Raden Ayu Kustiyah - Keturunan (Inventaris)

Dari Rodovid ID
Orang:780958
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.

1

2

SunanPBX.jpg
21/2 <1+1> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X / Sunan Panutup (Raden Mas Malikul Kusno)
lahir: 29 November 1866, Surakarta
perkawinan: <2> < Ratu Mandayaretna
perkawinan: <3> < B. R. A. Soemarti
perkawinan: <4> < R. A. Pandamroekmi
perkawinan: <5> < R. A. Tranggonoroekmi
perkawinan: <6> < B. R. A. Retno Poernomo
perkawinan: <7> < R. A. Sedah Mirah
gelar: 30 Maret 1893 - 1 Februari 1939, Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana X
perkawinan: <8> < Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Hb.7.61] d. 28 Mei 1944, Yogyakarta
wafat: 1 Februari 1939, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana X (lahir: Surakarta, 1866 – wafat: Surakarta, 1939) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1893 – 1939.

Kisah Kelahiran Nama aslinya adalah Raden Mas Malikul Kusno, putra Pakubuwana IX yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Kustiyah, pada tanggal 29 November 1866. Konon, kisah kelahirannya menjadi cermin ketidakharmonisan hubungan antara ayahnya dengan pujangga Ranggawarsita. Dikisahkan, pada saat Ayu Kustiyah baru mengandung, Pakubuwana IX bertanya apakah anaknya kelak lahir laki-laki atau perempuan. Ranggawarsita menjawab kelak akan lahir hayu. Pakubuwana IX kecewa mengira anaknya akan lahir cantik alias perempuan. Padahal ia berharap mendapat bisa putra mahkota dari Ayu Kustiyah.

Selama berbulan-bulan Pakubuwana IX menjalani puasa atau tapa brata berharap anaknya tidak lahir perempuan. Akhirnya, Ayu Kustiyah melahirkan Malikul Kusno. Pakubuwana IX dengan bangga menuduh ramalan Ranggawarsita meleset.

Ranggawarsita menjelaskan bahwa istilah hayu bukan berarti ayu atau "cantik", tetapi singkatan dari rahayu, yang berarti "selamat". Mendengar jawaban Ranggawarsita ini, Pakubuwana IX merasa dipermainkan, karena selama berbulan-bulan ia terpaksa menjalani puasa berat.

Ketidakharmonisan hubungan Pakubuwana IX dengan Ranggawarsita sebenarnya dipicu oleh fitnah pihak Belanda yang sengaja mengadu domba keturunan Pakubuwana VI dengan keluarga Yasadipuran.

Masa Pemerintahan

Kereta khusus untuk mengangkut jenazah Pakubuwana X ke Yogyakarta menuju pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri.Malikul Kusno naik takhta sebagai Pakubuwana X pada tanggal 30 Maret 1893 menggantikan ayahnya yang meninggal dua minggu sebelumnya. Masa pemerintahannya ditandai dengan kemegahan tradisi dan suasana politik kerajaan yang cenderung stabil, di samping itu juga merupakan penanda babak baru bagi Kasunanan Surakarta dari kerajaan tradisional menuju era modern.Pakubuwono X menikah dengan Ratu Hemas (putri Raja Hamengkubuwono VII) dan dikaruniai seorang putri yang bernama GKR Pembajoen

Meskipun berada dalam tekanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda, namun melalui simbol budayanya Pakubuwana X tetap mampu mempertahankan wibawa kerajaan. Pakubuwana X sendiri juga mendukung organisasi Sarekat Islam cabang Solo, yang saat itu merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional Indonesia.

Pakubuwana X meninggal dunia pada tanggal 1 Februari 1939. Ia disebut sebagai ''Sunan Panutup'' atau raja besar Surakarta yang terakhir oleh rakyatnya. Pemerintahannya kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Pakubuwana XI.

3

91/3 <2+6> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumoyudo [Pb.10.5] (Bendoro Raden Mas Abimanyu)
lahir: 17 Januari 1884
perkawinan: <9> < Gusti Kanjeng Ratu Hangger II [Hb.7.33] , <10> < R. A. Setiopoespito b. 1894? d. 16 Mei 1985
wafat: 16 Januari 1956
penguburan: Imogiri, Bantul
SUltan PB XI.JPG
32/3 <2+2> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XI
lahir: 1886, Surakarta
perkawinan: <11> < Raden Ayu Kuspariyah / Gusti Kanjeng Ratu Pakoe Boewono
perkawinan: <12> < G. K. R. Kentjono
perkawinan: <13> < R. A. Dojoresmi
perkawinan: <14> < R. A. Dojoningsih
perkawinan: <15> < R. A. Dojosoemo
perkawinan: <16> < R. A. Dojoasmoro
perkawinan: <17> < R. A. Dojoningrat
gelar: 26 April 1939 - 1945, Surakarta, Raja Kasunanan Surakarta Ke-10 [1939-1945]
wafat: 1945, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana XI (lahir: Surakarta, 1886 – wafat: Surakarta, 1945) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1939 – 1945.

Riwayat Pemerintahan Nama aslinya adalah Raden Mas Antasena, putra Pakubuwana X yang lahir dari permaisuri Ratu Mandayaretna, pada tanggal 1 Februari 1886. Ia naik takhta sebagai Pakubuwana XI pada tanggal 26 April 1939.

