5.1.1.1.1. Ratu Nawati Rarasa / Ratu Wanawati Raras b. 1525 - Keturunan (Inventaris)

Dari Rodovid ID
Orang:850646
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.

1

11/1 <?+?> < 5.1.1.1.1. Ratu Nawati Rarasa / Ratu Wanawati Raras

2

21/2 <1+1+2> < 4.1.1.3.1.1. Panembahan Ratu I / Pangeran Mas Zainul Arifin
perkawinan: <3> < Ratu Harisbaya
perkawinan: <4> < Ratu Pembayun
gelar: 1570 - 1649, Sultan Cirebon IV (1568-1649)
== Panembahan Ratu I, Sultan Cirebon IV (1570-1649) == Sepeninggal Fatahillah, oleh karena tidak ada calon lain yang layak menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Mas, putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.
32/2 <1+2> < Nji Bimotjili
43/2 <1+1> < Pangeran Manis

3

51/3 <2> < 4.1.1.3.1.1.1. Pangeran Adipati Anom / Pangeran Adipati Carbon (Pangeran Sedang Gayem)
wafat: Wafat sebelum Suksesi
Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.[rujukan?]

Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.[rujukan?]

Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kesultanan Mataram. Makamnya di Jogjakarta, di bukit Girilaya, dekat dengan makam raja raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul. Menurut beberapa sumber di Imogiri maupun Girilaya, tinggi makam Panembahan Girilaya adalah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri.[rujukan?]
62/3 <3+?> < Nji Ageng Brondong

4

81/4 <6+?> < Kiai Toemenggoeng Djangrono I
lahir: 1623, Sedayu
pekerjaan: 1670, Surabaya, Diangkat sebagai Bupati Surabaya 11 ( Tahun 1670 - 1678 ) oleh Amangkurat I atas jasa-jasanya mengusir pemberontak yang dipimpin Trunojoyo di Surabaya dan berhasil membebaskan Tjakraningrat II ( Adipati Madura ) yang ditawan Laskar Trunojoyo di hutan Lodoyo, Blitar. Sebelumnya menjabat sebagai salah satu Tumenggung Kerajaan Mataram .
wafat: 1678, Kediri, Bertindak sebagai salah satu Tumenggung Kerajaan Mataram .Gugur dalam Perang menumpas pemberontakan Trunojoyo di Kediri.
penguburan: 1678, Sentono Boto Putih, Pergirikan Surabaya.
72/4 <5> < 4.1.1.3.1.1.1. Panembahan Ratu II / Panembahan Girilaya / Pangeran Rasmi / Pangeran Karim
perkawinan: <5> < Nji Raden Ajoe ? (Nn)
gelar: 1649 - 1677, Sultan Cirebon V (1649-1677)
== Panembahan Ratu II (1649-1677) ==

Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.

Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.

Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kesultanan Mataram. Makamnya di Jogjakarta, di bukit Girilaya, dekat dengan makam raja raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul. Menurut beberapa sumber di Imogiri maupun Girilaya, tinggi makam Panembahan Girilaya adalah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri.

5

101/5 <7+5> < Raden Toemenggoeng Kartawidjaja / Sultan Anom I (Abil Makarimi Badriddin Sultan Anom (Kanoman))
lahir: Cirebon
gelar: 1677 - 1723, Cirebon, Sultan Kanoman I
wafat: 1723, Cirebon
172/5 <7+5> < Pangeran Mas / Pangeran Adipati Kraton Katjirebonan (Pangeran Wangsakerta)
gelar: 1677, Cirebon, Panembahan Agung Gusti Cirebon
93/5 <8+?> < Kyai Arya Djajapoespita
lahir: Surabaya
perkawinan: <6> < Nji Raden Ajoe Nn (Nn)
pekerjaan: 1709, Surabaya, Jawa Timur, Bupati kasepuhan I Surabaya ( 1709 - 1718 )
wafat: 1723, Kaap De Goede Hoop, Afrika Selatan
114/5 <8> < Ki Demang Kertojudo
125/5 <8> < Nji Raden Ajoe Kaliwungu
136/5 <8> < Nji Raden Ajoe Djaleka Tjakraningrat
147/5 <8> < Raden Pandji Surenggrono
158/5 <8> < Ngabei Wirodirdjo
169/5 <8> < Kyai Toemenggoeng Djangrono II
1810/5 <7> < Bagus Jaka / Embah Sapujagat (Pati Tanda Moe)
1911/5 <7> < Panembahan Ketimang
2012/5 <7> < Panembahan Giyanti

6

211/6 <17> < Panembahan Tohpralaya