Pangeran Cokrokusumo - Kyai Mendhung (Raden Abdul Rasjid)

Dari Rodovid ID

Orang:919006
Langsung ke: panduan arah, cari
Marga (saat dilahirkan) Cokroadiningrat II
Jenis Kelamin Pria
Nama lengkap (saat dilahirkan) Pangeran Cokrokusumo - Kyai Mendhung
Nama belakang lainnya Raden Abdul Rasjid
Nama lainnya Kyai Mendhung
Ayah ibu

Panembahan Cakraningrat VIII / Sultan Cokroadiningrat II (Pangeran Adipati Secoadiningrat III) [Cokroadiningrat I] d. 1847

Ratu Knoko [?]

Nomor referensi Madura en Zijn Vorstenhuis., P. Cakraningrat Vorstenhuis van Madura., Zainal Fattah, "Sedjarah Tjaranja Pemerintahan Di Daerah-Daerah di Kepulauan Madura Dengan Hubungannya", The Paragon Press, 1951.
[1][2][3][4][5]

Kejadian-kejadian

kelahiran: Putra ke-25 dari Sultan Bangkalan II (Sultan Cokroadiningrat II / R. Abdul Kadirun) dengan Istri ke-V (Ratu Knoko)

kelahiran anak: R. Ngt. Bainah Paulina [Cokrokusumo]

kelahiran anak: R. Baren Eliso [Cokrokusumo]

kelahiran anak: R. Paing Karolus Wiryoguno [Cokrokusumo]

kelahiran anak: R. Muhammad Hanafiah [Cokrokusumo]

kelahiran anak: R. Ngt. Kawistah Tabita [Cokrokusumo]

kelahiran anak: R. Samodin Simson [Cokrokusumo]

perkawinan: Istri I Bok Hanafiah (Dorkas), Bok Hanafiah (Dorkas) [Haryo Pecat Tondoterung] , Bok Baren [?] d. 1843

Catatan-catatan

Pada jaman itu sering terjadi pertikaian dan peperangan antar kelompok atau kerajaan akibat ulah pemerintah Belanda yang melakukan taktik ”adu domba” . Pangeran Cokrokusumo sendiri beranggapan bahwa memenuhi permintaan Pemerintah Hindia Belanda ini sama dengan menciptakan penderitaan bagi sanak keluarganya. Akan tetapi ia sadar bahwa cepat atau lambat, dirinya akan menerima giliran memimpin barisan Madura untuk melawan sesama bangsa pribumi. Jika menolak tugas, berarti sama saja melawan pemerintah Hindia Belanda dan itu akan berakibat buruk baginya. Atas dasar itulah, akhirnya Pangeran Cokrokusumo memutuskan meninggalkan Bangkalan dengan membawa istri, anak-anak dan kerabat dekatnya. Selain menghindari tugas dari Pemerintah Hindia Belanda tadi, Pangeran Cokrokusumo juga bercita-cita agar hari depan keluarga, anak-anak dan keturunannya bisa hidup damai dan sejahtera. Kejadian itu terjadi pada tahun 1835 dimana beliau meninggalkan anak sulungnya : R. Muhammad Hanafiah gelar R. Ario Cokrokusumo di Bangkalan. Rombongan Pangeran Cokrokusumo menyeberangi selat Madura dan mendarat di pantai Gresik. Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah perguruan (pesantren) Dosermo melalui Surabaya dan Wonokromo. Dalam perjalanan ini mereka berusaha menyembunyikan jati diri dengan merubah nama dan identitas diri lainnya. Pangeran Cokrokusumo mengubah namanya menjadi “Kyai Mendhung”.

[sunting] Sumber-sumber

  1. http://www.pulaumadura.com/2013/02/sultan-r-abdul-kadir-cakra-adiningrat-ii.html -
  2. Silsilah Madura : Bangkalan Dan Sumenep - Buku I -
  3. Silsilah Kajoran Mataram Kartosuro - Buku II -
  4. Silsilah Kelompok (Kerabat) Lain - Buku III -
  5. Stamboom Van Het Geslacht Tjakra Adi Ningrat -

Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Kakek-nenek
Panembahan Cakraningrat VII / Sultan Cokroadiningrat I (Raden Tawangsah)
gelar: 1780 - 1815, Madura, Sultan Bangkalan I
kematian: 1815
Kakek-nenek
Ayah ibu
Ayah ibu
 
== 3 ==
Panembahan Cakraningrat XI ?
gelar: 1882 - 1885, Madura, Panembahan Cakraningrat XI
gelar: 1885 - 1905, Bangkalan, Madura
Pangeran Cokrokusumo - Kyai Mendhung (Raden Abdul Rasjid)
kelahiran: Putra ke-25 dari Sultan Bangkalan II (Sultan Cokroadiningrat II / R. Abdul Kadirun) dengan Istri ke-V (Ratu Knoko)
perkawinan: Bok Hanafiah (Dorkas) , Bok Baren
== 3 ==
Anak-anak
R. Muhammad Hanafiah
kelahiran: Anak ke-1
gelar: R. Ario Cokrokusumo di Bangkalan
R. Ngt. Kawistah Tabita
kelahiran: Anak ke-2
R. Ngt. Bainah Paulina
kelahiran: Anak ke-5
R. Baren Eliso
kelahiran: Anak ke-6 dari istri kedua Bok Baren
Anak-anak
Cucu-cucu
R. Muso Jebus Wiryosentono
gelar: Bau Aris II Mojowarno
R. Eprayim Setu Brontodiwiryo
kelahiran: (19 Juli 1859 - 19 Oktober 1910)
pekerjaan: 1. Guru Injil Kertorejo (1880 - 1898)
pekerjaan: 2. Pendiri Gedung Gereja Kertorejo (1880 - 1898)
pekerjaan: 3. Pemimpin Babad Hutan Tanjungputih / Tunjungrejo (Kepala Desa dan Guru Injil I Jemaat Tunjungrejo) 17 Juli 1898 - 19 Oktober 1910 (12 thn.)
R. Simsim Mestoko
kelahiran: (25 Oktober 1862 - 2 Desember 1932)
pekerjaan: 1. Guru Injil Ngoro (Desember 1893)
pekerjaan: 2. Pendiri Gedung Gereja Ngoro (10 Juni 1894)
pekerjaan: 3. Pendiri Sekolah Kristen Ngoro (1 Oktober 1894)
R. Ngt. Ayu Lesningwati
gelar: Istri Lurah Mojowangi
Cucu-cucu

Peralatan pribadi
Bahasa lain