RA. Alia Ayu Andarini Wijaya b. 21 September 1994 - Keturunan (Inventaris)
1
perceraian: 27 Oktober 2020, Alia secara resmi telah bercerai pada tanggal 27 Oktober 2020 dari ayah dari anak-anaknya, yaitu R Kevan Zain Seferagic Aldiar Wijaya dan RA Arwen Zabreen Sefferena Aldiar Wijaya. Meskipun hubungan sebagai pasangan telah berakhir, hubungan sebagai orang tua tetap terjaga dengan baik hingga hari ini. Bahkan, ikatan tersebut semakin kuat dan penuh pengertian, terutama setelah kepergian mendiang Arwen pada 17 Januari 2021, yang menjadi titik refleksi dan kedewasaan bersama dalam menjalani peran sebagai orang tua.
Selain berkiprah di bidang pengembangan diri, Alia merupakan CEO PT Citarasa Wijaya Indonesia. Ia juga aktif sebagai model dalam karya fotografi konseptual dan artistik, dengan karakter visual yang kuat dan elegan.
Karya dan pendekatannya berfokus pada transformasi diri, pemulihan, serta perjalanan batin manusia—yang banyak terinspirasi dari pengalaman hidup personalnya.
Pada 22 Oktober 2018, Alia mengalami kehilangan besar atas wafatnya ibunda tercinta, Rina Risnawati. Peristiwa ini menjadi titik awal dari fase kehidupan yang penuh refleksi dan perubahan mendalam.
Tidak lama setelah itu, ia menjalani perceraian dan melanjutkan kehidupannya sebagai ibu tunggal. Dalam perjalanannya, Alia menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan tanggung jawab yang semakin besar, sekaligus membangun kembali kekuatan dirinya.
Duka tersebut berlanjut ketika pada 17 Januari 2021, putrinya, RA. Arwen Zabreen Sefferena Aldiar Wijaya, meninggal dunia di Rumah Sakit Santo Boromeus, Bandung, setelah berjuang melawan kanker neuroblastoma.
Rangkaian peristiwa kehilangan dan perubahan tersebut menjadi titik balik penting dalam hidup Alia. Pengalaman ini membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan, makna kehilangan, serta proses penerimaan dan pemulihan batin.
Kini, Alia melanjutkan kehidupannya sebagai ibu tunggal, membesarkan putranya, R. Kevan Zain Seferagic Aldiar Wijaya, dengan keteguhan, kesadaran, dan kekuatan batin yang semakin matang.
Pengalaman hidup yang sarat dengan kehilangan tersebut kemudian berperan besar dalam membentuk arah perjalanan pribadinya, termasuk dalam dedikasinya di bidang healing dan pengembangan diri—dengan pendekatan yang berakar pada empati, refleksi diri, serta transformasi yang lahir dari pengalaman nyata.