1.1.15. Pangeran Rangga Gempol I / Kusumadinata III / Pangeran Aria Soeriadiwangsa d. 1624

Dari Rodovid ID

Orang:860565
Langsung ke: panduan arah, cari
                         Sumber : Keraton Sumedang Larang
Sumber : Keraton Sumedang Larang
Marga (saat dilahirkan) Sumedang Larang
Jenis Kelamin Pria
Nama lengkap (saat dilahirkan) 1.1.15. Pangeran Rangga Gempol I / Kusumadinata III / Pangeran Aria Soeriadiwangsa
Ayah ibu

1.1. Prabu Geusan Ulun / Pangeran Kusumadinata II (Pangeran Angkawijaya) [Sumedang Larang] b. ~19 Juli 1556 d. 1610

Ratu Harisbaya [Cirebon]

[1][2]

Kejadian-kejadian

kelahiran anak: 1.1.15.3. Rd. Tampangkil [Sumedang Larang]

kelahiran anak: 1.1.15.4. Nyi Rd. Soemalintang / NR Ajoemajar / RA Soedarsah [Sumedang Larang]

kelahiran anak: 1.1.15.5. Nyi Rd. Noestawijah [Sumedang Larang]

kelahiran anak: 1.1.15.2. Rd. Mangoenrana [Sumedang Larang]

kelahiran anak: 1.1.15.1. Raden Kartadjiwa / Raden Soeriadiwangsa II [Sumedang Larang]

1610 - 1620 gelar: Prabu Sumedang Larang II

1620 gelar: Adipati Sumedang I, merangkap Bupati Wadana Parahyangan (1610-1624)

1624 kematian: Mataram, Dimakamkan di Bembem Yogyakarta

Catatan-catatan

Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

RANGGA GEMPOL / PANGERAN SURIADIWANGSA

Pada tahun 1610 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Pangeran Aria Soeriadiwangsa I dari Ratu Harisbaya istri kedua Geusan Ulun. Setelah wafatnya Geusan Ulun negeri-negeri bawahan Sumedang Larang dahulu, seperti Karawang, Ciasem, Pamanukan dan Indramayu dan lain-lain melepaskan diri dari Sumedang Larang sehingga wilayah kekuasaan Pangeran Aria Soeriadiwangsa I menjadi lebih kecil meliputi Parakanmuncang, Bandung dan Sukapura (Tasikmalaya). Setelah menjadi Bupati Pangeran Aria Suriadiwangsa memakai gelar Dipati Kusumadinata III dengan Ibukota pemerintahan dipindahkan dari Dayeuh Luhur ke Tegal Kalong, sedangkan putra Geusan Ulun dari Nyai Mas Gedeng Waru, Pangeran Rangga Gede diangkat menjadi bupati Sumedang dan berkedudukan di Canukur, pada masa itu Sumedang di bagi menjadi dua pemerintahan, setelah wafatnya Pangeran Aria Soeriadiwangsa di Mataram, Sumedang disatukan kembali oleh Rangga Gede dengan Ibukota di Parumasan Kecamatan Conggeang Sumedang.

