Sawerigading To Appanyompa
| Marga (saat dilahirkan) | La Maddukelleng To Appanyompa Sawerigading Sombaopu |
| Jenis Kelamin | Pria |
| Nama lengkap (saat dilahirkan) | Sawerigading To Appanyompa |
| Orang Tua
♀ We Opu Sengeng Suwacawa Punna Lipue Ri Sawamegga [Suwacawa Punna Lipue Ri Sawamegga] | |
Momen penting
kelahiran anak: ♂ La Tuppusolo Ri Uriliung [Ri Uriliung]
kelahiran anak: ♀ We Tenridio Batari Bissu Punna Lipue Ri Malimongeng [Batari Bissu Punna Lipue Ri Malimongeng]
kelahiran anak: ♀ Patiannyala [?]
kelahiran anak: ♂ La Galigo To Padammani [To Padammani]
kelahiran anak: ♀ We Wakkawaru [?]
kelahiran anak: ♂ Guttu Paselle Sinrang Patallo [Sinrang Patallo]
kelahiran anak: ♀ We Remmangguttu Remmampero Guttuwero Rebbaguttu Datu Wettoeng Ri Langi [Remmampero Guttuwero Rebbaguttu Datu Wettoeng Ri Langi]
kelahiran anak: ♀ Idalakonang [?]
kelahiran anak: ♀ We Tenribalobo Belokalempie Sulojajareng Punna Bolae Risabang Lowang [Belokalempie Sulojajareng Punna Bolae Risabang Lowang]
kelahiran anak: ♀ Mutiatoja Opunna Luwu [Opunna Luwu]
Catatan-catatan
Gelar : Sawerigading Sawerisompa Lawe Sawepauba La Ma'dungkelleng Pamadenglette Langi'paewang To Wapanyompa Tenriwerrung La Tenritappu' Opuna Luwu Opuna Ware' Mase-Masena Ri Tompo’tikka
Episode dalam Sure' Ilagaligo
Episode Sawerigading dan saudara kembarnya We Tenriabeng.
Pada episode Sawergading dan We Tenriabeng dibahas proses kelahiran antara Sawerigading dan saudara kembarnya We Tenriabeng. Setelah dipenuhi permintaan Batara Lattu dan Opu Sangngiang, dan setelah turun ke Bumi, maka tidak lama kemudian Opu Sangngiang pun mengandung, setelah cukup bulannya maka dihadirkanlah dukun bayi dari langit, dari bumi dan dari pertiwi.
Pada ceritra dilukiskan bahwa Opu Sangngiang agak susah melahirkan, maka dihardirkan La Puttasereng ke istana. Berkatalah La Puttasereng “Bayi ini baru akan lahir, apabila orang mengadakan peperangan, karena bayi itu akan lengkap dengan alat perangnya”. Oleh karena itu setiap orang mencabut pedangnya dan saling serang-menyerang. Genderang perang bertaluh, pedang saling beranggar. Seluruh Luwu dan Negeri Ware dalam keadaan perang. Dengan demikian meluncurlah keluar bayi itu, tergeletak di atas tikar, ditadah oleh dukun, ditimang oleh dayang-dayang biti-perwara, lahirlah Sawerigading, hadir bersama kelengkapan perangnya. Kemudian keadaan menjadi tenang dan lahir pula seorang puteri sebagai kembarannya yang diberi nama We Tenriabeng
Episode Pengembaraan
Pada episode ini merupakan episode akhir dari eposide Sure’ I La Galigo, yang menceritrakan pengembaraan Sawerigading turun ke Toddang Tojang.
Pada suatu ketika Sawerigading bersama permaisurinya We Cudai melakukan perjalan dengan perahu ke Cina, bersama perahunya ditarik ke bawah bumi, dan tibalah mereka di dunia bawah bumi (Toddang Tojang). Di dunia bawah bumi ini, We Cudai melahirkan seorang puteri yang diberi nama We Simpuru’Tojang. Sawerigading dan We Cudai turun ke Toddang Tojang melahirkan anak perempuan (We Simpuru Tojang) Apa yang dialami oleh Sawerigading dan We Cudai sangat berbeda dengan apa yang dialami oleh saudara kembarnya We Tenriabeng dan suaminya Remmang Ri Langi’, kemudian naik ke dunia atas menjalankan pemerintahan di langit mewarisi pemerintahan PatotoE dan Datu Palinge’ We Tenriabeng dan Remmang di Langi naik ke Bottilangi melahirkan anak laki-laki (SalinroEng Langi’ atau Lette Pareppa.
Diakhir cerita ini adalah terjadinya perkawinan sepupu sekali, yaitu anak perempuan Sawerigading dan anak laki-laki We Tenriabeng. SalinroEng Langi’ atau Lette Pareppa’. Lette Pareppa’ kawin dengan sepupu sekalinya, putera Sawerigading dan We Cudai di bawah bumi, yang bernama Simpuru Tojang. Setelah perkawinan itu, berangkatlah suami-isteri Lette Pareppa dan Simpuru’ Tojang ke atas Bumi dan melakukan pemerintahan di Tanah Luwu’. Oleh karena itu tanah Luwu, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan dipahami oleh orang Bugis-Makassar sebagai pusatnya Bumi (Posi Tana). Beberapa episode tersebut di atas secara ringkas dapat dikemukakan peristiwa awalnya bersifat mitologis. Pandangan cosmogini tentang dunia atas (langit), dunia tengah (bumi) dan dunia bawah (pertiwi). Awal kejadian penguasa dunia ditetapkan dari dunia atas yang mendapatkan komponen dari dunia bawah (pertiwi). Hasil pertemuan kedua komponen ini menghasilkan komponen dunia (bumi) sebagai simbol pertemuan dua aspek yang saling berlawanan.
