Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.
1
1
1/1 <
?> <
♂ Kanjeng Raden Adipati Danurejo I / Raden Bagus Konting Mertowijoyo (Patih Cakrajaya, Sumowijoyo) pekerjaan: Banyumas,
Bupati Banyumasperkawinan: <
1> <
♀ 29. Gusti Raden Ayu Adipati Danureja I. pekerjaan: 13 Februari 1755 - 19 Agustus 1799, Yogyakarta,
Pepatih Dalem bergelar Kanjeng Raden Adipati Danurejo Iwafat: 19 Agustus 1799, Yogyakarta,
Dimakamkan di Pajimatan Imogiri, Kadhaton Kasuwargan2
4
1/2 <
1+
1> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Danunegoro / Tirtodiwiryo 5
2/2 <
1+
1> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Sindunegoro / Raden Riya Menduro (Adipati Danurejo) pekerjaan: 7 November 1811 - 2 Desember 1813, Yogyakarta, Pepatih Dalem Kesultanan Ngayogyakarta bergelar Kiai Adipati
3
3/2 <
1+
1> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Danukusumo ? (Wedono Jobo) 2
4/2 <
1> <
♀ Raden Ayu Demang 3
6
1/3 <
3+
3> <
♂ Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo II / Kanjeng Raden Tumenggung Mangkunegoro (Patih Seda Kedhaton) lahir: 1772
perkawinan: <
5> <
♀ Bendoro Mas Ayu Pulungayun pekerjaan: 9 September 1799 - 28 Oktober 1811, Yogyakarta,
Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta bergelar Kanjeng Raden Adipati Danurejo IIwafat: 28 Oktober 1811, Yogyakarta,
Dimakamkan di Banyusumurup, kemudian dipindahkan ke Mlangi7
2/3 <
2+
4> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Martonegoro 4
11
1/4 <
6> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Yudonegoro I 9
3/4 <
6> <
♂ Raden Tumenggung Mertonegoro / Jayapermadi 12
5/4 <
6> <
♀ Raden Ajeng Kapilah Raden Ayu Suryabrangta 5
15
1/5 <
11+
7> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Yudonegoro II ? (Raden Bagus Mali) lahir: (dari Ibu Raden Ayu Bendara Padmi) BUPATI BANYUMAS VII
13
2/5 <
10+
11> <
♂ Kanjeng Sultan Hamengku Buwono V / Gusti Raden Mas Gathot Menol [Hb.4.6] (Sinuhun Menol) lahir: 24 Januari 1820, Yogyakarta
perkawinan: <
13> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Sultan [Gp.Hb.6.2] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng (Roromunting) perkawinan: <
14> <
♀ Kanjeng Mas Hemawati perkawinan: <
15> <
♀ Bendoro Raden Ayu Panukmowati [Ga.Hb.5.2] perkawinan: <
16> <
♀ Bendoro Raden Ayu Dewaningsih [Ga.Hb.5.1] perkawinan: <
17> <
♀ Bendoro Raden Ayu Retno Sriwulan [Ga.Hb.5.3] gelar: 19 Desember 1823 - 17 Agustus 1826, Yogyakarta,
Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana V Senopati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid'din Panatagama Khalifatu'llah Ingkang Jumeneng Kaping Vgelar: 17 Januari 1828 - 5 Juni 1855, Yogyakarta,
Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana V Senopati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid'din Panatagama Khalifatu'llah Ingkang Jumeneng Kaping Vperkawinan: <
18> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradinah [Gp.Hb.5.1] gelar: 1839, Yogyakarta,
Letnan Kolonelgelar: 1847, Yogyakarta,
Kolonelperceraian: <
18!> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradinah [Gp.Hb.5.1] perkawinan: <
19> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton [Hb.3.2.22] / Bendoro Raden Ayu Andaliya [Gp.Hb.5.2] b. 1834 d. 25 Mei 1919, Yogyakarta
wafat: 5 Juni 1855, Imogiri, Astana Besiyaran
Sri Sultan Hamengkubuwana V (Bahasa Jawa:Sri Sultan Hamengkubuwono V, lahir: 20 Agustus 1821 – wafat: 1855) adalah sultan kelima Kesultanan Yogyakarta, yang berkuasa tanggal 19 Desember 1823 - 17 Agustus 1826, dan kemudian dari 17 Januari 1828 - 5 Juni 1855 yang diselingi oleh pemerintahan Hamengkubuwana II karena ketidakstabilan politik dalam Kesultanan Yogyakarta saat itu.
Riwayat pemerintahan
Nama asli Sri Sultan Hamengkubuwana V adalah Raden Mas Mustoyo, putra Hamengkubuwana IV yang lahir pada tanggal 20 Agustus 1821. Sewaktu dewasa ia bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia juga pernah mendapat pangkat Letnan Kolonel tahun 1839 dan Kolonel tahun 1847 dari pemerintah Hindia Belanda.Melihat tahun pemerintahannya dimulai tahun 1823 sedang lahirnya adalah tahun 1821 maka Sultan Hamengku Buwono V waktu permulaan bertahta berumur 2 (dua) tahun.
Hamengkubuwana V sendiri mendekatkan hubungan Keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Hindia-Belanda yang berada di bawah Kerajaan Belanda, untuk melakukan taktik perang pasif, dimana ia menginginkan perlawanan tanpa pertumpahan darah. Sri Sultan Hamengkubuwana V mengharapkan dengan dekatnya pihak keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Belanda akan ada kerjasama yang saling menguntungkan antara pihak keraton dan Belanda, sehingga kesejahteraan dan keamanan rakyat Yogyakarta dapat terpelihara.
Kebijakan Hamengkubuwana V tersebut ditanggapi dengan tentangan oleh beberapa kanjeng abdi dalem dan adik Sultan HB V sendiri, yaitu Raden Mas Ariojoyo (nantinya Hamengkubuwana VI). Mereka menganggap tindakan Sultan HB V adalah tindakan yang mempermalukan Keraton Yogyakarta sebagai pengecut, sehingga dukungan terhadap Sultan Hamengkubuwana V pun berkurang dan banyak yang memihak adik sultan untuk menggantikan Sultan dengan Raden mas Ariojoyo.
Keadaan semakin menguntungkan Raden Mas Ariojoyo setelah ia berhasil mempersunting putri Kesultanan Brunai dan menjalin ikatan persaudaraan dengan Kesultanan Brunai. Kekuasaan Sultan Hamengkubuwana V semakin terpojok setelah timbul konflik di dalam tubuh keraton yang melibatkan istri ke-5 Sultan sendiri, Kanjeng Mas Hemawati. Sri Sultan Hamengkubuwana V hanya mendapatkan dukungan dari rakyat yang merasakan pemerintahan yang aman dan tenteram selama masa pemerintahannya.
Sri Sultan Hamengkubuwana V wafat pada tahun 1855 dalam sebuah peristiwa yang hanya sedikit diketahui orang, peristiwa itu dikenal dengan wereng saketi tresno ("wafat oleh yang dicinta"), Sri Sultan meninggal setelah ditikam oleh istri ke-5-nya, yaitu Kanjeng Mas Hemawati, yang sampai sekarang tidak diketahui apa penyebab istrinya berani membunuh Sri Sultan suaminya.[2]
Ketika insiden pembunuhan itu terjadi, permaisuri Sultan HB V yakni Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, sedang hamil tua. 13 hari pasca sultan tewas, lahirlah anak yang dikandungnya itu dan seharusnya menjadi penerus tahta Yogyakarta. Putra mahkota Sultan HB V tersebut diberi nama Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad.
https://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_V
Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono V
Salah satu mahakarya yang lahir di era beliau adalah Serat Makutha Raja. Di dalamnya memuat tentang prinsip-prinsip dasar menjadi raja yang baik. Dari karya ini dapat dilihat visi ke depan Sultan Hamengku Buwono V yang sangat memihak kepada rakyat.
Serat Makutho Raja ini pula yang nantinya menjadi pedoman bagi raja-raja selanjutnya, dan juga menjadi rujukan bagi pemimpin-pemimpin di luar keraton. Serat Makutho Raja ini kurang lebih mengandung nasehat-nasehat dari Kitab Tajussalatin.
Kitab Tajussalatin diterjemahkan di era Sri Sultan Hamengku Buwono V. Kemudian lahir pula karya lain seperti Suluk Sujinah, Serat Syeh Tekawardi dan Serat Syeh Hidayatullah.
Sri Sultan Hamengku Buwono V juga menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap kegiatan-kegiatan seni, terutama seni tari. Beliau memimpin sendiri komunitas tari di istana. Bahkan, beberapa sumber juga mengatakan ia turut menjadi penari.
Disamping tarian, Sri Sultan Hamengku Buwono V memprakarsai Gendhing Gati yang memadukan alat musik diatonis seperti terompet, trombon, suling dan jenis drum atau tambur dengan karawitan Jawa. Gendhing Gati ini lazimnya digunakan dalam gerak Kapang-Kapang pada tari Bedaya atau Serimpi, yaitu komposisi ketika masuk atau keluar dari ruang tari.
Pada era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V juga terdapat keunikan-keunikan lain dalam pelembagaan tari. Beliau membentuk kelompok penari Bedaya yang biasanya ditarikan oleh para penari wanita, digantikan oleh sekelompok penari laki-laki yang disebut kelompok Bedaya Kakung.
Karya seni tari lain yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono V adalah Tari Serimpi Renggawati yang ditarikan oleh lima orang penari, yang salah satunya berperan sebagai Dewi Renggawati. Jalan cerita tari ini menggambarkan kisah Prabu Anglingdarma.
Selain itu, Sri Sultan Hamengku Buwono V juga mengembangkan seni wayang orang. Pada masanya tak kurang dari lima judul lakon yang sering dipertunjukkan yakni Pragulamurti, Petruk Dadi Ratu, Angkawijaya Krama, Jaya Semedi dan Pregiwa-Pregiwati.
Media:https://www.kratonjogja.id/raja-raja/6/sri-sultan-hamengku-buwono-v 14
3/5 <
10+
11> <
♂ Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VI / Gusti Raden Mas Mustojo [Hb.4.12] (Sinuhun Mangkubumi) Sri Sultan Hamengkubuwana VI (Bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwono VI, lahir: 1821 – wafat: 20 Juli 1877) adalah sultan ke-enam Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1855 – 1877. Dia menggantikan kakaknya, Hamengkubuwana V yang meninggal di tengah ketidakstabilan politik dalam tubuh Keraton Yogyakarta.
Riwayat Pemerintahan
Nama asli Sultan Hamengkubuwana VI adalah Raden Mas Mustojo, putra Hamengkubuwana IV yang lahir pada tahun 1821.
Hamengkubuwana VI naik takhta menggantikan kakaknya, yaitu Hamengkubuwana V pada tahun 1855, setelah Hamengkubuwana V meninggal secara misterius. Pada masa pemerintahannya terjadi gempa bumi yang besar yang meruntuhkan sebagian besar Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Tugu Golong Gilig, Masjid Gede (masjid keraton), Loji Kecil (sekarang Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta) serta beberapa bangunan lainnya di Kesultanan Yogyakarta.
Pada masa Hamengkubuwana V, Raden Mas Mustojo adalah seorang penentang keras kebijakan politik perang pasif kakaknya yang menjalankan hubungan dekat dengan pemerintahan Hindia-Belanda yang ada di bawah Kerajaan Belanda. Namun setelah kakaknya meninggal dan dia dinobatkan menjadi Hamengkubuwana VI, semasa pemerintahannya dia justru melanjutkan kebijakan dari kakaknya yang sebelumnya dia tentang keras.
Semasa pemerintahan Hamengkubuwana VI kemudian mulai timbul pemberontakan-pemberontakan yang tidak mengakui masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VI, namun pemberontakan-pemberontakan tersebut dapat diredam dan dibersihkan. Hal ini berkat kepemimpinan dan ketangguhan Danuredjo V, patih Keraton Yogyakarta saat itu. Hubungan dengan berbagai kerajaan pun terjalin kuat pada masa pemerintahan HB VI, apalagi setelah dia menikah dengan putri Kesultanan Brunai.
Walaupun sempat menimbulkan beberapa sengketa dengan kerajaan-kerajaan lain, tercatat bahwa Sultan HB VI dapat mengatasinya dengan arif bijaksana. Tapi lambat laun hubungan dengan pemerintahan Hindia-Belanda agak mulai menuai konflik tertama karena keraton Yogyakarta kala itu banyak menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang menjadi musuh pemerintah Hindia-Belanda dan Kerajaan Belanda.
Pemerintahan Hamengkubuwana VI berakhir ketika ia meninggal dunia pada tanggal 20 Juli 1877. Ia digantikan putranya sebagai sultan selanjutnya bergelar Hamengkubuwana VII.
16
4/5 <
10+
11> <
♂ Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hanom Hamengkunegoro [Hb.4.1] 17
5/5 <
8+
9> <
♀ Raden Ayu Suryoprawiro [Hb.3.4.3.1] 18
6/5 <
8+
9> <
♂ Raden Mas Karmeni [Hb.3.4.3.2] 19
7/5 <
8+
9> <
♂ Raden Mas Suleman [Hb.3.4.3.3] 20
8/5 <
8+
9> <
♀ Raden Ajeng Parkis [Hb.3.4.3.4] 21
9/5 <
8+
9> <
♀ Raden Ayu Mertonegoro [Hb.3.4.3.5] 22
10/5 <
8+
9> <
♀ Raden Ayu Dipokusumo [Hb.3.4.3.6] 23
11/5 <
10+
11> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton [Hb.4.14] 24
12/5 <
8+
8> <
♀ Raden Ayu Suryoprawiro [Hb,4.8.1] 25
13/5 <
8+
8> <
♂ Raden Mas Karmeni [Hb.4.8.2] 26
14/5 <
9+
10> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Mertonegoro II 6
49
1/6 <
13+
16> <
♀ Bendoro Raden Ayu Adipati Mangkubumi [Hb.5.8] / Bendoro Raden Ayu Sukinah [Gp.Hb.7.11.1] 27
2/6 <
14+
13> <
♂ Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VII / Gusti Raden Mas Murtejo [Hb.6.1] (Sinuhun Behi)
Sri Sultan Hamengkubuwana VII (Bahasa Jawa:Sri Sultan Hamengkubuwono VII, lahir: 1839 – wafat: 1931 adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1877 – 1920. Ia dikenal juga dengan sebutan Sultan Ngabehi atau Sultan Sugih.(Bahasa Jawa:Sri Sultan Hamengkubuwono VII, lahir: 1839 – wafat: 1931 adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1877 – 1920. Ia dikenal juga dengan sebutan Sultan Ngabehi atau Sultan Sugih.
Riwayat Pemerintahan
Nama aslinya adalah Raden Mas Murtejo, putra Hamengkubuwono VI yang lahir pada tanggal 4 Februari 1839. Ia naik takhta menggantikan ayahnya sejak tahun 1877.
Pada masa pemerintahan Hamengkubuwono VII, banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, yang seluruhnya berjumlah 17 buah. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang kepadanya untuk menerima dana sebesar Rp 200.000,00. Hal ini mengakibatkan Sultan sangat kaya sehingga sering dijuluki Sultan Sugih[rujukan?].
Masa pemerintahannya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan. Ia bahkan mengirim putra-putranya belajar hingga ke negeri Belanda.
Pada tanggal 29 Januari 1920 Hamengkubuwono VII yang saat itu berusia 81 tahun memutuskan untuk turun takhta dan mengangkat putra mahkota sebagai penggantinya. Konon peristiwa ini masih dipertanyakan keabsahannya karena putera mahkota(GRM. Akhadiyat, putra HB VII nomor 14) yang seharusnya menggantikan tiba-tiba meninggal dunia dan sampai saat ini belum jelas penyebab kematiannya.
Dugaan yang muncul ialah adanya keterlibatan pihak Belanda yang tidak setuju dengan putera Mahkota pengganti Hamengkubuwono VII yang terkenal selalu menentang aturan-aturan yang dibuat pemerintah Batavia.
Biasanya dalam pergantian takhta raja kepada putera mahkota ialah menunggu sampai sang raja yang berkuasa meninggal dunia. Namun kali ini berbeda karena pengangkatan Hamengkubuwono VIII dilakukan pada saat Hamengkubuwono VII masih hidup.<--, bahkan menurut cerita masa lalu sang ayah diasingkan oleh anaknya pengganti putera mahkota yang wafat ke Pesanggrahan Ngambarrukma di luar keraton Yogyakarta.-->
Hamengkubuwono VII dengan besar hati mengikuti kemauan sang anak (yang di dalam istilah Jawa disebut mikul dhuwur mendhem jero) yang secara politis telah menguasai kondisi di dalam pemerintahan kerajaan. Setelah turun takhta, Hamengkubuwono VII pernah mengatakan "Tidak pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya" yang artinya masih dipertanyakan. Sampai saat ini ada dua raja setelah dirinya yang meninggal di luar keraton, yaitu Hamengkubuwono VIII meninggal dunia di tengah perjalanan ke luar kota dan Hamengkubuwono IX meninggal di Amerika Serikat. Bagi masyarakat Jawa adalah suatu kebanggaan jika seseorang meninggal di rumahnya sendiri. Hamengkubuwono VII meninggal di Pesanggrahan Ngambarrukma pada tanggal 30 Desember 1931 dan dimakamkan di Imogiri.
Silsilah
Anak tertua dari Sultan Hamengkubuwana VI dan istri pertamanya RAy Sepuh/GKR Sultan/GKR Agung dan diangkat anak oleh Ratu Kencana.
Memiliki delapan belas istri:
1.BRA Sukina/BRA Mangku Bumi (b. 1836), putri termuda Sultan Hamengkubuwana V dengan istri keduanya BRAy Dewaningsih.
2.GKR Mas, putri dari KRT Jayadipura atau dari Pangeran Suryadiningrat.
3.GKR Kencana/GKR Wandhani, putri dari Raden 'Ali Basa 'Abdu'l-Mustafa Senthot Prawiradirja.
4.GKR Kencana II/BRAy Ratna Sri Wulan, putri dari BPH Adi Negara.
5.BRAy Ratnaningsi.
6.BRAy Ratnaningdia.
7.BRAy Ratna Adi.
8.BRAy Ratnasangdia.
9.BRAy Ratnajiwata.
10.BRAy Puryaningdia.
11.BRAy Devaratna.
12.BRAy Puspitaningdiya.
13.BRAy Srengkara Adinindia.
14.BRAy Rukmidiningdia.
15.BRAy Ratna Adiningrum.
16.BRAy Ratna Puspita.
17.BRAy Tejaningrum.
18.BRAy Ratna Mandaya, putri dari Patih Dhanuraja VI.
Versi lain mengatakan bahwa Hamengkubuwono VII meminta pensiun kepada Belanda untuk madeg pandito (menjadi pertapa) di Pesanggrahan Ngambarrukma (sekarang Ambarrukma). Sampai saat ini bekas pesanggrahan itu masih ada dan di sebelah timurnya dulu pernah berdiri Hotel Ambarrukma yang sekarang sudah tidak ada lagi.
48
4/6 <
13+
19> <
♂ Kanjeng Gusti Timur Muhammad Suryengalogo [Hb.5.9] / Raden Mas Muhammad [Hb.3.2.22.1] Pada saat Sultan Hamengku Buwono ke V wafat, beliau belum mempunyai anak laki-laki sebagai pewaris kesultanan, karena anaknya yang ada, semuanya wanita, sedang permaisuri yaitu Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Sekar Kedaton sedang hamil tua, yang kemudian 13 hari setelah Sultan Hamengku Buwono V wafat, melahirkan seorang anak laki-laki dan anak tersebut diberi nama Gusti Timur Muhammad, dimana setelah berumur 12 tahun mendapat gelar Gusti Pangeran Haryo (GPH) Suryengalogo.
Karena Gusti Muhammad masih bayi, dan untuk mengisi kekosongan tahta kesultanan maka diangkatlah Pangeran Mangkubumi (adik dari Sultan Hamengku Buwono V) menjadi Sultan Hamengku Buwono ke VI, dengan persyaratan bahwa apabila setelah dewasa Gusti Muhammad akan diangkat menjadi Sultan berikutnya. Namun ternyata Sultan lebih memilih menunjuk putranya menjadi pengganti (putra mahkota) yang nantinya akan menjadi Sultan Hamengku Buwono VII.
Hal tersebut menimbulkan kekecewaan pada keluarga Hamengku Buwono V, terutama GKR Sekar Kedaton dan GPH Suryengalogo yang kemudian memulai perlawanan kepada Sultan Hamengku Buwono VII. Kemudian GKR Sekar Kedaton dan GPH Suryengalogo diputuskan bersalah telah memberontak dan “DIPINDAHKAN DARI YOGYAKARTA KE MANADO SELEBES” dengan Surat Keputusan dari Kesultanan Yogyakarta Hamengku Buwono VII yang disampaikan melalui Dipati Danureja dan Residen Befembag berbunyi sebagai berikut:
“Surat Peringatanku aku Kanjeng Narendra, yang menguasai negeri Kerajaan Ngayogya, sabdaku ini : Tuan Kanjeng Prameswari dan Kangmas Pangeran Suryengalogo berdua, aku pindahkan dari negeri Ngayogya ke negeri Menado, sebab uwa, kangmas berani membangkang (mbalelo) pada Raja. Pergi dari kota tanpa pamit, serta berbuat perang sabil; membunuh perajurit Usar, abdi Kanjeng Gupermen Belanda. Karena itu Kangmas serta Uwa Jeng Prameswari kesalahan membangkang pemerintahan Raja. Tanggal 11 April 1883.”
Dengan berdasarkan Surat Keputusan dari Kesultanan tersebut diatas GKR Sekar Kedaton dan GPH Suryengalogo beserta istri pertama berikut anaknya, dan juga semua pengikutnya, berangkat dengan diantar oleh Residen untuk naik kapal laut dari Semarang menuju Manado. Di Manado bertemu dengan saudara-saudaranya yang telah lebih dahulu dipindahkan dari Yogyakarta ke Manado, yaitu Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo (putra Sultan Hamengku Buwono VI dan saudara dari Sultan Hamengku Buwono VII) beserta istri dan anaknya, menjemput rombongan dari Jogyakarta di kapal dan mempersilahkan agar Prameswari dan GPH Suryengalogo menempati rumah mereka di kampung Pondol.
GPH Suryengalogo, 4 tahun kemudian memanggil istri keduanya yaitu Raden Ayu Dayaningsih yang ada di Yogyakarta untuk tinggal di Manado, dan setahun kemudian mempunyai 1 anak laki-laki yang elok rupanya. Tetapi Raden Ayu Dayaningsih cepat meninggalkan segala-galanya.
GPH Suryengalogo akhirnya wafat di Manado pada tanggal 12 Januari 1901. Setelah beliau meninggal dunia, GKR Sekar Kedaton dibelikan rumah oleh Sultan Hamengku Buwono VII untuk ditempati oleh beliau bersama anak dan cucunya. Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Hadiwijoyo sudah dianggap sebagai anaknya sendiri oleh GKR Sekar Kedaton, apalagi setelah GPH Suryengalogo meninggal dunia.
