Pangeran Santri / Kusumadinata I (Raden Solih) b. ~29 Mei 1505 d. 1580c

Dari Rodovid ID

Orang:860517
Langsung ke: panduan arah, cari
                         Sumber : Keraton Sumedang Larang
Sumber : Keraton Sumedang Larang
Marga (saat dilahirkan) Wretikandayun
Jenis Kelamin Pria
Nama lengkap (saat dilahirkan) Pangeran Santri / Kusumadinata I
Nama belakang lainnya Raden Solih
Nama lainnya Ki Gedeng Sumedang
Ayah ibu

2. Pangeran Muhammad Pelakaran ? (Pangeran Palakaran) [Azmatkhan]

Nyi Armilah [?]

[1][2][3][4][5][6][7][8][9]

Kejadian-kejadian

~29 Mei 1505 kelahiran:

kelahiran anak: 1.2. Demang Rangga Dadji [Wretikandayun]

kelahiran anak: 1.5. Santowaan Cikeruh [Wretikandayun]

kelahiran anak: 1.6. Santowaan Awiluar [Wretikandayun]

kelahiran anak: 1.4. Santowaan Wirakusumah [Wretikandayun]

kelahiran anak: 1.3. Kiyai Demang Watang di Walakung [Wretikandayun]

perkawinan: Ratu Pucuk Umum / Nyi Mas Ratu Inten Dewata (Pangeran Istri) [Wretikandayun]

21 Oktober 1530 - 1580 gelar: Sumedang Larang, Raja Sumedang Larang Ke 9

~19 Juli 1556 kelahiran anak: 1.1. Prabu Geusan Ulun / Pangeran Kusumadinata II (Pangeran Angkawijaya) [Sumedang Larang] b. ~19 Juli 1556 d. 1610

1580c kematian:

Catatan-catatan

Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang


Sumedang Selatan

Sunan Tuakan digantikan oleh putrinya yang kedua yang bernama Ratu Sintawati alias Nyai Mas Patuakan (1462 – 1530 M) sebagai raja Sumedang Larang ketujuh, Ratu Sintawati menikah dengan Sunan Corenda raja Talaga putera Ratu Simbar Kancana dari Kusumalaya putra Dewa Niskala penguasa Galuh. Dari Ratu Sintawati dan Sunan Corenda mempunyai putri bernama Satyasih atau dikenal sebagai Ratu Inten Dewata setelah menjadi penguasa Sumedang yang kedelapan bergelar Ratu Pucuk Umum (1530 – 1578 M).

Pada masa Ratu Sintawati agama Islam mulai menyebar di Sumedang pada tahun 1529 M. Agama Islam disebarkan oleh Maulana Muhammad alias Pangeran Palakaran putera Maulana Abdurahman alias Pangeran Panjunan. Pangeran Palakaran menikah dengan Nyi Armilah seorang puteri Sindangkasih Majalengka dan hasil pernikahan tersebut pada tanggal 6 bagian gelap bulan jesta tahun 1427 saka (+ 29 Mei 1505 M) lahirlah seorang putra bernama Rd. Solih atau Ki Gedeng Sumedang alias Pangeran Santri. Kemudian Pangeran Santri menikah dengan Ratu Pucuk Umum, yang akhirnya Pangeran Santri menggantikan Ratu Pucuk Umum sebagai penguasa Sumedang, Pangeran Santri dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Pangeran Kusumadinata I pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 saka (+ 21 Oktober 1530 M), Pangeran Santri merupakan murid Sunan Gunung Jati.

Pangeran Santri merupakan penguasa Sumedang pertama yang menganut agama Islam dan berkedudukan di Kutamaya Padasuka sebagai Ibukota Sumedang Larang yang baru, sampai sekarang di sekitar situs Kutamaya dapat dilihat batu bekas fondasi tajug keraton Kutamaya. Pada tanggal 3 bagian terang bulan srawana tahun 1480 saka (+ 19 Juli 1558 M) lahirlah Pangeran Angkawijaya yang kelak bergelar Prabu Geusan Ulun putera dari Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umum. Pada masa pemerintahan Pangeran Santri kekuasaan Pajajaran sudah menurun di beberapa daerah termasuk Sumedang dan pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Wesaka 1501 Sakakala atau tanggal 8 Mei 1579 M Pajajaran “Sirna ing bumi” Ibukota Padjajaran jatuh ke tangan pasukan Kesultanan Surasowan Banten . Pada tahun 1578 tepatnya pada hari Jum’at legi tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya Sumedang Larang Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante yang dipimpin oleh Sanghiang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nganganan), Sangiang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot membawa pusaka Pajajaran dan alas parabon untuk di serahkan kepada penguasa Sumedang Larang dan pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya / Pangeran Kusumadinata II dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (1578 – 1610) sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda dan mewarisi daerah bekas wilayah Pajajaran, sebagaimana dikemukakan dalam Pustaka Kertabhumi I/2 (h. 69) yang berbunyi; “Ghesan Ulun nyakrawartti mandala ning Pajajaran kangwus pralaya, ya ta sirnz, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu Sumedang haneng Kutamaya ri Sumedangmandala” (Geusan Ulun memerintah wilayah Pajajaran yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahiyangan. Keraton raja Sumedang ini terletak di Kutamaya dalam daerah Sumedang) selanjutnya diberitakan “Rakyan Samanteng Parahyangan mangastungkara ring sira Pangeran Ghesan Ulun” (Para penguasa lain di Parahiyangan merestui Pangeran Geusan Ulun). “Anyakrawartti” biasanya digunakan kepada pemerintahan seorang raja yang merdeka dan cukup luas kekuasaannya. Dalam hal ini istilah “nyakrawartti” maupun “samanta” sebagai bawahan, cukup layak dikenakan kepada Prabu Geusan Ulun, hal ini terlihat dari luas daerah yang dikuasainya, dengan wilayahnya meliputi seluruh Padjajaran sesudah 1527 masa Prabu Prabu Surawisesa dengan batas meliputi; Sungai Cipamali (daerah Brebes sekarang) di sebelah timur, Sungai Cisadane di sebelah barat, Samudra Hindia sebelah Selatan dan Laut Jawa sebelah utara. Daerah yang tidak termasuk wilayah Sumedang Larang yaitu Kesultanan Banten, Jayakarta dan Kesultanan Cirebon. Dilihat dari luas wilayah kekuasaannya, wilayah Sumedang Larang dulu hampir sama dengan wilayah Jawa Barat sekarang tidak termasuk wilayah Banten dan Jakarta kecuali wilayah Cirebon sekarang menjadi bagian Jawa Barat.

