3. Sunan Prawoto / Panembahan Prawoto I (Sultan Mukmin) d. 1549 - Keturunan (Inventaris)

Dari Rodovid ID
Orang:188330
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.

1

Demak.jpeg
11/1 <?+?> < 3. Sunan Prawoto / Panembahan Prawoto I (Sultan Mukmin)
perkawinan:
gelar: 1546 - 1549, Demak Bintoro, Sultan Demak IV
wafat: 1549, Demak Bintoro
Sunan Prawoto adalah raja keempat Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama aslinya ialah Raden Mukmin. Ia lebih cenderung sebagai seorang ahli agama dari pada ahli politik.

Raden Mukmin Semasa Muda Naskah babad dan serat menyebut Raden Mukmin adalah putra sulung Sultan Trenggana. Ia lahir saat ayahnya masih sangat muda dan belum menjadi raja.

Pada tahun 1521 Pangeran Sabrang Lor meninggal dunia tanpa keturunan. Kedua adiknya beraing memperebutkan takhta, yaitu Raden Trenggana dan Raden Kikin. Raden Trenggana adalah adik kandung Pangeran Sabrang Lor, sama-sama lahir dari permaisuri Raden Patah, sedangkan Raden Kikin meskipun lebih tua usianya, tapi lahir dari selir, yaitu putri bupati Jipang.

Dalam persaingan ini tentu saja Raden Mukmin memihak ayahnya. Ia mengirim pembantunya yang bernama Ki Surayata untuk membunuh Raden Kikin sepulang Salat Jumat. Raden Kikin tewas di tepi sungai, sedangkan para pengawalnya sempat membunuh Ki Surayata.

Sejak saat itu Raden Kikin terkenal dengan sebutan Pangeran Sekar Seda ing Lepen, artinya "bunga yang gugur di sungai". Pangeran Sekar Seda Lepen meninggalkan dua orang putra dari dua orang istri, yang bernama Arya Penangsang dan Arya Mataram.

[sunting] Pemerintahan Sunan Prawoto Sultan Trenggana memerintah Kesultanan Demak tahun 1521-1546. Sepeninggalnya, Raden Mukmin selaku putra tertua naik takhta. Ambisinya sangat besar untuk melanjutkan usaha ayahnya menaklukkan Pulau Jawa. Namun keterampilannya dalam berpolitik sangat rendah. Ia lebih suka hidup sebagai ulama suci dari pada sebagai raja.

Pusat pemerintahan Raden Mukmin dipindahkan dari kota Bintoro menuju bukit Prawoto. Oleh karena itu, Raden Mukmin pun terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto.

Pemerintahan Sunan Prawoto juga terdapat dalam catatan seorang Portugis bernama Manuel Pinto. Pada tahun 1548 Manuel Pinto singgah ke Jawa sepulang mengantar surat untuk uskup agung Pastor Vicente Viegas di Makassar. Ia sempat bertemu Sunan Prawoto dan mendengar rencananya untuk mengislamkan seluruh Jawa, serta ingin berkuasa seperti sultan Turki. Sunan Prawoto juga berniat menutup jalur beras ke Malaka dan menaklukkan Makassar. Akan tetapi, rencana itu berhasil dibatalkan oleh bujukan Manuel Pinto.

Pada kenyataannya, cita-cita Sunan Prawoto tidak pernah terlaksana. Ia lebih sibuk sebagai ahli agama dari pada mempertahankan kekuasaannya. Satu per satu daerah bawahan, misalnya Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik berkembang bebas sedangkan Demak tidak mampu menghalanginya.

[sunting] Kematian Sunan Prawoto Selain Sunan Prawoto muncul dua orang lagi menjadi tokoh kuat sepeninggal Sultan Trenggana, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang, dan Hadiwijaya bupati Pajang. Masing-masing adalah keponakan dan menantu Sultan Trenggana.