Pemerintahan Pakubuwana XI terjadi pada masa sulit, yaitu bertepatan dengan meletusnya Perang Dunia Kedua. Ia juga mengalami pergantian pemerintah penjajahan dari tangan Belanda kepada Jepang sejak tahun 1942. Pihak Jepang menyebut Surakarta dengan nama Solo Koo.Ia digantikan Pakubuwana XII
Djatikusumo.jpg
53/3 <2+8> < Kanjeng Pangeran Haryo Djatikusumo [Pb.10.23] (Bendoro Kanjeng Pangeran Haryo Purbonegoro)
lahir: 1 Juli 1917, Solo
perkawinan: <18> < Bendoro Raden Ayu Jatikusumo [Hb.7.78] (R. A. Soeharsi Widianti) , Yogyakarta
lahir: 1 Juni 1946 - 1 Maret 1948, Rembang, Panglima Divisi V Ronggolawe
pekerjaan: 1948 - 1949, Jakarta, Kepala Staf TNI Angkatan Darat I
pekerjaan: 1958 - 1960, Singapura, Duta Besar RI untuk Singapura
pekerjaan: 1959 - 1960, Jakarta, Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja I
pekerjaan: 1960 - 1962, Jakarta, Menteri Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja II
pekerjaan: 1962 - 1963, Jakarta, Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja III
wafat: 4 Juli 1992
124/3 <2+8> < G. K. R. Pembajoen
lahir: 25 Maret 1919
perkawinan: <19> < R. A. A. M. Sis Tjakraningrat d. 24 September 1992
perkawinan: <20> < R. A. A. Muhammad Roeslan Tjakraningrat , <21> < R. A. Hatimah
wafat: 10 Juli 1988, Ciputat, Tangerang Selatan
penguburan: Imogiri, Bantul
105/3 <2> < Kanjeng Pangeran Haryo Suryohamijoyo [Pb.10.32]
perkawinan: <22> < Raden Ajeng Suharti [Hb.7.19.1] (Bendoro Raden Ayu Suryohamijoyo)
perkawinan: <23> < R. A. Retno Pradopo
perkawinan: <24> < R. A. Koeroetien
perkawinan: <25> < R. A. Pradoponingsih
wafat: 1972, Rumah Sakit Panti Kosala, Surakarta
penguburan: Astana Imogiri, Bantul
46/3 <2> < G.p.h.k. Suryo Suman 67/3 <2+6> < Gusti Bendoro Raden Ayu Retno Puwoso 78/3 <2+7> < Raden Ayu Suryomataram [Gp.Hb.6.9.1] ? (Bendoro Raden Ayu Kusniya) 89/3 <2> < Bendoro Raden Ayu Suryodiningrat [Pb.10.?] (Bendoro Raden Ajeng Kusatima) 1110/3 <2> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hadiwidjojo Maharsi Tama
KGPH. Hadiwidjojo merupakan pendiri Universitas Saraswati, Surakarta
1311/3 <2> < G. P. H. Poespokoesoemo
1412/3 <2> < G. R. A. Koesprapti 1513/3 <2> < Gusti Raden Ajeng Kusniyah (G. K. R. Alit) 1614/3 <2+4> < G. R. A. Koesdinah (G. R. A. Brotodiningrat)
G. R. A. Brotodiningrat adalah seorang tokoh paranormal yang menjadi penasihat spiritual/Kejawen Keraton Surakarta.
1715/3 <2+5> < G. R. A. Koes Salbijah (G. R. A. Poernomo Hadiningrat) 1816/3 <2> < G. R. A. Koesindinah (G. R. A. Tjokrodiningrat) 1917/3 <2+6> < G. R. A. Koesrahmani (G. R. A. Adipati Djojonegoro)
perkawinan: <36> < K. P. H. Adipati Djojonegoro , Keraton Surakarta Hadiningrat
2018/3 <2> < G. R. A. Koestantinah (G. R. A. Woerjaningrat) 2119/3 <2> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumobroto

4

611/4 <11> < Bendoro Raden Mas Hapsoro Wresnowiro (K. P. H. Djojoningprang)
pekerjaan: Rektor Universitas Islam Sultan Agung, Semarang
perkawinan: <62!> < B. R. A. Koespinah
BRM. Hapsoro Wresnowiro adalah teman BRM. Dorodjatoen (Sri Sultan Hamengkubuwono IX) saat kuliah di Belanda.
272/4 <7+28> < Kanjeng Raden Tumenggung Purboningrat [Hb.6.9.4]
lahir: 10 Maret 1865
283/4 <7+28> < Kanjeng Adipati Prawiropurbo [Hb.6.9.10] (Ndoro Purbo / Raden Mas Kusrin)
lahir: 1869, Yogyakarta
perkawinan: <40> < Nyi Kasihan
perkawinan: <41> < Nyai Prawiro Purbo ? (Jiwaningsih) d. 1896?
wafat: 4 Maret 1933, Yogyakarta
penguburan: 5 Maret 1933, Yogyakarta
Pakualam VIII.jpg
234/4 <6+27> < Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII / Bendoro Raden Mas Haryo Sularso Kunto Suratno (Kanjeng Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo)
lahir: 10 April 1910, Yogyakarta
perkawinan: <42> < Kanjeng Bendoro Raden Ayu Purnamaningrum
perkawinan: <43> < Kanjeng Raden Ayu Ratnaningrum
gelar: 13 April 1937, Yogyakarta, Kanjeng Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo
gelar: 1942 - 11 September 1998, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII
pekerjaan: 1 Oktober 1988 - 3 Oktober 1998, Yogyakarta, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
wafat: 11 September 1998, Yogyakarta
Pendidikan yang ditempuh adalah Europesche Lagere School Yogyakarta, Christelijk MULO Yogyakarta, AMS B Yogyakarta, Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta - sampai tingkat candidaat). Pada 13 April 1937 ia ditahtakan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo menggantikan mendiang ayahnya. Setelah kedatangan Bala Tentara Jepang pada tahun 1942 ia mulai menggunakan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII.

