1.1.2.1. Raden Aria Wangsakara / Rd. Aria Wiaraja II
| Marga (saat dilahirkan) | Sumedang Larang |
| Jenis Kelamin | Pria |
| Nama lengkap (saat dilahirkan) | 1.1.2.1. Raden Aria Wangsakara / Rd. Aria Wiaraja II |
| Orang Tua
♂ 1.1.2. Raden Aria Wirareja I / Ali (Kitab Negara Kertha Bumi Dari Cirebon) | |
Momen penting
kelahiran anak: ♂ 1.1.2.1.1. Rd. Joedanegara
kelahiran anak: ♂ 1.1.2.1.2. Rd. Raksanegara
kelahiran anak: ♂ 1.1.2.1.3. Rd. Wiranegara / Syeikh Ciliwung Kresek
kelahiran anak: ♀ 1.1.2.1.4. Ratu Ratnasih / Raden Wiratnasih / Ratna Sukaesih
kelahiran anak: ♀ 1.1.2.1.5. NR. Wira Sukaesih
kelahiran anak: ♀ 1.1.2.1.6. NR. Sukaedah
kelahiran anak: ♀ 1.1.2.1.7. NR. Kara Supadmi
1633 - 1654 pekerjaan: Keariaan Tangerang Periode 1, 1.RA.Suriadiwangsa II ( wawakil kabantenan ing parahiyang ) 2.RA.Wangsakara ( Aria lengkong ) 3.RA.Jayasantika ( papageur jaya )
1654 - 1665 pekerjaan: Keariaan Tangerang Periode 2
Catatan-catatan
Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang
ASAL-OESOEL
Raden Aria Wangsakara, ternyata keturunan dari Kesultanan Banten. Silsilah Gubernur Wahudin Halim dari garis ibu yang menjadi keturunan Raden Aria Wangsakara, adalah pertemuan dua tokoh besar yaitu Sulthan Abul Mafakhir (Sultan Banten keempat ) dan Pangeran Arya Wangsakara (Penguasa Tangerang 1663 di bawah Kesulthanan Banten bergelar Arya Tangerang). Makom arya wangsakara di lengkong ulama kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang.
Dalam sosialisasi tersebut dipaparkan bahwa Pangeran Arya Wangsakara atau dikenal juga dengan nama Kiayi Wangsaraja atau dikenal Raden Lenyep adalah cucu dari Prabu Geusan Ulun, Raja Sumedang Larang dari putra Prabu Geusan Ulun yang bernama Pangeran Arya Wiraraja. Pangeran Arya Wangsakara sebelum menjadi penguasa Tangerang pada zaman Sultan Agung Tirtayasa, sebelumnya adalah tangan kanan Sultan Abul Mafakhir di Kesultanan Banten.
Pangeran Wangsakara dinikahkan dengan cucu sultan Abul Mafakhir yang bernama Ratu Zakiyah binti Ratu Salamah. Dari pernikahan ini mempunyai anak Ratu Ratnasih. Ratu Ratnasih atau Raden Wiratnasih atau Raden Ratna Sukaesih ini. Kemudian menurunkan sosok Gubernur Banten yaitu Wahidin Halim. “Jadi Wahidin Halim adalah dzuriyat dari Sulthan Abul Mafakhir Banten dan Pangeran Arya Wangsakara Tangerang. Pangeran Wangsakara meninggal di usia senja dalam pertempuran sengit antara pasukan Sultan Tirtayasa dan VOC di Ciledug Tangerang.
Selain dengan cucu Sultan Abul Mafakhir, Wangsakara juga mempunyai dua isteri lainnya yaitu Nyaimas Nurmala putri Adipati Karawang mempunyai anak Raden Yudanagara dan Raden Raksanagara. Isteri yang lain adalah putri dari Tubagus Idham yang bernama Ratu Maimunah mempunyai anak Raden Wiranegara atau disebut Syekh Ciliwulung kresek.
Raden Ratna Sukaesih mempunyai anak Raden Tapa Dilaga atau Kiayi Tapa. Kiayi Tapa bersama Tubagus Buang memimpin gerilya melawan kompeni Belanda. Pemberontakan Kyai Tapa berawal dari rakyat Banten yang dikhianati oleh Ratu Syarifah yang bersekutu dengan VOC. Ratu Syarifah adalah istri dari Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin (1733-1750).
SILSILAH RA. WIRARADJA II / RA. WANGSAKARA (Sumber : [Silsilah Pangeran Santri Sumedang|http://silsilah-ernimuthalib.blogspot.com/search/label/651%20Pangeran%20Santri%20%28G01-11%29]
SILSILAH PANGERAN SANTRI KOESOEMADINATA I (Gen.01-11)
Generasi ke-1
1. Pangeran Santri KOESOEMADINATA, I , (Ki Gedeng Sumedang) 1X Ratoe Poetjoek Oemoen, (Ratoe Inten Dewata, Satyasih) 1.1 Pangeran Geusan Oeloen KOESOEMADINATA, II (Angkawijaya) 1.2 Dmg. Rangga Dadji . 1.3 Dmg. Watang . 1.4 Santoan Wirakoesoemah . 1.5 Santoan Tjikeroeh . 1.6 Santoan Awi Loear .
