Pangeran Adipati Suradiningrat I (Seda Demung)
| Marga (saat dilahirkan) | Majapahit |
| Jenis Kelamin | Pria |
| Nama lengkap (saat dilahirkan) | Pangeran Adipati Suradiningrat I |
| Nama belakang lainnya | Seda Demung |
| Nama lainnya | Raden Hadipati SuraHadiningrat I |
| Orang Tua | |
Momen penting
kelahiran anak: ♂ Raden Tumenggung Tjakramenggala
kelahiran anak: ♂ Pangeran Adipati Suralaya
kelahiran anak: ♂ Raden Tumenggung Bratadiwirja
kelahiran anak: ♂ Raden Tumenggung Bratanegara
kelahiran anak: ♂ Raden Tumenggung Panji Hoedan Sanjoto
kelahiran anak: ♂ Raden Tumenggung Surayuda
kelahiran anak: ♀ Raden Ayu Yudanagara
kelahiran anak: ♀ Raden Ayu Jayengrana
kelahiran anak: ♀ Raden Ayu Mangkudipura
kelahiran anak: ♀ Raden Ayu Sindureja
kelahiran anak: ♀ Raden Ayu Mangkuyuda
kelahiran anak: ♀ Raden Ayu Tumenggung Sumajaya
kelahiran anak: ♀ Raden Ayu Danurejo
kelahiran anak: ♀ Raden Ayu Selarong
kelahiran anak: ♂ Pangeran Adipati Suradiningrat II (Gondoloyo)
kelahiran anak: ♀ Raden Ayu Pamogan
kelahiran anak: ♀ Raden Ayu Rantamsari
1725 ? 1795 pekerjaan: Adipati Ponorogo XI
Catatan-catatan
Catatan Referensi:
Reog Sambernyawan Wonogiren diilhami dari nilai sejarah perjuangan R. M. Said*) dalam melawan penjajah Belanda yang selalu ikut campur dalam urusan kerajaan. --
- ) ♂ # Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa)
birth: 7 April 1725, Kartasura death: 28 December 1795, Surakarta) --
Perjuangan R. M. Said yang ulet dimulai dari Nglaroh menuju Sembuyan, Wiroko, Keduwang dan berakhir sampai Ponorogo, Jawa Timur. Di Kabupaten Ponorogo, R. M. Said mengajak Adipati Suradiningrat untuk bersatu melawan kompeni Belanda. Akan tetapi ajakan ini ditolaknya dan timbulah perselisihan dalam perang catur di antara keduanya.
Dari perang catur berkembang menjadi perang fisik yang berkobar dengan sengit karena Adipati Suradiningrat tetap menolak ajakan R. M. Said. Dengan ketegasan, kharisma, dan keberanian yang luar biasa pada diri R. M. Said maka ia disebut Pangeran Sambernyawa. Hal ini ditandai pula dengan terbunuhnya Adipati Suradiningrat di tangan Pangeran Sambernyawa. Akhirnya pengikut Adipati Suradiningrat berangsur-angsur menyerah kalah.
NB: Namun dari referensi diatas, belum tahu, yang bertemu dengan Raden Mas Said, apakah Adipati Suradiningrat I, ataukah Adipati Suradiningrat II. Untuk itu, catatan ini saya tambahkan pada kedua orang tersebut.
- ) Menurut catatan sejarah dan silsilah Trah Suradiningrat memang pernah terjadi salah paham antara Kangjeng Raden Hadipati Suradiningrat I dengan Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I yang disebabkan oleh kelicikan Patih Ponorogo saat itu yang bernama Patih Tambakbaya. Ketika KGPAA Mangkunegara I berada di perbatasan Kadipaten Ponorogo, beliau menerima surat sambutan dari Adipati Ponorogo yang telah diubah isinya oleh Patih Tambakbaya dari kata-kata yang semula "SAMPUN SAMEKTA SEDAYA" menjadi "SAMPUN SAMEKTA ING NGAYUDHA" sehingga menimbulkan salah paham dan kemarahan dari pihak Mangkunegaran dan berujung dengan gugurnya Kangjeng Raden Hadipati Suradiningrat I. Peristiwa tersebut terjadi di daerah Demung oleh karena itu beliau dikenal dengan nama Kangjeng Raden Hadipati Suradiningrat I Seda Demung. Menjelang wafatnya Kangjeng Raden Hadipati Suradiningrat I, KGPAA Mangkunegara I menemui beliau dengan menunjukkan surat yang dikirim oleh Patih Tambakbaya yang berbeda isinya dengan yang beliau diktekan kepada Patih Tambakbaya. Mengetahui dirinya telah diadu domba dengan Adipati Ponorogo, KGPAA Mangkunegara I memerintahkan pasukannya mengejar Patih Tambakbaya yang telah melarikan diri dan memenggal kepala Patih tersebut sebagai penebus kesalahan yang telah dilakukan Patih tersebut.
- ↑ http://suwandi-sejarah.blogspot.com/2010/09/perebutan-kekuasaan-gresik-dengan.html - Mendengar wilayah kekuasaanya dikuasai oleh orang Madura, maka Bupati Joyonegoro segera kembali ke Gresik bersama Bupati Ponorogo Adipati Suradiningrat, waktu itu Bupati Ponorogo yang juga berada di ibukota Kerajaan Mataram Islam merasa simpati dan memberi bala bantuan tentara pada Gresik, akhirnya sampailah rombongan bupati termasuk para pejabat kabupaten Kyai Ngabei Suronegoro, Kyai NgabeiAstronegoro, Kyai Ngabei Wirodirjo, Kyai Ngabei Ronggopuspoarjo, Kyai Ngabei Yudonegoro, Kyai Ngabei Ronggopuspowijoyo, Kyai Ngabei Puspotaruno sampai di Kedungsekar (atau Dusun Sekaran). Selanjutnya rombongan menyusun kekuatan dengan membentuk benteng pertahanan di Dusun Ngabetan.
Dari kakek nenek sampai cucu-cucu
perkawinan: ♀ Raden Ayu Pamogan
perkawinan: ♀ Kanjeng Raden Ayu Handoyo / Raden Ayu Adipati Anom (Ratu Kencana)
perkawinan: ♀ Ratu Kencanawungu / Raden Ayu Sukaptinah
perkawinan: ♀ Mas Ayu Rantansari Joyokartiko
perkawinan: ♀ Raden Retnodiningsih
gelar: 29 September 1788 - 2 Oktober 1820, Surakarta, Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ing Ngalogo Abdur Rahman Sayyidin Panotogomo IV
wafat: 2 Oktober 1820, Surakarta