Pada 19 Agustus 1945 bersama Hamengkubuwono IX, Paku Alam VIII mengirimkan telegram kepada Sukarno dan Hatta atas berdirinya RI dan terpilihnya mereka sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pada 5 September 1945 secara resmi KGPAA Paku Alam VIII mengeluarkan Amanat/Maklumat (semacam dekrit kerajaan) bergabungnya Kadipaten Pakualaman dengan Negara Republik Indonesia. Sejak saat itulah kerajaan terkecil pecahan Mataram ini menjadi daerah Istimewa. Melalui Amanat Bersama antara Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII dan dengan persetujuan Badan Pekerja Komite Nasional Daerah Yogyakarta pada tanggal 30 Oktober tahun yang sama, ia berdua sepakat untuk menggabungkan Daerah Kasultanan dan Kadipaten dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jabatan yang dipangku selanjutnya adalah Wakil Kepala Daerah Istimewa, Wakil Ketua Dewan Pertahanan DIY (Oktober 1946), Gubernur Militer DIY dengan pangkat Kolonel (1949 setelah agresi militer II). Mulai tahun 1946-1978 Paku Alam VIII sering menggantikan tugas sehari-hari Hamengkubuwono IX sebagai kepala daerah istimewa karena kesibukan Hamengkubuwono IX sebagai menteri dalam berbagai kabinet RI. Selain itu ia juga menjadi Ketua Panitia Pemilihan Daerah DIY dalam pemilu tahun 1951, 1955, dan 1957; Anggota Konstituante (November 1956); Anggota MPRS (September 1960) dan terakhir adalah Anggota MPR RI masa bakti 1997-1999 Fraksi Utusan Daerah.

Setelah Hamengkubuwono IX mangkat pada tahun 1988, Paku Alam VIII menggantikan sang mendiang menjadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sampai akhir hayatnya pada tahun 1998. Perlu ditambahkan bahwa pada 20 Mei 1998 ia bersama Hamengkubuwono X mengeluarkan Maklumat untuk mendukung Reformasi Damai untuk Indonesia. Maklumat tersebut dibacakan di hadapan masyarakat dalam acara yang disebut Pisowanan Agung. Beberapa bulan setelahnya ia menderita sakit dan meninggal pada tahun yang sama. Sri Paduka Paku Alam VIII tercatat sebagai wakil Gubernur terlama (1945-1998) dan Pelaksana Tugas Gubernur terlama (1988-1998) serta Pangeran Paku Alaman terlama (1937-1998).
595/4 <3+16> < G. R. M. Soerjosoeksoro (G. P. H. Notopoero)
lahir: 15 Juli 1922
Surakarta-PBXII.jpg
226/4 <3+11> < Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII
lahir: 4 April 1925, Surakarta
perkawinan: <44> < Kanjeng Raden Ayu Pradapaningrum
perkawinan: <44!> < Kanjeng Raden Ayu Pradapaningrum
perkawinan: <45> < K. R. A. Retnodiningroem b. 1928? d. 13 Mei 2021
perkawinan: <46> < K. R. A. Poedjoningroem
gelar: 11 Juni 1945 - 11 Januari 2004, Surakarta, Raja Susuhunan Surakarta ke-11 [1945-2004]
wafat: 11 Juni 2004, Surakarta
Sri Susuhunan Pakubuwana XII (lahir: Surakarta, Jawa Tengah, 1925 – wafat: Surakarta, Jawa Tengah, 2004) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1945 – 2004.

Riwayat Pemerintahan Nama aslinya adalah Raden Mas Suryaguritna, putra Pakubuwana XI yang lahir dari permaisuri Raden Ayu Kuspariyah pada tanggal 14 April 1925. Ia naik takhta sebagai Pakubuwana XII pada tanggal 11 Juni 1945.

Awal pemerintahan Pakubuwana XII hampir bersamaan dengan lahirnya Republik Indonesia. Negara baru ini menjadikan Yogyakarta dan Surakarta sebagai provinsi-provinsi berstatus Daerah Istimewa.

Belanda yang tidak merelakan kemerdekaan Indonesia berusaha merebut kembali negeri ini dengan kekerasan. Pada bulan Januari 1946 ibu kota Indonesia terpaksa pindah ke Yogyakarta karena Jakarta jatuh ke tangan Belanda.

Pemerintahan Indonesia saat itu dipegang oleh Sutan Syahrir sebagai perdana menteri, selain Presiden Sukarno selaku kepala negara. Sebagaimana umumnya pemerintahan suatu negara, muncul golongan oposisi yang tidak mendukung sistem pemerintahan Sutan Syahrir, misalnya kelompok Jenderal Sudirman.

Karena Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan, secara otomatis Surakarta yang merupakan saingan lama menjadi pusat oposisi. Kaum radikal bernama Barisan Banteng yang dipimpin Dr. Muwardi dengan berani menculik Pakubuwana XII sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Indonesia.

Barisan Banteng berhasil menguasai Surakarta sedangkan pemerintah Indonesia tidak menumpasnya karena pembelaan Jendral Sudirman. Bahkan, Jendral Sudirman juga berhasil mendesak pemerintah sehingga mencabut status daerah istimewa yang disandang Surakarta. Sejak tanggal 1 Juni 1946 Kasunanan Surakarta hanya berstatus karesidenan yang menjadi bagian wilayah provinsi Jawa Tengah. Pemerintahan dipegang oleh kaum sipil, sedangkan kedudukan Pakubuwana XII hanya sebagai simbol saja.

Pada awal pemerintahannya, Pakubuwana XII dinilai gagal mengambil peran penting dan memanfaatkan situasi politik Republik Indonesia, sehingga pamornya di mata rakyat kalah dibanding Hamengkubuwana IX di Yogyakarta.

Meskipun gagal secara politik, namun Pakubuwana XII tetap menjadi figur pelindung kebudayaan Jawa. Pada zaman reformasi, para tokoh nasional, misalnya Gus Dur, tetap menghormatinya sebagai salah satu sesepuh tanah Jawa.