BPH Hadiwijoyo pun akhirnya meninggal dunia pada tahun 1916, dan dimakamkan di Manado, tetapi kemudian oleh para keturunannya makamnya dipindahkan ke Hastorenggo Kotagede Yogyakarta.
54
6/6 <
13+
16> <
♀ Gusti Bendoro Raden Ayu Angabehi [Hb.5.1] [Gp.Hb.6.3] (Bendoro Raden Ayu Gondokusumo) 38
9/6 <
14+
13> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Bendoro [Hb.6.13] 28
10/6 <
14+
21> <
♂ Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo [Hb.6.17] Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Hadiwijoyo adalah putra ke-17 dari Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Beliau mempunyai 6 orang putra/putri dari Garwo Padmi yang bernama R.Aj. Jimah (GRA. Hadiwijoyo). BPH. Hadiwijoyo difitnah dan dibuang oleh Belanda ke Manado pada tahun 1875 karena dianggap membenci tindakan baginda Sultan HB VII,
Media:https://kanjengratusekarkedaton.blogspot.com/p/sejarah.html sampai wafatnya pada 9 Februari 1916 dan dimakamkan di Mahakeret Manado.
Pada tahun 1883, BPH. Hadiwijoyo bersama istri dan anaknya, menjemput rombongan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Sekar Kedaton (permaisuri Sultan Hamengku Buwono V) dan putranya Gusti Raden Mas (GRM) Timur Muhammad/Gusti Pangeran Haryo (GPH) Suryengalogo di pelabuhan kapal di Manado, dan mempersilahkan mereka menempati rumah beliau di kampung Pondol. Selama di pengasingan, BPH. Hadiwijoyo ditemani putranya yang bernama RM. Menot. Kemudian disana lahir putra no.6 yang diberi nama RM. Joko Sangkolo. Setelah GPH. Suryengalogo meninggal dunia (1901), GKR. Sekar Kedaton dibelikan rumah oleh Sultan Hamengku Buwono VII sebagai tempat tinggal beliau bersama anak dan cucunya. BPH. Hadiwijoyo sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh GKR. Sekar Kedaton.
Kemudian GRA. Hadiwijoyo kembali ke Yogyakarta sampai dengan wafatnya dan dimakamkan di Pasarean Hasta Renggo Kota Gede Yogyakarta (di luar cungkup). BPH. Hadiwijoyo bersumpah tidak akan kembali ke Yogyakarta sebelum saudara yang memfitnahnya wafat, namun ternyata beliau wafat terlebih dahulu. Setelah sekian lama, akhirnya para anggota Trah Hadiwijoyo (Hadiwijayan) bersepakat untuk memindahkan makam BPH. Hadiwijoyo dari Mahakeret Manado ke Pasarean Hasta Renggo Yogyakarta. Rencana ini terelisasi pada tanggal 21 Juli 1990 dimana sebelumnya makam GRA. Hadiwijoyo dibongkar terlebih dahulu dan disandingkan dengan peti BPH. Hadiwijoyo untuk kemudian secara bersama-sama dimakamkan kembali di dalam cungkup.
Keenam Putra/Putri BPH. Hadiwijoyo adalah:
1. RA. Kustiyah (w.VI.17.1)
2. RM. Sutijo / RM. L. Prawirodipuro / RMW. Hatmodijoyo (w.VI.17.2)
3. RM. Subroto / RM. Dutodiprojo / RM. Rio Projomardowo (w.VI.17.3)
4. RA. Sriyati (w.VI.17.4)
5. RM. Sujono / RM. Menot (w.VI.17.5)
6. RM. Joko Sangkolo (w.VI.17.6)
31
14/6 <
14+
24> <
♀ Bendoro Raden Ayu Suryomurcito [Hb.6.21] 34
17/6 <
14+
23> <
♂ Bendoro Raden Mas Suleman [Hb.6.4] 35
18/6 <
14+
22> <
♀ Bendoro Raden Ayu Notoyudo [Hb.6.16] 36
19/6 <
14+
22> <
♀ Raden Ajeng Karsinah / Sedo Timur 50
26/6 <
14+
28> <
♀ Gusti Raden Ajeng Samilah [Hb.6.2] 51
27/6 <
14+
29> <
♀ Gusti Raden Ajeng Kusdilah [Hb.6.14] 53
29/6 <
13+
16> <
♂ Bendoro Raden Mas Sepuh [Hb.5.2] 55
30/6 <
13+
16> <
♀ Bendoro Raden Ayu Timur [Hb.5.3] 56
31/6 <
13+
15> <
♀ Bendoro Raden Ayu Hadiwinoto [Hb.5.7] 58
32/6 <
13+
15> <
♀ Bendoro Raden Ayu Suwardi [Hb.5.4] 59
33/6 <
13+
15> <
♀ Bendoro Raden Ayu Rabingu [Hb.5.5] 60
34/6 <
13+
17> <
♀ Bendoro Raden Ayu Bumisalamah [Hb.5.6] 61
35/6 <
21> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Gondokusumo [Hb.3.4.3.5.1] 62
36/6 <
26> <
♀ R. A. Mutmainah 7
80
1/7 <
44+
105> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Purboningrat [Hb.6.9.4] lahir: 10 Maret 1865
114
2/7 <
44+
105> <
♂ Kanjeng Adipati Prawiropurbo [Hb.6.9.10] (Ndoro Purbo / Raden Mas Kusrin) 182
4/7 <
46+
57> <
♂ Raden Mas Subarjo [Hb.6.11.8] (Raden Tumenggung Wiroguno) Kanjeng Raden Tumenggung Wiroguno. Putra dari KGPA Mangkubumi dan RAY. Tejomurti ini dilahirkan pada tanggal 3 Nopember 1876 di Yogyakarta. Beliau mempunyai kegemaran melukis dengan cat air dan cat minyak. Beberapa lukisannya terpancang di Kraton Yogyakarta.
K.R.T Wiroguno menjabat Bupati Patih Kadipaten Yogyakarta termasuk empu gendhing yang unggul. Disamping itu beliau masih melanjutkan membina corak pagelaran tari ciptaan ayahnya , Pangeran Mangkubumi, yaitu Langendriya. Beliau juga menciptakan dan mengembangkan tari golek putri, ikut serta membina Perkumpulan Tari Krida Beksa Wirama dan aktif membina penyiaran gendhing-gendhing atau seni suara melalui siaran radio pada masa itu.
Hasil Karya K.R.T Wiroguno antara lain :
1) menyusun teori dan pedoman seni gendhing dan suara gaya Mataraman,
2) menciptakan notasi gendhing gaya Mataraman dengan not balok,
3) menyusun suatu lokasi gendhing-gendhing Mataram dalam suatu buku tulisan tangan mulai tahun 1919,
4) mencipta dan menggubah tidak kurang dari 100 buah gendhing, baik gendhing Ageng maupun gendhing alit.
63
9/7 <
27+
30> <
♂ Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Vlll [Hb.7.23] (Gusti Pangeran Haryo Puruboyo) Sri Sultan Hamengkubuwana VIII (lahir di Kraton Yogyakarta Adiningrat, 3 Maret 1880 – meninggal di Kraton Yogyakarta Adiningrat, 22 Oktober 1939 pada umur 59 tahun) adalah salah seorang raja yang pernah memimpin di Kesultanan Yogyakarta tahun 1921-1939. Dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta pada tanngal 8 Februari 1921. Pada masa Hamengkubuwono VIII, Kesultanan Yogyakarta mempunyai banyak dana yang dipakai untuk berbagai kegiatan termasuk membiayai sekolah-sekolah kesultanan. Putra-putra Hamengkubuwono VIII banyak disekolahkan hingga perguruan tinggi, banyak diantaranya di Belanda. Salah satunya adalah GRM Dorojatun, yang kelak bertahta dengan gelar Hamengkubuwono IX, yang bersekolah di Universitas Groningen.
Pada masa pemerintahannya, beliau banyak mengadakan rehabilitasi bangunan kompleks keraton Yogyakarta. Salah satunya adalah bangsal Pagelaran yang terletak di paling depan sendiri (berada tepat di selatan Alun-alun utara Yogyakarta). Bangunan lainnya yang rehabilitasi adalah tratag Siti Hinggil, Gerbang Donopratopo, dan Masjid Gedhe.
Beliau meninggal pada tanggal 22 Oktober 1939 di RS Panti Rapih Yogyakarta karena menderita sakit.
Silsilah
Sri Sultan Hamengkubuwono VIII.
Anak kesembilan dari Sultan Hamengkubuwana VII (Sultan Ngabehi) dan istri keduanya GKR Mas
Memiliki delapan istri:
1.RA Siti Katina, putri Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi, tahun 1907
2.BRA Purya Aningdiya
3.BRA Puspitaningdiya
4.BRA Srengkara Aningdiya
5.RA Kustilah/KRA Adipati Anum Amangku Negara/Kanjeng Alit, putri Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi
6.BRA Rukmi Aningdiya
7.KBRAy Ratna Adiningrum
8.BRAy Ratna Puspita
Memiliki dua puluh empat putra:
1.BRM ... dari BRA Purya Aningdiya, meninggal sebelum sempat diberi nama.
2.BRM Mustari dari BRA Puspitaningdiya
3.Mayor BRM Jartabitu/Kanjeng Mas Pangeran Angabehi/Gusti Pangeran Angabehi dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan BRA Siti Mustakirun
4.Kapten BRM Sungangusamsi/GBPH Purbaya dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan BRA Madusari/RAy Purbaya.
5.BRM Sumeru/GBPH Dhanupaya dari BRA Puspitaningdiya
6.BRM Sudiarsa dari BRA Purya Aningdiya
7.BRM Kartala/GBPH Mangkudiningrat dari BRA Purya Aningdiya, menikah dengan RA Sumani dan menikah dengan Amiratna/BRA Mangkudiningrat, putri kedua dari KGPAA Raja Paku Alam VI dan Kanjeng Gusti Timur putri dari KGPAA Raja Paku Alam III
8.BRM Tinggartala/GBPH Prabuningrat dari BRA Puspitaningdiya
9.GRM Dorojatun/GBPH Purbaya/Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Kanjeng Alit
10.BRM Duryatnanu dari BRA Purya Aningdia
11.BRM Mahikyaun/GBPH Surya Wijaya dari BRA Rukmi Aningdiya
12.BRM Rais ul-Ngah Askari/GBPH Bintara dari BRA Srengkara Aningdiya
13.BRM Alpasuatlamin/GBPH Surya Brangta dari BRA Purya Aningdiya
14.BRM Mupasalukatini dari BRA Puspitaningdiya
15.BRM Ila ul-Kirami/GBPH Murdaningrat dari BRA Srengkara Aningdiya
16.BRM Makan ul-Munayati/BGBPH Puya Kusuma dari BRA Purya Aningdiya
17.BRM Pel ul-Kuluki/GBPH Suryaputra dari KBRAy Ratna Adiningrum
18.BRM Sunwata/GBPH Adi Wijaya dari BRAy Ratna Puspita
19.BRM Sahadatsatir dari BRAy Ratna Puspita
20.BRM Hening /GBPH Yudha Negara dari KBRAy Ratna Adiningrum
21.BRM Dr Banakamsi/GBPH Dr Dipayana dari BRA Tejaningrum
22.BRM Satriya/GBPH Benawa dari KBRAy Ratna Adiningrum
23.BRM Danangjaya dari KBRAy Ratna Adiningrum
24.BRM Rabinharyani/GBPH Puger dari BRAy Ratna Puspita
Memiliki tujuh belas putri:
1.BRA Gusti Siti Sundarumiya/GKR Pembayun dari BRA Purya Aningdiya, menikah dengan BPH Pakuningrat, putra tertua KGRM Putra/KGPAA Amangku Negara.
2.BRA Siti Sayadi/GBRAy Sinduraja dari BRA Purya Aningdiya, menikah dengan KRT Sinduraja.
3.BRA Siti Sadari/GBRAy Purbawinata dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Purbawinata/KPH Purbawinata.
4.BRA Siti Kadarmi/GBRAy Jaya ningrat dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Jayaningrat.
5.BRA Siti Kajananywa/GBRAy Jaya Winata dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan KRT Jayawinata.
6.BRA Siti Mutasangilun dari BRA Srengkara Aningdiya
7.BRA Siti Nuriwadina/GBRAy Chandradiningrat dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan KRT Chandradiningrat.
8.BRA Siti Kuswanayi/GBRAy Cakradiningrat dari BRA Rukmi Aningdiya, menikah dengan GBPH Cakradiningrat, putra dari KGRM Putra/KGPAA Amangku Negara.
9.BRA Siti Sriwayati/GBRAy Purbasaputra dari BRA Srengkara Aningdiya, menikah dengan KRT Purbaseputra.
10.BRA Siti Swandari/GBRAy Purwadiningrat dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Purwadiningrat.
11.BRA Siti Hilal ul-Ngasarati/GBRAy Kusuma Adiningrat dari BRA Puspitaningdiya, menikah dengan KRT Kusumadiningrat.
12.BRA Siti Sutyanti/GBRAy Jayaningrat dari KBRAy Ratna Adiningrum, menikah dengan Ir. Raden Puspaharsana Jayaningrat.
13.BRA Siti Padmasari/GBRAy Sumarman dari KBRAy Ratna Adiningrum, menikah dengan Raden Sumarman, S.H.
14.BRA Siti Wayarini dari BRAy Ratna Puspita
15.BRA Siti Prayuti dari BRAy Ratna Puspita
16.BRA Siti Widyastuti/GBRAy Andayaningrat dari KBRAy Ratna Adiningrum, menikah dengan Raden Suwarna Andayaningrat.
17.BRA Siti Sutarnin dari BRAy Ratna Puspita
75
10/7 <
43+
80> <
♂ Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Danurejo VIII / [Hb.6.18.3] (Raden Mas Subari) lahir: 3 September 1882, Yogyakarta
pekerjaan: 1909, Kalasan,
Diangkat menjadi Panewu Palang Negari (Sekretaris) di Kabupaten Kalasan dan bergelar Raden Panewu Mangundimejopekerjaan: 1914, Gunung Kidul Regency,
Menjadi Panji Kepala Distrik) di Semanu Kabupaten Gunung Kidul dan bergelar Raden Panji Harjodipuro yang kemudian diubah menjadi Harjokusumopekerjaan: 1919, Kalasan,
Menjadi Bupati Pangreh Praja Kalasan dan bergelar Raden Tumenggung Harjokusumopekerjaan: 1927, Yogyakarta,
Menjadi Bupati Kabupaten Kota Yogyakarta yang merupakan gabungan Kabupaten Sleman, Kalasan, dan Kota Yogyakartagelar: 3 November 1933, Yogyakarta,
Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta bergelar Kanjeng Pangeran Haryo Adipati Danurejo VIIIperkawinan: <
117!> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Chondrokirono II [Hb.7.54] , Yogyakarta
pensiun: 14 Juli 1945, Yogyakarta
Patih of Yogyakarta 1933-1945
115
12/7 <
27+
44> <
♂ w Bendoro Pangeran Haryo Suryomataram [Hb.7.55] Bendoro Raden Mas Kudiarmadji (Notodongso) 119
13/7 <
27+
33> <
♂ Bendoro Pangeran Haryo Hadikusumo II [Hb.7.58] (Gusti Raden Mas Hario) 123
14/7 <
27+
30> <
♂ Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Jumino / Gusti Raden Mas Pratistha (Gusti Djuminah) 309
15/7 <
62+
109> <
♂ Raden Mas Johannes Soedarto Sosroningrat 310
17/7 <
62+
109> <
♀ R. A. Maria Soelastri Sosroningrat Sedari kanak-kanak hingga remaja, Maria Soelastri begitu tertarik mempelajari budaya bangsa lain, termasuk diantaranya budaya barat, untuk menjawab rasa ingin tahu beliau kenapa tanah air Indonesia dikuasai bangsa barat. Sebaliknya, ayahanda beliau, Pangeran Sasraningrat, sangat menaruh minat pada Kesusasteraan Jawa Kuno dengan pergolakan-pergolakan dan perubahan jamannya. Kegiatan beliau dalam bidang jurnalistik membawa beliau berkenalan dengan tamu-tamu dari luar daerah, juga dari Batavia. Salah satunya adalah Dr. Hazeu, penasehat urusan pemerintahan jajahan, yang membawa serta seorang anggota Misi Gereja Katolik untuk Jawa Tengah yaitu Romo van Lith. Romo van Lith yang kemudian sering berkunjung untuk mempelajari Sastra Jawa, adat istiadat dan kebudayaan Jawa.
Th. 1906 dengan rekomendasi Romo van Lith dan disetujui ibunda B.R.A. Sasraningrat masuklah Ibu Maria Soelastri ke Europeese Meisjesschool dari Ordo Suster Fransiskanes Kidul Loji Mataram, Yogyakarta.
Dari sejarah keluarga Maria Soelastri ini, dan dari lingkungan dan komunitas keluarga yang banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh pendidikan pada masa itu, tentu menjadi mudahlah bagi kita untuk dapat memahami sifat dan sikap nasionalisme Maria Soelastri yang kental, amat peduli pada rakyat kecil dan berpikiran maju. Perasaannya yang halus dan mudah tersentuh pada penderitaan kaum lemah begitu kuat, yang kemudian mendorong untuk melakukan suatu tindakan nyata bagi orang-orang di sekitarnya. Secara khusus perhatiannya tercurah pada buruh perempuan di pabrik cerutu Negresco dan pabrik gula di Yogyakarta dan usaha untuk mencarikan jalan keluar bagi kesejahteraan dan masa depan mereka. Dari kaum buruh inilah usaha peningkatan derajat dan martabat wanita pada umumnya dan wanita katolik pada khususnya dimulai.
Saat awal didirikannya Poesara Wanita Katholiek – kelak menjadi Wanita Katolik RI – bersama teman-temannya pada tanggal 26 Juni 1924, yang terpilih sebagai ketua pertamanya adalah adik Maria Soelastri, yaitu R.A. Catharina Soekirin Sasraningrat karena R.A. Maria Soelastri bertempat tinggal di Magelang. Terlihat betapa Maria Soelastri ini amat ‘sepi ing pamrih’ (tak punya pamrih atau ambisi pribadi), namun sepak terjangnya dalam membela kaum buruh dan kegigihannya itu membuatnya mendapat julukan ‘singa betina’ yang amat disegani.
Th. 1914 Ibu R.Ay. Maria Soelastri Sasraningrat dipersunting oleh Dokter Hewan R.M. Jacobus Soejadi Darmosapoetro, yang meskipun seorang pegawai negeri dalam pemerintahan tetapi berideologi politik melawan Politik Kapitalis Kolonial.
Ketika Wanita Katolik RI merayakan ulangtahunnya yang ke-50 di tahun 1974, Maria Soelastri menuliskan sebagian dari pengalaman perjuangannya, dengan antara lain menulis :
Sebagai langkah perjuangan yang pertama Ibu (Maria Soelastri – red) menemui pengusaha-pengusaha Belanda dari Pabrik Cerutu dan Pabrik Gula di Yogyakarta yang kedua-duanya juga beragama katolik. Buruh kedua pabrik ini sebagian besar terdiri dari buruh wanita. Pertemuan berlangsung dalam suasana damai. Pembicaraan diadakan dari hati ke hati dengan berpedoman pada Ensiklik-ensiklik Gereja Katolik, antara lain Rerum Novarum dari Bapak Leo ke XIII di Roma dan Quadragesimo Anno dari Paus Pius XI.
Sebagai hasil pembicaraan, dengan segera dibentuklah peraturan-peraturan di kedua belah pabrik tersebut untuk perbaikan nasib para buruhnya pada umumnya dan buruh wanita pada khususnya. Langkah berikutnya dari Organisasi Wanita Katolik meliputi kerja sama dengan Usahawan-usahawan Katolik Belanda untuk mengadakan segala macam perbaikan nasib para buruh.
…
(Maria Soejadi Darmosaputro Sasraningrat, 24-6-1974) – oleh Iswanti, Kodrat yang Bergerak
Kini buah pikiran dan gagasan ibu R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat telah semakin dikembangkan dan diwujud-nyatakan secara meluas. Dari gagasan yang muncul dari seorang perempuan ningrat yang peduli pada kaumnya, dari sebuah tempat ikrar di Kidul Loji, Yogyakarta, kini telah meluas ke seluruh nusantara. Dan gagasan itu semakin dikembangkan oleh srikandi-srikandi masa kini yang mengambil tongkat estafet dari para pendahulunya, namun sampai sekarang gagasan inti tetap tak lekang oleh waktu, tertuang dalam visi misi organisasi Wanita Katolik RI : demi tercapainya kesejahteraan bersama serta tegaknya harkat dan martabat manusia, dengan dilandasi nilai-nilai Injil dan Ajaran Sosial Gereja.
R.A. Maria Soelastri wafat di Semarang tanggal 8 September 1975 dan dimakamkan di Kompleks Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA).
104
18/7 <
47+
71> <
♀ Raden Ayu Roostamtiyah [Hb.6.20.21] (Raden Ayu Sindudipuro) 64
23/7 <
28+
77> <
♂ Raden Mas Rudolf Maximillian Menot [Hb.6.17.5] (Raden Mas Suyono) RM. Menot adalah putra ke-5 dari BPH. Hadiwijoyo. Pekerjaan terakhir beliau adalah sebagai pegawai Kantor Pos di Jakarta. Pekerjaan itulah yang membuat anak dan cucunya menyukai dan ikut mengoleksi perangko.
RM. Menot meninggal tahun 1973 di Jakarta dan dimakamkan di TPU Menteng Pulo. Pada tahun 1975, kuburannya dipindah ke Manado sesuai keinginannya untuk dikuburkan bersama istri di makam keluarga di Manado.
