1.1.1.4.1.6.1.1. Pangeran Kornel / Adipati Surianagara III (Kusumadinata IX) b. 1762c

Dari Rodovid ID

Orang:902973
Langsung ke: panduan arah, cari
Marga (saat dilahirkan) Sumedang Larang
Jenis Kelamin Pria
Nama lengkap (saat dilahirkan) 1.1.1.4.1.6.1.1. Pangeran Kornel / Adipati Surianagara III
Nama belakang lainnya Kusumadinata IX
Nama lainnya Raden Aom / Raden Jamoe
Ayah ibu

1.1.1.5.2.1.1.1.2. Adipati Surianagara II [Sumedang Larang] b. 1702c

1.1.1.4.1.6.1 Ni Mas Nagakasih [Sumedang Larang]

Kejadian-kejadian

1762c kelahiran: (1773-11)= 1762

kelahiran anak: 1.1.1.4.1.6.1.1.2. Dalem Adipati Ageung Koesoemajoeda [Sumedang Larang]

kelahiran anak: 1.1.1.4.1.6.1.1.1. Raden Abdul / Dalem Adipati Adiwijaya [Sumedang Larang]

kelahiran anak: 5. Nyi Raden Kasomi [Sumedang Larang]

perkawinan: Nyi Raden Radja Mira [Parakanmuncang] b. 1765c

gelar: Bupati ke 14 (1791-1828)

1788c kelahiran anak: (1768+17+3), 1.1.1.4.1.6.1.1.3 Raden Ayu Radjaningrat [Sumedang Larang] b. 1788c

1789c kelahiran anak: (1768+17+4), 1.1.1.4.1.6.1.1.4. Raden Ayu Radjanagara [Sumedang Larang] b. 1789c

Catatan-catatan

PANGERAN KORNEL /ADIPATI SURIANAGARA III

Setelah wafatnya Bupati Sumedang Adipati Surialaga I (1765 – 1773), posisi bupati Sumedang diisi oleh bupati penyelang dari Parakanmuncang Adipati Tanubaya (1773 – 1775) yang diangkat oleh kompeni karena putra Adipati Surianagara II, Raden Jamu masih kecil. Setelah wafatnya Adipati Tanubaya digantikan oleh Tumenggung Patrakusuma putranya Setelah menjadi bupati Tumenggung Patrakusuma (1775 – 1789) memakai gelar Adipati Tanubaya II. Setelah menginjak dewasa Raden Djamu dinikahkan dengan putri Adipati Tanubaya II Nyi Raden Radja Mira mempunyai seorang puteri bernama Nyi Raden Kasomi. Adipati Tanubaya II mendapat hasutan dari Demang Dongkol yang berambisi untuk mempunyai anak atau cucu menjadi bupati. Akhirnya Raden Djamu mengetahui niat buruk mertuanya ingin membunuhnya, segera Raden Djamu meloloskan diri ke Limbangan karena bupati Limbangan merupakan saudaranya, di limbangan posisi Raden Djamu tidak aman terus melanjutkan perjalanan ke Cianjur untuk bertemu dengan kerabat ayahnya Bupati Cianjur Adipati Aria Wiratanudatar V Bupati Cianjur ke 5 (1761-1776), dan Raden Djamu diangkat sebagai Kepala Cutak (Wedana) Cikalong dengan nama Raden Surianagara III. Setelah Adipati Tanubaya II diasingkan ke Batavia oleh kompeni ditunjuk sebagai pengganti sementara kepala pemerintahan Sumedang dipegang oleh Patih Sumedang Aria Satjapati (1789 – 1791). Aria Satjapati mengirim surat kepada Adipati Aria Wiratanudatar V memohon agar mengusulkan Raden Djamu atau Surianagara III diangkat menjadi bupati Sumedang kepada kompeni. Usul dari Wiratanudatar VI diterima oleh kompeni dan diangkatlah Raden Djamu / Surianagara III menjadi bupati Sumedang dengan gelar Pangeran Kusumadinata IX (1791 – 1828).