Pakubuwana XII meninggal dunia pada tanggal 11 Juni 2004. Sepeninggalnya ''terjadi perebutan takhta'' antara Pangeran Hangabehi dangan Pangeran Tejowulan, yang masing-masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana XIII.
647/4 <17+34> < B. R. A. Moerjati Soedibjo
lahir: 5 Januari 1928, Surakarta
perkawinan: <47> < K. R. M. H. Soedibjo Poerbo Hadiningrat
Hj. DR. BRA. Mooryati Soedibyo, S.S., M. Hum. adalah Wakil Ketua II Majelis Permusyawaratan Rakyat, Presiden Direktur Mustika Ratu, dan salah satu pencetus ide kontes pemilihan Puteri Indonesia yang digelar setiap tahun. Mooryati Soedibyo tercatat oleh MURI sebagai peraih gelar doktor tertua di Indonesia, dan sebagai "Empu Jamu". Ia juga masuk sebagai urutan nomor 7 dalam daftar 99 wanita paling berpengaruh di Indonesia 2007 versi majalah Globe Asia.

Biografi

Cucu Sri Susuhunan Pakoe Boewono X Keraton Surakarta ini terkenal dengan segala hal yang berkaitan dengan kecantikan, jamu tradisional, dan lingkungan keraton. Sejak usia 3 tahun ia tinggal di Keraton Surakarta yang dikenal sebagai sumber kebudayaan Jawa. Di keraton itu, ia mendapat pendidikan secara tradisional yang menekankan pada tata krama, seni tari klasik, kerawitan, membatik, ngadi saliro ngadi busono, mengenal tumbuh-tumbuhan berkhasiat, meramu jamu, dan kosmetika tradisional dari bahan alami, bahasa sastra Jawa, tembang dengan langgam mocopat, aksara Jawa Kuno, dan bidang seni lainnya.

Tahun 1973, hobi minum jamu Mooryati Soedibyo yang dilakukan sejak masih belia, akhirnya dikembangkannya sebagai usaha. Ramuan jamu resep Keraton Surakarta yang semula diberikan kepada teman-temannya, akhirnya berubah menjadi bisnis. Produknya mulai diekspor ke kurang lebih 20 negara, diantaranya Rusia, Belanda, Jepang, Afrika Selatan, Timur Tengah, Malaysia dan Brunei.[3] Produknya juga berkembang menjadi 800 buah produk, mulai dari balita, umum, super, dan premium. Diawali dengan produk untuk orang tua sampai dengan remaja puterinya.

Tahun 1990 ia meluncurkan ajang Puteri Indonesia, yang dikembangkannya setelah menyaksikan acara Miss Universe di Bangkok tahun 1990. Mooryati yang sering berkunjung ke luar negeri untuk mengadakan seminar, pameran mau pun sendiri mulai ingin membuat ajang Puteri Indonesia. Dari sini timbul keinginannya untuk membuat wanita Indonesia percaya diri tampil di dunia internasional.Hal ini sebelumnya telah dipelopori oleh Andi Nurhayati yang semenjak tahun 70-an menjadi pemegang franchise pengiriman Miss-miss-an kelas internasional, begitu pula nama majalah Femina yang sudah bertahun-tahun sebelumnya menyelenggarakan pemilihan Putri Remaja Indonesia, yang menghasilkan gadis-gadis paling enerjik, cerdas dan modern se Indonesia. Kini Mooryati Soedibyo, berupaya menggabungkan kesemua itu dalam ajang Pemilihan Puteri Indonesia.

Lalu ia mengeluarkan ide tersebut ke Badan Pengembangan Eksport Nasional, dan disetujui. Mooryati akhirnya membentuk Yayasan Puteri Indonesia dan menjadi Ketua Umum. Tapi ajang Pemilihan Puteri Indonesia tak sepenuhnya disetujui masyarakat. Bahkan menjadi polemik sampai sekarang. Mooryati sendiri telah berhasil mengadakan ajang Pemilihan Puteri Indonesia sampai yang ke-enam kalinya. Dan pernah vakum selama 3 tahun (1997,1998,1999) karena kondisi dan situasi negara yang tidak memungkinkan.
478/4 <12+19> < B. R. A. Koes Sistijah Siti Mariana
wafat: 25 Oktober 2000
249/4 <4+26> < Raden Ayu Suniati
2510/4 <4+26> < Raden Ayu Suniasri
2611/4 <4+26> < Bendoro Raden Mas Bambang Suryo Sunindyo
2912/4 <7+28> < Kanjeng Raden Tumenggung Purbokusumo [Hb.6.9.3] 3013/4 <7+28> < Raden Lurah Sosrosebrongto [Hb.6.9.5]
3114/4 <7+28> < Raden Mas Samsidi [Hb.6.9.16]
3215/4 <7+28> < Raden Ayu Purboningrat [Hb.6.9.8]
3316/4 <7+28> < Raden Ayu Hadiningrat [Hb.6.9.9]
3417/4 <7+28> < Raden Ayu Purbohadiningrat [Hb.6.9.11]
3518/4 <7+28> < Raden Bekel Atmosudirjo [Hb.6.9.12]
3619/4 <7+28> < Raden Ayu Kartokusumo [Hb.6.9.15]
3720/4 <10+22> < Kanjeng Raden Mas Haryo Suryo Baswo S. [Hb.7.19.1.4]
3821/4 <10+22> < Bendoro Raden Mas Suryo Danindro S. [Hb.7.19.1.3]
3922/4 <10+22> < Bendoro Raden Ajeng Murhardining [Hb.7.19.1.2] (Bendoro Raden Ayu Cipto Yuwono) 4023/4 <10+22> < Bendoro Raden Ajeng Kusniati [Hb.7.19.1.1] (Bendoro Raden Ayu Suryo)
4124/4 <11> < B. R. A. Nedima Koesmarkiah 4225/4 <12+19> < Bendoro Raden Mas Munier Tjakraningrat (K. P. H. Pakuningrat) 4326/4 <13> < Bendoro Raden Mas Puspo Makmun Firmansjah
4427/4 <3+11> < Gusti Raden Ajeng Sapariyam (G. K. R. Sekar Kedaton)
4528/4 <14+30> < R. A. Siti Handajoe Padmonagoro
4629/4 <12+19> < B. R. A. Koes Siti Marlia
4830/4 <12+20> < Bendoro Raden Mas Muhammad Malikul Adil Tjakraningrat
4931/4 <10> < K. P. H. Soerjo Windrojo Hamidjojo
5032/4 <7+32> < Bendoro Raden Mas Prawironagoro
5133/4 <3+12> < K. G. P. H. Mangkoeboemi
5234/4 <3+12> < G. K. R. Hajoe
5335/4 <3+12> < G. K. R. Bendoro
5436/4 <3+12> < G. K. R. Tjondrokirono 5537/4 <3+14> < G. R. M. Danoerwendo (K. G. P. H. Hangabehi)
5638/4 <3+14> < G. R. M. Soerjolelono (K. G. P. H. Praboewidjojo)
5739/4 <3+14> < G. R. A. Koesoemodartojo
5840/4 <3+16> < G. R. M. Soerjodarmojo (G. P. H. Bintoro)
6041/4 <3+11> < G. K. R. Kedaton
6242/4 <6+27> < B. R. A. Koespinah 6343/4 <17+34> < B. R. A. Moertini
6544/4 <17+34> < B. R. A. Moertijah
6645/4 <18+35> < Bendoro Raden Mas Indropoetro
6746/4 <18+35> < Bendoro Raden Mas Indroatmodjo
6847/4 <18+35> < Bendoro Raden Mas Indradi
6948/4 <6+27> < B. R. A. Soelastri (B. R. A. Soegirwo)
7049/4 <6+27> < B. R. A. Koesbandinah (B. R. A. Soetardjo Kartoningprang)
7150/4 <6+27> < B. R. A. Koesdarinah (B. R. A. Harjono Djoeroemartani)
7251/4 <6+27> < B. R. A. Koesbinah (B. R. A. Soegoto Kartonegoro)
7352/4 <9+10> < B. R. A. Tamasri 7453/4 <9+9> < G. R. A. Siti Djinzoelkari
GRA. Siti Djinzoelkari meninggal dalam usia muda.
7554/4 <9+10> < B. P. H. Soemodiningrat
7655/4 <7+28> < Bendara Raden Ayu Koeshartati