70
27/7 <
46+
57> <
♀ Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom Amangku Negara [Gp.Hb.8.1] [Hb.6.11.14] (Raden Ajeng Katinah / Kanjeng Alit) 71
28/7 <
46+
54> <
♀ Raden Ayu Mangunjoyo II [Hb.6.11.15] 72
29/7 <
46+
54> <
♂ Raden Bagus Suryokusumo [Hb.6.11.18] 73
30/7 <
46+
56> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Jogonegoro III / Kanjeng Raden Tumenggung Ronodiningrat [Hb.6.11.17] 74
31/7 <
46+
54> <
♂ Raden Tumenggung Suryoatmojo / Raden Mas Murjono [Hb.6.11.12] 76
32/7 <
46+
55> <
♂ Raden Mas Sutandar [Hb.6.11.1] (Kanjeng Pangeran Haryo Purwodiningrat) 77
33/7 <
46+
54> <
♀ Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegoro [Gp.Hb.8.1] (Raden Ajeng Kustilah [Hb.6.11.21]) 78
34/7 <
47+
67> <
♀ Raden Ayu Hatmodijoyo I [Hb.6.20.4] / Raden Ajeng Roostinah (Raden Ayu Puspohatmojo) 82
35/7 <
37+
98> <
♂ Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat 83
36/7 <
47+
73> <
♂ Raden Mas Sudiro [Hb.6.20.30] (Kanjeng Raden Tumenggung Sastrokusumo) 84
37/7 <
47+
67> <
♂ Raden Mas Saepur [Hb.6.20.1] (Raden Panji Joyopermadi) 85
38/7 <
47+
67> <
♂ Raden Mas Rujali [Hb.6.20.2] (Raden Panji Joyopragolo) 86
39/7 <
47+
67> <
♀ Raden Ayu Roostijah [Ga.Hb.7.20.3] [Hb.6.20.3] (Bendoro Raden Ayu Doyopurnamaningrum) 87
40/7 <
47+
67> <
♂ Raden Mas Saeran [Hb.6.20.5] (Raden Bagus Gambiranom) 88
41/7 <
47+
67> <
♂ Raden Mas Karamal [Hb.6.20.6] 89
42/7 <
47+
67> <
♂ Raden Mas Sukapjo [Hb.6.20.7] (Raden Bagus Suryowinoto) 90
43/7 <
47+
67> <
♂ Raden Mas Palis [Hb.6.20.10] 91
44/7 <
47+
67> <
♂ Raden Mas Saerun [Hb.6.20.13] 92
45/7 <
47+
67> <
♂ Raden Mas Sukapdiman [Hb.6.20.14] 93
46/7 <
47+
68> <
♀ Raden Ajeng Roosdinah [Hb.6.20.9] (Raden Ayu Kertonadi) 94
47/7 <
47+
69> <
♀ Raden Ayu Rooskiyati [Hb.6.20.12] (Raden Ayu Padmodiprojo) 95
48/7 <
47+
69> <
♂ Raden Mas Supandi [Hb.6.20.15] 96
49/7 <
47+
69> <
♂ Raden Mas Gurnosuwendo [Hb.6.20.17] 97
50/7 <
47+
70> <
♀ Raden Ayu Roostijah [Hb.6.20.8] 98
51/7 <
47+
70> <
♂ Raden Mas Dipomenggolo [Hb.6.20.11] 99
52/7 <
47+
70> <
♂ Raden Mas Yusuf [Hb.6.20.23] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumaningrat) 100
53/7 <
47+
74> <
♀ Raden Ayu Roosyayi [Hb.6.20.16] (Raden Ayu Darmowinoto) 101
54/7 <
47+
71> <
♀ Raden Ayu Roostamtinah [Hb.6.20.18] (Raden Ayu Suryodiningrat) 102
55/7 <
47+
71> <
♂ Raden Mas Ibrahim Ibnu Rustam [Hb.6.20.19] 103
56/7 <
47+
71> <
♂ Raden Mas Sayid Imran / Kanjeng Raden Tumenggung Purwonegoro [Hb.6.20.20] (Kanjeng Raden Tumenggung Joyonegoro II) 105
57/7 <
47+
72> <
♀ Raden Ayu Roosinah [Hb.6.20.22] (Raden Ayu Purbocaroko) 106
58/7 <
47+
72> <
♂ Raden Mas Suwondo [Hb.6.20.24] (Raden Ngabehi Purwodiprojo) 107
59/7 <
47+
72> <
♂ Raden Mas Suwandi [Hb.6.20.25] (Raden Wedana Suryowimono) 108
60/7 <
47+
72> <
♀ Raden Ayu Roostirah [Hb.6.20.26] (Raden Ayu Suryodirjokusumo) 109
61/7 <
47+
72> <
♀ Raden Ajeng Roosimah [Hb.6.20.27] (Raden Ayu Suryodirjokusumo) 110
62/7 <
47+
72> <
♀ Raden Ayu Roosjiyah [Hb.6.20.28] (Raden Ayu Wigyokusumo) 111
63/7 <
47+
72> <
♀ Raden Ayu Roossiyah/Roosijah [Hb.6.20.29] (Raden Ayu Suwandhi H.) 113
64/7 <
46+
49!> <
♀ Raden Ayu Siti Katina [Ga.Hb.8.1] [Hb.6.11.1] 117
66/7 <
27+
32> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Chondrokirono II [Hb.7.54] 125
71/7 <
27> <
♂ Gusti Bendoro Pangeran Haryo Pakuningrat [Hb.7.41] 127
73/7 <
27> <
♂ Bendoro Raden Mas Hirawan [Hb.7.48] 128
74/7 <
57> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Yudonegoro IV (Mas.Gandakusuma) 129
75/7 <
49+
46!> <
♂ Kanjeng Pangeran Haryo Suryadi [Hb.6.11.9] 130
76/7 <
46+
54> <
♀ Raden Ayu Mangunjoyo I [Hb.5.8.2] [Hb.6.11.11] (Raden Ajeng Mustinah) 131
77/7 <
46+
49!> <
♂ Raden Lurah Suryodiprojo I [Hb.5.8.3] [Hb.6.11.13] (Raden Mas Jiwanjono) 132
78/7 <
46+
49!> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Puspodiningrat [Hb.5.8.4] [Hb.6.11.20] 133
79/7 <
49+
46!> <
♀ Raden Ayu Mangkukusumo [Hb.5.8.5] [Gp.Hb.7.17.1] [Hb.6.11.22] (Raden Ajeng Kusdilah / Raden Ayu Mangkukusumo Sepuh) 134
80/7 <
46+
49!> <
♀ Raden Ayu Hatmosutejo [Hb.5.8.6] [Hb.6.11.23] 135
81/7 <
46+
49!> <
♀ Raden Ayu Sujono Tirtokusumo [Hb.5.8.7] / Raden Ajeng Kadawarwati [Hb.6.11.24] 136
82/7 <
46+
49!> <
♀ Raden Ayu Wironegoro [Hb.5.8.8] / Raden Ajeng Sumardiyah [Hb.6.11.25] 137
83/7 <
46+
49!> <
♂ Raden Panji Joyowiloyo [Hb.5.8.9] / Raden Mas Dekok Van Lewen [Hb.6.11.26] 138
84/7 <
52+
48!> <
♂ Raden Mas Soecipto Hadiwijoyo [Hb.5.9.1] 139
85/7 <
48+
52!> <
♂ Raden Mas Soengkowo Hadiwijoyo [Hb.5.9.2] 140
86/7 <
52+
48!> <
♂ Raden Mas Dracman Sahid Hadiwijoyo [Hb.5.9.3] 141
87/7 <
48> <
♀ Raden Ayu Jaenab [Hb.3.2.22.1.2] 142
88/7 <
48> <
♀ Raden Ayu Maemunah [Hb.3.2.22.1.3] 143
89/7 <
48> <
♀ Raden Ayu Khatijah [Hb.3.2.22.1.4] 144
90/7 <
48+
252!> <
♀ Raden Ayu Salamah Soetomo [Hb.3.2.22.1.5] 146
91/7 <
32+
95> <
♂ Raden Mas Atmosutejo [Hb.3.14.3.2] / [Hb.6.8.1] 147
92/7 <
32+
95> <
♀ Raden Ayu Klayunedeng [Hb.3.14.3.3] / [Hb.6.8.2] 148
93/7 <
61+
108> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Mulyokusumo [Hb.4.9.1.1.1] / Kanjeng Raden Tumenggung Dodipuro [Hb.4.8.5.1.1] 149
94/7 <
61+
108> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Kromodeksono [Hb.4.9.1.1.2] / [Hb.4.8.5.1.2] 150
95/7 <
41+
101> <
♂ Raden Mas Suryodirjo [Hb.6.5.8] 151
96/7 <
41+
101> <
♀ Raden Ayu Projodipuro [Hb.6.5.7] 152
97/7 <
41+
101> <
♀ Raden Ajeng Suyatinah [Hb.6.5.6] 153
98/7 <
41+
101> <
♂ Raden Lurah Atmosuwarno [Hb.6.5.5] 154
99/7 <
41+
101> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Purbonegoro [Hb.6.5.4] 155
100/7 <
41+
101> <
♀ Raden Ajeng Suyadiah [Hb.6.5.3] 156
101/7 <
27+
33> <
♀ Bendoro Raden Ayu Purbonegoro [Hb.7.21] 157
102/7 <
41+
101> <
♀ Raden Ayu Purbokusumo [Hb.6.5.2] 158
103/7 <
41+
101> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Danuhadiningrat [Hb.6.5.1] 159
104/7 <
44+
105> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Purbokusumo [Hb.6.9.3] 162
106/7 <
44+
103> <
♂ Raden Wedono Atmowerdoyo [Hb.6.9.1] 163
107/7 <
44+
104> <
♂ Raden Lurah Sosrowirono [Hb.6.9.2] 164
108/7 <
44+
105> <
♂ Raden Lurah Sosrosebrongto [Hb.6.9.5] 165
109/7 <
44+
105> <
♂ Raden Mas Samsidi [Hb.6.9.16] 166
110/7 <
44+
104> <
♀ Raden Ayu Gondokusumo [Hb.6.9.6] 167
111/7 <
44> <
♀ Raden Ayu Mangunkusumo [Hb.6.9.7] 168
112/7 <
44+
105> <
♀ Raden Ayu Purboningrat [Hb.6.9.8] 169
113/7 <
44+
105> <
♀ Raden Ayu Hadiningrat [Hb.6.9.9] 170
114/7 <
44+
105> <
♀ Raden Ayu Purbohadiningrat [Hb.6.9.11] 171
115/7 <
44+
105> <
♂ Raden Bekel Atmosudirjo [Hb.6.9.12] 172
116/7 <
44> <
♀ Raden Ajeng Isdiyah [Hb.6.9.13] 173
117/7 <
44> <
♂ Raden Lurah Atmosutejo [Hb.6.9.14] 174
118/7 <
44+
105> <
♀ Raden Ayu Kartokusumo [Hb.6.9.15] 175
119/7 <
27> <
♂ Bendoro Raden Mas Subono [Hb.7.70] 176
120/7 <
46+
56> <
♀ Raden Ajeng Manyar [Hb.6.11.2] 177
121/7 <
46+
56> <
♂ Raden Mas Dikwanis [Hb.6.11.3] (Raden Tumenggung Prawirodirejo) 178
122/7 <
46+
56> <
♂ Raden Mas Kiswarin [Hb.6.11.4] 179
123/7 <
46+
56> <
♂ Raden Mas Kodrat Samadikun [Hb.6.11.5] 180
124/7 <
46+
56> <
♀ Raden Ajeng Karsinah [Hb.6.11.6] 181
125/7 <
46+
56> <
♂ Raden Mas Mursidi [Hb.6.11.7] (Raden Tumenggung Jogonegoro) 184
127/7 <
27+
48> <
♀ Bendoro Raden Ayu Jatikusumo [Hb.7.78] (R. A. Soeharsi Widianti) 186
129/7 <
46+
54> <
♂ Raden Sayid Ashar [Hb.6.11.10] 188
131/7 <
46+
54> <
♂ Raden Tumenggung Condroprojo / Raden Mas Mursahadah [Hb.6.11.19] 189
132/7 <
46+
64> <
♂ Raden Mas Rebuahsasi [Hb.6.11.27] (Raden Bagus Kusumohalpito) 190
133/7 <
46+
63> <
♀ Raden Ajeng Siti Mardinah / Raden Ayu Projosastrokusumo [Hb.6.11.29] 191
134/7 <
46+
62> <
♀ Raden Ayu Kusumodilogo / Raden Ajeng Siti Rokhiyah [Hb.6.11.30] 192
135/7 <
46+
63> <
♀ Raden Ajeng Napsiah [Hb.6.11.31] 193
136/7 <
46+
60> <
♂ Raden Mas Mungsowarat / Raden Bekel Kawindrokusumo [Hb.6.11.32] 196
139/7 <
46+
57> <
♀ Raden Ajeng Sudarmi [Hb.6.11.16] 197
140/7 <
46+
62> <
♂ Raden Mas Arwah [Hb.6.11.28] 198
141/7 <
43+
79> <
♀ Raden Ajeng Sapariyam [Hb.6.18.1] 199
142/7 <
43+
88> <
♀ Raden Ajeng Saparinten [Hb.6.18.2] 200
143/7 <
43+
88> <
♂ Raden Mas Suraji [Hb.6.18.6] 201
144/7 <
43+
80> <
♀ Raden Ayu Sapariah [Hb.6.18.5] 202
145/7 <
43+
88> <
♂ Raden Mas Sukarjo [Hb.6.18.7] 203
146/7 <
43+
86> <
♂ Raden Mas Suharji [Hb.6.18.43] 204
147/7 <
43+
90> <
♀ Raden Ajeng Atas Jinah [Hb.6.18.42] 205
148/7 <
43+
90> <
♂ Raden Mas Sudibyo [Hb.6.18.41] 206
149/7 <
43+
90> <
♀ Raden Ajeng Atas Diah [Hb.6.18.38] 207
150/7 <
43+
87> <
♂ Raden Mas Suhaji [Hb.6.18.40] 208
151/7 <
43+
90> <
♂ Raden Mas Sumintratmojo [Hb.6.18.37] 209
152/7 <
43+
90> <
♂ Raden Mas Sudarmo [Hb.6.18.36] 210
153/7 <
43+
89> <
♂ Raden Mas Sumadi [Hb.6.18.8] (Raden Mas Tirto Sudirjo) 211
154/7 <
43+
89> <
♀ Raden Ajeng Supardinah [Hb.6.18.10] 212
155/7 <
43+
87> <
♂ Raden Mas Sudibyo [Hb.6.18.39] 213
156/7 <
43+
88> <
♀ Raden Ajeng Atas Tinah [Hb.6.18.11] 214
157/7 <
43+
87> <
♀ Raden Ajeng Atas Tilah [Hb.6.18.18] 215
158/7 <
43+
88> <
♂ Raden Mas Subarjo [Hb.6.18.12] 216
159/7 <
43+
88> <
♂ Raden Mas Suparjo [Hb.6.18.30] 217
160/7 <
43+
80> <
♀ Raden Ajeng Atasilah [Hb.6.18.9] 218
161/7 <
43+
80> <
♀ Raden Ajeng Saparinah [Hb.6.18.26] 219
162/7 <
43+
80> <
♂ Raden Mas Sumitro [Hb.6.18.27] 220
163/7 <
43+
87> <
♂ Raden Mas Sudarsono [Hb.6.18.13] 221
164/7 <
43+
84> <
♂ Raden Mas Sumarman [Hb.6.18.15] (Kanjeng Pangeran Haryo Tirtodiningrat) 222
165/7 <
43+
84> <
♂ Raden Mas Sumantri [Hb.6.18.16] 223
166/7 <
43+
87> <
♂ Raden Mas Sutoatmojo [Hb.6.18.14] 224
167/7 <
43+
84> <
♀ Raden Ajeng Atas Tijah [Hb.6.18.17] 225
168/7 <
43+
86> <
♂ Raden Mas Sudiyono [Hb.6.18.19] 226
169/7 <
43+
85> <
♂ Raden Mas Suharjo [Hb.6.18.20] 227
170/7 <
43+
86> <
♂ Raden Mas Suhardi [Hb.6.18.21] 228
171/7 <
43+
86> <
♂ Raden Mas Sujoko [Hb.6.18.22] 229
172/7 <
43+
82> <
♂ Raden Mas Sumarjo [Hb.6.18.23] 230
173/7 <
43+
78> <
♂ Raden Mas Sumaryono [Hb.6.18.24] 231
174/7 <
43+
81> <
♀ Raden Ajeng Marinah [Hb.6.18.28] 232
175/7 <
43+
78> <
♂ Raden Mas Suprapto [Hb.6.18.25] 233
176/7 <
43+
92> <
♂ Raden Mas Kasan (Twins/Kembar) [Hb.6.18.33] 234
177/7 <
43+
81> <
♀ Raden Ajeng Suwarti [Hb.6.18.29] 235
178/7 <
43+
92> <
♂ Raden Mas Kusen (Twins/Kembar) [Hb.6.18.34] 236
179/7 <
43+
91> <
♀ Raden Ajeng Suparjiah [Hb.6.18.35] 237
180/7 <
43+
81> <
♂ Raden Mas Sudiro [Hb.6.18.31] 238
181/7 <
43+
92> <
♂ Raden Mas Jonobiraji [Hb.6.18.32] 239
182/7 <
43+
84> <
♀ Raden Ajeng Atas Pinah [Hb.6.18.44] 240
183/7 <
43+
83> <
♀ Raden Ajeng Atas Jinah [Hb.6.18.45] 241
184/7 <
43+
78> <
♀ Raden Ajeng Atas Warin [Hb.6.18.4] 247
188/7 <
42+
102> <
♀ Raden Ayu Yudodiningrat [Hb.6.23.1] 248
189/7 <
42+
102> <
♀ Raden Ayu Salsiah Padmosudirjo [Hb.6.23.2] 249
190/7 <
42+
102> <
♀ Raden Ayu Kusdinah Danuseputro [Hb.6.23.4] 250
191/7 <
42> <
♂ Raden Wedono Puspodirjo [Hb.6.23.3] (Kanjeng Raden Tumenggung Padmodiningrat) 251
192/7 <
27> <
♀ Bendoro Raden Ayu Mangunkusumo [Hb.7.71] 252
193/7 <
27+
34> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Kusjinah [Hb.7.2] / Raden Ayu Kanjeng Gusti 253
194/7 <
27+
34> <
♀ Bendoro Raden Ayu Gusti Timur [Hb.7.3] (Gusti Raden Ayu Pembayun) 255
196/7 <
27+
35> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Partilah [Hb.7.6] 257
198/7 <
27+
35> <
♀ Gusti Bendoro Raden Ayu Sosronegoro [Hb.7.11] 258
199/7 <
27+
32+
35> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Bendoro III [Hb.7.51] 259
200/7 <
27+
40> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Murlintangpajar [Hb.7.50] 260
201/7 <
27+
39> <
♀ Gusti Bendoro Raden Ayu Brongtodiningrat I [Hb.7.47] 261
202/7 <
27+
41> <
♀ Gusti Bendoro Raden Ayu Joyodipuro [Hb.7.46] 262
203/7 <
27+
40> <
♂ Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryobrongto [Hb.7.45] 263
204/7 <
27+
32> <
♀ Gusti Raden Ajeng Mursamsilah [Hb.7.44] 264
205/7 <
27+
30> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Bendoro II [Hb.7.43] 266
207/7 <
27+
30> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Hanom [Hb.7.40] 267
208/7 <
27+
31> <
♀ Bendoro Raden Ayu Condroprojo [Hb.7.39] (Gusti Bendoro Raden Ayu Wiryokusumo) 268
209/7 <
27+
47> <
♂ Bendoro Radem Mas Samsuyobali [Hb.7.77] 269
210/7 <
27+
44> <
♂ Bendoro Raden Mas Sumaulngirki [Hb.7.73] 270
211/7 <
27+
40> <
♂ Bendoro Raden Mas Pujiarjo [Hb.7.57] 271
212/7 <
27+
49> <
♂ Bendoro Raden Mas Prawoto [Hb.7.63] 273
214/7 <
27+
50> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Murharidah [Hb.7.67] 274
215/7 <
27+
44> <
♂ Gusti Bendoro Pangeran Haryo Joyokusumo II [Hb.7.59] 275
216/7 <
27+
32> <
♂ Gusti Raden Mas Suhardi [Hb.7.35] 276
217/7 <
27+
32> <
♂ Gusti Pangeran Haryo Notoprojo [Hb.7.31] 277
218/7 <
27+
38> <
♂ Bendoro Raden Mas Timur [Hb.7.25] 279
220/7 <
27+
30> <
♀ Gusti Raden Ajeng Murhadiyah [Hb.7.28] 280
221/7 <
27+
30> <
♂ Gusti Raden Mas Sukirno [Hb.7.29] 284
225/7 <
27+
38> <
♀ Gusti Kanjeng Ratu Hangger II [Hb.7.33] 286
227/7 <
27+
31> <
♀ Gusti Bendoro Raden Ayu Yudonegoro II [Hb.7.19] (Bendoro Raden Ayu Cokdrodiningrat) 289
230/7 <
27+
50> <
♀ Gusti Bendoro Raden Ayu Suryonegoro [Hb.7.76] 290
231/7 <
45> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Suryonegoro [Hb.6.22.2] 291
232/7 <
27> <
♀ Gusti Bendoro Raden Ayu Brongtodiningrat II [Hb.7.74] 299
240/7 <
57+
286!> <
♀ Raden Ajeng Suharti [Hb.7.19.1] (Bendoro Raden Ayu Suryohamijoyo) 300
241/7 <
39+
99> <
♀ Raden Ayu Hadinegoro [Gp.Hb.7.13.1] [Hb.6.13.7] 302
242/7 <
62+
109> <
♂ Raden Mas Prawironingrat 303
243/7 <
62+
109> <
♂ Raden Mas Notoningrat Soetjipto 304
244/7 <
62+
109> <
♂ Raden Mas Soeprapto 305
245/7 <
62+
109> <
♀ R. A. Martodirdjo 306
246/7 <
62+
109> <
♂ Raden Mas Soerojo Sosroningrat 307
247/7 <
62+
109> <
♀ R. A. Soekapsilah 308
248/7 <
62+
109> <
♂ Raden Mas Soejatmo 311
249/7 <
62+
109> <
♂ Raden Mas Santjojo Sosroningrat 312
250/7 <
62+
109> <
♀ R. A. Catharina Soekirin Sosroningrat 313
251/7 <
30> <
♀ R. A. Drijopoero 314
252/7 <
44+
105> <
♀ Bendara Raden Ayu Koeshartati 8
401
4/8 <
128> <
♀ MAS Ajeng Cakrawedana / Krat Tjokrowedono lahir: sepuh BUPATI BANYUMAS II/ BUPATI CILACAP I
380
5/8 <
82+
154> <
♀ Raden Ajeng Kartini ? (Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat) 372
6/8 <
82> <
♂ Pangeran Adipati Ario Sosro Boesono / Pangeran Adipati Ario Sosrobusono pekerjaan: 1905 - 1943, Ngawi, Bupati Ngawi
Bupati Ngawi
388
7/8 <
72> <
♀ Bendoro Raden Ayu Pintokopurnomo [Ga.Hb.9.1] [Hb.6.11.18.1] (Kanjeng Ratu Ayu Pintokopurnomo) 344
8/8 <
63+
131> <
♂ w Bendoro Raden Mas Tinggartala/Tingharto [Hb.8.14] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabuningrat) lahir: 8 Juni 1911, Yogyakarta
pekerjaan: Universitas Islam Indonesia, Rektor
wafat: 31 Agustus 1982, Yogyakarta
315
9/8 <
63+
77!> <
♂ Kanjeng Sultan Hamengku Buwono IX [Hb.8.16] (Gusti Raden Mas Dorodjatun) lahir: 12 April 1912, Ngasem (Kediri), Indonesia
perkawinan: <
228> <
♀ Kanjeng Ratu Ayu Ciptomurti [Ga.Hb.9.4] [Hb.7.74.2] d. 30 Maret 1980
gelar: 1915, Yogyakarta,
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putera Narendra ing Mataramperkawinan: <
388!> <
♀ Bendoro Raden Ayu Pintokopurnomo [Ga.Hb.9.1] [Hb.6.11.18.1] (Kanjeng Ratu Ayu Pintokopurnomo) b. 22 November 1910, Yogyakarta
gelar: 18 Maret 1940 - 1 Oktober 1988, Yogyakarta,
Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningratperkawinan: <
229> <
♀ Bendoro Raden Ayu Widyaningrum [Ga.Hb.9.2] ? (Kanjeng Ratu Ayu Widyaningrum / Raden Ayu Siti Kustina, Purwowinoto) b. 1928
pekerjaan: 17 Agustus 1945 - 1 Oktober 1988, Yogyakarta,
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakartaperkawinan: <
230> <
♀ Kanjeng Ratu Ayu Hastungkoro [Ga.Hb.9.3] [Hb.7.13.18.2] (Bendoro Raden Ajeng Kusyadinah) , Yogyakarta
pekerjaan: 4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949, Jakarta,
Menteri Pertahanan Indonesia ke-5pekerjaan: 6 September 1950 - 27 April 1951, Jakarta,
Wakil Perdana Menteri Indonesia ke-5pekerjaan: 3 April 1952 - 30 Juli 1953, Jakarta,
Menteri Pertahanan Indonesia ke-5pekerjaan: 25 Juli 1966 - 24 Maret 1973, Jakarta,
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia ke-1pekerjaan: 24 Maret 1973 - 23 Maret 1978, Jakarta,
Wakil Presiden Indonesia ke-2perkawinan: <
231> <
♀ Kanjeng Ratu Ayu Nindyakirono [Ga.Hb.9.5] ? (Nurma Musa) b. 3 Desember 1930 d. 3 September 2015
wafat: 1 Oktober 1988, Washington, DC, USA
penguburan: 8 Oktober 1988, Imogiri
gelar: 8 Juni 2003, Jakarta,
Mendapatkan gelar Pahlawan Nasional IndonesiaSri Sultan Hamengkubuwana IX (Bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwono IX), lahir di Sompilan Ngasem, Yogyakarta, Indonesia, 12 April 1912 – meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun. Ia adalah salah seorang Sultan yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta (1940-1988) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973-1978. Ia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Biografi
Lahir di Yogyakarta dengan nama G.R.M. Dorojatun pada 12 April 1912, Hamengkubuwana IX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Di umur 4 tahun Hamengkubuwana IX tinggal pisah dari keluarganya. Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau berkuliah di Rijkuniversiteit (sekarang Universiteit Leiden), Belanda ("Sultan Henkie").
