R. Tumenggung Tirtonegoro / Bindhere Saud / Bendoro Moh.Saod

Dari Rodovid ID

Orang:199987
Langsung ke: panduan arah, cari
Marga (saat dilahirkan) Ki Abdullah - Batu Ampar - Guluk Guluk - Sumenep
Jenis Kelamin Pria
Nama lengkap (saat dilahirkan) R. Tumenggung Tirtonegoro / Bindhere Saud / Bendoro Moh.Saod
Ayah ibu

Ki Abdullah [Batu Ampar Sumenep]

[1]

Kejadian-kejadian

kelahiran: Level 1 = Putra dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk.

kelahiran anak: Raden Arya Pecinan / R Kusumonegoro [Ki Abdullah - Batu Ampar - Guluk Guluk - Sumenep]

kelahiran anak: Pangeran Arya Asirudin / Panembahan Notokusumo / Panembahan Sumolo [Ki Abdullah - Batu Ampar - Guluk Guluk - Sumenep]

pekerjaan: Bupati Sumenep, 1750 - 1762

perkawinan:

perkawinan: Nyi Ezza . [Batu Ampar]

perkawinan: Ratu Tirtonegoro [Trah Joko Tole]

Catatan-catatan

Sejarah Sumenep mencatat bahwa Bindoro Saud adalah Raja ke 29 yang memimpin kerajaan Sumenep. sejak tahun 1750 - 1762. PUsat kekuasaan di Keraton Pajagalan Sumenenp. sumber: dari Sejarah Sumenep : Pendekatan yang kami gunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan historis dan kultural, selain itu kami gunakan juga pendekatan ekonomis, psikologis dan edukatif.

JAMAN PEMERINTAH KERAJAAN ARYA WIRARAJA

Arya Wiraja dilatik sebagai Adipati pertama Sumenep pada tanggal 31 Oktober 1269, yang sekaligus bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Sumenep. Selama dipimpin oleh Arya Wiraja, banyak kemajuan yang dialami kerajaan Sumenep. Pria yang berasal dari desa Nangka Jawa Timur ini memiliki pribadi dan kecakapan/kemampuan yang baik. Arya Wiraja secara umum dikenal sebagai seorang pakar dalam ilmu penasehat/pengatur strategi, analisanya cukup tajam dan terarah sehingga banyak yang mengira Arya Wiraja adalah seorang dukun. Adapun jasa-jasa Arya Wiraja :

- Mendirikan Majapahit bersama dengan Raden Wijaya. - Menghancurkan tentara Cina/tartar serta mengusirnya dari tanah Jawa.

Dalam usia 35 Tahun, karier Arya Wiraja cepat menanjak. Mulai jabatan Demang Kerajaan Singosari kemudian dipromosikan oleh Kartanegara Raja Singosari menjadi Adipati Kerajaan Sumenep, kemudian dipromosikan oleh Raden Wijaya menjadi Rakyan Menteri di Kerajaan Majapahit dan bertugas di Lumajang. Setelah Arya Wiraja meninggalkan Sumenep, kerajaan di ujung timur Madura itu mengalami kemunduran. Kekuasaan diserahkan kepada saudaranya Arya Bangah dan keratonnya pindah dari Batuputih ke Banasare di wilayah Sumenep juga. Selanjutnya diganti oleh anaknya, yang bernama Arya Danurwendo, yang keratonnya pindah ke Desa Tanjung. Dan selanjutnya diganti oleh anaknya, yang bernama Arya asparati. Diganti pula oleh anaknya bernama Panembahan Djoharsari.

Selanjutnya kekuasaan dipindahkan kepada anaknya bernama Panembahan Mandaraja, yang mempunyai 2 anak bernama Pangeran Bukabu yang kemudian menganti ayahnya dan pindah ke Keratonnya di Bukabu (Kecamatan Ambunten). Selanjutnya diganti oleh adiknya bernama Pangeran Baragung yang kemudian pindah ke Desa Baragung (Kecamatan Guluk-guluk).

