Pangeran Kalinyamat / Sultan Hadirin (Pangeran Tanduran / Tji BinTang) d. 1549

Dari Rodovid ID

Orang:188336
Langsung ke: panduan arah, cari
Marga (saat dilahirkan) Sultan Mughayat Syah
Jenis Kelamin Pria
Nama lengkap (saat dilahirkan) Pangeran Kalinyamat / Sultan Hadirin
Nama belakang lainnya Pangeran Tanduran / Tji BinTang
Nama lainnya Pangeran Toyib
Orang Tua

Sultan Mughayat Syah [Aceh]

Halaman-wiki [[1]]
[1][2]

Momen penting

lahir: * Masyarakat Jepara menyebut nama asli: Win-tang

  • Versi lain berasal dari Aceh Nama aslinya: Pangeran Toyib, putra Sultan Mughayat Syah raja Aceh (1514-1528).

kelahiran anak: Raden Ayu Rambe [Sultan Mughayat Syah]

perkawinan: 5. Retna Kencana / Ratu Mas Kalinyamat [Raden Trenggono] b. 1514 d. 1579

1549 wafat: Mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi bupati Jipang.

Catatan-catatan

Asal-Usul Pangeran dan Ratu Kalinyamat Nama asli Ratu Kalinyamat adalah Retna Kencana, putri Sultan Trenggana raja Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat.

Pangeran Kalinyamat berasal dari luar Jawa. Terdapat berbagai versi tentang asal-usulnya. Masyarakat Jepara menyebut nama aslinya adalah Win-tang, seorang saudagar Cina yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian berguru pada Sunan Kudus.

Versi lain mengatakan, Win-tang berasal dari Aceh. Nama aslinya adalah Pangeran Toyib, putra Sultan Mughayat Syah raja Aceh (1514-1528). Toyib berkelana ke Cina dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Toyib.

Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat. Ia berhasil menikahi Retna Kencana putri bupati Jepara, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Sejak itu, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kesultanan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadiri.

Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara.

[sunting] Kematian Pangeran Kalinyamat Pada tahun 1549 Sunan Prawata raja keempat Demak mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi bupati Jipang. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap pada mayat kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat ke Kudus minta penjelasan.

Sunan Kudus adalah pendukung Arya Penangsang dalam konflik perebutan takhta sepeninggal Sultan Trenggana (1546). Ratu Kalinyamat datang menuntut keadilan atas kematian kakaknya. Sunan Kudus menjelaskan semasa muda Sunan Prawata pernah membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen ayah Arya Penangsang, jadi wajar kalau ia sekarang mendapat balasan setimpal.

Ratu Kalinyamat kecewa atas sikap Sunan Kudus. Ia dan suaminya memilih pulang ke Jepara. Di tengah jalan, mereka dikeroyok anak buah Arya Penangsang. Pangeran Kalinyamat tewas. Konon, ia sempat merambat di tanah dengan sisa-sisa tenaga, sehingga oleh penduduk sekitar, daerah tempat meninggalnya Pangeran Kalinyamat disebut desa Prambatan.

Menurut cerita. Selanjutnya dengan membawa jenazah Pangeran Kalinyamat, Ratu Kalinyamat meneruskan perjalanan sampai pada sebuah sungai dan darah yang berasal dari jenazah Pangeran Kalinyamat menjadikan air sungai berwarna ungu, dan kemudian dikenal daerah tersebut dengan nama Kaliwungu. Semakin ke barat, dan dalam kondisi lelah, kemudia melewati Pringtulis. Dan karena selahnya dengan berjalan sempoyongan (moyang-moyong) di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Mayong. Sesampainya di Purwogondo, disebut demikian karena di tempat inilah awal keluarnya bau dari jenazah yang dibawa Ratu Kalinyamat, dan kemudia melewati Pecangaan dan sampai di Mantingan.

[sunting] Sumber-sumber

  1. Kepustakaan - Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional.
  2. Struktur Silsilah Keluarga - Tercatat Nama Pangeran Tanduran adalah nama lain dari Pangeran Kalinyamat, tidak ada penjelasan identitas "Tanduran" (bhs Jawa) = Tanaman. - Buku Silsilah Paku Buwono Susuhunan Surakarta - Pustaka Sarasilah Paku Buwono Susuhunan Surakarta Hadiningrat ing Kraton Surakarta, Kateliti, kawedar lan kaserat dening Raden Mas Tumenggung Sumantri Hendrodipuro (alm), Raden Sukohardjo Hamungrahardjo (alm Sontoturonggo Kaliwon Panegar Gamel Kasunanan Surakarta / Komandan Pasukan Kavaleri Keraton Surakarta.


Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Orang Tua
Sultan Mughayat Syah
gelar: 1514 - 1528, Raja Kesultanan Aceh
Orang Tua
 
== 2 ==
5. Retna Kencana / Ratu Mas Kalinyamat
lahir: 1514, Demak Bintoro
perkawinan: Pangeran Kalinyamat / Sultan Hadirin (Pangeran Tanduran / Tji BinTang)
gelar: 10 April 1527 - 1536, Jepara, Kanjeng Ratu Kalinyamat
wafat: 1579, Jepara, Dimakamkan di dekat makam Pangeran Kalinyamat di desa Mantingan.
Pangeran Kalinyamat / Sultan Hadirin (Pangeran Tanduran / Tji BinTang)
lahir: * Masyarakat Jepara menyebut nama asli: Win-tang * Versi lain berasal dari Aceh Nama aslinya: Pangeran Toyib, putra Sultan Mughayat Syah raja Aceh (1514-1528).
perkawinan: 5. Retna Kencana / Ratu Mas Kalinyamat
wafat: 1549, Mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi bupati Jipang.
== 2 ==
Anak-anak
Anak-anak

Peralatan pribadi