Hamengkubuwana IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar "Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga". Ia merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat "Istimewa".
[1] Sebelum dinobatkan, Sultan yang berusia 28 tahun bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adams mengenai otonomi Yogyakarta. Di masa Jepang, Sultan melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan bersama Pakualam adalah penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I.
Peran dalam Serangan Umum 1 Maret 1949
[2] Peranan Sultan Hamengkubuwana IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh TNI masih tidak singkron dengan versi Soeharto. Menurut Sultan, beliaulah yang melihat semangat juang rakyat melemah dan menganjurkan serangan umum. Sedangkan menurut Pak Harto, beliau baru bertemu Sultan malah setelah penyerahan kedaulatan. Sultan menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak mendapat gaji semenjak Agresi Militer ke-2.
Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.
Beliau ikut menghadiri perayaan 50 tahun kekuasaan Ratu Wilhelmina di Amsterdam, Belanda pada tahun 1938
Minggu malam 2 Oktober 1988, ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia.
Sultan Hamengku Buwana IX tercatat sebagai Gubernur terlama yang menjabat di Indonesia antara 1945-1988 dan Raja Kesultanan Yogyakarta terlama antara 1940-1988.
Silsilah
Mata uang Indonesia yang bergambar Hamengkubuwana IXAnak kesembilan dari Sultan Hamengkubuwono VIII dan istri kelimanya RA Kustilah/KRA Adipati Anum Amangku Negara/Kanjeng Alit.
Memiliki lima istri:
1.BRA Pintakapurnama/KRA Pintakapurnama tahun 1940
2.RA Siti Kustina/BRA Windyaningrum/KRA Widyaningrum/RAy Adipati Anum, putri Pangeran Mangkubumi, tahun 1943
3.Raden Gledegan Ranasaputra/KRA Astungkara, putri Raden Lurah Ranasaputra dan Sujira Sutiyati Ymi Salatun, tahun 1948
4.KRA Ciptamurti
5.Norma Musa/KRA Nindakirana, putri Handaru Widarna tahun 1976
Memiliki lima belas putra:
1.BRM Arjuna Darpita/KGPH Mangkubumi/KGPAA Mangkubumi/Sri Sultan Hamengkubuwono X dari KRA Widyaningrum
2.BRM Murtyanta/GBPH Adi Kusuma/KGPH Adi Kusuma dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan Dr. Sri Hardani
3.BRM Ibnu Prastawa/GBPH Adi Winata dari KRA Widyaningrum, menikah dengan Aryuni Utari
4.BRM Kaswara/GBPH Adi Surya dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan Andinidevi
5.BRM Arumanta/GBPH Prabu Kusuma dari KRA Astungkara, menikah dengan Kuswarini
6.BRM Sumyandana/GBPH Jaya Kusuma dari KRA Windyaningrum
7.BRM Kuslardiyanta dari KRA Astungkara, menikah dengan Jeng Yeni
8.BRM Anindita/GBPH Paku Ningrat dari KRA Ciptamurti, menikah dengan Nurita Afridiani
9.BRM Sulaksamana/GBPH Yudha Ningrat dari KRA Astungkara, menikah dengan Raden Roro Endang Hermaningrum
10.BRM Abirama/GBPH Chandra Ningrat dari KRA Astungkara, menikah dengan Hery Iswanti
11.BRM Prasasta/GBPH Chakradiningrat dari KRA Ciptamurti, menikah dengan Lakhsmi Indra Suharjana
12.BRM Arianta dari KRA Ciptamurti, menikah dengan Farida Indah.
13.BRM Sarsana dari KRA Ciptamurti
14.BRM Harkamaya dari KRA Ciptamurti
15.BRM Svatindra dari KRA Ciptamurti
Memiliki tujuh putri:
1.BRA Gusti Sri Murhanjati/GKR Anum dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan Kolonel Budi Permana/KPH Adibrata yang menjadi Gubernur Sulawesi Selatan
2.BRA Sri Murdiyatun/GBRAy Murda Kusuma dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan KRT Murda Kusuma
3.BRA Dr Sri Kuswarjanti/GBRAy Dr. Riya Kusuma dari KRA Widyaningrum, menikah dengan KRT Riya Kusuma
4.BRA Dr Sri Muryati/GBRAy Dr. Dharma Kusuma dari KRA Pintakapurnama, menikah dengan KRT Dharma Kusuma
5.BRA Kuslardiyanta dari KRA Ciptomurti
6.BRA Sri Kusandanari dari KRA Astungkara
7.BRA Sri Kusuladewi/BRAy Padma Kusuma dari KRA Astungkara, menikah dengan KRT Padma Kusuma
Pendidikan
Taman kanak-kanak atau Frobel School asuhan Juffrouw Willer di Bintaran Kidul
Eerste Europese Lagere School (1925)
Hogere Burger School (HBS, setingkat SMP dan SMU) di Semarang dan Bandung (1931)
Rijkuniversiteit Leiden, jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia) kemudian ekonomi
Jabatan
Sultan Hamengkubuwana IX dalam masa Revolusi Nasional Indonesia sekitar akhir 1940-an.Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945)
Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947)
Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947 - 11 November 1947 dan 11 November 1947 - 28 Januari 1948)
Menteri Negara pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949)
Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949)
Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 - 6 September 1950)
Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 - 27 April 1951)
Ketua Dewan Kurator Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1951)
Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (1956)
Ketua Sidang ke 4 ECAFE (Economic Commision for Asia and the Far East) dan Ketua Pertemuan Regional ke 11 Panitia Konsultatif Colombo Plan (1957)
Ketua Federasi ASEAN Games (1958)
Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5 Juli 1959)
Ketua Delegasi Indonesia dalam pertemuan PBB tentang Perjalanan dan Pariwisata (1963)
Menteri Koordinator Pembangunan (21 Februari 1966)
Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 (Maret 1966)
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1968)
Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia/KONI (1968)
Ketua Delegasi Indonesia di Konferensi Pasific Area Travel Association (PATA) di California, Amerika Serikat (1968)
Wakil Presiden Indonesia (25 Maret 1973 - 23 Maret 1978)
Pahlawan Nasional
Hamengkubuwana IX diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia tanggal 8 Juni 2003 oleh presiden Megawati Soekarnoputri
322
10/8 <
63+
130> <
♂ Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryobrongto [Hb.8.23] (Bendoro Raden Mas Alposuatlamin) G.B.P.H. Suryobrongto. Putra Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, lahir tanggal 11 Nopember 1914 dan menamatkan pendidikan AMS jurusan Sastra Timur tahun 1936. Beliau belajar menari sejak kecil dan terus mendalami tari hingga dewasa. Dalam pagelaran-pagelaran wayang wong di Kraton beliau pernah berperan sebagai Pathut Guritno, Bathara Bromo, dan R. Gathotkoco, dalam Beksan Lawung bertindak sebagai lurah.
Secara khusus beliau berguru tari kepada G.P.H Tedjokusumo, K.R.T Condrodiningrat, RM. Dutodiprojo, K.R.T. Padmodiningrat, R.W. Hatmodijoyo dan KPH Brongtodiningrat. Beliau pernah menjabat sebagai sekretaris pribadi Sri Sultan Hamengku Buwana IX, aktif ikut serta mengembangkan tari klasik gaya Yogyakarta. Pada Tahun 1933-1944 menjadi guru tari klasik di Krida Beksa Wirama, menjadi guru tari di Kraton Yogyakarta ( 1944-1945) dan menjadi guru tari di Among Beksa Kraton Yogyakarta dan pernah mengajar Akademi Tari Indonesia Yogyakarta ( 1967-1969).
Suryobrongto secara khusus juga menekuni filsafat Joged Mataram. Karya-karya tulis di bidang tari antara lain : Tari Klasik Gaya Yogyakarta, Kaidah Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Selain memberi ceramah-ceramah mengenai tari klasik, ikut mengembangkan dan membuat ragam tari golek menak. Beliau ikut serta melawat ke luar negeri sebagai Art Director dari tim kesenian Siswo Among Bekso antara lain ke Eropa Barat ( 1971), Hongkong dan Jepang (1973) dan ikut serta menangani perlawatan rutin Siswo Among Bekso berpentas di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Dalam Pergelaran Langen Bekso Gagrag Ngayogyakarta tahun 1981, GBPH Suryobrongto bertindak selaku penasehat tari.
329
11/8 <
112+
149> <
♂ Kanjeng Pangeran Haryo Djatikusumo [Pb.10.23] (Bendoro Kanjeng Pangeran Haryo Purbonegoro) lahir: 1 Juli 1917, Solo
perkawinan: <
184!> <
♀ Bendoro Raden Ayu Jatikusumo [Hb.7.78] (R. A. Soeharsi Widianti) , Yogyakarta
lahir: 1 Juni 1946 - 1 Maret 1948, Rembang,
Panglima Divisi V Ronggolawe pekerjaan: 1948 - 1949, Jakarta,
Kepala Staf TNI Angkatan Darat Ipekerjaan: 1958 - 1960, Singapura,
Duta Besar RI untuk Singapurapekerjaan: 1959 - 1960, Jakarta,
Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja Ipekerjaan: 1960 - 1962, Jakarta,
Menteri Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja II pekerjaan: 1962 - 1963, Jakarta,
Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja III wafat: 4 Juli 1992
1118
13/8 <
112+
149> <
♀ G. K. R. Pembajoen 599
14/8 <
173> <
♀ Raden Ayu Surtiadiwati Suryomataram [Hb.6.9.14.1] 1090
15/8 <
185+
188> <
♀ Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani / Gusti Noeroel Gusti Noeroel terkenal memiliki paras yang cantik. Karena kecantikannya, pada saat itu Gusti Noeroel menjadi primadona di Kota Solo dan didambakan para tokoh negara. Mulai dari mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang biasa mengirimkan kado melalui sekretarisnya ke kediaman Gusti Noeroel di Pura Mangkunegaran ketika rapat kabinet digelar di Yogyakarta. Gusti Noeroel juga didambakan oleh Kolonel GPH Djatikusumo, salah seorang prajurit militer. Yang menarik adalah mantan Presiden Soekarno yang juga tertarik dengan Gusti Noeroel namun konon kalah bersaing dengan Sutan Sjahrir.[3] Tokoh negara lainnya yang mencoba meminang Gusti Noeroel adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memiliki 9 orang selir. Namun semua tokoh tersebut tidak ada satupun yang berhasil memikat hati Gusti Noeroel. Putri bangsawan ini memutuskan untuk menerima pinangan seorang militer berpangkat letnan kolonel yang bernama RM Soerjo Soejarso.
Kecantikan Gusti Noeroel yang termasyhur ini juga dibarengi dengan kepiawaiannya menari. Suatu kali, di usianya yang masih 15 tahun, Gusti Noeroel diminta datang secara khusus untuk menari di hadapan Ratu Wilhelmina di Belanda. Tarian tersebut dipersembahkan sebagai kado pernikahan Putri Juliana. Menariknya, saat itu rombongan dari Mangkunegaran tidak membawa gamelan untuk mengiringi tarian Gusti Nurul. Tarian itu diiringi alunan gamelan yang dimainkan dari Pura Mangkunegaran dan dipancarkan melalui Solosche Radio Vereeniging, yang siarannya bisa ditangkap dengan jernih di Belanda[4].
Gusti Noeroel juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang membidani berdirinya Solosche Radio Vereeniging, stasiun radio pertama di Indonesia.
366
17/8 <
63+
134> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Sutyanti [Hb.8.29] (Gusti Bendoro Raden Ayu Puspoharsono Jayaningrat) 450
18/8 <
104+
145> <
♂ Raden Mas Sudikno [Hb.6.20.21.1] (Raden Mas Mertokusumo) lahir: 7 Desember 1924, Surabaya
1110
19/8 <
301+
135> <
♂ Soediro Alimoerto lahir: 9 Agustus 1925
1111
20/8 <
309> <
♀ R. A. Maria Siti Soedarti Sosroningrat lahir: 8 September 1925, Dobo, Kepulauan Aru
Bersekolah di Middelbare Handelsschool, Tempelstraat 4 (kini Jl. Kepanjen), Surabaya. Lalu bekerja sebagai pegawai Tata Usaha di Fak. Teknik Univ. Gadjah Mada, Yogyakarta
316
21/8 <
64+
151> <
♂ Raden Mas Robert Mauritz Menot [b.VI.17.5.6] lahir: 23 Oktober 1927, Manado
perkawinan: <
238> <
♀ Toeti Sjamsuddin b. 8 Agustus 1928 d. 16 Juli 2005, Jakarta,
Immanuel Churchwafat: 20 Juni 2000, Jakarta
RM. Menot Junior, adalah putra bungsu dari RM. Menot (RM. Sujono). Pada masa penjajahan Jepang, keluarga RM. Menot (di Manado saat itu) meninggalkan rumah dan ikut bergerilya di hutan. RM. Menot Jr ini bertugas mencari makan dengan menyeberangi sungai guna menghindari tentara Jepang.
RM. Menot Jr, bekerja pada instansi pemerintah Duane (sekarang Bea dan Cukai). Beliau pernah ditugaskan di Biak, Papua pada tahun 1962-1963 saat penyerahakan Papua ke tangan Indonesia. Menurut rekan seangkatan yang hadir saat pemakaman beliau, penyerahan Papua dari Belanda kepada RI di Duane, diserahkan kepada RM. Menot. Bisa jadi beliau adalah Kepala Bea Cukai pertama di tanah Papua (Biak).
Tahun 1982 beliau pensiun dari Bea Cukai dengan kedudukan terakhir di kantor Pusat Bea Cukai Rawamangun. Setelah itu beliau masih diperbantukan di BKPM Jakarta selama 2 tahun berikutnya. Sampai dengan pensiun, mobil dinas yang dipakai tetap sama, Toyota Land Cruiser keluaran 1968. Jeep canvas istilahnya. Mobil ini tetap dipakainya sampai pensiun meski kepangkatan beliau cukup tinggi, tetapi mobilnya tidak mau diganti.
Jaman dulu, belum ada istilah gratifikasi. Setiap menjelang Natal dan Tahun Baru, parcel yang beliau terima (dikirim ke rumah), bisa memenuhi kamar seluar 3x2m. Semua disimpan di kamar itu dan tidak boleh dibuka sampai malam Natal. Setiap malam Natal dan malam Tahun Baru, banyak kolega dan saudara-saudara yang berkumpul di rumahnya di kawasan Tebet Timur. Namun, setelah beliau tidak lagi menjabat, boro-boro dateng, parcel saja tidak ada yang mampir.
Ada kisah yang disampaikan oleh supir beliau (pak Rahman), "Pernah suatu kali, Papi itu didatangi Cina di kantor. Kalau orang lain mah di kasih amplop, kalau Papi dikasih duit sekoper. Tapi tau gak, Cina itu diusir dan kopernya dibuang sama Papi ke luar kantor. Itu Papi kamu".
Ketika masih bekerja, anak-anaknya sering diajak berenang di kolam renang Bojanatirta, Rawamangun. Kolam renang yang berada di dalam lingkungan kompleks perumahan Karyawan BC (Bea dan Cukai) di Jakarta Timur. Memang hobby beliau itu olahraga. Main tennis rutin setiap minggu, tenis meja di rumah, dan terakhir yang tidak pernah lepas dari tangannya, solitaire. Ya, beliau adalah seorang pendiam, tidak banyak bicara. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk main kartu sendiri, sampai kemudian anak bungsunya rajin membelikan TTS (teka-teki silang) sepulang kuliah.
Meskipun terlahir dari bapak Jawa dan ibu Manado, sosialisasi kultural yang diterapkan pada keluarga lebih condong pada budaya Manado. Demikian pula dengan nama keluarga (fam) yang digunakan secara turun temurun, lebih mengikuti pola budaya Manado ketimbang Jawa. Oleh saudara-saudaranya dari Jogja, beliau biasa dipanggil Oom Robbi, sementara untuk ayahnya dipanggil Eyang Menot.
RM. Menot Jr meninggal di rumah sakit Mitra Jatinegara (saat ini namanya RS. Premiere Jatinegara) pada tahun 2000 dalam usia 72 tahun. Beliau memang perokok berat, bukan rokok lagi tapi cerutu. Beliau paling senang bila adik-adiknya dari Holland datang ke Jakarta, bukan cuma kangen, tapi cerutu Westmeister-nya. Jika tidak ada, maka cerutu Adipati-lah yang selalu nangkring dibibirnya.
1112
22/8 <
309> <
♀ Raden Ajeng Elisabeth Soeparti Sosroningrat lahir: 19 November 1928, Donggala
Bersekolah di Kweekschool (sekolah guru atas) Stella Duce, Jl. Sumbing no. 1, Yogyakarta. Selulus kweekschool, melanjutkan pendidikan ke Belanda. Lalu bekerja sebagai guru di SLB A, Bandung.
RA. Elisabeth Soeparti Sosroningrat tidak menikah.
414
23/8 <
111+
166> <
♂ Raden Mas Soerjodrijantoro/Suryodriyantoro [Hb.6.20.29.2] (Romo Suryo) lahir: 1930
wafat: 1992, Kuncen
1107
24/8 <
301+
135> <
♂ Bambang Sokawati Dewantara lahir: 9 Maret 1930
1113
25/8 <
309> <
♂ w Raden Mas Fransiskus Harsono Sosroningrat 330
26/8 <
68> <
♀ Raden Ayu Hardiyah [Hb.6.17.3.6] lahir: 5 Juni 1932, Yogyakarta
wafat: 3 Februari 2024, Yogyakarta
1106
27/8 <
301+
135> <
♂ Sjailendra Widjaja lahir: 28 September 1932
452
28/8 <
104+
145> <
♂ Raden Mas Soekemi Mertokoesoemo [Hb.6.20.21.3] lahir: 22 November 1932, Yogyakarta
lahir: 27 Februari 1993, Surabaya
1114
29/8 <
309> <
♀ R. A. Theresia Hartini Goestin Sosroningrat lahir: 1 Desember 1932, Semarang
Menempuh pendidikan keperawatan di RS St. Elizabeth, Candi Baru, Semarang
453
31/8 <
104+
145> <
♀ Raden Ayu Sriwidayati [Hb.6.20.21.4] lahir: 17 Oktober 1935, Yogyakarta
1115
32/8 <
309> <
♂ Raden Mas Maria Benediktus Soeprapto Sosroningrat lahir: 11 Juni 1936, Semarang
Mengecap pendidikan di IKIP Bandung.
1116
33/8 <
309> <
♂ Raden Mas Maria Emanuel Jaktiawa Amir Katamsi Sosroningrat lahir: 24 Desember 1938, Yogyakarta
Bersekolah di SMA De Brito, Yogyakarta
454
34/8 <
104+
145> <
♂ Raden Mas Soeseto Mertokoesoemo [Hb.6.20.21.5] lahir: 6 Juli 1939, Yogyakarta
1117
35/8 <
309> <
♂ Raden Mas Agustinus Maria Widodo Sosroningrat lahir: 22 Januari 1941, Surabaya
570
36/8 <
66+
150> <
♂ Raden Mas Oetomo Notodirdjo [Hb.6.17.4.7] wafat: 19 Desember 1943, Yogyakarta, Disarekan Pasarean Kuncen Yogyakarta
424
37/8 <
111+
166> <
♂ Raden Mas Roostamhadi [Hb.6.20.29.12] (Romo Chunk) lahir: 1947, Yogyakarta
575
38/8 <
66+
150> <
♂ Raden Mas Oetojo Notodirdjo [Hb.6.17.4.2] wafat: 24 Februari 1949, Yogyakarta, Disarekan Di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Yogyakarta
RM Oetojo Notodirjo memilih hidupnya masuk dalam dunia militer pasca kemerdekaan Negara indonesia. Mendaftar melalui Taruna Militiare Academie Yogyakarta atau dikenal dengan Akademi Militer Yogyakarta sebagai Angkatan Pertama, Tempat akademi militer terletak di Kodya Yogyakarta tepatnya di kecamatan Gondokusuman kelurahan Kotabaru. Secara geografis Kotabaru berbatasan dengan Kali Code dan Jogoyudan bagian sebalah barat, sebelah selatan berbatasan dengan daerah Lempuyangan Kecamatan Danurejan. Sewaktu taruna sangat cerdas dan berbakat, dibuktikan menjadi Ketua senat taruna (senator Prases) dalam AM Yogyakarta angkatan I sebagai pimpinan dari korp taruna. Senat taruna tidak hanya mengurusi organisasi intern di akademi saja, tetapi juga melakukan hubungan dengan akademi militer, atau organisasi kelaskaran lain
[1] - Makalah PEMBENTUKAN AKADEMI MILITER YOGYAKARTA 1945-1950 oleh Kuswono. RM Oetojo Notodirdjo juga menjadi lulusan terbaik angkatan pertama Akademi Militer Yogyakarta, yang nantinya pula menjadi pengasuh yang mendampingi para
cadet
Saat Agresi Militer II, tepatnya pada tanggal 24 februari 1949 meletuslah pertempuran sengit di dekat desa plataran, yang mengakibatkan banyak cadet dan pejuang gugur, diantaranya yang gugur adalah Letda Thobias Pasuat Kandou, Vaandrig Cadet Anto Soegijarto, Vaandrig Cadet Abdoel Djalil, Vaandrig Cadet Sarsanto, Letda R.M. Oetojo Notodirdjo, dan Letda Koesnodanoedjo, Letda R. Sukoco, Vaandrig Cadet Husen, Vaandrig Cadet Sumartal, Vaandrig Cadet Susanto, Vaandrig Cadet Suharsono dan Vaandrig Cadet Subiyakto [2] [3].