Arya Penangsang adalah putra Pangeran Sekar Seda ing Lepen yang mendapat dukungan dari gurunya, yaitu Sunan Kudus untuk merebut takhta Demak. Pada tahun 1549 ia mengirim anak buahnya yang bernama Rangkud untuk membalas kematian ayahnya.

Menurut Babad Tanah Jawi, pada suatu malam Rangkud berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawoto. Sunan mengakui kesalahannya telah membunuh Pangeran Seda Lepen. Ia rela dihukum mati asalkan keluarganya diampuni.

Rangkud setuju. Ia lalu menikam dada Sunan Prawoto yang pasrah tanpa perlawanan sampai tembus. Ternyata istri Sunan sedang berlindung di balik punggungnya. Akibatnya ia pun tewas pula. Melihat istrinya meninggal, Sunan Prawoto marah dan sempat membunuh Rangkud dengan sisa-sisa tenaganya.

Sunan Prawoto tewas meninggalkan seorang putra yang masih kecil bernama Arya Pangiri, yang kemudian diasuh bibinya, yaitu Ratu Kalinyamat dari Jepara. Setelah dewasa, Arya Pangiri menjadi menantu Sultan Hadiwijaya raja Pajang, dan diangkat sebagai bupati Demak.

Pada tahun itu pula, 1549 Aryo Penangsang berhasil dibunuh oleh Danag Sutawijaya atas siasat cerdas Ki Juru Martani.

[sunting] Raden Mukmin dalam Kronik Cina Kronik Cina dari kuil Sam Po Kong menyebut Raden Mukmin dengan nama Muk Ming. Pada tahun 1529 ia menggantikan Kin San sebagai kepala galangan kapal di Semarang. Kin San adalah adik Jin Bun (alias Raden Kusen adik Raden Patah).

Muk Ming bekerja keras dibantu masyarakat Cina baik yang muslim ataupun non muslim menyelesaikan 1.000 kapal besar yang masing-masing dapat memuat 400 orang prajurit. Pembangunan kapal-kapal perang tersebut untuk kepentingan angkatan laut ayahnya, yaitu Tung-ka-lo (Sultan Trenggana) yang berniat merebut Maluku.

Belum sempat Tung-ka-lo merebut Maluku, ia lebih dulu tewas saat menyerang Panarukan tahun 1546. Muk Ming pun naik takhta namun dimusuhi sepupunya yang menjadi bupati Ji-pang (alias Arya Penangsang).

Perang saudara terjadi. Kota Demak dihancurkan bupati Ji-pang. Muk Ming pindah ke Semarang tapi terus dikejar musuh. Akhirnya ia tewas di kota itu. Galangan kapal hancur terbakar pula. Yang tersisa hanya masjid dan kelenteng saja.

2

21/2 <1> < Arya Pangiri / Sultan Ngawantipura
perkawinan: <1> < Ratu Pembayun
gelar: 1583 - 1586, Pajang, Sultan Pajang II bergelar Sultan Ngawantipura
Arya Pangiri adalah adipati Demak yang berhasil menjadi raja kedua Kesultanan Pajang, yang memerintah tahun 1583-1586 bergelar Sultan Ngawantipura.

'''Asal-Usul''' Arya Pangiri adalah putra Sunan Prawoto raja keempat Demak, yang tewas dibunuh Arya Penangsang tahun 1549. Ia kemudian diasuh bibinya, yaitu Ratu Kalinyamat di Jepara.

Arya Penangsang kemudian tewas oleh sayembara yang diadakan Hadiwijaya bupati Pajang. Sejak itu, Pajang menjadi kerajaan berdaulat di mana Demak sebagai bawahannya.

Setelah dewasa, Arya Pangiri dinikahkan dengan Ratu Pembayun, putri tertua Sultan Hadiwijaya dan dijadikan sebagai bupati Demak.