PANGERAN JOKOTOLE (Pangeran Secodiningrat III)

Pangeran Jokotole menjadi raja Sumenep yang ke 13 selama 45 tahun (1415-1460). Jokotole da adiknya bernama Jokowedi lahir dari Raden Ayu Potre Koneng, cicit dari Pangeran Bukabu sebagai hasil dari perkawinan bathin (melalui mimpi) dengan Adipoday (Raja Sumenep ke 12). Karena hasil dari perkawinan Bathin itulah, maka banyak orang yang tidak percaya. Dan akhirnya, seolah-olah terkesan sebagai kehamilan diluar nikah. Akhirnya menimbulkan kemarahan kedua orang tuanya, sampai akan dihukum mati. Sejak kehamilannya, banyak terjadi hal-hal yang aneh dan diluar dugaan. Karena takut kepada orang tuanya maka kelahiran bayi RA Potre Koneng langsung diletakkan di hutan oleh dayangya. Dan, ditemukan oleh Empu Kelleng yang kemudian disusui oleh kerbau miliknya.

Peristiwa kelahiran Jokotole, terulang lagi oleh adiknya yaitu Jokowedi. Kesaktian Jokotole mulai terlihat pada usia 6 tahun lebih, seperti membuat alat-alat perkakas dengan tanpa bantuan dari alat apapun hanya dari badanya sendiri, yang hasilnya lebih bagus ketimbang ayah angkatnya sendiri. Lewat kesaktiannya itulah maka ia membantu para pekerja pandai besi yang kelelahan dan sakit akibat kepanasan termasuk ayah angkatnya dalam pengelasan membuat pintu gerbang raksasa atas pehendak Brawijaya VII. Dengan cara membakar dirinya dan kemudian menjadi arang itulah kemudian lewat pusarnya keluar cairan putih. Cairan putih tersebut untuk keperluan pengelasan pintu raksasa. Dan, akhirnya ia diberi hadiah emas dan uang logam seberat badannya. Akhirnya ia mengabdi di kerajaan Majapahit untuk beberapa lama.

Banyak kesuksessan yang ia raih selama mengadi di kerajaan Majapahit tersebut yang sekaligus menjadi mantu dari Patih Muda Majapahit. Setibanya dari Sumenep ia bersama istrinya bernama Dewi Ratnadi bersua ke Keraton yang akhirnya bertemu dengan ibunya RA Potre Koneng dan kemudian dilantik menjadi Raja Sumenep dengan Gelar Pangeran Secodiningrat III. Saat menjadi raja ia terlibat pertempuran besar melawan raja dari Bali yaitu Dampo Awang, yang akhirnya dimenangkan oleh Raja Jokotole dengan kesaktiannya menghancurkan kesaktiannya Dampo Awang. Dan kemudian kekuasaannya berakhir pada tahun 1460 dan kemudian digantikan oleh Arya Wigananda putra pertama dari Jokotole.

RADEN AYU TIRTONEGORO DAN BINDARA SAOD

Raden Ayu Tirtonegoro merupakan satu-satunya pemimpin wanita dalam sejarah kerajaan Sumenep sebagai Kepala Pemerintahan yang ke 30. Menurut hikayat RA Tirtonegoro pada suatu malam bermimipi supaya Ratu kawin dengan Bindara Saod. Setelah Bindara Saod dipanggil, diceritakanlah mimpi itu. Setelah ada kata sepakat perkawinan dilaksanakan, Bindara Saodmenjadi suami Ratu dengan gelar Tumenggung Tirtonegoro.

Terjadi peristiwa tragis pama masa pemerintahan Ratu Tirtonegoro. Raden Purwonegoro Patih Kerajaan Sumenep waktu mencintai Ratu Tirtonegoro, sehingga sangat membenci Bindara Saod, bahkan merencanakan membunuhnya. Raden Purwonegoro datang ke keraton lalu mengayunkan pedang namun tidak mengenai sasaran dan pedang tertancap dalam ke tiang pendopo. Malah sebaliknya Raden Purwonegoro tewas di tangan Manteri Sawunggaling dan Kyai Sanggatarona. Seperti diketahui bahwa Ratu Tirtonegoro dan Purwonegoro sama-sama keturunan Tumenggung Yudonegoro Raja Sumenep ke 23.

Akibatnya keluarga kerajaan Sumenep menjadi dua golongan yang berpihak pada Ratu Tirtonegoro diperbolehkan tetap tinggal di Sumenep dan diwajibkan merubah gelarnya dengan sebutan Kyai serta berjanji untuk tidak akan menentang Bindara Saod sampai tujuh turunan. Sedang golongan yang tidak setuju pada ketentuan tersebut dianjurkan meninggalkan kerajaan Sumenep dan kembali ke Pamekasan, Sampang atau Bangkalan.