RM Oetojo Notodirdjo selaku pimpinan, menunjukan ketauladanannya dengan mengambil alih sepucuk Bren dari seorang kadet yang luka parah, ia berusaha menahan gerak maju tentara Belanda dan melindungi para kadet yang sedang mundur, sampai akhirnya ia sendiri gugur. Nama almarhum diabadikan sebagai nama Lapangan Halang Rintang R.M. Oetojo Notodirdjo di AKMIL Magelang.
319
39/8 <
64+
151> <
♀ Raden Ayu Adelheid Eva Sophia Menot [Hb.6.17.5.1] 915
40/8 <
242+
143> <
♀ Raden Ajeng Andini Dewi [Hb.7.68.15] (Bendoro Raden Ayu Hadisuryo) 574
41/8 <
66+
150> <
♂ Raden Mas Usodo Notodirdjo [Hb.6.17.4.3] 576
42/8 <
66+
150> <
♀ Raden Ayu Utari Notodirjo [Hb.6.17.4.1] 393
43/8 <
115+
599!> <
♀ Raden Ayu Japroet Saronto [Hb.7.55.3] 921
44/8 <
242+
143> <
♂ Raden Mas Sutarsin [Hb.7.68.9] wafat: 19 Desember 2019, Yogyakarta, Pemakaman Kuncen
318
45/8 <
68> <
♀ Raden Ayu Anjaswati [Hb.6.17.3.3] (Raden Ayu Suryobrongto) 323
46/8 <
69+
78!> <
♂ Raden Mas Ristidjo [Hb.6.17.2.1] 324
47/8 <
69+
78!> <
♀ Raden Ayu Sutihadinah [Hb.6.17.2.2] 326
48/8 <
69+
?> <
♂ Raden Mas Koestidjo [Hb.6.17.2.4] 328
50/8 <
68> <
♂ Raden Mas Suparto [Hb.6.17.3.4] 331
51/8 <
68> <
♂ Raden Mas Sugeng Sudarto / Kanjeng Raden Tumenggung Dutodiprojo [Hb.6.17.3.7] (Raden Bagus Sugeng Sudarto) 332
52/8 <
68> <
♂ Raden Mas Suharto Hendromardowo [Hb.6.17.3.2] 333
53/8 <
68> <
♂ Raden Mas Sutarto Hadiyuwono [Hb.6.17.3.1] 334
54/8 <
67+
153> <
♀ Raden Ayu Kusri Sulastri Sunaryo [Hb.6.17.6.3] 335
55/8 <
67+
153> <
♀ Raden Ayu Kustiati [Hb.6.17.6.2] 336
56/8 <
67+
153> <
♀ Raden Ayu Kustinah [Hb.6.17.6.1] 337
57/8 <
63+
131> <
♂ Bendoro Raden Mas Rasisulngaskari [Hb.8.22] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Bintoro) 338
58/8 <
63+
131> <
♂ Bendoro Raden Mas Mustari [Hb.8.5] 340
60/8 <
63+
132> <
♂ Bendoro Raden Mas Sungangusamsi [Hb.8.8] (Bendoro Pangeran Haryo Puruboyo) 342
62/8 <
63+
130> <
♂ Bendoro Raden Mas Sudiarso [Hb.8.10] 343
63/8 <
63+
130> <
♂ Bendoro Raden Mas Kartolo [Hb.8.13] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Mangkudiningrat) 345
64/8 <
63+
130> <
♂ Bendoro Raden Mas Duryatnanu [Hb.8.20] 346
65/8 <
63+
387!> <
♂ Bendoro Raden Mas Mahikyaun [Hb.8.21] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryowijoyo) 347
66/8 <
63+
77!> <
♂ Bendoro Raden Mas Makanulmunojati [Hb.8.27] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Pujokusumo) 348
67/8 <
63+
134> <
♂ Bendoro Raden Mas Pelukuluki [Hb.8.28] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryoputro) 349
68/8 <
63> <
♂ Bendoro Raden Mas Muposolukatini [Hb.8.25] 350
69/8 <
63+
486!> <
♂ Bendoro Raden Mas Sahadatsatir [Hb.8.32] 351
70/8 <
63+
134> <
♂ Bendoro Raden Mas Hening [Hb.8.33] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Yudonegoro) 352
71/8 <
63> <
♂ Bendoro Raden Mas Bonokamsi [Hb.8.34] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Dipoyono) 353
72/8 <
63+
134> <
♂ Bendoro Raden Mas Satriyo [Hb.8.36] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Benowo [Hb.7.7.1.1]) 354
73/8 <
63+
134> <
♂ Bendoro Raden Mas Danangjoyo [Hb.8.40] 355
74/8 <
63+
486!> <
♂ Bendoro Raden Mas Robin Haryani [Hb.8.41] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Puger) 356
75/8 <
63+
130> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Gusti Siti Sudarmiyah [Hb.8.1] (Gusti Kanjeng Ratu Pembayun) 357
76/8 <
63+
130> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Sayadi [Hb.8.3] (Gusti Bendoro Raden Ayu Sindurejo) 358
77/8 <
63+
131> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Sadari [Hb.8.4] (Gusti Bendoro Raden Ayu Purbowinoto) 359
78/8 <
63+
130> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Kadarmi [Hb.8.6] (Gusti Bendoro Raden Ayu Jayaningrat) 360
79/8 <
63+
132> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Kajananywo [Hb.8.11] (Gusti Bendoro Raden Ayu Joyowinoto) 361
80/8 <
63+
132> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Nurywadinah [Hb.8.15] (Gusti Bendoro Raden Ayu Condrodiningrat) 362
81/8 <
63+
130> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Kuswanayi 363
82/8 <
63+
132> <
♀ Bendor Raden Ajeng Siti Sriwayati [Hb.8.18] (Gusti Bendoro Raden Ayu Purboseputro) 364
83/8 <
63+
131> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Swandari [Hb.8.19] (Bendoro Raden Ayu Purwodiningrat) 365
84/8 <
63+
131> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Hilalulngasarati [Hb.8.24] (Gusti Bendoro Raden Ayu Kusumodiningrat) 367
85/8 <
63+
134> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Pandansari [Hb.8.31] (Gusti Bendoro Raden Ayu Sumarman) 368
86/8 <
63+
486!> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Mutosangilun [Hb.8.12] 369
87/8 <
63+
486!> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Prayuti [Hb,8.37] 370
88/8 <
63+
134> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Widyastuti [Hb.8.38] (Bendoro Raden Ayu Suwarno Handayaningrat) 371
89/8 <
63+
486!> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Sutarmin [Hb.8.39] 373
90/8 <
82+
?> <
♀ Raden Ayu Sulastri 374
91/8 <
82+
?> <
♀ Raden Ayu Rukmini 375
92/8 <
82+
?> <
♀ Raden Ayu Kardinah Ist RMAA Reksonegoro, Bupati Tegal
376
93/8 <
82+
?> <
♀ Raden Ayu Kartinah 377
94/8 <
82+
?> <
♂ Raden Mas Panji Muljono 378
95/8 <
82+
?> <
♀ Raden Ayu Sumantri 379
96/8 <
82+
?> <
♂ Raden Mas Panjiruwito 381
97/8 <
82+
155> <
♂ Raden Mas Sosrokartono 382
98/8 <
84> <
♀ Raden Ayu Saelah [Hb.6.20.1.1] (Raden Ayu Prawirodiharjo) 383
99/8 <
84> <
♀ Raden Ayu Sayatijah [Hb.6.20.1.2] (Raden Ayu Kusumobroto) 384
100/8 <
84> <
♂ Raden Mas Untung [Hb.6.20.1.3] (Raden Lurah Yudowinoto) 385
101/8 <
84> <
♂ Raden Mas Sabar [Hb.6.20.1.4] (Raden Bagus Joyoprayitno) 387
102/8 <
157+
159!> <
♀ Bendoro Raden Ayu Rukmidiningdia [Ga.Hb.8.4] [Hb.6.9.3.1] (Bendoro Raden Ayu Rukhihadiningdyah) 389
103/8 <
121+
172> <
♂ Raden Lurah Ronoseputro [Hb.7.13.18] (Raden Gledegan Ronoseputro) 390
104/8 <
115+
599!> <
♂ Raden Mas Mesyas F. Pannie [Hb.6.9.14.1.1] 391
105/8 <
115+
599!> <
♂ Raden Mas Jegot [Hb.7.55.1] 392
106/8 <
115+
599!> <
♂ Raden Mas Grangsang S. [Hb.7.55.2] 394
107/8 <
115+
599!> <
♀ Raden Ayu Dloereg Poernomosidi Hadjisaroso [Hb.7.55.4] 395
108/8 <
115+
599!> <
♀ Raden Ayu Jcm. Gresah [Hb.7.55.5] (Raden Ayu Harjokusumo) 396
109/8 <
115+
599!> <
♀ Raden Ayu Semplah [Hb.7.55.6] 397
110/8 <
81+
112> <
♂ Bendoro Pangeran Haryo Pakuningrat 398
111/8 <
81+
112> <
♂ Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat ? (Hamengku Buwono VII) 399
112/8 <
81+
112> <
♀ Bendoro Raden Ayu Atmo Condrokusumo / Bendoro Raden Ajeng Siti Putria 400
113/8 <
81+
112> <
♀ Bendoro Raden Ayu Atmo Condroseputro / Bendoro Raden Ajeng Siti Surat Kabirun 402
114/8 <
83+
156> <
♀ Raden Ayu Sudiatinah [Hb.6.20.30.1] 403
115/8 <
83+
156> <
♀ Raden Ayu Sri Luhur Sudarinah [Hb.6.20.30.2] (Raden Ayu Sutiarjo) 404
116/8 <
83+
156> <
♀ Raden Ajeng Suryantinah [Hb.6.20.30.3] (Raden Ayu Juardi) 405
117/8 <
83+
157> <
♂ Raden Mas Suryadi [Hb.6.20.30.4] 406
118/8 <
83+
157> <
♂ Raden Mas Purwanto Sudiro [Hb.6.20.30.5] (Romo Poeng) 407
119/8 <
83+
157> <
♀ Raden Ajeng Sri Suwarni / Minul [Hb.6.20.30.6] (Raden Ayu Raharjodiposubroto) 408
120/8 <
83+
157> <
♂ Raden Mas Tri Suwarno [Hb.6.20.30.7] 409
121/8 <
83+
157> <
♀ Raden Ayu Nani Sudaltinah [Hb.6.20.30.8] (Raden Ayu Wahyanto) 410
122/8 <
83+
157> <
♂ Raden Mas Sudiharto [Hb.6.20.30.9] 411
123/8 <
83+
157> <
♂ Raden Mas Sudiwarno [Hb.6.20.30.10] 412
124/8 <
83+
157> <
♂ Raden Mas Budisantoso [Hb.6.20.30.11] 413
125/8 <
111+
166> <
♀ Raden Ayu Roosretnodrijanti [Hb.6.20.29.1] 415
126/8 <
111+
166> <
♂ Raden Mas Soerjodrijasmoro/Suryodriyasmoro [Hb.6.20.29.3] (Romo Dri) 416
127/8 <
111+
166> <
♂ Raden Mas Soerjodrijardono/Suryodriyardono [Hb.6.20.29.4] (Romo Don) 417
128/8 <
111+
166> <
♀ Raden Ayu Retnopugiarti [Hb.6.20.29.5] 418
129/8 <
111+
166> <
♂ Raden Mas Soerjopugiarto [Hb.6.20.29.6] (Romo Genthong) 419
130/8 <
111+
166> <
♀ Raden Ayu Retnopugiartati [Hb.6.20.29.7] 420
131/8 <
111+
166> <
♀ Raden Ayu Retnopugiartinah / [Hb.6.20.29.8] (Sitiumyumkasihan) 421
132/8 <
111+
166> <
♀ Raden Ajeng Rooswandari [Hb.6.20.29.9] (Raden Ayu Sunandar) 422
133/8 <
111+
166> <
♂ Raden Mas Rooswindo/Rooswondo [Hb.6.20.29.10] (Romo Kenthut) 423
134/8 <
111+
166> <
♂ Raden Mas Rooswindijatmo [Hb.6.20.29.11] 425
135/8 <
110+
165> <
♀ Raden Ayu Kusumardiyah [Hb.6.20.28.4] (Raden Ayu Mugiarjo) 426
136/8 <
108+
164> <
♂ Raden Mas Sutihartono Kiswarin [Hb.6.20.26.1] 427
137/8 <
108+
164> <
♀ Raden Ayu Sutihartati [Hb.6.20.26.2] (Raden Ayu Kawindro Kusumo) 428
138/8 <
108+
164> <
♀ Raden Ayu Sutihartinah [Hb.6.20.26.3] (Raden Ayu Suharjo) 429
139/8 <
107> <
♀ Raden Ajeng Kuswantinah [Hb.6.20.25.1] (Raden Ayu Ibnu Atas Pugiarto) 430
140/8 <
107> <
♀ Raden Ajeng Koeswandiyah [Hb.6.20.25.2] (Raden Ayu Siswopermadi) 431
141/8 <
107> <
♂ Raden Mas Kuswantoro [Hb.6.20.25.3] 432
142/8 <
107> <
♂ Raden Mas Kuswanadji [Hb.6.20.25.4] 433
143/8 <
107> <
♂ Raden Mas Kuswandiyono [Hb.6.20.25.5] (Romo Mentheg) 434
144/8 <
107> <
♀ Raden Ayu Kuslaswisuryantirah [Hb.6.20.25.6] (Raden Ayu Sugiantoro) 435
145/8 <
107> <
♀ Raden Ayu Kusharti [Hb.6.20.25.7] 436
146/8 <
107> <
♂ Raden Mas Kustamto [Hb.6.20.25.8] 437
147/8 <
106> <
♂ Raden Mas Ibnu Suwardo [Hb.6.20.24.1] (Romo Mamiek) 438
148/8 <
106> <
♂ Raden Mas Ibnu Suwardi [Hb.6.20.24.2] (Romo Kampiun) 439
149/8 <
106> <
♂ Raden Mas Ibnu Sudarmadji [Hb.6.20.24.3] 440
150/8 <
106> <
♀ Raden Ajeng Siti Rahmani [Hb.6.20.24.4] (Raden Ayu Kusen Notoprojo) 441
151/8 <
106> <
♀ Raden Ajeng Srikusdaryati/Sripantolo [Hb.6.20.24.5] (Raden Ayu Winarso Condrosangkoyo) 442
152/8 <
106> <
♂ Raden Mas Ibnu Atas Pugiarto [Hb.6.20.24.6] 443
153/8 <
106> <
♂ Raden Mas Ibnu Sukoraharjo [Hb.6.20.24.7] 444
154/8 <
106> <
♀ Raden Ajeng Sasiyah [Hb.6.20.24.8] 445
155/8 <
106> <
♀ Raden Ajeng Sasinah [Hb.6.20.24.9] 446
156/8 <
106> <
♂ Raden Mas Ibnu Pujiraharjo [Hb.6.20.24.10] 447
157/8 <
106> <
♀ Raden Ayu Sri Mulyani [Hb.6.20.24.11] 448
158/8 <
106> <
♂ Raden Mas Ibnu Suwarji [Hb.6.20.24.12] (Raden Mas Ibnu Mulyono) 449
159/8 <
105+
163> <
♂ Raden Mas Sukropurnadi [Hb.6.20.22.2] 451
160/8 <
104+
145> <
♂ Raden Mas Waluyo [Hb.6.20.21.2] (Raden Mas Abubakar) 455
161/8 <
103> <
♂ Raden Mas Danardono [Hb.6.20.20.1] 456
162/8 <
103> <
♂ Raden Mas Duksino [Hb.6.20.20.2] 457
163/8 <
103> <
♂ Raden Mas Sasongko [Hb.6.20.20.3] 458
164/8 <
103> <
♀ Raden Ajeng Intamiarinah [Hb.6.20.20.4] (Raden Ayu Supriyohartodo) 459
165/8 <
103> <
♀ Raden Ajeng Imtamhasriyah [Hb.6.20.20.5] (Bendoro Raden Ayu Imtamnurswidah / Raden Ayu Suwandhi) 460
166/8 <
103> <
♀ Bendoro Raden Ayu Imtamsaidjah [Hb.6.20.20.6] (Bendoro Raden Ayu Puger) 461
167/8 <
103> <
♂ Raden Mas Purnomo [Hb.6.20.20.8] 462
168/8 <
103> <
♂ Raden Mas Sutengsi [Hb.6.20.20.9] (Raden Bagus Dirjowijoyo) 463
169/8 <
103> <
♂ Raden Mas Sasitoh [Hb.6.20.20.10] 464
170/8 <
103> <
♂ Raden Mas Tjondrodi [Hb.6.20.20.11] (Raden Mas Condrodi) 465
171/8 <
103> <
♀ Raden Ayu Imtamnurnindyah [Hb.6.20.20.12] 466
172/8 <
103> <
♀ Raden Ajeng Imtamakindah [Hb.6.20.20.7] 467
173/8 <
100+
161> <
♂ Raden Mas Priyoatmojo [Hb.6.20.16.1] 468
174/8 <
100+
161> <
♂ Raden Mas Sukemi / Sukesi [Hb.6.20.16.2] (Raden Mas Cokrowandowo / Cokrowerdoyo) 469
175/8 <
100+
161> <
♀ Raden Ayu Sumaryati [Hb.6.20.16.3] (Raden Ayu Sukengsi Darmoatmojo) 470
176/8 <
100+
161> <
♂ Raden Mas Sukindar/Sukendar [Hb.6.20.16.4] 471
177/8 <
99+
159> <
♂ Raden Mas Yuwarno Slamet 472
178/8 <
93+
158> <
♂ Raden Mas Puspomadyo [Hb.6.20.9.1] (Raden Wedono Kismowijoyo) 473
179/8 <
93+
158> <
♀ Raden Ajeng Sudinah [Hb.6.20.9.2] 474
180/8 <
93+
158> <
♀ Raden Ayu Pustinah [Hb.6.20.9.3] (Bendoro Raden Ayu Retno Wilanten) 475
181/8 <
93+
158> <
♂ Raden Mas Madi [hb.6.20.9.4] (Raden Mas Puspomadwi) 476
182/8 <
93+
158> <
♂ Raden Mas Kadi [Hb.6.20.9.5] (Raden Mas Puspokane) 477
183/8 <
93+
158> <
♂ Raden Mas Ismangil [Hb.6.20.9.6] 478
184/8 <
93+
158> <
♂ Raden Mas Puspokirman [Hb.6.20.9.7] 479
185/8 <
93+
158> <
♀ Raden Ajeng Pustijah [Hb.6.20.9.8] (Raden Ayu Gondosumarto) 480
186/8 <
93+
158> <
♂ Raden Mas Pusdiyo [Hb.6.20.9.9] 481
187/8 <
93+
158> <
♀ Raden Ayu Pustirah [Hb.6.20.9.10] 482
188/8 <
87> <
♂ Raden Mas Oranyenasau [Hb.6.20.5.1] (Raden Lurah Condrosari) 483
189/8 <
87> <
♂ Raden Mas Saparjo [Hb.6.20.5.2] 484
190/8 <
87> <
♂ Raden Mas Mardowo [Hb.6.20.5.3] 485
191/8 <
87> <
♀ Raden Ayu Mardewi / Siti Umiramdilah [Hb.6.20.5.4] 486
192/8 <
87> <
♀ Raden Ayu Siti Umiramtilah / Umiramsilah [Ga.Hb.8.6] [Hb.6.20.5.5] (Bendoro Raden Ayu Retnopuspito) 487
193/8 <
87> <
♀ Raden Ayu Siti Umiramsinah [Hb.6.20.5.6] (Raden Ayu Dirjowardoyo) 488
194/8 <
87> <
♂ Raden Mas Mariyunani / [Hb.6.20.5.7] (Raden Wedana Winduwinoto) 489
195/8 <
87> <
♂ Raden Mas Insimulyono / [Hb.6.20.5.9] (Raden Bagus Seputropawoko) 490
196/8 <
87> <
♂ Raden Mas Koharin [Hb.6.20.5.8] (Raden Mas Oemar Kunsamsi) 491
197/8 <
86+
161!> <
♀ Bendoro Raden Ayu Siti Kadariyah [Hb.7.20.3] (Bendoro Raden Ayu Jayengsastro) 492
198/8 <
86+
161!> <
♀ Bendoro Raden Ayu Siti Yukadiru [Hb.7.20.5] (Bendoro Raden Ayu Poncokusumo) 493
199/8 <
161+
86!> <
♂ Bendoro Raden Mas Sayidu [Hb.7.20.8] (Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat) 494
200/8 <
161+
86!> <
♂ Bendoro Raden Mas Ngaskarul Kadiri [Hb.7.20.12] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodipuro) 495
201/8 <
161+
86!> <
♀ Bendoro Raden Ayu Siti Yungamiru [Hb.7.20.16] (Bendoro Raden Ayu Padmonegoro) 496
202/8 <
161+
86!> <
♀ Bendoro Raden Ayu Siti Yukasanu [Hb.7.20.18] 497
203/8 <
86+
161!> <
♂ Bendoro Raden Mas Kasanusabi [Hb.7.20.28] (Kanjeng Raden Tumenggung Wiryonegoro) 498
204/8 <
85> <
♀ Raden Ajeng Jaliyah [Hb.6.20.2.1] (Raden Ayu Pringgosumarjo) 499
205/8 <
85> <
♂ Raden Mas Kuswardi [Hb.6.20.2.2] 500
206/8 <
85> <
♂ Raden Mas Kusdiyo [Hb.6.20.2.3] 501
207/8 <
85> <
♀ Raden Ajeng Kodamah [Hb.6.20.2.4] 502
208/8 <
85> <
♀ Raden Ajeng Kustiyah [Hb.6.20.2.5] 503
209/8 <
85> <
♀ Raden Ajeng Kustari [Hb.6.20.2.6] 504
