Ganis Harsono (Jubir Deplu) d. November 1984

Dari Rodovid ID

Orang:450012
Langsung ke: panduan arah, cari
Marga (saat dilahirkan) ?
Jenis Kelamin Pria
Nama lengkap (saat dilahirkan) Ganis Harsono (Jubir Deplu)
Orang Tua

Susilah, R Ay / Ny Sutoredjo [?]

Sutoredjo, R (Mantri Pengairan Jombang) [?]

Momen penting

kelahiran anak: Garin Ganis [?]

November 1984 wafat:

Catatan-catatan

Ganis Harsono seorang priyayi dari Jombang. Ganis berhasil bersekolah ke Bandung pada sebuah sekolah teknik yang kini bernama ITB. Belum tamat dia belajar arsitektur, pecah perang kemerdekaan saat itu. Karirnya dirintisnya bukan dengan senjata. Dia (dan beberapa temannya) cenderung unuk berjoang lewat radio yang bernama Voice of Free Indonesia. Tahun 50-an, dia memulai karirnya di Deplu. Tugas pertama adalah London direncanakan dari Jakarta sebagai Atase Pers."Boss"nya adalah dr. Subandrio yang waktu itu diangkat sebagai Duta Besar RI pertama untuk Inggeris.

Dalam kesempatan menghadap boss, Subandrio kurang begitu yakin akan anak muda yang bernama Ganis Harsono. "Kedutaan di sini penuh dengan diplomat yang mempunyai latar belakang pendidikan akademis. Ini suatu conditio sine quanon di London. Diplomat dari Asia. Afrika dan Amerika Latin semua dipanggil dengan sebutan doktor, "begitu ucap sang Dubes. Pangkat Ganis kemudian diturunkan jadi Pembantu Atase Pers. Ini berarti gaji dan fasilitas juga turun. Dihalaman 94 malah ada tulisan Ganis di mana Subandrio mencibirkan mulutnya sambil mengucap "kampungan" karena malam itu Ganis memanggil seseorang kulit putih dengan ucapan Your Excellency.

Ternyata si putih hanya seseorang yang bertugas mengurus makanan kedutaan. Buku ini enak dibaca karena ditulis dengan gaya yang ringan. Rupanya Canis rajin mengumpulkan semua guntingan (terutama pers Barat), pidato Sukarno. surat menyurat antara Sukarno dan John F. Kennedy, Sukarno dan Ratu Elizabeth II bahkan diceritakannya pula ketika Ganis mendampingi Suwito (Wakil Menlu) yang harus merancang sebuah komunike bersama dengan Wakil Menlu RRT, Marsekal Hoe Loeng, dalam kunjungan Subandrio di Peking, Januari 1965.

Komunike bersama nyaris tidak keluar, karena Sawito marah (halaman 292) sebab Hoe Loeng ingin mendiktekan apa saja tanpa mendengarkan pihak Indonesia. Nyoto Tulisan Ganis penuh dengan catatan sejarah RI antara 1950 - 1965. Bagaimana Sukarno mengadakan pidato di PBB untuk Irian Barat, bagaimana Ganis juga pontang-panting agar pers Barat memuat berita besar untuk Sukarno di AS PBB dan kunjungan Eropa Timur. Dicatatnya pula beberapa pimpinan partai tengah malam protes kepada Sukarno (yang waktu itu ada di Moskow) karena kunjungan ke Rusia diakhiri dengan komunike bersama, sementara ketika Sukarno di AS, tidak (halaman 153).

Ganis juga menggambarkan pertentangan yang kian meruncing antara Nyoto dan Aidit. Di halaman 188 bahkan Ganis menulis bahwa Nyoto itu tadinya seorang pemain piano dalam band yang bernama Hardi Boys, dimana para penyanyinya antara lain Adi Karso dan Bing Slamet. Terjun ke dunia politik, Nyoto akhirnya berhasil diangkat jadi Menteri Negara tanpa portofolio.

Dicatatnya pula bagaimana kalangkabutnya ia sebagai pegawai pemerintah waktu itu. Subandrio pergi naik haji bersama Ratna Sari Dewi. Oleh Subandrio Ganis mendapat tugas untuk menyampaikan rencana pidato Presiden untuk perayaan Dasawarsa Konperensi AA, 18 April 1965. Subandrio baru akan kembali tanggal 16 April. Ganis kena semprot BK yang mulai tidak senang dengan gaya tulisan Suhandrio.

Tanggal 17 April, pidato selesai direvisi Subandrio yang kemudian diserahkan Istana. Ganis mendapat satu salinan pidato yang direvisi itu dan diberikannya kepada Alex Alatas. Yang terakhir ini kemudian membagi-bagikannya kepada pers berdasarkan embargo.

Tanggal 18 April, Sukarno berpidato. Isi pidato lain sama sekali. Belakangan baru tahu, bahwa pidato Nyoto-lah yang dipakai Sukarno. Buku catatan Ganis Hartono ini patut untuk tidak diabaikan begitu saja. Di dalamnya banyak berisi bagaimana seorang diplomat harus bertindak dan bersikap, bagaimana perkembangan dan pergolakan wajah Indonesia di depan dunia internasional. Ganis bisa memainkan perannya sebagai pegawai negeri yang baik dan juga berkawan kepada dunia pers karena dia jarang berkata no comment. 

Ganis sendiri sempat mendekam dalum tahanan selama 8 tahun, tanpa proses pengadilan. 16 Maret 1974, dia dipanggil Kepala Kepegawaian Deplu. Dengan aiasan salah tangkap, "saudara Ganis masih seorang pejabat Deplu yang untuk selanjutnya menanti jabatan berikut. Gaji saudara selama 8 tahun, akan segera kami perhitungkan." Dia kini, tetap dirumahkan. Toeti Kakiailatu (Majalah Tempo, 04 Maret 1978)


Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Peralatan pribadi