Pada tahun 1811 masa pemerintahan Gubernur Jenderal William Daendels, merintahkan semua bupati di tanah Jawa untuk membantu pembangunan jalan pos antara Anyer dan Banyuwangi. Di Sumedang jalan pos tersebut harus melalui gunung cadas yang keras. Pangeran Kusumadinata menghadapi pekerjaan yang berat mau tidak mau harus dilaksanakan oleh rakyatnya dan tanggung jawabnya sebagai bupati, setelah mengumpulkan rakyatnya Pangeran Kusumadinata menganjurkan dan mengajak rakyatnya untuk membantu pelaksanaan pembuatan jalan pos tersebut, rakyat Sumedang menyatakan kesanggupannya melaksanakan tugas itu.. Pada tanggal 26 November 1811 mulailah pembobokan gunung cadas, rakyat Sumedang pun menjadi korban “kerja paksa” Belanda, banyak rakyat menjadi korban akibat sulitnya medan jalan yang dibuat, rakyat dipaksa untuk menembus bukit cadas dengan peralatan seadanya. Pembangunan jalan pun tidak selesai pada waktunya. Daendels meminta bupati agar rakyat dikerahkan habis-habisan untuk menyelesaikan, Pangeran

Kusumadinata menolak karena tidak tega melihat rakyatnya menderita.


Peristiwa Cadas Pangeran

Ketika Daendels memeriksa pembuatan jalan tersebut, Pangeran Kusumadinata menunggunya. Sewaktu Daendels menyodorkan tangan kanannya untuk mengajak bersalam, Pangeran Kusumadinta menyambutnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan memegang keris Nagasastra siap menghadapi segala kemungkinan, semula Daendels marah karena sikap bupati dianggap kurang ajar. Akan tetapi setelah mendengar penjelasan dari Pangeran Kusumadinata bahwa ia berani membantah perintahnya (simbolis ditunjukan dengan menyalami memakai tangan kiri) demi membela rakyatnya yang menjadi korban kerja paksa Daendels dan Daendels pun salut atas keberanian Pangeran Kusumadinata. Akhirnya Daendels merintahkan pasukan zeni Belanda untuk membantu menyelesaikan pembuatan jalan dengan mengunakan dinamit membobok gunung cadas, akhirnya 12 Maret 1812 pembangunan jalan pos di Sumedang selesai, sehingga daerah itu disebut “Cadas Pangeran”.

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal G.A. Baron Van Der Capllen (1826 – 1830) Pangeran Kusumadinata mendapat pangkat militer sebagai Kolonel dari pemerintah Belanda atas jasanya mengamankan daerah perbatasan dengan Cirebon dan menumpas para perampok dan pemberontak terutama yang mencoba masuk ke Sumedang dari Cirebon., sebutan kolonel dalam lidah rakyat berubah menjadi “Kornel” sehingga terkenal sebagai Pangeran Kornel .

Wilayah Sumedang waktu itu hampir sama dengan wilayah pada masa Rangga Gempol III, wilayah Sumedang berbatasan dengan Parakanmuncang, Limbangan, Sukapura, Talaga dan kabupatian – kabupatian Cirebon, kemudian menyusuri kali Cipunagara sampai laut Jawa sepanjang pantai utara sampai Pamanukan.

Selain keberaniannya menentang perintah Daendels dan pemerintah Kerajaan Belanda / Inggris, Pangeran Kusumadinata adalah bupati yang jujur, berani, cerdas, paling pandai dan paling aktif dari semua para bupati di Priangan. Keadilan, kejujuran, kecerdasan, keberanian, kebijaksanaan dan kegagahan Pangeran Kornel dalam melaksanakan kewajibannya penuh rasa tanggung jawab dan mengabdi kepada rakyat sepenuh jiwa raganya. Ia pun tempat meminta nasehat bupati lainnya. Pangeran Kusumadinata sewaktu mulai menjabat bupati membuka lahan hutan menjadi areal perkebunan kopi yang subur dan berhasil, sehingga keadaan Sumedang lebih baik dibandingkan masa bupati-bupati sebelumnya (penyelang). Residen Priangan Van Motman menyatakan Pangeran Kusumadinata adalah bupati pangkatnya paling tinggi antara para bupati di Priangan. Atas jasa dan kesetiaannya pemerintahan Belanda memberi bintang jasa dari mas.