210/8 <
85> <
♂ Raden Mas Kusno / Raden Rio Condroseputro [Hb.6.20.2.7] (Raden Wedono Mudodikusno) 505
211/8 <
85> <
♀ Raden Ajeng Jalinah [Hb.6.20.2.8] (Raden Ayu Projosudibyo) 506
212/8 <
85> <
♂ Raden Mas Kusnadi [Hb.6.20.2.9] (Kanjeng Pangeran Tumenggung Padmonegoro) 507
213/8 <
85> <
♂ Raden Mas Sudarsono [Hb.6.20.2.10] 508
214/8 <
63+
486!> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Wahyorini [Hb.8.35] 509
215/8 <
63+
486!> <
♀ Bendoro Raden Ayu Siti Sutarsih 510
216/8 <
63+
486!> <
♂ Bendoro Raden Mas Sunuwoto [Hb.8.30] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo) 511
217/8 <
140> <
♂ Raden Mas Agoes Budiarto [Hb.5.9.3.1] 512
218/8 <
140> <
♀ Raden Ayu Tuti Sulastri [Hb.5.9.3.2] 513
219/8 <
140> <
♀ Raden Ayu Agoes Anwari [Hb.5.9.3.3] 514
220/8 <
140> <
♂ Raden Mas Agoes Wiradat [Hb.5.9.3.4] 515
221/8 <
140> <
♀ Raden Ayu Ien Harsini [Hb.5.9.3.5] 516
222/8 <
140> <
♀ Raden Ayu Siti Waito Sahid Sudarjo Hadi Atmojo [Hb.5.9.3.6] 517
223/8 <
124+
184> <
♀ Raden Ayu Brotojoyo [Hb.7.27.12] 518
224/8 <
145> <
♂ Raden Ayu Santimah Ismangun [Hb.3.2.22.1.1.1] 519
225/8 <
145> <
♀ Raden Ayu Soetimah/ [Hb.3.2.22.1.1.2] 520
226/8 <
145+
147> <
♂ Raden Mas Suryo Soeyadi [Hb.3.2.22.1.1.3] 521
227/8 <
145+
147> <
♀ Raden Ayu Soemiati / [Hb.3.2.22.1.1.4] 522
228/8 <
145+
147> <
♀ Raden Ayu Soekartini / [Hb.3.2.22.1.1.5] 524
230/8 <
145+
147> <
♀ Raden Ayu Soemarsinah Moestiono [Hb.3.2.22.1.1.7] 525
231/8 <
145> <
♀ Raden Ayu Soewarni / [Hb.3.2.22.1.1.8] 526
232/8 <
145> <
♂ Raden Mas Soewardi [Hb.3.2.22.1.1.9] 527
233/8 <
145> <
♂ Raden Mas Soebronto [Hb.3.2.22.1.1.10] 528
234/8 <
147+
186> <
♀ Raden Ayu Siti [Hb.3.14.3.3.3] / [Hb.6.8.2.3] 529
235/8 <
147+
186> <
♀ Raden Ayu Dirjo [Hb.3.14.3.3.1] / [Hb.6.8.2.1] 530
236/8 <
147+
186> <
♀ Raden Ayu Plat [Hb.3.14.3.3.2] / [Hb.6.8.2.2] 531
237/8 <
146> <
♂ Raden Mas Sutejo [Hb.3.14.3.2.1] / [Hb.6.8.1.1] 532
238/8 <
146> <
♂ Raden Mas Sutikno [Hb.3.14.3.2.2] / [Hb.6.8.1.2] 533
239/8 <
146> <
♀ Raden Ayu Sastro Utomo [Hb.3.14.3.2.3] / [Hb.6.8.1.3] 534
240/8 <
146> <
♂ Raden Mas Mujamal [Hb.3.14.3.2.4] / [Hb.6.8.1.4] 535
241/8 <
146> <
♀ Raden Ayu Joyo Indro [Hb.3.14.3.2.5] / Raden Ayu Martania [Hb.6.8.1.5] 536
242/8 <
146> <
♂ Raden Mas Suryomursand I [Hb.3.14.3.2.6] / [Hb.6.8.1.6] 537
243/8 <
146> <
♂ Raden Mujalal [Hb.3.14.3.2.7] / [Hb.6.8.1.7] 538
244/8 <
149> <
♀ Raden Ayu Kudotaruno [Hb.4.8.5.1.2.1] [Hb.4.9.1.1.2.1] 539
245/8 <
149> <
♀ Raden Ayu Atmowinoto [Hb.4.8.5.1.2.2] [Hb.4.9.1.1.2.2] 540
246/8 <
149> <
♀ Raden Ayu Sudarminah Cokrowinoto [Hb.4.8.5.1.2.3] [Hb.4.9.1.1.2.3] 541
247/8 <
183+
187> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Projodipuro [Hb.7.8.2] 542
248/8 <
160+
158!> <
♀ Raden Ayu Siti Jin Sunisai [Hb.6.5.1.1] / [Hb.7.10.1] 543
249/8 <
158+
160!> <
♂ Raden Mas Kewusnandar / Raden Panji Partodigdoyo [Hb.6.5.1.4] / [Hb.7.10.4] 544
250/8 <
158+
160!> <
♀ Raden Ayu Siti Sri Handinah S. [Hb.6.5.1.3] / [Hb.7.10.3] 545
251/8 <
158+
160!> <
♂ Raden Mas Yusupadi [Hb.6.5.1.2] / [Hb.7.10.2] 546
252/8 <
63+
387!> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Kuswanayi [Hb.8.17] (Gusti Bendoro Raden Ayu Cokrodiningrat) 547
253/8 <
86+
161!> <
♂ Bendoro Pangeran Haryo Cokrodiningrat [Hb.7.20.8] (Bendoro Raden Mas Sayidu) 548
254/8 <
159+
157!> <
♀ Raden Ayu Purbaningrum [Ga.Hb.7.20.5] [Hb.6.5.2.2] 549
255/8 <
161+
548!> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Sabikatun [Hb.7.20.26] 550
256/8 <
161+
122> <
♂ Bendoro Raden Mas Mausofi [Hb.7.20.30] 551
257/8 <
161+
122> <
♂ Bendoro Raden Mas Mashurun [Hb.7.20.19] 552
258/8 <
161+
122> <
♂ Bendoro Raden Mas Kolonel [Hb.7.20.7] (Bendoro Kanjeng Raden Tumenggung Riyokusumo) 553
259/8 <
161+
122> <
♂ Bendoro Raden Mas Sukadari [Hb.7.20.9] (Bendoro Kanjeng Raden Tumenggung Cokronegoro) 554
260/8 <
161+
122> <
♂ Bendoro Raden Mas Mukeyan [Hb.7.20.13] 555
261/8 <
161+
122> <
♂ Bendoro Raden Mas Kabinulngaskari [Hb.7.20.14] 556
262/8 <
161+
122> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Sulatun [Hb.7.20.24] 557
263/8 <
161+
122> <
♂ Bendoro Raden Mas Hertog [Hb.7.20.20] 558
264/8 <
161+
122> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Mustokirun [Hb.7.20.17] (Bendoro Raden Ayu Hangabehi) 559
265/8 <
161+
122> <
♂ Bendoro Raden Mas Saluku [Hb.7.20.11] (Bendoro Kanjeng Raden Tumenggung Purbodiningrat) 560
266/8 <
161+
122> <
♂ Bendoro Raden Mas Wafirulkotrari [Hb.7.20.4] 561
267/8 <
157+
159!> <
♂ Raden Mas Sulalonkorn [Hb.6.5.2.3] 562
268/8 <
159+
157!> <
♀ Raden Ayu Hadikusumo Sepuh [Gp.Hb.7.58.1] [Hb.6.5.2.4] 563
269/8 <
167> <
♀ Raden Ayu Hadikusumo Enem [Gp.Hb.7.58.2] [Hb.6.9.7.3] 564
270/8 <
119+
562!> <
♂ Raden Mas Ngaskarun [Hb.7.58.1] (Kanjeng Raden Tumenggung Purbokusumo) 565
271/8 <
119+
562!> <
♀ Raden Ajeng Suwasti [Hb.6.5.2.4.2] [Hb.7.58.5] (Raden Ayu Suryosumarno) 566
272/8 <
154+
156!> <
♀ Raden Ajeng Niken Raketan [Hb.6.5.4.3] / Raden Ayu Santosa Harsono 567
273/8 <
151+
541!> <
♂ Raden Mas Bani [Hb.6.5.7.1] 568
274/8 <
151+
541!> <
♂ Raden Mas Mitpangun [Hb.6.5.7.2] 569
275/8 <
151+
541!> <
♀ Raden Ayu Parul Projodiningrat [Hb.6.5.7.3] 572
276/8 <
66+
150> <
♂ Raden Mas Oetarjo Notodirdjo [Hb.6.17.4.5] 573
277/8 <
66+
150> <
♀ Raden Ayu Utami Notodirjo [Hb.6.17.4.4] 577
278/8 <
241> <
♀ Raden Ayu Atasti [Hb.6.18.4.10] 578
279/8 <
162> <
♀ Raden Ayu Sosrowiryono [Hb.6.9.1.1] 579
280/8 <
162> <
♀ Raden Ayu Jayengprakoso [Hb.6.9.1.2] 580
281/8 <
162> <
♀ Raden Ayu Purwosudarmo [Hb.6.9.1.3] 581
282/8 <
162> <
♀ Raden Ajeng Muskasiyah [Hb.6.9.1.4] 582
283/8 <
168> <
♀ Raden Ayu Pringgosastrosutadikusno [Hb.6.9.8.1] 583
284/8 <
169> <
♂ Raden Mas Murhadiningrat [Hb.6.9.9.1] 584
285/8 <
114+
111> <
♀ Raden Ajeng Sukilah [Hb.6.10.1] (Raden Ayu Sukiyi) 585
286/8 <
170> <
♂ Raden Mas Atmowijoyo [Hb.6.9.11.1] 586
287/8 <
170> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Kuncorohadiningrat [Hb.6.9.11.2] 587
288/8 <
171> <
♀ Raden Ayu Harjowisastro [Hb.6.9.12.1] 588
289/8 <
171> <
♀ Raden Ayu Kusumowidagdo [Hb.6.9.12.2] 589
290/8 <
171> <
♀ Raden Ayu Dirjosukarto [Hb.6.9.12.3] 590
291/8 <
173> <
♂ Raden Mas Satrioraharjo [Hb.6.9.14.10] 591
292/8 <
173> <
♀ Raden Ayu Sumarman [Hb.6.9.14.9] 592
293/8 <
173> <
♀ Raden Ajeng Kussaptoruji [Hb.6.9.14.8] 593
294/8 <
173> <
♀ Raden Ajeng Ismihari [Hb.6.9.14.7] 594
295/8 <
173> <
♀ Raden Ajeng Sitiwidayati [Hb.6.9.14.6] 595
296/8 <
173> <
♂ Raden Mas Nukadar [Hb.6.9.14.5] 596
297/8 <
173> <
♂ Raden Mas Suprapto [Hb.6.9.14.4] 597
298/8 <
173> <
♀ Raden Nganten Yudosebrongto [Hb.6.9.14.3] 598
299/8 <
173> <
♀ Raden Ajeng Susilastuti [Hb.6.9.14.2] 600
300/8 <
174> <
♂ Raden Mas Suryokusumo [Hb.6.9.15.1] 601
301/8 <
174> <
♂ Raden Mas Ismanji [Hb.6.9.15.10] 602
302/8 <
174> <
♀ Raden Ayu Abdul Ali [Hb.6.9.15.9] 603
303/8 <
174> <
♀ Raden Ayu Darmokusumo [Hb.6.9.15.8] 604
304/8 <
174> <
♀ Raden Ayu Tjongok [Hb.6.9.15.7] 605
305/8 <
174> <
♂ Raden Mas Suwarnido [Hb.6.9.15.6] 606
306/8 <
174> <
♂ Raden Mas Djody Gondokusumo [Hb.6.9.15.5] 607
307/8 <
174> <
♂ Raden Mas Sukra [Hb.6.9.15.3] 608
308/8 <
174> <
♂ Raden Mas Suwarnio [Hb.6.9.15.4] 609
309/8 <
174> <
♀ Raden Ayu Subono [Hb.6.9.15.2] 610
310/8 <
118> <
♀ Raden Ayu Purbowinoto [Hb.7.1.1] 611
311/8 <
76> <
♂ Kanjeng Pangeran Haryo Cakraningrat [Hb.6.11.1.1] 612
312/8 <
76> <
♀ Raden Ayu Mangkudilogo [Hb.6.11.1.2] 614
314/8 <
76> <
♂ Raden Mas Joyodimurti [Hb.6.11.1.4] 615
315/8 <
76> <
♀ Raden Ajeng Subiabtinah [Hb.6.11.1.5] (Raden Ayu Harsono) 616
316/8 <
76> <
♂ Raden Mas Supomeleng [Hb.6.11.1.6] 617
317/8 <
76> <
♂ Raden Mas Ngarjani [Hb.6.11.1.7] 618
318/8 <
76> <
♀ Raden Ayu Ronggo Kusmen [Hb.6.11.1.8] 619
319/8 <
76> <
♀ Raden Ajeng Siti Rahayu Widayatinah [Hb.6.11.1.9] (Raden Ayu Mashur Tejodiningrat) 620
320/8 <
177> <
♂ Raden Panji Partowinoto [Hb.6.11.3.1] 621
321/8 <
177> <
♀ Raden Ayu Brotosudirjo [Hb.6.11.3.2] 622
322/8 <
177> <
♂ Raden Mas Henrich Van Roos [Hb.6.11.3.5] 623
323/8 <
177> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Prawirodiningrat [Hb.6.11.3.4] 624
324/8 <
177> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Prawirodirejo [Hb.6.11.3.3] 625
325/8 <
286> <
♀ Raden Ayu Prawirodirjo [Hb.7.19.2] 626
326/8 <
179+
610!> <
♀ Raden Ayu Yudoyono [Hb.6.11.5.1] [Hb.7.1.1.1] 627
327/8 <
179+
610!> <
♂ Kanjeng Pangeran Haryo Purbowinoto II [Hb.6.11.5.2] [Hb.7.1.1.2] 628
328/8 <
179+
610!> <
♂ Raden Bekel Sastroyuwono [Hb.7.1.1.8] (Raden Mas Teguh Bandarul Kabir) 629
329/8 <
179+
610!> <
♂ Raden Bekel Atmowinarno [Hb.7.1.1.7] 630
330/8 <
179+
610!> <
♀ Raden Ayu Subono [Hb.7.1.1.6] 631
331/8 <
179+
610!> <
♂ Raden Bekel Purbodikoro [Hb.7.1.1.4] 632
332/8 <
179+
610!> <
♀ Raden Ayu Siti Kumaryati [Hb.7.1.1.5] (Raden Ayu Mustejo) 633
333/8 <
179+
610!> <
♂ Raden Panji Takyidunastri [Hb.7.1.1.3] 634
334/8 <
181> <
♀ Raden Ayu Mangundipuro [Hb.6.11.7.1] 635
335/8 <
182+
959!> <
♂ Kanjeng Pangeran Haryo Purwodiningrat [Hb.7.4.1.1] 636
336/8 <
182+
959!> <
♀ Raden Ayu Labaningrat [Hb.6.11.8.2] 637
337/8 <
182+
959!> <
♀ Raden Ayu Ronggo Kusnendar [Hb.6.11.8.3] 638
338/8 <
182> <
♂ Raden Mas Suwarjono [Hb.6.11.8.4] 639
339/8 <
182+
959!> <
♂ Raden Mas Atmosudibyo [Hb.6.11.8.5] 640
340/8 <
182+
959!> <
♂ Raden Mas Lunggadung [Hb.6.11.8.6] (Raden Mas Mulasdi) 641
341/8 <
182> <
♂ Raden Mas Sukirbeman [Hb.6.11.8.9] 642
342/8 <
182> <
♂ Raden Ayu Salikun Dirjo Wiguno [Hb.6.11.8.8] 643
343/8 <
182> <
♀ Raden Ajeng Siti Sutiyarti [Hb.6.11.8.7] 644
344/8 <
195+
129!> <
♀ Raden Ayu Gunopranoto [Hb.7.22.8] 645
345/8 <
195+
129!> <
♀ Raden Ayu Suryohalpito [Hb.7.22.7] 646
346/8 <
195+
129!> <
♀ Raden Ayu Prawirodiningrat [Hb.7.22.6] 647
347/8 <
129+
195!> <
♂ Raden Panji Partowiyono [Hb.7.22.2] 648
348/8 <
195+
129!> <
♂ Raden Bekel Suryohalpito [Hb.7.22.3] 649
349/8 <
129+
195!> <
♂ Raden Lurah Atmocondropuspito [Hb.7.22.4] 650
350/8 <
129+
195!> <
♀ Raden Ajeng Kusmaryati [Hb.7.22.5] 651
351/8 <
195+
129!> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Sindurejo [Hb.7.22.1] 652
352/8 <
186> <
♀ Raden Ajeng Kusretno Kasiyah [Hb.6.11.10.1] 653
353/8 <
186> <
♂ Raden Mas Tamtanus [Hb.6.11.10.2] 654
354/8 <
186> <
♂ Raden Mas Iskandar [Hb.6.11.10.3] 655
355/8 <
186> <
♂ Raden Mas Sidarto [Hb.6.11.10.4] 656
356/8 <
186> <
♀ Raden Ayu Sayidiyah Tanidipuro [Hb.6.11.10.5] 657
357/8 <
130> <
♀ Raden Ajeng Kustinah [Hb.6.11.11.1] 658
358/8 <
74> <
♂ Raden Mas Jamburutari [Hb.6.11.12.1] 659
359/8 <
131> <
♀ Raden Ayu Kartodiprojo [Hb.6.11.13.1] 660
360/8 <
131> <
♂ Raden Lurah Suryodiprojo II [Hb.6.11.13.2] 661
361/8 <
131> <
♀ Raden Ayu Wirodiharjo [Hb.6.11.13.3] 662
362/8 <
70> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Ipji Dangunikri [Hb.6.11.14.1] 663
363/8 <
70> <
♂ Bendoro Raden Mas Najatun Ngadiati [Hb.6.11.14.2] 664
364/8 <
70> <
♂ Bendoro Raden Mas Solikut Takiyati [Hb.6.11.14.3] 665
365/8 <
71> <
♂ Raden Bekel Atmonewoko [Hb.6.11.15.1] 666
366/8 <
71> <
♀ Raden Ajeng Waskito [Hb.6.11.15.2] 667
367/8 <
71> <
♂ Raden Mas Sumarsono [Hb.6.11.15.3] 668
368/8 <
71> <
♀ Raden Ajeng Siti Mustinah [Hb.6.11.15.4] 669
369/8 <
73+
187!> <
♂ Raden Mas Maliki [Hb.6.11.17.1] 670
370/8 <
187+
73!> <
♀ Raden Ajeng Widyosastrodipuro [Hb.6.11.17.2] 671
371/8 <
73+
187!> <
♀ Raden Ajeng Atmosudibyo [Hb.6.11.17.3] 672
372/8 <
187+
73!> <
♀ Raden Nganten Noyoseputro [Hb.6.11.17.16] 673
373/8 <
73+
187!> <
♂ Raden Mas Ngantamil Manpirali Istihar [Hb.6.11.17.15] 674
374/8 <
73+
187!> <
♂ Raden Mas Joko [Hb.6.11.17.14] 675
375/8 <
73+
187!> <
♀ Raden Ajeng Siti Kurulwaswaskabil [Hb.6.11.17.13] 676
376/8 <
73+
187!> <
♀ Raden Ayu Suryoputro [Hb.6.11.17.12] 677
377/8 <
187+
73!> <
♂ Raden Bekel Suryohalpito [Hb.6.11.17.11] 678
378/8 <
73+
187!> <
♂ Raden Bekel Atmo Condrowiloyo [Hb.6.11.17.10] 679
379/8 <
73+
187!> <
♀ Raden Ajeng Siti Rohmani [Hb.6.11.17.9] 680
380/8 <
187+
73!> <
♂ Raden Lurah Atmo Condrodiprojo [Hb.6.11.17.8] 681
381/8 <
73+
187!> <
♂ Raden Wedana Joyoseputro [Hb.6.11.17.7] 682
382/8 <
187+
73!> <
♂ Raden Mas Raharjo [Hb.6.11.17.6] 683
383/8 <
187+
73!> <
♀ Raden Ajeng Siti Rupinah [Hb.6.11.17.5] 684
384/8 <
73+
187!> <
♂ Raden Mas Atmocondropuspito [Hb.6.11.17.4] 685
385/8 <
73+
187!> <
♀ Raden Ayu Suryosuparjo [Hb.6.11.17.17] 686
386/8 <
132> <
♂ Raden Mas Rio Yosodipuro [Hb.6.11.20.1] 687
387/8 <
132> <
♂ Raden Mas Kajakasari [Hb.6.11.20.2] 688
388/8 <
132> <
♀ Raden Ajeng Siti Rukmi [Hb.6.11.20.3] 689
389/8 <
132> <
♀ Raden Ayu Supardi [Hb.6.11.20.5] 690
390/8 <
132> <
♂ Raden Mas Ibnu Umar [Hb.6.11.20.4] 691
391/8 <
122+
133!> <
♀ Raden Ajeng Siti Yubeyinu [Hb.7.17.25] (Raden Ayu Pusponegoro) 692
392/8 <
122+
133!> <
♂ Raden Mas Baninaslun [Hb.7.17.28] (Kanjeng Raden Tumenggung Danukusumo) 693
393/8 <
133+
122!> <
♂ Raden Mas Abimanyu [Hb.7.17.30] (Kanjeng Raden Tumenggung Reksokusumo) 694
394/8 <
133+
122!> <
♀ Raden Ajeng Kustamtinah [Hb.7.17.33] (Raden Ayu Sinduseputro) 695
395/8 <
122+
133!> <
♂ Raden Mas Darmadi [Hb.7.17.35] 696
396/8 <
134> <
♂ Raden Mas Satryo Raharjo [Hb.6.11.23.4] 697
397/8 <
134> <
♀ Raden Ajeng Sumarman [Hb.6.11.23.3] 698
398/8 <
134> <
♀ Raden Ajeng Kussaptiriji [Hb.6.11.23..2] 699
399/8 <
134> <
♀ Raden Ajeng Siti Widyowati [Hb.6.11.23.1] 700
400/8 <
135> <
♀ Raden Ajeng Siti Sutyarti [Hb.6.11.24.1] 701
401/8 <
135> <
♀ Raden Ajeng Siti Sujati [Hb.6.11.24.2] 702
402/8 <
135> <
♂ Raden Mas Wiwoho [Hb.6.11.24.3] 703
403/8 <
135> <
♀ Raden Ajeng Siti Suryati [Hb.6.11.24.7] 704
404/8 <
135> <
♀ Raden Ajeng Siti Swati [Hb.6.11.24.5] 705
405/8 <
135> <
♀ Raden Ajeng Siti Suhatining [Hb.6.11.24.6] 706
406/8 <
135> <
♀ Raden Ajeng Siti Sudaryati [Hb.6.11.24.4] 707
407/8 <
136> <
♂ Raden Mas Kuswarddhana [Hb.6.11.25.1] 708
408/8 <
136> <
♀ Raden Ayu Yudonegoro [Hb.6.11.25.2] 709
409/8 <
189> <
♂ Raden Mas Renessanu Isboi [Hb.6.11.27.8] 710
410/8 <
189> <
♀ Raden Ajeng Siti Isbiyunu [Hb.6.11.27.6] (Raden Ayu Suharsono Hadikusumo) 711
411/8 <
189> <
♂ Raden Mas Suroso Issuwandhono [Hb.6.11.27.7] 712
412/8 <
189> <