5

1271/5 <41+50> < w K. R. A. Trisoetji Djoeliati
lahir: 28 November 1936, Jakarta
perkawinan: <55> < Ahmad Badawi Kamal
perkawinan: <56> < Sartono Wondowisastro
852/5 <23+42> < w Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam IX / Bendoro Raden Mas Haryo Ambarkusumo
lahir: 7 Mei 1938, Yogyakarta
perkawinan: <57> < Koesoemarini / Kanjeng Bendoro Raden Ayu Paku Alam IX d. 20 Desember 2011
gelar: 26 Mei 1999 - 21 November 2015, Yogyakarta
wafat: 21 November 2015, Yogyakarta
1123/5 <23+43> < w Kanjeng Pangeran Hario Anglingkusumo / Kanjeng Angling 864/5 <22+44> < Sri Susuhunan Pakubuwono XIII / Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hangabehi (Gusti Raden Mas Suryo Partono)
lahir: 28 Juni 1948, Surakarta
perkawinan: <59> < Kanjeng Raden Ayu Adipati Pradapaningsih
perkawinan: <60> < Nuk Kusumaningdiah (Kanjeng Raden Ayu Endang Kusumaningdiah)
perkawinan: <61> < Winarti Sri Harjani (Kanjeng Raden Ayu Winarti)
gelar: 18 Juli 2009, Surakarta, Raja Kasunanan Surakarta ke-12 [2009-...]
SISKS Pakubuwana XIII (Bahasa Jawa: Sri Susuhunan Pakubuwono XIII) adalah gelar yang mewakili Sunan Kasunanan Surakarta yang ke-13; yang awalnya diklaim oleh 2 pihak. Setelah meninggalnya Pakubuwana XII tanpa putra mahkota yang jelas karena ia tidak memiliki Ratu yang formal (permaisuri), maka dua putra Pakubuwana XII dari ibu yang berbeda saling mengakui tahta ayahnya. Putra yang tertua, Hangabehi, oleh keluarga didaulat sebagai penguasa keraton (istana) dan keluarga juga secara sepihak mengusir Pangeran Tejowulan; dua-duanya mengklaim pemangku tahta yang sah, dan masing-masing menyelenggarakan acara pemakaman ayahnya secara terpisah. Akan tetapi, konsensus keluarga telah mengakui bahwa Hangabehi yang diberi gelar SISKS Pakubuwana XIII. Pada tanggal 18–19 Juli 2009 diselenggarakan upacara di keraton untuk merayakan pengangkatan tahta dengan iringan Tari Bedhaya Ketawang yang biasanya hanya ditampilkan khusus pada acara ini saja. Para tamu yang hadir terdiri dari tamu penting lokal dan asing dan juga Pangeran Tejowulan. Namun saat ini konflik dua Raja Kembar telah usai setelah Pangeran Tejowulan melemparkan tahta Pakubuwana kepada kakaknya yakni Pangeran Hangabehi dalam sebuah rekonsiliasi resmi yang di prakarsai oleh Pemerintah Kota Surakarta bersama DPR-RI, dan Pangeran Tejowulan sendiri menjadi mahapatih (pepatih dalem) dengan gelar KGPHPA (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung)
1495/5 <73+53> < R. A. Theodora Tamtrinah
lahir: 15 Agustus 1948
wafat: 9 November 1982
1306/5 <22+44> < G. R. A. Koes Handarijah (Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kencono)
lahir: 1951?
perkawinan: <62> < K. R. M. H. Himbokusumo
wafat: 5 November 2020, Surakarta
penguburan: Imogiri, Bantul
1487/5 <22+44> < Gusti Raden Ayu Kus Isbandijah (Gusti Kanjeng Ratu Retno Dumilah)
lahir: 24 Juli 1954
wafat: 26 Mei 2021
penguburan: Imogiri, Bantul
878/5 <22+45> < Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung Tedjowulan / Gusti Raden Mas Suryo Sutejo
lahir: 3 Agustus 1954, Surakarta
perkawinan: <63> < Raden Ayu Nanik Indiastuti ? (Gusti Kanjeng Ratu Hemas)
gelar: Juni 2012, Surakarta, Mahapatih Kasunanan Surakarta
1459/5 <64+47> < Putri Kus Wisnu Wardani
lahir: 20 September 1959, Jakarta
Putri Kuswisnuwardhani, MBA adalah seorang pengusaha Indonesia.

