Raden Ajeng Suharti (R. A. T. Boedjonagoro)
Dari Rodovid ID
Orang:1343160
| Marga (saat dilahirkan) | Pakubuwono V |
| Jenis Kelamin | Wanita |
| Nama lengkap (saat dilahirkan) | Raden Ajeng Suharti |
| Nama belakang lainnya | R. A. T. Boedjonagoro |
| Orang Tua
♂ Bendoro Raden Mas Sukirman (Bendoro Pangeran Haryo Cokronagoro) | |
Momen penting
kelahiran anak: ♀ Raden Ajeng Menik (R. A. Prodjoprawiro)
kelahiran anak: ♂ Raden Mas Suharto (Raden Mas Ngabehi Atmokoemoro)
kelahiran anak: ♂ Raden Mas Hartono (Raden Mas Ngabehi Dwidjopranoto)
kelahiran anak: ♀ Raden Ajeng Minah (R. A. Mangkoesapoetro)
kelahiran anak: ♀ Raden Ajeng Menuk (R. A. Mangoenatmoko)
kelahiran anak: ♀ Raden Ajeng Menah (R. A. Worosoegondo)
kelahiran anak: ♀ Raden Ajeng Sulastri (R. A. Tarpohartono)
kelahiran anak: ♀ Raden Ajeng Sumi (R. A. Wirjohartono)
kelahiran anak: ♀ Raden Ajeng Hardinah
kelahiran anak: ♀ Raden Ajeng Mublak (R. A. Hardjosoemarto)
perkawinan: ♂ K. R. M. T. Boedjonagoro
penguburan: Astana Gentan
Dari kakek nenek sampai cucu-cucu
Kakek-nenek
lahir: 26 April 1807, Surakarta
perkawinan: ♀ Ratu Mas
perkawinan: ♀ Ratansari
gelar: 15 September 1823 - 1830, Susuhunan of Surakarta
wafat: 2 Juni 1849, Ambon, Pakubuwana VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849. Menurut laporan resmi Belanda, ia meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut. Pada tahun 1957 jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri, yaitu kompleks pemakaman keluarga raja keturunan Mataram. Pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi. Menurut analisis Jend. TNI Pangeran Haryo Jatikusumo (putra Pakubuwana X), lubang tersebut seukuran peluru senapan Baker Riffle. Ditinjau dari letak lubang, Pakubuwana VI jelas bukan mati karena bunuh diri, apalagi kecelakaan saat berpesiar. Raja Surakarta yang anti penjajahan ini diperkirakan mati dibunuh dengan cara ditembak pada bagian dahi.
perkawinan: ♀ Ratu Mas
perkawinan: ♀ Ratansari
gelar: 15 September 1823 - 1830, Susuhunan of Surakarta
wafat: 2 Juni 1849, Ambon, Pakubuwana VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849. Menurut laporan resmi Belanda, ia meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut. Pada tahun 1957 jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri, yaitu kompleks pemakaman keluarga raja keturunan Mataram. Pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi. Menurut analisis Jend. TNI Pangeran Haryo Jatikusumo (putra Pakubuwana X), lubang tersebut seukuran peluru senapan Baker Riffle. Ditinjau dari letak lubang, Pakubuwana VI jelas bukan mati karena bunuh diri, apalagi kecelakaan saat berpesiar. Raja Surakarta yang anti penjajahan ini diperkirakan mati dibunuh dengan cara ditembak pada bagian dahi.
Kakek-nenek
Orang Tua
♂ Bendoro Raden Mas Okotdiyat (Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat)
perkawinan: ♀ Gusti Raden Ajeng Sapariyem (Gusti Raden Ayu Cokrodiningrat)
perkawinan: ♀ Raden Roro Ngaliyah
perkawinan: ♀ Raden Ayu Sosrokusumo
perkawinan: ♀ Raden Ayu Sumoasmoro
perkawinan: ♀ Raden Ayu Gondoasmoro
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
perkawinan: ♀ Raden Roro Ngaliyah
perkawinan: ♀ Raden Ayu Sosrokusumo
perkawinan: ♀ Raden Ayu Sumoasmoro
perkawinan: ♀ Raden Ayu Gondoasmoro
penguburan: Kartasura, Sukoharjo
Orang Tua
== 3 ==
== 3 ==
Anak-anak
Anak-anak
Cucu-cucu
Cucu-cucu
Boedjonagoro
Hardjosoemarto
Mangkoedirdjo
Pakubuwono V
Pakubuwono VI
Pakubuwono VII
Prodjoprawiro
Rogasmoro
Wirjohartono
Worosoegondo