Pada masa Pangeran Aria Soeriadiwangsa, Mataram melakukan perluasan wilayah ke segala penjuru tanah air termasuk ke Sumedang. Pada waktu itu Sumedang Larang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan yang akhirnya Pangeran Aria Soeriadiwangsa I pergi ke Mataram untuk menyatakan penyerahan Sumedang Larang menjadi bagian wilayah Mataram pada tahun 1620. Wilayah bekas Sumedang Larang diganti nama menjadi Priangan yang berasal dari kata “Prayangan” yang berarti daerah yang berasal dari pemberian dan tugas yang timbul dari hati yang ikhlas dan Pangeran Aria Soeriadiwangsa I diangkat menjadi Bupati Wadana dan diberi gelar Rangga Gempol atau Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata. Penyerahan Sumedang ke Mataram karena Pangeran Aria Soeriadiwangsa I mengganggap Sumedang sudah lemah dari segi kemiliteran, menghindari serangan dari Mataram karena waktu itu Mataram memperluas wilayah kekuasaannya dari segi kekuatan Mataram lebih kuat daripada Sumedang dan menghindari pula serangan dari Cirebon. Sultan Agung kemudian membagi-bagi wilayah Priangan menjadi beberapa Kabupaten yang masing-masing dikepalai seorang Bupati, untuk koordinasikan para bupati diangkat seorang Bupati Wadana. Pangeran Rangga Gempol adalah Bupati Sumedang yang pertama merangkap Bupati Wadana Prayangan (1620 – 1625). Pada tahun 1614 Sultan Agung mengemukakan pengakuan atas seluruh wilayah Jawa Barat kecuali Banten dan Cirebon kepada VOC . Pada tahun 1624 Rangga Gempol diminta Sultan Agung untuk membantu menaklukan Sampang Madura. Jabatan Bupati di Sumedang sementara dipegang oleh Rangga Gede . Penaklukan Sampang oleh Rangga Gempol tidak melalui peperangan tetapi melalui jalan kekeluargaan karena Bupati Sampang masih berkerabat dengan Rangga Gempol dari garis keturunan ibunya Harisbaya, sehingga Bupati Madura menyatakan taat kepada Pangeran Rangga Gempol. Atas keberhasilnya Rangga Gempol tidak diperkenankan kembali ke Sumedang oleh Sultan Agung, sampai sekarang ada kampung bernama Kasumedangan yang dahulunya merupakan tempat menetap para bekas prajurit Rangga Gempol dari Sumedang. Sejak Rangga Gempol menetap di Mataram, pemerintahan di Sumedang dipegang oleh Pangeran Rangga Gede (1625 – 1633). Pangeran Rangga Gempol wafat di Mataram dimakamkan di Lempuyanganwangi. Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata meninggalkan 5 putera – putri, salah satunya anak pertama Raden Kartajiwa / Raden Soeriadiwangsa II menuntut haknya sebagai putra mahkota akan tetapi Rangga Gede menolaknya sehingga Raden Soeriadiwangsa II meminta bantuan kepada Sultan Banten untuk merebut kabupatian Sumedang dari Pangeran Rangga Gede, meskipun Banten memenuhi permintaan Raden Suriadiwangsa tetapi serangan langsung tentara Banten ke Sumedang pada masa Pangeran Panembahan (1656 – 1706). Pada tahun 1641 wilayah Sumedang Larang meliputi Pamanukan, Ciasem, Karawang, Sukapura, Limbangan, Bandung dan Cianjur dibagi menjadi empat Kabupaten yaitu Sumedang, Sukapura, Parakanmuncang dan Bandung dan pada tahun 1645 dibagi lagi menjadi 12 ajeg (setaraf Kabupaten) yaitu Sumedang, Parakanmuncang, Bandung, Sukapura, Karawang, Imbanagara, Wirabaya, Kawasen, Sekace, Banyumas, Ayah dan Banjar. Pada tahun 1656 jabatan Bupati Wadana dihapuskan dan setiap bupati langsung dibawah Mataram. Sejak wafatnya Rangga Gede digantikan oleh puteranya Raden Bagus Weruh /Rangga Gempol II (1633 – 1656) menjadi Bupati Sumedang sedangkan jabatan Bupati Wadana dipegang oleh Dipati Ukur / Raden Wangsanata Bupati Purbalingga dengan tempat pemerintahan di Bandung. Jabatan Bupati Wadana diberikan ke Dipati Ukur dari Rangga Gede karena Rangga Gede dianggap tidak mampu menjaga wilayah Mataram dari tentara Banten memasuki daerah yang dikuasai Mataram yaitu Pamanukan dan Ciasem (peristiwa Raden Suriadiwangsa II).

[sunting] Sumber-sumber

  1. http://sumedangonline.com/sejarah-para-penguasa-sumedang/1223/#.Uz639bcrhdg -
  2. Silsilah Keraton Sumedang Larang -


Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Kakek-nenek
Pangeran Santri / Kusumadinata I (Raden Solih)
kelahiran: ~29 Mei 1505
perkawinan: Ratu Pucuk Umum / Nyi Mas Ratu Inten Dewata (Pangeran Istri)
gelar: 21 Oktober 1530 - 1580, Sumedang Larang, Raja Sumedang Larang Ke 9
kematian: 1580c
Kakek-nenek
Ayah ibu
Nyi Mas Cukang Gedeng Waru
kelahiran: 1561c, Sumber Minim Kalkulasi : (Lahir suami) +{(3+7)/2} = 1556 + 5 = 1561
gelar: Isteri Ke 1
perkawinan: 1.1. Prabu Geusan Ulun / Pangeran Kusumadinata II (Pangeran Angkawijaya)
4.1.1.3.1.1. Panembahan Ratu / Pangeran Mas Zainul Arifin
perkawinan: Ratu Harisbaya
perkawinan: Ratu Pembayun
gelar: 1570 - 1649, Sultan Cirebon IV (1570-1649) -Leluhur Sultan-Sultan Kanoman, Kasepuhan, dan Kacirebonan
Ayah ibu
 
== 3 ==
1.1.1. Pangeran Rangga Gede / Kusumadinata IV
gelar: 1625 - 1633, Naik Tahta pada usia 45 tahun, karena didahului oleh Raden Aria Suradiwangsa. Adipati Sumedang II
1.1.2. Raden Aria Wirareja I
emigrasi: di Lemahbeureum, Darmawangi
1.1.4. Kiyai Rangga Patra Kelana / Kalasa / Pangeran Rangga Permana
pekerjaan: Raja Galuh Kertabumi Ke 1 (1585 – 1602 M)., Leluhur Galuh dan Karawang
perkawinan: Nyi Tanduran Ageung
1.1.5. Kyai Aria Rangga Pati
emigrasi: di Haurkuning
1.1.9. Nyi Mas Rangga Wiratama
emigrasi: di Cibeureum
1.1.10. Rd. Rangga Nitinagara
kelahiran: 1587c, Kalkulasi: (1578+(9x1) = 1587
emigrasi: di Pagaden dan Pamanukan
1.1.14. Kiyai Demang Cipaku
emigrasi: di Dayeuh Luhur
1.1.15. Pangeran Rangga Gempol I / Kusumadinata III / Pangeran Aria Soeriadiwangsa
gelar: 1610 - 1620, Prabu Sumedang Larang II
gelar: 1620, Adipati Sumedang I, merangkap Bupati Wadana Parahyangan (1610-1624)
kematian: 1624, Mataram, Dimakamkan di Bembem Yogyakarta
== 3 ==
Anak-anak
Anak-anak
Cucu-cucu
Cucu-cucu

Peralatan pribadi
Джерельна довідка за населеним пунктом