We Tenridio Batari Bissu Punna Lipue Ri Malimongeng
| Marga (saat dilahirkan) | Batari Bissu Punna Lipue Ri Malimongeng |
| Jenis Kelamin | Wanita |
| Nama lengkap (saat dilahirkan) | We Tenridio Batari Bissu Punna Lipue Ri Malimongeng |
| Orang Tua
♂ Sawerigading To Appanyompa [La Maddukelleng To Appanyompa Sawerigading Sombaopu] | |
Momen penting
kelahiran anak: ♀ Bataritoja Daeng Talaga [Daeng Talaga]
Catatan-catatan
We Tenridio, dalam alur cerita I lagaligo ia dinamai We Tenridio, karena tidak ada yang mampu menghentikannya mandi di dalam Piring Manurung.
Diceritakan bahwa : “Sementara itu, Dalam waktu yang bersamaan, selagi Anak anak datu sedang asyik menyabung ayam di gelanggang, Wé Tenridio yang bergelar Batari Bissu anak Sawérigading yang dinasibkan menjadi bissu sejak kecil, khusus menengadah ke Botting Langi, ia berkomunikasi dengan suaminya yang ada di Bottinglangi yang bernama La Tenri Dolong Pajungmperoe Wettoeng Tompo To Mario To Sompa Riwu Datunna Soppeng Riaja, To Sompa Riwu turun dari Bottinglangi menjemput Wé Tenridio menaikkannya ke Boting Langi. Dalam masa perjalanannya ke Boting Langi, dia melihat dunia yang ditinggalkan itu besarnya hanya bagaikan sebuah kempu.
Dengan sekejab saja We Tenridio tiba di Boting Langi. Setiba Wé Tenridio di Boting Langi, dia mendengar dari bawah bunyi gendang besar, gendang upacara Wé Tenribali saudara La Mappanyompa, yang sedang mengadakan upacara di Senrijawa. Wé Tenridio meminta kepada suaminya agar dapat diturunkan sebentar ke Senrijawa untuk menyaksikan upacara sepupunya itu, tanpa dapat dilihat oleh orang lain.
Setibanya di Senrijawa, dia melihat menyaksikan ada tiga ratus orang anakarung yang memegang peralatan bissu dan menyaksikan juga kecantikan Wé Tenribali saudara La Mappanyompa.To Sompa Riwu meminta kepada Wé Tenridiyo agar dapat menampakan dirinya supaya dapat dilihat dan dijemput kedatangannya oleh Wé Tenribali. Wé Tenridio pun menampakkan diri dan dijemput oleh Wé Tenribali, tetapi karena tidak mau duduk kalau bukan tikar-guntur yang diduduki sedang di Senrijawa tidak ada tikar yang demikian, maka neneknya yang ada di Boting Langi segera menurunkan tikar-guntur untuk diduduki oleh We Tenridio. Bagaikan bara menyala kelihatan di dalam bilik tikar-guntur yang diturunkan dari langit itu.
Setelah selesai menyabung ayam di gelanggang, La Tenri Dolong, masuk ke dalam bilik, Wé Tenridio tidak nampak. Rupanya dia sedang turun mandi pada piring manurung, tidak mau berhenti.
Datunna Soppéng menanggalkan pakaiannya lalu melompat masuk ke dalam air untuk menjemput isterinya, tetapi tidak bisa di tangkap karena berobah menjadi bayangan. La Tenri Dolong membujuknya, khawatir nanti sakit isterinya, tetapi We Tenridio tidak mau. Dia mau berhenti mandi kalau dijaring dengan sarang laba-laba yang tali penariknya dari seutas rambut. Sampai tengah malam mereka berdua terus terapung di atas air. Datu Wéttoing di Boting Langi memaklumi hal ini. Segera memerintahkan agar laba-laba emas dikeluarkan dari sarangnya untuk membuat sarang dan mencabut selembar rambutnya sebagai tali penariknya untuk menjala Wé Tenridio. Dengan perasaan geli dia menerima dan memperhatikan jala sarang laba-laba emas itu, diapun menjala isterinya, menaikkannya kemudian mengganti pakaiannya lalu pergi tidur. Tidur berbulan madu sepanjang malam.
WE TENRIDIO menikah dengan La Tenri Dolong Daeng Mapatta Pajungmperoe Wettoeng Tompo To Mario Datunna Soppeng melahirkan anak bernama: Bataritoja Daeng Talaga kemudian Bataritoja Daeng Talaga menikah dengan La Tenri Tatta Sinopati Passaung Loloe Opunna Ware Pajung Masagalae Ri Luwu (Putra dari La Galigo yang menikah dengan We Monno Tenri Gangka) melahirkan : 1. We Matenga Empong. 2. Welong Talaga Apung Talaga dan 3. Welong Ritoja Apung Ri Titoja Tenritalunru
Welong Ritoja Apung Ri Toja Tenritalunru menikah dengan La Oddang Patallo melahirkan I La Lomponge
Selanjutnya
WE TENRIDIO menikah lagi dengan Lette Pareppa Guttu Patallo Sompa Ri(w)u Gilingempero To Pariusi (Putra dari We Tenriabeng Daeng Manute Opu Sangiang Bissu Ri Langi dengan La Punnalangi Remmang Ri Langi La Wirangmponga Wirangtalallo)
