La Patau Matanna Tikka Walinonoe To Tenribali Malae Sanrang, Sultan Adzimuddin Idris Matinroe ri Nagauleng Mangkau Bone Datu Soppeng, Rangreng Tua Wajo, Arung Ugi, Arung Timurung

Dari Rodovid ID
Orang:1568167
Marga (saat dilahirkan) Matanna Tikka
Jenis Kelamin Pria
Nama lengkap (saat dilahirkan) La Patau Matanna Tikka Walinonoe To Tenribali Malae Sanrang, Sultan Adzimuddin Idris Matinroe ri Nagauleng Mangkau Bone Datu Soppeng, Rangreng Tua Wajo, Arung Ugi, Arung Timurung
Orang Tua

I Tenri Essa Datu Marioriwawo

La Pakokoi Arung Timurung

Nomor referensi https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Bone

Momen penting

kelahiran anak: La Tone / La Tongengnge Datu Laisu Datu Soppeng

kelahiran anak: La Temmasonge To Appaweling Arung Baringeng

kelahiran anak: Fatimanaware Datu Larompong Arung Timurung

kelahiran anak: La Salle Opu Daeng Panai

kelahiran anak: La Pareppa To Sappewali Somba Gowa Mangkau Bone Datu Soppeng

kelahiran anak: Bataritoja Daeng Talaga Matinroe Ri Tippulunna Mangkau Bone

Catatan-catatan

Gelar : La Patau Matanna Tikka, Sultan Adzimuddin Idris, Walinonoe To Tenribali Malae Sanrang, Matinroe ri Nagauleng, Mankau Bone, Datu Soppeng, Ranreng Tuwa (Wajo), Arung Ugi dan Arung Timurung.


La Patau Matanna Tikka (lahir pada tanggal 03 November 1672 dan wafat pada tanggal 16 September 1714) adalah Mangkau (Raja) Bone yang menjabat pada tahun 1696-1714. menggantikan Arung Palakka. Gelaran nama panjang La Patau adalah La Patau Matanna Tikka, Sultan Adzimuddin Idris, Walinonoe To Tenribali Malae Sanrang, Matinroe ri Nagauleng. La Patau juga adalah Raja (Datu) Soppeng dan Ranreng Tuwa (Wajo) dan mewarisi Arung Ugi dan Arung Timurung serta Ranreng Tuwa dari ayahandanya La Pakokoe dan Arung Palakka dari ibundanya. Neneknya adalah Sitti Hadijah I Dasale Arung Pugi Paddanreng Tuwa, dan kakeknya adalah La Maddaremmeng Opunna PakokoE Arung Timurung Arung Palakka, Raja / Mangkau Bone XIII (1631-1644). Selain sebagai Raja, La Patau juga tampil sebagai sosok yang menguatkan praktik syariat Islam yang ketat di Sulawesi Selatan dan beliau juga yang memiliki pemeran utama terbaik yang menjadi simpul dalam gerakan sompunglolo-Sempugi atau penyatuan genealogis antar bangsawan Bugis, Makassar dan Mandar di Sulawesi Selatan pada abad ke-18. Nyaris semua tokoh atau elite di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sekarang ini adalah keturunan (wija) dari La Patau.

Sejak menyandang sebagai "Ana' Mattola" (Putera Mahkota), Matanna Tikka terlebih dahulu dipersiapkan oleh pamannya (Petta TorisompaE) untuk mengukuhkan wilayah kekaisarannya melalui "diplomasi perkawinan". Baginda Matanna Tikka dinikahkan dengan puteri para Raja-Raja Sulawesi Selatan dan Barat pada masa itu dengan disertai perjanjian bahwa keturunan Matanna Tikka yang kelak dinobatkan menjadi raja setempat , sebagaimana diuraikan sbb :