Sejak 2011, ia menerima tongkat kepemimpinan dari ibunya Mooryati Soedibyo, pendiri sekaligus perintis PT Mustika Ratu, perusahaan kosmetika ternama. Selaku bos salah satu perusahaan dalam negeri yang cukup berpengaruh, ia berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam membantu melindungi pasar domestik dari serbuan kosmetik impor yang tidak aman.

Riwayat pendidikan

  • Master of Business Administration, National University, Inglewood, California, USA (1988 s.d. 1990)

Riwayat karir

  • Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2019 s.d. sekarang)
  • Sekretaris Komite Ekonomi dan Industri Nasional/KEIN (2016-2020)
  • Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Tradisional Berbasis Budaya (2013-sekarang)
  • Ketua Umum AMIN (Asosiasi Merek Indonesia) (2011-sekarang)
  • Ketua Umum PPA Kosmetika Indonesia (Perhimpunan Perusahaan & Asosiasi Kosmetika Indonesia) (2010-sekarang)
  • Dewan Pembina Yayasan Pedagang Nusantara (2009-sekarang)
  • Ketua Dewan Pembina Yayasan Puteri Indonesia (YPI) (2005-sekarang)
12810/5 <22+44> < G. R. A. Kus Indriah (Gusti Kanjeng Ratu Hayu)
lahir: 19 Oktober 1961
12911/5 <22+44> < G. R. A. Kus Murtiah (Gusti Kanjeng Ratu Wandansari) 13312/5 <22+46> < Gusti Raden Mas Nur Muchammad (Gusti Pangeran Haryo Cahyoningrat)
lahir: 1962?
wafat: 9 Oktober 2020
penguburan: Astana Pajimatan Ki Ageng Ngenis, Laweyan, Surakarta
12513/5 <23+42> < Bendoro Raden Ayu Retno Widanarni
perkawinan: <65> < Hersapandi
wafat: 18 Juni 2021, Yogyakarta
12414/5 <23+42> < Kanjeng Pangeran Haryo Tjondrokusumo
wafat: 9 Maret 2023, Kulonprogo, Hastana Giriganda
7715/5 <24> < Wim
7816/5 <25> < Tori
7917/5 <25> < Nino
8018/5 <25> < Devi
8119/5 <25> < Sony
8220/5 <25> < Dendi
8321/5 <26> < Doni
8422/5 <26> < Putri
8823/5 <29+48> < Bendoro Raden Ayu Rukmidiningdia [Ga.Hb.8.4] [Hb.6.9.3.1] (Bendoro Raden Ayu Rukhihadiningdyah) 8924/5 <29+48> < Raden Ayu Purbaningrum [Ga.Hb.7.20.5] [Hb.6.5.2.2] 9025/5 <29+48> < Raden Mas Sulalonkorn [Hb.6.5.2.3]
9126/5 <29+48> < Raden Ayu Hadikusumo Sepuh [Gp.Hb.7.58.1] [Hb.6.5.2.4] 9227/5 <32> < Raden Ayu Pringgosastrosutadikusno [Hb.6.9.8.1] 9328/5 <33> < Raden Mas Murhadiningrat [Hb.6.9.9.1]
9429/5 <28+41> < Raden Ajeng Sukilah [Hb.6.10.1] (Raden Ayu Sukiyi) 9530/5 <34> < Raden Mas Atmowijoyo [Hb.6.9.11.1]
9631/5 <34> < Kanjeng Raden Tumenggung Kuncorohadiningrat [Hb.6.9.11.2]
9732/5 <35> < Raden Ayu Harjowisastro [Hb.6.9.12.1]
9833/5 <35> < Raden Ayu Kusumowidagdo [Hb.6.9.12.2]
9934/5 <35> < Raden Ayu Dirjosukarto [Hb.6.9.12.3]
10035/5 <36> < Raden Mas Suryokusumo [Hb.6.9.15.1]
10136/5 <36> < Raden Mas Ismanji [Hb.6.9.15.10]
10237/5 <36> < Raden Ayu Abdul Ali [Hb.6.9.15.9]
10338/5 <36> < Raden Ayu Darmokusumo [Hb.6.9.15.8]
10439/5 <36> < Raden Ayu Tjongok [Hb.6.9.15.7]
10540/5 <36> < Raden Mas Suwarnido [Hb.6.9.15.6]
10641/5 <36> < Raden Mas Djody Gondokusumo [Hb.6.9.15.5]
10742/5 <36> < Raden Mas Sukra [Hb.6.9.15.3]
10843/5 <36> < Raden Mas Suwarnio [Hb.6.9.15.4]
10944/5 <36> < Raden Ayu Subono [Hb.6.9.15.2] 11045/5 <27> < Raden Mas Pringgo Sastrosutadikusno [Hb.6.9.4.5] 11146/5 <40> < Raden Mas Suryo Kusnanto [Hb.7.19.1.1.1]
11347/5 <23+43> < Kanjeng Pangeran Haryo Probokusumo
11448/5 <23+43> < Bendoro Raden Ayu Retno Sundari
11549/5 <23+43> < Bendoro Raden Ayu Retno Sewayani
11650/5 <23+43> < Kanjeng Pangeran Haryo Songkokusumo
11751/5 <23+43> < Bendoro Raden Ajeng Retno Pudjawati
11852/5 <23+43> < Kanjeng Pangeran Haryo Ndoyokusumo
11953/5 <23+43> < Kanjeng Pangeran Haryo Wijoyokusumo
12054/5 <23+42> < Bendoro Raden Ayu Retno Martani
12155/5 <23+42> < Kanjeng Pangeran Haryo Gondhokusumo
12256/5 <23+42> < Bendoro Raden Ayu Retno Suskamdani
12357/5 <23+42> < Bendoro Raden Ayu Retno Rukmini
12658/5 <23+42> < Kanjeng Pangeran Haryo Indrokusumo
13159/5 <22+44> < G. R. M. Surjosuseno
13260/5 <22+44> < G. R. A. Kus Supijah (Gusti Kanjeng Ratu Galuh Kencono)
13461/5 <49> < K. R. M. H. Tommy Wibowo Hamidjojo
13562/5 <59> < B. R. A. Gini Notopoero
13663/5 <59> < Bendoro Raden Mas Nugroho Iman
13764/5 <59> < Bendoro Raden Mas Dino Notopoero
13865/5 <59> < Bendoro Raden Mas Bowil Notopoero
13966/5 <59> < Bendoro Raden Mas Surjo Sugiharto
14067/5 <55> < K. P. H. Danursunu
14168/5 <42+51> < R. A. Kus Sismulistiawati
14269/5 <42+51> < M. Andree Tjakraningrat
14370/5 <42+51> < Kus Mikailla
14471/5 <42+51> < M. Endrawan
14672/5 <64+47> < Djoko Ramiadji
14773/5 <64+47> < Harjo Tedjo Baskoro
15074/5 <22+46> < G. R. A. Kus Ismanijah 15175/5 <76+54> < Soeharmi
15276/5 <76+54> < Siti Naidini Partini