PANEMBAHAN SOMALA

Bandara Saod dengan isterinya yang pertama di Batu Ampar mempunyai 2 orang anak. Pada saat kedua anak Bindara Saod itu datang ke keraton memenuhi panggilan Ratu Tirtonegoro, anak yang kedua yang bernama Somala terlebih dahulu dalam menyungkem kepada Ratu sedangkan kakaknya mendahulukan menyungkem kepada ayahnya (Bindara Saod). Saat itu pula keluar wasiat Sang Ratu yang dicatat oleh sektretaris kerajaan. Isi wasiat menyatakan bahwa di kelak kemudian hari apabila Bindara Saod meninggal maka yang diperkenankan untuk mengganti menjadi Raja Sumenep adalah Somala. Setelah Bindara Saod meninggal 8 hari kemudian Ratu Tirtonegoro ikut meninggal tahun 1762, sesuai dengan wasiat Ratu yang menjadi Raja Sumenep adalah Somala dengan gelar Panembahan Notokusumo I.

Beberapa peristiwa penting pada zaman pemerintahan Somala antara lain menyerang negeri Blambangan dan berhasil menang sehingga Blambangan dan Panarukan menjadi wilayah kekuasaan Panembangan Notokusumo I. Kemudian beliau membangun keraton Sumenep yang sekarang berfungsi sebagai Pendopo Kabupaten. Selanjutnya beliau membangun Masjid Jamik pada tahuhn 1763, Asta Tinggi (tempat pemakaman Raja-Raja Sumenep dan keluarganya) juga dibangun oleh beliau.

SULTAN ABDURRACHMAN PAKUNATANINGRAT

Sultan Abdurrachman Pakunataningrat bernama asli Notonegoro putra dari Raja Sumenep yaitu Panembahan Notokusumo I. Sultan Abdurrachman Pakunataningrat mendapat gelar Doktor Kesusastraan dari pemerintah Inggris, karena beliau pernah membantu Letnan Gubernur Jendral Raffles untuk menterjemahkan tulisan-tulisan kuno di batu kedalam bahasa Melayu. Beliau memang meguasai berbagai bahasa, seperti bahasa Sansekerta, Bahasa Kawi, dan sebagainya. Dan, juga ilmu pengetahuan dan Agama. Disamping itu pandai membuat senjata Keris. Sultan Abdurrachman Pakunataningrat dikenal sangat bijaksana dan memperhatikan rakyat Sumenep, oleh karena itu ia sangat disegani dan dijunjung tinggi oleh rakyat Sumenep sampai sekarang.

[sumber: http://sumenep.go.id/]

