Ratu Nilakéndra / Tohaan di Majaya d. 1567

Dari Rodovid ID
Orang:599622
{Mahkota Binokasih Sanghyang Pake}
Marga (saat dilahirkan) Pajajaran
Jenis Kelamin Pria
Nama lengkap (saat dilahirkan) Ratu Nilakéndra / Tohaan di Majaya
Orang Tua

Ratu Sakti Sang Mangabatan d. 1551

Halaman-wiki [[1]]

Momen penting

kelahiran anak: Prabu Suryakancana / Prabu Ragamulya (Panembahan Pulasari) d. 1579

kelahiran anak: Nyimas Saripah

1551 - 1567 gelar: Pajajaran, Bogor, Raja Pajajaran Ke 5

1567 wafat:

Catatan-catatan

Catatan Admin : Endang Suhendar alias Idang

Nilakendra atau Tohaan di Majaya naik tahta sebagai penguasa Pajajaran yang kelima. Pada saat itu situasi kenegaraan telah tidak menentu dan frustasi telah melanda segala lapisan masyarakat. Carita Parahiyangan memberitakan sikap petani "Wong huma darpa mamangan, tan igar yan tan pepelakan" (Petani menjadi serakah akan makanan, tidak merasa senang bila tidak bertanam sesuatu). Ini merupakan berita tidak langsung, bahwa kelaparan telah berjangkit.

Frustasi di lingkungan kerajaan lebih parah lagi. Ketegangan yang mencekam menghadapi kemungkinan serangan musuh yang datang setiap saat telah mendorong raja beserta para pembesarnya memperdalam aliran keagamaan Tantra. Sekte Tantra adalah sekte yang melakukan meditasi dengan mempersatukan Yoni dan Lingga. Artinya meditasi dilakukan dengan melakukan hubungan antara laki laki dan perempuan. Shri Kertanegara dari Kerajaa Singhasari juga penganut ajaran ini.

"Lawasnya ratu kampa kalayan pangan, tatan agama gyan kewaliya mamangan sadrasa nu surup ka sangkan beuanghar"

(Karena terlalu lama raja tergoda oleh makanan, tiada ilmu yang disenanginya kecuali perihal makanan lezat yang layak dengan tingkat kekayaan).

Selain itu, Nilakendra malah memperindah keraton, membangun taman dengan jalur-jalur berbatu ("dibalay") mengapit gerbang larangan. Kemudian membangun "rumah keramat" (bale bobot) sebanyak 17 baris yang ditulisi bermacam-macam kisah dengan emas.

Mengenai musuh yang harus dihadapinya, sebagai penganut ajaran Tantra yang setia, ia membuat sebuah "bendera keramat" ("ngibuda Sanghiyang Panji"). Bendera inilah yang diandalkannya menolak musuh. Meskipun bendera ini tak ada gunanya dalam menghadapi laskar Banten karena mereka tidak takut karenanya. Akhirnya nasib Nilakendra dikisahkan "alah prangrang, maka tan nitih ring kadatwan" (kalah perang, maka ia tidak tinggal di keraton).

Nilakendra sejaman dengan Panembahan Hasanudin dari Banten dan bila diteliti isi buku Sejarah Banten tentang serangan ke Pakuan yang ternyata melibatkan Hasanudin dengan puteranya Yusuf, dapatlah disimpulkan, bahwa yang tampil ke depan dalam serangan itu adalah Putera Mahkota Yusuf. Peristiwa kekalahan Nilakendra ini terjadi ketika Susuhunan Jati masih hidup (ia baru wafat tahun 1568 dan Fadillah wafat 2 tahun kemudian).

Demikianlah, sejak saat itu ibukota Pakuan telah ditinggalkan oleh raja dan dibiarkan nasibnya berada pada penduduk dan para prajurit yang ditinggalkan. Namun ternyata Pakuan sanggup bertahan 12 tahun lagi.


Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Kakek-nenek
Prabu Déwatabuanawisésa / Ratu Dewata
gelar: 1535 - 1543, Pajajaran, Bogor, Raja Pajajaran Ke 3
wafat: 1543, Pakuan
Kakek-nenek
Orang Tua
Ratu Sakti Sang Mangabatan
gelar: 1543 - 1551, Pajajaran, Bogor, Raja Pajajaran ke 4
wafat: 1551, Pakuan Pajajaran
Orang Tua
 
== 3 ==
Ratu Nilakéndra / Tohaan di Majaya
gelar: 1551 - 1567, Pajajaran, Bogor, Raja Pajajaran Ke 5
wafat: 1567
== 3 ==
Anak-anak
Prabu Suryakancana / Prabu Ragamulya (Panembahan Pulasari)
gelar: 1567 - 1569, Pulasari - Pandeglang, Raja Pajajaran ke 6
wafat: 1579
Anak-anak
Cucu-cucu
1. Raden Ajimantri / Raden Keling Sakawayana
lahir: 1555, Pakwan
pekerjaan: Menikah : 1583
pekerjaan: 1580 - 1610, Penasehat Kerajaan Sumedang Larang
pekerjaan: 1610 - 1660, Mahaguru Perguruan "Sumedang Kahyangan"
wafat: 1660, Dusun Serang - Cimalaka - Sumedang
penguburan: Makam Kramat Gunung Keling / Sakawayana
2. Nyimas Harim Hotimah
wafat: Makamnya di Bogor
3. Nyimas Sari Atuhu (Buyut Eres),
wafat: makamnya di Parugpug Paseh Legok - Sumedang
4. Sastra Pura Kusumah (Sutra Bandera)
wafat: makamnya di Tajur desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan
5. Istihilah Kusumah (Sutra Umbar / Mbah Ucing)
wafat: Makamnya di Tajur desa Cipancar Sumedang Selatan.
1.1.1. Pangeran Rangga Gede / Kusumadinata IV
lahir: 1580c, Perhitungan Tahun Lahir : 1625-45 = 1580
perkawinan: 6. NM. Kokom Ruhada (Nyimas Roro / Buyut Lidah)
perkawinan: 1.5.1.1. NM. Romlah
gelar: 1625 - 1633, memerintah di Canukur, Sukatali - Situraja lalu dipindahkan ke Parumasan, Conggeang, Naik Tahta pada usia 45 tahun, karena didahului oleh Raden Aria Suradiwangsa. Adipati Sumedang II
7. NM. Suniasih (Eusi Suntana)
wafat: Makamnya di Tajur desa Cipancar, Kecamatan Sumedang Selatan.
1. Jaya Perkasa / Rd. Jaya Kusumah (Sayang Hawu)
pekerjaan: Kandada Lante Kerajaan Pajajaran
pekerjaan: Patih Prabu Geusan Ulun
Cucu-cucu
Pajajaran
Sumedang Larang