6

1871/6 <127+56> < Raden Mas Mahindra Wahju Paramatjipta
lahir: 20 November 1958
1862/6 <127+56> < K. R. A. Mahindrani Kooswidianthi Paramasari
lahir: 1961, Roma, Italia
1543/6 <85+57> < w Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam X [Pa.9.1] / Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo (Raden Mas Wijoseno Hariyo Bimo)
lahir: 15 Desember 1962, Yogyakarta
perkawinan: <74> < Atika Purnomowati / Bendoro Raden Ayu Atika Suryodilogo
gelar: 2012, Yogyakarta, Kanjeng Bendara Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo
gelar: 7 Januari 2016, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X
1554/6 <85+57> < Bendoro Raden Mas Haryo Hariyo Seno
lahir: 1972
1565/6 <85+57> < Bendoro Raden Mas Haryo Hariyo Danardono Wijoyo
lahir: 1974
1896/6 <129+64> < Bendoro Raden Ajeng Tulungayu
lahir: 1996
1907/6 <129+64> < Bendoro Raden Ajeng Sedah Mirah
lahir: 1999
1978/6 <86+59> < Gusti Raden Mas Suryo Haryo Mustiko (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Purboyo)
perkawinan:
gelar: 27 Februari 2022, Surakarta, Gusti Pangeran Adipati Anom Sudibyo Raja Putro Nalendra Ing Mataram
1539/6 <88+67> < Bendoro Raden Mas Mahikyaun [Hb.8.21] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryowijoyo)
15710/6 <88+67> < Bendoro Raden Ajeng Siti Kuswanayi [Hb.8.17] (Gusti Bendoro Raden Ayu Cokrodiningrat) 15811/6 <89+68> < Bendoro Raden Ajeng Siti Sabikatun [Hb.7.20.26]
15912/6 <91+70> < Raden Mas Ngaskarun [Hb.7.58.1] (Kanjeng Raden Tumenggung Purbokusumo)
16013/6 <91+70> < Raden Ajeng Suwasti [Hb.6.5.2.4.2] [Hb.7.58.5] (Raden Ayu Suryosumarno) 16114/6 <108> < Raden Ajeng Suwartinah [Hb.6.9.15.4.1]
16215/6 <108> < Raden Mas Untung Subagyo [Hb.6.9.15.4.2]
16316/6 <108> < Raden Mas Nur Gunawan [Hb.6.9.15.4.11]
16417/6 <108> < Raden Ajeng Mumpuni Sudarsini [Hb.6.9.15.4.10]
16518/6 <108> < Raden Mas Nur Waskita Hadi [Hb.6.9.15.4.9]
16619/6 <108> < Raden Mas Nur Mulyo Hadi [Hb.6.9.15.4.8]
16720/6 <108> < Raden Mas Nurhadi [Hb.6.9.15.4.7]
16821/6 <108> < Raden Ajeng Riniadi [Hb.6.9.15.4.6]
16922/6 <108> < Raden Mas Dhip Damayanto [Hb.6.9.15.4.5]
17023/6 <108> < Raden Mas Seto Bambang Nayoto [Hb.6.9.15.4.4]
17124/6 <108> < Raden Ajeng Endang Uniati [Hb.6.9.15.4.3]
17225/6 <106> < Raden Mas Bismo Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.1]
17326/6 <106> < Raden Ajeng Madrim Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.2]
17427/6 <106> < Raden Mas Wisnu Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.3]
17528/6 <106> < Raden Ajeng Ratih Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.4]
17629/6 <106> < Raden Ajeng Sinta Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.6]
17730/6 <106> < Raden Ajeng Laksmi Gondokusumo [Hb.6.9.15.5.5]
17831/6 <91+70> < Raden Mas L. Sayoko [Hb.7.58.3]
17932/6 <91+70> < Raden Ajeng Suparmi [Hb.7.58.9] (Raden Ayu Kusumo Widayat) 18033/6 <89+68> < Bendoro Raden Mas Nojatun [Hb.7.20.29]
18134/6 <112+58> <Ψ Raden Ayu Retno Setyoboma Savitri Kusumoputri / Bendoro Raden Ayu Wasitonagoro
18235/6 <112+58> < Raden Ayu Dyah Renggowati Retno Puasa Setyawati Kusumodewi / Bendoro Raden Ayu Satyonagoro
18336/6 <112+58> < Raden Ayu Retno Puspita Mandarwati Kusumawardhani / Bendoro Raden Ayu Wiroyudho 18437/6 <86+61> < Gusti Raden Mas Suryo Suharto (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi) 18538/6 <86+60> < Gusti Kanjeng Ratu Timoer Rumbai Kusuma Dewayani 18839/6 <127+56> < Raden Mas Mahadharma Widjaja Wardhana Paramagita
19140/6 <133> < Kanjeng Raden Tumenggung Yulius Bagus Satriyo Condronagoro 19241/6 <133> < Bendoro Raden Ajeng Ratnasari Nur Cahyani Kusumaningrum
19342/6 <130+62> < Bendoro Raden Mas Parikesit Suryo Roseno (Kanjeng Raden Mas Haryo Suryo Manikmoyo) 19443/6 <148> < Kanjeng Raden Mas Haryo Aditya Suryo Herbanu
19544/6 <148> < Kanjeng Raden Mas Haryo Herjuno Suryo Wijoyo
19645/6 <150+73> < Bendoro Raden Mas Inosensio Prabu Wasistho
19846/6 <86+60> < Gusti Raden Ayu Devi Lelyana
19947/6 <86+60> < Gusti Raden Ayu Ratih Widyasari
20048/6 <86+61> < Gusti Raden Ayu Sugih Oceani
20149/6 <86+61> < Gusti Raden Ayu Putri Purnaningrum 20250/6 <94+71> < Raden Mas Soerjadi Wirjokoesoemo
Menikah dengan puteri Bupati Pamekasan