Dari kakek nenek sampai cucu-cucu

Kakek-nenek
1.1.1.5.2.1.1.1. Dalem Istri Rajaningrat
kelahiran: 1681c, Kalkulasi : (1664+17)
gelar: Bupati ke 7 (1744-1759)
1.1.1.5.2.1.9.2. Kd. Rangga Wangsadireja
kelahiran: 1.1.1.5.2.1.9.2 Kd. Rangga Wangsadireja . (Dalem Rangga Wangsareja Sepuh) 1.1.1.5.2.1.9.2.1 Rd. Wangsadiraja . 1.1.1.5.2.1.9.2.2 NR. Kambang . 1.1.1.5.2.1.9.2.3 Rd. Sutapraja . 1.1.1.5.2.1.9.2.4 Ni.Rd. Purba . 1.1.1.5.2.1.9.2.5 Rd. Wangsadiraja II
1.1.1.5.2.1.9.5. Kd. Adipati Wangsareja / Dalem Rangga Wangsareja Anom / Dalem Limbangan
kelahiran: 1.1.1.5.2.1.9.5 Kd. Adipati Wangsareja (Dalem Rangga Wangsaredja Anom, Dalem Limbangan) 1.1.1.5.2.1.9.5.1 NR. Ratnamantri . 1.1.1.5.2.1.9.5.2 Dlm. Tmg. Wangsareja . 1.1.1.5.2.1.9.5.3 Dlm. Adp. Wangsaraja . 1.1.1.5.2.1.9.5.4 Dlm .Adp. Surapraja . 1.1.1.5.2.1.9.5.5 Rd. Wirareja .
1.1.1.5.2.1.9.10. NR. Ratnanagara
kelahiran: 1696, (1678+(9x2)= 1696
Kakek-nenek
Ayah ibu
1.1.1.5.2.1.1.1.1. Dalem Rd. Anom Kusumahdinata VIII (Dalem Anom)
kelahiran: 1698c, Kalkulasi : (1681+17)
gelar: Bupati ke 8 (1759-1761), tidak ada keturunan
1.1.1.5.2.1.1.1.3. Dalem. Rd. Soerialaga / Soerialaga I / Adipati Kusumadinata
kelahiran: 1.1.1.5.2.1.1.1.3 Dlm. Rd. Soerialaga . 1.1.1.5.2.1.1.1.3.1 Rd. Soeriadinata . 1.1.1.5.2.1.1.1.3.2 Rd. Soeradipradja . 1.1.1.5.2.1.1.1.3.3 Rd. Sawon . 1.1.1.5.2.1.1.1.3.4 Dlm. Rd. Soeriadilaga ., II 1.1.1.5.2.1.1.1.3.5 Rd. Sekarwiredja . 1.1.1.5.2.1.1.1.3.6 NR. Moeljanagara .
kelahiran: 1703c
gelar: Bupati ke 10 Tahun (1765 – 1773)
Ayah ibu
 
== 3 ==
Lenggang Kusumah
kelahiran: 1768c, Isteri ke 2 (1762+6), Cucu Aria Wiratanudatar IV / Kyai Sabirudin
perkawinan: 1.1.1.4.1.6.1.1. Pangeran Kornel / Adipati Surianagara III (Kusumadinata IX)
== 3 ==
Anak-anak
1.1.1.4.1.6.1.1.1. Raden Abdul / Dalem Adipati Adiwijaya
gelar: 1813 - 1831, Bupati Limbangan Garut I
1.1.1.5.2.1.1.1.3.4. Dalem Raden Soerialaga II / Raden Tumenggung Suryalaga II (Raden Ema)
kelahiran: 1764c
perkawinan:
pekerjaan: 1784 - 1789, Cibalagung, Ciomas, Mantri Gudang Kopi pada perkebunan Kopi
gelar: 1801 - 1811, Bogor, Bupati Bogor
gelar: 15 Januari 1805, Mendapat Gelar Tommongong, Den regent van Buitenzorg vereerd met den titul van Tommongong, 15 Januari 1805.
gelar: 1811 - 1813, Karawang, Bupati Karawang (bupati penyelang)
gelar: 1812 - 1813, Indramayu
gelar: 16 Februari 1813 - 1814, Singaparna, Bupati Sukapura
Anak-anak
Cucu-cucu
1. Tumenggung Suria Kusumah Adinata / Pangeran Sugih
gelar: Bupati ke 18 (1836 – 1882).
Aria Jayanagara / Tumenggung Kusumah Ningrat / Tumenggung Kusumadinata / Dalem Adipati Kusumahdinata X / Dalem Alit
gelar: Nupati Limbangan/Garut Ke II (1831 - 1833)
gelar: Bupati Sumedang ke 16 (1833 -1834 )
6.2.1. Patih Rangga Candramenggala
kelahiran: 1786c, (1768+17+1)
gelar: Bogor, Patih Bogor
kematian: 1857, Pasirkuda, Bogor
6.2.2. Raden Hamzah
kelahiran: 1789c
1.1.1.5.2.1.9.10.3 Dlm. Tmg. Sindangradja Soeriadilaga, III
gelar: Bupati Sumedang ke 17 Tahun (1834 – 1836)
Cucu-cucu

Peralatan pribadi