[sunting] Sumber-sumber

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sumedang_Larang -
  2. http://silsilah-ernimuthalib.blogspot.com/2011/12/silsilah-pangeran-santri-koesoemadinata.html -
  3. http://sumedanglarang.blogspot.com/2008/03/sumedang-dari-masa-ke-masa.html -
  4. (Ayahnya: Pangeran Muhammad Pelakaran), Ibunya: Nyi Armilah ) -
  5. http://silsilah-ernimuthalib.blogspot.com/2012/08/silsilah-pangeran-santri-gen01-13-2012.html (Gen 1-13) -
  6. http://silsilah-ernimuthalib.blogspot.com/2011/12/silsilah-pangeran-santri-koesoemadinata_4903.html (Gen 14) -
  7. http://silsilah-ernimuthalib.blogspot.com/2012/02/silsilah-pangeran-santri-koesoemadinata_8196.html (Gen 14-20) -
  8. http://id.rodovid.org/wk?title=Marga:Sumedang_Larang&limit=500&offset=0 -
  9. | Logo Keraton Sumedang Larang -


Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Kakek-nenek
2. Syekh Abdurakhim
gelar: Pangeran Kejaksan
Kakek-nenek
Ayah ibu
Ayah ibu
 
== 3 ==
Pangeran Santri / Kusumadinata I (Raden Solih)
kelahiran: ~29 Mei 1505
perkawinan: Ratu Pucuk Umum / Nyi Mas Ratu Inten Dewata (Pangeran Istri)
gelar: 21 Oktober 1530 - 1580, Sumedang Larang, Raja Sumedang Larang Ke 9
kematian: 1580c
== 3 ==
Anak-anak
Nyi Mas Cukang Gedeng Waru
kelahiran: 1561c, Sumber Minim Kalkulasi : (Lahir suami) +{(3+7)/2} = 1556 + 5 = 1561
gelar: Isteri Ke 1
perkawinan: 1.1. Prabu Geusan Ulun / Pangeran Kusumadinata II (Pangeran Angkawijaya)
Anak-anak
Cucu-cucu
1.1.1. Pangeran Rangga Gede / Kusumadinata IV
gelar: 1625 - 1633, Naik Tahta pada usia 45 tahun, karena didahului oleh Raden Aria Suradiwangsa. Adipati Sumedang II
1.1.2. Raden Aria Wirareja I
emigrasi: di Lemahbeureum, Darmawangi
1.1.4. Kiyai Rangga Patra Kelana / Kalasa / Pangeran Rangga Permana
pekerjaan: Raja Galuh Kertabumi Ke 1 (1585 – 1602 M)., Leluhur Galuh dan Karawang
perkawinan: Nyi Tanduran Ageung
1.1.5. Kyai Aria Rangga Pati
emigrasi: di Haurkuning
1.1.9. Nyi Mas Rangga Wiratama
emigrasi: di Cibeureum
1.1.10. Rd. Rangga Nitinagara
kelahiran: 1587c, Kalkulasi: (1578+(9x1) = 1587
emigrasi: di Pagaden dan Pamanukan
1.1.14. Kiyai Demang Cipaku
emigrasi: di Dayeuh Luhur
1.1.15. Pangeran Rangga Gempol I / Kusumadinata III / Pangeran Aria Soeriadiwangsa
gelar: 1610 - 1620, Prabu Sumedang Larang II
gelar: 1620, Adipati Sumedang I, merangkap Bupati Wadana Parahyangan (1610-1624)
kematian: 1624, Mataram, Dimakamkan di Bembem Yogyakarta
Cucu-cucu

Peralatan pribadi
Джерельна довідка за населеним пунктом