[sunting] Sumber-sumber

  1. - R. Tumenggung Tirtonegoro (Bendoro Moh. Saod) Sejarah Sumenep mencatat bahwa Bindoro Saud adalah Raja ke 29 yang memimpin kerajaan Sumenep. sejak tahun 1750 - 1762. PUsat kekuasaan di Keraton Pajagalan Sumenenp. sumber: dari Sejarah Sumenep : Sumenep merupakan Kabupaten di Jawa Timur yang berada di ujung paling Timur Pulau Madura, bisa dibilang sebagai salah satu kawasan yang terpenting dalam sejarah Madura. Situs-situs kebudayaan yang masih menjadi obyek pariwisata. Diantaranya yang adalah kereta kencana peninggalan raja Sumenep, alun-alun (taman bunga) yang konsep bangunannya memiliki kekhasan ala bangunan kerajaan, Masjid Jamik atau Masjid Agung yang terletak di jantung Kota Sumenep, Masjid ini termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1779 M sampai 1787 M oleh Panembahan Sumolo, Kraton Sumenep Adapun beberapa situs peninggalan sejarah Kabupaten Sumenep diantaranya sebagai berikut : 1. SISA TEMBOK PAGAR KRATON Pada masa kepemimpinan Bupati H.R. SOEMAR'OM ± tahun 1976, telah terjadi perubahan yang fundamental di lingkungan Kraton Sumenep, hal ini mengakibatkan dilakukannya pembongkaran pagar tembok belakang kraton yang didirikan oleh Raja Panembahan Sumolo tahun 1762 dengan panjang ± 200 meter. Adapun sisa yang tertinggal ± 4 meter dijadikan bukti monumental sejarah Kerajaan Kraton Sumenep di masa lalu. 2. KRATON SUMENEP Dalam kawasan kraton Sumenep terdapat 3 bangunan utama yaitu : a. Kraton Tirtonegoro; Bangunan ini merupakan Istana kerajaan pada saat Sumenep dipimpin oleh Raja R. Tumenggung Tirtonegoro (Bendoro Moh. Saod) yang memerintah pada tahun 1750 sampai dengan tahun 1762. Pada awal pemerintahannya, di bangunan ini pernah terjadi reaksi perebutan kekuasaan akibat kekecewaan dari Patih Purwonegoro (Saudara mesan Ratu Tirtonegoro), karena dirinya merasa lebih pantas mendampingi raja Tirtonegoro menjadi raja Sumenep. b. Kraton Panembahan Sumolo; c. Kantor Koneng; Dari arti kata koneng (rata = bahasa belanda) telah menunjukkan bangunan tersebut adalah Kantor Raja. Bangunan ini dipakai sebagai tempat kerja Raja Sultan Abdurrahman Pakunataningrat pertama selama masa pemerintahannya dari tahun 1811 s.d. 1854 M. 3. TAMAN SARE Taman Sare Pemandian Putri-Putri Raja (Taman Sare) merupakan tempat bermainnya putri-putri raja sambil melepaskan kelelahan dengan bermain-main. Konon diceritakan, bahwa airnya dapat dijadikan obat dan membawa berkah. 4. WAKAF BENDORO MOH. SAOD / RADEN TUMENGGUNG TIRTONEGORO Pada masa pemerintahan Bendoro Moh. Saod Raden Tumenggung Tirtonegoro dibangunlah tempat ibadah (Wakaf/Langgar) yang terletak di kawasan Kraton Sumenep. Dalarn penyelenggaraan pengajiannya wakaf ini dipimpin K. Abu Naim dan berfungsi selain tempat ibadah juga sebagai pusat penyiaran agama Islam saat itu. 5. MASJID LAJU Dari namanya sudah menunjukkan, bahwa bangunan tersebut adalah bangunan Masjid yang lama (laju=bahasa Madura). Masjid ini dibangun pada jaman pemerintahan Pangeran Anggadipa, yang memerintah Kraton Sumenep dari tahun 1626 s/d. 1644 M. dengan demikian jauh sebelum Bendoro Moh. Saod (Raden Tumenggung Tirtonegoro) memerintah Sumenep ternyata agama Islam sudah berkembang luas. 6. MASJID AGUNG SUMENEP Perkembangan Islam di Sumenep cukup pesat sehingga pada tahun 1763 M dibangunlah Masjid Agung Sumenep oleh Raja Panembahan Sumolo. Dari sejak berdirinya sampai sekarang, Masjid Agung tetap menjadi anutan dalam pengembangan syiar Islam di Kabupaten Sumenep. Di antara Masjid Agung dengan Kraton terdapat makna filosofis dengan pusatnya alon-­alon Kota. Alon-alon yang menghadap ke Barat (Masjid), melambangkan Hablum Minallah, dan alon-alon yang menghadap ke Timur (Kraton) melambangkan Hablum Minannas. Dengan demikian, jalinan hubungan yang harmonis antara Ulama dan Umaro' sudah tercipta sejak Pemerintahan masa lalu. 7. ASTA TINGGI Asta Tinggi disebut juga Asta Raje (Mad) yang bermakna asta/makam para Pangradje (pembesar kerajaan) yang merupakan asta/makam para raja clan anak keturunan beserta kerabat‑kerabatnya dibangun sekitar tahun 1750M. Asta Tinggi memiliki 7 kawasan yaitu : a. Kawasan Asta Induk, terdiri dari : * Kubah Sultan Abdurrahman Pakunataningrat (Perencanaan awal oleh Panembahan Sumolo dan dilanjutkan pelaksanaannya