
47131/8 <371+138> < Raden Mas L. Sayoko [Hb.7.58.3]
47232/8 <371+138> < Raden Ajeng Suparmi [Hb.7.58.9] (Raden Ayu Kusumo Widayat) 47333/8 <369+136> < Bendoro Raden Mas Nojatun [Hb.7.20.29]
47434/8 <392+126> <Ψ Raden Ayu Retno Setyoboma Savitri Kusumoputri / Bendoro Raden Ayu Wasitonagoro
47535/8 <392+126> < Raden Ayu Dyah Renggowati Retno Puasa Setyawati Kusumodewi / Bendoro Raden Ayu Satyonagoro
47636/8 <392+126> < Raden Ayu Retno Puspita Mandarwati Kusumawardhani / Bendoro Raden Ayu Wiroyudho 47737/8 <366+129> < Gusti Raden Mas Suryo Suharto (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi) 47838/8 <366+128> < Gusti Kanjeng Ratu Timoer Rumbai Kusuma Dewayani 48139/8 <407+124> < Raden Mas Mahadharma Widjaja Wardhana Paramagita
48440/8 <422> < Kanjeng Raden Tumenggung Yulius Bagus Satriyo Condronagoro 48541/8 <422> < Bendoro Raden Ajeng Ratnasari Nur Cahyani Kusumaningrum
48642/8 <419+130> < Bendoro Raden Mas Parikesit Suryo Roseno (Kanjeng Raden Mas Haryo Suryo Manikmoyo) 48743/8 <437> < Kanjeng Raden Mas Haryo Aditya Suryo Herbanu
48844/8 <437> < Kanjeng Raden Mas Haryo Herjuno Suryo Wijoyo
48945/8 <439+150> < Bendoro Raden Mas Inosensio Prabu Wasistho
49146/8 <366+128> < Gusti Raden Ayu Devi Lelyana
49247/8 <366+128> < Gusti Raden Ayu Ratih Widyasari
49348/8 <366+129> < Gusti Raden Ayu Sugih Oceani
49449/8 <366+129> < Gusti Raden Ayu Putri Purnaningrum 49550/8 <441+152> < R. M Haryo Wijoyo Hafidzan Gumay
49651/8 <374+139> < Raden Mas Soerjadi Wirjokoesoemo
Menikah dengan puteri Bupati Pamekasan