♀ Raden Ajeng Siti Iswandari [Hb.6.11.27.5] 713
413/8 <
189> <
♀ Raden Ayu Isbiyantirin [Hb.6.11.27.4] 714
414/8 <
189> <
♀ Raden Ajeng Sosrokusumo [Hb.6.11.27.3] 715
415/8 <
189> <
♂ Raden Mas Isbenu Katamsi [Hb.6.11.27.2] 716
416/8 <
189> <
♂ Raden Mas Sidarta [Hb.6.11.27.1] 717
417/8 <
197> <
♀ Raden Ajeng Darudewi Wahyuwidayati [Hb.6.11.28.2] 718
418/8 <
197> <
♂ Raden Mas Puntodewo Cahyo Wahyudi [Hb.6.11.28.3] 719
419/8 <
197> <
♀ Raden Ajeng Puntodewi Runtung Wahyuni [Hb.6.11.28.1] 720
420/8 <
190> <
♀ Raden Ajeng Siti Kaharmiyah [Hb.6.11.29.1] 721
421/8 <
190> <
♀ Raden Ajeng Siti Sumarti [Hb.6.11.29.2] 722
422/8 <
190> <
♂ Raden Mas Jatiwirawan [Hb.6.11.29.3] 723
423/8 <
190> <
♂ Raden Mas Irawan [Hb.6.11.29.4] 724
424/8 <
190> <
♂ Raden Mas Joko Kusumo [Hb.6.11.29.5] 725
425/8 <
190> <
♂ Raden Mas Basudewo [Hb.6.11.29.6] 726
426/8 <
190> <
♀ Raden Ajeng Siti Kahariyah [Hb.6.11.29.7] 727
427/8 <
190> <
♀ Raden Ajeng Siti Haryani [Hb.6.11.29.8] 728
428/8 <
190> <
♂ Raden Mas Rupotolo [Hb.6.11.29.9] 729
429/8 <
191+
1023!> <
♀ Raden Ajeng Siti Roousmiyati [Hb.7.14.1] (Raden Ayu Jiteng Marsudi) 730
430/8 <
191+
1023!> <
♂ Raden Mas Roosmiyanto [Hb.7.14.2] 731
431/8 <
191+
1023!> <
♀ Raden Ajeng Siti Kisrunatini [Hb.7.14.3] 732
432/8 <
191+
1023!> <
♂ Raden Mas Ibnu Roosamsi [Hb.7.14.4] 733
433/8 <
191+
1023!> <
♂ Raden Mas Sumarooshaji [Hb.7.14.5] 734
434/8 <
191+
1023!> <
♂ Raden Mas Bonorassid [Hb.7.14.6] 735
435/8 <
81+
191!> <
♀ Raden Ajeng Siti Rokhyati Roosmiyatsih [Hb.7.14.7] 736
436/8 <
240> <
♂ Raden Mas Suwahyohadi [Hb.6.18.45.1] 737
437/8 <
240> <
♀ Raden Ajeng Atas Sriharjani [Hb.6.18.45.2] 738
438/8 <
240> <
♂ Raden Mas Susetyohadi [Hb.6.18.45.3] 739
439/8 <
203> <
♀ Raden Ajeng Suharmi [Hb.6.18.43.1] 740
440/8 <
227> <
♀ Raden Ajeng Siti Kusumandari [Hb.6.18.21.1] 741
441/8 <
227> <
♀ Raden Ajeng Siti Kusumastuti [Hb.6.18.21.2] 742
442/8 <
226+
190> <
♂ Raden Mas Atas Hariyono [Hb.6.18.20.1] 743
443/8 <
226+
190> <
♀ Raden Ajeng Atas Hariyani [Hb.6.18.20.5] 744
444/8 <
226+
190> <
♂ Raden Mas Atas Haripranowo [Hb.6.18.20.4] 745
445/8 <
226+
190> <
♂ Raden Mas Atas Haripranoto [Hb.6.18.20.3] 746
446/8 <
226+
190> <
♂ Raden Mas Atas Hariyanto [Hb.6.18.20.2] 747
447/8 <
225> <
♀ Raden Ajeng Sri Rahayu [Hb.6.18.19.1] 748
448/8 <
225> <
♀ Raden Ajeng Parlentien [Hb.6.18.19.2] 749
449/8 <
221+
1036!> <
♂ Raden Mas Sasongko Kumoro [Hb.7.20.15.1] 750
450/8 <
221+
1036!> <
♂ Raden Mas Suryo Kumoro [Hb.7.20.15.2] 751
451/8 <
221+
1036!> <
♀ Raden Ajeng Retno Kumoro [Hb.7.20.15.3] 752
452/8 <
224> <
♂ Raden Mas Mustikojati [Hb.6.18.17.1] 753
453/8 <
222> <
♂ Raden Mas Sudewo [Hb.6.18.16.2] 754
454/8 <
222> <
♂ Raden Mas Dewobroto [Hb.6.18.16.3] 755
455/8 <
222> <
♀ Raden Ajeng Utari [Hb.6.18.16.4] 756
456/8 <
222> <
♂ Raden Mas Susanto [Hb.6.18.16.5] 757
457/8 <
222> <
♀ Raden Ajeng Kusumaryarti [Hb.6.18.16.1] 758
458/8 <
222> <
♀ Raden Ajeng Farida Muryati [Hb.6.18.16.7] 759
459/8 <
222> <
♀ Raden Ajeng Wahyuwiyati [Hb.6.18.16.6] 760
460/8 <
224> <
♀ Raden Ajeng Susiloretno [Hb.6.18.17.2] 761
461/8 <
224> <
♀ Raden Ajeng Sukretiyowati [Hb.6.18.17.3] 762
462/8 <
224> <
♀ Raden Ajeng Sridonoharti [Hb.6.18.17.4] 763
463/8 <
224> <
♂ Raden Mas Jatmikohadi [Hb.6.18.17.5] 764
464/8 <
224> <
♀ Raden Ajeng Kuswantiyotatmi [Hb.6.18.17.6] 765
465/8 <
224> <
♀ Raden Ajeng Sudarsini [Hb.6.18.17.8] 766
466/8 <
224> <
♀ Raden Ajeng Iswarastuti [Hb.6.18.17.7] 767
467/8 <
224> <
♀ Raden Ajeng Kusumodewati [Hb.6.18.17.9] 768
468/8 <
220> <
♂ Raden Mas Usaeni [Hb.6.18.13.2] 769
469/8 <
220> <
♀ Raden Ajeng Ispahano [Hb.6.18.13.1] 770
470/8 <
223> <
♂ Raden Mas Arban [Hb.6.18.14.2] 771
471/8 <
223> <
♂ Raden Mas Armianto [Hb.6.18.14.1] 772
472/8 <
223> <
♀ Raden Ajeng Armiatun [Hb.6.18.14.3] 773
473/8 <
223> <
♀ Raden Ajeng Armiati [Hb.6.18.14.4] 774
474/8 <
223> <
♀ Raden Ajeng Armiastuti [Hb.6.18.14.5] 775
475/8 <
223> <
♀ Raden Ajeng Ardiatun [Hb.6.18.14.6] 776
476/8 <
223> <
♀ Raden Ajeng Ardaninggar [Hb.6.18.14.11] 777
477/8 <
223> <
♂ Raden Mas Arianto [Hb.6.18.14.10] 778
478/8 <
223> <
♂ Raden Mas Ardianto [Hb.6.18.14.9] 779
479/8 <
223> <
♀ Raden Ajeng Ardiati [Hb.6.18.14.8] 780
480/8 <
223> <
♂ Raden Mas Ariseno [Hb.6.18.14.7] 781
481/8 <
215> <
♂ Raden Mas Barlow Sidhanti [Hb.6.18.12.1] 782
482/8 <
215> <
♀ Raden Ajeng Bariori Atas Riati [Hb.6.18.12.2] 783
483/8 <
215> <
♀ Raden Ayu Barnisriati [Hb.6.18.12.3] 784
484/8 <
215> <
♂ Raden Mas Barnorianto [Hb.6.18.12.4] 785
485/8 <
215> <
♀ Raden Ajeng Sri Suryati [Hb.6.18.12.5] 786
486/8 <
215> <
♂ Raden Mas Bardio [Hb.6.18.12.13] 787
487/8 <
215> <
♂ Raden Mas Barmono [Hb.6.18.12.12] 788
488/8 <
215> <
♂ Raden Mas Bardono [Hb.6.18.12.11] 789
489/8 <
215> <
♀ Raden Ajeng Barsiam [Hb.6.18.12.10] 790
490/8 <
215> <
♀ Raden Ajeng Barri Hastuti [Hb.6.18.12.9] 791
491/8 <
215> <
♂ Raden Mas Raharjo [Hb.6.18.12.7] 792
492/8 <
215> <
♂ Raden Mas Kusumo Suprapto [Hb.6.18.12.8] 793
493/8 <
215> <
♀ Raden Ajeng Sri Indarti [Hb.6.18.12.6] 794
494/8 <
213> <
♀ Raden Ajeng Atas Waruti [Hb.6.18.11.5] 795
495/8 <
213> <
♀ Raden Ajeng Atas Sriyati [Hb.6.18.11.4] 796
496/8 <
213> <
♂ Raden Mas Supratiknyo [Hb.6.18.11.1] 797
497/8 <
213> <
♂ Raden Mas Suhardiman [Hb.6.18.11.2] 798
498/8 <
213> <
♀ Raden Ajeng Atas Suwartinah [Hb.6.18.11.3] 799
499/8 <
210> <
♂ Raden Mas Surodi [Hb.6.18.8.1] 800
500/8 <
202> <
♀ Raden Ajeng Atas Kartini [Hb.6.18.7.1] 801
501/8 <
198> <
♂ Raden Mas Sakirdanmerski [Hb.6.18.1.1] 802
502/8 <
198> <
♂ Raden Mas Sudiyanto [Hb.6.18.1.5] 803
503/8 <
198> <
♀ Raden Ajeng Emperatrice [Hb.6.18.1.4] 804
504/8 <
198> <
♂ Raden Mas Alberdien [Hb.6.18.1.3] 805
505/8 <
198> <
♂ Raden Mas Danurdono [Hb.6.18.1.2] 806
506/8 <
199> <
♂ Raden Mas Ibnusapari [Hb.6.18.2.1] 807
507/8 <
199> <
♀ Raden Ajeng Sri Ambarkustin [Hb.6.18.2.5] 808
508/8 <
199> <
♂ Raden Mas Ibnu Saipur [Hb.6.18.2.4] 809
509/8 <
199> <
♂ Raden Mas Alwimalebari [Hb.6.18.2.3] 810
510/8 <
199> <
♀ Raden Ajeng S. Sajarahbanun [Hb.6.18.2.2] 811
511/8 <
75> <
♂ Raden Mas Sudomo [Hb.6.18.3.3] 812
512/8 <
75> <
♀ Raden Ajeng Niniek [Hb.6.18.3.1] 813
513/8 <
75> <
♀ Raden Ajeng Kustanti [Hb.6.18.3.2] 814
514/8 <
75> <
♀ Raden Ajeng Suwasti [Hb.6.18.3.4] 815
515/8 <
75> <
♀ Raden Ajeng Sriana [Hb.6.18.3.5] 816
516/8 <
75> <
♂ Raden Mas Harjosubroto [Hb.6.18.3.6] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodiningrat) 817
517/8 <
75> <
♂ Raden Mas Harjowiono [Hb.6.18.3.7] 818
518/8 <
75> <
♀ Raden Ajeng Constantien [Hb.6.18.3.8] 819
519/8 <
75> <
♂ Raden Mas Mustolo [Hb.6.18.3.9] 820
520/8 <
75> <
♂ Raden Mas Harjo Seputro [Hb.6.18.3.10] 821
521/8 <
117+
75!> <
♂ Raden Mas Samsurohini [Hb.7.54.1] 822
522/8 <
117+
75!> <
♂ Raden Mas Mursanto [Hb.7.54.2] 823
523/8 <
75+
117!> <
♂ Raden Mas Sakuntolo [Hb.7.54.3] 824
524/8 <
75+
117!> <
♀ Raden Ajeng Suyadilah [Hb.7.54.4] 825
525/8 <
242+
142> <
♂ Raden Mas Sardono [Hb.7.68.4] 826
526/8 <
117+
75!> <
♀ Raden Ayu Suyatilah [Hb.7.54.5] 827
527/8 <
75> <
♂ Raden Mas Jatiprakoso [Hb.6.18.3.2.4] 828
528/8 <
75> <
♂ Raden Mas Jatiprayitno [Hb.6.18.3.2.5] 829
529/8 <
200> <
♀ Raden Ajeng S. Sutarin [Hb.6.18.6.1] 830
530/8 <
241> <
♀ Raden Ajeng Utarin [Hb.6.18.4.1] (Raden Ayu Satochid Kartanegara) 831
531/8 <
241> <
♂ Raden Mas Umarsono Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.2] 832
532/8 <
241> <
♂ Raden Mas Ariono Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.4] 833
533/8 <
241> <
♂ Raden Mas Hadiono Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.3] 834
534/8 <
241> <
♀ Raden Ajeng Utariah [Hb.6.18.4.5] (Raden Ayu Sudirman Kartohadiprojo) 835
535/8 <
241> <
♂ Raden Mas Sutodo Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.6] 836
536/8 <
241> <
♂ Raden Mas Utopo Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.7] 837
537/8 <
241> <
♀ Raden Ajeng Atashari [Hb.6.18.4.11] (Raden Ayu Martono) 838
538/8 <
241> <
♂ Raden Mas Usadarto Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.12] 839
539/8 <
241> <
♀ Raden Ajeng Subanjirah [Hb.6.18.4.8] (Raden Ayu Wignyosuparto) 840
540/8 <
241> <
♂ Raden Mas Moorianto Kusumo Utoyo [Hb.6.18.4.9] 841
541/8 <
201> <
♀ Raden Ajeng Sadariah [Hb.6.18.5.1] ? (Raden Ayu Sumitro) 842
542/8 <
201> <
♂ Raden Mas Rustamaji 843
543/8 <
201> <
♀ Raden Ajeng Ayu Sri Chayati [Hb.6.18.5.3] ? (Raden Ayu Darmasto H. Panular) 844
544/8 <
201> <
♀ Raden Ajeng Sri Kustilah 845
545/8 <
201> <
♂ Raden Mas Rachim [Hb.6.18.5.5] ? (Louis Van S) 846
546/8 <
201> <
♂ Raden Mas Sutarto [Hb.6.18.5.6] 847
547/8 <
201> <
♂ Raden Mas Samsudi [Hb.6.18.5.7] 848
548/8 <
200> <
♀ Raden Ajeng Sutariyah [Hb.6.18.6.2] ? (Raden Ayu Projodiningrat) 849
549/8 <
200> <
♂ Raden Mas Herusutamto [Hb.6.18.6.3] 850
550/8 <
200> <
♀ Raden Ajeng Siti Suwasti [Hb.6.18.6.4] 851
551/8 <
200> <
♀ Raden Ajeng Maryati [Hb.6.18.6.5] ? (Raden Ayu Budiman) 852
552/8 <
217+
189> <
♂ Raden Mas Sumarsono [Hb.6.18.9.1] 853
553/8 <
217+
189> <
♂ Raden Mas Sudiono [Hb.6.18.9.2] 854
554/8 <
217+
189> <
♀ Raden Ajeng Atasasri [Hb.6.18.9.3] ? (Raden Ayu Muksis) 855
555/8 <
217+
189> <
♀ Raden Ajeng Atasamien [Hb.6.18.9.4] ? (Raden Ayu Hadinoto) 856
556/8 <
217+
189> <
♂ Raden Mas Sumantri [Hb.6.18.9.5] 857
557/8 <
217+
189> <
♂ Raden Mas Sudibyo [Hb.6.18.9.6] 858
558/8 <
217+
189> <
♂ Raden Mas Subari [Hb.6.18.9.7] 859
559/8 <
217+
189> <
♂ Raden Mas Suharyono [Hb.6.18.9.8] 860
560/8 <
217+
189> <
♀ Raden Ajeng Atas Asih [Hb.6.18.9.9] ? (Raden Ayu Hadikusumo) 861
561/8 <
217+
189> <
♂ Raden Mas Suwahyu Aji [Hb.6.18.9.10] 862
562/8 <
211> <
♀ Raden Ajeng Karmiasih [Hb.6.18.10.1] (Raden Ayu Munoto Notokusumo) 863
563/8 <
211> <
♀ Raden Ajeng Mustinah [Hb.6.18.10.2] (Raden Ayu Supangkat) 864
564/8 <
211> <
♀ Raden Ajeng Musrinah [Hb.6.18.10.3] (Raden Ayu Suparto) 865
565/8 <
211> <
♀ Raden Ajeng Musdilah [Hb.6.18.10.4] (Raden Ayu S. Reksodarmojo) 866
566/8 <
211> <
♀ Raden Ajeng Musriati [Hb.6.18.10.5] 867
567/8 <
211> <
♂ Raden Mas Mustopo [Hb.6.18.10.6] 868
568/8 <
211> <
♂ Raden Mas Mustejo [Hb.6.18.10.7] 869
569/8 <
211> <
♀ Raden Ajeng Mustiyah [Hb.6.18.10.8] (Raden Ayu Guharsono) 870
570/8 <
211> <
♂ Raden Mas Mustaji [Hb.6.18.10.9] 871
571/8 <
211> <
♂ Raden Mas Musigit [Hb.6.18.10.10] 872
572/8 <
121+
174> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Jayaningrat [Hb.7.13.8] 873
573/8 <
124+
179> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Condrodiningrat [Hb.7.27.1] (Raden Mas Ongkowijoyo) 874
574/8 <
110+
165> <
♂ Raden Mas Alfonds [Hb.6.20.28.1] 875
575/8 <
110+
165> <
♀ Raden Ajeng Suul [Hb.6.20.28.2] 876
576/8 <
110+
165> <
♀ Raden Ajeng Augusta [Hb.6.20.28.3] 877
577/8 <
248+
191> <
♀ Raden Ayu Kusrento Kasiah [Hb.6.23.2.1] 878
578/8 <
248+
191> <
♂ Raden Mas Tamtanus [Hb.6.23.2.2] 879
579/8 <
248+
191> <
♂ Raden Mas Iskandar [Hb.6.23.2.3] 880
580/8 <
248+
191> <
♂ Raden Mas Sidarto [Hb.6.23.2.4] 881
581/8 <
248+
191> <
♀ Raden Ayu Sayidiyah Tanidipuro [Hb.6.23.2.5] 882
582/8 <
249> <
♀ Raden Ayu Agustinah [Hb.6.23.4.1] 883
583/8 <
249> <
♂ Raden Mas Suripto [Hb.6.23.4.2] 884
584/8 <
249> <
♂ Raden Mas Danang [Hb.6.23.4.3] 885
585/8 <
250> <
♀ Raden Ayu Umayi Prayitno [Hb.6.23.3.1] 886
586/8 <
250> <
♂ Kanjeng Raden Mas Tumenggung Umoyo Padmodipuro [Hb.6.23.3.2] 887
587/8 <
167> <
♀ Raden Ayu Harjoatmojo [Hb.6.9.7.1] 888
588/8 <
167> <
♀ Raden Ayu Harjokusumo [Hb.6.9.7.2] 889
589/8 <
167> <
♀ Raden Ayu Sumekto [Hb.6.9.7.4] 890
590/8 <
167> <
♀ Raden Ayu Legosuhoto [Hb.6.9.7.5] 891
591/8 <
167> <
♂ Kanjeng Pangeran Haryo Mangunkusumo [Hb.6.9.7.6] 892
592/8 <
80> <
♂ Raden Mas Pringgo Sastrosutadikusno [Hb.6.9.4.5] 893
593/8 <
118+
169> <
♀ Raden Ayu Purboningrat [Hb.7.1.2] 894
594/8 <
118+
169> <
♀ Raden Ayu Suryo Subianto [Hb.7.1.3] 895
595/8 <
118+
169> <
♀ Raden Ayu Purbo Sudibyo [Hb.7.1.4] 896
596/8 <
118+
170> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Brotodiprojo [Hb.7.1.6] 897
597/8 <
118+
169> <
♀ Raden Ayu Notoprajarto [Hb.7.1.5] 898
598/8 <
118+
170> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Dipodiningrat [Hb.7.1.7] 899
599/8 <
118+
171> <
♀ Raden Ayu Dewi Marzuki [Hb.7.1.8] 900
600/8 <
118+
171> <
♀ Raden Ayu Sudiyat [Hb.7.1.9] 901
601/8 <
118> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodiprojo [Hb.7.1.10] 902
602/8 <
118> <
♀ Raden Ayu Suwahyo [Hb.7.1.11] 903
603/8 <
290+
289!> <
♂ Raden Mas Ngaskarul Sujangi [Hb.7.76.4] 904
604/8 <
289+
290!> <
♂ Raden Mas Lenggana [Hb.7.76.3] 905
605/8 <
289+
290!> <
♀ Raden Ajeng Sriwiyati [Hb.7.76.2] 906
606/8 <
290+
289!> <
♀ Raden Ajeng Nuning Warini [Hb.7.76.1] 907
607/8 <
291+
196> <
♀ Bendoro Raden Ayu Murdaningrat [Hb.7.74.3] 908
608/8 <
291+
196> <
♀ Raden Ajeng Siti Kismardewi [Hb.7.74.1] 909
609/8 <
251+
891!> <
♀ Raden Ajeng Siti Onengan [Hb.7.71.6] (Raden Ayu Sutatwo Hadiwigeno) 910
610/8 <
251+
891!> <
♂ Raden Mas Supono [Hb.7.71.5] (Kanjeng Raden Tumenggung Hastono Negoro) 911
611/8 <
251+
891!> <
♂ Raden Mas Sucitro [Hb.7.71.4] 912
612/8 <
251+
891!> <
♂ Raden Mas Widotomo [Hb.7.71.3] 913
613/8 <
251+
891!> <
♂ Raden Mas Swayitno [Hb.7.71.2] 914
614/8 <
251+
891!> <
♀ Bendoro Raden Ayu Benowo [Hb.7.71.1] 916
615/8 <
242+
143> <
♂ Raden Mas Nirantoro [Hb.7.68.14] 917
616/8 <
242+
143> <
♂ Raden Mas Sinangjono [Hb.7.68.13] 918
617/8 <
242+
143> <
♀ Raden Ajeng Harjanti [Hb.7.68.12] (Raden Ayu Sumbogo) 919
618/8 <
242+
143> <
♀ Raden Ajeng Suparwati [Hb.7.68.11] (Raden Ayu Kuncoro) 920
619/8 <
242+
143> <
♀ Raden Ajeng Srimulat [Hb.7.68.10] (Raden Ayu Widarso) 922
620/8 <
242+
143> <
♂ Raden Mas Rimawan [Hb.7.68.8] 923
621/8 <
242+
143> <
♀ Raden Ajeng Siti Sunarti [Hb.7.68.7] (Raden Ayu Hambarjan) 924
622/8 <
242+
143> <
♀ Raden Ajeng Ismarpinjun Kastupi [Hb.7.68.6] (Raden Ayu Suwanto Singaranu) 925
623/8 <
242+
142> <
♀ Raden Ajeng Siti Sumarti [Hb.7.68.5] 926
624/8 <
242+
142> <
♂ Raden Mas Sutrisno [Hb.7.68.3] 927
625/8 <
242+
142> <
♂ Raden Mas Sutiyanto [Hb.7.68.2] 928
626/8 <
242+
142> <
♂ Raden Mas Asimkuwari [Hb.7.68.1] 929
627/8 <
119+
563!> <