Generasi ke-2
1.1 Pangeran Geusan Oeloen KOESOEMADINATA, II (Angkawijaya) 1.1X1 NM. Gedeng Waru 1.1.1 Pangeran Rangga Gede KOESOEMADINATA IV 1.1.2 Rd. Aria Wiraradja I / Rd. Aria ALI 1.1.3 Kiai Kadoe Rangga Gede . 1.1.4 Kiai Rangga Patra Kelana . 1.1.5 Kiai Aria Rangga Pati . 1.1.6 Kiai Ngb. Watang . 1.1.7 NM. Dmg. Tjipakoe . 1.1.8 NM. Ngb. Martajoeda . 1.1.9 NM. Rangga Wiratama . 1.1.10 Rd. Rg. Nitinagara or Dlm Rg Nitinagara . 1.1.11 NM. Rangga Pamade . 1.1.12 NM. Dipati Oekoer . 1.1.13 Pangeran Tmg. Tegal Kalong . 1.1.14 Kiai Dmg. Tjipakoe . 1.1X2 Ratoe Harisbaya ., 1.1.15 Pangeran Rangga Gempol I KOESOEMADINATA, III 1.1X3 NM. Pasaeran.
Generasi-3
1.1.2 Rd. Aria Wiraradja I / Rd. Aria ALI 1.1.2.1 Rd. Wiraradja II / Rd. Aria Wangsakara 1.1.2.2 NM. Noertedja .
Generasi-4
1.1.2.1 Rd. Wiraradja II / Rd. Aria Wangsakara 1.1.2.1X1 NM Noermala or Sara 1.1.2.1.1 Rd. Joedanegara 1.1.2.1.2 Rd. Raksanegara 1.1.2.1X2 Tatoe Maemoenah 1.1.2.1.3 Rd. Wiranegara (Cili Woeloeng/Syeikh Ciliwung Kresek) 1.1.2.1X3 Ratu Zakiyah 1.1.2.1.4 NR. Ratna Sukaesih 1.1.2.1.5 NR. Wira Sukaesih 1.1.2.1.6 NR. Sukaedah 1.1.2.1.7 NR. Kara Supadmi
1.1.2.2 NM. Noertedja 1.1.2.2.1 Rd. Wiraradja III
PERJUANGAN
Raden Aria Wangsakara adalah seorang ulama, pejuang, dan pendiri Tangerang. Dalam sejumlah literatur yang bercerita tentang Babad Tangerang dan Babad Banten, Wangsakara merupakan keturunan Raja Sumedang Larang, Sultan Syarif Abdulrohman. Bersama dua kerabatnya, yakni Aria Santika dan Aria Yuda Negara, Wangsakara lari ke Tangerang karena tidak setuju dengan saudara kandungnya yang malah berpihak kepada VOC.
Wangsakara yang kemudian memilih menetap di tepian Sungai Cisadane diberi kepercayaan oleh Sultan Maulana Yusuf, pemimpin Kesultanan Banten kala itu, untuk menjaga wilayah yang kini dikenal sebagai Tangerang, khususnya wilayah Lengkong, dari pendudukan VOC. Sehari-hari, Wangsakara yang juga pernah didapuk sebagai penasihat Kerajaan Mataram menyebarkan ajaran Islam. Namun, aktivitas Wangsakara menyebarkan ajaran Islam mulai tercium oleh VOC tahun 1652-1653.
Karena dianggap membahayakan kekuasaan, VOC mendirikan benteng di sebelah timur Sungai Cisadane, persis berseberangan dengan wilayah kekuasaan Wangsakara. VOC pun sampai memprovokasi dan menakuti warga Lengkong Kyai dengan mengarahkan tembakan meriam ke wilayah kekuasaan Wangsakara. Provokasi itulah yang kemudian memicu pertempuran antara penjajah dan rakyat Tangerang. Kegigihan rakyat di bawah kepemimpinan Raden Aria Wangsakara yang melakukan pertempuran selama tujuh bulan berturut-turut itupun membuahkan hasil. VOC gagal merebut wilayah Lengkong yang berhasil dipertahankan oleh Wangsakara dan para pengikutnya. Wangsakara sendiri gugur pada tahun 1720 di Ciledug dan dimakamkan di Lengkong Kyai, Kabupaten Tangerang.
Pada 2021, ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia bersama dengan Tombolotutu, Aji Muhammad Idris, dan Usmar Ismail oleh Presiden Indonesia Joko Widodo.[1]
- ↑ https://zonabanten.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-232988117/profil-lengkap-raden-aria-wangsakara-pahlawan-nasional-dari-banten-ini-5-faktanya -
- ↑ https://id.wikipedia.org/wiki/Aria_Wangsakara -
- ↑ https://nasional.okezone.com/read/2021/11/03/337/2496230/biografi-raden-aria-wangsakara-tokoh-tangerang-yang-diberikan-gelar-pahlawan-nasional-tahun-ini -
Dari kakek nenek sampai cucu-cucu
perkawinan: ♀ 6. NM. Kokom Ruhada (Nyimas Roro / Buyut Lidah)
perkawinan: ♀ 1.5.1.1. NM. Romlah
gelar: 1625 - 1633, memerintah di Canukur, Sukatali - Situraja lalu dipindahkan ke Parumasan, Conggeang, Naik Tahta pada usia 45 tahun, karena didahului oleh Raden Aria Suradiwangsa. Adipati Sumedang II
perkawinan: ♀ 3. Nyi Tanduran Ageung
emigrasi: di Pagaden dan Pamanukan
gelar: 1620, Adipati Sumedang I, merangkap Bupati Wadana Parahyangan (1610-1624)
wafat: 1624, Mataram, Dimakamkan di Bembem Yogyakarta