oleh Sultan Abdurrahman); * Kubah Bendoro Moh. Saod terdiri dari : * Kubah Bendoro Moh. Saod yang direnovasi oleh Resident Madura. o Kubah Pangeran Akhmad/Pangeran Djimat, yang kubahnya tersebut berasal dari Pendopo Kraton Pangeran Lor/Wetan. o Pangeran Pulang Djiwo yang kubahnya tersebut juga berasal dari Kraton Pangeran Lor/Wetan o Pemakaman Istri-istri Selir Raja-raja Sumenep b. Kawasan Makam K. Saonggaling Konon diceritakan bahwa K. Saonggaling adalah pembela R. Tumenggung Tirtonegoro (Bendoro Moh. Saod) pada saat terjadinya upaya kudeta/perebutan kekuasaan oleh Patih Purwonegoro). c. Kawasan Makam Patih Mangun. d. Kawasan Makam Kanjeng Kai/Raden Adipati Suroadimenggolo Bupati Semarang (mertua Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I). e. Kawasan makam Raden Adipati Pringgoloyo/Moh. Saleh Beliau pada masa hidupnya menjabat sebagai Patih pada Pemerintahan Panembahan Sumolo dan Sultan Abdurrahman. f. Kawasan Makam Raden Tjakra Sudibyo, Patih Pensiun Sumenep. g. Kawasan Makam Raden Wongsokoesomo (Sumber buku perjalanan dari Soengenep ka Batawi, Raden Sastro Soebrata, Balai Pustaka tahun 1920). Konon memuat cerita, bahwa kawasan makam asta tinggi pernah dilakukan pengeboman jarak jauh (dari atas kapal laut di Kalianget) oleh tentara Inggris karena mengira bahwa bangunan tersebut adalah istana kerajaan. Namun demikian, pengeboman tersebut tidak sampai menghancurkan asta tinggi karena jatuh di luar kawasan. 8. Pilar / Pintu Masuk Kraton Bangselok Diceritakan bahwa kawasan Jalan Widuri Bangselok terdapat bangunan pintu masuk ke Keraton Bangselok yang dulunya ditempati Pangeran Pekalongan (menantu Sultan Abdurrahman). Konon waktu itu pintu masuk menuju ke keraton Sumenep terdapat di sebelah selatannya. (± 200 Meter), sehingga tamu yang akan ke keraton tertebih dahulu harus melalui pemeriksaan. Adapun kedudukan Pangeran Pekalongan adalah sebagai Panglima Perang pada zaman pemerintahan Sultan Abdurrahman. 9. Taman Peristirahatan Raja-Raja di Desa Batuan Pada tahun 1834 Raja Sumenep Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I membangun taman pemandian raja di Desa Batuan dan terletak di kampung Palasa. Penyebutan Palasa sebenarnya berasal dari kata PALACE (istana), karena di kawasan pemandian raja desa Batuan tersebut terdapat istana dan sampai saat ini masih tersisa taman pemandian serta puing-puing bangunan istana. 10. Gua Jeruk Dari tinjauan Topografi Gua Jeruk terletak di dataran tinggi yang berlokasi di luar kawasan Asta Tinggi Sumenep. Konon menurut cerita yang berkembang, tempat tersebut adalah tempat pertapaan Sultan Abdurrahman pada masa pemerintahannya 11. Asta Karang Sabu Pada tahun 1559-1562 di lokasi tersebut berdiri kerajaan Sumenep di bawah kepemimpinan Raden Tumenggung Kanduruan dan berturut-turut dilanjutkan oleh Pangeran Wetan dan Pangeran Lor hingga tahun 1589. Sekarang pada lokasi tersebut hanya tersisa asta/Pemakaman Tumenggung Kanduruan, Pangeran Lor dan Pangeran Wetan yang terletak di Jalan Diponegoro (Kelurahan Karangduak), sedangkan Pendopo Kratonnya di pindah ke Asta Tinggi dijadikan Kubah pangeran Djimat dan kubah pangeran Pulangdjiwo. 12. Pilar/Pintu Masuk Kraton Parsanga Pada tahun 1502-1559 di tempat ini berdiri Kerajaan Sumenep di bawah kepemimpinan Pangeran Banuboyo/Pangeran Siding Puri dengan gelar Pangeran Setjoadiningrat V yang merupakan cucu dari Pangeran Jokotole. 13. Kolam (Perigi Songo) di Parsanga Pada jaman kejayaan Kraton. Parsanga, disitu bermukim seorang ulama yang bernama Sunan Padusan (menantu Djokotole) kedudukan beliau di samping sebagai ulama, juga menjadi penasehat kerajaan yang Sekaligus berfungsi sebagai penyiar agama Islam. Di dalam pelaksanaannya diceritakan bahwa setiap orang yang akan masuk Islam terlebih dahulu disucikan (dudus=bahasa madura) dengan air (Perigi Songo). 14. Pintu Gerbang Pangeran Letnan Salah seorang putra Sultan Abdurrahman yang bernama Raden Ario Mohammad Hamzah dengan gelar Pangeran Soerjo Sinrangingrono. Dalam jajaran kemiliteran kerajaan beliau adalah salah satu penglima tentara kerajaan yang mempunyai pangkat Letnan Kolonel. Sebelum masuk ke istana/rumah kediaman beliau, di depannya terdapat pintu masuk masuk dengan model/tipe yang hampir mirip dengan bangunan Labang Mesem.


Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Ayah ibu
Nyi Amatilah
kelahiran: Nyi Amatilah binti Raden Adipati Adikoro / Adipati Sedo Bulungan bin Kudo Panoleh (Adipati Sumenep, dan juga Senopati Kerajaan Mojopahit-Islam.
perkawinan: Ki Abdullah
Ki Abdullah
kelahiran: PANCER Trah Ki Abdullah - Batu Ampar - Guluk-guluk - Sumenep
perkawinan:
perkawinan: Nyi Amatilah
Ayah ibu
 
== 2 ==
R. Tumenggung Tirtonegoro / Bindhere Saud / Bendoro Moh.Saod
kelahiran: Level 1 = Putra dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk.
pekerjaan: Bupati Sumenep, 1750 - 1762
perkawinan:
perkawinan: Nyi Ezza .
perkawinan: Ratu Tirtonegoro
== 2 ==
Anak-anak
Raden Arya Pecinan / R Kusumonegoro
kelahiran: Level 2 = Cucu dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk.
perkawinan:
R Ayu Panembahan Semolo / R Ajeng Maimuna
kelahiran: Puteri dari R Tumenggung Marmowidjaya Suryadimenggolo III, Adipati Lasem, Trah/keturunan Raden Patah.
perkawinan: Pangeran Arya Asirudin / Panembahan Notokusumo / Panembahan Sumolo , Menikah sebagai isteri ke 1(satu).
Pangeran Arya Asirudin / Panembahan Notokusumo / Panembahan Sumolo
kelahiran: Level 2 = Cucu dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk.
perkawinan: R Ayu Panembahan Semolo / R Ajeng Maimuna , Menikah sebagai isteri ke 1(satu).
perkawinan:
perkawinan: R Ayu (nama tdk Tercatat) / Puteri R Sumowidjoyo, Bupati Semarang
gelar: 1762, Keraton Pajagalan - Sumenep, Penguasa Wilayah Sumenep (Raja) dari tahun 1762-1811; Pendiri Masjid Jamik Sumenep.
Anak-anak
Cucu-cucu
Pangeran Prawirodiningrat / Tumenggung Kornel
kelahiran: Level 3 = Buyut dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk. Atau putera ke 1 dari Asirudin
gelar: Jabatan Kolonel Keraton Sumenep Madura
Raden Arya Panji Gondokusumo - Pamekasan
kelahiran: Level 3 = Buyut dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk. Atau putera ke 2 dari Asirudin
R Arya Wasih / R Tjurigonoto
kelahiran: Level 3 = Buyut dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk. Atau putera ke 3 dari Asirudin
Raden Arya Adipati Pringgoloyo
kelahiran: Level 3 = Buyut dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk. Atau putera ke 4 dari Asirudin
pekerjaan: Patih di Sumenep
Pangeran Mangkudiningrat Notoprodjo
kelahiran: Level 3 = Buyut dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk. Atau putera ke 6 dari Asirudin
gelar: Menantu Bupati Bangil
Raden Ajeng (nama tdk tercatat) / Raden Ayu Tumenggung Puger
kelahiran: Level 3 = Buyut dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk. Atau putera ke 7 dari Asirudin
Raden Ajeng (nama tdk tercatat) / Raden Ayu Tumenggung Notonegoro
kelahiran: Level 3 = Buyut dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk. Atau putera ke 8 dari Asirudin
gelar: Menantu Raden Tumenggung Pandji Tjokronegoro II
Raden Arya Panji Singosari
kelahiran: Level 3 = Buyut dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk. Atau putera ke 9 dari Asirudin
Raden Arya Pangeran Tedjoadiningrat
kelahiran: Level 3 = Buyut dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk. Atau putera ke 10 dari Asirudin
pekerjaan: Adipati Sedayu
Pangeran Panggung / Sultan Soeryoadikusumo
kelahiran: Level 3 = Buyut dari Ki Abdulah (Trah Kraton Sumenep-Madura)- Batu Ampar - Guluk-guluk. Atau putera ke 5 dari Asirudin
Cucu-cucu

Peralatan pribadi
Джерельна довідка за населеним пунктом