Gatotkaca / Jabang Tetuka
Orang:777288
| Marga (saat dilahirkan) | Pandawa |
| Jenis Kelamin | Pria |
| Nama lengkap (saat dilahirkan) | Gatotkaca / Jabang Tetuka |
| Nama lainnya | Prabu Kacanegara |
| Orang Tua | |
Momen penting
kelahiran anak: ♂ Suryakaca [Pandawa]
kelahiran anak: ♂ Jayasumpena [Pandawa]
kelahiran anak: ♂ Arya Sasikirana [Pandawa]
kelahiran anak: ♂ Barbarika / Khatushyamji [Pandawa]
perkawinan: ♀ Endang Pregiwa / Dewi Pergiwa [Pandawa]
perkawinan: ♀ Suryawati [?]
perkawinan: ♀ Sumpaniwati [?]
perkawinan: ♀ Ahilawati / Maurwi [Maurwi]
Catatan-catatan
Kisah kelahiran Gatotkaca dikisahkan secara tersendiri dalam pewayangan Jawa. Namanya sewaktu masih bayi adalah Jabang Tetuka. Sampai usia satu tahun tali pusarnya belum bisa dipotong walau menggunakan senjata apa pun. Arjuna (adik Bimasena) pergi bertapa untuk mendapatkan petunjuk dewa demi menolong nasib keponakannya itu. Namun pada saat yang sama Karna, panglima Kerajaan Hastina juga sedang bertapa mencari senjata pusaka.
Karena wajah keduanya mirip, Batara Narada selaku utusan kahyangan memberikan senjata Kontawijaya kepada Karna, bukan kepada Arjuna. Setelah menyadari kesalahannya, Narada pun menemui Arjuna yang sebenarnya. Arjuna lalu mengejar Karna untuk merebut senjata Konta.
Pertarungan pun terjadi. Karna berhasil meloloskan diri membawa senjata Konta, sedangkan Arjuna hanya berhasil merebut sarung pembungkus pusaka tersebut. Namun sarung pusaka Konta terbuat dari Kayu Mastaba yang ternyata bisa digunakan untuk memotong tali pusar Tetuka.
Akan tetapi keajaiban terjadi. Kayu Mastaba musnah dan bersatu dalam perut Tetuka. Kresna yang ikut serta menyaksikannya berpendapat bahwa pengaruh kayu Mastaba akan menambah kekuatan bayi Tetuka. Namun ia juga meramalkan bahwa kelak Tetuka akan tewas di tangan pemilik senjata Konta. Menjadi Jago Dewa
Versi pewayangan Jawa melanjutkan, Tetuka kemudian dipinjam Narada untuk dibawa ke kahyangan yang saat itu sedang diserang musuh bernama Patih Sekipu dari Kerajaan Trabelasuket. Ia diutus rajanya yang bernama Kalapracona untuk melamar bidadari bernama Batari Supraba. Bayi Tetuka dihadapkan sebagai lawan Sekipu. Anehnya, semakin dihajar bukannya mati, Tetuka justru semakin kuat.
Karena malu, Sekipu mengembalikan Tetuka kepada Narada untuk dibesarkan saat itu juga. Narada kemudian menceburkan tubuh Tetuka ke dalam kawah Candradimuka, di Gunung Jamurdipa. Para dewa kemudian melemparkan berbagai jenis senjata pusaka ke dalam kawah. Beberapa saat kemudian, Tetuka muncul ke permukaan sebagai seorang laki-laki dewasa. Segala jenis pusaka para dewa telah melebur dan bersatu ke dalam dirinya.
Tetuka kemudian bertarung melawan Sekipu dan berhasil membunuhnya menggunakan gigitan taringnya. Kresna dan para Pandawa saat itu datang menyusul ke kahyangan. Kresna kemudian memotong taring Tetuka dan menyuruhnya berhenti menggunakan sifat-sifat kaum raksasa.
Batara Guru raja kahyangan menghadiahkan seperangkat pakaian pusaka, yaitu Caping Basunanda, Kotang Antrakusuma, dan Terompah Padakacarma untuk dipakai Tetuka, yang sejak saat itu diganti namanya menjadi Gatotkaca. Dengan mengenakan pakaian pusaka tersebut, Gatotkaca mampu terbang secepat kilat menuju Kerajaan Trabelasuket dan membunuh Kalapracona. Perkawinan
Dalam versi Mahabharata, Gatotkaca menikahi Ahilawati sang gadis naga dan mempunyai anak bernama Barbarika. Gatotkaca juga menikah dengan seorang wanita bernama Pregiwa. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sasikirana.
Dalam versi pewayangan Jawa, Gatotkaca menikah dengan sepupunya, yaitu Pregiwa putri Arjuna. Ia berhasil menikahi Pregiwa setelah melalui perjuangan berat, yaitu menyingkirkan saingannya, bernama Laksmana Mandrakumara putra Duryudana dari keluarga Korawa.
Dari perkawinan Gatotkaca dengan Pregiwa lahir seorang putra bernama Sasikirana. Ia menjadi panglima perang Kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Parikesit, putra Abimanyu atau cucu Arjuna.
Versi lain mengisahkan, Gatotkaca memiliki dua orang istri lagi selain Pregiwa, yaitu Suryawati dan Sumpaniwati. Dari keduanya masing-masing lahir Suryakaca dan Jayasumpena.
Dari kakek nenek sampai cucu-cucu
perkawinan: ♀ Citrānggadā
perkawinan: ♀ Subadra / Subhadrā (Dewi Wara Sumbadra)
perkawinan: ♀ Dewi Sulastri
perkawinan: ♀ Dewi Larasati
perkawinan: ♀ Dewi Jimambang
perkawinan: ♀ Dewi Ratri
perkawinan: ♀ Dewi Dresanala
perkawinan: ♀ Dewi Wilutama
perkawinan: ♀ Dewi Manuhara
perkawinan: ♀ Dewi Supraba
perkawinan: ♀ Dewi Antakawulan
perkawinan: ♀ Dewi Juwitaningrat
perkawinan: ♀ Dewi Maheswara
perkawinan: ♀ Dewi Retno Kasimpar
perkawinan: ♀ Dewi Dyah Sarimaya
perkawinan: ♀ Dewi Srikandi
perkawinan: ♀ Drupadi / Dropadi (Draupadi / Wara Drupadi)
perkawinan: ♀ Dewi Banowati
perkawinan: ♀ Dewi Gandawati ? (Cediwiyasa)