[sunting] Arya Pangiri Sebagai Bupati Demak Kerajaan Aceh mencatat Arya Pangiri sebagai seorang bupati yang mudah curiga. Pada tahun 1564 Sultan Ali Riayat Syah raja Aceh mengirim utusan meminta bantuan Demak untuk bersama mengusir Portugis dari Malaka. Tapi Arya Pangiri justru membunuh utusan tersebut. Akhirnya pada tahun 1567 Aceh tetap menyerang Malaka tanpa bantuan Jawa. Serangan itu gagal walaupun memakai meriam hadiah dari sultan Turki.

Arya Pangiri Merebut Pajang Sepeninggal Sultan Hadiwijaya akhir tahun 1582 terjadi permasalahan takhta di Pajang. Putra mahkota yang bernama Pangeran Benawa disingkirkan Arya Pangiri dengan dukungan Sunan Kudus. Alasan Sunan Kudus adalah usia Pangeran Benawa lebih muda daripada istri Pangiri, sehingga tidak pantas menjadi raja.

Pangeran Benawa yang berhati lembut merelakan takhta Pajang dikuasai Arya Pangiri sedangkan ia sendiri kemudian menjadi bupati Jipang Panolan (bekas negeri Arya Penangsang).

Tokoh Sunan Kudus yang diberitakan Babad Tanah Jawi perlu dikoreksi, karena Sunan Kudus sendiri sudah meninggal tahun 1550. Mungkin tokoh yang mendukung Arya Pangiri tersebut adalah penggantinya, yaitu Panembahan Kudus, atau mungkin Pangeran Kudus.

Pemerintahan Arya Pangiri Arya Pangiri menjadi raja Pajang sejak awal tahun 1583 bergelar Sultan Ngawantipura. Ia dikisahkan hanya peduli pada usaha untuk menaklukkan Mataram daripada menciptakan kesejahteraan rakyatnya.

Arya Pangiri melanggar wasiat mertuanya (Hadiwijaya) supaya tidak membenci Sutawijaya. Ia bahkan membentuk pasukan yang terdiri atas orang-orang bayaran dari Bali, Bugis, dan Makassar untuk menyerbu Mataram.

Arya Pangiri juga berlaku tidak adil terhadap penduduk asli Pajang. Ia mendatangkan orang-orang Demak untuk menggeser kedudukan para pejabat Pajang. Bahkan, rakyat Pajang juga tersisih oleh kedatangan penduduk Demak. Akibatnya, banyak warga Pajang yang berubah menjadi perampok karena kehilangan mata pencaharian. Sebagian lagi pindah ke Jipang mengabdi pada Pangeran Benawa.

Kekalahan Arya Pangiri Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya di Mataram. Kedua saudara angkat itu berunding di desa Weru. Akhirnya diambilah keputusan untuk menyerbu Pajang.

Gabungan pasukan Mataram dan Jipang berangkat untuk menurunkan Arya Pangiri dari takhtanya. Perang terjadi di kota Pajang. Pasukan Arya Pangiri yang terdiri atas 300 orang Pajang, 2000 orang Demak, dan 400 orang seberang dapat ditaklukkan. Arya Pangiri sendiri tertangkap dan diampuni nyawanya atas permohonan Ratu Pembayun, istrinya.

Sutawijaya mengembalikan Arya Pangiri ke Demak, serta mengangkat Pangeran Benawa sebagai raja baru di Pajang.
43/2 <1> < Pangeran Sumendhe Panembahan Wirasmoro
54/2 <1> <Ψ Ratu Mas Semangkin
65/2 <1> <Ψ Ratu Mas Prihatin

3

71/3 <4> < Raden Jalu Pangeran Demang I (Adipati Kediri)
82/3 <3> < Panembahan Djojoprono II

4

101/4 <7> < Raden Irawan Pangeran Demang II
penguburan: Kediri, Ngadiluwih
112/4 <8> < R Tmg Wongsotruno
Anak cucu sultan mukmin.png
123/4 <9> < Pandan 3

5

131/5 <10> < Kyai Ageng Ngabdul Mursad / Kyai Ageng Tukun, Mrican - Kediri
lahir: Tukun Kediri
142/5 <11> < Ki Wangsawidjaja