♂ Raden Mas Kesowo [Hb.7.58.4] 930
628/8 <
119+
563!> <
♀ Raden Ajeng Widayat Sumalyo [Hb.7.58.2] 931
629/8 <
119+
562!> <
♂ Raden Mas L. Sayoko [Hb.7.58.3] 932
630/8 <
119+
563!> <
♀ Raden Ajeng Sri Sahuti [Hb.7.58.6] 933
631/8 <
119+
563!> <
♂ Raden Mas Danisworo [Hb.7.58.7] 934
632/8 <
119+
563!> <
♀ Raden Ajeng Srie Haryati [Hb.7.58.8] (Raden Ayu Gandhi Purno) 935
633/8 <
119+
562!> <
♀ Raden Ajeng Suparmi [Hb.7.58.9] (Raden Ayu Kusumo Widayat) 936
634/8 <
292+
214> <
♂ Raden Mas Winoto Parartho [Hb.7.56.4] 937
635/8 <
292+
214> <
♀ Raden Ajeng Musjati [Hb.7.56.3] (Raden Ayu Suryowinoto) 938
636/8 <
292+
214> <
♀ Raden Ajeng Nuryati [Hb.7.56.2] (Raden Ayu Sutratmo Hadisusanto) 939
637/8 <
292+
214> <
♀ Raden Ajeng Nurini [Hb.7.56.1] (Raden Ayu Suryokusumo) 940
638/8 <
260+
196> <
♀ Raden Ayu Condrohalpito [Hb.7.47.1] 941
639/8 <
260+
196> <
♀ Raden Ayu Puspodiningrat [Hb.7.47.2] 942
640/8 <
260+
196> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Brongtodiningrat [Hb.7.47.3] 943
641/8 <
260+
196> <
♂ Raden Mas Ruslanu Danurusamsi [Hb.7.47.4] 944
642/8 <
260+
196> <
♀ Raden Ajeng Sumiyarti [Hb.7.47.5] 945
643/8 <
260+
196> <
♂ Raden Mas Sutresno [Hb.7.47.6] 946
644/8 <
260+
196> <
♂ Raden Mas Rudhatin [Hb.7.47.7] 947
645/8 <
262> <
♀ Raden Ajeng Palentinah [Hb.7.45.5] 948
646/8 <
262> <
♀ Raden Ayu Karloon [Hb.7.45.3] 949
647/8 <
262> <
♂ Raden Mas Suryo Sucipto [Hb.7.45.2] 950
648/8 <
262> <
♀ Raden Ajeng Sumarsih [Hb.7.45.4] (Raden Ayu M. Sarlono) 951
649/8 <
262> <
♂ Raden Mas Yordan [Hb.7.45.1] (Raden Lurah Condrolukito) 952
650/8 <
286> <
♂ Raden Mas Basuki [Hb.7.19.4] 953
651/8 <
286> <
♀ Raden Ayu Suryaningprang [Hb.7.19.3] 954
652/8 <
299+
221> <
♂ Kanjeng Raden Mas Haryo Suryo Baswo S. [Hb.7.19.1.4] 955
653/8 <
299+
221> <
♂ Bendoro Raden Mas Suryo Danindro S. [Hb.7.19.1.3] 956
654/8 <
299+
221> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Murhardining [Hb.7.19.1.2] (Bendoro Raden Ayu Cipto Yuwono) 957
655/8 <
299+
221> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Kusniati [Hb.7.19.1.1] (Bendoro Raden Ayu Suryo) 958
656/8 <
121+
173> <
♂ Raden Lurah Hatmosuwarno [Hb.7.13.3] 959
657/8 <
116+
167> <
♀ Raden Ayu Wiroguno [Hb.7.4.1] 960
658/8 <
116+
167> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Poncokusumo [Hb.7.4.2] 961
659/8 <
116+
167> <
♂ Raden Mas Atmo Tjondropawiro [Hb.7.4.4] 962
660/8 <
116+
167> <
♀ Raden Ayu Danuningrat [Hb.7.4.7] 963
661/8 <
116+
167> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Joyowinoto [Hb.7.4.10] 964
662/8 <
116+
167> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Pusponegoro [Hb.7.4.9] 965
663/8 <
116+
167> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Nitinegoro [Hb.7.4.8] 966
664/8 <
116+
167> <
♀ Raden Ayu Ambar Kusumo [Hb.7.4.6] (Raden Ayu Danudirjo) 967
665/8 <
116+
167> <
♀ Raden Ayu Danusewoyo [Hb.7.4.5] 968
666/8 <
116+
167> <
♀ Raden Ayu Mangun Prawiro Wiguno [Hb.7.4.3] 969
667/8 <
121+
172> <
♂ Raden Lurah Atmocondrodipuro [Hb.7.13.1] 970
668/8 <
121+
174> <
♂ Raden Mas Sudarmojo [Hb.7.13.2] 971
669/8 <
121+
172> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodipuro [Hb.7.13.4] 972
670/8 <
121+
172> <
♂ Raden Rio Kusumoatmojo [Hb.7.13.5] 973
671/8 <
121+
173> <
♂ Raden Wedono Kawindrogupito [Hb.7.13.7] 974
672/8 <
121+
177> <
♀ Raden Ayu Kaharkusmen [Hb.7.13.6] 975
673/8 <
121+
178> <
♂ Raden Mas Suarli [Hb.7.13.14] 976
674/8 <
121+
176> <
♂ Raden Ngabehi Puspopertomo [Hb.7.13.9] 977
675/8 <
121+
174> <
♀ Raden Ayu Wiryoatmojo [Hb.7.13.13] 978
676/8 <
121+
174> <
♀ Raden Ayu Kartosudirjo [Hb.7.13.10] 979
677/8 <
121+
172> <
♂ Raden Lurah Atmocondrosebdo [Hb.7.13.11] 980
678/8 <
121+
176> <
♂ Raden Rio Mandoyoseputro [Hb.7.13.12] 981
679/8 <
121+
176> <
♀ Raden Ajeng Suhatijah [Hb.7.13.15] (Raden Ayu Dibyoharjono) 982
680/8 <
121+
175> <
♂ Raden Mas Suhadiyo [Hb.7.13.28] 983
681/8 <
121+
178> <
♂ Raden Rio Mandoyoseputro [Hb.7.13.27] 984
682/8 <
121+
176> <
♂ Raden Mas Sumaji [Hb.7.13.26] 985
683/8 <
121+
300!> <
♂ Raden Mas Rio Condrodiningrat [Hb.7.13.25] 986
684/8 <
300+
121!> <
♂ Raden Mas Menot [Hb.7.13.24] 987
685/8 <
121+
176> <
♀ Raden Ayu Achmad Dahlan [Hb.7.13.23] 988
686/8 <
121+
300!> <
♂ Raden Mas Yataskiru / Jonggrang [Hb.7.13.22] 989
687/8 <
121+
172> <
♂ Raden Panji Joyosetejo [Hb.7.13.21] 990
688/8 <
121+
300!> <
♀ Raden Ajeng Suhadijah [Hb.7.13.20] 991
689/8 <
121+
176> <
♂ Kanjeng Raden Tumenggung Yudaningrat [Hb.7.13.19] 992
690/8 <
121+
174> <
♀ Raden Ayu Daryono [Hb.7.13.17] 993
691/8 <
121+
178> <
♂ Raden Bagus Atmocondrokukilo [Hb.7.13.16] 994
692/8 <
276+
205> <
♂ Raden Mas Sinduseputro [Hb.7.31.1] (Raden Mas Jonkheer Marineer) 995
693/8 <
122+
114> <
♀ Raden Ajeng Siti Suharjinah [Hb.7.17.1] (Raden Ayu Pringgowiyono) 996
694/8 <
122+
114> <
♀ Raden Ajeng Siti Hardiyah [Hb.7.17.2] (Raden Ayu Kasto) 997
695/8 <
122+
114> <
♂ Raden Mas Sudarmadi [Hb.7.17.4] (Raden Lurah Atmokusumo) 998
696/8 <
122+
115> <
♂ Raden Mas Sumradono [Hb.7.17.6] 999
697/8 <
122+
115> <
♀ Raden Ajeng Siti Martiyah [Hb.7.17.7] 1000
698/8 <
122+
117> <
♀ Raden Ajeng Siti Suminarjinah [Hb.7.17.12] 1001
699/8 <
122+
115> <
♂ Raden Mas Wisnubroto [Hb.7.17.17] 1002
700/8 <
122+
118> <
♂ Raden Mas Muryatmi [Hb.7.17.19] 1003
701/8 <
122+
114> <
♂ Raden Mas Nayadi [Hb.7.17.20] 1004
702/8 <
122> <
♂ Raden Mas Wiyitmo [Hb.7.17.22] 1005
703/8 <
122+
118> <
♂ Raden Mas Subardi [Hb.7.17.23] (Raden Wedono Atmocondroutomo) 1006
704/8 <
122+
115> <
♂ Raden Mas Suyadi [Hb.7.17.26] 1007
705/8 <
122+
114> <
♂ Raden Mas Sutiyardi [Hb.7.17.27] (Raden Bagus Atmosuryodiprojo) 1008
706/8 <
122+
115> <
♀ Raden Ajeng Siti Partinah [Hb.7.17.29] (Raden Ayu Gondokusumo) 1009
707/8 <
122+
120> <
♂ Raden Mas Sumardi [Hb.7.17.36] (Kanjeng Raden Tumenggung Hastonokusumo) 1010
708/8 <
122+
113> <
♀ Raden Ajeng Siti Kadaretno [Hb.7.17.37] 1011
709/8 <
122+
121> <
♀ Raden Ajeng Siti Isjarun [Hb.7.17.39] (Raden Ayu Notodiningrat) 1012
710/8 <
122+
113> <
♀ Raden Ajeng Sri Kusumo [Hb.7.17.40] (Raden Ayu D. Susanto) 1013
711/8 <
122> <
♂ Raden Mas Alex Matram [Hb.7.17.41] (Raden Mas Sukoharjo) 1014
712/8 <
122> <
♀ Raden Ayu Constantia Sumekar [Hb.7.17.42] 1015
713/8 <
122+
113> <
♀ Raden Ajeng Takiyatun [Hb.7.17.38] (Raden Ayu Warsonokusumo) 1016
714/8 <
122+
113> <
♀ Raden Ajeng Puntorini [Hb.7.17.34] (Raden Ayu Sosrokusumo) 1017
715/8 <
122+
118> <
♀ Raden Ajeng Siti Samtiyah [Hb.7.17.32] (Raden Ayu Jayengkusumo) 1018
716/8 <
122+
114> <
♂ Raden Mas Daryadi [Hb.7.17.31] (Raden Bekel Atmocondrowardoyo) 1019
717/8 <
122+
117> <
♀ Raden Ajeng Siti Kusumaningdyah [Hb.7.17.15] (Raden Ayu Cokrodipuro) 1020
718/8 <
122+
115> <
♂ Raden Mas Gunardi [Hb.7.17.16] (Raden Lurah Projokusumo) 1021
719/8 <
122+
115> <
♂ Raden Mas Kusnadi [Hb.7.17.21] (Raden Wedono Pringgosastrokusumo) 1022
720/8 <
122+
119> <
♂ Raden Mas Jayadi [Hb.7.17.24] (Raden Mas Mangkuseputro) 1023
721/8 <
122+
119> <
♂ Raden Mas Rusyadi [Hb.7.17.14] (Kanjeng Raden Tumenggung Kusumodilogo) 1024
722/8 <
133+
122!> <
♂ Raden Mas Gendroyono [Hb.7.17.13] (Raden Lurah Atmocondroatmojo) 1025
723/8 <
122+
115> <
♀ Raden Ajeng Siti Samsinah [Hb.7.17.11] (Raden Ayu Sumaryokusumo) 1026
724/8 <
122+
116> <
♀ Raden Ajeng Siti Samsiyah [Hb.7.17.10] (Raden Ayu Hendrobujono) 1027
725/8 <
122+
115> <
♀ Raden Ajeng Siti Mukadar [Hb.7.17.9] (Raden Ayu Puspohasmoro) 1028
726/8 <
122+
116> <
♀ Raden Ajeng Siti Samsirin [Hb.7.17.8] (Raden Ayu Suryosudirjo) 1029
727/8 <
122+
116> <
♂ Raden Mas Sudayadi [Hb.7.17.5] (Kanjeng Pangeran Haryo Widyokusumo) 1030
728/8 <
122+
115> <
♀ Raden Ajeng Siti Joharin [Hb.7.17.3] (Raden Ayu Puspodiprojo) 1031
729/8 <
122+
115> <
♂ Raden Mas Sunardi [Hb.7.17.18] (Raden Lurah Atmocondrowinoto) 1032
730/8 <
161+
123> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Putriyah [Hb.7.20.1] (Bendoro Raden Ayu Atmo Condrokusumo) 1033
731/8 <
161+
123> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Suratkabirun [Hb.7.20.2] (Bendoro Raden Ayu Atmo Condroseputro) 1034
732/8 <
161+
124> <
♀ Bendoro Raden Ayu Siti Kisari [Hb.7.20.6] 1035
733/8 <
161+
124> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Suratun K. [Hb.7.20.10] (Bendoro Raden Ayu Mertonegoro) 1036
734/8 <
161+
124> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Yukadiru [Hb.7.20.15] (Bendoro Raden Ayu Tirtodiningrat) 1037
735/8 <
161+
124> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Kasantani [Hb.7.20.21] 1038
736/8 <
161+
125> <
♂ Bendoro Raden Mas Dulatussaripi [Hb.7.20.22] 1039
737/8 <
161+
127> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Ipji Dangunikri [Hb.7.20.23] (Bendoro Raden Ayu Nitidipuro) 1040
738/8 <
161+
125> <
♂ Bendoro Raden Mas Rijalun [Hb.7.20.25] 1041
739/8 <
86+
161!> <
♂ Bendoro Raden Mas Salikut Takijati [Hb.7.20.27] 1042
740/8 <
161+
548!> <
♂ Bendoro Raden Mas Nojatun [Hb.7.20.29] 1043
741/8 <
79> <
♂ Raden Mas Kusumo Malebari [Hb.7.24.2] 1044
742/8 <
79> <
♀ Raden Ajeng Soortiati [Hb.7.24.1] 1045
743/8 <
79> <
♂ Raden Mas Darudono Winoto K. [Hb.7.24.3] 1046
744/8 <
79+
128> <
♀ Raden Ajeng Pratiwi [Hb.7.24.9] (Raden Ayu Kanuyoso Jatiwibowo) 1047
745/8 <
79+
128> <
♀ Raden Ajeng Sri Sundari [Hb.7.24.8] (Raden Ayu Darmanto) 1048
746/8 <
79> <
♂ Raden Mas Ruslan [Hb.7.24.7] (Kanjeng Raden Tumenggung Purboseputro) 1049
747/8 <
79> <
♂ Raden Mas Rojeswenski [Hb.7.24.6] (Raden Mas Suryodiningrat) 1050
748/8 <
79> <
♀ Raden Ajeng Loorniati [Hb.7.24.5] (Raden Ayu Suharto Mangku Kawoco) 1051
749/8 <
79> <
♀ Raden Ajeng Roostiati [Hb.7.24.4] (Raden Ayu Gondokusumo) 1052
750/8 <
79+
128> <
♀ Raden Ajeng Utari [Hb.7.24.10] (Raden Ayu Samudro) 1053
751/8 <
79+
128> <
♂ Raden Ajeng Gendari [Hb.7.24.11] (Raden Ayu Apialul Jildi) 1054
752/8 <
79+
128> <
♀ Raden Ajeng Kandihowo [Hb.7.24.16] (Raden Ayu Suharjo) 1055
753/8 <
79+
128> <
♂ Raden Mas Fransiskus Josef Padyo [Hb.7.24.15] 1056
754/8 <
79+
128> <
♂ Raden Mas Wisnu Wardhana [Hb.7.24.14] 1057
755/8 <
79+
128> <
♂ Raden Mas Wasisto Suryodiningrat [Hb.7.24.13] 1058
756/8 <
79+
128> <
♀ Raden Ajeng Trisnolo [Hb.7.24.12] (Raden Ayu Mustafa Rasyid) 1059
757/8 <
124+
179> <
♀ Raden Ayu Sri Rahmani [Hb.7.27.4] (Raden Ayu Prawirodiningrat) 1060
758/8 <
124+
179> <
♀ Raden Ayu Sarikirnen [Hb.7.27.2] (Raden Ayu Roestamdji Sorot) 1061
759/8 <
124+
180> <
♀ Raden Ayu Widaninggar [Hb.7.27.3] (Raden Ayu Soedomo) 1062
760/8 <
63+
131> <
♂ Bendoro Raden Mas Muposolukatini 1063
761/8 <
63+
132> <
♂ Bendoro Raden Mas Ila ul-Kirami ? (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Murdaningrat) 1064
762/8 <
63+
132> <
♀ Bendoro Raden Ajeng Siti Mutasangilun [Hb.8.12] 1065
763/8 <
63+
132> <
♂ Bendoro Raden Mas Rasisulngaskari [Hb.8.22] (Gusti Bendoro Pangeran Haryo Bintoro) 1066
764/8 <
124+
180> <
♀ Raden Ayu Sri Sutengsu [Hb.7.27.5] (Raden Ayu Notohadiprawiro) 1067
765/8 <
124+
181> <
♂ Raden Mas Hino Rimawan [Hb.7.27.6] (Raden Rio Kusumobroto) 1068
766/8 <
124+
179> <
♂ Raden Mas Hari Murti [Hb.7.27.7] (Raden Rio Tejonegoro) 1069
767/8 <
124+
182> <
♀ Raden Ayu Mardusari [Hb.7.27.8] (Raden Ayu Puruboyo) 1070
768/8 <
124+
183> <
♂ Raden Mas Nimpuno [Hb.7.27.9] (Raden Wedono Wilopokusumo) 1071
769/8 <
124+
179> <
♀ Raden Ayu Sudyapti [Hb.7.27.10] 1072
770/8 <
124+
182> <
♂ Raden Mas Sadono [Hb.7.27.11] 1073
771/8 <
124+
183> <
♂ Raden Mas Sukesti [Hb.7.27.13] (Kanjeng Raden Tumenggung Tejohadiningrat) 1074
772/8 <
124+
184> <
♂ Raden Mas Puntadewa [Hb.7.27.14] 1075
773/8 <
194> <
♀ Raden Ajeng Siti Rukiyah [Hb.7.30.1] (Raden Ayu Sastrosubandiyo) 1076
774/8 <
194> <
♀ Raden Ajeng Siti Maemunah [Hb.7.30.3] (Raden Ayu Resodiningrat) 1077
775/8 <
194> <
♂ Raden Mas Umar Katab [Hb.7.30.4] (Kanjeng Raden Tumenggung Suryoatmojo) 1078
776/8 <
194> <
♀ Raden Ajeng Siti Sutatdinah [Hb.7.30.8] (Raden Ayu Noorsasongko) 1079
777/8 <
194> <
♀ Raden Ajeng Siti Yatdaru [Hb.7.30.7] (Raden Ayu Suryaningrat) 1080
778/8 <
194> <
♀ Raden Ajeng Siti Sumardinah [Hb.7.30.6] (Raden Ayu Nayono Sumonegoro) 1081
779/8 <
194> <
♀ Raden Ajeng Siti Supilah [Hb.7.30.5] (Raden Ayu Pringgokusumo) 1082
780/8 <
276+
207> <
♂ Raden Mas Suteki [Hb.7.31.5] 1083
781/8 <
276+
205> <
♂ Raden Mas Jonkheer Infanterie [Hb.7.31.3] 1084
782/8 <
276+
205> <
♀ Raden Ajeng Siti Kadarinah [Hb.7.31.2] (Raden Ayu Projosemadi) 1085
783/8 <
276+
206> <
♀ Raden Ajeng Siti S. Kamarukmi [Hb.7.31.4] (Raden Ayu Irawan Atmojokusumo) 1086
784/8 <
276+
207> <
♀ Raden Ajeng Siti Sutyasning [Hb.7.31.6] (Raden Ayu Sugeng Suprobo) 1087
785/8 <
63+
130> <
♂ Bendoro Raden Mas [No Name] [Hb.8.2] 1088
786/8 <
282+
209> <
♂ 1. Raden Mas Ratjulun 1089
787/8 <
282+
209> <
♀ 2. Raden Ajeng Dadut 1091
788/8 <
123+
138> <
♂ Raden Bekel Condrosentono 1092
789/8 <
310+
144> <
♂ Raden Mas Benedictus Soetarjono 1093
790/8 <
310+
144> <
♀ R. A. Henriette Arbiati 1094
791/8 <
310+
144> <
♀ R. A. Georgia Srikanali 1095
792/8 <
310+
144> <
♂ Raden Mas Franciscus Xaverius Prahasto 1096
793/8 <
310+
144> <
♀ Raden Ajeng Melani Meninggal saat bayi
1097
794/8 <
310+
144> <
♂ Raden Mas Augustinus Soejanadi 1098
795/8 <
310+
144> <
♂ Raden Mas Constantinus Satrijo 1099
796/8 <
310+
144> <
♀ R. A. Mardoesari 1100
797/8 <
310+
144> <
♂ Raden Mas Aloysius Prijohoetomo 1101
798/8 <
310+
144> <
♀ R. A. Catharina Soeharti 1102
799/8 <
310+
144> <
♂ Raden Mas Ignatius Soesanto 1103
800/8 <
310+
144> <
♂ Raden Mas Petrus Canisius Pulunggono 1104
801/8 <
310+
144> <
♀ R. A. Margareta Widihastoeti 1105
802/8 <
301+
135> <
♀ Ratih Tarbijah 1108
803/8 <
301+
135> <
♀ Asti Wandansari 1109
804/8 <
301+
135> <
♂ Soebroto Aria Mataram 1119
805/8 <
313+
222> <
♀ Raden Ajeng Sumaryatin (Raden Ajoe Hardjomenggolo) 1120
806/8 <
140> <
♂ Raden Mas Teguh Pambudi 1121
807/8 <
145> <
♀ Raden Ajeng Poedjiastoeti 1122
808/8 <
145> <
♂ Raden Mas Soebandi 1123
809/8 <
284+
210> <
♀ G. R. A. Siti Djinzoelkari GRA. Siti Djinzoelkari meninggal dalam usia muda.
1124
810/8 <
314+
223> <
♀ Soeharmi 1125
811/8 <
314+
223> <
♀ Siti Naidini Partini 1126
812/8 <
162> <
♂ Raden Mas Hatma Sadeli