7

2261/7 <154+74> < Bendoro Raden Mas Haryo Suryo Sri Bimantoro
lahir: 1993?
perkawinan: <84> < Maya Lakshita Noorya b. 27 April 1991
2272/7 <154+74> < Bendoro Raden Mas Haryo Bismo Srenggoro K. Nugroho
lahir: 1998?
2323/7 <185+80> < Bendoro Raden Mas Suryo Pramudhito Adiwiwoho
lahir: 2007
2034/7 <157+75> < Raden Mas Jidtokusaeri [Hb.7.20.8.1]
2045/7 <157+75> < Raden Mas Istamto [Hb.7.20.8.2]
2056/7 <157+75> < Raden Ajeng Maharkesti [Hb.7.20.8.4]
2067/7 <157+75> < Raden Ajeng Siti Partiwi [Hb.7.20.8.3] 2078/7 <159> < Raden Ajeng Kusumokamardi [Hb.7.58.1.1] (Raden Ayu Noorkusadi) 2089/7 <159> < Raden Mas Hadiprawtoto [Hb.7.58.1.2]
20910/7 <159> < Raden Ajeng Kusumo Ngasrini [Hb.7.58.1.3] (Raden Ayu Diro Supangkat) 21011/7 <159> < Raden Ajeng Kusumo Ngastuti [Hb.7.58.1.4] (Raden Ayu Kamal Hidayat) 21112/7 <159> < Raden Ajeng Kusumo Mahayati [Hb.7.58.1.5] (Raden Ayu Dadang) 21213/7 <159> < Raden Mas Hadi Prasetio [Hb.7.58.1.6]
21314/7 <171> < Raden Roro Endang Wildaniwati [Hb.6.9.15.4.3.1]
21415/7 <171> < Raden Roro Desiyanti [Hb.6.9.15.4.3.2]
21516/7 <171> < Raden Roro Kun Nurmardiyati [Hb.6.9.15.4.3.3]
21617/7 <177> < Raden Ajeng Mira Kusumayanti [Hb.6.9.15.5.5.1]
perkawinan: <90> < Iwan Meulia Pirous b. 12 Agustus 1971
21718/7 <177> < Raden Ajeng Nadya Saphira [Hb.6.9.15.5.5.2]
21819/7 <160+76> < Raden Mas Winang Kuntoro [Hb.7.58.5.1]
21920/7 <178> < Raden Mas Eko Kusumo Kun Riyadi [Hb.7.58.3.2]
22021/7 <178> < Raden Ajeng Lies [Hb.7.58.3.1] (Raden Ayu Herukustarto) 22122/7 <179+77> < Raden Ajeng Diah Santika Rukmi [Hb.7.58.9.5]
22223/7 <179+77> < Raden Ajeng Nonita Purnamaningdiah [Hb.7.58.9.4]
22324/7 <179+77> < Raden Mas Aryo Hidayat Adiseno [Hb.7.58.9.3]
22425/7 <179+77> < Raden Ajeng Dyah Indrasari [Hb.7.58.9.2]
22526/7 <179+77> < Raden Ajeng Dyah Kirana [Hb.7.58.9.1] (Raden Ayu Hari Waluyo K.) 22827/7 <183+78> < Raden Mas SM. Syailendra Satria Sularso Narendra
22928/7 <193+82> < Raden Ajeng Kus Rosetiyah Nareswari Tunjung Ayu
23029/7 <193+82> < Raden Ajeng Kus Manika Shafira Kusumaning Ayu
23130/7 <193+82> < Raden Mas Arya Damar Suryo Rasendriyo

8

2331/8 <206+85> < Raden Mas Wijarno [Hb.7.20.8.3.6]
2342/8 <206+85> < Raden Ayu Periana Diah Kusumaningrum [Hb.7.20.8.3.5]
2353/8 <206+85> < Raden Mas Arianto Wibowo [Hb.7.20.8.3.4]
2364/8 <206+85> < Raden Ayu Emylia Diah Sutaningrum [Hb.7.20.8.3.3]
2375/8 <206+85> < Raden Ayu Riana Dian Prawitasari [Hb.7.20.8.3.2]
2386/8 <206+85> < Raden Mas Satrio Wibowo [Hb.7.20.8.3.1]