6

161/6 <13> < Kyai Anom Besari/Raden Nedo Kusumo Kuncen Caruban
lahir: Kuncen - Caruban - Madiun
perkawinan: <2> < Nyai Anom Besari/Nyai Syarifah Rukoiyah
172/6 <14> < Ki Darmasena

7

201/7 <16+2> < Kyai Ageng Muhamad Besari / Kyai Ageng Kasan Besari I. / Kyai Ageng Tegalsari - I, Ponorogo
lahir: 1760, Perdikan, Serat Sara Silah singkat : Prabu Brawijaya Majapahit berputra Ratu Jenggala Kediri dan yang terakhir ini berputra Pangeran Demang. Pangeran Demang berputra Raden Demang, Raden Demang berputra Kyai Ageng Ngabdul Mursad Tukun Kediri. Kyai Ageng Ngabdul Mursad berputra Kyai Anom Besari, Kuncen Caruban Madiun.
perkawinan: <3> < Nyai Ageng Muhammad Besari (Tegalsari, Ponorogo)
192/7 <17> < Ki Setadiwirya
213/7 <16+2> < Kyai Khotib Anom (srigading, Kalangbret, Tulungagung)
224/7 <16+2> < Kyai Nur Shodiq (Tegalsari)

8

251/8 <20+3> < 7. Kyai Ilyas
lahir: adalah putera ke 7 dari 9 bersaudara putera puteri Kyai Muhammad Besari Tegalsari - Mojokerto
perkawinan: <4> < Nyai Ilyas (Garwa II)
perkawinan:
perkawinan: <4!> < Nyai Ilyas (Garwa II)
262/8 <20+3> < 1. Nyai Abdurrachman
lahir: Level 1 = putera ke 1 dari 9 bersaudara putera puteri Kyai Muhammad Besari Tegalsari - Ponorogo
273/8 <20+3> < 2. Kyai Yakub
lahir: Level 1 = putera ke 2 dari 9 bersaudara putera puteri Kyai Muhammad Besari Tegalsari - Ponorogo
perkawinan: <5> < Nyai Yakub - Garwo (1) , <6> < Nyai Yakub - Garwo (2)
284/8 <20+3> < 4. Nyai Buchori Tegalsari
lahir: Level 1 = putera ke 4 dari 9 bersaudara putera puteri Kyai Muhammad Besari Tegalsari - Ponorogo
295/8 <20+3> < 5. Kyai Iskak - Coper Tegalsari
lahir: Level 1 = putera ke 5 dari 9 bersaudara putera puteri Kyai Muhammad Besari Tegalsari - Ponorogo
perkawinan:
perkawinan:
306/8 <20+3> < 6. Kyai Cholifah
lahir: adalah putera ke 6 dari 9 bersaudara putera puteri Kyai Muhammad Besari Tegalsari - Mojokerto
317/8 <20+3> < 8. Nyai Ageng Ibnu Oemar Banjarsari
lahir: Level 1 = putera ke 8 dari 9 bersaudara putera puteri Kyai Muhammad Besari Tegalsari - Ponorogo
328/8 <20+3> < 9. Kyai Zainal 'Abidin
lahir: Level 1 = putera ke 9 dari 9 bersaudara putera puteri Kyai Muhammad Besari Tegalsari - Ponorogo
pekerjaan: Raja selangor
249/8 <19> < KromoSetiko
3310/8 <21> < Nyai Akramuddin
3411/8 <21> < Nyai Nur
3512/8 <21> < Nyai Nuradi
3613/8 <21> < Kyai Ngabdul Sopingi
3714/8 <21> < Kyai Manap
3815/8 <21> < Kyai Hud
3916/8 <21> < Kyai Ikrap
Anak cucu sultan mukmin9.png
4017/8 <23> < Raden Karta Nata
4118/8 <20+3> < 3. Kyai Ismangil Tegalsari