Manakala Arung palakka tampil sebagai penguasa baru di Sulawesi Selatan, kemudian ia menata kembali tatanan sosial dan politik dengan agenda menciptakan persaudaraan abadi melalui pertautan kekerabatan antar istana. Arung Palakka berencana melakukan pernikahan antar kerajaan di Sulawesi Selatan dengan maksud agar dapat menciptakan hubungan yang baik antar kerajaan di Sulawesi Selatan dengan tatanan perdamaian yang berkesinambungan dari masa ke masa. Arung Palakka mengagendakan perdamaian antara kerajaan utama di Sulawesi Selatan terutama pada tiga kerajaan yaitu kerajaan Bone, Luwu, dan Gowa melalui perkawinan. Beliau menganggap bahwa hanya perkawinan yang bisa menciptakan hubungan terdekat bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Oleh karena Arung Palakka tidak mempunyai anak keturunan, maka beliau memilih keponakannya yang bernama La Patau Matanna Tikka sebagai media perekat persaudaraan melalui perkawinan. La Patau adalah keponakan langsung Arung Palakka dari saudari kandungnya beranama Wé Mappolobombang. Perkawinan politik pun mulai dijalankan oleh Arung Palakka atas kehendaknya terhadap kerajaan Luwu dan Gowa. Arung Palakka kemudian memulai dengan mengawinkan La Patau dengan We Ummu Datu Larompong, putri kerajaan Luwu. Berikutnya beliau mengawinkan La Patau dengan I Mariyama Karaeng Pattukanga, putri raja Gowa. La Patau juga dikawinkan dengan putri kerajaan lainnya seperti Soppeng, Maros, Bantaeng, Wajo, dan lain-lain. Perkawinan La Patau kemudian menciptakan kekerabatan antarkerajaan di Sulawesi Selatan. Strategi terhadap anak-anak yang lahir dari perkawinan La Patau dengan kedua istrinya itu yang disebut sebagai permaisuri - kemudian dijadikan sebagai pewaris tahta kekuasaan di kerajaan istrinya masing-masing, seperti di Luwu dan Gowa. Perkawinan La Patau dengan sekian banyak putri bangsawan tinggi kemudian menciptakan kekerabatan antar kerajaan yang luas di Sulawesi Selatan. Hal ini kemudian memberikan dampak positif antar kerajaan yang dahulu saling bertikai, kemudian menyatu sebagai saudara tiri dan saudara kandung. Hingga abad ke-21, kini dampak positif perkawinan La Patau dengan terciptanya persaudaraan terutama Bugis-Bone dengan Bugis-Luwu serta Makassar-Gowa terjalin dengan baik. Bahkan dewasa kini telah lahir perkumpulan-perkumpulan sosial yang didasari atas hubungan darah atau keterunan dari garis darah La Patau dengan para istrinya yang tersebar di berbagai wilayah di Sulawesi Selatan, bahkan mencakup seluruh dunia mengikuti persebaran tempat tinggal keturunan atau anak-cucu La Patau. Lahirlah perkumpulan seperti: PERWIRA LPMT (Perkumpulan Wija Raja La Patau Matanna Tikka dan sebagainya. Keberadaan keturunan La Patau tersebut sebagai pencapaian dari perkawinan yang dilakukan La Patau yang didasari oleh Arung Palakka pada abad ke-17. Dampak ini memberi makna bagi terciptanya perdamaian dan persaudara


Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Kakek-nenek
Kakek-nenek
Orang Tua
Orang Tua
 
== 3 ==
== 3 ==
Anak-anak
Anak-anak
Cucu-cucu
Cucu-cucu
-
Arung Lompengeng
Arung Peneki
Arung Timurung
Daeng Masiang
Daeng Talaga Matinroe Ri Tippulunna Mangkau Bone
Datu Laisu Datu Soppeng
Datu Lamuru
Datu Larompong
Datu Lompulle
Datu Marioriawa
Datu Marioriwawo
Datu Pattojo
Datu Watu
Karaeng Partukangan
Mangkau Bone
Mankau Bone
Matanna Tikka
Opu Daeng Matajang
Opu Daeng Panai
Opu Daeng Tarima
Opu Patunru Luwu
Ponggawa Bone
To Akkaottong Maddanreng Bone
To Appaweling Arung Baringeng
To Sappaile Datu Citta
To Sappewali Somba Gowa Mangkau Bone Datu Soppeng
To Unru To Risompa-é To' Appatunru Daéng Sérang Petta Malampé-é Gemme'na Arung Palakka Paduka