We Nyllitimo Tompoe Ri Bussa Empong Imatatimo Dinulu We Lompanglojang Ri Toddang Toja

Dari Rodovid ID
Orang:1569912
Marga (saat dilahirkan) Mutia Unru Ri Sinrijawa Denru Ulawenna Guruselleng
Jenis Kelamin Wanita
Nama lengkap (saat dilahirkan) We Nyllitimo Tompoe Ri Bussa Empong Imatatimo Dinulu We Lompanglojang Ri Toddang Toja
Orang Tua

Guru Selleng [?]

Sinau Toja [?]

Momen penting

kelahiran anak: La Ti Uleng Batara Lattu Datu Luwu [Patotoe]

kelahiran anak: La Paduppa Lipu Daeng Masikki Ri Balangnipa [Daeng Masikki Ri Balangnipa]

Catatan-catatan

Gelar : Tompoe Ri Bussa Empong Imatatimo Dinulu We Lompanglojang Ri Toddang Toja


Berikut ini penggalan kisah We Nyili Timo pada saat pertama kali dipertemukan dengan La Toge Langi Batara Guru di dunia tengah, yang diceritakan di dalam buku I La Galigo

"...kenaikan We Nyili'Timo terkatung-katung di atas ombak di depan Batara Guru. Seorang inang pengasuh mendesaknya agar ia sendiri berenang ke padanya, akan tetapi apabila hal itu dilakukan oleh Batara Guru, kenaikan We Nyili Timo bagaikan diterbangkan pergi oleh angin; dengan terperanjat dan bingung Batara Guru kembali ke pantai. Ia memandang berkeliling, dilihatnya mempelainya di sebelah timur; ia berenang pula kepadanya, tiga kali We Nyili Timo selalu menghilang. Ketika Batara Guru kembali ke pantai, ia berganti pakaian; yang dipakainya kini ialah pusakanya dari Sang Pencipta. Diambilnya sekapur sirih dari dalam cenrananya, lalu diucapkannya suatu mantera. Seketika laut menjadi kering, lalu pergilah ia sendirian mendapatkan We Nyili Timo ke tempatnya bersemayam. Akan tetapi sang putri menguraikan rambutnya yang panjang, lalu mengucapkan sebuah mantera. Maka seolah-olah kenaikannya ada yang menariknya pergi lalu tenggelam, orang tidak melihatnya lagi; akan tetapi dalam pada itu lautan pun bagaikan menyala dan We Nyili Timo seolah-olah seorang anak dewata yang turun ke bumi dalam usungannya. Orang-orang ware gemetar melihat api langit sedang mengamuk di tengah lautan. Batara Guru balik lagi dan menanti, dicampakkannya ikat kepalanya (yang berasal dari langit) ke dalam laut sambil mengucapkan suatu mantera hingga tiga kali. Api pun padamlah. Dengan suatu mantera We Nyili Timo menjadikan air naik kembali. Batara Guru berenang kepadanya, lalu duduk disampingnya. Kembali ia tak kelihatan pula, akan tetapi oleh mantera Batara Guru ia turun lagi seluruhnya dalam busana putih, rambutnya pun putih. Sang manurung bungkam keheran-heranan, akan tetapi dia ucapkan jua suatu mantera, sehingga wajah sang puteri berubah, kini bersinar penuh kecantikan, duduk disampingnya. Dengan suatu mantera yang baru We Nyili Timo mengubah dirinya menjadi seorang anak kecil. Batara Guru dari pihaknya membuka ikat rambutnya dan mengucapkan suatu mantera; We Nyili Timo pun menjadi cantik kembali.


Sumber : terjemahan R.A Kern. (R. A. Kern. I La Galigo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1989 Hlm. 31-32)


Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Ajipallureng Ri Leteng Riu
Daeng Manute Opu Sangiang Bissu Ri Langi
Daeng Masikki Ri Balangnipa
Datu Ri Lapi Tana
Datu Ri Toddang Salo
Datu Uriliung
La Maddukelleng To Appanyompa Sawerigading Sombaopu
Mutia Unru Ri Sinrijawa Denru Ulawenna Guruselleng
Patotoe
Ri Baebunta
Ri Bua
Ri Lipubunga
Ri Mallageni Datu Cappa Pertiwi
Ri Mangkuntu
Ri Uluwongeng
Risawang
Sangkamalewa
Suwacawa Punna Lipue Ri Sawamegga
To Appananrang
To Bulutana Ri Lompengeng
To Menre (Banuapong)
To Pananrang
To Teamusi